i
MAKALAH
“PERENCANAAN DALAM
MANAJEMEN KURIKULUM”
TUGAS MATA KULIAH
MANAJEMEN KURIKULUM PAI
Dosen Pengampu: Dr. Fauzi Muharom, M.Ag
Nama
: Wasis Pambudi
NIM
:174031054
Program Studi
: S2 – Manajemen Pendidikan Islam
PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
TAHUN 2018
ii DAFTAR ISI Halaman Judul ... i Dafatar Isi ... ii BAB I Pendahuluan ... 1 a. Latar Belakang ... 1 b. Rumusan Masalah ... 2 c. Tujuan ... 2 BAB II Pembahasan ... 3
a. Perencanaan dalam manajemen kurikulum……… . 3
b. Fungsi perencanaan manajemen kurikulum ……….. . 5
c. Prinsip-prinsip perencanaan manajemen kurikulum……….. .. 7
d. Model perencanaan manajemen kurikulum……… . 10
BAB III Kesimpulan ... 12
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan hak dasar yang dimiliki oleh manusia. Selain itu, pendidikan juga memiliki peranan yang sangat penting dalam menunjang kehidupanan berbangsa dan bernegara. Karena sangat pentingnya pendidikan, menuntut semua elemen bangsa terlibat, termasuk didalamnya menuntut masyarakat untuk dapat berperan serta aktif membantu pemerintah mesukseskan tujuan pendidikan. Masyarakat sebagai kelompok di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara mempunyai peranan cukup penting dalam memajukan pendidikan. Salah satunya dengan menyelenggarakan satuan pendidikan berbasis masyarakat.
Arah dan tujuan Pendidikan Nasional telah ditetapkan oleh pemerintah dalam sebuah undang-undang. Fungsi dan tujuan pendidikan nasional, sebagaimana tercantum dalam Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 Bab II Pasal 3 yang berbunyi Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pendidikan yang ideal diharapkan akan mampu menunjang tercapainya fungsi dan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang. Kurikulum yang akan diterapkan juga diharapkan mampu mengarah kepada tujuan dan fungsi tersebut. Oleh karena perencanaan kurikulum memiliki peranan yang sangat penting dalam menunjang ketercapaian tujuan pendidikan yang telah dicita-citakan.
2 B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah antara lain:
1. Apa yang dimaksud dengan perencanaan dalam manajemen kurikulum? 2. Apa fungsi perencanaan manajemen kurikulum?
3. Apa prinsip-prinsip perencanaan manajemen kurikulum? 4. Bagaiman model perencanaan manajemen kurikulum?
C. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini yaitu:
1. Untuk memahami perencanaan dalam manajemen kurikulum. 2. Untuk mengetahui fungsi perencanaan manajemen kurikulum.
3. Untuk mengetahui prinsip-prinsip perencanaan manajemen kurikulum. 4. Untuk mengetahui model perencanaan manajemen kurikulum.
3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Perencanaan Manajemen Kurikulum
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut, ada dua dimensi kurikulum, yang pertama adalah rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, sedangkan yang kedua adalah cara yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran.
Secara mendasar, perencanaan menurut Ardimoviz (2017: 29-30) adalah suatu proses intelektual yang melibatkan pembuatan keputusan, proses ini menuntut predisposisi mental yang berfikir sebelum bertindak, berbuat berdasarkan kenyataan bukan perkiraan, dan berbuat sesuatu secara teratur. Menurut Hafied (2017: 30) suatu hal yang sangat krusial dalam perencanaan jika perencanaan itu tidak bisa ditindaklanjuti, dengan kata lain gagal untuk dilaksanakan. Suatu perencanaan yang sudah dibuat bisa gagal ditindaklanjuti karena beberapa hal, antara lain:
1. Perencanaan yang tidak jelas dan membingungkan; 2. Kurang memahami tujuan atau sasaran yang diinginkan;
3. Terlalu tinggi harapan yang dibuat dalam perencanaan sehingga sering tidak sesuai dengan realitas lapangan;
4. Gagal untuk melihat ruang lingkup perencanaan; 5. Kurang dukungan dari pemangku kebijakan; 6. Tidak jelas pendelegasian wewenang;
4
8. Adanya perubahan yang cepat dan kompleks menempatkan perencanaan dalam situasi sulit;
9. Tidak fleksibel sehingga kaku untuk dijalankan.
Setiap perencanaan harus memiliki empat unsur sebagai berikut: 1) adanya tujuan yang harus dicapai; 2) adanya strategi untuk mencapai tujuan; 3) sumber daya yang dapat mendukung (Wina Sanjaya, 2008: 24). Hafied (2017: 32-33) mengungkapkan, untuk membuat sebuah perencanaan yang baik minimal diperlukan lima syarat, yakni:
1) Faktual dan realistis
Sebuah perencanaan yang disusun harus berdasarkan fakta. Apa yang akan dilakukan bisa direalisasi dalam bentuk nyata sehingga realistis.
2) Logis dan rasional
Perencanaan yang dibuat harus masuk akal untuk ditindaklanjuti. Demikian juga untuk target pencapaiannya harus terukur baik dari segi hasil maupun waktu. Sebuah perencanaan yang baik seharusnya dibuat dengan memerhatikan pikiran atau ide dari berbagai pihak.
3) Fleksibel
Sebuah rencana yang disusun tidak boleh kaku. Perencanaan harus memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa timbul dan menghambat pelaksanaan di lapangan. Fleksibel juga dapat diartikan keluasan untuk mempertimbangkan hal-hal yang kadang tidak terantisipasi sebelumnya.
4) Komitmen
Artinya bekerja d e n g a n penuh tanggung jawab untuk melaksanakan sesuatu apa yang telah digariskan dalam perncanaan.
5) Komprehensif atau menyeluruh
Perencanaan tidak hanya melihat s e c a r a partial dari satu sisi saja, tapi harus terintegratif dengan bidang-bidang lainnya sehingga bisa diciptakan suatu proses pelaksanaan yang sinergis dan dinamis.
5
Rusman (2011: 21) mengungkapkan bahwa dalam perencanaan kurikulum minimal ada lima hal yang mempengaruhi, yaitu:
1) Filosofi 2) Content/materi
3) Manajemen pembelajaran 4) Pelatihan guru
5) Sistem pembelajaran
Menurut Oemar Hamalik (2012: 149) perencanaan dalam manajemen kurikulum adalah keahlian “managing” dalam arti kemampuan merencanakan dan mengorganisasi kurikulum. Manajemen adalah suatu proses sosial yang berkenaan dengan keseluruhan usaha manusia dengan bantuan manusia lain serta sumber-sumber lainnya, menggunakan metode yang efisien dan efektif untuk mencapai tujuan yang ditentukan sebelumnya.
Perencanaan kurikulum adalah sebuah proses yang dilakukan oleh para perencana mengambil bagian pada berbagai level pembuat keputusan mengenai tujuan pembelajaran yang seharusnya, bagaimana tujuan dapat direalisasikan melalui proses belajar-mengajar, dan tujuan tersebut memang tepat dan efektif (Busro dan Siskandar, 2017: 31-32). Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan sebagaimana dikutip oleh Abdul Manab (2015: 87-90) perencanaan dan penyusunan kurikulum, harus memperhatikan struktur kurikulum, alokasi waktu, dan penetapan kalender akademik.
B. Fungsi Perencanaan dalam Manajemen Kurikulum
Kurikulum memiliki fungsi yang sangat vital bagi pembentukan keterampilan, karakter manusia. Menurut Alexander Inglish, seperti yang dikutip oleh Wiryokusumo, bahwa kurikulum itu fungsinya adalah penyesuaian, pengintegrasian, deferensiasi, persiapan, pemilihan dan diagnostic. (Wiryokusumo, Iskandar dan Usman Mulyadi. 1988 : 8-9 )
6
Menurut Nurgiyantoro (1988 : 45-46), bahwa kurukulum mempunyai fungsi tiga hal. Pertama, fungsi kurikulum bagi sekolah. Fungsi ini dibagi lagi menjadi dua, yaitu sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan. Tujuan yang diinginkan mulai dari tujuan nasional sampai instruksional dan kurikulum dijadikan pedoman unuk mengatur kegiatan-kegiatan pendidikan yang dilaksanakan di sekolah. Misalnya, macam-macam bidang studi, alokasi waktu, pokok bahasan, metode pengajaran, media pengajaran, serta termasuk strategi pelaksanaannya baik yang fisik maupun non-fisik.
Kedua, kurikulum dapat mengontrol dan memelihara keseimbangan proses pendidikan. Dengan mengetahui kurikulum sekolah pada tingkat tertentu, maka kurikulum pada tingkat atasnya dapat mengadakan penyesuaian. Sehingga tidak terjadi pengulangan kegiatan pengajaran sebelumnya. Fungsi lain adalah kurikulum juga dapat menyiapkan tenaga pengajar, dengan cara mengetahui kurikulum pada tingkat di bawahnya. Misalnya, mahasiswa harus mengerti kurikulum SMA dan SMP.
Ketiga, kurikulum dimaksudkan untuk menyiapkan kebutuhan masyarakat atau lapangan kerja. Sehingga kurikulum mencerminkan hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat. Karena itu, lulusan sekolah paling tidak dapat memenuhi kebutuhan lapangan pekerjaan (vokasional) di satu sisi, dan dipersiapkan untuk melanjutkan ke jenjang sekolah berikutnya (akademis) di sisi lain.
Masih mengenai fungsi kurikulum, pendapat yang hampir senada dengan Nurgiyatoro juga diungkapkan oleh Hendyat Soetopo dan Wasty Soemanto (1986, 18-20). Mereka menambahkan, selain apa yang telah dijelaskan Nurgiyantoro, bahwa fungsi kurikulum itu sebagai pedoman dalam mengatur kegiatan pendidikan (belajar-mengajar) pada suatu sekolah. Sebagai alat atau sarana yang berfungsi untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan, kurikulum suatu sekolah berisi uraian tentang jenis-jenis program apa yang diselenggarakan di sekolah tersebut. Hal ini berarti bahwa fungsi kurikulum menyangkut setiap jenis program, pengoperasional atau pelaku yang bertanggungjawab, serta media atau fasilitas yang mendukungnya.
7
Atas dasar fungsi pentingnya kurikulum, maka perencanaan kurikulum juga memilki fungsi yang sangat. Perencanaan kurikulum memiliki fungsi penting, sebagai berikut:
1. Perencanaan kurikulum berfungsi sebagai pedoman atau alat manajemen, yang berisi petunjuk tentang jenis dan sumber peserta yang diperlukan, sumber biaya, tenaga, sarana yang diperlukan, sistem kontrol dan evaluasi, peran unsur-unsur ketenagaan untuk mencapai tujuan manejemen organisasi. 2. Perencanaan kurikulum berfungsi sebagai penggerak roda organisasi dan tata
laksana untuk menciptakan perubahan dalam masyarakat sesuai dengan tujuan organisasi. Perencanaan kurikulum yang matang besar sumbangannya terhadap pembuatan keputusan oleh pimpinan, dan oleh karenanya perlu memuat informasi kebijakan yang relevan, disamping seni kepemempinan dan pengetahuan yang telah dimilikinya.
3. Perencanaan kurikulum berfungsi sebagai motivasi untuk melaksanakan sistem pendidikan sehingga mencapai hasil optimal.
C. Prinsip-Prinsip dalam Perencanaaan Kurikulum
Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan perencanaan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip- prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum.
Asep Herry Hernawan dkk (2002 : 55-56) mengemukakan lima prinsip dalam perencanaan ataupun pengembangan kurikulum, yaitu :
1. Prinsip relevansi; secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi
8
dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebut memiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan potensi peserta didik (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosiologis).
2. Prinsip fleksibilitas; dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur (fleksibel) dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar belakang peserta didik.
3. Prinsip kontinuitas; yakni adanya kesinambungan dalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman- pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang berada di dalam tingkat kelas, antar jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
4. Prinsip efisiensi; yakni mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.
5. Prinsip efektivitas; yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.
Terkait dengan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, terdapat sejumlah prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu :
1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi
9
peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.
2. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antar substansi.
3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
5. Menyeluruh dan berkesinambungan. Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan.
6. Belajar sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan informal, dengan
10
memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Khaeruddin, 2007 : 79 – 81)
D. Model dalam Perencanaaan Kurikulum
Ada beberapa model dalam perencanaan kurikulum, yaitu :
1. Model perencanaan rasional deduktif, menitik beratkan logika dalam merancang program kurikulum dan bertitik tolak dari spesifikasi tujuan(goals and objectives) tetapi cenderung mengabaikan problematika dalam lingkungan. Model itu dapat diterapkan pada semua tingkat pembuatan keputusan, misalnya rasionalisasi proyek pengembangan guru, atau menentukan kebijakan suatu planning by objecktives di lingkungan departemen. Model ini cocok untuk sistem perencanaan pendidikan yang sentralistik yang menitikberatkan pada sistem perencanaan pusat, dimana kurikulum dianggap sebagai suatu alat untuk mengembangkan/ mencapai maksud-maksud yang telah ditetapkan oleh pusat.
2. Model interaktif rasional, memandang rasionalitas sebagai tuntutan kesepakatan antara pendapat-pendapat yang berbeda, yang tidak mengikuti urutan logika. Perencanaan kurikulum ini bersifat situasional atau fleksibel serta tepat bagi lembaga pendidikan yang akan mengembangkan kurikulum berbasis sekolah. Model perencanaan kurikulum ini didasarkan pada kebutuhan yang berkembang di masyarakat.
11
3. The Diciplines Model, perencanaan ini menitikberatkan pada guru-guru, mereka sendiri yang merencanakan kurikulum berdasarkan pertimbangan sistematik tentang relevansi pengetahuan filosofis, sosiologi dan psikologi. 4. Model tanpa perencanaan (non planning model), adalah suatu model
berdasarkan pertimbangan-pertimbangan inisiatif guru di dalam ruangan kelas sebagai bentuk pembuatan keputusan, hanya sedikit upaya kecuali merumuskan tujuan khusus, formalitas pendapat, dan analisis intelektual.
12
BAB IV
KESIMPULAN
Dari uraian pembahasan diatas, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Perencanaan dalam manajemen kurikulum adalah keahlian “managing” dalam arti kemampuan merencanakan dan mengorganisasikan kurikulum. 2. Perencanaan kurikulum memiliki fungsi penting, yaitu: sebagai pedoman atau
alat manajemen, sebagai penggerak roda organisasi dan sebagai motivasi untuk melaksanakan sistem pendidikan sehingga mencapai hasil optimal. 3. Prinsip-prinsip perencanaan kurikulum, yaitu: berpusat pada siswa,
memperhatikan keragaman, tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, relevan, menyeluruh, belajar sepanjang hayat dan seimbang. 4. Ada bebrapa model perencanaan kurikulum, yaitu: rasional deduktif, Model
interaktif rasional, Model Disiplin, dan Model tanpa perencanaan (non
13
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Manab. 2015. Manajemen Kurikulum Pembelajaran di Madrasah:
Pemetaan Pengajaran. Yogyakarta: Kalimedia.
Ardimoviz. 2012. Manajemen Kurikulum. Jakarta: Cipta Ilmu
Asep Herry Hernawan, dkk. 2008. Modul 10. Pengembangan Kurikulum dan.
Pembelajaran: Perumusan Tujuan Pembelajaran. Jakarta: Penerbit
Universitas Terbuka
Hafied Cangara. 2017. Perencanaan dan Strategi Komunikasi Cetakan 3. Jakarta: Rajawalli Pers.
Khaerudin, dkk., 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP):
Konsep dan Implementasinya di Madrasah. Semarang: Pilar Media
Muhammad Busro dan Siskandar. 2017. Perencanaan dan
Pengembangan Kurikulum. Yogyakarta: Media Akademi.
Oemar Hamalik. 2012. Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Rusman. 2011. Manajemen Kurikulum. Jakarta: Rajawali Pers.
Wina Sanjaya. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik
Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Jakarta: Kencana.