• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user 36

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilakukan di desa X, daerah Garut, Jawa Barat dengan menggunakan metode magnetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui zona mineralisasi endapan emas di bawah permukaan bumi dengan menggunakan metode magnetik yang didukung dengan data pemodelan 2D IP serta menganalisis hasil inversi 2D data magnet, serta mengetahui geologi bawah permukaan daerah X. Pengambilan data dilakukan pada tanggal 20 Februari - 9 Maret 2013 di daerah Garut, Jawa Barat. Akusisi data magnetik ini dilakukan dengan menggunakan metode Base-Rover. Metode ini menggunakan 2 buah alat PPM seri G-856, dimana satu alat untuk pengambilan data base yang penempatannya harus jauh atau terhindar dari noise yang mempengaruhi medan magnet total seperti, logam, kabel listrik, dan sebagainya. Penempatan base yang terhindar dari noise dilakukan agar dapat mencatat nilai variasi harian yang bernilai tetap.

Sedangkan untuk PPM yang satu lagi berfungsi sebagai rover pengambil data lapangan guna mencatat intensitas medan magnet total pada tiap lintasan. Data hasil pengukuran yang dihasilkan dari survei dilapangan dapat dilihat pada lampiran A.

Koreksi harian yang didapat dari data basestation ini digunakan untuk mengurangi pengaruh eksternal terhadap medan magnet dari hasil yang didapat dilapangan, sebagai koreksi harian. Nilai dari besarnya koreksi harian dari daerah penelitian 424,28 nT. Nilai medan magnet yang didapat merupakan data yang telah dilakukan diurnal atau telah dilakukan koreksi variasi harian dari base .

Setelah dilakukan koreksi variasi harian, kemudian dilakukan koreksi IGRF (International Geomagnetic Reference Field), yaitu melakukan koreksi kembali medan magnet utama bumi. Koreksi ini dilakukan dengan tujuan mengurangi adanya pengaruh medan magnet yang berasal dari dalam bumi, medan magnet yang berada di dalam bumi ini diasumsikan berasal dari perputaran

(2)

commit to user

aliran arus dari dalam inti bagian luar bumi yang bersifat konduktif (Sharma,1997).

Nilai yang digunakan untuk mengoreksi medan magnet dengan IGRF dihitung dari pendekatan model IGRF dari tahun penelitian yaitu tahun 2013.

Nilai ini didapat dari software CSAZ (Cesium Sensor Active Zone) dengan memasukkan nilai inklinasi serta deklinasi dari daerah penelitian. Melalui perhitungan pendekatan IGRF maka didapat hasil data medan magnet total di daerah penelitian. Nilai medan magnet total yang didapat tersebut dikurangi dengan nilai medan magnet dari hasil koreksi variasi harian maka, didapat hasil nilai medan magnet total yang telah dikoreksi IGRF atau . ini merupakan nilai magnetik sisa dimana, harga medan magnet ini adalah nilai medan magnet di daerah penelitian yang dihasilkan dari batuan dibawah permukaan yang menjadi target pengambilan data magnetik. Hasil koreksi IGRF dapat dilihat pada Lampiran A.

Data medan magnet sisa atau yang disebut data anomali medan magnet tersebut kemudian diplotkan melalui program Geosoft Oasis Montaj sehingga didapat peta kontur anomali medan magnet didaerah penelitian dengan sumbu X dan Y sebagai nilai dari koordinat Bujur dan Lintang sedangkan Z adalah nilai anomali medan magnet. Peta anomali medan magnet dapat dilihat pada Gambar (4.1.)

Gambar 4.1 Anomali medan magnet total di daerah penelitian

(3)

commit to user

Peta kontur 4.1 merupakan titik lintasan pengukuran medan magnetik, terlihat titik pengukuran merata di sepanjang lintasan pengukuran tersebut. Pada nilai magnetik terlihat dari bagian selatan ke utara berkisar 0 nT sampai 1200 nT.

Dari peta anomali magnetik dapat dilihat perubahan anomali magnetik dari nilai anomali rendah menjadi nilai anomali tinggi. Di daerah tersebut diduga merupakan daerah potensial akan mineral. Dan ada pula daerah sekitar lintasan yang mempunyai nilai anomali magnetik yang tidak terlalu tinggi, diduga dikarenakan adanya proses pelapukan atau terjadi perubahan karena proses metamorfosa.

Kenaikan anomali yang tinggi biasanya dikarenakan adanya batuan gunung api seperti breksi gunung api, tufa, lava, andesit-breksi. Sedangkan nilai anomali yang rendah dan biasanya dikarenakan adanya batuan sedimen seperti batu pasir, batu lempung, batu gamping, konglomerat dan napal.

Pada lintasan nilai anomali positif cenderung bernilai lebih besar, hal ini dimungkinkan karena daerah tersebut mengandung batuan yang memiliki suseptibilitas yang cukup tinggi dengan jarak yang dekat dengan permukaan seperti tufa, batuan gunung api. Hal ini dapat dilihat dari kontur anomali magnetik yang dapat menunjukan bahwa benda magnetik dekat dengan permukaan dan bukan berasal dari lapisan yang jauh dari dalam.

Pada peta kontur tersebut dapat dilihat nilai anomali medan magnet hingga 1200 nT. Dimana hal tersebut menunjukan bahwa daerah tersebut memiliki nilai kemagnetan dengan intensitas kecil yaitu 0 nT serta terdapat pula nilai intensitas magnet yang besar yaitu 1200 nT. Anomali terkecil dapat dilihat dari range warna ungu dan terbesar warna merah. Dimana adanya nilai anomali medan magnet kecil pada daerah penelitian diidentifikasi adanya urat atau jalur emas (vein) dari daerah yang memiliki prospek emas lebih tinggi atau lebih besar di bandingkan daerah lainnya.

4.2. Pengangkatan Keatas

Proses pengangkatan keatas merupakan metode pengangkatan data potensial magnetik ke bidang datar ke posisi yang lebih tinggi. Proses

(4)

commit to user

pengangkatan anomali ini digunakan untuk memisahkan anomali lokal dan anomali regional. Anomali regional berasosiasi dengan kondisi geologi umum yang dominan di daerah pengukuran, dicirikan dengan anomali frekuensi rendah.

Sedangkan anomali lokal, atau sering juga disebut sebagai anomali sisa, mengandung kondisi geologi setempat yang telah terdeviasi dari kondisi regionalnya yang biasanya terdapat pada kedalaman yang dangkal. Pada gambar 4.1 tersebut merupakan peta anomali yang belum dipisahkan antara anomali regional dan anomali lokal atau residual.

Pada proses pengangkatan menggunakan metode upward continuation yang menggunakan konsep teorema Green dan analisis Fourier. Pemisahan ini dilakukan pada ketinggian tertentu sehingga pada ketinggian awal sebelum dilakukan pengangkatan merupakan nilai dari bawah permukaan pada ketinggian tertentu yang merupakan parameter pengangkatan berdasarkan nilai elevasi dari daerah penelitian. Operasi pengangkatan dilakukan dengan menggunakan software Magpick dengan memasukkan nilai ketinggian pengangkatan kedalam program dan melalui iterasi maka didapat hasil pengangkatan yang berupa peta pemisahan anomali lokal dan regional. Berikut merupakan hasil dari pengangkatan ke atas.

Gambar 4.2 Upward Continuity pada ketinggian 400 m 4.3. Pemisahan Anomali

Pada proses upward continuation dilakukan pengangkatan pada ketinggian 100 m sampai dengan 3000 m. Pada ketinggian 400 m data anomali

(5)

commit to user

regional sudah melemah atau tidak mengalami perubahan lagi sampai pada ketinggian 3000 m. Berikut merupakan pemisahan anomali lokal dan regional pada ketinggian 400 m

Gambar 4.3 Anomali regional 400 m

Setelah didapat anomali regional pada ketinggian 400 m dimana nilai anomalinya berkisar 75 nT sampai 992 nT dan pada ketinggian ini nilai anomali magnetik sudah melemah, dapat dilihat dari sudah tidak ada nilai dipole yang berpasangan. Dan anomali lokal didapat dari hasil pengurangan nilai griding dari anomali medan magnet total dikurangi nilai magnet anomali regional, kontur medan magnet lokal dapat dilihat sebagai berikut.

Gambar 4.4 Anomali lokal 400 m

(6)

commit to user

Pada anomali residual atau lokal ini nilai magnetik pada daerah penelitian berkisar -338 nT - 259 nT. Terlihat pada daerah sebelah timur terdapat daerah yang memiliki nilai magnetik tinggi hal ini diduga sebagai daerah yang mengandung mineral atau zona mineralisasi. Pada bagian barat sebelah selatan juga terdapat nilai magnetik tinggi seperti halnya telah disebutkan dalam referensi litologi batuan daerah penelitian, bagian barat selatan juga diduga memiliki nilai kemagnetan tinggi.

4.4. Reduksi ke Kutub

Setelah proses pengangkatan ke atas, dilakukan reduksi ke arah kutub bumi. Hal ini dikarenakan pada kutub magnetik dari medan magnetik bumi ke bawah dan arah magnetiknya ke bawah pula sehingga letak anomali tepat berada pada benda penyebab anomali (Sukmawan,2009). Hasil kontinuitas direduksi ke arah medan magnet bumi dengan cara mengubah nilai deklinasi dan inklinasi magnet bumi. Pada daerah penelitian besarnya inklinasi -31o dan deklinasi daerah penelitian 0,86o. Nilai inklinasi -31o diubah menjadi 90o dan deklinasi 0,86o diubah menjadi 0o yang disesuaikan dengan deklinasi dan inklinasi dari kutub utara magnet bumi.

Gambar 4.5 Hasil Reduksi Kutub Utara Magnetik Bumi

Dari hasil reduksi ke kutub utara magnetik bumi ini kontur yang terlihat lebih jelas dibandingkan sebelum direduksi ke kutub. Data hasil reduksi ke kutub ini kemudian disayat tiap lintasan dari daerah penelitian dan kemudian

(7)

commit to user

dimodelkan. Hasil penampang tersebut diplotkan dalam software MAG2DC kemudian didapat kurva anomali magnetik disetiap penampang. Dari hasil kurva tersebut lalu dilakukan pencocokan pada kurva matching atau kurva model untuk membuat body dari masing-masing batuan dengan mengatur nilai kontras suseptibilitas, inklinasi, deklinasi, kedalaman lapisan batuan tertentu.

4.5. Interpretasi

4.5.1. Interpretasi Kualitatif

Pada kontur anomali medan magnet lokal terlihat keberadaan dipole magnetik (pasangan anomali positif dan negatif) dengan nilai -338 nT sampai 259 nT. Pada nilai anomali medan magnet tinggi terlihat pada kontur warna orange, merah, sampai warna putih, terlihat nilai medan magnet diantara 165 nT - 498 nT.

Nilai ini terlihat pada lintasan B, C, dan D yang dinterpretasikan sebagai batuan andesit lava, dacite yang tersebar di bagian tengah-utara. Pada bagian ini sesuai dengan litologi batuan yang didapat diasumsikan banyak terdapat batuan alterasi kaolin - alunite - pyrite disseminate. Sedangkan, kontur warna biru menunjukan nilai medan magnet rendah dengan nilai -381 nT - 33nT yang terlihat pada lintasan A dan E. Pada lintasan ini batuan diinterpretasikan sebagai batuan breksi dibagian selatan dan utara. Di bagian selatan dapat dijumpai batuan breksi polimik di bagaian selatan sungai. Batuan breksi polimik,fragmen andesit dan tuff . 4.5.2 Interpretasi Kuantitatif

Interpretasi kuantitatif dari kondisi bawah permukaan dibuat 5 pemodelan pada anomali residual dengan menggunakan software Mag2dc. Prinsip dari software ini yaitu dengan metode Talwani yaitu pemodelan secara 2,5 dimensi, dimana hal tersebut mengandaikan benda penyebab anomali berbentuk poligon sembarang.

Parameter yang digunakan untuk melakukan pemodelan anomali residual atau lokal yaitu posisi, strike, inklinasi, deklinasi, IGRF daerah penelitian. Pola yang digunakan untuk pembuatan model anomali ini yaitu pola penampang pada setiap lintasan di daerah X. Hal ini dilakukan guna mendapatkan informasi daerah

(8)

commit to user

prospek dari sebaran anomali yang ada di bawah permukaan tanah. Berikut merupakan penampang yang dilakukan pada daerah penelitian:

Gambar 4.6 Penampang pada anomali residual untuk lintasan AA’, BB’,CC’, DD’, dan EE’

Berikut merupakan profil dari peta geologi daerah lintasan pada daerah penelitian.

Gambar 4.7. Profil daerah penelitian hasil overlay dengan geologi lokal

(9)

commit to user

Gambar 4.8. Profil daerah penelitian hasil overlay dengan peta alterasi Dari gambar peta penampang 4.6 tersebut dibuat 5 profil potongan dari arah barat ke timur yang menjadi input interpretasi. Hasil penampang yang didapat dari setiap lintasan merupakan kurva kesesuaian atau matching curve anomali hasil pemodelan anomali magnetik yang dihasilkan dengan menggunakan metode 2,5 dimensi melalui program software Mag2dc. Untuk menyesuaikan kurva matching maka dibuat model berupa polygon dengan memasukkan nilai suseptibilitas dari batuan yang dilewati pada saat pengambilan data. Hasil pemodelan dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

1. Penampang A-A’

Gambar 4.9. Hasil pemodelan Penampang A-A’

(10)

commit to user

Penampang A-A’ disayat pada bagian paling selatan dari daerah penelitian dapat terlihat pada kontur gambar 4.6. Syatan A-A’ disayat dari barat ke timur, dimana menghasilkan bentuk bodi dari pemodelan dengan nilai suseptibilitas yang berbeda-beda seperti terlihat pada gambar 4.7. Pada kedalaman 79,7 m dari permukaan tanah terdapat satu bodi dengan nilai suseptibilitas tinggi dibandingkan daerah di sekitarnya yaitu 0,059 emu, dimana ketebalan batuan tersebut adalah 38,628 m dan lebarnya adalah 314,409 m. Berdasarkan teori anomali magnetik, jika pada batuan yang mempunyai nilai suseptibilitas tinggi maka diindikasi pada daerah tersebut memiliki nilai medan magnet tinggi dibandingkan di daerah sekitarnya. Nilai suseptibilitas pada beberapa batuan yang melingkupi struktur dari penampang A-A’ pada kedalaman 38 m terdapat beberapa bodi batuan yang memiliki nilai batuan yang hampir berdekatan yaitu - 0.002 emu ; -0.001 emu; 0,001 emu ; 0,003 emu yang diindikasikan batuan permukaan atau batuan lapukan.

Sesuai informasi geologi dan hasil overlay dengan peta geologi pada lintasan A terlihat melewati batuan lapukan. Tetapi pada saat dibuat kurva terdapat kurva yang mempunyai nilai magnetik tinggi dengan nilai suseptibilitas 0,059 emu diinterpretasikan sebagai batuan dacite. Hal ini dimungkinkan adanya singkapan atau batuan yang terdapat di daerah sungai akibat dari migrasi batuan karena arus sungai dari bagian utara. Pada lapisan berikutnya nilai batuan berkisar -0,002 emu; -0,001 emu dan 0, 001 emu pada batuan ini diindikasikan sebagai batuan lapukan yang diduga sebagai batuan andesit teralterasi dari panas bumi.

Dari penampang A-A’ terlihat bahwa nilai suseptibilitas pada batuannya didominasi dengan batuan dengan nilai suseptibilitas rendah. Pada penampang ini dapat diindikasikan adanya patahan atau sesar. Nilai suseptibilitas kecil atau negatif tersebut karena adanya alterasi batuan dari akibat intrusi magma yang melingkupi batuan tersebut. Pada nilai suseptibilitas yang bernilai negatif mempunyai nilai karakteristik batuan diamagnetik maka dapat dikatakan bahwa pada lintasan A dengan penampang A-A’ tidak terdapat daerah prospek mineralisasi.

(11)

commit to user 2. Penampang B-B’

Gambar 4.10. Hasil pemodelan Penampang B-B’

Pemodelan pada penampang B-B’ berada di sebelah utara dari penampang A-A’, pada penampang ini memiliki beberapa bodi dari struktur batuan yang terbentuk dari penampang pada lintasan pengambilan data B-B’. Bodi dari penampang ini ada beberapa nilai suseptibilitas yang berbeda-beda, yaitu pada bodi yang pertama pada kedalaman 76 m dari permukaan memiliki nilai suseptibilitas -0,0002 emu dengan ketebalan 1200 m, bodi yang kedua memiliki nilai suseptibilitas -0,006 dan -0,001 emu dengan ketebalan sekitar 80 m, pada bodi ketiga nilai suseptibilitasnya adalah -0,0300 emu dengan ketebalan 800 m dan kedalaman 76 m dari permukaan, dan bodi keempat memiliki nilai suseptibilitas 0,1058 emu, ketebalan 240 m dan kedalaman 76 m. Bodi kelima 0,0205 emu dengan kedalaman 76 m dengan ketebalan 880 m. Bodi keenam 0,067 emu dengan kedalaman 58 m dan ketebalan 400 m, bodi ketujuh 0,0042 bodi kedelapan 0.0082 emu dengan karakteristik batuan hampir sama dengan kedalaman 58 m dan ketebalan 320 m.

Dari informasi geologi yang diperoleh bahwa pada penampang B-B’

pada bodi pertama atau lapisan pertama, kedua dan ketiga merupakan batuan andesit tuff . Lapisan selanjutnya diinterpretasikan sebagai batuan andesit teralterasi silica karena nilainya negatif yang merupakan nilai suseptibilitas batuannya kecil. Pada lapisan ketiga diinterpretasikan sebagai batuan andesit dengan nilai lebih kecil dibandingkan dengan lapisan sebelumnya. Lapisan

(12)

commit to user

keempat merupakan interpretasi dari batuan breksi tuff polikromatik. Bodi kelima memiliki nilai suseptibilitas tinggi yaitu di interpretasikan sebagai batuan breksi andesit teralterasi. Alterasi pada batuan ini adalah silica yang tercampur clay.

Dari hasil interpretasi batuan pada penampang B-B’ ini dapat dilihat bahwa nilai anomali batuan pada penampang ini didominasi dengan adanya batuan yang teralterasi. Pada bodi lapisan pertama, kedua, ketiga dan keempat memiliki nilai suseptibilitas rendah diduga pada daerah tersebut ada intrusi magma atau adanya patahan. Tetapi jika dilihat pada geologi hasil overlay pada bagian barat dari penampang B-B’ ini merupakan batuan lapuk yang diduga di bawah batuan tersebut terdapat aliran lava dari gunung api tua karena terdapat indikasi adanya batuan breksi tuff disekitar penampang B-B’ bagian barat.

3. Penampang C-C’

Gambar 4.11. Hasil pemodelan Penampang C-C’

Hasil pemodelan pada penampang C-C’ ini terlihat beberapa bodi dengan nilai suseptibilitas yang berbeda-beda. Penyayatan ini dilakukan pada lintasan C dari arah barat ke timur disepanjang jalur lintasan C. Bodi yang dihasilkan dari pemodelan diatas antara lain adalah bodi yang pertama dengan nilai suseptibilitas 0,0003 emu berada diatas permukaan. Bodi kedua suseptibilitasnya -0,012 emu pada kedalaman 76 m dari permukaan tanah dengan tebal 400 m. Bodi ketiga dengan nilai suseptibilitas -0,014 emu pada kedalaman 76 m dan ketebalan 420 m.

Bodi ke empat memiliki nilai suseptibilitas tinggi yaitu 0,0199 emu dengan

(13)

commit to user

ketebatan 560 m dan kedalaman 76 m dibawah permukaan tanah. Bodi keempat memiliki nilai suseptibilitas lebih tinggi dibandingkan nilai suseptibilitas dari yanng lainnya yaitu 0,0289 emu pada kedalaman 76 m dengan ketebalan 400 m.

Bodi kelima menyisip pada batuan ketiga dan keempat memiliki nilai suseptibilitas 0,0012 emu dengan ketebalan 400 m pada kedalaman 76 m.

Sesuai dengan informasi geologi dari lintasan C yang disayat dari C-C’

dari arah barat ke timur terdapat beberapa jenis batuan yang diinterpretasikan sebagai batuan tuff pada bodi pertama dan kedua. Pada bodi ketiga yang mempunyai nilai suseptibilitas tinggi diinterpretasikan sebagai batuan dacite teralterasi. Pada bodi keempat diinterpretasikan sebagai batuan dacite seperti halnya pada bodi ketiga karena memiliki nilai suseptibilitas tinggi. Pada bodi kelima diinterpretasikan batuan breksi teralterasi.

Dari penampang C-C’ ini disayat pada lintasan C yang terletak pada bagian selatan sebelah utara dari lintasan B yang melewati sungai dimana sungai tersebut merupakan sungai Cikawung, Jangkung sesuai dari gambar hasil overlay kontur dengan peta geologi pada gambar 4.7. Pada daerah ini terdapat batuan breksi polimik yang dijumpai fragmen andesit dan tuff teralterasi, serta matrik tuff hal ini sesuai dengan geologi dari lintasan C.

Pada penampang C-C’ ini pada bodi ketiga dan keempat diindikasikan pada batuan tersebut diindikasikan sebagai batuan dacite teralterasi kao-alu- pydiss. Dari struktur batuan dacite yang tersingkap dijumpai pada lintasan C pada saat melewati sungai sepanjang lintasan C, sehinggga menyebabkan daerah tersebut diduga memiliki daerah atau prospek mineralisasi. Hal ini juga didukung dari data pemodelan daerah pada bodi kelima yang diinterpretasikan sebagai batuan breksi dengan alterasi clay ± silika. Pada litologi pada batuan disepanjang aliran sungai pada lintasan C ini berkembang sebagai alterasi vuggy quartz. Pada lintasan C ini pengambilan data magnetik dikorelasikan dengan hasil pengambilan data IP pada lintasan C. Data IP ini dapat mendukung dari hasil yang diperoleh dari perhitungan data magnetik yang diperoleh serta hasil pemodelan yang

dilakukan didaerah pada sepanjang lintasan C.

(14)

commit to user

Gambar 4.12. Gabungan data Magnetik dan data IP pada lintasan C 4. Penampang D-D’

Gambar 4.13. Hasil pemodelan Penampang D-D’

Penampang D-D’ menghasilkan beberapa bodi yang diinterpretasikan sebagai struktur batuan. Antara lain yang pertama dengan nilai suseptibilitas - 0,0001 emu dengan ketebalan 450 m dan kedalaman 69 m dari permukaan tanah.

Bodi kedua dengan nilai suseptibilitas 0,0015 emu pada kedalaman 70 m dan ketebalan 800 m. Bodi ketiga dengan nilai suseptibilitas 0,001 emu, ketebalan 240 m kedalaman 65 m. Bodi keempat memiliki nilai suseptibilitas yang tinggi yatu 0,0055 emu pada kedalaman 69 m dari permukaan tanah dan ketebalan 1120 m.

(15)

commit to user

Bodi kelima nilai suseptibilitasnya adalah 0,0005 emu pada kedalaman 69 m dan ketebalan 1120 m.

Penampang D-D’ ini berada disebelah tengah dan utara dari lintasan C yang disayat dari lintasan D dari arah barat ke timur. Data geologi yang didapat pada lintasan D ini merupakan lintasan yang melewati sungai yang sama halnya pada lintasan C yaitu sungai Cikawung, Jangkung. Lintasan ini terletak sebelah utara bagian tengah dari daerah penelitian sebelumnya dapat terlihat pada gambar hasil overlay dengan peta geologi pada gambar 4.7. Pada penampang ini terlihat nilai suseptibilitas yang sangat mencolok yaitu dengan nilai 0,005 emu batuan ini diinterpretasikan sebagai batuan dacite teralterasi. Pada bagian tengah sebelah utara dari daerah penelitian ini banyak dijumpai alterasi silica+clay. Batuan yang mendominasi pada lintasan ini adalah alterasi masif silica dan koalin illate atau chlorite.

Dari hasil overlay dengan peta alterasi pada lintasan D pada bagian barat mid chargeabilitas tinggi yang diinterpretasikan dari batuan 0,0015 emu pada bodi kelima diindikasikan merupakan batuan breksi silika dengan data geologi yang menyebutkan ada singkapan batuan breksi yang tersebar pada bagian tengah bagian utara. Dan pada bagian timur yaitu bodi ke empat memiliki nilai batuan yang tinggi diinterpretasikan sebagai batuan dacite teralterasi masif silika. Batuan ini dijumpai pada bagian timur dari lintasan D, dan dari overlay dengan peta alterasi pada bagian timur dari lintasan ini merupakan daerah yang memiliki nilai resistivitas yang tinggi. Jika suatu batuan memiliki nilai resistivitas yang tinggi dan mempunyai nilai chargeabilitas yang tinggi maka pada daerah tersebut diindikasi adanya zona prospek mineral yang tersingkap dari batuan dacite yang mendominasi pada lintasan D tersebut. Pada bagian timur dari lintasan D dari hasil penampang D-D’ juga terdapat nilai suseptibilitas kecil yaitu bernilai negatif diindikasi pada daerah sekitar batuan tersebut terdapat patahan yang menyebabkan batuan teralterasi dan diduga adanya intrusi magma sehingga melapisi batuan diatasnya dan pada batuan yang memiliki nilai magnetik tinggi mengalami oksidasi yang diindikasi pada daerah tersebut mengandung (Fe) atau logam mineral.

(16)

commit to user 5. Penampang E-E’

Gambar 4.14. Hasil pemodelan Penampang E-E’

Pada pemodelan pada penampang E-E’ ini disayat pada lintasan E dari sebelah barat ke timur. Bodi pertama -0,001 emu dengan kedalaman 55 m dan ketebalan 240 m. Bodi kedua memiliki nilai suseptibilitas yang tidak begitu jauh dengan sebelumnya -0,006 emu dengan kedalaman 55 m dengan ketebalan 160 m.

Bodi ke tiga nilai suseptibilitasnya 0,213 emu pada kedalaman 80 m dan ketebalan 80 m. Bodi ke empat 0,0060 emu pada kedalaman 55 m dan ketebalan 1840 m dan bodi ke lima nilai suseptibilitasnya adalah -0,010 emu pada kedalaman 30 m pada ketebalan 1200 m.

Sesuai dari informasi data geologi, lapisan pertama dan kedua diinterpretasikan sebagai batuan andesit yang teralterasi. Pada batuan ini memiliki nilai suseptibilitas kecil atau negatif hal ini diduga pada sekitar daerah tersebut terdapat patahan atau sesar. Patahan tersebut meyebabkan adanya aliran dari intrusi magma atau panas bumi yang menyebabkan batuan disekitar panas bumi tersebut kecil. Pada bodi ketiga diinterpretasikan sebagai batuan dacite karena memiliki nilai suseptibilitas tinggi. Hal ini diduga pada daerah yang merupakan daerah endapan urat vein yang berbentuk dyke. Batuan ini diindikasikan sebagai endapan dari intrusi magma pada daerah sekitar bodi pertama dan kedua yang diduga adanya sesar.

Pada data overlay gambar 4.8 pada lintasan E terdapat adalah spoted mid resistivitas dan spoted mid chargeabilitas, dapat dikatakan bahwa daerah ini

(17)

commit to user

memiliki nilai resitivitas dan chargeabilitas tinggi. Pada bodi keempat memiliki nilai suseptibilitas yang cukup tinggi diinterpretasikan sebagai batuan andesit teralterasi. Pada daerah lintasan E ini terdapat alterasi silica, clay dan chlorite.

Pada sekitar daerah ini nilai suseptibilitasnya rendah diduga terdapat intrusi magma pada daerah disekitarnya. Dengan adanya hal tersebut maka dapat diduga bahwa pada daerah tersebut juga memiliki zona prospek mineralisasi di bagian timur dari lintasan tersebut.

Referensi

Dokumen terkait

Suawardi Endraswara (2005:5) membuat definisi bahwa, “penelitian kualitatif adalah penelitian yang dilakukan dengan tidak menyertakan angka-angka, tetapi mengutarakan kedalaman

Untuk membantu anak dalam bersosialisasi, program bimbingan dan konseling di sekolah dasar sebaiknya memasukan kegiatan permainan kelompok, hasil penelitian Landreth

Model time se- ries stasioner Auto Regressive - AR(1) memberikan nilai pendekatan nilai tukar yang baik bahkan memberikan nilai peramalan yang baik pula, na- mun demikian model

Hasil analisis lintas menunjukkan bahwa di Kabupaten Konawe Selatan unsur cuaca yang mempunyai pengaruh langsung positif besar terhadap peningkatan intensitas penyakit busuk

Sistem yang dibuat merupakan sistem yang dapat mengintegrasikan database- database, yaitu database Yayasan Compassion Indonesia, database hotel dan database maskapai

• Diperuntukkan bagi para guru yang diberi ijin belajar, baik yang bertempat tinggal di sekitar, maupun yang bertempat tinggal. jauh

Kinetin sering digunakan pada kultur sel dan jaringan tanaman untuk menginduksi pembentukan kalus (jika dikombinasikan bersama auksin) dan untuk menumbuhkan tunas dari

siklus I meningkat menjadi 77,78 dalam kategori tuntas pada siklus II, perolehan nilai rata-rata soal nomor 2 sebesar 72,22 pada siklus I meningkat menjadi 76,67 dalam