• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI. Pengaruh Panjang Stek Batang terhadap Pertumbuhan Ni Luh Putu Indriyani dan Sri Hadiati

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR ISI. Pengaruh Panjang Stek Batang terhadap Pertumbuhan Ni Luh Putu Indriyani dan Sri Hadiati"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

VOLUME 31 OKTOBER-2009 NOMOR:3 ISSN NO. 0126- 0537 z

DAFTAR ISI

Transfonnasi Gen Chitinase dari Jamur Endofit Trichoderma asperi/lum pada Kalus Abaka

Liliek Sulistyowati, Ru/ly Dyah Purwati, Suharsono den Gusti Iskarlia .205 Pengaruh Senyawa Humik terhadap Aktivitas Alumunium dan Fosfat Typic Paleudult Kentrong Banten

Sugeng Winarso, Eko Handayanto, Syekhfani dan Didik Sulistyanto 214 Pengaruh Panjang Stek Batang terhadap Pertumbuhan Tunas Varietas Nenas

Ni Luh Putu Indriyani dan Sri Hadiati 223

Multiplikasi Tunas Pucuk Manggis secara Kultur In Vitro pada Media Ekstrak Buah Pi sang

Rahayu Triatminingsih :....... 228

Induksi Perakaran dan Analisis Keragaman Somaklonal pada Tanaman Tomat Hasil Rekayasa Genetik

Ragapadmi Pumamaningsih................................ 234 Pembentukan Senyawa Occluded-P dari Sisa Pupuk Fosfat tidak Terserap dalam Tanah Sawah

Ongko Cahyono........... 243

.::

Penggunaan Analisis Komponen Utama dalam Sistem Informasi Geografis untuk Menentukan Zone Pengelolaan dalam Pengelolaan Hara Spesifik lokasi

Vagus Wijayanto 249

Pemanfaatan Abu Sekam sebagai Campuran Media Pembibitan Durian Guna Memperbaiki Pertumbuhan Bibit dan Meningkatkan Persentase Keberhasilan Pembibitan

Martias, Fitriana Nasution dan Liza Octriana 259

Daya Gabung Padi Beras Merah Tipe Cere dan Bulu Kultivar Lokal NTB dengan Metode Persilangan Dialel lengkap

f Gusti Putu Muliarta Aryana dan Kuswanio 266

Bioiogi Anaxipha longipennis Serville (Orthoptera: Gryllidae) sebagai Pemangsa Wereng Coklat, Nilaparvata lugens Stal. (Homoptera: Deiphacidae)

Sri Karindah, Dian Agus Pratomo, dan Suharsono . 279

SeiTedFamily Augmented Design: A Useful Mating Design for Gain Prediction of Intra Population Improvement Schemes

Rudi Hari Murti and Nasruliah . 288

Penataan Pertanaman dan Pemupukan dalam Pol a Tanam Ganda Jagung-Ubikayu-Kedelai

(2)

AGRIVITA

Terakreditasi B SK DIKTI No. :65a I DIKTI I Kep I 2008

Adalah Jurnal IImu Pertanian diterbitkan oleh Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya bekerjasama dengan Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI) Pusat

Ketua Redaksi

Kuswanto

Dewan Redaksi

Moch. Oawam Maghfoer Anton Muhibuddin

Budi Prasetyo

Bendahara

Ali Masduki

Redaksi Pelaksana

Silvia Santi Wahyuni

Alamat Redaksi

Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

JI.Veteran Malang 65145Jawa Timur Telp. (0341) - 575743 Fax. (0341) - 560011 E-mailredaksi:[email protected]@yahoo.com

Jadual Penerbitan

AGRIVITA diterbitkan tiga kali dalam setahun (Februari, Juni dan Oktober) oleh Fakultas Pertanian

Universitas Brawijaya bekerjasama dengan Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI) Pusat

dengan ISSN 0126-0537.

Penyerahan Naskah

Naskah merupakan hasil. penelitian Itmu Pertanian yang belum pernah dipublikasikan/diterbitkan paling lama 5 (lima) tahun terakhir. Naskah dapat dikirim melalui e-mail atau diserahkan langsung ke

Redaksi dalam bentuk rekaman Compact Disk (CD) dan print-out 2 eksemplar, ditulis dalam MS Word atau dengan program pengolah data yang kornpatibel. Gambar, ilustrasi dan foto dimasukkan dalam file naskah.

Penerbitan Naskah

Naskah yang layak terbit ditentukan oleh Dewan Redaksi setelah mendapat rekomendasi dari Mitra Bestari. Perbaikan naskah menjadi tanggung jawab penulis dan Naskah yang tidak layak diterbitkan akan dikembalikan kepada penulis jika disertai perangko secukupnya.

(3)

AGRIVITA VOLUME 31NO.3 OKTOBER-2009 ISSN : 0126-0537

BIOLOGI Anaxipha longipennis SERVILLE (ORTHOPTERA: GRYLLIDAE)

SEBAGAI PEMANGSA WERENG COKLAT, Nilaparvata lugens STAL.

(HOMOPTERA: DELPHACIDAE)

(BIOLOGY

OF

THE SILENT LEAF RUNNER Anaxipha longipennis SERVILLE

(ORTHOPTERA: GRYLLIDAE) A PREDATOR

OF

BROWN PLANT HOPPER

Nilaparvata lugens STAL (HOMOPTERA: DELPHACIDAE))

Sri Karindah 1'), Dian Agus Pratomo 1), dan Suharsono"

1')Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang JI.Veteran Malang

2) Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian

JI.Raya Kendalpayak P.O. Box. 66 Malang

ABSTRACT

The silent leaf runner Anaxipha longipennis

Serville is a natural enemies in rice ecosystem.

The biological aspect (life cycle and its predation)

of A. /ongipennis was studied using brown plant

hopper as prey maintained in IR 64 rice veriety in

the laboratory. The research showed that the life cycle of A. longipennis spent 40-50 days. The

average longevity of adult females and males were

34 and 29 days, respectively, whilst there was

20% and 40% of mortality in the fourth instar

respectively. The immature stages sustained

about 80% mortality before adult emergence. The

female fecundity was averaged 38.4 eggs during

her lifetime and the average of egg hatched

percentage was 78.25%. The first and second

nymph of A. longipennis consumed 2.46 and 4.54

first instar of brown plant hopper nymphs per day,

respectively. Whereas the third nymph,fourth

nymph, female and male cricket consumed the

second instar of brown plant hopper nymphs 6.39,

9.61,18.54 and 14.76 per day, respectively.

Preying activity was more during night time rather

than in the day time.

Keywords: Anaxipha longipennis, biology, predation

potential, generalist predator

ABS

T

RAK

Anaxipha longipennis Serville merupakan agens

hayati yang ditemukan pada ekosistem per

-tanaman padi. Aspek biologi A. longipennis

meliputi daur hidup dan daya mangsanya dikaji

dengan menggunakan wereng coklat sebagai

Terakreditasi B, SK No.: 65aIDIKTI/Kep/2008

mangsa yang dipelihara pada padi IR 64 di

laboratorium. Hasil penelitian rnenuniukkan bahwa

daur hidup A. longipennis berkisar antara AO-50

hari. Lama hidup Dewasa betina adalah 34 hari

dan jantan selama 29 hari. Akibat adanya

kematian selama perkembangan nimfa mulai

instar 1 sampai instar 4 pada tiap-tiap stadia

menyebabkan A. longipennis mengalami

penurunan. Telur dan nimfa instar 1 mengalami

kematian sebesar 20% dan 40%, sedangkan pad a instar 3 dan 4 terjadl kematian sampai 20%. Stadia muda dari jengkerik mengalami kematian rata-rata

sebesar 80% sampai rnenjadi jengkerik dewasa,

Jumlah telur yang dihasilkan A. longipennis betina

selama hidupnya rata-rata 38.4 butir dengan daya

tetas rata-rata sebesar 72,25 %. Nimfa instar 1

dan 2 A. longipennis rata-rata memangsa wereng

coklat nimfa instar 1 sebanyak 2.46 ekor/hari dan

4.54 ekor/hari. Sedangkan nimfa instar 3, instar 4,

dewasa betina dan dewasa jantan memangsa

wereng coklat nimfa instar 2 masing-rata-rata

sebanyak 6.39 ekor/hari, 9.61 ekor/hari, 18.54

ekor/hari dan 14.76 ekor/hari. Komponen

pengen-dalian hama padi khususnya untuk ham a wereng

coklat potensi dan keberadaan predator perlu

dipertimbangkan.

Kata kunci: Anaxipha longipennis, biologi, daya

mangsa, predator generalis

PENDAHULUAN

Anaxipha longipennis Serville (Orthoptera:

Gryllidae) adalah salah satu predator generalis

yang ditemukan pada ekosistem pertanaman padi.

(4)

280

Sri Karindah et a/.:Biofogi Anaxipha /ongipennis Serville .

predator yang efektif untuk teiur iepidoptera dan nimfa wereng padi (Heong, 1986). Anaxipha sp. dan Mettioche vittaticollis (Stal) dikenal sebagai predator telur ulat grayak Mythimna separata, penggerek batang Chilo suppresa/is (Rubia and Shepard, 1987) Chilo polychrysus, Spodoptera litura, Hydrelia sasaki (Shepard, Barrion and Litsinger, . 1994), telur serangga pelipat daun Cnaphalocrosis medinalis (de Kraker, 1996) dan predator nimfa wereng padi (Rubia and Shepard, 1987; Shepard et al., 1994). Hasil penelitian Heong (2002) menunjukkan bahwa, pada habitat yang didominasi gulma Paspalum conjugatum banyak ditemukan jengkerik A /ongipennis dan Metioche vittaticollis yang hidup bersama-sama.

Jengkerik ini tergolong dalam subfamili

Trigonidiinae, famili Gryllidae dan ordo Orthoptera (eSIRO, 1970).

de Kraker (1996) menyatakan bahwa

selama di pertanaman padi, A longipennis dan M vittaticolis aktif memangsa telur hama penggulung daun (Cnaphalocrosis medina/is) lebih dari 90 %. Heong (1991 dalam de Kraker, 1996) menambah-kan bahwa kemampuan predasi jengkerik A longipennis dan M. Vittatico/is eukup besar sehingga mampu menurunkan jumlah telur hama pelipat daun Cnapha/ocrocis dan Marasmia patnalis. Kedua predator generalis ini mempunyai kemampuan predasi yang lebih tinggi di-bandingkan dengan Conocephelus longipenis Micraspis sp., Ophionea sp., dan Paederus sp.(de Kraker et al., 2000).

Oi Indonesia A longipennis sebagai salah satu predator generalis, belum banyak dipelajari. Oalam rangka memanfaatkan A longipennis sebagai agens hayati untuk wereng eoklat, pengetahuan tentang biologi jengkerik ini

diperlukan. Oengan pengetahuan tersebut

diharapkan A longipennis dapat dimanfaatkan seeara optimal, khususnya untuk pengendalian wereng eoklat pad a pertanaman padi. Peneltian ini bertujuan untuk mengkaji aspek biologi jengkerik yang meliputi daur hidup, lama hidup dan morfologi, jumlah dan daya tetas telur, serta daya mangsa A /ongipennis terhadap wereng eoklat.

BAHAN DAN METODE

Pereobaan dilaksanakan di Laboratorium

Entomologi, Jurusan Hama dan Penyakit

Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Srawijaya, mulai bulan Februari sampai Juli 2004.

Untuk persiapan penelitian yang dilakukan adalah memperbanyak A longipennis dan wereng coklat sebagai pakan. Perbanyakan wereng eoklat dilakukan dengan memelihara wereng eoklat pada semaian tanaman padi varietas IR 64. A longipennis yang diperoleh dari pertanaman padi

di Keeamatan Pakisaji Kabupaten Malang,

dlpethara dalam sangkar berukuran 40 em x 25 em yang berisi tanaman padi berumur 20 hari setelah tanam. Untuk pemeliharaan A longipennis diberi pakan wereng eoklat, telur Corcyra cephalonica dan parutan wortel sebagaimana yang dilakukan oleh Rubia dan Shepard (1987) untuk pembiakan A longipennis dan Mettioche vittaticollis. A longipennis dipelihara sampai bertelur, sampai menghasilkan generasi F1 yang akan digunakan untuk pengamatan biologi.

Generasi F1 dewasa hasil perbanyakan di laboratorium, digunakan untuk pengamatan biologi dengan eara memelihara A longipennis betina dan jantan seeara berpasangan dalam tabung plastik berukuran panjang 25 em dan diameter 8 em, yang diberi rumpun padi berumur 2 minggu setelah tanam (mst). Setiap hari diberi pakan wereng eoklat nimfa instar 2 atau 3 sebanyak 20 ekor. Selama dipasangkan, waktu pra-oviposisi dan jumlah telur yang dihasilkan A longipennis betina diamati setiap hari. Batang padi yang telah diteluri, diletakkan dalam eawan petri berdiameter 14 em, yang diberi kerta tisu basah untuk menjaga kelembaban dan dipelihara sampai telur menetas dan kemudian dihitung jumlah telur yang menetas. Nimfa yang telah dihasilkan, dipelihara dan dihitung umur dan daya mangsanya. Nimfa instar 1 dipelihara pada eawan petri (diameter 10 em), diisi beberapa batang padi yang bagian akarnya dibungkus dengan kapas basah dan diberi pakan 20 ekor nimfa wereng eoklat instar 1. Setelah nimfa instar 2 menjadi instar 3, dipindahkan ke dalam tabung plastik berukuran tinggi 25 em dan diameter 8 em, diberi pakan 2 rumpun padi berumur 2 minggu setelah tanam (mst). Pakan yang diberikan adalah wereng eoklat instar 2 sebanyak 20 ekor/hari. Pada pemeliharaan untuk diamati biologinya jengkerik hanya diberi wereng eoklat saja. Kegiatan dilakukan sampai A/ongipennis menjadi dewasa. Selama pemeliharaan diamati morfologi nimfa, lama masing-masing instar dan sintasan (survival rate). Selama pemeliharaan, pemberian pakan dilakukan dua kali setiap hari, yaitu pad a pukul 06.00 WIB dan jam 18.00 WIS. Pada waktu pemberian pakan dilakukan penghitungan sisa

(5)

Sri Karindah et al.: Biotoqi Anaxipha /ongipennis Serville .

pakan dari jumlah pakan yang diberikan setiap harinya, untuk mengetahui jumlah mangsa yang diperlukan A. /ongipennis selama

perkembangan-nya pada setiap stadia. Pengamatan terhadap

daya mangsa jengkerik dewasa generasi F2

dilakukan selama 10 hari sejak jengkerik menjadi dewasa muda.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Biologi A. fongipennis

Telur A. /ongipennis disisipkan secara ber-deret vertikal pada batang padi, dan sebagian dari telur nampak dari luar. Telur berbentuk silinder, terdapat kait pada ujungnya sebagai alat untuk

menempel pada jaringan tanaman (Gambar 1).

Teluryang baru diletakkan berwama putih trans-paran,halus dan kelihatan mengkilat,panjang 1-1.5 mm (TabeI1). Telur yang sudah tua berubah menjadi kuning bening dan sudah kelihatan bintik kehitaman yamg merupakan calon mata (Gambar 2). Pada saat akan menetas wama telur berubah menjadi kuning kecoklat-coklatan. Stadia telur rata-rata berlangsung 16.2 ± 0.35 hari (TabeI2).

Pada saat baru muncul nimfa berwama putih transparan. Pada hari ke-3 mulai pada bagian punggung (dorsal) nampak terdapat 2 garis kekuning-kuningan yang memanjang mulai dari

kepaia sampai abdomen. Nimfa instar 1 yang

baru keluar gerakannya lamban. Dari

peng-amatan visual diketahui bahwa gerakan nimfa

instar2 lebih cepat daripada instar 1. Pada saat baru berganti kulit tubuhnya berwama kuning bening,tidakterdapat garis-garis pada tubuhnya. Setelah berumur 3 hari mulai nampak garis-garis kuning tua pada kepala yang memanjang sampai abdomen. Nimfa pada awal instar tiga berwama kuning cerah, setelah 2 hari warna tubuhnya menjadi kuning kecoklat-coklatan dengan dua garis sejajar kuning tua dari kepala sampai

abdomen. Sakal sayap sudah nampak dengan

ukuran yang pendek (± 0.05 mm). Pada nimfa betina sudah muncul ovipositor dengan ukuran yang pendek dan kelihatan masih lemas. Sagian

dorsal abdomen terdapat rambut-rambut yang

tebal. Nimfa instar empat warnanya kuning

kecoklat-coklatan,bakal sayapnya lebih panjang daripada nimfa instar 3 dan sudah menutupi setengah dari abdomennya. Pada nimfa betina

ovipositor terlihat jelas, lebih panjang dan kelihatan lebih kaku dengan warnacoklat gelap. Kepala dan tubuh stadia dewasa berwarna kuning cerah sampai kuning tua dengan sayap yang lebih panjang daripada nimfa instar 4 dan menutupi

seluruh bagian abdomen. Semua kaki berwarna

putih sampai kuning. Duri pada femur lebih keras

dan kaku. Tibia seluruhnya berwama kuning.

Rerata ukuran nimfa instar 1 sampai dengan instar 4 disajikan pada Tabel1 dan 2.

Stadia dewasa A. /ongipennis berwarna

kuning dan terdapat dua bentuk, yaitu dewasa bersayap pendek dan dewasa bersayap panjang

(Sarrion dan Litsinger, 1994). Dewasa yang

bersayap panjang mempunyai sayap depan berukuran hampir dua kali panjang

abdomen-nya. Perbedaan A. /ongipennis dewasa betina

dan dewasa jantan selain ditandai oleh ada

tidaknya ovipositor juga dapat dilihat dari

adanya perbedaan corak sayap. Pada sayap A.

/ongipennis betina dewasa terdapat 5 vena lurus

membujur sejajar, sedangkan pada sayap jantan

terdapat beberapa vena melingkar yang

berbentuk oval (Gambar 3). Jengkerik jantan

dapat mengerik untuk menarik betina (de

Kraker, 1996).

Sintasan A. /ongipennis dari telur sampai

menjadi dewasa disajikan pada Gambar 4.

Sintasan A. /ongipennis mengalami penurunan

seiring dengan perkembangannya. Stadia nimfa instar 1 nilai sintasannya tidak dapat mencapai 100%, diduga karena terdapat telur yang rusak akibat pembedahan, sehingga telur tidak dapat menetas. Jumlah nimfa instar 2 sampai instar 4 terus menurun, karena adanya kematian instar pada saat pergantian kulit yang tidak sempurna. Namun, dari nimfa instar 4 sampai menjadi

dewasa jumlahnya tidak mengalami penurunan.

Hal tersebut disebabkan pada tahap tersebut

nimfa-nimfa yang lebih tua memiliki daya

adaptasi dengan lingkungan yang lebih baik dibandingkan dengan tahap sebelumnya dan

proses ganti kulit terjadi secara sempurna,

seperti yang terjadi pada Mettioche vittaticollis.

Rubia dan Shepard (1987) menyatakan bahwa persen kematian nimfa instar 4 dan imago M.

vittaticollis lebih rendah daripada nimfa-nimfa

(6)

282

Sri Karindah et al.: Biologi Anaxipha longipennis Serville ; .

Tabel1. Ukuran panjang tubuh dan antena A. longipennis

(Table 1.Body and antennallength of A. longipennis)

Stadia (Stadium) Panjang Antena (mm) ±SE (n

=

20) (Antennallength) Panjang tubuh (mm) ± SE (n

=

20) (Body length) Telur (Eggs)

Nimfa instar 1 (Nymph 1)

Nimfa instar 2 (Nymph 2) Nimfa instar 3 (Nymph 3) Nimfa instar 4 (Nymph 4) Dewasa Betina (Female adult) Dewasa Jantan (Male adult)

1.2±0.170 1.4 ± 0.024 2.1 ± 0.054 3.1 ± 0.053 4.4 ± 0.053 5.0 ± 0.025 5.9 ±0.029 2.26 ± 0.049 4.08 ± 0.054 6.08 ± 0.083 7.90 ± 0.083 8.20 ± 0.105 8.33 ± 0.105

Gambar 1.a) Telur A. /ongipennis pada batang

padi,

b) Bekas luka tusukan ovipositor

(Figure 1.a) Inserted Eggs ofA.longipennis on rice,

b)awound caused by ovipositor)

Gambar 2. Telur A.longipennis yang hampir

menetas

(Figure 2. Nearly hatched egg of A. longipennis)

Gambar 3. Imago betina dan jantan A. longipennis bersayap pendek

(7)

Sri Karindah etal.: 8iologi Anaxipha longipennis Serville : .

Tabel 2. Waktu perkembangan dan daya mangsa A. longipennis pada nimfa wereng coklat

(Table 2. The developmental period and predation ofA. longipennis on brown plant hopper nymphs) Fase perkembangan

Stadia

N (hari) ± SE

(Stadium) (Developmental period

(days) ±SE) Telur 36 16.2 ± 0.35 Nimfa Instar 1 29 7.4±0.17 Nimfa Instar 2 21 7.6 ±0.14 Nimfa Instar 3 17 8.3 ± 0.23 Nimfa Instar 4 15 8.4±0.19 Dewasa Setina 8 34 ± 0.38 Dewasa Jantan 7 29 ± 0.38 Jumlah mangsa (Number of preys)

Daya mangsa (ekor) ±SE (Prey consumed (prey) ± SE)

20 instar 1 2.46 ± 0.09 20 instar 1 4.54 ± 0.09 20 instar 2 6.39 ± 0.09 20 instar 2 9.61 ± 0.08 20 instar 3 18.54 ± 0.08 20 instar 3 14.76 ± 0.08 1.20· i I 1.00 I

,

.

()Jill , I O.W I 0.411 J I 11.2£1

i

0,00

i

.

I \11 Tclue

, ,

.

,

.

...

.

,." ",. '

•.

\J III III 22 25 Instar1 Instar2

.'

",._,

,

..

,

.. '

.

.

2' .1\ 34 37 40 43 4~ lnstar .1 Inslar4 Imago Stadia

Gambar 4. Grafik sintasan A. longipennis

(8)

284

Sri Karindah et al.: Biologi Anaxipha longipennis Serville .

5

3 5 7 9

Hari setelah dipasangkan (days after being paired)

2 2 222 3 3

Gambar 5.Grafik rata-rata harian jumlah telur yang di letakkan A.longipennis

(Figure 5. The average daily number of laid eggs ofA. longipennis)

Tabel 3. Rerata lama hidup dewasa, praoviposisi, jumlah telur yang diletakkan dan presentase tetas

telur A.longipennis di laboratorium

(Table 3. The average of adult longevity, preoviposition period, number of laid eggs and percentage of

hatched eggs in the laboratory)

Lama hidup Dewasa Setina 35.30 a ± 0.30 hari (days)

(Female longevity)

Lama hidup Dewasa Jantan 30.30b ± 0.80 hari (days)

(Male tonaevltv)

Praoviposisi (Preoviposition) 10.30 ± 0.30 hari (days)

Jumlah telur (Number of of eaas) 38.40 ± 0.80 butir (eaas)

Daya tetas telur (Percentage of hatched egg) 72.25 ± 3.00 %

Rata-rata lama hidup dewasa, praovl

-poslsi betina, jumlah telur yang diletakkan dan

persentase tetas telur A. longipennis di sajikan

pada Taber3. Hasil analisis uji t menunjukkan

bahwa umur A. longipennis betina berbeda

nyaia dengan umur jengkerik jantan (p=0.001).

A. /ongipennis betina dewasa lama hidupnya

rata-rata 35.3 hari sedangkan dewasa jantan

rata-rata 30.3 hari.Sesuai dengan hasil

peneliti-an Dixon (2000) bahwa pada kondisi

labo-ratorium umumnya lama hidup serangga jantan

lebih pendek daripada betina. Serangga jantan

biasanya mempunyai aktivitas yang lebih tinggi

di awal masa dewasa untuk mencari pasangan

dan kawin selain untuk mendapatkan makanan,

aktivitastersebut membutuhkan energi lebih dan

harusdibayar dengan berkurangnya lama hidup

Waktu oviposisi rata-rata dimulai pada

hari ke-10 setelah dipasangkan, dan periode

bertelur rata-rata berlangsung selama 17 hari di

-hitung mulai hari pertama oviposisi (Garnbar5).

Jumlah telur A. longipennis betina yang

di-letakkan setiap hari selama periode oviposisi

tidak tetap, yaitu antara 1-4 butir per hari.

Selama periode 27 hari sejak dipasangkan A.

longipennis betina dapat terus bertelur, dan

periode bertelur berhenti mulai pada hari ke-28

sejak dipasangkan sampai A.longipennis betina

mati.

Selama pengamatan biologi A.

Longi-pennis dari nimfa instar 1 sampai menjadi

dewasa, juga diamati daya mangsa harian

masing-masing stadia. Rerata daya mangsa A.

longipennis mulai dari stadia nimfa lnstar,

1-dewasa terhadap wereng coklat nimfa instar 1

dan 2 dapat dilihat pada Gambar 6. A.

longi-pennis instar 1 yang berlangsung ± 7 hari,pada

umur 1 hari belum aktif memangsa. Pada umur

2 hari mulai aktif memangsa dan daya

mangsanya terus meningkat sampai umur 5

hari, lalu terjadi penurunan daya mangsa pada

(9)

Sri Karindah eta/.: Biologi Anaxipha longipennis Serville .

ke instar 2. Setiap hari nimfa instar 1 rata-rata

memangsa 2.46 ± 0.09 ekor wereng coklat

instar 1. Instar 2 yang berlangsung ± 7 hari,

pada awal instar sudah aktif memangsa jika

dibandingkan dengan awal dari nimfa instar 1.

Daya mangsa nimfa instar 2 tertinggi adalah

pada umur 4 hari sejak menjadi instar 2 dan

menurun mulai hari ke-5 sampai hari ke-7,

setiap hari rata-rata memangsa 4.54 ± 0.09 ekor

wereng coklat instar 1. Nimfa instar 3

berlangsung ± 8 hari. Pad a hari ke-1 sudah aktif

memangsa, dan terus meningkat sampai hari

ke-3 dan mulai menurun pad a hari ke-4.

Peningkatan daya mangsa terjadi kembali pada

hari ke-5, pada pada hari ke-6 mengalami

penurunan sampai umur 8 hari. Setiap hari

nimfa instar 3 rata- rata mampu memangsa 6.39

± 0.09 ekor wereng coklat instar 2. Sedangkan

nimfa instar 4 yang juga berlangsung ± 8 hari daya mangsa antara betina dan jantan berbeda.

Pada hari ke-1 menjadi instar 4 daya mangsa

antara betina dan jantan sama, tetapi pada hari berikutnya terjadi peningkatan daya mangsa di

antara nimfa jantan dan betina. Daya mangsa

nimfa instar 4 betina meningkat pada hari ke-2

sampai hari ke-5 dan nampak sedikit lebih tinggi

daripada instar 4 jantan. Penurunan daya

mangsa pada nimfa instar 4 ini terjadi pada hari

ke-7 dan hari ke-8 dengan betina lebih ban yak

daripada jantan. Rerata jumlah mangsa yang

dikonsumsi nimfa instar 4 jantan atau betina

adalah 9.61 ± 0.08 nimfa wereng coklat instar 2.

Pad a percobaan lni pengamatan daya

mangsa terhadap stadia dewasa baik betina

maupun jantan hanya dilakukan selama 10hari.

Sejak had ke-1, baik betina maupun jantan

dewasa sudah menampakkan daya mangsa

yang tinggi dua kali lipat, dibandingkan dengan

stadia nimfa (Tabel 2). Pada perkembangan

selanjutnya daya mangsa betina dewasa lebih

tinggi dibandingkan jantan dewasa, masi

ng-masing adalah 18.54 ± 0.08 dan 14.76 ± 0,08.

Hal ini disebabkan karena dewasa betina

mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar

dibandingkan jantan dan membutuhkan

konsumsi protein yang banyak dari makanannya

yang mendukung kemampuan bertelurnya

(Chapman, 1972 dan Obryecki et al., 2002).

Secara umum terlihat bahwa meningkatnya

stadia perkembangan nimfa diikuti peningkatan

daya mangsa A. longipennis. Peningkatan

stadia menyebabkan ukuran tubuh jengkerik

semakin besar.· Selain itu, semakin tinggi

tingkatan stadia A. longipennis, aktivitas dan

gerakannya semakin tinggi, sehingga kebutuhan

pakan juga meningkat untuk memenuhi

kebutuhan nutrisi yang digunakan untuk

pertumbuhannya (Dixon, 2000).

Pengamatan daya mangsa A. longipennis

pada stadia nimfa instar 1 sampai menjadi

dewasa, menunjukkan aktifitas memangsa yang

berbeda di antara rentang waktu pagi-petang

hari dengan petang-pagi hari (Gambar 7). Daya

mangsa pada rentang waktu jam 18.00-06.00

WIS lebih tinggi daripada rentang waktu jam

06.00-18.00 WIS. Dengan demikian dapat

dinyatakan bahwa aktifltas jengkerik predator

dipengaruhi oleh intensitas cahaya. Jengkerik

predator termasuk juga A. longipennis tidak

menyukai intensitas cahaya yang terang. Dua

jenis jengkerik predator M. vittaticolis dan A.

longipennis sangat aktif mencari mangsa pada

saat matahari mulai tenggelam dan pada saat

menjelang terbit (Saunder, 1982 dalam de

(10)

286

Sri Karindah et al.: 8iologi Anaxipha /ongipennis Serville : .

M,IIO)

Tclur Instar I

___ Daysmangsa jantan (Male) -m-Stadilt

lnstar 2 Stadia

lnstar 3 Instar 4 Imago bctina/janten

...- Daya mangsa bctina (Female)

Gambar 6. Rerata daya mangsa setiap stadium A /ongipennis

(Figure 6. The average number curve of preyed upon each stadium of A/ongipennis)

16 14 .12 -.:- I 0 101 ..><: ~ 8 ~ 01)

"

6 '"

I

s

~ '" 4

J~

>. ee c 2 o I

instar i instar 2 instar 3 instar 4

Stadia Imago imago Betina Jantan I ~ Jam 06.00-18.00 ~ Jam] 8.00-06.001 I

Gambar 7. Oaya mangsa A /ongipennis terhadap nimfa wereng eoklat selama pagi-petang dan petang-pagi (Figure 7. The average number curve of preyed upon byA. /ongipennis during the day and night period)

KESiMPULAN

Daur hidup A. iongipennis berkisar antara

.40-50 hari. Oaur hidup A /ongipennis betina dewasa lebih lama dibanding jantan dewasa. Laju kematian A /ongipennisdapat terjadi pad a setiap instar, sehingga nilai sintasan nimfa instar

1 sampai menjadi dewasa juga menurun. .

Oaya mangsa A /ongipennis meningkat sejalan dengan perkembangan dan umur nimfa. Jumlah telur yang dihasilkan A /ongipennis betina selama hidupnya rata-rata 38.4 butir

dengan daya tetas telur rata-rata sebesar 72.25%. Aktivitas memangsa dipengaruhi oleh intensitas eahaya matahari, khususnya pada sore dan malam hari aktifitas memangsa lebih tinggi daripada pagi hari.

SARAN

Melihat potensi A /ongipenis sebagai pre-dator telur dan serangga keeil perlu dlperhatlkan kelestarian predator ini di habitat sawah.

(11)

Sri Karindah eta/.:Biologi Anaxipha /ongipennis Serville .

Penelitian tentang tempat perkembangbiakan

serangga ini penting dilakukan.

DAFT AR PUST AKA

Barrion, AT. and J.A. Litsinger. 1994. Taxo-Nomy of Rice Insect Pests and their Arthropod Parasites and Predators. In:

Biology and Management of Rice Insects.

Manila (Philippines): International Rice Research Institute.p 13-362.

Chapman, R. F. 1982.The Insect Structure and

Function.English Language Book Society

Edward Arnold. E A (Publisher) Ltd. 41

Bedford Squard London.WC. 1919 pp.

Commonwealth Scientific and International

Research Organization (CSIRO). 1970.

Insects of Australia: A Textbook for

Students and Research Workers.

Melbourne University Press, Victoria,

Australia. 1029 pp.

de Kraker, J. 1996. The Potential of Natural

Enemies to Suppress Rice Leaffolder

Population. Wageningen Agricultural

University. p.65-153.

de Kraker,J.,A van Huis,J.C. van Lenteren,K.

L.Heong dan R.Rabbinge.2000. Identity

and Relative Importance of Egg Predators

of Rice Leaffolders (Lepidoptera:

Pyralidae). Biological Control. 19 (3): 215

-222.

Dixon, A.F.G. 2000. Insect Predator-prey

Dynamics. Ladybird Beetles and

Biological Control. Cambridge University

Press. p.36-66.

Heong, K. 1986. Arthropoda Diversity: LOOking

Beyond The Rice Field.

http://www.irri.orq/science.htm. Diunduh

pada 19 April 2003.

Heong, K.L.2002. Arthropod Diversity:Looking

Beyond The Ricefields. www.irrLorg/

Science.htm. diunduh pada 21 Juni

2002.

Obrycki, J.J.,J.T. Maurie and AT. Catherine.

2002. Prey Specialization in Insect

Predators. IPM. University of Minnesota.

New York. p.2-8.

Rubia, E.G. and B.M.Shepard. 1987.Biology of

Metioche vittaticollis (Stal.) (Orthoptera:

Gryllidae), A Predator of Rice Pest.

Entomology Department. The

Inter-national Rice Research Institute.p.60-64.

Shepard, B.M., AT. Barion and J.A. Litsinger.

1994. Mitra Petani, Serangga Laba-Iaba

dan Patogen Yang Membantu.

Diterjemahkan oleh Kasumbogo Untung dan Samino Wirjosuharjo. Internacional

Gambar

Gambar 1.a) Telur A. /ongipennis pada batang padi,
Tabel 2. Waktu perkembangan dan daya mangsa A. longipennis pada nimfa wereng coklat
Gambar 5. Grafik rata-rata harian jumlah telur yang di letakkan A. longipennis (Figure 5
Gambar 7. Oaya mangsa A /ongipennis terhadap nimfa wereng eoklat selama pagi-petang dan petang-pagi (Figure 7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dihasilkan kesimpulan bahwa pengaturan hukum pidana di Indonesia mengenai tindak pidana penyalahgunaan Narkotika secara

Mengambil bank syariah di seluruh kawasan ASEAN sebagai sasaran penelitian, penelitian ini menghasilkan suatu simpulan bahwa rasio profitabilitas dan kredit

Secara teori sepuluh jenis pohon yang dinilai berpotensi dianggap memiliki kondisi tempat tumbuh yang sesuai dengan lahan reklamasi dan dapat digunakan untuk

Maka peneliti sangat menarik untuk melakukan pengembangan penelitian karakteristik internal pada auditor dengan menguji variabel yang telah ditentukan oleh peneliti

Konsumsi makanan fungsional sumber antioksidan dengan 4-HNE plasma pada lanjut usia tidak menunjukan hubungan yang bermakna, demikian juga dengan hubungan gangguan fungsi

Bapak Wiedjaja, S.Kom, selaku dosen pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan pengarahan, nasehat, saran, kritik, dan perhatian yang besar serta masukan

KAJIAN EFISIENSI OPERASIONAL KERETA API KOTA BANDUNG STUDI KASUS KA ARGO PARAHYANGAN BANDUNG-JAKARTA.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan variabel yang diteliti yaitu penetapan kebijakan K3, perencanaan K3, pelaksanaan rencana K3, pemantauan dan evaluasi kinerja,