PERATURAN SENAT
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO NOMOR: 1941/In.32.1/12/2021
TENTANG
PEMBERIAN REKOMENDASI PEMBUKAAN, PENGGABUNGAN, DAN PENUTUPAN JURUSAN/PROGRAM STUDI DI INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO
DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA ESA SENAT INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka memberikan panduan, penilaian, dan pertimbangan terhadap usułan pembukaan, penggabungan, dan penutupan Jurusan/Program Studi diperlukan peraturan tentang pembukaan, penggabungan, dan penutupan Jurusan/Program Studi di Institut Agama Islam Negeri Ponorogo;
b. bahwa peraturan usulan pembukaan, penggabungan, dan penutupan Jurusan/Program Studi perlu ditetapkan oleh Senat Institut Agama Islam Negeri Ponorogo.
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi;
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen;
4. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI);
5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2016 tentang Institut Agama Islam Negeri Ponorogo;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan;
7. Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi;
8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2009 tentang Dosen;
9. Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2016 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi;
10. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nasional Nomor 6 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 28 Tahun 2005 tentang Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi;
11. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2013 tentang Penerapan KKNI Bidang Perguruan Tinggi;
12. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi;
13. Peraturan Menteri Agama Nomor 38 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Agama Nomor 33 Tahun 2016 tentang Gelar Akademik Perguruan Tinggi Keagamaan;
14. Peraturan Menteri Agama Nomor 65 Tahun 2016 tentang Pelayanan Terpadu pada Kementerian Agama;
15. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2020 tentang Akreditasi Program Studi dan Perguruan Tinggi;
16. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 7 Tahun 2020 tentang Pendirian, Perubahan, Pembubaran Perguruan Tinggi Negeri dan Pendirian, Perubahan dan Pencabutan Izin Perguruan Tinggi Swasta;
17. Peraturan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Nomor 1 Tahun 2020 tentang Mekanisme Akreditasi untuk Akreditasi yang Dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi;
18. Peraturan BAN PT Nomor 6 Tahun 2018 tentang Instrumen Akreditasi Minimum Pembukaan Program Studi pada Program Sarjana;
19. Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi;
20. Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2016 tentang Statuta Institut Agama Islam Negeri Ponorogo;
21. Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 49 Tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Institut Agama Islam Negeri Ponorogo;
22. Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 102 Tahun 2019 tentang Standar Keagamaan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam;
23. Rencana Induk Pengembangan Institut Agama Islam Negeri Ponorogo 2045.
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN SENAT INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO TENTANG PEMBERIAN REKOMENDASI PEMBUKAAN, PENGGABUNGAN, DAN PENUTUPAN JURUSAN/PROGRAM STUDI DI INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI.
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Senat ini yang dimaksud dengan:
1. Institut Agama Islam Negeri, yang selanjutnya disingkat IAIN Ponorogo, adalah Perguruan Tingggi Negeri yang dibina oleh Kementerian Agama RI;
2. Statuta IAIN Ponorogo adalah peraturan dasar pengelolaan IAIN Ponorogo sebagai landasan penyusunan peraturan dan prosedur operasional di IAIN Ponrogo;
3. Senat IAIN Ponorogo, yang selanjutnya disebut Senat, adalah badan normatif tertinggi dalam bidang akademik di IAIN Ponorogo;
4. Fakultas adalah himpunan sumber daya pendukung yang menyelenggarakan dan mengelola pendidikan akademik, pendidikan profesi, atau pendidikan vokasi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi di IAIN Ponorogo;
5. Jurusan adalah himpunan Program Studi dalam sub rumpun ilmu yang menyelenggarakan dan mengelola Pendidikan; dan
6. Program Studi adalah kesatuan kegiatan pendidikan dan pembelajaran yang memiliki kurikulum dan metode pembelajaran tertentu dalam satu jenis pendidikan akademik, pendidikan profesi dan/atau pendidikan vokasi.
Pasal 2
1. Pembukaan, penggabungan, dan penutupan Jurusan/Program Studi bertujuan:
a. Meningkatkan akses dan mutu pendidikan tinggi di IAIN Ponorogo dengan memperhatIkan ketersediaan sumber daya dan lingkungan pada penyelenggaraan pendidikan di IAIN Ponorogo; dan
b. Meningkatkan mutu penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
2. Pembukaan, penggabungan, dan penutupan Jurusan/Program Studi harus mempertimbangkan:
a. terjadinya peningkatan mutu akademik;
b. ketersediaan sumber daya manusia yang memadai;
c. ketersediaan pembiayaan, sarana dan prasarana penunjang;
d. efesiensi manajemen;
e. persaingan yang sehat; dan
f. urgensi dan keunggulan Jurusan/Program Studi.
3. Rektor bertanggung jawab dan menjamin kelancaran pembukaan, penggabungan, dan penutupan Jurusan/Program Studi.
BAB II
PEMBUKAAN JURUSAN/PROGRAM STUDI Pasal 3
1. Pengusul pembukaan Jurusan/Program Studi pada Fakultas adalah Dekan Fakultas yang sesuai dengan rumpun ilmu Jurusan/Program Studi yang diusulkan; dan
2. Pengusul pembukaan Jurusan/Program Studi pada Pascasarjana adalah Direktur Pascasarjana.
Pasal 4
Pengusulan pembukaan Jurusan/Program Studi baru dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Usulan pembukaan Jurusan/Program Studi baru dilakukan Dekan Fakultas atau Direktur Pascasarjana kepada Rektor;
2. Usulan pembukaan Jurusan/Program Studi baru berupa Proposal lengkap yang disusun oleh tim yang dibentuk oleh Dekan Fakultas atau Direktur Pascasarjana; dan
3. Rektor bersama Wakil Rektor Bidang akademik dan Kelembagaan atau tim yang dibentuk mempertimbangkan untuk mengajukan permohonan rekomendasi kepada Senat.
Pasal 5
1. Penilaian kelayakan pembukaan Jurusan/Program Studi didasarkan kepada kesesuaian proposal yang diusulkan dengan panduan pembukaan Jurusan/Program Studi baru yang diterbitkan oleh Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI;
2. Ketua Senat dapat membentuk Komisi untuk menganalisis usulan pembukaan Jurusan/Program Studi baru;
3. Hasil analisis Komisi disampaikan dalam Sidang Senat yang diadakan untuk memberikan rekomendasi;
4. Dalam hal permohonan rekomendasi pembukaan Jurusan/Program Studi disetujui, maka Rektor mengajukan permohonan izin pembukaan Jurusan/Program Studi baru kepada Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI dengan dilampiri rekomendasi dari Senat; dan
5. Dalam hal permohonan rekomendasi tidak disetujui oleh Senat, maka Rektor dapat mengajukan kembali permohonan rekomendasi setelah memperhatikan pertimbangan dari Senat.
Pasal 6
Penyelenggaraan Jurusan/Program Studi baru dapat dilakukan setelah:
1. Keputusan izin penyelenggaraan Jurusan/Program Studi diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag; dan
2. Penyelenggara Jurusan/Program Studi baru harus menyiapkan akreditasi Jurusan/Program Studi setelah dua tahun sejak diterbitkannya izin penyelenggaraan Jurusan/Program Studi.
BAB III
PENGGABUNGAN DAN PENUTUPAN JURUSAN/PROGRAM STUDI Pasal 7
Prosedur penggabungan dan penutupan Jurusan/Program Studi:
1. Fakultas/Pascasarjana membentuk Tim penyusun studi kelayakan penggabungan dan penutupan Jurusan/Program Studi;
2. Dokumen studi kelayakan dimaksud harus sekurang-kurangnya mencakup:
a. Dampak terhadap mutu kinerja akademik dan non-akademik pada tingkat Fakultas/Pascasarjana maupun Institut;
b. Rencana transisi penyelesaian studi mahasiswa yang masih aktif;
c. Dampak dan solusi relokasi terhadap sumberdaya manusia, baik dosen maupun tenaga kependidikan terkait; dan
d. Dampak dan solusi terhadap pemanfaatan sarana dan prasarana Jurusan/Program Studi terkait.
3. Usulan penggabungan dan penutupan Jurusan/Program Studi yang diajukan oleh Dekan Fakultas atau Direktur Pascasarjana kepada Rektor;
4. Rektor menugaskan Wakil Rektor I dan Lembaga Penjaminan Mutu untuk mengevaluasi kelayakan usulan penggabungan dan penutupan Jurusan/Program Studi terkait;
5. Rektor meneruskan seluruh dokumen penggabungan dan penutupan Jurusan/Program Studi terkait ke Senat, jika usulan penggabungan dan penutupan Jurusan/Program Studi dinyatakan layak;
6. Senat melakukan kajian dan evaluasi terhadap usulan penggabungan dan penutupan Jurusan/Program Studi yang diusulkan oleh Rektor;
7. Jika Senat menyetujui usulan penutupan Jurusan/Program Studi terkait, maka Senat mengeluarkan surat persetujuan/rekomendasi penggabungan dan penutupan Jurusan/Program Studi tersebut kepada Rektor;
8. Berdasarkan surat persetujuan/rekomendasi Senat itu, Rektor mengeluarkan keputusan penggabungan dan penutupan Jurusan/Program Studi dimaksud; dan
9. Rektor menyampaikan penggabungan dan penutupan Jurusan/Program Studi dimaksud ke Kementerian Agama.
BAB IV
KETENTUAN PENUTUP Pasal 8
1. Peraturan Senat ini berlaku sejak ditetapkan; dan
2. Apabila di kemudian hari terdapat kekeliruan dalam Peraturan Senat ini, maka dilakukan perbaikan sebagaimana mestinya.
Ditetapkan di : PONOROGO
pada tanggal : 10 DESEMBER 2021 KETUA,
ACHMAD RODLI MAKMUN