Hukum Berhenti di Kasus BLBI
Indonesia Corruption Watch
Jl. Kalibata Timur IV/D No. 6 Jakarta Selatan, INDONESIA Phone : +62 - 21 - 7901 885, 7994 015 Fax : +62 - 21 - 7994 005 Email : [email protected] www.antikorupsi.org
Hukum Berhenti di Kasus BLBI
1Oleh Danang Widoyoko
2Ketika krisis ekonomi menimpa Indonesia tahun 1997, nilai rupiah merosot mengikuti jatuhnya mata uang Baht, Thailand. Untuk mengatasi pelemahan rupiah, pemerintah dalam hal ini Bank Indonesia memberlakukan kebijakan uang ketat. Instrumen yang dipergunakan adalah dengan meningkatkan suku bunga SBI dari 14%-17% menjadi 28%-30%. Kebijakan ini mengakibatkan 1. Melonjaknya tingkat suku bunga inter-bank.
Tingkat suku bunga inter-bank yang biasanya hanya 16%-17% melonjak menjadi 100%. Bahkan pada tanggal 22 Agustus 1997, suku bunga inter-bank melonjak hingga 300%.
2. Melonjaknya tingkat suku bunga deposito dan pinjaman
Kesulitan likuiditas yang dialami perbankan memaksa bank untuk meningkatkan suku bunga deposito untuk menghimpun dana masyarakat. Tetapi melonjaknya suku bunga deposito secara otomatis juga meningkatkan suku bunga pinjaman. Akibatnya non-performing loan pun semakin naik karena banyak kreditor tidak sanggup membayar bunga yang tinggi.
3. Banyak bank yang kalah kliring dan terjadi rush di beberapa bank.
Kelangkaan likuiditas mengakibatkan banyak bank kalah kliring atau rekening gironya di Bank Indonesia bersaldo debet. Berita mengenai kalah kliring memicu keresahan di masyarakat yang akhirnya mendorong masyarakat untuk menarik uang mereka di bank secara serentak.Apalagi setelah likuidasi 16 bank pada 1 November 1997 yang menyebabkan hancurnya kepercayaan terhadap perbankan nasional.
Penyimpangan BLBI dimulai ketika BI memberikan dispensasi kepada bank-bank untuk mengikuti kliring meskipun rekening gironya di BI bersaldo debet. Dispensasi diberikan kepada semua bank tanpa melakukan pre-audit untuk mengetahui apakah bank tersebut benar-benar membutuhkan bantuan likuiditas dan kondisinya sehat. Akibatnya, banyak bank yang tidak mampu mengembalikan BLBI.
Lalu sesuai dengan permintaan DPR, BPK melakukan audit investigasi terhadap penyaluran dan penggunaan BLBI terhadap 48 bank penerima. Yakni 5 Bank Take Over, 10 Bank Beku Operasi, 18 Bank Beku Kegiatan Usaha dan 15 Bank Dalam Likuidasi.
Audit yang dilakukan oleh BPK secara umum menyimpulkan, dalam pemberian dana talangan valas kepada perbankan nasional ternyata BI
1. Tidak melakukan prosedur verifikasi dan konfirmasi yang memadai sebelum melaksanakan pembayaran valas.
2. Melakukan pengikatan jaminan yang tidak sepenuhnya dapat menjamin pengembalian dana talangan valas dari bank debitur dalam negeri yang mendapat pinjaman dana talangan valas.
3. Melakukan pembayaran yang menyalahi ketentuan.
4. Tidak menciptakan prosedur pengendalian terhadap penggunaan dana talangan valas oleh bank debitur dalam negeri dan pengembalian valas dari kreditur luar negeri.
Tabel 1. Penyimpangan penyaluran BLBI
No. Uraian
1. Penyimpangan dalam penyaluran Saldo Debet sebesar Rp. 18,16 triliun. 2. Penyimpangan dalam penyaluran Fasilitas Surat Berharga Pasar Uang Khusus
sebesar Rp. 28,23 triliun.
1 Makalah pengantar diskusi dalam “Refleksi Penegakan Hukum. Benang Kusut Penyelesaian Kasus
Korupsi di Indonesia”. Fraksi Kebangkitan Bangsa DPR RI, Jakarta, 3 September 2004.
3. Penyimpangan dalam penyaluran Fasilitas Saldo Debet sebesar Rp. 52,46 triliun. 4. Penyimpangan dalam penyaluran New Fasilitas Diskonto (Fasdis) sebesar Rp.
30,525 triliun.
5. Penyimpangan dalam penyaluran Dana Talangan Rupiah sebesar Rp. 142 miliar. 6. Penyimpangan dalam penyaluran Dana Talangan Valas sebesar Rp. 8,9 triliun. Sumber : Diolah dari laporan audit BPK.
Tabel 2. Penyimpangan penggunaan BLBI sampai dengan 29 Januari 1999.
No. Uraian penyimpangan Jumlah (Rp. Juta)
1. BLBI digunakan untuk membayar/melunasi modal
penjaman atau pinjaman subordinasi 46.088
2. Untuk membayar/melunasi kewajiban pembayaran bank umum yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya berdasarkan dokumen yang lazim untuk transaksi sejenis.
113.812
3. Untuk membayar kewajiban kepada pihak terkait. 18.505.140
4. Untuk transaksi surat berharga. 136.902
5. Untuk membayar/melunasi dana pihak ketiga yang
melanggar ketentuan. 4.469.316
6. Untuk membiayai kontrak derivatif baru atau kerugian
karena kontrak derivatif lama yang jatuh tempo/cut loss. 22.363.682
7. Untuk membiayai placement baru di PUAB. 9.822.383
8. Untuk membiayai ekspansi kredit atau merealisasikan kelonggaran tarik dari komitmen yang sudah ada.
15.812.953 9. Untuk membiayai investasi dalam aktiva tetap,
pembukaan cabang baru, rekrutmen personel baru, peluncuran produk baru, penggantian sistem baru.
456.357
10. Untuk membiayai over head bank umum 87.144
11. Untuk membiayai lain-lain yang tidak termasuk G-1
sampai dengan G-11 10.028.324
Jumlah 81.842.101 Sumber: Diolah dari laporan audit BPK.
Penegakan hukum BLBI
Dari beberapa kasus yang ditangani, penanganan Perkara korupsi Dana Bantuan Likuidasi Bank Indonesia (BLBI) yang dilakukan oleh pihak keaksaan tidak menunjukkan kemajuan yang sangat signifikan dari tahun ke tahun. Hingga awal tahun 2004, dari 58 perkara dana BLBI, baru 16 perkara yang telah diproses di pengadilan, 13 perkara masih dalam proses penyidikan, 27 perkara masih dalam proses penyelidikan, dan 2 perkara telah di SP3.
Tabel 3. Penangan Kasus Korupsi Dana BLBI
Tahap Jumlah Perkara Prosentase (%)
Penyelidikan 27 46,5
Penyidikan 13 22,4
SP3 2 3,4
Pengadilan 16 27,9
Total 58 100
Belum tuntasnya penanganan kasus BLBI ini juga diperburuk dengan banyaknya para pelaku yang melarikan diri ke luar negeri, baik ketika dalam status tersangka maupun terdakwa. Hingga saat ini sudah ada 10 orang yang terlibat kasus korupsi dana BLBI yang berhasil kabur keluar negeri ketika proses hukumnya masih berjalan bahkan beberapa diantaranya telah dijatuhi vonis penjara oleh pengadilan.
Tabel 4. Nama-nama tersangka/terdakwa Kasus BLBI yang kabur/melarikan diri
No Nama Kasus Perkiraan Kerugian
Negara Pelarian Tempat 1 Sjamsul Nursalim BLBI Bank BDNI Rp 6,9 triliun plus A$
96,7 juta Singapura
2 Bambang Sutrisno BLBI Bank Surya Rp 6,7 miliar Singapura 3 Andrian Kiki Ariawan BLBI Bank Surya Rp 1,5 Terdakwa Singapura
4 Hendra Rahardja * BLBI Bank BHS Rp 80 milyar Australia
5 Eko Adi Putranto BLBI Bank BHS Rp 1,95 Terdakwa Belum jelas keberadaanya 6 Sherny Konjongiang BLBI Bank BHS Rp 1,95 Terdakwa Belum jelas
keberadaanya 8 David Nusa Wijaya BLBI Bank Servitia Rp 1,29 Militer Belum jelas
keberadaanya 9 Samadikun Hartono BLBI Bank Modern Rp. 169 miliar Belum jelas
keberadaanya
11 Agus Anwar Bank Pelita 1.989.832.000.000 Singapura
* meninggal di Australia.
Kaburnya sejumlah koruptor mungkin tidak akan terjadi, jika pihak kejaksaan sudah sejak dini melakukan pencegahan dan penangkalan terhadap sejumlah para pelaku ketika masih dalam proses awal penyelidikan. Selain karena kelalaian, ada indikasi bahwa pihak kejaksaan sengaja membiarkan para pelaku lolos melarikan diri. Ini bisa dilihat dari kaburnya Samsul Nursalim dan Samadikun Hartono setelah mendapat izin berobat keluar negeri dari pihak kejaksaan. Selain itu kabar yang menyedihkan adalah tersangka lain dalam kasus BLBI Bank Pelita, Agus Anwar bahkan telah berganti kewarganegaraan Singapura ketika prosesnya hukum masih berjalan. PEMBERIAN IZIN BEROBAT KELUAR NEGERI
Pihak Kejaksaan Agung RI kembali memberikan Izin untuk berobat keluar negeri kepada tersangka kasus korupsi, setelah pada tanggal 14 Juni 2004 kemarin Bustanil Arifin dijinkan untuk berobat ke luar negeri selama 30 hari. Bustanil Arifin sendiri saat ini masih berstatus sebagai tersangka kasus korupsi Bulog senilai 10 miliar dan dalam proses penyidikan di Kejaksaan Agung.
Pemberian ijin berobat keluar negeri kepada pelaku/tersangak kasus korupsi bukan pertama kali ini, sebelumnya pihak kejaksaan telah memberikan “fasilitas” ijin berobat kepada Sjamsul Nursalim, Hendra Rahardja, Samadikun Hartono. Fasilitas ini kemudian justru digunakan oleh para pelaku untuk melarikan diri ke luar negeri.
Dalam hal pemberian fasilitas berupa ijin untuk berobat ke luar negeri yang menyebabkan kaburnya beberapa pelaku korupsi, kebijkan Kejaksaan Agung (Kejagung) patut dicurigai. Ada indikasi hal ini terjadi bukan karena sekadar kelalaian, namun karena sengaja diloloskan dengan modus yang sama yakni melalui izin berobat ke luar negeri dan setelah itu pihak kejaksaan sibuk mencari.
Dalam kasus pemberian ijin kepada Bustanil Arifin dan belajar dari kaburnya Sjamsul Nursalim, Hendra Rahardja dan Samadikun Hartono ke luar negeri, seharusnya pihak kejaksaan tidak lagi mengeluarkan kebijakan untuk memberikan ijin berobat keluar negeri. Pengobatan hanya dapat dilakukan di Indonesia (Rumah Sakit di Indonesia atau mendatangkan dokter dari luar negeri ke Indonesia).
Pemberian ijin berobat kepada pelaku korupsi bukan tanpa resiko karena setelah “kabur” keluar negeri maka tidak ada jaminan bahwa pelaku korupsi tersebut akan kembali ke tanah air. Jika pelaku korupsi sudah kabur/melarikan diri, maka seperti yang sudah-sudah sebelumnya Kejaksaan pasti akan lepas tanggung jawab dan tidak pernah mau dipersalahkan.
SP3 SJAMSUL NURSALIM: KADO KEJAKSAAN UNTUK OBLIGOR TERSANGKA KORUPSI Kejaksaan Agung (Kejagung) pada tanggal 13 Juli 2004 diam-diam telah mengeluarkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) terhadap Sjamsul Nursalim, tersangka kasus korupsi dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang dikucurkan ke Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI) sebesar Rp10,09 triliun. Proses Penyidikan Syamsul Nursalim telah dihentikan (SP3), dengan alasan adanya Surat Keterangan Lunas (SKL) dari BPPN. Pengumuman Pengeluaran SP3 tersebut tepat dilakukan ketika Kejaksaan RI sedang merayakan hari jadinya yang ke 44 tahun, sungguh merupakan hadiah yang menyakitkan hati rakyat yang selama ini mendambakan adanya tindakan tegas atas pelaku perkara korupsi .
Dalam hal pemberian SP3 kepada Sjamsul Nursalim, Kejaksaan Agung jelas sangat tidak rasional dan kontroversial. Hal ini didasarkan beberapa alasan. Pertama, Pemberian SP3 bertentangan dengan Peraturan perundang-undangan. Inpres No. 8 Tahun 2002 yang menjadi dasar bagi Kejaksaan dalam mengeluarkan SP3 bertentangan dengan sejumlah aturan hukum seperti UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dalam pasal 4 UU No. 31 Tahun 1999 secara tegas menyebutkan bahwa “Pengembalian kerugian keuangan negara atau perekonomian negara tidak menghapuskan dipidananya pelaku tindak pidana”. Dengan demikian pengembalian aset atau utang Sjamsul Nursalim kepada negara, tidak serta merta menghapuskan proses tindak pidana korupsi yang dilakukannya. Oleh karena itu pihak Kejaksaan Agung tetap harus memproses Sjamsul Nursalim hingga tahap penuntutan di Pengadilan.
Tidak saja bertentangan dengan UU No. 31 Tahun 1999, Inpres No. 8 Tahun 2002 juga bertentangan dengan Ketetapan MPR No.IX/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Dalam pasal 4 TAP MPR tersebut dinyatakan antara lain ; “ Upaya pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme harus dilakukan secara tegas terhadap siapapun juga, baik pejabat negara, mantan pejabat negara, keluarga, dan kroninya maupun pihak swasta/konglomerat termasuk mantan Presiden Soeharto dengan tetap memperhatikan prinsip praduga tak bersalah dan hak-hak asasi manusia”. Inpres diatas juga secara jelas menunjukkan tindakan penyelewengan kekuasaan yang dilakukan untuk melakukan intervensi terhadap proses hukum dan upaya menegakkan hukum secara sama bagi semua warga negara. Selain kedua aturan hukum tersebut, Inpres R&D juga bertentangan dengan : Undang-Undang Dasar 1945, terutama Pasal 1 ayat 3; Ketetapan Nomor. X/MPR/2001; UU Nomor 8 Tahun 1981 KUHAP; dan UU Nomor 5 Tahun 1991 tentang Kejaksaan Republik Indonesia.
Kedua, Jaksa Agung telah menyalahgunakan hak opportunitasnya untuk membebaskan debitur termasuk memberikan SP 3 dengan alasan “kepentingan umum”. Penjelasan UU No. 5 Tahun 1991 tentang Kejaksaan RI sendiri menyatakan bahwa kepentingan umum yang dimaksud adalah kepentingan bangsa dan negara dan/atau kepentingan masyarakat luas Selain itu dalam TAP MPR No.IX/MPR/1998 telah secara tegas menggariskan komitmen seluruh Rakyat Indonesia bahwa kepentingan bagi seluruh rakyat Indonesia adalah terhadap para koruptor harus ditindak tegas tanpa pandang bulu dan harus dihukum seberat-beratnya.. Oleh karenanya dipertanyakan “kepentingan umum” mana yang digunakan oleh kejaksaan dalam memberikan SP3 Sjamsul Nursalim?
Selain itu seharusnya Kejaksaan juga tidak serta merta menerima apa adanya Surat Keterangan Lunas dari BPPN. Namun Kejaksaan perlu juga mengecek ulang apakah pembayaran tunai maupun aset yang diserahkan oleh BPPN sudah sesuai dengan jumlah utang yang “dikemplang” oleh Sjamsul Nursalim. Konsep Lunas dari BPPN juga perlu dipertanyakan? apakah mereka dianggap sudah menyelesaikan utangnya - walaupun hanya 30 persen dari jumlah kewajiban pemegang saham (JKPS) dalam bentuk tunai dan 70 persen dibayar dengan sertifikat bukti hak atau aset kepada BPPN. Dan apakah pelunasan ini sudah termasuk bunga yang harus juga dibayarkan oleh debitur?
Ketiga, Pemberian SP3 yang diberikan kepada pelanggar hukum akan jadi preseden buruk penegakan hukum. Sjamsul Nursalim tidak pantas mendapat SP3 karena selama ini dia tidak bersikap kooperatif dan selalu menghindari proses hukum serta penahanan dengan sengaja kabur ke Singapura, negara yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Bagaimana mungkin orang yang tidak taat hukum diberikan keistemewaan bahkan dihentikan penyidikan? Bagaimanapun juga kejaksaan pernah “dilecehkan” oleh Sjamsul Nuraslim karena menolak kembali ke Indonesia untuk diperiksa oleh Kejaksaan dalam kasus korupsi yang dilakukannya.
Tabel 5. Perjalanan Menuju SP3 Sjamsul Nursalim
14 Februari 1998 BI menyerahkan BDNI ke BPPN
21 Agustus1998 BDNI dibekukan
21 September 1998 Sjamsul meneken perjanjian MSAA untuk pembayaran utang dengan menyerahkan aset. Dia diputuskan berutang sebesar Rp 28,4 triliun 25 Mei 1999 Sjamsul menandatangani penyerahan 12 aset miliknya ke BPPN senilai Rp
27,4 triliun. Dia juga diharuskan membayar tunai Rp 1 triliun. 26 Juni 2000 BPPN mengirimkan teguran keras karena Sjamsul belum melunasi
pembayaran tunainya. Dia baru membayar Rp 337 miliar.
23 Oktober 2000 Jaksa Agung Marzuki Darusman menyatakan Sjamsul sebagai tersangka kasus penyelewengan BLBI
16 April 2001 Sjamsul ditahan kejaksaan karena dinilai merugikan negara Rp 10,1 triliun dalam kasus BLBI.
15 Mei 2001 BPK dalam audit investigasinya menyatakan, dari aset yang diserahkan sebesar Rp 20 triliun, ternyata hanya mempunyai nilai komersial Rp 1,9 triliun
29 Mei 2001 Sjamsul meminta izin berobat ke Jepang oleh Kejaksaan hingga 25 Juni 2001
12 Juli 2002 Ketua BPPN Syafruddin Temenggung memutuskan untuk menyita aset Sjamsul
8 Oktober 2002 Sjamsul sepakat mengganti kekurangan setoran tunainya sebesar Rp 428 miliar dengan tunai Rp 250 miliar dan aset properti Rp 178 miliar.
17 Maret 2003 BPPN melakukan uji tuntas keuangan atas aset Sjamsul dengan menunjuk auditor Ernst & Young.
28 Oktober 2003 GT Tire dan GT Petrochem dibeli oleh Garibaldi Venture Fund Ltd (Singapura) senilai Rp 1,83 triliun.
24 Desember 2003 Ernst & Young mengumumkan hasil uji tuntas. Ditemukan kelebihan dana 1,3 juta dolar AS dari aset yang diserahkan Sjamsul. BPPN tidak mau mengembalikan dan diminta menyerahkan kekurangan setoran tunai Rp 150 miliar.
6 Februari 2004 Sjamsul melunasi seluruh kekurangan pembayaran utangnya secara tunai ke BPPN.
13 April 2004 Sjamsul menandatangani closing agreement dengan BPPN sebagai prasyarat mendapatkan surat keterangan lunas (SKL).
19 April 2004 BPPN keluarkan SKL Sjamsul.
15 Juli 2004 Sjamsul menerima SP3 dari Kejakgung.
Sumber: Republika 23 Juli 2004 Penutup
Kasus BLBI menunjukkan kepada kita ongkos korupsi masa lalu yang harus ditanggung oleh seluruh rakyat Indonesia dan keturunannya. Butuh waktu berpuluh tahun untuk melunasi beban BLBI dengan konsekuensi tertekannya alokasi dana pembangunan, seperti pendidikan dan kesehatan.
Anehnya, penegakan hukum dalam kasus BLBI tidak berjalan. Memang ada beberapa tersangka/terdakwa yang dijatuhi hukuman seumur hidup. Tetapi justru banyak yang dihentikan penyidikannya alias mendapat SP3. Kalaupun divonis, ada beberapa yang ringan atau eksekusi tidak berjalan dengan lancar.
Hampir tidak mungkin untuk mengatakan tidak, bahwa korupsi atau mafia peradilan terjadi dalam penanganan kasus BLBI. Fakta ini pula yang sebetulnya mendorong dibentuknya KPK dengan sejumlah kewenangan besar. Kini tentu kita menunggu KPK untuk segera mengusut kembali kasus BLBI dan membuka kembali SP3 yang telah diterbitkan Kejaksaan.
Persoalan lain yang perlu dibenahi adalah mendorong percepatan reformasi peradilan. Seperti kasus David Nusa Wijaya yang tidak bisa dieksekusi padahal MA sudah menjatuhkan hukuman. Salinan putusan yang dijatuhkan tahun 2003 sampai Juli 2004 belum sampai di tangan kejaksaan sehingga tidak bisa dieksekusi.
Lampiran 1. Proses peradilan kasus korupsi dana BLBI
NO Nama Perkara Kerugian Negara Tingkat Pemeriksaan 1. Hendrawan Haryono Bank Aspac 583.478.957.594 Pengadilan Negeri
Vonis 1 tahun Kasasi Vonis 4 tahun 2. Setiawan Haryono Bank Aspac 583.478.957.594 Pengadilan Negeri
Vonis 5 tahun Pengadilan Tinggi Vonis 6 bulan 3. David Nusa Wijaya Bank Servitia 1.306.430.307.777 Pengadilan Negeri
Vonis 1 tahun Banding Vonis 4 tahun Mahkamah Agung Vonis 8 tahun 4. Samadikun Hartono Bank Modern 80.742.270.581 Pengadilan Negeri
Vonis Bebas Mahkamah Agung Vonis 4 tahun penjara 5. Hendra Raharja Bank Harapan
Sentosa 305.345.074.000 dan U$D 2.304.809,36
Pengadilan Negeri Vonis Seumur Hidup 6. Eko Adi Putranto Bank Harapan
Sentosa
305.345.074.000 dan U$D 2.304.809,36
Pengadilan Negeri Vonis 20 tahun penjara 7. Sherny Konjongian Bank Harapan
Sentosa 305.345.074.000 dan U$D 2.304.809,36
Pengadilan Negeri Vonis 20 tahun penjara 8. Bambang Sutrisno Bank Surya 1, 5 Triliun Pengadilan Negeri
Vonis Seumur Hidup 9. Andrian Kiki Ariawan Bank Surya 1, 5 Triliun Pengadilan Negeri
Vonis Seumur Hidup 10. Leonard Tanubrata Bank Umum
Nasional 6.738.632.426.680 Pengadilan Negeri Vonis 10 tahun Pengadilan Tinggi Bebas
11. Kaharudin Ongko Bank Umum
Nasional 6.738.632.426.680 Pengadilan Negeri Vonis bebas 12. Hendri Sunardyo South East
Asia Bank 280 miliar Pengadilan negeri Vonis 10 bulan 13. Jemy Sutjiwan South East
Asia Bank 280 miliar Pengadilan Negeri Vonis 8 bulan 14. Leo ardyanto South East
Asia Bank
280 miliar Pengadilan Negeri Vonis bebas 15. Supari Dhirjo Prawiro Bank
Ficorinvest 305 Miliar Pengadilan Negeri Vonis 1 Tahun 6 bulan
16. Soemeri Bank
Ficorinvest 305 Miliar Pengadilan Negeri Vonis 1 Tahun 6 bulan 17. Sjamsul Nursalim Bank Dagang
Negara Indonesia 6,9 26.369.524.999,80 dan U$D 96.700.000 SP3
Pinaesaan 19. Indarto Hovart Tantular Bank Central
dagang 1,4 trilyun Penyidikan
20. I Gede Darmawan Bank Aken 17.262.040.242 Penyidikan 21. Ichwan Wijono Bank Putra
Surya Perkasa
- Penyidikan 22. Erich Johanes Lazuardi Bank
Kosagraha Semesta
- Penyidikan 23. Jean Ronald Pea Bank Baja
Internasioanal - Penyidikan
24. Lany Ongko Subroto Bank Sewu Internasional
- Penyidikan 25. Njo Kok Kiong Bank Papan
Sejahtera - Penyidikan
26. Ir. Sulistyo Bank Uppindo - Penyidikan
27. Hadi Purnama Chandra Bank Dana
Hutama - Penyidikan
28. Agus Anwar Bank Pelita 1.989.832.000.000 Penyidikan 29. Moh. Hasan
(Bob Hasan) Bank Umum Nasional - Penyidikan
30. Sukamdani G. Bank Dagang
Industri 418 miliar SP3
31. Ardiansyah Bank Dagang
Industri
418 miliar SP3 32. Mahadi Usman Bank Pesona
Kriyadana 2.091.152.489.116,06 Penyelidikan 33. Andri Tedja Dharma Bank Centris
Internasional 13.777.869.885 Penyelidikan 34. Syafril Mur Bank Istimirat 521.506.073.544,42 Penyelidikan 35. Royanto Kurniawan Bank Deka 102.918.000.000 Penyelidikan 36. Julius Raphael Bank Deka 102.918.000.000 Penyelidikan 37. Anwar Kawita Bank Deka 102.918.000.000 Penyelidikan 38. Yusuf Kartadibrata Bank Industri 183.458.011.000 Penyelidikan 39. Warsito Sanyoto Bank Industri 183.458.011.000 Penyelidikan 40. Adinda B. Sardjana Bank Tata
Internasional 521.506.073.544.42 Penyelidikan 41. Aloisyus Indarto Tedjo Bank Dewa
Rutji
609.408.000.000 Penyelidikan 42. Atang Latif Bank Bira 200 miliar Penyelidikan 43. Anwar Syukur Bank Anrico 179.000.000.000 Penyelidikan 44. FX. Nurtanio Bank Lautan
Berlian 933.782.295,06 Penyelidikan 45. Ongki Wanadjati Dana Bank Subentra 515 miliar Penyelidikan 46. Gerald Yacobus Bank Mataram
Dana Artha 336.763.000.000 Penyelidikan 47. Bastjik Sadin Bank Mataram
Dana Artha
336.763.000.000 Penyelidikan 48. Endang Utari
Mokodampit Bank Pacific 2.133.366.418.839,63 Penyelidikan
49. - Bank Intan 90.757.409.285,53 Penyelidikan
50. Hendri Liem Bank Astria
Raya 1.029.837.000 Penyelidikan
Raya 52. Veriventis H Bank Guna
Internasional 2.251.000.000 Penyelidikan
53. Muchtar S Bank Guna
Internasional
2.251.000.000 Penyelidikan 54. Hokiarto Bank Hokindo 214 milyar Penyelidikan 55. Siswanto Djojodiastro Bank Umum
Sejahtera 162.445.000.000 Penyelidikan 56. Max Dharmawan Bank Umum
Sejahtera 162.445.000.000 Penyelidikan 57. Probosutedjo Bank Jakarta 85.353.000.000 Penyelidikan 58. Yusuf Vaient Bank Umum
Majapahit 7.971.000.000 Penyelidikan
Sumber: diolah dari Rapat Kerja Kejaksaan dengan Komisi II DPR tahun 2001, Bahan Jaksa Agung dalam rapat kerja dengan Komisi II DPR tanggal 8 September 2003 dan pemberitaan media.