PERSEPSI MASYARAKAT BALI TERHADAP PENYAKIT RABIES I Made Kerta Duana
PENDAHULUAN
Rabies adalah suatu penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang dapat menyerang manusia dan jenis binatang.(1) Penyakit rabies ditularkan melalui gigitan atau cakaran binatang yang telah terinfeksi virus rabies.(2) Di Indonesia penyakit rabies tersebar luas di 18 propinsi. Daerah yang merupakan endemik rabies di Indonesia adalah Pulau Sumatra, Jawa Barat, Kalimantan, Sulawesi, dan Flores.(3) Bali merupakan daerah bebas rabies sejak lebih dari 30 tahun yang lalu.
Namun, pada bulan November 2008 ditemukan kasus kematian manusia akibat rabies, sehingga Bali dinyatakan berstatus kasus luar biasa (KLB) rabies.(3,4)
Hasil penelusuran Dinkes Propinsi Bali menunjukkan bahwa penyakit rabies yang terjadi di Bali ditularkan oleh gigitan anjing.(4) Populasi anjing di Bali sangat padat, sekitar 540.000 ekor atau 96 ekor/km2. Masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu memiliki mitos tentang anjing, seperti cerita Mahabharata yang menyebutkan bahwa anjing merupakan jelamaan dari dewa.(7) Anjing adalah binatang yang sangat akrab dalam kehidupan masyarakat Bali. Pada umumnya masyarakat memelihara anjing dengan tidak diikat atau dikandangkan, sehingga anjing bisa bebas berkeliaran di lingkungan masyarakat. Tradisi masyarakat Bali dalam memelihara anjing di satu sisi merupakan budaya yang harusnya dilestarikan, namun di sisi lain jika pemeliharaannya tidak diperhatikan, akan dapat menjadi ancaman dan menjadi perantara berbagai penyakit seperti penyakit rabies.(5) Berbeda dengan ancaman rabies di daerah lain, ancaman rabies di Bali sangat spesifik. Hal ini karena kekhasan sosio-kultural dan bio-geografi Bali. Sebagai daerah padat penduduk, Bali juga padat hewan pembawa rabies. Dengan kondisi
seperti itu, pengendalian rabies merupakan tantangan yang berat dan memerlukan perhatian serta kerjasama dari berbagai pihak. .
METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan rancangan fenomenologi. Penelitian ini berusaha untuk memahami dan mengamati suatu fenomena yang terjadi secara alamiah untuk mendapatkan pemahaman yang utuh dan menyeluruh tentang fenomena atau isu penting yang berhubungan dengan persepsi masyarakat mengenai penyakit rabies, pencegahan dan penanggulangannya.(6) Penelitian ini dilakukan di 2 kabupaten di Propinsi Bali, yaitu Kabupaten Badung dan Kota Madya Denpasar, dengan pertimbangan pada kedua daerah ini telah terjadi wabah rabies. Dari kedua kota tersebut dipilih 2 desa dengan karakteristik perkotaan dan pedesaan. Desa yang terpilih adalah Desa Pemecutan Kaja dan Desa Kuwum. Subjek penelitian pada penelitian kualitatif disebut informan. Informan dipilih secara purposif sampling,(6,7,8) Penetapan informan pada penelitian ini terdiri subjek utama, yaitu masyarakat yang berisiko menderita rabies, dan subjek pendukung, yaitu Kepala P2MPL, kepala puskesmas, organisasi penyayang binatang, tokoh adat dan penderita suspek rabies.
Pada penelitian ini, penggalian informasi dilakukan dengan wawancara mendalam dan FGD (foccus group discussion).(8) Wawancara mendalam dilakukan terhadap subjek pendukung sedangkan FGD dilakukan pada subjek utama, yaitu masyarakat yang berisiko terhadap penularan rabies sesuai dengan lokasi penelitian. .
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
1. Pemeliharaan anjing di Bali a. Mitos tentang anjing
Masyarakat Bali memelihara anjing berbeda dengan daerah lain. Hal ini terutama dikarenakan tidak adanya larangan dari aturan adat ataupun dari ajaran agama yang dianut. Pemeliharaaan anjing dipengaruhi oleh kebiasaan leluhur yang telah memelihara anjing secara turun-temurun. Selain itu pemeliharaan anjing juga dipengaruhi adanya mitos ataupun cerita yang telah ada sejak dahulu di masyarakat. Salah satu cerita dalam Mahabharata menunjukkan, anjing merupakan jelmaan dewa. Cerita ini masih ada sampai saat ini dan sangat dipercaya oleh masyarakat.
“Ndak tahu saya kenapa, ini sudah dari dulu turun-temurun, sudah biasa”
(FGD-7) “Ada sejarahnya itu…di Mahabharata itu ada kalau anjing itu jelmaan Dewa Ciwa yang bisa masuk sorga dengan Yudistira, ini kita dipercaya sampai sekarang”
(W2-Wawancara mendalam) b. Pola pemeliharaan anjing
Tujuan pemeliharaan anjing oleh masyarakat, antara lain:
sebagai peliharaan untuk menjaga rumah atau kebun, sebagai teman, sebagai hiburan, hobi dan gaya hidup. Ada juga yang menyatakan memelihara anjing untuk tujuan ekonomi dengan menjual anakannya.
“Tergantung kita…kalau cuma untuk jaga kebun yang biasa aja tapi kalau untuk jalan jalan pilih yang bagus”
(FGD-1)
Anjing lokal biasanya tidak mendapat perawatan kesehatan yang baik seperti vaksinasi dan pengobatan medis. Kebersihan anjingnya juga tidak diperhatikan karena jarang dimandikan.
Berbeda dengan anjing impor atau anjing ras, anjing jenis ini lebih diperhatikan kesehatan dan kebersihannya, serta rutin mendapat vaksin. Selain itu jika anjingnya sakit, pemiliknya tidak segan-segan membawa ke dokter hewan untuk mendapat perawatan.
“Kalau anjing (anjing impor) saya sakit kuatir juga…kan mahal belinya, tapi jarang sakitnya udah kita vaksin rutin sama makannya sehat”
(FGD-3)
Banyaknya anjing liar yang ada di masyarakat juga sangat terkait dengan cara pemeliharaan anjing. Informan menyatakan bahwa anjing lokal yang biasanya tidak dikebiri dan akan melakukan perkawinan secara bebas terutama dengan anjing liar yang hidup di jalanan. Anak anjing yang biasanya dipelihara adalah anjing jantan dan memiliki warna yang bagus, sedangkan yang lain akan dibuang di jalanan dan pada akhirnya mereka tumbuh menjadi anjing liar atau anjing jalanan.
“Anjing itu kalau punya anak banyak, sampai enam ekor ndak mungkin kita pelihara semua…biasanya yang jantan bulunya bagus saja”
(FGD-8)
2. Persepsi masyarakat tentang penyakit rabies
Masyarakat pedesaan mengartikan rabies sebagai penyakit berbahaya yang diistilahkan dengan grubug. Istilah grubug juga digunakan masyarakat untuk menunjukkan kasus penyakit yang tidak diketahui penyebab dan cara pengobatannya.
“…rabies itu saya baru tahu sekarang. Dulu ndak pernah ada paling cuma sakit biasa saja, sekarang penyakit ini sudah seperti grubug…cepat sekali nyebarnya dan sudah ada yang mati katanya”
(FGD-7)
Informan menyatakan belum pernah melihat langsung anjing atau orang yang menderita penyakit rabies. Menurut mereka, gejala dari penyakit rabies pada anjing adalah anjing menjadi seperti gila, anjing suka mengigit dan mengejar orang tanpa sebab, tidak mau makan dan tidak mau bergaul dengan anjing lain, sedangkan pada manusia gejalanya biasanya panas yang tidak turun-turun, dan kejang seperti tetanus.
“Anjing itu menjadi takut dia sama orang. Sering gigit dia…dan mulutnya banyak liurnya. Kalau kita kena nanti sama kayak anjing itu…tapi badan kita panas dulu”
FGD-2)
Menurut Kepala P2MPL Propinsi Bali, penyebab dari penyakit rabies adalah sejenis virus yang terdapat pada air liur binatang, seperti anjing, kelelawar dan beberapa hewan sejenisnya.
Masyarakat berpendapat bahwa penyakit rabies disebabkan oleh gigitan anjing. Namun setahu mereka sejak dahulu gigitan anjing hanya menyebabkan luka dan tidak menyebabkan rabies.
“kalau anjing menggigit orang itu sudah dari dulu ada…tapi kalau jadi rabies ini yang baru. kita juga ndak tahu…katanya anjingnya itu yang nularin karena sakit”
(FGD-7)
Informan menyatakan bahwa penularan rabies bukan hanya karena gigitan anjing, tetapi juga melalui udara. Masyarakat juga melihat adanya unsur kesengajaan atau sabotase pada kejadian penyakit rabies. Informan beranggapan bahwa adanya pihak-pihak
yang berkepentingan dengan adanya penyakit ini seperti pabrik obat atau pihak yang tidak menginginkan kedamaian di Bali.
“Kalau anjing menggigit mungkin bisa rabies…tapi kan ndak mungkin secepat ini nularnya sampai kabupaten lain. Mungkin angin bisa juga membawa penyakit ini…”
(FGD-7)
“…saya yakin menularnya ini bukan karena gigitan anjing saja, tapi pasti ada unsur sengaja…mungkin saja ada yang berkepentingan dengan ini, setahu saya anjing itu tidak pergi jauh-jauh, paling di rumah saja dia. Gimana bisa nularin anjing di desa lain…ndak ngerti saya…”
(FGD-3)
3. Pencegahan dan penanggulangan rabies pada anjing
Informan berpendapat bahwa salah satu penyebab anjing menderita rabies adalah kebersihan anjing yang kurang, anjing yang kotor dan tidak terawat. Kasus anjing yang diduga rabies adalah anjing jalanan yang tidak jelas kepemilikannya. Anjing tersebut cenderung kotor dan tidak terawat.
“Biasanya anjing jalanan yang kotor itu sering sakit…kalau anjing kita kan dirawat, kalau bersih jarang sakit dia…”
(FGD-7)
Informan menyadari bahwa vaksinasi akan mencegah penularan rabies pada anjing, tetapi mereka tidak mengetahui bagaimana prosedur vaksinasi yang benar. Vaksinasi anjing dilakukan jika ada pengumuman dari banjar, anjing akan dibawa untuk mendapatkan vaksin gratis. Kegiatan vaksinasi biasanya dilakukan oleh pemerintah bekerjasama dengan dinas peternakan setempat.
Jika dalam suatu daerah ditemukan atau terindikasi ada anjing dengan penyakit rabies, pada kisaran 10 kilometer akan dilakukan vaksinasi massal. Anjing yang telah divaksinasi akan diberi label dalam bentuk pita, atau kalung.
“Kalau ngasi vaksin itu kan agar mencegah anjing itu kena rabies…maksudnya anjing kita yang sehat, tapi bagaimana caranya saya ndak ngerti”
(FGD-5)
“Vaksinasi anjing itu adalah upaya pencegahan penularan rabies pada anjing yang sehat…. jika ada anjing terindikasi rabies di suatu tempat, maka radius sekitar 10 kilo itu harus divaksin semua anjingnya…nah dikasinya itu minimal dua kali dan dikasi tanda kalau sudah dapat dia”
(W1-Wawancara mendalam)
Informan menyatakan bahwa mereka mengalami kesulitan dalam memvaksin anjing, karena harus membawa anjingnya ke balai banjar. Selain masalah transportasi dan jarak yang jauh, juga dikarenakan sulitnya menangkap anjing yang biasanya tidak diikat untuk dibawa ke balai banjar.
“Memvaksin anjing itu susah pak, karena kita harus bawa anjing ke banjar, trus seringnya itu kita tak tahu kalau ada vaksin gratis, tahunya udah telat itu…”
(FGD-4)
Anjing dibunuh jika di daerah tersebut ada anjing rabies yang ditemukan. Petugas akan melakukan pemusnahan anjing secara massal pada anjing-anjing yang berkeliaran di jalanan. Menurut tokoh adat, anjing yang dibunuh belum tentu anjing liar atau menderita rabies karena tanpa melalui pemeriksaan sebelumnya. Ketidaksetujuan masyarakat terhadap tindakan eliminasi sebagai upaya pencegahan penyebaran rabies, juga disampaikan oleh informan tokoh adat.
Tindakan eliminasi juga harus memperhatikan pemahaman psikologis masyarakat, terutama mereka yang mempunyai anjing tersebut.
Masyarakat menilai eliminasi sebagai upaya pencegahan rabies bisa menimbulkan dampak negatif berupa penyakit baru yang diakibatkan anjing mati tersebut. Anjing yang mati, khususnya di perkotaan, jarang ada yang mau menguburkannya. Selain karena tidak ada pemiliknya, juga dikarenakan tidak ada lahan untuk menguburnya. Seringkali
anjing tersebut dibuang ke semak-semak, ke kali atau ke sungai, yang tentunya dapat berakibat buruk pada lingkungan.
“Eliminasi itu setahu saya pembunuhan anjing artinya…pokoknya kalau ada anjing rabies, anjing lain juga harus dibunuh, walaupun belum tentu rabies, karena dia itu berkeliaran di jalan”
(FGD-1)
“Massalahnya kan kalau sudah dibunuh, terus bagaimana...
banyak itu anjing ditinggal petugas karena anjingnya lari sebelum mati. Nanti kan bangkainya ini berbahaya, bisa jadi bikin penyakit baru saking banyaknya”
(FGD-3)
4. Pencegahan dan penanggulangan rabies pada manusia
Salah satu upaya mencegah terjadinya penularan rabies pada manusia adalah dengan menghindari kontak dengan anjing, baik dalam bentuk gigitan maupun cakaran anjing. Jika seseorang telah tergigit anjing, ia diharuskan mendapat perawatan terhadap luka serta mendapat vaksin anti rabies. Hampir semua responden berpendapat jika seseorang tergigit anjing harus mendapatkan vaksin rabies dan tidak cukup dengan obat minum atau perawatan luka saja. Menurut informan, setelah merebaknya penyakit rabies, pengobatan untuk gigitan anjing langsung diperiksakan secara medis. Pertolongan ke dukun (balian) dilakukan setelah mendapat penanganan medis di puskesmas atau rumah sakit. Saat ini bantuan dukun ditujukan untuk meruwat diri, bukan lagi untuk memperoleh obat atau ramuan tertentu.
“Sekarang ini ndak kayak dulu pak, dulu kalau kegigit anjing ndak apa, dikasi betadin sembuh, tapi sekarang harus ke dokter, harus divaksin katanya biar ndak rabies”
(W4-Wawancara mendalam)
“Dulu biasanya saya kasi boreh sembuh, kalau kegigit anjing itu bawa sial, makanya dibawa ke balian untuk diruwat”
(FGD-8)
5. Pelaksanaan program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat
Informan mengetahui adanya penyakit rabies melalui informasi yang disampaikan pemerintah melalui berbagai pemberitaan media massa dan penyuluhan langsung. Kegiatan penyuluhan dilakukan secara serempak pada kawasan yang telah ditetapkan sebagai daerah yang berisiko rabies Penyuluhan pada masyarakat biasanya dilakukan di masing-masing banjar pada malam hari, saat orang sudah pulang kerja dan bersamaan dengan rapat rutin banjar yang disebut sangkep banjar. Informan menyatakan bahwa pelaksanaan penyuluhan terlalu sering dilakukan terutama di wilayah mereka yang termasuk radius rabies. Penyuluhan diberikan oleh beberapa instansi secara berulang-ulang dan dengan tema yang hampir sama, sehingga masyarakat merasa jenuh dengan materi penyuluhan yang sama.
Selain itu, faktor kesibukan masyarakat juga ikut berpengaruh. Seperti kutipan berikut:
“Mumpung ada sangkep banjar, itu kan rutin dan banyak yang hadir, kalau ndak datang takut mereka...dan biasanya kan malam jadi pas, kita fresh mereka juga fresh”
(W3-Wawancara mendalam)
“…kadang saya bosan ikut penyuluhan, sekarang dari ini, besok itu padahal sama saja. Ndak bisa sekali gabung gitu, kalu bisa itu pas ada vaksin gratis pasti banyak yang ikut”
(FGD-3)
Dalam penanggulangan rabies, keterlibatan berbagai pihak sangat diperlukan. Salah satunya adalah peran serta dari masyarakat.
Berbagai keterlibatan masyarakat dalam penanggulangan rabies seperti kesadaran untuk melakukan vaksinasi anjing maupun
pelaporan jika menemukan kasus, akan sangat membantu program pengentasan rabies. Pembentukan tim di tingkat desa yang bertugas memberi informasi secara cepat jika terjadi kasus gigitan dirasakan kurang maksimal.
“Memang ada tim di tingkat desa tapi tugasnya cuma malaporkan jika ada kasus. Istilahnya ngerekap saja, tiap minggu dilaporkan ke desa. Sebenarnya mereka bisa diberdayakan lebih lagi…seperti kegiatan vaksinasi atau eliminasi anjing”
(W3-Wawancara mendalam)
Menurut masyarakat, mereka sudah berusaha melakukan pencegahan rabies dengan memvaksin anjingnya saat ada program vaksinasi anjing gratis di banjar. Mereka juga ikut membantu petugas jika diminta untuk membantu eliminasi anjing. informan menyatakan bahwa mereka tidak tahu yang haeus mereka lakukan, meskipun sudah mengikuti anjuran pemerintah tetap saja terjadi kasus rabies di wilayahnya.
Tak tahu apa yang bisa saya bantu, saya ndak ngerti…kalau disuruh baru ikut saja gitu. Biasannya disuruh ngikat anjing sama jaga anjingnya biar bersih”
(FGD-8)
Pembahasan
1. Pemeliharaan anjing di Bali
Pemeliharaan anjing oleh masyarakat Bali dilakukan secara turun-temurun,(10) serta tidak ada larangan dari ajaran agama maupun aturan adat. Selain itu pemeliharaan anjing oleh masyarakat juga dipengaruhi oleh mitos tentang anjing. Keyakinan terhadap mitos tersebut berpengaruh terhadap kedekatan masyarakat dengan anjing dan pola pemeliharaan anjing oleh
masyarakat. Jenis anjing berpengaruh terhadap perawatan yang diberikan. Anjing lokal kebanyakan tidak mendapat perawatan semestinya. Mereka dipelihara dengan diliarkan, mencari makan sendiri serta tidak mendapat perawatan kesehatan seperti vaksinasi ataupun pengobatan medis. Hal ini berbeda dengan perlakuan pada anjing impor yang diperlakukan dengan baik. Banyaknya jumlah anjing liar dipengaruhi oleh tingginya tingkat kelahiran anak anjing. Perkawinan anjing terjadi antara anjing warga dengan anjing liar. Selain itu, tidak adanya kebiasaan untuk mengkebiri anjing juga mempengaruhi tingginya kelahiran anak anjing. Banyaknya anak anjing yang dibuang di jalanan, ditambah dengan anak dari indukan anjing liar, sangat mempengaruhi peningkatan jumlah anjing di masyarakat, khususnya anjing liar.(9,11,12)
2. Persepsi tentang penyakit rabies
Informan mengartikan rabies sebagai penyakit yang disebabkan oleh gigitan anjing. Penyakit rabies disebut dengan penyakit anjing gila, karena anjing yang menderita rabies berubah sifatnya menjadi gila. Penyakit ini terjadi secara tiba-tiba dan menyebar dengan sangat cepat serta menimbulkan banyak korban sakit maupun meninggal. Kejadian penyakit seperti ini sering disebut masyarakat Bali dengan grubug.
Cepatnya penyebaran penyakit rabies menimbulkan berbagai persepsi di masyarakat terhadap proses penularannya, Informan mempersepsikan penularan rabies juga disebabkan oleh udara. Selain itu masyarakat menduga penyakit rabies dsebabkan oleh adanya unsur sabotase oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab yang memiliki kepentingan atas kejadian penyakit rabies. Misalnya pihak-pihak yang tidak senang dengan
kedamaian di Bali atau kepentingan pihak pabrik farmasi yang ingin obatnya laku.(9,12,13)
3. Persepsi tentang pencegahan rabies pada anjing
Vaksinasi anti rabies pada anjing merupakan upaya pencegahan terhadap penularan penyakit rabies.(2,9,14) Vaksinasi ditujukan pada setiap anjing yang berisiko dan bertempat tinggal pada daerah yang terindikasi tertular rabies.(2,14,15) Masyarakat tidak melakukan vaksinasi pada anjingnya disebabkan beberapa hal, seperti karena mahalnya vaksin anti rabies, sulitnya memperoleh vaksin anti rabies, dan jenis anjing yang murah yang tidak sebanding dengan biaya pewawatannya. (16)
Pelaksanaan vaksinasi diterapkan dengan pembagian vaksin anti rabies pada anjing secara gratis.(9,14,17) Pelaksanaan vaksinasi gratis dilakukan di daerah yang terduga atau telah terindikasi tertular rabies.(14) Menurut masyarakat, anjing yang mendapat vaksin terbatas pada anjing peliharaan warga saja, sedangkan anjing liar dan anjing peliharaan warga yang tidak diikat atau yang diliarkan tidak mendapat vaksin anti rabies. Masyarakat yang bertempat tinggal cukup jauh dengan balai banjar sangat sulit dalam mendapatkan akses vaksinasi anjing. Hal ini disebabkan jarak yang cukup jauh, kesulitan menangkap dan membawa anjingnya ketempat vaksinasi anjing.(14,18,19)
Pelaksanaan eliminasi ditujukan untuk mengurangi risiko penularan rabies oleh gigitan anjing dan sekaligus mengurangi jumlah populasi anjing di masyarakat.(9,14) Hal ini berdampak pada banyaknya jumlah anjing yang dibunuh. Menurut informan, tindakan eliminasi anjing banyak yang salah sasaran. Anjing warga yang
dipelihara tanpa diikat akan ikut menjadi target eliminasi karena berkeliaran dan berbaur dengan anjing liar. Tidak adanya identitas atau tanda yang menunjukkan bahwa anjing tersebut ada pemiliknya, menyebabkan petugas yang melakukan eliminasi akan membunuh setiap anjing liar yang ada di jalanan. Menurut masyarakat, jika tindakan eliminasi terus dilakukan, maka jumlah anjing lokal akan habis. Selain itu tindakan eliminasi dirasakan kurang manusiawi karena anjing dibunuh tanpa alasan yang jelas.
4. Persepsi tentang pencegahan dan penanggulangan penyakit rabies pada manusia
Sebelum adanya kasus penyakit rabies di masyarakat, pengobatan terhadap gigitan anjing hanya ditujukan terhadap luka yang ditimbulkan dan bukan untuk mencegah terjadinya penyakit rabies. Biasanya masyarakat melakukan pertolongan pertama terhadap luka gigitan anjing secara mandiri atau dengan cara tradisional melalui pertolongan dukun, yang di Bali disebut dengan balian. Sejak adanya penyakit rabies, terjadi perubahan persepsi terhadap pengobatan akibat luka gigitan anjing. Hal ini dikarenakan adanya kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan terjadinya penularan penyakit rabies akibat gigitan anjing. Saat ini, jika seseorang tergigit anjing akan langsung memeriksakan diri ke pelayanan medis seperti puskesmas dan rumah sakit.(21,22)
Peran balian dalam pengobatan gigitan anjing juga mengalami perubahan. Sebelum adanya penyakit rabies, balian dimanfaatkan sebagai tempat memperoleh pengobatan dan pertolongan pertama terhadap luka gigitan anjing. Sejak adanya
penyakit rabies, balian tidak lagi difungsikan untuk mendapat pengobatan, tetapi hanya untuk melakukan ruwatan atau membantu membuang sial akibat menderita gigitan anjing.(13,22)
5. Pelaksanaan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat dalam pecegahan rabies
Program promosi kesehatan dilaksanakan secara serempak di daerah yang terindikasi tertular rabies.(14,23) Kegiatan ini ditujukan untuk memberi pemahaman yang benar tentang penyakit rabies dan cara penanggulanganya seperti vaksinasi dan eliminasi anjing.
Masyarakat mengharapkan agar kegiatan sosialisasi dan penerapan aturan pemeliharaan anjing melibatkan desa adat, tokoh adat maupun tokoh masyarakat yang memiliki pengaruh di masyarakat. Menurut mereka, masyarakat akan lebih taat untuk mengikuti yang diputuskan oleh desa adat ataupun yang disarankan oleh tokoh adat, sehingga program menjadi lebih efektif.(24) Masyarakat telah memperoleh informasi tentang rabies secara berulang dan dengan tema yang hampir sama. Selain menimbulkan kebosanan dan menurunkan minat mengikuti penyuluhan, juga berpengaruh pada proses penerimaan dan perhatian masyarakat terhadap informasi maupun pesan kesehatan yang disampaikan.(21,25)
Masyarakat mempersepsikan bahwa pemberantasan penyakit rabies merupakan tugas dari pemerintah dan hanya pemerintah atau petugas kesehatan saja yang dapat mengatasinya.
Saat ini masyarakat cenderung merasa sebagai objek dari berbagai program yang dilaksanakan pemerintah. Masyarakat hanya dilibatkan untuk membantu kegiatan yang ada dan itupun hanya sebatas pada pengurus atau tokoh masyarakat saja. Program pemberantasan rabies saat ini cenderung bersifat top-down dan
bukan program yang didasarkan pada kebutuhan dan keinginan masyarakat serta nilai-nilai budaya masyarakat setempat.(23,26,27,28)
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Pemeliharaan anjing di Bali dipengaruhi oleh kebiasaan turun- temurun dan kepercayaan terhadap mitos tentang anjing, serta tidak adanya larangan secara adat maupun agama untuk memelihara anjing.
2. Anjing dipercaya sebagai penular penyakit rabies. Gigitan anjing dikhawatiran masyarakat dapat menyebabkan rabies, hal ini menyebabkan adanya perubahan pola pencarian pengobatan terhadap luka akibat gigitan anjing.
3. Pelaksanaan vaksinasi anjing gratis di balai banjar kurang efektif diterapkan pada masyarakat yang memelihara anjing dengan diliarkan, dan program eliminasi terhadap anjing liar berdampak pada terbunuhnya anjing warga karena anjing warga dipelihara dengan diliarkan.
4. Program promosi sebagai upaya pencegahan masih kurang efektif karena dilakukan setelah suatu daerah terindikasi atau dinyatakan tertular rabies.
5. Program pemerintah lebih bersifat top-down dan jarang melibatkan masyarakat dan tokoh adat secara langsung dalam hal perencanaan dan pelaksanaan program pemberantasan rabies.
.
Saran
1. Selain melakukan vaksinasi massal di balai banjar, pemerintah sebaiknya melakukan vaksinasi dengan sistem jemput bola, yaitu petugas langsung mendatangi anjing di rumah warga.
2. Perlunya pemasangan tanda yang permanen pada anjing yang sudah mendapat vaksin, untuk menghindari terbunuhnya anjing saat dilakukan eliminasi.
3. Perlunya keterlibatan dan peran serta masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh adat serta berbagai instansi terkait dalam pelaksanaan kegiatan promosi kesehatan.
4. Melakukan evaluasi secara berkala terhadap program yang dilaksanakan, khususnya program promosi dan pemberdayaan masyarakat, untuk menilai tingkat pencapaian dan hambatan yang dihadapi dalam pemberantasan rabies.
Daftar Pustaka
1. King, A. (1992) Rabies A Review in: Recent Advances and Current Concepts in Tropical . Vet . Med.
2. World Health Organization (2006) Rabies [online], available from:
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs099/en.htm. (Accessed 7 Agustus 2009).
3. Direktorat Jenderal Peternakan dan Pertanian (1998) Pedoman Teknis Pelaksanaan Pembebasan Rabies Terpadu di Indonesia, Tim Koordinasi Pemberantasan Rabies Tingkat Pusat, Jakarta.
4. Penanggulangan Rabies di Bali (2009) available from:
<http://www.antaranews.com/berita (Accessed 15 Oktober 2009)
5. Hartiningsih, N. (1999) Anjing Bali Pemulabiakan dan Pelestarian, Percetakan Kanisius, Yogyakarta.
6. Moleong, L.J. (2006) Metode Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung.
7. Rajagopalachari, C. (2008) Mahabharata Sebuah Roman Epic Pencerahan Jiwa Manusia, IRCiSoD, Yogyakarta.
8. Utarini, A. (2006) Modul Mata Kuliah Metode Penelitian Kualitatif, MPPK Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
9. Sudrajat, S. (2003) Peranan Anjing Gladak Sebagai Reservoar Rabies pada Beberapa Daerah Enzootic di Indonesia, Media Kedokteran Hewan, Vol. 19, 2: 44–
49.
10. Mantra, I. B. (1997) Strategi Penyuluhan Kesehatan Masyarakat. Depkes R.I. Pusat Kesehatan Masyarakat. Jakarta
11. Nasution, A. (1995) Dampak Penyakit Rabies terhadap Kesehatan Masyarakat dan lingkungannya, FKM, Universitas Sumatera Utara.
12. Walgito, B. (2004) Pengantar Psikologi Umum. Ed.!V, Andi Offset , Yogyakarta 13. Green, L.W., and Kreuter, M.W., (2005). Health Program Planning, An Educational
and Ecological Approach, Fourth Edition, Rollins School of Public Health of Emory University,: Published by McGraw-Hill, a bussines unit of The McGraw-Hill Companies, Inc., New York.
14. KepMenTan, (2008), Pernyataan tentang Berjangkitnya Wabah Penyakit Anjing Gila (rabies) di Kabupaten Badung, Bali. Deprtemen Pertanian Republik Indonesia.
15. Maroef, S. (1994) Pengaruh Perilaku Masyarakat dalam Penanganan Anjing Peliharaannya terhadap Tingkat Keberhasilan Pelaksanaan Program Pemberantasan Rabies, Buletin Penelitian Kesehatan Volume 22, Nomor 2 Tahun 1994, Jakarta.
16. Ganefa, S. (2001) Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Ketidakpatuhan Pemilik Anjing Memberikan Vaksinasi Rabies pada Anjing di Kotip Cimahi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat tahun 2000, Program Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat, Program Studi Epidemiologi Kekhususan Lapangan, Universitas Indonesia, Jakarta.
17. Sarosa, A., Adjid, T., Sidharta., Jalaludin (2000) Studi Penyakit Rabies di Daerah Endemik: Prevalensi Infeksi Virus Rabies pada Anjing, Kucing dan Tikus di Kodya Padang, Sumatera Barat.
18. Soeharsono, (2002) Zoonosis Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia, Cetakan V, Kanisius, Yogyakarta.
19. Muzaham, (1995) Sosiologi Kesehatan, Jakarta, UI Press
20. Indrawijaya., Adam, I. (1999) Perilaku Organisasi, Cetakan ke-5. Penerbit Sinar Baru Bandung.
21. Morton, Green, B., Gottlieb. (1995) Introduction to health Education and Health promotion. Second edition. Ilinois; Waveland press. Inc.
22. Mula, A.S., Polycarpe, M.Y., Ayub, J., Sisiya, S. (2009) Association between Material Use of Traditional Healer Servise and Child Vaccination Coverage in Pont Sonde, Haiti. International journal for Equity in Health 2009, 8.1,pp.1-8.
23. Depkes, (2000) Petunjuk perencanaan dan penatalaksanaan kasus gigitan hewan penular tersangka rabies di Indonesia, Dirjen P2MPL Jakarta
24. Foster, A. (2008) Antropologi Kesehatan, Universitas Indonesia Press. Jakarta 25. Lefevre, F., Lefevre, A.M.C., Scandar, Yessumaro. 92004) Social representation of
the relationship between plant vases and the dengue vector. Rev. Saude Publica.38(3).(Internet) Tersedia dalam www.usp.br/rsp.
26. Soetomo, (2010) Strategi Pembangunan Masyarakat, Cetakan III, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
27. Soetrisno, L. (1995) Menuju Masyarakat Partisipatif, Penerbit Kanisius, Yogyakarta 28. Spradley, J.P. (2007) Metode Etnografi, Penerbit Tiara Wacana, Yogyakarta.