1.
1. Memahami dan menjelaskan anatomi makroskopis dan mikroskopis reproduksi wanitaMemahami dan menjelaskan anatomi makroskopis dan mikroskopis reproduksi wanita 1.1 Makroskopis
1.1 Makroskopis
Female Reproductive Anatomy Female Reproductive Anatomy
Ovarium: menghasilkan telur Ovarium: menghasilkan telur betina/ sel telur dan hormon wbetina/ sel telur dan hormon wanita (estrogen, progesteron)anita (estrogen, progesteron)
Ovum: sel-sel reproduksi wanita yang berkontribusi kromosom X.Ovum: sel-sel reproduksi wanita yang berkontribusi kromosom X.
Tuba fallopi: tabung yang mengangkut sel telur ke rahim; jalan di mana pembuahan terjadi, Tuba fallopi: tabung yang mengangkut sel telur ke rahim; jalan di mana pembuahan terjadi, lokasi kehamilan ektopik; tempat tubaligation (sterilisasi) terjadi.
lokasi kehamilan ektopik; tempat tubaligation (sterilisasi) terjadi.
Rahim: juga dikenal sebagai Rahim: juga dikenal sebagai saat telur dibuahi dan implan pada lapsaat telur dibuahi dan implan pada lapisan rahim, ketika tidak isan rahim, ketika tidak
ada sel telur dibuahi
ada sel telur dibuahi hadir lapisan rahim untuk gudang siklus menstruasi.hadir lapisan rahim untuk gudang siklus menstruasi. Serviks: ujung bawah rahim, sebuah bukaan antara rahim dan
Serviks: ujung bawah rahim, sebuah bukaan antara rahim dan vagina yang melewati sperma,vagina yang melewati sperma, cairan menstruasi, dan janin.
cairan menstruasi, dan janin.
Vagina: jalur untuk aliran menstruasi, kanal Vagina: jalur untuk aliran menstruasi, kanal kelahiran, sperma, dan IMS. Membuka untuk kelahiran, sperma, dan IMS. Membuka untuk
melakukan hubungan seksual dan mengandung sekresi vagina / pelumasan. melakukan hubungan seksual dan mengandung sekresi vagina / pelumasan.
Uretra: pembuka untuk urin.Uretra: pembuka untuk urin.
Klitoris: jaringan sensitif dengan tujuan tunggal untuk rangsangan seksual.Klitoris: jaringan sensitif dengan tujuan tunggal untuk rangsangan seksual.
Lorong dari Ovum:Lorong dari Ovum:
Ovarium - tabung Fallopii - Rahim
1.2 Mikroskopis 1.2 Mikroskopis OVARY
OVARY
Stained with haematoxylin and eosin Stained with haematoxylin and eosin general view general view 1 - cortex 1 - cortex 2 - medulla 2 - medulla
3 - area where primordial follicles are located 3 - area where primordial follicles are located 4 - primordial follicles 4 - primordial follicles 5 - secondary follicles 5 - secondary follicles 6 - tertiary follicles 6 - tertiary follicles
7 - mature follicles (Graafian follicles) 7 - mature follicles (Graafian follicles) 8 - atretic follicles 8 - atretic follicles cortex cortex 1 - secondary follicle 1 - secondary follicle
2 - follicular (granulosa) cells 2 - follicular (granulosa) cells 3 - oocyte 3 - oocyte 4 - zona pellucida 4 - zona pellucida 5 - primordial follicle 5 - primordial follicle
6 - simple cuboidal epithelium 6 - simple cuboidal epithelium
which covers the ovary which covers the ovary 7 - tunica albuginea
7 - tunica albuginea
8 - interstitial connective tissue 8 - interstitial connective tissue 9 - theca
9 - theca cortex
cortex
primary follicle
primary follicle cortexcortex
1 - primary follicle 1 - primary follicle
2 - follicular (granulosa) cells 2 - follicular (granulosa) cells 3 - oocyte 3 - oocyte 4 - zona pellucida 4 - zona pellucida 5 - primordial follicle 5 - primordial follicle
8 - interstitial connective tissue 8 - interstitial connective tissue 9 - theca
5 - secondary follicles
8 - interstitial connective tissue 9 - theca
2. Memahami dan menjelaskan Fisiologi haid Fisiologi haid
Faktor hormonal dalam siklus haid
Ovarium sebagai organ reproduksi primer wanita, melakukan tugas ganda, yaitu menghasilkan ovum (oogenesis) dan mengeluarkan hormon-hormon seks wanita, estrogen dan progesteron. Kedua hormon ini bekerja bersama untuk mendorong fertilisasi ovum dan untuk mempersiapkan sistem reproduksi wanita untuk kehamilan.
Hormon Estrogen
Hormon ini disekresikan terutama oleh sel granulosa folikel ovarium, korpus luteum, dan
plasenta.
Hampir semua estrogen ini berasal dari ovarium dan terdapat dua puncak sekresi : puncak
pertama terjadi tepat sebelum ovulasi dan satu lagi terjadi selama fase midluteal.
Efek Hormon :
1. Efek pada pada genitalia wanita : estrogen membantu pertumbuhan folikel ovarium dan meningkat motilitas tuba uterina. Hormon ini meningkatkan aliran darah uterus dan memiliki efek penting pada oto polos uterus.
2. Efek pada organ endokrin : estrogen mengurangi sekresi FSH. Pada keadaan tertentu estrogen menghambat sekresi LH (feedback negatif), pada keadaan lain, estrogen meningkatkan sekresi LH (feedback pisitif)
3. Efek pada SSP : hormon ini meningkatkan libido pada manusia.
4. Efek pada payudara : estrogen menyebabkan pertumbuhan duktus pada payudaran dan terutama berperan dalam pembesaran payudara selama pubertas pada gadis, estrogen juga disebut sebagai hormon pertumbuhan payudara.
Fungsi estrogen:
Pematangan pemeliharaan seluruh sistem reproduksi wanita, Pembentukan karakteristik seks sekunder wanita,
Penting pada masa prakonsepsi,
Penting untuk pematangan dan pengeluaran ovum,
Pembentukan berbagai karakteristik fisik yang menarik perhatian pria secara seksual, Mengangkut sperma dari vagina ke tempat fertilisasi di oviduktus,
Hormon Progesteron
Pada fase folikular lanjut, sekresi progesteron mulai meningkat. Selama fase luteal, korpus
luteum menghasilkan banyak progesteron, dan prrogesteron plasma meningkat pesat hingga mencapai kadar puncak sekitar 18 ng/mL.
Efek Hormon :
1. Di uterus : mengubah progestasional di endometrium.
2. Di payudara : progesteron merangsang pertumbuhan lobulus dan alveolus. Daur haid
Ada 3 fase:
1. Fase Menstruasi
Fase yang paling jelas karena ditandai oleh pengeluaran darah dan debris endometrium dari vagina. Fase ini bersamaan dengan berakhirnya fase luteal ovarium dan permulaan fase folikel. Penurunan drastis hormon estrogen dan progesteron mengakibatkan lapisan endometrium yang kaya nutrisi dan pembuluh darah tidak ada yang mendukung secara hormonal. Selain itu juga merangsang pelepasan prostaglandin dari uterus.
Mengakibatkan vasokonstriksi pembuluh-pembuluh endometrium sehingga aliran darah ke endometrium terganggu terjadi penurunan penyaluran oksigen dan kematian
endometrium dan pembuluh-pembuluh darahnya. Perdarahan yang timbul akibat sisintegrasi pembuluh darah itu membilas jaringan endometrium yang mati ke dalam lumen uterus.
2. Fase Proliferatif
Dimulai bersamaan dengan bagian terakhir fase folikel ovarium, pada saat endometrium mulai memperbaiki dirinya dan mengalami proliferasi d ibawah pengaruh estrogen yang berasal dari folikel-folikel baru yang sedang tumbuh. Fase ini didominasi oleh estrogen, berlangsung dari akhir haid sampai ovulasi.
3. Fase Sekretorik
Bersamaan dengan fase luteal ovarium. Pada fase i ni korpus luteum melepaskan sejumlah progesteron dan estrogen yang bekerja pada endometrium tebal yang sudah dipersiapkan oleh estrogen untuk mengubahnya menjadi jaringan yang kaya pembuluh dan glikogen. Siklus ovarium terdiri dari fase folikel dan luteal yang berselang-seling.
Setelah awitan pubertas, ovarium secara terus menerus berada dalam dua fase secara bergantian, fase folikel yang didominasi oleh adanya folikel matang dan fase luteal yang ditandai oleh adanya korpus luteum. Siklus ini dalam keadaan normal dinterupsi oleh kehamilan dan akhirnya berakhir pada menopause. Siklus ovarium rata -rata berlangsung 28 hari. folikel bekerja pada separuh pertama siklus untuk menghasilkan sebuah telur matang yang siap berovulasi di pertengahan siklus. Korpus luteum mengambil per an pada paruh kedua siklus untuk mempersiapkan saluran reproduksi wanita untuk kehamilan apabila terjadi pembuahan terhadap telur yang dikeluarkan.
Pada setiap saat sepanjang siklus, sebagian dari folikel primer mulai tumbuh. Namun, folikel-folikel tersebut hanya tumbuh selama fase folikel, pada saat lingkungan hormonal tepat untuk mendorong pematangan mereka. Selama perkemabangan folikel, sewaktu oosit primer sedang melaksanakn sintesis dan menyimpan berbagai bahan untuk digunakan kemudian jika dibuahi, terjadi perubahan-perubahan penting di sel-sel yang mengelilingi oosit reaktif sebagai persiapan untuk pelepasan telur dari ovarium.
satu kesatuan untuk mensekresi estrogen. Dari 3 estrogen yang penting secara fisiologis (estradiol, estron dan estriol) estradiol adalah estrogen utama dari ovarium.
Lingkungan hormonal yang terdapat selama fase folikel mendorong pembesaran dan perkembangan sekretorik sel-sel folikel, mengubah folikel primer menjadi foli kel
sekunder atau antrum yang mampu menghasilkan estrogen. Stadium perkembangan folikel ini ditandai oleh pembentukan antrum yang berisi cairan di bagian tengah sel-sel granulosa. Sewaktu sel-sel folikel mulai menghasilkan estrogen, sebagian sel-sel folikel mulai menghasilkan estrogen, sebagian dari hormon ini disekresikan ke dal am darah untuk disebarkan ke seluruh tubuh. Akan tetapi, sebagian estrogen berkumpul di cairan antrum yang kaya akan hormon.
Gambar 1. Siklus Haid
Oosit telah mencapai ukuran maksimum pada saaat antrum mulai terbentuk. Pergeseran menjadi folikel antrum memicu periode pertumbuhan folikel meningkat dari garis tengah < 1mm menjadi 12-16 mm sesaat sebelum ovulasi. Sebagian pertumbuhan folikel ini disebabkan oleh proliferasi terus menerus sel-sel granulosa dan teka, tetapi sebagian besar disebabkan oleh ekspansi antrum yang drastis. Sewaktu folikel tumbuh, jumlah estrogen yang diproduksi juga meningkat. Salah satu folikel biasnaya tumbuh
kebih cepat daripada folikel-folikel lain, berkembang menjadi folikel matang (praovulasi, tersier atau de graaf ) dalam waktu sekitar 14 hari setelah permulaan perkembangan folikel. Antrum menempati sebagian besr ruang di folikel matang. Oosit yang dikelilingi oleh zona pelusida dan selapis sel granulosa, tergeser secara asimetris ke salah satu sisi folikel yang sedang tumbuh dalam suatu gundukan kecil yang menonjol ke dalam antrum.
Folikel matang yang sangat berkembang tersebut menonjol dari permukaan ovarium, membentuk suatu daerah tipis yang pecah untuk menegluarkan oosit pada saat ovulasi. Ruptur folikel dipermudah olehn pengeluaran enzim-enzim dari sel-sek folikel yang mecerna jaringan ikat di dinding folikel. Dengan demikian, dinding yang menonjol
diperlemah sehingga semakin menonjol sampai suatu saat ketika di nding tidak lagi dapat menahan isinya yang tumbuh pesat.
Sesaat sebelum ovulasi, oosit menyelesaikan pembelahan meiosis pertamanya. Ovum (oosit sekunder), yang masih dikelilingi oleh zona pelusida dan sel-sel granulosa
(sekarang disebut korona radiata), disapu keluar folikel yang pecah ke dalam rongga abdomen oleh cairan antrum yang bocor. Ovum yang dikeluarkan dengan cepat disedot ke dalam oviduktus, tempat pembuahan mungkin akan terjadi.
Siklus ovarium diatur oleh interaksi kompleks berbagai hormon dari hipotalamus, hipofisis anterior, dan ovarium.
Ovarium memiliki dua unit endokrin terkai-folikel penghasil estrogen selama paruh pertama siklus, dan korpus luteum, yang mengeluarkan progesteron dan estrogen selama paruh terakhir siklus. Unit-unit ini secara sekuensial dipicu oleh hubungan hormonal siklis yang rumit antara hipotalamus. Hipofisis anterior, dan kedua unit endokrin ovarium.
Seperti pada pria, fungsi gonad pada wanita secara langsung dikontrol oleh hormon-hormon gonadotropik hipofisis anterior, follicle-stimulating hormon-hormone (FSH) dan
luteinizing hormone(LH). Kedua hormon ini pada gilirannya, diatur oleh gonadotropin-releasing hormone (GnRH) hipotalamus yang sekresinya pulsatif serta efek umpan-balik hormon-hormon gonad.
Hubungan antara kadar hormon dan perubahan siklus ovarium dan uterus. Selama fase folikel (paruh pertama siklus ovarium), folikel ovarium mengeluarkan estrogen di bawah pengaruh FSH, LH, dan estrogen itu sendiri. Kadar estrogen yang rendah tetapi harus meningkat tersebut menghambat sekresi FSH, yang menurun selama bagian terakhir fase folikel, dan secara inkomplit menekan sekresi LH yang terus
meningkat selama fase folikel. Pada saat pengeluaran estrogen mencapai puncaknya, kadar estrogen yang tinggi memicu lonjakan sekresi LH pada pertengahan siklus. Lonjakan LH, menyebabakan ovulasi yang matang. Sekresi estrogen merosost sewaktu folikel mati pada ovulasi.
Sel-sel folikel lama diubah menjadi korpus luteum, yang mengeluarkan progesteron serta estrogen selama fase luteal (paruh terakhir siklus ovarium). Progesteron sangat menghambat FSH dan LH yang terus menerus selama fase luteal. Korpus luteum berdegenerasi dalam waktu sekitar 2 minggu apabila ovum yang dikeluarkan tidak dibuahi dan tidak tertanam di uterus. Kadar progesteron dan estrogen menurun secara tajam pada saaat korpus luteum berdegenerasi, sehingga pengaruh inhibitorik pada saat sekresi FSH dan LH lenyap. Kadar kedua hormon hipofisis anterior kembali meningkat dan merangsang berkembangnya baru seiring dengan dimulainya fase folikel.
Fase-fase diuterus terjadi pada saat yang bersamaan mencerminkan pengaruh
hormon-hormon ovarium pada uterus. Pada awal fase folikel, lapisan e ndometrium yang kaya dengan akan nutrien dan pembuluh darah terlepas (fase haid uterus). Pelepasan ini terjadi akibat merosotnya estrogen dan progesteron ketika korpus luteum t ua
berdegenerasi pada akhir fase luteal. Pada akhir fase folikel kadar estrogen yang
meningkat menyebabkan endometrium menbal (fase proliferasi uterus). Setelah ovulasi, progesteron dari korpus luteum menimbulkan perubahan vaskuler dan sekretorik di endometrium yang telah dirangsang oleh estrogen untuk menghasilkan lingkungan yang ideal untuk implantasi (fase sekretorik, atau progestasional, uterus) sewaktu korpus luteum berdegenerasi, dimulailah fase folikel dan fase haid uterus yang baru.
Kontrol fungsi ovarium
Tahap-tahap awal pertumbuhan folikel pra-antrum dan pematangan oosit tidak memerlukan stimulasi gonadotropik, namun bantuan hormon diperlukan untuk membentuk antrum, perkembangan folikel lebih lanjut, dan sekresi estrogen. Estrogen, FSH, dan LH semuanya diperlukan. Pembentukan antrum diinduksi oleh FSH. Baik FSH maupun estrogen merangsang proliferasi sel-sel granulosa. Baik FSH maupun LH diperlukan untuk sintesis dan sekresi estrogen oleh folikel. Baik sel granulosa maupun sel teka berpartipasi dalam
pembentukan estrogen. Perubahan kolesterol menjadi estrogen memerlukan sejumlah langkah berurutan, dengan langkah terakhir adalahperubahan androgen menjadi estrogen. Sel-sel teka banyak menghasilkan androgen tetapi kapasitas mereka mengubah androgen menjadi estrogen terbatas. Sel-sel granulosa, dipihak lain mudah mengubah androgen menjadi estrogen tetapi tidak mampu membuat androgen sendiri. LH bekerja pada sel-sel teka untuk merangsang pembentukan androgen, sementara FSH bekerja pada sel-sel granulosa untuk meningkatkan perubahan androgen teka menjadi estrogen. Karena kadar basal FSH yang rendah sudah cukup untuk mendorong perubahan menjadi estrogen ini, kecepatan sekresi estrogen oleh folikel terutama bergantung pada kadar LH dalam dar ah, yang terus meningkat selama fase folikel. Selain itu, sewaktu folikel terus tumbuh, estrogen yang dihasilkan juga meningkat karena bertambahnya jumlah sel folikel penghasil estrogen.
Sebagian dari estrogen yang dihasilkan oleh folikel yang tumbuh di sekresikan ke dalam darah dan menjadi penyebab meningkatnya kadar estrogen plasma selama fase folikel. Sisa estrogen teteap berada didalam folikel dan ikut serta memebentuk cairan antrum dan merangsang proliferasi lebih lanjut sel-sel granulosa.
Estrogen yang disekresikan, selain bekerja pada jaringan spesifik-seks seperto uterus, juga menghambat hipotalamus dan hipofisis anterior melalui mekanisme umpan balik negatif.
Kadar estrogen yang rendah tetapi meningkat pada fase folikel bekerja secara langsung pada hipotalamus untuk menghambat sekresi GnRH, sehingga pengeluaran FSH dan LH dari hipofisisi anterior yang dipicu oleh GnRH juga tertekan. Namun efek primer estrogen adalah langsung pada hipofisis itu sendiri. Estrogen menurunkan kepekaan sel penghasil FSH.
Perbedaan kepekaan sel-sel penghasil FSH dan LH yang diinduksi oleh e strogen ini paling tidak ikut berperan pada kenyataan bahwa kadar FSH plasma, meurun selama fase folikel seiring dengan peningkatan kadar estrogen.faktor lain yang menyebabkan turunnya FSH selama fase folikel adalah sekresi inhibin oleh sel-sel folikel. Inhibin cenderung menghambat sekresi FSH dengan bekerja pada hipofisis anterior, seperti yang te rjadi pada pria. Penurunan sekresi FSH menyebabkan atresia semua folikel yang sedang berkembang kecuali satu yang paling matang.
Berbeda dengan FSH, sekresi LH terus meningkat secara perlahan selama fase folikel walaupun terjadi inhibisis terhadap sekresi GnRH (dan dengan demekian secara t idak
langsung, LH). Hal yang tampak paradoks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa estrogen sendiri tidak dapat secara total menekan sekresi LH tonik (terus menerus dengan kadar rendah) untuk menghambat secraa total sekresi LH tonik ter sebut diperlukan baik estrogen maupun progesteron. Karena progesteron belum muncul sampai fase luteal siklus tersebut, kadar LH basal secara perlahan meningkat selama fase folikel di bawah inhibisis inkomplit estrogen.
Kontrol ovulasi
Ovulasi dan luteinisasi selanjutnya folikel yang ruptur dipicu oleh penigkatan sekresi LH yang masif dan mendadak. Lonjakan LH ini menimbulkan empat prubahan utama pada folikel :
Lonjakan tersebut menghentikan sintesis estrogen oleh sel folikel
Lonjakan tersebut memulai kembali meiosis di oosit pada folikel yang sedqang
berkembang
Lonjakan tersebut memicu pembentukan prostaglandin spesifik yang bekerja lokal.
Prostaglandin tersebut menginduksi ovulasi dengan mendorong perubahan-perubahan vaskuler yang menyebabkan pembengkakan folikel dengan cepat sementara
menginduksi pencernaan dinding folikel oleh enzim-enzim. Efek-efek tersebut bersama-sama menyebabkan rupturnya dinding yang membungkus folikel.
Lonjakan tesebut menyebabkan diferensiasi sel-sel folikel menjadi sel luteal.
Dua cara sekresi LH, yaitu dengan sekresi tonik LH yang menyebabkan sekresi hormon ovarium serta dipicu oleh umpan balik negatif dan lonjakan LH yang menyebabkan ovulasi, yang dipicu oleh umpan balik positif.
Kontrol Korpus luteum
LH mempertahankan korpus luteum, yaitu setelah memicu perkembangan korpus luteum, LH merangsang struktur ovarium ini untuk terus mengeluarkan hormon steroid. Dibawah pengaruh LH, korpus luteum mengeluarkan progesteron dan estrogen, dengan jumlah progesteron yang lebih besar. Kadar progesteron plasma meningkat untuk pertama
kalinya selama fase luteal.
Penurunan sesaat kadar estrogen dalam darah terjadi pada pertengahan siklus sewaktu folikel penghasil estrogen mati. Kadar estrogen kembali nai k selama fase luteal karena
aktivitas korpus luteum, walaupun tidak mencapai puncak yang sama seperti fase folikel. Progesteron mencegah kadar estrogen yang cukup tinggi selama fase luteal memicu kembali lonjakan LH. Walaupun estrogen kadar tinggi merangsang sekresi LH, progesteron, yang mendominasi fase luteal, dengan kuat menghambat sekresi LH dan FSH. Inhibisi LH dan FSH oleh progesteron mencegah pematangan folikel dan ovulasi baru selama fase luteal. Di bawah pengaruh progesteron, sistem reproduksi dipersiapkan untuk menunjang ovum yang baru dilepaskan. Sel-sel luteal tidak mengeluarkan inhibin. Korpus luteum berfungsi selama dua minggu, kemudian berdegenerasi jika tidak t erjadi pembuahan.
3. Memahami dan menjelaskan gangguan haid Hipermenore
Hipermenorea adalah perdarahan haid yang banyak dan lebih lama dari normal, yaitu 6-7 hari dan ganti pembalut 5-6 kali perhari. Haid normal (Eumenorea) biasanya 3-5 hari (2-7 hari masih normal), jumlah darah rata2 35 cc (10-80 cc masih dianggap normal), kira2 2-3 kali ganti pembalut perhari.
Hipomenore
Hipomenorea adalah perdarahan haid yang lebih pendek dan a tau lebih kurang dari biasa, sebab kelainan ini terletak pada konstitusi penderita, pada uterus (misal : sesudah operasi mioma). Hipomenorea tidak mengganggu fertilitas. Hipomenorea adalah pendarahan dengan jumlah darah sedikit, melakukan pergantian pembalut sebanyak 1-2 kali per hari, dan berlangsung selama 1-2 hari saja. Perdarahan haid yg jumlahnya sdkt (<40ml>) siklus r egular.
Polimenore
polimenore adalah panjang siklus haid kurang dari 21 hari (normal 21-35). Keadaan polimenore bisanya terjadi pada siklus ovulatoar maupun pada siklus anovulatoar
Oligomenore
Oligomenore adalah panjang siklus haid yang memanjang dari panjang siklus haid klasik, yaitu lebih dari 35 hari per siklusnya. Volume perdarahannya umumnya lebih sedikit dari volume perdarahan haid biasanya
Amenore
Amenorea adalah keadaaan tidak terjadinya menstruasi pada seorang wanita. Hal tersebut normal terjadi pada masa sebelum pubertas, kehamilan dan menyusui, dan setelah menopause. Siklus menstruasi normal meliputi interaksi antara komplek hipotalamus-hipofisi-aksis indung telur serta organ reproduksi yang sehat (lihat artikelmenstruasi). Amenorea sendiri terbagi dua, yaitu:
1. Amenorea primer
Amenorea primer adalah keadaan tidak terjadinya menstruasi pada wanita usia 16 tahun. Amenorea primer terjadi pada 0.1 – 2.5% wanita usia reproduksi
2. Amenorea sekunder
Amenorea sekunder adalah tidak terjadinya menstruasi selama 3 siklus (pada kasus oligomenorea ), atau 6 siklus setelah sebelumnya mendapatkan siklus menstruasi biasa. Angka kejadian berkisar antara 1 – 5%
Dismenore
Dismenore adalah gangguan fisik yang sangat menonjol pada wanita yang sedang menstruasi berupa gangguan nyeri/kram perut. Nyeri/kram perut mulai terjadi pada 24 jam sebelum terjadinya
perdarahan mens dan dapat terasa selama 24-36 j am. Kram tersebut terutama dirasakan di daerah perut bagian bawah menjalar ke punggung atau permukaan dalam paha. Kasus berat dismenore bahwa nyeri kram dapat disertai muntah dan diare. Dismenore/gangguan nyeri kram perut ini tidak termasuk PMS walaupun ada kalanya bersamaan dengan gejala PMS. Dismenore dibedakan menjadi:
dan mencapai maksimalnya pada usia 15 dan 25 tahun. Dismenore memang bukan PMS. Berdasar data, Dismenore primer dialami oleh 60-75% wanita
2.Dismenore sekunder
Dismenore sekunder adalah dismenore yang jarang terjadi, biasanya terjadi pada wanita yang berusia sebelum 25 tahun dan dapat terjadi pada 25% wanita yang mengalami dismenore.
Etiologi dan patofisiologi Hipermenore
Sebab-sebab
1. Hipoplasia uteri, dapat mengakibatkan amenorea, hipomenorea, menoragia. Terapi : uterotonika 2. Asthenia, terjadi karena tonus otot kurang. Terapi : uterotonika, roborantia.
3. Myoma uteri, disebabkan oleh : kontraksi otot rahim kurang, cavum uteri luas, bendungan pembuluh darah balik.
4. Hipertensi
5. Dekompensio cordis
6. Infeksi, misalnya : endometritis, salpingitis.
7. Retofleksi uteri, dikarenakan bendungan pembuluh darah balik. 8. Penyakit darah, misalnya Werlhoff, hemofili
Sebab kelainan ini terletak pada kondisi dalam
uterus, misalnya adanya mioma uteri dengan permukaan endometrium lebih luas dari biasa dan dengan kontraktilitas yang terganggu, polip
endometrium pada waktu haid (irregular endometrial shedding), dan
sebagainya. Pada gangguan pelepasan endometrium yang biasanya terdapat juga gangguan dalam pertumbuhan endometrium yang diikuti dengan gangguan
pelepasannya pada waktu haid
• Konstitusi
Pada beberapa wanita mungkin mengalami pendarahan normal kurang selama periode menstruasi. aliran darah dapat Kurang genetik dan, jika pertanyaan yang dibuat, mungkin akan menemukan bahwa ibu wanita dan / atau kakak juga mengalami penurunan aliran darah selama periode mereka. Kehamilan biasanya dapat terjadi dengan aliran jenis ini menurun selama periode berjalan. Insiden infertilitas adalah sama seperti pada wanita dengan aliran darah normal. jarang menstruasi Konstitusi mungkin paling menjelaskan dengan mengasumsikan adanya pengaturan yang tidak biasa, ata u ketidakpekaan relatif, aparat vaskular endometrium.
• Uterine
Hanya sedikit kerugian kadang-kadang berarti bahwa permukaan pendarahan lebih kecil dari biasanya, dan kadang-kadang terlihat ketika rongga endomaterial telah berkurang dalam ukuran
selama myomectomy atau operasi plastik lainnya pada rahim. Namun, jarang menunjukkan hipoplasia uterus karena adanya kondisi dalam rahim yang responsif terhadap hormon betokens ovarium dengan aktifitas, dan ini memanifestasikan dirinya dengan jarang daripada menstruasi sedikit.
• Hormonal
Jarang mens atau menstruasi dapat terjadi secara normal pada ekstrem dari kehidupan reproduksi yang, setelah pubertas dan sesaat sebelum menopause. Hal i ni karena ovulasi tidak teratur saat ini, dan lapisan endomaterial gagal untuk berkembang secara normal. Tapi masalah normal di saat lain juga dapat menyebabkan aliran darah hanya sedikit. Anovulasi karena tingkat hormon tiroid rendah, prolaktin tingkat tinggi, tingkat insulin tinggi, androgen tinggi dan masalah dengan hormon lain j uga dapat menyebabkan menstruasi sedikit. mens jarang juga dapat terjadi penggunaan jangka panjang setelah kontrasepsi oral sebagai akibat dari endometrium atrofi progresif.
• Gugup dan Emosional
Psikogenik faktor-faktor seperti stres karena ujian, atau kegembiraan yang berlebihan tentang sebuah peristiwa yang akan datang dapat menyebabkan hypomenorrhea. faktor tersebut menekan aktivitas yang pusat di otak yang merangsang indung telur selama siklus ovarium (untuk mengeluarkan hormon seperti estrogen dan progesteron), dan dapat menyebabkan produksi hormon ini rendah.
• Penyebab Lain
Latihan dan diet yang berlebihan dapat menyebabkan kecelakaan periode sedikit. Salah satu penyebab adalah sindrom hypomenorrhea Asherman's (adhesi intra uterus), yang hypomenorrhea mungkin satu-satunya tanda yang jelas. Tingkat kekurangan menstruasi berkorelasi erat dengan tingkat adhesi (R. Toaff dan S. Ballus,1978).
Polimenorea
• gangguan hormonal yang mengakibatkan gangguan pada proses ovulasi atau memendeknya fase
luteal dari siklus haid
• kongesti/bendungan pada ovarium yang disebabkan oleh proses peradangan/infeksi
• endometriosis
Pendarahan pada uterus sering terjadi pada saat endometrium membesar karena terstimulasi oleh hormon estrogen. Saat stimulasi dari estrogen ini berlanjut, endometrium terus tumbuh hingga akhirnya menimbulkan pendarahan. Hal inilah yang menimbulkan siklus menstruasi yang tidak teratur.
Amenore
Penyebab tersering dari amenorea primer adalah:
Pubertas terlambat
Kegagalan dari fungsi indung telur
Agenesis uterovaginal (tidak tumbuhnya organ rahim dan vagina) Gangguan pada susunan saraf pusat
Himen imperforata yang menyebabkan sumbatan keluarnya darah menstruasi dapat dipikirkan
apabila wanita memiliki rahim dan vagina normal
Gangguan hipotalamus dan hipofisis Gangguan indung telur
Obat-obatan
Penyakit kronik dan Sindrom Asherman
Dismenore
Faktor-Faktor Penyebab
Menurut Sarwono (1999) faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya dismenore adalah : - Faktor kejiwaan
Pada gadis-gadis yang secara emosional tidak stabil, apalagi ji ka mereka tidak mendapat penerangan yang baik tentang proses haid, hal i ni akan mudah timbul dismenore.
- Faktor konstitusi
Faktor ini, yang erat hubungannya dengan faktor kejiwaan, dapat j uga menurunkan ketahanan terhadap rasa nyeri. Faktor-faktor seperti anemia, penyakit menahun dapat mempengaruhi timbulnya dismenore.
- Faktor alergi
Teori ini dikemukakan setelah memperhatikan adanya asosiasi antara dismonore dengan urtikaria, migraine atau asma bronchial. Smith menduga bahwa sebab alergi ialah toksin haid. Penyelidikan dalam tahun-tahun trerakhir menunjukkan bahwa peningkatan kadar
prostaglandin memegang peranan penting dalam etiologi dismenore primer.
Dismenore primer (tidak ditemukan penyebabnya) sering terjadi, kemungkinan lebih dan 50% wanita mengalaminya dan 15% di antaranya mengalami nyeri yang hebat. Biasanya dismenore primer timbul pada masa remaja, yaitu sekitar 2-3 tahun setelah menstruasi pertama. Nyeri pada dismenoreprimer berasal dari kontraksi rahim yang dirangsang oleh prostaglandin. Nyeri dirasakan semakin hebat ketika bekuan atau potongan jaringan dari lapisan rahim melewati serviks (leher rahim), terutama j ika saluran serviksnya sempit. Faktor lainnya yang bisa memperburuk dismenore adalah rahim
menghadap ke belakang (retroversi), kurang berolahraga, stres psikis atau stres sosial. Dismenore sekunder (yang disebabkan kelainan kandungan), lebih jarang ditemukan dan terjadi pada 25% wanita yang mengalami dismenore. Penyebabnya dapat bervariasi yaitu endometriosis,peradangan tuba faiopii, perlengketan abnormal antara organ di dalam perut, pemakaian kontrasepsi IUD. Dismenore sekunder biasanya mulai timbul pada usia 20 tahun.
Manifestasi klinik
Hipermenore atau menoragia
Gangguan pada organ dalam pelvis
Menorrrhagia biasanya berhubungan dengan fibroid pada uterus, adenommiosis, infeksi pelvis, polips endometrial, dan adanya benda asing seperti IUD. Wanita dengan perdarahan haid melebihi 200 cc 50% mengalami fibroid. 40% pasien dengan adenomiosis mengalami perdarahan haid melebihi 80cc. Menorrhagia pada retrofleksi disebabkan karena bendungan pada vena uterus sedangkan pada mioma uteri, menorrhagia disebabkan oleh kontraksi otot yang kurang kuat, permukaan endometrium yang luas dan bendungan vena uterus
Gangguan medis lainnya
Gangguan medis lainnya yang dapat menyebabkan menorrhea diantaranya hipotiroid dan sindrom cushing, patifisiologi terjadinya belum diketahui dengan pasti. Dapat j uga terjadi pada hipertensi, dekompsatio cordis dan infeksi dimana dapat menurunkan kualitas pembuluh darah. Menorrhagia dapat terjadi pada orang asthenia dan yang baru sembuh dari penyakit berat karena menyebabkan kualitas miometrium yang jelek.
Hipomenore
Hipomenore: Jumlah haid sedikit, siklus reguler Polimenore
Haid sering, siklus reguler, interval < 2 hari Oligomenore
Haid jarang, siklus irreguler, interval biasanya > 35 hari Gejala
Gejala oligomenorrhea terdiri dari periode menstruasi yang lebih panjang dari 35 hari dimana hanya didapatkan 4-9 periode dalam 1 tahun. Beberapa wanita dengan oligomenorrhea mungkin sulit hamil. Bila kadar estrogen yang menjadi penyebab, wanita tersebut mungkin mengalami osteoporosis dan penyakit kardiovaskular. Wanita tersebut juga memiliki resiko besar untuk mengalami kanker uterus Amenore
Tanda amenorea adalah tidak didapatkannya menstruasi pada usia 16 tahun, dengan atau tanpa
perkembangan seksual sekunder (perkembangan payudara, perkembangan rambut pubis), atau kondisi dimana wanita tersebut tidak mendapatkan menstruasi padahal sebelumnya sudah pernahmendapatkan menstruasi. Gejala lainnya tergantung dari apa yang menyebabkan terja dinya amenorea.
Perkembangan pubertas pada wanita normal digambarkan melalui Stadium Tanner yaitu :
Usia Perkembangan Payudara Perkembangan Rambut Pubis Stadium Tanner (Perkembangan Payudara) Stadium Tanner (perkembangan rambut Pubis) Pertumbuhan Awal (8-10 tahun) Papila payudara mulai menggunung
Belum ada rambut
pubis 1 1 Thelarche (9-11) Seperti Adrenarche untuk Stadium 2 Seperti Adrenarche untuk Stadium 2 2 1 Adrenarche (9-11) 2 2 Puncak Pertumbuhan (11-13) 3 3
Dewasa
(13-16) 5 6
Dismenore Tanda dan Gejala
Menurut Arif Mansjoer (2000 : 373) tanda dan gejala dari dismenore adalah : Dimenore primer
1. Usia lebih muda, maksimal usia 15-25 tahun 2. Timbul setelah terjadinya siklus haid yang teratur 3. Sering terjadi pada nulipara
4. Nyeri sering terasa sebagai kejang uterus dan spastik
5. Nyeri timbul mendahului haid dan meningkat pada hari pertama atau kedua haid 6. Tidak dijumpai keadaan patologi pelvik
7. Hanya terjadi pada siklus haid yang ovulatorik
8. Sering memberikan respon terhadap pengobatan medikamentosa 9. Pemeriksaan pelvik normal
10. Sering disertai nausea, muntah, diare, kelelahan, nyeri kepala Dismenore sekunder
1. Usia lebih tua, jarang sebelum usia 25 tahun
2. Cenderung timbul setelah 2 tahun siklus haid teratur 3. Tidak berhubngan dengan siklus paritas
4. Nyeri sering terasa terus menerus dan tumpul
5. Nyeri dimulai saat haid dan meningkat bersamaan dengan keluarnya darah 6. Berhubungan dengan kelainan pelvik
7. Tidak berhubungan dengan adanya ovulasi 8. Seringkali memerlukan tindakan operatif 9. Terdapat kelainan pelvik
4. Memahami dan menjelaskan pemeriksaan dan diagnosis Pada anamnesis yang perlu ditanyakan antara lain
1. Jumlah pemakian pembalut dalam 1 hari. Normalnya 2-5 pembalut dalam 1 hari 2. Jadwal siklus menstruasI
3. Kehamilan
4. Riwayat haid, perlu diketahui riwayat menarche, siklus haid teratur atau tidak,
banyaknya darah yang keluar, lamanya haid, disertai rasa nyeri atau tidak, dan menopause. Perlu ditanyakan haid terakhir yang masih normal.
Pemeriksaan fisik
1. Pemeriksaan abdomen, terdiri dari :
a) Inspeksi - yaitu memperhatikan bentuk, pembesaran (mengarah pada kehamilan, tumor, maupun asites), pergerakan pernapasan, kondisi kulit (tebal, mengkilat, keriput, striae, pigmentasi)
b) Palpasi - sebelum pemeriksaan kandung kemih dan rectum sebaiknya dalam keadaan kosong. Untuk mengetahui besaar tumor, tinggi fundus uteri,
permukaan tumor, adanya gerakan janin, tanda cairan bebas, apakah ada perabaan terasa sakit.
c) Perkusi - untuk mendengar gas dalam usus, menentukan pembesaran tumor, terdapat cairan bebas dalam kavum abdomen dan perasaan sakit saat diketok d) Auskultasi – pemeriksaan bising usus, gerakan janin maupun denyut jantung
janin.
2. Payudara, mempunyai arti penting sehubungan dengan diagnostic kelainan endokrin, kehamilan, dan karsinoma mammae. Hal yang diperiksa: ukuran, simetris, apakah ada pembengkakan, masa retraksi, jaringan parut/bekas luka, kondisi putting susu.
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Panggul (Pelvix Internal)
Pemeriksaan daerah panggul memungkinkan dokter atau dokter kandungan untuk mengetahui apakah ada pelebaran pada rahim. Dokter dapat memeriksa leher rahim Anda dengan memasukkan plastik atau logam yang disebut spekulum alat ke dalam vagina dan Pap (Pap Smear) dapat diambil pada waktu yang bersamaan. Swab dapat diambil dari leher rahim atau vagina untuk menguji ada tidaknya infeksi. Seorang perawat atau pendamping
perempuan harus hadir saat Anda sedang diperiksa oleh dokter laki-laki. Pemeriksaan Panggul sederhana (bagian Internal)
o Prolaktin
Produksi prolaktin yang berlebihan atau disebut hiperprolaktinemia pada wanita dapat menyebabkan gangguan siklus haid.
o Luteinizing Hormone (LH) dan Folicle Stimulating Hormone (FSH)
Pemeriksaan LH dan FSH berguna untuk mengetahui keadaan hipergonadotropik hipogonadisme dan hipogonadotropik hipogonadisme. Hipergonadotropik
hipogonadisme dapat menyebabkan gagal ovarium yang mengakibatkan menopause dini, sedangkan hipogonadotropik hipogonadisme dapat mengakibatkan amenorrhea hipotalamus yang disebabkan oleh gangguan poros hipotalamus-pituitari-ovarium.
o Progesteron
Pemeriksaan progesteron dapat mengetahui terjadinya defisiensi estrogen, lesi pada struktur endometrium dan sumbatan pada uterus yang menyebabkan amenorrhea. Amenorrhea dapat menyebabkan ketidaknyamanan, namun dengan pemeriksaan laboratorium dan konsultasi dokter dapat diketahui penyebabnya sehingga dapat dilakukan tindakan yang tepat untuk menormalkan kembali siklus haid.
3. USG
Pemindaian USG adalah prosedur tes yang sederhana yang dapat dilakukan dengan cara memindahkan alat scan ke perut bagian bawah (scan abdomen) atau dengan
menempatkannya di vagina bagian atas (transvaginal scan). Wanita lebih sering memilih metode transvaginal karena, selama pemeriksaan scan abdomen wanita harus menjaga kandung kemihnya agar tetap penuh.
Pilihan metode scanning akan sangat bervariasi sesuai dengan tujuan masing-masing. Jika dicurigai adanya fibroid atau kista ovarium, scan abdomen dapat memberikan informasi lebih lanjut, untuk menyelidiki kelainan menstruasi, transvaginal scan memberikan gambaran yang lebih jelas pada lapisan rahim (endometrium). Kadang-kadang kedua metode ini digunakan bersama-sama tetapi Anda akan diberikan kesempatan untuk mengosongkan kandung kemih Anda setelah scan abdomen dilakukan.
Di beberapa rumah sakit ada pemeriksaan khusus dari scanning transvaginal yaitu
dengan menginjeksi sedikit cairan (saline) atau garam fisiologis ke dalam rahim melalui leher rahim untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya fibroid atau polip di dalam rahim.
Pemeriksaan vagina ini memerlukan penyisipan sebuah spekulum sebelum scan, tapi tidak terlalu mengganggu.
USG
4. Biopsi Eendometrium
Digunakan untuk screening keganasan, perdarahan yang tidak teratur, gangguan fertilitas, infeksi dan memonitor pengobatan. Biopsi endometrium melibatkan pengambilan sampel dari lapisan rahim Anda dengan terlebih dahulu memasukkan spekulum vagina dan kemudian melewati sebuah tabung halus melalui leher rahim Anda. Sampel tersebut kemudian dikirim ke laboratorium untuk pemeriksaan dibawah mikroskop. Hal ini mungkin diperlukan jika Anda mengalami perdarahan yang tidak teratur atau perdarahan tambahan di antara periode menstruasi. Biopsi dapat diambil di klinik atau rumah sakit dan hanya membutuhkan
beberapa menit, selama waktu pengambilan Anda akan merasa sedikit tidak nyaman. Cara Pengambilan Biopsi Endometrium
Digunakan Spekulum (alat yang digunakan untuk membuat vagina tetapa terbuka) lalu dimasukkan sampel selang tipis yang fleksibel ke dalam uterus. Setelah selang masuk dan diambil jaringan sekitar endometrium, selang ditarik untuk dilakukan biopsi.
5. Hysteroscopy
Histeroskopi adalah pemeriksaan dalam (rongga) rahim Anda dengan instrumen
(hysteroscope) yang dilengkapi dengan sumber cahaya dan kamera sehingga pandangan dari rongga rahim dapat dilihat pada layar. Hysteroscope akan melewati leher rahim melalui vagina, dan gas atau cairan digunakan untuk memperluas rongga rahim anda. Setelah rongga telah diperiksa secara detail, biopsi endometrium biasanya diambil. Teknik ini dapat
mendeteksi keberadaan polip dan fibroid dan jika fibroid atau polip berukuran kecil kadang-kadang dapat langsung dihilangkan pada waktu yang bersamaan. Histeroskopi biasanya dilakukan di klinik rawat jalan, tetapi dapat dilakukan sebagai prosedur untuk anestesi umum. Cara melakukan pemeriksaan histereskopi
Dengan cara memasukkan histereskopi dan cahayanya melalui vagina ke dalam rahim. Rahim dapat diisi dengan gas untuk memungkinkan struktur untuk dilihat lebih jelas.
hubungannya dengan histeroskopi pada beberapa wanita untuk menyelidiki pendarahan setelah menopause.
Cara melakukan pemeriksaan Dilatasi dan Kuretase
7. Laparoscopy
Laparoskopi mungkin disarankan jika masalah utama anda adalah nyeri pada bagian abdomen yang dikarenakan menstruasi.Pemeriksaan permukaan eksternal dari rahim serta tuba falopii, ovarium dan struktur sekitarnya diperiksa melalui laparoskopi, dihubungkan oleh sebuah sumber cahaya serat optik dan kamera ke layar TV.
Laparoskopi melibatkan anestesi lokal, satu atau dua sayatan perut kecil dan perawatan singkat (satu hari) di rumah sakit biasanya dibagian bedah. Ini adalah cara yang paling dapat diandalkan untuk mendiagnosa endometriosis. Operasi laparoskopi dapat digunakan untuk mengobati kista ovarium kecil dan di daerah endometriosis
8. Mengukur kehilangan darah menstruasi
Salah satu kesulitan menangani wanita dengan periode menstruasi berat adalah bahwa kita tidak memiliki informasi yang akurat tentang jumlah kehilangan darah seorang wanita setiap bulan. Beberapa rumah sakit mengukur kehilangan darah menstruasi dengan meminta perempuan untuk mengumpulkan semua pembalut yang mereka gunakan dan tampon. Ini bukan tugas yang menyenangkan tetapi tidak memberikan informasi berharga. Karena berbagai alasan ini tidak dilakukan secara rutin dan penggunaannya biasanya terbatas pada rumah sakit pendidikan untuk melakukan penelitian masalah menstruasi.
5. Memahami dan menjelaskan Penatalaksanaan Hipermenorea atau Menoragia
Terapi sesuai penyebab.
1. Hipoplasia uteri, dapat mengakibatkan amenorea, hipomenorea, menoragia. Terapi : uterotonika 2. Asthenia, terjadi karena tonus otot kurang. Terapi : uterotonika, roborantia.
3. Myoma uteri, disebabkan oleh : kontraksi otot rahim kurang, cavum uteri luas, bendunganpembuluh darah balik.
4. Hipertensi
5. Dekompensio cordis
6. Infeksi, misalnya : endometritis, salpingitis.
7. Retofleksi uteri, dikarenakan bendungan pembuluh darah balik. 8. Penyakit darah, misalnya Werlhoff, hemofili
Terapi: Memberikan anti perdarahan seperti ergometrin tablet/injeksi; KIEM untuk pemeriksaanselanjutnya; Merujuk ke fasilitas yang lebih tinggi dan l engkap.
SPOTTING
Terapi: Penanganan pada perdarahan bercak / spotting antara lain menginformasikan bahwa
perdarahan ringan sering dijumpai, tetapi hal ini bukanlah masalah yang serius dan biasanya tidak memerlukan pengobatan. Bila klien tidak dapat menerima perdarahan tersebut dan ingin melanjutkan suntikan, maka dapat disarankan pilihan pengobatan, yaitu : siklus pil kontrasepsi kombinasi (30-35 mg etinilestradiol), ibu profilin (sampai 800 mg 3 x sehari untuk 5 hari) atau obat sejenis lain. Jelaslah bahwa selesai pemberian pil kontrasepsi kombinasi dapat terjadi perdarahan. Bila terjadi perdarahan banyak selama pemberian, ditangani dengan pemberian 2 tablet Pil kontrasesi perhari selama 3-7hari dilanjutkan dengan 1 siklus pil kombinasi hormonal atau diberi 50 mg etinilestradiol), ibu profilin (sampai 800 mg 3 x sehari untuk 5 hari) atau obat sejenis lain. Jelaskan bahwa selesai pemberian Pil kontrasepsi kombinsi dapat terjadi perdarahan. Bila terjadi perdarahan banyak selama pe mberian, ditangani dengan pemberian 2 tablet pil kontrasepsi kombinasi per hari selama 3-7 hari dilanjutkan dengan 1 siklus pil kombinasi hormonal atau diberi 50 mg etinilestradiol / 1,25 estrogen konjugasi 14
– 21 hari. Hipomenorea
Terapi: tdk perlu terapi jika siklus ovulatoar, subsitusi hormon E&P bila perlu, induksi ovulasi jika siklus anovulatoar & ingin anak.
Kelainan Siklus Polimenorea atau Epimenoragia
Terapi: Stadium proliferasi dapat diperpanjang dengan hormon estrogen dan stadium sekresimenggunakan hormon kombinasi estrogen dan progesteron.
- Pada kausa anovulasi diberikan induksi ovulasi
- Pada insufisiensi korpus luteum diberikan progesteron pada hr 16-25 - Pada fase folikuler pendek diberikan estrogen pada hari 3-8
Oligomenorea
Terapi: Oligomenorea yang disebabkan ovulatoar tidak memerlukan terapi, sedangkan bila mendekati amenorea diusahakan dengan ovulasi. Pengobatan yang diberikan kepada penderita oligomenorea akan disesuaikan dengan penyebabnya. Oligomenorea yang terjadi pada tahun-tahun pertama setelah haid pertama dan oligomenorea yang terjadi menjelang menopause tidak memerlukan pengobatan
mengkonsumsi obat kontrasepsi. Jenis hormon yang diberikan akan disesuaikan dengan jenis hormon yang mengalami penurunan dalam tubuh (yang tidak seimbang). Pasien yang menerima terapi
hormonal sebaiknya dievaluasi 3 bulan setelah terapi diberikan, dan kemudian 6 bulan untuk reevaluasi efek yang terjadi.
Amenorea
Terapi: Terapi pada amenorea, tergantung dengan eti ologinya. Secara umum dapat diberikan hormon-hormon yang merangsang ovulasi, iradiasi dari ovarium dan pengembalian keadaan umum,
menyeimbangkan antara kerja-rekreasi dan istirahat.
Jika penyebabnya adalah penurunan berat badan yang drastis atau obesitas, penderita
dianjurkan untuk menjalani diet yang tepay.
Jika penyebabnya adalah olahraga yang berlebihan, penderita dianjurkan untuk
menguranginya.
Jika seorang anak perempuan yang belum pernah mengalami menstruasi dan semua hasil
pemeriksaan normal, maka dilakukan pemeriksaan setiap 3 – 6 bulan untuk memantau perkembangan pubertasnya, untuk merangsang menstruasi diberikan progesteron.
Untuk merangsang perubahan pubertas pada anak perempuan yang payudaranya belum
membesar atau rambut kemaluan dan ketiaknya belum tumbuh, bisa diberikan estrogen.
Jika penyebabnya dalah tumor maka perlu dilakukan pembedahan
Perdarahan di luar haid Metroragia
Terapi : kuretase dan hormonal.
Gangguan Lain Yang Ada Hubungan Dengan Haid Pre Menstrual Tension (Ketegangan Pra Haid)
Terapi: Olahraga, perubahan diet (tanpa garam, kopi dan alkohol); mengurangi stress; konsumsi
antidepressan bila perlu; menekan fungsi ovulasi dengan kontrasepsi oral, progestin;konsultasi dengan tenaga ahli, KIEM untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Dismenore
Dismenorea Primer (dismenore sejati, intrinsik, esensial ataupun fungsional) Terapi: psikoterapi, analgetika,hormonal.
Dismenorea Sekunder
Terapi : causal (mencari dan menghilangkan penyebabnya)
Untuk mengurangi rasa nyeri bisa diberikan obat anti peradangan non-steroid (misalnya ibuprofen, naproksen dan asam mefenamat). Obat ini akan sangat efektif jika mulai diminum 2 hari sebelum menstruasi dan dilanjutkan sampai hari 1 -2 menstruasi.
Selain dengan obat-obatan, rasa nyeri juga bisa dikurangi dengan:
– istirahat yang cukup
– olah raga yang teratur (terutama berjalan)
– pemijatan
– yoga
– orgasme pada aktivitas seksual
– kompres hangat di daerah perut.
Untuk mengatasi mual dan muntah bisa diberikan obat anti mual, tetapi mual dan muntah biasanya menghilang jika kramnya telah teratasi.
Gejala juga bisa dikurangi dengan istirahat yang cukup serta olah raga secara teratur. Jika nyeri terus dirasakan dan mengganggu kegiatan sehari-hari, maka diberi kan pil KB dosis rendah yang mengandung estrogen dan progesteron atau diberikan medroksiprogesteron.
Pemberian kedua obat tersebut dimaksudkan untuk mencegah ovulasi (pelepasan sel telur) dan mengurangi pembentukan prostaglandin, yang selanjutnya akan mengurangi beratnya dismenore. Jika obat ini juga tidak efektif, maka dilakukan pemeriksaan tambahan (misalnya laparoskopi).
6. Memahami dan menjelaskan haid dan istihadhah dalam Islam
Darah yang keluar bukan karena sebab melahirkan adalah darah haid sebagai suatu ketetapan dan sunnatullah atas seorang wanita. Di mana bila si wanita sudah dapat hamil dan melahirkan maka secara umum akan datang kepadanya haid di waktu-waktu tertentu, sesuai dengan keadaan dan
kebiasaan si wanita. Bila seorang wanita hamil umumnya ia tidak mengalami haid, karena janin yang dikandungnya beroleh sari-sari makanan dengan darah yang tertahan tersebut.
Keluarnya darah haid menunjukkan sehat dan normalnya si wanita. Sebaliknya tidak
keluarnya darah haid menunjukkan ketidaksehatan dan ketidaknormalan seorang wanita. Makna ini disepakati oleh ahli ilmi syar’i dan ilmu kedokteran, bahkan dimaklumi oleh pengetahuan dan
kebiasaan manusia. Pengalaman mereka menunjukkan akan hal t ersebut. Karena itulah ketika memberikan definisi haid, ulama berkata bahwa haid adalah darah alami yang keluar dari seorang wanita pada waktu-waktu yang dimaklumi.
Menurut pendapat yang shahih, tidak ada batasan umur minimal seorang wanita mendapatkan haid. Begitu pula batasan waktu minimal lamanya haid, sebagaimana tidak ada batasan
maksimalnya. Tidak ada pula batasan minimal masa suci di antara dua haid. Bahkan yang disebut haid adalah adanya darah, dan yang disebut suci adalah tidak adanya darah. Walaupun waktunya
bertambah atau berkurang, mundur ataupun maju, berdasarkan zahir nash-nash syar’i yang ada, dan zahir dari amalan kaum muslimin. Juga karena tidak melapangkan bagi wanita untuk mengamalkan selain pendapat ini.
Adapun istihadhah adalah darah yang keluar dari seorang wanita di luar kebiasaan dan kewajaran, karena sakit atau semisalnya.Bila seorang wanita terus menerus keluar darah dari
kemaluannya, tanpa berhenti, maka untuk mengetahui apakah darah tersebut darah haid ataukah darah istihadhah bisa dengan tiga cara berikut ini secara berurutan.
(1) Apabila sebelum mengalami hal tersebut ia memilikikebiasaan (‘adah) haid maka ia
kembali pada kebiasaannya (‘adah-nya). Ia teranggap haid di waktu-waktu ‘adahtersebut, adapun
selebihnya berarti istihadhah. Selesai masa ‘adah-nya ia mandi dan boleh melakukan ibadah puasa dan shalat (walau darahnya terus keluar karena wanita istihadhah pada umumnya sama hukumnya dengan wanita yang suci, pent.).
(2) Bila ternyata si wanita tidak memiliki ‘adah dan darahnya bisa dibedakan, di sebagian waktu darahnya pekat/kental dan di waktu lain tipis/encer, atau di sebagian waktu darahnya berwarna hitam, di waktu lain merah, atau di sebagian waktu darahnya berbau busuk/tidak sedap dan di waktu lain tidak busuk, maka darah yang pekat/kental, berwarna hitam, dan berbau busuk itu adalah darah haid. Yang selainnya adalah darah istihadhah.
(3) Apabila si wanita tidak memiliki ‘adah dan t idak dapat membedakan darah yang
keluar dari kemaluannya, maka di setiap bulannya (di masa-masa keluarnya darah) ia berhaid selama enam atau tujuh hari karena adanya hadits-hadits yang tsabit dalam hal ini.