SKRIPSI
PERANAN LEMBAGA BANTUAN HUKUM DALAM MEMBERIKAN BANTUAN HUKUM TERHADAP PEREMPUAN SEBAGAI KORBAN KEKERASAN
SEKSUAL
(Studi Kasus di Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan Makassar
Tahun 2015-2017)
OLEH:
ANITA DAMAYANTI B111 14 016
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
HALAMAN JUDUL
PERANAN LEMBAGA BANTUAN HUKUM DALAM MEMBERIKAN BANTUAN HUKUM TERHADAP PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN SEKSUAL (Studi kasus di Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi
Perempuan Indonesia untuk Keadilan Makassar Tahun 2015-2017)
OLEH:
ANITA DAMAYANTI B 111 14 016
SKRIPSI
Diajukan sebagai Tugas Akhir dalam Rangka Penyelesaian Studi Sarjana
Program Studi Ilmu Hukum
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
PENGESAHAN SKRIPSI
KEASLIAN SKRIPSI
PERSETUJUAN PEMBIMBING
PERSETUJUAN MENEMPUH UJIAN SKRIPSI
ABSTRAK
ANITA DAMAYANTI (B111 14 016), dengan judul skripsi “PERANAN LEMBAGA BANTUAN HUKUM DALAM MEMBERIKAN BANTUAN HUKUM TERHADAP PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN SEKSUAL (STUDI KASUS LEMBAGA BANTUAN HUKUM ASOSIASI PEREMPUAN INDONESIA UNTUK KEADILAN MAKASSAR TAHUN 2015-2017), di bawah bimbingan H. M. Said Karim sebagai pembimbing I dan Hj. Haeranah sebagai pembimbing II.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui upaya bantuan hukum yang diberikan LBH APIK terhadap korban kekerasan seksual dan kendala yang dihadapi LBH APIK dalam memberikan bantuan hukum terhadap perempuan korban kekerasan seksual.
Penelitian ini bersifat penelitian lapangan dimana pengumpulan data dilakukan dengan metode wanwancara terhadap pihak yang terkait dengan topik penelitian. Selain itu penulis juga melakukan penelitan kepustakaan melalui data-data yang berkaitan dan buku-buku yang berkaitan dengan topik penelitian. Selanjutnya, data yang dianalisi secara kualitatif dan dipaparkan secara deskriptif.
Hasil penelitian menunjukan bahwa : 1) Dasar hukum Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi perempuan Indonesia untuk Keadilan atau LBH APIK dalam memberikan bantuan hukum terhadap perempuan korban kekerasan adalah berdasar pada UU No. 16 Tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum, UU No. 18 Tahun 2003 Tentang Advokat dan Standard Operating Procedure yang selanjutnya disingkat SOP. Peranan dalam memberikan bantuan hukum terhadap perempuan sebagai korban adalah litigasi dan non-litigasi. Litigasi adalah proses pendampingan dari awal penanganan kasus hingga vonis dalam pengadilan, non-litigasi adalah proses diluar pengadilan yaitu sampai pada tahap mediasi. Selain itu, LBH APIK melakukan penguatan-penguatan hukum lainnya seperti melakukan penyuluhan hukum dan seminar hukum yang dilakukan diwilayah kota Makassar. 2) Kendala yang dihadapi LBH APIK dalam penanganan kasusnya adalah korban yang enggan menceritakan kasusnya serta pihak kepolisian yang menganggap bahwa jika terjadi kekerasan seksual pada perempuan hal itu di dasari pada faktor suka sama suka bukan karena faktor pemaksaan.
ABSTRACT
ANITA DAMAYANTI (B111 14 016), entitled "THE ROLE OF THE LEGAL ASSISTANCE AGENCY IN PROVIDING LEGAL ASSISTANCE TO SEXUAL VICTIMS OF VICTIMS ASSOCIATION (CASE STUDY OF LEGAL ASSISTANCE OF INDONESIAN WOMEN ASSOCIATION FOR MAKASSAR JUDGMENT IN YEAR 2015-2017), guided by H.M Said Karim as first counselor and Hj. Haeranah Second Counselor.
The purpose of this research is to know the legal aid effort given by LBH APIK to victims of sexual violence and obstacles faced by LBH APIK in providing legal assistance to women victims of sexual violence.
This research is a field research, the data collected by the method of interview to the parties related to the research topic. In addition, the authors also conduct literature research through related data and books related to research topics. Furthermore, the data are analyzed qualitatively and presented descriptively.
The results showed that: 1) Legal standing of Legal Assistance Association of Indonesian Women Association for Justice as known as LBH APIK in providing legal assistance to women victims of violence is based on Law Number 16 in Year 2011 about Legal Assistance, Law Number 18 in Year 2003 about Advocates and Standard Operating Procedures as known as SOP. The role in providing legal assistance to women as victims is litigation and non-litigation. Litigation is a process of assistance from the beginning of handling cases to verdicts in court, non- litigation is a process outside the court that is until the mediation step. In addition, LBH APIK performs other legal reinforcements such as legal counseling and legal seminars conducted in the region of Makassar. 2) The Obstacles faced by LBH APIK in handling the case is the victim who is reluctant to tell his case as well as the police who assume that if there is sexual violence in women it is on the basis of mutual desire factor not because of coercion factor
KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamu’Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, puji dan syukur penulis panjatkan Kehadirat Allah SWT atas segala nikmat, rahmat dan hidayahNya karena berkat izinNya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi merupakan tugas akhir dan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh setiap mahasiswa untuk menyelesaikan studi pada Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini bukanlah tujuan akhir dari belajar karena belajar adalah sesuatu yang tidak terbatas.
Terima kasih yang sangat mendalam kepada orang tua yang selalu ingin penulis banggakan dan bahagiakan yaitu, Ayahanda Abd.
Rahman yang telah mendahului kami, semoga almarhum diberi tempat terbaik disisi Allah SWT. dan Ibunda tercinta Hasba, karena telah melahirkan, membesarkan, mendidik, mencintai dan selalu senantiasa mendoakan untuk keberhasilan penulis sebagai anak pertama dari dua bersaudara dan kepada adik tercinta Haerati yang telah memberikan semangat dalam kehidupuan sehari-hari saya dan tak lupa pula kepada seluruh keluarga yang telah banyak memberi bantuan moril dan materil, dorongan, doa dan semangat kepada penulis selama ini.
Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari kekurangan, kendala dan hambatan. Skripsi ini dapat terselesaikan berkat bimbingan, saran, dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA selaku Rektor Universitas Hasanuddin beserta jajarannya;
2. Ibu Prof. Dr. Farida Patittingi, S.H., M.Hum. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, beserta jajarannya;
3. Selaku Pembimbing I Prof. Dr. H.M. Said Karim, S.H.,M.H.,M.Si, yang telah meluangkan waktu dan tenaganya untuk memberikan bimbingan, bantuan, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan;
4. Selaku Pembimbing II Ibu Dr. Haeranah,S.H.,M.H, yang telah meluangkan waktu dan tenaganya untuk memberikan bimbingan, bantuan, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan;
5. Dewan Penguji, Bapak Dr.Syamsuddin Muchtar, S.H.,M.H, Ibu Dr.
Nur Azisa.,S.H., M.H, dan Dr. Audyna Mayasari Muin, S.H.,M.H selaku tim penguji yang memberikan kritik dan saran untuk menjadikan skripsi penulis ini lebih baik;
6. Bapak Prof. Dr. Andi Muhammad Sofyan, S.H., M.H, selaku Penasihat Akademik atas waktu dan nasihat kepada penulis;
7. Seluruh Dosen Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin yang dengan ikhlas membagikan ilmunya kepada penulis selama menjalani proses perkuliahan di Fakultas Hukum Unhas;
8. Seluruh staf pegawai akademik Fakultas Hukum Unhas yang telah banyak membantu melayani urusan administrasi dan bantuan lainnya selama kuliah hingga penyelesaian skripsi ini;
9. Ibu Rosmiati sain, S.H selaku Direktur Utama dan Ibu Siti Nur Faidah selaku Koordinator Divisi Pelayanan dan bantuan Hukum LBH APIK yang telah meluangkan waktunya untuk diwawancarai guna penyelesaian skripsi ini;
10. Andi Muhammad Aksan Anugrah S.H., M. Ibnu Maulana Ruslan,S.H, Arief Try Dharma Jaya, S.H., Amiruddin, S.H., Nasril S.H., Irwan Rum S.H., Rachmat Setiawan yang telah meluangkan waktu untuk mengingatkan dan memberi semangat kepada penulis agar segera menyelesaikan skripsi ini;
11. Kakanda Kaswasi Anwar, Muh. Aidil, Pandi dan Syukrika Ryzki yang telah meluangkan waktu dan tenaga menemani penulis dalam proses penyelesaian skripsi ini;
12. Kak Ikrimah yang selalu memberi semangat, nasehat dan motivasi
13 Teman-teman seangkatan DIPLOMASI 2014;
14 Saudariku yang tercinta JNSR Andi Mutmainnah Bahrun, Andi Bizauri Tenri Uleng, Andi Asti Sari, Andi Besse Siti Fatimah, dan Lisnameyanti Muchlis atas kebersamaan dan pelajaran hidup, serta kritik dan saran untuk skripsi ini;
15. Yang terkasih keluarga besar Ummu Imaroh kak Ikrimah, Ain, Bian, Asti, Yuli, Lisma, Uli, Lisna, Ima yang telah menemani proses Tarbiyah yang menyenangkan;
16. Senior, Teman-teman dan adik-adik di UKM Seni Tari Universitas Hasanuddin atas segala pengalaman yang diberikan kepada penulis;
17. Teman-teman Pakarena 6 yang tak bisa penulis sebutkan satu persatu
18. Pelatih tari UKM Seni Tari Universitas Hasanuddin Mat Azmar Ali yang mengajarkan arti sportivitas dan profesionalitas kepada penulis;
19. Teman-teman Manado Squad atas pengalaman hidup yang diberikan;
20. Senior, Teman-teman dan adik-adik di UKM Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin atas segala bantuan dan nasihat yang telah diberikan kepada penulis selama ini;
21. Teman-teman alumni 2014 MA. Muhammadiyah Bantaeng yang tidak bisa penulis tulis satu-persatu
22. Saudariku Nurlaeli Bahar, Sri Emmi dan Irmawati yang selalu memberi dukungan kepada penulis;
23. Teman-teman dan Super Visor KKN Reguler UNHAS Angkatan 96 kabupaten Pinrang, Kecamatan Lanrisang yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu
24. Teman-teman satu posko Desa Samaulue Anugrah S.H., Andi Sarwan dan Winda Puspita Sari
25. Semua pihak yang telah membantu penulis selama menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin yang penulis tidak bisa sebutkan satu per satu.
Semoga Allah SWT senantiasa membalas segala kebaikan yang telah diberikan dengan penuh rahmat dan hidayah-Nya. Akhir kata semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua, terutama dalam perkembangan hukum di Indonesia. Wassalamu Alaikum warahmatullahi Wabarakatu
Makassar, Mei 2018
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
PENGESAHAN SKRIPSI ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ...iii
PERSETUJUAN MENEMPUH UJIAN SKRIPSI ...iv
ABSTRAK ... v
ABSTRACT ...vi
KATA PENGANTAR ...vii
DAFTAR ISI ...xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II TINJUAN PUSTAKA ... 8
A. Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan ... 8
1. Pengertian Lembaga Bantuan Hukum APIK ... 8
2. Dasar Hukum Lembaga Bantuan Hukum APIK ...10
3. Tugas dan Fungsi Lembaga Bantuan Hukum APIK ...11
B. Perempuan ...12
1. Pengertian Perempuan ...12
2. Hak-Hak Perempuan Sebagai Korban Tindak Pidana ...13
C. Tindak Pidana Kekerasan seksual ...17
1. Pengertian Kekerasan Seksual ...17
2. Unsur-unsur Tindak Pidana Kekerasan Seksual ...21
3. Jenis-jenis Tindak Pidana Kekerasan Seksual...30
BAB III METODE PENELITIAN ...35
A. Lokasi Penelitian ...35
B. Jenis dan Sumber Data ...35
C. Teknik Pengumpulan Data ...35
D. Teknik Analisis Data ...36
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...37
A. Peranan LBH APIK dalam Memberikan Bantuan Hukum ...37
B. Kendala yang Dihadapi LBH APIK dalam Memberikan Bantuan Hukum terhadap Perempuan sebagai Korban Tindak Pidana Kekerasan Seksual ...44
BAB V PENUTUP ...47
A. Kesimpulan ...47
B. Saran ...48
DAFTAR PUSTAKA ...49
BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan Negara hukum yang berlaku secara menyuluruh. Sistem hukum merupakan alat kredibilitas bangsa Indonesia. Sistem hukum yang berlaku di Indonesia saat ini adalah sistem hukum yang berkiblat pada Negara Belanda yaitu Eropa Continentalatau Civil Law. Bukti adanya sistem hukum ini adalah Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer) yang sampai saat ini masih tetap berlaku.
Hal ini tertuang dalam aturan peralihan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945), yang berbunyi:“segala peraturan perundang-undangan yang masih ada dianggap tetap berlaku selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar 1945”.1
Kemajuan dalam penegakan hukum mendapatkan dukungan seluruh bangsa di dunia. Kemajuan tersebut dapat diketahui dari banyaknya instrumen hukum nasional dan internasional yang
1 Lihat Aturan Peralihan Undang-Undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UU NRI 1945)
digunakan untuk mendukung terciptanya tujuan hukum berupa kedamaian dan ketertiban di masyarakat. Tujuan yang ingin dicapai oleh hukum tersebut sangat diharapkan untuk memberikan perlindungan hukum bagi hak-hak individu dan hak-hak masyarakat.
Termasuk dalam melindungi hak-hak perempuan
Hukum haruslah dibentuk secara demokratis dan memuat substansi Hak Asasi Manusia. Jika tidak, hukum akan kehilangan esensinya, bahkan menjadi alat penindasan semata-mata untuk mengabsahkan, membenarkan segala tindakan sepihak dari penguasa. Hukum harus mengacu pada Hak Asasi Manusia (HAM) karena hukum harus melindungi hak-hak rakyat, hukum harus menjadi teman bagi rakyat sehingga rakyat merasa aman, hak-haknya terlindungi dan dapat memperjuangkan kepentingannya yang sah secara damai.2
Dewasa ini isu terhadap Hak Asasi Manusia (Selanjutnya disingkat HAM) merupakan isu yang paling sering disoroti oleh seluruh bangsa di dunia. Isu yang sering di perbincangkan diantaranya adalah isu terhadap kekerasan terhadap perempuan.
Tindak kekerasan terhadap perempuan semakin marak terjadi didalam masyarakat, terlebih kekerasan seksual yaitu perkosaan yang
2 H. Bambang Sunggono dan Aries Harianto,0. 2009, Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia, CV. Mandar maju , Bandung, hlm. 130
dialami seorang perempuan. Kekerasan seksual terhadap perempuan merupakan salah satu bentuk perbuatan yang bertentangan dengan sisi kemanusiaan. Padahal perempuan berhak mendapatkan haknya sebagai perempuan yang memiliki keutamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Diantaranya perempuan adalah pelanjut keturunan yang tidak dapat diganti oleh kaum laki-laki dan perempuan adalah sebagai seorang ibu yang merupakan salah satu alasan mendasar mengapa perempuan perlu mendapatkan perhatian yang khusus untuk dilindungi dan dihormati hak-haknya.
Kekerasan/pelecehan seksual yang terjadi pada seorang perempuan dikarenakan sistem tata nilai yang mendudukkan perempuan sebagai makhluk yang lemah dan lebih rendah dibandingkan laki-laki; perempuan masih ditempatkan dalam posisi subordinasi dan marginalisasi yang harus dikuasai, dieksploitasi dan diperbudak laki-laki, juga karena perempuan masih dipandang sebagai second class citizens.3
Convention On The Elimination Of All Forms Of Discrimination Agains Woman (selanjutnya disingkat CEDAW) konvensi mengenai segala bentuk penghapusan diskriminasi terhadap perempuan yang di setujui majelis umum PBB pada tanggal 18 Desember 1979 yang
3Sumerara Marcheyla, “Perbuata Kekerasan/Pelecehan Seksual Terhadap Perempuan”, Lex et Scsietatis, Vol. 1/No. 2/Apr-Jun/2013, hlm. 39
diratifikasi oleh Indonesia menjadi UU No. 7 Tahun 1984 tentang pengesahan konvensi penghapusan segala bentuk Diskriminasi terhadap perempuan, dalam bagian I Pasal 8 menyatakan :
“Negara-negara peserta wajib melakukan segala langkah-tindak yang diperlukan untuk menjamin bagi perempuan, setara dengan laki-laki dan tanpa diskrimiasi apapun, kesempatan untuk mewakili pemerintahnya pada tingkat internasional dan untuk berpartipasi dalam pekerjaan organisasi-organisasi Internasional”
Dengan adanya instrument hukum nasional dan internasional yang menjadi dasar aturan, perempuan menumbuhkan kesadarannya dengan melindungi haknya sebagai perempuan dengan membentuk berbagai Lembaga Bantuan Hukum terkhusus untuk perempuan dan anak yang buta terhadap hukum dan menjadi korban tindak pidana kekerasan.
Dengan lahirnya Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (selanjutnya disingkat LBH APIK) adalah sebagai salah satu bukti kesadaran perempuan mempertahankan haknya. Dengan begitu setiap perempuan yang menjadi korban tindak pidana kekerasan dapat melaporkan kasusnya pada lembaga bantuan hukum yang telah didirikan oleh para perempuan yang berinsiatif menegakkan hak-hak korban terlebih perempuan.
Hak-hak penerima bantuan tertuang dalam UU No. 11 Tahun 2016 tentang Lembaga Bantuan Hukum, pada Pasal 4 menyatakan bahwa4:
a. Bantuan hukum diberikan kepada penerima bantuan hukum yang menghadapi masalah hukum.
b. Bantuan hukum sebagai mana yang disampaikan ayat (1) meliputi masalah hukum keperdataan, pidana, dan tata usaha Negara baik litigasi maupun non litigasi
c. Bantuan hukum sebagai mana yang dimaksud pada ayat (1) meliputi menjalankan kuasa, mendampingi, mewakili, membela, dan/atau melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan hukum penerima bantuan hukum.
Dengan implementasi dari UU No. 16 Tahun 2011 maka setiap lembaga bantuan hukum yang ada di Indonesia berhak untuk membantu memperjuangkan hak-hak korban.
Dari latar belakang yang telah diuraikan tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dan mengkaji tentang, “Peranan Lembaga Bantuan dalam Memberikan Bantuan Hukum terhadap Perempuan Sebagai Korban kekerasan Seksual (Studi kasus di LBH APIK Makassar)”
4 UU No. 11 Tahun 2016 Tentang Bantuan Hukum
B. Rumusan Masalah
Bertolak dari latar belakang masalah di atas, maka dirumuskan pokok permasalahan, sebagai berikut :
a. Bagaimanakah peran LBH APIK dalam memberikan bantuan hukum terhadap perempuan korban tindak pidana kekerasan seksual?
b. Apakah kendala yang dihadapi LBH APIK dalam memberikan bantuan hukum terhadap perempuan sebagai korban tindak pidana kekerasan seksual?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan identifikasi rumusan masalah di atas, tujuan dari
penelitian ini adalah :
c. Untuk mengentahui Bagaimanakah peran LBH APIK dalam memberikan bantuan hukum terhadap perempuan sebagai korban tindak pidana kekerasan seksual?
d. Untuk mengetahui Apakah kendala yang dihadapi LBH APIK dalam memberikan bantuan hukum terhadap perempuan sebagai korban tindak pidana kekerasan seksual?
D. Manfaat Penulisan
Hasil penelitian diharapkan mempunyai manfaat antara lain sebagai berikut :
1. Kegunanaan Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan, memberikan tambahan wacana, serta dapat menjadi referensi dalam pengembangan ilmu pengetahuan secara umum, dan hukum pada khususnya.
2. Kegunaan praktis
a. Mengembangkan penalaran, menumbuhkan analisis kritis, membentuk pola pikir dinamis, serta sekaligus mengetahui sejauh mana kemampuan penulis dalam menerapkan ilmu hukum yang diperoleh selama menimba ilmu di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.
b. Memberikan gambaran tentang peran, fungsi Lembaga Bantuan Hukum APIK Makassar dalam memberikan bantuan hukum terhadap perempuan.
c. Melengkapi syarat administrasi guna mendapatkan gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Lembaga Bantuan Hukum APIK
1. Pengertian Lembaga Hukum APIK
Bantuan hukum adalah salah satu cara untuk meratakan jalan menuju pemerataan keadilan5. Sedangkan pengertian hukum adalah peraturan atau undang undang, kaidah dan ketentuan yang dibuat dan disepakati baik secara tertulis maupun tidak tertulis;
peraturan, undang-undang yang mengikat perilaku setiap masyarakat tertentu.6
Menurut Ranuhandoko dalam terminologi hukum disebutkan bahwa bantuan hukum adalah sebagai pemberian jasa bantuan hukum terhadap seseorang yang terlibat dalam suatu perkara secara cuma-cuma bagi yang tidak mampu.7 Menurut UU No. 16 Tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum dan menurut PP No. 42 Tahun 2013 Tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum dan Penyaluran Dana Bantuan Hukum adalah jasa hukum yang diberikan oleh pemberi
5 H. Bambang Sunggono dan Aries Harianto, 2009, Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia, CV. Mandar Maju, Bandung, hal. 20.
6 M.B Ali dan T. Deli, 2000, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Penabur Ilmu, Bandung, hlm. 267
7 I.P.M Ranuhandoko, 2006, Terminologi Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 378
bantuan secara cuma-cuma kepada penerima Penerima Bantuan Hukum.8
Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum Secara cuma-cuma disebutkan pengertian mengenai bantuan hukum secara cuma-cuma yaitu jasa hukum yang diberikan advokat tanpa menerima pembayaran honorarium meliputi pemberian konsultasi hukum, menjalankan kuasa, mewakili, mendampingi, membela, dan melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan pencari keadilan yang tidak mampu.9
Bantuan hukum juga tertuang dalam UU No. 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang menyinggung tentang Bantuan Hukum, kemudia UU No. 18 Tahun 2003 Tentang Advokat yang tertuang dalam Pasal 1 angka 9 yang berbunyi:
“Bantuan hukum adalah jasa hukum yang diberikan oleh Advokat secara cuma-cuma kepada klien yang tidak mampu”
Lembaga Bantuan Hukum APIK adalah organisasi yang bertujuan mewujudkan masyarakat adil, makmur dan demokratis serta
8Bethsyeba, Gabriella, “Pelaksanaan Bantuan Hukum Cuma-Cuma yang diberikan Oleh Advokat kepada Masyarakat yang Kurang Mampu”,Jurnal Ilmiah, Fakultas Hukum Universitas Atmajaya Yogyakarta, Januari 2014, hal. 4
9Lihat Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum Secara Cuma-Cuma
menciptakan kondisi yang setara antara perempuan dan laki-laki dalam segala aspek kehidupan baik politik, ekonomi, sosial maupun budaya10.
2. Dasar Hukum LBH APIK
Bahan kekerasan bahkan kerap didapatkan Karena ketidakmampuan para perempuan menghadapi persoalan persoalan dalam rumah tanggganya, mereka merasa tidak terpenuhi haknya.Namun, mereka tidak mampu menuntut hak mereka di pengadilan selain karenakurang pengetahuan tentang hukum, persoalan ketidakmampuan secara financial menjadi salah satu faktor utama.11
LBH APIK merupakan lembaga bantuan hukum yang mewujudkan masyarakat adil, makmur dan demokratis dan memiliki misi mewujudkan sistem hukum yang adil dipandang dari pola relasi kekuasaan dalam masyarakat, khuhusnya relasi perempuan – laki-laki yang ditandai dengan ciri-ciri tidak terjadi marjinalisasi, tidak terjadi subordinasi, tidak terjadi stereotyping, tidak terjadi kekerasan fisik, mental dan seksual, tidak terjadi beban berlebihan pada salah satu.
10 hhtp://lbhapikmakassar.org/tentang-kami.html, diakses pada tanggal 6 desember 2017 pukul 09.04 WITA
11 Mariani, 2017, Peranan Lembaga Bantuan Hukum APIK dalam Memperjuangkan Hak Hak Perempuan Di Kota Makassar Perspektif Hukum Islam, Tesis, Megister Hukum, Fakultas Hukum Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, hal. 30
Dengan cara memberikan pembelaan hukum bagi perempuan didalam maupun diluar pengadilan, melakukan penelitian, pengkajian atas kebijakan dan masalah hukum yang timbul, menyelenggarakan pembelajaran guna mendorong terjadinya perubahan sikap, serta tercipta sistem hukum dan kebijakan yang adil dan perspektif gender.
Dengan demikian para perempuan Indonesia khususnya Makassar berinisiatif membangun suatu lembaga dan menjadikan perempuan dan anak dalam poros penanganannya yang berdasar dari Akta Notaris dan dengan tercapainya misi LBH APIK dalam melindungi kasus-kasus terhadap perempuan, dalam member bantuan hukum LBH APIK berdasar pada UU No. 16 Tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum dan UU No. 18 Tahun 2003 Tentang Advokasi serta Standard Operating Procedure yang selanjutnya disingkat SOP.12
3. Tugas dan Fungsi LBH APIK
Berdasarkan misi dan program kerja LBH APIK, dijelaskan tugas dan fungsi LBH APIK adalah13:
a. Memberikan pembelaan hukum terhadap perempuan di dalam dan luar pengadilan;
12 Wawancara dengan Koordinator Divisi Pelayanan dan Bantuan Hukum Siti Nur Faida, S.H, tanggal 26 maret 2018 di Lembaga Bantuan Hukum APIK Makassar
13 hhtp://lbhapikmakassar.org/tentang-kami.html, diakses pada tanggal 6 desember 2017 pukul 09.04 WITA
b. Melakukan penelitian dan pengkajian atas masalah hukum yang timbul;
c. Menyelenggarakan pembelajaran guna mendorong terjadinya perubahan sikap;
d. Menciptakan sistem hukum dan kebijakan yang adil dan perspektif gender.
B. Perempuan
1. Pengertian Perempuan
Secara umum perempuan adalah keindahan, kelembutan, kerendahan hati dan penuh kasih sayang. Ilmuwan seperti Plato, mengatakan bahwa perempuan ditinjau dari segi kekuatan fisik maupun spiritual dan mental lebih lemah dari laki-laki.
Perempuan menurut pandangan yang didasarkan pada kajian medis, psikologis dan sosial, terbagi atas dua faktor, yaitu faktor fisik dan psikis. Secara biologis dari segi fisik, perempuan dibedakan atas dasar fisik perempuan yang lebih kecil dari laki-laki, suaranya lebih halus, perkembangan tubuh perempuan terjadilebih dini, kekuatan perempuan tidak sekuat laki-laki dan sebagainya. Dari segi psikis, perempuan mempunyai sikap pembawaan yang kalem, perasaan
perempuan lebih cepat menangis apabila menghadapi persoalan berat.
2. Hak-Hak Perempuan sebagai Korban Tindak Pidana Kekerasan Dalam kehidupan bermasyarakat sering terjadi diskrimanasi terhadap perempuan, baik di lingkungan keluarga, pekerjaan dan pendidikan. Dalam pandangan dunia dan filsafat barat, wanita lebih tertindas dan lebih terampas dibandingkan pria, baik secara keagamaan maupun tidak.14 Dalam budaya barat wanita dianggap terbelakang, kotor dan lemah dan sumber kesengsaraan selama masa yang panjang.15
Perempuan juga kerap menerima perbandingan dengan laki-laki baik dari segi kemampuan fisik maupun otak namun pada dasarnya perempuan dan laki-laki adalah dua mahluk ciptaan Tuhan yang sama yang memiliki fungsi sosial masing-masing.
Hak perempuan adalah suatu kodrat pemberian Tuhan yang dimiliki baik karena ia seorang manusia atau sebagai seorang perempuan. Sistem hukum tentang hak asasi manusia terdapat dalam instrumen nasional dan Internasional. Khusus mengenai hak-hak perempuan yang terdapat dalam sistem hukum dapat ditemukan baik
14 S.M. Khamanei, 2004, Risalah Hak Asasi Wanita, Penerbit Al-Huda, Jakarta, hlm. 21
15ibid
secara eksplisit maupun implisit. Dengan penggunaan kata-kata yang umum terkadang membuat pengaturan tersebut menjadi berlaku pula untuk kepentingan perempuan. Dalam hal ini dapat dijadikan dasar sebagai perlindungan dan pengakuan atas hak-hak perempuan.
Sama halnya di Indonesia sejak awal berdirinya Republik Indonesia secara tegas dicantumkan didalam Undang-Undang Dasar 1945 tentang adanya persamaan hak dan kewajiban antara pria dan wanita, anatara lain:16
- Pasal 27 ayat (1) UUD 1945
Segala warga Negara bersamaan kedudukannya didalam hukum dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.
- Pasal 27 ayat (2) UUD 1945
Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
Adapun hak-hak perempuan sebagai korban tindak pidana dalam berbagai Undang-undang yang mengaturnya, diantaranya:
1. Undang-Undang No. 31 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban
Pasal 5 ayat (1) menguraikan beberapa hak saksi dan korban diantaranya:
16 Tapi Omas Ihromi, Suistyowati Irianto dan Achie Sudiarti Luhulima, 2000, Penghapusan Diskriminasi Terhadap Perempuan, penerbit alumni, Bandung, hal. 238
a. Memperoleh perlindungan atas keamanan pribadi, keluarga dan harta bendanya, serta bebas dari ancaman yang berkenaan dengan kesaksian yang akan, sedang, atau telah diberikannya;
b. Ikut serta dalam proses memilih dan menentukan bentuk perlindungan dan dukungan keamanan;
c. Memberikan keterangan tanpa tekanan;
d. Mendapat penerjemah;
e. Bebas dari pertanyaan yang menjerat;
f. Mendapat informasi dari perkembangan kasus;
g. Mendapat informasi dari putusan pengadilan;
h. Mendapat informasi dalam hal terpidana dibebaskan;
i. Dirahasiakan identitasnya;
j. Mendapat identitas baru;
k. Mendapat tempat kediaman sementara;
l. Mendapat tempat kediaman baru;
m. Memperoleh penggantian biaya transportasi sesuai dengan kebutuhan;
n. Mendapat nasihat hukum;
o. Memperoleh bantuan biaya hidup sementara sampai pada batas waktu perlindungan berakhir;
p. Mendapat pendampingan
Sesuai dengan isi Pasal 5 ayat (1) yang menguraikan hak- hak saksi dan korban, dalam Pasal 5 ayat (2) menjelaskan bahwa:
“hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada saksi dan/atau korban tindak pidana dalam kasus tertentu sesuai dengan keputusan LPSK”
Kemudian dijelaskan pada pasal 6 ayat (1) bahwa:
“Korban pelanggaran Hak Asasi manusia yang berat, korban tindak pidana terorisme, korban pidana perdagangan orang, korban tindak pidana penyiksaan, korban tindak pidana kekerasan seksual, dan korban
penganiayaan berat selain berhak sebagaimana dimaksud pada pasal 5 juga berhak mendapatkan:
a. Bantuan medis;dan
b. Bantuan rehabilitasi psikososial dan psikologis
2. Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak
Dalam Undang-Undang N0. 35 Tahun 2014 telah diuraikan bentuk-bentuk perlindungan pada anak diantaranya dalam pasal 69 menyebutkan bahwa:
“Perlindungan khusus bagi anak kekerasan fisik dan/atau psikis sebagaimana dimaksud dalam pasal 59 ayat (2) huruf I dilakukan melalui upaya:
a. Penyebarluasan dan sosialisasi ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang melindungi anak korban tindak kekerasan;dan
b. Pemantauan, pelaporan, dan pemberian saksi.
Pada Pasal 69A juga terdapat poin perlindungan anak korban tindak pidana, berikut isi pasalnya:
“Perlindungan khusus bagi anak korban kejahatan seksual sebagaimana dimaksud dalam pasal 59 ayat (2) huruf j dilakukan melalui upaya:
a. Edukasi tentang kesehatan reproduksi, nilai agama dan nilai kesusilaan;
b. Rehabilitasi sosial.
3. Undang-Undang No. 23 tahun 2004 Tentang Pengahapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga
Berdasarkan Pasal 10 dari Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), korban berhak mendapatkan17:
1. Perlindungan dari pihak keluarga, kepolisaian, kejaksaan, pengadilan, advokat, lembaga sosial, atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan;
2. Pelayana kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis;
3. Penanganan secara khusus berkaitan dengan kerahasiaan korban;
4. Pendampingan oleh pekerja sosial dan bantuan hukum pada setiap tingkat proses pemeriksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
5. Pelayanan bimbingan rohani.
A. Tindak Pidana Kekerasan Seksual 1. Pengertian kekerasan Seksual
Kekerasan atau bahasa lnggris: violence berasal dari bahasa Latin: violentus yang berasal dari kata vi atau vis berarti kekuasaan atau berkuasa). Kekerasan dalam prinsip dasar dalam hukum publik dan privat Romawi yang merupakan sebuah ekspresi baik yang dilakukan secara fisik ataupun secara verbal yang mencerminkan pada tindakan agresi dan penyerangan pada kebebasan atau martabat
17http://kumpulanmakalah123.blogspot.co.id/2014/03/hak-hak-korban-kejahatan.html, diakses pada tanggal 3 Mei 2018 pukul 19:29
seseorang yang dapat dilakukan oleh perorangan atau sekelompok orang umumnya berkaitan dengan kewenangannya yakni bila diterjemahkan secara bebas dapat diartikan bahwa semua kewenangan tanpa mengindahkan keabsahan. Penggunaan atau tindakan kesewenang-wenangan itu dapat pula dimasukan dalam rumusan kekerasan ini.18
Pasal 89 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) merumuskan bahwa: "Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan kekerasan".
Menurut Zakariah Idris kekerasan adalah perihal yang berciri atau bersifat keras dan atau perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain19
R. Sianturi memberi arti kekerasan atau tindak kekerasan yaitu
"melakukan suatu tindak badaniah yang cukup berat sehingga menjadikan orang dikerasi itu kesakitan, atau tidak berdaya”
Menurut Soerjono Soekanto kekerasan dapat didefinisikan sebagai berikut :
18Dedi risfandi, 2014, “Perlindungan Hukum terhadap Perempuan Korban tindak Pidana Kekerasan dalam Rumah tangga di Kota Makassar, Skripsi, sarjana hukum, Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Makassar, hlm. 24
19 Zakariah Idris, 1988, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta, hlm. 452
“Kejahatan kekerasan ialah suatu istilah yang digunakan bagi cidera mental atau fisik. Kejahatan kekerasan sebenarnya merupakan bagian dari proses kekerasan, yang kadang-kadang diperbolehkan, sehingga jarang disebut sebagai kekerasan. Masyarakat biasanya membuat kategori-kategori tertentu mengenai tingkah laku yang dianggap keras.20
Dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak Pasal 1 butir 15a dijelaskan bahwa Kekerasan adalah setiap perbuatan terdahap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan/atau perempasan kemerdekaan secara melawan hukum.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga pada Pasal 1 ayat 1 menjelaskan pengertian tentang kekerasan yang berbunyi:
“Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan pemaksaan atau perampasan kemerdekaan, secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga”.
Tindak kekerasan seksual secara sederhana dapat didefenisikan sebagai sebuah usaha melampiaskan nafsu seksual
20 Nur Rochaety, “Menegakkan HAM melalui perlindungan Hukum Bagi Perempuan Korban Kekerasan Di Indonesia”, PALASTREN, Fakutas Hukum Universitas diponegoro Semarang, Vol. 7 Nomor 1 Juni 2014, hlm. 10
oleh seorang laki-laki terhadap seorang perempuan dengan cara yang menurut moral dan/atau hukum yang berlaku adalah melanggar.21
Menurut heise yang dimaksud tindak kekerasan terhadap perempuan pada dasarnya adalah segala tindakan kekerasan verbal atau fisik, pemaksaan atau ancaman pada nyawa yang diarahkan pada perempuan, apakah masih anak-anak atau sudah dewasa yang menyebabkan kerugian fisik atau psikologis, penghinaan, atau perampasan kebebasan dan yang melanggengkan sub-ordi-nasi perempuan.22
Definisi yang lebih lengkap termuat dalam Pasal 1 Deklarasi Penghapusan kekerasan Terhadap Perempuan di Nairobi 1985 yang menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan kekerasan terhadap perempuan adalah:23
“Setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual, dan psikologis, termasuk ancaman tin dakan tertentu, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan, secara sewenang-wenang baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehidupan pribadi”
Kekerasan seksual dengan demikian tidak hanya terbatas pada hal yang bersifat fisik, tetapi juga mencakup banyak perilaku lainnya,
21 Bagong Suyanto, 2003, Masalah sosial Anak, Kencana prenada media Grup, Jakarta, hlm. 248
22Ibidhlm. 249
23Ibid
misalnya penganiayaan psikologis dan penghinaan, sehingga kalau berbicara masalah kekerasan seksual haruslah menyentuh pada inti kekerasan dan pemaksaan, tidak hanya perilaku yang keras dan menekan.24
2. Unsur-unsur Tindak Pidana Kekerasan seksual
Dalam Hukum Pidana diperlukan pemenuhan unsur-unsur delik sebagai acuan untuk mengukur kesalahan seseorang atau badan hukum (subyek hukum pidana). Setiap perbuatan harus memenuhi unsur delik (kejahatan dan pelanggaran) yang dasarnya terikat pada asas legalitas sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 1 ayat (1) kitab Undang-Undang Hukum Pidana, sebagai berikut:25
"Tiada suatu perbuatan pidana yang dapat dihukum, melainkan atas kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana secara tertulis yang ada terdahulu dari pada perbuatan itu".
Dengan demikian, apabila salah satu unsur dari perbuatan tersebut tidak terpenuhi unsurnya, maka tidak dapat dikategorikan ke dalam delik atau perbuatan pidana.26
Secara umum unsur - unsur tindak pidana terdiri dari dua unsur yaitu: unsur-unsur yang bersifat objektif dan unsur-unsur yang bersifat
24Ibid
25Dedi risfandi, 2014, “Perlindungan Hukum terhadap Perempuan Korban tindak Pidana Kekerasan dalam Rumah tangga di Kota Makassar, Skripsi, sarjana hukum, Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Makassar, hlm. 18
26Ibid
subjektif. Adapun penjelasan tentang unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut:27
a. Unsur objektif
Yang dimaksud dengan unsur objektif adalah: semua unsur yang berada di luar keadaan batin manusia atau si pembuatnya, yakni meliputi :
1) Perbuatan manusia
suatu perbuatan atau tingkah laku manusia yang terdiri dari perbuatan nyata/tingkah laku aktif (bandelen).atau perbuatan yang tidak nyata/tingkah laku pasif (nalaten) yang merupakan unsur mutlak penyebab terjadinya tindak pidana.
Adapun yang dimaksud dengan tingkah laku aktif adalah suatu bentuk yang untuk mewujudkan atau untuk melakukannya diperlukan gerakan nyata, misalnya: perbuatan bersetubuh (Pasal 287 KUHP) dan perbuatan sodomi/ homoseksual (Pasal 292 KUHP). Sementara itu yang dimaksud dengan tingkah laku pasif (nalaten) adalah suatu bentuk tingkah laku yang tidak melakukan aktivitas tertentu, yang seharusnya seseorang itu dalam keadaan tertentu harus melakukan perbuatan aktif dan dengan tidak berbuat demikian, seseorang itu disalahkan
27Adami Chazawi, 2005, “Pembelajaran Hukum Pidana I”, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta. Hlm. 83
karena tidak melaksanakan kewajiban hukumnya. Contoh dari perbuatan negatif atau tingkah laku pasif (nalaten) yaitu: tidak melaporkan pada yang berwajib, sedangkan ia mengetahui ada dua orang yang berlawanan jenis dan tidak terikat perkawinan sedang melakukan perbuatan persetubuhan atau orang yang sesama jenis sedang melakukan perbuatan sodomi (homoseksual) terhadap anak di bawah umur.
2) Akibat perbuatan
Akibat yang ditimbulkan dari wujud perbuatan yang telah dilakukan. Dan akibat ini perlu ada supaya si pembuat dapat dipidana. Misalnya: kehilangan masa depan korban atau kehamilan yang tidak dikehendaki oleh korban sehingga korban mengalami trauma.
3) Keadaan-keadaan tertentu.
Keadaan - keadaan yang dimaksud boleh jadi terdapat pada waktu melakukan perbuatan. Misalnya: ditemukannya pakaian yang berserakan serta tidak dikenakan oleh pemiliknya karena sedang melakukan persetubuhan.
4) Sifat melawan hukum dan sifat yang dapat dipidana
Suatu perbuatan dikatakan melawan hukum apabila bertentangan dengan undang-undang. Melawan hukum merupakan suatu sifat yang tercela atau terlarangnya suatu
perbuatan, dimana sifat - sifat tercela tersebut dapat bersumber pada undang - undang (melawan hukum formil) dan dapat bersumber pada masyarakat (melawan hukum materil)
b. Unsur subjektif
Yang dimaksud dengan unsur subjektif adalah semua unsur yang mengenai batin atau melekat pada keadaan batin orangnya dengan kata lain perbuatan itu harus dipertanggung jawabkan kepada orang yang telah melakukan pelanggaran tersebut. Hanya orang yang dapat dipertanggung jawabkan yang dapat dipersalahkan. Jika orang yang melakukan pelanggaran itu adalah orang yang kurang sempurna akalnya atau sakit jiwanya (gila) maka perbuatan tersebut tidak dapat dipertanggung jawabkan atas perbuatannya dan oleh karena itu tidak dapat dipersalahkan.28
Tindak pidana pelecehan seksual, juga mempunyai beberapa Unsur, baik unsur objektif maupun unsur subjektif seperti yang tercantum dalam Pasal 287 dan Pasal 292 KUHP
1. Pasal 287 KUHP ayat (1) yang berbunyi:
Barang siapa bersetubuh dengan seorang perempuan di luar perkawinannya, padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduga bahwa umurnya belum lima belas tahun, atau
28Ibid, hlm. 85
umurnya tidak jelas, atau ia belum waktunya untuk dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun”
2. Pasal 292 KUHP yang berbunyi:
Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain yang sama jenis kelaminnya dengan dia yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun”
Dari penjelasan pasal diatas dapat dirincikan mengenai unsur-unsur sebagai berikut:
a. Unsur – unsur Objektif;
1) Perbuatannya: bersetubuh 2) Objek: perempuan diluar kawin
3) Yang umurnya belum 15 tahun; atau jika umurnya tidak jelas waktunya dikawin.
b. Unsur – unsur subjektif
Kata “Barang Siapa” ditujukan kepada semua orang, tetapi hanya untuk orang yang berjenis kelamin laki-laki saja. Sedangkan orang yang berjenis kelamin perempuan tidak termasuk dalam pengertian “barang siapa”. Hal ini dapat dikaitkan dengan bunyi pasal 287 itu sendiri yaitu: “Barang siapa yang bersetubuh dengan perempuan yang belum berumur 15 tahun...” Jadi tidaklah mungkin “barang siapa” tersebut ditujukan kepada orang yang berjenis kelamin perempuan. Letak patut dipidana pada kejahatan Pasal 287 ini adalah pada umur anak yang masih di bawah umur atau belum
waktunya untuk kawin.Yang tujuannya untuk memberikan perlindungan terhadap kepentingan hukum anak dari perbuatan-perbuatan yang melanggar kesusilaan.
Tindak pidana perkosaan dalam KUHP dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Tindak pidana perkosaan untuk bersetubuh yang diatur dalam Pasal 285
Pasal 285 KUHP, ”Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang perempuan bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun”. Inti delik dari Pasal 285 ini adalah:29
a. Perbuatan yang dilakukan harus dengan kekerasan atau ancaman kekerasan
b. perbuatan yang dilakukan harus dengan paksa sehingga perempuan itu tidak dapat melawa dan terpaksa melakukan persetubuhan.
c. perempuan yang disetubuhi tersebut bukan istrinya, artinya tidak dikawini secara sah.
d. Melakukan persetubuhan, berarti terjadi hubungan biologis antara pembuat dan perempuan yang dipaksa tersebut.
29 Andi Hamzah, 2009, Delik-Delik Tertentu di Dalam KUHP, Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 15
Dalam rumusan Pasal 285 KUHP tersebut menyebutkan bahwa paling lama hukuman yang akan ditanggung oleh pelaku adalah duabelas tahun penjara. Ancaman hukuman secara maksimal,. sanksi minimalnya tidak ada, sehingga terhadap pelaku dapat diterapkan berapa pun lamanya hukuman penjara sesuai dengan menjadi unsur kesalahan. apa “sengaja” atau “alpa”. Tapi dengan dicantumkannya unsur “memaksa” kiranya jelas bahwa perkosaan harus dilakukan dengan “sengaja”. Pemaknaan ini lebih condong pada unsure kesengajaan untuk berbuat, artinya ada kecendrungan semi terencana dalam melakukan perbuatan kejahatan. Tanpa didahului oleh niat seperti ini, maka perbuatan itu akan sulit terlaksana.
a. Unsur “barang siapa” (subyek tindak pidana) dalam KUHP memang tidak ada penjelsan yang expressis verbis. Namun kalau kita simak Pasal 2, Pasal 44, Pasal 45, Pasal 46, Pasal 48, Pasal 49, Pasal 50, Pasal dan Pasal 51 KUHP dapat disimulkan bahwa yang dimaksud dengan “barang siapa” adalah orang atau manusia.30
b. Unsur “Kekerasan” adalah kekuatan fisik atau perbuatan fisik yang menyebabkan orang lain secara fisik tidak berdaya tidak mampu melakukan perlawanan atau pembelaan. Wujud dari kekerasan dalam tindak pidana perkosaan antara lain bisa berupa perbuatan mendekap, mengikat, membius, menindih, memegang, melukai, dan
30 Abdul Wahid, 2001, Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan Seksual, Refika Aditama, Jakarta, hlm. 111
lain sebagainya perbuatan fisik yang secara objektif dan fisik menyebabkan orang yang terkena tidak berdaya.31 c. Unsur ancaman kekerasan adalah serangan psikis yang
menyebabkan orang menjadi ketakutan sehingga tidak mampu melakukan pembelaan atau perlawanan atau kekerasan yang belum diwujudkan tapi yang menyebabkan orang yang terkena tidak mempunyai pilihan selain mengikuti kehendak orang yang mengancam dengan kekerasan.32
d. Unsur “Memaksa” dalam perkosaan menenjukkan adanya pertentangan kehendak antara pelaku dengan korban, pelaku mau/ingin bersetubuh sementara korban tidak mau/ingin. karenanya tidak ada perkosaan apabila tidak ada pemaksaan dalam arti hubungan itu dilakukan atas dasar suka sama suka. Sebagaimana juga tidak aka nada kekerasan atau ancaman kekerasan bila tidak ada memaksa.33
e. Unsur bahwa yang dipaksa untuk bersetubuh adalah
“wanita diluar perkawinan” atau tidak terikat perkawinan dengan pelaku. Dari adanya unsure ini dapat disimpulkan bahwa:34
a. Perkosaan hanya terjadi oleh laki-laki terhadap wanita b. Tidak ada perkosaan untuk bersetubuh oleh wanita
terhadap laki-laki, laki-laki terhadap laki-laki atau wanita terhadap wanita.
31Ibid
32Ibid
33Ibid, hlm. 112
34 Ibid
c. Tidak ada perkosaan untuk bersetubuh bila dilakukan oleh laki-laki yang terikat perkawinan dengan wanita yang menjadi korban atau tidak ada perkosaan untuk bersetubuh oleh suami terhadap isteri yang kita kenal dengan marital rape (perkosaan yang dilakukan oleh suami terhadap isterinya)
f. Untuk selesainya tindak pidana perkosaan untuk bersetubuh maka harus terjadi persetubuhan antara pelaku dengan korban, dalam arti tidak ada tindak pidana perkosaan untuk bersetubuh mana kala tidak terjadi persetubuhan. Persetubuhan yakni masuknya penis laki-laki ke dalam kemaluan perempuan menjadi syarat utamanya.35 2. Tindak pidana perkosaan untuk bersetubuh yang diatur
dalam pasal 289 yang berbunyi:
“Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang anak melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena menyerang kehormatan kesusilaan dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun”.
Inti dari delik Pasal 289 adalah:
1. Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, adalah Perbuatan harus dilakukan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan
2. Memaksa, Dengan memaksa dalam arti, bahwa perbuatan yang dilakukan tersebut tidak akan terjadi bila tidak dilakukan secara paksa dan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan
35Ibid
3. Melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, adalah melakukan atau membiarkan terhadp dirinya sesuatu perbuatan yang memaksa dengan memakai kekerasan atau ancaman kekerasan.
Menurut Satochid Kartanegara bahwa: "Unsur delik terdiri atas unsur objektif dan unsur subjektif. Unsur objektif adalah unsur yang terdapat di luar diri manusia, yaitu berupa:
1. Suatu tindakan;
2. suatu akibat dan;
3. keadaan (omstandigheid)
Sedangkan Unsur subjektif adalah unsur-unsur dari perbutan yang dapat berupa :
1. Kemampuan (toerekeningsvatbaarheid);
2. Kesalahan (schuld).
4. Jenis-jenis tindak pidana kekerasan seksual
Komnas Perempuan mencatat, selama 12 tahun (2001- 2012), sedikitnya ada 35 perempuan menjadi korban kekerasan seksual setiap hari. Pada tahun 2012, setidaknya telah tercatat 4,336 kasus kekerasan seksual, dimana 2,920 kasus diantaranya terjadi di ranah publik/komunitas, dengan mayoritas bentuknya adalah perkosaan dan
pencabulan (1620). Usia korban ditemukan semakin muda yakni antara usia 13–18 tahun.36
a. Jenis-jenis kekerasan seksual berdasarkan hasil pemantauan Komisi Nasional Anti kekerasan Terhadap Perempuan, diantaranya:37
1. Perkosaan. Perkosaan bisa dimaknai sebagai serangan dalam bentuk pemaksaan hubungan seksual. Dalam serangan seksual itu ada upaya paksa, kekerasan, tekanan psikologis, penyalahgunaan kekuasaan, atau mengambil kesempatan dari lingkungan yang penuh paksaan. Pencabulan sering diidentikkan dengan perkosaan dalam hukum Indonesia.
2. Intimidasi seksual termasuk ancaman atau percobaan perkosaan. Di sini, ada tindakan yang menyerang seksualitas untuk menimbulkan rasa takut atau penderitaan psikis pada korban. Bisa disampaikan langsung atau melalui pesan singkat.
Ancaman atau percobaan perkosaan termasuk kategori ini.
3. Pelecehan seksual. Ini adalah tindakan seksual lewat sentuhan fisik atau nonfisik dengan sasaran organ seksual korban.
Komnas Perempuan memasukkan siulan, main mata, ucapan bernuansa seksual, dan menunjukkan materi pornografi ke dalam kategori ini.
4. Eksploitasi seksual, yakni tindakan penyalahgunaan kekuasaan yang timpang, atau penyalahgunaan kepercayaan, untuk tujuan kepuasaan seksual, atau untuk memperoleh keuntungan.
Bentuk yang kerap terjadi adalah menggunakan kemiskinan
36https://id.wikipedia.org/wiki/Kekerasan_Seksual, diakses pada tanggal 24 desember pukul 04.24 WITA
37http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5378ba7058483/lima-belas-bentuk-kekerasan- seksual, diakses pada tanggal 24 Desember pukul 04.36 WITA
keluarga perempuan untuk memasukkannya ke dalam prostitusi atau bisnis pornografi.
5. Perdagangan perempuan untuk tujuan seksual, meliputi tindakan merekrut, mengangkut, menampung, mengirim memindahkan, atau menerima seseorang dengan paksaan atau rayuan untuk tujuan prostitusi atau ekspolitasi seksual lainnya.
6. Prostitusi paksa, adalah situasi dimana korban mengalami tipu daya, ancaman, atau kekerasan untuk menjadi pekerja seks 7. Perbudakan seksual, adalah situasi dimana pelaku merasa
menjadi ‘pemilik’ atas tubuh korban sehingga berhak untuk melakukan apapun termasuk memperoleh kepuasan seksual melalui pemerkosaan atau cara lain.
8. Pemaksaan perkawinan. Pernikahan dini atau pernikahan yang dipaksakan kepada orang yang belum dewasa karena di dalamnya akan ada pemaksaan seksual. Cerai gantung termasuk juga dalam kategori ini.
9. Pemaksaan kehamilan. Situasi ketika perempuan dipaksa untuk melanjutkan kehamilan yang tidak dia inginkan. Misalnya dialami oleh perempuan korban perkosaan.
10. Pemaksaan aborsi, yaitu pengguguran kandungan yang dilakukan karena adanya tekanan, ancaman, atau paksaan dari pihak lain.
11. Pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi. Disebut pemaksaan ketika pemasangan alat kontrasepsi atau pelaksanaan sterilisasi tanpa persetujuan utuh dari pasangan, mungkin karena minim informasi atau karena belum cakap secara hukum untuk memberi persetujuan. Bisa menimpa perempuan yang terkena HIV/AIDS.
12. Penyiksaan seksual, adalah tindakan khusus menyerang organ atau seksualitas korban, yang dilakukan dengan sengaja sehingga menimbulkan rasa sakit atau penderitaan hebat.
13. Penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual. Masuk kategori kekerasan sesual karena cara menghukum yang menyebabkan penderitaan, kesakitan, ketakutan, atau rasa malu yang luar biasa. Termasuk di dalamnya hukuman cambuk atau hukuman lain yang mempermalukan.
14. Praktek tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan. Kebiasan masyarakat, kadang ditopang alasan agama dan tradisi, yang bernuansa seksual, yang dapat menimbulkan cedera fisik, psikologis atau seksual pada korban dimasukkan Komnas Perempuan sebagai salah satu bentuk kekerasan seksual.
15. Kontrol seksual, termasuk lewat aturan diskriminatif beralasan moralitas dan agama. Pandangan yang menuduh perempuan sebagai penyebab kekerasan seksual menjadi landasan untuk mengendalikan seksual perempuan.
b. Terdapat dalam Pasal 285 dan Pasal 289 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang menjelaskan tentang kekerasan seksual, yang berbunyi:
- Pasal 285
Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memasksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun
- Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun.
c. Jenis Kekerasan seksual juga ditemukan Dalam Undang-Undang No.
23 Tahun 2004 tentang penghapusan Kekerasan dalam Rumah tangga disebutkan dalam Pasal 8 yang berbunyi:
a. Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut:
b. Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian
Untuk memperoleh data yang relevan, penulis melakukan penelitian suatu instansi terkait alasan dipilihnya tempat tersebut sebagai lokasi penelitian adalah karena dari instansi tersebut penulis dapat mencari data dan informasi dengan judul penelitian.
B. Jenis dan Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari beberapa kategori, yaitu data primer dan data sekunder.
1. Data Primer yaitu data yang diperoleh langsung dari narasumber dilokasi penelitian yang berkaitan dengan judul penelitian.
2. Data Sekunder yaitu data yang diperoleh melalui studi kepustakaan yaitu menelaah literatur, artikel, liputan, makalah serta Perundang-undangan yang ada kaitannya dengan judul.
C. Teknik Pengumpulan data
Metode pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitu : 1. Penelitian kepustakaan (library research)
Yaitu penulis melakukan pengumpulan data dengan cara membaca literatur yang relevan dengan judul, baik melalui buku maupun melalui internet, serta bahan-bahan normatif berupa produk hukum.
2. Penelitian Dilapangan (Field Research) a. Observasi (observation)
Yaitu penulis mendatangi lokasi penelitian kemudian melakukan pengamatan secara langsung dan seksama terhadap obyek penelitian guna mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi.
b. Wawancara (Interview)
Yaitu penulis melakukan beberapa Tanya jawab kepada seluruh narasumber yang berkompeten seperti pegawai instansi.
D. Teknis Analisis Data
Data penelitian diolah dan dianalisi secara kualitatif yaitu menganalisa data berdasarkan kualitasnya lalu dideskripsikan dengan menggunakan kata-kata sehingga diperoleh bahasa atau paparan dalam bentuk kalimat yang sistematis dan dapat dimengerti kemudian dapat ditarik kesimpulan.
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Peranan LBH APIK dalam Memberikan Bantuan Hukum
1. Peranan Secara Umum LBH APIK Makassar dalam Memberikan Bantuan Hukum pada Korban
Peran Lembaga Bantuan Hukum APIK dalam memberikan bantuan hukum pada korban sangatlah penting, sejak berdirinya pada tanggal 15 Desember 2001 dan diaktekan pada tanggal 4 Januari 2002 LBH APIK telah banyak membantu khususnya bagi perempuan dan anak yang awam terhadap hukum dan kurang mampu.
Siti Nur Faidah, SH selaku koordinator Divisi Pelayanan dan Bantuan Hukum Lembaga Bantuan Hukum APIK Makassar dalam wawancaranya mengatakan:38
“sebelum berlakunya UU Bantuan Hukum APIK sudah lama melakukan kerja-kerja bantuan hukum jadi dulu sudah ada sharing antara klien yang mampu dan yang tidak mampu, setelah berlakunya UU Bantuan Hukum atau adanya bantuan hukum gratis dengan pemerintah pencari keadilan maka klien yang tidak mampu lebih diakomodir lagi”
Mengenai dana bagi klien yang tidak mampu ada anggaran bantuan hukum dari pemerintah melalui kantor wilayah
38 Wawancara dengan Koordinator Divisi Pelayanan dan Bantuan Hukum Siti Nur Faida, S.H, tanggal 26 maret 2018 di Lembaga Bantuan Hukum APIK Makassar
Kementrian Hukum dan HAM dengan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi seperti KTP, Kartu Keluarga, urat keterangan tidak mampu, dan surat permohonan bantuan hukum dari klien.
Pendampingan berdasarkan penelitian penulis dalam wawancara yang dilakukan pada pihak LBH APIK ada dua peran LBH APIK diantaranya:
a. Litigasi b. Non litigasi
Berikut pemaparan dari hasil penelitian penulis terkait peran LBH APIK dalam memberi bantuan hukum terhadap korban:
a. Litigasi
Sesuai tugas dan fungsi LBH APIK yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa dasar hukum pemberian bantuan hukum LBH APIK berdasarkan pada UU No. 16 Tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum dan SOP yaitu bertugas mengadvokasi, memberi dampingan hukum dan melakukan pencegahan mengenai fungsi pembelaan hukum terhadap perempuan.
Dalam pelaksaanaan proses litigasi pihak LBH APIK melakukan beberapa prosedur dalam memberi bantuan hukum yaitu senantiasa memperlebar jaringan dengan beberapa lembaga hukum
dan lembaga sosial yang berada diwilayah Makassar seperti Lembaga Bantuan Hukum Makassar atau LBH Makassar, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan perempuan dan Anak yang selanjutnya disingkat P2TP2A, Komunitas Angin Mammiri dan para legal yang berada dibeberapa kecamatan kota Makassar, jaringan psikolog, dinas sosial, dinas kesehatan dan kepolisian.
Selain itu pihak LBH APIK sering mendapat kasus dari koran dan pihak korban atau keluarga korban yang mendatangi pihak LBH APIK untuk melaporkan kasusnya.
Dengan melakukan fungsi pendampingan, pihak LBH APIK memulai dari tahap awal hingga kasus tersebut diserahkan kepada pihak yang berwenang. Di dalam pengadilan pihak LBH APIK masih menjalankan fungsi-fungsi pendampingan termasuk keterangan yang dianggap masih perlu untuk ditambah sampai ditetapkannya vonis dari pengadilan.
Siti Nur Faidah saat di wawancarai mengatakan:39
“dalam proses litigasi kita melakukan mulai dari tahap awal hingga dilakukannya vonis oleh pihak pengadilan, kami menyiapkan advokat untuk membantu klien kami dan kalau dalam pengadilan masih ada beberapa berkas yang belum lengkap maka kami yang akan bertindak kami juga memonitoring kasus yang sudah sampai pada pengadilan apakah tuntutan vonisnya sudah sesuai apa tidak”
39 Wawancara dengan Koordinator Divisi Pelayanan dan Bantuan Hukum Siti Nur Faida, S.H, tanggal 26 maret 2018 di Lembaga Bantuan Hukum APIK Makassar
Mengenai pengacara, LBH APIK memiliki pengacara sendiri yang bekerja di LBH APIK dan menjadi pengacara mitra atau klien dari LBH APIK sendiri dan ada beberapa pengacara magang dan para legal. Setiap orang yang membutuhkan bantuan hukum berhak mendapatkan bantuan pembelaan hukum di dalam pengadilan selama belum ada tanda tangan kuasa dengan pengacara lain maka LBH APIK siap mendampingi.
b. Non-Litigasi
Dalam proses non-litigasi LBH APIK melakukan tugasnya diluar pengadilan seperti melakukan mediasi dan kegiatan hukum lainnya diantaranya penyuluhan hukum, seminar, dan menjadi pemateri pada acara tertentu dan dalam kegiatan tersebut LBH APIK mengkampenyakan pencegahan kekerasan terhadap perempuan maupun anak.
Mengenai peran LBH APIK bukan hanya memberi bantuan dan pembelaan hukum juga melakukan kajian publikasi informasi dan dokumentasi tentang sistem hukum yang berakibat pada relasi gender, penegakan hak-hak perempuan dan informasi hukum tentang cara- cara menyelesaikan persoalan perempuan dan perubahan kebijakan.
Rosmiati Sain selaku Direktur Utama menjelaskan dalam wawancaranya40
“selain melakukan pendampingan kami juga melakukan penguatan-penguatan hukum, kami melalukan dialog hukum, penyuluhan dan seminar hukum mengenai hak- hak perempuan”
Saat ini beberapa daerah dari Sulawesi Selatan yang pernah menjadi tempat dilaksanakannya penyuluhan Hukum seperti Gowa, Makassar dan Maros. Untuk daerah yang pernah didatangi menjadi pemateri sekaligus melakukan penguatan-penguatan hukum dalamnya adalah Pare-Pare, Bulukumba, Sinjai, Takalar dan pangkep
2. Peranan LBH APIK Makassar dalam Memberikan Bantuan Hukum terhadap Perempuan sebagai Korban Kekerasan Seksual
Dilihat dari angka kekesarasan seksual yang semakin berkurang. LBH APIK dalam menangani kasus kekerasan seksual di kota Makassar telah berperan penting dengan melakukan diskusi- diskusi tentang pentingnya menjunjung tinggi hak perempuan dan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan
Berikut tabel jumlah kekerasan seksual pada perempuan dari tahun 2015 hingga tahun 2017
40 Wawancara dengan Direktur Utama Siti Nur Faida, S.H, tanggal 20 maret 2018 di Lembaga Bantuan Hukum APIK Makassar