Perbedaan kesejahteraan psikologis pada masa pensiun ditinjau dari status pernikahan
Teks penuh
(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI.
(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI.
(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. HALAMAN MOTTO. “. iv.
(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. HALAMAN PERSEMBAHAN. Semua hasil dari usaha dan kerja keras ini, aku persembahkan untuk Tuhan Yesus Kristus; sumber kekuatan dan penolongku Bunda Maria; Bunda yang terkasih St. Antonius, St. Yoseph, dan St. Yohanes De Britto; pelindung dan penyemangatku. Bapak, Ibu, dan Adik; yang selalu menjadi motivasi dan semangatku Sahabat-sahabatku dan seluruh orang yang kukasihi, Serta untuk semua para pejuang masa depan .. v.
(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI.
(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. PERBEDAAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS PADA MASA PENSIUN DITINJAU DARI STATUS PERNIKAHAN Antonius Mei Setyabudi ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kesejahteraan psikologis pada masa pensiun yang ditinjau dari status pernikahan. Variabel kesejahteraan psikologis terdiri dari enam dimensi yaitu penerimaan diri, hubungan yang positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan dalam hidup, dan pertumbuhan pribadi. Subjek penelitian ini berjumlah 80 orang pensiunan yang terdiri dari 40 orang dari kelompok menikah dan 40 orang dari kelompok janda/duda dengan menggunakan metode pengambilan sampel convenience sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala kesejahteraan psikologis yang dikembangkan oleh peneliti. Skala kesejahteraan psikologis ini terdiri dari 38 item dengan nilai reliabilitas alpha berstrata sebesar 0,893 (αs = 0,893). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan teknik analisis uji beda mann-whitnney u test. Hasil uji beda kesejahteraan psikologis antara kelompok menikah dan kelompok janda/duda diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,467 (p > 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kesejahteraan pada masa pensiun yang ditinjau dari status pernikahan. Kata kunci : kesejahteraan psikologis, masa pensiun, status pernikahan. vii.
(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. THE DIFFERENCES OF PSYCHOLOGICAL WELL-BEING IN RETIREMENT THAT REVIEWED FROM THE MARITAL STATUS Antonius Mei Setyabudi ABSTRACT The purpose of this study was to understand the differences between psychological well-being in retirement that reviewed from the marriage status. Psychological well-being is concluded of six dimensions: self acceptance, positive relations with others, autonomy, enviromental mastery, purpose of life, and personal growth. There was 80 subjects that had been retired with 40 subjects from the married group and 40 subjects from the widows that obtained with sampling methods convenience sampling. The data obtained from well-being psychology scales that developed by researcher. The well-being scales included 38 items with reliability of alpha stratified 0,893 (αs = 0,893). This study was quantitative difference test with mann-whitnney u test. The result from well-being between married group and widows group showed the significancy 0,467 (p>0,05). The result showed that there was no differences between the well-being on the retired stage that reviewed from the marriage status. Keywords: Psychological well-being, retirement, marital status. viii.
(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI.
(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. KATA PENGANTAR. Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Krisus atas penyertaanNya hingga penulisan skripsi dengan judul “Perbedaan Kesejahteraan Psikologis Pada Masa Pensiun Ditinjau Dari Status Pernikahan” ini dapat diselesaikan dengan baik. Selama penulisan skripsi ini, penulis merasa banyak mendapat bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak Dr. T. Priyo Widianto, M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma. 2. Bapak P. Eddy Suhartanto, M.Si. selaku Kepala Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma. 3. Ibu Debri Pristinella, M.Si. selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan dukungan dan motivasi serta yang selalu mengingatkan untuk menyelesaikan skripsi. 4. Bapak T.M. Raditya Hernawa M.Psi. selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang selalu memberikan dukungan, nasehat, kritik dan saran serta diskusi yang sangat membantu dalam pengerjaan skripsi hingga dapat selesai dengan baik. 5. Suster Lidwina Tri Ariastuti, FCJ S.Pd., M.A. yang telah berkenan meluangkan waktu untuk diskusi, sharing, dan dukungan untuk penulis hingga dapat menyelesaikan skripsi dengan baik.. x.
(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 6. Seluruh Dosen Fakultas Psikologi yang telah mendidik dan memberikan banyak ilmu, tidak hanya Ilmu Psikologi saja namun juga mengenai nilai-nilai kehidupan. 7. Seluruh karyawan dan staff Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma atas segala bantuan yang diberikan. 8. Bapak Budiman selaku pengurus P2TEL Magelang, Bapak Mohadi selaku Ketua IKPLN Yogyakarta, Bapak Pramono selaku pengurus Persekutuan Doa BPN & Notaris Yogyakarta, Bapak Darmadi selaku pengurus PWRI Yogyakarta, dan seluruh pihak yang telah banyak membantu dalam proses perizinan dan penyebaran kuisioner skripsi. 9. Bapak-Ibu pensiunan yang telah meluangkan waktu untuk mengisi kuisioner. 10. Kedua orang tuaku, Yohanes Suhartaya S. dan Natalia Naning K., yang tidak henti-hentinya untuk selalu memotivasi, menyemangati, mengingatkan dan mendoakan penulis agar dapat menyelesaikan skripsi. 11. Thomas Novian J.S., adik dan juga sahabat yang walaupun terkesan cuek namun masih memberikan kepeduliannya dan mendukung dalam progress skripsi penulis. Selanjutnya adalah tanggung jawabmu, pion ora ana mundur e! 12. Seluruh keluarga besar yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah mendukung penulis. 13. Teman-teman alumni De Britto 2011 yang selalu saja dapat menjadi motivasi bagi penulis untuk memberikan yang terbaik untuk diri sendiri maupun orang lain. Terima kasih juga untuk Pika, Vico, Stanis, Saktya, dan Widek atas xi.
(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI.
(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING .............................. ii HALAMAN PENGESAHAN....................................................................... iii HALAMAN MOTTO ................................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ....................................................... vi ABSTRAK .................................................................................................. vii ABSTRACT .................................................................................................. viii LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ............................................. ix KATA PENGANTAR .................................................................................. x DAFTAR ISI ............................................................................................... xiii DAFTAR TABEL ....................................................................................... xvi DAFTAR GAMBAR ................................................................................. xvii DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. xviii BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1 A. Latar Belakang Masalah..................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ............................................................................ 10 C. Tujuan Penelitian ............................................................................. 10 D. Manfaat Penelitian ........................................................................... 10 BAB II LANDASAN TEORI ...................................................................... 12 A. Kesejahteraan Psikologis ................................................................. 12 xiii.
(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 1. Pengertian Kesejahteraan Psikologis ........................................ 12 2. Dimensi Kesejahteraan Psikologis ............................................ 14 3. Faktor Yang Mempengaruhi Kesejahteraan Psikologis ............ 20 B. Status Pernikahan ............................................................................. 29 1. Menikah..................................................................................... 29 2. Janda/Duda ................................................................................ 30 C. Masa Pensiun ................................................................................... 31 1. Pengertian Masa Pensiun .......................................................... 31 2. Permasalahan Dalam Masa Pensiun.......................................... 34 3. Mengatasi Permasalahan Dalam Masa Pensiun ........................ 35 D. Perbedaan Kesejahteraan Psikologis Pada Masa Pensiun Ditinjau Dari Status Pernikahaan ........................................................................... 38 E. Skema Penelitian .............................................................................. 41 F. Hipotesis........................................................................................... 42 BAB III METODE PENELITIAN .............................................................. 43 A. Jenis Penelitian ................................................................................. 43 B. Identifikasi Variabel Penelitian ........................................................ 43 C. Definisi Operasional ........................................................................ 43 D. Subjek Penelitian.............................................................................. 44 E. Metode dan Alat Pengambilan Data ................................................ 45 F. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ................................................ 47 1. Validitas .................................................................................... 48 2. Reliabilitas................................................................................. 48 xiv.
(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 3. Daya Diskriminasi Item ............................................................ 49 G. Pengujian Alat Ukur Penelitian........................................................ 49 1. Uji Coba Alat Ukur Penelitian .................................................. 49 2. Hasil Uji Coba Alat Ukur .......................................................... 50 H. Metode Analisis Data ....................................................................... 54 1. Uji Asumsi ................................................................................ 54 2. Uji Hipotesis.............................................................................. 55 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................. 56 A. Pelaksanaan Penelitian ..................................................................... 56 B. Deskripsi Subjek Penelitian ............................................................. 57 C. Deskripsi Data Penelitian ................................................................. 58 D. Hasil Analisis Data........................................................................... 60 1. Uji Asumsi ................................................................................ 60 2. Uji Hipotesis.............................................................................. 61 E. Pembahasan ...................................................................................... 63 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... 67 A. Kesimpulan ...................................................................................... 67 B. Keterbatasan Penelitian .................................................................... 67 C. Saran ................................................................................................ 68 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 70 LAMPIRAN ................................................................................................ 75. xv.
(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR TABEL Tabel 1 : Distribusi Item Skala Kesejahteraan Psikologis ........................... 47 Tabel 2 : Persebaran Item Skala Kesejahteraan Psikologis ......................... 52 Tabel 3 : Hasil Uji Reliabilitas Skala Kesejahteraan Psikologis.................. 53 Tabel 4 : Persebaran Subjek Berdasarkan Status Pernikahaan .................... 57 Tabel 5 : Persebaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin ............................ 58 Tabel 6 : Hasil Analisis Deskriptif Kesejahteraan Psikologis ..................... 59 Tabel 7 : Hasil Uji t Kesejahteraan Psikologis............................................. 59 Tabel 8 : Hasil Uji Normalitas ..................................................................... 60 Tabel 9 : Hasil Uji Homogenitas.................................................................. 61 Tabel 10 : Hasil Uji Mann-Whitney U Test ................................................. 62. xvi.
(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Grafik Alur Hubungan Status Pernikahan Dengan Kesejahteraan Psikologis ..................................................................................................... 41. xvii.
(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Blueprint Skala Kesejahteraan Psikologis ............................... 76 Lampiran 2. Skala Try out............................................................................ 84 Lampiran 3. Skala Penelitian ....................................................................... 94 Lampiran 4. Uji Reliabilitas Skala ............................................................. 102 Lampiran 5. Uji Koefisien Alpha Berstrata (varian item komponen dan skor total) .......................................................................................................... 107 Lampiran 6. Data Deskriptif Subjek Penelitian ......................................... 111 Lampiran 7. Deskriptif Data Penelitian (one sample t-test)....................... 116 Lampiran 8. Uji Normalitas dan Homogenitas .......................................... 118 Lampiran 9. Uji Hipotesis .......................................................................... 124. xviii.
(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan April tahun 2014 merilis Indeks Kebahagiaan (Happiness Index) masyarakat Indonesia. Berdasarkan hasil indeks tersebut, tingkat kebahagiaan rakyat Indonesia berada pada level 68,28% yang artinya rata-rata orang Indonesia masuk ke dalam kategori bahagia. Nilai indeks ini mengalami kenaikan daripada tahun 2013 yang hanya 65,11% (Suyanto, 2015). Hidup bahagia dan sejahtera memang merupakan cita-cita setiap orang, termasuk karyawan yang memiliki kehidupan di masa pensiun (Deil, 2014). Namun, hal ini menjadi permasalahan tersendiri bagi karyawan yang memiliki batas usia pensiun tertentu (BBC Indonesia, 2010). Usia pensiun yang berkisar antara 50-55 tahun pada pegawai negeri sipil (PNS) dan 56 tahun pada pegawai swasta dikatakan masih terlalu muda (BBC Indonesia, 2010). Sebagian besar orang memiliki keinginan menolak pensiun dengan berbagai alasan, bahkan jika memungkinkan mereka ingin terus aktif bekerja atau menunda kehadiran masa pensiun (Suardiman, 2011). Hal ini tidak lepas dari keinginan mereka agar dapat tetap memenuhi kebutuhan yang lebih baik serta mempertahankan kualitas hidup (Afriyadi, 2014). Masa pensiun merupakan fase menuju dewasa akhir yang ditandai dengan mulai menurunnya produktivitas seseorang serta diharapkan untuk beristirahat dari kegiatan yang berkaitan dengan rutinitas kerja (Trisusanti & 1.
(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 2. Satiningsih, 2012). Masa pensiun juga dapat dikatakan sebagai tahap terakhir dari tahap perencanaan karir yaitu tahap penarikan diri. Pada tahap ini, seseorang lebih fokus pada meninggalkan karir, meninggalkan kelekatan pada organisasi dan menghadapi tekanan secara fisik, psikologis maupun sosial pada masa pensiun (Apsari, 2012). Safitri (2013) menjelaskan, bagi beberapa orang masa pensiun merupakan masa yang kurang menyenangkan karena adanya perubahan dalam kehidupannya seperti perubahan pendapatan ekonomi, aktivitas sehari-hari, dan lingkungan pergaulan. Masa pensiun bahkan sering dipandang sebagai masalah bahkan musibah bagi penerimanya hingga dapat menimbulkan stres (Suardiman, 2011). Berkurangnya kontak sosial seperti teman kerja, relasi, dan orang-orang di luar rumah menjadi pemicu munculnya stres ketika menghadapi masa pensiun. Hal ini membuat individu yang melalui masa pensiun cenderung rentan terhadap berbagai permasalahan yang timbul karena masa transisi dari bekerja ke masa pensiun (Suardiman, 2011). Anggi (2004, dalam Trisusanti & Satiningsih, 2012) menggambarkan bahwa seseorang yang pada masa pensiunnya memiliki masalah, pada dasarnya memiliki kondisi mental yang tidak stabil, konsep diri yang negatif serta kurangnya rasa percaya diri yang berkaitan dengan kompetensi diri dan keuangan. Maka dari itu, diperlukan penyesuaian dan persiapan untuk menghadapi masa pensiun ini baik secara fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi (Apsari, 2012)..
(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 3. Aspek psikologis menjadi salah satu aspek yang sangat penting bagi orang-orang yang akan menjalani kehidupan di masa pensiunnya (Shultz & Wang, 2011). Fakta bahwa permasalahan pada aspek fisik dan finansial jauh lebih terlihat bagi kebanyakaan orang membuat aspek psikologis sering kali diabaikan (Shultz & Wang, 2011). Terlebih lagi bila dikaitkan dengan kebahagiaan diperlukan pemahaman yang lebih luas mengenai konsep kebahagiaan yang tidak hanya berdasarkan pada aspek materialistik saja, tetapi juga melihat dari arti kebahagiaan dalam konsep eudaimonia yaitu kebahagiaan yang bertumpu pada pengembangan diri (Amalia, 2015). Santrock (dalam Apsari, 2012) menjelaskan bahwa saat seseorang menjalani masa pensiun, mereka akan mengalami beberapa perubahaan yang tidak terduga dan akan menghadapi situasi yang penuh dengan ketidakpastian. Moen (2001, dalam Kim & Moen, 2002) menambahkan, perubahan ini tidak hanya sekedar transisi kehidupan semata, namun juga perkembangan individu serta perubahan bentuk sosial psikologis yang berhubungan dengan fisik serta kesejahteraan psikologis (psychological well-being). Lebih lanjut lagi menurut Kim dan Moen (2002), pensiun dari pekerjaan dapat membuat seseorang mengalami tekanan psikologis. Namun, disisi lain pensiun dari pekerjaan juga diyakini mampu mengurangi ketegangan dan beban kerja yang berlebih, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan psikologis (psychological wellbeing) (George, 1993; Elder, 1995; Moen, 2001 dalam Kim & Moen, 2002). Kesejahteraan psikologis merupakan kemampuan individu untuk dapat menerima diri apa adanya, menjalin relasi dengan orang lain, mengendalikan.
(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 4. diri, mampu menghadapi tekanan sosial, serta mampu merealisasikan potensi yang dimiliki sehingga dapat memiliki arti dalam hidupnya (Ryff & Keyes dalam Anggraeni & Jannah, 2014). Individu yang memiliki skor kesejahteraan psikologis yang tinggi digambarkan sebagai individu yang memiliki perasaan bahagia, merasa berguna, puas terhadap kehidupannya, dan mendapat dukungan dari orang-orang disekitar (Winefield, Gill, Taylor, & Pilkington, 2012). Ryff dan Singer (1998, dalam van Dierendonck, Díaz, RodríguezCarvajal, Blanco, & Moreno-Jiménez, 2008) menjelaskan bahwa kesejahteraan psikologis memberikan pandangan baru bahwa mental yang sehat tidak hanya berdasarkan dari tidak munculnya penyakit namun juga munculnya sesuatu yang positif dalam diri seseorang. Adanya kesejahteraan psikologis akan membuat seseorang menyadari akan potensi yang dimiliki, meningkatkan kualitas hubungan interpersonal yang baik, dan tujuan dalam hidup (Ryff 1989, dalam Eldeleklioglu, Yilmaz, & Gultekin, 2010). Hal ini akan mendorong seseorang tidak hanya mendapatkan kebahagiaan semata namun juga berusaha untuk mencapai kesempurnaan terhadap potensi diri yang dimiliki (Ryff & Singer, 1998, 2000 dalam Aprianti, 2012). Gagasan kesejahteraan psikologis dirumuskan oleh Ryff berdasarkan beberapa pandangan terhadap fungsi psikologis secara positif (positive psychological functioning) yang menggabungkan konsep self-realization milik Maslow, fully functioning people milik Roger, maturity milik Allport, dan individualization milik Jung (Ryff & Keyes, 1995; Ryff, 1995; Eldeleklioglu.
(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 5. et al., 2010). Selain itu, Ryff (1989) juga menambahkan perspektif tahap perkembangan dalam kehidupan untuk mendefinisikan kesejahteraan psikologi dengan menekankan perbedaan tantangan yang dihadapi dalam setiap tahapan siklus hidup. Ryff (1989) juga menambahkan kriteria mental yang sehat milik Jahoda yang tidak hanya mendefiniskan well-being sebagai tidak munculnya penyakit namun juga memberikan definisi secara luas apa makna kesehatan psikologis yang baik. Konsep kesejahteraan psikologis kemudian diformulasikan oleh Ryff ke dalam enam dimensi untuk mengungkapkan fungsi psikologis yang positif pada individu (van Dierendock et al., 2008; Trisusanti & Satiningsih, 2012). Dimensi kesejahteraan psikologis antara lain penerimaan diri (selfacceptance), hubungan yang positif dengan orang lain (positive relations with other people), otonomi (autonomy), penguasaan lingkungan (environmental mastery), tujuan dalam hidup (purpose in life), dan pertumbuhan pribadi (personal growth) (Ryff & Keyes, 1995; Eldeleklioglu et al., 2010; Anggreani & Jannah, 2014). Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis individu (Aprianti, 2012). Faktor tersebut antara lain usia, jenis kelamin, kebudayaan, status sosial, pengalaman hidup dan sejarah hidup (Ryff, 1996). Ryff (2014) menambahkan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi terbentuknya. kesejahteraan. psikologis. individu. adalah. pengalaman. berkeluarga yang berkaitan dengan status pernikahan (marital status). Individu yang berstatus menikah cenderung memiliki skor tinggi pada dimensi tujuan.
(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 6. hidup (purpose in life) dibandingkan dengan mereka yang berstatus berpisah atau bercerai, janda, dan tidak pernah menikah (Ryff, 2014). Selain itu, individu yang berstatus cerai dan tidak pernah menikah memiliki skor total yang rendah dengan keseluruhan dimensi pada skala kesejahteraan psikologis. Namun, pada kelompok wanita yang berstatus janda dan tidak pernah menikah memiliki skor total yang lebih tinggi dari pada laki-laki dengan status pernikahan yang sama pada skala kesejahteraan psikologis (Ryff, 2014). Namun sebagai catatan, individu dengan penguasaan lingkungan, harga diri serta optimisme yang tinggi lebih mampu untuk beradaptasi terhadap kehilangan pasangannya (Ryff, 2014). Marks (1996) berpendapat bahwa ada dua hipotesis untuk menjelaskan mengenai efek perbedaan status pernikahan terhadap well-being individu yaitu hipotesis seleksi sosial (social selection hypothesis) dan hipotesis sebab-akibat sosial (social causation hypothesis). Hipotesis seleksi sosial menjelaskan bahwa seseorang yang sehat secara mental dan emosi lebih mungkin memilih pasangannya untuk menikah dan lebih mungkin dipilih untuk menikah dari pada seseorang yang tidak sehat secara mental dan emosi (Marks, 1996). Sebagai hasil dari hipotesis tersebut, individu yang menikah lebih menunjukkan profil psikologis yang lebih baik dari pada yang tidak pernah menikah (Marks, 1996). Hipotesis mengenai sebab-akibat sosial (social causation hypothesis) berpendapat bahwa aspek pernikahan membuat seseorang lebih memiliki mental yang sehat (Marks, 1996). Pearlin dan Johnson (1977, dalam Marks,.
(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 7. 1996) menyatakan bahwa orang yang tidak menikah lebih rentan terhadap halhal berkaitan dengan beban hidup seperti misalnya isolasi sosial dari pada orang yang menikah. Hal ini menjelaskan kenapa mereka yang tidak menikah memiliki skor yang tinggi pada pengukuran tingkat depresi dari pada responden yang menikah (Marks, 1996). Lowenthal dan Haven (1968, dalam Marks, 1996) menjelaskan lebih lanjut bahwa memiliki hubungan yang intim dengan orang kepercayaan memberikan pengaruh yang kuat terhadap well-being individu. Hubungan dengan orang kepercayaan tersebut dapat muncul dalam pertemanan atau hubungan keluarga, dan diharapkan hubungan tersebut dapat memberikan dampak terhadap kesehatan mental (Marks, 1996). Dukungan emosional yang intim, kesempatan untuk pembukaan diri, dan kepercayaan menjadi bagian dan karakteristik yang penting untuk pasangan dalam pernikahan modern (Rossi & Rossi, 1990 dalam Marks, 1996). Berger dan Kellner (1964, dalam Marks, 1996) mengatakan bahwa pasangan yang baru saja menikah secara interaktif menciptakan rasa berbagi terhadap realita dan pemaknaan sosial yang menjadi pondasi penting terhadap terbentuknya kesejahteraan psikologis. Disisi lain, orang dewasa yang masih lajang atau tanpa pasangan secara umum memiliki permasalahan dalam menjalin relasi yang akrab dengan orang dewasa lainnya, menghadapi kesepian, dan menemukan posisi yang sesuai dalam masyarakat yang berorientasi pada pernikahan (Koropeckjy-Cox, 2009, dalam Santrock 2012). Stres juga menjadi masalah yang biasa dihadapi pada orang dewasa yang masih lajang atau tanpa adanya pasangan (Santrock, 2012)..
(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 8. Sedangkan dalam kasus perceraian, pasangan yang menceraikan mungkin memandang bahwa perceraian sebagai jalan keluar dari relasi yang tidak dicapai (Santrock, 2012). Sebaliknya, pasangan yang diceraikan mungkin memandang perceraian sebagai sebuah pengkhianatan atau mengakhiri sebuah relasi yang telah dibangun, yang melibatkan komitmen dan kepercayaan (Santrock, 2012). Bagaimana individu menginterpretasikan pengalaman yang mereka miliki merupakan kunci yang dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis yang dimiliki, dapat disimpulkan bahwa status pernikahan baik itu menikah, maupun janda/duda (bercerai atau pasangannya meninggal) merupakan pengalaman dalam kehidupan setiap individu yang dapat memberikan pengaruh terhadap terbentuknya kesejahteraan psikologis terutama dalam menghadapi masa pensiun di mana kehadiran pasangan akan memberikan dukungan sosial sebagai dasar dari rasa kebermaknaan individu yang merupakan bagian penting terbentuknya kesejahteraan psikologis (Ryff, 1995). Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Marks (1996) bahwa seseorang yang menikah lebih memiliki kepercayaan dalam keluarga dikarenakan kehadiran pasangan dapat memenuhi peran sebagai bagian dari dukungan sosial. Penelitian Soulsby dan Bennett mengenai peranan dukungan sosial (2015) menemukan bahwa individu yang kurang mendapat dukungan sosial dari pasangannya (janda/duda, bercerai dan tidak menikah) jauh memiliki kondisi psikologis yang buruk dari pada yang memiliki pasangan (menikah). Cohen dan Wills (1985, dalam Aprianti, 2012) menjelaskan juga bahwa adanya.
(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 9. dukungan sosial terutama dari pasangan dapat membantu individu untuk mengatasi stres (coping stress) baik langsung maupun tidak langsung. Berdasarkan penjabaran diatas muncul pertanyaan apakah perbedaan status pernikahan antara menikah dan janda/duda, yang dilihat dari kehadiran pasangan, mempengaruhi tingkat kesejahteraan pada karyawan yang telah pensiun. Pertanyaan tersebut akan dijawab melalui ada tidaknya perbedaan kesejahteraan psikologis pada masa pensiun ditinjau dari status pernikahan. Penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan karena pada penelitian sebelumnya, belum secara khusus melihat kesejahteraan psikologis pada kelompok yang telah menghadapi masa pensiun. Selain itu, penelitian yang dilakukan sebelumnya belum memberikan gambaran terhadap budaya timur yang lebih kolektif di mana orang-orang lebih menghidupi nilai-nilai keharmonisan dalam kelompok, koperatif, solidaritas, saling bergantung satu sama lain, dan mengedepankan hubungan dengan orang lain daripada budaya barat yang cenderung lebih individualis (McAdams, 2006). Budaya timur terutama yang berada di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara, memandang pernikahan sebagai suatu hal yang sakral, suci dan normatif (Jones, 2010). Retherford dan Ogawa (2006, dalam Jones, 2010) menambahkan pasangan memiliki peran dalam meningkatkan kontak dengan sosial. Apabila individu kurang mendapat dukungan sosial dari lingkungan maupun pasangan, hal tersebut dapat berpengaruh pada tingkat kesejahteraan psikologis yang dimiliki (Ryff, 1995; Marks, 1996). Sehingga penelitian ini.
(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 10. diharapkan mampu memberikan informasi serta pengetahuan lebih jauh terhadap kesejahteraan psikologis pada masa pensiun.. B. Rumusan Masalah Apakah ada perbedaan kesejahteraan psikologis pada masa pensiun ditinjau dari status pernikahan ?. C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan kesejahteraan psikologis pada masa pensiun ditinjau dari status pernikahan.. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan mampu menjadi sumber informasi di bidang psikologi industri organisasi dan gerontologi dalam memahami kesejahteraan psikologis terutama pada masa pensiun.. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Perusahaan Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu perusahaan untuk membuat pendampingan yang tepat dan lebih baik bagi karyawan yang akan menghadapi masa pensiun serta memberikan perhatian kepada karyawan yang memiliki skor kesejahteraan psikologis yang rendah khususnya pada karyawan dengan status pernikahan tertentu..
(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 11. b. Bagi para pensiunan 1) Memberikan gambaran mengenai kesejahteraan psikologis pada pensiunan sehingga diharapkan dapat mengelola, menjaga, serta mengembangkannya dengan lebih baik. 2) Memberikan gambaran kepada pensiunan yang masih memiliki dan tinggal bersama dengan pasangan agar lebih mampu untuk saling mendukung dalam menjalani kehidupan masa pensiun sehingga dapat mengurangi faktor penyebab stres yang dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis. 3) Memberikan gambaran kepada pensiunan yang sudah tidak memiliki pasangan agar lebih menyadari dan menerima kehadiran keluarga, saudara, maupun teman-teman di sekitar sehingga diharapkan mampu mengembangkan kesejahteraan psikologis menjadi baik..
(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB II LANDASAN TEORI. A. Kesejahteraan Psikologis 1. Pengertian Kesejahteraan Psikologis Kebahagiaan dapat diartikan sebagai suatu kesenangan, ketenteraman hidup, keberuntungan, serta kemujuran yang bersifat lahir batin (KBBI, 2008). Menurut Aristoteles (1947 dalam Ryff, 1989) dalam Nicomachean Ethics miliknya berpendapat bahwa kebahagiaan atau dalam Bahasa Yunani diterjemahkan sebagai eudaimonia, merupakan pencapaian tertinggi yang dicapai oleh manusia. Namun, Waterman (1984 dalam Ryff, 1989) berpendapat bahwa penerjemahan eudaimonia lebih merujuk pada eudaimonic dan hedonic. Hedonic merupakan pengalaman yang dirasakan atau didapatkan berdasarkan kepuasan akan kebutuhan fisik, sosial, maupun intelektual. Sedangkan, eudaimonic lebih mengarah pada bagaimana individu menggunakan potensi yang dimilikinya yang dapat membantu memaknai dan mencapai tujuan hidupnya (Waterman, 1993). Terdapat dua model kesejahteraan yang dapat menjelaskan perbedaan dua kebahagiaan di atas yaitu kesejahteraan subjektif dan kesejahteraan psikologis. Model yang pertama menjelaskan mengenai kesejahteraan subjektif. Kesejahteraan subjektif atau subjective well-being adalah persepsi seseorang terhadap pengalaman hidupnya yang terdiri dari evaluasi kognitif dan afeksi dalam hidup (Ariati, 2010). Kesejahteraan 12.
(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 13. subjektif yang juga merujuk pada kesejahteraan emosional ini terbagi dalam tiga unsur yang saling berhubungan yaitu kepuasan hidup (life satisfication), kehadiran afek positif (positive afffect), dan tidak adanya afek negatif (negative affect) (Snyder, Lopez, & Pedrotti, 2011). Menurut Waterman (dalam Baumgardner & Crothers, 2009) kebahagian yang ingin dicapai dari kesejahteraan subjektif merupakan kebahagiaan hedonic karena lebih mengarah pada kepuasan fisik. Model kesejahteraan selanjutnya adalah kesejahteraan psikologis atau psychological well-being. Kesejahteraan psikologis menurut Ryff (dalam Baumgardner & Crothers, 2009) merupakan kebahagian yang bersifat eudaimonic sehingga memberikan kesempatan untuk tumbuh dan mengembangkan kemampuan. Ryff (1989 dalam Eldeleklioglu et al., 2010) menambahkan adanya kesejahteraan psikologis akan membuat seseorang menyadari akan potensi yang dimiliki, kualitas hubungan interpersonal yang baik, dan meningkatkan tujuan dalam hidup. Gagasan kesejahteraan psikologis dirumuskan oleh Ryff berdasarkan beberapa pandangan terhadap fungsi psikologis secara positif (positive psychological functioning) yang menggabungkan konsep self-realization milik Maslow, fully functioning people milik Roger, maturity milik Allport, dan individualization milik Jung (Ryff & Keyes, 1995; Ryff, 1995; Eldeleklioglu et al., 2010). Selain itu, Ryff (1989) juga menambahkan teori dari perspektif perkembangan hidup dengan menekankan berbedaan tantangan yang dihadapi dalam setiap tahapan.
(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 14. siklus hidup. Perspektif tersebut meliputi model tahapan psikososial milik Erikson dan deskripsi Buhler tentang perubahan kepribadian dalam masa dewasa dan lansia (Ryff, 1989). Ryff (1989) juga menambahkan kriteria mental yang sehat milik Jahoda yang tidak hanya mendefiniskan wellbeing sebagai tidak munculnya penyakit namun juga memberikan definisi secara luas apa makna kesehatan psikologis yang baik. Berdasarkan penjelasan dan perspektif diatas dapat disimpulkan bahwa kesejahteraan psikologis adalah berfungsinya sikap-sikap psikologis positif sehingga mampu mengarahkan individu untuk menggunakan potensi yang dimiliki. Adanya kesejahteraan psikologis akan memberikan kesempatan individu untuk tumbuh, menyadari serta mengembangkan kemampuan/potensi yang dimiliki, menciptakan kualitas hubungan interpersonal yang baik, dan meningkatkan tujuan dalam hidup.. 2. Dimensi Kesejahteraan Psikologis Ryff memformulasikan konsep kesejahteraan psikologis ke dalam enam dimensi untuk mengungkapkan fungsi psikologis yang positif pada individu (van Dierendonck et al., 2008). Dimensi kesejahteraan psikologis menurut Ryff (1989, 1995, 2014), Ryff dan Singer (1996) antara lain : a. Penerimaan Diri Salah satu kriteria agar seseorang dapat dikatakan sejahtera adalah mempunyai penerimaan diri atau menerima dirinya..
(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 15. Penerimaan diri didefinisikan sebagai ciri utama mental yang sehat seperti halnya karakteristik aktualisasi diri, berfungsi optimal dan maturity atau kedewasaan. (Ryff, 1995) Teori-teori mengenai life span juga menekankan pada penerimaan diri dan kehidupan masa lalu (Ryff, 1989). Individu dengan skor penerimaan diri. yang tinggi memiliki. karakteristik sikap positif terhadap diri sendiri, mengakui dan menerima beberapa aspek dalam diri termasuk kualitas diri yang baik maupun yang buruk, dan memiliki perasaan positif terhadap kehidupan masa lalunya. Sedangkan, individu yang memiliki skor rendah pada penerimaan diri digambarkan memiliki karakteristik merasa tidak puas dengan dirinya, kecewa dengan apa yang terjadi di kehidupan masa lalunya, memiliki masalah dengan kualitas pribadi, dan ingin menjadi berbeda daripada dirinya sekarang (Ryff, 2014).. b. Hubungan Positif Dengan Orang Lain Kemampuan untuk mencintai dipandang sebagai komponen utama dari mental yang sehat. Aktualisasi diri digambarkan sebagai memiliki perasaan yang kuat akan rasa empati dan kasih sayang terhadap semua orang dan mampu mencintai, persahabatan yang mendalam, dan lebih memahami orang lain. Kehangatan dengan orang lain sering dihubungkan sebagai bentuk kedewasaan (maturity).. Teori. fase. perkembangan. orang. dewasa. juga.
(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 16. menekankan pada penghargaan terhadap teman kerja (intimasi), bimbingan, dan arahan kepada orang lain (generativity). Hal ini yang ditekankan dalam konsep kesejahteraan psikologis (Ryff, 1989). Individu yang memiliki hubungan positif dengan orang lain dengan skor yang tinggi digambarkan memiliki karakteristik hubungan yang hangat, menyenangkan, dan percaya pada orang lain; mementingkan kesejahteraan orang lain, memiliki empati, kasih sayang, dan keintiman yang kuat; memahami saling berbagi dalam hubungan. Sedangkan, individu yang mendapat skor rendah digambarkan. memiliki. karakteristik. sedikit. kedekatan. dan. kepercayaan dalam hubungan dengan orang lain; sulit untuk menjadi hangat, terbuka, dan peduli tentang orang lain; terisolasi dan frustrasi dalam hubungan interpersonal; tidak mau membuat kompromi untuk mempertahankan hubungan dengan orang lain (Ryff, 2014).. c. Otonomi Seseorang yang berfungsi secara utuh digambarkan memiliki lokus evaluasi internal (internal locus of evaluation). Kondisi ini akan membuat individu tidak membutuhkan persetujuan dari orang lain untuk membuat evaluasi yang sesuai dengan standar milik dirinya sendiri. Konsep individuation milik Jung menjelaskan.
(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 17. tentang individu yang bebas dari ketakutan dengan keyakinan kolektifitas, dan memberikan kebebasan dari norma serta peraturan yang mengikat dalam kehidupan sehari-hari (Ryff, 1989; Ryff & Singer, 1996). Individu yang memiliki skor tinggi pada dimensi otonomi digambarkan cenderung bebas dan dapat menentukan nasibnya, mampu bertahan dari tekanan sosial dengan berpikir dan bertindak sesuai dengan cara yang tepat, mengelola perilaku dari dalam, dan mengevaluasi diri dengan standar. Sedangkan, individu yang memiliki skor rendah cenderung mementingkan harapan dan evaluasi dari orang lain, bergantung pada penilaian orang lain untuk membuat keputusan penting, dan mengikuti tuntutan sosial dalam berpikir serta bertingkah laku (Ryff, 2014). d. Penguasaan Lingkungan Karakteristik. mental. yang. sehat. didefinisikan. sebagai. kemampuan individu untuk memilih atau menciptakan lingkungan agar sesuai dengan kondisi psikologis dirinya (Ryff, 1989). Allport menjelaskan. bahwa. individu. yang. dewasa. membutuhkan. keikutsertaan dan keterlibatan dengan kegiatan di luar lingkungan dirinya. Teori perkembangan juga menjelaskan bahwa individu memerlukan kemampuan untuk memanipulasi dan mengatur lingkungan yang komplek (Ryff, 1989). Kedua teori tersebut.
(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 18. menekankan pada kemampuan untuk menguasai dan mengubah lingkungan secara kreatif melalui aktifitas mental maupun fisik. Sedangkan,. successful. aging. menekankan. bahwa. individu. seharusnya dapat mengambil keuntungan dari lingkungannya (Ryff, 1989). Individu yang memiliki skor yang tinggi pada dimensi penguasaan lingkungan didefinisikan memiliki karakteristik mampu menguasai dan kompeten dalam mengatur lingkungannya, mengontrol aktivitas eksternal yang kompleks, menggunakan kesempatan yang ada di lingkungannya secara efektif, dan mampu untuk membuat atau memilih konteks yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan serta nilai-nilai dirinya sendiri. Sedangkan, individu yang memiliki skor rendah pada dimensi ini didefinisikan sebagai individu yang kesulitan untuk mengelola aktivitas sehari-harinya, merasa tidak mampu untuk mengubah atau memperbaiki lingkungan di sekitarnya, tidak menyadari kesempatan yang ada di sekitarnya, dan kurangnya kemampuan untuk mengontrol dunia luar (Ryff, 2014).. e. Tujuan dalam Hidup Individu yang sehat secara mental didefinisikan memiliki tujuan dan makna dalam hidupnya. Konsep kedewasaan juga menekankan bahwa karakteristik individu yang sudah dewasa adalah memiliki.
(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 19. tujuan dalam hidupnya. Sedangkan, teori perkembangan melihatnya sebagai perubahan-perubahan dalam tujuan hidupnya, keinginan untuk menjadi lebih produktif, dan menciptakan atau mencapai integritas emosional di kemudian hari (Ryff, 1989). Karakteristik individu yang memiliki skor tinggi dalam dimensi tujuan dalam hidup digambarkan dengan memiliki tujuan hidup, kemampuan untuk mencapai tujuan tersebut, merasa memiliki makna terhadap kehidupan saat ini dan masa lalunya, memegang keyakinan terhadap tujuan hidupnya, dan memiliki maksud serta tujuan dalam hidupnya. Sedangkan, individu yang memiliki skor rendah pada dimensi tujuan dalam hidup digambarkan memiliki karakteristik kurang memiliki makna terhadap hidupnya, hanya memiliki sedikit cita-cita dan tujuan, kurang memiliki arahan dalam hidupnya, tidak memiliki tujuan dari kehidupan masa lalunya, dan tidak memiliki pandangan atau keyakinan yang dapat membuat munculnya makna dalam hidupnya (Ryff, 2014).. f. Pertumbuhan Pribadi Pengoptimalan fungsi psikologis membutuhkan tidak hanya satu perkembangan karakteristik di masa lalunya, namun juga potensi yang dapat terus dikembangkan agar tetap tumbuh dan semakin berkembang sebagai manusia (Ryff, 1989). Kebutuhan untuk mengaktualisasi diri dan merealisasikan potensi diri merupakan.
(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 20. salah satu perspektif utama dalam pertumbuhan pribadi. Teori perkembangan juga menekankan untuk menghadapi tantangan atau tugas-tugas baru pada setiap periode kehidupan yang berbeda (Ryff, 1989). Individu yang memiliki skor tinggi pada dimensi pertumbuhan pribadi digambarkan memiliki perasaan untuk terus berkembang, melihat diri sebagai pribadi yang tumbuh dan berkembang, terbuka terhadap pengalaman baru, menyadari potensi yang dimiliki, melihat peningkatan dalam diri dan perilaku dari waktu ke waktu, dan melakukan perubahan agar tetap mencerminkan pengetahuan tentang diri. Sedangkan, individu yang memiliki skor rendah pada dimensi ini adalah merasa dirinya sebagai pribadi yang tidak dapat melakukan apa-apa lagi untuk mengembangkan dirinya, kurangnya keinginan untuk melakukan perubahan atau perbaikan terhadap dirinya dari waktu ke waktu, merasa bosan dan kurang tertarik dengan kehidupannya, dan merasa tidak dapat berkembang ke sikap atau perilaku yang baru (Ryff, 2014).. 3. Faktor yang Mempengaruhi Kesejahteraan Psikologis Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis individu. Faktor tersebut antara lain usia, jenis kelamin, kebudayaan, status sosial, dan pengalaman/sejarah hidup (Ryff & Singer, 1996). Ryff (2014) menambahkan bahwa terdapat enam lingkup.
(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 21. penelitian baru yang ditemukan berdasarkan lebih dari 350 jurnal ilmiah sepanjang tahun 1989 hingga 2014 yang berfokus pada pembentukan well-being individu yaitu perkembangan dan penuaan; kepribadian; pengalaman keluarga; keterikatan dengan pekerjaan dan kehidupan lain; penelitian terhadap kesehatan dan biologis; serta studi mengenai intervensi dan klinis. a. Usia Ryff dan Singer (1996) pada penelitian kesejahteraan psikologis terhadap segala usia menemukan bahwa dimensi penguasaan lingkungan dan otonomi menunjukkan skor yang tinggi pada usia dewasa muda hingga dewasa tengah. Disisi lain, dimensi pertumbuhan pribadi dan tujuan dalam hidup menunjukkan skor yang rendah pada rentang usia dewasa tengah hingga usia lanjut. Sedangkan dimensi lainnya, seperti penerimaan diri dan hubungan yang positif dengan orang lain menunjukkan tidak ada perbedaan yang berarti pada ketiga rentang usia. b. Jenis Kelamin Penelitian yang dilakukan oleh Ryff dan Singer (1996) menemukan bahwa wanita dalam segala rentang usia secara konsisten memiliki rata-rata yang lebih tinggi pada dimensi hubungan yang positif dengan orang lain dan pertumbuhan pribadi daripada laki-laki. Hal ini dibuktikan dari berbagai hasil.
(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 22. penelitian mengenai depresi yang menunjukkan bahwa wanita lebih memiliki psikologis yang kuat dalam menghadapi depresi berkaitan dengan dimensi well-being (Ryff & Singer, 1996). c. Kebudayaan Banyak diskusi yang melibatkan perbedaan kontras antara budaya. individualistik. (independent). dengan. kolektif. (interdependent) (Ryff & Singer, 1996). Pada budaya Barat yang cenderung individual, dimensi seperti penerimaan diri atau otonomi lebih memiliki skor yang lebih tinggi. Sedangkan pada budaya Timur yang cenderung kolektif, skor tinggi muncul pada dimensi hubungan yang positif dengan orang lain (Ryff & Singer, 1996). Penelitian. terhadap. kesejahteraan. psikologis. dengan. menggunakan self-report pada orang-orang dewasa tengah di negara Amerika dan Korea menunjukkan bahwa masyarakat Amerika lebih melihat pada kualitas yang positif dalam dirinya dibandingkan masyarakat di Korea. Pada masyarakat Korea, dimensi hubungan yang positif dengan orang lain menunjukkan skor yang lebih tinggi daripada skor dimensi penerimaan diri dan pertumbuhan diri (Ryff & Singer, 1996). d. Status Sosial Perbedaan status sosial-ekonomi biasanya didefinisikan dalam hal pendidikan, pendapatan, dan jabatan dalam pekerjaan.
(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 23. (Ryff & Singer, 1996). Berdasarkan penelitian yang dilakukan, seseorang, baik laki-laki dan perempuan, yang memiliki pendidikan yang tinggi memiliki skor yang tinggi pada dimensi tujuan dalam hidup dan perkembangan pribadi. Berdasarkan dari literatur perkembangan ilmu menunjukkan bahwa kedudukan dalam status sosial berhubungan dengan kesehatan fisik maupun psikologis. Temuan ini menyatakan bahwa rendahnya posisi dalam status sosial berkaitan dengan menurunnya kesehatan fisik dan kesejahteraan psikologis (Ryff & Singer, 1996). e. Pengalaman dan Sejarah Hidup Ryff dan Singer (1996) berpendapat bahwa pengalaman hidup dan bagaimana individu mengartikan pengalaman tersebut merupakan kunci yang mampu mempengaruhi kesejahteraan psikologisnya serta memberikan gambaran yang sangat berguna untuk memahami well-being manusia yang bervariasi. Sebagai contoh, ada variasi dalam dimensi penguasaan lingkungan, tujuan dalam hidup, penerimaan diri, dan depresi dalam persepsi orangtua terhadap bagaimana mereka. membesarkan. anak. dan. bagaimana. anak. membandingkan dirinya dengan orangtuanya (Ryff & Singer, 1996)..
(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 24. Pada lansia wanita, ditemukan permasalahan terhadap kesehatan fisik mereka. Penilaian ini berdasarkan bagaimana pandangan mereka dengan membandingkan dirinya dengan lansia lain dan ditemukan variasi dalam dimensi pertumbuhan pribadi, hubungan yang positif dengan orang lain, otonomi, depresi, dan kecemasan (Ryff & Singer, 1996). f. Perkembangan dan Penuaan Penelitian yang berkaitan mengenai perkembangan dan penuaan berusaha untuk mencari tahu bagaimana orang dewasa mempersepsikan diri mereka ketika mereka menjadi tua nanti (subjective aging) (Ryff, 2014). Mereka yang masih berada pada masa dewasa awal dan masa dewasa tengah memandang dirinya masih dapat mengembangkan dirinya dari waktu ke waktu. Sedangkan, mereka yang sudah berada pada masa dewasa akhir, memikirkan untuk berusaha mengantisipasi menurunnya well-being yang dimiliki di masa mendatang (Ryff, 2014). Ryff (2014) menambahkan perbedaan antara seberapa tua yang mereka rasakan dengan seberapa tua mereka seharusnya, menunjukkan hasil bahwa well-being yang tinggi ditunjukkan pada mereka yan merasa muda namun tidak ingin menjadi muda. Individu yang dapat beradaptasi dengan masa transisi pada kehidupan masa dewasanya juga berkaitan dengan well-being.
(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 25. yang dimiliki (Ryff, 2014). Transisi pada masa dewasa akhir dapat diartikan juga sebagai perpindahan yang biasanya diartikan sebagai perpindahan rumah menuju ke panti jompo. Mereka yang mampu melakukan adaptasi melalui proses psikologis seperti perbandingan sosial, persepsi diri yang fleksibel, mampu mengatasi permasalahan yang dimiliki serta dapat melakukan tugas perkembangan di masa dewasa akhir akan cenderung memiliki tingkat well-being yang lebih tinggi daripada mereka yang tidak dapat beradaptasi dengan tugas perkembangan masa dewasa akhir (Ryff, 2014). g. Kepribadian Para psikolog memberikan perhatian yang cukup besar terhadap bagaimana well-being berkaitan dengan perbedaan pada individu seperti sifat-sifat individu (Ryff, 2014). Pada penelitian awal mengenai well-being yang menggunakan model kepribadian Big Five, menemukan hasil bahwa keterbukaan pada openness to experience berhubungan dengan pertumbuhan personal growth, agreeableness berhubungan dengan positive relations with others, dan extraversion, conscientiousness, dan neuroticism berhubungan dengan environmental mastery, purpose in life, dan self-acceptance (Rfyy, 2014). Ryff (2014) menambahkan berbagai variabel psikologis lain yang berkaitan dengan kepribadian, telah dikaitan dengan well-.
(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 26. being. Sebagai contoh, sikap optimis, mampu memprediksi tingginya well-being dengan pengaruh yang dimediasi oleh sense of control. Selain sikap optimis, telah banyak variabel yang berkaitan dengan perbedaan individu yang dihubungkan dengan well-being seperti empati dan kecerdasan emosional (Ryff, 2014). h. Pengalaman Keluarga Keterlibatan orang dewasa dan peran di dalam lingkungan memiliki pengaruh yang besar dalam mengembangkan wellbeing yang dimiliki, salah satunya peran dalam keluarga (Ryff, 2014). Ryff (2014) menambahkan, individu yang memiliki peran tersebut cenderung memiliki tingkat yang tinggi dalam dimensi tujuan dalam hidup dan penerimaan diri. Selain itu, individu yang menikah secara konsisten memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih baik dari pada individu yang bercera, janda/duda, dan tidak menikah. Meskipun pada wanita yang tidak menikah memiliki nilai yang lebih tinggi pada dimensi otonomi dan pertumbuhan pribadi daripada wanita yang menikah. Orang dewasa yang juga memiliki peran sebagai orang tua juga mampu meningkatkan kesejahteraan psikologis yang dimiliki, terutama jika anak-anak mereka dapat tumbuh dengan baik (Ryff, 2014). Namun, bagi mereka yang kehilangan anak.
(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 27. di masa dewasa cenderung mengalami permasalahan terhadap tingkat kesejahteraan psikologis yang dimiliki. Ryff (2014) menambahkan orang dewasa yang kehilangan orang tuanya di masa kecil atau yang mengalami kekerasan fisik maupun psikologis di masa kecil, cenderung memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang rendah. i. Keterikatan dengan Pekerjaan dan Kehidupan Lain Bagaimana individu menyelesaikan pekerjaan dan mengejar karir memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadap kesejahteraan psikologis yang dimiliki sesuai dengan jenis pekerjaan atau karir mereka (Ryff, 2014). Penelitian mengenai beban kerja yang dialami seseorang menemukan hasil bahwa beban kerja berkontribusi terhadap depresi yang dialami individu (Ryff, 2014). Peran dalam pekerjaan maupun peran dalam keluarga memiliki keterkaitan terhadap kesejahteraan psikologis individu. Pria dan wanita yang memiliki peran yang berbeda di pekerjaan dan keluarga berkontribusi terhadap perbedaan kesejahteraan psikologis yang dimiliki (Ryff, 2014). Ryff (2014) menambahkan bahwa pekerjaan yang dibayar dan yang tidak dibayar juga berhubungan dengan kesejahteraan psikologis. Pada wanita yang bekerja dengan tidak dibayar cenderung. memiliki. penerimaan. diri. dan. penguasaan. lingkungan yang lebih rendah, sedangkan pada pria yang.
(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 28. bekerja dengan dibayar cenderung lebih memiliki nilai yang tinggi pada dimensi pertumbuhan pribadi. Pekerjaan sebagai relawan memiliki keterkaitan dengan tingginya kesejahteraan psikologis yang dimiliki, sedangkan pekerjaan yang berkaitan dengan keagamaan cenderung memiliki nilai yang tinggi pada tujuan dalam hidup dan pertumbuhan pribadi namun memiliki nilai yang rendah pada dimensi otonomi (Ryff, 2014). j. Kesehatan Beberapa penelitian mengenai kesehatan menunjukkan hasil bahwa mereka yang menderita penyakit fisik dan cacat memiliki keterkaitan dengan kesejahteraan psikologis yang dimiliki (Ryff, 2014). Beberapa individu menunjukkan bahwa mereka mampu mengelola kembali dan mendapatkan kesejahteraan psikologis setelah melewati masa sakit k. Studi Klinis Ryff (2014) berpendapat bahwa kesejahteraan yang bersifat eudaimonic tidak bisa dipahami hanya sebagai kebalikan dari tekanan psikologis. Keduanya merupakan indikator yang penting untuk memahami kesehatan mental secara menyeluruh. Dalam penelitian mengenai gangguan mental tertentu seperti schizophrenia,. depresi,. gangguan. panik,. cyclothymia,. agoraphobia, dan post-traumatic stress disorder menemukan bukti bahwa kesejahteraan psikologis mampu mengurangi.
(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 29. risiko gangguan mental tersebut yang ditunjukkan melalui dimensi penerimaan diri, pertumbuhan pribadi, tujuan dalam hidup, dan penguasaan lingkungan tiap individu (Ryff, 2014). Kesejahteraan psikologis dianggap sebagai kemajuan besar dalam studi mengeni intervensi klinis dan menjadi teknik baru untuk melakukkan treatment kepada pasien (Ryff, 2014). Ryff (2014) menambahkan kesejahteraan psikologis dianggap dapat mencegah dan meningkatkan resiliensi individu terhadap gejala gangguan mental. Sebagai contoh, program pelatihan dengan meditasi. dianggap. mampu. untuk. meningkatkan. aspek. eudaimonia dalam kesejahteraan psikologis (Ryff, 2014).. B. Status Pernikahan Menurut Badan Pusat Statistika (www.bps.go.id), terdapat empat status pernikahan yang ada di Indonesia yaitu Menikah, Cerai Mati, Cerai Hidup, dan Belum Menikah. Pada penelitian ini, peneliti hanya berfokus pada Menikah, Cerai Mati, dan Ceria Hidup. Status pernikaha Cerai Mati dan Cerai Hidup akan dijelaskan dalam pengertian Janda/Duda. 1. Menikah Menurut KBBI (2008), menikah adalah ikatan perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama. UndangUndang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan mengatakan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang.
(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 30. pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa menikah merupakan ikatan yang terbentuk antara seorang pria dan wanita sesuai berdasarkan ketentuan hukum dan agama dengan tujuan membentuk keluarga. Pada hubungan orang dewasa terutama pada dewasa tengah, rasa aman, loyalitas, dan ketertarikan emosional menjadi hal yang penting (Santrock, 2014). Meskipun pada awalnya hubungan dengan pasangan terdapat permasalahan, namun hal ini menjadi landasan yang dapat memperkuat hubungan tersebut (Santrock, 2014). Santrock (2014) menambahkan bahwa masa dewasa tengah, pasangan akan lebih sedikit memiliki kekhawatiran pada finansial, berkurangnya pekerjaan rumah, serta memiliki waktu yang lebih banyak dengan satu sama lainnya. 2. Janda/Duda Janda menurut KBBI (2008) adalah wanita yang sudah tidak bersuami lagi dikarenakan perceraian ataupun karena kematian suaminya. Sedangkan, duda dalam KBBI (2008) diartikan sebagai seorang laki-laki yang tidak memiliki istri lagi karena kematian atau telah bercerai dengan istrinya. Santrock (2014) mengatakan bahwa perceraian pada masa dewasa tengah dapat menjadi suatu pengalaman yang positif namun juga dapat menjadi pengalaman yang buruk. Pada perceraian, pasangan mungkin.
(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 31. dapat lebih memahami diri dan mencari perubahan yang dapat mengakhiri pernikahan yang dirasa tidak bahagia (Santrock, 2014). Bagi orang yang menceraikan, perceraian dianggap sebagai jalan keluar dari hubungan yang sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Sedangkan bagi yang diceraikan, perceraian dianggap sebagai suatu pengkhianatan, akhir dari hubungan yang sudah dibangun selama bertahun-tahun yang melibatkan komitmen serta kepercayaan (Santrock, 2014). Santrock (2014) menambahkan berdasarkan survei yang dilakukan oleh AARP (American Association of Retired Persons) ada beberapa alasan utama yang menyebabkan perceraian. Bagi wanita, kekerasan dalam bentuk verbal, fisik maupun emosional menjadi alasan pertama mereka bercerai selain penyalahgunaan obat-obatan atau narkoba dan perselingkungan. Sedangkan bagi laki-laki, alasan pertama mereka bercerai lebih pada rasa tidak mencintai lagi, perselingkuhan, dan perbedaan nilai-nilai serta gaya hidup.. C. Masa Pensiun 1. Pengertian Masa Pensiun Pensiun merupakan suatu pemutusan hubungan kerja di mana karyawan telah mencapai umur maksimum dan telah mencapai usia kerja sesuai dengan yang ditentukan dari perusahaan atau instansi (Tulus, 1996 dalam Apsari, 2012). Pensiun secara umum diasosiasikan dengan kehidupan di kemudian hari (later life) yang ditandai dengan.
(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 32. perubahan gaya hidup secara objektif, termasuk menerima dana pensiun dan menurunnya keterlibatan dalam aktivitas bekerja sebagai angkatan kerja (Setyarini & Atamimi, 2011). Pensiun merupakan fase menuju dewasa akhir, di mana produktivitas seseorang dinilai sudah menurun dan harus diistirahatkan untuk melakukan kegiatan yang terbebas dari rutinitas kerja (Trisusanti & Satiningsih, 2012). Pensiun juga dapat dikatakan sebagai tahap terakhir dari tahap perencanaan karir yaitu tahap penarikan diri. Pada tahap ini, seseorang lebih fokus pada meninggalkan karir, meninggalkan kelekatan pada organisasi dan menghadapi tekanan secara fisik, psikologis maupun sosial pada masa pensiun (Apsari, 2012). Schwartz (dalam Ermayanti & Abdullah, 2011) menambahkan bahwa pensiun merupakan akhir pola hidup atau masa transisi ke pola hidup yang baru sehingga pensiun selalu menyangkut perubahan peran, perubahan keinginan dan nilai serta perubahan secara keseluruhan terhadap pola hidup setiap individu. Sejalan dengan pernyataan tersebut,. perubahan-perubahan. yang. terjadi. merupakan. masa. perubahan yang penting dalam hidup seseorang, individu yang bekerja menjadi tidak bekerja, berkurangnya penghasilan, berkurangnya interaksi dengan teman kerja dan relasi, serta meningkatnya waktu luang (Ermayanti & Abdullah, 2011). Robert Archley (1976, dalam Santrock, 2002) mengatakan bahwa ada tujuh fase pensiun yang dilalui oleh individu yaitu : a) Fase Jauh.
(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 33. (The Remote Phase), pada fase ini individu mulai sedikit demi sedikit melakukan kegiatan yang bertujuan untuk mempersiapkan masa pensiunnya. Individu pada fase ini mungkin saja menyangkal bahwa fase pensiun akan terjadi; b) Fase Mendekat (The Near Phase), pada fase ini individu-indivdu mulai berpartisipasi pada program prapensiun. Program ini akan membantu individu memutuskan kapan dan bagaimana mereka seharusnya pensiun dengan melibatkan diskusi yang komprehensif terhadap isu-isu seperti kesehatan fisik dan mental.; c) Fase Bulan Muda (The Honeymoon Phase), fase ini merupakan fase awal dari fase pensiun di mana banyak individu merasa bahagia dengan pensiunnya. Mereka mulai dapat melakukan segala sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan ketika mereka aktif bekerja dulu dan mereka mulai menikmati aktivitas-aktivitas dengan waktu luang yang lebih banyak mereka miliki. Namun, bagi mereka yang di-PHK atau pensiun karena tidak menyukai pekerjaannya, mungkin tidak mengalami kebahagiaan di fase bulan madu ini.; d) Fase Kekecewaan (The Disenchantment Phase), pada fase ini individu-individu mulai menyadari bahwa bayangan mereka ketika pra-pensiun dulu tentang pensiun ternyata tidak realistis.; e) Fase Re-Orientasi (The Reorientation Phase), pada fase ini para pensiunan mulai mengumpulkan dan mengembangkan alternatif-alternatif kehidupan yang lebih realistis. Mereka mulai mengevaluasi jenis-jenis gaya kehidupan yang memungkinkan agar mereka menikmati kepuasan hidup.; f) Fase Stabil.
(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 34. (The Stability Phase), individu pada fase ini mulai memutuskan pilihan yang mereka miliki berdasarkan kriteria dari alternatif yang ada pada masa pensiun dan bagaimana mereka mulai menjalani salah satu pilihan yang mereka buat.; g) Fase Akhir (The Termination Phase), pada fase terakhir peranan fase pensiun digantikan oleh peran tergantung karena orang-orang dewasa tidak dapat berfungsi secara mandiri lagi dan mencukupi kebutuhannya sendiri.. 2. Permasalahan Dalam Masa Pensiun Salah satu masalah yang dihadapi oleh para pensiunan adalah penyesuaian terhadap datangnya masa pensiun (Suardiman, 2011). Hal ini dikarena adanya perubahan yang tidak terduga yang terjadi pada individu yang menjalani masa pensiun (Santrock dalam Apsari, 2012). Perubahan yang terjadi tersebut menimbulkan ketidakpastian dan ketidaknyamanan bagi beberapa orang, sehingga masa pensiun dianggap menjadi masa yang kurang menyenangkan karena perubahan dalam kehidupannya seperti perubahan pendapatan ekonomi, aktivitas sehari-hari, dan lingkungan pergaulan (Apsari, 2012; Safitri, 2013). Pada masa pensiun memang terjadi penurunan status yang disebabkan oleh penurunan beberapa aspek seperti fisiologis, psikis, dan fungsi-fungsi sensori motorik yang diikuti oleh penurunan fungsi fisik, kognitif, emosi, minat, sosial, ekonomi, dan keagamaan (Suardiman, 2011). Tidak adanya aktivitas dari bekerja menjadi tidak bekerja, yang tadinya memiliki keterlibatan kerja atau peran ditempat.
(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 35. kerja menjadi sudah tidak ada lagi, dan adanya perubahan relasi sosial membuat individu merasa kehilangnya peran yang menjadi bagian dari harga dirinya, yang biasanya diasumsikan sebagai proses munculnya stres (Suardiman, 2011; Apsari, 2012). Kondisi. ini. memerlukan. penyesuaian. yang. tidak. mudah. (Suardiman, 2011). Moen (2007, dalam Santrock, 2012) menyatakan bahwa pensiun merupakan suatu proses, bukan merupakan suatu peristiwa. Orang-orang yang menunjukkan penyesuaian paling baik terhadap pensiun adalah mereka yang sehat, memiliki keuangan yang memadai, aktif, lebih terdidik, memiliki jaringan sosial yang luas yang meliputi kawan-kawan dan keluarga (Santrock, 2012).. 3. Mengatasi Permasalahan Dalam Masa Pensiun Masa pensiun sering ditanggapi dengan perasaan yang bernada negatif, tidak menyenangkan, dan bahkan dipandang sebagai masa yang menakutkan (Suardiman, 2011). Suardiman (2011) menambahkan para pensiunan juga rentan terkena post power syndrome yang membuat para pensiunan tidak bisa berpikir realistis dan menerima kenyataan bahwa mereka sudah bukan karyawan lagi, tidak memiliki jabatan, dan sudah pensiun. Penyesuaian terhadap masa pensiun perlu dilakukan agar para pensiunan lebih siap menghadapi perubahan dalam kehiduapan pada masa pensiun. Penelitian Bikson dan Goodchilds (Spacapan &.
(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 36. Oskamp, 1989 dalam Suardiman, 2011) terhadap persiapan masa pensiun menemukan bahwa selain penggunaan waktu dan proses perencanaan pensiun, penyesuaian terhadap keluarga dan sosial juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Banyaknya waktu yang dihabiskan dengan pasangan dapat memberikan sumbangan kepada timbulnya situasi perkawinan yang bahagia. Selain itu, menjalin relasi dengan tetangga atau teman dekat juga dapat dilakukan untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial. Hurlock (1993, dalam Suardiman, 2011) menambahkan perubahan dalam kehidupan keluarga yang menuntut penyesuaian di masa pensiun adalah : a. Pola hubungan yang baik dengan pasangan hidupnya Pada masa pensiun kebanyakan pria maupun wanita lebih banya menghabiskan waktunya di rumah daripada sebelum pensiun. Jika hubungan dengan pasangannya baik, hal ini akan mendatangkan kebahagiaan bagi mereka dan sebaliknya. b. Perubahan dalam perilaku seksual Perubahaan perilaku seksual pada masa pensiun lebih banyak disebabkan oleh alasan psikis daripada alasan fisik sehingga memerlukan penyesuaian diri terutama pada masa pensiun..
(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 37. c. Perubahan dalam hubungan dengan anak atau keturunan Orang tua yang pada masa pensiun mau untuk mengubah sikap dan menyesuaikan pada usia dan tingkat perkembangan anaknya jauh lebih menemukan banyak kepuasaan. berteman. dengan. anak-anak. mereka. dibandingkan pensiunan yang enggan menyesuaikan diri. d. Kemungkinan ketergantungan orangtua (possibility of parental dependency) Ketergantungan orang tua secara ekonomi kepada anak terjadi karena berkurang atau hilangnya pendapatan dengan seiring meningkatnya usia. Penyesuaian yang tidak berjalan sesuai dengan harapan akan membuat orang tua yang pensiun kesulitan dalam menghadapi perubahan ini. Suardiman (2011) juga menambahkan ada beberapa hal yang perlu dilakukan ketika seseorang menghadapi masa pensiun yaitu penyesuaian atas berkurangnya pendapatan meliputi pola dan gaya hidup sehingga terjadi penghematan, penyesuaian atas berkurangnya kontak sosial dengan teman sekerja yang sering menimbulkan kesepian, penyesuaian atas berkurangnya kesibukan, dan melakukan berbagai kegiatan untuk mengisi waktu luang. Kegiatan yang bisa dilakukan oleh pensiunan atau yang berusia lanjut dapat berupa kegiatan fisik maupun nonfisik (Suardiman, 2011). Kegiatan fisik bertujuan untuk menjaga kebugaran, sedangkan kegiatan nonfisik bertujuan untuk mencegah.
(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 38. munculnya penyakit degeneratif seperti kepikunan. Selain kegiatan fisik mapun nonfisik, kegiatan yang bersifat keagamaan juga dapat membantu pensiunan mengisi waktu luang pada masa pensiunnya.. D. Perbedaan Kesejahteraan Psikologis Pada Masa Pensiun Ditinjau Dari Status Pernikahan Masa pensiun merupakan fase di mana produktivitas seseorang dinilai sudah menurun dan harus diistirahatkan untuk melakukan kegiatan yang terbebas dari rutinitas kerja. Namun, bagi beberapa orang masa pensiun dianggap sebagai masa yang kurang menyenangkan karena adanya perubahan dalam kehidupannya seperti perubahan ekonomi, aktivitas sehari-hari, dan lingkungan pergaulan (Suardiman, 2011). Berkurangnya kontak sosial seperti teman kerja, relasi, dan orang-orang luar rumah menjadi pemicu munculnya stres ketika menghadapi masa pensiun (Suardiman, 2011). Maka dari itu, peran pasangan menjadi penting bagi orang yang akan menghadapi masa pensiun. Marks (1996) berpendapat bahwa kehadiran pasangan akan membantu seseorang lebih memiliki mental yang sehat. Seseorang yang memiliki mental yang sehat diyakini lebih mudah untuk mengatasi stres dan situasi serta perubahan yang tidak terduga seperti masa pensiun. Berger dan Kellner (1964, dalam Marks, 1996) menambahkan bahwa kehadiran pasangan dapat menciptakan rasa berbagi terhadap realita dan pemaknaan.
(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 39. sosial yang menjadi pondasi penting terhadap terbentuknya kesejahteraan psikologis. Kesejahteraan psikologis akan membuat seseorang menyadari akan potensi yang dimiliki, kualitas hubungan interpersonal yang baik, dan meningkatkan tujuan dalam hidup sehingga seseorang tidak hanya mendapatkan kebahagiaan semata namun juga berusaha untuk mencapai kesempurnaan terhadap potensi diri (Ryff dan Keyes 1998, 2000 dalam Aprianti 2012; Ryff 1989, dalam Eldeleklioglu et al., 2010). Selain itu, Moriwaki (1973) juga mengatakan bahwa kehadiran pasangan yang memiliki kedekatan secara emosional menjadi faktor yang penting untuk menambah rasa kepercayaan akan adanya kesejahteraan dalam dirinya. Disisi lain, seseorang yang tidak memiliki pasangan atau sudah berpisah dengan pasangannya cenderung lebih mudah stres dan mengalami depresi. Hal ini berkaitan dengan permasalahan umum yang dihadapi seperti menjalin keakraban dengan orang lain dan menghadapi kesepian (Koropeckjy-Cox, 2009, dalam Santrock 2012). Selain itu, peran pasangan yang membantu dalam membentuk mental yang sehat dan memberikan dukungan secara sosial, tidak dirasakan oleh mereka yang tidak memiliki pasangan lagi. Situasi ini dapat menimbulkan perbedaan kesejahteraan psikologis pada seseorang yang menghadapi masa pensiun. Seseorang yang memiliki pasangan lebih dapat mengatasi keadaan yang kurang menyenangkan dan kehadiran pasangan dapat menumbuhkan rasa kepercayaan pada dirinya.
(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 40. sehingga dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki. Sebaliknya, seseorang yang sudah tidak memiliki pasangan (meninggal ataupun cerai) akan cenderung mengalami kesulitan dalam menumbuhkan kepercayaan akan kesejahteraan pada dirinya karena tidak adanya lagi pasangan yang memiliki hubungan secara intim, yang memberikan dukungan sehingga tidak dapat memaksimalkan potensi pada diri..
(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41. E. Skema Penelitian Masa Pensiun. Status Pernikahan Menikah (Masih memiliki pasangan). Sikap positif terhadap diri sendiri, mengakui, menerima segala aspek dalam diri, memiliki perasaan positif terhadap kehidupan masa lalunya, hangat, menyenangkan, percaya dan mementingkan kesejahteraan orang lain, berempati, kasih sayang, intim saling berbagi dalam hubungan, bebas dan dapat menentukan nasibnya, mampu bertahan dari tekanan sosial, mengelola perilaku dari dalam, mampu mengevaluasi diri, mampu menguasai dan mengatur lingkungannya, mengontrol aktivitas, menggunakan kesempatan yang ada, mampu untuk membuat atau memilih konteks yang tepat sesuai dengan dirinya, memiliki dan mampu mencapai tujuan hidup, memiliki makna terhadap kehidupan saat ini dan masa lalu, memegang keyakinan terhadap tujuan hidupnya, memiliki maksud dalam tujuan hidupnya, memiliki perasaan untuk terus berkembang, melihat diri sebagai pribadi yang tumbuh dan berkembang, terbuka terhadap pengalaman baru, menyadari potensi yang dimiliki, melihat peningkatan dalam diri dan perilaku, dan melakukan perubahan agar tetap mencerminkan pengetahuan tentang diri.. Kesejahteraan Psikologis Tinggi. Janda/Duda (Sudah tidak memiliki secara hukum/meninggal). Tidak puas dengan dirinya, kecewa dengan apa yang terjadi di kehidupan masa lalunya, memiliki masalah dengan kualitas pribadi, ingin menjadi berbeda daripada dirinya sekarang, sedikit kedekatan dan kepercayaan dengan orang lain, sulit untuk menjadi hangat, terbuka, dan peduli tentang orang lain; terisolasi dalam hubungan interpersonal; tidak mau membuat kompromi dalam hubungan dengan orang lain, cenderung mementingkan harapan dari orang lain, bergantung pada penilaian orang lain, mengikuti tuntutan sosial dalam bertindak, kesulitan mengelola aktivitas, tidak mampu memperbaiki lingkungan di sekitarnya, tidak menyadari kesempatan yang ada, kurang mampu mengontrol dunia luar, kurang memiliki makna terhadap hidup, memiliki sedikit cita-cita dan tujuan, kurang memiliki arahan dalam hidup, tidak memiliki tujuan dari kehidupan masa lalunya, tidak memiliki pandangan yang dapat memunculkan makna dalam hidup, merasa tidak dapat melakukan sesuatu untuk mengembangkan diri, merasa bosan dengan kehidupannya, dan merasa tidak dapat berkembang.. Kesejahteraan Psikologis Rendah. Gambar 1. Grafik Alur Hubungan Status Pernikahan Dengan Kesejahteraan Psikologis.
(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42. F. Hipotesis Hipotesis dari penelitian ini adalah : H0: Tidak ada perbedaan kesejahteraan psikologis pada masa pensiun ditinjau dari status pernikahaan. H1: Ada perbedaan kesejahteraan psikologis pada masa pensiun ditinjau dari status pernikahan..
(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah komparatif yaitu penelitian yang bersifat membandingkan hasil penelitian dari dua kelompok penelitian yang berbeda namun masih dengan variabel yang sama (Siregar, 2013). Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan tingkat kesejahteraan psikologis pensiunan yang masih memiliki pasangan dengan pensiunan yang janda/duda.. B. Identifikasi Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini sebagai berikut : Variabel Tergantung : Kesejahteraan Psikologis Variabel Bebas. : Status Pernikahan. C. Definisi Operasional 1. Kesejahteraan Psikologis Kesejahteraan psikologis atau psychological well-being adalah berfungsinya fungsi-fungsi psikologis secara positif pada pensiunan yang mampu mengarahkan untuk menyadari, menggunakan, serta mengembangkan. kemampuan/potensi. yang. dimiliki,. sehingga. memberikan kesempatan individu untuk tumbuh, menciptakan kualitas 43.
(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 44. hubungan interpersonal yang baik, mengelola aktivitas di luar dirinya, dan meningkatkan tujuan dalam hidup. Tingginya tingkat kesejahteraan psikologis subjek ditunjukkan dari skor total skala kesejahteraan psikologis. Semakin tinggi skor total skala kesejahteraan psikologis, maka semakin tinggi kesejahteraan psikologis yang dimiliki. 2. Status Pernikahan Status pernikahan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu menikah dan janda/duda. Menikah dapat diartikan sebagai ikatan perkawinan yang sah secara hukum dan agama, sedangkan janda/duda adalah pria/wanita yang sudah tidak memiliki pasangan yang dikarenakan perceraian secara hukum atau kematian pasangan. Identitas mengenai status pernikahan diungkap dengan pertanyaan terbuka yang ditujukan kepada subjek.. D. Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah karyawan/i perusahaan/instansi yang sudah pensiun. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah convenience sample, yaitu pengambilan sampel berdasarkan kemudahan atau ketersediaan untuk mengaksesnya pada waktu, situasi, dan tempat yang tepat (Prasetyo & Jannah, 2008; Supratiknya, 2015). Tidak ada batasan yang tetap dalam menentukan berapa usia seseorang untuk pensiun (Suardiman, 2011). Namun, mengacu pada pasal 14 ayat 1 UU No.3.
(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 45. tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja yang mengatakan bahwa Jaminan Hari Tua (JHT) diberikan kepada tenaga kerja yang telah mencapai usia 55 tahun. Maka peneliti membuat batasan bahwa subjek penelitian yang akan digunakan adalah pensiunan yang berusia minimal 55 tahun. Peneliti akan memilih subjek yang masih memiliki pasangan yang dikelompokkan dalam kelompok menikah dan subjek yang sudah tidak memiliki pasangan karena cerai secara hukum atau dikarenakan pasangan yang dimiliki telah meninggal dunia yang kemudian dikelompokkan ke dalam kelompok janda/duda. Dalam penelitian ini, peneliti tidak membedakan pensiunan berdasarkan jenis kelamin karena peneliti ingin melihat tingkat kesejahteraan psikologis pada pensiunan yang masih memiliki pasangan (menikah) dengan pensiunan yang sudah tidak memiliki pasangan (janda/duda).. E. Metode dan Alat Pengambilan Data Alat pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kesejahteraan psikologis yang disertai dengan identitas subjek yang diperlukan terutama mengenai status pernikahan subjek. Skala kesejahteraan psikologis menggunakan metode Likert yang terdiri dari pernyataan favorable dan unfavorable dengan empat alternatif jawaban yaitu Sangat Tidak Sesuai (STS), Tidak Sesuai (TS), Sesuai (S), Sangat Sesuai (SS). Pemilihan berdasarkan tingkat kesesuaian ini bertujuan agar subjek benar-benar mempertimbangkan sejauh mana isi pernyataan dalam skala kesejahteraan psikologis benar-benar menggambarkan keadaan dirinya atau mengenai perilakunya (Azwar, 2012)..
Gambar
Dokumen terkait
menunjukkan bahwa dak ada hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan kepatuhan diet diabetes melitus pe 2.Peneli an ini sejalan dengan peneli an yang dilakukan
Pada tahun 1987 dan 2000 di MeiZhou pernah diadakan upacara peringatan dengan umat yang berkumpul termasuk dari berbagai negara di Asia Timur, Asia tengara dan pantai
Penelitian ini memperlihatkan bahwa muncak M1 yang berumur 4 tahun, berat badan 19.5 kg dan postur tubuh lebih besar, memiliki ukuran RV dan durasi pertumbuhan RV lebih
Pemisahan fisik dalam stadia hidup ikan (life-history stages) merupakan suatu strategi dimana ikan melakukan migrasi pemijahan yang kemudian melepaskan telur dan larva pada habitat
Pengamatan yang dilakukan pada lampu warna biru pada hari pertama adalah 15 menit dan hasil yang didapati adalah pergerakan ikan bobara untuk 5 menit awal, ikan yang
RubrikKeKeR pada Harian Fajar Makassar merupakan salah satu rubrik yang berkonten remaja atau dunia pelajar pada khususnya.Rubrik ini merupakan eksplorasi terhadap
Namun demikian Ada beberapa sumber potensi yang bisa dioptimalkan dalam pengembangan kakao di Sultra yaitu: (a) Secara umum petani di Sultra sudah terbiasa dan
SPS Pendidikan Sejarah (S3) Belum