Kamis, 27 Januari 2022 Dr. Dedy Natrifahrizal
KEBIJAKAN PEMBINAAN KOMPETENSI TENAGA
KERJA KONSTRUKSI
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT DIREKTORAT JENDERAL BINA KONSTRUKSI
DIREKTORAT KOMPETENSI DAN PRODUKTIVITAS KONSTRUKSI
PENGATURAN PEMBINAAN TENAGA KERJA KONSTRUKSI INDONESIA
03
ARAH KEBIJAKAN PEMERINTAH
01
KONDISI EKSISTING TENAGA KERJA KONSTRUKSI INDONESIA
02
04
O U T L IN E
PENINGKATAN KOMPETENSI TENAGA
PENDAMPING INFRASTRUKTUR BERBASIS
MASYARAKAT
01
ARAH KEBIJAKAN
PEMERINTAH
Pembangunan Sumber Daya Manusia
Penyerdehanaan Regulasi
Transformasi Ekonomi Reformasi Birokrasi
Mempercepat dan Melanjutkan Pembangunan Infrastruktur
3 2 1
4 5
Membangun SDM pekerja keras yang dinamis, produktif, terampil, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi didukung dengan kerjasama industri dan talenta global.
Melanjutkan pembangunan infrastruktur untuk menghubungkan kawasan produksi dengan kawasan distribusi, mempermudah akses ke kawasan wisata, mendongkrak lapangan kerja baru, dan mempercepat peningkatan nilai tambah perekonomian rakyat
Menyederhanakan segala bentuk regulasi dengan pendekatan Omnibus Law, terutama menerbitkan 2 undang- undang. Pertama, UU Cipta Lapangan Kerja. Kedua, UU Pemberdayaan UMKM
Memprioritaskan investasi untuk penciptaan lapangan kerja, memangkas prosedur dan birokrasi yang panjang, dan menyederhanakan eselonisasi.
Melakukan transformasi ekonomi dari ketergantungan SDA menjadi daya saing manufaktur dan jasa modern yang mempunyai nilai tambah tinggi bagi kemakmuran bangsa demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Arah Kebijakan Pemerintah 2020-2024
Program Pembangunan Infrastruktur Kementerian PUPR Tahun 2020-2024
Sumber Daya Air Konektivitas Permukiman Perumahan
58,5 m3/kapita/tahun Peningkatan kapasitas daya
tampung
61 Unit Bendungan
500 Unit Pembangunan Embung
500.000 Ha Pembangunan Daerah Irigasi
2.000.000 Ha Rehabilitasi Jaringan Irigasi
50 m3/detik Ketersediaan Air Baku
2.100 Km Ketersediaan Air Baku
2.500 Km Pembangunan Jalan Tol
3.000 Km Pembangunan Jalan Baru
38.328 m Pembangunan Jembatan
31.053 m Pembangunan Fly Over/
Underpass
51.340 Unit Rumah Susun
10.000 Unit Rumah Khusus
262.345 Unit PSU Perumahan
813.660 Unit Rumah Swadaya 100%
Akses Air Minum Layak, 30% Jaringan Perpipaam
90%
Akses Sanitasi Layak, 15% Termasuk Aman
10.000 Ha Penanganan Permukiman
Kumuh
100%
Hunian Dengan Akses Sampah Terkelola Baik di
Perkotaan
5.555 Unit
Pembangunan & Rehabilitasi Sarana Prasarana Pendidikan, Olahraga, dan
Pasar
Sumber : Rencana Strategis Kementerian PUPR, 2020-2024
Program Infrastruktur Berbasis Masyarakat Kementerian PUPR
• Preservasi Jalan
• Preservasi Jembatan
• Revitalisasi Drainase
Rp. 4,85 T
• P3TGAI
• Pembuatan ABSAH
• OP Air Tanah & Baku
• OP Irigasi & Rawa
• OP Sungai & Pantai
• OP Bendungan, Danau, Situ & Embung
Rp. 4,50 T
• Bantuan Stimulan Perumahan
Swadaya (BSPS)
• Rumah Khusus
Rp. 2,45 T
• Pamsimas
• Sanimas
• TPS 3R
• Sanitasi Pendidikan Keagamaan
• PISEW
• KOTAKU Sumber Daya Air Jalan & Jembatan
Rp. 2,11 T
Perumahan Permukiman
Padat Karya Tunai Kementerian PUPR Tahun 2022
13,91 Triliun
KONDISI EKSISTING TENAGA KERJA KONSTRUKSI
INDONESIA
02
Sumber :
Survei Angkatan Kerja Nasional, 2021
Jumlah Angkatan Kerja di Sektor Konstruksi
Jumlah Angkatan Kerja di Sektor Konstruksi
Jenjang Pendidikan
Jumlah Angkatan Kerja Konstruksi
(dalam orang)
Jumlah Angkatan Kerja Konstruksi
(dalam %)
<= SD 756.812 9,1%
SD 2.905.652 35,0%
SMP 2.054.047 24,8%
SMA & SMK 2.186.330 26,4%
Diploma I/II/III 83.531 1,0%
Universitas 307.397 3,7%
Jumlah 8.293.769 100,0%
Jumlah Angkatan Kerja Sektor Konstruksi Berdasarkan Jenjang Pendidikan
Sumber : Survei Angkatan Kerja Nasional, dalam buku Konstruksi Dalam Angka, 2021, rilis 31 Desember 2021
756,812
2,905,652
2,054,047 2,186,330
83,531
307,397
Tidak Tamat SD
SD atau sederajat
SMP atau sederajat
SMU atau sederajat
Diploma I/II/III
Universitas
Jumlah Angkatan Kerja di Sektor Konstruksi
Tenaga Ahli; 25%
Tenaga Terampil, 75%
Jumlah Tenaga Kerja Konstruksi Bersertifikat Berdasarkan Jenjang Kualifikasi
tenaga terampil sebanyak 563.932 orang
tenaga ahli
sebanyak 185.309
orang
Kelas I,417,098 Kelas II,
113,828 Kelas III,
245,603
Jumlah Kepemilikan Sertifikat Keterampilan
Muda, 119,624
Madya, 154,895
Utama, 16,500
Jumlah Kepemilikan Sertifikat Keahlian
Jumlah tenaga kerja konstruksi bersertifikat = 749.241 orang Jumlah kepemilikan sertifikat kompetensi : 1.067.548 Sertifikat
Sumber : Dashboard Tenaga Kerja Konstruksi, https://binakonstruksi.pu.go.id/
dashboard-tenaga-ahli/ akses tanggal 17 Januari 2022
Jumlah Angkatan Kerja di Sektor Konstruksi
Kebutuhan Tenaga Kerja Sektor Konstruksi Nasional
Alokasi Anggaran Infrastruktur Nasional
Tahun 2022=
384,8 Trilliun
*)*) sumber : Kompas, 16 Agustus 2021
Penggunaan alokasi anggaran :
1. Infrstruktur Pelayanan dasar (rumah khusus, rumah susun, air minum, dan air limbah)
2. Infrastruktur energi dan pangan (jaringan irigasi dan jaringan gas)
3. Infrastruktur konektivitas dan mobilitas (pembangunan jalan baru, pembangunan
jembatan baru, tol Trans Sumatera, jalur kereta api, dan bandara baru)
4. Infrastruktur dan Akses TIK (penyediaan kapasitas jaringan internet dan BTS)
Kebutuhan Tenaga kerja konstruksi untuk 1 Triliun =
14.000 TKK
**)Kebutuhan TKK untuk pemenuhan infrastruktur nasional =
5.837.200 TKK Bersertifikat
*) Pusat Kajian Strategis
PENGATURAN PEMBINAAN
TENAGA KERJA KONSTRUKSI
03
UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2017
UNDANG- UNDANG
JASA KONSTRUKSI
NOMOR 2 TAHUN 2017
Pasal 99 Ayat 2
Setiap Pengguna Jasa dan/atau
penyedia Jasa yang mempekerjakan tenaga kerja konstruksi yang tidak memiliki sertifikat Kompetensi Kerja sebagai-mana dimaksud dalam pasal 70 ayat (2) dikenakan sanksi administratif berupa: denda administratif,
penghentian sementara kegiatan Layanan Jasa Konstruksi.
Pasal 70 Ayat 1 Setiap Tenaga Kerja yang berkerja di Bidang Jasa Konstruksi
wajib memiliki Sertifikat Kompetensi Kerja
Pasal 99 Ayat 1 Setiap tenaga kerja konstruksi
yang bekerja di bidang Jasa Konstruksi tidak memiliki sertifikat
Kompetensi Kerja sebagaimana dimaksud dalam pasal 70 ayat (1) dikenai sanksi administratif berupa pemberhentian dari tempat kerja.
Pasal 70 Ayat 2
Setiap Pengguna Jasa dan/atau Penyedia Jasa wajib
mempekerjakan tenaga kerja
konstruksi yang memiliki Sertifikat Kompetensi Kerja
Kewajiban
Sanksi
TRANSFORMASI FUNGSI LPJK
TERKAIT TENAGA KERJA KONSTRUKSI
DULU SEKARANG
Sertifikasi Tenaga Kerja Konstruksi
Registrasi SKA & SKTK
A K R E D IT A S I
Akreditasi bagi Asosiasi Profesi
S E R T IF IK A S I
Pemberian Rekomendasi Lisensi LSP Membentuk LSP atau PTUK untuk melaksanakan sertifikasi
kompetensi kerja yang belum dapat dilakukan oleh LSP yang dibentuk oleh Asosiasi Profesi/LPPK
P E N C A T A TA N
Pencatatan LSP terlisensi
Pencatatan Tenaga Kerja Konstruksi
Pencatatan Pengalaman Profesional TKK
PENYETARAAN TENAGA KERJA ASING
PELAKSANASERTIFIKASI
Dilaksanakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP)
DURASILAYANAN
Pemberian Rekomendasi Lisensi LSP paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah berkas lengkap.
Lisensi LSP paling lambat 60 (enam puluh) hari kerja sejak rekomendasi Lisensi diterima dan berkas permohonan lengkap diterima.
INTEGRASISISTEM
Pelayanan Rekomendasi Lisensi dan Sertifikasi TKK di bidang Jasa Konstruksi pada 1 (satu) Big Data yaitu SIJK
terintegrasi
KEPEMILIKANSERTIFIKAT
Diharapkan pelaksanaan sertifikasi dapat dilakukan dengan lebih cepat dan efektif
Integrasi sistem juga akan dilakukan dengan OSS dan BNSP
Mendorong
kepemilikan sertifikat yang mengarah kepada TKK yang lebih spesialis (begitu juga dengan jabatan kerjanya) Maksimal 5 SKK pada klasifikasi bidang keilmuan Jasa Konstruksi untuk kualifikasi Ahli.
TRANSFORMASI PELAKSANAAN SERTIFIKASI
KOMPETENSI KERJA KONSTRUKSI
PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 14 TAHUN 2021
klasifikasi Tenaga Kerja Konstruksi :
Pasal 28C
Arsitektur
Sipil
Mekanikal
Tata Lingkungan
Arsitektur Lanskap, Iluminasi & Desain Interior
Perencanaan Wilayah & Kota
Sains & Rekayasa Teknik
Manajemen Pelaksanaan
1 2
3 4
5 6
7
8
Penetapan klasifikasi TKK pada kualifikasi jabatan operator, teknisi/analis, dan ahli berdasarkan 8 Bidang Keilmuan yang terkait Jasa Konstruksi,
meliputi:
Subklasifikasi dan kualifikasi tenaga
kerja konstruksi tercantum dalam
Lampiran PP 14 Tahun 2021
SUBKLASIFIKASI TENAGA KERJA KONSTRUKSI
KUALIFIKASI TENAGA KERJA KONSTRUKSI
Jenjang Berdasar KKNI Perpres 8 Tahun 2012
Sumber : Lampiran Peraturan Pemerintah No 14 Tahun 2021
KEPEMILIKAN SERTIFIKAT KOMPETENSI KERJA
Paling banyak 5 SKK
Konstruksi pada 3 Klasifikasi yang berbeda. Kemudian Sertifikat untuk jabatan operator paling banyak
untuk 5 SKK Konstruksi pada 3 klasifikasi yang berbeda dalam 5 subklasifikasi
K U A L I F I K A S I O P E R A T O R
K U A L I F I K A S I T E K N I S I / A N A L I S
K U A L I F I K A S I A H L I
Paling banyak 5 SKK
Konstruksi pada 2 Klasifikasi yang berbeda. Kemudian Sertifikat untuk jabatan teknisi/ analis paling banyak untuk 5 SKK Konstruksi pada 2 Klasifikasi yang berbeda dalam 5 subklasifikasi.
Pasal 28D
1.
Paling banyak 5 SKK Konstruksi pada 2 Klasifikasi yang salah satunya merupakan manajemen pelaksanaan
2.
Klasifikasi yang dimaksud pada angka 1 hanya boleh paling banyak untuk 3 subklasifikasi dalam 1 Klasifikasi yang sama
3.
Klasifikasi manajemen pelaksanaan hanya boleh paling banyak 2 subklasifikasi dalam 1 Klasifikasi yang sama
Masa berlaku
SKK: 5 tahun
PEMBERIAN KOMPETENSI TAMBAHAN DAN SERTIFIKASI KOMPETENSI
SURAT EDARAN DIRJEN BINA KONSTRUKSI NOMOR 129/SE/Dk/2020
Tentang
PEMBERIAN KOMPETENSI TAMBAHAN DAN SERTIFIKASI KOMPETENSI BAGI
LULUSAN DAN CALON LULUSAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK), POLITEKNIK DAN/ATAU PERGURUAN TINGGI
BIDANG KONSTRUKSI
Tujuan Maksud
Pemberian
kompetensi tambahan bagi lulusan dan calon
lulusan vokasi dan perguruan tinggi bidang jasa konstruksi
sebelum dilakukan Uji Kompetensi /
Sertifikasi
Keselarasan kompetensi yang
dibutuhkan oleh industri konstruksi
dengan
kompetensi lulusan vokasi dan perguruan tinggi
bidang
jasa konstruksi
PEMBERIAN KOMPETENSI TAMBAHAN DAN SERTIFIKASI KOMPETENSI
INSTRUK TUR
SASARAN KOMPETENSI TAMBAHAN PELAKSANA
UPT yg mempunyai tugas melakukan pemberdayaan dan pengawasan bidang pembinaan jasa konstruksi
Lulusan dan calon lulusan SMK, politeknik dan/atau perguruan tinggi bidang jasa konstruksi
a. Tenaga pengajar SMK, politeknik dan/atau perguruan tinggi bidang jasa konstruksi yang telah
mengikuti pembekalan, dan b. Ditetapkan sebagai instruktur
pemberian kompetensi tambahan oleh UPT
a. Bagi lulusan dan calon lulusan SMK Bidang konstruksi : 12 JPL b. Bagi lulusan dan calon lulusan Politeknik bidang konstruksi : 24 JPL
c. Bagi lulusan dan calon lulusan Perguruan Tinggi bidang
konstruksi : 32 JPL
Balai Jasa Konstruksi Wilayah
Tenaga Pengajar Vokasi & Pendidikan Tinggi Training of Trainer
Sekolah Menengah Vokasi 12 Jam Pelajaran
Politeknik 24 Jam Pelajaran
Perguruan Tinggi 32 Jam Pelajaran Sosialisasi
SertifikatKeterampilan 3 tahun
Sertifikat Keterampilan 3 tahun
Sertifikat Keahlian 1 tahun
Pemberian Kompetensi Tambahan
MEKANISME PEMBERIAN KOMPETENSI TAMBAHAN
PENINGKATAN
KOMPETENSI TENAGA PENDAMPING
INFRASTRUKTUR
04
Kebijakan Peningkatan Kompetensi SDM Konstruksi
Peningkatan jumlah tenaga kerja konstruksi yang bersertifikat
dengan meningkatkan
dukungan pelatihan/uji sertifikasi tenaga
kerja konstruksi
Peningkatan kecukupan
dan kesesuaian
SKKNI bidang konstruksi
Peningkatan kecukupan dan
kesesuaian materi/modul
bidang konstruksi
Peningkatan kecukupan
asesor kompetensi
konstruksi
Peningkatan kecukupan
instruktur bidang konstruksi Peningkatan kualitas dan kuantitas kompetensi SDM kontruksi
Arah Kebijakan
Sumber: Renstra DJBK 2020-2024
POTRET JUMLAH INSTRUKTUR DAN ASESOR
A
I 285 orang 358 orang
I 560 orang A 227 orang
I
A
180 orang 483 orang
113 orang 699 orang
I A
I 444 orang A 360 orang
I 40 orang A 135 orang Wilayah I
Wilayah II
Wilayah IV Aceh, Sumut, Sumbar,
Kepri, Riau
Sumsel, Bengkulu, Babel, Jambi, Lampung
Wilayah III Banten, DKI, Jabar
Jateng, DIY, Jatim,
Bali, NTB, NTT Wilayah V
Kalbar, Kalteng, Kaltim, Kalsel, Kaltara
Wilayah VII
Maluku, Malut, Papua, Papua Barat
Wilayah VI
Sulut, Gorontalo, Sulteng, Sulbar, Sultra, Sulsel
I Instruktur --- total 2.091 orang
A Assesor --- total 2.483 orang
I 469 orang A 221 orang
Sumber : Rekapitulasi Data BJKW, update 18 Januari 2022
Sumber : SK Ketua LPJK No 18/KPTS/LPJK/VII/2021, tanggal 14 Juli 2021
Pembinaan Kompetensi Tenaga Fasilitator
Penyusunan SKKNI untuk tenaga pengawas atau pelaksana pada jenjang teknisi / analis
Penyusunan Materi Pelatihan
Berbasis Kompetensi untuk tenaga pengawas dan pelaksana
Refreshment / Bimbingan Teknis untuk tenaga fasilitator
Pelaksanaan Training of Trainer bagi tenaga fasilitator sebagai dasar untuk mentransfer knowledge kepada tukang
Pelaksanaan Refreshment Asesor KompetensiTenaga Kerja Konstruksi Pelaksanaan Uji Kompetensi dan
Sertifikasi bagi tenaga fasilitator
untuk jenjang teknisi dan analis
Sinergi Pembinaan Tenaga Fasilitator
Penyedia Jasa / Badan Usaha Jasa Konstruksi
Asosiasi Profesi Lembaga
Pendidikan dan Pelatihan
Lembaga Sertifikasi Profesi
Kementerian PUPR
Kementerian /
Lembaga Lainnya
TERIMA KASIH
TUGAS DAN FUNGSI TENAGA PENDAMPING/FASILITATOR
DALAM
PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BERBASIS MASYARAKAT
WEBINAR 27 JANUARI 2022
I.PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BERBASIS MASYARAKAT
MASYARAKAT (INDIVIDU / KELOMPOK)
PENDEKATAN PEMBANGUNAN (INFRASTRUKTUR
)MENEMPATKAN
PENENTU
PELAKU UTAMA
SELURUH PENGAMBILAN
KEPUTUSAN
KEHENDAK / KESEPAKATAN
PRINSIP : AKKU
ASPIRASI MASYARAKAT KEPENTINGAN MASYARAKAT KEMAMPUAN MASYARAKAT UPAYA BERSAMA
A K K U
1.
A.PENGERTIAN
B.ASAS-ASAS CBID = 5
ASAS
SOLIDARITAS
ASAS
SOLIDARITAS ASAS
SOLIDARITAS
ASAS
PARTISIPATIF
ASAS
KEMITRAAN
ASAS
KEMAMPUAN PEMBERDAYA.
ASAS
PEMERATAAN
ANTARA ANGGOTA MASYRAKAT
ANTARA MASYARAKAT DENGAN PERILAKU PEMB. LAINNYA
DIJALANKAN SECARA AKTIF DAN NYATA
INTERAKSI YANG SETARA DAN SEJAJAR TERBENTUK SISTIM KEKERABATAN
DUKUNGAN PELAKU LAIN DAN FASILITAS PENCIPTAAN AKSES KE SUMBER DAYA LAIN
KESEMPATAN DAN PELUANG YANG MERATA
2.
C. PENDEKATAN :
PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BERBASIS PEMBERDAYAAN MASY.
(Community Based Infrastructure Development / CBID )
MENUJU
KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
KEARIFAN LOKAL
PEMBERDAYAAN MENUJU
KEMANDIRIAN
PEMBENTUKAN POKMAS
ASAS MUSYAWARAH DAN
GOTONGROYONG PENYIAPAN
INFRASTRUKTUR LINGKUNGAN PERMUKIMAN
STIMULASI DAN PENDAMPINGAN TEKNIS/ADM/KEU APARAT
PEMDA/
DINAS PU / FASILITATOR
PENDAMPING TEKNIS,
SOSIAL
BANTUAN DANA / STIMULAN
LINGKUNGAN SEHAT, AMAN & NYAMAN
3.
D.PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR LINGKUNGAN BERTUMPU PADA KELOMPOK
MENGAPA MELALUI KELOMPOK ?
POLA DASAR
1. Berbasis Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Indonesia (Gotong Royong, Guyub, Sintuwu Maroso, Kitorang Basudara, Basamo, Dll)
2. Nonformal Formal Memiliki Akses
* Keterbatasan Akses Sumber-sumber daya 3. Penjabaran Amanat UU6/2014 tentang Desa
(Pasal 78: Penataan (Pembangunan) mengedepankan Kebersamaan dan Gotong royong
pasal 80:mengkut sertakan masy.,pasal 81 :melibatkan masy.Desa,pasal 83 pemb.infrastruktur pengembangan Teknologi Tepat Guna.
1. Pengorganisasian Warga
2. Pengorganisasian Sumber Daya dan Peluang
3. Mempertemukan Kelompok dengan Sumber Daya dan Peluang
4.
II. PEMB. INFRASTUKTUR BERBASIS MASYAKARAT SEBAGAI LANGKAH-LANGKAH PEMBERDAYAAN
MODEL KARITATIF
PENGEMBA NGAN KAPASITAS MASY DLM
POSISI MARJINAL (POWERLESS)
PENDAM PINGAN STANDAR
TEKNIS
PEMBER DAYAAN KETER GANTUNGAN
KEMAN DIRIAN JAMINAN HIDUP
KEBUTUHAN DASAR SBG. KORBAN
B.
USAHA
B. MAN
LINGK
FASUM/FASOS IRIGASI DESA JALAN/ J. DESA AIR MINUM SANITSI TPA DERMAGA
STIMULAN (BAHAN/
UANG)
.SEJAHTERA .LING SEHAT .PENGEB KUALITAS HIDUP
PENG PEMB.
INF.
TRI BINA/
DAYA
5.
III.MODEL2 PEMBANGUNAN PADAT KARYA
A.MODEL PEMBANGUNAN PARTISIPATIF
REMBUK DESA KA DESA
PENETAPAN JENIS SARPRAS
PPK/
APARAT DESA
POK /
LK TAPING /
FASILITATOR
MASY / NAKER
KEB BAHAN
KEB
ALAT JADWAL
KERJA
KONSTRUKSI FISIK / KEG.
LAPANGAN
6.
B.MODEL BANTUAN PADAT KARYA TUNAI
REMBUK DESA KA DESA
JENIS2 SARPRAS
POK MAS / KSM/DESA
TAPING / FASILITATOR PPK
KEB
BAHAN KEB
ALAT
JADWAL KERJA
KONSTRUKSI FISIK / KEG.
LAPANGAN
7.
IV. KOMPETENSI, TUGAS & FUNGSI FASKEL
TEKNIS KONSTRUKSI
1.
A.KOMPETENSI
1. NORMA-NORMA/STANDAR PEMBANGUNAN INFRASTUKTUR 2. PERENCANAAN-PELAKSANAAN
KONSTRUKIS FISK
3. TATA LINGKUNGAN / DAMPAK LINGKUNGAN
PSIKOLOGI SOSIAL
2.
1. SOSIAL BUDAYA MASY SETEMPAT 2. KOMUNIKASI
3. BERINTEGRASI DGN MASY
INTEGRITAS
3.
1. ETIKA MORAL
2. BUDAYA KERJA / ETOS KERJA 3. TANGGUNG JAWAB SOSIAL
PELATIHAN / PENDIDIKAN
PERSYARATAN DASAR
8.
B. LINGKUP TUGAS FASKEL/TAPING
LINGKUP TUGAS
PEMBERDAYAAN
PENDAMPINGAN
KOORDINASI
PENINGKATAN HARKAT, MARTABAT, PENGEMBANGAN DIRI, MEMULIHKAN
KEPERCAYAAN DIRI
PROSES PERENCANAAN,
PELAKSANAAN, PERTANGGUNG JAWAB FISIK, KEUANGAN,
PENYELESAIAN MASALAH
PEMUKA MASYARAKAT,
SEKTOR-SEKTOR LAIN, PEMDA (INTERN & EKSTERN)
9.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT berarti meningkatkan keberdayaan
masyarakat untuk meningkatkan harkat dan
martabat masyarakat
MENINGKATKAN KEBERDAYAAN MASYARAKAT berarti
meningkatkan kemampuan/kemandirian
masyakarat agar dapat bertahan, mengembangkan
diri dan mendapat kemajuan
10.
PENDAMPINGAN DAN KOORDINASI
MENDAMPINGI POKMAS DI SEMUA TAHAP bPeran dan partisoipasi tiap
anggota,kepatuhan thd.standar2 teknis konstr.
,waktu pelaks.dan efiiensi biaya KOMUNIKASI,KONSULTASI VERTIKAL,HORISONTAL
Antar anggota,antar Pokmas,Lurah/Camat/
Pemda dan Pihak luar
11.
C.FUNGSI T.PENDAMPING/FASKEL
Dalam pola kerja pembangunan “PARTISIPATIF”, ada tiga fungsi yang harus dipahami oleh FASKEL :
1. Fungsi PERTAMA adalah :
Fungsi
katalis pembangunan
danpengendalian
, diperankan olehpemerintah
FASKEL
dapat melaksanakan fungsi tersebut dalam kegiatanmendorong
dan
mempercepat proses
pembangunan dan
mengendalikan
secara adil
Fungsi ke dua adalah :
Fungsi Konsultan
pembangunan
, diperankan oleh swasta/profesional.FASKEL
dapat melaksanakan fungsi tersebut denganmenciptakan
inovasi
dalam memperkaya pembangunan, sehinggaharkat dan
martabat masyarakat bisa terangkat
2.
12.
FUNGSI KE TIGA
adalah :Fungsi Kader Pembangunan,
diperankan oleh masyarakat, tokoh masyarakat formal dan Informal, ataukader pembangunan.
FASKEL
dapat melaksanakan denganmenciptakan pembaharuan
ditingkat masyarakat untuk mendorong tumbuhnyamasyarakat yang mau, tahu dan mampu
dalam pembangunan 3.
13.
14.
15.
16.
17.
V. PERMASALAHAN DALAM IMPLEMENTASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
KETERPADUAN DI MASYARAKAT
PENDEKATAN SEKTOR
PROSEDURAL&
MEKANISME KELEMBAGAAN
KAKU
“SUBSTANSI”
PEMBERDAYAAN
TIM KOORDINASI LINTAS SEKTOR
PEMANFAATAN KELEMBAGAAN YG
ADA/MEMBUDAYA
PENYED.
MEKANISME DLM BATAS DIPER TANGGJAWABKAN
SISTEM PEMBANG.
NASONAL / DAERAH
• KESEGANAN INTERGRASI (P2KP, KKS, KKM) (PNPM- OBAT)
• KELEMBAGAAN BARU BELUM ADA “ROH”
(POKMAS, DLL)
• MEKANISME DIPA, POK, LK
• KELEMBAGAAN PPK, PJOK
• PENGAWASAN KETAT / KUHP
“IKUT SERTA”
PEDOMAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR
BERBASIS MASYARKAAT
A. SISTIM PEMBANGUNAN NAS. / DH
18
B. DIKTOMI VS SINERGI
RUMAH &
INFRASTRUKTUR SKALA LINGKUNGAN
FASILITASI DAN P. IKLIM
SOSEK
PASAR MASYARAKAT
PEDOMAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR
BERBASIS MASYARAKAT
Pengaturan UU 6/2014 UU SEKTOR
24/2007 Pemberdayaan
LEMAH
KUAT
TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH PASAL 33, 27, 34
UUD 45 PERAN
PEMERINTAH (DIARTIKAN MENGURANGI
PERAN PEMERINTAH
PENANGANAN MASALAH SOSIAL
TG. JAWAB KEBUTUHAN DASAR
MELLINDUNGI MASYARAKAT DARI
DOMINASI PASAR
- Penetrasi semua aspek kehidupan - Bisa berpihak pada pasar
Dominasi Pasar
19.
C. PARADOK
KARIKATIF
“IKAN”
KEMANDIRIAN (KESEJAHTERA AN “SEJATI”)
PEDOMAN PEMBANGUNAN
BERBASIS MASYARAKAT
PENGEMBANGAN KAPASITAS
“KAIL”
DALIH “GOOD GOVERMENCE - EFISIEN - PRAKTIS - SHEDULING
PENYERAGAMAN (UNIFORMITY)
- KEANEKARAGAMAN SOSIAL BUDAYA - BERBAGAI KEARIFAN
LOKAL EFISIENSI
NON EFISIENSI
1. TANGGAP DARURAT 2. KEBUTUHAN DASAR
1. KESIAPSIAGAAN & MIGIGASI 2. REHABILITASI & REKONSTRUKSI
BANTUAN LANGSUNG
“TERBATAS”
PROSES
20.
VI. ETIKA DAN MORAL TENAGA PENDAMPING
ETIKA ETHOS (YUNANI)
ETIQUETTE (PERANCIS)
KEBIASAAN/ WATAK
KEBIASAAN/ CARA BERGAUL BATASAN-BATASAN
NILAI NORMATIF
MANUSIA MASYARAKAT,
LINGKUNGAN
MORAL
INTERAKSI
MOS (LATIN) MORES CARA HIDUP KEBIASAAN
NILAI – NILAI TERTENTU
BAIK BURUK
PATUT DILAKUKAN TIDAK PATUT DILAKUKAN
21.
ETIKA MORAL
1. Cabang filsafat, tentang nilai-nilai yang dianut manusia dalam hubungan dengan manusia
2. Sistim nilai (baik dan buruk) bagi manusai dan lingkungan
1. Penekanan pada sifat-siafat / karakter individu 2. Diluar ketaatan pada peraturan-peraturan /
hukum
PRINSIP – PRINSIP ETIKA
KEINDAHAN/BEAUTY
PERSAMAAN/EQUALITY
KEBAIKAN/GOODNESS
KEADILAN/JUSTICE
KEBEBASAN/LIBERTY
KEBENARAN/TRUTH
22.
ETIKA PEMBINA DAN T.PENDAMPING/FASILITATOR
UU 2/2017 PP4,29,30/
6OOD GOV.
PENGERTIAN
KEWAJIBAN DAN
LARANGAN
PRINSIP2 ETIKA DAN
MORAL
ETIK &
PERILAKU PROFESI
TUJUAN
NORMA-NORMA TENTANG :
1. Pedoman/Sikap/
Perbuatan
2. Pertanggung Jawaban 3. Dalam Pelaksanaan
Tugas
Pembin.Pendamp.
4. Dalam Masyarakat dan Org, Pergaulan, di lingk.masy.perdesaan
1. Sebagai Arah dan Ped.
Pembin. /Pendampingan 2. Martabat/ Kehormatan /
Citra Fas dan Pamong 3. Pembinaan karakter /
watak 4. Jiwa Korsa