• Tidak ada hasil yang ditemukan

THE IMPLEMENTATION SPEAKING INDONESIAN LEARNING USING LOCAL WISDOM TALES CLASS V AT SDN 219 PUKKISENG BULUPODDO DISTRICT OF SINJAI TESIS OLEH:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "THE IMPLEMENTATION SPEAKING INDONESIAN LEARNING USING LOCAL WISDOM TALES CLASS V AT SDN 219 PUKKISENG BULUPODDO DISTRICT OF SINJAI TESIS OLEH:"

Copied!
152
0
0

Teks penuh

(1)

THE IMPLEMENTATION SPEAKING INDONESIAN LEARNING USING LOCAL WISDOM TALES CLASS V AT SDN 219

PUKKISENG BULUPODDO DISTRICT OF SINJAI

TESIS

OLEH:

MUHAMMAD AMIN

Nomor Induk Mahasiswa: 105.04.09.047.14

PROGRAM PASCASARJANA

MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2016

(2)

TESIS

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Magister

Program Studi

Bahasa dan Sastra Indonesia

Disusun dan Diajukan oleh:

MUHAMMAD AMIN

Nomor Induk Mahasiswa: 105.04.09.047.14

PROGRAM PASCASARJANA

MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

MAKASSAR 2016

(3)
(4)
(5)
(6)

iv

Nomor Pokok : 105 04 09 047 14

Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis yang saya tulis ini benar- benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihantulisan atau pemikiran orang lain. Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan tesis ini hasil karya orang lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Makassar, Juli 2016

Yang Menyatakan

MUHAMMAD AMIN Nim. 105 04 09 047 14

(7)

ii

PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBICARA BAHASA INDONESIA MENGGUNAKAN DONGENG DENGAN

KEARIFAN LOKAL DI KELAS V SD NEGERI 219 PUKKISENG KECAMATAN BULUPODDO

KABUPATEN SINJAI

Yang disusun dan diajukan oleh

MUHAMMAD AMIN

Nomor Induk Mahasiswa: 105.04.09.047.14

Telah dipertahankan di hadapan Panitia Ujian Tesis Pada tanggal 13 Juli 2016

Menyetujui Komisi Pembimbing

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dr. A. Rahman Rahim, M.Hum. Dr. H. A. Sukri Syamsuri, M.Hum.

Mengetahui,

Direktur Pascasarjana Ketua Program Studi

Magister Bahasa Indonesia

Prof. Dr. H. M. Ide Said, DM., M. Pd. Dr. A. Rahman Rahim, M.Hum.

(8)

ii Yang bertandatangan di bawah ini:

Nama : Muhammad Amin

Nomor Pokok : 105 04 09 047 14

Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis yang saya tulis ini benar- benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pemikiran orang lain. Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan tesis ini hasil karya orang lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Makassar, Juli 2016

Yang Menyatakan

Muhammad Amin Nim. 105 04 09 047 14

(9)

v

(Dibimbing oleh A. Rahman Rahim dan A. Sukri Syamsuri).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Bentuk pelaksanaan pembelajaran berbicara bahasa Indonesia menggunakan dongeng dengan kearifan lokal di kelas V SD Negeri 219 Pukkiseng Kacamatan Bulupoddo Kabupaten Sinjai serta nilai kearifan lokal yang terdapat dalam dongeng yang digunakan dalam pembelajaran berbicara bahasa Indonesia.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kualitatif. Metode analisis yang digunakan melalui tiga alur, yakni reduksi data, penyajian data, dan simpulan atau verivikasi data. Guna mendapatkan data yang relevan, dalam penelitian ini digunakan tiga teknik pengumpulan data yaitu observasi dengan instrumen pedoman observasi, wawancara dengan instrumen pedoman wawancara yang dibantu dengan handycame atau tape recorder.

Bentuk pelaksanaan pembelajaran berbicara bahasa Indonesia menggunakan dongeng dengan kearifan lokal di kelas V SD Negeri 219 Pukkiseng Kacamatan Bulupoddo Kabupaten Sinjai meliputi tiga bentuk yakni segi aktivitas, THB, dan sikap siswa selama mengikuti proses belajar mengajar. Siswa juga sangat antusias dalam mengikuti pembelajaran karena pembelajaran bahasa Indonesia lebih manarik dan menyenangkan. Hal ini dapat dilihat dari perubahan hasil yang diperoleh dalam persentase siswa yang tuntas dalam pembelajaran.

Setiap face yang dilaksanakan terjadi perubahan nilai yang signifikan menuju arah yang positif. Sedangkan untuk nilai kearifan lokal yang terdapat dalam dongeng yang digunakan dalam pembelajaran berbicara yakni pada dongeng yang berjuddul “Tulangdidi dan Ayam Jantan Ajaib” mengandung kearifan lokal selalu menjaga karakter baik di tengah-tengah masyarakat agar supaya karakter yang baik itu mampu membendung segala fitnah yang ditudukan kepada kita.

Sedangkan pada dongeng kedua yang berjudul “I Jangrik”

mengandung nilai kearifan lokal menjungjung tinggi amanat dan kepercayaan yang diberikan.

Kata Kunci: Berbicara, Dongeng, Kearifan Lokal

(10)

vi Sukri Syamsuri.

This study aimed to determine form speak Indonesian learning implementation using fairy with local wisdom in class V at SDN 219 Pukkiseng , Bulupoddo district of Sinjai and the value of local wisdom contained in fairy tales that are used in learning to speak Indonesian . This research was descriptive qualitative . The analytical method used by three grooves , namely data reduction , data presentation and conclusion or verification data. In order to obtain the relevant data, in this study used three data collection techniques were observation instrument observation guide, interviews with instrument-assisted interview guides with handy- came or tape recorder .

Form of implementation of learning to speak Indonesian to use fairy tales with local wisdom in class V at 219 Pukisseng , Bulupoddo district of Sinjai included three forms viz. In terms of activity , THB , and the attitudes of the students during the learning process. Students were also very enthusiastic in following the Indonesian learning for learning for leaning more interesting and enjoyable. It can be seen from the results obtained change in the percentage of students who complete the study . Each face implemented changes significant value towards a positive direction . As for the value of local wisdom contained in fairy tales that are used in learning tp speak the fables that titled “Tulang didi dan Ayam Jantan Ajaib”

contained local knowledge always keep a good character in the middle of the community so that good character was able to block all the slander that were charged to us . While in the second fairy tale titled 111 “Jangrik”

containing high values of local wisdom uphold the mandate and trust given.

Keywords: Talking, Fables , Local Wisdom

(11)

ix

limpahan rahmat dan inayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “Penerapan Pembelajaran Berbicara Bahasa Indonesia Menggunakan Dongeng dengan Kearifan Lokal di Kelas V SD Negeri 219 Pukkiseng Kecamatan Bulupoddo Kabupaten Sinjai.

Peneliti sangat sadar bahwa tanpa bantuan dari beberapa pihak tesis ini tidak akan selesai. Oleh karena itu, peneliti mengucapkan banyak terima kasih pada semua pihak yang telah turut membantu kelancaran tesis ini.

Terima kasih sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada kedua pembimbing yakni Dr. A. Rahman Rahim, M.Hum. pembimbing I sekaligus Ketua Program Studi Magister Bahasa dan Sastra Indonesia dan Dr. H. A. Sukri Syamsuri, M.Hum., pembimbing II yang dengan penuh kesabaran memberikan arahan dan bimbingannya kepada penulis guna menyusun tesis ini.

Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Prof. Dr. H. M. Ide Said, DM., M. Pd., Direktur Program Pascasarjana

Universitas Muhammadiyah Makassar beserta staf. Tidak lupa penulis menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada

(12)

x proses perkuliahan.

Penulis juga berterima kasih kepada semua dosen Program Pascasarjana yang telah membelajarkan penulis selama kuliah di Strata 2 (S-2) pada PPs Universitas Muhammadiyah Makassar. Para karyawan dan rekan mahasiswa PPs Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah banyak membantu penyelesaian tesis ini. Istri dan anak-anakku tercinta atas segala dukungan moril yang tidak henti-hentinya bagi penyelesaian tesis ini. Semua pihak yang tidak mungkin disebutkan satu persatu, penulis mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang telah diberikan dalam penulisan tesis ini.

Semoga segala budi baik dari berbagai pihak tersebut dapat dicatat sebagai amal kebaikan dan mendapat balasan dari Allah Swt. Amin.

Makassar, Juli 2016

Penulis

(13)

xi

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

HALAMAN PENERIMAAN PENGUJI ... iii

PERNYATAAN KEASLIAN TESIS ... iv

ABSTRAK ... v

ABSTRACT ... vi

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR ISTILAH / SINGKATAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 9

C. Tujuan Penelitian ... 10

D. Manfaat Penelitian ... 10

BAB II. KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR ... 12

A. Kajian Pustaka ... 12

1. Penelitian yang Relevan ... 12

2. Pembelajaran Berbicara ... 14

(14)

xii

4. Kearifan Lokal ... 39

B. Kerangka Pikir ... 52

BAB III. METODE PENELITIAN... 55

A. Jenis Penelitian ... 55

B. Objek Penelitian ... 56

C. Tempat dan Waktu Penelitian ... 57

D. Teknik Pengumpulan Data ... 58

E. Teknik Analisis Data ... 59

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 62

A. Pelaksanaan Penelitian ... 62

B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 104

C. Kendala-Kendala dalam Penelitian ... 114

BAB V. SIMPULAN DAN SARAN... 115

A. Simpulan ... 115

B. Saran ... 117

DAFTAR PUSTAKA ... 119

RIWAYAT HIDUP ... 121 LAMPIRAN

(15)

xiii

Tabel Teks Halaman

Tabel 1 Kriteria Interpretasi ... 58 Tabel 2 Kategori Keefetifan Penerapan Pembelajaran.... 59 Tabel 4.1 Hasil Pencapaian Siswa Sd Negeri 219

Pukkiseng Kecamatan Bulupoddo Kabupaten

Sinjai pada Kondisi Awal... 67 Tabel 4.2 Hasil Evaluasi Hasil Belajar pada Fase I ... 82 Tabel 4.3 Distribusi Skor Pembelajaran Berbicara

Bahasa indonesia Menggunakan Dongeng dengan Kearifan Lokal pada Siswa Kelas V SD 219 Pukkiseng Kecamatan Bulupoddo

Kabupaten Sinja pada Fase I... 84 Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi, Persentase, serta Kategori

Keefektifan Pembelajaran Berbicara Bahasa Indonesia Menggunakan Dongeng dengan Kearifan Lokal pada Siswa Kelas V

SD Negeri 219 Pukkiseng Kecamatan Bulupoddo

Kabupaten Sinjai pada Fase I... 85 Tabel 4.5 Hasil Evaluasi Hasil Belajar pada Fase II... 99 Tabel 4.6 Distribusi Skor Pembelajaran Berbicara Bahasa

Indonesia Menggunakan Dongeng dengan

(16)

xiv

Pukkiseng Kecamatan Bulupoddo Kabupaten

Sinjai pada Fase II... 101 Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi, Persentase, serta Kategori

Keefektifan Pembelajaran Berbicara Bahasa Indonesia Menggunakan Dongeng dengan Kearifan Lokal pada Siswa kelas V SD Negeri 219 Pukkiseng Kecamatan Bulupoddo

Kabupaten Sinjai pada Fase II... 102 Tabel 4.8 Persentase Siswa yang Tuntas dalam Pembelajaran 105

(17)

xv

Gambar 1 Alur Kerangka Pikir 53

Gambar 2 Tulangdidi dan Ayam Jantan Ajaib 71 Gambar 3 Jangkrik 90

(18)

xv

KPP : Keefektifan Penerapan Pembelajaran THB : Tuntas Hasil Belajar

KPM : Kriteria Pencapaian Minimal

(19)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Masalah pendidikan merupakan masalah yang sangat penting, karena pendidikan itu akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan hidup manusia. Dengan semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditempuh oleh seseorang maka semakin besar kesempatan untuk meraih sukses hidup di masa mendatang. Secara garis besarnya, pendidikan sangat berkompeten dalam kehidupan, baik kehidupan itu sendiri, keluarga, masyarakat maupun kehidupan bangsa dan negara.

Pembangunan nasional yang sedang dilaksanakan bertujuan untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya. Berhasil tidaknya program pembangunan faktor manusia memegang peranan yang sangat penting. Untuk pembangunan itu diperlukan manusia yang berjiwa pemikir, kreatif dan mau bekerja keras, memiliki pengetahuan dan ketrampilan serta memiliki sifat positif terhadap etos kerja.

Sekolah sebagai tempat proses belajar mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan di sekolah memegang peranan penting dalam rangka mewujudkan tercapainya pendidikan nasional secara optimal seperti yang diharapkan. Dalam proses belajar mengajar tersebut guru menjadi pemeran utama dalam menciptakan situasi interaktif yang

(20)

edukatif, yakni interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa dan sumber pembelajaran dalam menunjang tercapainya tujuan belajar.

Tujuan seperti yang telah tersebut di atas dapat dicapai dengan baik apabila pada diri peserta didik timbul suatu kesadaran yang mendalam untuk meraih prestasi yang tinggi. Untuk mencapai prestasi yang tinggi maka diperlukan proses interaksi yang optimal antara pendidik sebagai pentransfer ilmu dan peserta didik sebagai objek.

Pendidikan di Sekolah Dasar (SD) bertujuan memberikan bekal kemampuan dasar ”baca-tulis-hitung”, pengetahuan dan ketrampilan dasar yang bermanfaat bagi siswa sesuai dengan tingkat perkembangan. Terkait dengan tujuan memberikan bekal kemampuan dasar ”baca-tulis”, maka peranan pengajaran Bahasa Indonesia di SD yang bertumpu pada kemampuan dasar ”baca-tulis”, pembelajaran tidak hanya pada tahap belajar di kelas-kelas awal tetapi juga pada kemahiran atau penguasaan di kelas-kelas tinggi.

Bahasa Indonesia sebagai salah satu bidang studi yang memiliki tujuan membekali siswa untuk mengembangkan bahasa di samping aspek penalaran dan hafalan sehingga pengetahuan dan informasi yang diterima siswa sebatas produk bahasa dan sastra. Padahal dalam proses belajar mengajar keterlibatan siswa secara totalitas, artinya melibatkan pikiran, penglihatan, pendengaran dan psikomotor (keterampilan). Jadi dalam proses belajar mengajar, seorang guru

(21)

harus mengajak siswa untuk mendengarkan, menyajikan metode yang dapat dilihat, memberi kesempatan untuk menulis dan mengajukan pertanyaan atau tanggapan, sehingga terjadi dialog kreatif yang menunjukkan proses belajar mengajar yang interaktif.

Berdasarkan hasil belajar Bahasa Indonesia di kelas V (lima) SD Negeri 219 Pukkiseng Kacamatan Bulupoddo Kabupaten Sinjai belum menggembirakan. Rata-rata nilai Bahasa Indonesia pada ulangan semester I tahun ajaran 2015/2016 hanya 52,13. Hal itu adalah akibat dari belum efektifnya pembelajaran berbicara yang dilaksanakan di kelas. Sejalan dengan pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), salah satu upaya yang dilaksanakan di sekolah ini adalah penerapan pembelajaran berbicara menggunakan dongeng. Hal ini harus dilakukan agar kebutuhan peserta didik dapat terlayani dengan baik sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dengan kata lain fungsi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), sebagai kerangka dasar dan harus dijabarkan sendiri oleh guru dengan melihat potensi, situasi dan kondisi masing-masing sekolah. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dalam proses pembelajaran harus berjalan secara kreatif, inovatif, efektif, menyenangkan dan bermakna bagi peserta didik. Perubahan dan implementasi itu tidak hanya konsep, metode dan strategi guru dalam mengajar akan tetapi situasi dan

(22)

kondisi siswa juga harus kondusif dan menyenangkan, sehingga siswa merasa nyaman belajar di sekolah.

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa guru harus mencari solusi yang terbaik dalam pembelajaran. Terlebih lagi untuk pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas V (lima) Sekolah Dasar (SD), guru dituntut untuk dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan disertai improvisasi, kreasi, menarik dan menyenangkan. Hal ini harus dilakukan karena siswa kelas V (lima) kegiatannya masih ingin bermain-main, selalu cari perhatian guru. Guru harus dapat menanamkan keterampilan berbicara Bahasa Indonesia dalam suasana bermain dan menyenangkan, sehingga siswa merasa bahwa belajar Bahasa Indonesia itu tidak sulit.

Keterampilan berbicara sangat penting dalam berbagai bidang kehidupan. Bidang pendidikan, misalnya, dalam bentuk keterampilan berbicara yang melibatkan komunikasi antara guru dan siswa, baik yang sifatnya satu arah maupun yang timbal balik ataupun keduanya. Seseorang yang memiliki keterampilan berbicara yang baik, akan memiliki kemampuan yang baik pula dalam berkomunikasi.

Dengan keterampilannya, segala pesan yang disampaikannya akan mudah dicerna, sehingga komunikasi dapat berjalan lancar dengan siapa saja.

Pembelajaran berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi dibandingkan

(23)

dengan keterampilan berbahasa lainnya. Pressley dan Stahl (dalam Junita, 2009:1) mengatakan bahwa ketika keterampilan berbahasa ini tercapai maka anak sudah memiliki modal yang kuat untuk mencapai perkembangan kognitif dan psikososial yang optimal. Pembelajaran berbicara yang dilakukan khususnya ditingkat sekolah dasar, yakni berbicara memberitahukan, melaporkan dan menginformasikan;

berbicara menghibur, dan berbicara membujuk, mengajak, meyakinkan atau menggerakkan. Ketiga kegiatan berbicara tersebut tentunya masih dalam jangkauan dasar yang sifatnya sederhana.

Terampil berbicara tidaklah semudah yang dibayangkan.

Kenyataan menunjukkan bahwa taraf kemampuan berbicara siswa bervariasi mulai taraf yang baik atau lancar, sedang, gagap, atau kurang. Ada siswa yang lancar menyatakan keinginan, rasa senang, sedih, sakit atau letih. Ada juga siswa yang tidak dapat meyatakan pendapatnya mengenai sesuatu walaupun dalam taraf yang sederhana. Tidak sedikit juga siswa yang masih takut-takut berdiri dihadapan teman sekelasnya. Bahkan tidak jarang terlihat beberapa siswa berkeringat dingin, berdiri kaku, lupa segalanya bila ia berhadapan dengan sejumlah siswa lainnya.

Terlebih lagi tingkat sekolah dasar yang merupakan jenjang menantang bagi seorang guru dalam mengajarkan pembelajaran berbicara. Siswa kelas V jenjang sekolah dasar masih ingin belajar dalam kondisi bermain-main dan selalu mencari perhatian guru.

(24)

Mengingat kondisi tersebut, guru harus menanamkan keterampilan berbicara dalam suasana bermain dan menyenangkan, sehingga siswa merasa bahwa belajar Bahasa Indonesia, khususnya berbicara tidak sulit. Adanya improvisasi dan kreativitas merupakan hal penting dalam pembelajaran berbicara pada jenjang ini.

Pembelajaran berbicara menggunakan dongeng dengan kearifan lokal memiliki keunggulan terkait dengan keterampilan berbicara dan penanaman nilai moral. Dengan satu catatan bahwa dongeng yang diberikan harus disesuaikan dengan tahap perkembangan bahasa anak. Mendongengkan cerita kepada anak, berarti kita memfasilitasi perkembangan bahasa anak yang sedang terjadi, khususnya keterampilan berbicara. Melalui dongeng, perkembangan artikulasi bahasa, pemahaman bahasa, tata bahasa, penggunaan bahasa serta kesadaran berbahasa anak terstimulasi secara menyeluruh sehingga anak akan memiliki kemampuan berbahasa. Hal ini memungkinkan seorang anak berbicara yang optimal untuk mengingat informasi yang diperlukan, meyakinkan orang lain akan tindakan yang dilakukan, menjelaskan diri atau ide yang dimiliki, serta menjelaskan bahasa yang digunakan orang lain melalui bahasa yang anak pahami.

Selain itu, pembelajaran keterampilan berbicara dengan menggunakan dongeng ini juga membantu penanaman nilai moral.

Kita sadari bersama bahwa telah terjadi ancaman gradasi moral pada anak-anak penerus bangsa. Pengaruh acara televisi, game, dan

(25)

pergaulan yang tidak terkontrol merupakan penyebab utamanya. Oleh karena itu, perlu peran penting pendidikan dalam melakukan pencegahan dini. Penanaman nilai moral dalam proses pembelajaran secara tidak langsung akan membentuk anak-anak yang berkarakter.

Dongeng dengan kearifan lokal banyak mengandung nilai moral yang bisa dijadikan landasan bagi siswa dalam berprilaku, yakni moral individu, moral sosial, dan moral religi.

Pembelajaran berbicara menggunakan dongeng muncul pada semester genap dengan Standar Kompetensi (SK) berbicara, yakni memahami pesan pendek dari dongeng yang dilisankan serta Kompetensi Dasar (KD), yakni menceritakan kembali isi dongeng yang didengarkan. Pemilihan jenjang pendidikan sekolah dasar kelas 2 didasarkan atas alasan kuat yang mendukung. Alasan tersebut, yakni karena kelas 2 mempunyai jenjang umur 7-8 tahun. Fase ini merupakan masa efektif dalam pembelajaran berbahasa, tidak terkecuali pembelajaran berbicara. Ditinjau dari segi artikulasi, pemahaman, tata bahasa, penggunaan, dan kesadaran berbahasa, anak pada usia ini mengalami perkembangan yang pesat (Junita, 2009:1). Hal tersebut diperkuat oleh teori Nativisme yang mengatakan bahwa anak akan belajar bahasa dengan cepat sebelum usia 10 tahun apalagi menyangkut bahasa kedua (second language). Lebih dari usia 10 tahun, anak akan mengalami kesulitan dalam mempelajari bahasa jika tidak diberikan dasar-dasar yang kuat.

(26)

Selain itu, masa ini adalah masa penting bagi guru untuk menanamkan nilai-nilai moral agar dapat dijadikan pedoman dalam berperilaku dan tidak mengalami gradasi moral.

Sekolah dasar merupakan lembaga formal yang menjadi peletak dasar pendidikan untuk jenjang sekolah di atasnya.

Pendidikan di Sekolah Dasar merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional yang memiliki peranan yang amat penting dalam meningkatkan sumber daya manusia. Melalui pendidikan di sekolah dasar diharapkan akan menghasilkan manusia Indonesia yang berkualitas (Suharjo, 2006:1). Jika menilik pada tujuan pendidikan nasional di atas, maka manusia yang berkualitas tidak hanya terbatas pada tataran kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotor.

Kearifan lokal berasal dari dua kata yaitu kearifan (wisdom), dan lokal (local). Secara umum maka local wisdom (kearifan setempat) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas. Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup.

Meskipun bernilai lokal tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal.

(27)

Terkait dengan penanaman nilai kearifan lokal di era globalisasi sekarang ini salah satu lembaga formal yang ikut bertanggungjawab adalah Sekolah Dasar. Mengingat pembelajaran tentang kemampuan berbicara merupakan pembelajaran yang sangat penting, maka guru harus mampu mengemas pembelajaran dengan tepat agar pesan yang terkandung di dalamnya dapat sampai kepada siswa sesuai dengan tujuan yang direncanakan.

Guru dalam melakukan pembelajaran diupayakan untuk memanfaatkan nilai-nilai kearifan lokal sebagai sumber pembelajaran untuk peserta didik. Nilai-nilai kearifan lokal yang ada di dalam dongeng diintegrasikan dalam pembelajaran. Penggunaan sumber belajar ini diharapkan akan ikut berperan serta dalam meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia peserta didik.

Berdasarkan pertimbangan hal tersebut, peneliti melaksanakan penelitian tentang penerapan pembelajaran berbicara bahasa Indonesia menggunakan dongeng dengan kearifan lokal di kelas V SD Negeri 219 Pukkiseng Kecamatan Bulupoddo Kabupaten Sinjai.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka permasalahan penelitian dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah bentuk pelaksanaan pembelajaran berbicara bahasa Indonesia menggunakan dongeng dengan kearifan lokal di

(28)

kelas V SD Negeri 219 Pukkiseng Kacamatan Bulupoddo Kabupaten Sinjai?

2. Nilai kearifan lokal apa yang terdapat dalam dongeng yang digunakan dalam pembelajaran berbicara bahasa Indonesia di kelas V SD Negeri 219 Pukkiseng Kacamatan Bulupoddo Kabupaten Sinjai?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini untuk menegetahui:

1. Bentuk pelaksanaan pembelajaran berbicara bahasa Indonesia menggunakan dongeng dengan kearifan lokal di kelas V SD Negeri 219 Pukkiseng Kacamatan Bulupoddo Kabupaten Sinjai.

2. Nilai kearifan lokal yang terdapat dalam dongeng yang digunakan dalam pembelajaran berbicara bahasa Indonesia.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut : 1. Teoretis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi penelitian lain serta dapat menambah khasanah keilmuan dalam dunia pendidikan.

(29)

2. Praktis

a. Bagi Sekolah

Dapat digunakan sebagai bahan membuat kebijakan dalam rangka meningkatkan mutu proses pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.

b. Bagi Guru

Dapat memperoleh model pembelajaran baru yaitu pembelajaran berbicara bahasa Indonesia menggunakan dongeng dengan kearifan lokal khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas V SD Negeri 219 Pukkiseng Kacamatan Bulupoddo Kabupaten Sinjai.

c. Bagi Siswa

Melatih keterampilan berbicara siswa dan mengetahui kearifan lokal yang terdapat pada dongeng tersebut.

(30)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Kajian Pustaka

1. Penelitian yang Relevan

Penelitian Eka Ratnawati Tahun 2010 berjudul ”Kemampuan Berbicara Melalui Dongeng dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas I Sekolah Dasar Negeri 2 Bendosari Kecamatan Sawit Kabupaten Boyolali Tahun 2010”. Simpulannya, Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas dengan menggunakan 2 siklus tersebut diatas, ternyata hipotesis yang telah dirumuskan terbukti kebenarannya artinya ternyata langkah pembelajaran melalui dongeng dapat meningkatkan kemampuan berbicara pada siswa kelas I Sekolah Dasar Negeri 2 Bendosari Kecamatan Sawit Kabupaten Boyolali Tahun 2010.

Penelitian yang dilakukan oleh Alsanuddin (2012) dengan judul ”Peningkatan Kemampuan Berbicara Menggunakan Media Dongeng dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas I”. Pada akhir penelitian simpulannya hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan di dalam dua siklus dengan penggunaan media dongeng dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia pada siswa kelas I Sekolah Dasar Negeri 02 Nanga Tebidah, dapat disimpulkan bahwa setelah dilakukan

(31)

penelitian yang dilakukan peneliti pada siswa kelas I Sekolah Dasar Negeri 02 Nanga Tebidah Sintang dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dengan menggunakan media dongeng terjadi peningkatan kemampuan berbicara dalam mengungkapkan kata-kata dari base line 33,3% menjadi 53,3% ke siklus 1 dan 73% ke siklus II. Terjadi peningkatan kemampuan berbicara dalam pembelajaran Bahasa di Sastra Indonesia pada siswa kelas I Sekolah Dasar Negeri 02 Nanga Tebidah dalam menjawab pertanyaan guru dari base line 16,6% menjadi 33,3% ke siklus I dan 60% ke siklus II.

Penelitian Eka Parama Yuni 2012 berjudul “Penerapan Pembelajaran Berbicara Bahasa Indonesia Menggunakan Dongeng dengan Kearifan Lokal di Kelas 2 SD Negeri 3 Yehembang Kangin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran berbicara bahasa Indonesia menggunakan dongeng dengan kearifan lokal menggunakan pendekatan tematik yang terdiri atas (1) penciptaan suasana menarik dengan instrumen musik, (2) proses penggalian wawasan siswa melalui tanya-jawab, (3) penceritaan dongeng oleh guru dengan memperhatikan aspek-aspek mendongeng, yakni pilihan kata dan panjang pendek kalimat, urutan cerita, mimik atau ekspresi, serta pelafalan dan intonasi, (4) penceritaan dongeng oleh siswa dengan memperhatikan aspek-aspek mendongeng, (5)

(32)

tanya-jawab guna memancing siswa mengemukakan pendapat, (6) penyimpulan, evaluasi, dan tindak lanjut yang disertai klarifikasi dan penegasan di akhir pembelajaran. Evaluasi pembelajaran dilaksanakan dengan evaluasi proses dan evaluasi hasil. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa nilai kearifan lokal yang terkandung dalam dongeng, yakni moral individu, sosial, dan religi.

2. Pembelajaran Berbicara

Tarigan (1983:15) menyatakan bahwa “berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan”. Sebagai perluasan dari batasan ini dapat dikatakan bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda- tanda yang dapat didengar (audible) dan kelihatan (visible) yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan otot tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau ide-ide yang dikombinasikan.

Strategi pembelajaran yang diterapkan bagi anak kelas awal sekolah dasar adalah tematik. Pembelajaran tematik sesuai dengan tahapan perkembangan anak, karakteristik cara anak belajar serta konsep belajar dan pembelajaran bermakna.

Pembelajaan tematik merupakan pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa

(33)

(Ichsan, 2009:1). Selain itu, Indihadi (2009:6) juga mengatakan bahwa “pembelajaran tematis berpeluang untuk memberikan pengetahuan yang lebih bermakna karena siswa sekolah dasar kelas rendah masih memandang segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik), perkembangan fisik mereka tidak pernah bisa dipisahkan dari perkembangan mental, sosial, dan emosional”.

Berbicara sebagai keterampilan berbahasa berhubungan dengan keterampilan berbahasa yang lain. Kemampuan berbicara berkembang pada kehidupan anak apabila didahului oleh keterampilan menyimak (Tarigan, 1983:16). Keterampilan berbicara memanfaatkan kosakata yang pada umumnya diperoleh anak melalui kegiatan menyimak dan membaca. Materi pembicaraan banyak yang diangkat dari hasil menyimak dan berbicara. Selain itu, keterampilan berbicara juga dibantu dengan keterampilan menulis, baik dalam bentuk pembuatan out line maupun naskah.

a. Tujuan Berbicara

Tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi.

Agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, maka seyogyanyalah pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin disampaikan, pembicara harus mengevaluasi efek komunikasinya terhadap para pendengarnya.

(34)

Tujuan umum berbicara menurut Tarigan (1990:149) terdapat lima golongan berikut ini:

1) Menghibur

Berbicara untuk menghibur berarti pembicara menarik perhatian pendengar dengan berbagai cara, seperti humor, spontanitas, menggairahkan, kisah-kisah jenaka, petualangan, dan sebagainya untuk menimbulkan suasana gembira pada pendengarnya.

2) Menginformasikan

Berbicara untuk tujuan menginformasikan, untuk melaporkan, dilaksanakan bila seseorang ingin: (1) menjelaskan suatu proses; (2) menguraikan, menafsirkan, atau menginterpretasikan sesuatu hal; (3) memberi, menyebarkan, atau menanamkan pengetahuan; (4) menjelaskan kaitan.

3) Menstimulasi

Berbicara untuk menstimulasi pendengar jauh lebih kompleks dari tujuan berbicara lainnya, sebab berbicara itu harus pintar merayu, mempengaruhi, atau meyakinkan pendengarnya. Ini dapat tercapai jika pembicara benar- benar mengetahui kemauan, minat, inspirasi, kebutuhan, dan cita-cita pendengarnya.

(35)

4) Menggerakkan

Dalam berbicara untuk menggerakkan diperlukan pembicara yang berwibawa, panutan atau tokoh idola masyarakat. Melalui kepintarannya dalam berbicara, kecakapan memanfaatkan situasi, ditambah penguasaannya terhadap ilmu jiwa massa, pembicara dapat menggerakkan pendengarnya.

b. Jenis-jenis Berbicara

Secara garis besar jenis-jenis berbicara dibagi dalam dua jenis, yaitu berbicara di muka umum dan berbicara pada konferensi. Wendra (2006:22-23) memasukkan beberapa kegiatan berbicara ke dalam kategori tersebut. Berbicara di muka umum jenis pembicaraan meliputi hal-hal berikut:

1) Berbicara dalam situasi yang bersifat memberitahukan atau melaporkan, bersifat informatif (informative speaking).

2) Berbicara dalam situasi yang bersifat membujuk, mengajak, atau meyakinkan (persuasive speaking).

3) Berbicara dalam situasi yang bersifat merundingkan dengan tenang dan hati-hati (deliberate speaking).

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Berbicara Tuminto, (2007:17-20) mengemukakan bahwa untuk menjadi pembicara yang baik, seorang pembicara harus

(36)

menguasai masalah yang sedang dibicarakan, dan harus berbicara dengan jelas dan tepat. Beberapa faktor yang harus diperhatikan oleh pembicara untuk keefektifan berbicara adalah faktor kebahasaan dan nonkebahasaan.

Faktor kebahasaan yang menunjang keefektifan berbicara, meliputi; ketepatan ucapan, penempatan tekanan, nada sandi, dan durasi yang sesuai, pilihan kata, dan ketepatan sasaran kebahasaan. Faktor-faktor nonkebahasaan meliputi; sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku, pandangan harus diarahkan pada lawan bicara, kesediaan menghargai pendapat orang lain, gerak-gerik dan mimik yang tepat, kenyaringan suara, kelancaran, relevansi atau penalaran, dan penguasaan topik.

Faktor yang menunjang keefektifan berbicara di atas, baik yang bersifat kebahasaan maupun yang nonkebahasaan, keduanya tidak boleh diabaikan apabila seseorang ingin menjadi pembicara yang terampil. Dalam meraih keinginan tersebut harus dengan proses berlatih yang dilakukan secara berkesinambungan dan sistematis.

d. Hambatan dalam Kegiatan Berbicara

Tidak semua orang memiliki kemahiran dalam berbicara di muka umum. Namun, keterampilan ini dapat dimiliki oleh semua orang melalui proses belajar dan latihan secara berkesinambungan dan sistematis. Terkadang dalam proses

(37)

belaja mengajar pun belum bisa mendapatkan hasil yang memuaskan. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal yang merupakan hambatan dalam kegiatan berbicara. Arsyad, (1991:32) mengemukakan bahwa hambatan tersebut terdiri atas hambatan yang datangnya dari pembicara sendiri (internal) dan hambatan yang datang dari luar pembicara (eksternal).

1) Hambatan Internal

Hambatan internal adalah hambatan yang muncul dari dalam diri pembicara. Hal-hal yang dapat menghambat kegiatan berbicara ini sebagai berikut:

a) Ketidaksempurnaan Alat Ucap

Kesalahan yang diakibatkan kurang sempurna alat ucap akan mempengaruhi kefektifan dalam berbicara, pendengar pun akan salah menafsirkan maksud pembicara.

b) Penguasaan Komponen Kebahasaan

Komponen kebahasaan meliputi hal-hal berikut ini:

(1) Lafal dan intonasi, (2) Pilihan kata (diksi), (3) Struktur bahasa, (4) Gaya bahasa.

(38)

c) Penggunaan komponen isi

Komponen isi meliputi hal-hal berikut ini:

(1) Hubungan isi dengan topik, (2) Struktur isi,

(3) Kualitas isi, (4) Kuantitas isi.

d) Kelelahan dan kesehatan fisik maupun mental

Seorang pembicara yang tidak menguasai komponen bahasa dan komponen isi tersebut di atas akan menghambat keefektifan berbicara.

2) Hambatan Eksternal

Selain hambatan internal, pembicara akan menghadapi hambatan yang datang dari luar dirinya.

Hambatan ini kadang-kadang muncul dan tidak disadari sebelumnya oleh pembicara. Hambatan eksternal meliputi hal-hal di bawah ini:

a) Suara atau bunyi b) Kondisi ruangan c) Media

d) Pengetahuan pendengar

(39)

3. Hakikat Dongeng a. Pengertian Dongeng

Berbagai cara dapat dilakukan untuk menyampaikan pesan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pesan disampaikan secara langsung melalui percakapan antara penyampai pesan dengan pihak yang menjadi sasaran pesan tersebut. Pesan dapat juga disampaikan secara tidak langsung melalui metode khusus, seperti lagu, komik maupun dongeng.

Poerwadarminta (1985: 357) mendefinisikan dongeng adalah: “Cerita terutama tentang kejadian zaman dahulu yang aneh-aneh atau cerita yang tak terjadi”, sedangkan menurut sarikata Bahasa Indonesia (1998: 155) dongeng adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi (terutama tentang kejadian zaman dahulu yang aneh-aneh). Jadi dongeng merupakan cerita yang dibuat tentang hal-hal aneh yang merupakan kejadian yang tidak sesunggguhnya terjadi. Dongeng termasuk bentuk prosa lama.

Cerita rakyat merupakan salah satu tradisi yang sampai sekarang masih banyak dijumpai dalam masyarakat. Cerita prosa rakyat penyebaran dan pewarisnya biasanya dilakukan secara lisan. Menurut Danandjaja (1986: 85) bahwa cerita rakyat dapat dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu (1) mite (myth), (2) legenda (legend), dan (3) dongeng (Folktale).

(40)

Dongeng adalah cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar- benar terjadi oleh yang empunya cerita dan dongeng tidak terikat oleh waktu maupun tempat. James Danandjaja (1986:

86) berpendapat bahwa kata dongeng menurut pengertian yang sempit adalah cerita pendek kolektif kesusastraan lisan, sedangkan pengertian dongeng dalam arti luas adalah cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi.

Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan walaupun banyak juga melukiskan kebenaran, berisikan pelajaran (moral) bahkan sindiran. Jadi, dongeng adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan tidak terikat oleh waktu maupun tempat, yang mempunyai keguanaan sebagai alat hiburan atau pelipur lara dan sebagai alat pendidik (pelajaran moral).

Pengisahan dongeng mengandung suatu harapan-harapan, keinginan dan nasihat yang tersirat maupun yang tersurat.

Ketika seorang ibu bercerita kepada anak-anaknya kadang- kadang ajarannya diungkapkan secara nyata dalam akhir cerita tetapi tidak jarang diungkapkan secara tersirat. Dalam hal ini sang anak diharapkan mampu merenungkan, mencerna dan menterjemahkan sendiri amanat yang tersirat di dalam cerita tadi.

(41)

Indonesia adalah negara yang kaya akan dongeng, khususnya dongeng untuk anak-anak. Masing-masing wilayah di Indonesia memiliki koleksi dongeng yang memanfaatkan potensi alam sekitar, supaya emosi audiensi dapat lebih terbangun. Tengok saja dongeng timun mas dari Jawa Tengah, Si Kabayan dari Jawa Barat atau juga Pengeran Si Katak- katak dari Sumatra Utara. Sampai saat ini, dongeng masih memiliki tempat di hati anak-anak Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kemasan dongeng yang merupakan perpaduan antara unsur hiburan dengan pendidikan.

Unsur pendidikan ditujukan melalui pesan yang dimuat, baik melalui cerita yang berakhir dengan kebahagiaan maupun kesedihan. Inti dari sebuah dongeng dapat dijadikan bahan perenungan bagi audiensinya. Unsur hiburan merupakan

“bumbu penyedap” supaya penyampaian dongeng tidak menimbulkan kebosanan, biasanya dengan dialog interaktif antara pendongeng dengan audience atau dengan humor.

b. Unsur-unsur dalam Dongeng

Dalam sebuah dongeng terdapat unsur-unsur penting yang meliputi alur, tokoh, latar, dan tema. Dongeng yang bermutu memiliki perkembangan yang memadai pada keempat unsur tersebut. Mungkin unsur yang satu lebih ditekankan daripada unsur yang lain, tetapi semua dikembangkan dengan baik.

(42)

Menurut Septiningsih (1998: 16) penyebab ketertarikan audience pada dongeng tidak terlepas dari empat unsur penting dongeng yaitu :

1) Alur

a) Alur adalah konstruksi mengenai sebuah deretan peristiwa secara logis dan kronologis saling berkaitan yang dialami oleh pelaku.

b) Alur ada dua macam, yaitu alur lurus dan alur sorot balik.

c) Alur lurus adalah peristiwa yang disusun mulai dari awal, tengah, yang diwujudkan dengan pengenalan, mulai bergerak, menuju puncak dan penyelesaian. Alur sorot balik adalah urutan peristiwa yang dimulai dari tengah, awal, akhir atau sebaliknya.

d) Alur dapat melibatkan ketegangan, pembayangan dan peristiwa masa lalu. Hal ini dimaksudkan untuk membangun cerita agar peristiwa ditampilkan tidak membosankan.

e) Alur ditutup dengan ending, yaitu happy ending (bahagia) atau sad ending (sedih).

(43)

2) Tokoh

Setiap cerita memiliki paling sedikit satu tokoh dan biasanya ada lebih dari satu. Tokoh-tokohnya mungkin binatang, orang, obyek, atau makhluk khayal. Berikut penjelasan tentang penokohan dalam dongeng:

a) Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau perlakuan dalam berbagai peristiwa yang ada dalam cerita (Lustantini Septiningsih, 1998:

16).

b) Tokoh dapat memiliki dua sifat, yaitu protagonis (karakter yang melambangkan kebaikan, menunjukkan sikap positif dan merupakan contoh yang layak ditiru) dan antagonis (karakterister yang berlawanan dengan tokoh protagonis, merupakan contoh karakter yang harus dijauhi sikap dan perbuatannya).

c) Penokohan yang dipilih dipengaruhi oleh sifat, ciri pendidikan, hasrat, pikiran dan perasaan yang akan diangkat oleh pengarang untuk menghidupkan dongeng.

3) Latar / Setting

Istilah latar biasanya diartikan tempat dan waktu terjadinya cerita. Hal tersebut sebagian benar, tetapi latar

(44)

sering berarti lebih dari itu. Di samping tempat dan periode waktu yang sebenarnya dari suatu cerita, latar meliputi juga cara h i d u p tokoh-tokoh cerita dan aspek kultural lingkungan. Berikut penjelasan tentang latar atau setting:

a) Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacauan yang berkaitan dengan ruang, waktu dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra (Lustantini Septiningsih, 1998: 44).

b) Latar ada dua macam, yaitu latar sosial (mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok sosial dan sikapnya, adat kebisaaan, cara hidup, maupun bahasa yang melatari peristiwa) dan latar fisik atau material (mencakup tempat, seperti bangunan atau daerah).

c) Latar adalah cerita akan memberi warna cerita yang ditampilkan, disamping juga memberikan informasi situasi dan proyeksi keadaan batin para tokoh.

4) Tema

Tema cerita merupakan konsep abstrak yang dimasukkan pengarang ke dalam cerita yang ditulisnya.

Berikut penjelasan tentang tema.

a) Tema adalah arti pusat yang terdapat dalam suatu cerita.

(45)

b) Pemikiran-pemikiran yang dikemukakan oleh pengarang dipengaruhi oleh pengalaman, jiwa, cita-cita dan ide yang diwujudkan lewat tema.

c) Pengarang menampilkan sesuatu tema karena ada maksud tertentu atau pesan yang ingin disampaikan.

Maksud atau pesan yang ingin disampaikan itu disebut amanat. Jika tema merupakan persoalan yang diajukan, amanat merupakan pemecahan persoalan yang melahirkan pesan-pesan.

d) Keempat unsur penting diatas merupakan kunci ketertarikan audience pada suatu dongeng. Satu unsur dapat lebih menonjol diantara unsur lainnya, karena bisa jadi sebuah dongeng dikatakan menarik karena alur dan penokohan saja yang menonjol. Tentu lebih baik apabila keempat unsurnya dapat dikerjakan oleh pengarang dongeng dengan maksimal. Contoh dari dongeng yang memiliki kekuatan dari seluruh unsur penting dongeng adalah Timun Mas. Alur cerita yang melibatkan ketegangan dan peristiwa masa lalu telah berhasil memancing imajinasi audience untuk mengikuti cerita. Penokohan dikerjakan dengan mengikutsertakan karakter protagonis dan antagonis yang menghasilkan kekontrasan. Timun Mas dan

(46)

orangtuanya melambangkan karakter protagonis sedangkan raksasa melambangkan karakter yang antagonis dengan kejahatan dan ketamakannya. Latar cerita benar-benar mengajak imajinasi audience pada suasana kehidupan pedesaan yang penuh fantasi.

Tema dari dongeng ini jelas, yaitu menggambarkan tentang keberanian bertindak diatas kebenaran untuk mengalahkan ketamakan dan kejahatan. Keempat unsur ini sangat sesuai dengan target audiencenya yaitu anak-anak.

c. Macam-macam Dongeng

Cerita dalam sebuah dongeng dapat mempengaruhi minat anak untuk membacanya, karena setiap anak mempunyai selera yang berbeda- beda dalam diri mereka.

Dilihat dari isinya, dongeng dibedakan menjadi 5 macam yaitu :

1) Dongeng yang lucu

Poerwadarminta (1985:610) L u c u yaitu:

“menimbulkan tertawa” jadi dongeng yang lucu adalah cerita yang berisikan kejadian lucu yang terjadi pada masa lalu. Cerita dalam dongeng lucu dibuat untuk menyenangkan atau membuat tertawa pendengar atau pembaca. Contoh : Dongeng Abu Nawas

(47)

2) Fabel

Poerwadarminta (1985: 278) mendefinisikan “Fabel adalah cerita pendek berupa dongeng, mengambarkan watak dan budi manusia yang diibaratkan pada binatang”.

Fabel digunakan untuk pendidikan moral, dan kebanyakan fabel menggunakan tokoh-tokoh binatang, namun tidak selalu demikian. Disamping fabel menggunakan tokoh binatang ada yang menggunakan benda mati. Jadi fabel merupakan cerita pendek atau dongeng yang memberikan pendidikan moral yang menggunakan binatang sebagai tokohnya.

Contoh : Dongeng kancil dan harimau Legenda

Poerwadarminto (1985: 578) mendefinisikan legenda adalah : “cerita dari zaman dahulu yang bertalian dengan peristiwa-peristiwa sejarah”. Menurut Ashari, (2007: 21) legenda adalah: “Cerita yang isinya tentang asal-usul suatu daerah”. Legenda baik sekali digunakan untuk pendidikan di kelas-kelas rendah Sekolah Dasar untuk mengajarkan konsep-konsep. Jadi legenda merupakan cerita dari zaman dahulu yang merupakan kejadian-kejadian yang berhubungan dengan suatu tempat atau peristiwa yang baik digunakan dalam pendidikan dasar.

Contoh : Asal mula Danau Toba

(48)

3) Sage

Sage menurut Poerwadarminta (1985: 848) adalah

“Cerita yang mendasar peristiwa sejarah yang telah bercampur dengan fantasi rakyat”, sedangkan menurut Ashari, (2007: 20) sage yaitu dongeng yang mengandung unsur sejarah. Jadi dapat disimpulkan bahwa sage merupakan cerita dongeng yang berhubungan dengan peristiwa atau sejarah.

Contoh : Panji semirang 4) Mite

Mite menurut Poerwadarminta (1985: 641) adalah

“cerita yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya”. Sedangkan menurut Ashari, (2007: 20) mite didefinisikan sebagai:

“dongeng yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat”. Jadi mite merupakan cerita tentang kepercayaan suatu masyarakat yang diyakini oleh masyarakat tetapi tidak dapat dibuktikan kebenarannya

Contoh : Nyai Loro Kidul

Dalam penelitian ini yang akan digunakan adalah Fabel (dongeng binatang), beberapa alasan penggunaan fabel adalah:

(49)

1) Tokoh-tokoh binatang sangat menarik bagi anak;

2) Lewat tokoh binatang dapat memberikan pendidikan anak;

3) Anak akan memiliki rasa sayang pada binatang;

4) Setelah besar anak akan memiliki kesadaran untuk menjaga dan melestarikan alam lingkungannya, khususnya alam fauna.

5) Anak menyenangi hal-hal yang fantastik seperti halnya binatang yang mirip manusia.

Judul dongeng yang dipakai dalam penelitian ini adalah Tulangdidi dan Ayam Jantan Ajaib, dan I Jangkrik. Berdasarkan sarana atau jenis dongeng yang digunakan guru dalam pembelajaran, syarat-syarat yang perlu diperhatikan sebagai pendongeng dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Syarat fisik

a) Pendongeng harus mampu menggunakan penghasil suara secara lentur sehingga dapat menghasilkan suara yang bervariasi. Dalam hal ini pendongeng harus mampu menyuarakan peran apapun dan adegan apapun.

b) Pendongeng harus mampu menggunakan penglihatan secara lincah dan lentur sesuai dengan keperluan. Jika mendongeng di hadapan pendengar, ia harus

(50)

menggunakan mata untuk kepentingan ganda. Pertama, mata digunakan untuk memperkuat mimik. Kedua, sarana itu digunakan pula untuk berkomunikasi dengan pendengar.

2) Syarat mental dan daya pikir

a) Pendongeng harus bersikap mental serius, sabar, lapang dada, disiplin, taat beribadah, berakhlak karimah, dan senang berkesenian. Semua sikap mental tersebut sangat diperlukan oleh pendongeng karena mendongeng memerlukan pemahaman yang sangat mendalam.

b) Pendongeng harus berpikiran cerdas dan kreatif.

Kecerdasan diperlukan karena pendongeng harus dapat menafsirkan isi dongeng secara tepat.

Pendongeng tidak boleh menafsirkan isi dongeng sesuai dengan kehendaknya tanpa memperhatikan ide dasar dongeng.

c) Pendongeng harus berpengetahuan umum, luas dan berketerampilan bahasa (Indonesia). Pengetahuan umum sangat bermanfaat bagi pendongeng. Dengan memiliki pengetahuan umum yang luas, ia memiliki rasa percaya diri yang tinggi.

(51)

d) Menurut Knower (1958:1331) dalam Encyclopedia of Educational Research, disebutkan sebagai berikut “a speaker is consisted of four matter which is all needed in expressing mind/its opinion to others. First, the speaker is an willingness, an intention, an meaning wanted is owned by other, that is: an mind (a thought).

Second, the speaker is user the language, forming mind and feeling become the words. Third, the seaker is something that wish to attend, wish listened, submitting intention and its words to other pass the voice. Last, the speaker is something that have to be seen, showing the aspect, something action which must be paid attention and read to pass eye” yang artinya seorang pembicara pada dasarnya terdiri atas empat hal yang kesemuanya diperlukan dalam menyatakan pikiran/pendapatnya kepada orang lain.

Pertama, sang pembicara merupakan suatu kemauan, suatu maksud, suatu makna yang diinginkannya dimiliki oleh orang lain, yaitu: suatu pikiran. Kedua, sang pembicara adalah pamakai bahasa, membentuk pikiran dan perasaan menjadi kata-kata. Ketiga, sang pembicara adalah sesuatu yang disimak, ingin didengarkan, menyampaikan maksud dan kata-katanya

(52)

kepada orang lain melalui suara. Terakhir, sang pembicara adalah sesuatu yang harus dilihat, memperlihatkan rupa, sesuatu tindakan yang harus diperhatikan dan dibaca melalui mata.

d. Langkah dalam Mendongeng

Ashari, (2007:30-34) menjelaskan langkah- langkah mendongeng dalam proses pembelajaran yaitu:

1) Pemilihan Cerita

Sebagian orang, secara piawai, mampu menceritakan satu bentuk cerita tertentu dengan baik dibandingkan jenis cerita yang lain. Seperti penguasaan terhadap cerita-cerita humor, binatang, misteri, dan sebagainya. Memang sebaiknya, pendongeng hendaknya memilih jenis cerita yang sangat ia kuasai. Tetapi lain halnya untuk seorang guru, tampaknya ia agak sulit jika membatsi diri pada satu bentuk cerita. Sebab cerita yang akan disampaikan, khususnya apabila diambil dari buku ini, memuat berbagai cerita dengan aneka bentuk. Sedangkan jika mengambil bahan selain dari buku ini maka sebaiknya guru memilih satu bentuk cerita saja. Namun, seorang guru tetap dituntut untuk menguasai penceritaan berbagai jenis

(53)

dongeng, tentunya dengan latihan yang dilakukan terus- menerus.

Ada cerita yang bernada sedih dan gembira. Dalam hal ini, guru sebaiknya dapat memilih cerita yang sesuai dengan kondisi jiwanya saat akan bercerita. Antara yang menyedihkan dan menyenangkan. Karena keadaan jiwa pendongeng akan berpengaruh pula pada setiap penceritaan.

Ada faktor lain yang dapat membantu dalam pemilihan cerita, yaitu situasi dan kondisi siswa. Misalnya, di awal tahun sangat baik memilih cerita Sakinah dan Anaknya. Karena tokoh-tokoh dalam cerita tersebut sangat dekat dan dikenal anak sebelum masuk sekolah. Kemudian di akhir tahun cukup baik bila memilih kisah Cerita Tak Berujung. Sebab cerita ini akan memberi kesan di hati para siswa menjelang kelulusannya di akhir tahun. Dalam cerita ini digambarkan tentang sesuatu yang berulang- ulang dan terus-menerus berlangsung, yaitu gambaran semut yang memasuki gudang gandum, mengambil sebuah gandum lalu keluar. Kemudian semut yang lainnya memasuki gudang untuk melakukan hal yang sama, dan seterusnya.

(54)

Adapun di pertengahan tahun, apa yang terjadi di dalam atau di luar kelas bisa membantu dalam pemilihan cerita. Misalnya, ada seorang murid yang datang terlambat tanpa alasan, maka guru dapat memilih cerita Mahjubah yang Malas. Atau ketika seorang murid menemukan seekor tikus memasuki kelas, untuk menanamkan dasar- dasar budi pekerti yang baik maka dapat dipilih cerita Singa dan Tikus, dan seterusnya. Oleh karena itu, guru harus menyiapkan dan membaca seluruh cerita yang hendak disajikan.

Sebagai catatan bagi guru, harus diingat bahwa dalam penyampaian cerita yang lucu dan sedih, ia harus bercerita dengan menggunakan cara yang tepat agar murid tidak salah mengapresiasikan. Misalnya, dalam cerita yang menyedihkan mereka malah tertawa atau sebaliknya.

2) Persiapan Sebelum Masuk Kelas

Adalah keliru jika seorang guru mengira bahwa bercerita dianggap pelajaran yang tidak memerlukan persiapan. Cukup dengan mengetahui rangkaian peristiwa dan jalan cerita, lalu masuk kelas dan menyampaikanya kepada siswa. Yang perlu diketahui bagi para guru bahwa setiap menit waktu yang digunakan untuk berfikir dan mengolah cerita sekaligus mempersiapkannya

(55)

sebelum pelajaran dimulai, akan membantu dalam penyampaian cerita dengan mudah. Begitu juga saat menggambarkan berbagai peristiwa di hadapan anak-anak, ia dapat melakukannya dengan jelas. Ia mampu karena ia telah memikirkannya, merancang gambaran alur cerita secara jelas, dan menyiapkan kalimat-kalimat yang akan disampaikannya sebelum masuk kelas.

3) Perhatikan Posisi Duduk Siswa

Ketika bercerita, yang diharapkan adalah perhatian para siswa dengan sepenuh hati dan pikiran mereka. Oleh karena itu, guru harus dapat menguasai cerita yang disampaikan dengan baik, sehingga mereka dapat mengikuti jalan cerita.

Untuk keperluan ini, ketika penceritaan berlangsung, para siswa hendaknya diposisikan secara khusus, tidak seperti waktu mereka belajar menulis dan membaca. Yang terpenting adalah siswa dapat menerima cerita yang disampaikan secara aktif, tidak duduk sesukanya. Kalau perlu mereka dapat berdiri sejenak. Dengan begitu suasana jauh dari kesan resmi, tidak seperti umumnya pelajaran yang lain. Di antara guru dengan murid harus terjalin keakraban yang wajar.

(56)

Hubungan guru dengan para siswa dalam bercerita hendaknya seperti hubungan tuan rumah dengan tamunya.

Ia menyambut mereka, menghidupkan suasana, menghibur, serta menciptakan suasana kasih sayang dan persahabatan. Oleh karena itu, sangatlah dianjurkan bila posisi duduk para siswa dekat dengan guru. Karena kedekatan tempat duduk ini akan membantu pendengaran para siswa dalam menyimak suara guru dan gerakan- gerakannya pun akan terlihat jelas. Posisi seperti ini juga akan memudahkan guru dalam membimbing setiap siswa dan melihat mereka secra langsung dengan hanya satu pandangan, sebab mereka berkumpul dekat dengannya.

Posisi duduk yang baik bagi para siswa dalam mendengarkan cerita adalah berkumpul mengelilingi guru dengan posisi setengah lingkarn atau mendekati setengah lingkaran. Guru juga harus dapat memastikan bahwa para siswa merasa bebas jiwanya dengan beberapa aturan tentunya di tempat duduk mereka dan membantu mereka memilih tempat duduk yang sesuai. Guru bisa membiarkan sebagian siswa duduk di samping kanan- kirinya, yang lain duduk di belakangnya dan yang lain lagi dibiarkan berdiri jika mereka menghendaki.

(57)

Guru hendaknya tidak menempatkan siswa duduk atau berdiri di kedua ujung setengah lingkaran, jika itu akan menyulitkan dalam memperhatikan mereka baik ketika duduk ataupun berdiri saat penceritaan berlangsung.

Kemudian guru duduk di bangkunya secara terpisah, menghadap murid-murid dan memandang mereka semua secara menyeluruh, untuk dapat mengundang perhatian mereka. Sebaiknya guru tidak langsung duduk ketika mulai bercerita, tetapi memulainya dengan berdiri, lalu pada menit-menit selanjutnya secara perlahan-lahan ia bersiap untuk duduk pada saat menyampaikan pembukaan cerita, kemudian setelah itu berulah ia duduk.Dari penjelasan tadi, hendaknya tidak dipahami bahwa guru harus selalu duduk sepanjang bercerita. Sebab alur kisah itu mengharuskannya pula untuk bergerak, mengubah posisi duduk, dan terkadang mengharuskannya untuk berdiri dan berjalan sesuai kebutuhan.

4. Kearifan Lokal

a. Pengertian Kearifan Lokal

Pengertian kearifan lokal dilihat dari kamus Inggris Indonesia terdiri dari 2 kata yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local). Local berarti setempat dan wisdom sama dengan kebijaksanaan. Dengan kata lain maka local wisdom dapat

(58)

dipahami sebagai gagasan-gagasan, nilai-nilai, pandangan- pandangan setempat (lokal) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Jadi kearifan lokal merujuk pada lokalitas dan komunitas tertentu.

Menurut Gobyah nilai terpentingnya adalah kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Secara konseptual, kearifan lokal dan keunggulan lokal merupakan kebijaksanaan manusia yang bersandar pada filosofi nilai-nilai, etika, cara-cara dan perilaku yang melembaga secara tradisional.

Menurut Mangkunegara (2000), kearifan lokal merupakan unsur bagian dari tradisi-budaya masyarakat suatu bangsa, yang muncul menjadi bagian-bagian yang ditempatkan pada tatanan fisik bangunan (arsitektur) dan kawasan (perkotaan) dalam geografi kenusantaraan sebuah bangsa. Dari penjelasan beliau dapat dilihat bahwa kearifan lokal merupakan langkah penerapan dari tradisi yang diterjemahkan dalam artefak fisik.

Hal terpenting dari kearifan lokal adalah proses sebelum implementasi tradisi pada artefak fisik, yaitu nilai-nilai dari alam untuk mengajak dan mengajarkan tentang bagaimana

‘membaca’ potensi alam dan menuliskannya kembali sebagai tradisi yang diterima secara universal oleh masyarakat,

(59)

khususnya dalam berarsitektur. Nilai tradisi untuk menselaraskan kehidupan manusia dengan cara menghargai, memelihara dan melestarikan alam lingkungan. Hal ini dapat dilihat bahwa semakin adanya penyempurnaan arti dan saling mendukung, yang intinya adalah memahami bakat dan potensi alam tempatnya hidup; dan diwujudkannya sebagai tradisi.

Definisi kearifan lokal secara bebas dapat diartikan nilai- nilai budaya yang baik yang ada di dalam suatu masyarakat.

Hal ini berarti, untuk mengetahui suatu kearifan lokal di suatu wilayah maka kita harus bisa memahami nilai-nilai budaya yang baik yang ada di dalam wilayah tersebut. Kalau mau jujur, sebenarnya nilai-nilai kearifan lokal ini sudah diajarkan secara turun temurun oleh orang tua kita kepada kita selaku anak- anaknya. Budaya gotong royong, saling menghormati dan tepa salira merupakan contoh kecil dari kearifan lokal.

Berdasarkan definisi-definisi di atas saya membuat definisi dengan pendapat saya sendiri. Menurut saya sendiri, kearifan lokal adalah sesuatu yang memiliki nilai-nilai budaya yang baik yang sebenarnya sudah diajarkan semenjak lama dari nenek moyang kita terdahulu.

Dari definisi-definisi itu, kita dapat memahami bahwa kearifan lokal adalah pengetahuan yang dikembangkan oleh para leluhur dalam mensiasati lingkungan hidup sekitar

(60)

mereka, menjadikan pengetahuan itu sebagai bagian dari budaya dan memperkenalkan serta meneruskan itu dari generasi ke generasi. Beberapa bentuk pengetahuan tradisional itu muncul lewat cerita-cerita, legenda-legenda, nyanyian-nyanyian, ritual-ritual, dan juga aturan atau hukum setempat.

Kearifan lokal menjadi penting dan bermanfaat hanya ketika masyarakat lokal yang mewarisi sistem pengetahuan itu mau menerima dan mengklaim hal itu sebagai bagian dari kehidupan mereka. Dengan cara itulah, kearifan lokal dapat disebut sebagai jiwa dari budaya lokal. Hal itu dapat dilihat dari ekspresi kearifan lokal dalam kehidupan setiap hari karena telah terinternalisasi dengan sangat baik. Tiap bagian dari kehidupan masyarakat lokal diarahkan secara arif berdasarkan sistem pengetahuan mereka, dimana tidak hanya bermanfaat dalam aktifitas keseharian dan interaksi dengan sesama saja, tetapi juga dalam situasi-situasi yang tidak terduga seperti bencana yang datang tiba-tiba.

Kearifan lokal dapat didefinisikan sebagai kebijaksanaan atau nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kekayaan- kekayaan budaya lokal berupa tradisi, petatah-petitih dan semboyan hidup. Berbicara kearifan lokal berarti membicarakan budaya dan kebudayaan sebagai hasil dari cipta

(61)

manusia. Karena kearifan lokal yang dianut oleh masyarakat setempat bermula dari tradisi yang membudaya. Masa kini dan masa depan tidak dapat dilepaskan dari apa yang dilakukan masyarakat di masa lalu. Maka budaya sebagai warisan masa lalu harus dijaga, dihormati dan dilestarikan di masa kini.

Nilai-nilai budaya adalah jiwa dari kebudayaan itu dan menjadi dasar dari wujud kebudayaan. Di samping nilai-nilai budaya, kebudayaan juga diwujudkan dalam bentuk tata hidup, yakni kegiatan manusia yang merupakan cerminan nyata dari nilai budaya yang dikandungnya. Dinamika kehidupan masyarakat telah membentuk tatanan nilai tersendiri yang dianut warganya berdasarkan kebudayaan yang diciptakan, dihormati dan dilaksanakan oleh masyarakat setempat. Dalam lingkup kebangsaan, interaksi kebudayaan- kebudayaan lokal melahirkan nilai-nilai budaya baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di dalam kehidupan masyarakat Indonesia terdapat nilai- nilai sosial yang membentuk kearifan lokal (local wisdom) dan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia berhadapan dengan kearifan lokal membentuk suatu tatanan baru dalam masyarakat.

Misalnya, gotong royong, kekeluargaan, musyawarah untuk

(62)

mufakat, dan tepa selira (toleransi) dalam perbedaan kebudayaan. Kearifan itu muncul dari kesadaran diri masyarakat tanpa paksaan sehingga telah menyatu dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan inventarisasi yang dilakukan John Haba sebagaimana dikutip Irwan Abdullah dkk, setidaknya terdapat 6 (enam) signifikansi serta fungsi kearifan lokal. Pertama, sebagai penanda identitas sebuah komunitas yang membedakannya dengan komunitas lain. Kedua, menjadi elemen perekat lintas warga, lintas agama dan kepercayaan.

Kearifan lokal dianggap mampu mempersatukan perbedaan yang ada di masyarakat. Ketiga, kearifan lokal tidak bersifat memaksa, tetapi ada dan hidup bersama masyarakat.

Kesadaran diri dan ketulusan menjadi kunci dalam menerima dan mengikuti kearifan lokal. Keempat, kearifan lokal memberikan warna kebersamaan dalam komunitas. Tentu saja kebersamaan yang harmonis atas dasar kesadaran diri.

Kelima, kearifan lokal mampu mengubah pola pikir dan hubungan timbal-balik individu dan kelompok. Proses interaksi dalam komunitas telah berpengaruh terhadap pola perilaku individunya. Keenam, kearifan lokal dapat berfungsi mendorong terbangunnya apresiasi sekaligus menjadi sebuah

(63)

mekanisme bersama untuk menepis berbagai kemungkinan yang meredusir atau bahkan merusak solidaritas.

Kesimpulannya, kearifan lokal yang digali, dipoles, dikemas dan dipelihara dan dilaksanakan dengan baik bisa berfungsi sebagai alternatif pedoman hidup manusia Indonesia dewasa ini. Nilai-nilai itu dapat digunakan untuk menyaring nilai-nilai baru atau asing agar tidak bertentangan dengan kepribadian bangsa dan menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Sang Khalik, alam sekitar, dan sesamanya. Dan sebagai bangsa besar pemilik dan pewaris sah kebudayaan, kearifan lokal dapat menjadi benteng kokoh menanggapi modernitas dengan tidak kehilangan nilai-nilai tradisi lokal yang telah mengakar.

Berangkat dari semua itu, kearifan lokal adalah persoalan identitas. Sebagai sistem pengetahuan lokal, ia membedakan suatu masyarakat lokal dengan masyarakat lokal yang lainnya.

Perbedaan itu dapat dilihat dari tipe-tipe kearifan lokal yang dapat ditelusuri:

1) Kearifan lokal dalam hubungan dengan makanan: khusus berhubungan dengan lingkungan setempat, dicocokkan dengan iklim dan bahan makanan pokok setempat.

(Contoh: Sasi laut di Maluku dan beberapa tempat lain

Referensi

Dokumen terkait

Dalam pengajian tersebut beliau tidak jarang bertanya tentang sesuatu yang ingin dijelaskan untuk mengetahui sejauhmana penguasaan sahabat tentang materi yang akan diajarkan.. Apa

Teori konstruksi sosial mengandung pemikiran yang sama dengan teori interaksi sosial yang membahas tentang konsep “makna subjektif dan objektif” dari perilaku manusia,

Dengan Balanced Scorecard, tujuan suatu unit usaha tidak hanya dinyatakan dalam suatu ukuran finansial, melainkan dijabarkan lebih lanjut kedalam bagaimana unit usaha

PENGARUH PENYULUHAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA (KB) TERHADAP SIKAP PENERIMAAN ALAT KONTRASEPSI PADA PASANGAN.. USIA

Pre-conference events scheduled for Friday include a workshop on Omeka by Sarah Withee, Instructional Tech- nologist at Colorado College, a workshop on making websites in WordPress

Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya penulis dapat meneyelesaikan Paper dengan judul Tumor Jinak Palpebra guna memenuhi persyaratan

Sebelum pelajaran diakhiri, mahasiswa menyampaikan kesimpulan dari materi tersebut (evaluasi) dan meminta siswa mempelajari lagi di rumah serta mempersiapkan materi

Tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui pengaruh penggunaan alat peraga gambar terhadap aktifitas peserta didik dan hasil belajar matematika peserta