• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN PEMBINAAN KOMPETENSI TENAGA KERJA KONSTRUKSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KEBIJAKAN PEMBINAAN KOMPETENSI TENAGA KERJA KONSTRUKSI"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

Kamis, 27 Januari 2022 Dr. Dedy Natrifahrizal

KEBIJAKAN PEMBINAAN KOMPETENSI TENAGA

KERJA KONSTRUKSI

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT DIREKTORAT JENDERAL BINA KONSTRUKSI

DIREKTORAT KOMPETENSI DAN PRODUKTIVITAS KONSTRUKSI

(2)

PENGATURAN PEMBINAAN TENAGA KERJA KONSTRUKSI INDONESIA

03

ARAH KEBIJAKAN PEMERINTAH

01

KONDISI EKSISTING TENAGA KERJA KONSTRUKSI INDONESIA

02

04

O U T L IN E

PENINGKATAN KOMPETENSI TENAGA

PENDAMPING INFRASTRUKTUR BERBASIS

MASYARAKAT

(3)

01

ARAH KEBIJAKAN

PEMERINTAH

(4)

Pembangunan Sumber Daya Manusia

Penyerdehanaan Regulasi

Transformasi Ekonomi Reformasi Birokrasi

Mempercepat dan Melanjutkan Pembangunan Infrastruktur

3 2 1

4 5

Membangun SDM pekerja keras yang dinamis, produktif, terampil, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi didukung dengan kerjasama industri dan talenta global.

Melanjutkan pembangunan infrastruktur untuk menghubungkan kawasan produksi dengan kawasan distribusi, mempermudah akses ke kawasan wisata, mendongkrak lapangan kerja baru, dan mempercepat peningkatan nilai tambah perekonomian rakyat

Menyederhanakan segala bentuk regulasi dengan pendekatan Omnibus Law, terutama menerbitkan 2 undang- undang. Pertama, UU Cipta Lapangan Kerja. Kedua, UU Pemberdayaan UMKM

Memprioritaskan investasi untuk penciptaan lapangan kerja, memangkas prosedur dan birokrasi yang panjang, dan menyederhanakan eselonisasi.

Melakukan transformasi ekonomi dari ketergantungan SDA menjadi daya saing manufaktur dan jasa modern yang mempunyai nilai tambah tinggi bagi kemakmuran bangsa demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Arah Kebijakan Pemerintah 2020-2024

(5)

Program Pembangunan Infrastruktur Kementerian PUPR Tahun 2020-2024

Sumber Daya Air Konektivitas Permukiman Perumahan

58,5 m3/kapita/tahun Peningkatan kapasitas daya

tampung

61 Unit Bendungan

500 Unit Pembangunan Embung

500.000 Ha Pembangunan Daerah Irigasi

2.000.000 Ha Rehabilitasi Jaringan Irigasi

50 m3/detik Ketersediaan Air Baku

2.100 Km Ketersediaan Air Baku

2.500 Km Pembangunan Jalan Tol

3.000 Km Pembangunan Jalan Baru

38.328 m Pembangunan Jembatan

31.053 m Pembangunan Fly Over/

Underpass

51.340 Unit Rumah Susun

10.000 Unit Rumah Khusus

262.345 Unit PSU Perumahan

813.660 Unit Rumah Swadaya 100%

Akses Air Minum Layak, 30% Jaringan Perpipaam

90%

Akses Sanitasi Layak, 15% Termasuk Aman

10.000 Ha Penanganan Permukiman

Kumuh

100%

Hunian Dengan Akses Sampah Terkelola Baik di

Perkotaan

5.555 Unit

Pembangunan & Rehabilitasi Sarana Prasarana Pendidikan, Olahraga, dan

Pasar

Sumber : Rencana Strategis Kementerian PUPR, 2020-2024

(6)

Program Infrastruktur Berbasis Masyarakat Kementerian PUPR

• Preservasi Jalan

• Preservasi Jembatan

• Revitalisasi Drainase

Rp. 4,85 T

• P3TGAI

• Pembuatan ABSAH

• OP Air Tanah & Baku

• OP Irigasi & Rawa

• OP Sungai & Pantai

• OP Bendungan, Danau, Situ & Embung

Rp. 4,50 T

• Bantuan Stimulan Perumahan

Swadaya (BSPS)

• Rumah Khusus

Rp. 2,45 T

• Pamsimas

• Sanimas

• TPS 3R

• Sanitasi Pendidikan Keagamaan

• PISEW

• KOTAKU Sumber Daya Air Jalan & Jembatan

Rp. 2,11 T

Perumahan Permukiman

Padat Karya Tunai Kementerian PUPR Tahun 2022

13,91 Triliun

(7)

KONDISI EKSISTING TENAGA KERJA KONSTRUKSI

INDONESIA

02

(8)

Sumber :

Survei Angkatan Kerja Nasional, 2021

Jumlah Angkatan Kerja di Sektor Konstruksi

(9)

Jumlah Angkatan Kerja di Sektor Konstruksi

Jenjang Pendidikan

Jumlah Angkatan Kerja Konstruksi

(dalam orang)

Jumlah Angkatan Kerja Konstruksi

(dalam %)

<= SD 756.812 9,1%

SD 2.905.652 35,0%

SMP 2.054.047 24,8%

SMA & SMK 2.186.330 26,4%

Diploma I/II/III 83.531 1,0%

Universitas 307.397 3,7%

Jumlah 8.293.769 100,0%

Jumlah Angkatan Kerja Sektor Konstruksi Berdasarkan Jenjang Pendidikan

Sumber : Survei Angkatan Kerja Nasional, dalam buku Konstruksi Dalam Angka, 2021, rilis 31 Desember 2021

756,812

2,905,652

2,054,047 2,186,330

83,531

307,397

Tidak Tamat SD

SD atau sederajat

SMP atau sederajat

SMU atau sederajat

Diploma I/II/III

Universitas

Jumlah Angkatan Kerja di Sektor Konstruksi

(10)

Tenaga Ahli; 25%

Tenaga Terampil, 75%

Jumlah Tenaga Kerja Konstruksi Bersertifikat Berdasarkan Jenjang Kualifikasi

tenaga terampil sebanyak 563.932 orang

tenaga ahli

sebanyak 185.309

orang

Kelas I,

417,098 Kelas II,

113,828 Kelas III,

245,603

Jumlah Kepemilikan Sertifikat Keterampilan

Muda, 119,624

Madya, 154,895

Utama, 16,500

Jumlah Kepemilikan Sertifikat Keahlian

Jumlah tenaga kerja konstruksi bersertifikat = 749.241 orang Jumlah kepemilikan sertifikat kompetensi : 1.067.548 Sertifikat

Sumber : Dashboard Tenaga Kerja Konstruksi, https://binakonstruksi.pu.go.id/

dashboard-tenaga-ahli/ akses tanggal 17 Januari 2022

Jumlah Angkatan Kerja di Sektor Konstruksi

(11)

Kebutuhan Tenaga Kerja Sektor Konstruksi Nasional

Alokasi Anggaran Infrastruktur Nasional

Tahun 2022=

384,8 Trilliun

*)

*) sumber : Kompas, 16 Agustus 2021

Penggunaan alokasi anggaran :

1. Infrstruktur Pelayanan dasar (rumah khusus, rumah susun, air minum, dan air limbah)

2. Infrastruktur energi dan pangan (jaringan irigasi dan jaringan gas)

3. Infrastruktur konektivitas dan mobilitas (pembangunan jalan baru, pembangunan

jembatan baru, tol Trans Sumatera, jalur kereta api, dan bandara baru)

4. Infrastruktur dan Akses TIK (penyediaan kapasitas jaringan internet dan BTS)

Kebutuhan Tenaga kerja konstruksi untuk 1 Triliun =

14.000 TKK

**)

Kebutuhan TKK untuk pemenuhan infrastruktur nasional =

5.837.200 TKK Bersertifikat

*) Pusat Kajian Strategis

(12)

PENGATURAN PEMBINAAN

TENAGA KERJA KONSTRUKSI

03

(13)

UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2017

UNDANG- UNDANG

JASA KONSTRUKSI

NOMOR 2 TAHUN 2017

Pasal 99 Ayat 2

Setiap Pengguna Jasa dan/atau

penyedia Jasa yang mempekerjakan tenaga kerja konstruksi yang tidak memiliki sertifikat Kompetensi Kerja sebagai-mana dimaksud dalam pasal 70 ayat (2) dikenakan sanksi administratif berupa: denda administratif,

penghentian sementara kegiatan Layanan Jasa Konstruksi.

Pasal 70 Ayat 1 Setiap Tenaga Kerja yang berkerja di Bidang Jasa Konstruksi

wajib memiliki Sertifikat Kompetensi Kerja

Pasal 99 Ayat 1 Setiap tenaga kerja konstruksi

yang bekerja di bidang Jasa Konstruksi tidak memiliki sertifikat

Kompetensi Kerja sebagaimana dimaksud dalam pasal 70 ayat (1) dikenai sanksi administratif berupa pemberhentian dari tempat kerja.

Pasal 70 Ayat 2

Setiap Pengguna Jasa dan/atau Penyedia Jasa wajib

mempekerjakan tenaga kerja

konstruksi yang memiliki Sertifikat Kompetensi Kerja

Kewajiban

Sanksi

(14)

TRANSFORMASI FUNGSI LPJK

TERKAIT TENAGA KERJA KONSTRUKSI

DULU SEKARANG

Sertifikasi Tenaga Kerja Konstruksi

Registrasi SKA & SKTK

A K R E D IT A S I

Akreditasi bagi Asosiasi Profesi

S E R T IF IK A S I

Pemberian Rekomendasi Lisensi LSP Membentuk LSP atau PTUK untuk melaksanakan sertifikasi

kompetensi kerja yang belum dapat dilakukan oleh LSP yang dibentuk oleh Asosiasi Profesi/LPPK

P E N C A T A TA N

Pencatatan LSP terlisensi

Pencatatan Tenaga Kerja Konstruksi

Pencatatan Pengalaman Profesional TKK

PENYETARAAN TENAGA KERJA ASING

(15)

PELAKSANASERTIFIKASI

Dilaksanakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP)

DURASILAYANAN

Pemberian Rekomendasi Lisensi LSP paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah berkas lengkap.

Lisensi LSP paling lambat 60 (enam puluh) hari kerja sejak rekomendasi Lisensi diterima dan berkas permohonan lengkap diterima.

INTEGRASISISTEM

Pelayanan Rekomendasi Lisensi dan Sertifikasi TKK di bidang Jasa Konstruksi pada 1 (satu) Big Data yaitu SIJK

terintegrasi

KEPEMILIKANSERTIFIKAT

Diharapkan pelaksanaan sertifikasi dapat dilakukan dengan lebih cepat dan efektif

Integrasi sistem juga akan dilakukan dengan OSS dan BNSP

Mendorong

kepemilikan sertifikat yang mengarah kepada TKK yang lebih spesialis (begitu juga dengan jabatan kerjanya) Maksimal 5 SKK pada klasifikasi bidang keilmuan Jasa Konstruksi untuk kualifikasi Ahli.

TRANSFORMASI PELAKSANAAN SERTIFIKASI

KOMPETENSI KERJA KONSTRUKSI

(16)

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 14 TAHUN 2021

klasifikasi Tenaga Kerja Konstruksi :

Pasal 28C

Arsitektur

Sipil

Mekanikal

Tata Lingkungan

Arsitektur Lanskap, Iluminasi & Desain Interior

Perencanaan Wilayah & Kota

Sains & Rekayasa Teknik

Manajemen Pelaksanaan

1 2

3 4

5 6

7

8

Penetapan klasifikasi TKK pada kualifikasi jabatan operator, teknisi/analis, dan ahli berdasarkan 8 Bidang Keilmuan yang terkait Jasa Konstruksi,

meliputi:

Subklasifikasi dan kualifikasi tenaga

kerja konstruksi tercantum dalam

Lampiran PP 14 Tahun 2021

(17)

SUBKLASIFIKASI TENAGA KERJA KONSTRUKSI

(18)

KUALIFIKASI TENAGA KERJA KONSTRUKSI

Jenjang Berdasar KKNI Perpres 8 Tahun 2012

Sumber : Lampiran Peraturan Pemerintah No 14 Tahun 2021

(19)

KEPEMILIKAN SERTIFIKAT KOMPETENSI KERJA

Paling banyak 5 SKK

Konstruksi pada 3 Klasifikasi yang berbeda. Kemudian Sertifikat untuk jabatan operator paling banyak

untuk 5 SKK Konstruksi pada 3 klasifikasi yang berbeda dalam 5 subklasifikasi

K U A L I F I K A S I O P E R A T O R

K U A L I F I K A S I T E K N I S I / A N A L I S

K U A L I F I K A S I A H L I

Paling banyak 5 SKK

Konstruksi pada 2 Klasifikasi yang berbeda. Kemudian Sertifikat untuk jabatan teknisi/ analis paling banyak untuk 5 SKK Konstruksi pada 2 Klasifikasi yang berbeda dalam 5 subklasifikasi.

Pasal 28D

1.

Paling banyak 5 SKK Konstruksi pada 2 Klasifikasi yang salah satunya merupakan manajemen pelaksanaan

2.

Klasifikasi yang dimaksud pada angka 1 hanya boleh paling banyak untuk 3 subklasifikasi dalam 1 Klasifikasi yang sama

3.

Klasifikasi manajemen pelaksanaan hanya boleh paling banyak 2 subklasifikasi dalam 1 Klasifikasi yang sama

Masa berlaku

SKK: 5 tahun

(20)

PEMBERIAN KOMPETENSI TAMBAHAN DAN SERTIFIKASI KOMPETENSI

SURAT EDARAN DIRJEN BINA KONSTRUKSI NOMOR 129/SE/Dk/2020

Tentang

PEMBERIAN KOMPETENSI TAMBAHAN DAN SERTIFIKASI KOMPETENSI BAGI

LULUSAN DAN CALON LULUSAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK), POLITEKNIK DAN/ATAU PERGURUAN TINGGI

BIDANG KONSTRUKSI

Tujuan Maksud

Pemberian

kompetensi tambahan bagi lulusan dan calon

lulusan vokasi dan perguruan tinggi bidang jasa konstruksi

sebelum dilakukan Uji Kompetensi /

Sertifikasi

Keselarasan kompetensi yang

dibutuhkan oleh industri konstruksi

dengan

kompetensi lulusan vokasi dan perguruan tinggi

bidang

jasa konstruksi

(21)

PEMBERIAN KOMPETENSI TAMBAHAN DAN SERTIFIKASI KOMPETENSI

INSTRUK TUR

SASARAN KOMPETENSI TAMBAHAN PELAKSANA

UPT yg mempunyai tugas melakukan pemberdayaan dan pengawasan bidang pembinaan jasa konstruksi

Lulusan dan calon lulusan SMK, politeknik dan/atau perguruan tinggi bidang jasa konstruksi

a. Tenaga pengajar SMK, politeknik dan/atau perguruan tinggi bidang jasa konstruksi yang telah

mengikuti pembekalan, dan b. Ditetapkan sebagai instruktur

pemberian kompetensi tambahan oleh UPT

a. Bagi lulusan dan calon lulusan SMK Bidang konstruksi : 12 JPL b. Bagi lulusan dan calon lulusan Politeknik bidang konstruksi : 24 JPL

c. Bagi lulusan dan calon lulusan Perguruan Tinggi bidang

konstruksi : 32 JPL

(22)

Balai Jasa Konstruksi Wilayah

Tenaga Pengajar Vokasi & Pendidikan Tinggi Training of Trainer

Sekolah Menengah Vokasi 12 Jam Pelajaran

Politeknik 24 Jam Pelajaran

Perguruan Tinggi 32 Jam Pelajaran Sosialisasi

SertifikatKeterampilan 3 tahun

Sertifikat Keterampilan 3 tahun

Sertifikat Keahlian 1 tahun

Pemberian Kompetensi Tambahan

MEKANISME PEMBERIAN KOMPETENSI TAMBAHAN

(23)

PENINGKATAN

KOMPETENSI TENAGA PENDAMPING

INFRASTRUKTUR

04

(24)

Kebijakan Peningkatan Kompetensi SDM Konstruksi

Peningkatan jumlah tenaga kerja konstruksi yang bersertifikat

dengan meningkatkan

dukungan pelatihan/uji sertifikasi tenaga

kerja konstruksi

Peningkatan kecukupan

dan kesesuaian

SKKNI bidang konstruksi

Peningkatan kecukupan dan

kesesuaian materi/modul

bidang konstruksi

Peningkatan kecukupan

asesor kompetensi

konstruksi

Peningkatan kecukupan

instruktur bidang konstruksi Peningkatan kualitas dan kuantitas kompetensi SDM kontruksi

Arah Kebijakan

Sumber: Renstra DJBK 2020-2024

(25)

POTRET JUMLAH INSTRUKTUR DAN ASESOR

A

I 285 orang 358 orang

I 560 orang A 227 orang

I

A

180 orang 483 orang

113 orang 699 orang

I A

I 444 orang A 360 orang

I 40 orang A 135 orang Wilayah I

Wilayah II

Wilayah IV Aceh, Sumut, Sumbar,

Kepri, Riau

Sumsel, Bengkulu, Babel, Jambi, Lampung

Wilayah III Banten, DKI, Jabar

Jateng, DIY, Jatim,

Bali, NTB, NTT Wilayah V

Kalbar, Kalteng, Kaltim, Kalsel, Kaltara

Wilayah VII

Maluku, Malut, Papua, Papua Barat

Wilayah VI

Sulut, Gorontalo, Sulteng, Sulbar, Sultra, Sulsel

I Instruktur --- total 2.091 orang

A Assesor --- total 2.483 orang

I 469 orang A 221 orang

Sumber : Rekapitulasi Data BJKW, update 18 Januari 2022

Sumber : SK Ketua LPJK No 18/KPTS/LPJK/VII/2021, tanggal 14 Juli 2021

(26)

Pembinaan Kompetensi Tenaga Fasilitator

Penyusunan SKKNI untuk tenaga pengawas atau pelaksana pada jenjang teknisi / analis

Penyusunan Materi Pelatihan

Berbasis Kompetensi untuk tenaga pengawas dan pelaksana

Refreshment / Bimbingan Teknis untuk tenaga fasilitator

Pelaksanaan Training of Trainer bagi tenaga fasilitator sebagai dasar untuk mentransfer knowledge kepada tukang

Pelaksanaan Refreshment Asesor KompetensiTenaga Kerja Konstruksi Pelaksanaan Uji Kompetensi dan

Sertifikasi bagi tenaga fasilitator

untuk jenjang teknisi dan analis

(27)

Sinergi Pembinaan Tenaga Fasilitator

Penyedia Jasa / Badan Usaha Jasa Konstruksi

Asosiasi Profesi Lembaga

Pendidikan dan Pelatihan

Lembaga Sertifikasi Profesi

Kementerian PUPR

Kementerian /

Lembaga Lainnya

(28)

TERIMA KASIH

(29)

TUGAS DAN FUNGSI TENAGA PENDAMPING/FASILITATOR

DALAM

PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BERBASIS MASYARAKAT

WEBINAR 27 JANUARI 2022

(30)

I.PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BERBASIS MASYARAKAT

MASYARAKAT (INDIVIDU / KELOMPOK)

PENDEKATAN PEMBANGUNAN (INFRASTRUKTUR

)

MENEMPATKAN

PENENTU

PELAKU UTAMA

SELURUH PENGAMBILAN

KEPUTUSAN

KEHENDAK / KESEPAKATAN

PRINSIP : AKKU

ASPIRASI MASYARAKAT KEPENTINGAN MASYARAKAT KEMAMPUAN MASYARAKAT UPAYA BERSAMA

A K K U

1.

A.PENGERTIAN

(31)

B.ASAS-ASAS CBID = 5

ASAS

SOLIDARITAS

ASAS

SOLIDARITAS ASAS

SOLIDARITAS

ASAS

PARTISIPATIF

ASAS

KEMITRAAN

ASAS

KEMAMPUAN PEMBERDAYA.

ASAS

PEMERATAAN

ANTARA ANGGOTA MASYRAKAT

ANTARA MASYARAKAT DENGAN PERILAKU PEMB. LAINNYA

DIJALANKAN SECARA AKTIF DAN NYATA

INTERAKSI YANG SETARA DAN SEJAJAR TERBENTUK SISTIM KEKERABATAN

DUKUNGAN PELAKU LAIN DAN FASILITAS PENCIPTAAN AKSES KE SUMBER DAYA LAIN

KESEMPATAN DAN PELUANG YANG MERATA

2.

(32)

C. PENDEKATAN :

PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BERBASIS PEMBERDAYAAN MASY.

(Community Based Infrastructure Development / CBID )

MENUJU

KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

KEARIFAN LOKAL

PEMBERDAYAAN MENUJU

KEMANDIRIAN

PEMBENTUKAN POKMAS

ASAS MUSYAWARAH DAN

GOTONGROYONG PENYIAPAN

INFRASTRUKTUR LINGKUNGAN PERMUKIMAN

STIMULASI DAN PENDAMPINGAN TEKNIS/ADM/KEU APARAT

PEMDA/

DINAS PU / FASILITATOR

PENDAMPING TEKNIS,

SOSIAL

BANTUAN DANA / STIMULAN

LINGKUNGAN SEHAT, AMAN & NYAMAN

3.

(33)

D.PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR LINGKUNGAN BERTUMPU PADA KELOMPOK

MENGAPA MELALUI KELOMPOK ?

POLA DASAR

1. Berbasis Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Indonesia (Gotong Royong, Guyub, Sintuwu Maroso, Kitorang Basudara, Basamo, Dll)

2. Nonformal Formal Memiliki Akses

* Keterbatasan Akses Sumber-sumber daya 3. Penjabaran Amanat UU6/2014 tentang Desa

(Pasal 78: Penataan (Pembangunan) mengedepankan Kebersamaan dan Gotong royong

pasal 80:mengkut sertakan masy.,pasal 81 :melibatkan masy.Desa,pasal 83 pemb.infrastruktur pengembangan Teknologi Tepat Guna.

1. Pengorganisasian Warga

2. Pengorganisasian Sumber Daya dan Peluang

3. Mempertemukan Kelompok dengan Sumber Daya dan Peluang

4.

(34)

II. PEMB. INFRASTUKTUR BERBASIS MASYAKARAT SEBAGAI LANGKAH-LANGKAH PEMBERDAYAAN

MODEL KARITATIF

PENGEMBA NGAN KAPASITAS MASY DLM

POSISI MARJINAL (POWERLESS)

PENDAM PINGAN STANDAR

TEKNIS

PEMBER DAYAAN KETER GANTUNGAN

KEMAN DIRIAN JAMINAN HIDUP

KEBUTUHAN DASAR SBG. KORBAN

B.

USAHA

B. MAN

LINGK

FASUM/FASOS IRIGASI DESA JALAN/ J. DESA AIR MINUM SANITSI TPA DERMAGA

STIMULAN (BAHAN/

UANG)

.SEJAHTERA .LING SEHAT .PENGEB KUALITAS HIDUP

PENG PEMB.

INF.

TRI BINA/

DAYA

5.

(35)

III.MODEL2 PEMBANGUNAN PADAT KARYA

A.MODEL PEMBANGUNAN PARTISIPATIF

REMBUK DESA KA DESA

PENETAPAN JENIS SARPRAS

PPK/

APARAT DESA

POK /

LK TAPING /

FASILITATOR

MASY / NAKER

KEB BAHAN

KEB

ALAT JADWAL

KERJA

KONSTRUKSI FISIK / KEG.

LAPANGAN

6.

(36)

B.MODEL BANTUAN PADAT KARYA TUNAI

REMBUK DESA KA DESA

JENIS2 SARPRAS

POK MAS / KSM/DESA

TAPING / FASILITATOR PPK

KEB

BAHAN KEB

ALAT

JADWAL KERJA

KONSTRUKSI FISIK / KEG.

LAPANGAN

7.

(37)

IV. KOMPETENSI, TUGAS & FUNGSI FASKEL

TEKNIS KONSTRUKSI

1.

A.KOMPETENSI

1. NORMA-NORMA/STANDAR PEMBANGUNAN INFRASTUKTUR 2. PERENCANAAN-PELAKSANAAN

KONSTRUKIS FISK

3. TATA LINGKUNGAN / DAMPAK LINGKUNGAN

PSIKOLOGI SOSIAL

2.

1. SOSIAL BUDAYA MASY SETEMPAT 2. KOMUNIKASI

3. BERINTEGRASI DGN MASY

INTEGRITAS

3.

1. ETIKA MORAL

2. BUDAYA KERJA / ETOS KERJA 3. TANGGUNG JAWAB SOSIAL

PELATIHAN / PENDIDIKAN

PERSYARATAN DASAR

8.

(38)

B. LINGKUP TUGAS FASKEL/TAPING

LINGKUP TUGAS

PEMBERDAYAAN

PENDAMPINGAN

KOORDINASI

PENINGKATAN HARKAT, MARTABAT, PENGEMBANGAN DIRI, MEMULIHKAN

KEPERCAYAAN DIRI

PROSES PERENCANAAN,

PELAKSANAAN, PERTANGGUNG JAWAB FISIK, KEUANGAN,

PENYELESAIAN MASALAH

PEMUKA MASYARAKAT,

SEKTOR-SEKTOR LAIN, PEMDA (INTERN & EKSTERN)

9.

(39)

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT berarti meningkatkan keberdayaan

masyarakat untuk meningkatkan harkat dan

martabat masyarakat

MENINGKATKAN KEBERDAYAAN MASYARAKAT berarti

meningkatkan kemampuan/kemandirian

masyakarat agar dapat bertahan, mengembangkan

diri dan mendapat kemajuan

10.

(40)

PENDAMPINGAN DAN KOORDINASI

MENDAMPINGI POKMAS DI SEMUA TAHAP bPeran dan partisoipasi tiap

anggota,kepatuhan thd.standar2 teknis konstr.

,waktu pelaks.dan efiiensi biaya KOMUNIKASI,KONSULTASI VERTIKAL,HORISONTAL

Antar anggota,antar Pokmas,Lurah/Camat/

Pemda dan Pihak luar

11.

(41)

C.FUNGSI T.PENDAMPING/FASKEL

Dalam pola kerja pembangunan “PARTISIPATIF”, ada tiga fungsi yang harus dipahami oleh FASKEL :

1. Fungsi PERTAMA adalah :

Fungsi

katalis pembangunan

dan

pengendalian

, diperankan oleh

pemerintah

FASKEL

dapat melaksanakan fungsi tersebut dalam kegiatan

mendorong

dan

mempercepat proses

pembangunan dan

mengendalikan

secara adil

Fungsi ke dua adalah :

Fungsi Konsultan

pembangunan

, diperankan oleh swasta/profesional.

FASKEL

dapat melaksanakan fungsi tersebut dengan

menciptakan

inovasi

dalam memperkaya pembangunan, sehingga

harkat dan

martabat masyarakat bisa terangkat

2.

12.

(42)

FUNGSI KE TIGA

adalah :

Fungsi Kader Pembangunan,

diperankan oleh masyarakat, tokoh masyarakat formal dan Informal, atau

kader pembangunan.

FASKEL

dapat melaksanakan dengan

menciptakan pembaharuan

ditingkat masyarakat untuk mendorong tumbuhnya

masyarakat yang mau, tahu dan mampu

dalam pembangunan 3.

13.

(43)

14.

(44)

15.

(45)

16.

(46)

17.

(47)

V. PERMASALAHAN DALAM IMPLEMENTASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

KETERPADUAN DI MASYARAKAT

PENDEKATAN SEKTOR

PROSEDURAL&

MEKANISME KELEMBAGAAN

KAKU

“SUBSTANSI”

PEMBERDAYAAN

TIM KOORDINASI LINTAS SEKTOR

PEMANFAATAN KELEMBAGAAN YG

ADA/MEMBUDAYA

PENYED.

MEKANISME DLM BATAS DIPER TANGGJAWABKAN

SISTEM PEMBANG.

NASONAL / DAERAH

• KESEGANAN INTERGRASI (P2KP, KKS, KKM) (PNPM- OBAT)

• KELEMBAGAAN BARU BELUM ADA “ROH”

(POKMAS, DLL)

• MEKANISME DIPA, POK, LK

• KELEMBAGAAN PPK, PJOK

• PENGAWASAN KETAT / KUHP

“IKUT SERTA”

PEDOMAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR

BERBASIS MASYARKAAT

A. SISTIM PEMBANGUNAN NAS. / DH

18

(48)

B. DIKTOMI VS SINERGI

RUMAH &

INFRASTRUKTUR SKALA LINGKUNGAN

FASILITASI DAN P. IKLIM

SOSEK

PASAR MASYARAKAT

PEDOMAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR

BERBASIS MASYARAKAT

Pengaturan UU 6/2014 UU SEKTOR

24/2007 Pemberdayaan

LEMAH

KUAT

TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH PASAL 33, 27, 34

UUD 45 PERAN

PEMERINTAH (DIARTIKAN MENGURANGI

PERAN PEMERINTAH

PENANGANAN MASALAH SOSIAL

TG. JAWAB KEBUTUHAN DASAR

MELLINDUNGI MASYARAKAT DARI

DOMINASI PASAR

- Penetrasi semua aspek kehidupan - Bisa berpihak pada pasar

Dominasi Pasar

19.

(49)

C. PARADOK

KARIKATIF

“IKAN”

KEMANDIRIAN (KESEJAHTERA AN “SEJATI”)

PEDOMAN PEMBANGUNAN

BERBASIS MASYARAKAT

PENGEMBANGAN KAPASITAS

“KAIL”

DALIH “GOOD GOVERMENCE - EFISIEN - PRAKTIS - SHEDULING

PENYERAGAMAN (UNIFORMITY)

- KEANEKARAGAMAN SOSIAL BUDAYA - BERBAGAI KEARIFAN

LOKAL EFISIENSI

NON EFISIENSI

1. TANGGAP DARURAT 2. KEBUTUHAN DASAR

1. KESIAPSIAGAAN & MIGIGASI 2. REHABILITASI & REKONSTRUKSI

BANTUAN LANGSUNG

“TERBATAS”

PROSES

20.

(50)

VI. ETIKA DAN MORAL TENAGA PENDAMPING

ETIKA ETHOS (YUNANI)

ETIQUETTE (PERANCIS)

KEBIASAAN/ WATAK

KEBIASAAN/ CARA BERGAUL BATASAN-BATASAN

NILAI NORMATIF

MANUSIA MASYARAKAT,

LINGKUNGAN

MORAL

INTERAKSI

MOS (LATIN) MORES CARA HIDUP KEBIASAAN

NILAI – NILAI TERTENTU

BAIK BURUK

PATUT DILAKUKAN TIDAK PATUT DILAKUKAN

21.

(51)

ETIKA MORAL

1. Cabang filsafat, tentang nilai-nilai yang dianut manusia dalam hubungan dengan manusia

2. Sistim nilai (baik dan buruk) bagi manusai dan lingkungan

1. Penekanan pada sifat-siafat / karakter individu 2. Diluar ketaatan pada peraturan-peraturan /

hukum

PRINSIP – PRINSIP ETIKA

KEINDAHAN/BEAUTY

PERSAMAAN/EQUALITY

KEBAIKAN/GOODNESS

KEADILAN/JUSTICE

KEBEBASAN/LIBERTY

KEBENARAN/TRUTH

22.

(52)

ETIKA PEMBINA DAN T.PENDAMPING/FASILITATOR

UU 2/2017 PP4,29,30/

6OOD GOV.

PENGERTIAN

KEWAJIBAN DAN

LARANGAN

PRINSIP2 ETIKA DAN

MORAL

ETIK &

PERILAKU PROFESI

TUJUAN

NORMA-NORMA TENTANG :

1. Pedoman/Sikap/

Perbuatan

2. Pertanggung Jawaban 3. Dalam Pelaksanaan

Tugas

Pembin.Pendamp.

4. Dalam Masyarakat dan Org, Pergaulan, di lingk.masy.perdesaan

1. Sebagai Arah dan Ped.

Pembin. /Pendampingan 2. Martabat/ Kehormatan /

Citra Fas dan Pamong 3. Pembinaan karakter /

watak 4. Jiwa Korsa

23.

(53)

DPN ASTAKI

Referensi

Dokumen terkait

Betonmerupakan salah satu bahan struktur yang banyak digunakan dalam bidangkonstruksi, karena beton banyak mempunyai keuntungan antara lain kuat tekan tinggi dan

Pemodelan tiga dimensi model produk berbasis feature ini diharapkan mampu mewakili bentuk produk yang akan dibuat sehingga dapat digunakan untuk mempermudah kegiatan perancangan

Pada era globalisasi ini kita terus semakin dimudahkan dalam berkomunikasi. Secara tidak langsung media sosial sebagai new media 1 membantu kita dalam berkomunikasi.

Pada hari ini Selasa tanggal Dua Puluh Lima bulan Agustus Tahun Dua Ribu Lima Belas, kami selaku Pokja Barang Pekerjaan Pengelolaan Belanja Bantuan Sosial Unit Layanan Pengadaan

29. menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan tentang jasa konstruksi kepada tenaga kerja konstruksi dalam rangka pembinaan tenaga kerja konstruksi;.. memfasilitasi

klik tombol insert data Nama malam dan jumlah malam untuk membatik Pada tabel halaman inventori bahan malam akan tampil nama dan jumlah malam yang sudah ditambahkan

(1) Akuntan dan/atau Kantor Jasa Akuntansi yang melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) dikenakan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal

Diantara produk populer pada Perbankan Syariah yang tidak ada di bank konvensional yaitu Ijarah dan Ijarah Muntahia Bit-Tamlik (IMBT), dalam hal ini penulis menemukan bahwa akad