• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KEPUASAN SISWA SMP NEGERI 8 SURAKARTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS KEPUASAN SISWA SMP NEGERI 8 SURAKARTA"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KEPUASAN SISWA SMP NEGERI 8 SURAKARTA TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR

YANG DILAKUKAN OLEH GURU- GURU YANG TELAH TERSERTIFIKASI

TAHUN 2011/2012

Oleh:

SRI CAHYONO K 7407205

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA Juli 2012

(2)

PERYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Sri cahyono

Nim : K 7407205

Jurusan/Program Studi : Pendidikan Tata Niaga

Menyatakan bahwa skripsi saya berjudul “ANALISIS KEPUASAN SISWA SMP NEGERI 8 SURAKARTA TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR YANG DI LAKUKAN OLEH GURU- GURU YANG TELAH TERSERTIFIKASI TAHUN 2011/2012”ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri. Selain itu, sumber informasi yang dikutip dari tulisan lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka.

Apabila pada kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan saya.

Surakarta 27 Juli 2012 Yang membuat pernyataan

Sri cahyono

(3)

ANALISIS KEPUASAN SISWA SMP NEGERI 8 SURAKARTATERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR

YANG DILAKUKAN OLEH GURU- GURU YANG TELAH TERSERTIFIKASI

TAHUN 2011/2012

Oleh:

SRI CAHYONO K 7407205

Skripsidiajukan untuk memenuhi syarat mendapatkanGelarSarjana Pendidikan Program Studi PendidikanEkonomiBidang Keahlian

KhususPendidikan Tata NiagaJurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan

Sosial

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA Juli 2012

(4)

PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Surakarta, 27 Juli 2012

Pembimbing I Pembimbing II

Dra. Sri Wahyuni, M. M LenyNoviani,S. Pd, M.Si NIP 19540817 198203 2 001 NIP. 19790311 200501 2 001

(5)

PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret dan diterima untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.

Hari : Senin Tanggal : 30 Juli 2012

Tim Penguji Skripsi

Nama Terang Tanda Tangan

Ketua : Drs. Sunarta, MM 1. __________

Sekretaris : Dra. Dewi Kusuma Wardani, M. Si 2. __________

Anggota I : Dra. Sri Wahyuni M. M 3. __________

Anggota II : Leny Noviani, S. Pd, M. Si 4. __________

Disahkan oleh:

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

Surakarta a.n. Dekan Pembantu Dekan I

Prof.Dr. rer.nat Sajidan,M.Si NIP 19660415 199103 1 002

(6)

ABSTRAK

Sri cahyono.ANALISIS KEPUASAN SISWA SMP NEGERI 8 SURAKARTA TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR YANG DI LAKUKAN OLEH GURU- GURU YANG TELAH TERSERTIFIKASI TAHUN 2011/2012.Skripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Juli 2012.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) bagaimanakah tingkat kepuasan siswa terhadap proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru- guru yang sudah tersertifikasi di SMP N 8 Surakarta tahun 2011/2012, (2) atribut- atribut apakah yang memberikan kepuasan kepada siswa dalam proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru- guru yang sudah tersertifikasi SMP N 8 Surakarta tahun 2011/2012.

Jenis penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data berupa kuesioner. Populasi penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 8 Surakarta tahun 2011/2012 yang berjumlah 659 siswa. Penelitian ini mengambil sampel sebanyak 25% atau (165 siswa) dari jumlah populasi. Try out yang dilakukan terhadap 30 responden didalam populasi, dengan hasil valid dan reliabel. Adapun teknis analisis data yang digunakan adalah teknik IPA (Importance Performance Analysis).

Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) siswa merasa belum puas dengan kinerja yang mereka terima karena tingkat kinerja yang diberikan oleh guru- guru yang telah tersertifikasi di SMP Negeri 8 Surakarta belum sesuai dengan kepentingan siswa. Hal ini tercermin dari hasil analisis kesesuaian antara tingkat kinerja dengan tingkat kepentingan siswa yang memberikan hasil sebesar 89, 13%, (2) atribut-atribut yang memberikan kepuasan kepada siswa atas kualitas jasa pelayanan pendidikan di SMP Negeri 8 Surakarta tahun 2011/2012 ada 19 atribut dari 39 atribut. Ke 19 (sembilan belas) atribut tersebut adalah: pemberian nilai oleh guru sesuai dengan hasil belajar siswa; guru memberikan contoh sikap yang baik dalam menyampikan meteri kepada siswa; kemampuan guru dalam membantu mengembangkan potensi siswa; kemampuan guru menyediakan berbagai kegiatan pembelajaran untuk mendorong prestasi siswa secara optimal;

kemampuan guru menyediakan berbagai kegiatan pembelajaran untuk mendorong kreatifitas siswa; kemampuan guru menggunakan media pembelajaran yang memudahkan siswa memahami materi; pemilihan cara berkomunikasi yang tepat dan efektif dalam setiap menyampaikan materi kepada siswa; guru berperilaku sopan dalam berinteraksi kepada siswa dan masyarakat; guru selalu berkata jujur dalam berkomunikasi kepada siswa; guru selalu memberikan solusi terbaik dalam setiap permasalahan yang di alami peserta didik; guru selalu memuaskan dalam memberikan jawaban tentang materi yang belum di mengerti peserta didik, penyampaian materi oleh guru mudah diterima dan dipahami oleh peserta didik, perhatian guru yang diberikan secara merata kepada semua siswa tanpa

(7)

memandang status sosial dan lain- lainya; perhatian guru untuk menyampaikan materi dengan kalimat yang mudah dipahami siswa; guru memanfaatkan fasilitas pendukung (papan tulis, gambar, dan alat peraga) yang telah tersedia di kelas, guru selalu berpakaian sopan dan rapi dalam setiap kali mengajar di kelas; guru selalu memberikan solusi terbaik dalam setiap permasalahan yang di alami peserta didik; guru mendorong siswa untuk selalu menjaga kebersihan di kelas, serta optimalisasi guru dalam penggunaan media pembelajaran yang berbasis IT (komputer, LCD, internet) untuk meningkatkan kualitas mengajar.

Kata Kunci: Proses Belajar Mengajar, Kepuasan Siswa, Sertifikasi guru

(8)

ABSTRAK

Sri cahyono.THE ANALYSIS OF STUDENTS SATISFACTION IN SMP NEGERI 8 SURAKARTA TOWARDSTEACHING LEARNING PROCESSBY CERTIFIEDTEACHERS IN THE YEAR OF 2011/2012.Thesis.Teacher Training and Education Faculty. Sebelas Maret University. July 2012.

This study aims to identify (1) how is the students satisfaction towardsteaching learning processthat was done by the certified teachers in SMP N 8 Surakarta in the year of 2011/2012, (2) What attributes do satisfy the studentsin the teaching learning processthat was done by the certified teachers in SMP N 8 Surakarta in the year of 2011/2012.

This study was a descriptive quantitative research by using questionnaire as the technique of the date collecting. The populations of this study were the 659 students of SMP Negeri 8 Surakarta in the academic year of 2011/2012. The sample of this study was 25% (165 students) of the population. The try out test was conducted to the 30 respondents of the population. The result was valid and reliable. The technique of the data analysis was IPA (Importance Performance Analysis) technique.

The research result shows that (1) the students were not satisfied by the work of certified teachers in SMP Negeri 8 Surakarta. It was not appropriate with the students’ needs. It can be seen from the result of the appropriateness analysis of the work grade with the students’ satisfaction grade that resulted 90,46% (2) there are 19 attributes of 39 attributes that give satisfaction to the students towards the quality of education service in SMP Negeri 8 Surakarta in the year of 2011/2012. Those 19 attributesare: the score given by the teachers was suitable with the students’ study result; the teachers show good performance in teaching the materials to the students; teachers’ skill in helping the students to improve studens’ potential; teachers’ skill in conducting various teaching learning activities to support students achievement optimally; teachers’ skill in helping the students to improve studens’ potential; teachers’ skill in conducting various teaching learning activitiesthat support students’ creativity; teachers’ skill in using the learning media that enable the students to understand the materials; the communication way of teachers in conveying the materials to the students properly and effectively; the teachers behave politely in interaction with the students and the society; the teachers always speak honestly when they communicate with the students; the teachers give the best solution to every single students’ problem; the teachers always satisfy the students in giving the answers of the materials have not been understood by them; material conveying by the teachers is acceptable and understandable for the students; the teachers give good attention to all students without considering students’ social status and the other else; the teachers convey the materials by using the sentences that are easily understood by the students; the teachers use the supporting media (white board, pictures, and visual aids) in the class; the teachers wear politely and neatly when they teach in the class; the teachers always support the students to keep the class

(9)

clean; and the teachers always optimize the based IT learning media (computer, LCD, internet) to improve the quality of teaching.

MOTTO

“Man Jadda Wajada”

“Jadilah diri sendiri untuk menemukan kebahagiaan sejati”

(Penulis)

” Selalu ada proses dalam meraih impian.

Bekerja Lebih keras,sabar,& tetap berkarya.”

(Penulis)

Setiap manusia akan selalu mencari satu titik kebahagian dalam hidup, titik itu hanyalah Kepasrahan dan ke takwaan kepada Allah SWT.

(Penulis)

(10)

HALAMAN PERSEMBAHAN

Ku persembahkan karya ini untuk:

Bapak SETIYAWAN dan Ibu SUMARMI terimakasih atas pengorbanan kasih sayang dan doa kalian, adiku BAYU DIAN AJI beserta kerabatku.

Sahabat Takmir Masjid Nurul Huda, JN UKMI UNS 10 Terimakasih, kalian telah memberi banyak warna dalam hidupku.

Sahabat Perjuangan Counter “T&C corporation” dan CareerDevelopmentCenter Universitas Sebelas Maret Surakarta

Sahabat PTN 07 almamater

(11)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya serta dengan usaha keras, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Tata Niaga Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tulus dan penghargaan yang tinggi kepada semua pihak yang telah membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung hingga selesainya skripsi ini. Ucapan terima kasih dan penghargaan penulis haturkan kepada:

1. Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan ijin dalam rangka mengadakan penelitian guna penyusunan skripsi ini.

2. Drs. Saiful Bachri, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah menyetujui atas permohonan ijin penyusunan skripsi ini.

3. Dr. Wiedy Murtini, M.Pd selaku Ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah menyetujui atas permohonan ijin penyusunan skripsi ini.

4. Dra. Sri Wahyuni, M. M., selaku Ketua BKK Pendidikan Tata Niaga Program Pendidikan Ekonomi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan juga selaku Pembimbing I yang telah memberikan pengarahan,masukan, dorongan, bimbingan dan ijin dalam penyusunan skripsi ini.

(12)

5. Leny Noviani, S. Pd, M. si., selaku Pembimbing II yang dengan arif dan bijak dalam memberikan masukan, dorongan, bimbingan dan pengarahan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

6. Dosen Prodi Ekonomi BKK PTN yang telah memberi bekal ilmu pengetahuan sehingga dapat menunjang terselesainya skripsi ini.

7. Tim penguji skripsi yang telah menyediakan waktu dan tenaga untuk menguji penulis, sehingga penulis dapat melaksanakan ujian skripsi guna menyelesaikan studi di bangku kuliah.

8. Nugroho, S. Pd, M. Pd , selaku Kepala SMP Negeri 8 Surakarta yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian.

9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini

Segala kritik dan saran sangat penulis harapkan dari pembaca guna dapat memperbaiki penulisan yang akan datang. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan dunia pendidikan.

Surakarta, 27 Juli 2012

Penulis

(13)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERNYATAAN ... ii

HALAMAN PENGAJUAN ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iv

HALAMAN PENGESAHAN ... v

HALAMAN ABSTRAK ... vi

HALAMAN MOTTO ... ix

HALAMAN PERSEMBAHAN ... x

KATA PENGANTAR ... xi

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR GAMBAR... xvii

DAFTAR TABEL ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Perumusan Masalah ... 3

C. Tujuan Penelitian ... 3

D. Manfaat Penelitian ... 4

1. Manfaat Teoritis ... 4

2. Manfaat Praktis ... 4

BAB II. KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan ... 5

1. TinjauanTentang Jasa ... 5

a. Pengertian Jasa ... 5

b. Karakteristik Jasa ... 5

2. Tinjauan Tentang Jasa Pendidikan ... 6

Pengertian Jasa Pendidikan ... 6

3. Tinjauan Tentang Kualitas Pelayanan ... 8

a. Pengertian Kualitas Pelayanan ... 8

(14)

b. Kualitas Jasa Pelayanan ... 9

4. Tinjauan Tentang Kepuasan ... 11

a. Pengertian Kepuasan ... 11

b. Pengukuran Kepuasan Pelanggan ... 11

5. Tinjauan Tentang Sertifikasi Guru ... 13

a. Sertifikasi Guru ... 13

b. Tujuan Sertifikasi Guru ... 14

c. Manfaat Sertifikasi Guru... 15

d. Prinsip Sertifikasi Guru ... 16

6. Tinjauan Tentang Proses belajar mengajar... 18

a. Pengertian Proses belajar mengajar ... 18

b. Metode Pembelajaran ... 19

c. Pengertian Belajar ... 20

d. Unsur Dinamis Dalam Beajar ... 21

7. Tinjauan Tentang Kompetensi Guru... 23

a. Kompetensi Paedagogik ... 23

b. Kompetensi Kepribadian ... 24

c. Kompetensi profesional ... 24

d. Kompetensi Sosial ... 24

B. Penelitian yang Relevan ... 25

C. Kerangka Pemikiran ... 26

D. Divinisi Operasional ... 28

BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 31

1. Tempat Penelitian ... 31

2. Waktu Penelitian ... 31

B. Rancangan/ Desain Peelitian ... 31

C. Populasi dan Sampel ... 32

1. Populasi ... 32

2. Sampel... 33

D. Teknik Pengambilan Sampel ... 34

(15)

E. Pengumpulan Data ... 36

1. Sumber Data ... 36

2. Metode Pengumpulan Data ... 36

a. Teknik Dokumentasi... 37

b. Pengertian Angket atau Kuesioner... 37

3. Macam- macam Angket atau Kuesioner ... 37

4. Syarat- syarat Penulisan Kuesioner yang Baik ... 38

F. Validasi Instrumen Penelitian ... 39

G. Analisis Data ... 40

1. Mencari harga Kesesuaian (Dengan Analisis IPA) ... 40

2. Diagram Kartesius ... 42

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data ... 43

1. Atribut Keandalan ... 43

2. AtributKetanggapan ... 45

3. Atribut Kepastian ... 46

4. Atribut Empati ... 48

5. Atribut Berwujud ... 49

B. Pegujian Persyaratan Analisis... 51

1. Tingkat Kesesuaian Setiap Atribut ... 51

a. Atribut Keandalan ... 51

b. Atribut Ketanggapan... 52

c. Atribut Kepastian ... 53

d. Atribut Empati ... 54

e. Atribut Berwujud... 55

C. Pengujian Hipotesis ... 56

1. Tingkat kesesuaian Total ... 56

2. Analisis dalam Diagram Kartesius ... 57

3. Pembahasan Hasil Analisis Data ... 62

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Simpulan ... 67

(16)

B. Implikasi ... 68 C. Saran ... 68 DAFTAR PUSTAKA ... 70

(17)

LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1Kerangka Berpikir ... 27

Gambar 3.1Diagram Kartesius ... 42

Gambar 4.1Grafik Histogram Data Atribut Kinerja Keandalan ... 44

Gambar 4.2Grafik Histogram Data Atribut Kepentingan Keandalan ... 44

Gambar 4.3Grafik Histogram Data Atribut Kinerja Ketanggapan ... 45

Gambar 4.4Grafik Histogram Data Atribut Kepentingan Ketanggapan ... 46

Gambar 4.5Grafik Histogram Data Atribut Kinerja Kepastian ... 47

Gambar 4.6Grafik Histogram Data Atribut Kepentingan Kepastian ... 47

Gambar 4.7Grafik Histogram Data Atribut Kinerja Empati ... 48

Gambar 4.8Grafik Histogram Data Atribut Kepentingan Empati ... 49

Gambar 4.9Grafik Histogram Data Atribut Kinerja Berwujud ... 50

Gambar 4.10 Grafik Histogram Data Atribut Kepentingan Berwujud ... 50

Gambar 4.11 Hasil Pemetaan Diagram Kartesius ... 57

(18)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 4.1Hasil Deskriptif Statistik Atribut Keandalan ... 43

Tabel 4.2Hasil Deskriptif Statistik Atribut Ketanggapan ... 45

Tabel 4.3Hasil Deskriptif Statistik Atribut Kepastian ... 46

Tabel 4.4Hasil Deskriptif Statistik Atribut Empati ... 48

Tabel 4.5Hasil Deskriptif Statistik Atribut Berwujud ... 49

(19)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1. Tabel Matriks Spesifikasi Data ... 72 Lampiran 2. Kuesioner Penelitian ... 76 Lampiran 3. Tabel Nilai Try Out Kuesioner Atribut Kinerja (X)... 82 Lampiran 4. Tabel Uji Validitas dan Reliabilitas Try Out Kuesioner Atribut

Kinerja (X) ... 84 Lampiran 5. Tabel Nilai Try Out Kuesioner Atribut Kepentingan (Y) ... 86 Lampiran 6. Tabel Uji Validitas dan Reliabilitas Try Out Kuesioner Atribut

Kepentingan (Y) ... 88 Lampiran 7.Tabulasi Data Hasil Penyebaran Kuesioner Atribut

Kinerja (X) ... 90 Lampiran 8. Tabulasi Data Hasil Penyebaran Kuesioner Atribut

Kepentingan (Y) ... 95 Lampiran 9.Tabel Tabulasi Atribut Kinerja (X) dan Harapan (Y) ... 100 Lampiran 10.Perhitungan Tingkat Kesesuaian Per Item Atribut Keandalan

(reliability) ... 103 Lampiran 11.Perhitungan Tingkat Kesesuaian Per Item Atribut Ketanggapan

(responsiveness) ... 106 Lampiran 12. Perhitungan Tingkat Kesesuaian Per Item Atribut Kepastian

(assurance) ... 109 Lampiran 13. Perhitungan Tingkat Kesesuaian Per Item Atribut Empati

(emphaty) ... 112 Lampiran 14. Perhitungan Tingkat Kesesuaian Per Item Atribut Berwujud

(tangible) ... 114 Lampiran 15. Tabel Skor Rata-rata Tingkat Kinerja (X) dan Tingkat

Kepentingan (Y) ... 117 Lampiran 16. Total Skor Penilaian Siswa Akselerasi Terhadap Tingkat

Kepentingan dan Kinerja Serta Rata-Rata Kepentingan

dan Kinerja ... 119

(20)

Lampiran 17. Tingkat Kesesuaian dan Prioritas Atribut Kualitas Jasa

Pelayanan Pendidikan ... 122 Lampiran 18. Surat Permohonan Penyusunan Skripsi kepada Dekan FKIP

UNS ... 124 Lampiran 19. Surat Keputusan Menyusun Skripsi dari Dekan FKIP UNS .... 125 Lampiran 20. Surat Keterangan Ijin Penelitian kepada Kepala SMA Negeri

1 Surakarta ... 126 Lampiran 21. Surat Keterangan telah Melakukan Penelitian dari Kepala

SMA Negeri 1 Surakarta ... 127 Lampiran 22. Profil Program Akselerasi SMA Negeri 1 Surakarta Tahun

Pelajaran 2009-2010 ... 128

(21)

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Guru profesional harus memenuhi kompetensi sebagai agen pembelajaran yang meliputi kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional dibuktikan dengan sertifikat pendidik yang diperoleh melalui uji kompetensi. Uji kompetensi guru tersebut dapat diperoleh oleh seorang guru manakala sudah dinyatakan lulus dalam penilaian portofolio melalui program sertifikasi atau PLPG.

Sebagai salah satu bentuk implementasi kebijakan sertifikasi guru tersebut, mulai tahun 2007 dilaksanakan sertifikasi bagi guru dalam jabatan melalui penilaian portofolio didasarkan pada Permendiknas Nomor 18 Tahun 2007 yang diselenggarakan di 31 Rayon LPTK (SK Mendiknas No. 122/P/2007). Tahun 2009 pelaksanaan sertifikasi bagi guru dalam jabatan didasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang guru dan Permendiknas Nomor 10 Tahun 2009, diselenggarakan di 46 Rayon LPTK penyelenggara (SK Mendiknas No. 022/P/2009).

Sertifikasi guru diikuti dengan peningkatan kesejahteraan guru. Bentuk peningkatan kesejahteraan tersebut berupa pemberian tunjangan profesi bagi guru yang memiliki sertifikat pendidik dan memenuhi persyaratan lain sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tunjangan tersebut berlaku baik bagi guru yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) maupun bagi guru yang berstatus bukan pegawai negeri sipil. Dengan demikian sebagai tenaga profesional, guru diharapkan dapat meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran dan berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Sertifikasi guru sebagai upaya peningkatan mutu tenaga kependidikan diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan mutu pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan.

Program sertifikasi yang dilaksanakan pemerintah dalam pelaksanaannya masih banyak membutuhkan perbaikan dan kontrol dari semua pihak baik Pemerintah, lembaga pendidikan terkait, dan masyarakat agar tujuan awal terbentuknya program sertifikasi dapat tercapai dengan optimal. Masih terdapat

(22)

guru-guru dengan adanya program sertifikasi tidak mengalami perkembangan dalam memberikan jasa pembelajaran kepada para siswa karena hal yang ingin di raih dalam program sertifikasi hanyalah kenaikan kesejahteraan semata dan setelah terpenuhi tidak sedikit yang kemudian kembali dengan kualitas awal sebelum adanya program sertifikasi.

Berkaitan dengan realitas proses sertifikasi guru banyak pihak dari praktisi pendidikan maupun lembaga sosial masyarakat yang berusaha mencari informasi tentang hasil dari program sertifikasi sehingga dapat mengetahui kondisi yang ada dalam lembaga pendidikan. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di SMP Negeri 8 Surakarta menunjukan bahwa SMP Negeri 8 Surakarta merupakan salah satu sekolah yang sebagian besar gurunya sudah lulus sertifikasi. Sebanyak 47 guru yang ada, terdapat 30 guru yang telah lulus sertifikasi yang harapannya guru- guru tersebut dituntut tidak hanya menawarkan jasa dalam bentuk fisik tetapi juga melayani siswa secara lebih profesional. Strategi yang dapat dipergunakan adalah dengan merancang produk atau layanan jasa pelayanan pendidikan yang prima yaitu didukung oleh tenaga pengajar yang kompeten dibidangnya dan didukung oleh fasilitas fisik yang memadai.

Mengingat kepuasan siswa merupakan peran yang cukup strategis dalam kelangsungan proses belajar mengajar, maka akan dilakukan penelitian terhadap faktor-faktor yang diduga mempengaruhi kepuasan siswa di SMP Negeri 8 Surakarta. J. Supranta (2001: 13) mengemukakan bahwa ”lima dimensi mutu pelayanan adalah: dapat diraba (tangibles), andal (reliability), ketanggapan (responsiveness), jaminan (assurance) dan empati (empathy)”.

Siswa bisa menilai kualitas jasa pelayanan yang diberikan karena kualitas jasa pelayanan dimulai dari kebutuhan pelanggan yaitu kebutuhan siswa dan berakhir pada persepsi siswa itu sendiri karena siswalah yang mengkonsumsi dan menikmati jasa pelayanan pendidikan yang diberikan oleh guru-guru SMP Negeri 8 Surakarta. Berdasarkan latar belakang yang telah diuaraikan di atas, maka penulis ingin mengadakan penelitian dengan judul:

(23)

3

“ANALISIS KEPUASAN SISWA SMP NEGERI 8 SURAKARTA TERHADAP PROSES BELAJAR MPENGAJAR YANG DI LAKUKAN OLEH GURU- GURU YANG TELAH TERSERTIFIKASI TAHUN 2011/2012”

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

Bagaimana tingkat kepuasan siswa dalam proses belajar mengajar yang dilakukan guru-guru yang sudah tersertifikasi di SMP Negeri 8 Surakarta tahun 2011/2012?

C. Tujuan Penilitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui tingkat kepuasan siswa dalam proses belajar mengajar yang dilakukan guru-guru yang sudah tersertifikasi di SMP Negri 8 Surakarta tahun 2011/2012.

2. Untuk mengetahui atribut-atribut yang memberikan kepuasan kepada siswa dalam proses belajar mengajar yang dilakukan guru-guru yang sudah tersertifikasi di SMP Negri 8 Surakarta tahun 2011/2012.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian yang diperoleh diharapkan dapat memberikan manfaat bagi dunia pendidikan, baik yang berupa manfaat teoritis maupun manfaat praktis, yaitu:

1. Manfaat Teoritis.

Manfaat teoritis dalam penelitian ini adalah memberikan sumbangan dan wawasan yang berarti bagi pengembangan dalam dunia pendidikan khususnya mengenai kualitas jasa pelayanan pendidikan yang dilakukan oleh guru-guru yang sudah tersertifikasi.

2. Manfaat Praktis.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

a. Bagi Peneliti :

1) Untuk memecahkan masalah yang diteliti.

(24)

2) Memberikan wawasan kepada mahasiswa terkait proses pembelajaran guru yang sudah tersertifikasi

b. Bagi Guru:

1) Menyajikan sebuah informasi terkait kondisi kepuasan pembelajaran siswa sehingga guru dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.

2) Membangkitkan kinerja guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.

c. Bagi Siswa

Meningkatkan kompetensi belajar siswa dengan perbaikan pembelajaran dan peningkatan mutu proses pembelajaran.

d. Bagi Sekolah

1) Menyusun program peningkatan kualitas pembelajaran pada tahap berikutnya.

2) Mengetahui tingkat kepuasan siswa terhadap jasa pelayanan pendidikan yang dilakukan guru SMP Negeri 8 Surakarta yang telah tersertifikasi sehingga pihak sekolah dapat melakukan tindakan perbaikan atas setiap atribut jasa pelayanan pendidikan yang dianggap kurang memuaskan siswa.

3) Bagi sekolah dengan adanya penelitian ini dapat memberi data yang bermanfaat bagi pengembangan pelaksanaan program sertifikasi guru yang sedang dirintis.

(25)

5 BAB II KAJIAN PUSTAKA

Landasan teori dalam suatu penelitian berisi pengkajian terhadap pengetahuan ilmiah yang sudah ada. Pengkajian dapat berbentuk asumsi dan konsep dalam lingkup studi yang akan diteliti.

A. Kajian teori dan hasil penelitian yang relevan

Dalam pengkajian variabel-variabel penelitian diperlukan teori-teori yang relevan dimana teori-teori tersebut dikaji dalam tinjauan pustaka. Tinjauan pustaka pada dasarnya merupakan pengkajian terhadap pengetahuan tentang konsep-konsep, hukum-hukum, dan prinsip-prinsip yang relevan dengan permasalahan. Dilihat dari penelitian ini, maka tinjauan pustaka yang dikaji adalah sebagai berikut:

1. Tinjauan Tentang Jasa a. Pengertian Jasa

Menurut Fandy Tjiptono (2006: 6) mengatakan bahwa “Jasa merupakan aktivitas manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual”. Selanjutnya menurut J. Supranto (2006: 227) berpendapat bahwa “Jasa merupakan suatu kinerja penampilan, tidak berwujud dan cepat hilang, lebih dapat dirasakan daripada dimiliki, serta pelanggan lebih dapat berpartisipasi aktif dalam proses mengkonsumsi barang tersebut”. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa jasa adalah suatu tindakan atau kegiatan yang ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain yang pada hakekatnya jasa tersebut tidak berwujud.

b. Karakteristik Jasa

Menurut Fandy Tjiptono (2006) jasa memiliki 4 karakteristik pokok yang membedakannya dengan barang yaitu:

1) Tidak Berwujud (Intangibility)

Jasa bersifat intangible, artinya tidak dapat dilihat, diraba, dirasa atau dicium sebelum jasa tersebut dibeli dan dikonsumsi. Konsep intangible pada jasa memiliki 2 pengertian (Berry dalam Enis dan Cox, 1988), yaitu:

a) Sesuatu yang tidak dapat disentuh dan tidak dapat dirasa.

(26)

b) Sesuatu yang tidak mudah didefinisikan dan diformulasikan atau dipahami secara rohaniah.

Dalam hal ini untuk mengurangi ketidakpastian dalam hubungannya dengan karakteristik tidak berwujud, maka konsumen akan memperhatikan tanda-tanda atau bukti kualitas jasa tersebut. Konsumen akan menyimpulkan kualitas jasa berdasarkan tempat (place), orang (people), peralatan (equipment), bahan komunikasi (communication material), simbol dan harga.

2) Tidak Dapat Dipisahkan (Inseparatibility)

Proses memproduksi dan konsumsi jasa terjadi dalam waktu yang bersamaan. Dalam hal ini interaksi antara penyedia jasa dengan konsumen merupakan ciri khusus dalam pemasaran jasa dan akan mempengaruhi hasil (outcome) jasa tersebut.

3) Keberagaman (Variability)

Jasa banyak memiliki variasi bentuk, kualitas dan jenis tergantung pada siapa, kapan, dimana jasa tersebut dihasilkan serta penerima jasa dan kondisi dimana jasa tersebut diberikan.

4) Tidak Tahan Lama (Perishability)

Jasa merupakan komoditas yang tidak tahan lama, tidak dapat disimpan, meskipun demikian ada pengecualian dalam karakteristik ini.

Dalam kasus tertentu jasa dapat disimpan yaitu dalam bentuk pemesanan (reservasi tiket pesawat dan kamar hotel), peningkatan permintaan akan suatu jasa pada saat permintaan sepi (misalnya minivacation weekends dihotel-hotel tertentu) dan penundaan jasa (misal: asuransi).

2. Tinjauan Tentang Jasa Pendidikan a. Pengertian Jasa Pendidikan

Menurut Suprijanto (2007: 6) mengatakan bahwa ”Pendidikan adalah proses yang berisi berbagai macam kegiatan yang sesuai dengan kegiatan seseorang untuk kehidupan sosialnya dan membantu kebiasaan dan kebudayaan serta kelembagaan sosial dari generasi ke generasi”. Selanjutnya menurut U.

Sihombing (2002: 10) mengungkapkan bahwa “Pendidikan adalah memanusiakan

(27)

7

manusia muda”. Pengangkatan manusia muda ke taraf insani inilah yang menjelma dalam perbuatan mendidik. Jadi, mendidik tidak hanya mentranfer ilmu saja tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral pada peserta didik. Menurut Zain Badudu (1994: 342) mengatakan bahwa “Pendidikan adalah proses mengubah sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (proses; perbuatan; cara mendidik)”.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat dilihat pokok penting pendidikan yaitu: 1) pendidikan adalah proses pembelajaran, 2) pendidikan adalah proses sosial, 3) pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, 4) pendidikan berusaha mengubah/mengembangkan kemampuan, sikap, dan perilaku yang positif, 5) pendidikan merupakan perbuatan/kegiatan sadar dan terarah. Jadi dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah proses sosial dalam memanusiakan manusia melalui pembelajaran yang dilakukan dengan sadar, baik secara terencana maupun tidak. Proses pendidikan bukan hanya apa yang disebut dengan transfer of knowledge, transfer of value, transfer of skill, melainkan keseluruhan kegiatan yang dapat memanusiakan manusia sehingga menjadi individu yang mampu mengembangkan dirinya dalam menghadapi dan memecahkan berbagai permasalahan dalam kehidupannya.

Menurut Fandy Tjiptono (1996 : 59) menyatakan bahwa ”kualitas jasa pelayanan adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan/ siswa”. Jasa merupakan suatu tindakan atau kegiatan yang ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain yang pada hakekatnya jasa tersebut tidak berwujud. Jasa ini bisa dinikmati tetapi keluarannya tidak dapat dilihat dan diraba. Dengan demikian, jelas bahwa pendidikan dapat dikategorikan sebagai suatu lembaga yang termasuk dalam kategori pemberi pelayanan jasa sehingga kinerjanya dapat terlihat dari mutu pelayan yang dilakukannya. Jadi, lembaga pendidikan dapat dikategorikan sebagai lembaga pemberi jasa kepada para konsumen, dalam hal ini siswa.

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa jasa pelayanan pendidikan adalah suatu tindakan atau kegiatan yang ditawarkan oleh lembaga

(28)

pendidikan (sekolah) kepada siswanya yang pada hakekatnya jasa tersebut tidak berwujud untuk memenuhi kebutuhan siswa. Jasa tersebut akan dapat dinikmati atau dirasakan bersamaan dengan kegiatan jasa tersebut berlangsung. Dalam penelitian ini tingkat kualitas jasa pendidikan adalah jasa yang diberikan oleh guru SMP Negeri 8 Surakarta untuk memenuhi kebutuhan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran.

3. Tinjauan Tentang Kualitas Pelayanan a. Pengertian Kualitas Pelayanan

Menurut Goetsch Davis yang dikutip oleh Zulian Yamit (2005: 8) mengatakan bahwa “Kualitas merupakan kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan”. Selanjutnya menurut Endar Sugiarto (1999: 39) mengungkapkan bahwa “Kualitas atau mutu dalam industri jasa pelayanan adalah suatu penyajian produk atau jasa sesuai ukuran yang berlaku di tempat produk tersebut diadakan dan penyampaiannya setidaknya sama dengan yang diinginkan dan diharapkan oleh konsumen”. Berdasarkan uraian kedua pengertian kualitas di atas dapat dirumuskan bahwa kualitas merupakan kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang penyajian produk atau jasa sesuai ukuran yang berlaku di tempat produk tersebut diadakan yang penyampaiannya diinginkan dan diharapkan oleh konsumen.

Suatu mutu atau kualitas disebut sangat baik jika penyedia jasa memberikan pelayanan yang melebihi harapan pelanggan. Mutu atau kualitas disebut baik jika penyedia jasa memberikan pelayanan yang setara dengan yang diharapkan oleh pelanggan. Sedangkan mutu disebut jelek jika pelanggan memperoleh pelayanan yang lebih rendah dari harapannya. Dengan demikian, pencapaian kepuasan pelanggan memerlukan keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan (need and want) dan apa yang diberikan (gived).

Pengertian pelayanan menurut Endar Sugiarto (1999: 36) mengungkapkan bahwa “Pelayanan adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan orang lain (konsumen, pelanggan, tamu, klien, pasien, penumpang dan

(29)

9

lain-lain) yang tingkat pemuasannya hanya dapat dirasakan oleh orang yang melayani maupun yang dilayani”. Dalam hal ini terjadi komunikasi batin antara kedua belah pihak, dan kepuasan yang diperoleh bergantung pada situasi saat terjadinya interaksi pelayanan tersebut. Jika dalam upaya saling memuaskan tersebut tidak terjadi hubungan timbal balik dan berkesinambungan maka pada interaksi berikutnya akan terhambat. Dengan demikian secara umum dapat diartikan bahwa kualitas atau mutu pelayanan merupakan tindakan seseorang terhadap orang lain melalui penyajian produk atau jasa sesuai dengan ukuran yang berlaku pada produk atau jasa tersebut untuk memenuhi kebutuhan keinginan dan harapan orang yang dilayani.

b. Kualitas Jasa Pelayanan

Sama seperti produk, maka kualitas pelayanan juga merupakan driver kepuasan pelanggan yang bersifat multidimensi.

Menurut Philip Kotler (2001:93) ada lima penentu kualitas jasa, yaitu:

1. Tangible

Penampilan fisik, peralatan, personil, dan materi komunikasi.

2. Reliability

Kemampuan untuk melaksanakan jasa yang telah dijanjikan dengan terpercaya dan akurat.

3. Responsiveness

Kemauan untuk membantu pelanggan dan memberikan jasa dengan cepat.

4. Assurance

Pengetahuan dan kesopanan karyawan dan kemampuan mereka untuk menimbulkan kepercayaan dan keyakinan.

5. Empathy

Kesediaan untuk peduli, memberi perhatian pribadi bagi pelanggan.

Sebagai suatu konsep, kualitas seringkali ditafsirkan dengan beragam definisi, bergantung kepada pihak dan sudut pandang mana konsep itu dipersepsikan. Dengan demikian, arti kualitas pendidikan ini berkenaan dengan

(30)

apa yang dihasilkan dan siapa pemakai pendidikan. Pengertian tersebut merujuk kepada nilai tambah yang diberikan oleh pendidikan, dan pihak-pihak yang memproses serta menikmati hasil-hasil pendidikan.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Munjiati Munawaroh (2000), juga menggunakan kelima indikator kualitas jasa pelayanan diatas pada industri pendidikan, yaitu sebagai berikut:

1) Keandalan (reliability), yaitu kemampuan guru/dosen untuk memberikan jasa sesuai dengan yang dijanjikan, terpercaya, akurat, dan konsisten.

2) Keresponsifan/ketanggapan (responsiveness), yaitu kemauan dari karyawan dan pengusaha/pemilik lembaga untuk membantu pelanggan dan memberikan jasa dengan cepat dan bermakna serta kesediaan mendengar dan mengatasi keluhan yang diajukan konsumen, misalnya penyediaan sarana yang sesuai untuk menjamin terjadinya proses yang tepat.

3) Kepastian (assurance) yaitu berupa kemampuan karyawan untuk menimbulkan keyakinan dan kepercayaan terhadap janji yang telah dikemukakan kepada siswa. Sebagaimana yang tercantum dalam pasal 28 Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005, yang berisi: Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

4) Empati (emphaty), yaitu kesediaan guru/dosen/karyawan dan pengelola untuk lebih peduli memberikan perhatian secara pribadi kepada siswa, misalnya guru/dosen/karyawan atau pengelola harus mencoba menempatkan diri sebagai peserta didik/orang tua/pelanggan. Jika pelanggan mengeluh maka harus dicari solusi untuk mencapai persetujuan yang harmonis dengan menunjukkan rasa peduli yang tulus.

5) Berwujud (tangible), yaitu berupa penampilan fasilitas fisik, peralatan, dan berbagai materi komunikasi. Bukti fisik berdasarkan Peraturan

(31)

11

Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan yang tercantum dalam pasal Pasal 42 bab VII Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan yang berisi sebagai berikut :

a) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

b) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan”.

4. Tinjauan Tentang Kepuasan a. Pengertian Kepuasan

Menurut Oliver (1980) yang dikutip oleh J. Supranto (2006: 233) mengungkapkan bahwa “Kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja/hasil yang dirasakannya dengan harapannya”. Sedangkan menurut Zulian Yamit (2005: 78) berpendapat bahwa “Kepuasan pelanggan merupakan evaluasi purna beli atau hasil evaluasi setelah membandingkan apa yang dirasakan dengan harapannya”. Dalam konsep kepuasan pelanggan, terdapat dua elemen yang mempengaruhi yaitu harapan dan kinerja. Kinerja adalah persepsi konsumen terhadap apa yang ia terima setelah mengkonsumsi produk.

Harapan adalah pikiran konsumen tentang apa yang akan diterimanya apabila ia mengkonsumsi produk. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa kepuasan pelanggan adalah tingkat perasaan seseorang yang merupakan hasil evaluasi setelah membandingkan apa yang dirasakan dengan harapannya.

b. Pengukuran Kepuasan Pelanggan

(32)

Menurut Philip Kotler (1994: 42) mengemukakan beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengukur kepuasan yaitu :

1) Sistem Keluhan dan Saran

Organisasi yang berpusat pada pelanggan (Customer-Centered) memberikan kesempatan yang luas bagi para pelanggannya untuk menyampaikan saran dan keluhan, misalnya dengan menyediakan kotak saran, menyediakan kartu komentar, dan lain sebagainya.

Informasi ini dapat memberikan ide-ide dan masukan kepada perusahaan dan memungkinkan untuk bereaksi dengan tanggap dan cepat untuk mengatasi masalah.

2) Survei Kepuasan Pelanggan

Metode ini dapat dilakukan melalui pos, telepon maupun wawancara pribadi. Melalui survei perusahaan akan memperoleh tanggapan dan umpan balik secara langsung dari pelanggan dan sekaligus juga memberikan tanda (signal) positif bahwa perusahaan menaruh perhatian terhadap para pelanggannya. Pengukuran pelanggan melalui metode ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya:

a) Directly Reportered Satisfaction

Pengukuran dilakukan secara langsung melalui pertanyaan seperti:

“Ungkapan seberapa puas saudara terhadap pelayanan PT A pada skala berikut: sangat tidak puas, tidak puas, netral, puas, sangat tidak puas”.

b) Derived Dissatisfaction

Pertanyaan yang diajukan menyangkut dua hal utama, yakni besarnya harapan pelanggan terhadap atribut tertentu dan besarnya kinerja yang mereka rasakan.

c) Problem Analysis

Pelanggan yang dijadikan responden diminta untuk mengungkapkan dua hal pokok. Pertama, masalah-masalah yang

(33)

13

mereka hadapi berkaitan dengan penawaran dari perusahaan.

Kedua, saran-saran untuk melakukan perbaikan.

d) Importance-Performance Analysis

Responden diminta untuk merangking berbagai atribut dari penawaran berdasarkan derajat pentingnya setiap atribut dan juga merangking seberapa baik kinerja perusahaan dalam tiap atribut itu.

3) Ghost Shooping

Metode ini dilakukan dengan mempekerjakan beberapa orang (ghost shopper) untuk berperan sebagai pelanggan atau pembeli potensial produk perusahaan pesaing, lalu menyampaikan temuannya mengenai kekuatan dan kelemahan produk perusahaan pesaing. Selain itu ghost shopper juga dapat mengamati cara penanganan keluhan.

4) Lost Customer Analysis

Perusahaan menghubungi para pelanggannya yang telah berhenti membeli dan beralih pemasok. Hal ini dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai penyebab terjadinya hal tersebut.

Informasi ini bermanfaat bagi perusahaan untuk mengambil kebijakan selanjutnya dalam rangka meningkatkan kepuasan dan loyalitas pelanggan.

5. Tinjauan tentang sertifikasi Guru.

a. Sertifikasi Guru.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dikemukakan bahwa “sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen. Sedangkan sertifikat pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga profesional”. Menurut Nata Amijaya dalam Mulyasa (2007:

34) mengatakan bahwa” Sertifikasi adalah prosedur yang digunakan oleh pihak ketiga untuk memberikan jaminan tertulis bahwa sesuatu produk, proses atau jasa telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan”. Jurnal National Commission on Education services (NCES) yang telah dikutip oleh Mulyasa dalam bukunya yang

(34)

berjudul Standar kompetensi dan Sertifikasi Guru (2007: 34) menyatakan bahwa

“Certification is a procedure whereby the state evaluates and reviews a teacher candidate’s credential and provides him or her a license to teach”. Artinya sertifikasi merupakan prosedur untuk menentukan apakah seorang guru layak diberikan izin dan kewenangan untuk mengajar.

Menurut Mulyasa (2007: 33) mengatakan bahwa “Sertifikasi guru dapat di artikan sebagai suatu proses pemberian pengakuan bahwa seseorang telah memiliki kompetensi untuk melaksanakan pelayanan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu, setelah lulus uji kompetensi yang di selenggarakan oleh lembaga sertifikasi.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa sertifikasi guru adalah proses uji kompetensi yang dirancang untuk mengungkapkan pengusaan kompetensi seseorang sebagai landasan pemberian sertifikat pendidik. Oleh karena itu, proses sertifikasi dipandang sebagai bagian esensial dalam upaya memperoleh sertifikat kompetensi sesuai kompetensi yang telah ditetapkan.

Sertifikat ini sebagai bukti pengakuan atas kompetensi guru yang memenuhi standar untuk melakukan pekerjaan profesi guru pada jenis dan jenjang pendidikan tertentu.

b. Tujuan Sertifikasi Guru.

Menurut Wibowo dalam Mulyasa (2007) mengungkapkan bahwa tujuan sertifikasi guru adalah:

(1) Melindungi profesi pendidik dan tenaga kependidikan, (2) melindungi masyarakat dari praktik- pratik yang tidak kompeten, sehingga merusak citra pendidik dan tenaga kependidikan, (3) membantu dan melindungi lembaga penyelenggara pendidikan, dengan menyediakan rambu- rambu dan instrumen untuk melakukan seleksi terhadap pelamar yang kompeten, (4) membangun citra masyarakat terhadap profesi pendidik dan tenaga kependidikan, (5) memberikan solusi dalam rangka meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan.

(35)

15

Menurut Ibrahim Bafadal dalam Suprapti (2009: 19) menyatakan bahwa

“Program sertifikasi bertujuan untuk menciptakan tenaga guru dan kependidikan yang lebih berkualitas sehingga kemampuan guru dapat meningkat dan memiliki standar kualifikasi”. Ada pun target akhir sertifikasi ini sebagai berikut:

1) Tersedianya tenaga guru terdidik atau terlatih yang memiliki standar kualifikasi dan kompetensi.

2) Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan tenaga guru.

Berdasarkan rumusan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari sertifikasi guru adalah sebagai salah satu upaya peningkatan mutu atau kualifikasi kompetensi dan kesejahteraan guru yang berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru serta meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan secara berkelanjutan sehingga pembangunan masyarakat yang berpendidikan sebagai salah satu tujuan bangsa dapat terlaksana secara menyeluruh.

c. Manfaat Sertifikasi Guru

Menurut Ditjen PMPTK (2007: 2) mengungkapkan bahwa manfaat dari sertifikasi “(1) Melindungi profesi guru dari praktek- pratek yang tidak berkompeten, yang dapat merusak profesi citra guru, (3) Melindungi masyarakat dari praktek- praktek pendidikan yang tidak berkualitas dan tidak profesional, (4) Meningkatkan kesejahteraan guru”. Lebih lanjut Menurut Wibowo dalam Mulyasa (2007: 35-36) mengungkapkan bahwa sertifikasi pendidik dan tenaga kepedidikan mempunyai manfaat sebagia berikut:

1) Pengawasan Mutu.

a) Lembaga sertifikasi yang telah mengidentifikasi dan menentukan seperangkat kompetensi yang bersifat unik, b) Untuk setiap jenis prosfesi dapat mengarahkan para praktisi untuk mengembangkan tingkat kompetensinya secara berkelanjutan, c) Peningkatan profesionalisme melalui mekanisme seleksi, baik pada waktu awal masuk organisasi profesi maupun pengembangan kerier berikutnya, d) Proses seleksi yang lebih baik, program

(36)

pelatihan yang lebih bermutu maupun usaha belajar secara mandiri untuk mencapai peningkatan profesionalisme.

2) Penjaminan mutu.

a) Adanya proses pengembangan profesionalisme dan evaluasi terhadap kinerja praktisi akan menimbulkan persepsi masyarakat dan pemerintah menjadi lebih baik tehadap organisasi profesi beserta anggotanya. Dengan demikian pihak berkepentingan, khusunya para pelanggan/ pengguna akan makin menghargai organisasi profesi dan sebaliknya orgsnisasi profesi dapat memberikan jaminan atau melindungi para pelanggan atau pengguna, b) Sertifikasi menyediakan informasi yang berharga bagi para pelanggan atau pengguna yang inggin mempekerjakan orang dalam bidang keahlian dan keterampilan tertentu.

d. Prinsip Sertifiksi Guru

Setiap hal atau benda mempunyai karateristik atau prinsip yang mendasarinya. Ditjen PMPTK dalam pedoman penetapan peserta dan pelaksanaan sertifikasi guru dalam jabatan (2011: 10-11) mengungkapkan bahwa:

lima prinsip dasar sertifikasi guru, yaitu (1) dilaksanakan secara objektif, (2) transparan dan akuntabel, berujung pada peningkatan mutu pendidikan nasional melalui peningkatan guru dan kesejahteraan guru, (3) dilaksanakan sesuai dengan peraturan dan perundang- undangan, (4) dilaksankan secara terencana dan sistematis, (5) dan jumlah peserta sertifikasi guru di tetapkan oleh pemerintah.

Berikut ini diuraikan prinsip-prinsip sertifikasi tersebut sebagai berikut:

1) Dilaksanakan secara objektif, transparan, dan akuntabel

Objektif yaitu mengacu kepada proses perolehan sertifikat pendidik yang impartial, tidak diskriminatif, dan memenuhi standar pendidikan nasional. Transparan yaitu mengacu kepada proses sertifikasi guru yang memberikan peluang kepada para pemangku kepentingan pendidikan untuk memperoleh akses informasi tentang proses dan hasil sertifikasi

(37)

17

guru. Akuntabel merupakan proses sertifikasi guru yang dipertanggungjawabkan kepada pemangku kepentingan pendidikan secara administratif, finansial, dan akademik.

2) Berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan nasional melalui peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru.

Sertifikasi guru merupakan upaya Pemerintah dalam meningkatkan mutu guru yang diiringi dengan peningkatan kesejahteraan guru. Guru yang telah lulus uji sertifikasi guru dan memenuhi syarat lain sesuai dengan ketentuan akan diberi tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok sebagai bentuk upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan guru. Tunjangan tersebut berlaku, baik bagi guru yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) maupun bagi guru yang berstatus bukan pegawai negeri sipil (bukan PNS/swasta). Dengan peningkatan mutu dan kesejahteraan guru maka diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan mutu pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan.

3) Dilaksanakan sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan Program sertifikasi pendidik dilaksanakan dalam rangka memenuhi amanat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.

4) Dilaksanakan secara terencana dan sistematis

Agar pelaksanaan program sertifikasi guru dapat berjalan dengan efektif dan efisien harus direncanakan secara matang dan sistematis.

Sertifikasi guru mengacu pada kompetensi guru dan standar kompetensi guru. Kompetensi guru mencakup empat kompetensi pokok yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional, sedangkan standar kompetensi guru mencakup kompetensi inti guru yang kemudian dikembangkan menjadi kompetensi guru TK/RA, guru kelas SD/MI, dan guru mata pelajaran. Usaha

(38)

memberikan sertifikat pendidik kepada guru, dilakukan melalui uji kompetensi dan pemberian sertifikat pendidik secara langsung kepada guru yang memenuhi persyaratan.

5) Jumlah peserta sertifikasi guru ditetapkan oleh pemerintah

Mempertimbangkan alasan keefektifan dan efisiensi pelaksanaan sertifikasi guru serta penjaminan kualitas hasil sertifikasi guru, jumlah peserta pendidikan profesi dan uji kompetensi setiap tahun ditetapkan oleh pemerintah. Berdasarkan jumlah yang ditetapkan pemerintah tersebut, maka disusunlah kuota guru peserta sertifikasi guru untuk masing-masing provinsi dan kabupaten/kota. Penyusunan dan penetapan kuota tersebut didasarkan atas jumlah data individu guru per Kabupaten/Kota yang masuk di pusat data Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan.

6. Tnjauan tentang Proses Belajar Mengajar a. Pegertian Proses Belajar Mengajar.

”Proses belajar mengajar atau pembelajaran mempunyai arti sama dengan cara (perbuatan) mengajar atau mengajarkan” (H.J. Gino, dkk, 1999 : 30). Bila mengajar diartikan sebagai perbuatan mengajar, tentunya ada yang mengajar dan ada yang diajar atau yang belajar. Dengan demikian pengajaran diartikan sebagai perbuatan belajar oleh siswa dan mengajar oleh guru. Menurut Alvin W. Howard dalam Slameto (2010 : 32) ”Pembelajaran adalah suatu aktivitas untuk mencoba menolong, membimbing seseorang untuk mendapatkan, mengubah atau mengembangkan ketrampilan, sikap, cita-cita, penghargaan dan pengetahuan yang direncanakan oleh guru untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran”. Sedangkan menurut Murshell dalam Slameto (2010 : 33) ”Pembelajaran digambarkan sebagai

’mengorganisasikan belajar’, sehingga dengan mengorganisasikan itu, belajar menjadi berarti atau bermakna bagi siswa”. Pendapat lain, ”Pembelajaran adalah suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar”(Sardiman, 2010 : 47).

(39)

19

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar atau pembelajaran merupakan kegiatan pengorganisasian lingkungan belajar siswa yang mencangkup beberapa komponen agar mendorong terciptanya proses belajar mengajar. Tujuan dari proses ini adalah terjadinya perubahan tingkah laku yang relatif lama melalui proses menolong, membimbing seseorang untuk mendapatkan, mengubah atau mengembangkan ketrampilan, sikap, cita- cita, penghargaan dan pengetahuan yang direncanakan oleh guru.

b. Metode Pembelajaran

Proses belajar-mengajar merupakan interaksi yang dilakukan antara guru dengan peserta didik dalam situasi pendidikan atau pengajaran untuk mewujudkan tujuan yang ditetapkan. Di dalam proses belajar mengajar itu metode mengajar mempunyai peranan yang sangat penting dan merupakan salah satu penunjang utama berhasil tidaknya guru dalam mengajar. Ketepatan penggunaan metode pengajaran menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan proses belajar mengajar. Hal ini menuntut guru untuk menguasai berbagai macam metode mengajar sehingga memungkinkan siswa untuk belajar dengan efektif dan efisien.

Mulyani Sumantri (2001: 20) mengungkapkan mengajar merupakan kegiatan menyampaikan pesan berupa pengetahuan, keterampilan dan penanaman sikap-sikap tertentu dari guru kepada siswa. Sedangkan menurut Nasution dan Muhibbin Syah (1995: 183), mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak, sehingga terjadi proses belajar.

Muhibbin Syah (1995: 202) menyatakan metode adalah cara melakukan suatu kegiatan atau cara melakukan pekerjaan dengan menggunakan fakta dan konsep-konsep secara sistematis. Menurut Mulyani Sumantri (2001 : 114) yang dimaksud dengan metode adalah interaksi yang dilakukan guru untuk menciptakan situasi pengajaran yang benar-benar menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran proses belajar dan tercapainya prestasi belajar siswa yang memuaskan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode mengajar adalah suatu cara menyampaikan ilmu pengetahuan atau pemahaman kepada siswa dengan mengatur dan mengorganisasikan lingkungan di sekitar siswa untuk

(40)

berlangsungnya kegiatan belajar yang efektif dalam membantu perkembangan siswa secara optimal.

c. Pengertian Belajar

Belajar sebagai suatu kegiatan telah dikenal dan bahkan sadar atau tidak telah dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus mengembangkan dirinya. Kemampuan untuk melakukan ini semua diperoleh, mengingat kemampuan ini mula-mula belum ada. Adanya perubahan dalam pola perilaku inilah yang menandakan telah terjadi belajar. Proses belajar ini merupakan kegiatan mental yang tidak dapat disaksikan dari luar.

Menurut Slameto (2010 : 2), “Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan sesorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Menurut Sardiman (2010 : 20) ”Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkain kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya”. Selain itu, menurut Dimyati dan Mudjiono (2009 : 7) “Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak tejadinya proses belajar.

Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar”. Sedangkan menurut Winkel (1991 : 36) ”Belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, ketrampilan dan sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas.”

Berdasarkan definisi-definisi belajar di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku melalui tindakan dan perilaku siswa yang kompleks dalam interaksi dengan lingkungannya. Perubahan tersebut bersifat menetap dan diperoleh melalui latihan dan pengalaman.

Agar individu berhasil alam belajarnya maka harus menggunakan prinsip- prinsip belajar. Adanya prinsip-prinsip belajar akan membuat individu yang belajar akan memperbaiki kelemahannya sehingga didapatkan hasil belajar yang

(41)

21

optimal. Dimyati dan Mudjiono (2009 : 42) mengemukakan enam prinsip belajar, yaitu :

a. Perhatian dan motivasi

Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Apabila perhatian ini sudah timbul, motivasi untuk mengikuti pelajaran akan meningkat

b. Keaktifan

Kegiatan belajar tidak dapat dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin jika siswa aktif mengalami sendiri.

c. Keterlibatan langsung / berpengalaman

Dalam belajar melalui pengalaman langsung, siswa tidak sekedar mengamati secara langsung tetapi juga harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan dan bertanggung jawab terhadap hasilnya.

d. Pengulangan

Manusia perlu melatih daya-daya yang ada padanya seperti daya mengamat, menanggap, mengingat, mengkhayal, merasakan, berfikir, dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya tersebut akan berkembang.

e. Tantangan

Siswa perlu ditantang untuk menguasai bahan ajar melalui berbagai metode yang sesuai dengan keadaan siswa

f. Balikan dan penguatan

Balikan serta penguatan akan membuat siswa terdorong untuk lebih bersemangat dalam belajar

g. Perbedaan individual

Dalam pembelajaran, siswa harus dihargai sebagai individu yang unik, yang berbeda datu dan lainnya.

d. Unsur Dinamis dalam Belajar

Unsur dinamis dalam belajar adalah unsur-unsur yang dapat berubah dalam proses belajar. Unsur-unsur itu dapat ada dan dapat tidak ada, dapat melemah namun dapat menguat. Adapun unsur-unsur dinamis yang terkait dalam proses belajar adalah :

1) Motivasi dan upaya memotivasi siswa yang belajar 2) Bahan belajar dan upaya penyediaannya

3) Alat bantu belajar dan upaya penyediaannya 4) Suasana belajar dan upaya pengembangannya

5) Kondisi subyek yang belajar dan upaya penyiapan serta peneguhannya.

(Dimyati dan Mudjiono, 2009 : 42)

(42)

Salah satu unsur dinamis dalam belajar yang memiliki daya penunjang besar dalam membantu pembelajaran adalah alat bantu belajar. Alat bantu belajar atau media belajar merupakan alat yang dapat membantu siswa belajar untuk mencapai tujuan belajar, misalnya media cetak (buku paket), media elektronik (radio, tape recorder, TV dan lainnya). Apabila pengajaran disampaikan dengan ceramah dan ditambah dengan gambar-gambar, foto, grafik, dan sebagainya dan siswa diberi kesempatan untuk melihat, memegang, meraba atau mengerjakan sendiri, maka memudahkan para siswa untuk mengerti pengajaran tersebut dan sulit melupakannya

Pada tahun 1946, Edgar Dale mengembangkan ”The Cone Experience”.

Dalam kerucut pengalamannya dimulai dengan pebelajar sebagai partisipan langsung, kemudian pebelajar sebagai pengamat dari kejadian langsung, meningkat menjadi pebelajar sebagai pengamat dari kejadian langsung melalui suatu media, dan akhirnya pebelajar mengamati simbol yang menggambarkan peristiwa. Dari kerucut pengalaman Dale, dapat diketahui alat belajar yang dibutuhkan siswa yaitu sebagai berikut (H.J Gino, dkk, 1999 : 25)

Gambar 2.1 Kerucut Pengalaman Siswa Menurut E.Dale

Dilihat dari gambar di atas penggolongan alat belajar berdasarkan pengalaman yang diperoleh siswa sebagai berikut :

1) Belajar dengan pengalaman langsung

2) Belajar dengan memakai model benda dalam bentuk kecil 3) Belajar dengan bersandiwara

10 9 8 7 6 5 4 3 2 1

(43)

23

4) Belajar dengan demonstrasi 5) Belajar dengan berdarmawisata 6) Belajar dengan pameran

7) Belajar dengan gambar bergerak 8) Belajar dengan gambar diam 9) Belajar dengan lambang visual 10) Belajar dengan lambang verbal.

Belajar dengan pengalaman langsung atau kontekstual merupakan tingkatan belajar yang paling konkrit, karena siswa dihadapkan langsung dengan lingkungan sekitarnya.

7. Tinjauan Tentang Kompetensi Guru.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pasal 28 dinyatakan bahwa : Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi akademik adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah meliputi: kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial.

a. Kompetensi Paedagogik.

Dalam standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir a dikemukakan bahwa kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembalajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilkinya.

Lebih lanjut Menurut Mulyasa (2007:75) dalam RPP tentang guru dikemukakan bahwa :

“Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang- kurangnya meliputi hal- hal sebagai berikut: (1) Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan.(2)

(44)

Pemahaman terhadap peserta didik.(3) Pengembangan kurikulum/

silabus.(4) Perancangan pembelajaran.(5) Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis.(6) Pemanfaatan teknologi pembelajaran.(7) Evaluasi hasil belajar(EHB). (8) Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

b. Kompetensi Kepribadian

Dalam Standart Nasional Pendidikan, penjelasan pasal 28 ayat (3) butir b, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.

c. Kompetensi Profesional.

Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan pasal 28 ayat (3) butir c dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan.

d. Kompetensi Sosial.

Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan pasal 28 ayat (3) butir d dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, dan masyarakat sekitar. Hal tersebut diuraikan lebih lanjut dalam RPP tentang Guru, bahwa kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat, yang sekurang- kurangnya memiliki kompetensi untuk :

1) Berkomunikasi secara lisan, tulisan dan isyarat.

2) Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional.

3) Bergaul secara efektik dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/ wali peserta didik; dan

4) Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.

(45)

25

B. Penelitian yang Relevan

Ada beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian yang akan penulis lakukan, yaitu sebagai berikut:

1. I Gusti Ayu Ketut Giantari, I Gusti Ngurah Jaya Agung Widagda, I Gusti Agung Ketut Sri Ardhani, dan Gede Bayu Raharnatha (2008) dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Kepuasan Mahasiswa Terhadap Proses Belajar Mengajar Di Program Diploma III FE UNUD, pada bagian simpulan penelitian diungkapkan bahwa: tingkat kepuasan mahasiswa Program Diploma III FE Unud secara keseluruhan termasuk klasifikasi cukup puas. Hal ini tercermin dari hasil analisis kesesuaian antara kinerja dengan tingkat kepentingan mahasiswa yang memberikan hasil sebesar 83,32%. Dari 25 variabel penentu kepuasan, maka ada 14 variabel yang menyebabkan puas tetapi ada 8 variabel yang nampaknya belum memuaskan.

2. Anggraeni Puspita Rini (2010) dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Kepuasan Siswa Akselersi atas Kualitas Jasa Pelayanan Pendidikan Program Akselerasi di SMA Negeri 1 Surakarta Tahun 2009/2010, pada bagian simpulan penelitian diungkapkan bahwa siswa akselerasi merasa belum puas dengan kinerja yang mereka terima. Hal ini tercermin dari hasil analisis kesesuaian antara tingkat kinerja dengan tingkat kepentingan siswa akselerasi yang memberikan hasil sebesar 79,23% dari hasil tersebut menunjukkan bahwa 79,23% lebih kecil dari 100% sehingga tingkat kinerja yang diberikan oleh program akselerasi di SMA Negeri 1 Surakarta belum sesuai dengan kepentingan siswa.

3. Perbedaan dengan penelitian terdahulu :

a. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh I Gusti Ayu Ketut Giantari, I Gusti Ngurah Jaya Agung Widagda, I Gusti Agung Ketut Sri Ardhani, dan Gede Bayu Raharnatha (2008) adalah perbedaan tempat,waktu dan obyek.

b. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Anggraeni Puspita Rini (2010) adalah pada variabel dependen adalah kualitas jasa sedangkan pada penelitian ini adalah jasa pendidikan.

Gambar

Gambar 2.1 Kerucut Pengalaman Siswa Menurut E.Dale
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir
Diagram  kartesius  digunakan  untuk  mengetahui  indikator  jasa  pelayanan  yang  memuaskan  atau  tidak  memuaskan  konsumen  (siswa)
Diagram kartesius digunakan untuk memetakan atibut-atribut kualitas jasa  pelayanan pendidikan yang telah dianalisis, dengan gambar sebagai berikut:
+7

Referensi

Dokumen terkait

b) Meleong, mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu penelitian ilmiah, yang bertujuan untuk memahami suatu fenomena dalam konteks social secara alamiah dengan

Hasil dari penelitiannya menunjukkan bahwa: (1) Kualitas Sistem EG, Kualitas Informasi EG dan Persepsi Ease of Use memiliki pengaruh signifikan terhadap penerimaan

Mengenai hal ini, apa yang telah dilaku- kan oleh pemerintah Iran bisa dijadikan bahan kajian yang tepat, yaitu karena konsekuensi atas pelarangan perkawinan sesama

penyusunan standar pelaksanaan Kewenangan Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota, penyusunan rencana jangka tahunan dan menengah serta standar pelaksanaan tugas – tugas dinas dalam

Isi liputan berita mencakup informasi terkait pihak-pihak yang terlibat dalam kolaborasi, apa tujuan kolaborasi, apa dampaknya, tindak lanjut yang akan dilakukan dan

Kapasitas serap ipteks tersebut dapat ditingkatkan melalui, antara lain: (i) penelitian dan pengembangan ipteks secara kolaboratif antara perguruan tinggi dan

Orang yang memiliki sikap ini akan memandang semua budaya yang berasal dari luar atau berbeda dengan budayanya sendiri sebagai musuh atau ancaman yang harus

Penelitian ini menelaah unsur-unsur intrinsik cerpen “Pangeran Bahagia” yang meliputi tokoh, latar, alur, dan tema.. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan setiap