B. Temuan dan Pembahasan Penelitian
2. Implementasi Habitual Curriculum di MTs Pembangunan UIN Jakarta
Habitual Curriculum merupakan program kegiatan yang dilakukan dalam rangka memonitoring pembiasaan ibadah dan akhlak karimah peserta didik. Sebagaimana pemarapan penulis di atas, bahwa Habitual Curriculum dilaksanakan pada hari Senin – Rabu, setiap 40 menit sebelum jam pelajaran dimulai atau sekitar pukul 07.00 – 07.40 WIB. Pada pelaksanaannya, kegiatan ini dilakukan oleh seluruh peserta didik MTs Pembangunan UIN Jakarta dengan bimbingan dan arahan wali kelas. Selain wali kelas, guru Pendidikan Agama Islam juga memiliki peran penting pada pelaksanaan Habitual Curriculum.
Berikut penulis paparkan hasi observasi yang telah penulis lakukan:
a. Peran Guru pada Pelaksanaan Program Habitual Curriculum 1) Peran Wali Kelas
Wali kelas adalah guru yang diberi kepercayaan oleh Kepala Sekolah untuk mengelola kelas dan mengendalikan siswa dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itum peran wali kelas sangat penting dalam pengelolaan kelas untuk membina dan mengarahkan para siswanya dalam mencapai prestasi yang diinginkan. Tugas dan Fungsi wali kelas dalam hal ini ialah menggerakan siswanya, mempengaruhi, membimbing, memotivasi, mengarahkan, menciptakan kondisi dan lingkungan yang kondusif satu sama lain sehingga kelas itu menjadi komunitas belajar yang dapat maju bersama dalam proses pembelajaran.180
Menurut Bapak Dry Muharma peran wali kelas dalam pelaksanaan Habitual Curriculum ialah, “Peran wali kelas dalam pelaksanaan Habitual Curriculum ialah
180 Dwi Asih Nur Lestari, dkk. “Peran Wali Kelas Dalam Memotivasi Belajar Siswa Jurusan Otomatisasi Dan Tata Kelola Perkantoran SMKN 5 Soppeng”, Skripsi UIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh, 2018, hal. 2, tidak dipublikasikan.
sebagai fasilitator dan pendidik”.181 Wali kelas sebagai fasilitator yang membantu proses pelaksanaan Habitual Curriculum agar berjalan dengan tertib. Menurut Mitchell, peran wali kelas sebagai pendidik dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan formal ialah:
1) Sebagai orang terdekat dengan peserta didik dalam sebuah sekolah, di samping sebagai pengajar.
2) Sebagai guru mata pelajaran.
3) Sebagai guru yang mampu mengembangkan empati agar bias bekerja sama dengan siswa yang gaya hidup dan budayanya berbeda dari guru.
4) Mampu memahami pentingnya domain afektif dalam meningkatkan minat dan perilaku siswa yang bertanggung jawab.
5) Wali kelas waspada terhadap pengalaman siswa, baik itu dari luar maupun di dalam sekolah, dan memahami konteks yang membentuk pengalaman mereka.182 Hal ini dilengkapi oleh penjelasan Ibu Khoironi, bahwa wali kelas memiliki peran sebagai berikut:
a) Memberikan keteladanan pada peserta didik. Ini adalah sifat terpenting yang mutlak dimiliki guru. Dengan landasan sifat ini, semua sifat-sifat mulia lainnya terbentuk. Dengan demikian, guru harus menjadi teladan dalam berperilaku, berpakaian, berbicara, beribadah, berakhlak dan beretika.
Secara garis besar pola hidup guru harus bias dijadikan teladan oleh siapapun.183 Mata anak kita ibarat sebuah mikroskop yang dapat melihat barang kecil dengan sangat jelas. Ia akan meniru perbuatan orangtuanya, bahkan lebih jauh dari itu, melakukan yang lebih parah daripada yang dilakukan pendidiknya.184
b) Memberikan reward (penghargaan) and punishment (hukuman) pada peserta didik. Di kelas VIII H sendiri ibu
181 Hasil Wawancara dengan Bapak Dry Muhammad, M.Pd. selaku Wali Kelas VIII A MTs Pembangunan UIN Jakarta, Jum‟at, 31 Januari 2020, Pukul 12.50 – 13.30 WIB.
182 Mintchell, Manajemen Kelas Berbasis Implementasi, (Jakarta: Perpustakaan Nasional, 2012) hal. 105.
183 Syaikh Muhammad Said Mursi, Seni Mendidik Anak, (Jakarta: Pustaka Al – Kautsar, 2006), hal. 286.
184 Ibid., hal. 286 – 287.
Khoironi menerapkan reward dengan memberikan pujian terhadap peserta didik di hadapan teman-temannya, sedangkan punishment yang diterapkan ialah dengan menggunakan pendekatan pribadi terlebih dahulu, jika peserta didik tetap tidak mematuhi arahan wali kelas maka ibu Khoironi terpaksan memaksa peserta didik untuk tampil di hadapan kelas lain. Hal itu, semata agar peserta didik mampu belajar bertanggung jawab atas kesalahan dirinya.185 c) Memberikan bimbingan dan pengawasan terhadap peserta
didik.186
2) Peran Guru Pendidikan Agama Islam
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991), guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya atau mata pencahariannya mengajar.187 Mecloed sebagaimana dikutip Muhibbin Syah (1995: 222) mengartikan guru sebagai “a person whose occuation is teaching others”, yakni seseorang yang pekerjaannya mengajar orang lain.188 Ahmad Tafsir (2004:
74) mengartikan guru ialah pendidik yang memberikan pelajaran kepada siswa, biasanya guru adalah pendidik yang memegang mata pelajaran di sekolah.189 Adapun dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dijelaskan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utamanya mendidik, mengajar membimbing, mengarahkan, melatih, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan
185 Hasil Wawancara dengan Ibu Khaironi Agustini, S.Pd. Selaku Wali Kelas VIII H MTs Pembangunan UIN Jakarta, Jum‟at, 14 Februari 2020, Pukul 08.35 WIB.
186 Hasil Wawancara dengan Ibu Khaironi Agustini, S.Pd. Selaku Wali Kelas VIII H MTs Pembangunan UIN Jakarta, Jum‟at, 14 Februari 2020, Pukul 08.35 WIB.
187 Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991) dalam Amirullah Syarbini, Guru Hebat Indonesia, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2015), hal. 30.
188 Mecloed sebagaimana dikutip Muhibbin Syah (1995: 222) dalam Amirullah Syarbini, Guru Hebat Indonesia, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2015), hal. 30.
189 Ahmad Tafsir (2004: 74) dalam Amirullah Syarbini, Guru Hebat Indonesia, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2015), hal. 30.
dasar, dan pendidikan menengah.190 Sedangkan, Pendidikan Agama Islam sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah umum sejak Sekolah Dasar (SD), sampai Perguruan Tinggi mempunyai peranan yang sangat strategis dan signifikan dalam membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman, berilmu dan berkepribadian muslim sejati.191 Jadi, dapat penulis simpulkan bahwa Guru Pendidikan Agama Islam adalah seseorang yang pekerjaannya mengajarkan ilmu-ilmu Agama Islam kepada orang lain. Guru Agama Islam biasa disebut Ustadz – Ustadzah. Mereka bekerja bukan hanya mengajarkan ilmu agama saja, melainkan mereka menyadari bahwa tugas mereka ialah mendakwahkan Islam dengan cara – cara yang baik.
Menurut hasil observasi penulis pada pelaksanaan Habitual Curriculum di MTs Pembangunan, guru PAI tidak memiliki peran apapun dalam pelaksanaan Habitual Curriculum, karena pada tahap pelaksanaan wali kelas yang lebih berhak mengambil alih. Adapun guru PAI hanya memiliki peran, pertama, hanya berkontribusi dalam memaksimalkan kegiatan shalat berjama‟ah dan meningkatan kualitas membaca al-Qur‟an pada peserta didik. Kedua, ikut berkontribusi pada saat perencanaan program, yakni ikut menuangkan ide dan inovasi agar pelaksanaan Habitual Curriculum dapat berjalan dengan maksimal. Hal ini sebagaimana ungkapan beliau:
“Sebetulnya, guru PAI tidak ikut berperan pada pelaksanaan HC, karena pelaksanaan HC merupakan tanggung jawab wali kelas dan guru pendamping masing-masing kelas. Adapun guru PAI berkontribusi hanya pada kegiatan tahsin al-Qur‟an dan
190 Undang-undang No. 14 Tahun 2005 dalam Amirullah Syarbini, Guru Hebat Indonesia, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2015), hal. 30.
191 Ely Manizar HM, Jurnal Tadrib: “Optimalisasi Pendidikan Agama Islam di Sekolah”, Vo. 3, No. 2, 2017, hal. 2.
sholat berjamaah.”192 Jadi dapat disimpulkan, wali kelas hanya berkontribusi dalam memaksimalkan pelaksanaan Habitual Curriculum di MTs Pembangunan UIN Jakarta.
b. Tahap Perencanaan Habitual Curriculum di MTs Pembangunan UIN Jakarta
Pada tahap perencanaan, mulanya diadakan rapat terlebih dahulu yang dipimpin oleh para para pimpinan dan konsorsium agama MTs Pembangunan UIN Jakarta. Dalam rapat tersebut dirumuskanlah konsep serta pelaksanaan yang akan disahkan bersama. Pertama, para guru merevisi dan membedah buku kegiatan HC yang telah diterbitkan tahun lalu, bilamana ada kekurangan yang harus diperbaiki. Kedua, mengevaluasi buku monitoring ibadah yang diisi oleh peserta didik. Buku monitoring ini tidak hanya penilaian dan pemantauan ibadah peserta didik di sekolah saja, melainkan memantau ibadah peserta didik saat di rumah masing-masing. Tugas orangtua ialah memantau ibadah peserta didik dan menandatangani buku monitoring tersebut sebagai bentuk pengawasan yang nyata. Lalu, setelah ditanda tangani oleh orangtua kemudian peserta didik menyerahkan buku tersebut kepada wali kelas masing-masing sebagai penilaian guru-guru agama dalam memantau pembiasaan ibadah peserta didik.
Keiga, setelah para guru menyepakati hasil musyawarah bersama, maka resmi diterbitkanlah buku MPHC (Monitoring Pelaksanaan Habitual Curriculum) yang telah direvisi dengan inovasi terbaru.193 c. Tahap Pelaksanaan Habitual Curriculum di MTs
Pembangunan UIN Jakarta
Pada tahap pelaksanaan, tidak ada perbedaan pelaksanaan Habitual Curriculum antara kelas bilingual maupun kelas reguler.
192 Hasil Wawancara dengan Bapak Idham Kholid, M.Ag. Selaku Guru Pendidikan Agama Islam MTs Pembangunan UIN Jakarta, Jum‟at, 14 Februari 2020, Pukul 08.10 WIB.
193 Hasil Wawancara dengan Ibu Khaironi Agustini, S.Pd. Selaku Wali Kelas VIII H MTs Pembangunan UIN Jakarta, Jum‟at, 14 Februari 2020, Pukul 08.35 WIB.
Semua jadwal kegiatan Habitual Curriculum berlaku bagi seluruh kelas. Hanya saja, pada kelas bilingual Sains dan Tahfidz pada saat pidato menggunakan pengantar bahasa Inggris, sedangkan kelas reguler hanya menggunakan bahasa Indonesia. Kegiatan Habitual Curriculum dipantau oleh wali kelas dan guru pendamping. Setelah semua program terlaksana dengan baik, selanjutnya wali kelas menginput nilai pada MPHC peserta didik yang nantinya akan dijadikan rapor. Dan rapor Habitual Curriculum menjadi salah satu syarat peserta didik untuk mengambil rapor akademik.194
d. Tahap Evaluasi Habitual Curriculum di MTs Pembangunan UIN Jakarta
Pada tahap evaluasi, setiap semester guru mengadakan rapat.
Dalam rapat tersebut, wali kelas masing-masing menyampaikan pendapat atau masalah yang ditemui pada saat pelaksanaan Habitual Curriculum berlangsung. Setelah itu, para guru mendiskusikan terkait evaluasi dan solusi pelaksanaan Habitual Curriculum ini agar menjadi lebih baik. Setelah, rumusan tersebut disepakati bersama, maka wali kelas dan pendamping wali kelas akan melaksanakan kegiatan Habitual Curriculum dari konsep yang telah diperbaharui.195
3. Implementasi Habitual Curriculum dalam Pembinaan Akhlak