• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

11 BAB II

LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

Bab ini menjelaskan landasan teori yang memuat penelitian terdahulu dan teori-teori yang relevan dengan pokok bahasan penelitian ini. Penelitian terdahulu menjelaskan teori yang digunakan dalam penelitian sebelumnya dan relevan dengan penelitian yang akan dilakukan. Kemudian dalam landasan teori terdapat sub bab kebijakan publik, implementasi kebijakan publik, dan program kampung keluarga berencana. Dalam sub bab kebijakan publik menjelaskan mengenai definisi, konsep, dan tahap-tahap kebijakan publik. Selanjutnya di dalam sub bab implementasi kebijakan menjelaskan definisi implementasi kebijakan dan model- model implementasi. Kemudian pada sub bab program kampung keluarga berencana menjelaskan latar belakang program, tujuan program, kriteria pembentukan, indikator keberhasilan, dan susunan tim koordinasi pengembangan.

Bab ini juga akan menggambarkan tentang kerangka pemikiran penelitian.

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu dapat membantu untuk mengumpulkan sejumlah kajian ilmiah sebelumnya yang memiliki relevansi dan nilai penting terkait penelitian yang akan dilakukan. Penelitian terdahulu yang pernah dilakukan diantaranya adalah:

1) Penelitian yang dilakukan oleh Abd. Rahman dkk pada tahun 2020 dengan judul Implementation of Public Health Center Accreditation Policy in Improving the Quality of Health Service in Mamuju Regency. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori implementasi milik Edward (1980) yaitu terdiri dari Komunikasi, Sumber Daya, Disposisi, dan Struktur Birokrasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa mekanisme komunikasi belum terlaksana secara terencana dan terstruktur, kemudian kemampuan sumberdaya masih terbatas dimana kurangnya kompetensi tenaga kesehatan yang sesuai, minimnya fasilitas kesehatan dan belum tersedianya anggaran standar akreditasi, namun informasi yang diberikan sudah sesuai dengan kewenangannya. Struktur birokrasi telah dijalankan dimana terdapat SOP akreditasi dan pembentukan struktur tim akreditasi. Terdapat komitmen dan commit to user

(2)

12

dukungan dari Pemerintah Daerah dalam melaksanakan kebijakan tetapi masih kurangnya komitmen dalam penyediaan sumber daya.

2) Penelitian yang dilakukan oleh Breynner Ricardo de Oliveira dan Doriana Daroit pada tahun 2020 dengan judul “Public Policy Networks and the Implementation of the Bolsa-Família Program: An Analysis Based on the Monitoring of School Attendance”. Penelitian ini mengunakan konsep bahwa dalam implementasi kebijakan di wilayah para pelaksana menetapkan proses, mobilitas sumber daya, mematuhi dan mentrasformasikan instrumen dan norma. Sehingga didapatkan kategori yang meliputi, persepsi program; nilai dan representasi pada audiens target; persepsi atas tindakan pemerintah; desain kelembagaan dan operasi program; kesan tentang persyaratan program dan tuntutan agen di tingkat lokal; dan rutinitas agen dalam rutinitas sehari-hari.

3) Penelitian yang dilakukan oleh Achyar Hanif Siregar dkk pada tahun 2017 dengan judul “Implementation of Program the Village Empowerment in Riau Province”. Penelitian ini menggunakan teori implementasi yang dikemukakan oleh Goero C. Edward yang terdiri dari empat variabel, yaitu Komunikasi, Sumbedaya, Sikap, dan Struktur Birokrasi. Dalam penelitian menemukan bahwa komunikasi PPD diimplementasikan dalam dua cara, yaitu sebagai acuan buku panduan keseragaman kebijakan bahasa dan technical meeting berjenjang sebagai bentuk komunikasi langsung antar pemangku kepentingan dalam menghadapi permasalahan yang timbul. Kemudian sumber daya terdiri dari sumber daya manusia dan anggaran. Sikap dilihat dari komitmen tekad dalam pelaksanaan keputusan serta komitmen terhadap kerjasama dan duplikasi komitmen program oleh kabupaten/kota. Sedangkan stuktur birokrasi dinilai dari struktur organisasi yaitu meliputi provinsi, kabupaten/kota. Setiap tingkat memiliki deskripsi struktur dan pekerjaan masing-masing.

4) Penelitian yang dilakukan oleh Desmawati dkk pada tahun 2018 dengan judul

“Evaluasi Implementasi Program Pendistribusian Zakat “Agam Makmur”

untuk Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Agam”. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu enam indikator yang digunakan untuk menilai kinerja kebijakan milik William N Dunn (1994) yaitu: Efektivitas, Efesiensi, commit to user

(3)

13

Kecukupan, Kesamaan, Responsiveness, dan Ketepatgunaan. Evaluasi program adalah proses menggambarkan, mengumpulkan data, dan menyampaikan informasi kepada pembuat kebijakan yang akan digunakan sebagai bahan pertimbangan apakah suatu program harus diperbaiki, dihentikan, atau diteruskan.

5) Penelitian yang dilakukan oleh Sofyan Choirudin dan Priyanto Harsasto pada tahun 2019 dengan judul “Evaluasi Implementasi Program Expanding and Neonatal Survival (EMAS) dalam Upaya Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi di Kabupaten Brebes. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Model Implementasi milik Ripley dan Donald serta milik Van Metter dan Carl Van Horn sehingga didapatkan 9 indikator meliputi Akses, Cakupan, Frekuensi, Bias, Ketepatan Layanan, Ukuran dan Tujuan Program, Sumber Daya, Karakteristik Pelaksana, dan Komunikasi antar Organisasi. Evalusi dilakukan guna mengetahui apakah pelaksanaan kebijakan sudah sesuai dengan pedoman dan mencapai sasaran serta tujuan.

B. Landasan Teori 1. Kebijakan Publik

Turner dan Hulme menyatakan bahwa sebuah kebijakan meliputi dua proses utama yaitu proses pembuatan kebijakan dan proses implementasi kebijakan (Keban, 2004, p. 56). Thomas R. Dye (Subarsono, 2013, p. 2) menjelaskan secara sederhana “Public policy is whatever governments choose to do or not to do” (kebijakan publik adalah apapun pilihan pemerintah untuk melakukan dan tidak melakukan). Pengertian tersebut memiliki arti bahwa, kebijakan publik dibuat oleh pemerintah tentang pilihan apa yang harus dilakukan dan tidak harus dilakukan. James Anderson, 1975 (Winarno, 2014, p. 21) berpendapat, kebijakan adalah arah tindakan yang ditetapkan oleh seorang atau sejumlah aktor yang memiliki tujuan guna mengatasi permasalahan tertentu.

Kemudian, kebijakan publik menurut Harold D. Lawsell dan Abraham Kaplan (Howlett & Ramesh, 1995, p. 2) diartikan sebagai “A commit to user

(4)

14

projected of goals, values, and practicies” (Sebuah proyeksi dari berbagai tujuan, nilai, dan praktik tertentu). Dalam pengertian ini, kebijakan publik berisi tujuan, nilai, dan praktik-praktik tertentu. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh David Easton (Subarsono, 2013, p. 2) mengatakan bahwa kebijakan publik merupakan pengalokasian nilai-nilai yang terkandung dalam kebijakan kepada masyarakat.

Proses pembuatan kebijakan publik adalah proses kompleks yang di dalamnya terlibat berbagai proses atau variabel yang perlu dikaji. William Dunn (1999:24-25) membagi tahap-tahap kebijakan publik menjadi enam tahap, yaitu Penyusunan Agenda, Formulasi Kebijakan, Adopsi Kebijakan, Implementasi Kebijakan, dan Evaluasi Kebijakan.

Tidak berbeda jauh dengan pendapat William N. Dunn, Michael Howlet dan M. Ramesh, 1995 (Subarsono, 2013, pp. 12-13) menyatakan bahwa proses kebijakan publik terdiri dari lima tahapan, yaitu meliputi:

Penyusunan agenda (agenda setting), yaitu proses dimana suatu masalah bisa mendapat perhatian dari pemerintah. Kemudian ada formulasi kebijakan (policy formulation), yaitu proses merumuskan berbagai pilihan kebijakan oleh pemerintah. Selanjutnya adalah pembuatan kebijakan (decision making), yaitu proses pemilihan untuk melakukan tindakan atau tidak melakukan tindakan sama sekali. Implementasi kebijakan (policy implementation), yakni proses untuk melaksanakan kebijakan agar bisa mencapai hasil yang diharapkan. Terakhir ada, evaluasi kebijakan (policy evaluation), yaitu prosesmonitoring dan menilai hasil atau kinerja dari kebijakan yang sudah dilaksanakan.

Dari beberapa pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kebijakan publik adalah serangkaian tindakan yang di dalamnya mengandung nilai, tujuan, dan sasaran yang hendak dicapai bersama, yang diusulkan atau ditetapkan oleh seorang aktor atau sejumlah aktor guna memanfaatkan peluang dan/atau mengatasi suatu masalah tertentu.

commit to user

(5)

15 2. Implementasi Kebijakan Publik

Implementasi kebijakan merupakan tahap keempat dalam siklus kebijakan publik, yaitu proses melaksanakan kebijakan yang telah dipilih agar tidak hanya menjadi catatan-catatan elite pemerintah saja.

Keberhasilan suatu kebijakan dalam mencapai tujuan salah satunya dipengaruhi oleh proses implementasi ini. Seperti yang diungkapkan oleh George C. Edwards, 1980 (Nugroho, 2012, p. 693) mengatakan bahwa, masalah utama dari kebijakan publik adalah perhatian yang kurang terhadap proses implementasi. Edwards mengatakan dengan tidak adanya suatu implementasi yang efektif, keputusan yang diambil oleh pembuat kebijakan tidak dapat terlaksana dengan berhasil.

Ripley dan Franklin, 1982 (Winarno, 2014, p. 148) mengemukakan makna implementasi ke dalam dua hal, yang pertama yaitu setelah ditetapkannya undang-undang apakah memberikan keuntungan (benefit) atau keluaran yang nyata (tengible output). Kedua yaitu berkaitan dengan tindakan yang diambil oleh aktor-aktor berdasarkan pada tujuan dan hasil yang diinginkan.

George C. Edwards, 1980 (Winarno, 2014, p. 147) menjelaskan bahwa, implementasi dapat dipahami sebagai suatu proses, suatu keluaran (output), maupun sebagai suatu dampak (outcome). Kemudian Marilee S.

Grindle, 1980 (Winarno, 2014, p. 149) berpendapat bahwa, tugas atau fungsi dari implementasi yaitu menciptakan suatu kaitan (linkage) yang dapat memudahkan terealisasikannya tujuan kebijakan, meliputi terbentuknya “a policy delivery system” atau sebuah sistem penyampaian kebijakan, dimana berbagai sarana dirancang dan dioperasikan agar tujuan- tujuan yang diharapakan dapat tercapai. Sementara itu, van Meter dan van Horn, 1975 (Winarno, 2014, pp. 149-150) mengemukakan bahwa implementasi dibatasi sebagai suatu tindakan yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta yang guna pencapaian berbagai tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya.

commit to user

(6)

16

Berdasarkan berbagai pendapat dari para ahli, dapat diambil kesimpulan bahwa implementasi merupakan segala tindakan yang dilakukan oleh aktor-aktor baik itu pemerintah maupun swasta yang setelah kebijakan ditetapkan/diputusakan dalam rangka mencapai tujuan dan hasil yang diinginkan.

Terdapat beberapa model implementasi yang dapat digunakan untuk mengetahui apa saja faktor yang memengaruhi proses berjalannya suatu kebijakan. Model-model tersebut dapat digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan suatu kebijakan. Terdapat beberapa model yang digunakan dalam pengimplementasian suatu kebijakan untuk mengukur tingkat keberhasilan kebijakan tersebut. Berikut beberapa model implementasi menurut para ahli, yaitu:

a. Model Implementasi Van Meter dan Van Horn (1975)

Van Meter & Van Horn, 1975 (Winarno, 2014, p. 158) merumuskan enam variabel untuk menguraikan berbagai proses dengan melihat bagaimana berbagai keputusan dari sebuah kebijakan diimplementasikan, dimana keenam variabel tersebut membentuk sebuah kaitan (linkage). Berikut merupakan keenam variabel yang dikemukakan oleh van Meter dan van Horn:

1. Ukuran-Ukuran Dasar dan Tujuan-Tujuan Kebijakan

Ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan atau dapat dikatakan sebagai standar dan sasaran kebijakan memiliki kegunaan untuk menguraikan secara menyeluruh berbagai tujuan keputusan dari kebijakan, dimana perlu melakukan indentifikasi dan mengukur tujuan-tujuan dari kebijakan karena dengan mempertimbangkan berbagai tujuan kebijakan tersebut proses implementasi akan berhasil. Standar dan sasaran kebijakan dapat ditemukan dan dilihat dari regulasi dan garis pedoman kebijakan/program.

commit to user

(7)

17 2. Sumber-Sumber Kebijakan

Sumber-sumber kebijakan dapat berupa sumber daya manusia maupun non-manusia seperti anggaran atau perangsang (incentive) lain. Sumber-sumber ini perlu diperhatikan karena sumber-sumber ini dapat menunjang keberhasilan implementasi kebijakan.

3. Komunikasi antar Organisasi dan Kegiatan Pelaksanaan

Sangat penting adanya kejelasan, komunikasi yang tepat, dan konsistensi komunikasi dari standar dan sasaran kebijakan.

Menurut van Meter dan van Horn, keberhasilan proses implementasi kebijakan seringkali dibutuhkan adanya mekanisme dan prosedur lembaga.

4. Karakteristik Badan-Badan Pelaksana

Mencakup struktur birokrasi, karakteristik, norma, dan pola hubungan yang memengaruhi proses pengimplementasian sebuah kebijakan/program.

5. Kondisi-Kondisi Ekonomi, Sosial, dan Politik

Kondisi ekonomi, sosial, dan politik bisa saja memberikan dampak yang besar terhadap pencapaian dalam proses pengimplementasian suatu kebijakan/program.

6. Kecenderungan Pelaksana (Implementors)

Terdapat unsur-unsur yang dapat mempengaruhi pelaksana dalam mengimplementasikan kebijakan, yaitu: kognisi, macam tanggapan/respon, dan intensitas dari tanggapan itu.

Dari keenam variabel tersebut dapat digambarkan menjadi sebuah model sebagai berikut:

commit to user

(8)

18

Gambar 2.1

Model Implementasi van Meter dan van Horn (1975)

Sumber: Winarno, 2014, p. 160.

b. Model Charles O. Jones (1996)

Charles O. Jones, 1996 (Agustino, 2016, p. 154) menyatakan dalam proses implementasi kebijakan terdapat tiga aktivitas utama yang harus diperhatikan yaitu organization, interpretation, dan application.

1. Organisasi (organization)

Yaitu merupakan upaya penetapan, pembentukan, dan penataan kembali berbagai sumber daya, unit, dan metode agar kebijakan dapat terealisasi menjadi output sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

2. Interpretasi (interpretation)

Interpretasi adalah aktivitas menafsirkan substansi dari kebijakan menjadi suatu rencana dan/atau pengarahan yang tepat, sehingga substansi dari kebijakan tersebut bisa diimplementasikan dan diterima.

3. Aplikasi (application)

Aplikasi merupakan tahap penerapan dari semua rencana proses pelaksanaan kebijakan yang telah ditentukan ke dalam bentuk realisasi yang disesuaikan dengan tujuan dan perlengkapan kebijakan melalui penyediaan pelayanan secara rutin, pembayaran, atau lainnya. Jones, 1996 (Agustino, 2016, p.154) menyebutkan commit to user

(9)

19

bahwa aplikasi dapat berupa suatu ketentuan dan bersifat tetap dalam proses pelayanan atau pengimplementasian guna mencapai sasaran/tujuan kebijakan atau program.

c. Model Implementasi George C. Edwards (1980)

Selanjutnya ada Model milik George C. Edwards (1980), implementasi kebijakan dipengaruhi oleh empat variabel, yaitu sebagai berikut (Winarno, 2014, pp. 177-210):

1. Komunikasi

Komunikasi memiliki peran penting dalam pengimplementasian kebijakan, dimana apabila implementor dapat mengkomunikasikan dengan baik kebijakan/program kepada kelompok sasaran maka proses implementasi dapat berjalan secara efektif. Komunikasi kebijakan memiliki 3 dimensi, yaitu transmisi, kejelasan, dan konsistensi.

2. Sumber-sumber

Sumber yang diperlukan dalam pelaksanaan kebijakan menjadi faktor keberhasilan implementasi kebijakan. Sumber - sumber tersebut dapat berupa sumberdaya manusia dan non - manusia.

3. Kecenderungan-kecenderungan

Yaitu watak atau karakteristik yang dimiliki oleh implementor seperti tanggung jawab, komitmen, kejujuran. Dimana kebijakan akan cenderung berhasil apabila para pelaksana mempunyai disposisi yang baik sehingga kebijakan akan berjalan sesuai apa yang diinginkan.

4. Struktur Birokrasi

Struktur birokrasi atau organisasi berpengaruh terhadap proses pengimplementasian suatu kebijakan. Dimana salah satu struktur dalam organisasi yang penting yaitu berkenaan dengan SOP

commit to user

(10)

20

(Standard Operating Procedure). SOP dijadikan pedoman bagi para pelaksana dalam bertindak.

Dari keempat variabel di atas, model implementasi dari Edwards dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.2

Model Implementasi George C. Edwards (1980)

Sumber: Winarno, 2014: 211

d. Model Implementasi Merilee S. Grindle (1980)

Sementara itu, menurut Grindle, 1980 (Nugroho, 2012, pp. 690- 691), menjelaskan implementasi kebijakan dipengaruhi oleh isi kebijakan dan konteks implementasinya. Variabel isi kebijakan meliputi:

1) Kepentingan kelompok sasaran.

2) Jenis/tipe manfaat.

3) Derajat perubahan yang diinginkan.

4) Kedudukan pengambil kebijakan.

5) Pelaksana program.

6) Sumber daya yang dilibatkan.

Kemudian variabel konteks/lingkungan implementasi meliputi tiga hal yaitu:

1) Besarnya kekuasaan, kepentingan, dan strategi aktor yang terlibat. commit to user

(11)

21

2) Karakteristik dari lembaga dan penguasa.

3) Tingkat daya tanggap dan kepatuhan kelompok sasaran.

Berikut merupakan gambar Model Implementasi Merilee S, Grindle (1980):

Gambar 2.3

Model Implementasi Merilee S. Grindle (1980)

Sumber: Subarsono, 2013, p. 94.

Dalam melihat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap implementasi Program Kampung KB Pucangsawit Kota Surakarta, penelitian ini akan menggunakan model implementasi yang dikemukakan oleh George C.

Edwards karena dianggap sesuai dengan adanya temuan-temuan dalam implementasi dengan faktor-faktor dari model yang dikembangkan oleh Edwards. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain:

1. Sumber-sumber. Indikator sumber-sumber daya yang dapat digunakan dalam mengukur keberhasilan variabel ini terdiri dari:

a. Staf. Mungkin sumber tepenting dalam pengimplementasian suatu kebijakan adalah staf. Jumlah staf yang memadai apabila dibarengi dengan kecakapan yang dimiliki tiap individu tidak akan berefek positif bagi pengimplementasian kebijakan. Namun juga sebaliknya, apabila jumlah staf tidak memadai juga akan menjadi persoalan saat implementasi kebijakan. Nantinya akan dilihat siapa saja staf atau

commit to user

(12)

22

pelaksana dari Kampung KB Pucangsawit, apakah ada unsur masyarakat atau tidak.

b. Pendanaan. Anggaran/dana yang digunakan untuk membiayai pengimplementasian Kampung KB Pucangsawit bersumber dari mana saja.

c. Fasilitas. Fasilitas-fasilitas juga menjadi faktor penting dalam implementasian kebijakan, dapat berupa sarana dan prasarana.

Sarana dan prasarana yang dibutuhkan dan mendukung pelaksanaan Program Kampung KB Pucangsawit sudah tersedia dengan mamadai atau belum.

2. Komunikasi. Siapa saja komunikator dalam pelaksanaan Program Kampung KB Pucangsawit akan dilihat yang terlibat di dalamnya.

Untuk mengukur keberhasilan komunikasi dalam proses implementasi kebijakan dapat digunakan tiga indikator, yaitu:

a. Transmisi. Implementor dalam melaksanakan suatu kebijakan harus menyadari dan mengetahui bahwa keputusan dan perintah untuk pelaksanaannya telah dibuat dan dikeluarkan.

b. Kejelasan. Agar tidak menimbulkan ambiguitas pada saat implementasi kebijakan, komunikasi kebijakan yang disampaikan kepada para implementor kebijakan harus jelas.

c. Konsistensi. Agar para implementor mudah dalam menjalankan tugasnya, berbagai perintah yang disampaikan harus konsisten dan jelas.

3. Kecenderung-kecenderungan. Yaitu berkaitan dengan watak, tanggung jawab, komitmen, serta khususnya kognisi atau keterampilan dari aktor dalam melaksanakan Program Kampung KB Pucangsawit.

4. Struktur birokrasi. Salah satu aspek penting dalam implementasi kebijakan adalah adanya prosedur operasi standar (standard operating prosedures) serta siapa saja pihak yang memiliki tanggung jawab dalam pelaksanaan Program Kampung KB Pucangsawit.

commit to user

(13)

23

3. Program Kampung Keluarga Berencana

Secara umum, Kampung KB dibentuk guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui program KKB-PK dan mewujudkan keluarga kecil berkualitas melalui pembangunan sektor terkait lainnya di tingkat kampung atau yang setara. Secara khusus, guna meningkatkan peran pemerintah, lembaga non-pemerintah, dan swasta dalam memberikan fasilitas, dampingan, dan binaan kepada masyarakat dalam penyelenggaraan program KKB-PK serta pembangunan sektor terkait, selain itu juga sebagai upaya peningkatan kesadaran masyarakat terkait pembangunan berwawasan kependudukan (www.kampungkb.bkkbn.go.id, 2019).

Dalam Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 77 Tahun 2017 Pasal 4 poin 3, dijelaskan bahwa dalam penentuan pemilihan wilayah yang dijadikan Kampung KB terdapat tiga kriteria, yaitu kriteria utama, kriteria wilayah, dan kriteria khusus. Kriteria utama terdiri dari jumlah keluarga pra sejahtera dan miskin di atas rata-rata, kemudian jumlah capaian peserta KB di bawah rata-rata, dan jumlah usia dini yang melakukan perkawinan di atas rata-rata.

Kriteria wilayah memiliki prioritas yang diurutkan terdiri dari kawasan kumuh atau miskin, tertinggal dan/atau terpencil, daerah pesisir, padat penduduk, Daerah Aliran Sungai (DAS), bantaran rel kereta api, kawasan industri, dan kawasan wisata. Kriteria khusus, meliputi kriteria data, kriteria pendidikan, kriteria Program KB, kriteria program pembangunan keluarga, dan kriteria sektor terkait. Kriteria data yaitu berupa data dan peta keluarga yang dimiliki tiap RT/RW, kemudia kriteria pendidikan yaitu dilihat dari rendahnya angka partisipasi usia sekolah, dan kriteria program KB yaitu dilihat dari peserta KB aktif dan pengguna Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) yang berada di bawah rata-rata serta tingkat Unmet Need di atas rata-rata.

Tim Koordinasi pengembangan Kampung KB dibentuk sebagai penunjang fasilitas koordinasi pengembangan kampung KB di Daerah.

Dalam Pasal 5 Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 77 Tahun 2017 commit to user

(14)

24

menyebutkan susunan keanggotaan Tim Koordinasi pengembangan Kampung KB, meliputi: Pengarah, Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, dan Anggota. Sebagai tindak lanjut dari pembentukan Kampung KB tersebut dibentuk.

Selanjutnya akan dibentuk Kelompok Kerja (Pokja) Kampung KB.

Adapun susunan Pokja Kampung KB meliputi Pelindung, Penasehat, Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan Seksi-seksi 8 fungsi keluarga. Selain itu juga dibentuk Kelompok Kegiatan (Poktan) yang meliputi Forum Musyawarah, Petugas Lini Lapangan, Petugas Lapangan Instansi terkait, dan Poktan Kader-Kader per Bidang sesuai kebutuhan program dan kegiatan pada wilayah Kampung KB.

Adapun Kampung KB memiliki tingkatan berdasarkan dari capaian kegiatan yang dilakukan. Tingkatan Kampung KB mulai dari yang terendah ada Kampung KB Pemula, kemudian Kampung KB Madya, dan tertinggi adalah Kampung KB Paripurna/Purna. Kriterian yang diuganakan untuk menentukan tingkatan tersebut adalah tingkat persentase capaian pelaksanaan kegiatan dari Kampung KB tersebut. Apabila capaian pelaksanaan kegiatan belum mencapai 50% dari yang sudah ditetapkan maka masuk pada tingkatan Kampung KB Pemula. Kemudian apabila capaian pelaksanaan kegiatan telah mencapai 50% tetapi belum emncapai 100% dari yang telah ditetapkan maka masuk pada tingkatan Kampung KB Madya. Dan apabila capaian pelaksanaan kegiatan telah mencapai 100%

dari yang telah ditetapkan maka masuk pada tingkatan Kampung KB Paripurna.

Terakhir, terkait dengan monitoring evaluasi Kampung KB dalam Pasal 12 Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 77 Tahun 2017 disebutkan bahwa monitoring dan evaluasi pengembangan Kampung KB dilakukan oleh tim yang ditetapkan oleh gubernur. Adapun monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkala setiap 6 bulan sekali atau bisa juga sewaktu-waktu apabila diperlukan.

commit to user

(15)

25 C. Kerangka Berpikir

Permasalahan kependudukan masih menjadi salah satu masalah utama yang perlu diselesaikan oleh pemerintah. Salah satu fokus dari pemerintah adalah untuk menyelesaikan masalah kuantitas penduduk, dimana Indonesia menjadi negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke empat di dunia. Program Keluarga Berencana yang dipandang masih belum berhasil untuk menyelesaikan masalah kuantitas penduduk membuat pemerintah menciptakan program baru guna untuk mendukung keberhasilan Program Keluarga Berencana yaitu melalui Program Kampung KB. Kota Surakarta merupakan salah satu kota yang menjadi pilot project pembentukan Kampung KB.

Sehingga, penelitian ini akan membahas impelemntasi Program Kampung KB di Kota Surakarta pada tahap implementasinya, yaitu dengan melihat pelaksanaan program sudah sesuai dengan konsep “dari, oleh, dan untuk masyarakat” yang tertuang dalam pengertian Kampung KB berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 77 Tahun 2017. Serta akan membahas terkait faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi berjalannya Program Kampung KB Kelurahan Pucangsawit, adapun indikator-indikator yang digunakan untuk melihat faktor yang memengaruhi proses implementasi program ini yaitu model teori yang dikemukakan oleh George C. Edwards. Faktor-faktor tersebut antara lain:

1. Komunikasi

Keberhasilan implementasi suatu kebijakan juga dipengaruhi oleh ada atau tidaknya dan lancar atau tidaknya komunikasi antar aktor pelaksana dan antara pelaksana dengan kelompok sasaran. Menurut George C.

Edwards, 1980 (Winarno, 2014, pp. 178-184) terdapat tiga hal penting terkait dengan proses komunikasi kebijakan, yaitu transmisi, konsistensi, dan kejelasan.

Komunikasi dalam implementasi Program Kampung KB di Kota Surakarta dapat dilihat dari kejelasan aparat pelaksana dalam menyampaikan perintah dan petunjuk pelaksanaan program kepada unit di commit to user

(16)

26

bawahnya atau kepada kelompok sasaran, yaitu dari segi koordinasi yang terjalin antar unit pelaksana (seperti antara Dinas Pegendalian Penduduk dan KB, Tim Koordinasi, Pokja, dan Poktan). Kemudian juga dapat dilihat dari komunikatornya, siapa saja yang mengkomunikasikan perintah atau petunjuk atau informasi.

2. Sumber-Sumber

Menurut George C. Edwards (1980) dalam (Winarno, 2014, pp. 184- 196) sumber-sumber yang diperlukan dalam melaksanakan kebijakan- kebijakan menjadi faktor keberhasilan implementasi kebijakan.

Sumber-sumber tersebut dapat berupa sumber daya manusia, yaitu staf yang memadai serta memiliki kompetensi yang baik untuk melaksanakan tugas-tugas mereka, wewenang, dan fasilitas-fasilitas yang diperlukan, serta dapat berupa sumberdaya finansial.

Sumber daya dalam pelaksanaan Program Kampung KB di Kota Surakarta adalah sumber daya manusia (implementor) yaitu SDM di Dinas Pendendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Surakarta, Tim Koordinasi Kampung KB, Kelompok Kerja (Pokja), dan Kelompok Kegiatan (Poktan) yang dilihat dari segi jumlah dan kompetensinya, selain itu juga dilihat apakah terdapat unsur masyarakat yang menjadi pelaksana atau hanya dari pihak pemerintah saja yang menjadi pelaksana. Kemudian fasilitas-fasilitas yaitu dilihat dari ketersediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam pelaksanaan Program Kampung KB. Selain itu, juga terkait dengan sumber daya finansial yaitu anggaran untuk pelaksanaan program yang dapat dilihat dari mana saja sumber anggaran yang digunakan untuk membiayai pelaksanaan Program Kampung KB di Kota Surakarta.

3. Kecenderungan-Kecenderungan

Menurut van Meter dan van Horn, 1975 (Winarno, 2014, p. 168), terdapat tiga unsur tanggapan pelaksana yang dapat memengaruhi kemampuan dan keinginan mereka untuk melaksanakan kebijakan, yaitu: kognisi (komperhensi, pemahaman) tentang kebijakan, macam commit to user

(17)

27

tanggapan terhadapnya (penerimaan, netralitas, penolakan), dan intensitas tanggapan itu (preferensi nilai yang dimiliki oleh implementor). Kemudian menurut Edwards, 1980 (Winarno, 2014, p.

197), jika para pelaksana bersikap baik terhadap suatu kebijakan tertentu, dan hal ini berarti ada dukungan, kemungkinan besar mereka melaksanakan kebijakan sebagaimana yang diinginkan oleh para pembuat keputusan awal. Salah satu aspek dari kecenderungan pelaksana adalah disposisi, yaitu sikap yang dimiliki oleh implementor seperti komitmen, tanggung jawab, dan sikap netral.

Terkait dengan kecenderungan/sikap pelaksana dalam pelaksanaan Program Kampung KB di Kota Surakarta yaitu dapat dilihat dari bagaimana sikap para pelaksanaan saat menjalankan program, tanggung jawab dari para pelaksana saat mengimplementasikan program, serta bagaimana tanggapan para pelaksana/implementor menaati peraturan dan prosedur pelaksanaan program.

4. Struktur Birokrasi

Menurut Edwards (1980) terdapat dua karakteristik utama dari birokrasi yang memengaruhi implementasi suatu kebijakan, yaitu prosedur-prosedur kerja/ukuran-ukuran dasar atau sering disebut Standard Operating Procedures (SOP) dan fragmentasi. Fragmentasi disini memiliki pengertian bahwa tanggung jawab bagi suatu bidang kebijakan sering tersebar di antara beberapa organisasi.

Terkait dengan struktur birokrasi dalam pelaksanaan Program Kampung KB di Kota Surakarta dapat dilihat dari ada atau tidaknya SOP terkait pelaksanaan Program Kampung KB. Kemudian juga terkait dengan siapa saja pihak yang memiliki tanggung jawab dalam pelaksanaan Program Kampung KB di Kota Surakarta.

commit to user

(18)

28 Gambar 2.4 Bagan Kerangka Berpikir

1. Program KB mengalami berbagai kendala dan masalah 2. Upaya penguatan program Kependudukan Keluarga

Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK)

Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 77 Tahun 2017 tentang Pengembangan Kampung Keluarga Berencana di

Provinsi Jawa Tengah

Pemerintah Kota Surakarta melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kota Surakarta

Implementasi Program Kampung KB di Kota Surakarta menurut Peraturan Gubernur Jawa

Tengah Nomor 77 Tahun 2017

Tercipatnya penguatan Program Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, dan untuk masyarakat untuk memperoleh pelayanan total Program KB, sebagai upaya mewujudkan keluarga yang berkualitas, di wilayah minimal setingkat Dusun atau Rukun Warga.

Faktor-faktor yang memengaruhi implementasi Program Kampung KB di Kota Surakarta dilihat menggunakan teori George C. Edwards:

1. Komunikasi 2. Sumber-Sumber

3. Kecenderungan-Kecenderungan 4. Stuktur Birokrasi

commit to user

Referensi

Dokumen terkait

Setelah penulis memberikan kesimpulan yang telah diuraikan diatas, maka penulis ingin memberikan saran mengenai perjanjian, hak dan kewajiban antara para pihak dalam menempatkan

Dari data hasil pengujian dianalisa korelasi antara pengamatan mikrostruktur terhadap sifat mekanik yang terjadi pada material komposit Al/SiC yang mengalami pelapisan oksida

informasi publik ini dibatasi dengan hak individual dan privacy seseorang terkait dengan data kesehatan yang bersifat rahasia (rahasia medis). Jadi dalam hal ini dapat dianalisis

Pada pantun bajawek di atas penutur pantun berusaha mengkonkretkan kata-katanya mamukek urang di Tiagan, rami dek anak Simpang Tigo. Dengan kata-kata yang

Akan tetapi, hasil penelitian menunjuk- kan bahwa pertumbuhan earning per share memiliki hubungan positif tidak signifikan terhadap keputusan stock split

Program ini digunakan untuk menjalankan atau menampilkan file tertentu yang mungkin tidak bisa dijalankan sendiri oleh browser karena diciptakan dalam format lain.. Plug-in

Pengawasan untuk program Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kudus Setiap kegiatan yang akan dilaksanakan melalui proses pengawasan yang telah ada di

Tugas akhir dengan judul “Perencanaan Persediaan Buah Apel di Giant Supermarket” diajukan sebagai salah satu syarat untuk mencapai Derajat Sarjana Teknik Industri di Program