16
4.1
Deskripsi Obyek Penulisan4.1.1
LokasiAgrowisata D’emmerick merupakan satu tempat wisata yang terletak di kaki Gunung Merbabu sekitar 4 km, atau sekitar 15 menit dari kota Salatiga menuju obyek wisata Kopeng. Luasan kawasan Agrowisata D’emmerick seluas 5,2 ha. Nama D’emmerick diambil dari pendirinya yang bernama Adolph Theodoor Jocobus Van Emmerick yang merupakan warga negara asing berkebangsaan Belanda. Lokasi agrowisata D’emerick berada di Desa Salib Putih yang terkenal karena kesejukan, keasrian dan pemandangan yang indah. Agrowisata D’emmerick sendiri tepatnya beralamatkan di Desa Salib Putih, Jalan Hasanudin (Jalan Raya Salatiga – Kopeng KM 4) Salatiga - Jawa Tengah, Indonesia. Agrowisata D’emmerick didirikan dengan visi “Menjadikan D’emmerick lebih dapat dikenal sebagai tempat Agrowisata”, sementara misinya adalah “Memanfaatkan SDM yang ada di sekitar D’emmerick, sehingga perekonomian warga sekitar dapat meningkat”.
4.1.2
Layout D’emmerickAgrowisata D’emmerick merupakan hotel yang dasarnya dibangun dengan konsep resort dengan dikelilingi kebun kopi, cengkih dan pohon kapuk randu dan juga menawarkan suasana pegunungan dilereng Merbabu. Namun dalam perkembangannya pengelola Agrowisata D’emmerick mengembangkan kawasan tersebut menjadi tujuan objek wisata seperti taman bunga dan wahana adventurepark.
Pada kawasan tersebut pengunjung juga dapat melakukan aktivitas, seperti: Paint Ball, Field Trip Program SD, SMP, sementara bagi siswa SMA dapat melakukan aktivitas pengembangan vegetatif tanaman (Stek, Cangkok, Okulasi, Sambung), menanam dan memanen
sayur, bercocok tanam dalam pot, peternakan dan memerah susu sapi, pengetahuan tentang biogas, pembuatan pupuk bokhasi
Konsep pengembangan Agrowisata D’emmerick memang didesain untuk menggabungkan penginapan dengan wisata bernuansa adventure. Konsep agrowisata tersebut terlihat pada layout D’emmerick.Pada penelitian ini (Gambar 4), peneliti berfokus pada evaluasi lanskap yaitu pada bagian: taman bunga dan adventurepark.
Sumber: D’emerick, 2019.
Gambar 3 Layout D’emmerick salatiga
Beberapa wahana yang tersedia di lokasi tersebut antara lain: wahana archery, wahana motor ATV, wahana flaying fox, wahana high rope, wahana ninja kids, taman kelinci; gedung-gedung yang dapat digunakan untuk keperluan rapat, seminar, maupun untuk acara pernikahan.
Berikut beberapa foto (Gambar 6) yang menampilkan beberapa Fasilitas dan wahana yang tersedia di kompleks Agrowisata D’emmerick Salatiga.
Gambar 4 fasilitas dan wahana D’emmerick salatiga
4.2
Pengelolaan Lanskap di Agrowisata D’emmerick SalatigaBerdasarkan hasil penulisan yang dilakukan melalui wawancara dengan pihak supervisor bagian lanskap diperoleh informasi, bahwa pada dasarnya Agrowisata D’emmerick dikelola oleh PT. Rumekso yang membawahi 3 (tiga) unit bidang usaha (Gambar 6) yang berada di kawasan agrowisata D’emmerick, yaitu: hotel, peternakan, dan perkebunan.
Gambar 5 Bagan Struktur Organisasi Agrowisata D'emmerick
Pada pengelolaan lanskap di Agrowisata, berada di bawah pengawasan supervisor lanskap. Supervisor dari staf dan gardener akan bertanggung jawab secara langsung kepada pimpinan dalam pengelolaan lanskap areal Agrowisata D’emmerick yang terdiri dari pemeliharaan, serta monitoring dan evaluasi.
Untuk menciptakan lanskap yang indah tentunya terdapat kiat-kiat dalam pengelolaan lanskap yang dilakukan oleh manajemen di Agrowisata D’emmerick Salatiga. Untuk mengetahui sejauh mana pengelolaan lanskap yang dilakukan tersebut, penulis memfokuskan pengamatan dari 4 (empat) faktor, yaitu: faktor fisik, faktor biologi, faktor sosial budaya, dan faktor ekonomi. Berkaitan dengan faktor fisik, manajemen Agrowisata D’emmerick Salatiga melakukan berbagai upaya kebijakan dengan menyediakan lahan yang cukup, menanami lahan dengan berbagai macam tanaman dan sekaligus menyediakan area dan fasilitas untuk memperbanyak tanaman sebagai elemen lanskap, di nursery (Gambar 7) yang berada di D’emmerick, guna untuk menekan biaya pembuatan taman.
Pimpinan
Supervisor Peternakan
Supervisor Hotel Supervisor Lanskap
Gambar 6 Areal Pembiakan Nursery
Pihak manajemen juga menyediakan sarana prasarana peralatan pemeliharaan yang dibutuhkan untuk pengelolaan taman seperti pemotong rumput, sabit, cangkul, sarung tangan, dan alat penyiraman tanaman sprinkler irigasi. Peralatan-peralatan tersebut setiap tahunnya juga dievaluasi sehingga dapat diketahui mana yang perlu diganti dan mana yang perlu dipertahankan, selain itu semua sarana prasana yang digunakan juga harus memenuhi standar SNI. Pihak manajemen juga menggunakan pupuk organik dari daun yang berguguran untuk dijadikan bahan fermikompos, dan pestisida untuk membasmi hama. Langkah lain yang dilakukan oleh pihak manajemen adalah membuat kebijakan dimana dalam penataan lanskap dibuat sesudah adanya desain yang dilakukan oleh pihak supervisor dan telah disetujui oleh atasan.
Berkaitan dengan faktor biologi, salah satu hal yang dilakukan oleh pihak manajemen adalah melakukan penanaman tanaman dengan menyesuaikan iklim dan tempat indor maupun outdor, sekaligus menyesuaikan tanaman yang tahan air dan tidak tahan air yang banyak. Berikut beberapa contoh gambar 8 tanaman
Gambar 7 Taman dengan Beraneka Jenis Bunga dan Warna
Berkaitan dengan faktor sosial budaya, berkaitan dengan hal ini penulis memperoleh beberapa informasi dari pihak supervisor, yaitu: berkaitan dengan
rekruitmen karyawan, peningkatan kualitas SDM, peningkatan kualitas karyawan,
dan perilaku pengunjung. Dari aspek rekruitmen karyawan, bagian supervisor dan staf kantor biasanya diserahkan langsung kepada pihak manajemen PT.Rumekso. PT. Rumekso mempunyai standar dalam rekruitmen yang menempati posisi supervisor dan staff kantor. Posisi tersebut harus memiliki kwalifikasi pendidikan sesuai dengan kebutuhan dalam pengelolaan lanskap. Hal tersebut penting, untuk memastikan pengelolaan lanskap dapat menunjang keberlanjutan pengelolaan lanskap. Sementara untuk karyawan bagian gardenner, pihak manajemen melakukan rekrutmen langsung dengan mengambil masyarakat sekitar. Syarat utama gardener adalah bersedia dan masih mampu bekerja untuk dipekerjakan dengan sistem outsourcing. Mereka hanya bertugas untuk perawatan tanaman, sehingga tidak dibutuhhkan kwalifikasi pendidikan yang tinggi. Namun dalam pelaksanaan dilapangan manajemen agrowisata menempatkan seorang supervisor
untuk mengawasi dan memastikan hasil kerja gardener sesuai dengan standar yang sudah di tentukan.
Berdasarkan aspek peningkatan SDM, peningkatan kualitas SDM dilakukan oleh supervisor dengan melakukan briefing (pengarahan) setiap hari sebelum pekerjaan dimulai, dan melakukan pelatihan kepada gardener yang diadakan setiap 1 bulan sekali, contoh: pelatihan membersihkan gulma (dangir), pelatihan melakukan pemotongan pohon (trimming), pemberian pupuk yang tepat untuk tanaman. Berdasarkan aspek peningkatan kualitas pelayanan, penilaian aspek ini diukur dari beberapa indikator, seperti: penampilan karyawan, kehandalan karyawan dalam memberikan pelayanan, dan kompensasi yang diberikan kepada karyawan. Untuk menjaga penampilan karyawan, karyawan mendapatkan seragam kerja satu tahun sekali, sehingga seluruh karyawan memiliki seragam yang sama. Untuk penampilan, petugas pelayanan tentunya mereka harus rapi dan bersih, itu sudah menjadi ketentuan. Tapi untuk petugas lapangan, seperti halnya garderner, kerapian penampilan bukan menjadi tuntutan dalam bekerja, yang penting mereka mampu bekerja dengan baik dalam pengelolaan lanskap.
Penilaian kehandalan karyawan, khusus bagian pelayanan, kehandalan merupakan hal yang menjadi tuntutan, sebab bagaimanapun juga pengunjung membutuhkan kehandalan dari karyawan, khususnya berkaitan dengan bidang pekerjaan mereka. Sedang untuk bagian garderner penilaian dilakukan oleh pihak supervisor dengan level A, B, dan C, dan sampai saat ini belum pernah ada
garderner yang dinilai dengan level C. Hal tersebut menunjukkan bahwa
garderner selama ini telah dinilai mampu bekerja secara baik oleh supervisor pada gambar 9. Berkaitan dengan upah secara umum pihak manajemen Agrowisata D’emmerick masih menerapkan upah dengan standar UMR yang berlaku di wilayah Kabupaten Semarang.
Gambar 8 Salah Satu Aktivitas Garderner
Pihak manajemen juga mengakui bahwa selama ini belum ada tunjangan atau fasilitas lain yang diberikan kepada karyawan. Khusus untuk bagian
garderner jika hasil pekerjaan dinilai pada level A dan B, maka akan diberi tambahan upah. Kemudian berkaitan dengan perilaku pengunjung, pihak manajemen memberlakukan kebijakan bahwa setiap pengunjung yang melanggar aturan, misal: merusak tanaman kami beri sangsi, seperti teguran atau ganti rugi, namun demikian terkait dengan pelanggaran-pelanggaran kecil seperti: perilaku pengunjung yang kurang tertib dalam membuang sampah, pihak pengelola sampai saat ini belum memberikan sangsi sama sekali.
Sementara berkaitan dengan faktor ekonomi, faktor ekonomi dalam hal ini dinilai dari aspek ketersediaan dana yang digunakan oleh pihak manajemen dalam mengelola kebutuhan lanskap. Pengelolaan lanskap di Agrowisata D’emmerick sampai saat ini hanya mengandalkan pemasukan dana dari tamu yang berkunjung (Tabel 1), dan dana tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional di lanskap Agrowisata D’emmerick.
Tabel 1 Rekapitulasi Administrasi Pemasukan Januari-Desember 2018
NO BULAN WAHANA PEMASUKAN
(Rp) 1 2 3 4 5 6 7 8 1 JANUARY 169 27 94 68 55 46 20.880.000 2 FEBRUARY 57 0 34 35 27 12 6.855.000 3 MARET 52 16 38 10 17 16 7.220.000 4 APRIL 66 1 56 51 31 7 8.015.000 5 MEI 87 0 60 52 64 37 14.320.000 6 JUNI 616 47 463 388 324 334 131 91.100.000 7 JULI 132 5 139 94 87 119 37 24.305.000 8 AGUSTUS 100 31 79 118 44 46 5 14.970.000 9 SEPTEMBER 47 4 34 16 23 25 5 5.705.000 10 OKTOBER 39 0 67 17 57 30 30 11.775.000 11 NOVEMBER 39 25 21 32 17 18 0 1 5.740.000 12 DESEMBER 194 58 137 135 79 101 69 63 32.820.000 TOTAL 1365 131 1064 849 729 554 326 243.705.000
Sumber: Data Primer statistic adventure park 2018 Diolah, 2019
Ket:
1) Wahana archery target 2) Wahana archery battle 3) Wahana motor ATV 4) Wahana flaying fox 5) Wahana high rope 6) Wahana ninja kids 7) Wahana taman kelinci 8) Wahana happyh soul
Pada tabel dapat dilihat bahwa selama bulan Januari s/d Desember 2018 pemasukan yang diperoleh dari kunjungan tamu sebesar Rp 243.705.000,-.
Berdasarkan uraian penjelasan tersebut di atas maka secara garis besar pengelolaan lanskap yang dilakukan oleh pihak manajemen Agrowisata D’emmerick telah memenuhi persyaratan pengelolaan lanskap yang baik.
Dikemukan oleh Arifin (2001), bahwa dalam melakukan pengelolaan lanskap, terdapat 4 (empat) faktor yang dapat dijadikan sebagai indikator untuk menilai tingkat keberhasilan pengelolaan lanskap, yaitu: 1). Faktor Fisik, meliputi sumberdaya lahan-taman, iklim, peralatan, dan bahan-bahan pemeliharaan. 2). Faktor Biologi, meliputi jenis tanaman dan hewan atau satwa liar. 3). Faktor Sosial Budaya, meliputi organisasi pengelola, sumber daya manusia, perilaku pengunjung dan pengalaman berekreasi. 4). Faktor Ekonomi, meliputi ketersediaan dana dan kemampuan pengguna atau masyarakat. Berdasarkan pendapat tersebut dapat dikatakan, apabila pihak pengelola sudah memenuhi keempat faktor tersebut dalam pengelolaan lanskap berarti sudah dapat dikatakan baik.
Arifin (2002) juga mengemukakan bahwa dalam menilai pengelolaan sebuah lanskap juga dapat dilihat dari 4 (empat) aspek, yaitu: perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengaturan (directing), dan pengawasan (controlling). Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa dalam pengelolaan lanskap, pihak manajemen Agrowisata D’emmerick melakukan sebuah perencanaan dengan matang. Perencanaan tersebut tampak dari beberapa kebijakan manajemen dalam pengelolaan lanskap, seperti: pengadaan tenaga kerja untuk kebutuhan lanskap seluas 5,2 ha. Manajemen memutuskan bahwa untuk mengelola lanskap seluas itu dibutuhkan 1 (satu) orang supervisor, 1 (satu) orang staf, dan 12 orang garderner.
Perencanaan lainnya tampak dari tugas yang perlu dilakukan oleh supervisor, seperti: melakukan pengelolaan lanskap dengan dibantu 1 orang staf dan 12 orang garderner, bertanggung jawab untuk meningkatkan kinerja dari
garderner. Tugas lain dari supervisor yaitu: mengusulkan kebutuhan sarana prasarana lanskap untuk menjaga kebersihan dan merawat tanaman , dan merubah tampilan lanskap setiap tahunnya. Kebijakan ini diambil untuk memberikan suasana yang tidak monoton bagi pengunjung. Perubahan desain tersebut dilakukan terlebih dahulu dengan supervisor membuat perencanaan yang berkaitan dengan desain lanskap dan kebutuhan biayanya yang kemudian diserahkan kepada pihak manajemen untuk dikoreksi. Setelah pihak manajemen
menyetujui, baru dilakukan perubahan desain lanskap sesuai dengan usulan supervisor.
Pengorganisasian, pengorganisasian tampak dari adanya struktur organisasi dalam pengelolaan lanskap, beserta job deskripsi tugas masing-masing bagian. Seperti yang telah disinggung pada paragraph sebelumnya, supervisor bertugas meningkatkan kinerja dari garderner, melakukan penilaian kinerja
garderner, mengusulkan kepada manajemen tentang kebutuhan sarana prasarana lanskap, dan mengusulkan perubahan desain beserta kebutuhan biayanya. Tugas staf melakukan seluruh administrasi dari aktivitas yang dilakukan oleh supervisor dalam pengelolaan lanskap.
Sementara tugas dari garderner, diantaranya yaitu: memelihara keindahan lanskap, menjaga kebersihan area lanskap, mengelola tanah, memupuk, menyiram, memangkas tanaman lanskap (trimming), dan membersihkan gulma
(dangir), memelihara dan membersihkan peralatan yang digunakan, menempatkan
tanaman baru dari areal pembiakan nursery ke lokasi lanskap, mengembangkan tanaman (menstek, mencangkok, menanam bibit, memelihara tanaman di areal pembiakan nursery, membersihkan, merawat, dan menata atau memotong semua rumput yang ada di area lanskap), melaporkan segala hal yang diperlukan kepada staf supervisor, menciptakan dan membina suasana kerja yang sehat dan melaksanakan semua perintah supervisor lainnya.
Pengaturan, pengaturan tampak dari adanya upaya supervisor untuk melakukan koordinasi kerja dengan staf dan garderner. Cara tersebut ditempuh oleh supervisor dengan melakukan briefing (pengarahan) setiap hari sebelum pekerjaan dimulai. Fungsi briefing dalam hal ini menurut supervisor dilakukan untuk memastikan agar garderner melakukan apa yang diinginkan dan mengetahui apa harus mereka lakukan. Kegiatan tersebut juga dilakukan sebagai upaya saling memberi motivasi, dan membantu pemecahan masalah yang dihadapi oleh garderner. Menurut supervisor kegiatan saling memberi motivasi merupakan hal yang penting dalam pelaksanaan tugas garderner. Hal-hal yang selama ini dilakukan oleh supervisor adalah memberikan umpan balik, dan memanggil garderner yang kurang termotivasi, serta memanggil garderner yang
sekiranya terlibat konflik dengan rekan kerjanya atau yang menghadapi kendala dalam pekerjaannya.
Pengawasan, pengawasan tampak dari adanya penilaian kinerja karyawan, khusus bagian garderner penilaian kinerja dilakukan oleh pihak supervisor dengan level A, B, dan C. Level A berarti kinerja garderner dinilai baik, level B berarti kinerja garderner dinilai cukup baik, dan level C berarti kinerja garderner dinilai buruk. Menurut supervisor sampai saat ini belum pernah ada garderner yang dinilai dengan level C. Kegiatan pengawasan juga tampak dari pemberian peralatan garderner yang memadai dalam pengelolaan lanskap. Supervisor mendapat laporan dari stafnya tentang peralatan-peralatan apa saja yang perlu dibeli lagi karena rusak. Berdasarkan laporan tersebut supervisor memberikan perintah kepada staf untuk membuat rincian peralatan yang rusak beserta biayanya untuk kemudian dilaporkan kepada pihak manajemen.
Pengawasan juga tampak dari adanya program dari supervisor untuk melakukan pelatihan kepada gardener yang diadakan setiap 1 bulan sekali, contoh: pelatihan membersihkan gulma (dangir), pelatihan melakukan pemotongan pohon (trimming), pemberian pupuk yang tepat untuk tanaman. Menurut supervisor kegiatan pengawasan yang selama ini diterapkan sema-mata untuk memenuhi kebutuhan, keterampilan, dan kemampuan garderner dalam menjalankan pekerjaannya.
Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat dikatakan bahwa dalam pengelolaan Agrowisata D’emmerick, pihak manajemen telah menerapkan pendekatan manajemen, baik melalui fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengaturan (directing), dan pengawasan
(controlling). Upaya manajemen tersebut dilakukan semata-mata untuk
menghasilkan sebuah lanskap yang indah sehingga dapat dijadikan sebagai sebuah lokasi agrowisata yang menarik, dan memberikan kepuasan bagi masyarakat.
Hasil wawancara dengan supervisor juga ditemukan kelemahan yang dilakukan oleh pihak manajemen Agrowisata D’emmerick dalam pengelolaan lanskap. Kelemahan yang dimaksud adalah : Pertama belum diberlakukannya
sangsi secara tegas bagi pengunjung yang membuang sampah sembarangan di areal lanskap. Kedua masih belum adanya SOP pemeliharaan taman .
Belum adanya kebijakan tentang hal tersebut juga dinilai merupakan sebagai bentuk kelemahan, sebab kebiasaan pengunjung yang membuang sampah sembarangan dapat berakibat pada kotornya lokasi lanskap, sehingga akan mengurangi keindahan dan kepuasan pengunjung lainnya. Selain itu masalah tersebut juga meningkatkan anggaran dalam pengelolaan lanskap secara keseluruhan. Berkaitan dengan permasalahan tersebut, penting memasukkan kebiasaan pengunjung yang membuang sampah sembarangan sebagai salah satu bagian pelanggaran yang dikenakan sangsi kepada pengunjung, namun pihak manajemen juga perlu menambah jumlah tempat-tempat pembuangan sampah yang ada terlebih dahulu sebagai upaya antisipasi jika terdapat pengunjung yang protes bahwa apa yang mereka lakukan tersebut karena tidak tersedianya tempat sampah yang cukup di areal lanskap.
Ketiadaan SOP pemeliharaan juga dapat menjadi kelemahan dalam pengelolaan tanaman untuk jangka panjang. Bentuk petunjuk pelaksanaan kerja yang dilakukan oleh supervisor secara lisan melalui penyampain rapat pada pagi hari, berpotensi menimbulkan mis komunikasi antar gardener maupun gardener dan supervisor. Mis komunikasi tersebut berdampak pada tidak efektifnya perawatan dan pengelolaa taman untuk jangka panjang.
Pernyataan tersebut memberikan dukungan pada pendapat Kaligis (2014), bahwa tingkat kepuasan pengunjung terhadap agrowisata dapat dilihat dari kebersihan dalam lingkungan obyek wisata, kebersihan toilet yang ada dalam kawasan obyek wisata dan terkelolanya tanaman di sekitar agrowisata. Pernyataan tersebut juga sejalan dengan apa yang dikemukan oleh Sternloff (1984), bahwa secara kuantitatif kepuasan pengunjung dapat terlihat dari penyediaan dan pemeliharaan fasilitas dengan baik, selain banyaknya pengunjung yang datang ke lokasi. Sementara secara kualitatif, kepuasan pengunjung dapat diperoleh dengan pengoperasian dan pemeliharaan kawasan rekreasi dengan menggunakan standar setinggi mungkin.
4.3
Kepuasan Pengunjung Agrowisata D’emmerick SalatigaBerdasarkan data pengunjung pada bulan Januari sampai Desember 2018 (Gambar 10) menunjukkan adanya ketidakstabilan pengunjung pada setiap wahana. Sebagai salah satu contoh pada wahana Archeri Target menunjukkan peningkatan pengunjung mencapai angka lebih dari 600 pengunjung. Namun sebaliknya, pada bulan Febuari semua kunjungan wahana wisata termasuk Archery Target juga mengalami penurunan. Kenaikan dan penurunan jumlah pengunjung Agrowisata sangat berkaitan dengan kalender liburan anak-anak sekolah. Fakta tersebut terlihat pada daftar kunjungan Januari-Desember 2018.
Gambar 9 Grafik Kunjungan Wahana Januari- Desember 2018
Berdasarkan temuan data di atas, peneliti telah melakukan analisa tentang tingkat kepuasan pengunjung terhadap berbagai wahana yang tersedia di Agrowisata D’emmerick. Jenis wahana yang menarik perhatian pengunjung adalah wahana Acheri Target. Wahana ini menjadi salah satu permainan yang menarik minat pengunjung ke lokasi wisata. Sedangkan wahana yang masih minim peminatnya adalah wahana Taman Kelinci dan wahana Ninja Kids.
Sampai sekarang bulan November 2019, wahana Achery Target dan wahana High Rope (Gambar 11) masih menjadi wahana paling menarik buat pengunjung Agrowisata D’emmerick. Hasil wawancara dengan pengunjung yang menggunakan wahana tersebut menyatakan bahwa wahana Archery Target dan wahana High Rope memberikan kesenangan tersendiri untuk mereka. Kesenangan
0 100 200 300 400 500 600
Jan Feb Mrt Aprl Mei Juni Juli Agust Sept Okt Nov Des
K
unjung
an
Bulan
Daftar Kunjungan Januari-Desember
A Target A Battle ATV Flayingfox
tersebut juga tampak dari ekpresi wajah pengunjung ketika menyampaikan pernyataan mereka setelah bermain pada kedua wahana tersebut.
Berikut beberapa foto wahana yang menjadi tempat bermain populer bagi para pengunjung.
Sumber :Arsip foto D’emerick.
Gambar 101 Wahana Archery Target dan wahana High Rope
Setelah pengunjung merasa puas menggunakan berbagai wahana di lokasi Agrowisata D’emmerick, mereka dapat beristirahat di restoran yang berada di sekitar kolam renang (Gambar 12). Lokasi kolam renang yang berada di dekat restoran dan berada di tempat yang tinggi memungkinkan pengunjung dapat melihat pemandangan kota Salatiga dari tempat duduk yang berada di sekitar restoran. Suasana cerah pada sore sampai malam hari juga menjadi daya tarik pengunjung untuk tinggal lebih lama karena mereka mendapat peluang melihat gemerlap lampu di kota Salatiga. Ketersediaan berbagai fasilitas pada lokasi Agrowisata D’emmerick merupakan sarana penunjang untuk menarik pengunjung mengunjungi lokasi tersebut.
Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Kaligis (2014), bahwa kepuasan pengunjung dapat dinilai berdasarkan sarana dan prasarana yang disediakan oleh pengelola. Selain itu pernyataan tersebut di atas juga memberikan dukungan pada pendapat Sternloff (1984), bahwa kepuasan pengunjung secara kualitatif diperoleh dari banyaknya pengunjung yang datang ke lokasi agrowisata.
Berbagai fasilitas di Agrowisata D’emmerick seperti tempat parkir yang luas, kelengkapan sarana permainan, pemandangan yang bagus serta pelayanan yang baik dari para pegawai sudah dilaksanakan oleh menejemen agrowisata. Pun demikian, masih terdapat beberapa lokasi yang masih kurang terperhatikan dengan baik di tunjukan pada Gambar 13. Beberapa kondisi sekitar agrowisata seperti kurangnya kebersihan beberapa titik lokasi, lambatnya peremajaan peralatan wahana, minimnya informasi penunjuk arah, dan minimnya ketersediaan tong sampah dapat menurunkan kepuasan pengunjung pada lokasi agrowisata.
Gambar 12 Foto lokasi Agrowisata yang kurang terkelola
Minimnya pengawasan supervisor kepada staf dan garderner, menyebabkan berbagai fasilitas yang tersedia tidak terjaga kwalitasnya dengan baik. Situasi tersebut menandakan bahwa sistim pengorganisasian pengelolaan
agrowisata belum berjalan dengan obtimal. Sistem pengawasan dan perngorganisasian yang kurang baik, dapat menyebabkan tidak tercapainya tujuan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun sebelumnya. Apabila situasi tersebut terbiarkan, dapat dipastikan bahwa kepuasan pengunjung akan berkurang sehingga dapat mempengaruhi jumlah pengunjung pada agrowisata tersebut.
4.4
Evaluasi Pengelolaan Lanskap Agrowisata D’emmerick SalatigaUntuk melakukan evaluasi terhadap pengelolaan lanskap Agrowisata D’emmerick Salatiga digunakan analisis SWOT. Analisis SWOT dilakukan dengan mengkombinasikan data hasil penulisan yang meliputi data faktor eksternal yang berupa analisis peluang dan ancaman, maupun faktor internal yang berupa analisis kekuatan dan kelemahan. Berkiatan dengan hal tersebut maka penulis perlu melakukan pengklasifikasian data hasil penulisan, baik yang diperoleh penulis melalui hasil wawancara dan kuesioner ke dalam 4 (empat) kategori, yaitu kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman.
Berikut hasil pengklasifikasian data hasil penulisan ke dalam 4 (empat) kategori tersebut,
1. Kategori Kekuatan
a. Lahan agrowisata merupakan milik sendiri dari yayasan D’emerik. b. Luas lahan mendukung pengembangan lanskap secara ideal. c. Lanskap dilengkapi fasilitas bermain anak.
d. Lanskap dilengkapi dengan wahana advanturepark.
e. Lanskap dilengkapi dengan restoran dan tempat istirahat yang juga menawarkan pemandangan yang menarik bagi pengunjungnya.
f. Peralatan yang digunakan garderner dalam pengelolaan lanskap sudah sesuai standar SNI.
g. Terdapat kebijakan pemanfaatan sampah organik seperti: daun-daun tanaman yang berguguran sebagai pupuk organik dalam menekan biaya pengeluaran pemeliharan tanaman, dan menjaga kesuburan lahan.
h. Terdapat tempat pembibitan tanaman yang dibutuhkan untuk taman, sehingga menekan biaya kebutuhan pengeluaran untuk tanaman.
i. Terdapat kebijakan untuk meningkatkan kapasitas gardener melalui berbagai pelatihan-pelatihan yang telah dilakukan secara berkala.
j. Terdapat organisasi kerja untuk memastikan tujuan pengelolaan lanskap. k. Ketersediaan dana yang cukup dalam pengelolaan lanskap.
2. Kategori Kelemahan
a. Belum ada SOP pengelolaan taman bagi tenaga gardener
b. Kurangnya beberapa fasilitas seperti tong sampah di seputar Agrowisata c. Kondisi lokasi beberapa titik di sekitar agrowisata yang kurang terawat. d. Lemahnya supervisor melakukan pengawasan kepada staf dan gardener. e. Belum dilakukannya peremajaan fasilitas yang tersedia.
3. Kategori Peluang
a. Ketersediaan sumber daya manusia yang cakap dibidang pertanian. b. Lokasi Agrowisata yang strategis sehingga mudah dijangkau dan mudah
ditemukan oleh para pengunjung.
c. Semakin meningkatnya masyarakat yang melakukan kunjungan wisata. d. Terdapat perubahan tren wisata masyarakat dari wisata pantai ke wisata
taman bunga dan wisata adventure.
e. Ketersediaan lahan di sekitar areal lanskap yang dapat dimanfaatkan oleh pengelola untuk menambah luas lanskap
4. Kategori Ancaman
a. Lokasi lanskap yang berada di wilayah perbukitan lereng Gunung Merbabu sehingga rawan akan terjadinya bencana gunung meletus dan tanah longsor.
b. Adanya persaingan dengan tempat agrowisata lainnya yang telah lama berdiri yang berada tidak jauh dari tempat berdirinya lanskap.
Berdasarkan pengkategorian tersebut maka dapat dikemukakan, bahwa aspek kekuatan lanskap Agrowisata D’emmerick dievaluasi dengan menggunakan 11 (sebelas) indikator, aspek kelemahan dievaluasi dengan menggunakan 5 (lima) indikator, aspek peluang dievaluasi dengan menggunakan 5 (lima) indikator, dan aspek ancaman dievaluasi dengan menggunakan 2 (dua) indikator.
Langkah analisis SWOT dalam penulisan ini dilakukan dengan tahap-tahapan sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, secara ringkas dijelaskan sebagai berikut: Langkah pertama, Indikator-indikatornya diberikan bobot masing-masing dengan skala mulai 1,0 (tidak penting) sampai 4 (sangat penting). Langkah kedua, menjumlahkan bobot kekuatan dan kelemahan untuk menghitung bobot relatif masing-masing indikator untuk kekuatan dan kelemahan, sehingga total nilai bobot menjadi 1 (100%). Dengan cara yang sama dihitung bobot dan bobot relatif untuk peluang dan ancaman. Langkah ketiga, menentukan rating, yaitu analisis penulis terhadap kemungkinan yang akan terjadi dalam jangka pendek. Nilai rating untuk variabel kekuatan diberi nilai 1 sampai dengan 4. Nilai 1 apabila kemungkinan indikator bersangkutan kinerjanya semakin menurun dibanding perusahaan pesaing, nilai 2 apabila dimungkinkan indikator kinerjanya sama, sedang indikator 3 dan 4, dimungkinkan kinerjanya lebih baik dibanding perusahaan pesaing. Penilaian yang sama juga dilakukan untuk penilaian variabel peluang.
Nilai ranting untuk variabel kelemahan diberi nilai 1 sampai dengan 4. Nilai 1 apabila indikator perusahaan yang diamati memiliki banyak kelemahan dibanding perusahaan pesaing, sebaliknya jika kelemahan sedikit atau semakin menurun dibanding perusahaan pesaing maka kelemahan semakin kecil, sehingga perusahaan amatan dapat diberikan nilai 3 atau 4. Penilaian tersebut juga berlaku pada variabel ancaman.
Langkah keempat, menentukan nilai skor, nilai skor diperoleh berdasarkan hasil perkalian nilai bobot relatif dengan rating masing-masing indikator. Total nilai skor mendekati 1 untuk faktor internal menunjukkan bahwa semakin banyak kelemahan internal dibanding kekuatannya. Sedang semakin nilai mendekati 4, semakin banyak kekuatan perusahaan amatan dibanding kelemahannya. Begitu juga untuk penilaian faktor eksternal.
Gabungan kedua kondisi internal dan eksternal tersebut selanjutnya dimasukkan dalam internal ekternal matrik, sehingga dapat diketahui posisi persaingan yang terjadi, sehingga dapat ditentukan strategi yang tepat untuk memenangkan persaingan pada tahun-tahun selanjutnya.
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai internal sebesar 3,41, sedang nilai eksternalnya adalah sebesar 3,75, sehingga dapat digambarkan Diagram Analisis SWOT (Gambar 13) sebagai berikut: (Lampiran)
Gambar 13 Bagan Diagram Analisis SWOT
Melihat diagram matrik SWOT tersebut di atas dapat diketahui bahwa posisi lanskap Agrowisata D’emmerick berada pada kuadran 1, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan dalam posisi yang sangat menguntungkan. Perusahaan tersebut memiliki peluang dan kekuatan sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang harus diterapkan dalam kondisi ini adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif (grown oriented
strategy), artinya perusahaan diharapkan mampu memanfaatkan seluruh kekuatan
untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya. Adapun 4 strategi kemungkinan alternatif yaitu adalah 1. SO (Strengts-Opportunities):
a. Mengoptimalkan wahana yang sudah ada, dan menambah berbagai fasilitas untuk memanfaatkan lahan yang masih tersedia.
b. Mempertahankan kwalitas peralatan yang digunakan untuk pengelolan lanskap yang sudah memiliki SNI.
c. Menambah lokasi-lokasi pembibitan sekaligus sebagai tempat edukasi bagi para pengunjung.
BERBAGAI PELUANG BERBAGAI ANCAMAN KEKUATAN INTERNAL KELEMAHAN INTERNAL 1.Mendukung Strategi Agresif 3.Mendukung Strategi Turn Around 4.Mendukung Strategi Defensif 2.Mendukung Strategi Diversifikasi (3,41;3,75)
d. Meningkatkan berbagai pelatihan peningkatan kapasitas seluruh pegawai agrowisata sesuai dengan bidangnya masing-masing. 2. ST (Strengts-Threats):
a. Memaksimalkan SDM yang tersedia sesuai dengan bidangnya b. Meningkatkan promosi Agrowisata D’emerik melalui berbagai
media cetak dan elektronik 3. WO (Weaknesses-Opportunities):
a. Segera menyusun SOP pengelolaan taman agar taman semakin indah dan menambah daya tarik pengunjung.
b. Menyepakati jadwal pengawasan antara supervisor dengan gardener.
c. Menyediakan tempat sampah yang sudah terkelompokkan menjadi tempat sampah organik dan anorganik.
4. WT (Weaknesses- Threats):
a. Menambah berbagai fasilitas bermain anak yang mengandung unsur edukasi.
b. Melakukan inventarisasi fasilitas dan peralatan sebagai dasar pengambilan kebijakan perbaikan dan peremajaan fasilitas yang dimiliki.