• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. FREETER

2.1.1. Definisi Freeter

Freeter menjadi fenomena yang muncul dikalangan kaum muda Jepang sejak awal tahun 1980an dan jumlahnya terus mengalami peningkatan setiap tahun. Definisi dari istilah freeter sendiri mulai banyak bermunculan seperti yang diungkapkan dalam White Paper pada National Lifestyle yang mengartikan freeter sebagai orang-orang berusia antara 15 sampai 34 tahun, belum menikah dan bukan pelajar yang bekerja paruh waktu atau arubaito (termasuk pekerja yang ditempatkan atau dispatch workers), pengangguran, baik mereka yang pernah bekerja sebelumnya atau yang menunjukkan ketidakmauan untuk bekerja (Hendrik Meyer-Ohle. 2009: 131).

Ditahun 1987, Recruit Magazine mengartikan istilah freeter sebagai peruntukan tipe baru untuk pekerjaan paruh waktu dengan menggabungkan kata Bahasa Inggris “free” (bebas) dan kata Bahasa Jerman “arbeiter” (pekerja), yang berarti pekerja (Hiroshi Ishida dan David H. Slater. 2010: 167).

Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang mentabulasikan secara khusus data dari “Survei Tenaga Kerja (Total Rincian)” 「労働力調査(詳細集計)」yang

dilakukan oleh biro statistik Kementerian Urusan Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang pada tahun 2002 yang mendefinisikan freeter sebagai berikut :

年齢15~34歳層、卒業者に限定することで在学者を除く点を明確化し、女性につ いては未婚の者とし、さらに、 1. 現在就業している者については勤め先における呼称が「アルバイト」又は「パート」 である雇用者で、 2. 現在無業の者については家事も通学もしておらず「アルバイト・パート」の仕事を 希望する者をいう。 (http://www.mhlw.go.jp/houdou/2003/09/h0919-5g9.html)

Definisi freeter yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan tersebut mengalami perubahan selain dari poin pertama dan kedua. Di tahun

(2)

1982-1997 definisinya diperjelas dengan kategori laki-laki yang bekerja selama kurang dari 1 sampai 5 tahun dan untuk wanita yang belum menikah dan lebih mengutamakan pekerjaan, sedangkan pada tahun 2000 dibatasi untuk wanita bagi mereka yang belum menikah.

Selain definisi tersebut, muncul penafsiran lain dari pendiri majalah pekerjaan From A, Michishita Hiroshi yang menggambarkan istilah freeter atau “free arbeiter”, yang saat itu digunakan untuk merujuk pada orang-orang yang bekerja dengan gaji rendah dan pekerjaan tidak stabil (Emma E. Cook. 2016: 36).

Sedangkan Hendrik Meyer-Ohle dalam buku “Japanese Workplaces in Transition: Employee Perceptions” (2009: 121) menjelaskan pengertian freeter sebagai berikut :

The Kenkyusha dictionary lists the term as a contraction of the words furii and arubaita (free+the term for student helpers), and say it is used to describe a job-hoping part-time worker, a permanent part-timer or a part-timer by choice. The term “freeter” was initially coined in the late 1980s for the graduated from high school or university and instead took up irregular employment. Since then the term freeter has assumed prominence in an intense discussion about the mindset and situation of young people in Japan.

Dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa freeter merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan kaum muda Jepang berusia 15 sampai 34 tahun yang memilih bekerja paruh waktu dengan penghasilan rendah dan pekerjaannya yang tidak stabil. Dalam hal ini, ibu rumah tangga dan siswa sekolah tidak termasuk ke dalam kategori freeter. Beberapa dari mereka mengharapkan bisa mendapatkan pekerjaan tetap. Para freeter ini bekerja paruh waktu sambil tetap menjalani masa pencarian kerja. Selain itu, mereka bisa menambah kemampuan dan skill khusus dari pekerjaan paruh waktu yang mungkin nantinya akan dibutuhkan di perusahaan. Yang lainnya memilih menjadi freeter karena ingin menghindari tekanan berat dan beban pekerjaan yang terus menumpuk setiap harinya. Ada pula yang merasa sudah nyaman dengan keadaannya sebagai seorang freeter dan ia tidak berkeinginan untuk beralih ke pekerjaan tetap. Para pelakunya biasanya merupakan lulusan-lulusan baru dari perguruan tinggi. Setelah lulus, mereka akan langsung dihadapkan dengan persaingan kerja yang sulit dan ketat yang dikenal dengan Shuushoku Katsudou (就職活動) atau masa pencarian kerja. Perusahaan-perusahaan biasanya hanya bisa menampung sedikit dari pelamar kerja yang masuk. Bagi mereka yang gagal atau tidak diterima bekerja biasanya akan beralih bekerja arubaito atau part-time.

(3)

pengetahuan atau keterampilan yang cukup saat mereka dibangku sekolah, kemungkinan hal tersebut akan menyebabkan kerusakan serius dalam kehidupan pekerjaan mereka nantinya. Dari sudut pandang secara umumnya termasuk politik, ekonomi dan masyarakat, dapat dikatakan bahwa tanpa proyek pengembangan pekerja muda, Jepang akan dihadapkan dengan pertumbuhan ekonomi yang menurun dan kelemahan atau fragilitas jaminan sosial. Permasalahan tersebut bukan hanya sebatas masalah ketenagakerjaan, tapi juga menyangkut permasalahan yang melibatkan pendidikan, industri, dan masyarakat, sehingga pemerintah harus mengatasi kasus ini sebagai topik nasional.

2.1.2. Awal Mula Freeter

Sejak munculnya gelembung ekonomi (bubble economy) ditahun 1980an situasi kerja saat itu sangat parah dan pasar kerja bagi kaum muda ikut memburuk. Dalam krisis ekonomi tersebut, perusahaan-perusahaan Jepang tidak bisa mempekerjakan karyawan dalam jumlah banyak seperti sebelumnya, justru sebaliknya perusahaan banyak melakukan pengurangan pegawai untuk bisa keluar dari krisis tersebut. Lowongan kerja yang semakin berkurang drastis tidak mampu mengimbangi jumlah lulusan baru yang begitu banyak. Perusahaan hanya bisa menampung sedikit dari jumlah calon pekerja tersebut. Dengan persaingan kerja yang semakin ketat dan persyaratan tinggi yang diajukan perusahaan pun membuat banyak pelamar kerja satu per satu akhirnya menyerah dan mengganti haluan bekerja sebagai pekerja paruh waktu. Kondisi yang sulit ini dinamakan "employment ice age” (zaman es pekerjaan). Selain itu, banyak anak-anak muda yang keluar dari sekolah atau universitas tanpa memiliki bekal dan kemampuan yang cukup untuk membuat mereka dipekerjakan sebagai karyawan tetap oleh perusahaan. Pada akhirnya banyak kaum muda Jepang terpaksa mengambil pekerjaan arubaito atau part-time sebagai seorang freeter dengan penghasilan yang tak seberapa untuk bisa membiayai kehidupan mereka sehari-hari. Sejak 1990, jumlah freeter mencapai 1,83 juta orang dan angka tersebut terus mengalami pengingkatan ditahun-tahun berikutnya.

(www.mhlw.go.jp/english/wp/wp-hw3/dl/Part01-02-01.pdf).

Peningkatan jumlah freeter juga diakibatkan kesadaran masyarakat Jepang akan fenomena karoshi. Karoshi merupakan fenomena sosial “kematian karena terlalu banyak bekerja”. Penyebab utamanya adalah stres berlebih akibat tekanan tinggi di lingkungan kerja, serta kebiasaan bekerja melebihi standar waktu normal yaitu 8 jam. Biasanya kaum karoshi ini bekerja 12 jam

(4)

sehari, selama 7 hari. Hasil upah yang tidak sepadan dengan kondisi kerja seperti itu mengakibatkan para pekerja mengalami penderitaan secara mental. Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Buruh Jepang menyatakan sejak Januari sampai Maret 2007 telah terdapat sekitar 355 pekerja yang menderita sakit parah dan meninggal karena terlalu banyak bekerja (Y. Sri Pujiastuti, T. D. Haryo Tamtomo dan N. Suparno. 2007: 42).

Untuk menghindari hal tersebut banyak pekerja Jepang yang melepas statusnya sebagai karyawan tetap dan beralih menjadi pekerja paruh waktu dengan tanggung jawab dan tekanan dari lingkungan kerja yang lebih ringan. Selain itu, rata-rata jam kerja untuk mereka yang memilih pekerjaan tersebut hanya berkisar 6-8 jam sehari dengan hari libur 1-2 hari seminggu. Kondisi ini membuat mereka lebih mempunyai waktu luang untuk kebutuhan pribadi dan berkumpul dengan keluarganya, yang tidak bisa mereka dapatkan ketika menjadi karyawan tetap.

Dari data yang dikeluarkan oleh Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi dalam "Survei Tenaga Kerja", menyatakan bahwa persentase freeter baik untuk pria maupun wanita dengan kelompok usia 15-19 tahun angkanya melonjak tinggi dari tahun 1982 hingga ke tahun 2002. Peningkatan persentase tersebut lebih besar jika dibandingkan kelompok usia yang lainnya. Sedangkan persentase yang mengalami kenaikan paling rendah yaitu kelompok usia 30-34 tahun untuk freeter pria dan kelompok usia 25-29 tahun untuk freeter wanita (Lihat Tabel 2.1 dan 2.2).

TABEL 2.1 Persentase Freeter Pria Berdasarkan Kelompok Usia

(5)

(http://www.jil.go.jp/english/reports/documents/jilpt-reports/JILPTRNo5_hori. pdf)

2.2. Karakter dan Budaya Kerja Pekerja Jepang pada Umumnya

Sikap masyarakat Jepang yang pekerja keras, berdisiplin tinggi, bertanggung jawab, dan selalu tepat waktu dalam melakukan setiap pekerjaan baru terlihat jelas setelah perekonomian yang kacau dikarenakan krisis ekonomi pada pemerintahan keshogunan Tokugawa. Kaisar Tokugawa memperingatkan kepada setiap rakyatnya untuk bekerja keras disertai dengan semangat bushido agar bisa terlepas dari krisis ekonomi tersebut. Sejak itu, masyarakat Jepang mulai berlomba-lomba menempa diri untuk menjadi yang terbaik sesuai perannya dalam masyarakat.

Selain itu, sejak awal zaman Meiji berkembang sebuah tradisi yaitu belajar dan menimba ilmu pengetahuan dari bangsa Barat sambil tetap memelihara “semangat Jepang” (wakon yousai) (Tadashi Fukutake. 1988: 2). Saat restorasi Meiji, Jepang memulai modernisasi secara besar-besaran dengan mengirimkan pelajar untuk menuntut ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan dari Barat. Para pelajar tersebut kemudian kembali ke Jepang dan mulai mengembangkan ilmu tersebut untuk membangun negaranya. Produk-produk teknologi yang mereka pelajari pun diperbaiki dan disempurnakan lagi menggunakan metode yang disebut kaizen. Selain itu, perusahaan-perusahaan besar di Jepang membuat perubahan sistem ketenagakerjaan pasca Perang Dunia II, yaitu :

1. Shuushin koyou seido (終身雇用制度), yaitu sistem kerja seumur hidup dimana karyawan bekerja dan mengabdi dalam satu perusahaan sampai masa pensiunnya.

(6)

2. Nenkoujouretsu (年功序列), yakni perusahaan memberikan upah kepada karyawan berdasarkan senioritas.

3. Kigyoubetsukumiai (企業別組合), yaitu serikat pekerja dimana semua pekerja dengan jenis pekerjaan apapun diorganisasikan oleh satu serikat pekerja.

Tiga sistem ini hanya diberlakukan pada perusahaan-perusahaan besar dengan tujuan agar meningkatkan sikap loyalitas para pekerja terhadap perusahaan. Dengan adanya sistem ini budaya kerja masyarakat Jepang pun semakin berkembang dengan sikap kerja mereka yang produktif, cekatan, efektif dan efisien dalam menciptakan mutu tinggi dengan waktu singkat untuk mencapai tujuan perusahaan tersebut.

2.2.1 Karakter Pekerja Jepang

Karakter orang Jepang sudah terbentuk secara turun temurun sejak dulu dan mendarah daging pada setiap individu masyarakatnya. Sifat dan karakter tersebut yang menuntun dan mendorong bangsa Jepang menuju kesuksesan di tengah segala keterbatasan yang ada. Seperti yang dikemukakan oleh John C. Maxwell (2007: 135) :

No one can expect succeed without strong character below the surface to protect his talent and sustain him during difficult times. Character holds us steady, no matter how rough the storm becomes.

Pembentukan karakter sendiri dimulai dari kelompok terkecil yaitu keluarga dan kemudian dilanjutkan melalui jalur pendidikan disekolah serta lingkungan tempat individu tersebut tumbuh dan berkembang. Dengan karakter yang positif dapat membentuk budaya kerja yang produktif. Berikut ini adalah karakteristik bangsa Jepang yang sangat menonjol dan menjadi dasar dari keberhasilan serta kesuksesan mereka (Imam Subarkah. 2013), yaitu:

1. Kerja keras

Pekerja keras adalah kesan paling kuat yang ditimbulkan bangsa Jepang dimata dunia. Giat bekerja dengan penuh semangat, gigih dan tanpa banyak mengeluh. Bagi mereka kemalasan adalah aib yang harus dihindari. Para pekerja tidak jarang yang rela bekerja lembur tanpa digaji sebagai bukti kesetiaan mereka terhadap perusahaan. Bagi mereka keberhasilan dan kemajuan perusahaan adalah prioritas utama.

(7)

2. Ramah dan Sopan

Bangsa Jepang memiliki budaya menghormati dan bersikap sopan terhadap orang yang lebih tua maupun yang status sosialnya lebih tinggi. Mereka juga memiliki kebiasaan melayani dan mendahulukan orang lain. Kebiasaan tersebut bersumber dari ajaran Zen Buddhism bahwa dengan melayani akan menumbuhkan rasa rendah hati dan kepekaan diri, justru kebanyakan dari mereka yang tidak beragama tetap teguh memegang tradisi ini. Nilai kesopanan dan membungkukan badan sebagai tanda penghormatan kepada orang lain akan sering dijumpai pada keseharian orang Jepang. Kebiasaan ini sudah diajarkan sejak kecil. Ketika berbuat salah pun orang Jepang tidak segan atau gengsi untuk meminta maaf. Mereka akan langsung menundukan kepala dan membungkukan badan sambil berkata “sumimasen” atau “gomenasai”. Mereka bahkan sampai menghukum diri sendiri untuk menghapus kesalahan-kesalahan yang diperbuat. Hal itu bisa tergambarkan pada budaya harakiri para samurai (bunuh diri dengan menusukan pedang ke perut) untuk menjaga kehormatan daripada kalah dan mati ditangan musuh.

3. Disiplin

Keberhasilan Jepang tidak lepas dari kedisiplinan tinggi masyarakatnya yang menimbulkan semangat dan sikap kerja keras, patuh serta mau melakukan apa saja demi keberhasilan perusahaan. Dalam hal pekerjaan jarang ada karyawan yang bolos kerja, mereka selalu masuk kerja tepat waktu dan pulang lebih larut untuk menyelesaikan pekerjaan yang diberikan. Rata-rata pekerja Jepang bisa bekerja sampai 12 jam sehari.

4. Budaya Malu

Budaya malu sejak dulu sudah mengakar pada kepribadian masyarakat Jepang. Seperti harakiri para samurai yang malu akan kekalahan mereka dimedan perang. Dizaman modern tradisi malu tersebut berubah menjadi fenomena “mengundurkan diri” sebagai rasa bersalah mereka karena gagal menjalankan tugas ataupun melakukan kesalahan yang merugikan perusahaan. Mereka malu jika tidak berusaha sekeras yang mereka bisa dan menunjukan hasil kinerja yang maksimal dan memuaskan. Selain itu, mereka juga malu untuk pulang cepat karena menandakan pegawai tersebut termasuk orang yang tidak dibutuhkan oleh perusahaan.

(8)

5. Jujur

Dalam kehidupan sehari-hari orang Jepang mempunyai rasa kejujuran tinggi, seperti jujur untuk tidak mengambil barang yang bukan miliknya. Apabila ada barang atau uang yang terjatuh dijalan atau tergeletak di tempat-tempat umum, orang Jepang tidak akan mengambil dan menjadikan benda tersebut miliknya melainkan mereka akan langsung menyerahkan barang tersebut kepos polisi terdekat. Dilingkungan kerja pun, kejujuran menjadi prinsip penting pada setiap pekerja. Kejujuran dalam bekerja akan membuat pekerja tersebut lebih dihormati dan dihargai oleh rekan kerja maupun atasan mereka.

6. Hidup Hemat

Masyarakat Jepang memiliki sikap antikonsumerisme tinggi atau selalu hidup ekonomis. Bagi bangsa yang tidak punya sumber daya alam memadai, prinsip untuk tidak melakukan pemborosan dan menyia-nyiakan tenaga, uang maupun waktu harus dilakukan. Orang Jepang sangat menghargai waktu, mereka jarang mengobrol saat sedang bekerja. Waktu dimanfaatkan seefektif dan seefisien mungkin. Dengan begitu mereka bisa menghasilkan sesuatu secara cepat dengan kualitas tinggi.

7. Inovatif

Keberhasilan Jepang didukung dengan daya inovasi tinggi masyarakatnya dalam memperbaiki dan menyempurnakan produk-produk teknologi yang mereka tiru dan pelajari dari bangsa Barat. Inovasi tinggi bangsa Jepang mampu menciptakan produk yang berkualitas sesuai keinginan konsumen yang mampu bersaing dipasar global, bahkan melebihi produk-produk buatan Barat. Jepang menggunakan 45% anggaran belanja mereka untuk membiayai penelitian serta pengembangan dalam rangka mengingkatkan inovasi dan mutu produk. Bagi mereka aset terpenting perdagangan dan pemasaran adalah kepercayaan konsumen dan jaminan kualitas produk yang dijual. Karena itu, sampai saat ini produk Jepang banyak dipilih didalam maupun luar negeri karena ekonomis, mudah dipakai, multifungsi dan bermutu tinggi.

8. Kerja sama berkelompok (Li Shi Guang. 2012)

Pekerja Jepang selalu bekerja dalam bentuk tim atau kelompok. Dalam perusahaan akan jarang sekali ditemui pekerja individual. Masing-masing memiliki rasa tanggung jawab tinggi

(9)

dan semangat berkelompok yang kuat. Mereka umumnya lebih mementingkan kebersamaan dan hasil pekerjaan sebagai tim sehingga tidak ada sifat egois yang muncul diantara pekerja. Seperti contohnya, saat ada masalah atau pekerjaan mendesak yang harus segera diselesaikan, mereka merasa terpanggil untuk memikul beban kerja bersama-sama dengan mengesampingkan kepentingan dan kesenangan pribadi.

Demikianlah karakter-karakter positif bangsa Jepang yang sudah dijelaskan oleh Imam Subarkah (2013) dan Li Shi Guang (2012). Karakter-karakter tersebut menjadi dasar utama pembentukan budaya kerja mereka yang sangat produktif, yang mampu menuntun mereka meraih kesuksesan sebagai negara maju dan penguasa ekonomi Asia.

2.2.2 Budaya Kerja Pekerja Jepang

Budaya kerja bangsa Jepang sejak dulu sudah mengakar kuat ke setiap generasi-generasi masyarakat yang selalu ditanamkan melalui pendidikan. Menurut Triguno Prasetya (2002: 54), budaya kerja adalah suatu falsafah yang didasari oleh pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan, dan kekuatan pendorong, membudaya dalam kehidupan suatu kelompok masyarakat atau organisasi yang tercermin dari sikap menjadi perilaku, kepercayaan, cita-cita, pendapat dan tindakan yang terwujud sebagai kerja atau bekerja.

Budaya kerja masyarakat Jepang yang produktif mendorong kemajuan teknologi, industri dan bidang lain serta mempengaruhi pertumbuhan ekonomi negara Jepang itu sendiri. Terbukti hanya dalam kurun waktu 20 tahun sejak kehancuran akibat bom atom yang menghujani jantung kota Jepang tahun 1945, mereka berhasil bangkit membangun kembali negaranya hingga kini Jepang menjelma menjadi raksasa di bidang teknologi dan perekonomian dunia. Berikut ini merupakan dasar prinsip dan konsep budaya kerja masyarakat Jepang yang produktif tersebut:

1. Semangat Bushido (武士道)

Semangat bushido yang dimiliki bangsa Jepang mengangkat kode etik kepahlawanan golongan samurai yang dimaknai rela mati demi negara dan kaisar. Rakyat Jepang sangat patuh dan setia terhadap kaisar karena mereka beranggapan bahwa kaisar adalah representasi dari dewa. Seperti yang dikemukakan oleh Shanta Nair-Venugopal (2012: 146) :

(10)

The Bushido code governed the conduct of the dominant social class, the samurai. … These principles emphasize honor, courage, loyalty, self-sacrifice, unquestionable reverence for the master and contempt for defeat.

Nilai-nilai kehidupan atas dasar semangat bushido tersebut menjadikan bangsa Jepang pantang menyerah dan berusaha keras dalam mewujudkan suatu tujuan tertentu. Semangat ini selalu diterapkan dalam setiap kinerja perusahaan. Para pekerja menerapkan filosofi ini sebagai semangat bersaing untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menciptakan produk baru yang kompetitif dipasar global. Semangat bushido juga melahirkan rasa nasionalisme tinggi yang mampu mempererat hubungan kerja sama antar perusahaan Jepang didalam ataupun diluar negeri sehingga produk mereka bisa dipasarkan ke seluruh dunia.

Sikap mental bushido sudah ditanamkan sejak dini pada anak-anak Jepang sehingga menjadi prinsip hidup mereka. Di lingkungan keluarga maupun sekolah, anak-anak diajarkan sikap kerjasama, kerja keras, mandiri, cerdas dan cinta membaca, hidup hemat dan tidak menyia-yiakan waktu, kreatif, inovatif, loyalitas, mandiri serta memiliki harga diri yang tinggi. Meskipun mereka tidak mendapatkan pelajaran agama seperti di Indonesia, namun mereka mendapatkan pengajaran tentang moral dan nasionalisme yang tinggi bersumber dari filosofi bushido. Pendidikan tersebut menjadi salah satu langkah penting dalam pembentukan karakter mereka yang selalu diteruskan secara turun temurun dalam masyarakat Jepang.

2. Ganbaru (頑張る)

Dalam Bahasa Jepang, ganbaru memiliki arti berjuang atau berusaha. Kalangan pekerja Jepang sering menggunakan kata ganbaru sebagai ungkapan motivasi untuk diri sendiri ketika memulai pekerjaan ataupun untuk menyemangati rekan kerjanya dengan berkata “ganbatte kudasai” (頑張って ください) agar bekerja lebih keras sampai pekerjaan

tersebut selesai. Semangat tersebut membangun karakter masyarakat Jepang yang mandiri, rajin, tangguh, pantang menyerah dan haus akan ilmu pengetahuan. Filosofi ganbaru merupakan perwujudan dari filosofi bushido yang berkembang pada masa samurai dan kemudian diterapkan kedalam kehidupan masyarakat Jepang sehari-hari.

(11)

3. Kaizen (改善)

Kaizen merupakan kunci keberhasilan kompetitif Jepang yang biasanya diterapkan sebagai strategi perbaikan manajemen kualitas perusahaan. Konsep ini membentuk sikap dan mentalitas pekerja keras dengan etika kerja yang penuh disiplin, teratur, kreatif dan inovatif. Menurut Masaaki Imai (2008: 29) dalam bukunya yang berjudul “The Kaizen Power”, kaizen adalah strategi yang merupakan satu-satunya konsep terpenting dalam manajemen Jepang. Secara harfiah kaizen berasal dari kata kai (berkesinambungan) dan zen (perbaikan), yang diperluas sebagai perbaikan terus menerus atau secara berkelanjutan termasuk perbaikan diri setiap orang-manajemen paling atas, manajer dan pekerja.

Langkah awal dalam kaizen yaitu menerapkan siklus PDCA (Plan, Do, Check, Action) sebagai prinsip dasar untuk perbaikan secara terus menerus. Konsep kaizen bertujuan untuk menghilangkan pemborosan dari setiap proses produksi dalam perusahaan dan sebagai sistem saran aktif untuk setiap karyawan agar bisa memberikan saran atau perbaikan dalam lingkungan kerja. Ada 9 prinsip yang terdapat dalam kaizen, yaitu berfokus pada pelanggan, melakukan peningkatan teru menerus, mengakui masalah secara terbuka, mempromosikan, menciptakan tim kerja, memanajemen proyek, memelihara proses hubungan yang benar, mengembangkan disiplin pribadi, dan memberi informasi ke semua karyawan.

4. Genchi Genbutsu (現地現物)

Pengertian Genchi Genbutsu secara harfiah yaitu go and see the problem, yang menekankan pada praktik dimana seseorang harus langsung mendatangi masalah untuk mengetahui masalah tersebut. Istilah populer lainnya yaitu “Genba” yang berarti lapangan atau tempat kerja. Genchi Genbutsu menjadi prinsip penting bagi seorang pemimpin untuk melihat sendiri kondisi dilapangan seperti apa proses dan masalah yang ada, sehingga dapat membuat keputusan yang tepat. Namun karena adanya keterbatasan-keterbatasan tertentu seorang pemimpin dapat mendelegasikan wewenangnya kepada orang kepercayaannya untuk melihat kondisi lantai produksi. Metode yang dipakai dalam konsep Genchi Genbutsu adalah Hourensou (報連相), akronim dari istilah Bahasa Jepang yaitu hou (Hou-koku: melapor), ren (Ren-raku: memberi informasi terkini secara periodik), dan sou (Sou-dan: berkonsultasi atau menasehati).

(12)

Dari pembahasan tersebut, sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan, dan kekuatan pendorong yang membudaya dalam kehidupan masyarakat Jepang adalah prinsip semangat bushido yang membentuk karakter dan sikap hidup bangsa Jepang. Hal ini dapat dibuktikan dengan sikap masyarakat Jepang giat dalam bekerja, pantang menyerah, memiliki loyalitas dan rasa nasionalisme tinggi, disiplin, mandiri, kreatif dan inovatif, selalu hidup hemat dan tidak menyia-yiakan waktu, jujur, ramah dan sopan, menghormati dan menghargai orang lain, dan rela mengorbankan diri sendiri demi kepentingan bersama yang selalu ditunjukan dalam keseharian mereka, baik dilingkungan keluarga, tempat kerja maupun masyarakat.

Gambar

TABEL 2.1 Persentase Freeter Pria Berdasarkan Kelompok Usia

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan hukum antara perusahaan dan pekerja dalam peraturan Undang-undang yang berlaku, bentuk tanggung jawab

Penerapan metode penerjemahan harfiah dapat dilihat melalui potongan penerjemahan Bsu “Melalui surat lamaran ini, saya ingin mengajukan diri untuk melamar pekerjaan dengan

 Satu mol sesuatu bahan ialah kuantiti yang mengandungi bilangan zarah yang sama dengan bilangan atom yang terdapat dalam 12.000 gram karbon- 12.  Ahli kimia telah

Dari penelitian yang dilakukan diperoleh hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif berbasis Multiple Intelligences masuk dalam kategori hasil belajar

Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola piki keilmuan (mencakup materi yang bersifat konsepsi, apresiasi, dan kreasi/rekreasi) yang mendukung pelaksanaan pembelajaran seni

Peta yang digunakan sebagai pembanding yaitu peta wilayah Bogor (Gemeentekaart van Buitenzorg) tahun 1920, dan peta perencanaan Kota Bogor (Town plan of Buitenzorg) tahun 1946

Hasil analisis cross sectional approach yaitu perbandingan rasio saham tidur dengan perusahaan sejenis pada tahun 2012, diketahui perusahaan yang memiliki kinerja baik

Pemeriksaan laporan keuangan tidak dapat dijadikan satu alat untuk menilai kinerja pelayanan publik yang dilakukan oleh pemerintah.. Oleh karena itu, jikalau belum dilakukan