Muatan Lokal Bahasa Daerah
Carita-carita Dalam
Bahasa Melayu Maluku Utara
Melayu Maluku Utara-Indonesia-Inggris
Muatan Lokal Bahasa Daerah
________________
Carita-carita Menarik Dalam Bahasa Melayu Maluku Utara
Joost J. J. Pikkert, Ph.D.
Eddy Supangkat, B.Sc.
Cheryl M. Pikkert, M.A.
Gabrielle Samson, B.A., DipL. Ed., DipL
Direvisi untuk Bahasa Melayu Maluku Utara oleh
Marson Rompis. Wilson Takuling (Alm), Ronald Whisler, Leonard Takuling, Robinson Manery, Meli Eko
Pusat Penerjemahan Bahasa
Universitas Kristen Indonesia Tomohon 2007
Muatan Lokal Bahasa Daerah
© Hak Cipta LPM dan SIL International, 1998, 2002
Dilarang memperbanyak buku ini untuk tujuan komersial.
Untuk tujuan non-komersial, buku ini dapat diperbanyak tanpa izin dari pemegang hak cipta.
Untuk kalangan sendiri
Gambar-gambar dalam cerita-cerita satu, dua, empat, lima, enam, tujuh dan delapan digambarkan oleh Slamet Prayitno.
Gambar-gambar dalam cerita tiga dimuat Microsoft Clipart Gallery.
The development of these stories was made possible by a grant from the Canadian Embassy in Indonesia
SAMBUTAN
KEPALA DINAS PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN PROVINSI
Maluku Utara bukan saja sebagai provinsi kepualuan, tetapi juga merupakan provinsi yang memiliki banyak suku, budaya, dan bahasa. Kemajemukan ini setidaknya tergambar dalam banyaknya bahasa di Maluku Utara. Menurut catatan para ahli, terdapat kurang-lebih 30 bahasa di Maluku Utara. Bahasa-bahasa ini digunakan oleh sukunya masing-masing dalam komunikasi sehari-hari dan menjadi alat pengungkap dan penanda budaya masing-masing. Dalam 30 bahasa itu, ada dua bahasa yang pada masanya memainkan peran sebagai lingua-franca, bahasa perantara, bahasa lintas-suku di Maluku Utara. Dua bahasa itu adalah bahasa Temate dan bahasa Melayu Ternate (atau penulis buku ini menyebutnya bahasa Melayu Maluku Utara).
Pada masa Kesultanan Temate, bahasa Temate merupakan lingua-franca bagi daerah kekuasaan Kesultanan Temate. Sebab itu, selain digunakan di Temate, bahasa Temate juga merupakan bahasa kedua bagi masyarakat dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Temate, misalnya di Jailolo, Ibu, Sahu, Loloda, Kao, dan sejumlah wilayah di Halmahera Utara dan Barat.
Pada masa yang sama, atau setidaknya dimulai sejak bahasa Melayu menjadi lingua- franca bagi masyarakat di berbagai titik kegiatan perdagangan di Nusantara pada masa lalu, bahasa Melayu Temate (atu bahasa Melayu Maluku Utara) juga telah memainkan peran sebagai bahasa penguhubung antar suku di Maluku Utara. Jangkauan atau wilayah pemakainnya mencakupi seluruh wilayah Propinsi Maluku Utara.
Sebab itu, pembelajaran berbasis muatan lokal dangan menggunakan Bahasa Melayu Temate bagi Sekolah-sekolah di Maluku Utara dipandang sangat penting, masuk akal, dan strategis. Sangat penting. oleh karena bahasa Melayau Temate semakin memantapkan dirinya sebagai lingua-franca bagi komunikasi lintas-suku di Maluku Utara. Masuk akal karena Bahasa Melayu Temate telah dikenal dan digunakan secara luas dan sudah sejak lama menjadi bahasa kedua. bagi seluruh keluarga di seantero wilayah Maluku Utara. Strategis oleh karena dengan digunakan sebagai media pengungkap dan penerjemah cerita-cerita di Maluku Utara, Bahasa Melayu Temate dapat memainkan peran pemersatu warga Maluku Utarayang tidak saja majemuk tetapi juga majemuk yang berpisahan (segregated pluralism).
Dengan memilih Bahasa Melayu Temate sebagai media pengungkap, tradisi dan kearifan lokal yang dikandung dalam berbagai khasanah budya di Maluku Utara dapat disebarkan dan dikomunikasikan secara lintas-komunitas, melalui pebelajaran di sekolah, terutama di sekolah Dasar. Dengan strategi seperti ini, diharapkan, anak-anak Maluku Utara akan mengenal kekayaan budaya tidak saja pada warga (atau sukunya) sendiri, tetapi juga dapat memahami budaya suku atau komunitas lain di Maluku Utara. Dengan demikian, bahan- bahan pembelajaran muatan lokal yang ditulis dalam Bahasa Melayu Ternate dapat menjadi jebatan budaya (culture bridge) bagi warga Maluku Utara.
Dengan memahami adanya kebiasaan dan tradisi yang terangkum dalam buku ini, penghargaan akan keragaman maluku Utara mulai ditanamkan sejak usia dini bagi warga Maluku Utara melalui pendidikan.
Kepala sekolah, para guru, murid, terutama yang mengelola pembelajaran yang berbasis muatan lokal, dapat memanfaatkan buku yang kaya akan kearifan lokal ini sebagai sarana pembangunan pemahaman dan pengertian bagi sesama warga agar Maluku Utara ke depan masyarakatnya akan lebih cerdas, maju, damai, mandiri, dan sejahtera berlandaskan prinsip-prinsip kerjasama dalam semangat keragaman Indonesia dan Maluku Utara khususnya.
Atas nama pelaku pendidikan, pemerhati pendidikan dan peduli pendidikan di Propinsi Maluku Utara, kami menyambut baik dan memberi perhatian pada penerbitan buku Muatan Lokal Bahasa Daerah yang memuat Cerita-cerita dalam Bahasa Melayu Maluku Utara.
Penjelasan Singkat Tentang
Beberapa Huruf dalam Bahasa Melayu Maluku Utara
Ada beberapa hal yang perlu dikemukakan mengenai cara membaca dan menulis bahasa Melayu Maluku Utara. Di bawah ini akan diuraikan secara singkat mengenai cara mem- baca dan menulis dalam bahasa Melayu Maluku Utara.
Salah satu kekayaan bahasa Melayu Maluku Utara adalah penyingkatan kata yang antara lain berlaku pada kata ganti orang. Kata ganti orang dapat disingkat apabila berada pada anak kalimat atau sebagai kata ganti milik yang tidak berada pada awal kali- mat. Contoh: Dorang lari ka sana, pa dong pe papa pe ruma. Kitorang tara dapa lia torang pe papa di situ. Penyingkatan kata berlaku juga pada kata-kata lain yang tidak termasuk pada kata ganti orang, seperti: pigi – pi, itu – tu dan punya – pe. Kata-kata ini digunakan berdasarkan konteks kalimat.
Kata-kata dalam bahasa Indonesia yang berakhir dengan bunyi –m dan –n, seringkali dalam bahasa Melayu Maluku Utara kata-kata ini berakhir dengan bunyi –ng. Contoh:
sirang, asang, ikang dan makang. Namun untuk daerah-daerah yang kurang mengguna- kan bunyi –ng seperti contoh di atas, dapat membacanya sesuai dengan dialek setempat.
Dalam bahasa Melayu Maluku Utara kata baku ditulis secara terpisah dengan kata yang mengikutinya. Contoh: baku laeng, baku sayang dan baku sipat.
Setiap awalan dalam bahasa Melayu Maluku Utara ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Contoh: bagaram, tafiaro, pambae, mangkage. Ada beberapa awalah diatas yang mengalami proses pengulangan, dan juga ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Contoh: babacarita, tatafiaro dan mamalakat.
Dalam bahasa Melayu Maluku Utara ada beberapa kata berimbuhan yang diserap dari bahasa Indonesia. Kata-kata ini tetap menggunakan imbuhan dari bahasa Indonesia, den- gan perubahan pada vokalnya. Contoh: kalaparan, kajahatan dan kabaratan. Ada juga beberapa kata serapan yang baru digunakan dalam bahasa Melayu Maluku Utara, dan kata-kata ini tidak mengalami perubahan vokal. Contoh: keslamatan, keperluan dan pedagang.
Ada kata-kata dalam bahasa Indonesia yang diakhiri dengan konsonan h, k, dan t, tetapi dalam bahasa Melayu Maluku Utara konsonan tersebut tidak ada. Contoh: ruma, kaka dan tampa.
Bahasa Indonesia mengenal bunyi glotal diantara dua vokal yang sama atau di akhir
DAFTAR ISI
Bab Judul Halaman
I Tina so tau rekeng
Tina bisa berhitung 1
II Kodok mo pigi ka Ternate
Katak hendak ke Ternate 8
III Ade deng dia pe tamang-tamang Ade dan temannya
17
IV Parampuang patong Gadis Patung
22
V Bebe batolor mas Angsa bertelur emas
30
VI Tuturugayang makang puji
Kura-kura yang sombong 37
VII Tikus pe pande Tikus yang cerdik
VIII Balanga ajaib Panci ajaib IX Bahasa Inggris
v 44
50
57
Bab I
Tina so tau rekeng Tina bisa berhitung
Bab I
1
Suatu hari, Tina berkata kepada ibunya bahwa ia mau pergi berjalan-jalan ke kota Tobelo. Sambil
berjalan-jalan, ia menghitung benda yang dilihatnya.
Ada ana satu, dia pe nama Tina. Satu hari, Tina bilang pa dia pe mama, dia mo pigi baronda di k o t a T o b e l o . S e m a n t a r a bajalang, dia rekeng samua apa yang di lia di jalang.
Tina lia ada satu ana kacili ada kase makang sapi dua ekor . Kong Tina kase hormat pa dorang,
“Slamat pagi sapi!”.
Tina lia dia pe tamang Hasan, ada kase nae layang-layang. Kong Tina bilang, “Adu, laying-layang sana pe bagus.”
1
2
Bab I 3
Tina lia ada ana tiga orang barmaing speda.
Kong Tina rekeng
“Ada tiga speda,”
Tina lia ada lemong ampa bua di atas pohong. Turus dia tunju, kong dia bilang bagini,
“lemong ampa bua sana, so masa.”
Tina melihat seorang anak kecil sedang
memberi makan dua ekor sapi. "Selamat pagi, sapi,"
katanya.
3
4
Tina lia ada tanta lima orang bacuci baju di pinggir parigi. Kong Tina batogor pa dorang,
“Slamat pagi, tanta-tanta.”
Tina lia dia pe tamang ada barmaing balon. Kong Tina rekeng, “Balon itu Ada anam bua.”
5
6
Bab I 5
Tina lia ada burung tuju ekor cari makanang.
Turus dia bilang bagini,
“Burung-burung itu tuju ekor.”
Tina lia akar kuning
ada lapan bua di kobong, kong Tina bilang bagini, “Akar kuning lapan bua sana, pasti sadap skali.”
Tina melihat empat buah-buahan di atas pohon. "Empat buah jeruk itu sudah matang,"
katanya sambil menunjuk.
7
8
Tina lia ada sambilang orang barongge di atas panggung. Kong Tina rekeng, “Yang barongge sana ada sambilang orang.”
Tina dapa lia ikang di pasar. Turus Tina mulai rekeng, “Satu, dua, tiga, ampa, lima, anam, tuju, lapan, sembilang, spulu.”
Tina melihat lima orang ibu sedang mencuci
pakaian di sumur.
9
10
Bab I 7
Dapatkah kamu
menghitung semua benda yang dilihat Tina? Sebuah layang-layang, dua ekor sapi, tiga sepeda, empat buah jeruk, lima orang ibu, enam balon, tujuh ekor burung, delapan wortel, sembilan penari, dan sepuluh
ikan.Jikalau kamu bias seperti Tina berarti kamupun sudah tau menghitung.
Skarang, ngoni bisa rekeng samua yang Tina lia ka tarada?
Falinggir satu, sapi dua ekor, speda tiga bua, lemong ampa bua, tanta lima orang, balon anam bua, burung tuju ekor, akar kuning lapan bua, sambilang orang barongge deng ikang spulu ekor. Kalu ngoni bisa sama deng Tina, berarti ngoni so tau rekeng.
Bab II
Kodok mo pigi ka Tarnate Katak hendak ke Ternate
Ada dua ekor katak sedang berjemur. Ketika itu katak
sedang berpikir lalu. Dia berkata kepada temannya,
"Saya dengar lalat-lalat di kota, besar sekali. Saya piker-pikir saya akan pergi ke sana."
"Tetapi bagaimana kamu Ada kodok dua ekor
bajumur. Waktu bajumur, kodok yang satu ada bapikir.
Kong dia bilang pa dia pe tamang, “Kita dengar kata, lalar-lalar di kota, basar-basar.
Kita pikir-pikir, kita mo ka sana.”
Bab II 9
Bagitu dia sampe di pinggir jalang, ada trek satu langgar di tampa itu. Kodok coba balumpa ka atas di trek, tapi dia balumpa talalu tinggi kong dia lewat, Kong oto trek itu bajalang trus. Kodok itu tara dapa nae.
Baru saja dia tiba di pinggir jalan, satu truk melewati
tempat itu. Katak coba melompat ke belakang truk, tetapi dia melompat terlalu jauh. Truk berjalan terus tanpa katak.
Dia pe tamang tanya,
“Skarang ngana mo pigi ka kota deng apa lagi?” Dia manyao, “Kita mo basambunyi pa om itu pe dalam tas.” Abis bilang bagitu, kodok itu maso basambunyi pa om pe dalam tas. Dia pe beso pagi, waktu om itu pigi ka kota, dia lupa bawa dia pe tas. Kong kodok itu tara dapa pigi.
Bab II 11
Dia pe tamang tanya ulang,
“Kong, skarang ngana mo pigi ka kota deng apa?” kodok itu manyao, “Kita mo maso ka dalam karong kalapa yang dorang mo bawa ka kota itu.”
Abis itu dia maso ba sambunyi dalam karong.
Tapi karna oto trek itu so fol, jadi tara bisa muat samua.
Kong oto trek yang muat kalapa itu pigi kodok tara dapa pigi.
"Sekarang bagaimana kamu bisa pergi ke kota?"
tanya temannya. Jawabnya
"Saya akan bersembunyi di dalam tas paman itu," dan dia pergi bersembunyi di dalam tas paman.
Keesokan harinya ketika paman itu pergi ke kota, dia lupa membawa tasnya. Paman itu pergi tanpa katak.
Dia pe tamang tanya ulang. “Skarang ngana mo pigi ka kota deng apa lagi?” Kong dia bilang bagini, “Kita mo nae pa burung elang pe sayap.”
Kong dia pi cari burung elang.
Kodok itu nae di burung elang pe sayap, bagitu dorang di tengah perjalanan, dorang baku dapa anging ribut. Kong kodok itu jatuh. Burung elang itu tarbang turus, kodok itu me pulang.
Bab II 13
Dia pe tamang tanya,
“Skarang ngana mo pigi di kota deng apa lagi?” Turus dia manyao, “Kita mo pigi sandiri saja.” Kong dia pigi di kota itu babalumpa.
"Dengan apa lagi engkau bisa pergi ke kota sekarang?"
tanya temannya. "Saya akan masuk di dalam karung kopra yang akan dibawa ke kota,"
sesuda itu dia masuk, dan bersembunyi di dalam karung.
Akan tetapi, truk terlalu penuh jadi semua karung tidak dia balumpa turus sampe
di kota. Turus dia tanya pa kodok yang tinggal di kota itu.
”Lalar-lalar yang basar deng gode-gode itu dong pe tampa dimana e?”
Bab II 15
bisa diangkut. Truk yang
angkut kopra itu berjalan terus tanpa katak.
Kodok yang tinggal dikota itu manyao, “Lalar-lalar yang basar-basar deng gode-gode itu, dorang tara tinggal di sini.
Di sini cuma ada lalar-lalar kacili. Yang basar deng yang gode-gode itu dorang pe tampa di utang.” Kodok yang tinggal di kota pe abis bilang bagitu turus dia pulang. Kodok yang dari utang itu me, bale ulang pa dia pe tampa yang di utang.
Pe sampe di utang, kodok baku dapa ulang deng dia pe tamang. Samantara dorang bajumur, kodok dari kota bilang pa dia pe tamang, ”Kita kira di tampa laeng bagus, padahal tara talalu bagus.”
Bab III 17
Bab III
Ade deng dia pe tamang-tamang
Ade dan teman-temannya
Suatu hari, Ade merasa kesepian dan ingin bercakap- cakap dengan teman-
temannya, Yunus dan Ani.
Yunus adalah seekor anjing kecil dan Ani seekor kucing kecil. Ade pergi mencari mereka ke mana-mana tetapi tidak ketemu. Akhirnya, dia bertanya kepada semua binatang yang ada di dalam hutan.
Satu kali, Ade rasa sunyi.
Dia suka skali mo bacarita deng dia pe tamang, Yunus deng Ani.
Yunus ini anjing kacili, baru Ani ini tusa kacili satu. Ade pigi bakucari pa dorang di mana- mana Tapi tara baku dapa deng dorang. Akhirnya, dia Tanya- tanya pa samua binatang yang ada disitu.
Ade Tanya pa Hasan, "Hasan ngana tara lia Yunus deng Ani?"
Hasan manyao, "Ado, kita tara lia pa dorang! Tapi Tanya pa tikus yang nama Andi itu, sapa tau dia dapa lia pa dorang, sebab dia paling suka batamang deng samua binatang."
Hasan itu kupu-kupu.
Hasan si Kupu-kupu
Ade Tanya pa Andi, "Andi kita mo tanya sadiki, ngana tara lia Yunus deng Ani?" Andi manyao, "Kita tara lia pa dorang. Tapi coba ngana tanya dulu pa kuda yang pe nama Dani. Kitorang kalo pigi kamana- mana, dia iko-iko pa torang.
dan Ani?" tanya Ade kepada Hasan.
Bab III 19
Ade tanya pa Dani, " Dani ngana tara lia Yunus deng Ani ?"
Dani manyao, "Kita tara lia pa dorang. Tapi coba ngana tanya dulu pa burung yang dia pe nama Nita itu, Barangkali dia tau pa dorang. Sebab dia biasa terbang di udara jadi bisa dapa lia samua binatang yang ada di utang."
Andi si Tikus "Kamu melihat Yunus dan Ani?" tanya Ade kepada Andi.
"Tidak, tetapi kamu bisa bertanya kepada kuda yang bernama Dani. Dia selalu
mengikuti kami ke mana-mana,"
jawab Andi.
Dani itu Kuda
Nita itu Burung Dani si Kuda Ade tanya pa Nita, "Nita
ngana tara lia Yunus deng Ani ?"
Nita manyao, "Tarada tamang. Kita pe sayap ini saki kong tara batarbang. Coba ngana kasana tanya pa rusa yang dia pe nama Tina
itu?.Sapa tau dia dapa lia pa dorang."
Rusa itu Tina
"Kamu melihat Ade tanya pa Tina, "Ngana tara
lia Yunus deng Ani?"
Tina manyao pa dia, "Ya, kita tara lia pa dorang. Kita cuma urus kita pe ana-ana kong tara dapa lia binatang yang laeng. Coba ngana kasana tanya kodok yang dia pe nama Santi itu. Dia paling suka babalumpa
dalam utang, kong sapa tau dia dapa lia pa dorang."
Yunus dan Ani?" tanya Ade kepada Dani.
"Tidak," jawab Dani, "tetapi Tanya kepada burung yang bernama Nita mungkin dia tahu. karna Dia bisa melihat semua binatang yang ada di hutan dari udara."
Ade tanya pa Santi, "Ngan tara lia pa Yunus deng Ani?"
Santi manyao pa dia, "Iyo, kita ada lia pa dorang. Dorang me ada cari-cari pa ngana! Jadi ngana pulang sudah, ngana akan baku dapa pa deng dorang di rumah."
Bab III 21
Anjing ituYunus, Ani itu Pus kacili
Mungkin dia melihat mereka.
Ade so bakudapa Yunus deng Ani turus dia bilang bagini, "So dari tadi kita cari- cari pa ngoni. Ngoni dengar, kita cari pa ngoni itu kita tanya pa kodok yang dia pe nama santi, rusa yang dia pe nama Tina, burung yang dia pe nama Nita, kuda yang dia pe nama Dani, Tikus yang dia pe nama Andi, Kupu-kupu yang dia pe nama Hasan."
Kong Yunus deng Ani bilang pa dia, "Kitorang me ada cari-cari pa ngana.
Kitorang rasa sanang kalo bisa
Bab IV
Parampuang Patong
Gadis patung
Di sebuah desa hiduplah seorang janda bersama
puterinya yang bernama Nita.
Setiap hari mereka mencari kayu bakar di hutan, lalu menjualnya di kota.
Kata….. ada tanta satu so tarada laki, dia pe ana
parampuang satu, dia pe nama Nita. Dorang tinggal di
kampung kacili satu. Dorang pe karja Hari-hari cuma pigi di
Lama-lama Nita so basar, kong so nona-nona, Baru dia bagus skali. Tapi yang salah sadiki dia sombong.
Bab IV 23
Satu hari Nita babilang pa dia pe mama, dia mo pigi bakaja di kota. Tapi dia pe mama tara mau. Tapi Nita buju-buju turus sampe dia pe mama mau.
Waktu terus berlalu. Nita tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik, sayang sekali Nita menjadi sombong.
Sampe di kota, Nita tinggal di keluarga satu. Om deng tanta itu orang kaya, dorang pe hati bae skali.
Kong dong biking Nita sama deng dong pe ana sunggu.
dong paling sayang pa dia, dong kase pa dia baju yang bagus-bagus.
Suatu hari Nita minta ijin kepada ibunya untuk bekerja di kota.
Semula ibunya keberatan, tetapi Nita terus memaksa. Akhirnya Nita diijinkan pergi juga.
Samua itu Nita musti bersyukur pa Tuhan, tapi kalu mo lia, Nita tamba sombong. Dia tara suka batamang deng orang- susa pe ana-ana.
Bab IV 25
Satu hari, tanta yang yang Nita tinggal pa dorang itu, bilang pa Nita,
“Pulang lia ngana pe mama dulu, ngana pe mama akan so inga skali pa ngana.”
Di kota Nita tinggal bersama keluarga kaya yang murah hati.
Di sana Nita dianggap sebagai anak mereka sendiri. Dia diberi pakaian yang indah-indah dan selalu dimanja.
Sampe di tenga jalang, Nita baku dapa deng dia pe mama, dia pe mama pake baju so tatarobe, kong Nita malu dapa lia dia pe mama, kong dia capat-capat bale ulang ke kota.
Pe lewat satu bulan, tanta itu suru Nita lia dia pe mama lagi. Nita pigi yang ke dua kali ini dorang kase bakal pa dia roti yang sadap.
Tanta itu bilang pa Nita, “Roti ini kase pa ngana pe mama dia pasti suka.”
Seharusnya Nita bersyukur dengan semuanya itu. Tetapi nyatanya Nita semakin sombong saja. Dia tidak mau bergaul dengan anak-anak yang miskin.
Waktu itu musim ujang, kong jalan bapece. Nita tako dia pe capato deng baju kanal pece.
Kong dia buang roti itu kabawa di pece kong dia biking tampa bainjang.
Bab IV 27
Kong Nita tanya pa nene itu, “ Nene, bole kita minta aer sadiki, mo cuci kita pe baju.”
Turus nene bilang,
“Boleh, kalu bagitu ngana kamari.”
Di tengah perjalanan Nita bertemu ibunya pakaian yang di pakai sobek. Nita menjadi malu dan cepat-cepat kembali ke kota.
Nita bajalang diatas roti yang sadap itu. Pe sampe di roti yang paling ujung, dia jatu kong dia pe baju ponong pece. Untung ada nene satu sementara bawa aer.
Suatu hari Nita diminta pulang untuk menjenguk ibunya.
"Pulanglah dulu, Nita. Ibumu pasti sudah sangat merindukanmu," kata ibu angkatnya.
Nene itu mara skali pa Nita, kong bilang bagini,
“Ngana ini ana durhaka.
Roti pe sadap itu kong ngana injang-injang! Pada- hal ngana pe mama so la- par skali.”
Turus Nita badekat kasana pa nene itu, kage-kage nene angka ember kong siram pa Nita. Deng dia bilang,
“Ini aer untuk ngana ana durhaka!
Bab IV 29
Saat itu juga Nita pe badan jadi kaku deng tara bisa bagara.
Kage-kage dia pe badan beruba jadi patong. Sabang hari patong itu kase kaluar aer mata karna dia sedi.
Bab V
Bebe batolor mas
Angsa bertelur emas
Alkisah hiduplah Pak Yakob dan istrinya Bernike yang
sangat miskin. Begitu
miskinnya sehingga kadang- kadang mereka hanya bisa makan sekali sehari.
Kata …… Ada paitua satu dia pe nama Yakob. Dia pe bini nama Bernike. Dorang pe hidup susa skali. Karna dorang talalu susa, sampe satu hari, makang cuma satu kali.
Bab V 31
Satu malam, om Yakob mimpi. Kata: Ada tete satu datang pa dia kong bilang,
“Kita mo kase pa ngana bebe pe ana satu ekor.
Jadi urus bae-bae, sebab kasana-kasana bebe itu yang akan biking ngana pe hidup sanang.
De pe beso, om Yakob dapa lia bebe pe ana satu ekor maso di dorang pe kintal, Turus dia capat-capat kasana tangka bebe itu.
Suatu malam Pak Yakob ditemui seorang kakek dalam
mimpinya. "Aku akan memberimu seekor anak angsa," kata sang Kakek. "Rawatlah dia dengan baik karena lewat angsa ini maka
Satu hari bebe itu batolor. Dia pe tolor bukang sabarang tolor, tapi tolor mas. Kong om Yakob deng de pe bini sanang skali.
Turus om Yakob bawa maso bebe pe ana itu dalam ruma.
Kong dia deng de pe bini piara bebe itu.
hidupmu akan sejahtera."
Bab V 33
Turus om Yakob pe bini, pigi di kota jual tolor itu.
Waktu dia pulang, dia bawa doi deng barang-barang banya yang dorang mo pake hari-hari.
Turus om Yakob usul bagini, “Bagimana kalo tolor ini torang jual.” Kong dia pe bini manyao , “Iyo, baru dia pe doi biking torang pe ongkos hari-hari.”
Keesokan harinya Pak Yakob melihat seekor anak angsa memasuki halaman rumahnya. Cepat-cepat dia berlari, lalu menangkapnya.
Dorang pe mau, tiap hari bebe itu batolor mas. Tapi bebe ajaib itu nanti batolor, kalu dong pe doi so abis.
Pak Yakob segera membawa masuk anak angsa itu ke rumahnya. Kemudian bersama istrinya dia merawatnya dengan baik.
Pe lia bagitu om Yakob jadi golojo, kong dia mo po- tong bebe ajaib itu, la ambe dia pe tolor mas yang ada dalam bebe itu pe puru.
Turus dong potong bebe ajaib itu. Tapi tolor satu biji me tarada. Deng tolor mas yang baru kaluar tadi me ilang.
Bab V 35
Suatu hari angsa itu bertelur. Telur itu bukan telur biasa, melainkan telur emas. Maka senanglah Pak Yakob dan istrinya.
Om Yakub bilang bagini, “Kalu torang ambe tolor itu samua, To- rang akan capat kaya.” Turus dia pe bini bilang, “Deng torang tara perlu tungngu lama-lama.”
"Sebaiknya kita jual saja telur ini," usul Pak Yakob.
"Ya. Uangnya untuk memenuhi kebutuhan hidup kita," jawab istrinya.
Abis itu dorang manyasal kong dudu kabawa. Ttapi mo bik- ing bagimana, bebe itu so mati, deng so tara mungkin mo batolor lagi. Dia pe ahir dorang pe hidup susa sama deng dulu ulang.
Bab VI
Tuturuga yang makangpuji
Kura-Kura yang sombong
Bab VI 37
Ada seekor kura-kura yang hidup di tepi rawa, namanya Pion. Pion terkenal sebagai binatang yang sombong dan selalu iri terhadap kelebihan binatang lain.
Ada satu ekor tuturuga tinggal dipinggir rawa, dia pe nama Pion. Pion ini paling makang puji. Dia tara suka binatang laeng rupa lebe sadiki.
Satu kali, pas tenga hari burung sueko dua ekor ada bacari ikan di rawa. Sueko yang laki-laki dia pe nama Koko, yang parampuang dia pe nama Tiko. Pion lia pa dorang kong dia maraya kasana badekat pa dorang, kong Pion kase hormat pa dorang, “Slamat siang koko deng Tiko. “ Kong dong dua balas sama-sama, “Slamat siang Pion.” Pion bilang pa dong dua, “Kita suka kalo bisa tarbang sama deng ngoni.”
Turus Koko manyao pa dia,
“Kita pikir bagus lagi, kalo
Bab VI 39
Suatu siang Pion mendekati Koko dan Tiko, sepasang
bangau, yang sedang mencari ikan di rawa.
"Selamat siang, Koko dan Tiko," Pion menyapa ramah.
"Selamat siang, Pion,"
jawab mereka bersama-sama.
"Aku senang bila bisa terbang seperti kamu," kata Pion.
"Kupikir menyenangkan juga kalau kami juga punya pelindung badan yang indah dan kuat sepertimu," jawab Koko.
"Tetapi tentu lebih hebat yang bisa terbang seperti kamu," kata Pion.
Turus Koko bilang pa dia,
“Tuhan pe berkat yang kase pa torang itu tara sama. Ada yang bisa tarbang, ada yang barnang, deng ada yang maraya kasana kamari.” Pion manyao pa dia, “Tapi yang dapa lebe bagus itu, yang terbang-terbang.” Koko manyao, “Bukang bagitu
tamang, Kitorang samua, satu- satu ada torang pe lebe sandiri -sandiri. Deng itu torang musti bersukur.” Pion bilang pa Koko deng Tiko, “Bole ka tarada?
Ngoni kase ajar pa kita tarbang!” Koko rupa herang kong tanya pa Pion “ Ha, ngana mo balajar tarbang?”
dia manyao, “Iyo, kalo ngoni mau?” Koko deng Tiko rupa herang kong baku haga.
Abis itu Tiko bilang pa Pion,
“Ngana akan tara bisa tarbang, sebab ngana tarada sayap.”
Turus Pion bilang pa Tiko,
“Kalo bagitu, bole ka tarada kita pinjam ngana pe sayap?”
Pe dengar bagitu dong dua tatawa. Kong dong bilang pa dia, “Itu tara bisa tamang,”
Pion dengar Tiko bilang bagitu, dia rasa kecewa. Turus Koko bilang pa Pion, “Bagini saja, kalo butul-butul ngana mo ingin rasa tarbang, nanti torang
Bab VI 41
"Karunia Tuhan memang berbeda-beda. Ada yang bisa terbang, ada yang bisa
berenang, ada yang bisa merayap, dan sebagainya."
"Tetapi yang paling istimewa adalah yang bisa terbang," sahut Pion.
"Ah, tidak juga. Kita punya kelebihan sendiri-sendiri yang harus disyukuri."
"Koko dan Tiko, maukah kalian mengajariku terbang?"
"Kamu mau belajar terbang?" Koko bertanya heran.
"Ya. Kalian tidak keberatan, bukan?"
Koko dan Tiko saling berpandangan dengan penuh heran.
Turus Koko bilang pa Pion,
“Nanti kita deng kita pe bini ambe kayu sapanggal, kong kitong dua pegang di ujung- ujung. Abis itu ngana gigi kuat- kuat kayu itu pe tenga-tenga.
Jadi kalo torang tarbang, ngana me dapa bawa
tarbang.” Pion dengar bagitu, dia sanang skali kong dia bataria, “iyo..iyo..iyo. kita mau Koko.” Abis itu dong dua cari kayu sapanggal, kong Koko pegang di ujung sabla kanan, Tiko pegang di ujung sabla kiri, kong Pion gigi di tenga. Waktu dorang so mo tarbang, Tiko bilang pa Pion, “Inga, kalo torang so tarbang, ngana tara bole buka mulu!” Turus Pion manyao, “Iyo.”
"Kamu tidak mungkin bisa terbang, karena kamu tidak punya sayap, Pion," kata Tiko menjelaskan.
"Kalau begitu boleh aku meminjam sayapmu?" tanya Pion.
"Ha...ha...ha! Itu juga tidak mungkin, Pion."
Pion tampak kecewa mendengar jawaban itu.
Waktu dorang so mo tarbang, Koko rekeng, “Satu, dua, tiga!” Turus dong tarbang.
Pertama dong masi terbang dekat-dekat. Lama-lama so tinggi sampe tailing-ilang.
Dorang pe tamang-tamang yang di tana herang, dapa lia Tiko deng Koko pe cara kase tarbang pa Pion. Pion sanang skali koko deng tiko kase terbang pa dia. Cuma itu, dia pe sala sadiki, Pion ini makang
Bab VI 43
Pion so lupa, kalo sampe dia bataria, dia talapas dari kayu yang dia gigi itu, tara lama deng dia jatu malayang dari atas sampe kabawa di tana. Koko deng Tiko dusu ka bawa mo lia pa Pion, tapi untung Pion tara mati. Dong dua si more kong tarbang ulang ka atas. Pion bersukur karena dia pe kuli tabal. Mulai dari situ, Pion so tara mau makangpuji lagi.
Bab VII
Tikus pe pande
Tikus yang cerdik
Ada tikus besar dengan seekor anaknya yang masih kecil, bernama si Ani. Induk tikus itu selalu menasehati si Ani agar berhati-hati terhadap si Meong, kucing muda yang tinggal di dekat rumah mereka.
Sebenarnya si Meong ingin sekali memakan si Ani tetapi tidak berani menghadapi induk Kata…... Ada tikus satu
ekor deng dia pe ana satu, dia pe ana pe nama Ani. Dorang pe ruma baku dekat deng tusa kacili satu ekor dia pe nama Meong. Tiap hari tikus mai itu, jaga nasehat dia pe ana, la hati-hati pa Meong. Meong ini suka skali mo makang pa Ani, tapi dia tako Ani pe mama,
Bab VII 45
Satu hari Ani baramaeng sandiri, dia pigi baramaeng jao sadiki dari dia pe ruma. Waktu dia mo pulang, dia so lupa jalang pulang, kong dia ilang jalang. Dia tara tau kalu Meong ada lur-lur mo makang pa dia.
Untung Ani dapa lia pa dia, kong dia capat-capat cari akal la Meong tara makang pa dia.
Pada suatu hari si Ani bermain agak jauh dari
rumahnya. Ketika mau kembali, ternyata dia tersesat dan tidak menemukan jalan pulang.
Si Meong melihatnya
segera mengendap-endap siap menerkam si Ani. Untung si Ani melihatnya sehingga dia cepat- cepat mencari akal untuk
menyelamatkan diri.
Ani biking diri sama deng tara tako. Dia bilang pa Meong bagini, “Tamang ngana mo pi mana? Ngana bajalang kamari mo makang pa kita to?” Turus Meong manyao pa dia, “Iyo, kita ini so lapar skali. Jadi skarang kita mo makang ngana pe isi yang sadap itu.”
Ani tako kong foya pa Meong, dia biking diri hati susa, kong dia bilang bagini, ”Kita datang kamari ini, mo kase kita pe diri pa ngana, sebab kita pe mama bawa tara bae pa kita. Jadi kita pikir lebe bae kita mati.”
Bab VII 47
Turus Meong bilang pa dia, “Kalu bagitu, kita makang pa ngana suda.” Kong Ani bilang pa dia, “Tunggu dulu Meong, sebelum kita mati, kita mo minta satu barang.” Turus Meong tanya pa dia, “Apa yang ngana mo minta?” Turus Ani bilang pa dia, “Bole ka tarada, kita manyanyi kita pe lagu yang kita suka?” Meong mau. Deng Ani manyanyi.
la..la...la…... Meong tunggu kong bapalaka di tana. Dia kira Ani butul-butul manyanyi,
padahal Ani bafoya. Dia
bukang manyanyi, tapi bataria pangge dia pe mama.
"Halo, Meong yang baik.
Kamu suka dagingku, bukan?"
tanya si Ani kepada si Meong, seakan-akan tanpa rasa takut.
"Ya, karena dagingmu sangat lezat," jawab si Meong.
"Hari ini aku memang sengaja datang untuk
menyerahkan diri kepadamu.
Ibuku begitu kejam terhadapku sehingga kupikir lebih baik mati saja aku," kata si Ani
berbohong dan pura-pura bersedih.
Ani so rasa tako skali, waktu dia lia Meong so tara sabar lagi. Sadang dia pe mama bolong datang.
Kong dia bilang pa Meong,
“Sabar tamang. Masi ada kita pe lagu satu lagi yang kita mo manyanyi.”
Meong dengar apa yang Ani bilang. Turus Ani bataria ulang. Kali ini dia bataria lebe kuat, sampe dia pe mama yang jao me dapa dengar dia pe suara.
Bab VII 49
Waktu Ani pe mama den- gar Ani pe suara, turus dia lari cari pa Ani. Dia tau Ani dalam bahaya. Pe sampe kong dia lia Meong mo makang pa Ani, Ani pe mama mara skali.
Deng, dia bakuat kong tubruk pa Meong, sampe Meong talempar kong taguling-guling.
Meong tako skali kong lari sampe tara tau diri. Ani sanang skali bisa bakumpul deng dia pe mama lagi.
Bab VIII
Balanga Ajaib
Belanga ajaib
Di sebuah desa di gunung hiduplah seorang nenek dan cucunya yang bernama Abdul.
Setiap hari nenek itu bekerja di kebun, sedangkan Abdul pergi ke sekolah. Sehabis sekolah Abdul biasanya membantu neneknya memasak nasi untuk makan siang. Mereka
memasak nasi dalam sebuah belanga hitam yang sudah tua.
Belanga hitam tua itu bukan belanga biasa tapi belanga ajaib. Ketika mengisi air ke dalam belanga itu, si nenek berkata, "Ayo masaklah belanga, masaklah nasi!"
Seketika itu juga belanga itu bergolak dan
mendidih serta Ada satu kampong di
gunung. Disitu, ada nene satu deng dia pe cucu satu. Nene pe cucu, dia pe nama Abdul.
Sabang hari nene itu karja di kobong, sadang Abdul pigi di skola. Pulang skola, Abdul baku tolong dia pe nene
mamasa nasi la dong makang tenga hari. Dorang dua
mamasa nasi di balanga itam satu yang so tua.
Balanga itu, bukang
balanga sabarang. Balanga itu balanga ajaib. Waktu isi aer didalam balanga itu, nene cuma bilang bagini, ”Balanga, momasa nasi suda” Deng aer dalam balanga itu
mandidi, kong
Bab VIII 51
kata nenek lagi ketika nasi sudah masak.
Abdul dan neneknya hidup dengan bahagia di desa itu.
Walaupun mereka tidak kaya, setiap hari mereka bisa makan nasi lezat dari belanga ajaib itu.
Pada suatu hari, nenek harus pergi ke desa lain.
"Abdul," kata nenek, "selama aku pergi, engkau tidak boleh memakai belanga ajaib itu.
Kamu nanti tinggal dengan bibimu." Lalu nenek pun pergi.
lagi.”
Abdul deng dia pe nene dorang hidup sanang skali di kampong itu. Biar dorang tara kaya, sabang hari dorang bisa makang nasi yang sadap dari balanga ajaib itu. Satu hari, nene pigi di kampong laeng kong dia bilang pa Abdul bagini, “Abdul, kalo nene tarada, ngana tara bole pake balanga ajaib itu. Jadi ngana tinggal deng ngana pe tanta dulu.” Abis itu turus nene pigi.
Sabang hari Abdul deng dia pe tamang jaga singga di ruma, mo lia dia pe nene so pulang ka bolong. Satu hari, Abdul bilang pa dia pe tamang,
“Ngana mo lia kita pe nene pe balanga ajaib ka tarada? Kalu ngana baca-baca dia pe lima kata itu, turus balanga itu bisa mamasa nasi yang sadap skali.”
Turus Abdul pe tamang bi- lang, “Coba kase tunju pa kita!”
Turus Abdul ambe balanga itu, dia isi aer kong bilang pa balanga itu, “Balanga, momasa
Bab VIII 53
Setiap hari Abdul dan temannya mampir di rumah neneknya untuk melihat apakah nenek sudah kembali atau
belum. Suatu hari, Abdul berkata kepada temannya, "Kamu mau lihat belanga ajaib nenekku atau tidak? Jika kamu mengucapkan lima kata mantera, belanga itu langsung memasak nasi yang lezat sekali."
"Coba tunjukkan belanga itu kepada saya," usul temannya.
Abdul lalu mengambil
belanga itu, menuangkan air ke dalamnya dan berkata, "Ayo,
masaklah belanga, masaklah nasi."
Seketika itu, belanga mulai bergolak dan Ana-ana itu bajongko di
penggir balanga kong lia-lia balanga yang so ponong deng nasi. Turus Abdul pe tamang bilang pa dia, “suru balanga berenti mandidi, la torang dua makang suda.” Tapi bagitu Ab- dul mo bilang balanga itu pe baca-baca, la balanga itu ber- enti mamasa, dia so lupa.
Kong dia cuma bilang, “Berenti mamasa suda!” Tapi balanga ajaib itu dia kase kaluar nasi turus, sampe tabuang ka bawa di lante kong ponong.
Ana-ana itu dorang cari akal kong isi nasi-nasi itu
di bokor-bokor.
mendidih serta penuh dengan nasi panas yang mengepul- ngepul.
Anak-anak itu berjongkok di samping belanga dan
melihatnya penuh dengan nasi.
"Sekarang suruhlah
belanga berhenti supaya kita bisa makan nasi," kata
temannya. Tetapi ketika hendak mengucapkan kata- kata mantera, Abdul tidak bisa mengingatnya lagi. "Berhenti masak!" katanya, tetapi belanga ajaib itu terus saja mendidi.
Dengan segera tumpahlah Tapi balanga itu mamasa
nasi turus.
Waktu nasi yangtabuang kong su mo kaluar kasana di pintu, Abdul bataria bilang bagini, “Berenti, berenti sudah!
nasi itu boleh sudah!”
Orang-orang di sabla ruma dapa lia nasi yang tabuang ka- sana di jalang kong so maso dalam kampong, dorang bawa balanga deng bokor kong ka- sana falo nasi itu.
Pertama dorang sanang bisa dapa nasi banya mo
makang. Tapi dorang mulai ha- water dapa lia nasi itu tara ber-
Bab VIII 55
Tetapi belanga itu tetap saja memasak nasi lagi.
"Berhenti, berhenti! Nasinya cukup!" Abdul berteriak-teriak kepada belanga ketika nasi tumpah keluar pintu.
Tetangga-tetangga segera datang berlari dengan membawa mangkuk dan belanga. Mereka berusaha mengambil nasi karena sudah tumpah ke jalan dan masuk ke dalam desa.
Pada mulanya setiap orang sangat senang karena mendapat banyak nasi untuk dimakan, tetapi segera semuanya mulai merasa cemas ketika nasi terus-menerus
mengalir. Nasi mulai membanjiri jalan dan masuk ke rumah-rumah.
Kepala desa berkata,
"Abdul, kamu harus Turus kapala kampung bilang
pa Abdul, “Abdul, ngana musti kase berenti balanga itu, la dia jang mamasa lagi. Torang pe kampung ini akan mo ancor.”
Turus Abdul batiki mo inga- inga balanga itu pe baca-baca, tapi dia tara bisa dapa inga.
Bagitu Abdul mo bala balanga itu deng tamako, dia dapa lia dia pe nene ada di gunung bajalang kamari. Turus dia bataria, “Nene.
ado bahaya. Kita minta balanga itu mamasa nasi, tapi kita so lupa dia pe baca-baca mo kase ber- enti.”
menghentikan belanga agar ia tidak memasak nasi lagi. Desa kita bisa hancur."
Semampunya Abdul
mencoba, tetapi tetap saja ia tidak bisa mengingat kata- kata manteranya. Tepat ketika Abdul hendak menghancurkan saja
belanga itu dengan kapak, dia melihat neneknya muncul dari gunung. "Nenek," dia berteriak, "gawat sekali.
Saya minta belanga ajaib Turus nene pigi di dapur,
kong badiri dimuka balanga ajaib yang masi mandidi itu, kong nene bilang bagini,
”Balanga barenti suda jang momasa lagi.” Deng balanga itu me berenti momasa. Orang- orang yang ada disitu tagal sanang, dorang babataria.
Abis itu, nene bilang pa Abdul,
”Tagal ngana tara mau dengar nene pe pasang, amper sadiki torang pe kampong tinggalam deng nasi. Jadi skarang ngana deng ngana pe tamang musti
Tina can count (Tina bisa berhitung)
p. 1 One day Tina told her mother she was going for a walk. As she started walking she began to count the things she saw.
p. 2 Tina saw her friend Ade flying a kite. "What a beautiful kite,"
she said.
Tina saw a little boy feeding two cows. "Good morning cows," she said.
p. 3 Tina saw three children riding their bicycles. "Three bicycles," she counted.
Tina saw four lemons hanging from the tree. "Four ripe lemons," she said while pointing.
p. 4 Tina saw five ladies washing their clothes at the well. "Good morning ladies," she said.
Tina saw her friend playing with six balloons. "Six balloons,"
she said.
p. 5 Tina saw seven birds looking for some food. "Seven birds,"
she counted.
Tina saw eight carrots in the garden. "Eight delicious carrots," she said.
P. 6 Tina saw nine dancers dancing at the festival. "Nine dancers," Tina counted.
Tina saw ten fish at the market. She counted,
"1,2,3,4,5,6,7,8,9,10."
p. 7 Can you count all the things that Tina saw? One kite, two cows, three bicycles, four lemons, five women, six balloons, seven birds, eight carrots, nine dancers, and ten fish.
Bahasa Inggris 57
Froggie goes to Ternate (Katak hendak ke Ternate)
p.8 Froggie and his friend were sunning themselves when
Froggie had a thought. He said to his friend, "I hear the flies are big in town. I think I will go there."
p.9 "But how will you go to town?" asked his friend. "I will hop on a truck," he replied, and off he went to find one.
Soon a truck came down the road. Froggie tried to jump on but he jumped too far. Away went the truck without Froggie.
p.10 "Now how will you go to town?" asked his friend. "I will hide in the man’s bag," he replied, and off he went to do so.
The next morning when the man went to town, he forgot his bag. Away went the man without Froggie.
p.11 "Now how will you go to town?" asked his friend. "I will ride in the coconut bags that are going to town," he replied, and off he went to hide in them.
But the truck was so full that all the bags would not fit. Away went the bags of coconut without Froggie.
p.12 "Now how will you go to town?" asked his friend. "I will ride on the wings of a hawk" he replied, and off he went to find one.
Froggie rode on the hawk's wings till the wind blew him off.
Away flew the hawk without Froggie.
p.13 "Now how will you go to town?" asked his friend. "I will go to
p.15 "Big fat flies? Why the big fat flies are not in the town,"
replied the town frog. "We only have small flies in town. The big fat ones are in the forest."
Then the town frog hopped to his house. And the frog from the forest hopped away by himself.
p16 When Froggie went home to the forest he saw his friend.
While they were sunning themselves Froggie said to his friend, "Things aren't always better in another place."
Bahasa Inggris 59
Ade and her friends (Ade dan temannya)
p. 17 Ade the Rabbit
One day Ade felt lonely and wanted to talk to his friends, Yunus and Ani. Yunus was a little dog and Ani was a small cat. Ade could not find them anywhere, so he asked all the animals in the forest if they knew where his friends were.
p. 18 Hasan the Butterfly
"Have you seen Yunus and Ani?" Ade asked Hasan. "No, I have not, but why don’t you ask Andi the mouse? He visits with a lot of the animals," said Hasan.
Andi the Mouse
"Have you seen Yunus and Ani?" Ade asked Andi. "No, but you could ask Dani the horse. He is always following us around," answered Andi.
p. 19 Dani the Horse
"Have you seen Yunus and Ani?" Ade asked Dani. "No,"
answered Dani, "but why don’t you ask Nita the bird. She can see all the animals from the sky."
Nita the Bird
"Have you seen Yunus and Ani?" Ade asked Nita. "No,"
answered Nita. "My wing is hurt and I can not fly. Maybe you can ask Tina the deer."
Bahasa Inggris 61
p. 20 Santi the Frog
"Have you seen my friends, Yunus and Ani?" Ade asked Santi. "Yes, I have," answered Santi. "They are looking for you and if you go back home you will find them there."
p. 21 Yunus the Puppy and Ani the Kitten
When she found them she said to them, "I have been looking for you everywhere! I asked Santi the frog, Tina the deer, Nita the bird, Dani the horse, Andi the mouse, and Hasan the butterfly. We were looking f or you too!" said Yunus and Ani together. "We are glad to be together now."
The girl that became a statue (Gadis patung)
p. 22 In a village there lived a widow with her daughter, Nita.
Everyday they would look for firewood in the forest, and then sell it in the city.
p. 23 Time slowly passed by. Nita grew up to be a beautiful girl.
It was sad that she also became proud.
One day Nita asked permission from her mother to work in the city. At first her mother objected, but Nita continued to insist. In the end Nita was given permission to go.
p. 24 In the city Nita lived with a generous, rich family. Nita was considered like their own child. She was given beautiful clothes and constantly spoiled.
Nita ought to have been thankful to God for everything. In reality however, Nita became increasingly proud. She did not want to associate with poor children.
p. 25 One day Nita was told to go home to see how her mother was doing. "Please go home Nita. Your mother certainly misses you very much," said her adopted mother.
In the middle of her trip home Nita met her mother dressed in rags. Nita was embarrassed and quickly returned to the city.
p. 26 The next month Nita was again asked to go and check on her mother. This time she was given some delicious bread to take to her mother. "Give this to your mother, I'm sure she will enjoy it," said her adopted mother.
Bahasa Inggris 63
p. 27 Nita walked on the delicious bread. When she stepped on the last slice of bread she fell and her clothes became muddy. Luckily for her there was an old woman carrying some water.
"May I have some water to clean my dress, old woman?"
asked Nita.
"Certainly. Why don't you come a little closer?" replied the lady.
p. 28 Nita stepped a little closer. Suddenly the woman splashed the water all over her. "This water is for a rebellious child,"
she said.
"You rebellious child. You stepped on this delicious bread, while your mother really needed it," said the old woman angrily to Nita.
p. 29 Immediately Nita's body became stiff and could not move.
Slowly her body changed and became a statue. And everyday the statue cries tears of sorrow.
The goose who laid golden eggs (Angsa bertelur emas)
p. 30 Once upon a time there was a man named Mr. Yakob and his wife. They were very poor. They were so poor that sometimes they only ate once a day.
p. 31 One day Mr. Yakob met a an old man in his dream. "I will give you a gosling," said the man. "Take good care of him and your life will prosper."
The next day Mr. Yakob saw a gosling enter the yard of his house. Quickly he chased after it and caught it.
p. 32 Mr. Yakob quickly carried the gosling into his house. Then, with his wife, he took good care of it.
One day the goose laid an egg. That egg wasn’t an ordinary egg, but it was a golden egg. Mr. Yakob and his wife were very happy.
p. 33 "O.K., we will sell this egg and buy things we need,"
suggested Mr. Yakob. "Yes. The money will meet our daily needs," replied his wife.
Mrs. Yakob quickly left for the city. When she came home, she was carrying lots of money, and many things that they needed for their everyday life.
p. 34 Every day they hoped to get another golden egg. But the miracle goose only laid golden eggs when their money was all gone.
Seeing this situation, Mr. Yakob became greedy. He
Bahasa Inggris 65
p. 35 The miracle goose was quickly cut open. But they did not find any golden eggs inside it. In fact the last golden egg that was laid miraculously disappeared.
p. 36 They were sad after realizing everything. But the golden goose
remained dead and could never lay eggs again. In the end, Mr. Yakob and his wife returned to their poverty as they were before.
The proud turtle (Kura-kura yang sombong)
p. 37 There once was a turtle named Pion who lived at the edge of a swamp. Pion was famous as an arrogant animal who was always jealous of other animals and their abilities.
p. 38 One afternoon Pion came upon Koko and Tiko, a pair of egrets looking for fish in the swamp.
"Good afternoon, Koko and Tiko," greeted Pion in a friendly manner.
"Good afternoon, Pion," they answered together.
"Isn’t it nice to be able to fly like you do?"
"I think it would be nice if I had a beautiful shell like you,"
said Koko. "But it is certainly exciting to be able to fly like you," said Pion.
p.39 "The gifts of God are indeed different. Some animals can fly, some can swim, some can crawl, and so forth."
"But the best are those who can fly," replied Pion.
"Oh no. We all have our own gifts for which we have to be thankful," said Tiko.
"Koko and Tiko, can you teach me how to fly?"
"You want to learn how to fly?" Koko asked surprised.
"Yes. You don’t have any objections, do you?"
Koko and Tiko considered this together, and they were totally amazed.
p. 40 "You can’t possibly fly because you don’t have wings, Pion,"
explained Tiko.
"If that’s the case, may I borrow your wings?" asked Pion.
"Ha...ha...ha! That’s also impossible, Pion."
Bahasa Inggris 67
p. 41 "My wife and I will hold a piece of wood at each end. You will be in the middle firmly biting the wood. When we fly, you will hang on and fly with us as we carry you along."
"Yes...yes...yes! I want that, Koko," cried Pion happily.
So they went to look for a piece of wood. Koko was on the right end, Tiko on the left, and Pion in the middle.
"Careful, as long as we are flying you may not open your mouth," Tiko said to remind Pion.
"That’s fine," said Pion.
p. 42 "One, two, three," Koko gave a command and they began to fly. At first, they started low, but it wasn’t long before they were very high. The animals below watched this absurd flight with amazement.
Pion really enjoyed being able to fly together with Koko and Tiko. However, Pion was still basically proud, so when he knew that many other animals were looking at him from the ground, he could not keep quiet.
"Friends, friends, look at me. I can fly!" he cried.
p. 43 Pion forgot that when he began to talk that he was no longer holding onto the piece of wood. For several minutes he sailed through the air and then he fell to the ground.
Koko and Tiko were very glad when they realized that Pion was actually still alive. They quickly flew back to the heavens. Since that time, Pion has felt blessed he has a very hard shell. He also promised himself never to be proud again.
Ani the cunning mouse (Si Ani tikus cerdik)
p. 44 There once was a mother rat who had a small child named Ani. Ani’s mother always warned Ani to watch out for Meong, the cat that lived near their home.
In fact, Meong really wished he could eat Ani but he was not brave enough to face Ani’s mother. So he waited for a good opportunity to catch him away from where he lived.
p. 45 One day Ani played a long distance from his home. When he started to go home he lost his way and couldn’t find the right path.
Meong the cat quickly saw that Ani was lost and quietly moved up to leap on him. Fortunately Ani saw Meong, giving himself time to think of a way to save himself.
p. 46 "Hello, Meong. You like to eat rats, don’t you?" asked Ani to Meong as if he wasn’t afraid.
"Yes, and you will taste very delicious!" replied Meong.
"Today I purposely came here to hand myself over to you.
My mother has been very cruel to me so that I thought I would be better off dead," lied Ani while pretending to be sad.
p. 47 "In that case, I will pounce on you."
"Patience, Meong, I want to ask one thing of you before I die."
"What is your request?" asked Meong.
"I want to sing several songs that I like. Is that O.K.?"
p. 48 Ani began to worry when he saw that Meong was losing his patience and his mother still had not arrived. "Patience, friend. There is still one more song I will sing," said Ani, when Meong was ready to pounce on him.
p. 48 Meong agreed and Ani screamed again. This time he screamed louder so that his mother could hear him from where she was.
p. 49 The big mother rat quickly ran to find Ani. She knew that her child was in great danger.
Ani’s mother was furious at Meong who was about to pounce on Ani. With great strength she lunged at Meong making him fall down.
Meong was extremely frightened and quickly ran to save himself. Ani however was very happy to see his mother again.
Bahasa Inggris 69
The Magic Pot (Belanga ajaib)
p. 50 In a village lived a grandmother with her grandson named Abdul. Every day the grandmother worked in the garden and Abdul went to school. Abdul often helped his grandmother cook rice in an old black pot.
This pot was not an ordinary pot, but a magic pot. While putting water in the pot, the grandmother always cried out,
"Hey, cook pot, cook some rice!" After that the pot would quickly shake and the water would boil and the pot would fill with rice. When she wanted the pot to stop cooking she said,
"Stop pot! Cook no more!"
p. 51 Abdul and his grandmother were happy in the village.
Although they were not rich, each day they could eat delicious rice from the magic pot.
One day the grandmother had to go to another village.
"Abdul," said the grandmother before she left, "as long as I am gone you may not use the magic pot. You will be staying with your aunt."
Then she left.
p. 52 Everyday Abdul and his friend would stop by his
grandmother’s house. "My grandmother has a magic pot.
With five magic words the pot will immediately cook delicious rice," said Abdul to his friend.
"Could you show me?" asked his friend. Abdul quickly
grabbed the pan, filled it with water and said, "Hey, cook pot, cook some rice!" Immediately the pot began to shake, and the water began to boil, and soon it was filled with simmering rice.
p. 54 "Stop! Stop! Enough rice," yelled Abdul to the magic pot.
But the pot just kept cooking until the rice spilled out the door.
Quickly the neighbors came. They brought their bowls and pots. They were busy catching all the rice as it spilled into the village.
At first all the people were happy with all the rice. But then they got worried when the the rice kept coming and
threatened to cover the village. "You have to stop the pot Abdul," said the leader of the village.
p. 55 But try as he might, Abdul was unsuccessful. Luckily his grandmother quickly arrived. "Grandmother, I asked the pot to cook some rice but I forgot how to make it stop. What are the magic words grandmother?"
p. 56 Grandmother immediately went into the kitchen and stood in front of the boiling magic pot. "Stop pot! Cook no more!" said grandmother and immediately the pot stopped. All the
people cheered.
"Because you didn’t listen to your grandmother, the village was almost destroyed. Now you and your friend are to be punished. Eat all the rice until it is gone."
Since that time Abdul has never again used the magic pot.
He
promised to always obey the advise of his grandmother.
Bahasa Inggris 71