• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Temuan dan Pembahasan Penelitian

1. Latar Belakang Terbentuknya Program Habitual Curriculum di MTs

Habitual Curriculum atau biasa disebut dengan istilah HC merupakan program unggulan Madrasah Pembangunan UIN Jakarta.

Program HC memiliki serangkaian kegiatan pembiasaan ibadah dan penanaman akhlak karimah peserta didik yang dilaksanakan selama 40 menit sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.

Berbicara mengenai latar belakang terbentuknya program Habitual Curriculum, tidak ada data tertulis yang mampu diungkap secara pasti.

Akan tetapi, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis dengan melibatkan beberapa guru serta pimpinan madrasah, penulis akan mengungkap hasil temuan penelitian sebagai berikut:

a. Sejarah Terbentuknya Program Habitual Curriculum

Sejarah, dalam bahasa Arab, tarikh atau history (Inggris), adalah cabang ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan kronologi berbagai persitiwa.145 Definisi serupa diungkap oleh Abd. Ar-Rahman As-Sakhawi, bahwa sejarah adalah seni yang berkaitan dengan serangkaian anekdot yang berbentuk kronologi peristiwa.146 Sejarawan Louis Gottschalk dalam bukunya Understanding History: a Primer of Historical Method, menjelaskan pengertian sejarah. Sejarah dalam bahasa Inggris history berasal dari kata benda Yunani istoria yang berarti ilmu.

Filosof Yunani, Aristoteles, mengartika istoria sebagai suatu penjelasan sistematis mengenai seperangkat gejala alam, baik susunan kronologi yang merupakan faktor atau tidak di dalam penjelasan. Secara ringkas, menurut Gottschalk, pengertian sejarah tidak lebih dari sebuah rekaman peristiwa masa lampau manusia dengan segala sisinya.147 Sementara itu, Ibnu Khaldun

145 Nisa Ahmed Faruqi dalam Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008), hal. 13.

146Abd. Ar-Rahman As-Sakhawi, ibid.

147 Louis Gottschalk, ibid.

berpandangan bahwa sejarah tidak hanya dipahami sebagai suatu rekaman peristiwa masa lampau, tetapi juga penalaran kritis untuk menemukan kebenaran suatu peristiwa pada masa lampau.148 Berdasarkan uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa sejarah merupakan suatu perisitiwa atau kejadian pada masa lampau yang menjadi pijakan pada masa sekarang. Penulis memandang bahwa sejarah menjadi dasar dari peristiwa hari ini. Segala sesuatu yang terjadi pada hari ini tidak mungkin terlepas dari sejarah di masa lalu. Contoh sederhananya, kita memandang saat ini Indonesia merupakan negara berkembang yang berusaha menyamakan derajat dengan negara maju. Sebelum seperti saat ini, Indonesia berabad-abad silam dijajah oleh bangsa Eropa. Hal itulah, yang mendasari bangsa Indonesia menjadi negara merdeka dan maju.

Kita saat ini hidup dengan tenang, merdeka dari penjajahan berkat sejarah para pahlawan yang mengusir para penjajah.

Program Habitual Curriculum tentu tidak lepas dari sejarah, hal ini tentu melalui proses yang panjang sehingga menjadi program unggulan demi tercapainya visi dan misi Madrasah Pembangunan UIN Jakarta. Komitmen para pimpinan madrasah ini menghantarkan Madrasah Pembangunan menjadi madrasah yang unggul dalam membina karakter peserta didik. Berawal dari keresahan terhadap lulusan Madrasah yang kurang memenuhi kompetensi pada bidang keagamaan. Maka, para komite sekolah berkomitmen untuk mengadakan kegiatan keagamaan. Sekitar tahun 1998 kegiatan keagamaan mulai terbentuk. Awal pembentukan program ini tidak diberi nama apapun, hanya berisikan kegiatan doa bersama sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Selain itu, kegiatannya belum terkonsep seperti saat ini, kertas hafalan masih berserakan karena tidak ada buku panduan

148 Ibnu Khaldun, ibid.

bagi peserta didik maupun wali kelas. Hal ini, sejalan dengan ungkapan Kepala MTs Pembangunan:

“Sekitar tahun 1998 program ini sudah terbentuk, akan tetapi belum sempurna seperti saat ini. Awal pelaksanaan program ini tidak diberi nama apapun, kertas panduan pun masih berserakan karena tidak dibukukan, monitornya belum jelas, setelah direvisi dan dievaluasi secara berkala, program ini terus mengalami peningkatan kualitas.”149 Lalu, sejak tahun 2006 Direktur Madrasah Pembangunan berganti menjadi Bapak Dr. H. Ahmad Sofyan, M.Pd. Sehingga, berganti pula kegiataan keagamaan yang berjalan tanpa nama itu menjadi Hidden Curriculum. Ide ini berangkat dari sebuah teori yang dikemukakan oleh pakar Pendidikan:

Menurut Gattron, Hidden Curriculum adalah kurikulum yang tidak menjadi bagian yang harus dipelajari, yang digambarkan sebagai aspek yang ada di sekolah di luar kurikulum tertulis, tetapi mampu memberikan pengaruh dalam perubahan nilai, persepsi, serta perilaku siswa. Misalnya mematuhi peraturan-peraturan sekolah, melaksanakan aturan atau acara keagamaan dan mematuhi peraturan-peraturan lainnya.150 Kebanyakan guru tidak mengetahui bahwa Hidden Curriculum sangat penting dilaksanakan di dalam pembelajaran, mereka hanya memperhatika core curriculum (kurikulum inti) saja, padahal pada kenyataannya Hidden Curriculum mempunyai dampak positif di dalam pembelajaran.151 Dampak positif dalam pelaksanaan Hidden Curriculum antara lain terbentuknya pembiasaan diri terhadap siswa, siswa menjadi terbiasa untuk membaca juz „amma setiap pagi hari sebelum pelajaran dimulai, melaksanakan shalat dhuha dan dzuhur berjamaah meski tidak diawasi oleh guru, melaksanakan piket kelas, terbiasa untuk salaman ketika bertemu dengan guru serta saling sapa sesama teman sebaya, membudayakan hidup bersih, sopan santun, serta saling tolong menolong sesama teman.152

Sejalan dengan teori di atas, Hidden Curriculum di Madrasah Pembangunan UIN Jakarta terdiri atas konsep kegiatan yang mengarahkan pada pembiasaan ibadah dan penanaman akhlak

149 Hasil Wawancara dengan Bapak Momon Mujiburrahman, MA selaku Kepala MTs Pembangunan UIN Jakarta, Senin, 03 Februari 2020, Pukul 12.50 - 13.21 WIB.

150 Gattron dalam Ika Maryani dan Fitria Dewi, ibid., hal. 9.

151 Caswita dalam Ika Maryani dan Fitria Dewi, ibid., hal. 9.

152 Suryaningtyas dalam Ika Maryani dan Fitria Dewi, ibid., hal. 9.

karimah peserta didik. Pada saat itu, program kegiatannya terdiri atas pembiasaan shalat dhuha dan hafalan surat-surat pilihan saja.

“Awal mulanya bernama Hidden Curriculum, isi kegiatannya pun hanya pembiasaan sholat dhuha dan beberapa hafalan saja. Tidak ada laporan tertulis, hanya pembiasaan sholat dhuha dan hafalan surat-surat tertentu saja. Kegiatan HC sendiri bertujuan untuk pembiasaan beribadah dan melatih percaya diri peserta didik sebelum memulai pembelajaran. Pencetus program HC ialah konsorsium agama Islam.”153

Walaupun Hidden Curriculum sudah mulai terkonsep, namun kegiatannya belum masuk ke dalam kurikulum. Hal ini sejalan ungkapan Kepala Laboratorium Madrasah Pembangunan:

“Hidden Curriculum itu kurikulum tersembunyi, wujudnya ada, kegiatannya ada, namun tidak tertulis dalam kurikulum. Kemudian, perkembangan selanjutnya dibuatlah tim yang mengatur jalannya HC ini sehingga terdapat lembaran bacaan untuk peserta didik. Lembaran tersebut berisikan pedoman untuk wali kelas dan peserta didik.

Lembaran tersebut berisikan doa-doa. Setelah itu, membaca tadarrus bersama, hafalan surat pilihan yang sudah ditentukan oleh kurikulum, tidak ada sholat dhuha dan pidato. Lalu pada periode ke 2 Pak Sofyan menjabat direktur nama Hidden diubah menjadi Habitual Curriculum. Lalu, disempurnakan pada periode Bapak Bahrissalim.”154

Evaluasi dan inovasi terus dilakukan oleh komite sekolah.

Sehingga, program Habitual Curriculum menjadi konsep program yang diakui secara tertulis oleh kurikulum Madrasah Pembangunan. Menurut Bapak Yon Sugiono selaku Kepala P3JM,

“Program Habitual Curriculum menjadi nilai yang baik bagi Madrasah Pembangunan UIN Jakarta”.155 Hal ini sejalan dengan pendapat penulis, adanya program kegiatan keagamaan Habitual Curriculum merupakan upaya sekolah dalam menumbuhkan

153 Hasil Wawancara dengan Bapak Mardi, M.Ag selaku Wakil Kurikulum MTs Pembangunan UIN Jakarta, Kamis, 13 Februari 2020, Pukul 10.10 WIB.

154 Hasil Wawancara dengan Bapak Afif Abdul Latif, M.Ag selaku Kepala Laboratorium MTs Pembangunan UIN Jakarta, Senin, 17 Februari 2020, Pukul 08.00 – 09.00 WIB.

155 Hasil Wawancara dengan Bapak Drs. Yon Sugiono selaku Kepala P3JM MTs Pembangunan UIN Jakarta, Jum‟at, 14 Februari 2020, Pukul 09.20 – 09.35 WIB.

pembiasaan ibadah serta akhlak karimah peserta didik. Sehingga, akan tercapai Tujuan Pendidikan Nasional yang tidak hanya mencerdaskan, namun juga taat terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

b. Konsep Program Habitual Curriculum

Program Pembinaan Siswa Intrakulikuler yang kemudian dikenal dengan istilah Habitual Curriculum (HC), merupakan program khusus yang dilaksanakan dalam bentuk pembinaan membaca al-Qur‟an, berdo‟a, berpidato, mengumandangkan Asmaul Husna dan penghayatannya serta membiasakannya, memberikan pemahaman dan pemantapan untuk selalu berakhlak mulia dalam upaya menanamkan nilai-nilai kemandirian, tanggung jawab dan keberanian dalam menegakkan kebaikan/kebenaran dan mencegah kemungkaran.156 Sehingga dapat kita klasifikasi berdasarkan kompetensi siswa sebagai berikut:

1) Kompetensi 1 (Spiritual); diaktualisasikan melalui kegiatan Shalat Dhuha, tadarrus al Qur‟an, hafalan surat dan do‟a pilihan.

2) Kompetensi 2 (Sosial); diaktualisasikan melalui kegiatan santunan anak yatim dan donasi korban bencana. Walaupun kegiatan tersebut di luar program HC tetapi rutin dilaksanakan setiap saat.

3) Kompetensi 3 (Pengetahuan); diaktualisasikan melalui kegiatan pidato atau tausiyah akhlak dan evaluasi dari wali kelas.

Sehingga, peserta didik memperoleh pengetahuan baru yang diharapkan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

4) Kompetensi 4 (Keterampilan); diaktualisasikan melalui kegiatan Habitual Curriculum (HC) itu sendiri.

156 Buku Monitoring dan Penilaian Habitual Curriculum dan Ibadah MTs Pembangunan UIN Jakarta, hal. III.

“Habitual Curriculum (HC) merupakan salah satu program yang sudah cukup lama di MTs Pembangunan. HC berlangsung pada pagi hari, yang dimulai pada pukul 07.00 – 07.40 WIB atau sekitar 40 menit sebelum kegiatan HC dimulai. Pada prinsipnya pembentukan akhlakul karimah dan menanamkan rasa percaya diri pada siswa terutama pada kegiatan pidato. Awal pelaksanaannya membaca Asmaul Husna, lalu Sholat Dhuha 4 rakaat 2 kali salam, kemudian berdzikir, lalu dilanjutkan doa hendak belajar.

Pada hari Senin dan Selasa, setelah Sholat Dhuha dilanjutkan dengan kultum atau pidato oleh siswa yang telah dijadwalkan. Setelah siswa kultum, guru memberikan evaluasi pada siswa terkait pelaksanaan dan wali kelas menyampaikan informasi yang berkaitan dengan urusan akademik. Selain itu, wali kelas juga memberikan nasihat atau pesan moral yang sangat baik untuk penanaman akhlak karimah peserta didik. Hari Rabu adalah jadwal untuk menghafal. Walaupun pelaksanaannya hanya 3 hari dalam satu minggu namun kegiatan ini rutin dijalankan, sehingga kami berharap pada akhirnya pembiasaan ibadah ini akan tertanam pada akhlak siswa agar selalu taat kepada Allah SWT.”157

Adapun aspek kemampuan yang diharapkan menjadi perangkat dalam merealisasikan fungsi Habitual Curriculum ini, meliputi:

1) Hafal Juz Amma dan mampu membaca al-Qur‟an dengan tartil sesuai dengan target bacaan yang telah ditentukan.

2) Hafal do‟a-do‟a harian, kata-kata mutiara, bacaan shalat, Asmaul Husna dan pemahamannya.

3) Pengembangan akhlak al karimah.

4) Pengembangan keterampilan dasar mengungkapkan pendapat positif / berpidato.

5) Pengembangan sikap kemandirian dan tanggung jawab

6) Pengembangan kemampuan menegakkan amar ma‟ruf dan mencegah kemungkaran.

7) Pengembangan minat baca siswa.158

157 Hasil Wawancara dengan Bapak Dry Muhammad, M.Pd. selaku Wali Kelas VIII A MTs Pembangunan UIN Jakarta, Jum‟at, 31 Januari 2020, Pukul 12.50 – 13.30 WIB.

158 Ibid.

Tabel 4.1. Format Pelaksanaan Habitual Curriculum (HC)

Waktu Senin Selasa Rabu

07.00-07.10 Tadarus al-Qur‟an * Tadarus al-Qur‟an * Tadarus al-Qur‟an*

07.10-07.20 Shalat Dhuha Shalat Dhuha Shalat Dhuha

07.20-07.35 Pidato Pidato Hafalan

07.35-07.40 Tausiyah W. Kelas Tausiyah W. Kelas Tausiyah W.

Kelas Tabel 4.2. Materi Habitual Curriculum (HC) Kelas Materi

VII 1. Do‟a setelah shalat wajib 2. Do‟a setelah shalat Dhuha 3. Asmaul Husna

4. Ayat-ayat al-Qur`an

- QS. Al-Baqarah - Ayat 1-5, Ayat 163 - Ayat 255, - Ayat 284 - 286 5. Bacaan shalat wajib dan artinya

VIII 1. Pengulangan Materi Kelas VII

2. QS. An-Naas sampai dengan QS. Adh-Dhuha 3. Do‟a-do‟a harian

4. Do‟a Sujud Syukur, Tilawah dan sujud sahwi 5. Kata-kata mutiara

IX 1. Pengulangan Materi Kelas VIII 2. QS. Al-Ghasyiyah dan Al-A‟la 3. Do‟a shalat Tahajjud

4. Do‟a Shalat Istikharah 5. Q.S. An-Naba

Keterangan:

 Setiap siswa diwajibkan membawa Al-Qur‟an setiap hari

 Naskah pidato diketik/ditulis tangan dengan rapi pada kertas ukuran A4 kemudian dikumpulkan kepada wali kelas setelah selesai berpidato.

 *Tadarrus kelas VII Juz 1 – 10 kelas VIII Juz 11 – 20 dan kelas IX murajaah Juz 30.

c. Tujuan Pelaksanaan Program Habitual Curriculum

Secara umum, tujuan pelaksanaan program Habitual Curriculum (HC) ialah kegiatan yang mengarahkan pada pembiasaan ibadah dan pembinaan akhlakul karimah.159 Hal ini sejalan dengan ungkapan Kepala Laboratorium Madrasah Pembangunan, “Program ini sebagai upaya untuk membentuk Akhlak Karimah”.160 Selain itu, Menurut Bapak Yon Sugiono:

“Konsep pelaksanaan Habittual Curriculum mengarah pada tujuan yang hendak dicapai, yakni tertanamnya akhlak karimah pada peserta didik dalam segala aspek. Baik akhlak terhadap kepada Allah, akhlak terhadap sesama manusia, dan akhlak terhadap lingkungan, semua aspek itu terdapat dalam kegiatan Habittual Curriculum.”161

Adapun tujuan khusus implementasi Habittual Curriculum ialah sebagai berikut:

1) Untuk meningkatkan kegiatan yang tidak tercover dalam pembelajaran

2) Untuk menanamkan rasa percaya diri siswa pada kegiatan Tausiyah

3) Untuk menanamkan rasa tanggung jawab

4) Untuk meningkatkan kualitas membaca al-Qur‟an162

5) Untuk membiasakan peserta didik agar terbiasa membaca al-Qur‟an

6) Untuk membiasakan peserta didik melaksanakan sholat Dhuha

159 Hasil Wawancara dengan Bapak Momon Mujiburrahman, MA selaku Kepala MTs Pembangunan UIN Jakarta, Senin, 03 Februari 2020, Pukul 12.50 - 13.21 WIB.

160 Hasil Wawancara dengan Bapak Afif Abdul Latif, M.Ag selaku Kepala Laboratorium MTs Pembangunan UIN Jakarta, Senin, 17 Februari 2020, Pukul 08.00 – 09.00 WIB.

161 Hasil Wawancara dengan Bapak Drs. Yon Sugiono selaku Kepala P3JM MTs Pembangunan UIN Jakarta, Jum‟at, 14 Februari 2020, Pukul 09.20 – 09.35 WIB.

162 Hasil Wawancara dengan Bapak Momon Mujiburrahman, MA selaku Kepala MTs Pembangunan UIN Jakarta, Senin, 03 Februari 2020, Pukul 12.50 - 13.21 WIB.

7) Untuk meningkatkan hafalan do‟a dan surat pilihan 8) Menjadi panutan di masyarakat163

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa landasan utama implementasi Habittual Curriculum (HC) ialah upaya lembaga pendidikan dalam mewujudkan tercapainya Tujuan Pendidikan Nasional.

d. Program Kegiatan yang Terdapat Dalam Habitual Curriculum Program kegiatan Habittual Curriculum (HC) ialah serangkaian kegiatan yang mengarah pada pembiasaaan ibadah dan tertanamnya akhlak karimah peserta didik. Pelaksanaannya selama 40 menit sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai atau pada pukul 07.00 – 07.40 WIB pada hari Senin hingga Rabu.

Sebagaimana konsep yang telah penulis uraikan di atas, kegiatan tersebut diantaranya ialah membaca Asmaul Husna, Tadarrus al-Qur‟an, Sholat Dhuha, Hafalan do‟a dan surat-surat pilihan, pidato, dan ditutup dengan evaluasi dari wali kelas. Pada prinsipnya, tidak ada perbedaan pelaksanaan kegiatan Habittual Curriculum (HC) di kelas Bilingual dan kelas Reguler. Semua kegiatan terkonsep secara terstruktur dan telah disepakati oleh para dewan guru dan pimpinan Madrasah. Hal ini sejalan dengan ungkapan Kepala Laboratorium, “Sudah dirancang dan disusun oleh para pimpinan Madrasah”.164 Dalam hal ini, yang menjadi objek penelitian ialah kelas Bilingual Tahfidz VIII H dan kelas Reguler VIII A. Berikut ini, hasil observasi pelaksanaan Habitual Curriculum (HC) dalam pembinaan akhlak karimah peserta didik kelas VIII MTs Pembangunan UIN Jakarta:

1) Pelaksanaan Habitual Curriculum (HC) di kelas Bilingual Tahfidz VIII H

163 Hasil Wawancara dengan Bapak Mardi, M.Ag selaku Wakil Kurikulum MTs Pembangunan UIN Jakarta, Kamis, 13 Februari 2020, Pukul 10.10 WIB.

164 Hasil Wawancara dengan Bapak Afif Abdul Latif, M.Ag selaku Kepala Laboratorium MTs Pembangunan UIN Jakarta, Senin, 17 Februari 2020, Pukul 08.00 – 09.00 WIB.

Kelas Bilingual Tahfidz merupakan kelas unggulan di MTs Pembangunan UIN Jakarta. Pasalnya, yang menjadikan kelas ini unggulan ialah peserta didik diwajibkan menghafal al-Qur‟an dengan target pencapaian 10 Juz dalam kurun waktu tiga tahun. Pada tahap kelas VII diwajibkan menghafal 5 Juz, kelas VIII sebanyak 4 Juz, dan kelas IX hanya 1 Juz. Kelas ini dikenal dengan kelas unggulan, karena proses penyeleksiannya yang cukup ketat. Hari Senin dan Selasa Ashar mereka menyetorkan hafalan ke Guru Tahfidz masing-masing. Kelas VIII H terdiri dari 25 peserta didik dengan wali kelas bernama Ibu Khaironi Agustini, S. Pd.

2) Pelaksanaan Habitual Curriculum (HC) di kelas Reguler VIII A

Kelas Reguler merupakan kelas yang di dalamnya terdapat 25 peserta didik. Kelas Reguler biasanya terdiri atas bermacam – macam karakter peserta didik, karena kelas ini menggunakan sistem kelas majemuk (multiple intelligent) yang terdiri atas berbagai macam kecerdasan peserta didik. Walaupun, kelas ini tidak diunggulkan sebagaimana kelas Bilingual, namun kelas ini memiliki kelebihannya masing – masing. Kelas Reguler VIII A memiliki wali kelas yang bernama Bapak Dry Muharma, M.Pd. Berikut hasil penelitian penulis mengenai program kegiatan Habitual Curriculum:

a) Melantunkan Asmaul Husna

Kata Asmaul Husna berasal dari bahasa Arab yang merupakan gabungan dari dua kata yaitu Asma dan al-Husna. Al-Asma adalah bentuk jama‟ dari ismun yang berarti nama.165 Sedangkan Husna adalah bentuk mashdar dari

165 Haffi dan Rusyadi, Kamus Arab, Inggris Indonesia, (Jakarta: Rieneka Cipta, 1994), hal. 257. http://digilib.uinsby.ac.id/8244/5/BAB%202.pdf diakses pada 09 Maret 2020, pukul 17.55 WIB.

Ahsan yang berarti baik, bagus.166 Menurut M. Ali Chasan Umar, pengertian Asmaul Husna adalah nama-nama Allah yang terbaik dan yang agung, yang sesuai dengan sifat – sifat Allah yang jumlahnya ada 99 nama.167

ِۡ ذ ِللَّو

bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya.”168 (Q.S. Al – A‟raf [7]: 180)

Pada program Habitual Curriculum, melantunkan Asmaul Husna dilakukan pada saat memulai kegiatan Habitual Curriculum. Akan tetapi, ini tidak wajib dilakukan, karena tidak masuk dalam konsep Habitual Curriculum. Hanya saja, karena peserta didik dituntut untuk menghafal Asmaul Husna, maka sesekali guru memberi variasi kegiatan dengan pelantunan Asmaul Husna.

Gambar 4.1. Melantunkan Asmaul Husna b) Shalat Dhuha Putra, 1979), hal. 10. http://digilib.uinsby.ac.id/8244/5/BAB%202.pdf diakses pada 09 Maret 2020, pukul 17.55 WIB.

168 Al-Qur‟an dan Terjemahan Departemen Agama Republik Indonesia, Q.S. Al – A‟raf [7]: 180.

di waktu Dhuha, yaitu ketika matahar naik setinggi tombak kira – kira pukul 7.30 atau 8.00 sampai tergelincir matahari.169 Hal ini sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Muslim:

ۡ ُّ ُكَُوٌۡثَقَد َصٍۡثَديِبْس َتۡ ُّ ُكَُفٌۡثَقَد َصْۡىُكِدَخَأٌِْۡيۡ َمََلاُسِّۡ ُكۡ َ َعَلُۡحِتْصُي

ۡ ِفوُرْعًَ ْ لاِةٌۡرْم َ

أَوٌۡثَقَد َصٍۡةَيرِتْكَتۡ ُّ ُكَُوٌۡثَقَد َصٍۡثَويِوْهَتۡ ُّ ُكَُوٌۡثَقَد َصٍۡةَديًِْ َتَ

ِۡر َمًَُْْلاٌَِۡعٌۡ ْهَْنَوٌۡثَقَدَص

ۡ ٌَِيۡاًَُهُعَلْرَيِۡناَتَع ْ ۡ

كَرۡ َكِلَذٌِْۡيُۡئِزْجُيَوۡ ٌثَقَد َص

ۡ َح ُّضلا

Abu Dharr reported Allah's Apostle (ﷺ) as saying:

“In the morning charity is due from every bone in the body of every one of you. Every utterance of Allah's glorification is an act of charity. Every utterance of praise of Him is an act of charity, every utterance of profession of His Oneness is an act of charity, every utterance of profession of His Greatness is an act of charity, enjoining good is an act of charity, forbidding what is distreputable is an act of charity, and two rak'ahs which one prays in the forenoon will suffice.”170

Pada saat kegiatan Habitual Curriculum peserta didik melaksanakan shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dengan dua kali salam.

Gambar 4.2. Pelaksanaan Shalat Dhuha

169 Ardani, Fiqih Ibadah Praktis, (Ciputat: PT Mitra Cahaya Utama, 2008), hal. 203.

170 HR. Muslim no. 720 dalam https://sunnah.com/muslim/6

c) Tadarrus al-Qur’an

Sebagaimana hati berbunga ketika membaca balasan chat dari seorang kekasih, seharusnya hati ini lebih bahagia membaca kiriman surat cinta dari Allah SWT. Sang Maha Pencipta alam semesta itu menginginkan suratnya dibaca oleh hamba dengan sebaik-baiknya. Berapa banyak orang-orang yang hidup sebelum kita sangat ingin kembali ke dunia agar diberi kesempatan sekali lagi untuk membaca al-Qur‟an.171 Membaca al-Qur‟an tidak hanya memberikan kebahagiaan dan ketentraman, melainakan membersihkan kerak di hati.

kesadaran membaca al-Qur‟an adalah kesadaran akan selalu membersihkan hati kita. Seluruh kegiatan ibadah kita sebenarnya juga untuk menghaluskan dan membersihkan hati kita, agar selalu peka dan tanggap terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar dan agar hati kita mampu memantulkan sinar kebenaran yang menuju kepada diri kita.172 Dengan adanya kegiatan Habitual Curriculum, peserta didik dibiasakan untuk membaca al-Qur‟an setiap pagi hari sehingga peserta didik akan semakin semangat dalam belajar.

Gambar 4.3. Pelaksanaan Tadarrus al-Qur'an

171 Muhammad Ilham Nur, Ketika Al-Qur‟an Tak Lagi Diagungkan, (Jakarta: Kompas Gramedia, 2017), hal. 48.

172 Islah Gusmian, Al-Qur‟an Surat Cinta Sang Kekasih, (Yogyakarta: Percetakan Galang Press, 2005), hal. 141 – 142.

d) Hafalan Surat dan Doa Pilihan

Menghafal al-Qur‟an maupun menghafalkan doa merupakan tugas paling mulia yang dijalankan oleh seorang Muslim. Lebih mulia lagi jika al-Qur‟an yang telah dihafal lalu diamalkan dalam kehidupan sehari – hari. Allah berfirman:

ۡ ٓصًٓٓلا

ۡ ١

ُِِۡةۡ َرِذَُ ِلَُُِِّۡۡيۡ ٞجَرَخۡ َكِرۡد َصۡ ِفٌُِۡكَيۡ َلاَفۡ َكۡ َلِۡإۡ َلِزٍُأۡ ٌبََٰتِل ۡۡ

ۦۡ

ِۡلَٰۡىَر لِذَو ۡ

ۡ َينَِِيۡؤًُۡو ٢

ۡ

ۡ

Artinya: “Alif laam mim shad (1), Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman (2).”173

Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas peserta didik di MTs Pembangunan UIN Jakarta, maka program hafalan menjadi salah satu program andalan pada kegiatan Habitual Curriculum. Selain pada kegiatan Habitual Curriculum, MTs Pembangunan juga mendirikan kelas Bilingual Tahfiz sebagai kelas yang konsen akan perkembangan hafalan peserta didik.

Gambar 4.4. Pelaksanaan Setoran Hafalan

173 Al-Qur‟an dan Terjemahan Departemen Agama Republik Indonesia, QS. Al – A‟raf: 1 – 2.

e) Tausiyah Akhlak

Menurut Raghib Al Asfihani, tausiyah dalam bahasa Arab artinya nasihat atau pesan, adapun secara terminology tausiyah ialah nasihat agama atau ceramah agama Islam.174 Pelaksanaan Tausiyah pada kegiataan Habitual Curriculum dilaksanakan pada hari Selasa. Tausiyah ini dibawakan oleh peserta didik yang telah mendapati jadwal tampil. Biasanya, isi yang dibawakan pada saat ceramah ialah materi terkait penguatan akhlak dan moral.

Gambar 4.5. Pelaksanaan Tausiyah f) Evaluasi Wali Kelas

Setiap program atau unit kegiatan tentu ada proses

Setiap program atau unit kegiatan tentu ada proses