• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Habitual Curriculum (HC) dalam Pembinaan Akhlak Karimah Peserta Didik di MTs Pembangunan UIN Jakarta Tahun Pelajaran 2019/2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Implementasi Habitual Curriculum (HC) dalam Pembinaan Akhlak Karimah Peserta Didik di MTs Pembangunan UIN Jakarta Tahun Pelajaran 2019/2020"

Copied!
158
0
0

Teks penuh

(1)

Implementasi Habitual Curriculum (HC) dalam Pembinaan Akhlak Karimah Peserta Didik di MTs Pembangunan UIN

Jakarta Tahun Pelajaran 2019/2020

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Disusun Oleh:

HILMA AYUNINA NIM. 11160110000010

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2020

(2)

Saya yang bertanda tangan dibawah ini,

Nama : Hilma Ayunina

Tempat/Tgl.Lahir : Indramayu, 03 Mei 1998

NIM : 11160110000010

Jurusan/Prodi : Pendidikan Agama Islam

Judul Skripsi : Implementasi Habitual Curriculum (HC) dalam Pembinaan Akhlak Karimah Peserta Didik di MTs Pembangunan UIN Jakarta Tahun Pelajaran 2019/2020

Dosen Pembimbing : Dr. Bahrissalim, M.Ag

NIP : 19680307 1998803 1 002

dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat benar-benar hasil karya sendiri dan saya bertanggung jawab secara akademis atas apa yang saya tulis.

Pernyataan ini dibuat sebagai salah satu syarat menempuh Ujian Munaqasah

Jakarta, 14 Maret 2020 Mahasiswa Ybs.

HILMA AYUNINA NIM. 11160110000010 FITK

Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat 15412 Jakarta

(FR) No. Revisi : 01

Hal :1/1

SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi berjudul Implementasi Habitual Curriculum (HC) dalam Pembinaan Akhlak Karimah Peserta Didik di MTs Pembangunan UIN Jakarta Tahun Pelajaran 2019/2020 disusun oleh Hilma Ayunina, NIM. 11160110000010, diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan telah dinyatakan LULUS dalam Ujian Munaqasah pada tanggal 10 Juni 2020 di hadapan dewan penguji. Karena itu, penulis berhak memperoleh gelar sarjana S1 (S.Pd) dalam bidang Pendidikan Agama Islam.

Jakarta, 10 Juni 2020 Panitia Ujian Munaqasah Tanggal Tanda Tangan

Ketua Panitia (Ketua Jurusan/Program Studi)

Drs. Abdul Haris, M. Ag NIP 19660901 199503 1 001

Sekretaris Jurusan

Drs. Rusdi Jamil, M. Ag NIP 19621231 199503 1 005

Penguji I

Dr. Siti Khadijah, M.A

NIP 197007271 1997032 2 004

Penguji II

Tanenji, M.A

NIP 19720712 1998031 004

Mengetahui,

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

(4)

Implementasi Habitual Curriculum (HC) dalam Pembinaan Akhlak Karimah Peserta Didik di MTs Pembangunan UIN

Jakarta Tahun Pelajaran 2019/2020

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Disusun Oleh:

HILMA AYUNINA NIM. 11160110000010

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2020

(5)

LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING

Implementasi Habitual Curriculum (HC) dalam Pembinaan Akhlak Karimah Peserta Didik di MTs Pembangunan UIN

Jakarta Tahun Pelajaran 2019/2020

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Disusun Oleh:

HILMA AYUNINA NIM. 11160110000010

Disetujui Oleh,

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2020

(6)

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI

Skripsi berjudul Implementasi Habitual Curriculum (HC) dalam Pembinaan Akhlak Karimah Peserta Didik di MTs Pembangunan UIN Jakarta Tahun Pelajaran 2019/2020 disusun oleh Hilma Ayunina, NIM. 11160110000010, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Telah melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diujikan pada sidang munaqasah sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh fakultas.

Jakarta, 18 Maret 2020 Yang Mengesahkan,

(7)

i ABSTRACT

Hilma Ayunina (NIM. 11160110000010). Implementation of Habitual Curriculum (HC) in the Cultivation of Good Moral Students in MTs Pembangunan UIN Jakarta 2019/2020 Academic Year. Thesis. Department of Islamic Education, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta.

In the world of education, the term Hidden Curriculum is known. Hidden Curriculum is a curriculum whose implementation is unwritten and unplanned, but its implementation is a tangible manifestation of the written curriculum. MTs Pembangunan UIN Jakarta introduces the term Hidden Curriculum as the Habitual Curriculum. This study aims to describe the implementation of the Habitual Curriculum (HC) in growing the morality of students at MTs Pembangunan UIN Jakarta. This study is motivated by the importance of the role of schools in realizing IQ, EQ, and SQ smart students. This research was conducted in September 2019 to February 2020.

This type of research is a qualitative descriptive research method. Data collection procedures used used observation, interviews, and documentation.

From the results of observations made, the implementation of the Habitual Curriculum in the growth of the students' morals has gone well. This activity aims to make students accustomed to performing worship and can foster students' morals. Activities in the Habitual Curriculum program consist of reading Asmaul Husna, Tadarrus al-Qur‟an, Dhuha Prayers, Dhikr, Tausiyah, Memorization of prayers and some Quranic verses. The Habitual Curriculum Program is held Monday - Wednesday at 07.00 - 07.40 WIB, guided by the homeroom teacher and the accompanying teacher. Overall, this activity succeeded in accustoming the worship of students, but for moral guidance is more dominated by factors of attention and parenting parents and the environment of students.

Keywords: Habitual Curriculum, Habitual Worship and Good Moral

(8)

ii ABSTRAK

Hilma Ayunina (NIM. 11160110000010). Implementasi Habitual Curriculum (HC) dalam Pembinaan Akhlak Karimah Peserta Didik di MTs Pembangunan UIN Jakarta Tahun Pelajaran 2019/2020. Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam dunia pendidikan, dikenal istilah Hidden Curriculum. Hidden Curriculum atau kurikulum yang tersembunyi merupakan kurikulum yang pelaksanaannya tidak tertulis dan tidak terencana, namun pelaksanaannya merupakan wujud nyata atas kurikulum yang tertulis. MTs Pembangunan UIN Jakarta mengenalkan istilah Hidden Curriculum dengan sebutan Habitual Curriculum. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi Habitual Curriculum (HC) dalam pembinaan akhlak karimah peserta didik di MTs Pembangunan UIN Jakarta. Kajian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran sekolah dalam mewujudkan peserta didik yang cerdas secara IQ, EQ, dan SQ. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2019 hingga Februari 2020.

Jenis penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Prosedur pengumpulan data yang digunakan menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dari hasil pengamatan yang dilakukan, implementasi Habitual Curriculum dalam pembinaan akhlak karimah peserta didik telah berjalan dengan baik. Kegiatan ini bertujuan agar peserta didik terbiasa melaksanakan ibadah dan dapat membina akhlak peserta didik. Kegiatan dalam program Habitual Curriculum terdiri atas membaca Asmaul Husna, Tadarrus al- Qur‟an, Shalat Dhuha, Dzikir, Tausiyah, Hafalan doa dan surat pilihan. Program Habitual Curriculum dilaksanakan pada hari Senin – Rabu pukul 07.00 – 07.40 WIB yang dipandu oleh wali kelas dan guru pendamping. Secara keseluruhan kegiatan ini berhasil membiasakan ibadah peserta didik, namun untuk pembinaan akhlak lebih didominasi oleh faktor perhatian dan pola asuh orangtua dan lingkungan peserta didik.

Kata Kunci: Habitual Curriculum, Pembiasaan Ibadah dan Akhlak Karimah

(9)

iii

KATA PENGANTAR

ِمي ِح هرلٱ ِن َٰ م ۡح هرلٱ ِ هللَّٱ ِم ۡسِب

Assalamu‟alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh..

Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu wa Ta‟ala, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi tepat pada waktunya. Shalawat serta salam semoga tercurahkan pada baginda Nabi Muhammad Shallallah „Alayhi wa Sallam, juga kepada keluarganya, sahabatnya, tabi‟in, dan umatnya hingga akhir zaman.

Penyusunan Skripsi ini membahas tentang “Implementasi Habitual Curriculum (HC) dalam Pembinaan Akhlak Karimah Peserta Didik di MTs Pembangunan UIN Jakarta Tahun Pelajaran 2019/2020”.

Dalam perjalanan penelitian ini, tentu tidak terlepas dari suka maupun duka. Oleh karena itu, penulis mengucapkan rasa syukur dan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah membantu dan mendukung lancarnya prosesnya penelitian ini. Diantaranya ialah:

1. Tuhan kami, Allah Subhanahu wa Ta‟ala, yang tiada henti mencintai hamba- hambaNya. Sehingga, penulis diberikan kemudahan dan kelancaran dalam penyelesaian skripsi ini hingga akhir.

2. Ibu Dr. Sururin, M. Ag., selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta yang telah memberikan segala perhatian dan pengorbanan pada mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta.

3. Bapak Drs. Abdul Haris, M. Ag., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan segala perhatian, pengorbanan, ilmu, dan kasih sayangnya pada mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Bapak, Dr. Bahrissalim, M.Ag., selaku Dosen Pembimbing Skripsi, yang telah memberikan waktu, tenaga, dan fikirannya dalam proses penyelesaian Skripsi ini.

(10)

5. Motivator terhebatku yang selalu mendoakan setiap saat; Mimi Aminah, Mama Oom, Mas Opik, Mba Refi, dan Mas Faiz. Semoga Allah panjangkan umur keluarga kami.

6. Sahabat-sahabat tercintaku, yang selalu ada di setiap waktu, mungkin tak dapat kusebutkan satu-satu, namun dukungan dan motivasinya membuatku terpacu setiap waktu.

7. Teman-teman seperjuangan Pendidikan Agama Islam kelas B angkatan 2016 yang telah melewati suka dan duka bersama hingga di penghujung semester ini.

Oleh karena itu, penulis menyadari bahwa dalam penyelesaian skripsi ini masih banyak kekurangan. Penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca sebagai proses penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi yang sederhana ini bermanfaat dan menambah wawasan bagi penulis dan khususnya bagi para pembaca.

Wassalamu‟alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh..

Jakarta, 18 Maret 2020 Penulis

HILMA AYUNINA NIM.1116011000001

(11)

v

DAFTAR ISI

ABSTRACT ... i

ABSTRAK ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 12

C. Fokus Penelitian ... 13

D. Perumusan Masalah ... 14

E. Tujuan Penelitian ... 14

F. Manfaat Penelitian ... 15

1. Manfaat Teoritis ... 15

2. Manfaat Praktis ... 15

BAB II ... 17

KAJIAN TEORI ... 17

A. Kajian Teori ... 17

1. Kurikulum Pendidikan ... 17

a. Pengertian Kurikulum ... 17

b. Peranan Kurikulum ... 20

c. Komponen-Komponen Kurikulum ... 21

d. Kedudukan dan Fungsi Kurikulum Dalam Pendidikan... 21

e. Kurikulum Tersembunyi (Hidden Curriculum) ... 24

f. Kurikulum Pembiasaan (Habitual Curriculum) ... 26

g. Implementasi Habitual Curriculum dalam Pembinaan Akhlak Karimah Peserta Didik ... 27

2. Akhlak Karimah ... 28

a. Definisi Akhlak ... 28

b. Akhlak Islami ... 30

(12)

c. Akhlak Karimah ... 31

d. Pilar-pilar Akhlak Mulia ... 32

e. Ciri-Ciri Akhlak Mulia ... 32

f. Ruang Lingkup Akhlak ... 32

3. Peserta Didik ... 35

B. Hasil Penelitian Yang Relevan ... 37

C. Kerangka Berpikir ... 39

BAB III ... 41

METODOLOGI PENELITIAN ... 41

A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 41

B. Metode Penelitian ... 41

C. Unit Analisis ... 43

D. Teknik Pengumpulan Data ... 43

1. Observasi... 44

2. Wawancara ... 44

3. Dokumentasi ... 45

E. Instrumen Penelitian ... 46

F. Teknik Analisi Data ... 49

1. Pengumpulan Data ... 50

2. Reduksi Data ... 50

3. Penyajian Data ... 50

4. Penarikan Kesimpulan ... 50

BAB IV ... 52

TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 52

A. Deskripsi Data ... 52

1. Sejarah Singkat Madrasah Pembangunan UIN Jakarta ... 52

2. Visi ... 55

3. Misi ... 55

4. Tujuan Madrasah Pembangunan UIN Jakarta: ... 56

5. Pilar Keunggulan ... 56

6. Motto ... 56

7. Slogan Mutu ... 57

8. Kebijakan Mutu ... 57

(13)

B. Temuan dan Pembahasan Penelitian ... 57

1. Latar Belakang Terbentuknya Program Habitual Curriculum di MTs Pembangunan UIN Jakarta... 58

2. Implementasi Habitual Curriculum di MTs Pembangunan UIN Jakarta ... 77

3. Implementasi Habitual Curriculum dalam Pembinaan Akhlak Karimah Peserta Didik ... 82

4. Hambatan atau Permasalahan yang Terjadi pada Program Habitual Curriculum di MTs Pembangunan UIN Jakarta ... 93

BAB V ... 97

PENUTUP ... 97

A. Kesimpulan ... 97

B. Implikasi ... 98

C. Saran ... 99

DAFTAR PUSTAKA ... 100

LAMPIRAN ... 104

LEMBAR UJI REFERENSI ... 136

BIODATA PENULIS ... 142

(14)

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1. Melantunkan Asmaul Husna 68

Gambar 4.2. Pelaksanaan Shalat Dhuha 69

Gambar 4.3. Pelaksanaan Tadarrus al-Qur‟an 70

Gambar 4.4. Pelaksanaan Setoran Hafalan 71

Gambar 4.5. Pelaksanaan Tausiyah 72

Gambar 4.6. Evaluasi Wali Kelas 73

Gambar 4.7. Wali Kelas Menegur Siswa 95

Gambar 5.1. Wawancara Bersama Kepala Sekolah 132 Gambar 5.2. Wawancara Bersama Wakil Bid. Kurikulum 132 Gambar 5.3. Wawancara Bersama Wakil Bid. Kesiswaan 132

Gambar 5.4. Wawancara Bersama Guru PAI 133

Gambar 5.5. Wawancara Bersama Wali Kelas VIII H 133 Gambar 5.6. Observasi Pelaksanaan Tadarrus al-Qur‟an 134

Gambar 5.7. Observasi Pelaksanaan Dzikir 134

Gambar 5.8. Observasi Pelaksanaan Shalat Dhuha 134

Gambar 5.9. Observasi Pelaksanaan Tausiyah 135

Gambar 5.10. Observasi Pelaksanaan Setoran Hafalan 135

(15)

ix

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Kerangka Berpikir 40

Tabel 3.1. Kisi-kisi Instrumen Penelitian 46

Tabel 4.1. Format Pelaksanaan Habitual Curriculum (HC) 64

Tabel 4.2. Materi Habitual Curriculum (HC) 64

(16)

x

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 5.1. Pedoman Observasi 104

Lampiran 5.2. Pedoman Wawancara 105

Lampiran 5.3. Lembar Transkip Wawancara 110

Lampiran 5.4 Bukti Wawancara 132

Lampiran 5.5. Bukti Observasi 134

(17)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.1 Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan. Hal ini dibuktikan dengan turunnya wahyu pertama kali ke muka bumi ialah QS. Al-„Alaq Ayat 1 – 5. Sebuah kalam-kalam yang menyinggung aspek pengetahuan manusia.

ٱ

ۡ ۡ أَرۡق

ِۡۡةٱ

ِۡىۡس

ۡ َكِّبَر ۡ ٱ يِ لَّ ذ

ۡ

ۡ َقَوَخ ١

ۡۡ

ۡ َقَوَخ

ٌََٰۡ َسنِ لۡ ۡ ٱ

ۡ ٍق َوَعٌِۡۡي ۡ ٢

ۡۡٱ

ۡ ۡ أَرۡق

ۡ

ۡ َكُّبَرَو ٱ

ُۡمَرۡك َ ۡ لۡ

ۡ

٣

ۡۡٱ يِ لَّ ذ

ِۡةَۡى ذوَع ۡ

ِۡىَوَق ۡه ٱ

ۡ ٤

ۡ

َۡىذوَع

ٌََٰۡ َسنِ ۡ ۡٱ لۡ

ۡ

ۡۡىَوۡعَيۡۡىَلۡاَي ٥

ۡ

ۡ

Artinya: “(1) bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, (2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (3) Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, (4) yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,2 (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.3

Pendidikan adalah kata kunci dalam setiap usaha meningkatkan kualitas kehidupan manusia, dimana di dalamnya memiliki peranan objektif untuk „memanusiakan manusia‟. Pendidikan pada hakikatnya adalah proses pematangan kualitas hidup.4 Pendidikan merupakan pelita bagi setiap manusia. Karena dengan pendidikan manusia akan menemukan jati dirinya sebagai seorang manusia yang berakal. Dengan

1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: 8 Juli 2003, hal. 3.

2 Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.

3 Al-Qur‟an dan Terjemahan Departemen Agama Republik Indonesia, Q.S. Al-„Alaq ayat 1 – 5.

4Agustinus Hermino, Manajemen Kurikulum Berbasis Karakter, (Bandung: Alfabeta, 2014), hal. 1.

(18)

pendidikan,pandangan hidup manusia akan lebih terarah dan tidak akan salah jalan. Karena pendidikan menghantarkan manusia ke gerbang kesuksesan yang abadi. Baik kesuksesan material maupun spiritual.

Hal itu sejalan dengan Dahama & Bhatnagar. Bahwasannya,

“pendidikan merupakan proses membawa perubahan yang diinginkan dalam perilaku manusia. Pendidikan dapat juga didefinisikan sebagai proses perolehan pengetahuan dan kebiasaan melalui pembelajaran atau studi. Jika pendidikan menjadi efektif hendaknya menghasilkan perubahan-perubahan dalam seluruh komponen perilaku (pengetahuan dan gagasan; norma dan keterampilan; nilai dan sikap; serta pemahaman dan perwujudan). Perubahan itu hendaknya dapat diterima secara sosial, kultural, ekonomis, dan menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, keterampilan, sikap serta pemahaman”.5

Menurut Miftahur Rohman dan Hairudin, “tujuan yang hendak dibidik dalam pendidikan yang dewasa ini dikenal untuk membimbing, mengarahkan, dan mendidik seseorang untuk memahami dan mempelajari ajaran agama Islam sehingga diharapkan mereka memiliki kecerdasan berpikir (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan memiliki kecerdasan spiritual (SQ) untuk bekal hidup menuju kesuksesan dunia akhirat”.6 Pada aspek spiritual inilah manusia dituntut menjadi manusia yang berakhlak dan bermoral. Karena, manusia yang terdidik harus memiliki kualitas moral yang berbeda dengan orang biasa.

Akhlak pada dasarnya melekat pada diri seseorang, bersatu dengan perilaku dan perbuatan. Jika perilaku yang melekat itu buruk, maka disebut akhlak yang buruk atau akhlak mazmumah, dan sebaliknya apabila perilaku tersebut baik disebut akhlak mahmudah. Kesadaran akhlak adalah kesadaran manusia tentang dirinya sendiri, dimana manusia melihat atau merasakan diri sendiri sebagai berhadapan dengan baik dan buruk. Maka membedakan halal dan haram, hak dan batil, boleh dan tidak boleh dilakukan, meskipun manusia tersebut bisa melakukan. Itulah hal yang khusus manusiawi.7 Dalam kerangka ini, menurut Rachmat Djatmika,

“Jika seseorang sudah memahami akhlak, dan akan menghasilkan kebiasaan hidup dengan baik, yakni perbuatan itu diulang-ulang dengan

5Dahama & Bhatnagar dalam Rulam Ahmadi, Pengantar Pendidikan Asas & Filsafat Pendidikan, (Jakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), hal. 35.

6 Miftahur Rohman dan Hairudin, “Konsep Tujuan Pendidikan Islam Perspektif Nilai-nilai Sosial Kultural”, Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, Volume 9, No. 1, 2018, hal. 22.

7 Khozin, Khazanah Pendidikan Agama Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hal. 123-124.

(19)

kecenderungan hati (sadar)”.8 Oleh sebab itu, akhlak Islam merupakan sistem moral atau akhlak yang berdasarkan Islam, yakni yang bertitik tolak dari akidah yang diwahyukan Allah kepada Nabi atau Rasul-Nya yang kemudian agar disampaikan kepada umatnya. Maka, akhlak Islam merupakan akhlak yang landasan utamanya adalah wahyu, dan wahyu ini memerlukan “masyarakat penafsir” untuk membunyikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Walaupun dalam kenyataannya selain kata akhlak, digunakan pula istilah etika dan moral yang semuanya tidak lepas dari akidah dan syari‟ah. Oleh karena itu, akhlak merupakan tingkah laku yang mengakumulasikan aspek keyakinan dan ketaatan, sehingga tergambarkan dalam perilaku yang baik. Artinya, akumulasi akhlak merupakan pola tingkah laku yang tercermin dari perilaku seseorang dalam kesehariannya.9

Mengenai akhlak, Islam sendiri adalah agama yang sangat mementingkan teraplikasikannya nilai-nilai akhlak Islam dalam segala aspek kehidupan. Kita lihat, Nabi Muhammad SAW adalah Rasulullah SAW yakni manusia yang paling baik akhlaknya. Akhlak Nabi Muhammad SAW adalah akhlak Al-Qur‟an. Sehingga siapapun yang ingin mengenal indahnya Islam maka keindahan Islam tergambarkan pada akhlak Nabi Muhammad SAW. Hal ini sebagaimana yang terkandung dalam Al-Qur‟an dan Hadist Rasulullah SAW:

ۡۡدَقذه

ۡ ِلوُسَرۡ ِفِۡۡىُك َهَۡنَكَ ۡ ٱ

ِۡذللّ

ۡ

ْۡاوُجۡرَيۡ َن َكًٌََِّۡلۡٞثََ َسَخٌۡةَوۡس ُ أ ٱ

َۡ ذللّ

َۡۡو ٱ

َۡمۡوَ لۡ ۡ

ۡٱ

َۡرِخلۡأٓ

ۡ

ۡ َرَلَذَو ٱ

َۡذللّ

ۡ

ۡاٗيرِث َل ٢١

ۡ

ۡ

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.10

8 Rachmat Djatmika dalam Khozin, Khazanah Pendidikan Agama Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hal. 124.

9 Khozin, Op.Cit., hal. 124.

10 Al-Qur‟an dan Terjemahan Departemen Agama Republik Indonesia, QS. Al- Ahzab[33]: 21.

(20)

Nabi Muhammad SAW telah menyebarkan Agama Islam dengan suri tauladan dan akhlakul karimah. Sehingga siapapun orang yang bertemu Nabi secara langsung tentu orang itu akan merasakan keindahan Islam pada diri Rasul. Akhlak Nabi Muhammad SAW adalah akhlak al- Qur‟an. Maka, siapapun yang ingin mempelajari al-Qur‟an, maka ia telah mempelajari indahnya akhlak Nabi Muhammad SAW. Beliau diutus tidak hanya sebagai pembawa kebenaran, namun juga menyempurnakan akhlak manusia. Hal ini sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad, Hakim dan Baihaqi:

ق لَ ْخ ْلِا م ِرا ك م مِّم تُ ِلِ ُتْثِعُب ا مهنِإ

“Bahwa sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”11

Ilmu merupakan bekal bagi seseorang agar dapat membedakan batas-batas hal yang baik dan hal yang buruk yakni yang dilarang dalam Islam. Juga agar dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya. Orang yang berilmu namun ia juga memiliki akhlak yang mulia maka hal itu buah dari keberkahan ilmunya selama menuntut ilmu. Namun, pada kenyataannya tidak semua penuntut ilmu memiliki akhlak yang baik. Banyak pelajar yang membuang masa mudanya dengan hal sia-sia. Hal ini, tentu menjadi benalu bagi pendidikan di Indonesia.

Dalam suatu penelitian pernah ditemukan bahwa jenis kriminal yang dilakukan oleh remaja laki-laki adalah narkoba, asusila, pencurian, dan perkelahian. Adapun jenis kriminal yang dilakukan oleh remaja perempuan adalah narkoba dan pencurian. Yang menjadi faktor pendorong terjadinya kriminalitas di kalangan remaja laki-laki adalah kurang pembinaan, faktor ekonomi dan salah pergaulan. Sedangkan pada remaja wanita adalah salah pergaulan (terpengaruh teman) dan ekonomi.12 Survei dari Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan 2,3 juta pelajar atau mahasiswa di

11 Hadist Rasulullah SAW diriwayatkan oleh Ahmad, Hakim dan Baihaqi.

12 M. Hidayat Ginanjar, dkk. Dalam Nia Kurniawati, “Pembelajaran Akidah Akhlak dan Korelasinya dengan Peningkatan Akhlak Al-Karimah Peserta Didik”, Jurnal Edukasi Islam Jurnal Pendidikan Islam: Vol. 06, No. 12, 2017, hal. 103.

(21)

Indonesia pernah mengonsumsi narkotika. Angka itu setara dengan 3,2 persen dari populasi kelompok tersebut. Penggunaan narkoba di kalangan pelajar ini juga jadi persoalan di skala global. World Drugs Reports 2018 dari The United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) menemukan 5,6 persen penduduk dunia atau 275 juta orang dalam rentang usia 15 hingga 64 tahun pernah mengonsumsi narkoba minimal sekali.13

"Angka ini menjadi peringatan bahwa upaya penanganan permasalahan narkoba tidak hanya dapat dilakukan secara masif saja tapi juga harus lebih agresif lagi khususnya bagi generasi yang terlahir pada era milenium," ucap BNN lewat pernyataan tertulisnya, Sabtu (22/6).14

Menurut BNN, konsumsi narkoba di kalangan pelajar ini sebagai persoalan serius. Mereka juga mengakui menciptakan kondisi pelajar terbebas sempurna dari narkoba bukan perkara gampang.15 "Membangun milenial yang terbebas dari ancaman penyalahgunaan narkoba tentu bukanlah pekerjaan yang mudah," imbuh mereka. BNN menyebut ada tiga pihak yang jadi perhatian dalam mencegah penyebaran konsumsi narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa. Ketiganya adalah lingkungan keluarga, lingkungan tempat belajar, dan lingkungan masyarakat. BNN juga berniat mengadakan dialog nasional tentang hidup sehat tanpa narkoba pada 26 Juni 2019 yang bertepatan dengan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI). Dalam acara itu BNN bakal mendatangkan pembicara-pembicara dengan latar belakang yang beragam untuk menekankan pentingnya hidup sehat tanpa narkoba.16 Hal ini semua jelas menunjukan adanya sebagian dari remaja ataupun pelajar yang

13 Eko Suwarso, “Survei BNN: 2,3 Juta Pelajar Konsumsi Narkoba”, https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190622182557-20-405549/survei-bnn-23-juta-pelajar- konsumsi-narkoba, diakses pada 22 Juni 2019, pukul 20:37.

14 Ibid.

15 Ibid.

16 Ibid.

(22)

mempunyai suatu tindakan atau perilaku yang tidak sesuai dengan norma- norma akidah dan akhlak sebagai pelajar.17

Belum lama ini, dunia pendidikan kita dihadapkan PR besar mengenai adab dan akhlak siswa. Seorang siswa SMA Negeri 1 Torjun, Sampang, Jawa Timur bernisial HI menganiaya guru kesenian bernama Budi Cahyono hingga meninggal dunia. Kejadian ini bermula saat Pak Budi memberikan materi pelajaran seni lukis di ruang kelas.

Saat itu, HI terlihat tidak mendengarkan pelajaran dan mengganggu denngan mencoret-coret lukisan teman-temannya. Melihat hal itu, Pak Budi kemudian menegur HI. Namun, teguran itu tidak dihiraukan. Pak Budi kemudian mencoretkan cat lukis ke pipinya namun HI merasa tidak terima hingga guru Budi dipukulnya. Tidak lama kemudian, Pak Budi dihantar ke rumah sakit dan divonis meninggal dunia akibat dipukul HI. Kejadian ini jelas mengundang simpati dunia pendidikan.18

Dalam pandangan syariat Islam, anak merupakan amanat yang dibebankan oleh Allah SWT kepada kedua orangtuanya. Maka dari itu, orangtua berkewajiban untuk menjaga dan memelihara serta menyampaikan amanat itu kepada yang berhak yaitu anak. Karena manusia adalah milik Allah SWT, mereka harus melatih anaknya melalui pendidikan untuk mengenal dan menghadapkan diri kepada Allah.19 Pembinaan akhlak harus terus ditingkatkan. Mengingat seiring berkembangnya teknologi yang semakin pesat, hal ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan akhlak dan karakter siswa.20 Kita lihat bahwa kemajuan teknologi membuat siapa saja mampu menggenggam dunia maya hanya dengan satu sentuhan jari. Teknologi era digital ini membuat anak-anak hingga dewasa sibuk dengan dunia mereka masing-masing.

Padahal, kenyataannya teknologi era digital ini tidak selalu membawa informasi baik, tanpa bimbingan dan edukasi yang baik, teknologi era digital dapat membawa dampak yang negatif.

17 Nia Kurniawati, “Pembelajaran Akidah Akhlak dan Korelasinya dengan Peningkatan Akhlak Al-Karimah Peserta Didik”, Jurnal Edukasi Islam Jurnal Pendidikan Islam: Vol. 06, No.

12, 2017, hal. 103.

18 Martahan Sohuturon, “Kronologi Siswa Aniaya Guru hingga Tewas di Sampang”,https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180202124909-12-273381/kronologi-siswa- aniaya-guru-hingga-tewas-di-sampang, diakses pada 02 Februari 2018, pukul 13 : 16 WIB.

19 Toha dalam Hestu Nugroho Warasto, “Pembentukan Akhlak Siswa”, Jurnal Mandiri:

Ilmu Pengetahuan, Seni, dan Teknologi, Vol. 2, No. 1, Juni 2018, hal. 66.

20 Aduddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), hal. 157.

(23)

Peristiwa yang terjadi di belahan dunia manapun dalam hitungan menit dapat dilihat di berbagai Negara melalui internet, faximile, film dan buku-buku. Tentunya dengan segala konsekuensi dan dampak negatifnya.

Begitupula obat-obatan terlarang, minuman keras, dan pola hidup materialistik dan hedonistik semakin menggejala dan menjadi trend hidup dalam lingkungan kita dewasa ini.21 Perkembangan teknologi saat ini membawa pengaruh sangat besar terhadap perubahan sikap dan perilaku.

Salah satu contohnya yaitu penggunaan smartphone yang saat ini sudah menduniai semua kalangan dengan berbagai aplikasi media sosial yang dapat di download dan di akses dalam waktu yang singkat seperti Whatssup, Instagram, Youtube, Facebook, Twitter, dll. Aplikasi tersebut memudahkan penggunanya dalam berkomunikasi dan berinteraksi apa saja tanpa mengenal tempat dan waktu. Sehingga dengan sangat mudah bisa mendapatkan obat-obatan terlarang, dan video-video yang berbau pornografi yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan sikap dan perilaku siswa. Oleh karena itu pembinaan akhlak adalah salah satu solusi yang harus ditempuh dan terus ditingkatkan oleh setiap lembaga pendidikan, sehingga mereka dapat memanfaatkan perkembangan teknologi saat ini dengan baik dan dan benar.22

Dalam sebuah rembuk nasional yang dihadiri oleh pakar pendidikan di salah satu universitas yang cukup terkenal di Jawa Barat, pendidikan nasional telah gagal dalam membentuk nilai-nilai karakter bangsa terhadap peserta didik. Hal tersebut diakibatkan karena pendidikan kita hanya terfokus pada ranah kognitif.23 Gagalnya pendidikan untuk menanamkan nilai akhlak terlihat dengan menempatkan Indonesia

21 Ibid., 157.

22 Maida Raudhatinur, “Implementasi Budaya Sekolah Islami dalam Pembinaan Akhlak Siswa SMP Negeri 19 Percontohan Banda Aceh”, Dayah: Journal of Islamic Education, Vol. 2, No. 1, 2019, hal. 132 – 133.

23 H.E. Mulyasa, Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), hal. 3.

(24)

termasuk ke dalam negara yang korup.24 Anak adalah penerus generasi keluarga dan bangsa, perlu mendapat pendidikan yang baik sehingga potensi-potensi dirinya dapat berkembang dengan pesat, sehingga akan tumbuh menjadi manusia yang memiliki kepribadian yang tangguh dan memiliki berbagai macam kemampuan dan keterampilan yang bermanfaat.

Oleh karena itu, penting bagi keluarga dan lembaga-lembaga pendidikan berperan dan bertanggung jawab dalam memberikan berbagai macam stimulasi dan bimbingan yang tepat sehingga akan tercipta generasi penerus yang tanggung jawab.25 Fenomena tersebut memperlihatkan dengan jelas fungsi dan peran pendidikan yang lebih diposisikan sebagai alat atau sarana yang dapat menolong manusia mencapai tingkat kemanusiaannya secara sempurna sehingga dapat eksis secara fungsional di tengah-tengah masyarakat. Keadaan itu pada gilirannya memaksa dunia pendidikan untuk terus peka membaca kecenderungan masyarakat serta mengantisipasinya dengan terus memodernisasi berbagai unsur yang terkait di dalamnya termasuk unsur kurikulum.26

Kurikulum merupakan salah satu komponen yang terpenting di samping komponen pendidik dan merupakan suatu alat pendidikan yang sangat vital dalam kerangka sistem pendidikan nasional. Tanpa kurikulum, sistem pendidikan apapun tak mungkin terlaksana dengan baik dan tujuan pendidikan tak mungkin terlaksana dengan baik dan tujuan pendidikan tak mungkin tercapai dengan optimal.27 Setiap praktitk pendidikan diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan tertentu, apakah berkenaan dengan penguasaan pengetahuan, pengembangan pribadi, kemampuan sosial, ataupun kemampuan bekerja. Untuk menyampaikan bahan pelajaran, ataupun mengembangkan kemampuan-kemampuan tersebut diperlukan

24 Armin Nurhantanto, “Nilai-nilai Pendidikan Akhlak dalam Al-Qur‟an Surat Ali Imran ayat 159-160”, Profetika: Jurnal Pendidikan Islam, Vol.16, No.2, 2015, hal. 157.

25 Sakti dalam Nia Nuraida, “Pengembangan Nilai-nilai Karakter Melalui Pendidikan Pencak Silat untuk Anak Usia Dini”, Jurnal: Vol.2, No.1, 2016, hal. 59 – 60.

26 Sukiman, Pengembangan Kurikulum, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015), hal.

IV.

27 Oemar Hamalik dalam Sukiman, Pengembangan Kurikulum, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015), hal. V.

(25)

metode penyampaian serta alat-alat bantu tertentu. Untuk menilai hasil dan proses pendidikan, juga diperlukan cara-cara dan alat-alat penilaian tertentu pula. Keempat hal tersebut, yaitu tujuan, bahan ajar, metode alat, dan penilaian merupakan komponen utama kurikulum. Dengan berpedoman pada kurikulum interaksi pendidikan antara guru dan siswa berlangsung.28

Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan pendidikan. Dengan kata lain, kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan harus mampu mengantarkan anak didik menjadi manusia yang bertakwa, cerdas, terampil, dan berbudi luhur, berilmu, bermoral tidak hanya sebagai mata pelajaran yang harus diberikan kepada peserta didik semata, melainkan sebagai aktivitas pendidikan yang direncanakan untuk dialami, diterima, dan dilakukan.

Kurikulum lembaga pendidikan merupakan instrumen strategis untuk pengembangan kualitas sumber daya manusia baik jangka pendek maupun jangka panjang, kurikulum lembaga pendidikan juga memiliki koherensi yang amat dekat dengan upaya pencapaian tujuan pendidikan.29 Salah satu isi yang terdapat dalam dokumen kurikulum itu adalah sejumlah daftar tujuan yang harus dicapai oleh peserta didik. Tujuan itulah yang selanjutnya dijadikan pedoman oleh guru dalam proses pembelajaran sebagai tahap implementasi kurikulum. Pada kenyataannya hasil dari proses pembelajaran itu selain sesuai denga tujuan perilaku yang dirumuskan, juga ada perilaku sebagai hasil belajar di luar tujuan yang dirumuskan. Inilah hakikat dari kurikulum yang tersembunyi (hidden curriculum).30

Menurut Gattron, hidden curriculum adalah kurikulum yang tidak menjadi bagian yang harus dipelajari, yang digambarkan sebagai

28 Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, (Bandung:

PT Remaja Rosdakarya, 2011), hal. 3.

29 Sukirman, ibid., hal. V.

30 Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), hal. 25 – 26.

(26)

aspek yang ada di sekolah di luar kurikulum tertulis, tetapi mampu memberikan pengaruh dalam perubahan nilai, persepsi, serta perilaku siswa. Misalnya mematuhi peraturan-peraturan sekolah, melaksanakan aturan atau acara keagamaan dan mematuhi peraturan-peraturan lainnya.31 Kebanyakan guru tidak mengetahui bahwa hidden curriculum sangat penting dilaksanakan di dalam pembelajaran, mereka hanya memperhatika core curriculum (kurikulum inti) saja, padahal pada kenyataannya hidden curriculum mempunyai dampak positif di dalam pembelajaran.32 Dampak positif dalam pelaksanaan hidden curriculum antara lain terbentuknya pembiasaan diri terhadap siswa, siswa menjadi terbiasa untuk membaca juz „amma setiap pagi hari sebelum pelajaran dimulai, melaksanakan shalat dhuha dan dzuhur berjamaah meski tidak diawasi oleh guru, melaksanakan piket kelas, terbiasa untuk salaman ketika bertemu dengan guru serta saling sapa sesama teman sebaya, membudayakan hidup bersih, sopan santun, serta saling tolong menolong sesama teman.33

Hidden Curriculum memiliki kedudukan yang sangat penting dalam memaksimalkan potensi peserta didik. Karena, Hidden Curriculum mendukung tercapainya kurikulum tertulis. Hal ini berkaitan dengan tema yang diangkat oleh pendidik yaitu tertanamnya akhlak karimah peserta didik melalui Hidden Curriculum. Peserta didik memperoleh pengetahuan bagaimana mengimplementasikan akhlak karimah di kelas, lalu peserta didik mengimplementasikannya melalui Hidden Curriculum. Akan tetapi, tidak semua sekolah mempunyai program unggulan Hidden Curriculum, sebagian sekolah hanya terfokus pada kurikulum yang tertulis. Hal ini, dipengaruhi oleh pemahaman guru terhadap kurikulum yang tertulis masih sangat minim. Guru yang tidak memahami Hidden Curriculum tidak inovatif dalam mengembangkan potensi peserta didik. Sebaliknya, guru yang memahami Hidden Curriculum akan memunculkan ide yang kreatif dan inovatif dalam mengembangkan potensi peserta didik. Madrasah Tsanawiyah Pembangunan UIN Jakarta selaku lembaga pendidikan

31 Gattron dalam Ika Maryani dan Fitria Dewi, “Pelaksanaan Hidden Curriculum Pada Mata Pelajaran Pendidikan Al-Islam Di Sekolah Dasar”, Jurnal Edu Humaniora: Vol. 10, No. 1, Januari 2018. Hal. 9.

32 Caswita dalam Ika Maryani dan Fitria Dewi, “Pelaksanaan Hidden Curriculum Pada Mata Pelajaran Pendidikan Al-Islam Di Sekolah Dasar”, Jurnal Edu Humaniora: Vol. 10, No. 1, Januari 2018. Hal. 9.

33 Suryaningtyas dalam Ika Maryani dan Fitria Dewi, “Pelaksanaan Hidden Curriculum Pada Mata Pelajaran Pendidikan Al-Islam Di Sekolah Dasar”, Jurnal Edu Humaniora: Vol. 10, No. 1, Januari 2018. Hal. 9.

(27)

keagamaan menerapkan Hidden Curriculum yang dinamakan Habitual Curriculum. Habitual Curriculum merupakan program unggulan yang dilaksanakan oleh Madrasah Pembangunan UIN Jakarta.

Menurut Pak Mardi, Habitual Curriculum adalah program yang dilakukan sebelum Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dimulai. Tujuan yang hendak dibidik dari pelaksanaan Habitual Curriculum ialah materi pembinaan akhlak dan pembiasaan ibadah. Kegiatan tersebut dimulai pukul 07.00 – 07.30 WIB. Setiap hari Senin hingga Rabu.

Yang berisikan kegiatan tadarus Al-Qur‟an, Shalat Dhuha dan Dzuhur berjamaah, Pidato, hafalan surat-surat pilihan, dan membacakan Asmaul Husna.34 Kegiatan tersebut tidak sebatas penghayatan dan pembiasaan, melainkan memberikan pemahaman dan pemantapan untuk selalu berakhlak mulia dalam upaya menanamkan nilai-nilai kemandirian, tanggung jawab dan keberanian dalam menegakkan kebaikan/kebenaran dan mencegah kemungkaran.35

Menurut Pak Ahmad Zaki, Pada pelaksanaannya, kegiatan Habitual Curriculum tidak selalu berjalan sebagaimana yang diharapkan. Beberapa masalah yang dihadapi oleh guru ialah, terkadang siswa bermalas-malasan dan merasa bosan, hal ini salah satu faktor penyebabnya ialah teknologi digital yang semakin canggih sehingga sangat mempengaruhi karakter siswa. Selain itu, ada beberapa siswa yang kurang memiliki etika sopan santun. Diantaranya, tidak bertegur sapa baik dengan guru maupun teman sebaya. Namun, sebagian besar siswa hakikatnya sudah tertanam etika dan akhlak yang baik terhadap guru-guru maupun teman sebayanya.36

Sejalan dengan pengamatan penulis, beberapa siswa belum benar- benar menerapkan budaya 5S (senyum, sapa, salam, sopan, dan santun).

Beberapa siswa terlihat fokus dengan kesibukannya masing-masing. Jadi, antar sesama teman tidak bertegur sapa, terhadap guru yang bukan pengajar di kelas pun tidak diberi sapaan. Apalagi, dengan orang yang tidak ia kenal, tentu tidak diberi sapaan. Kurangnya sikap ramah dan santun ini jelas mengundang tanya, karena seharusnya pelaksanaan Habitual Curriculum mampu memberikan dampak yang positif bagi akhlak anak.

34 Hasil Wawancara dengan Bapak Mardi, M. Ag selaku Wakil Kurikulum MTs Pembangunan UIN Jakarta, pada 10 September 2019, Pukul 10.20 WIB.

35 Buku Monitoring dan Penilaian Habitual Curriculum dan Ibadah MTs Pembangunan UIN Jakarta, hal. III.

36 Hasil Wawancara dengan Bapak Ahmad Zaki, SH. Selaku Wakil Kelas 7H Bilingual Tahfiz MTs Pembangunan UIN Jakarta, pada 10 September 2019, Pukul 11.00 WIB.

(28)

Menurut Pak Yon Sugiono, beberapa siswa belum memiliki kesadaran terhadap kelestarian lingkungan. Masih ada siswa yang tidak membuang sampah pada tempatnya setelah makan. Selain itu, pada saat melaksanakan ibadah shalat, beberapa siswa masih belum sigap memenuhi undangan shalat. Beberapa siswa masih- masih terlihat malas-malasan melaksanakan serangkaian kegiatan pada program Habitual Curriculum. Dalam ranah sosial, beberapa siswa terkadang usil dengan teman sebayanya, ada yang menyembunyikan sepatu, ada yang dijauhi sahabat dekatnya, bahkan dulu pernah ada sekelompok geng, namun setelah diketahui pihak sekolah geng itu akhirnya dibubarkan. Karena, itu bukan didikan maupun ajaran dari MTs Pembangunan sendiri.37 Selain itu, kurangnya kesempatan guru-guru dalam membimbing peserta didik dalam program HC. Program ini hanya dimotori oleh para guru PAI dan guru wali kelas saja. Sehingga, semua guru kurang terlibat dalam pelaksanaan HC.38

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti

“Implementasi Habitual Curriculum (HC) dalam Pembinaan Akhlak Karimah Peserta Didik di MTs Pembangunan UIN Jakarta Taun Pelajaran 2019/2020”.

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang di atas, dapat diidentifikasikan permasalahan- permasalahan sebagai berikut:

1. Pengembangan kurikulum saat ini hanya terfokus pada kurikulum yang tertulis. Sehingga, kurang memanfaatkan kurikulum non tertulis/tersembunyi (Hidden Curriculum) dalam mengembangkan potensi peserta didik. Dalam hal ini, Madrasah Tsanawiyah Pembangunan UIN Jakarta melahirkan produk Hidden Curriculum yang dinamakan “Habitual Curriculum”.

2. Pengembangan kurikulum saat ini mengedepankan orientasi pada ranah kognitif peserta didik, sehingga kurang memaksimalkan ranah afektif maupun psikomotorik dalam pembelajaran. Hal ini, mengakibatkan menurunnya kualitas akhlak dan moral pada peserta

37 Hasil Wawancara dengan Bapak Drs. Yon Sugiono selaku Kepala Pusat Penelitian, Pengembangan, dan Jaminan Mutu MTs Pembangunan UIN Jakarta, pada 22 November 2019 2019, pukul 09.00 WIB.

38 Ibid.

(29)

didik saat ini. Hal ini, sama terjadi pada peserta didik di MTs Pembangunan UIN Jakarta mengalami penurunan kualitas akhlak.

3. Sebagian guru belum memahami Hidden Curriculum. Sehingga, guru hanya fokus pada kurikulum yang tertulis saja, kurang memanfaatkan Hidden Curriculum dalam memaksimalkan potensi peserta didik. Hal ini ditandai dengan banyak sekolah yang tidak memiliki program unggulan yang inovatif dan kreatif dalam menumbuhkan akhlak dan mengembangkan potensi peserta didik saat ini.

4. Kurangnya kesempatan maupun keterlibatan guru pada pelaksanaan Hidden Curriculum. Hal ini, terjadi juga pada guru-guru MTs Pembangunan. Selama ini, kegiatan Habitual Curriculum hanya dimotori oleh guru-guru PAI dan wali kelas saja. Guru lain, kurang mengambil alih sikap dan tanggung jawab. Sehingga, pada output yang dihasilkan peserta didik belum benar-benar mempraktikan nilai-nilai akhlak karimah dengan maksimal.

C. Fokus Penelitian

Fokus penelitian merupakan pembatasan masalah.39 Pembatasan masalah ini bertujuan agar penelitian tidak terlalu luas dan menimbulkan banyak tafsiran. Berdasarkan uraian latar belakang dan identifikasi masalah. Maka peneliti tertarik untuk meneliti dan mengkaji implementasi Habitual Curriculum dalam pembinaan akhlak karimah peserta didik.

Penulis memfokuskan pada akhlak karimah, karena menurut penulis implementasi program Habitual Curriculum sangat berpengaruh positif terhadap karakteristik peserta didik. Melalui kegiatan ini, tertanamlah pemahaman peserta didik sehingga terbentuk suatu kebiasaan yang baik.

Selain itu, penulis membatasi fokus penelitian ini pada MTs Pembangunan UIN Jakarta kelas Bilingual Tahfidz VIII H dan kelas Reguler VIII A tahun pelajaran 2019/2020. Uraian yang akan menjadi fokus penelitian ialah latar belakang terbentuknya program Habitual Curriculum, uraian pelaksanaan program Habitual Curriculum dalam

39 Sugiyono, Metode Penelitian, (Bandung: Penerbit Alfabeta, 2018), hal. 290.

(30)

menumbuhkan akhlak karimah peserta didik, apakah program Habitual Curriculum dapat mempengaruhi akhlak karimah peserta didik, serta hambatan atau permasalahan yang ditemukan dalam pelaksanaan program Habitual Curriculum. Dari fokus penelitian di atas, diharapkan penulis dapat mengungkap, menguraikan, dan menganalisis program Habitual Curriculum dalam penumbuhan akhlak karimah peserta didik MTs Pembangunan UIN Jakarta.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan fokus penelitian di atas, maka perumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini ialah:

1. Apa latar belakang terbentuknya program Habitual Curriculum di MTs Pembangunan UIN Jakarta?

2. Bagaimanakah pelaksanaan program Habitual Curriculum di MTs Pembangunan UIN Jakarta?

3. Bagaimanakah pengaruh program Habitual Curriculum terhadap akhlak peserta didik?

4. Hambatan atau permasalahan apa yang terjadi pada pelaksanaan program Habitual Curriculum di MTs Pembangunan UIN Jakarta?

E. Tujuan Penelitian

Secara umum tujuan penelitian adalah untuk menemukan, mengembangkan, dan membuktikan pengetahuan.40 Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui latar belakang terbentuknya program Habitual Curriculum di MTs Pembangunan UIN Jakarta.

2. Untuk mengetahui pelaksanaan program Habitual Curriculum di MTs Pembangunan UIN Jakarta.

3. Untuk mengetahui apakah pelaksanaan program Habitual Curriculum dapat menumbuhkan akhlak karimah peserta didik di MTs Pembangunan UIN Jakarta.

40 Sugiyono, ibid., hal. 290.

(31)

4. Untuk mengetahui hambatan atau permasalahan program Habitual Curriculum di MTs Pembangunan UIN Jakarta.

F. Manfaat Penelitian

Berdasarkan pemaparan di atas, penelitian ini bermanfaat sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

a. Memberikan pengetahuan latar belakang pelaksanaan program Habitual Curriculum di MTs Pembangunan UIN Jakarta.

b. Memberikan pengetahuan pelaksanaan program Habitual Curriculum di MTs Pembangunan UIN Jakarta.

c. Memberikan pengetahuan apakah pelaksanaan program Habitual Curriculum dapat menumbuhkan akhlak karimah peserta didik di MTs Pembangunan UIN Jakarta.

d. Memberikan informasi mengenai hambatan atau permasalahan program Habitual Curriculum di MTs Pembangunan UIN Jakarta.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti

Dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan ilmu pengetahuan yang baru kepada peneliti, serta dapat memberikan pengalaman dalam penumbuhan akhlak peserta didik melalui Hidden Curriculum.

b. Bagi Lembaga Pendidikan

Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan rujukan serta usaha meningkatkan kualitas akhlak siswa dan profesionalitas guru PAI melalui program Habitual Curriculum.

c. Bagi Masyarakat dan Para Orangtua

Diharapkan penelitian ini dapat memberikan ilmu pengetahuan baru terutama pada orangtua dan masyarakat dalam penumbuhan akhlak pada putera-puterinya.

d. Bagi Pembaca

(32)

Diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan rujukan dalam penelitian yang hendak dilakukan.

(33)

17 BAB II KAJIAN TEORI

A. Kajian Teori

1. Kurikulum Pendidikan a. Pengertian Kurikulum

Istilah kurikulum digunakan pertama kali pada dunia olahraga pada zaman Yunani kuno yang berasal dari kata curir dan curere.41 Dalam hal ini, kata kurikulum berasal dari bahasa Latin yaitu currere (verb) artinya berlari, dan curricula (noun) artinya jarak yang ditempuh dalam suatu perlombaan, peredaran waktu, jalan kehidupan.42 Pada waktu itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus yang ditempuh oleh seorang pelari. Orang mengistilahkannya dengan tempat berpacu atau tempat berlari dari mulai start sampai finish.43 Pada waktu itu, pengertian kurikulum ialah jangka waktu pendidikan yang harus ditempuh oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh ijazah. Dengan menempuh suatu kurikulum, siswa dapat memperoleh suatu ijazah.

Dalam hal ini, ijazah pada hakikatnya merupakan suatu bukti, bahwa siswa telah menempuh suatu kurikulum yang berupa rencana pelajaran, sebagaimana halnya seorang pelari yang telah menempuh suatu jarak antara satu tempat ke tempat lainnya dan akhirnya mencapai finish. Dengan kata lain, suatu kurikulum dianggap jembatan yang sangat penting untuk mencapai titik akhir dari suatu perjalanan dan ditandai oleh perolehan suatu ijazah tertentu. 44

Dari penelusuran konsep, pada dasarnya kurikulum memiliki tiga dimensi pengertian, yakni kurikulum sebagai mata pelajaran, kurikulum sebagai pengalaman belajar, dan kurikulum sebagai

41 Wina Sanjaya, Kurikulum Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), hal. 3.

42 Agustinus Hermino, Op. Cit., hal. 30.

43 Wina Sanjaya, Op. Cit., hal. 3.

44 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2014), hal.

16.

(34)

perencanaan program pembelajaran.45 Pengertian kurikulum sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik, merupakan konsep kurikulum yang sampai saat ini banyak mewarnai teori-teori dan praktik pendidikan.46 Pengertian kurikulum sebagai mata dan isi pelajaran dapat ditemukan dari definisi yang dikemukakan oleh Robert M. Hutchins (1963) yang menyatakan: “The curriculum should include grammar, reading, thetoric and logic, and mathematic, and addition, at the secondary level introduce the grear books of the western world”.47 Dalam konsep kurikulum sebagai sejumlah mata pelajaran biasanya erat kaitannya dengan usaha untuk memperoleh ijazah. Ijazah sendiri pada dasarnya menggambarkan kemampuan.

Artinya, apabila siswa telah berhasil mendapatkan ijazah berarti ia telah menguasai mata pelajaran sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

Dengan demikian, dalam pandangan ini kurikulum berorientasi pada isi atau mata pelajaran (content oriented).48

Selain itu, banyak tokoh yang menganggap kurikulum sebagai pengalaman, diantaranya adalah Hollis L. Caswell dan Campbell (1935), yang menyatakan bahwa kurikulum adalah “....all of the experiences children have under the guidance of teacher”.49 Demikian juga dengan Dorris Lee dan Murray Lee (1940) yang menyatakan kurikulum sebagai: “...those experiences of the child which the school in any way utilizes or attempts to influence”.50 Lebih jelas lagi dikemukakan oleh H. H. Giles, S. P, McCutchen, dan A. N. Zechiel: “...the curriculum... the total experiences with wich school deals in educating your people”.51Bagi mereka, kurikulum itu bukan hanya menyangkut mata pelajaran yang harus dipelajari, akan tetapi menyangkut seluruh usaha sekolah untuk mempengaruhi siswa belajar baik di dalam maupun di luar kelas

45 Wina Sanjaya, Op.Cit., hal. 4.

46 Saylor, Alexander & Lewis, dalam Wina Sanjaya, Kurikulum Pembelajaran, (Jakarta:

Kencana Prenada Media Group, 2010), hal. 4.

47 Robert M. Hutchins dalam Wina Sanjaya, Kurikulum Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), hal. 4.

48 Wina Sanjaya, ibid., hal. 4.

49 Hollis L. Caswell dan Campbell dalam Wina Sanjaya, Kurikulum Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), hal. 6.

50 Dorris Lee dan Murray Lee dalam Wina Sanjaya, Kurikulum Pembelajaran, (Jakarta:

Kencana Prenada Media Group, 2010), hal. 6.

51 H. H. Giles, S. P, McCutchen, dan A. N. Zechiel dalam Wina Sanjaya, Kurikulum Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), hal. 6.

(35)

atau bahkan di luar sekolah. Dengan demikian, siswa telah belajar manakala siswa memiliki pengalaman belajar. Oleh sebab itu dalam proses belajar, pengalaman dianggap lebih penting daripada hanya sekedar menumpuk jumlah pengetahuan.52

Selain itu, pendapat yang menganggap kurikulum sebagai program atau rencana belajar seperti dikemukakan oleh Hilda Taba diikuti oleh tokoh lainnya seperti Daniel Tanner dan Laurer Tanner (1975) yang menyatakan bahwa kurikulum adalah perencanaan yang berisi tentang petunjuk belajar serta hasil yang diharapkan.

“...the planned and guided learning experiences and intended learning outcomes, formulated through the systematic reconstruction of knowledge and experiences under auspices of the school, for the learner‟s continous and willfull growth in personal social competence”.53

Kurikulum sebagai suatu rencana tampaknya juga sejalan dengan rumusan kurikulum menurut undang-undang pendidikan kita yang dijadikan sebagai acuan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan.

Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dikatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Yang dimaksud dengan isi dan bahan pelajaran itu ialah susunan dan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan penyelenggara satuan pendidikan yang bersangkutan dalam rangka upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional.54 Batasan menurut undang-undang itu tampak jelas bahwa kurikulum memiliki dua aspek pertama sebagai rencana (as a plan) yang harus dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksanaan proses belajar mengajar oleh guru dan kedua pengaturan isi dan cara pelaksanaan rencana itu yang keduanya digunakan sebagai upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional.55

52 Wina Sanjaya, ibid., hal. 7.

53 Hilda Taba, dkk. Dalam Wina Sanjaya, Kurikulum Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), hal. 8.

54 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

55 Wina Sanjaya, Op. Cit., hal. 8.

(36)

b. Peranan Kurikulum

Sebagai program pendidikan yang telah direncanakan secara sistematis, kurikulum mengemban peranan yang sangat penting bagi pendidikan siswa. Apabila dianalisis sifat dari masyarakat dan kebudayaan, dengan sekolah sebagai institusi sosial dalam melaksanakan operasinya, maka dapat ditentukan paling tidak tiga peranan kurikulum yang sangat penting, yakni peranan konservatif, peranan kritis atau evaluatif, dan peranan kreatif. Ketiga peranan ini sama penting dan perlu dilaksanakan secara seimbang.56

1) Peranan Konservatif

Salah satu tanggung jawab kurikulum adalah mentransmisikan dan menafsirkan warisan sosial pada generasi muda. Dengan demikian, sekolah sebagai suatu lembaga sosial dapat memengaruhi dan membina tingkah laku siswa sesuai dengan berbagai nilai sosial yang ada dalam masyarakat, sejalan dengan peranan pendidikan sebagai suatu proses sosial. Oleh karenanya, dalam kerangka ini fungsi kurikulum menjadi teramat penting, karena ikut membantu proses tersebut.

2) Peranan Kritis dan Evaluatif

Kebudayaan senantiasa berubah dan bertambah. Sekolah tidak hanya mewariskan kebudayaan yang ada, melainkan juga menilai dan memilih berbagai unsur kebudayaan yang akan diwariskan.

Dalam hal ini, kurikulum turut aktif berpartisipasi dalam kontrol sosial dan memberi penekanan pada unsur berpikir kritis. Nilai- nilai sosial yang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan di masa mendatang dihilangkan, serta diadakan modifikasi dan perbaikan.

Dengan demikian, kurikulum harus merupakan pilihan yang tepat atas dasar kriteria tertentu.

3) Peranan Kreatif

56 Oemar Hamalik, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), hal. 12.

(37)

Kurikulum berperan dalam melakukan berbagai kegiatan kreatif dan konstruktif, dalam artian menciptakan dan menyusun suatu hal yang baru sesuai dengan kebutuhan masyarakat di masa sekarang dan masa mendatang. Untuk membantu setiap individu dalam mengembangkan semua potensi yang ada padanya, maka kurikulum menciptakan pelajaran, pengalaman, cara berpikir, kemampuan, dan keterampilan, yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Ketiga peranan kurikulum tersebut harus berjalan secara seimbang, atau dengan kata lain terdapat keharmonisan diantara ketiganya. Dengan demikian, kurikulum dapat memenuhi tuntutan waktu dan keadaan dalam membawa siswa menuju kebudayaan masa depan.57

c. Komponen-Komponen Kurikulum

Ralph W. Tyler dalam bukunya Basic Principles of Curriculum and Instruction (1949), salah satu buku yang paling berpengaruh dalam pengembangan kurikulum, maka diperoleh empat komponen kurikulum yakni, (1) tujuan, (2) bahan pelajaran, (3) proses belajar mengajar, (4) evaluasi atau penilaian. Keempat komponen itu saling berhubungan. Setiap komponen bertalian erat dengan ketiga komponen lainnya. Bila salah satu komponen berubah, misalnya ditonjolkannya tujuan yang baru, atau proses belajar mengajar, misalnya metode baru, atau cara penilaian, maka semua komponen lainnya turut mengalami perubahan.58

d. Kedudukan dan Fungsi Kurikulum Dalam Pendidikan

Kurikulum merupakan salah satu komponen pokok dalam pendidikan, ia merupakan kompas penunjuk arah hendak kemana anak-anak didik mau dibawa. Oleh karena itu, maka posisi kurikulum dalam pendidikan amatlah penting, namun betapapun pentingnya posisi kurikulum, harus tetap diingat bahwa ia adalah alat untuk

57 Ibid., hal. 11 – 13.

58 Ralph W. Tyler dalam S. Nasution, Asas-asas Kurikulum, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005), hal. 17 – 18.

(38)

mencapai tujuan. Fungsi kurikukulum secara singkat diuraikan sebagai berikut:

1) Fungsi Kurikulum sebagai Alat Mencapai Tujuan Pendidikan Tujuan pendidikan merupakan sasaran akhir yang akan dicapai oleh praktik pendidikan. Di Indonesia tujuan akhir pendidikan tertuang dalam UU SISDIKNAS dan GBHN. Pencapaian tujuan tersebut dilakukan secara berjenjang dari tingkat paling bawah yakni tingkat pembelajaran yang dilakukan oleh guru di kelas, jenjang lembaga, sampai pada jenjang negara yang dikenal dengan tujuan pendidikan nasional. Dalam konteks tujuan pendidikan tersebut, kurikulum merupakan alat atau jembatan bagi guru dan lembaga pendidikan untuk mengantarkan para siswa mencapai tujuan.

2) Fungsi Kurikulum bagi Siswa

Bagi siswa dengan adanya kurikulum akan menjadi pendorong berkembangnya potensi mereka baik potensi kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya, karena dengan adanya kurikulum siswa akan mendapat seperangkat pengetahuan dan pengalaman belajar yang kelak di kemudian hari seiring dengan irama perkembangan intelektual, emosional, spiritual, dan sosialnya yang akan sangat berguna dalam hidupnya.

3) Fungsi Kurikulum bagi Guru

Dengan adanya kurikulum, guru akan terbantu dalam upaya pemilihan metode pembelajaran sesuai dengan karakter siswa, sehingga pembelajaran tidak selamanya klasikal, tetapi sesuai dengan irama perkembangan individu/ kelompok siswa, sehingga strategi belajar dengan modul atau pemberian tugas bisa dilakukan dengan mudah. Di samping itu, kurikulum akan membantu para guru dalam mengevaluasi pembelajaran yang telah dilakukan baik evaluasi proses atau evaluasi hasil pembelajaran.

4) Fungsi Kurikulum bagi Kepala Sekolah

Gambar

Tabel 2.1. Kerangka Berpikir   40
Tabel 2.1. Kerangka Berpikir
Tabel 3.1. Kisi-kisi Instrumen Penelitian  No
Tabel 4.1. Format Pelaksanaan Habitual Curriculum (HC)
+7

Referensi

Dokumen terkait