PELATIHAN PEMBUATAN SIOBAK VEGETARIAN
I Wayan Suja1, I Wayan Mudianta2, dan I B.N. Sudria3123Jurusan Kimia FMIPA UNDIKSHA
Email: [email protected]
ABSTRACT
This community service activity was carried out to increase the knowledge and skills of the Singaraja Branch of Veda Poshana Ashram devotees on vegetarian cooking. Activities carried out using training methods, which include lectures and discussions as well as practice and mentoring. The type of food produced is vegetarian siobak. The main ingredients for making vegetarian siobak are wheat flour, proteina, and green beans, as well as spices, which include pepper, hazelnut, pekak, ngohyang, sweet soy sauce, sugar, chilies and totole flavoring. The siobak products that are produced have an aroma, texture, and taste that is very suitable to the tastes of the Balinese people, and is free of cholesterol and germs commonly carried in pork. This service activity is very beneficial for the target audience because it opens up business opportunities for Buleleng-style vegetarian culinary and helps the government to improve the welfare and health of the community.
Key words: siobak, vegetarian
ABSTRAK
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan para bhakta Veda Poshana Ashram Cabang Singaraja tentang masakan vegetarian.
Kegiatan dilakukan dengan metode pelatihan, yang meliputi ceramah dan diskusi serta praktek dan pendampingan. Jenis masakan yang dihasilkan adalah siobak vegetarian. Bahan utama pembuatan siobak vegetarian adalah tepung terigu, proteina, dan kacang hijau, serta bahan bumbu, yang meliputi merica, kemiri, pekak, ngohyang, kecap manis, gula pasir, cabai, dan penyedap totole. Produk siobak yang dihasilkan memiliki aroma, tekstur, dan rasa sangat sesuai dengan selera masyarakat Bali, serta bebas kolesterol dan bibit penyakit yang biasa terbawa dalam daging babi. Kegiatan pengabdian ini sangat bermanfaat bagi khalayak sasaran karena membuka peluang bisnis kuliner vegetarian khas Buleleng dan membantu pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat. Kata kunci: siobak, vegetarian
PENDAHULUAN
Siobak masakan khas Singaraja sebagai akulturasi budaya dan seni kuliner Cina dan Bali. Masakan berbahan dasar babi tersebut, mencakup daging, jeroan, kulit, dan tulang muda diperkenalkan oleh warga keturunan Cina di Singaraja sejak tahun 1963 dengan membuka “Warung Siobak Che Khe Lok” di wilayah Kampung Tinggi. Cita rasa masakan khas Singaraja tersebut menyebabkannya dicari oleh para pecinta kuliner dari luar Buleleng.
Sejalan dengan perkembangan pola makan vegetarian, siobak juga menjadi menu vegetarian khas Singaraja. Siobak vegetarian yang dikembangkan dalam kegiatan pengabdian ini diadaptasi dari siobak babi, terutama dari komposisi bumbunya. Walaupun tidak persis sama dengan rasa siobak aslinya, siobak vegetarian memiliki berbagai keunggulan, seperti bebas kolesterol dan bebas bibit penyakit yang biasa
Kelompok masyarakat yang dipandang strategis untuk diberikan pelatihan pembuatan masakan vegetarian adalah para bhakta yang tergabung dalam kelompok Veda Poshana Ashram Cabang Singaraja, di Dusun Kembang Sari, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Para bhakta
Veda Poshana Ashram yang berlatih menjalani hidup tanpa kekerasan (ahimsa) dalam kesehariannya mengonsumsi makanan vegetarian, atau setidaknya mengurangi konsumsi daging. Walaupun mengonsumsi menu harian vegetarian, banyak bhakta tidak bisa membuat masakan vegetarian khas Bali. Atas dasar itu, pelatihan membuat masakan vegetarian merupakan kebutuhan mendesak bagi mereka, khususnya masakan vegetarian khas Bali yang juga memiliki peluang bisnis.
Di antara berbagai masakan vegetarian yang khas dan memilik
brand Singaraja adalah siobak. Siobak merupakan bukti akulturasi budaya dan kuliner Cina dan Bali yang aslinya dibuat dari daging babi. Siobak yang dibuat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diadaptasi dari siobak khas Singaraja, tetapi menggunakan bahan protein nabati
(geluten atau proteina) sebagai pengganti daging babi. Di samping untuk pemenuhan kebutuhan sendiri dan kelompok, siobak vegetarian memiliki peluang bisnis dan sangat mendukung kegiatan pariwisata spiritual dan wisata kuliner vegetarian di wilayah Bali, khususnya di Bali Utara.
METODE
Bahan utama siobak vegetarian adalah tepung terigu (bahan gluten), proteina, dan kacang hijau (bahan hati vegetarian). Bahan-bahan bumbunya meliputi merica, kemiri, pekak, ngohyang, kecap manis, gula tebu, garam, cabai besar dan kecil, dan penyedap totole (ekstraks jamur).
Masalah pokok yang hendak dipecahkan berkaitan dengan ketidakmampuan khalayak sasaran untuk membuat masakan vegetarian khas Bali, khususnya siobak vegetarian. Dari aspek kognitif dan afektif, kegiatan pengabdian ini juga berupaya untuk mengurangi cengkeraman mitos tentang daging yang masih hidup di masyarakat. Berbagai alternatif metode untuk memecahkan kedua masalah tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Berbagai Alternatif Metode Pemecahan Masalah
No Permasalahan Akar Masalah Alternatif Pemecahan Masalah 1 Khalayak sasaran tidak
mengetahui kandungan gizi masakan vegetarian dan terbelenggu oleh mitos tentang daging sebagai bahan makanan unggulan.
Kurangnya informasi tentang nilai gizi bahan-bahan makanan dan efeknya bagi konsumen.
1. Penyebaran brosur tentang masakan vegetarian. 2. Pemberian ceramah. 3. Melakukan diskusi tentang
masakan vegetarian dan non-vegetarian.
2 Khalayak sasaran tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan membuat siobak vegetarian.
Belum pernah berlatih membuat siobak vegetarian.
1. Menggali informasi tentang pengetahuan dan keterampilan membuat siobak dari daging babi.
2. Pengenalan siobak vegetarian lengkap dengan resep
pembuatannya.
3. Pelatihan pembuatan siobak vegetarian dan pendampingan.
Kelompok masyarakat yang dipandang strategis untuk diberikan pelatihan pembuatan masakan vegetarian adalah para bhakta yang tergabung dalam kelompok Veda Poshana Ashram Cabang Singaraja, di Dusun Kembang Sari, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Para bhakta
Veda Poshana Ashram yang berlatih menjalani hidup tanpa kekerasan (ahimsa) dalam kesehariannya mengonsumsi makanan vegetarian, atau setidaknya mengurangi konsumsi daging. Walaupun mengonsumsi menu harian vegetarian, banyak bhakta tidak bisa membuat masakan vegetarian khas Bali. Atas dasar itu, pelatihan membuat masakan vegetarian merupakan kebutuhan mendesak bagi mereka, khususnya masakan vegetarian khas Bali yang juga memiliki peluang bisnis.
Di antara berbagai masakan vegetarian yang khas dan memilik
brand Singaraja adalah siobak. Siobak merupakan bukti akulturasi budaya dan kuliner Cina dan Bali yang aslinya
dibuat dari daging babi. Siobak yang dibuat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diadaptasi dari siobak khas Singaraja, tetapi menggunakan bahan protein nabati (geluten atau proteina) sebagai pengganti daging babi. Di samping untuk pemenuhan kebutuhan sendiri dan kelompok, siobak vegetarian memiliki peluang bisnis dan sangat mendukung kegiatan pariwisata spiritual dan wisata kuliner vegetarian di wilayah Bali, khususnya di Bali Utara.
Realisasi kegiatan PkM ini dimulai dengan sosialisasi kepada Pengurus Veda Poshana Ashram Cabang Singaraja untuk mendiskusikan program dan waktu kegiatan secara pasti. Hasil kesepakatan tersebut ditindaklanjuti dengan pelaksanaan kegiatan, yang meliputi kegiatan ceramah dan diskusi, serta pelatihan dan pendampingan. Keterkaitan antara tujuan dan bentuk kegiatan PkM ini dapat dilihat pada dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Kegiatan Pelatihan Pembuatan Betutu Vegetarian
No Tujuan Bentuk Kegiatan Produk
1. Untuk meningkatkan pemahaman khalayak sasaran tentang masakan
Ceramah dan diskusi diet vegetarian dan nonvegetarian.
2. Untuk melatih khalayak sasaran membuat siobak vegetarian dan
pendampingan.
Praktek membuat siobak vegetarian sesuai dengan selera khalayak sasaran. Pendampingan pembuatan siobak vegetarian.
Siobak vegetarian
Evaluasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini mencakup evaluasi proses dan produk kegiatan. Evaluasi proses dilakukan selama kegiatan berlangsung, sedangkan evaluasi produk dilakukan pada akhir kegiatan terhadap kualitas siobak vegetarian yang dihasilkan ditinjau dari penampilan dan rasanya. Penskoran dilakukan dengan skala Likert dan dianalisis secara deskriptif.
Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dinyatakan berhasil jika hasil evaluasi proses dan produknya minimal tergolong baik, dengan rerata skor ≥ 3,40 menurut skala Likert (dengan skor 1 – 5). Rancangan evaluasi yang dilakukan dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Rancangan Evaluasi Kegiatan
No Jenis Sasaran Indikator Instrumen Kriteria Keberhasilan 1 Proses Kinerja peserta
dalam mengikuti pelatihan o Presensi o Keingintahuan o Ketekunan o Keterampilan o Kerja sama Lembar observasi Rerata kinerja peserta tergolong baik (skor minimal 3,40 skala Likert) Kesan peserta terhadap proses pelatihan o Kesiapan panitia o Pengetahuan narasumber o Keterampilan pelatih o Efektivitas kegiatan
Angket Rerata kesan peserta tergolong baik (skor minimal 3,40 skala Likert) 2 Produk Siobak vegetarian yang dibuat oleh peserta pelatihan o Bentuk o Warna o Tekstur o Rasa Lembar observasi Rerata indikator tergolong baik (skor minimal 3,40 skala Likert) Pandangan peserta terhadap masakan vegetarian
o Jaminan zat gizi o Jaminan
kesehatan
o Dampak
emosi-onal dan spiritual
o Pemahaman
keunggulan dan kelemahan
Angket Rerata indikator tergolong baik (skor minimal 3,40 skala Likert)
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Pemahaman Khalayak Sasaran tentang Masakan Vegetarian
Pemahaman khalayak sasaran tentang masakan vegetarian serta dampaknya bagi kesehatan fisik dan psikis dikumpulkan dengan evaluasi diri menggunakan angket. Angket diberikan kepada seluruh peserta (25 orang). Variabel yang dikumpulkan dengan angket tersebut meliputi jaminan kecukupan zat gizi dalam masakan vegetarian, rasionalitas dampak masakan vegetarian terhadap
kecerdasan intelektual, rasionalitas dampak masakan vegetarian terhadap kesehatan emosional dan spiritual, serta pengetahuan tentang keunggulan dan kelemahan masakan vegetarian. Penilaian diri sendiri dilakukan oleh peserta mengikuti skala Likert, menurut skor 1 = sangat kurang, 2 = kurang, 3 = cukup, 4 = baik, dan 5 = sangat baik. Rekap data penilaian diri tentang pemahaman peserta pelatihan terhadap kajian teoritis masakan vegetarian dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel4 Pemahaman Peserta Pelatihan tentang Masakan Vegetarian
No Pemahaman Masakan Vegetarian Penilaian Diri Siswa (N=25) Total Rerata
1 2 3 4 5
1 Jaminan kecukupan zat gizi dalam
masakan vegetarian. 10 15 115 4,60
2 Rasionalitas dampak masakan vegetarian terhadap kecerdasan intelektual.
16 9 109 4,36
3 Rasionalitas dampak masakan vegetarian terhadap kesehatan emosional dan spiritual.
7 18 118 4,72
4 Pengetahuan tentang keunggulan dan
kelemahan masakan vegetarian. 2 20 3 101 4,04
Rerata 110,75 4,43
Data pada Tabel 4
menunjukkan, menurut hasil evaluasi diri peserta pelatihan, pengetahuannya tentang rasionalitas masakan vegetarian tergolong wawasan, tidak hanya dari sisi spiritual, tetapi juga dari kajian ilmiah dan kepedulian terhadap lingkungan.
Sangat baik (rerata skor = 4,43). Hal tersebut disebabkan peserta pelatihan sudah mempelajari pentingnya mengonsumsi makanan vegetarian untuk menjaga kesehatan fisik, psikis,
spiritualnya. Tambahan informasi yang diberikan berguna untuk memperluas
2. Produk Siobak Vegetarian
Sesuai permintaan khalayak sasaran, produk masakan vegetarian yang dibuat pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah siobak vegetarian. Kegiatan PkM ini telah menghasilkan produk seperti ditampilkan pada Gambar 1.
Pembuatan Gluten Bumbu Siobak Proteina dan Gluten Goreng
Potongan Proteina dan Gluten
Hati Vegetarian Siobak Vegetarian
Gambar 1 Produk Pelatihan Pembuatan Siobak Vegetarian Pembuatan siobak vegetarian
memerlukan bahan dasar gluten, proteina, kacang hijau, beserta bahan-bahan bumbu, seperti: merica, kemiri, pekak, mohyang, kecap manis, gula pasir, garam, penyedap totole, cabe besar dan kecil, serta kanji. Gluten merupakan bahan bersifat kenyal dan kaya protein, berasal dari sisa remasan berbagai jenis tepung gandum, seperti terigu, yang tidak larut dalam air. Secara kimia, gluten terdiri atas asam glutamat (43%), kasein (23%), dan gelatin (12%). Gluten yang telah dimasak dapat dibentuk sesuai selera dan diberi bumbu sehingga berubah menjadi bahan bertekstur lembut mirip daging, dan dapat diolah menjadi berbagai produk masakan vegetarian, termasuk siobak vegetarian.
Proteina adalah protein nabati (100% kacang kedelai) yang telah dipisahkan minyaknya. Kandungan gizinya lebih tinggi dibandingkan
Kandungan protein proteina kering 2,77 kali kandungan protein daging sapi segar, sebaliknya kandungan lemaknya hanya 0,08 kali. Kandungan mineral proteina kering mencapai 20 kali kandungan mineral daging sapi segar. Data tersebut menunjukkan kandungan protein, lemak, dan mineral proteina justru lebih unggul dibandingkan daging sapi segar, yang bisa jadi juga mengandung bibit penyakit, seperti anthrax dan cacing pita.
Kacang hijau (Phaseolus radiatus Linn) digunakan untuk membuat ati vegetarian. Kacang hijau mengandung protein tinggi sebanyak 7 g/100 g. Protein yang terkandung memiliki asam amino lengkap. Kacang hijau mengandung asam lemak esensial, yaitu omega-3 (0,9 mg/100 g) dan omega-6 (119 mg/100 g). Omega 3 merupakan asam lemak yang berguna untuk menurunkan kolesterol dalam darah. Kacang hijau juga mengandung
B1 (thiamin) sebesar 0,2 mg/100 g, vitamin A (157 μg/100 g), vitamin C (10 μg/100 g), riboflavin (B6) asam pantothenat, serta niasin. Kacang hijau kaya akan mineral, dalam 100 gramnya terkandung potasium (266 mg), fosfor (99 mg), mangan (48 mg), kalsium (27 mg), magnesium (0,3 mg), besi (1,4 mg), seng (0,8 mg), selenium (2,5 μg) (Wijaya, 2013).
Merica (Piper nigrum L.) mengandung bahan aktif seperti amida fenolat, asam fenolat, dan flavonoid yang bersifat antioksidan sangat kuat. Selain itu, merica juga mengandung piperin yang berkhasiat sebagai analgesik, antipertik, anti-inflamasi serta memperlancar proses pencernaan. Amida fenolat dalam merica memiliki fungsi sebagai antioksidan. Selain itu, merica kering juga mengandung vitamin C, β-karoten, tiamin, riboflavin, asam nikotinat, dan mineral, seperti kalium, natrium, kalsium, magesium, besi, fosfor, tembaga, dan seng (Amalia, 2008)
Kemiri (Aleurites moluccana) mengandung gliserida, asam linoleat, palmitat, stearat, miristat, asam minyak, protein, vitamin B1, dan lemak. Kandungan protein dalam kemiri dapat digunakan untuk pertumbuhan jaringan dalam tubuh. Lemak dalam kemiri adalah lemak tak jenuh yang membantu mengurangi penyakit jantung dan stroke. Kemiri mengandung zat non-gizi, seperti saponin, flavonoid, dan polifenol. Ketiga jenis senyawa tersebut sangat berperan untuk menjaga kesehatan tubuh. Kemiri banyak
masakan karena menghasilkan rasa gurih pada masakan.
Cabai merah (Capsicum annum
L.) dan cabai rawit (Capsicum frutescens) mendandung kapsaisin (capsaicin) yang menimbulkan rasa pedas. Kapsaisin dikenal memiliki aktivitas antikanker, dapat melawan serangan stroke dengan melancarkan peredaran darah, memperlancar pencernaan karena dapat meningkatkan produksi asam lambung dan gerak peristaltik usus, meredakan kejang otot, mencegah impotensi, dan jantung koroner. Selain itu, kapsaisin juga berkhasiat mengurangi terjadinya penggumpalan trombosit darah, meningkatkan nafsu makan, mengobati rematik, meredakan migrain, dan merangsang produksi hormon endorphin (hormon yang mampu membangkitkan rasa nikmat dan kebahagiaan) sehingga dapat meningkatkan nafsu makan. Cabai juga mengandung karotenoid, yaitu zat warna merah atau kuning kemerahan pada kulit buah cabai.
3. Kinerja Khalayak Sasaran dalam Membuat Siobak Vegetarian
Kinerja peserta pelatihan dinilai oleh tiga orang tim pelaksana PkM ini. Parameter yang diukur adalah kehadiran peserta, keingintahuan, ketekunan, keterampilan, dan kerja sama. Penilaian dilakukan dengan instrumen lembar observasi, menurut skala Likert, 5 = sangat baik, 4 = baik, 3 = cukup, 2 = kurang, dan 1 = sangat kurang. Hasil penilaian kinerja peserta pelatihan dapat
Tabel 5 Kinerja Peserta Pelatihan
No Uraian Penilaian Anggota Tim Total Rerata
I II III 1 Kehadiran 5 5 5 15 5,00 2 Keingintahuan 5 4 4 13 4,33 3 Ketekunan 5 4 5 14 4,67 4 Keterampilan 4 4 4 12 4,00 5 Kerja sama 5 5 5 15 5,00 Rerata 69 4,60
Data dalam Tabel 5
menunjukkan kinerja peserta pelatihan tergolong sangat baik (rerata skor = 4,60). Skor tertinggi diperoleh dari kemampuan mereka untuk bekerja sama dan kehadiran (rerata skor = 5), sedangkan skor terendah (rerata skor = 4) pada keterampilan untuk membuat produk masakan, dalam hal ini siobak vegetarian.
Kualitas siobak vegetarian yang dihasilkan selama proses pelatihan dinilai oleh tim tester, yang terdiri atas lima orang,
yaitu: dua orang pelatih pembuatan masakan vegetarian tersebut, satu orang dari panitia, dan dua orang dari peserta. Penilaian produk siobak vegetarian ditinjau dari empat aspek, yaitu: bentuk, warna/ aroma, tekstur, dan rasa. Penilaian dilakukan menurut skala Likert, 5 = sangat baik, 4 = baik, 3 = cukup, 2 = kurang, dan 1 = sangat kurang menggunakan lembar observasi. Hasil penilaian tim tester ditampilkan pada Tabel 6.
Tabel 6 Rekapitulasi Penilaian Kualitas Siobak Vegetarian
No Variabel Mutu Penilaian Tester Total Rerata
I II III IV V 1 Bentuk produk 5 5 5 5 5 25 5,0 2 Warna/aroma 5 5 5 5 5 25 5,0 3 Tekstur 4 5 5 5 4 23 4,6 4 Rasa 5 5 5 5 5 25 5,0 Rerata 24,5 4,9
Data dalam Tabel 6
menunjukkan kualitas siobak vegetarian yang dihasilkan oleh peserta pelatihan tergolong sangat baik (rerata skor = 4,9). Tampilan, warna, tekstur, dan rasa masakan vegetarian yang mereka buat sesuai dengan harapan. Dengan demikian, selain untuk memenuhi kebutuhan sendiri, keterampilan peserta pelatihan sesungguhnya sudah potensial untuk memasuki dunia entrepreneur
kuliner vegetarian khas Bali, khususnya dalam pembuatan siobak vegetarian yang memang terkenal di Buleleng.
4. Pandangan Khalayak Sasaran terhadap Proses Kegiatan Pelatihan
Pandangan khalayak sasaran terhadap kegiatan pelatihan dikumpulkan dengan angket. Parameter yang mereka nilai adalah kesiapan panitia, pengetahuan narasumber, keterampilan pelatih, dan efektivitas kegiatannya. Angket diberikan kepada seluruh peserta (25 orang). Penilaian dilakukan menurut skala Likert, 5 = sangat baik, 4 = baik, 3 = cukup, 2 = kurang, dan 1 = sangat kurang.
Pandangan peserta pelatihan terhadap proses kegiatan pengabdian kepada
masyarakat ini dapat dilihat pada Tabel7.
Tabel 7 Kesan Peserta Pelatihan terhadap Proses Pelatihan
No Parameter Penilaian Responden (N = 25) Jumlah Rerata
1 2 3 4 5 1 Kesiapan panitia - - - 5 20 120 4,80 2 Pengetahuan narasumber - - - 4 21 121 4,84 3 Keterampilan pelatih - - - 2 23 123 4,92 4 Efektivitas kegiatan - - - 6 19 119 4,76 Rerata 120,75 4,83
Data dalam Tabel 7
menunjukkan, pandangan khalayak sasaran terhadap kegiatan pelatihan pembuatan siobak vegetarian ini tergolong sangat baik (rerata skor = 4,83). Kondisi itu didukung oleh kemampuan narasumber dan keterampilan para pelatih dalam membimbing peserta pelatihan dalam membuat siobak vegetarian tergolong sangat baik.
Pandangan peserta pelatihan sejalan dengan kesan para peserta pelatihan yang sudah dilakukan sebelumnya oleh Suja et al. (2012; 2018). Temuan pada saat itu, peserta pelatihan sangat yakin, bahwa masakan vegetarian sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuh. Mereka juga percaya, masakan vegetarian berdampak sangat positif terhadap kemampuan untuk mengendalikan diri dan emosi, serta sangat mendukung perkembangan spiritualnya. Mengingat kegiatan tersebut membekali para peserta dengan pengetahuan dan keterampilan untuk membuat masakan vegetarian, maka khalayak sasaran menyambut kegiatan tersebut dengan sangat positif. Mereka juga meminta agar kegiatan pelatihan
SIMPULAN
Berdasarkan temuan dalam kegiatan pelatihan ini dapat diambil simpulan sebagai berikut. Pertama, pengetahuan khalayak sasaran tentang masakan vegetarian dan dampaknya
terhadap kesehatan tergolong sangat baik. Kedua, kualitas siobak vegetarian yang dihasilkan selama proses pelatihan tergolong sangat baik. Ketiga, keterampilan khalayak sasaran dalam membuat siobak vegetarian tergolong sangat baik. Keempat, peserta pelatihan menyambut positif kegiatan pelatihan ini karena panitia dan pelatih melaksanakan tugas-tugasnya dengan bersahabat dan humanis.
UCAPAN TERIMA KASIH
Kami mengucapkan terima kasih kepada Rektor Undiksha Singaraja yang telah mendanai kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dalam bentuk Program PkM Penerapan Iptek Tahun Anggaran 2020 melalui kontrak Pengabdian kepada Masyarakat nomor: 259/UN48.16/PM/ 2020.
Amalia, N. L., 2008. Uji Sitotoksik Ekstrak Etanol 70% Buah Merica Hitam (Piper nigrum L.) Terhadap Sel HeLa. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta
Darmayasa, M., 2000. Vegetarian dan Ahimsa Darma. Surabaya: Paramita.
Direktorat Gizi Depkes RI, 1981.
Daftar Komposisi Bahan Makanan. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.
Gsianturi, 2002. Fitokimia Komposisi Ajaib Cegah Penyakit Jantung Koroner, Diabetes Mellitus, dan Kanker. Kompas, 9 Agustus 2002. Tersedia pada Error! Hyperlink reference not valid.. Latief, A., 1998. Resep Masakan
Daerah. Jakarta: CV. Atisa. Margetts, B. M., 1993. Vegetarian and
Longevity. Epidemiology, 4(3): 278 - 279.
Muchtadi, D., 1989. Analisis Pangan. Bogor: PAU Pangan dan Gizi IPB.
Suci, N. K., 1986. Pengolahan Makanan Khas Bali. Denpasar: Proyek Penelitian dan Pengkajian Bali.
Suja, I W. & Retug, N., 2013. Balinisasi Masakan Vegetarian. Widya Laksana, 2(2): 69 – 82. https://ejournal.undiksha.ac.id/in dex.php/JPKM/article/view/9... DOI: http://dx.doi.org/10.23887/jwl.v 2i2.9142
Suja, I W., 2013. Mengapa Saya Memilih Vegetarian? Surabaya: Paramita.
Suja, I W., Retug, N., & Nurlita, F.,
Masakan Vegetarian Khas Bali.
Ngayah, 3(4): 64 – 76. https:// ejournal.undiksha.ac.id/index.ph p /JNG/article/view/1 88/177. Suja, I W., Sudria, I B. N., &
Kartowasono, N., 2016. Pelatihan Pembuatan Masakan Vegetarian Khas Bali bagi Anak Panti Asuhan Narayan Seva Singaraja. Laporan P2M Penerapan IPTEK. Tidak dipublikasikan. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha. Suja, I W., Sudria, I B. N., & Mudianta,
I W., 2018. Pelatihan Pembuatan Lawar, Tum, dan Ares Vegetarian. Prosiding Senadimas ke-3 Tahun 2018. Halaman 710 – 718. ISBN 978-602-6428-58-5.
Tjay, T. H. & Rahardja, K., 2002.
Obat-obat Penting: Khasiat, Penggunaan, dan Efek-efek Sampingnya. Jakarta: Gramedia. Walter, P., 1997. Effect of vegetarian
diets on aging and longevity.
Nutrition reviews 55: 61 – 68. Wibawa, M. A., 2005. Vegetarianisme.