TUTUPAN HABITAT DAN KONDISI TERUMBU KARANG PASCA PERISTIWA BLEACHING 2016 DI PERAIRAN PULAU LIUKANGLOE
KABUPATEN BULUKUMBA
SKRIPSI
OLEH:
NIZAR HARDIANSYAH L111 11 279
DEPARTEMEN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR 2018
ABSTRAK
NIZAR HARDIANSYAH. Habitat Cover and Coral Reef Condition Post- Bleaching Event in 2016, Liukangloe Island, Bulukumba. Supervised by Chair Rani and Syafyudin Yusuf.
Terumbu karang merupakan ekosistem khas yang pada umumnya terdapat di laut dangkal. Secara fisik, terumbu karang berfungsi melindungi pantai dari erosi akibat gelombang laut dan memiliki peranan penting secara ekologi bagi organisme laut lainnya. Di sisi lain, terumbu karang juga menghadapi berbagai ancaman, baik yang sifatnya alami maupun akibat aktivitas manusia. Salah satu ancaman yang berdampak luas dan cepat adalah pemutihan karang massal akibat meningkatnya suhu permukaan laut. Penelitian yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2017 bertujuan untuk mengetahui komponen tutupan dasar terumbu karang, kondisi terumbu karang berdasarkan tutupan karang hidupnya dan untuk mengetahui jenis karang yang rentan terhadap peristiwa coral bleaching tahun 2016 di perairan terumbu karang Pulau Liukangloe dengan menggunakan metode survei (Line intercept Transect) dan juga pengukuran kualitas perairan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang di perairan tersebut berada dalam kondisi rusak – bagus, berdasarkan nilai tutupan karang mati (DC) yang ditimbulkan oleh peristiwa bleaching pada kedalaman 1-3 meter, sedangkan kedalaman 10 meter dampak bleaching terbesar terjadi pada sisi selatan dengan jenis karang Acropora palifera yang tergolong rentan mengalami bleaching dengan intensitas koloni yang berkisar 12- 93%.
Kata Kunci : Terumbu Karang, Bleaching, Acropora palifera, Liukangloe.
Coral reefs are typical ecosystems commonly found in shallow area. Physically, coral reefs protect the coastal from abration and have an ecology role for other marine organisms. On the other hand, coral reefs also face various threats, both natural and human activities. Currently, one of the most rapidly threatening is the mass coral bleaching caused by rising sea surface temperatures. This study, conducted in August 2017, aims to determine the component of coral base cover, coral reef condition based on coral cover and to know coral species susceptible to coral bleaching events in 2016 in coral reef waters of Liukangloe Island using survey method (Line Intercept Transect) and also make water quality measurement. The results show that, the coral reef conditions in these waters are in damaged-good condition, based on the value of coral death cover (DC) caused by bleaching events at depths of 1-3 meters, while the depth of 10 meters of the largest bleaching impact occurs on the south side with Acropora palifera coral species are relatively vulnerable to experience bleaching with colony intensity ranging from 12-93%.
Keywords : Coral Reef, Bleaching, Acropora palifera, Liukangloe.
TUTUPAN HABITAT DAN KONDISI TERUMBU KARANG PASCA PERISTIWA BLEACHING 2016 DI PERAIRAN PULAU LIUKANGLOE
KABUPATEN BULUKUMBA
Oleh:
NIZAR HARDIANSYAH
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan
DEPARTEMEN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 18 Januari 1992 di Palembang, Sumatera Selatan. Anak pertama dari enam bersaudara dari (Alm) M. Nasir dan Nurhayani. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 08 Pangkajene Sidrap, tahun 2003, pendidikan lanjutan di SLTPN 2 Pangkajene Sidrap tahun 2006 dan pendidikan sekolah menengah di SMAN 1 Pangkajene Sidrap tahun 2009. Pada bulan agustus tahun 2011 melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Nasional (SNMPTN) menempuh S1 di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Hasanuddin, Makassar.
Selama menjadi mahasiswa penulis pernah menjadi asisten Widya Selam, Selam Ilmiah, dan mata kuliah Coralogi. Penulis juga pernah terlibat sebagai salah satu utusan delegasi mewakili Universitas Hasanuddin dalam kegiatan Musyawarah Kerja Nasional (MUKERNAS) Himpunan Mahasiswa Imu dan Teknolgi Kelautan Indonesia (HIMITEKINDO) di Kendari, Sulawesi Tenggara. Dibidang keorganisasian mahasiswa, penulis pernah bergabung dalam Senat Mahasiswa Ilmu Dan Teknologi Kelautan Unhas Departemen Advokasi periode 2011/2012, bergabung di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar TImur periode 2012/2013, dan bergabung dalam Marine Science Diving Club Unhas sebagai koordinator divisi diklat Periode 2014/2015, sebagai anggota divisi peralatan periode 2015/2016 dan sebagai dewan pertimbangan organisasi periode 2016/2017.
Penulis pernah mengikuti beberapa pelatihan seperti, pendidikan dan Pelatihan Selam Bintang I (One Star Scuba Diver) CMAS-POSSI yang diadakan oleh Marine Science Diving Club (MSDC) di Pulau Barrang Lompo, Tahun 2013,
pelatihan Metode Pemantauan Terumbu Karang yang diadakan oleh MSDC di Pulau Badi, tahun 2013 dan Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa (LKMM) Tingkat Universitas yang diadakan oleh Universitas Hasanuddin tahun 2012.
Penulis juga memiliki beberapa pengalaman kerja dan penelitian seperti Team survey Ekologi Monitoring Lokasi Coremap CTI di Kepulauan Spermonde yang dilaksanakan LIPI, tahun 2015. Team Survey Destructive Fisihing di pulau Kapoposang, pulau Gondong Bali dan Pulau Papandangan yang dilaksanakan Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kupang Satker TWP.Kapoposang (BKKPN) tahun 2016. Team Kerja dalam kegiatan Transplantasi Bambu Laut yang dilaksanakan oleh Pusat Pemantauan Terumbu Karang (PPTK) Unhas di Pulau Badi, Pangkep tahun 2016. Team Survei Kajian Tumpahan Minyak PT.
Vale Indonesia Tbk, di Malili Kabupaten Luwu Utara Sulawesi Selatan tahun 2017. Team Survei Reef Check yang diadakan oleh MSDC kerjasama dengan JKRI (Jaringan Kerja Reef Check Indonesia) di Pulau Samalona, Barrang Caddi dan Barrang Lompo, tahun 2014. Team Survei Reef Check yang diadakan oleh MSDC kerjasama dengan JKRI (Jaringan Kerja Reef Check Indonesia) di Pulau Samalona, Barrang Caddi dan Barrang Lompo, tahun 2013. Team Survei Reef Check yang diadakan oleh MSDC kerjasama dengan JKRI (Jaringan Kerja Reef Check Indonesia) dan BKKPN (Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional ) Kupang di Pulau Kapoposang Pangkep, tahun 2013.
Penulis melakukan rangkaian tugas akhir yaitu Kuliah Kerja Nyata di Desa Parigi, Kecamatan Takalalla, Kabupaten Wajo dan Praktek Kerja Lapang di di balai kawasan konservasi perairan nasional (bkkpn) kupang satker twp.
kapoposang dan di badan meteorologi klimatologi dan geofisika stasiun
meteorologi maritim Makassar, serta melaukan penelitian dengan judul Tutupan Habitat Dan Kondisi Terumbu Karang Pasca Peristiwa Bleaching 2016 Di Perairan Pulau Liukangloe Kabupaten Bulukumba.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil Alamin. Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, karena dengan berkah dan limpahan Rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Tutupan Habitat Dan Kondisi Terumbu Karang Pasca Peristiwa Bleaching 2016 Di Perairan Pulau Liukangloe Kabupaten Bulukumba“ sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana dari program studi Ilmu Kelautan.
Proses penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari berbagai kesulitan, mulai dari pengambilan data, pengumpulan literature, pengerjaan data sampai pada pengolahan data maupun dalam tahap penulisan. Namun dengan kesabaran dan tekad yang kuat serta dorongan dan motivasi dari berbagai pihak sehingga skripsi ini bisa selesai.
Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada :
1. Kedua orang tuaku tercinta, tersayang Ayahanda (Alm) M. Nasir dan ibunda Nurhayani yang telah mendidik penulis mulai dari kecil sampai sekarang ini, beberapa pengorbanan yang telah dilakukan demi membahagiakan penulis, memberi dukungan dan doa yang tiada hentinya, memberi limpahan kasih sayangnya kepada penulis, nasehat-nasehat yang menjadi pedoman dalam menjalankan hidup dan terutama dukungan material yang tak ternilai harganya. Semoga Allah SWT selalu melindungimu.
2. Ibu Dr. Ir. St. Aisjah Fahrum, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasnuddin beserta seluruh stafnya.
3. Bapak Dr. Ahmad Faizal, ST, M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu Kelautan UNHAS beserta seluruh stafnya.
4. Bapak Dr. Ir. Syafyudin Yusuf, ST., M.Si selaku Penasehat Akademik (PA) yang selalu membantu dan membimbing penulis.
5. Bapak prof. Dr. Ir. Chair Rani, M.Si selaku Pembimbing Utama dan Dr. Ir. Syafyudin Yusuf, ST.,M.Si selaku pembimbing anggota yang telah mendorong, membantu dan mengarahkan penulis hingga penyelesaian skripsi ini.
6. Ibu Dr. Ir. Aidah Ambo Ala Husain, M.Sc, Dr. Rantih Isyrini, ST., M.Sc, dan bapak Dr. Ahmad Faizal, ST, M.Si. Selaku penguji yang telah memberi saran dan megarahkan penulis dalam penyusunan skripsi ini.
7. Seluruh Bapak/Ibu Dosen Jurusan Ilmu Kelautan dan semua Dosen Se- Unhas, terima kasih atas segala pengetahuan yang telah diberikan selama masa studi penulis.
8. Seluruh staf Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan yang dengan tulus dan sabar selalu melayani penulis dalam pengurusan berkas mulai dari penulis menjadi Mahasiswa sampai penyusunan tugas akhir ini.
9. Tim survey lapangan Bulukumba dan membantu dalam pengolahan data, Rezky (Kla 12), Ochi (Kla 12), Kasman (Kla 13), kak Aidil (Kla 06), dan kak Lisda (Kla 09), Taufik (Kla 11), terima kasih atas
bantuan kalian selama di lapangan, pengolahan data dan juga supportnya.
10. Saudara-saudara seperjuangan ‘’KEDUBES’’ (Kla 2011) yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu namanya, terima kasih atas segala toleransi yang tinggi dan kerjasamanya selama ini serta kebersamaan, canda dan tawa, yang senantiasa menghiasi kehidupan penulis selama masa studi.
11. Saudara-saudaraku sebagai ‘’Srigala terakhir’’ yang tinggal bersama di rumah angkatan 2011 (Arham, Aswin, Issal, Fajar, Sem, Janu, Ivan, Hardin, Asgar, Reza, Ira, Rany, Tanti) terima kasih atas kebersamaan, suka duka, canda tawa dan kerasnya kehidupan.
12. Kepada kakanda di organisasi kemahasiswaan yang menjadi teladan bagi penulis kak Cikal, kak Halid, kak Ivan Mangko, kak Rival, kak Accang, kak Madi, kak Ucha, kak azot, kak heirul, kak Fahri Angriawan, kak Iccang, kak Rizal, kak Nirwan, kak Mayang, kak Chudo, Kak Ugha, kak Yahya.
13. Keluarga besar Mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin dan Marine Science Diving Club yang masih ada hingga saat ini.
14. Keluarga besar saudara dari ibu saya, Faisal Bundu, Didin Bundu, dan Darmawan Bundu terimah kasih atas nasehat-nasehat yang menjadi pedoman dalam menjalankan hidup dan juga dukungan material yang tak ternilai harganya.
15. Teman terbaikku yang telah mengisi hari-hariku dengan sebuah senyuman yang indah dan motifasi Niar (kla 2013).
16. Terakhir kepada semua pihak yang telah membantu penulis baik moril maupun materil yang tidak sempat disebutkan namanya.
Penulis juga mengucapkan permohonan maaf sebesar-besarnya jika selama berproses terdapat kekeliruan baik yang diisengaja maupun tidak disengaja. Penulis pun menyadari masih banyak kekurangan dan kendala akibat keterbatasan pengetahuan yang penulis miliki mengakibatkan penyusunan skripsi ini masih sangat jauh dari predikat sempurna. Maka dari itu penulis sangat mengharapkan masukan, saran, dan kritikan yang bersifat membangun guna untuk kesempurnaan skripsi ini.
Penulis,
Nizar Hardiansyah
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... ii
HALAMAN PENGESAHAN...Error! Bookmark not defined. RIWAYAT HIDUP ... v
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI... xii
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Tujuan... 3
C. Ruang Lingkup ... 4
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 5
A. Terumbu Karang ... 5
III. METODE PENELITIAN ... 17
A. Waktu dan Tempat ... 17
B. Prosedur Penelitian ... 18
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 24
A. Kondisi Umum Lokasi ... 24
B. Kondisi Oseanografis ... 25
C. Tutupan Dasar Terumbu Karang ... 27
D. Kondisi Terumbu Karang... 40
E. Jenis Karang yang Rentan Mengalami Bleaching ... 41
V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 44
A. Kesimpulan ... 44
B. Saran ... 44
DAFTAR PUSTAKA ... 45
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Lifeform substrat dasar terumbu karang ... 19
Tabel 2. Kriteria kondisi terumbu karang. ... 22
Tabel 3. Hasil pengukuran parameter oseanografi fisika-kimia………..26
Tabel 4. Persentase koloni karang yang mengalami bleaching………..41
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Proses reproduksi karang secara seksual. ... 7
Gambar 2. Proses reproduksi karang secara aseksual. ... 7
Gambar 3. koloni karang bercabang ... 14
Gambar 4. Persentase umum kerusakan terumbu karang……….….15
Gambar 5. Lokasi pelaksanaan penelitian. ... 17
Gambar 6. Metode Line Intersept Transect (LIT) ... 18
Gambar 7. Metode transek sabuk (belt transek) ... 20
Gambar 8. Persentase tutupan karang hidup ... 29
Gambar 9. Grafik Perbedaan tutupan karang hidup ... 32
Gambar 10. Persentase tutupan karang mati ... 33
Gambar 11. Grafik perbedaan tutupan karang mati ... 34
Gambar 12. Grafik persentase tutupan biota lain ... 36
Gambar 13. Grafik Perbedaan tutupan biota lain ... 37
Gambar 14. Persentase tutupan abiotik ... 38
Gambar 15. Grafik perbedaan abiotik ... 39
Gambar 16. Kondisi tutupan karang hidup ... 40
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Nilai tutupan dasar perairan. ... 49
Lampiran 2. Data uji dengan analisis ragam satu arah (one way anova) ... 51
Lampiran 3. Data analisis dengan uji t.student. ... 54
Lampiran 4. Dokumentasi kegiatan ... 68
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Terumbu karang sebagai suatu ekosistem merupakan kelompok organisme yang hidup di dasar perairan dan berupa bentuk batuan gamping (CaCO3) yang cukup kuat menahan gelombang laut. Terumbu karang terbentuk melalui proses yang lama dan kompleks, dimulai dari terbentuknya endapan masif kalsium karbonat yang dihasilkan oleh hewan karang filum Cnidaria, kelas anthozoa, ordo Sclerectinia dengan sedikit tambahan alga berkapur dengan organisme lain yang juga menghasilkan kalsium karbonat yang disebut terumbu (Mellawati, 2012). Menurut Nybakken (1992), terdapat dua kelompok karang yang berbeda, yang satu dinamakan ahermatipik dan yang lainnya hermatipik.
Karang ahermatipik ditemukan di seluruh dunia sedangkan karang hermatipik hanya ditemukan di wilayah tropis dan karang bentuk inilah yang membentuk terumbu.
Terumbu karang merupakan ekosistem yang khas terdapat di laut dangkal yang mempunyai fungsi dan manfaat bagi kehidupan sosial, budaya, ekologi, dan ekonomi. Hampir sepertiga penduduk Indonesia yang tinggal di daerah pesisir menggantungkan hidupnya dari terumbu karang seperti menjadi lokasi penangakapan ikan bagi para nelayan. Manfaat lain misalnya menjadi sumber pangan dan obat-obatan (Suharsono, 2010). Secara fisik, terumbu karang berfungsi melindungi pantai dari erosi akibat gelombang laut, perlindungan bagi hewan-hewan dalam habitatnya termasuk sponge, ikan karang, ubur-ubur, bintang laut, udang-udangan yang menjadikan terumbu karang sebagai tempat bersarang dan bertelur (Nontji, 2005).
Di sisi lain, terumbu karang juga menghadapi berbagai ancaman, baik yang sifatnya alami maupun akibat kegiatan manusia. Salah satu ancaman yang berdampak luas dan cepat adalah pemutihan karang massal akibat meningkatnya suhu permukaan laut. Perubahan iklim yang terjadi di atmosfir, secara langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap kehidupan organisme di laut termasuk organisme-organisme yang hidup di terumbu karang terutama karang sebagai komunitas yang dominan (Rani, 2001).
Menurut Jokiel dan Coles, (1990) sebagai akibat dari perubahan iklim pada pesisir adalah terjadinya peningkatan suhu permukaan air laut dari 2 hingga 4 derajat Celsius dapat menyebabkan karang stress dan pada akhirnya terjadi bleaching (pemutihan karang) dan kematian serta kerusakan terumbu karang.
Karang pembangun terumbu terbatas hanya pada perairan tropik dan sub tropik, dengan suhu permukaan perairan tidak berada di bawah 180C.
Meskipun batas toleransi karang terhadap suhu bervariasi antarspesies atau antardaerah pada spesies yang sama, tetapi dapat dinyatakan bahwa karang dan organisme-organisme terumbu hidup pada suhu dekat dengan batas atas toleransinya (Johannes, 1975). Oleh karena itu dapat dinyatakan bahwa hewan karang relatif sempit toleransinya terhadap suhu.
Peningkatan suhu yang hanya beberapa derajat sedikit di atas ambang batas (≈ 2 – 3oC) dapat mengurangi laju pertumbuhan atau kematian yang luas pada spesies-spesies karang secara umum, Fenomena ini dikenal dengan nama pemutihan karang (coral bleaching), yaitu keluarnya alga simbiotik (zooxantela) dari jaringan hewan karang sehingga warna karang menjadi putih (Glynn, 1993).
Pulau LiukangLoe, terletak di Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba, tepatnya di Laut Flores. Berdasarkan hasil investigasi dari Marine Science Diving Club, Universitas Hasanuddin pada bulan Maret 2016 dan diberitakan oleh media Jakarta Post, telah terjadi coral bleaching atau pemutihan karang dengan tutupan lebih besar dari 50% dan menyebabkan kerusakan karang hidup >40% ((http://www.thejakartapost.com/
news/2016/03/18/bulukumba-coral-reefs-threatened-with-extinction.html, 2016).
Terjadinya kematian yang masif terhadap karang-karang akibat dari fenomena coral bleaching tentunya akan memberi dampak dalam ekosistem.
Dampak yang muncul sangat bergantung pada skala kerusakan yang ditimbulkan. Olehnya itu perlu diketahui perubahan tutupan habitat dan kondisi terumbu karang pasca peristiwa coral bleaching di daerah perairan Pulau LiukangLoe.
B. Tujuan
Tujuan umum dari penelitian ini untuk mengetahui :
1. Mengetahui komponen tutupan dasar terumbu karang di perairan terumbu karang Pulau LiukangLoe pasca coral bleaching tahun 2016.
2. Mengetahui kondisi terumbu karang berdasarkan tutupan karang hidupnya di perairan terumbu karang Pulau LiukangLoe pasca coral bleaching tahun 2016.
3. Mengetahui jenis karang yang rentan terhadap peristiwa coral bleaching tahun 2016 di perairan terumbu karang Pulau LiukangLoe.
C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian meliputi tutupan komponen habitat terumbu karang, kondisi terumbu karang berdasarkan tutupan karang hidupnya, dan jenis karang yang rentan terhadap peristiwa bleaching. Metode yang digunakan dibatasi pada metode Lifeform Intercept Transect (LIT) pada 6 Stasiun penelitian, penempatan transek line dilakukan pada 2 kedalaman yaitu antara 3- 5 meter dan 8-12 meter di setiap Stasiun. Penelitian ini juga melingkupi pengukuran data kimia-fisika oseanografi, seperti salinitas, kecepatan arus, dan suhu.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Terumbu Karang
1. Defenisi Terumbu Karang
Terumbu karang adalah suatu ekosistem di perairan tropis yang di bangun oleh biota laut penghasil kapur khususnya jenis-jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar laut lainnya seperti jenis-jenis moluska, krustase, echindernata, Polikhaeta, porifera dan tunikata serta biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya termasuk jenis- jenis plankton dan jenis-jenis ikan (Sukarno, 1995), menurut Levinton (1988), terumbu karang adalah kumpulan bentuk yang kompak dan tersusun kokoh dari kerangka sedimen organisme bentik yang hidup di perairan laut yang hangat dengan kedalaman yang cukup cahaya, merupakan bentukan fisiografi terkontruksi pada perairan tropik dan terutama terdiri dari kerangka kapur yang terbentuk oleh karang hermatipik.
Biota karang merupakan penyusun utama dari terumbu karang.
Berdasarkan pertumbuhannya, karang terdiri dari dua kelompok yang berbeda, yaitu karang hermatipik dan karang ahermatipik. Karang hermatipik bersimbiosis dengan zooxanthella dan dapat menghasilkan terumbu.
Sedangkan karang ahermatipik tidak bersimbiosis dengan zooxanthella dan tidak menghasilkan terumbu. Karang ahermatipik tersebar di seluruh dunia, sedangkan hermatipik hanya ada di daerah tropik (Nybakken, 1992).
Peran zooxanthella dalam jaringan karang adalah mensintesis beberapa senyawa hasil sekresi polip karang seperti gas karbondioksida (CO2), nitrogen (terutama dalam bentuk amoniak) dan fosfat dalam proses pengendapan kapur oleh polip karang, menyebabkan karang hermatipik mampu membentuk
terumbu akibat proses tersebut. Proses respirasi (penyerapan oksigen untuk pernafasan) karang hermatipik lebih efektif dengan adanya zooxanthella.
Proses fotosintesa alga tersebut menjamin tersedianya gas oksigen (O2) untuk kebutuhan metabolisme dan pernafasan hewan karang. Dalam siklus hidupnya, karang berkembang biak dengan seksual (generatif) dan aseksual (vegetatif) (Nybakken, 1992).
Pada perkembangbiakan secara seksual, pembuahan terjadi setelah sel kelamin jantan (sperma) telah mencapai sel kelamin betina (ovum) di dalam ruang gastrovaskur. Proses pembuahan akan membentuk planula (larva) yang berukuran 1.20 mikron, yang berenang bebas. Planula mula-mula berbentuk masif, seluruh tubuhnya mengandung silia, kemudian terbentuk mulut di salah satu ujungnya, untuk selanjutnya terbentuk pula rongga tubuhnya. Pada saat menemukan substrat yang cocok, hewan ini akan melekatkan diri dengan bagian mulut berada di sebelah atas, sedangkan bagian pangkalnya mengeluarkan zat untuk memperkuat kedudukannya. Selanjutnya akan mengalami proses metamorfosa (perubahan bentuk), membentuk kerangka kapur dengan bersekat-sekat (Nybakken, 1992).
Gambar 1. Proses reproduksi karang secara seksual (Nybakken,1992).
Reproduksi aseksual (vegetatif) terjadi dengan pembentukan tunas. Polip karang dewasa (terutama karang batu) membentuk tunas dengan peregangan cakram coral (oral disk) yang memanjang ke satu arah.
Peregangan tersebut menimbulkan penggentingan pada permukaan cakram yang akhirnya membentuk polip baru. Proses tersebut dinamakan pertunasan intratentakuler. Pembentukan tunas dapat pula terjadi di dasar polip lama, pertunasan ini di sebut ekstratentakuler (Ditlev, 1980).
Gambar 2. Proses reproduksi karang secara aseksual (Barnes,1987).
Perbedaan antara karang lunak dan karang batu adalah pada jumlah tentakel, kekenyalan tubuh, dan kerangka penyusunnya. Tentakel karang lunak berjumlah delapan buah dan dilengkapi dengan duri-duri (pinnula), sedangkan
karang batu memiliki tentakel berjumlah enam atau kelipatan enam dan tidak berduri. Karang lunak mudah dikenali karena tekstur tubuhnya yang lunak dan tertanam dalam massa gelatin. Kerangka tubuh bersifat endoskeleton dan tidak menghasilkan kapur yang radial. Karang batu menghasilkan kerangka kapur yang radial. Karang batu menghasilkan kerangka kapur yang radial dalam bentuk kristal aragonite dan bersifat eksoskeleton (Manuputty, 1986).
2. Ekologi Terumbu Karang
Terumbu karang merupakan ekosistem yang unik, yang hanya terdapat pada perairan tropis dan umumnya ditandai dengan menonjolnya kekayaan jenis biota yang hidup di dalamnya. Johannes (1972) mengemukakan bahwa terumbu karang adalah komunitas yang memiliki keanekaragaman jenis biota yang besar dan memiliki panorama yang indah.
Kelangsungan hidup terumbu karang dibatasi oleh beberapa faktor lingkungan. Nontji (2005) mengelompokkan faktor pembatas tersebut ke dalam enam faktor, yaitu cahaya, suhu, salinitas, kejernihan air, arus dan substrat.
Sedangkan Nybakken (1992) membaginya dalam lima faktor, yaitu suhu, kedalaman, cahaya, salinitas, dan faktor pengendapan.
Cahaya matahari berperan penting dalam proses pembentukan terumbu karena cahaya matahari menentukan kelangsungan proses fotosintesis bagi alga yang bersimbiosis di dalam jaringan karang (Nybakken, 1992). Tanpa cahaya yang cukup, laju fotosintesis akan berkurang dan bersama dengan itu kemampuan karang untuk menghasilkan kalsium karbonat dan membentuk terumbu akan berkurang pula.
Berdasarkan kedalaman, ekosistem terumbu karang akan mudah tumbuh dengan baik pada perairan dengan kedalaman 25 meter atau kurang,
akan tetapi tidak dapat hidup pada kedalaman 50-70 meter. Penyebaran geografis terumbu karang dipengaruhi oleh suhu dan hampir semuanya hanya ditemukan pada perairan yang dibatasi oleh permukaan isotherm 200C.
Perkembangan terumbu karang yang optimal terjadi di perairan yang rata-rata suhu tahunannya 230c-250c. Namun terumbu karang dapat mentoleransi suhu sampai 360c-400c. Terumbu karang sangat sensitif terhadap perubahan salinitas yang lebih tinggi atau lebih rendah dari salinitas normal (30-350/00) (Nybakken, 1992). Menurut sukarno (1995), terumbu karang dapat hidup dalam batas salinitas yang berkisar 25-400/00.
Pengendapan mempunyai pengaruh negatif terhadap pertumbuhan karang yaitu mengurangi cahaya yang dibutuhkan untuk fotosintesa oleh zooxantella dalam jaringan karang. Akibatnya, perkembangan terumbu karang berkurang. Pengendapan juga menyumbat dan mengganggu cara makan hewan karang, sehingga memaksa karang untuk memproduksi kelenjar lendir lebih banyak untuk menyingkirkan partikel yang menempel pada tubuh karang (Nybakken, 1992).
3. Tipe-tipe Pertumbuhan Karang
Individu hewan karang (polip) berasal dari kelas Anthozoa, memiliki bentuk sederhana seperti tabung, terletak di dalam koralit di permukaan krangka kapur dengan ukuran yang bervariasi. Polip memiliki tentakel serta struktur otot yang tipis dengan susunan jaringan berupa ektoderm, mesoglea dan endoderm, mampu membentuk rangka luar dari kapur yang struktur morfologinya beraneka ragam (Suharsono, 1999). Umumnya hewan karang hidup berkoloni, akan tetapi ada yang soliter.
Karang mempunyai variasi bentuk pertumbuhan individu maupun koloninya yang berkaitan erat dengan tata air dan pencahayaan dari matahari pada masing-masing lokasi. Beberapa contoh bentuk pertumbuhan karang serta karakteristik dari masing-masing genera (Dahl, 1981) yaitu:
a. Tipe Bercabang (Branching)
Banyak terdapat di sepanjang tepi terumbu dan bagian atas lereng, terutama pada bagian yang terlindungi atau setengah terbuka. Biasanya bentuk ini menjadi tempat berlindung bagi karang. Cabang-cabang yang terbentuk memiliki ukuran yang lebih panjang dari diameternya.
b. Tipe padat (Massive)
Karang ini membentuk seperti bola, ukurannya dapat mencapai beberapa meter. Banyak terdapat di sepanjang tepi terumbu dan di atas lereng terumbu yang dewasa dan belum terganggu atau rusak. Jika beberapa bagian dari karang tersebut mati maka karang ini akan berkembang menjadi tonjolan, sedangkan bila berada di daerah dangkal bagian atasnya akan berbentuk seperti cincin. Permukaan karang tersebut halus dan padat.
c. Tipe Kerak (Encrusting)
Pertumbuhan karang seperti biasanya menutupi permukaan dasar terumbu dan sangat tahan terhadap pukulan ombak. Permukaannya kasar dan berlubang-lubang dengan ukuran kecil.
d. Tipe Meja (Tabulate)
Karang ini meneyerupai bentuk meja dengan permukaan yang lebar dan datar. Karang ini ditopengi oleh sebuah batang yang berpusat atau bertumpuh pada satu sisi membentuk sudut atau datar.
e. Tipe Daun (Filiose)
Karang ini banyak ditemukan pada daerah lereng terumbu dan tempatnya terlindung. Bentuk permukaannya seperti lembaran daun yang melingkar atau melipat. Memiliki ukuran yang relatif kecil, tetapi dapat membentuk koloni sangat luas. Karang daun ini juga sebagai tempat berlindung ikan dan biota lain.
f. Tipe Jamur (Mushroom)
Karang ini pada umumnya berbentuk lingkaran atau oval, pipih dan terlihat dengan sekat-sekat yang beralur serentak dari sisi-sisinya dan bertemu pada bagian tengahnya di satu titik atau membentuk berkas yang kuat membagi sisi yang satu dengan yang lain menjadi dua bagian yang sama.
Permukaannya rata, cembung atau cekung dengan ukuran yang bervariasi.
g. Tipe-tipe Terumbu Karang
Nybakken (1992) mengelompokkan formasi terumbu karang menjadi tiga kategori sebagai berikut:
Terumbu karang tepi (Fringing Reef), yaitu terumbu karang yang terdapat di sepanjang pantai dan dalamnya tidak lebih dari 40 meter. Terumbu ini tumbuh ke permukaan dan ke arah laut terbuka.
Terumbu karang penghalang (Barrier Reef), berada jauh dari pantai yang dipisahkan oleh gobah (lagoon) dengan kedalaman 40-70 meter.
Umumnya terumbu karang ini memanjang menyusuri pantai.
Atol, merupakan karang berbentuk melingkar seperti cincin yang muncul dari perairan dalam, jauh dari daratan dan melingkari gobah yang memiliki terumbu gobah.
4. Fungsi dan Manfaat Terumbu Karang
Terumbu karang memiliki peranan sebagai sumber makanan, habitat biota-biota laut yang bernilai ekonomis tinggi. Nilai estetika yang dapat dimanfaatkan sebagai kawasan pariwisata dan memiliki cadangan sumber plasma nutfah yang tinggi. Selain itu juga dapat berperan dalam menyediakan pasir untuk pantai, dan sebagai penghalang ombak dan erosi pantai.
Fungsi terumbu karang menurut Nybakken (1992) merupakan sumber daya yang sangat tinggi, sebanyak 132 jenis ikan yang bernilai ekonomi di Indonesia dengan 32 jenis diantaranya hidup pada terumbu karang dan melindungi pantai dari abrasi dan erosi. Strukturnya yang keras karena dapt menahan gelombang dan arus sehingga dapat mencegah rusaknya dua ekosistem perairan dangkal lainnya, seperti lamun dan mangrove.
Menurut Dahuri (2003), ekosistem terumbu karang mempunyai nilai penting bukan hanya dari sisi biologi, kimia dan fungsi fisik saja namun juga dari sisi sosial dan ekonomi. diantaranya yaitu :
a. Fungsi biologis terumbu karang, adalah sebagai tempat bersarang, mencari akan, memijah dan tempat pembesaran bagi berbagai biota laut.
b. Fungsi kimia terumbu karang adalah sebagai pendaur ulang unsur hara yang paling efektif dan efisien. Terumbu karang juga potensial sebagai sumber nutfah bahan obat-obatan.
c. Fungsi fisik terumbu adalah sebagai pelindung daerah pantai, utamanya dari proses abrasi akibat adanya hantaman gelombang.
d. Bedasarkan fungsi sosialnya terumbu merupakan sumber mata pencaharian bagi nelayan, dan juga memberikan kesenangan sebagai objek ekotourism.
Menurut Nybakken (1992), manfaat dari terumbu karang sebagai komunitas ekspor yang bernilai ekonomi tinggi, sebagai sumber ekonomi wilayah dengan mendirikan pusat penyelaman, restoran hingga penginapan dan sebagai laboratorium alam penunjang penelitian dan pendidikan.
5. Pemutihan Karang ( Bleaching)
Coral bleaching merupakan keadaan dimana keluarnya zooxanthela dari jaringan karang secara paksa oleh hewan karang sehingga warna karang menjadi putih yang bila berlanjut dapat menyebabkan karang mati (Randall dan Myers, 1983 dalam Rani, (2001). Zooxanthella adalah mikroalga dari kelompok dinoflagellata yang hidup sebagai simbion di dalam jaringan endoderm karang.
Koloni karang menjadi putih ketika ditinggalkan oleh zooxanthella karena warna karang ditentukan oleh pigmen yang ada di dalam zooxanthella.
Bleaching merupakan tanggapan terhadap tekanan (stress) sewaktu terjadi perubahan besar dalam organisasi jaringan dan cytochemistry dalam polip. Hasil akhir dari proses ini memperlihatkan pemutihan dari inang (koloni karang menjadi putih) baik sebagian ataupun seluruh koloni. Beberapa contoh bleaching mungkin terutama berhubungan dengan terdegradasinya pigmen- pigmen klorofil pada zooxanthlla, yang disebabkan oleh pecahnya atau terjadinya fotooksidasi dari pigmen-pigmen klorofil (Asada dan Takahashi, 1987 dalam Rani 2001).
Gambar 3. koloni karang bercabang (Acropora sp.) ini telah memutih.
Tekanan penyebab pemutihan antara lain tingginya suhu air laut yang tidak normal, tingginya tingkat sinar ultraviolet (pada suhu tinggi, pancaran sinar matahari dalam waktu yang lama dapat memicu pemutihan karang pada terumbu karang di perairan yang dangkal), kurangnya cahaya, tingginya tingkat kekeruhan dan sedimentasi air. Kejadian bleaching ini sebenarnya merupakan bencana alam bagi karang karena setiap kejadian bleaching kematian karang dapat mencapai 80 - 90%. Ada berbagai ancaman yang kemungkinan besar merusak terumbu karang antara lain adalah nilai sosial ekonomi terumbu karang, sedimentasi dan eksploitasi sumberdaya yang berlebihan. Pada rentang waktu antara tahun 1997 dan 1998 terjadi perubahan iklim radikal yang dikenal dengan El Nino yang menyebabkan pemutihan karang, namun jika dibandingkan dengan faktor lain maka perubahan iklim masih menempati posisi pengrusakan karang yang kecil. Bryant et al (1998). sepeti pada Gambar 4, mengemukakan bahwa 36% dari terumbu karang dunia terancam oleh eksploitasi yang berlebihan, 30% oleh pembangunan di wilayah pesisir, 22%
disebabkan oleh pencemaran dari daratan dan erosi, dan 12% oleh pencemaran di laut.
0 10 20 30 40
Over- eksplotation
Coastal Development
Inland pollution
Marine pollution
(%)
Pemutihan atas karang-karang yang terjadi di Indonesia selama periode El Nino tahun 1998 terlihat pengaruhnya hampir di seluruh perairan Indonesia seperti di KePulauan Seribu, Bali, Lombok. Gejala pemutihan karang menyebabkan kematian karang sekitar 90-95% pada paparan hingga kedalaman 25 meter. Spesies yang paling parah yang mengalami kematian adalah jenis karang bercabang yaitu Acropora spp. Selama terjadinya pemutihan karang terjadi kenaikan suhu muka air laut lebih tinggi 2-3oC dari kondisi normal (Brown dan Suharsono, 1990. dalam Rani, (2001).
6. Perubahan Iklim Global dan Kejadian Bleaching Masal
Tekanan terhadap kehidupan karang.banyak berkaitan dengan degradasi lingkungan lokal dan over exploitasi karang. Adanya asumsi bahwa karang mampu mengendalikan faktor polutif/destruktif, maka penentu perubahan ekosistem adalah biota karang itu sendiri, meskipun mengalami suksesi yang sangat lama dengan tahap-tahap dominasi oleh kelompok- kelompok lain karang (Suharsono & Kiswara, 1984).
Temperatur air laut dan radiasi sinar matahari adalah sebagian faktor yang mempengaruhi laju metabolism karang dan simbionnya.kemampuan Gambar 4. Persentase umum kerusakan terumbu karang (Bryant et al., 1998).
karang untuk mengadakan penyesuaian terhadap perubahan suhu dapat bervariasi menurut spesies dan tempat hidup karang. Sebagai contoh, karang dan tempat hidup karang.Sebagai contoh, karang laut dangkal dapat menyesuaikan diri pada suatu kisaran suhu tinggi dibandingkan dengan karang laut dalam (Muller & Delia, 1995). Menurut Salm & Coles (2001), karang masih dapat hidup di atas batas toleransi suhu, sedikit peningkatan temperature laut (0,5-1,50C) lebih dari beberapa minggu atau peningkaan tinggi (3-40C) lebih dari beberapa hari akan menyebabkan disfungsi karang dan mati.
Meningkatnya penurunan ozon (peningkatan serapan UVR), juga akan menyebabkan kejadian bleaching. Bleaching terjadi dalam periode angina yang kecepatannya rendah, langit cerah, laut tenang turbidity yang rendah yang merupakan kondisi yang cocok untuk terjadinya pemanasan lokal dan penetrasi radiasi panjang gelombang pendek.
III. METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
Penelitian ini berlangsung pada bulan Agustus 2017 di daerah terumbu karang Pulau Liukangloe Kabupaten Bulukumba (gambar 4). Terumbu karang di perairan ini telah dilaporkan mengalami fenomena bleaching dalam skop yang luas di bulan Maret pada tahun 2016. Pulau Liukangloe berada di daerah Tanjung Bira dan menjadi daerah tujuan wisata pantai dan wisata penyelaman di bagian selatan Sulawesi Selatan.
Gambar 5. Lokasi pelaksanaan penelitian di Pulau LiukangLoe, yang terletak di pesisir pantai selatan Kabupaten Bulukumba.
B. Prosedur Penelitian 1. Penentuan Stasiun
Penetapan lokasi dan Stasiun penelitian dengan menggunakan GPS ditentukan berdasarkan sebaran terumbu karang. Terumbu karang di perairan Pulau LiukangLoe, memanjang dari sisi selatan, timur hingga ke arah utara Pulau. Untuk pencapaian tujuan maka ditentukan sebanyak 6 Stasiun pengamatan (Stasiun I sampai dengan Stasiun VI) yang terletak pada sisi selatan, timur, dan utara Pulau. Pada setiap Stasiun ditentukan 2 kedalaman (3-5 m dan 8-12 m).
2. Pengambilan Data
a. Tutupan habitat terumbu karang.
Pada setiap Stasiun dan kedalaman dilakukan pengambilan data dengan menggunakan alat scuba untuk menyelam sebagai alat bantu mengambil data tutupan dasar dengan metode yang digunakan yaitu Line Intersept Transect (LIT). Metode ini prinsipnya membentangkan Transect garis sepanjang 70 meter, transek tersebut dibagi menjadi 3 bagian sebagai ulangan.
Setiap bagian mencakup panjang 20 meter dan dipisahkan jarak 5 meter antara bagian (sub bagian). Kemudian mencatat panjang transisi komponen habitat terumbu karang di kertas underwater sepanjang jalur yang dilintasi oleh transek garis. Tutupan dasar terumbu karang diambil berdasarkan life form.
Gambar 6. Metode Line Intersept Transect (LIT)
Tabel 1. Lifeform substrat dasar terumbu karang
Kategori Kode Keterngan
Dead Coral DC Karang yang baru mati, berwarna putih Dead Coral With Alga DCA Karang mati yang ditumbuhi alga
Hard Coral :
Acropora Branching ACB Bercabang seperti ranting, contoh Acropora Encrusting ACE Bentuk merayap, seperti Acropora yang
belum sempurna
Acropora Submassive ACS Bercabang lempeng dan kokoh Acropora Digitate ACD Percabangan rapat seperti jari tangan Acropora Tabular ACT Percabangan arah mendatar
Non Acropora :
Branching CB Bercabang seperti ranting pohon
Encrusting CE Bentuk merayap, menempel pada substrat
Foliose CF Bentuk menyerupai lembaran
Massive CM Bentuk seperti batu besar Submassive CS Bentuk kokoh dengan tonjolan Mushroom CMR Bentuk seperti jamur, soliter
Millepora CME Semua jenis karang api, warna koning di ujung koloni
Heliopora CHL Karang biru, adanya warna biru pada skeleton
Other Fauna OT Anemon, teripang, kima Soft Coral SC Karang dengan tubuh lunak
Sponge SP
Zoanthids ZO
Alga :
Algae Assemblage AA Terdiri lebih dari satu jenis alga Coralline Algae CA Alga yang mempunyai struktur kapur Halimeda HA Alga dari genus Halimeda
Macroalgae MA Alga berukuran besar
Turf Algae TA Menyerupai rumput-rumput halus
Abiotik :
Sand S Pasir
Rubble RB Pecahan karang yang berserakan
Silt SI Lumpur
Water WA Kolom air/celah dengan kedalaman lebih dari 50 cm
Rock RCK
Other DDD Data tidak tercatat atau hilang
b. Jenis karang yang mengalami kematian akibat bleaching
Pengamatan luas area yang diamati adalah 2 meter pada sisi kiri dan kanan dari line transect sepanjang 20 meter dengan 3 kali ulangan. Jarak antara ulangan selebar 5 meter. Total luasan yang diamati adalah 80 m. Dalam area transek diambil gambar dengan kamera bawah air untuk keperluan identifikasi jenis karang, kemudian dicatat jumlah koloni karang yang mati karena peristiwa bleaching
c. Pengukuran parameter oseanografi fisika-kimia
Untuk mengetahui kondisi oseonografi perairan Pulau LiukangLoe dilakukan pengukuran beberapa parameter secara langsung di lapangan yaitu suhu, salinitas, kecerahan, dan kecepatan arus. Setiap parameter diukur pada setiap lokasi pengambilan data yang menggunakan alat yang berbeda sesuai dengan parameter yang akan di ukur.
1) Suhu
Pengukuran secara langsung di lapangan dilakukan dengan menggunakan thermometer dengan cara mengikat bagian pangkal thermometer (bukan ujung air raksa) lalu memasukkan thermometer ke dalam perairan selama beberapa menit. Setelah thermometer menunjukkan angka yang konstan, baca angka yang ditunjukkan thermometer lalu catat hasilnya.
Gambar 7. Metode transek sabuk (belt transek)
2) Salinitas
Pengukuran secara langsung di lapangan dilakukan dengan menggunakanalat handrefraktometer. pertama-tama alat disterilkan dengan menggunakan aquades. Setelah itu sampel air laut diteteskan pada alat menggunakan pipet tetes kemudian ditutup. Selanjutnya arahkan handrefractometer ke cahaya, untuk melihat nilai salinitas yang terbaca pada alat. untuk lebih akurat pengukuran dilakukan sebanyak tiga kali.
3) Kecerahan
Pengukuran secara langsung di lapangan dilakukan dengan menggunakan alat secchi disk. Pertama-tama alat tersebut diikat dengan menggunakan tali, kemudian diturunkan perlahan-lahan kedalam perairan hingga tidak terlihat lagi. Kemudian dicatat hasilnya.
4) Kecepatan arus
Pengukuran arus menggunakan layang-layang arus yang dilakukan pada setiap lokasi pengamatan. Laying-layang arus diletakkan pada lokasi perairan yang telah ditentukan, stop watch dinyalakan untuk menentukan lamanya waktu hingga tali pada layang-layang arus menegang, kemudian penentuan arah arus menggunakan kompas dan hasil yang diperoleh dari pengukuran kemudian dicatat.
Untuk menghitung kecepatan arus dihitung dengan rumus (Triatmodjo, 1999) :
v= 𝒔
𝐓
keterangan : V = kecepatan arus (m/s)
S = Panjang tali (m)
t = waktu yang diperlukan untuk tali menegang (s) 3. Analisis Data
a. Tutupan habitat terumbu karang
Hasil tutupan habitat yang telah diperoleh dikelompokkan berdasarkan kategori karang hidup, karang mati, makroalga, other, dan abiotik. Kemudian untuk membandingkan setiap kategori antara Stasiun pada setiap kedalaman di uji dengan analisis ragam satu arah (one way anova). Sedangkan perbandingan antara kedalaman pada setiap Stasiun di analisis dengan uji t.student. Proses perhitungan digunakan perangkat lunak SPSS. Hasil analisis disajikan dalam bentuk grafik tutupan.
b. Kondisi terumbu karang
Untuk melihat kondisi terumbu karang dikelompokkan berdasarkan Stasiun dan kedalaman kemudian ditentukan berdasarkan nilai persentase tutupan karang hidupnya dan dinilai berdasarkan acuan yang telah ditentukan oleh Giyanto et al (2017). Kemudian hasil analisis disajikan dalam bentuk grafik.
Tabel 2. Kriteria kondisi terumbu karang berdasarkan tutupan karang hidupnya menurut Giyanto et al (2017).
No Persentase Penutupan (%) Kondisi Kriteria Terumbu Karang
1 0 – 25 Buruk
2 26 – 50 Sedang
3 51 – 75 Baik
4 76 – 100 Sangat Baik
c. Jenis karang yang rentan mengalami bleaching
Data jenis karang yang rentan mengalami bleaching di kelompokkan menurut Stasiun dan kedalaman, kemudian diidentifikasi berdasarkan jenis karang dan jumlah serta ukuran persentase koloni karang yang mengalami bleaching. Hasil analisis secara deskriptif di sajikan dalam bentuk tabel.
d. Paramater fisika-kimia perairan
Hasil pengukuran oseanografi fisika-kimia dilapangan seperti suhu, salinitas, kecerahan, dan kecepatan arus disajikan menurut kedalaman setiap Stasiun dan dianlisis secara deskriptif dengan bantuan bantuan tabel.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Kondisi Umum Lokasi
LiukangLoe memiliki 2 arti yakni LiukangLoe berasal dari dua suku kata yaitu “Liukang” yang berarti dikelilingi, dan “Loe” yang berarti banyak, sehingga LiukangLoe dapat diartikan sebagai tempat yang dikelilingi oleh banyak air.
Sedangkan versi lain dan kebanyakan warga mengetahui yakni Liukang berasal dari kata Liu-Liukang yang berarti jenis kayu khas (kayu hitam) yang terdapat di Pulau ini dan Loe berarti banyak. Menurut cerita masyarakat bahwa jenis kayu ini dahulu banyak ditemukan namun sekarang sudah jarang karena tahun 1990an sudah dieksploitasi besar-besaran karena harganya cukup mahal yang dipasarkan sampai ke Makassar (DKP Sulsel, 2012). Selanjutnya di katakan bahwa Pulau LiukangLoe terletak di wilayah peraiaran sebelah selatan Pulau Sulawesi tepatnya pada posisi 05038’20” – 05039’84” LS dan 120025’14.87” – 120026’46,75” BT. Pulau LiukangLoe termasuk dalam wilayah administrasi Dusun LiukangLoe Desa Bira Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba.
Pulau LiukangLoe terdiri dari dua kampung yaitu Kampung I Ta’buntuleng dan Kampung II Passilohe. Luas wilayah Pulau LiukangLoe sekitar 5,67 km2 dengan panjang pantai 6 km. Sebagian besar daratan Pulau LiukangLoe tersusun dari batu karang dan merupakan daratan perbukitan. Bukit tertinggi (elevasi) di Pulau LiukangLoe mencapai 17 meter dari permukaan laut dengan bentuk bergelombang.
Pulau LiukangLoe secara administratif memiliki batas-batas wilayah yaitu :
Sebelah utara berbatasan dengan : Pantai Bira.
Sebelah selatan : Pulau Selayar.
Sebelah barat : Laut Flores.
Sebelah timur : Pulau Kambing
Pulau LiukangLoe termasuk Pulau yang berpasir putih dan memiliki formasi terumbu karang dapat dijumpai pada kedalaman 3 meter hingga 7 meter. Kondisi dasar perairan dari arah pantai didominasi oleh pasir, batu karang, dan karang mati yang ditutupi alga. Fluktuasi ombak dan arus yang besar menyebabkan rekruitmen karang di Pulau ini sangat sulit terjadi, terumbu karang hanya ditemukan di beberapa sisi Pulau.
Kondisi terumbu karang Pulau LiukangLoe tergolong rusak hingga baik, dimana tutupan karang berkisar 10,2% sampai 51,24%. Berdasarkan pengamatan kondisi karang dengan menggunakan metode LIT pada Stasiun 1 kondisi terumbu karang tergolong rusak baik pada kedalaman 3 meter maupun pada kedalaman 10 meter. Komponen lain yang mendominasi pada Stasiun 1 adalah pasir (S) yang mencapai 39,08% pada kedalaman 3 meter dan 28,92%
pada kedalaman 10 meter. Patahan karang (R) sebesar 3,52% pada kedalaman 3 meter sedangkan pada kedalaman 10 meter ditemukan cukup tinggi yaitu sebesar 14,20% (DKP Sulsel, 2012).
B. Kondisi Oseanografis
Parameter lingkungan merupakan hal yang penting untuk mengetahui pengaruh dan hubungannya terhadap organisme yang tedapat didalamnya khususnya terumbu karang yang menjadi fokus dalam penelitian ini. Parameter oseanografi fisika-kimia yang diukur pada saat penelitian di perairan Pulau LiukangLoe meliputi, suhu, salinitas, kecerahan, kecepatan arus (tabel 3).
Tabel 3. Hasil pengukuran parameter oseanografi fisika-kimia pada lokasi penelitian.
1. Suhu
Tinggi rendahnya suhu suatu perairan berat kaitannya dengan interaksi antara udara dan air laut. Hasil pengukuran ditiap Stasiun didapatkan nilai suhu yang berkisar 27.30c – 29.3oc, kisaran nilai tersebut menurut Romimohtarto &
Juwana, (2001) terumbu karang sangat peka terhadap suhu bahkan terbatas keberadaanya di perairan hangat karena mereka tumbuh pada temperature antara 18-27 oC. namun suhu yang baik bagi terumbu karang berkisar 18oC sampai 29oC.
2. Salinitas
Dari hasil pengukuran salinitas di setiap Stasiun berkisar 32.6‰ – 34.3‰. Nilai salinitas tersebut merupakan normal untuk pertumbuhan karang.
Menurut Nybakken (1992) terumbu karang sangat sensitive terhadap perubahan salinitas yang lebih tinggi atau lebih rendah dari salinitas normal (30- 35‰) dan menurut Sukamo (1995) terumbu karang dapat hidup dalam batas salinitas berkisar 25-40 ‰.
3. Kecerahan
Kecerahan berkaitan erat dengan intensitas cahaya matahari yang masuk kedalam perairan. Kecerahan yang diperoleh di perairan ini berkisar 5.5 m – 7.5 m. Nilai tersebut masih relatif baik bagi pertumbuhan karang.
Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Tahun 2004, standar baku mutu kecerahan yaitu >3 m. Menurut Nybakken (1992) cahaya matahari berperan penting dalam proses pembentukan terumbu karang karena cahaya matahari menentukan kelangsungan proses fotosintesis bagi alga yang bersimbiosis didalam jaringan karang. Tanpa cahaya yang cukup, laju fotosintesis akan berkurang dan bersama dengan itu kemampuan karang untuk menghasilkan kalsium karbonat dan membentuk terumbu akan berkurang pula.
4. Kecepatan arus
Arah dan kecepatan arus sangat penting untung mengetahui proses perpindahan dan pengadukan dalam perairan seperti mikronutrien dan material tersuspensi. Nilai kecepatan arus di setiap Stasiun yang diperoleh berkisar 0.06m/det – 0.15m/det. Nilai tersebut baik untuk pertumbuhan terumbu karang untuk membersihkan atau mengangkat endapan yang melekat pada polip karang. Factor arus dapat berdampak baik atau buruk, bersifat baik apabilah membawah nutrient dan bahan-bahan organic yang diperlukan oleh terumbu karang dan bersifat buruk apabila menyebabkan sedimentasi di perairan terumbu karang dan menutupi permukaan karang sehingga berakibat pada kematian karang.
C. Tutupan Dasar Terumbu Karang
Tutupan terumbu karang dibagi menjadi 4 kategori, yaitu tutupan karang hidup, karang mati, other (biota non karang), dan unsur abiotik. Tutupan dasar di terumbu karang Pulau Liukangloe, didominasi oleh karang hidup, karang mati yang sudah ditumbuhi alga (Dead coral with algae:DCA), dan unsur abiotik berupa pasir. Distribusi terumbu karang secara vertikal hanya terbatas sampai
kedalaman 5-7m, di bawah kedalaman tersebut distribusi karang umumnya berupa spot-spot dan lebih didominasi oleh hamparan pasir.
Penggunaan indikator DCA untuk mendeteksi dampak Bleaching berupa kematian di terumbu karang Pulau Liukangloe, dapat diterima dengan pertimbangan, kematian karang yang akan berubah menjadi DCA oleh peristiwa predasi oleh Acanthaster plancii dapat diabaikan karena selama pengamatan tidak ditemukan hewan tersebut. Acanthaster planci adalah sejenis bintang laut besar yang memiliki banyak tangan atau sering disebut mahkkota duri (crown of thorns). Acanthaster planci yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan telur dalam jumlah besar menjadi hama bagi terumbu karang karena memakan polip karang sehingga menyebabkan kematian. Kemampuannya yang dapat bereproduksi dalam jumlah besar memberikan ancaman tersendiri terhadap kelestarian terumbu karang (Rani et al, 2009).
Demikian pula oleh peristiwa kematian karena peristiwa sedimentasi, juga dapat diabaikan karena tidak ditemukan muara sungai baik di Pulau maupun di daratan utama (Tanjung Bira) sebagai sumber utama bahan sedimen. Penegasan ini diperkuat atau terkonfirmasi oleh Nirwan dkk. (2017) yang melakukan penelitian di titik yang sama ketika terjadi fenomena bleaching di bulan Mei tahun 2016. Hasil pengamatannya menunjukkan bahwa sekitar 13,12% tutupan karang di Stasiun VI pada kedalaman 10m mengalami bleaching dan sekitar 6-7% di kedalaman 3m pada Stasiun IV dan V. Data tutupan DCA di stsiun dan kedalaman tersebut terbukti dengan tutupan DCA yang tinggi dalam penelitian ini.
1. Tutupan Karang Hidup
Nilai tutupan karang hidup pada semua Stasiun penelitian yakni pada kedalaman 3 meter maupun 10 meter disajikan pada gambar berikut.
Gambar 8. Persentase tutupan karang hidup pada setiap Stasiun penelitian.
(a. kedalaman 3 meter, b. kedalaman 10 meter). (Hasil yang berbeda di atas grafik juga menunjukkan perbedaan yang nyata berdasarkan hasil analisis ragam-ANOVA pada x=0,05).
Hasil analisis ragam memperoleh adanya perbedaan nyata antara Stasiun di kedua kedalaman yang di bagi, kisaran tutupan karang hidup di kedalaman 3 meter memperoleh nilai 3,58 – 74,60 %, sedangkan di kedalaman 10 meter berkisar 10,37 – 65,73 %. Tutupan karang hidup rata-rata pada setiap Stasiun pada kedalaman 3 m kisarannya relatif besar antara satu Stasiun dengan Stasiun lainnya. Persentase penutupan karang hidup pada kedalam 3 meter menujukkan bahwa Stasiun 2 memiliki persentase tertinggi dan berbeda nyata dengan semua Stasiun lainnya. Stasiun 1 merupakan Stasiun yang terendah tutupan karang hidupnya dan tidak berbeda nyata dengan Stasiun 4, 5, dan 6.
Pada kedalaman 10 meter, Stasiun 5 menunjukkan Stasiun dengan tutupan karang hidup yang paling tinggi dan berbeda nyata dengan Stasiun lainnya. Stasiun 1, 2 dan 6 adalah Stasiun dengan tutupan karang hidup yang rendah.
Tingginya tutupan karang hidup pada kedalaman 3 meter di Stasiun 2 karena daerah ini merupakan area perlindungan laut yang dikembangkan oleh masyarakat. Adanya kegiatan transplantasi karang serta adanya kesadaran masyarakat yang tinggi terhadap pentingnya terumbu karang, menyebabkan aktifitas yang merusak terumbu karang di perairan sekitar Pulau tersebut dapat langsung diawasi oleh masyarakat setempat. Daerah ini memiliki habitat yang masih alami, perairan yang jernih, karang mendapatkan cahaya matahari yang cukup. Kondisi ini sangat dibutuhkan untuk tumbuh dengan baik. Selanjutnya hasil pengukuran faktor fisik-kimia perairan juga mununjukkan bahwa Stasiun 2 memiiki nilai rata-rata tertinggi pada suhu (29 oC), salinitas 34o/oo serta penetrasi cahaya tembus sampai ke dasar. Kondisi tersebut sangat mendukung untuk pertumbuhan karang dibandingkan Stasiun lainnya. Menurut Romimohtarto &
Juwana (2001) terumbu karang sangat peka terhadap suhu bahkan terbatas keberadaanya di perairan hangat karena mereka tumbuh pada temperature antara 18-27 oC. namun suhu yang baik bagi terumbu karang berkisar 18oC sampai 29oC.
Stasiun 1 dan Stasiun 6 dengan persentase karang hidup paling rendah kemungkinan besar karena lokasi tersebut merupakan daerah penangkapan.
Banyak titik di daerah ini yang rusak diakibatkan aktivitas tangkapan nelayan yang tidak ramah lingkungan seperti penggunaan bom atau bahan peledak.
Cara-cara seperti ini digunakan orang-orang yang serakah, ingin mendapatkan hasil sebanyak-banyaknya dalam waktu yang singkat. Akibatnya banyak organisme yang akan mati, tidak hanya ikan, terumbu karang juga akan hancur kena ledakan bom (Damanhuri, 2003) sehingga karang hidup pada Stasiun 1
dan 6 sangat rendah. Stasiun 1 memiliki persen tutupan terumbu karang hidup 3,62 % dan Stasiun 6 memiliki persen tutupan karang hidup 19,12 %.
Pada kedalaman 10 meter habitat menunjukkan bahwa Stasiun 5 memiliki persentase paling tinggi dan berbeda nyata dengan setiap Stasiunnya, dengan nilai penutupan karang hidup rata rata 65,73 % . Stasiun 5 merupakan daerah yang bergelombang dibandingkan dengan Stasiun lainnya, karena selain memberi pasokan oksigen bagi karang gelombang juga memberi plankton yang baru untuk koloni karang serta sangat membantu dalam menghalangi penegendapan pada koloni karang (Dahuri, 2003). Daerah ini juga merupakan daerah berarus kencang yaitu 0,15 m/s, Pergerakan air penting untuk suplai makanan yang cukup (terutama zooplankton) dan oksigen serta untuk memindahkan sedimen dari permukaan karang (Nontji, 2005) menyatakan pertumbuhan karang di daerah berarus lebih baik bila dibandingkan perairan tenang.
Sedangkan nilai persentase tutupan karang hidup dibandingkan antara kedalaman 3 meter dan kedalaman 10 meter dapat di lihat pada gambar berikut.
Gambar 9. Grafik Perbedaan tutupan karang hidup antara kedalaman 3 meter dan kedalaman 10 meter (tanda * menunjukkan perbedaan yang nyata dan symbol ns: menunjukkan perbedaan yang tidak nyata antara kedalaman berdasarkan hasil uji t-student pada x=0,05).
Hasil dari analisis menunjukkan perbandingan tutupan karang hidup pada kedalaman 3 meter dan 10 meter disajikan pada gambar 9. Hasil uji T tutupan menunjukkan bahwa hanya pada Stasiun 2 yang menunjukkan perbedaan yang nyata antara kedalaman 3 meter dan 10 meter, sedangkan Stasiun lainnya tidak berbeda nyata (lampiran 3).
Secara umum tutupan karang hidup di kedalaman 3-5 m masih lebih tinggi dibandingkan dengan kedalaman 8-10m. Hasil penelitian Nirwan et al.
(2017) mendapatkan bahwa intensitas bleaching di kedalaman 8-10m lebih besar dibandingkan dengan kedalaman 3-5m.
2. Tutupan Karang Mati
Nilai tutupan karang mati pada semua Stasiun penelitian yakni pada kedalaman 3 meter maupun 10 meter disajikan pada gambar berikut.
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
1 2 3 4 5 6
Tutupan Karang Hidup %
Stasiun Pengamatan
Kedalaman 3 kedalaman10
ns
*
ns
ns
ns
ns
Gambar 10. Persentase tutupan karang mati pada setiap Stasiun penelitian.
(a. kedalman 3 meter, b. kedalaman 10 meter). (Hasil yang berbeda di atas grafik juga menunjukkan perbedaan yang nyata berdasarkan hasil analisis ragam-ANOVA pada x=0,05)
Hasil analisis ragam memperoleh adanya perbedaan nyata antara Stasiun di kedua kedalaman yang di bagi, tutupan karang mati (DCA) pada kedalaman 3 m memiliki rata-rata berkisar 6.82 - 50.65%, sedangkan pada kedalaman 10 m berkisar 13.78 – 56,82%. Persentase tutupan karang mati pada kedalaman 3 meter menunjukkan Stasiun 1,5 dan 6 berbeda nyata dengan Stasiun 2 dan Stasiun 3. Berdasarkan nilai tutupan karang mati (DCA) sebagai dampak peristiwa bleaching, maka dapat dinyatakan bahwa pada kedalaman 3m, dampak bleaching tergolong tinggi terjadi pada semua Stasiun (Stasiun 1, 4, 5, dan 6), kecuali Stasiun 2 dan 3, sedangkan pada kedalaman 10m, dampak bleaching terbesar terjadi di Stasiun 6.
Tutupan karang mati rata-rata yang didapatkan pada penelitian ini relatif berbeda dengan tutupan karang mati rata-rata yang didapatkan oleh peneliti lain di tempat yang sama. Nirwan et al. (2017) mendapatkan tutupan karang mati rata-rata pada kedalaman 3 m sebesar 41,47% dan pada kedalaman 10 m 38,66. Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan waktu penelitian. Nirwan (2017) melakukan penelitian pada tahun 2016, yaitu setelah peristiwa coral bleaching, sedangkan penelitian ini dilakukan pada tahun 2017. Perbedaan waktu penelitian selama kurang lebih satu tahun dapat memberikan pemulihan
terumbu karang secara alami dengan indikator adanya penurunan tutupan karang mati dan peningkatan tutupan karang hidup.
Karakter koloni-koloni karang mati (DCA) yang didapatkan pada Stasiun- Stasiun penelitian sebagian tertutupi oleh crustose coralline algae (alga berkapur berkerak) dan memiliki kerangka yang umumnya masih relatif utuh, serta bersih dari terrigenous sedimen.
Sedangkan nilai persentase tutupan karang hidup dibandingkan antara kedalaman 3 meter dan kedalaman 10 meter dapat di lihat pada gambar berikut.
Gambar 11. Grafik perbedaan tutupan karang mati antara kedalaman 3 meter dan kedalaman 10 meter (tanda * menunjukkan perbedaan yang nyata dan symbol ns: menunjukkan perbedaan yang tidak nyata antara kedalaman berdasarkan hasil uji t-student pada x=0,05) Hasil dari analisis menunjukkan perbandingan tutupan karang mati pada kedalaman 3 meter dan 10 meter disajikan pada gambar 11. Hasil uji T tutupan menunjukkan bahwa pada Stasiun 1 dan 4 yang menunjukkan perbedaan yang nyata antara kedalaman 3 meter dan 10 meter, sedangkan Stasiun lainnya tidak berbeda nyata.
0 10 20 30 40 50 60 70
1 2 3 4 5 6
Tutupan Karang Mati %
Stasiun Pengamatan
Kedalaman 3 kedalaman10
ns
ns
ns
ns
*
*
Secara umum, kedalaman 3m tutupan karang matinya lebih tinggi dari pada kedalaman 10 m. Secara deskriptif dan hasil uji beda nyata menunjukkan bahwa zonasi terumbu karang berpengaruh terhadap tingkat keparahan coral bleaching. Menurut Bridge et al. (2014), kematian akibat coral bleaching sering berkurang dengan bertambahnya kedalaman, namun zonasi kedalaman yang jelas pada komunitas karang dan terbatasnya tumpang tindih pada komposisi spesies di antara habitat terumbu karang dalam dan dangkal menyebabkan habitat karang yang dalam akan memberikan perlindungan terbatas dari pemutihan untuk sebagian besar spesies. Upwelling air dingin mungkin telah berkontribusi terhadap kematian yang lebih rendah yang di amati pada semua kecuali kedalaman dangkal. Hasil ini menunjukkan bahwa kedalaman menyediakan perlindungan bagi inidividu dari proporsi spesies yang tinggi.
Ketahanan populasi karang yang lebih dalam dapat memberikan sumber anakan penting untuk membantu pemulihan terumbu karang dangkal yang berdekatan.
Hasil ini menunjukkan bahwa kedalaman menyediakan perlindungan bagi individu dari proporsi spesies yang tinggi. Ketahanan populasi karang yang lebih dalam dapat memberikan sumber anakan penting untuk membantu pemulihan terumbu karang yang berdekatan.
3. Penutupan Biota Lain
Nilai tutupan biota lain pada semua Stasiun penelitian yakni pada kedalaman 3 meter maupun 10 meter disajikan pada gambar berikut.
Gambar 12. Grafik persentase tutupan biota lain pada setiap Stasiun penelitian.
(a. kedalman 3 meter, b. kedalaman 10 meter). (Hasil yang berbeda di atas grafik juga menunjukkan perbedaan yang nyata berdasarkan hasil analisis ragam-ANOVA pada x=0,05)
Hasil analisis ragam diperoleh adanya perbedaan nyata antara Stasiun di kedua kedalaman yang di bagi, kisaran tutupan biota lain di kedalaman 3 meter memperoleh nilai 2.82 – 20,32 %, sedangkan di kedalaman 10 meter berkisar 2.62 – 32.20 %. Persentase penutupan biota lain pada kedalam 3 meter menujukkan bahwa Stasiun 1 memiliki persentase tertinggi dan berbeda nyata dengan Stasiun 5 dan 6. Pada kedalaman 10 meter, Stasiun 2 dan 3 menunjukkan Stasiun dengan tutupan biota lain yang tinggi dan berbeda nyata dengan Stasiun 5 dan 6 yang merupakan Stasiun dengan tutupan biota lainr paling rendah.
Secara umum yang ditemukan sepanjang garis transek pada setiap Stasiunnya untuk tutupan biota lain hanya ditemukan jenis anemone laut.
Persentase tertinggi pada kedalaman 3 m pada Stasiun 1 yakni 20.32 %, dan di kedalaman 10 m di Stasiun 2 dan3, yakni 32.20% dan 26,72% karena anemon laut mampu mengisi ruang-ruang habitat terumbu karang yang selama ini dikatagorikan sebagai non produktif seperti karang mati, karang hancur, dan pasir.
Dengan demikian, kehadiran anemon pada ekosistem terumbu karang dapat menjadi biota pelengkap bukan pesaing ruang bagi kehidupan terumbu
karang. Komponen biotik berupa Soft Coral (SC), Sponge (SP), Fleshy Sewed (FS) dan Other Organism (OT) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keberagaman komunitas karang yang memiliki peran dan fungsi berbeda sesuai dengan sifat bilogisnya. Walaupun kompenen biotik bukan sebagai penentu kondisi terumbu karang, namun sebagai pelengkap dan penopang keanekaragaman hayati terumbu karang (Yusuf et al., 2015 ).
Nilai persentase tutupan biota lain dibandingkan antara kedalaman 3 meter dan kedalaman 10 meter dapat di lihat pada gambar berikut.
Gambar 13. Grafik Perbedaan tutupan biota lain antara kedalaman 3 meter dan kedalaman 10 meter (tanda * menunjukkan perbedaan yang nyata dan symbol ns: menunjukkan perbedaan yang tidak nyata antara kedalaman berdasarkan hasil uji t- student pada x=0,05)
Hasil analisis menunjukkan perbandingan tutupan biota lain pada kedalaman 3 meter dan 10 meter disajikan pada gambar. Hasil uji T tutupan menunjukkan bahwa hanya pada Stasiun 2 yang menunjukkan perbedaan yang nyata antara kedalaman 3 meter dan 10 meter, sedangkan Stasiun lainnya tidak berbeda nyata.
Hal ini di sebabkan pada Stasiun 2 di kedalaman 3 m memiliki persentase karang hidup yang tinggi yakni 74.60% % berbeda dengan di
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
1 2 3 4 5 6
Tutupan Biota Lain %
Stasiun Persentase
Kedalaman 3 kedalaman10 ns
ns
ns
ns ns
*
kedalaman 10 m yang memiliki persentase karang hidup hanya 10.37% . karena Anemon laut mampu mengisi ruang-ruang habitat terumbu karang yang selama ini dikatagorikan sebagai non produktif seperti karang mati, karang hancur, dan pasir.
4. Penutupan Abiotik
Nilai tutupan abiotik pada semua Stasiun penelitian yakni pada kedalaman 3 meter dan 10 meter disajikan pada gambar berikut.
Gambar 14. Persentase tutupan abiotik pada setiap Stasiun penelitian.(a.
kedalman 3 meter, b. kedalaman 10 meter). (Hasil yang berbeda di atas grafik juga menunjukkan perbedaan yang nyata berdasarkan hasil analisis ragam-ANOVA pada x=0,05)
Hasil analisis ragam pada kedalaman 3 m menunjukkan tidak adanya perbedaan yang nyata, berbeda dengan kedalman 10 m yang meperoleh adanya perbedaan nyata antara Stasiun, kisaran tutupan abiotik di kedalaman 3 meter memperoleh nilai 10.83 – 41.32 %, sedangkan di kedalaman 10 meter berkisar 17,28 – 59,50 %. Persentase penutupan abiotik pada kedalam 10 m menujukkan bahwa Stasiun 4 memiliki persentase tertinggi dan berbeda nyata dengan semua Stasiun lainnya. Stasiun 4 merupakan Stasiun yang tertinggi persentase tutupan abiotiknya. Stasiun 1 dan 5 merupakan Stasiun dengan tutupan abiotik yang rendah.