PROPOSAL TESIS
ANALISIS PENGARUH TINGKAT PARTISIPASI ANGKATAN KERJA DAN PENGELUARAN PEMERINTAH TERHADAP INDEKS
PEMBANGUNAN MANUSIA MELALUI PERTUMBUHAN EKONOMI DI PROVINSI SULAWESI UTARA
Sebagai salah satu satu syarat untuk memperoleh Gelar Magister Ekonomi Program Studi Ilmu Ekonomi
Oleh:
MARCELINO LUMI 16 021 054
Oleh:
ANGELA NIRMALA MARIA LUMI 210621010005
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO
2022
i
LEMBAR PENGESAHAN Proposal Tesis berjudul
ANALISIS PENGARUH TINGKAT PARTISIPASI ANGKATAN KERJA DAN PENGELUARAN PEMERINTAH TERHADAP INDEKS
PEMBANGUNAN MANUSIA MELALUI PERTUMBUHAN EKONOMI DI PROVINSI SULAWESI UTARA
Yang diajukan oleh :
ANGELA NIRMALA MARIA LUMI 210621010005
Diseminarkan pada tanggal ….. 2022 Dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima
Koordinator Program Studi Magister Ilmu Ekonomi
Dr. Een N. Walewangko, SE.,MSE NIP. 19721101 200003 2 001
Dosen Pembimbing 2 Dosen Pembimbing 1
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur Penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas bimbingan dan penyertaan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan seluruh rangkaian penyusunan tesis ini dengan segala baik. tesis ini berjudul “Analisis Pengaruh Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja dan Pengeluaran Pemerintah Terhadap Indeks Pembangunan Manusia Melalui Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Sulawesi Utara”.
Tujuan dari penulisan tesis ini untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Ekonomi bagi mahasiswa program studi Magister Ekonomi Universitas Sam Ratulangi Manado. Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari sempurna, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan tesis ini.
Penyusunan proposal ini dapat diselesaikan berkat bantuan, bimbingan dan kerja sama dari berbagai pihak. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Ir. Ellen Joan Kumaat, M.Sc.,DEA. Selaku Rektor Universitas Sam Ratulangi Manado.
2. Dr. Debby Ch. Rotinsulu, SE.,MSi. Selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi Manado.
3. Dr. Hendrik Gamaliel, SE.,MSi.,Ak.,CA. Selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerja Sama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi Manado.
iii
4. Dr. Joubert B. Maramis, SE.,MSi. Selaku Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi Manado.
5. Dr. Ivonne S. Saerang, SE.,MM. Selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi Manado.
6. Dr. Een N. Walewangko,SE.,MSE. Selaku Koordinator Program Studi Magister Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi Manado.
7. Dr. Agnes L.Ch.P.Lapian,SE.,MSi. Selaku Asisten Koordinator Program Studi Magister Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Univeritas Sam Ratulangi Manado.
8. Dr. Agnes L.Ch.P.Lapian,SE.,MSi. Selaku Dosen Pembimbing Akademik yang selalu membimbing penulis dalam proses perkuliahan sehingga penulis dapat menyelesaikan studi.
9. Bapak dan ibu dosen pengajar yang sudah memberikan pengajaran dan pendidikan serta membantu membimbing penulis selama proses belajar mengajar.
10. Seluruh Pimpinan, Staf Tata Usaha, Staf Perpustakaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi Manado.
11. Untuk Papa Stefanus George Lumi,SE dan Mama Theresia Nana Rusdiana yang selalu mendoakan, memberikan motivasi dan semangat selama penyusunan tesis.
iv
12. Kakak Marcelino Benedicto Lumi, Adik Epifani Gloria Maria Lumi dan Heaven Bonaventura Lumi yang selalu memberikan doa dan dukungan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan tesis ini.
13. Opa, Oma, Maade-maade, Paade-paade dan seluruh keluarga yang sudah memberikan doa dan dukungan untuk penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
14. Kepada teman terdekat penulis Julita Senewe, Gita Maury, Meilanti Gobel, Lea Mokodongan, dan Inri Bawowo yang sudah berjuang bersama- sama dengan penulis hingga saat ini.
Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan tesis ini. Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan tesis ini mengalami berbagai macam kekurangan dan kelemahan baik dari segi penyajian materi maupun dalam penyusunannya. Untuk itu diharapkan masukkan berupa kritik maupun saran untuk menyempurnakan tesis ini. Kiranya dengan adanya tesis ini, dapat bermanfaat bagi kita semua.
Manado, Februari 2022
Angela Nirmala Maria Lumi 210621010005
v
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL………...vi
DAFTAR GAMBAR……….vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 5
1.3 Tujuan Penelitian ... 5
1.4 Manfaat Penelitian ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8
2.1 Tinjauan Teoritis ... 8
2.1.1 Teori Ekonomi Perencanaan Pembangunan... 8
2.1.2 Teori Pertumbuhan Ekonomi ... 10
2.1.3 Teori Indeks Pembangunan Manusia ... 15
2.1.4 Teori Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja... 20
2.1.5 Teori Pengeluaran Pemerintah ... 23
2.2 Penelitian Terdahulu ... 25
2.3 Kerangka Konseptual ... 32
2.4 Hipotesis ... 36
BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 38
3.1 Jenis Penelitian ... 38
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 38
3.3 Data dan Sumber Data ... 38
3.4 Metode Pengumpulan Data ... 39
3.5 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 39
3.6 Metode Analisis Data ... 41
3.6.1 Uji Asumsi Klasik ... 42
3.6.2 Uji Signifikansi ... 45
DAFTAR PUSTAKA………46
vi
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Data Pertumbuhan Ekonomi dan Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Sulawesi Utara tahun 2011-2020………...2 Tabel 1.2 Data Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja dan Pengeluaran Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara tahub 2011-2020………..4 Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu………26 Tabel 3.1 Uji Statistik Durbin-Watson d………...44
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual………33
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Salah satu yang indikator yang digunakan untuk melihat keberhasilan pembangunan di suatu daerah ialah tingkat pertumbuhan ekonomi.
Laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan gambaran bahwa semakin tingginya kemampuan daerah tersebut untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya sehingga semakin tinggi pula kemampuan daerah untuk mensejahterakan masyarakatnya. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan kondisi utama bagi kelangsungan pembangunan ekonomi karena penduduk yang terus bertambah sehingga dibutuhkan pertambahan pendapatan setiap tahunnya (Todaro, 2004).
Pembangunan manusia menempatkan manusia sebagai tujuan pembangunan dan bukan semata-mata sebagai alat pembangunan. Menurut (Ginting, 2008 dalam Nugroho, 2016) sumber daya pembangunan tidak lagi meletakkan prioritas pada kekuatan sumber daya alam melainkan pada kekuatan sumber daya manusia. Dengan demikian, diperlukan strategi pembangunan sumber daya manusia. Pembangunan sumber daya manusia yang berhasil akan mendukung terciptanya pertumbuhan ekonomi. Menurut (Badan Pusat Statistik,2021) Salah satu cara untuk mengukur standar pembangunan manusia yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah melalui Human Development Index (HDI) atau indeks pembangunan manusia.
Indeks pembangunan manusia adalah suatu ukuran untuk mengukur kualitas hidup manusia dari segi kesehatan, pendidikan dan pengeluaran perkapita.
2 Tabel 1.1
Data pertumbuhan ekonomi dan indeks pembangunan manusia Provinsi Sulawesi Utara tahun 2010-2019.
Tahun
Pertumbuhan Ekonomi
(%)
Indeks Pembangunan
Manusia (%)
2011 6,17 68,31
2012 6,86 69,04
2013 6,38 69,49
2014 6,31 69,96
2015 6,12 70,39
2016 6,16 71,05
2017 6,31 71,66
2018 6,00 72,20
2019 5,65 72,99
2020 -0,99 72,93
Sumber : Badan Pusat Statistik Sulawesi Utara
Berdasarkan tabel 1.1 diatas dapat dilihat jika pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sulawesi Utara selalu mengalami fluktuasi tetapi sejak tahun 2017 sampai 2020 pertumbuhan ekonomi di provinsi Sulawesi Utara mengalami penurunan yang sangat drastis hingga mencapai angka negatif hal ini menunjukkan bahwa perlunya perbaikan dalam pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sulawesi Utara sehingga pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sulawesi Utara akan kembali stabil. Sebaliknya data indeks pembangunan manusia yang selalu mengalami kenaikan setiap tahunnya. Hal ini berarti indeks pembangunan manusia di sulawesi utara semakin membaik setiap tahunnya. Tetapi masalah yang terjadi yaitu kenaikan indeks pembangunan manusia di Provinsi Sulawesi Utara hanya tergolong dalam indeks pembangunan manusia menengah atas
3
dikarenakan nilai indeks pembangunan manusia Provinsi Sulawesi Utara belum melewati angka 80% tentu hal ini menjadi masalah dalam indeks pembangunan manusia di Sulawesi Utara dan tentunya diperlukan perbaikan sehingga indeks pembangunan manusia di Provinsi Sulawesi Utara bisa tergolong dalam kategori tinggi.
Salah satu variabel yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan indeks pembangunan manusia yaitu tingkat partisipasi angkatan kerja. Tingkat partisipasi angkatan kerja adalah persentase angkatan kerja dengan jumlah penduduk.
Tingkat partisipasi angkatan kerja merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi besaran output suatu kegiatan perekonomian, sehingga semakin banyak masyarakat yang produktif, maka akan menghasilkan output yang tinggi pula yang akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Selain mempengaruhi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meningkatnya produktivitas masyarakat juga berarti pembangunan manusia semakin baik.
Variabel lainnya yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan indeks pembangunan manusia adalah pengeluaran pemerintah. Pengeluaran pemerintah adalah pajak yang diterima oleh negara yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk pengembangan sarana dan prasarana sehingga semakin baik dan lengkap prasarana dan layanan pemerintah yang berkaitan dengan pembangunan pendidikan, kesehatan dan infrastuktur ekonomi akan berakibat pada percepatan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan manusia. Sebaliknya semakin berkurang kepedulian pemerintah daerah terhadap perbaikan kualitas sarana dan layanan pendidikan, kesehatan dan infrastruktur ekonomi akan berdampak pada penurunan kinerja pembangunan manusia.
4
Tabel 1.2
Data Tingkat Pertisipasi Angkatan Kerja dan Pengeluaran Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara tahun 2010-2020.
Tahun
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (%)
Pengeluaran Pemerintah
(Rupiah)
2011 65,32 1.295.396.019
2012 61,93 2.050.611.822
2013 59,41 2.025.590.876
2014 59,99 2.229.484.467
2015 61.28 2.693.083.788
2016 65,11 3.060.766.551
2017 60,85 3.580.571.794
2018 63,01 3.656.101.960
2019 63,94 4.179.431.837
2020 63,42 3.996.790.454
Sumber : Badan Pusat Statistik Sulawesi Utara
Berdasarkan tabel di atas, data tingkat partisipasi angkatan kerja Provinsi Sulawesi Utara selalu mengalami fluktuasi setiap tahunnya hal ini berarti produktivitas tenaga kerja di Provinsi Sulawesi Utara setiap tahun selalu mengalami kenaikan ataupun penurunan. Begitupun halnya dengan data pengeluaran pemerintah yang ada di Provinsi Sulawesi Utara selalu mengalami fluktuasi setiap tahunnya.
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis berkeinginan untuk melakukan penelitian dengan judul “ Analisis Pengaruh Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja dan Pengeluaran Pemerintah terhadap Indeks Pembangunan Manusia melalui Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Sulawesi Utara.
5 1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu :
1. Apakah tingkat partisipasi angkatan kerja dan pengeluaran pemerintah secara parsial berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sulawesi Utara?
2. Apakah tingkat partisipasi angkatan kerja dan pengeluaran pemerintah secara simultan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sulawesi Utara?
3. Apakah tingkat partisipasi angkatan kerja dan pengeluaran pemerintah secara parsial berpengaruh terhadap indeks pembangunan manusia di Provinsi Sulawesi Utara?
4. Apakah tingkat partisipasi angkatan kerja dan pengeluaran pemerintah secara simultan berpengaruh terhadap indeks pembangunan manusia di Provinsi Sulawesi Utara?
5. Apakah pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap indeks pembangunan manusia di Provinsi Sulawesi Utara?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian adalah :
1. Untuk mengetahui apakah tingkat partisipasi angkatan kerja dan pengeluaran pemerintah secara parsial berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sulawesi Utara.
6
2. Untuk mengetahui apakah tingkat partisipasi angkatan kerja dan pengeluaran pemerintah secara simultan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sulawesi Utara.
3. Untuk mengetahui apakah tingkat partisipasi angkatan kerja dan pengeluaran pemerintah secara parsial berpengaruh terhadap indeks pembangunan manusia di Provinsi Sulawesi Utara.
4. Untuk mengetahui apakah tingkat partisipasi angkatan kerja dan pengeluaran pemerintah secara simultan berpengaruh terhadap indeks pembangunan manusia di Provinsi Sulawesi Utara.
5. Untuk mengetahui apakah pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap indeks pembangunan manusia di Provinsi Sulawesi Utara.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi beberapa pihak baik untuk kegiatan pembangunan maupun pengembangan ilmu :
1. Bagi Pemerintah
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat maupun tambahan ilmu bagi pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan indeks pembangunan manusia di Provinsi Sulawesi Utara.
2. Bagi Masyarakat
Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber infomasi yang dapat bermanfaat bagi masyarakat sehingga dapat mengetahui variabel apa saja yang mempengaruhi pertumbuhan
7
ekonomi dan indeks pembangunan manusia di Provinsi Sulawesi Utara
3. Bagi Peneliti
Diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan informasi mengenai variabel apa saja yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan indeks pembangunan manusia.
8 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Teoritis
2.1.1 Teori Ekonomi Perencanaan Pembangunan
Menurut Sjafrizal (2017) Ilmu perencanaan pembangunan sebenarnya berasal dari perencanaan ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Perencanaan pada dasarnya merupakan cara, teknik atau metode untuk mencapai tujuan yang diinginkan secara tepat, terarah dan efisien sesuai dengan sumber daya yang tersedia. Dengan demikian, secara umum perencanaan pembangunan adalah cara atau teknik untuk mencapai tujuan pembangunan secara tepat, terarah dan efisien sesuai dengan kondisi negara atau daerah bersangkutan.
Sedangkan tujuan pembangunan pada umumnya adalah mendorong proses pembangunan secara lebih cepat guna mewujudkan masyarakat yang maju, makmur dan sejahtera (Sjafrizal, 2017).
Menurut Jhingan (1984), seorang ahli perencanaan pembangunan bangsa india memberikan definisi yang lebih konkret tentang perencanaan pembangunan tersebut, menurut pendapat Jhingan, perencanaan pembangunan pada dasarnya adalah merupakan pengendalian dan pengaturan perekonomian dengan sengaja oleh suatu pengusaha (pemerintah) pusat untuk mencapai suatu sasaran dan tujuan tertentu di dalam jangka waktu tertentu pula. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Todaro (2011) yang mendefinisikan bahwa perencanaan ekonomi dapat digambarkan sebagai suatu upaya pemerintah secara sengaja untuk melakukan koordinasi pengambilan keputusan ekonomi dalam jangka panjang
9
untuk mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung tingkat pertumbuhan dari beberapa variabel utama perekonomian nasional.
Dari beberapa definisi dan pengertian perencanaan pembangunan di atas, terlihat jelas bahwa komponen utama dari perencanaan pembangunan pada dasarnya adalah :
1. Merupakan usaha pemerintah secara terencana dan sistematis untuk mengendalikan dan mengatur proses pembangunan.
2. Mencakup periode jangka panjang, menengah dan tahunan
3. Menyangkut dengan variabel-variabel yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan secara keseluruhan baik secara langsung maupun tidak langsung.
4. Mempunyai suatu sasaran pembangunan yang jelas sesuai dengan keinginan masyarakat.
2.1.1.1 Tujuan dan Sasaran Perencanaan Pembangunan
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004, dalam rangka mendorong proses pembangunan secara terpadu dan efisien, pada dasarnya perencanaan pembangunan nasional di Indonesia mempunyai lima tujuan dan fungsi pokok. Tujuan dan sasaran pokok tersebut adalah sebagai berikut :
1. Mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan
2. Menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi dan sinergi antar daerah, waktu dan fungsi pemerintah, baik pusat maupun daerah.
3. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, pengangguran, pelaksanaan dan pengawasan.
4. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan
10
5. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif dan adil.
2.1.2 Teori Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah dalam jangka panjang.
Pertumbuhan ekonomi yang besar merupakan fenomena penting yang dialami dunia hanya semenjak dua abad belakangan ini. Dalam periode tersebut dunia telah mengalami perubahan yang sangat nyata apabila dibandingkan dengan periode sebelumnya.
2.1.2.1 Faktor – Faktor yang Menentukan Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Sukirno (2019) ada beberapa faktor-faktor yang menentukan pertumbuhan ekonomi yaitu:
1. Tanah dan Kekayaan Alam Lainnya
Kekayaan alam suatu negara meliputi luas dan kesuburan tanah, keadaan iklim dan cuaca, jumlah dan jenis hasil hutan dan hasil laut yang dapat diperoleh, jumlah dan jenis kekayaan barang tambang yang terdapat.
Kekayaan alam akan mempermudah usaha untuk mengembangk an perekonomian suatu negara, terutama pada masa-masa permulaan dari proses pertumbuhan ekonomi. Didalam setiap negara di mana pertumbuhan ekonomi baru bermula terdapat banyak hambatan untuk mengembangkan berbagai kegiatan ekonomi di luar sektor utama (pertanian dan pertambangan) yaitu sektor di mana kekayaan alam terdapat. Kekurangan modal, kekurangan tenaga ahli dan kekurangan pengetahuan para pengusaha untuk mengembangkan kegiatan ekonomi modern di satu pihak dan terbatasnya
11
pasar bagi berbagai jenis kegiatan ekonomi (sebagai akibat dari pendapatan masyarakat yang sangat rendah) di lain pihak, membatasi kemungkinan untuk mengembangkan berbagai jenis kegiatan ekonomi.
Apabila negara tersebut mempunyai kekayaan alam yang dapat diusahakan dengan menguntungkan, hambatan yang baru saja dijelaskan akan dapat diatasi dan pertumbuhan ekonomi dipercepat. Kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan tersebut akan menarik pengusaha-pengusaha dari negara yang lebih maju untuk mengusahakan kekayaan alam tersebut. Modal yang cukup, teknologi dan teknik produksi yang modern dan tenaga-tenaga ahli yang dibawah oleh pengusaha-pengusaha tersebut dari luar memungkinkan kekayaan alam itu diusahakan secara efisien dan menguntungkan.
2. Jumlah dan Mutu dari Penduduk dan Tenaga Kerja
Penduduk yang bertambah dari waktu ke waktu dapat menjadi pendorong maupun penghambat kepada perkembangan ekonomi. Penduduk yang bertambah akan memperbesar jumlah tenaga kerja dan penambahan tersebut memungkinkan negara itu menambah produksi. Di samping itu sebagai akibat pendidikan, latihan dan pengalaman kerja, keterampilan penduduk akan selalu bertambah tinggi. Hal ini akan menyebabkan produktivitas bertambah dan ini selanjutnya menimbulkan pertambahan produksi yang lebih cepat daripada pertambahan tenaga kerja. Selanjutnya selalu diingat pula bahwa pengusaha adalah sebagian dari penduduk. Maka luasnya kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh suatu negara juga bergantung kepada jumlah pengusaha dalam
12
ekonomi. Apabila tersedianya pengusaha dalam sejumlah penduduk tertentu adalah lebih banya, lebih banyak kegiatan ekonomi yang dijalankan.
3. Barang-Barang Modal dan Tingkat Teknologi
Barang-barang modal penting artinya dalam mempertinggi keefisienan pertumbuhan ekonomi. Di dalam masyarakat yang sangat kurang maju sekalipun barang-barang modal sangat besar perannya dalam kegiatan ekonomi. Tanpa adanya alat-alat untuk menangkap ikan dan berburu, alat-alat untuk bercocok tanam dan mengambil hasil hutan, masyarakat yang kurang maju akan menghadapi kesusahan yang lebih banyak lagi dalam mencari makanannya sehari-hari. Pada masa kini pertumbuhan ekonomi telah mencapai tingkat tinggi, yaitu jauh lebih modern daripada kemajuan yang dicapai oleh suatu masyarakat yang masih belum berkembang. Barang-barang modal yang sangat bertambah jumlahnya, dan teknologi yang telah menjadi bertambah modern memegang peranan yang penting sekali dalam mewujudkan kamajuan ekonomi yang tinggi itu.
4. Sistem Sosial dan Sikap Masyarakat
Sistem sosial dan sikap masyarakat penting perannya dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi. Di dalam menganalisis mengenai masalah-masalah pembangunan di negara-negara berkembang ahli-ahli ekonomi telah menunjukkan bahwa sistem sosial dan sikap masyarakat dapat menjadi penghambat yang serius kepada pembangunan. Adat istiadat yang tradisional dapat menghambat masyarakat untuk menggunakan cara memproduksi yang modern dan produktivitas tinggi. Oleh karenanya pertumbuhan ekonomi tidak dapat dipercepat. Juga di dalam sistem sosial di mana sebagian besar tanah
13
dimiliki oleh tuan-tuan tanah, atau di mana luas tanah yang dimiliki adalah sangat kecil dan tidak ekonomis, pembangunan ekonomi tidak akan mencapai tingkat yang diharapkan.
2.1.2.2 Teori – Teori Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Sukirno (2019), ada beberapa teori dalam pertumbuhan ekonomi yaitu sebagai berikut :
1. Teori Pertumbuhan Klasik
Menurut pandangan ahli-ahli ekonomi klasik ada empat faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, yaitu : jumlah penduduk, jumlah stok barang-barang modal, luas tanah dan kekayaan alam, serta tingkat teknologi yang digunakan. Walaupun menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi tergantung kepada banyak faktor, ahli-ahli ekonomi klasik terutama menitikberatkan perhatiannya kepada pengaruh pertambahan penduduk kepada pertumbuhan ekonomi. Dalam teori pertumbuhan mereka, dimisalkan luas tanah dan kekayaan alam adalah tetap jumlahnya dan tingkat teknologi tidak mengalami perubahan. Berdasarkan kepada pemisalan ini selanjuttnya dianalisis bagaimana pengaruh pertambahan penduduk kepada tingkat produksi nasional dan pendapatan.
2. Teori Scumpeter
Teori scumpeter menekankan tentang pentingnya peranan pengusaha di dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi. Dalam teori itu ditunjukkan bahwa para pengusaha merupakan golongan yang akan terus-menerus membuat pembaharuan atau inovasi dalam kegiatan ekonomi. Inovasi tersebut meliputi : memperkenalkan barang-barang baru, mempertinggi efisiensi cara
14
memproduksi dalam menghasilkan sesuatu barang, memperluas pasar sesuatu barang ke pasaran-pasaran baru, mengembangkan sumber bahan mentah yang baru dan mengadakan perubahan-perubahan dalam organisasi dengan tujuan mempertinggi keefisienan kegiatan perusahaan.
Di dalam mengemukakan teori pertumbuhannya Scumpeter memulai analisisnya dengan memisalkan bahwa perekonomian sedang dalam keadaan tidak berkembang. Tetapi keadaan ini tidak berlangsung lama. Pada waktu keadaan tersebut berlaku, segolongan pengusaha menyadari tentang berbagai kemungkinan untuk mengadakan inovasi yang menguntungkan. Didorong oleh keinginan mendapatkan keuntungan dari mengadakan pembaharuan tersebut, mereka akan meminjamkan modal dan melakukan penanaman modal. Investasi yang baru ini akan meninggikan tingkat kegiatan ekonomi negara. Maka pendapatan masyarakat akan bertambah dan seterusnya komsumsi masyarakat menjadi bertambah tinggi. Kenaikan tersebut akan mendorong perusahaan-perusahaan lain untuk menghasilkan lebih banyak barang dan melakukan penanaman modal baru. Maka menurut Scumpeter, investasi dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu penanaman modal otonomi dan penanaman modal terpengaruh. Penanaman modal otonomi adalah penanaman modal yang ditimbulkan oleh kegiatan ekonomi yang timbul sebagai akibat kegiatan inovasi.
3. Teori Harrod-Domar
Dalam menganalisis menganai masalah pertumbuhan ekonomi, teori Harrod-Domar bertujuan untuk menerangkan syarat yang harus dipenuhi supaya perekonomian dapat mencapat pertumbuhan yang teguh atau steady
15
growth dalam jangka panjang. Analisis Harrod-Domar menggunakan pemisalan-pemisalan berikut : (i) barang modal telah mencapai kapasitas penuh, (ii) tabungan adalah proporsional dengan pendapatan nasional, (iii) rasio modal-produksi (capital-output ratio). tetap nilainya, dan (iv) perekonomian terdiri dari dua sektor.
4. Teori Pertumbuhan Neo Klasik
Teori pertumbuhan neo klasik melihat pertumbuhan dari sudut pandang yang berbeda, yaitu dari segi penawaran. Menurut teori ini, yang dikembangkan oleh Abramovits dan Solow, pertumbuhan ekonomi tergantung kepada perkembangan faktor-faktor produksi.
Sumbangan terpenting dari teori pertumbuhan Neo Klasik bukanlah dalam menunjukkan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, tetapi dalam sumbangannya untuk menggunakan teori tersebut untuk mengadakan penyelidikan empiris dalam menentukkan peranaan sebenarnya dari berbagai faktor produksi dalam mewujudkan pertumbuahan ekonomi.
2.1.3 Teori Indeks Pembangunan Manusia
Hasil pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah seringkali cenderung hanya di ukur dengan pertumbuhan ekonomi. Jika dari pembangunan ekonomi tersebut dihasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi maka dikatanya pembangunan ekonomi di negara atau daerah tersebut telah berhasil. Padahal dalam kenyataannya seringkali terjadi kondisi yang cukup kontradiktif, yaitu walaupun telah dicapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi di suatu negara atau daerah tetapi kondisi kesejahteraan masyarakatnya masih rendah, sehingga sering
16
dikatakan banyak ahli bahwa pertumbuhan ekonomi yang berhasil kurang berkualitas (Feriyanto, 2014:217).
Mengaca dari kondisi tersebut sudah seharusnya pemerintah memperbaiki konsep pembangunan ekonomi yang tidak hanya mengejar hasil pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi saja tetapi juga tercapainya kualitas hidup masyarakat yang tinggi. Sudah seharusnya dalam melaksanakan pembangunan dipakai konsep pembangunan manusia yang mencakup dimensi pembangunan yang sangat luas, bukan hanya menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi.
Artinya pemerintah harus dapat membawah pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat (penduduk) secara keseluruhan dan berkesinambungan.
Sebagai pusat perhatian, sehingga di samping tetap memperhatikan upaya meningkatkan kapabilitas manusia tetapi juga memanfaatkan kemampuan masyarakat tersebut untuk berperan aktif di dalam mengisi pembangunan dengan bersinergi bersama masyarakat lainnya secara optimal (Feriyanto, 2014:217).
Menurut Feriyanto (2014), Pembangunan manusia pada dasarnya mempunyai empat komponen utama yaitu, produktifitas (productivity), pemerataan (equity), keseinambungan (sustainability), dan pemberdayaan (empowerment). Melalui peningkatan keempat komponen tersebut secara maksimal maka pembangunan manusia akan dapat berhasil dengan baik, yang dicirikan oleh peran manusia sebagai agen pembangunan manusia yang efektif.
Untuk mencapai hal itu maka penduduk suatu negara atau daerah paling tidak harus memiliki peluang berumur panjang dan sehat, memiliki tingkat pendidikan yang memadai, serta peluang untuk merealisasikan pengetahuan yang dimiliki dalam kegiatan yang produktif sehingga memiliki pendapatan yang cukup dan
17
memiliki daya beli serta kemauan untuk melakukan konsumsi bagi pemenuhan kebutuhannya.
Untuk mengukur tingkat pemenuhan ketiga unsur di atas, United Nations Development Programme (UNDP) menyusun suatu indeks komposit yang di sebut Human Development Index (HDI) atau juga dikenal dengan indeks pembangunan manusia (IPM) yang disusun berdasarkan tiga indikator, yaitu angka harapan hidup (life expectancy at age 0=e0), angka melek huruf penduduk dewasa (adult literacy rate = Lit), rata-rata lama sekolah (mean years of scooling
= MYS), dan purchasing power parity ukuran pendapatan yang sudah di sesuaikan dengan paritas daya beli).
Sedangkan menurut Badan Pusat Statistik bahwa indeks pembangunan manusia (IPM) merupakan ukuran capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup. IPM menggambarkan beberapa komponen, yaitu capaian umur panjang dan sehat yang mewakili bidang kesehatan, angka melek huruf, partisipasi sekolah, dan rata-rata lamanya bersekolah mengukur kinerja pembangunan bidang pendidikan dan kemampuan daya beli masyarakat terhadap sejumlah kebutuhan pokok yang dilihat dari rata- rata besarnya pengeluaran per kapita.
Menurut Feriyanto (2014), Perhitungan indeks pembangunan manusia dapat dilakukan untuk setiap tahun dan manfaat penghitungan IPM di antaranya adalah :
a. Sebagai salah satu indikator untuk perbandingan relatif kinerja antar daerah di Indonesia sehingga dapat digunakan untuk menentukan
18
peringkat Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam keberhasilan pembangunan manusia di wilayahnnya.
b. Sebagai indikator untuk mengetahui perkembangan kinerja pembangunan manusia di suatu wilayah baik secara total (IPM) ataupun perkembangan indeks masing-masing komponen IPM.
c. Sebagai dasar kebijakan untuk mendorong pemerintah daerah agar terpacu menaikkan peringkatnya, melalui pemanfaatan sumber daya dan penentuan prioritas program peningkatan kualitas hidup manusia.
d. Sebagai salah satu kriteria untuk penentuan besarnya alokasi dana bantuan pembangunan manusia dari pusat ke daerah (Provinsi maupun Kabupaten/Kota) dan dari Provinsi ke Kabupaten/Kota.
e. Sebagai indikator kajian untuk mengukur kinerja kebijakan pembangunan yang dilakukan pemerintah terkait dengan hasil-hasil pembangunan lainnya seperti pengentasan kemiskinan, pengurangan pengangguran, peningkatan kesehatan masyarakat lainnya.
Indeks Pembangunan Manusia merupakan indeks dasar yang tersusun dari tiga komponen yaitu:
a. Umur panjang dan kehidupan yang sehat manusia dengan indikator angka harapan hidup
b. Pendidikan, yang diukur dengan angka melek huruf dan kombinasi dari angka partisipasi sekolah untuk tingkat dasar, menengah dan tinggi.
c. Tingkat hidup yang layak, dengan indikator pengeluaran perkapita yang telah disesuaikan dalam bentuk Purchasing Power Parity (PPP).
19
2.1.3.1 Manfaat Indeks Pembangunan Manusia
Menurut Badan Pusat Statistik, indeks pembangunan manusia memiliki beberapa manfaat, yaitu:
1. Indeks pembangunan manusia merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/penduduk)
2. Indeks pembangunan manusia dapat menentukan peringkat atau level pembangunan suatu wilayah/negara.
3. Bagi Indonesia, indeks pembangunan manusia merupakan data strategis karena selain sebagai ukuran kinerja pemerintah, indeks pembangunan manusia juga digunakan sebagai salah satu alokator penentuan dana alokasi umum (DAU).
2.1.3.2 Formula dan Perhitungan Indeks Pembangunan Manusia
Perhitungan indeks pembangunan manusia di suatu daerah dapat diperolah melalui dua tahap perhitungan yaitu tahap pertama melakukan penghitungan indeks masing-masing komponen pembentukan IPM yaitu : indeks angka harapan hidup (X1); indeks tingkat pendidikan (𝑋2); dan indeks standar hidup layak (X3) (Feriyanto,2014:219).
Adapun cara untuk menghitung indeks masing-masing komponen IPM yaitu harapan hidup, pengetahuan dan standar hidup layak digunakan formula sebagai berikut :
Indeks (Xi) = (Xi− Xmin) (Xmaks− Xmin)
20 Keterangan :
Xi = indikator komponen pembangunan manusia ke-i, i=1,2,3 Xmin = Nilai minimum Xi dan Xmak = nilai maksimum Xi
tahap kedua, setelah dihitung indeks masing-masing komponen IPM yaitu X1, X2, X3, maka dilanjutkan dengan menghitung IPM dengan formula, sebagai berikut:
IPM =1
3 (indeks X1+ indeks X2+ indeks X3) Keterangan :
X1 = Indeks angka harapan hidup X2 = Indeks tingkat pendidikan X3 = indeks standar hidup layak
2.1.4 Teori Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
Menurut Simanjuntak (1998), Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) adalah perbandingan antara jumlah angkatan kerja dengan penduduk dalam usia kerja dalam kelompok yang sama. Tingkat partisipasi angkatan kerja dapat dinyatakan untuk seluruh penduduk dalam usia kerja dan dapat pula dinyatakan untuk satu kelompok penduduk tertentu seperti laki-laki, kelompok wanita di kota, kelompok tenaga pendidik, kelompok umur 10-14 tahun di desa, dan lain-lain.
Seperti telah dikemukakan sebelumnya, tidak semua penduduk dalam usia kerja atau tenaga kerja terlibat dalam pekerjaan atau mencari pekerjaan. Sebagian bersekolah, mengurus rumah tangga atau sementara tidak bekerja karena alasan- alasan fisik. Dengan kata lain, hanya sebagian tenaga kerja tersebut yang siap untuk bekerja. Secara singkat tingkat partisipasi angkatan kerja atau TPAK adalah
21
jumlah angkatan kerja dibagi dengan jumlah tenagakerja dalam kelompok yang sama.
TPAK = Jumlah angkatan kerja
Jumlah tenagakerja x 100%
Semakin besar tingkat pertisipasi angkatan kerja, semakin besar jumlah angkatan kerja dalam kelompok yang sama. Sebaliknya semakin besar jumlah penduduk yang masih bersekolah dan yang mengurus rumah tangga, semakin besar jumlah yang tergolong bukan angkatan kerja, semakin kecil jumlah angkatan kerja dan akibatnya semakin kecil tingkat partisipasi angkatan kerja.
Dengan demikian dapat dengan mudah dipahami bahwa di antara faktor- faktor yang mempengaruhi besarnya tingkat partisipasi angkatan kerja yaitu :
1. Jumlah penduduk yang masih bersekolah.
Semakin besar jumlah penduduk yang bersekolah, semakin kecil jumlah angkatan kerja dan semakin kecil tingkat partisipasi angkatan kerja, Jumlah penduduk yang bersekolah dipengaruhi oleh tingkat penyediaan fasilitas pendidikan dan kondisi serta tingkat penghasil keluarga. Dengan kata lain, penyediaan fasilitas pendidikan dan kondisi keluarga secara tidak langsung mempengaruhi tingkat partisipasi angkatan kerja.
2. Jumlah penduduk yang mengurus rumah tangga
Semakin benyak anggota dalam tiap-tiap keluarga yang mengurus rumah tangga, maka semakin kecil tingkat partisipasi angkatan kerja.
3. Umur
Tingkat partisipasi angkatan kerja juga dipengaruhi oleh umur, penduduk berumur muda umumnya tidak mempunyai tanggung jawab yang tidak begitu besar sebagai pencari nafkah untuk keluarga. Bahkan mereka umumnya
22
bersekolah. Penduduk dalam kelompok umur 25-55 tahun, terutama laki-laki, umumnya dituntut untuk ikut mencari nafkah dan oleh sebab itu tingkat partisipasi angkatan kerja relatif besar. Lebih lanjut penduduk di atas 55 tahun sudah mulai menurun kemampuannya untuk bekerja dan tingkat partisipasi angkatan kerja umumnya rendah masyarakat
4. Tingkat Upah
Semakin tinggi tingkat upah dalam masyarakat, semakin banyak anggota keluarga yang tertarik masuk pasar kerja atau dengan kata lain semakin tinggi tingkat partisipasi angkatan kerja.
5. Tingkat Pendidikan
Semakin tinggi tingkat pendidikan semakin banyak waktu yang disediakan untuk bekerja. Terutama bagi para wanita, dengan semakin tinggi pendidikan, kecenderungan untuk bekerja semakin besar, dengan kata lain tingkat partisipasi angkatan kerja semakin besar.
6. Kegiatan Ekonomi
Tingkat partisipasi angkatan kerja juga di pengaruhi oleh kegiatan ekonomi. Program pembangunan di satu pihak menurut keterlibatan labih banyak orang. Di pihak lain program pembangunan membutuhkan harapan- harapan baru. Harapan untuk dapat ikut menikmati hasil pembangunan tersebut dinyatakan dalam peningkatan partisipasi angkatan kerja. Jadi semakin bertambah kegiatan ekonomi semakin besar tingkat partisipasi angkatan kerja.
23
7. Bagaimana keluarga mengatur siapa yang bekerja, sekolah dan mengurus rumah tangga
Bagaimana keluarga mengatur siapa yang bekerja, sekolah dan mengurus rumah tangga pada dasarnya tergantung dari tingkat penghasilan dan jumlah tanggungan dari keluarga yang bersangkutan. Keluarga berpenghasilan besar relatif terhadap biaya hidup cenderung memperkecil jumlah anggotan keluarga untuk bekerja, jadi tingkat partisipasi angkatan kerja relatif rendah.
sebaliknya, keluarga yang biaya hidupnya sangat besar relatif kepada penghasilannya cenderung untuk memperbanyak jumlah anggota keluarga bekerja, jadi tingkat partisipasi angkatan kerja relatif tinggi.
2.1.5 Teori Pengeluaran Pemerintah
Menurut Sukirno (2019) Pajak yang diterima pemerintah akan digunakan untuk membiayai berbagai kegiatan pemerintah. Di negara-negara yang sudah sangat maju pajak adalah salah satu sumber utama dari perbelanjaan pemerintah.
Sebagian dari pengeluaran pemerintah adalah untuk membiayai administrasi pemerintahan dan sebagian lainnya adalah untuk membiayai kegiatan-kegiatan pembangunan. Membayar gaji pegawai-pegawai pemerintah, membiayai sistem pendidikan dan kesehatan rakyat, membiayai perbelanjaan untuk angkatan bersenjeta, dan membiayai berbagai jenis infrastruktur yang penting artinya dalam pembangunan adalah beberapa bidang penting yang akan dibiayai pemerintah.
Perbelanjaan-perbelanjaan tersebut akan meningkatkan pengeluaran agregat dan mempertinggi tingkat kegiatan ekonomi negara.
24
2.1.5.1 Penentu-Penentu Pengeluaran Pemerintah
Menurut Sukirno (2019) Penentu – penentu pengeluaran pemerintah adalah sebagai berikut :
1. Proyeksi jumlah pajak yang diterima
Salah satu faktor penting yang menentukan besarnya pengeluaran pemerintah adalah jumlah pajak yang diramalkan. Makin banyak jumlah pajak yang dapat dikumpulkan, makin banyak pula perbelanjaan pemerintah yang akan dilakukan.
2. Tujuan – tujuan ekonomi yang ingin dicapai
Faktor yang lebih penting dalam penentuan pengeluaran pemerintah adalah tujuan – tujuan ekonomi yang ingin dicapai pemerintah. Pemerintah penting sekali peranannya dalam perekonomian.
3. Pertimbangan politik dan keamana
Pertimbangan – pertimbangan politik dan kestabilan negara selalu menjadi salah satu tujuan penting dalam menyusun anggaran belanja pemerintah.
2.1.5.2 Fungsi Pengeluaran Pemerintah
Pendapatan nasional tidak memegang peranan penting dalam menentukan perbelanjaan pemerintah. Dengan perkataan lain, pengeluaran pemerintah pada suatu periode tertentu dan perubahannya dari satu periode lainnya tidak didasarkan kepada tingkat pendapatan nasional dan pertumbuhan pendapatan nasional. Dalam masa kemunduran ekonomi, misalnya pendapatan pajak berkurang. Tetapi untuk mengatasi pengangguran itu pemerintah perlu melakukan lebih banyak program-program pembangunan, maka pengeluaran pemerintah perlu ditambah. Sebaliknya, pada waktu inflasi dan tingkat kemakmuran tinggi,
25
pemerintah harus lebih berhati-hati dalam perbelanjaannya. Harus dijaga agar pengeluaran pemerintah tidak memperburuk keadaan inflasi yang berlaku.
2.1.5.3 Formula Perhitungan Pengeluaran Pemerintah
Menghitung pengeluaran pemerintah dengan perhitungan pendapatan nasional dengan menggunakan pendekatan pengeluaran ini dilakukan dengan menjumlahkan seluruh pengeluaran berbagai sektor ekonomi, yaitu rumah tangga, perusahaan, pemerintah, dan masyarakat luar negeri suatu negara pada periode tertentu.
Jenis pengeluaran dari masing – masing pelaku ekonomi terdiri dari belanja untuk konsumsi (C), belanja untuk investasi (I), belanja untuk pemerintah (G), ekspor (X), dan import (M). pendekatan pengeluaran dapat dirumuskan sebagai berikut:
Y = C + I + G + (X - M) Keterangan:
Y = Pendapatan nasional
C = consumption (konsumsi rumah tangga) I = investment (investasi)
G = government expenditure (pengeluaran pemerintah) X = ekspor
M = impor
2.2 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu merupakan hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya yang terkait dengan indeks pembangunan manusia,
26
pertumbuhan ekonomi, tingkat partisipasi angkatan kerja dan pengeluaran pemerintah. Beberapa penelitian tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No Judul
Penelitian, Nama Peneliti dan Tahun Penelitian
Tujuan Penelitian
Data yang digunakan
Metode Analisa Data
Hasil Penelitian
1 Pengaruh Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan di Provinsi Sulawesi
Utara
Meyvi Rine Mirah, Paulus Kindangen dan Ita P.F. Rorong
(2020)
Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis Pengaruh
Tingkat Partisipasi
Angkatan Kerja terhadap
Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan di
Provinsi Sulawesi Utara.
Penelitian ini menggunakan
data TPAK, Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan
berupa data sekunder urut
waktu dari tahun 1997 sampai dengan
2019
Analisis Jalur
Adapun temuan penelitian ini, Tingkat
Partisipasi Angkatan Kerja Laki laki dan Perempuan mampu memberikan pengaruh
yang positif dan signifikan terhadap
perkembangan Pertumbuhan Ekonomi
juga TPAK laki-laki dan Perempuan mampu memberikan pengaruh
positif dan signifikan terhadap pengurangan angka kemiskinan di Provinsi Sulawesi Utara,
sementara pertumbuhan ekonomi tidak mampu memberikan pengaruh terhadap penurunan kemiskinan yang ada di
Sulawesi Utara.
2 Pengaruh
Pertumbuhan Penduduk, Tingkat
Partisipasi Angkatan Kerja, dan Rasio Beban Ketergantungan
Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Provinsi
Jambi
Edwin Maulana Rozmar, Junaidi,
Adi Bhakti (2017)
Tujuan dalam penelitian ini
untuk menganalisis
pengaruh pertumbuhan
penduduk, tingkat partisipasi angkatan kerja, dan rasio beban ketergantungan
terhadap pertumbuhan
ekonomi Provinsi Jambi.
Penelitian ini menggunakan
data pertumbuhan
ekonomi, TPAK, rasio
beban ketergantungan
dan pertumbuhan
ekonomi
analisis deskriptif kualitatif
dan analisis kuantitatif mengguna
kan alat analisis yaitu regresi data panel
hasil uji secara silmultan menunjukan bahwa
seluruh variabel independent memiliki
pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, sedangkan di uji
secara parsial menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi
sedangkan TPAK dan dependency ratio tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota Provinsi
Jambi.
3 Analisis Pengaruh Tingkat
Penelitian ini bertujuan untuk
Penelitian ini menggunakan
Analisis Regresi
Hasil penelitian menunjukkan
27
Kemiskinan, Tingkat Partisipasi
Angkatan Kerja, Ketimpangan Pendapatan dan
Indeks Pembangunan Manusia terhadap
Pertumbuhan Ekonomi di Keresidenan Madun
Pada Tahun 2010- 2017
Fitri Dwi Suryani (2019)
menganalisis seberapa besar
pengaruh Tingkat Kemiskinan,
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
(TPAK), Ketimpangan Pendapatan dan
Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
terhadap Pertumbuhan
Ekonomi di Karesidenan Madiun pada tahun 2010 sampai dengan
2017.
data Tingkat Kemiskinan,
Tingkat Partisipasi
Angkatan Kerja, Ketimpangan
Pendapatan, Indeks Pembangunan
Manusia dan Pertumbuhan Ekonomi
data panel berdasarkan uji validitas pengaruh Tingkat Kemiskinan, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja dan Indeks Pembangunan Manusia
memiliki pengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Karesidenan Madiun
pada tahun 2010-2017. Sedangkan
variabel Ketimpangan Pendapatan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi.
4 Pengaruh
Pengeluaran Pemerintah terhadap
Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Bengkulu
Merri Anitasari, Ahmad Sari
(2013)
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh dari pengeluaran
pemerintah terhadap pertumbuhan
ekonomi di provinsi Bengkulu
Penelitian ini menggunak
an data Pengeluaran
Pemerintah dan pertumbuha
n ekonomi
Regresi Sederhana
Hasil analisis dengan menggunakan SPSS 16
menunjukkan bahwa pengeluaran pemerintah berpengaruh positif dan
signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di
provinsi Bengkulu.
5 Pengaruh Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), Investasi Asing (PMA) dan Ekspor terhadap
PDRB di DKI Jakarta periode
1987-2009
Wulan Angreani (2011)
Tujuan dari penelitian ini
untuk menjelaskan
pengaruh Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
(TPAK), Investasi Asing
(PMA) dan ekspor terhadap
PDRB di DKI Jakarta.
Penelitian ini menggunak
an data Tingkat Partisipasi
Angkatan Kerja (TPAK), Investasi Asing (PMA), Ekspor dan
PDRB
Regresi berganda
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
variabel penanaman modal asing (PMA) dan
ekspor berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan
PDRB DKI Ja
6 Analisis pengaruh Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja dan
Investasi Asing terhadap Pembangunan Manusia di Negara-
negara Asean
Penelitian bertujuan untuk
melihat bagaimana
pengaruh indikator-indikator
ekonomi diantaranya
Penelitian ini menggunak
an data Tingkat Partisipasi
Angkatan Kerja,
Regresi data panel
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel tingkat partisipasi
angkatan kerja berpengaruh positif dan
signifikan sedangkan variabel investasi asing
berpengaruh positif
28
Thariq Abdul Waritz (2019)
Tingkat partisipasi angkatan kerja dan investasi asing
terhadap pembangunan
manusia di negara-negara ASEAN dari tahun 2013-2017.
Investasi Asing terhadap Pembangun an Manusia
signifikan terhadap tingkat pembangunan
manusia yang ada di negara ASEAN.
7 Faktor-faktor Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi
Jawa Timur
Novita Dwi Cahyani, Muchtolifah,
Sishadiyati (2021)
Tujuan penelitian ialah
untuk melihat pengaruh dari Pertumbuhan Ekonomi,
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja,
serta Tingkat Pengangguran terhadap Indeks
Pembangunan Manusia Provinsi Jawa
Timur.
Penelitian ini menggunakan
data Pertumbuhan
Ekonomi, Tingkat Partisipasi
Angkatan Kerja, Tingkat Pengangguran dan Indeks Pembangunan
Manusia
Regresi berganda
Hasil Penelitian: Secara parsial Pertumbuhan Ekonomi serta Tingkat Pengangguran Terbuka berpengaruh negatif
terhadap Indeks Pembangunan Manusia
Provinsi Jawa Timur.
Secara parsial Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja tidak berpengaruh
terhadap Indeks Pembangunan Manusia
Provinsi Jawa Timur.
8 Analisis Pengaruh Pengeluaran Pemerintah terhadap
Pertumbuhan Ekonomi dan
Indeks Pembangunan
Manusia di Indonesia
Ginanjar Ali Nugroho
(2017)
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahu pengaruh pengeluaran pemeritah pada
sektor pendidikan, kesehatan dan
infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi dan
indeks pembangunan
manusia di indonesia, untuk
mengetahui pengaruh pertumbuhan
ekonomi terhadap indeks
pembangunan manusia dan
mengetahui pengaruh pengeluaran pemerintah pada
sektor pendidikan, kesehatan dan
Penelitian ini menggunak
an data pengeluaran pemerintah, pertumbuha
n ekonomi dan indeks pembangun an manusia
Analisis jalur
Hasil estimasi menunjukkan bahwa pengeluaran pemerintah
di bidang kesehatan mempunyai pengaruh positif terhadap indeks pembangunan manusia melalui pertumbuhan ekonomi sedangkan pada kelompok daerah dengan angka IPM rendah terlihat bahwa hanya pengeluaran pemerintah berpengaruh
positif dan signifikan terhadap indeks pembangunan manusia
29
infrastruktur terhadap indeks
pembangunan manusia.
9 Pengaruh
Pertumbuhan Ekonomi, Pendidikan dan Teknologi terhadap
IPM di Indonesia 2007-2011
Ridwan Maulana, Prasetyo Ari Bowo
(2013)
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan dan
pengaruh pertumbuhanek
onomi, pendidikan dan
teknologi terhadap indeks
pembangunan manusia dengan
menggunakan data panel pada
33 provinsi di Indonesia selama 2007-
2011.
Penelitian ini menggunakan
data Pertumbuhan
Ekonomi, Pendidikan, Teknologi dan
IPM
Regresi data panel
Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan
bahwa pertumbuhan ekonomi dan
pendidikan berpengaruh signifikan terhadap
IPM.Pertumbuhan ekonomi yang baik
dapat mendorong terciptanya infrastruktur yang
menjadi pemicubanyaknya industri, fasilitas publik
seperti pendidikan dan rumah sakit yang akan mendorong tingginya indeks pembangunan manusia. Hubungan
antara pendidikan dengan kualitas hidup
adalahsemakin tinggitingkatpendidikan seseorangmakasemakin tinggiIPM Namun,
teknologi tidak berpengaruh
signifikan.
10 Pengaruh
pertumbuhan ekonomi, pengangguran dan
kemiskinan terhadap IPM kabupaten/kota di
provinsi jambi
M.Ayub (2018)
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh pertumbuhan
ekonomi, pengangguran dan kemiskian terhadap Indeks
perbangunan manusia
Penelitian ini menggunakan data Pengaruh pertumbuhan
ekonomi, pengangguran,
kemiskinan dan IPM
Regresi data panel
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pengangguran tidak
memiliki pengaruh terhadap indeks pembangunan manusia sedangkan kemiskinan memiliki pengaruh negatif
dan signifikan terhadap indeks pembangunan
manusia.
11 Pengaruh
Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendidikan, Sektor Kesehatan dan Belanja Modal terhadap Indeks
Pembangunan Manusia melalui
Pertumbuhan Ekonomi (Studi di
Tujuan penelitian ini
untuk menganalisis
pengaruh pengeluaran
pemerintah sektor pendidikan, sektor kesehatan
dan belanja
Penelitian ini menggunakan
data pengeluaran
pemerintah sektor pendidikan dan
kesehatan, belanja modal,
pertumbuhan ekonomi dan
Metode analisis data
yang digunakan
dalam penelitian ini
adalah analisis jalur
(path analysis)
yang
Hasil penelitian sub- struktur 1 menunjukan
bahwa pengeluaran pemerintah sektor pendidikan dan belanja modal berpengaruh positif
dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, sedangkan pengeluaran
sektor kesehatan berpengaruh negatif
30
Provinsi Sulawesi Utara)
Andi Manjung Tjodi, Tri Oldy Rotinsulu, George
M.V. Kawung (2018)
modal terhadap indeks pembangunan
manusia melalui pertumbuhan
ekonomi
indeks pembangunan
manusia.
merupakan perluasan dari analisis regresi linear
berganda.
terhadap pertumbuhan ekonomi. Kemudian sub-
struktur II menunjukan bahwa pengeluaran
pemerintah sektor pendidikan, sektor kesehatan dan belanja modal berpengaruh positif
namun tidak signifikan terhadap IPM, sedangkan
pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif dan signifikan terhadap IPM.
12 Analisis Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Sektor
Pendidikan dan Kesehatan terhadap
Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi
Sulawesi Utara
Jesiska Christin Karwur, Anderson
G. Kumenaung, Agnes L.Ch.P.
Lapian.
(2019)
Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis pengaruh pengeluaran
pemerintah sektor pendidikan dan
kesehatan terhadap indeks
pembangunan manusia di
Provinsi Sulawesi Utara.
Penelitian ini menggunakan
data pengeluaran
pemerintah sektor pendidikan dan
kesehatan dan indeks pembangunan
manuia.
Metode analisis yang digunakan
adalah regresi linear berganda.
Adapun hasil yang diperoleh adalah secara
parsial pengeluaran pemerintah sektor pendidikan berpengaruh
terhadap indeks pembangunan manusia
di Provinsi Sulawesi Utara. Secara parsial pengeluaran pemerintah
sektor kesehatan tidak berpengaruh terhadap indeks pembangunan manusia di Provinsi Sulawesi Utara. Secara
bersama- sama pengeluaran pemerintah
sektor pendidikan dan sektor kesehatan berpengaruh terhadap indeks pembangunan
manusia di Provinsi Sulawesi Utara.
13 Pengaruh Investasi Swasta (PMDN/PMA),
Pengeluaran Pemerintah dan
Tenaga Kerja terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten
Minahasa Tenggara
Yanti Yani Ponomban, Rosalina A.M.
Koleangan, Ita Pingkan Rorong
(2019)
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh Investasi Swasta
(PMDN/PMA), Pengeluaran Pemerintah dan
Tenaga Kerja terhadap Pertumbuhan
Ekonomi Kabupaten
Minahasa Tenggara
Penelitian ini menggunakan data investasi
swasta, pengeluaran pemerintah, tenaga kerja
dan pertumbuhan
ekonomi
Regresi Linier Berganda
Hasil analisis menunjukan bahwa investasi swasta tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di
Kabupaten Minahasa Tenggara Pengeluaran pemerintah berpengaruh positif dan
signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Minahasa
Tenggara, dan tenaga kerja berpengaruh positif
dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di
Kabupaten Minahasa Tenggara. Secara simultan menunjukan