• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I. PENDAHULUAN Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I. PENDAHULUAN Latar Belakang"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Air merupakan sumberdaya alam yang sangat penting dalam kehidupan. Bahan pangan tidak mungkin dihasilkan tanpa tersedianya air dalam jumlah yang cukup. Peran air sebagai penentu ketersediaan pangan yang dihasilkan dari produk pertanian telah diyakini dan dibahas oleh banyak ahli. Sumber utama dari air yang ada di bumi berasal dari hujan, dan dari jumlah air yang tersedia secara global sebagian besar (70%) digunakan untuk pertanian, sisanya 20% untuk industri, dan 10% lainnya untuk kebutuhan rumah tangga (Molden, 2007).

Indonesia sebagai negara yang berada di wilayah tropis dan berbentuk kepulauan dikenal sebagai ‘the tropical maritime continent’ yang merupakan salah satu wilayah paling lembab di dunia. Rata-rata curah hujan tahunan di Indonesia sangat tinggi, yaitu mencapai lebih dari 3000 mm/tahun (Yasunari, 1981). Curah hujan yang tinggi sesungguhnya sangat menguntungkan bagi Indonesia sebagai negara agraris karena sumberdaya air cukup melimpah. Namun demikian, selama hampir satu abad terakhir curah hujan tahunan mengalami penurunan antara 2 – 3% untuk seluruh Indonesia selama periode 1901 – 1998, dengan pengurangan tertinggi antara bulan Desember – Februari yang merupakan bulan paling basah (Hulme & Sheard, 1999). Kecenderungan perubahan curah hujan ini berpengaruh pada produksi pangan (Kirono & Tapper, 1999; Naylor et

al., 2007).

Curah hujan yang terlalu rendah atau terlalu tinggi berpengaruh pada produksi pangan dari hasil pertanian. Apabila curah hujan sangat sedikit maka akan terjadi kekeringan dan dapat berakibat pada terjadinya gagal panen. Sementara apabila curah hujan sangat tinggi dapat mengakibatkan banjir, yang juga dapat mengurangi produksi bahan pangan. Meskipun cakupan area antara kedua fenomena ini berbeda, keduanya dapat dikategorikan sebagai fenomena alam yang berpotensi sebagai bencana berkaitan dengan masalah ketahanan

(2)

2 pangan. Kekeringan umumnya melanda daerah yang lebih luas dibandingkan dengan banjir. Akan tetapi, banjir seringkali terjadi pada dataran rendah yang merupakan sentra produksi padi, sehingga dampaknya cukup signifikan dalam menentukan ketersediaan pangan terutama beras yang merupakan makanan pokok penduduk Indonesia.

Penelitian mengenai risiko banjir di negara-negara maju pada umumnya dilakukan di daerah perkotaan atau daerah yang padat penduduk. Hal ini karena daerah perkotaan dianggap sebagai daerah yang memiliki risiko tinggi ditinjau dari sisi finansial sehingga hasil kajiannya digunakan sebagai dasar untuk menentukan besarnya nilai asuransi (Kelman, 2002; McMillan, 2006). Namun, penelitian risiko banjir pada penelitian ini dilakukan di daerah pertanian yaitu pada lahan sawah. Nilai ekonomi lahan sawah umumnya lebih rendah daripada wilayah permukiman atau perkotaan. Lahan sawah dipilih sebagai objek dengan maksud untuk mendukung program riset nasional dalam bidang ketahanan pangan, khususnya dalam hal produksi pangan. Sebagaimana diketahui, lahan sawah adalah penghasil utama beras sehingga peranannya sangat penting dalam penyediaan beras yang merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Sebagai gambaran, pada tahun 2009 dari total luas panen padi sebesar 12,8 juta ha, dengan produksi padi sebesar 64,4 juta ton, dihasilkan dari lahan sawah sebesar 11,79 juta ha dan ladang seluas 1,08 juta ha (BPS, 2010).

Pulau Jawa merupakan wilayah sentra produksi beras nasional meskipun luasnya hanya sekitar 7% dari luas Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kontribusi produksi padi secara nasional dari Pulau Jawa di atas 50% yaitu antara 59% pada tahun 1993 dan menurun menjadi 55% pada tahun 2010, dengan kontribusi dari Jawa Tengah adalah antara 17% pada 1993 menurun menjadi 15% pada 2010. Namun demikian, sebagian dari lahan sawah di Pulau Jawa tersebut berada pada wilayah rawan banjir (Tabel 1.1).

Ancaman banjir pada lahan sawah ini perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan berkurangnya luas panen dan produksi beras. Luas sawah rawan banjir/genangan di Jawa mencapai 1.084.217 ha (30,3%), dan yang sangat rawan

(3)

3 162.622 ha (4,5%). Sementara itu, luas sawah yang terkena banjir selama 15 tahun (1991-2006) di Indonesia berfluktuasi dengan rata-rata kerusakan lahan mencapai 32.826-37.977 ha, dan yang mengalami puso 5.707-138.227 ha (Ditlin Tanaman Pangan, 2007 dalam BAPPENAS, 2010). Sebaran lahan sawah rawan banjir di Pulau Jawa dari yang terluas adalah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, dan D.I. Yogyakarta.

Tabel 1.1. Luas lahan sawah rawan banjir/genangan di Jawa (dalam ha)

Provinsi Sangat Rawan Rawan Kurang Rawan Tidak Rawan Jumlah Jawa Barat 27.654 205.304 324.734 409.984 967.676 Banten 7.509 53.472 89.291 42.259 192.531 Jawa Tengah 49.569 503.803 188.688 303.346 1.045.406 DI. Yogyakarta 15.301 34.459 13.622 63.382 Jawa Timur 105.544 306.337 533.447 359.630 1.304.958 Total 162.622 1.084.217 1.170.619 1.128.841 3.573.953 Persen 4,5 30,3 32,7 32,5 100,0 Catatan:

Sangat rawan = frekuensi banjir 4-5x/5th; dan luas tanaman padi puso > 30% Rawan = frekuensi banjir 3x/5th; dan luas tanaman padi puso 20-29% Kurang rawan = frekuensi banjir 1-2x/5th; dan luas tanaman padi puso 10-19% Tidak rawan = tidak ada banjir dalam 5 tahun

Sumber: BAPPENAS (2010).

Beberapa penelitian yang telah dilakukan di wilayah pantai utara Jawa Tengah menyebutkan bahwa wilayah ini mengalami permasalahan lingkungan yang disebabkan karena peningkatan banjir genangan di wilayah pesisir yang disebabkan oleh rob (Abidin et al., 2010; Marfai et al., 2008; Marfai, 2011; Maulina, 2010; Soedarsono & Marfai, 2012). Terkait dengan permasalahan ini, (Marfai, 2011) telah melakukan penelitian mengenai dampak rob terhadap ekologi, pertanian dan juga penduduk di wilayah genangan rob. Berbeda dengan penelitian tersebut, penelitian ini difokuskan pada kajian dampak genangan rob terhadap lahan sawah.

(4)

4 Lahan sawah di pesisir utara Jawa Tengah umumnya berada pada dataran aluvial yang secara fisik merupakan wilayah rawan banjir. Sebagian besar dari lahan sawah tersebut merupakan sawah irigasi, sehingga lahan sawah pada wilayah seperti ini telah berada pada kondisi yang jenuh (saturated), bahkan telah tergenang sebelum terjadinya banjir. Terlebih lagi, lahan sawah umumnya berada pada lokasi yang relatif lebih rendah dari jalan ataupun permukiman, sehingga lahan sawah berpeluang mengalami genangan yang lebih tinggi dan lebih lama jika terjadi banjir.

Banjir di wilayah penelitian disebabkan oleh faktor hujan. Pasang air laut (rob) juga menjadi penyebab lain dari banjir genangan di Semarang, Jawa Tengah dan sekitarnya (Marfai, 2003; Suhelmi et al., 2010; Hartini et al., 2010). Pada wilayah dataran rendah pesisir seperti di pesisir utara Jawa Tengah ini, curah hujan yang tinggi yang terjadi bersamaan dengan terjadinya pasang air laut berpotensi memperluas dan menambah lama genangan karena volume air bertambah dan pengatusan air dari sungai atau saluran drainase ke laut menjadi terhambat. Kerusakan yang ditimbulkan oleh banjir dapat dibagi menjadi dua yaitu: (1) kerusakan yang disebabkan oleh kekuatan aliran dan besarnya debit banjir, dan (2) kerusakan yang disebabkan oleh tinggi dan lama genangan banjir. Dataran rendah pesisir merupakan lahan yang datar sehingga aliran banjir pada wilayah ini relatif lambat. Kerusakan tanaman karena banjir pada wilayah yang seperti ini umumnya disebabkan oleh genangan banjir yang bervariasi menurut ketinggian dan lama genangan.

Banjir merupakan fenomena alam yang tidak dapat dihindari kejadiannya, sehingga manajemen risiko banjir menjadi alternatif dalam upaya mengurangi risiko yang mungkin timbul dari setiap ancaman banjir. Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui International Strategy for Disaster Reduction (ISDR, 2004) menempatkan risiko dalam posisi sentral dengan merumuskan risiko sebagai:

Risk = (Hazard x Vulnerability ) / Capasity ………..…………...……... (1.1)

Formulasi ini secara konseptual dapat dipahami bahwa tinggi rendahnya risiko (risk) dari suatu bencana merupakan fungsi dari bahaya (hazard) pada kondisi

(5)

5 kerentanan (vulnerability) tertentu yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama dapat berubah sesuai dengan kemampuan bertahan (resilience) atau kapasitas (capasity) untuk menghadapi suatu kondisi bahaya tertentu.

Manajemen risiko banjir merupakan suatu proses yang terdiri dari tiga bagian yang tak terpisahkan yaitu analisis risiko, pengkajian (assessment) risiko, dan pengurangan risiko (Schanze, 2004). Analisis risiko dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai kejadian banjir pada masa lalu, sekarang, dan yang akan datang. Perkiraan risiko mengkaji masalah persepsi dan evaluasi, sedangkan pengurangan risiko ditujukan untuk mengurangi terjadinya risiko. Analisis risiko banjir mencakup analisis dalam aspek spasial dan temporal dari suatu kejadian banjir. Aspek spasial mencakup lokasi dan cakupan banjir, sedangkan aspek temporal mencakup waktu kejadian banjir. Pemodelan spasial berdasarkan faktor-faktor risiko banjir yang merupakan fokus penelitian ini diperlukan agar dapat melakukan analisis risiko banjir (Gambar 1.1).

Manajemen Risiko Banjir Perkiraan Risiko Analisis Risiko Pengurangan Risiko Penentuan Bahaya Penentuan Kerentanan Penentuan Risiko Persepsi Risiko Penilaian Risiko Sebelum Banjir Pada Saat Banjir Sesudah Banjir

Gambar 1.1. Komponen manajemen risiko banjir (Schanze, 2004)

Analisis risiko banjir ditentukan dari tiga komponen yaitu bahaya banjir, kerentanan dan keterpaparan. Ada banyak definisi dari komponen risiko ini. Salah satu diantaranya mendefinisikan bahaya sebagai ancaman dari suatu kejadian alamiah termasuk probabilitas/kekuatannya; keterpaparan sebagai nilai atau manusia yang terlibat dan berada di lokasi kejadian; dan kerentanan sebagai kekurangan atau ketiadaan kemampuan untuk bertahan dari kekuatan yang merusak yang ditimbulkan oleh bahaya yang ada.

(6)

6 Sebuah model yang dapat menggambarkan kondisi di lapangan diperlukan agar analisis risiko dapat dilakukan dengan baik. Sebuah model merupakan abstraksi atau penyederhanaan dari dunia nyata. Model lingkungan dibangun untuk mendapatkan gambaran akan kondisi fisik, biologi, atau sosial-ekonomi. simulasi dan prediksi mengenai kondisi yang akan terjadi, baik dalam dimensi ruang dan waktu hendaknya dapat dilakukan dari sebuah model. Dengan demikian, model dibangun untuk mendapatkan pemahaman, atau bahkan untuk mengelola sistem yang terjadi di alam secara berkelanjutan (Skidmore, 2002).

Manajemen risiko bencana sebenarnya tidak selalu menghendaki pemodelan yang

sophisticated, melainkan pemodelan yang dapat memberikan gambaran yang nyata mengenai kondisi yang ada. Model yang diperlukan adalah model yang dapat menggambarkan atau memprediksi terjadinya risiko yang disebabkan oleh banjir genangan dengan baik. Ada dua pendekatan pemodelan banjir yaitu pendekatan konseptual yang mendasarkan pada proses dan model yang dikembangkan berdasarkan ketersediaan data (data driven models). Akurasi hasil keluaran dari model yang dibangun sangat ditentukan oleh data yang digunakan sebagai masukan dan pendekatan dari model yang dibangun.

Penelitian pemodelan risiko banjir pada lahan sawah ini menggunakan pendekatan kajian kondisi fisik dan hidrologi lahan yang didukung dengan analisis statistik dan survey lapangan. Interaksi dan hubungan proses hidrologi dengan bentang alam dan interaksi proses-proses geomorfik dengan air permukaan dan air bawah permukaan dalam dimensi temporal dan spasial terkait dengan fenomena banjir. Pendekatan ini dipandang sesuai untuk mengkaji banjir pada lahan sawah sesuai dengan fakta di wilayah penelitian. Banjir di wilayah penelitian terjadi sebagai gabungan proses dari aspek air (hujan dan pasang air laut) dan aspek morfologi yang berupa dataran. Pemodelan risiko banjir dilakukan dengan mengidentifikasi tiga komponen risiko banjir yaitu bahaya, kerentanan dan keterpaparan banjir.

(7)

7

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas maka yang menjadi permasalahan adalah:

1. Lahan sawah mempunyai posisi strategis dalam menunjang ketahanan pangan nasional karena makanan pokok sebagian besar rakyat Indonesia adalah beras. Sebagian besar beras berasal dari padi sawah. Namun lahan sawah terutama lahan sawah dataran rendah merupakan lahan yang rawan banjir baik karena curah hujan yang tinggi maupun karena pasang air laut. Banjir pada lahan sawah berpotensi menyebabkan berkurangnya produktivitas lahan sawah sehingga berpotensi mengganggu ketahanan pangan nasional apabila tidak ada upaya untuk menanggulanginya.

2. Penelitian risiko banjir pada umumnya dilakukan di wilayah permukiman dan sejauh ini belum ada metode analisis risiko banjir pada lahan sawah dataran rendah di daerah tropis basah yang dilakukan secara komprehensif dengan menggabungkan faktor kerawanan, kerentanan, dan kapasitas adaptasi masyarakatnya seperti di daerah penelitian.

1.3. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan terdahulu, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. menganalisis sebaran banjir genangan pada lahan sawah di sebagian wilayah pesisir utara Jawa Tengah antara tahun 1999 - 2009;

2. mengembangkan pemodelan risiko banjir genangan pada lahan sawah berdasarkan faktor-faktor risiko banjir yang mencakup kerawanan, kerentanan dan kapasitas di sebagian wilayah pesisir utara Jawa Tengah.

1.4. Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan penelitian yang diformulasikan untuk mencapai tujuan penelitian, adalah:

1. Bagaimana karakteristik fisik lahan dan hidrologi terkait dengan banjir pada lahan sawah di pesisir utara Jawa Tengah?

(8)

8 2. Bagaimana pengaruh curah hujan terhadap kejadian banjir genangan pada

lahan sawah di pesisir utara Jawa Tengah?

3. Bagaimana pengaruh pasang-surut terhadap kejadian banjir genangan pada lahan sawah di pesisir utara Jawa Tengah?

4. Bagaimana kondisi kerawanan dan risiko banjir pada lahan sawah di pesisir utara Jawa Tengah dan mengapa demikian?

1.5. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah:

1. diperolehnya pemahaman mengenai karakteristik fisik lahan sawah rawan banjir genangan pada dataran rendah pesisir di daerah tropis basah di pesisir utara Jawa Tengah;

2. diperolehnya metode analisis risiko banjir genangan pada lahan sawah dan faktor-faktor penyebabnya;

3. hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam upaya pengurangan risiko banjir genangan pada lahan sawah di wilayah lain, khususnya pada wilayah dengan kondisi geografis yang serupa.

1.6. Keaslian Penelitian

Perbedaan pokok penelitian disertasi ini dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya, antara lain terletak pada tempat, tujuan penelitian, metode pengumpulan data dan hasil penelitian. Peneliti belum menemukan penelitian mengenai pemodelan risiko banjir genangan pada lahan sawah yang disebabkan oleh hujan dan pasang air laut dengan pemodelan risiko banjir yang mempertimbangkan faktor penyebab terjadinya banjir genangan pada lahan sawah di wilayah pesisir utara Jawa Tengah.

Pada penelitian terdahulu, analisis risiko banjir dilakukan pada wilayah permukiman. Pengembangan pemodelan risiko banjir dilakukan dengan penekanan untuk memperoleh model analisis risiko banjir dengan penekanan risiko banjir pada aspek kekuatan banjir. Model stokastik curah hujan digunakan

(9)

9 untuk membangun model curah hujan–aliran (rainfall-runoff model) dan model genangan pada dataran banjir dikembangkan dengan teknik yang mendasarkan pada proses. Penelitian risiko banjir sebelumnya juga mengkuantifikasi faktor ketidakpastian (uncertainty) yang inheren dalam beberapa sumber dan proses yang berbeda, menggunakan objek kajian sebagai studi kasus adalah tempat pembuangan sampah (landfill). Penelitian disertasi ini mempertimbangkan faktor ketidakpastian untuk pemetaan genangan pasut mengakomodasi adanya faktor ketidakpastian dari data DEM yang digunakan.

Penelitian sebelumnya melakukan penilaian kerentanan fisik permukiman terhadap banjir di wilayah pesisir. Penilaian banjir meliputi tekanan lateral dari ketinggian banjir di dalam dan di luar bangunan serta kecepatan banjir. Penelitian sebelumnya menggunakan data curah hujan untuk memprediksikan dampaknya terhadap produktivitas lahan sawah. Penilaian kerugian produksi lahan pertanian yang disebabkan oleh banjir dilakukan secara statistik menggunakan data produksi tanaman. Objek kajian pada penelitian ini adalah lahan sawah. Lahan sawah yang potensial tergenang banjir dianalisis dengan menggunakan data sistem lahan, tanah, dan liputan lahan. Risiko yang timbul dianalisis berdasarkan kerawanan dan kerentanan terhadap banjir serta adaptasi yang dilakukan untuk mengurangi risiko banjir. Penelitian ini juga menggunakan model statistik VAR untuk menganalisis hubungan kausalitas curah hujan dan debit sungai. Analisis perubahan penutup lahan digunakan sebagai dasar untuk menganalisis potensi pengurangan produksi beras. Adapun perbandingan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan secara detail dapat dilihat pada Tabel 1.2.

(10)

10 Tabel 1.2. Penelitian Pemodelan Risiko Banjir

No. Peneliti, Tahun & Judul Tujuan Penelitian Klasifikasi dan Metode Penelitian Hasil

1. Kelman, 2002,

Physical Flood Vulnerability of Residential Properties in Coastal, Eastern England.

Fokus dari penelitian ini adalah untuk menilai kerentanan permukiman secara fisik terhadap bencana banjir di daerah pesisir.

Disertasi

Penilaian banjir meliputi tekanan lateral dari ketinggian banjir di dalam dan di luar bangunan serta kecepatan banjir.

Matriks kerentanan dalam dua dimensi dengan menempatkan kecepatan banjir pada satu sumbu dan ketinggian banjir pada sumbu lainnya dan matriks sel yang menampilkan luaran kerusakan (damage outcame). Matriks kerentanan ini digunakan sebagai alat (tool) untuk mengilustrasikan manajemen bencana. 2. Huang, 2005

Appropriate modelling for integrated flood risk management.

Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) membangun kerangka umum perkiraan risiko banjir, termasuk masalah pemilihan model; (2) memperbaiki metode prakiraan risiko yang sudah ada dengan menambahkan faktor kecepatan aliran, serta (3) mengeksplorasi kemungkinan melakukan prakiraan secara cepat berbasis teknologi GIS.

Disertasi

Pemilihan model analisis risiko banjir dilakukan dengan pendekatan konseptual secara statistik dan fisik, dengan mengintegrasikan faktor ketidakpastian

Model analisis risiko banjir dan simulasi pengaruh faktor kecepatan aliran sebagai salah satu faktor risiko diuji dengan simulasi pengaruh tanggul (dike break) untuk mitigasi risiko. Deskripsi karakteristik hidrologi, kondisi geografi, dan sistem pengendalian banjir di Sungai Elbe, Jerman.

(11)

11 Tabel 1.2. Penelitian Pemodelan Risiko Banjir (Lanjutan)

No. Peneliti, Tahun & Judul Tujuan Penelitian Klasifikasi dan Metode Penelitian Hasil 3. McMillan, 2006

End-to-End Flood Risk Assessment: A Coupled

Model Cascade With

Uncertainty Estimation.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyusun kerangka perkiraan risiko banjir, dengan menggabungkan model yang menggunakan data dan model hidrologi yang terbaik dan terbaru, dalam struktur yang memungkinkan estimasi ketidakpastian dalam analisis.

Disertasi

Model risiko banjir dibangun dengan teknik yang mendasarkan pada proses (process-based

technique) dengan simulasi yang

berkelanjutan untuk menganalisis karakteristik aliran secara langsung, menggunakan hasil simulasi curah hujan untuk mendapatkan model curah hujan-limpasan dan untuk mendapatkan simulasi debit.

Penelitian ini menghasil tiga komponen model: model stokastik curah hujan, model hujan – limpasan dan model genangan banjir.

4. Neuhold, 2010

Revised flood risk assessment: Quantifying epistemic uncertainty from different sources and processes.

Tujuan dari penelitian disertasi ini adalah untuk merevisi metodologi dalam memperkirakan (assessment) risiko banjir dan mengkuantifikasi faktor ketidakpastian (uncertainty) yang inheren dalam beberapa sumber dan proses yang berbeda.

Objek yang dikaji adalah tempat pembuangan sampah (landfill). Penekanan dalam penelitian ini adalah pada analisis ketidakpastian (uncertainty analyses) dengan fokus pada kajian bahaya banjir.

Lingkup kajian mencakup analisis mengenai proses hidrologi, modeling hidrodinamik dan sedimen transport.

Kajian risiko banjir terkait dengan aspek lingkungan dilakukan berdasarkan empat parameter yaitu: (1) karakteristik spatio-temporal, kerentanan terhadap erosi, (2) kecepatan aliran, (3) shear stress, dan (4) emisi terkait dengan penyerapan air pada sampah.

Kajian risiko banjir terkait dengan aspek ekonomi, ditujukan untuk menghitung efisiensi dan daya guna dari bangunan penahan banjir dan

(12)

12 Tabel 1.2. Penelitian Pemodelan Risiko Banjir (Lanjutan)

No. Peneliti, Tahun & Judul Tujuan Penelitian Klasifikasi dan Metode Penelitian Hasil

proses mitigasi. Kajian risiko banjir

dalam aspek individu dilakukan untuk mengestimasi efektifitas dan efisiensi dari arah rembesan (spillways).

5. Widiyanti, 2009

Analisis skenario iklim dan dampaknya terhadap produksi padi di Jawa

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak perubahan iklim terhadap produksi padi khususnya di Pulau Jawa dari tahun 2003 – 2006.

Laporan Penelitian Ilmiah, Jurnal.

Penelitian ini menggunakan data curah hujan harian yang kemudian dikonversikan menjadi curah hujan bulanan untuk tiga wilayah yaitu Subang, Cilacap dan Banyuwangi, selama tiga tahun (2003-2006).

Kondisi iklim menjadi penghambat (constraint) karena produktivitas padi sangat tergantung pada variasi curah hujan tahunan. Curah hujan yang berlebihan pada musim penghujan menimbulkan risiko banjir.

6. Lei et al., 2013

Assessment of Flood

Catastrophe Risk for Grain Production at the Provincial Scale in China Based on the BMM Method

Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan metode untuk mengkaji risiko banjir untuk menghitung kerugian pada produksi tanaman pertanian.

Laporan Penelitian Ilmiah, Jurnal.

Metode yang digunakan untuk penghitungan kerugian karena banjir adalah block maxima

model (BMM) dan peak over threshold (POT)

model yang merupakan model statistik. Data yang digunakan adalah kehilangan produksi tanaman per hektar lahan.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa model BMM dan POT merupakan metode yang efektif untuk menghitung kerugian produksi tanaman karena banjir.

Model yang dikembangkan berhasil memprediksikan potensi kehilangan produksi. Keberhasilan model didukung ketersediaan data dan model yang mudah dioperasikan.

(13)

13 Tabel 1.2. Penelitian Pemodelan Risiko Banjir (Lanjutan)

7. Departemen Pertanian, 2004 Sistem Monitoring Lahan Sawah Menggunakan Teknologi Inderaja: Penentuan Wilayah Sawah Rawan Kekeringan dan Banjir/Genangan

Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan pemetaan kerawanan kekeringan dan banjir/genangan menggunakan analisis spasial termasuk citra penginderaan jauh.

Laporan Penelitian

Pemetaan ini menggunakan analisis spasial dengan menggunakan metode skoring dan pembobotan. Data yang digunakan adalah peta sistem lahan, tanah, penggunaan lahan dan curah hujan.

Peta kerawanan banjir pada lahan sawah yang terbagi dalam empat kelas kerawanan : sangat rawan, rawan, kurang rawan dan tidak rawan.

8. Hartini, S., 2015

Pemodelan Risiko Banjir Genangan pada Lahan Sawah di Pesisir Utara Jawa Tengah

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis sebaran banjir genangan pada lahan sawah melalui analisis hidro-geomorfologis dan memodelkan risiko banjir berdasarkan faktor-faktor risiko banjir yang mencakup kerawanan, kerentanan dan kapasitas untuk mengurangi risiko banjir pada lahan sawah di pesisir utara Jawa Tengah antara tahun 1999 – 2009;

Disertasi

Pemodelan risiko banjir genangan pada lahan sawah di wilayah pesisir menggunakan pendekatan hidrogeomorfologi.

Model satististik VAR digunakan untuk menganalisis hubungan hujan dan debit sungai Data yang digunakan mencakup data spasial (peta Rupa Bumi Indonesia (RBI), sistem lahan, tanah, penutup lahan) dan numerik (curah hujan, debit sungai, pasang surut air laut harian, PODES, kejadian banjir) dan survey lapangan.

Model risiko banjir pada lahan sawah yang disebabkan oleh hujan dan pasang air laut.

Model VAR menunjukkan hubungan yang signifikan antar variabel hujan dan debit sungai, dan time lag dapat diidentifikasi.

Deskripsi kerawanan dan kerentanan lahan sawah terhadap banjir genangan dan pasang air laut, dan risikonya.

(14)

14

1.7. Batasan Istilah

Beberapa batasan istilah yang digunakan dalam penelitian ini, diuraikan sebagai berikut:

1. Bahaya (hazard) adalah fenomena, substansi, aktivitas manusia atau kondisi yang merusak yang dapat menyebabkan kematian, kesakitan atau dampak kesehatan lainnya, rusaknya properti, hilangnya kehidupan dan pelayanan, gangguan sosial dan ekonomi atau kerusakan lingkungan (ISDR, 2009). 2. Banjir adalah peristiwa terjadinya banjir/genangan pada wilayah yang

biasanya tidak terjadi banjir dan/atau peristiwa terjadinya limpasan air dari sungai karena debit banjir tidak mampu dialirkan oleh sungai atau debit sungai melebihi kapasitas pengaliran yang ada (Kodoatie & Sugiyanto, 2002). 3. Banjir genangan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah banjir yang disebabkan oleh hujan dan pasang air laut. Banjir genangan terjadi ketika terjadi hujan ekstrem atau muka air laut mengalami kenaikan yang ektrem di atas daratan pesisir yang disebabkan oleh pasang air laut dan gelombang tinggi (rob).

4. Rawan bencana adalah kondisi atau karakteristik geologis, biologis, hidrologis, klimatologis, geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah, meredam, mencapai kesiapan, dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu (ISDR, 2004). 5. Kerentanan (vulnerability) adalah kondisi sebuah komunitas, sistem atau aset

yang membuatnya cenderung terkena dampak merusak, yang diakibatkan ancaman bahaya (ISDR, 2004).

Penilaian kerentanan pada penelitian ini dilakukan khusus pada objek risiko yaitu lahan sawah dengan jenis tanaman utama padi. Kajian kerentanan banjir terhadap produktivitas tanaman padi, faktor penentu produktivitas padi yang akan dikaji terbatas pada faktor banjir yang dipengaruhi oleh curah hujan dan rob. Faktor penentu produktivitas pangan lainnya seperti jenis tanah beserta karakteristik fisik dan kimianya yang menentukan tingkat kesuburan tanah

(15)

15 termasuk iklim dan faktor-faktor lain dianggap sebagai tetapan dan tidak dikaji dalam penelitian ini.

6. Kemampuan (capacity) adalah suatu gabungan antara semua kekuatan dan sumberdaya yang tersedia dalam suatu masyarakat atau organisasi yang dapat mengurangi tingkat risiko bencana (ISDR, 2004).

7. Risiko (risk) adalah suatu peluang timbulnya akibat buruk, atau kemungkinan kerugian dalam hal kematian, luka-luka, kehilangan dan kerusakan harta benda, gangguan kegiatan mata pencaharian dan ekonomi atau kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh interaksi antara ancaman bencana dan kerentanan. Risiko merupakan fungsi dari bahaya, kerentanan dan kemampuan untuk bertahan atau kemampuan untuk beradaptasi (ISDR, 2004).

8. Risiko bencana (disaster risk) adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah yang dalam kurun waktu tertentu dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat.

9. Analisis risiko banjir adalah analisis yang mencakup penentuan bahaya, kerentanan dan risiko banjir. Kajian risiko mencakup persepsi dan penilaian risiko banjir dan pengurangan risiko mencakup pengurangan risiko sebelum, pada, dan sesudah terjadinya banjir (Schanze, 2004).

10. Manajemen Risiko merupakan suatu proses yang terdiri dari tiga bagian yang tak terpisahkan yaitu analisis risiko, pengkajian (assessment) risiko, dan pengurangan risiko (Schanze, 2004).

11. Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu daerah yang dibatasi oleh water

devide yang didalamnya dialiri oleh sungai tunggal atau sistem sungai yang

berhubungan sedemikian rupa sehingga alirannya yang berasal dari daerah tersebut keluar melalui suatu saluran tunggal (Linsley et al., 1972).

12. Sawah didefinisikan sebagai lahan pertanian yang berpetak-petak dan dibatasi oleh pematang (galengan) dan saluran untuk menahan/menyalurkan air yang

(16)

16 digarap dan diairi untuk menanam padi (Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pertanian).

13. Pesisir adalah wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut (UU No. 27 Tahun 2007). 14. Pemodelan adalah suatu proses membangun atau membentuk penyederhanaan

dari sebuah realita yang komplex untuk memudahkan pemahaman dari informasi yang dibutuhkan.

Gambar

Tabel 1.1. Luas lahan sawah rawan banjir/genangan di Jawa (dalam ha)  Provinsi  Sangat  Rawan  Rawan  Kurang Rawan  Tidak  Rawan  Jumlah  Jawa Barat  27.654  205.304  324.734  409.984  967.676  Banten  7.509  53.472  89.291  42.259  192.531  Jawa Tengah  4
Gambar 1.1. Komponen manajemen risiko banjir (Schanze, 2004)

Referensi

Dokumen terkait

1 M.. Hal ini me nunjukkan adanya peningkatan keaktifan belajar siswa yang signifikan dibandingkan dengan siklus I. Pertukaran keanggotaan kelompok belajar

29 En marzo de 2014, el Instituto Ruso para Investigaciones Estratégicas (RISR) y el Cen- tro de la Política Actual, vinculados al Kremlin, publicaron un reporte sobre la ayuda

Berangkat dari masalah yang ditemukan, penulis mengadakan penelitian dengan metode studi pustaka, observasi, perancangan, instalasi, uji coba serta implementasi untuk menemukan

Hipotesis dalam penelitian ini terbukti bahwa terdapat perbedaan rata-rata involusio uteri setelah tindakan pijat oksitosin, senam nifas dan tindakan pijat

Biaya-biaya tambahan yang terjadi seperti biaya transportasi, biaya perawatan dan biaya penyusutan juga sering merugikan para petani jika harga cengkeh rendah, sehingga

[r]

- SAHAM SEBAGAIMANA DIMAKSUD HARUS DIMILIKI OLEH PALING SEDIKIT 300 PIHAK & MASING2 PIHAK HANYA BOLEH MEMILIKI SAHAM KURANG DARI 5% DARI SAHAM DISETOR SERTA HARUS DIPENUHI

Fungsi speaker ini adalah mengubah gelombang listrik menjadi getaran suara.proses pengubahan gelombag listrik/electromagnet menjadi gelombang suara terjadi karna