• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Keadaan Umum Wilayah Penelitian

4.1.1. Letak Geografis

Kabupaten Bantul merupakan salah satu dari lima daerah kabupaten/kota di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Apabila dilihat bentang alamnya secara makro, wilayah Kabupaten Bantul terdiri dari daerah dataran yang terletak pada bagian tengah dan daerah perbukitan yang terletak pada bagian timur dan barat, serta kawasan pantai di sebelah selatan. Kondisi bentang alam tersebut relatif membujur dari utara ke selatan.

Secara geografis, Kabupaten Bantul terletak antara 07º44'04" - 08º00'27" Lintang Selatan dan 110º12'34" - 110º31'08" Bujur Timur. Di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Gunungkidul, di sebelah utara berbatasan dengan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman, di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo, dan di sebelah selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia (Gambar 6).

(2)

4.1.2. Pembagian Administratif

Secara administratif Kabupaten Bantul terdiri dari 17 kecamatan yang dibagi menjadi 75 desa dan 933 pedukuhan. Luas wilayah Kabupaten Bantul adalah 50.685 Ha. Berdasarkan RDTRK dan Perda mengenai batas wilayah kota, maka status desa/kalurahan dapat dipisahkan sebagai desa/kelurahan pedesaan dan perkotaan. Secara umum jumlah desa yang termasuk dalam wilayah perkotaan sebanyak 41 desa, sedangkan desa yang termasuk dalam kawasan pedesaan sebanyak 34 desa. Pembagian administrasi dan luas masing-masing kecamatan dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Jumlah desa, pedukuhan, dan luas kecamatan di Kabupaten Bantul tahun 2005

No. Kecamatan Jumlah Desa Jumlah

Pedukuhan Luas (Ha)

1 Srandakan 2 43 1.832 2 Sanden 4 62 2.316 3 Kretek 5 52 2.677 4 Pundong 3 49 2.368 5 Bambanglipuro 3 45 2.270 6 Pandak 4 49 2.430 7 Pajangan 3 55 3.325 8 Bantul 5 50 2.195 9 Jetis 4 64 2.447 10 Imogiri 8 72 5.449 11 Dlingo 6 58 5.587 12 Banguntapan 8 57 2.848 13 Pleret 5 47 2.297 14 Piyungan 3 60 3.254 15 Sewon 4 63 2.716 16 Kasihan 4 53 3.238 17 Sedayu 4 54 3.436 Jumlah 75 933 50.685

(3)

4.1.3. Penduduk

Berdasarkan catatan dari Dinas Pendaftaran Penduduk, jumlah penduduk Kabupaten Bantul akhir tahun 2005 adalah 809.971 jiwa yang tersebar di 75 Desa dan 17 Kecamatan. Dari jumlah tersebut, 397.276 jiwa adalah laki-laki dan 412.710 jiwa adalah perempuan. Dengan luas wilayah 506,85 km2 , kepadatan penduduk Kabupaten Bantul tahun 2005 adalah 1.598 jiwa per km2 . Dengan jumlah KK sebesar 204.568, maka rata-rata dalam satu KK terdapat 3,96 jiwa. Jumlah penduduk masing-masing kecamatan di Kabupaten Bantul dapat dilihat di Tabel 5.

Tabel 5. Jumlah penduduk per kecamatan di Kabupaten Bantul tahun 2005 No. Kecamatan KK Laki-laki Perempuan Jumlah

1 Srandakan 7.689 14.256 15.173 29.429 2 Sanden 8.781 16.611 17.584 34.195 3 Kretek 7.839 15.091 16.225 31.316 4 Pundong 7.651 15.982 17.123 33.105 5 Bambanglipuro 10.460 20.836 22.460 43.296 6 Pandak 12.306 24.103 24.718 48.821 7 Bantul 14.266 28.970 30.339 59.309 8 Jetis 14.135 24.474 26.009 50.483 9 Imogiri 13.752 27.800 29.497 57.297 10 Dlingo 9.298 18.074 19.127 37.201 11 Pleret 11.558 17.103 17.404 34.507 12 Piyungan 10.705 18.850 19.553 38.403 13 Banguntapan 18.078 39.657 40.552 80.209 14 Sewon 24.904 39.087 38.592 77.679 15 Kasihan 16.175 39.617 39.807 79.424 16 Pajangan 7.254 14.870 15.668 30.538 17 Sedayu 9.716 21.880 22.879 44.759 Jumlah 204.568 397.261 412.710 809.971

(4)

4.1.4. Potensi Daerah

a. Kerajinan

Kerajinan di Kabupaten Bantul memiliki peran yang besar, tidak saja dalam penyerapan tenaga kerja yang mencapai lebih dari 60 ribu orang, tetapi juga karena perannya dalam mendukung sektor-sektor lainnya, seperti pariwisata, perdagangan, perindustrian dan sebagainya. Peran industri kerajinan sangat dirasakan dalam tata kehidupan masyarakat lantaran sebarannya yang hampir merata di seluruh wilayah. Lebih dari itu, sekitar 60% dari total ekspor kerajinan di DIY diproduksi pengrajin Bantul.

Keunikan perajin Bantul adalah keahlian yang diperoleh secara turun temurun dan para perajin tradisional yang tinggal di sebuah dusun/desa biasanya memiliki keahlian memproduksi karya kerajinan yang sejenis. Dengan banyaknya warga yang bergelut di kerajinan sejenis, dalam perkembangannya desa tersebut menjadi pusat atau sentra suatu produk kerajinan. Para pembeli dan pecinta karya seni tradisional selain dapat memilih berbagai alternatif produk dari perajin yang berbeda sekaligus berwisata menikmati alam atau keunikan desa setempat dan juga dapat melihat proses pembuatan sebuah karya kerajinan.

b. Pertanian, Peternakan dan Perikanan

Luas lahan di Bantul yang digunakan untuk kegiatan produksi pertanian (sawah, tegal dan kebun campur) meliputi hampir 400 juta m2 atau mencakup sekitar 79% dari seluruh wilayah Kabupaten ini. Potensi persawahan berjumlah sekitar 16.500 Ha, terdiri dari irigasi teknis sekuas 1.200 Ha lebih, irigasi setengah teknis sekitar 12.500 Ha, irigasi sederhana lebih dari 580 Ha, irigasi desa/non PU seluas 2.100 Ha lebih. Komoditas pertanian yang dominan di Bantul adalah tanaman pangan dan holtikultura, dengan produksi padi per tahun mencapai sekitar 157 ribu ton, jagung 23 ribu ton, ubi kayu 30 ribu ton, kedelai 8 ribu ton, bawang merah 167 ribu ton, dan cabai 72 ribu ton. Sedangkan hasil buah-buahan antara lain, mangga 41 ribu kuintal setahun dan pisang sekitar 21 ribu kuintal.

Sementara itu, di bidang peternakan, populasi sapi mencapai sekitar 38 ribu ekor, kambing 24 ribu ekor, domba 16 ribu ekor, ayam kampung 890 ribu ekor, ayam ras/broiler 690 ribu ekor, itik 70 ribu ekor, dan puyuh 132 ribu ekor. Telur

(5)

ayam yang dihasilkan pertahun sekitar 43 juta butir, sedangkan telur itik 5 juta butir. Di sektor perikanan darat (ikan tawar), Bantul menghasilkan produksi ikan budidaya (kolam dan sawah) pertahun sekitar 490 ton dan ikan tangkapan 400 ton.

c. Wisata

Pembangunan Pariwisata di Kabupaten Bantul diarahkan untuk membuat pariwisata menjadi sektor andalan dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Tahun 2000, kontribusi dari pariwisata terhadap PAD Rp 1,788 milyar dan ditargetkan pada tahun 2004 menjadi Rp 5 milyar. Sasaran lain dari pembangunan pariwisata adalah meningkatkan arus kunjungan wisatawan mancanegara dari 2.517 orang per bulan pada tahun 2000 menjadi 2.726 orang per bulan di tahun 2004. Sedangkan wisatawan nusantara dari 123.350 orang per bulan di tahun 2000 menjadi 134.100 orang per bulan di tahun 2004.

Kabupaten Bantul memiliki berbagai obyek wisata yang menarik baik wisata alam, obyek wisata buatan maupun petilasan bersejarah. Selain memiliki pemandangan alam yang menawan, banyak obyek wisata yang memiliki nilai spiritual dan mitos bagi masyarakat Jawa. Wisata alam pantai selatan masih menjadi tujuan favorit wisatawan. Pemerintah Kabupaten Bantul berupaya mengembangkan sektor wisata, dengan dengan mengembangkan kawasan wisata baru seperti Pasar Seni Gabusan, mengembangkan wisata minat khusus dan membangun infrastruktur pendukung pariwisata.

Selain itu Kabupaten Bantul memiliki potensi wisata budaya, karena masyarakat Bantul secara turun-temurun berpegang teguh pada adat dan budaya Jawa yang adiluhung. Di berbagai wilayah di Kabupaten Bantul terdapat tradisi yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi, yakni upacara ritual tradisional sebagai sarana mengungkapkan rasa syukur atas limpahan rejeki dari Tuhan dan juga sebagai penghormatan kepada leluhur. Upacara ritual yang diselenggarakan dikenal dengan upacara merti dusun, labuhan, dan sebagainya. Kesenian tradisional seperti wayang, karawitan, tari-tarian masih terus dilestarikan oleh masyarakat Bantul.

Berbagai kiat untuk mencapai sasaran tersebut dilakukan melalui Program Pengembangan Produk Pariwisata dan Program Pemasaran Pariwisata. Program

(6)

pengembangan produk pariwisata, antara lain dalam bentuk kegiatan seperti pengembangan fisik obyek wisata, penambahan daya tarik wisata, penyusunan kawasan pantai selatan, pembentukan desa wisata dan kerajinan, mendorong sektor swasta di bidang kepariwisataan dan lain-lain. Sedangkan untuk program pemasaran pariwisata dalam bentuk kegiatan peningkatan daya tarik dan informasi pariwisata, sosialisasi program wisata Kabupaten Bantul, promosi wisata ke luar daerah dan pelaksanaan event-event wisata.

4.1.5. Daerah Rawan Bencana

Faktor pembatas adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kondisi alam yang sulit untuk ditaklukkan (dilawan) dan umumnya berhubungan dengan potensi bencana yang bersifat menghambat pelaksanaan pembangunan maupun merusak hasil-hasil pembangunan. Pengelolaan faktor pembatas bertujuan untuk meminimalisasi dampak yang ditimbulkan dengan jalan menginventarisasi jenis bencana serta melokalisir daerah bencana. Hasil analisis data menunjukkan bahwa di Kabupaten Bantul terdapat kawasan-kawasan yang relatif rawan terhadap bencana. Secara berurutan dapat dikelompokkan berdasarkan jenis bencananya sebagai berikut :

a. Daerah Rawan Banjir

Daerah rawan banjir umumnya dikaitkan dengan suatu Daerah Aliran Sungai. Untuk sungai Oya, daerah rawan bencana terdapat di pedukuhan Jetis, Lemahrubuh, Lanteng, Kajor, Siluk, Plemantung, dan Putat. Daerah di sekitar sungai Celeng yang perlu diwaspadai adalah pedukuhan Nogosari dan Tilaman, Desa Wukirsari; pedukuhan Salaman, Desa Karangtalun; pedukuhan Kradenan, Desa Girirejo; pedukuhan Mojolegi, Karangtengah, dan Pucunggrowong, Desa Karangtengah; serta pedukuhan Ketos dan Dogongan, Desa Sriharjo. Sedangkan daerah rawan bencana yang terletak di sekitar sungai Opak terdapat di pedukuhan Singosaren, Manggung, Demi, dan Garjoyo, Desa Wukirsari; pedukuhan Tlogo, Desa Kebon Agung; pedukuhan Ngemprongan, Desa Karangtalun; pedukuhan Sungapan, Desa Sriharjo; pedukuhan Nagsri, Potrobayan, Seyegan, Tulung, dan Kalisat, Desa Srihardono; pedukuhan Gunungpuyuh, Krapyak, Jetis, dan

(7)

Semampir, Desa Panjangrejo; pedukuhan Nambangan, Biro, dan Ngentak, Desa Seloharjo; pedukuhan Colo, Mersan, Gading Daton, Gading Lumbung, Gadingharjo, Kalipakel, Mriyan, Tegalsari, Busuran, dan Metuk, Desa Donotirto; pedukuhan Karang dan Kalangan, Desa Tirtohargo; dan pedukuhan Sono, Samiran, Bungkus, dan Kretek, Desa Parangtritis. Untuk daerah sekitar sungai Progo, kawasan rawan bencana banjir terletak di Pedukuhan Ngentak, Kwaru, Babadan, Bodowaluh, dan Bibis, Desa Poncosari.

b. Daerah Rawan Longsor

Daerah yang terletak di lereng-lereng perbukitan adalah daerah yang dapat dikatakan daerah rawan bencana tanah longsor. Lokasi yang perlu diwaspadai terdapat di Pedukuhan Maladan dan Lo Putih, Desa Jatimulyo; Pedukuhan Sukorame dan Cempluk, Desa Mangunan; Pedukuhan Bulusari, Sanansari, dan Rejosari, Desa Srimartani; Pedukuhan Karangasem dan Kedungbuweng, Desa Wukirsari; Pedukuhan Siluk, Srunggo, Kajor, dan Kalidadap, Desa Selopamioro; dan Pedukuhan Kalijoho, Desa Argosari.

c. Daerah Rawan Kekeringan

Daerah yang terletak di perbukitan secara umum adalah daerah yang dapat dikatakan sebagai kawasan kekeringan. Pada beberapa lokasi perlu mendapat perhatian seperti Pedukuhan Pakis, Desa Dlingo; Pedukuhan Seropan, Desa Muntuk; Pedukuhan Bulusari, Rejosari, Sanansari, dan Petir, Desa Srimartani; Pedukuhan Dermojurang, Geger, dan Tempel, Desa Seloharjo; seluruh kawasan Desa Triharjo; Pedukuhan Beji, Desa Sendangsari; Pedukuhan Pringgading dan Gupakwarak, Desa Guwosari; Pedukuhan Sabranglor dan Sabrangkidul, Desa Triwidadi; Pedukuhan Sambikerep, Kenalan, Pereng, Sribitan, Bogem, dan Karangjati, Desa Bangunjiwo; Pedukuhan Gunungsempu, Desa Tamantirto; Pedukuhan Jetis, Desa Argosari; dan Pedukuhan Cawan dan Sukoharjo, Desa Argodadi.

(8)

4.2. Karakteristik Personal Responden

Responden dalam penelitian ini adalah tokoh masyarakat di Kecamatan Sewon Kabupaten Bantul. Karakteristik personal responden yang diteliti meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan ketokohan. Data hasil penelitian karakteristik personal responden dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Distribusi responden menurut karakteristik yang diamati No Karakteristik Responden Kategori Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. Umur (tahun) < 41 > 41 42 49 46,253,8

2. Jenis Kelamin Pria Wanita 63 28 69,2 30,8 3. Pendidikan SD SLTP SLTA Diploma Sarjana 5 7 38 13 28 5,5 7,7 41,8 14,2 30,8 4. Pekerjaan PNS Petani Pegawai Swasta Wiraswasta 22 19 28 22 24,2 20,8 30,8 24,2 5. Pendapatan < Rp 1.629.165 > Rp 1.629.165 57 34 62,637,4 6. Ketokohan Agama Pendidikan Politik Pemuda Wanita Sosial 15 11 20 15 15 15 16,5 12,0 22,0 16,5 16,5 16,5

Sumber: Data primer hasil penelitian

4.2.1. Umur

Berdasarkan hasil penelitian, umur responden dikategorikan berdasarkan di bawah rataan dan di atas rataan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia termuda 21 tahun dan tertua 65 tahun, dengan usia rataan 41 tahun. Dengan demikian, sebagian besar responden merupakan umur dengan keadaan di atas usia rataan (53,8%). Dilihat dari usia rata-rata dan kisaran usia, responden dalam penelitian ini tergolong usia produktif. Pemuka pendapat dengan usia ini

(9)

mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik serta memiliki kemampuan daya pikir untuk memecahkan permasalahan di masyarakat. Responden yang berusia lebih tua lebih dihormati oleh masyarakat, sebagai panutan atau tempat bertanya ketika mengalami permasalahan dalam penanganan bencana.

4.2.2. Jenis Kelamin

Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 69,2% pria dan 30,8% wanita. Keadaan ini menunjukkan bahwa peran kaum perempuan di tengah masyarakat sudah cukup baik. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menyebabkan terbukanya peran perempuan di berbagai sektor kehidupan secara profesional. Hal ini juga didukung oleh kebijakan pemerintah yang membuka ruang bagi peran perempuan di berbagai bidang, sehingga kegiatan masyarakat tidak lagi didominasi oleh laki-laki, tetapi wanita juga banyak berperan sesuai dengan bidang keahliannya. Responden pria banyak beraktivitas di bidang teknis dalam penanganan bencana, seperti pencarian bantuan dan penyaluran bantuan kepada masyarakat. Sedangkan responden wanita banyak yang berperan dalam pemulihan yang bersifat psikis melalui berbagai kegiatan kewanitaan seperti PKK, posyandu dan pengajian rutin untuk ibu-ibu.

4.2.3. Pendidikan

Dalam penelitian ini tingkat pendidikan yang diamati adalah pendidikan formal dari tingkat sekolah dasar sampai sarjana. Pendidikan responden terdiri dari SD 5,5%, SLTP 7,7%, SLTA 41,8%, Diploma 14,2% dan Sarjana 30,8%. Kondisi responden yang berpendidikan SLTA sampai sarjana menunjukkan faktor pendidikan mempengaruhi ketokohan seseorang di masyarakat. Hal ini juga berkaitan dengan kemampuan dalam menerima dan menyampaikan informasi kepada masyarakat. Tokoh masyarakat yang mempunyai pendidikan lebih tinggi mempunyai akses informasi lebih baik dibandingkan dengan berpendidikan lebih rendah. Dalam hal ini, lebih sering berkomunikasi dengan tim manajemen pelaksana penanganan bencana. Sedangkan responden yang berpendidikan lebih rendah, lebih banyak berhubungan dengan masyarakat di lingkungan sekitarnya.

(10)

4.2.4. Jenis Pekerjaan

Jenis pekerjaan responden yaitu PNS 24,2%, Petani 20,8%, Pegawai Swasta 30,8% dan Wiraswasta 24,2%. Responden yang paling banyak bekerja di sektor swasta seperti pegawai di perusahaan dan instansi swasta. Setelah itu PNS di berbagai instansi pemerintah dan wiraswasta yang bergerak di sektor perdagangan, kerajinan dan properti. Jumlah petani lebih sedikit karena di lokasi penelitian, petani biasanya berpendidikan relatif lebih rendah dan kurang memiliki akses sebagai pemuka pendapat. Jenis pekerjaan yang ditekuni pemuka pendapat banyak berpengaruh terhadap ketokohannya. Hal ini disebabkan ada jenis pekerjaan yang mampu mengangkat peran seseorang menjadi tokoh masyarakat, karena adanya struktur sosial, status sosial, status ekonomi, status kepangkatan dan sebagainya. Di antaranya, jenis pekerjaan yang langsung melayani anggota masyarakat seperti aparat pemerintah, guru dan da’i. Jenis pekerjaan tersebut menyebabkan pemuka pendapat sering berhubungan dengan masyarakat sekitarnya.

4.2.5. Pendapatan

Pendapatan responden berkisar Rp 420.000 - Rp 10.000.000, sehingga diperoleh pendapatan rataan Rp 1.629.165. Kemudian diperoleh jumlah responden yang memiliki pendapatan di bawah sama dengan rataan 62,6% dan di atas rataan 37,4%. Melihat rataan pendapatan tersebut dapat dijelaskan bahwa pendapatan mempunyai peranan bagi ketokohan. Sebab orang yang memiliki pendapatan tinggi masih dipandang mempunyai pengaruh bagi masyarakat sekitarnya, terutama menyangkut aktivitas sosial. Responden yang memiliki pendapatan tinggi sebagian besar berasal dari wiraswasta dan PNS yang memiliki masa kerja cukup lama. Sedangkan responden yang memiliki pendapatan rendah umumnya dari petani dan pegawai swasta.

Tingkat pendapatan masyarakat ini berhubungan dengan aktivitas komunikasi dan menyerap informasi. Responden yang memiliki pendapatan tinggi biasanya banyak memiliki sumber informasi. Hal ini memungkinkannya menyerap berbagai informasi lebih banyak dan lebih cepat untuk disebarkan kepada masyarakatnya. Selain itu, pada masyarakat juga masih ada stigma bahwa orang yang memiliki

(11)

status lebih tinggi secara ekonomi lebih mudah dimintai bantuan, sehingga ditokohkan oleh masyarakat sekitarnya akibat kedermawanan bila ada kegiatan-kegiatan sosial di masyarakat.

4.2.6. Ketokohan

Pemuka pendapat adalah seseorang yang ditokohkan oleh masyarakat di lingkungannya. Ketokohan ini tumbuh karena orang tersebut menjadi panutan dan sumber informasi bagi masyarakat. Hal itu berdasarkan sikap percaya masyarakat terhadap tokoh dalam menyelesaikan berbagai permasalahan. Hasil penelitian menunjukkan responden tokoh politik 22,0%, tokoh agama 16,5%, tokoh pemuda 16,5%, tokoh wanita 16,5%, tokoh sosial 16,5% dan tokoh pendidikan 12,0%. Berdasarkan persepsi responden, ada beberapa tokoh masyarakat yang memiliki peran ganda atau memiliki lebih dari satu ketokohan. Keadaan ini menunjukkan bahwa seseorang yang ditokohkan lebih dari satu jenis ketokohan, disebabkan perannya dalam masyarakat lebih aktif, partisipatif dan kosmopolit. Namun dalam penelitian ini yang dilihat salah satu ketokohan yang lebih dominan.

Peran tokoh politik dalam kegiatan penanganan bencana umumnya dalam hal kebijakan pengelolaan bantuan di masyarakatnya. Tokoh politik juga banyak berperan dalam mengusahakan bantuan untuk masyarakat di lingkungannya, dengan akses kepada pengambil keputusan dan tim manajemen penanganan bencana. Tokoh agama berperan dalam pengajian-pengajian dan kegiatan keagamaan lainnya. Berdasarkan pengakuan responden, setelah terjadi bencana minat masyarakat untuk mengikuti kegiatan keagamaan lebih tinggi. Hal ini tidak terlepas dari peran tokoh agama yang giat menumbuhkan nilai-nilai religius di masyarakat. Tokoh pemuda berperan dalam menggerakkan pemuda-pemuda di masyarakat pasca bencana, terutama pada masa tanggap darurat. Tokoh pendidikan ditokohkan karena profesinya sebagai pendidik, dalam hal ini tokoh pendidikan berperan dalam sosialisasi kesiapsiagaan bencana kepada anak-anak sekolah. Sedangkan tokoh wanita, ditokohkan karena aktivitasnya di berbagai kegiatan kewanitaan seperti pengajian ibu-ibu, posyandu, arisan dan PKK.

(12)

4.3. Perilaku Komunikasi

Perilaku komunikasi merupakan sikap dan tindakan responden terhadap komunikasi mengenai penanganan bencana, meliputi respons terhadap media massa, intensitas pertemuan dengan satuan pelaksana penanganan bencana dan sikap terhadap opini publik.

4.3.1. Respons terhadap Media Massa

Respons terhadap media massa diukur dengan lamanya responden menonton televisi, mendengar radio dan membaca surat kabar dengan satuan jam dalam satu minggu (Tabel 7). Media massa merupakan sumber informasi penting untuk meningkatkan pengetahuan. Dengan merespons media massa, pemuka pendapat dapat menambah wawasan untuk disebarkan kepada masyarakat.

Tabel 7. Distribusi responden menurut respons terhadap media massa

Perilaku Komunikasi Kategori (Jam)

Jumlah (Orang)

Persentase (%)

Respons terhadap media massa 1. Lamanya menonton TV

2. Lamanya mendengar radio

3. Lamanya membaca surat kabar Tidak pernah < 3 jam 3 – 5 jam >5 jam Tidak pernah < 3 jam 3 – 5 jam >5 jam Tidak pernah < 3 jam 3 – 5 jam >5 jam 0 28 45 18 4 44 35 8 4 7 68 12 0 30,8 49,4 19,8 4,4 48,4 38,5 8,7 4,4 7,7 74,7 13,2

Sumber: Data primer hasil penelitian

a. Menonton Televisi

Berdasarkan hasil penelitian yang dituangkan pada Tabel 7 diketahui bahwa semua responden menonton televisi. Sebagian besar responden menonton televisi antara 3 – 5 jam dalam satu minggu (49,4%). Hal itu menunjukkan bahwa televisi

(13)

cukup berperan sebagai sumber informasi masyarakat. Media televisi yang bersifat audio visual merupakan media komunikasi yang paling menarik bila dibandingkan media massa lain. Hal itu dapat dipahami, karena televisi dalam menyajikan berita atau informasi selain disampaikan secara lisan, juga didukung oleh gambar. Siaran televisi mudah dipahami oleh masyarakat dari segala usia dan pendidikan. Apalagi di Yogyakarta terdapat beberapa stasiun televisi lokal yang mengedepankan lokalitas dalam siarannya. Televisi lokal tersebut membantu penyebaran informasi, karena banyak menyajikan berita dan tayangan budaya Yogyakarta.

b. Mendengar Radio

Respons pemuka pendapat terhadap radio kurang begitu baik, karena sebagian besar responden mendengar radio < 3 jam (48,4%), bahkan ada yang tidak pernah mendengar radio (4,4%). Kurang tertariknya responden mendengar radio, karena media ini hanya bersifat audio, sehingga cenderung memilih menonton media audio visual. Saat ini radio kurang populer di masyarakat, sebab semakin banyak stasiun televisi nasional dan lokal yang mulai menggeser peran radio. Siaran radio juga biasanya hanya selintas dan banyak mengalami gangguan penerimaan akibat faktor cuaca.

c. Membaca Surat Kabar

Surat kabar bagi sebagian orang merupakan media prestisius, karena tidak semua orang bisa memilikinya. Namun bagi pemuka pendapat, surat kabar menjadi media penting sebagai sumber informasi. Berdasarkan penelitian, 74,7% responden membaca surat kabar antara 3 – 5 jam dalam satu minggu. Hal ini disebabkan informasi yang disajikan surat kabar lebih lengkap, dilengkapi data dan banyak narasumber. Surat kabar juga dapat dibaca berulang-ulang, mudah dibawa dan dapat didokumentasikan oleh pembaca.

Masyarakat memanfaatkan media massa dengan beragam tujuan, sesuai dengan fungsi media massa, yaitu sumber informasi, pendidikan dan hiburan. Dalam penelitian ini diteliti tujuan responden menonton televisi, mendengar radio

(14)

dan membaca surat kabar. Tujuan ini dibagi menjadi tiga, yaitu menambah pengetahuan, hiburan dan mengisi waktu luang (Tabel 8).

Tabel 8. Tujuan responden menonton televisi, mendengar radio dan membaca surat kabar

Persentase (%) Tujuan

Televisi Radio Surat Kabar 1. Menambah pengetahuan

2. Hiburan

3. Mengisi waktu luang

59,3 13,2 27,5 40,2 18,4 41,4 87,4 12,6 0

Sumber: Data primer hasil penelitian

Sebagian besar responden memanfaatkan media massa untuk menambah pengetahuan, terutama surat kabar yang mencapai 87,4%. Kedalaman informasi yang disajikan surat kabar menjadikan surat kabar sebagai media untuk menambah pengetahuan, lalu sarana hiburan umumnya yang memanfaatkan radio (18,4%), begitu juga untuk mengisi waktu luang (41,4%). Hal ini dapat dipahami, karena untuk mendengar radio dapat dilakukan dengan santai dan sambil istirahat.

Manfaat yang diperoleh responden dari media massa terkait dengan penanganan bencana dikategorikan tiga hal, yaitu informasi penyaluran bantuan, informasi rehabilitasi dan rekonstruksi dan kebijakan penanganan bencana. Pada masa pasca bencana, keberadaan media massa sebagai sumber informasi menjadi penting, karena perkembangan penanganan bencana selalu disiarkan oleh media massa. Pemuka pendapat memerlukan informasi dari media massa untuk mengetahui kondisi terbaru terkait penanganan bencana. Berdasarkan informasi dari media massa, pemuka pendapat dapat melakukan langkah-langkah strategis bagi masyarakat di lingkungannya. Berikut ini manfaat media massa bagi responden dalam penanganan bencana (Tabel 9).

(15)

Tebel 9. Manfaat responden menonton televisi, mendengar radio dan membaca surat kabar

Persentase (%) Manfaat

Televisi Radio Surat Kabar 1. Informasi penyaluran bantuan

2. Informasi rehabilitasi dan rekonstruksi 3. Kebijakan penanganan bencana 22,6 26,2 51,2 50 20,3 29,7 24,7 23,4 51,9

Sumber: Data primer hasil penelitian

Informasi penyaluran bantuan sebagian besar diperoleh dari siaran radio (50%), karena radio lokal secara rutin menyiarkan perkembangan penyaluran bantuan kepada masyarakat. Sedangkan informasi tentang rehabilitasi dan rekonstruksi sebagian besar diperoleh dari televisi (26,2%). Menurut responden, televisi lokal sering menayangkan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi dalam sesi berita daerah. Kemudian surat kabar mempunyai peranan penting dalam menginformasikan kebijakan penanganan bencana (51,9%) melalui berita-berita penanganan bencana di Yogyakarta.

4.3.2. Intensitas Pertemuan dengan Pelaksana Penanganan Bencana

Dalam membantu penanganan bencana di lingkungannya, pemuka pendapat juga berkomunikasi dengan berbagai pihak, terutama pelaksana penanganan bencana. Komunikasi tersebut bertujuan untuk mendapatkan informasi teknis tentang perkembangan penanganan bencana. Menurut responden komunikasi ini penting untuk berkoordinasi dan menghindari miskomunikasi antara masyarakat dengan pelaksana penanganan bencana. Dari informasi yang diperoleh melalui pertemuan tersebut, responden kemudian melakukan sosialisasi kepada masyarakatnya. Dalam penelitian kemudian intensitas pertemuan dijabarkan menjadi jumlah bertemuan dalam satu minggu, tujuan komunikasi, tempat, jadwal dan waktu yang efektif (Tabel 10).

(16)

Tabel 10. Intensitas pertemuan pemuka pendapat dengan pelaksana penanganan bencana No. Intensitas pertemuan Kategori Jumlah (orang) Persentase (%) 1. Jumlah pertemuan

dalam satu minggu

< 2 > 2 48 43 52,75 47,25 2. Tujuan komunikasi Mencari informasi

Mendapatkan bantuan Memberi informasi 54 20 17 59,3 22,0 18,7

3. Tempat Posko pemerintah

Posko LSM Posko Mahasiswa Kepala Desa Tokoh masyarakat Lokasi pengungsian Posko darurat 17 25 6 11 21 6 5 18,7 27,5 6,6 12,1 23,1 6,6 5,5

4. Jadwal Hari kerja

Hari libur 47 44 51,6 48,4 5. Waktu Pagi (08.00 – 12.00) Siang (12.00 – 16.00) Sore (16.00 – 19.00) Malam (19.00 ke atas) 31 11 24 25 34,1 12,1 26,4 27,5

Sumber: Data primer hasil penelitian

Responden di lokasi penelitian melakukan pertemuan dengan pelaksana penanganan bencana antara 1 - 7 kali dalam satu minggu dengan rataan pertemuan 2 kali dalam satu minggu. Responden yang melakukan pertemuan kurang dari rataan (52,75%) dan lebih dari rataan (47,25%). Besarnya persentase responden yang melakukan pertemuan kurang dari rataan disebabkan kesibukan responden dengan pekerjaan atau aktivitas lain. Sedangkan responden yang sering melakukan pertemuan, biasanya merupakan pengurus kelompok masyarakat (pokmas) atau fasilitator sosial (fasos) dalam kegiatan penanganan bencana.

Tujuan komunikasi sebagian besar untuk mencari informasi (59,3%) dan mendapatkan bantuan (22,0%). Hanya sedikit responden yang berperan sebagai pemberi informasi (18,7%). Hal ini menunjukkan bahwa responden berperan sebagai sumber informasi bagi masyarakat, karena itu mencari informasi ke berbagai pihak terkait dengan penanganan bencana di wilayahnya. Responden yang berperan sebagai pemberi informasi adalah yang terlibat sebagai fasilitator

(17)

sosial penanganan bencana, sehingga secara rutin melaporkan kondisi masyarakat tempatnya bertugas kepada KMK (Konsultan Manajemen Kabupaten).

Tempat berkomunikasi sebagian besar di posko LSM (27,5%), tokoh masyarakat (23,1%) dan posko pemerintah (18,7%). Responden sebagian besar beralasan bahwa posko LSM lebih terbuka bagi masyarakat yang ingin berhubungan terkait penanganan bencana. LSM juga dinilai lebih kooperatif dalam menghadapi pengaduan penanganan bencana. Sedangkan tokoh masyarakat menurut responden dijadikan tempat konsultasi, karena dianggap sebagai panutan warga bila mengalami permasalahan. Responden yang berkomunikasi dengan pemerintah biasanya yang bekerja sebagai aparat pemerintah dan fasilitator sosial.

Menurut responden jadwal pertemuan yang paling efektif adalah hari kerja (51,6%). Hal ini disebabkan pada hari kerja komunikasi dapat dilakukan secara formal dan sesuai dengan jadwal kerja institusi formal. Responden mengaku bila berkonsultasi pada hari kerja lebih mudah mendapatkan informasi dan data. Sedangkan komunikasi pada hari libur biasanya dilakukan di tempat-tempat informal.

Waktu pertemuan paling efektif pagi hari, antara jam 08.00 – 12.00 (34,1%) atau malam hari jam 19.00 ke atas (27,5%). Waktu ini berkaitan dengan jadwal kerja responden dan tempat konsultasi. Responden yang tidak terikat jam kerja biasanya berkonsultasi pada jam kerja. Sedangkan responden yang terikat jam kerja seperti PNS atau pegawai swasta berkonsultasi pada malam hari. Pada pagi hari komunikasi dilakukan secara formal di kantor atau posko. Namun pada malam hari bisa dilakukan secara tidak formal di rumah yang bersangkutan.

4.3.3. Sikap terhadap Opini Publik

Dalam penanganan bencana terdapat opini yang berkembang di masyarakat. Hal ini disebabkan karena berbagai permasalahan sejak masa tanggap darurat hingga rehabilitasi dan rekonstruksi. Opini publik ini bersifat individu masyarakat korban bencana atau dalam kelompok. Umumnya opini yang berkembang disebabkan karena kurangnya komunikasi antara pelaksana penanganan bencana dengan masyarakat. Distribusi bantuan yang tidak merata dan tidak tepat sasaran

(18)

juga menyebabkan terjadinya opini publik. Dalam penelitian ini sikap pemuka pendapat terhadap opini publik dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Sikap terhadap opini publik

No. Sikap terhadap opini

publik Kategori

Jumlah (orang)

Persentase (%) 1. Sikap terhadap opini

masyarakat Sangat negatif Negatif Tidak tahu Positif Sangat positif 0 10 0 65 16 0 11,0 0 71,4 17,6 2. Sikap terhadap penanganan bencana oleh pemerintah Tidak mendukung Kurang mendukung Mendukung Sangat mendukung 0 13 63 15 0 14,3 69,2 16,5 3. Sikap terhadap penanganan bencana LSM Tidak mendukung Kurang mendukung Mendukung Sangat mendukung 1 11 63 16 1,1 12,1 69,2 17,6 4. Sikap terhadap prosedur penanganan bencana Sesuai Tidak sesuai 79 12 86,813,2 5. Cara penanganan yang

tepat Langsung Struktural 49 42 53,846,2

Sumber: Data primer hasil penelitian

Responden sebagian besar bersikap positif terhadap opini masyarakat (71,4%), karena beranggapan opini masyarakat penting untuk melihat ketimpangan-ketimpangan dalam penanganan bencana. Dengan adanya opini yang berkembang, pemuka pendapat dapat mengetahui sikap masyarakat terhadap penanganan bencana yang dilakukan di lingkungannya. Opini ini merupakan sumber informasi bagi pemuka pendapat untuk disampaikan kepada pelaksana penanganan bencana. Pemuka pendapat menilai opini publik merupakan bentuk ketidakpuasan masyarakat terhadap cara-cara penanganan bencana, terutama pemerataan bantuan.

Penanganan bencana yang dilakukan oleh pemerintah didukung oleh pemuka pendapat (69,2%). Hal ini menunjukkan bahwa kinerja pemerintah dalam penanganan bencana di lingkungannya cukup baik dan sesuai dengan aspirasi masyarakat. Pemerintah juga dinilai tanggap terhadap kebutuhan masyarakat

(19)

dalam kondisi darurat dan penyalurannya terkoordinir. Sementara pemuka pendapat yang kurang mendukung (14,3%) beranggapan pemerintah terlalu banyak mengumbar janji tidak pasti kepada masyarakat. Distribusi bantuan pemerintah di beberapa tempat terkesan lambat dengan birokrasi yang rumit. Pemuka pendapat juga menilai adanya ketidakadilan, penyimpangan dan indikasi korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dalam penanganan bencana oleh pemerintah.

Pemuka pendapat sebagian besar mendukung penanganan bencana oleh LSM (69,2%). LSM dinilai lebih cepat tanggap dalam penanganan bencana dan bantuan yang diberikan langsung kepada sasaran. LSM dalam penanganan bencana juga mengedepankan aspirasi masyarakat. Sedangkan yang kurang mendukung (12,1%) beranggapan bantuan kemanusiaan kadang dimanfaatkan untuk kepentingan politik atau kepentingan kelompok tertentu. Distribusinya juga tidak merata dan kurang koordinasi dengan pemuka pendapat.

Prosedur penanganan bencana di lokasi penelitian dinilai sesuai oleh pemuka pendapat (86,8%), karena dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan aturan yang berlaku. Penanganan bencana dilakukan berdasarkan data di lapangan, kemudian koordinasi dengan pemuka pendapat untuk menentukan langkah-langkah dan kebijakan yang diambil. Sedangkan pendapat yang menilai tidak sesuai (13,2%) disebabkan karena belum merata dan ada yang tidak tepat sasaran. Selain itu informasi kepada masyarakat juga masih ada yang simpang siur, sehingga membingungkan korban bencana.

Cara penanganan bencana menurut sebagian besar pemuka pendapat lebih baik dilakukan secara langsung (53,8%). Penyaluran secara langsung dinilai lebih efektif, karena tidak melalui birokrasi yang rumit dan langsung diterima masyarakat, terutama untuk bantuan yang sifatnya mendesak. Selain itu, bila disalurkan secara langsung dapat menghindari pemotongan-pemotongan oleh petugas atau aparat pemerintah. Sedangkan responden yang berpendapat lebih baik dilakukan secara struktural (46,2%) beralasan lebih terkoordinasi. Melalui struktural diperoleh data yang akurat tentang korban yang layak mendapat bantuan. Prosedur struktural juga dapat dikontrol dan dipertanggungjawabkan, karena tidak melanggar prosedur.

(20)

4.4. Keragaan Kelompok

Dalam penanganan bencana di lokasi penelitian terdapat kelompok masyarakat (pokmas) yang beranggotakan 10 – 15 orang korban gempa. Pokmas dibentuk atas fasilitasi pemerintah untuk memudahkan koordinasi dan pengawasan penyaluran bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi. Pokmas ini merupakan media aspirasi masyarakat yang bersifat independen dan dijalankan dengan prinsip demokratis untuk kepentingan/kemaslahatan masyarakat dalam rehabilitasi dan rekonstruksi. Keberhasilan partisipasi pokmas ini dipengaruhi oleh kondisi komunikasi di dalamnya seperti dalam struktur kelompok, pembinaan kelompok, kekompakan kelompok, suasana kelompok, tekanan kelompok dan tujuan kelompok. Penilaian keragaan kelompok ini berdasarkan persentase skor pengolahan data hasil penelitian yaitu sangat rendah (0% - 20%), rendah (21% - 49%), cukup (41% - 60%), tinggi (61% - 80%) dan sangat tinggi (81% - 100%).

4.4.1 Struktur Kelompok

Struktur kelompok merupakan perincian peranan dan posisi dalam kelompok yang ditunjukkan dengan berperannya responden dalam kelompok. Hasil penelitian tentang struktur kelompok masyarakat di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Struktur kelompok masyarakat

No Struktur Kelompok Persentase Skor (%) 1. Keterlibatan dalam pengambilan keputusan kelompok 66,15

2. Pembagian kerja kelompok 63,95

3. Komunikasi timbal balik dalam kelompok 58,02

Rataan 62,70

Sumber: Olahan data primer hasil penelitian

Keterlibatan responden dalam pengambilan keputusan di kelompoknya termasuk kategori kuat (66,15%), karena pemuka pendapat mempunyai peranan penting dalam pengambilan keputusan di setiap rapat kelompok masyarakat terkait dengan penanganan bencana. Pembagian kerja kelompok memiliki skor

(21)

tinggi (63,95%), karena kelompok masyarakat di lokasi penelitian mengedepankan kerjasama dan gotong royong tanpa memandang status dan golongan. Namun komunikasi timbal balik hanya mempunyai skor cukup (58,02%). Hal ini disebabkan, masih banyak anggota kelompok masyarakat yang berperan sebagai pendengar atau penerima informasi, sehingga kurang terjadinya komunikasi dua arah. Kondisi ini juga dipengaruhi kondisi budaya masyarakat setempat yang menganggap pendapat tokoh masyarakat sudah mewakili keinginan masyarakat.

4.4.2. Pembinaan Kelompok

Pembinaan kelompok berkaitan dengan usaha responden untuk mempertahankan kehidupan kelompok melalui peranserta dalam kegiatan-kegiatan kelompok, sehingga keberadaan kelompok juga memiliki arti penting bagi pemuka pendapat. Hasil penelitian mengenai kondisi pembinaan kelompok dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Pembinaan kelompok masyarakat

No Pembinaan Kelompok Persentase Skor

(%) 1. Partisipasi dalam kegiatan kelompok 59,12

2. Manfaat dari kegiatan kelompok 68,79

3. Pengaruh terhadap kelompok 56,48

Rataan 61,46

Sumber: Olahan data primer hasil penelitian

Banyaknya aktivitas dan kesibukan menyebabkan sebagian responden tidak memiliki waktu yang cukup untuk berpartisipasi dalam setiap kegiatan kelompok, sehingga partisipasi responden dalam kegiatan kelompok masyarakat hanya memperoleh skor cukup (59,12%). Karena tidak dapat berpartisipasi secara penuh dalam kegiatan kelompok, maka responden tidak mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap kelompok (56,48%). Namun responden mengaku mendapatkan banyak manfaat dari kelompok (68,79%), terutama dalam pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi. Melalui kerjasama kelompok beban responden terkait permasalahan penanganan bencana dapat berkurang.

(22)

4.4.3. Kekompakan Kelompok

Keberhasilan kelompok masyarakat tidak lepas dari kekompakan antar anggota kelompok. Kekompakan ini mencerminkan rasa keterikatan (memiliki) responden terhadap kelompoknya. Untuk mengetahui sejauhmana kelompakan kelompok di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Kekompakan kelompok masyarakat

No Kekompakan kelompok Persentase Skor

(%) 1. Keterbukaan informasi dalam kelompok 75,16

2. Kerjasama kelompok 65,71

3. Kesamaan pandangan kelompok 54,94

Rataan 65,27

Sumber: Olahan data primer hasil penelitian

Karena sering mengadakan pertemuan kelompok masyarakat, maka keterbukaan informasi memiliki skor tinggi (75,16%). Hal ini disebabkan karena dalam rapat-rapat kelompok semua permasalahan dan informasi terbaru dikemukakan, sehingga diketahui oleh semua anggota. Kesamaan kondisi sebagai korban bencana alam membuat masyarakat bekerjasama bahu-membahu meringankan beban, sehingga kerjasama dalam masyarakat relatif kuat (65,71%). Namun dalam kelompok masyarakat tidak selalu terjadi kesamaan pandangan (54,94%), karena masing-masing individu mempunyai pendapat yang berbeda. Hal ini wajar terjadi dalam kelompok, karena tingkat permasalahan dan kepentingan yang dikemukakan dalam kelompok antara satu orang dengan orang lainnya tidak selalu sama.

4.4.4. Suasana Kelompok

Pengaruh lingkungan dan interaksi anggota dalam suatu kelompok mempengaruhi suasana di dalamnya. Suasana ini kemudian mempengaruhi responden dalam interaksi kelompok dan mencapai tujuannya. Hasil penelitian tentang suasana kelompok disajikan pada Tabel 15.

(23)

Tabel 15. Suasana kelompok masyarakat

No Suasana Kelompok Persentase Skor (%) 1. Kebebasan berpartisipasi dalam kelompok 65,27

2. Motivasi dalam kelompok 68,57

3. Solidaritas dalam kelompok 72,30

Rataan 68,71

Sumber: Olahan data primer hasil penelitian

Kebebasan berpartisipasi dalam kelompok memiliki skor kuat (65,27%) karena semua anggota dapat berperan dalam kegiatan kelompok, sehingga tingkat motivasi yang diperoleh responden juga tinggi (68,57%). Hal lainnya, suasana kekeluargaan dan gotong-royong yang dijunjung tinggi oleh kelompok, maka solidaritas memiliki skor kuat (72,30%).

4.4.5. Tekanan Kelompok

Dalam suatu kelompok sosial dengan banyak individu di dalamnya sering terjadi tekanan-tekanan. Hal ini disebabkan karena perbedaan emosi antar anggota dan motivasi untuk berkelompok. Untuk mengetahui tekanan kelompok di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Tekanan kelompok masyarakat

No Tekanan Kelompok Persentase Skor (%)

1. Penghargaan dalam kelompok 43,07

2. Persaingan dalam kelompok 36,48

3. Hukuman dalam kelompok 31,20

Rataan 36,91

Sumber: Olahan data primer hasil penelitian

Dalam kelompok tidak selalu ada penghargaan terhadap responden yang berbuat baik atau menjadi pahlawan bagi kelompoknya. Hal ini menyebabkan penghargaan dalam kelompok memiliki skor cukup (43,07%). Sedangkan persaingan antar anggota kelompok tidak terlalu terlihat di lokasi penelitian (36,48%), karena dalam rehabilitasi dan rekonstruksi nilai bantuan yang diberikan sama sesuai dengan kondisi kerusakan yang dialami oleh anggota kelompok.

(24)

Persaingan hanya terjadi, karena sikap ingin dipandang atau dihormati oleh anggota kelompok yang lain. Proses hukuman dalam kelompok juga lemah (31,20%), karena masyarakat lebih mengutamakan musyawarah dan kekeluargaan dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi.

4.4.6. Tujuan Kelompok

Dalam berkelompok masing-masing individu mempunyai tujuan. Tujuan tersebut kemudian dipertemukan untuk menjadi tujuan kelompok. Untuk mengetahui sejauhmana tujuan kelompok dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17. Tujuan kelompok masyarakat

No Tujuan Kelompok Persentase Skor

(%)

1. Keterbukaan tujuan kelompok 64,39

2. Kesamaan tujuan dalam kelompok 54,94

3. Dukungan terhadap tujuan kelompok 72,74

Rataan 64,02

Sumber: Olahan data primer hasil penelitian

Keterbukaan tujuan kelompok memiliki skor kuat (64,39%), karena sebagian besar responden yang aktif dalam kegiatan kelompok mengetahui tujuan kelompoknya. Meskipun tujuan kelompok merupakan tujuan bersama, tidak semua responden mengaku selalu memiliki kesamaan tujuan dengan kelompok (54,94%). Hal ini disebabkan karena tujuan kelompok ditetapkan berdasarkan suara mayoritas dalam kelompok, sehingga anggota kelompok harus mengikutinya demi solidaritas dan persatuan kelompok. Walaupun terdapat perbedaan tujuan, dukungan terhadap tujuan kelompok memiliki skor tinggi (72,74%) akibat adanya solidaritas tersebut.

(25)

4.5. Pemberdayaan Komunikasi Pemuka Pendapat dalam Penanganan Bencana

Seperti dikemukakan dalam kerangka berpikir penelitian ini, peubah tidak bebas, yaitu pemberdayaan komunikasi pemuka pendapat dalam penanganan bencana. Bagian dari peubah ini yang diteliti, yaitu keterlibatan komunikasi pemuka pendapat dalam kegiatan penanganan bencana yang terbagi ke dalam delapan kegiatan, antara lain penyelamatan korban, penyediaan hunian sementara, informasi program, pelayanan sosial dasar, rehabilitasi mental, pembangunan kembali perumahan, perbaikan prasarana dan sarana dasar, serta pemulihan sistem perekonomian. Penilaian berdasarkan persentase skor dari pengolahan data hasil penelitian, yaitu sangat rendah (0% - 20%), rendah (21% - 49%), cukup (41% - 60%), tinggi (61% - 80%) dan sangat tinggi (81% - 100%).

4.5.1. Penyelamatan Korban

Gempa bumi telah menyebabkan korban jiwa. Penyelamatan korban dititikberatkan pada penyelamatan korban yang masih hidup untuk mendapatkan perawatan medis. Penyelamatan korban ini merupakan fase awal dalam respons terhadap bencana. Setelah terjadi bencana gempa bumi, masyarakat spontan akan melakukan tindakan penyelamatan korban dengan membawanya ke tempat yang lebih aman. Kemudian mendirikan posko darurat untuk menampung korban dan memberikan pertolongan pertama. Dalam kondisi demikian, masyarakat meminta petunjuk dan arahan dari tokoh masyarakat tentang pelaksanaan penyelamatan dan pendirian posko darurat di lokasi bencana. Pada masa ini, masyarakat memanfaatkan sumber daya yang ada untuk melakukan tindakan-tindakan evakuasi korban dan pendirian posko darurat.

Penyelamatan korban oleh masyarakat setempat merupakan upaya yang dilakukan sebelum mendapat bantuan dari pemerintah dan LSM. Hal ini merupakan inisiatif masyarakat korban sebagai bentuk rasa kemanusiaan terhadap korban lainnya. Kemudian setelah datang bantuan dari luar, penanganan dilakukan dengan lebih baik melalui pendirian tenda-tenda pengungsian dan bantuan medis. Penanganan oleh pemerintah dan LSM menurut informasi dari lokasi penelitian dilakukan melalui koordinasi dengan tokoh masyarakat dan aparat desa setempat.

(26)

Untuk mengetahui pemberdayaan komunikasi pemuka pendapat dalam penyelamatan korban dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18. Pemberdayaan komunikasi pemuka pendapat dalam penyelamatan korban

No. Penyelamatan Korban Persentase Skor (%) 1. Peran dalam penyelamatan korban 82,85

2 Koordinasi dengan relawan 83,07

3 Pencarian bantuan medis 80,43

4 Pendirian posko bantuan 85,05

5 Pendataan korban 80,43

Rataan 82,37

Sumber: Olahan data primer hasil penelitian

Dalam penyelamatan korban, komunikasi pemuka pendapat yang memiliki skor tertinggi, yaitu pendirian posko bantuan (85,05%) dan koordinasi dengan relawan (83,07%). Berdasarkan wawancara dengan responden, dalam pendirian posko bantuan pemuka pendapat banyak terlibat dalam penentuan lokasi posko. Posko bantuan ditentukan untuk mempermudah akses distribusi bantuan dan penyalurannya kepada korban. Keberadaan posko ini penting dilakukan agar distribusi bantuan merata dan tidak menimbulkan konflik antar warga. Sedangkan koordinasi dengan relawan dilakukan, terutama dalam rapat-rapat koordinasi yang sering dilakukan selama masa tanggap darurat.

Komunikasi dalam penyelamatan korban melibatkan masyarakat, pemuka pendapat dan pelaksana penanganan bencana. Dalam kondisi darurat pasca bencana pemuka pendapat mengarahkan masyarakat untuk melakukan evakuasi korban dan memindahkannya ke tempat aman. Pemuka pendapat kemudian melakukan pendataan korban dan kerusakan di lingkungannya. Data tersebut diinformasikan kepada relawan dan pelaksana penanganan bencana, baik pemerintah maupun LSM melalui tatap muka dan radio amatir (Orari). Berdasarkan data korban dan kerusakan dari pemuka pendapat, pelaksana penanganan bencana mengirimkan relawan, bantuan medis dan bahan makanan untuk korban bencana. Komunikasi ini penting dilakukan untuk pemerataan distribusi bantuan berdasarkan tingkat kerusakan dan kebutuhan korban bencana

(27)

melalui posko-posko darurat yang didirikan di lokasi bencana. Komunikasi antara pelaksana penanganan bencana, pemuka pendapat dan masyarakat dalam penyelamatan korban dapat dilihat pada Gambar 7.

Pesan Media Komunikan Tatap muka, Pelaksana

penanganan bencana Data korban

dan

4.5.2. Penyediaan Hunian Sementara

Gempa bumi juga menyebabkan kerusakan rumah-rumah penduduk. Hal ini menyebabkan sebagian besar penduduk yang menjadi korban kehilangan tempat tinggal. Penyediaan hunian sementara bagi masyarakat di lokasi penelitian dianggap penting, terutama untuk anak-anak dan orang lanjut usia. Hunian sementara ini berupa tenda-tenda darurat yang didirikan di tempat terbuka dan di sekitar reruntuhan tempat tinggal yang dinilai lebih aman. Di hunian sementara ini, peran komunikasi pemuka pendapat dinilai penting, karena masyarakat di lokasi penelitian banyak mengadukan permasalahan kepada pemuka pendapat.

Dalam penyediaan hunian sementara, pemuka pendapat sebagai wakil masyarakat mengkoordinir penentuan lokasi pengungsian. Dalam penanganan bencana lokasi pengungsian dipilih dengan pertimbangan keamanan dari kemungkinan bencana susulan, berdekatan dengan jalur transportasi untuk distribusi bantuan serta kemudahan penyediaan fasilitas kebutuhan dasar masyarakat. Penentuan lokasi biasanya dilakukan melalui komunikasi dengan pelaksana penanganan bencana untuk memperlancar koordinasi dalam

Komunikator Pemuka pendapat kerusakan Pesan Penyelamatan korban media komunikasi Media

Tatap muka Komunikan Masyarakat korban bencana

Umpan balik

Bantuan relawan, bantuan medis dan kebutuhan dasar untuk korban bencana

Umpan balik

Informasi jumlah korban, kerusakan dan kebutuhan korban bencana

Keterangan : : Komunikasi pemuka pendapat dengan pelaksana penanganan bencana : Komunikasi pemuka pendapat dengan masyarakat

(28)

penanganan bencana. Untuk mengetahui pemberdayaan komunikasi pemuka pendapat dalam penyediaan hunian sementara dapat dilihat pada Tabel 19.

Tabel 19. Pemberdayaan komunikasi pemuka pendapat dalam penyediaan hunian sementara

No. Penyediaan hunian sementara Persentase Skor (%)

1. Pencarian lokasi pengungsian 81,31

2 Pencarian bantuan di pengungsian 83,07 3 Distribusi bantuan di pengungsian 81,97 4 Penyediaan fasilitas dan kebutuhan dasar pengungsi 80,87 5 Pengawasan terhadap kegiatan relawan di pengungsian 76,92

Rataan 80,83

Sumber: Olahan data primer hasil penelitian

Skor tertinggi dalam penyediaan hunian sementara, yaitu dalam hal pencarian bantuan (83,07%) dan distribusi bantuan di pengungsian (81,97%). Pencarian bantuan dan distribusi bantuan ini memiliki skor sangat tinggi, karena masyarakat tidak dapat mencari bantuan sendiri, sehingga pemuka pendapat berperan mencari bantuan ke posko-posko bantuan untuk didistribusikan kepada pengungsi. Peran pemuka pendapat dalam distribusi untuk menghindari ketimpangan pembagian bantuan dan konflik, sebagai akibat pemberian yang tidak merata.

Proses komunikasi dalam penyediaan hunian sementara dilakukan pemuka pendapat dengan memberikan data jumlah pengungsi dan kebutuhan masyarakat kepada pelaksana penanganan bencana. Komunikasi dilakukan melalui tatap muka di posko pemerintah maupun LSM. Selain tatap muka komunikasi juga dilakukan melalui radio-radio amatir (Orari) yang masih berfungsi di lokasi bencana. Dari penyampaian pesan-pesan pemuka pendapat tersebut, pelaksana penanganan bencana kemudian mengirimkan bantuan berupa tenda-tenda darurat, bahan makanan dan obat-obatan.

Selain berkomunikasi dengan pelaksana penanganan bencana, pemuka pendapat juga mencari bantuan melalui jaringan individu dari daerah yang tidak mengalami bencana. Bantuan dari pelaksana penanganan bencana dan sumbangan individu tersebut kemudian didistribusikan kepada masyarakat melalui komunikasi tatap muka di posko-posko darurat yang didirikan di lokasi

(29)

pengungsian. Proses komunikasi ini terus berlanjut hingga korban bencana meninggalkan lokasi pengungsian. Komunikasi antara pelaksana penanganan bencana, pemuka pendapat dan masyarakat dalam penyediaan hunian sementara dapat dilihat pada Gambar 8.

Komunikator Pemuka pendapat Pesan Data pengungsi dan kebutuhan Pesan Pengungsian, distribusi bantuan Media Tatap muka, media komunikasi Media Tatap muka Komunikan Pelaksana penanganan bencana Komunikan Masyarakat korban bencana Umpan balik Umpan balik

Informasi kebutuhan tenda dan kebutuhan dasar korban bencana di lokasi pengungsian Bantuan tenda dan kebutuhan dasar untuk

korban bencana

Keterangan : : Komunikasi pemuka pendapat dengan pelaksana penanganan bencana : Komunikasi pemuka pendapat dengan masyarakat

Gambar 8. Komunikasi dalam penyediaan hunian sementara

4.5.3. Informasi Program

Sosialisasi informasi kepada masyarakat penting dilakukan agar komunikasi penanganan bencana efektif. Dengan adanya sosialisasi informasi program penanganan bencana, masyarakat dapat mengetahui program pemerintah dan pelaksana penanganan bencana lainnya. Di lokasi penelitian, informasi program disebarkan kepada masyarakat melalui rapat rutin di kantor desa atau rumah tokoh masyarakat. Informasi program ini dapat dilakukan langsung oleh sumber informasi melalui koordinasi dengan pemuka pandapat. Namun kadang disampaikan kepada pemuka pendapat untuk disebarkan kepada masyarakat. Informasi program meliputi sosialiasi program penanganan bencana pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, baik berupa kebijakan maupun bantuan penanganan bencana. Untuk mengetahui pemberdayaan komunikasi pemuka pendapat dalam informasi program dapat dilihat pada Tabel 20.

(30)

Tabel 20. Pemberdayaan komunikasi pemuka pendapat dalam informasi program penanganan bencana

No. Informasi program Persentase Skor (%) 1. Penyampaian informasi penanganan bencana 81,09

2 Ketepatan metode sosialisasi 73,84

3 Keefektivan komunikasi tatap muka 80,87

4 Pentingnya forum komunikasi 82,19

5 Penyampai aspirasi masyarakat 82,63

Rataan 80,12

Sumber: Olahan data primer hasil penelitian

Dalam informasi program peran pemuka pendapat sebagai penyampai aspirasi masyarakat (82,63%) dan pentingnya forum komunikasi antara pemuka pendapat, masyarakat dan pelaksana penanganan bencana (82,19%) memiliki skor tertinggi. Hal ini disebabkan di lokasi penelitian masyarakat masih mengganggap pemuka pendapat sebagai panutan, sehingga menyampaikan permasalahan dan aspirasi kepadanya. Pentingnya forum komunikasi ini menurut responden untuk mencegah terjadinya konflik dalam penanganan bencana. Melalui forum komunikasi, informasi program penanganan bencana dapat disampaikan secara terbuka kepada masyarakat dan pelaksana penanganan bencana dapat mengetahui permasalahan secara langsung di lokasi bencana.

Proses komunikasi dalam informasi program ini diawali dengan adanya program pemerintah mengenai rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana. Program tersebut kemudian disampaikan kepada pemuka pendapat yang mewakili masyarakat korban bencana. Penyampaian pesan dilakukan melalui komunikasi tatap muka dan media komunikasi seperti modul, pamflet, leaflet dan sebagainya. Koordinasi penanganan bencana ini dilakukan melalui rapat antara pelaksana penanganan bencana dengan masyarakat sejak tahap perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi. Pemuka pendapat kemudian mensosialisasikan program penanganan bencana kepada masyarakat melalui rapat kelompok masyarakat. Dalam rapat tersebut pemuka pendapat menampung aspirasi dari masyarakat korban bencana, kemudian oleh pemuka pendapat disampaikan kepada pelaksana penanganan bencana. Forum komunikasi antara masyarakat, pemuka pendapat dan pelaksana

(31)

penanganan bencana ini untuk menciptakan komunikasi yang efektif sehingga proses penanganan bencana tepat sasaran dan dapat mengakomodir kepentingan masyarakat. Komunikasi antara pelaksana penanganan bencana, pemuka pendapat dan masyarakat dalam informasi program dapat dilihat pada Gambar 9.

Komunikator Pelaksana penanganan bencana Pesan Program penanganan bencana Komunikan Masyarakat korban bencana Media Tatap muka, media komunikasi Media Tatap muka Komunikan Pesan Program penanganan bencana Umpan balik

Pemuka pendapat menyampaikan aspirasi masyarakat

Umpan balik

Masyarakat menyampaikan aspirasi kepada pemuka pendapat

Pemuka pendapat Komunikator

Keterangan : : Komunikasi pemuka pendapat dengan pelaksana penanganan bencana : Komunikasi pemuka pendapat dengan masyarakat

Gambar 9. Komunikasi dalam informasi program

4.5.4. Pelayanan Sosial Dasar

Pelayanan sosial dasar merupakan pelayanan kebutuhan dasar masyarakat seperti makan, tempat tinggal, pakaian, kesehatan dan pendidikan. Pelayanan sosial dasar ini diberikan untuk mengurangi beban yang dialami oleh korban bencana. Pelayanan sosial dasar banyak melibatkan pemuka pendapat, karena menyangkut kesejahteraan masyarakat di lingkungannya. Dalam hal ini pelaksana penanganan bencana, khususnya pemerintah berkomunikasi dengan pemuka pendapat untuk mengetahui permasalahan di lokasi bencana. Pemuka pendapat sebagai pihak yang mengetahui kebutuhan masyarakatnya perlu memberikan keterangan jelas kepada pelaksana penanganan bencana agar kebutuhannya dapat dipenuhi. Koordinasi ini penting dilakukan agar tidak ada ketimpangan dan ketidaksesuaian penanganan bencana di wilayahnya. Untuk mengetahui pemberdayaan komunikasi pemuka pendapat dalam pelayanan sosial dasar dapat dilihat pada Tabel 21.

(32)

Tabel 21. Pemberdayaan komunikasi pemuka pendapat dalam pelayanan sosial dasar

No. Pelayanan sosial dasar Persentase Skor (%) 1. Perencanaan pelayanan sosial dasar 78,68 2 Perhatian terhadap aspirasi masyarakat 78,46 3 Keterlibatan dalam pelaksanaan layanan sosial dasar 79,78 4 Koordinasi dalam penyediaan layanan sosial dasar 80,87 5 Pengawasan kegiatan pelayanan sosial dasar 78,68

Rataan 79,29

Sumber: Olahan data primer hasil penelitian

Koordinasi dalam penyediaan layanan sosial dasar (80,87%) dan keterlibatan pemuka pendapat dalam pelaksanaan layanan sosial dasar (79,78%) memiliki skor tertinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pemuka pendapat mempunyai peranan penting dalam pelayanan sosial dasar di lingkungannya. Responden menilai permasalahan sosial dasar merupakan persoalan masyarakat yang perlu diselesaikan oleh pelaksana penanganan bencana, terutama pemerintah, sehingga pemuka pendapat berusaha mencari bantuan untuk masyarakat sekitarnya.

Komunikasi pada pelayanan sosial dasar dimulai melalui rapat kelompok masyarakat, di mana pemuka pendapat sebagai tokoh masyarakat terlibat di dalamnya. Dalam rapat tersebut masyarakat menyampaikan aspirasi mengenai permasalahan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Pemuka pendapat kemudian mengakomodir aspirasi tersebut, kemudian bersama masyarakat membuat rincian kebutuhan untuk disampaikan kepada pelaksana penanganan bencana. Rincian yang dibuat oleh masyarakat kemudian disesuaikan dengan program pelayanan sosial dasar pemerintah melalui koordinasi pemuka pendapat dan pelaksana penanganan bencana. Komunikasi ini dilakukan karena masyarakat mempunyai hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak pasca bencana dan berkewajiban membangun kembali wilayahnya. Pemenuhan kebutuhan itu dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya lokal dan bantuan dari pihak luar. Berdasarkan koordinasi dengan pemuka pendapat, pelaksana penanganan bencana memberikan bantuan pelayanan sosial dasar kepada masyarakat. Mekanisme penyaluran bantuan dilakukan melalui pemuka pendapat agar merata dan tepat

(33)

sasaran. Komunikasi antara pelaksana penanganan bencana, pemuka pendapat dan masyarakat dalam pelayanan sosial dasar dapat dilihat pada Gambar 10.

Komunikator Pemuka pendapat Komunikan Pesan Kebutuhan dasar Media Tatap muka Media Tatap muka Pesan Kebutuhan dasar Komunikan Pelaksana penanganan bencana Komunikator Masyarakat korban bencana Umpan balik

Bantuan kebutuhan dasar masyarakat

Umpan balik

Penyaluran bantuan kebutuhan dasar masyarakat

Keterangan : : Komunikasi pemuka pendapat dengan pelaksana penanganan bencana : Komunikasi pemuka pendapat dengan masyarakat

Gambar 10. Komunikasi dalam pelayanan sosial dasar

4.5.5. Rehabilitasi Mental

Gempa mengakibatkan luka emosi mendalam pada diri orang-orang yang selamat. Para korban mengalami problem psikologis yang bercirikan kesedihan berkelanjutan, keputusasaan dan kemarahan. Di antara hal-hal yang dibutuhkan di tempat-tempat penampungan korban, perawatan kesehatan mental, termasuk persoalan yang sangat penting. Rehabilitasi mental ini tidak selalu diidentikkan dengan penanganan mental secara klinis, tetapi juga melalui aktivitas-aktivitas kerohanian. Responden di lokasi penelitian menceritakan bahwa pasca bencana kegiatan-kegiatan pengajian semakin meningkat. Hal ini merupakan upaya masyarakat untuk mendapatkan ketenangan jiwa melalui aktivitas keagamaan. Peran pemuka pendapat, khususnya tokoh agama dinilai penting untuk membangkitkan semangat masyarakat di lokasi bencana. Untuk mengetahui pemberdayaan komunikasi pemuka pendapat dalam rehabilitasi mental dapat dilihat pada Tabel 22.

(34)

Tabel 22. Pemberdayaan komunikasi pemuka pendapat dalam rehabilitasi mental

No. Rehabilitasi mental Persentase Skor (%)

1. Perencanaan rehabilitasi mental 78,68

2 Pencarian bantuan rehabilitasi mental 81,75

3 Pelaksanaan rehabilitasi mental 76,92

4 Keberlanjutan pelaksanaan rehabilitasi mental 81,97 5 Kepedulian pada perkembangan mental masyarakat 77,36

Rataan 79,34

Sumber: Olahan data primer hasil penelitian

Keberlanjutan pelaksanaan rehabilitasi mental (81,97%) dan pencarian bantuan rehabilitasi mental (81,75%) menempati skor tertinggi. Menurut responden kegiatan keagamaan merupakan kegiatan yang tidak dapat dilakukan sekali. Kegiatan keagamaan ini dilakukan secara berkelanjutan dengan sasaran semua usia. Di lokasi penelitian, terdapat berbagai bentuk kegiatan pengajian seperti untuk anak-anak, remaja, wanita dan orang tua. Selain menghadirkan penceramah tokoh agama setempat, juga menghadirkan ustad atau da’i dari luar. Peran pemuka pendapat dalam rehabilitasi mental ini penting sekali terutama untuk mengkoordinir kegiatan pengajian di lingkungannya.

Komunikasi pada masa rehabilitasi mental dilakukan pemuka pendapat dengan menampung aspirasi masyarakat melalui rapat kelompok masyarakat. Hal itu dilakukan karena bencana mempengaruhi kestabilan jiwa dan mengakibatkan trauma pada diri masyarakat. Pemuka pendapat menampung aspirasi masyarakat untuk mengetahui kebutuhan dan mencari jalan keluarnya. Kegiatan rehabilitasi mental dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya lokal, yaitu penceramah agama yang ada di lingkungannya. Apabila sumber daya lokal tidak mencukupi kemudian pemuka pendapat meminta bantuan kepada pelaksana penanganan bencana untuk menyediakan relawan baik itu psikiater maupun penceramah agama. Psikiater diperlukan untuk memulihkan kejiwaan masyarakat melalui ilmu psikologi, sedangkan penceramah agama memberikan pencerahan dengan sudut pandang keagamaan. Bantuan relawan kemudian dikoordinasikan dengan pemuka pendapat untuk menentukan jadwal kegiatan rehabilitasi mental di wilayah tersebut. Kegiatan ini dilakukan secara berkesinambungan sampai kejiwaan masyarakat pulih dan dapat kembali hidup normal. Komunikasi antara pelaksana

(35)

penanganan bencana, pemuka pendapat dan masyarakat dalam rehabilitasi mental dapat dilihat pada Gambar 11.

Komunikator Pemuka pendapat Pesan Bantuan rehabilitasi mental Pesan Pemulihan mental masyarakat Media Tatap muka Media Tatap muka Komunikan Pelaksana penanganan bencana Komunikan Masyarakat korban bencana Umpan balik

Bantuan relawan rehabilitasi mental : psikiater dan penceramah agama

Umpan balik

Perlu relawan untuk rehabilitasi mental

Keterangan : : Komunikasi pemuka pendapat dengan pelaksana penanganan bencana : Komunikasi pemuka pendapat dengan masyarakat

Gambar 11. Komunikasi dalam rehabilitasi mental

4.5.6. Pembangunan Kembali Perumahan

Pembangunan kembali perumahan merupakan kegiatan penting dalam penanganan bencana. Gempa bumi di lokasi penelitian menyebabkan kerusakan rumah-rumah penduduk, dari kategori ringan, sedang hingga rusak berat. Hal ini menyebabkan pelaksanaan pembangunan perumahan membutuhkan waktu lama. Selain itu juga banyak mendatangkan permasalahan, baik antara warga dengan pelaksana penanganan bencana maupun konflik antar warga. Hal ini biasanya dipicu ketimpangan dalam distribusi bantuan. Selama berada di lapangan, peneliti beberapa kali mendengar konflik akibat permasalahan rehabilitasi dan rekonstruksi. Disinilah peran pemuka pendapat menjadi penting untuk mengkoordinir pembangunan kembali perumahan dan membantu menyelesaikan permasalahan. Untuk mengetahui pemberdayaan komunikasi pemuka pendapat dalam pembangunan kembali perumahan dapat dilihat pada Tabel 23.

(36)

Tabel 23. Pemberdayaan komunikasi pemuka pendapat dalam pembangunan kembali perumahan

No. Pembangunan kembali perumahan Persentase Skor (%) 1. Keterlibatan dalam perencanaan 78,24 2 Perhatian terhadap aspirasi dan kebutuhan 83,29

3 Keterlibatan dalam pelaksanaan 75,60

4 Keadilan dalam pembangunan perumahan 83,51

5 Keterlibatan dalam pengawasan 77,58

Rataan 79,64

Sumber: Olahan data primer hasil penelitian

Dalam pembangunan kembali perumahan, skor tertinggi yaitu menciptakan keadilan dalam pembangunan perumahan (83,51%), serta perhatian terhadap aspirasi dan kebutuhan masyarakat (83,29%). Responden menilai konflik disebabkan karena ketidakadilan dalam distribusi bantuan biaya pembangunan perumahan. Peran pemuka pendapat sangat tinggi untuk menciptakan keadilan ini dengan mengontrol proses penyaluran bantuan. Hal ini dilakukan melalui perannya menampung aspirasi dan keluhan masyarakat, serta menyampaikannya kepada pelaksana penanganan bencana, sehingga konflik dalam pembangunan perumahan dapat diminimalisir dan tidak menimbulkan perpecahan dalam masyarakat.

Komunikasi pada tahap pembangunan kembali perumahan berdasarkan program pemerintah yang menetapkan kebijakan pembangunan perumahan kepada korban bencana. Program tersebut kemudian disosialisasikan kepada pemuka pendapat, terutama yang terlibat sebagai fasilitator sosial dan pimpinan kelompok masyarakat di lingkungannya. Sosialisasi meliputi teknis pembangunan perumahan dan mekanisme panyaluran bantuan kepada masyarakat. Komunikasi antara pelaksana penanganan bencana dengan pemuka pendapat dilakukan pada tahap perencanan, pelaksanaan dan pengawasan dengan melibatkan fasilitator teknis dan Konsultan Manajemen Kecamatan (KMK).

Pemuka pendapat kemudian menyampaikan program tersebut kepada masyarakat korban bencana melalui rapat kelompok masyarakat yang dilakukan secara rutin satu kali dalam satu minggu. Rapat antara pemuka pendapat dengan masyarakat untuk mensinergikan program pemerintah dengan aspirasi

(37)

masyarakat, serta pengumpulan data-data kerusakan. Pengumpulan data melalui kelompok masyarakat dilakukan untuk menghindari manipulasi data yang berpotensi menimbulkan konflik dalam masyarakat.

Hasil rapat tersebut kemudian disampaikan pemuka pendapat kepada pelaksana penanganan bencana untuk menentukan teknis pelaksanaan pembangunan kembali perumahan di lingkungannya. Keterlibatan pemuka pendapat dalam komunikasi dilakukan sejak tahap perencanaan hingga evaluasi pelaksanaan pembangunan perumahan. Dalam tahap ini, keberhasilan pembangunan kembali perumahan tergantung kemampuan pemuka pendapat berkomunikasi dengan pelaksana penanganan bencana dan masyarakat. Komunikasi antara pelaksana penanganan bencana, pemuka pendapat dan masyarakat dalam pembangunan kembali perumahan dapat dilihat pada Gambar 12.

Komunikator Pelaksana penanganan bencana Pesan Pembangunan kembali perumahan Komunikan Masyarakat korban bencana Media Tatap muka, Media komunikasi Media Tatap muka, Pesan Pembangunan kembali perumahan Umpan balik

Memberikan data kerusakan perumahan dan menyampaikan aspirasi

Umpan balik

Menyampaikan data kerusakan perumahan dan aspirasi masyarakat Komunikan Pemuka pendapat Komunikator media komunikasi Keterangan : : Komunikasi pemuka pendapat dengan pelaksana penanganan bencana

: Komunikasi pemuka pendapat dengan masyarakat

Gambar 12. Komunikasi dalam pembangunan kembali perumahan

4.5.7. Perbaikan Prasarana dan Sarana Dasar

Perbaikan prasarana dan sarana dasar adalah pembangunan kembali jalan, listrik, air bersih, puskesmas, sekolah, tempat ibadah dan fasilitas umum lainnya. Kerusakan fasilitas tersebut pada pasca bencana menyebabkan terganggunya aktivitas masyarakat. Peran pemuka secara langsung banyak dilakukan dalam perbaikan fasilitas milik masyarakat seperti tempat ibadah dan pos ronda.

(38)

Sedangkan fasilitas umum lainnya tidak banyak melibatkan pemuka pendapat secara teknis. Untuk mengetahui pemberdayaan komunikasi pemuka pendapat dalam perbaikan prasarana dan sarana dasar dapat dilihat pada Tabel 24.

Tabel 24. Pemberdayaan komunikasi pemuka pendapat dalam perbaikan prasarana dan sarana dasar

No. Perbaikan prasarana dan sarana dasar Persentase Skor (%) 1. Keterlibatan dalam perencanaan 79,34 2 Perhatian terhadap aspirasi masyarakat 83,07

3 Keterlibatan dalam pelaksanaan 79,12

4 Koordinasi 79,34

5 Keterlibatan dalam pengawasan 78,90

Rataan 79,95

Sumber: Olahan data primer hasil penelitian

Skor tertinggi kegiatan ini yaitu perhatian pemuka pendapat terhadap aspirasi masyarakat (83,07%) serta perencanaan dan koordinasi (79,34%). Dalam perbaikan prasarana dan sarana dasar, responden mengaku menampung aspirasi masyarakat di lingkungannya untuk disampaikan kepada pelaksana penanganan bencana. Keterlibatan pemuka pendapat secara teknis lebih banyak pada perbaikan fasilitas yang dibangun oleh masyarakat. Sebab pembangunan tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan pemuka pendapat.

Komunikasi pada perbaikan prasarana dan sarana dasar dilakukan berdasarkan program pemerintah melalui pelaksana penanganan bencana. Program tersebut kemudian disosialisasikan kepada pemuka pendapat untuk mengetahui besarnya kerusakan di wilayahnya. Pemuka pendapat yang banyak dilibatkan biasanya yang aktif di struktur pemerintahan desa. Sosialisasi dititikberatkan pada teknis perbaikan prasarana dan sarana dasar. Komunikasi antara pelaksana penanganan bencana dengan pemuka pendapat dilakukan pada tahap perencanan, pelaksanaan dan pengawasan.

Pemuka pendapat kemudian menyampaikan kepada masyarakat, untuk mengetahui seberapa besar kerusakan fasilitas umum di lingkungannya. Penyampaian pesan dilakukan melalui rapat kelompok masyarakat untuk menjaring aspirasi dan penentuan prioritas perbaikan fasilitas umum. Hasil rapat

(39)

kemudian disampaikan kepada pelaksana penanganan bencana agar proses perbaikan dapat segera dilakukan. Komunikasi antara pelaksana penanganan bencana, pemuka pendapat dan masyarakat dalam perbaikan prasarana dan sarana dasar dapat dilihat pada Gambar 13.

Komunikator Pelaksana penanganan bencana Pesan Perbaikan prasarana dan sarana dasar Komunikan Masyarakat korban bencana Media Tatap muka, media komunikasi Media Tatap muka, media komunikasi Komunikan Pesan Perbaikan prasarana dan sarana dasar Umpan balik

Menyampaikan data kerusakan prasarana dan sarana dasar serta aspirasi masyarakat

Umpan balik

Memberikan data kerusakan prasarana dan sarana dasar serta menyampaikan aspirasi

Pemuka pendapat Komunikator

Keterangan : : Komunikasi pemuka pendapat dengan pelaksana penanganan bencana : Komunikasi pemuka pendapat dengan masyarakat

Gambar 13. Komunikasi dalam perbaikan prasaranan dan sarana dasar

4.5.8. Pemulihan Sistem Perekonomian

Pemulihan sistem perekonomian, yaitu pemulihan perekonomian masyarakat seperti pembukaan peluang usaha, pembukaan lapangan kerja, perbaikan produksi pangan dan perbaikan fasilitas perekonomian. Di lokasi penelitian sebenarnya kerusakan fasilitas perekonomian tidak banyak terjadi. Namun demikian responden menilai bencana menyebabkan lumpuhnya kegiatan ekonomi masyarakat. Hal itu disebabkan masyarakat disibukkan dengan pembersihan dan perbaikan kerusakan perumahan. Untuk mengetahui pemberdayaan komunikasi pemuka pendapat dalam pemulihan sistem perekonomian dapat dilihat pada Tabel 25.

Gambar

Gambar 6. Peta Kabupaten Bantul
Tabel 4. Jumlah desa, pedukuhan, dan luas kecamatan di Kabupaten Bantul tahun  2005
Tabel 5. Jumlah penduduk per kecamatan di Kabupaten Bantul tahun 2005  No. Kecamatan  KK  Laki-laki Perempuan Jumlah
Tabel 6. Distribusi responden menurut karakteristik yang diamati  No Karakteristik  Responden  Kategori Jumlah (Orang)  Persentase (%)  1
+7

Referensi

Dokumen terkait

variabel kepercayaan, dimensi keahlian, dan dimensi daya tarik berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat beli konsumen pada produk kecantikan pada mahasiswi Fakultas

Reduksi stress yang dimaksud penulis dalam penelitian ini adalah suatu proses yang diterapkan untuk menghilangkan atau mengurangi stress pada seseorang, seperti halnya

Media is tool that used to make effective communication and interaction between teacher and student in teaching and learning process at school. Media is

Pandu, Yudha, Undang-Undang Pokok Agraria dan Sebagai Peraturan Dasar Dalam Pelaksanaan Hukum Jaminan Hak Atas Tanah, Pustaka Ilmu, Jakarta, 2008 Patrik, Purwahid, Hukum Perdata

Pada bab II penelitian ini, disebutkan bahwa ibnu sabil dalam syariat Islam adalah musafir, orang yang sedang berpergian dan kehabisan bekal, atau tidak mempunyai

Sedangkan melalui uji-t diketahui nilai thitung masing-masing faktor pembentuk kepuasan konsumen &gt; ttabeJ sehingga hipotesis penelitian kedua terbukti benar yaitu kedelapan

Proses Public Relations sangat tergantung dari input informasi, karena bidang Public Relations adalah suatu studi yang menyangkut sikap manusia yang membutuhkan

Distribusi frekuensi pada variabel kinerja karyawan (Y) secara keseluruhan memiliki grand mean sebesar 3,993 sehingga dapat diartikan bahwa kinerja karyawan PT PLN