ANALISA PERCEPATAN WAKTU PENYELESAIAN PROYEK JARINGAN GAS BUMI UNTUK RUMAH TANGGA PAKET II ACEH TAMIANG DENGAN METODE CRASH PROGRAM DAN
FAST TRACK
M. Fajar Syachroni. 1*, Edi Haryono. 2, Mochammad Choirul Rizal.3
Program Studi D-IV Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*
Program Studi D-IV Teknik Permesinan Kapal, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2
Program Studi D-IV Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya,Surabaya, Indonesia 3
Email: [email protected]1*; [email protected] 2* ; [email protected] 3*;
Abstract - In working on a project there will be several problems such as project completion time that is not on time, causing delays which result in excessive costs due to additional duration that cannot be pursued. Planning, cost and time control is part of the overall project management. The costs that have been incurred and the time used in completing a job must be measured continuously so as not to deviate from the initial plan. This research was conducted on the Natural Gas Network Project for Household Package II Aceh Tamiang due to delays in the House Connection line. So it is necessary to optimize to overcome these delays. The schedule used is PERT (Program Evaluation and Review Technique) and as a comparison of project acceleration using the crash program method by adding workers and fast track by accelerating predecessor activities on the critical path. The results of the analysis using the fast track method are time and cost efficient with a duration of 66 days, 38 days faster than the normal duration of 104 days. and at a cost of Rp. 195,981,000 more efficient than the normal cost of Rp.
492.890.000 and crash duration costs Rp. 221,262,000. Optimization using the fast track method was chosen because it has a more efficient cost.
.
Keywords : Lateness, Acceleration, PERT, Crash Program, Fast Track
1. PENDAHULUAN
Pada pekerjaan Jaringan Gas Bumi untuk Rumah Tangga Paket II Aceh Tamiang. Dengan durasi 8 bulan dimulai dari bulan April 2020 sampai dengan bulan Desember 2020. Dalam proyek tersebut terdapat beberapa bagian pengerjaan yaitu Pipa Distribusi Tekanan Tinggi, Jaringan Pipa Induk, Jaringan Pipa Distribusi, kemudian Sambungan Rumah (SR) dan Sambungan Kompor (SK).
Pada saat proyek sedang berjalan terjadi masalah keterlambatan, dimana tidak sesuai dengan perencanaan proyek yang telah ditentukan. Keterlambatan yang terjadi diproyek ini disebabkan kurang maksimalnya pengerjaan instalasi Sambungan Rumah (SR). Pada penjadwalan tertulis pekerjaan SR selesai pada 13 November 2020, namun pada kenyataannya di bulan Desember hingga sekarang pekerjaan SR tersebut masih berjalan.
Sebelumnya pada perjanjian proyek ini jika terjadi keterlambatan maka perusahaan atau kontraktor yang bersangkutan akan mendapat Penalty 0,1% dari nilai kontrak untuk setiap keterlambatan perharinya.
Oleh sebab itu perusahaan harus berupaya untuk mengejar keterlambatan proyek ini dengan
mengoptimasi jadwal agar proyek segera selesai dan memperkecil besarnya biaya penalty. Solusi yang dapat dilakukan yaitu melakukan percepatan dengan metode crash program dan fast track kemudian dilakukan analisa dan dipilih opsi yang terbaik untuk meminimalisir terjadinya kerugian yang lebih besar lagi.
2. METODOLOGI.
2.1 Prosedur Penelitian
Optimasi akan dilakukan dimulai dari awal pengerjaan hingga akhir. Dengan dibuat optimasi durasi dan biaya proyek dengan opsi penambahan tenaga kerja menggunakan metode crash duration. Pertama membuat work breakdown Structure pada kegiatan Sambungan Rumah Aceh Tamiang, kemudian dilanjutkan untuk membuat jadwal proyek menggunakan Microsoft Project dsesuai dengan produktifitas pekerja. Selanjutnya membuat perhitungan PERT, membuat diagram aliran, dsn selanjutnya. perbandingan waktu dan biaya dari optimasi menggunakan penambahan tenaga kerja menggunakan metode crash duration. Dan optimasi dengan fast track.
Sehingga didapatkan perhitungan waktu yang efisien dan biaya paling optimum dari opsi yang didapatkan. Selain itu juga akan didapatkan
kurva-S dari hasil optimasi yang digunakan acuan progress yang sedang dilaksanakan.
2.2 WBS dan Durasi
Pekerjaan pertama yang harus dilakukan adalah membuat WBS, fungsi dari WBS dalam proyek adalah membagi pekerjaan inti dan sub pekerjaan yang akan dilakukan agar pekerjaan lebih terstruktur. Selanjutnya adalah melakukan perhitungan pada persamaan (1) untuk mendapatkan durasi. Perhitungan ini didapatkan dengan mengetahui volume pekerjaan yang akan dialakukan dibagi dengan produktivitas perhari pekerja. Selanjutnya untuk mendapatkan durasi baru yang sesuai dengan durasi optimasi maka dengan diketahui durasi dan volume pekerjaan yang akan dikerjakan didapatkan produktivitas baru, dari produktivitas baru ini dapat dilakukan perbadingan dari dua perhitungan diatas kemudian divariasi penambahan pekerja untuk mendapatkan produktivitas yang diinginkan.
𝐷𝑢𝑟𝑎𝑠𝑖 = 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙
𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑝𝑒𝑟ℎ𝑎𝑟𝑖 (1)
2.3 PERT (Program Evaluation and Riview Technique)
PERT yaitu sebuah jalur kritis dengan diketahuinya jalur kritis ini maka suatu proyek dalam jangka waktu penyelesaian yang lama dapat memimalisir [2]. PERT merupakan metode yang digunakan dalam analisis network. Analisis network bertujuan untuk membantu dalam penjadwalan dan pengawasan kompleks yang saling berhubungan dan saling tergantung satu sama lain [3]. PERT digunakan dalam penelitian ini karena metode penjadwalan menggunakan diagram yang dapat membantu dan memberikan hasil yang optimal dikarenakan tidak ada kegiatan dummy (semu) yang nantinya dengan bantuan Microsoft Project akan didapatkan pekerjaan yang termasuk lintasan kritis. Perencanaan jaringan kerja Proyek Jaringan Gas Bumi Aceh Tamiang pada pekerjaan Sambungan Rumah ini dibuat berdasarkan Time Schedule yang telah direncanakan.
2.3.1 Identifikasi Jalur Kritis
Perhitungan untuk mendapatkan jalur kritis yaitu dengan perhitungan maju dan perhitungan mundur, yang nantinya apabila didapatkan ES (Early Start) = LS (Late Start) dan EF (Early Finish) = LF (Late Finish) maka kegiatan tersebut termasuk jalur kritis
Hitungan Maju
EF= ES+D (2)
Hitungan Mundur
LF= LS+D (3)
2.4 Crash Duration
Adalah metode optimasi waktu pada proyek dengan cara melakukan perkiraan dari variable cost dalam menentukan pengurangan durasi yang maksimal dan paling ekonomis dari suatu kegiatan yang masih mungkin untuk direduksi.
Dalam penelitian ini metode crash duration hanya fokus dalam penambahan pekerja dari suatu kegiatan yang mungkin dapat direduksi waktu pengejaannya.
2.5 Fast Track
Fast track yaitu dengan cara melakukan pengelompokan pekerjaan yang mengalami keterlambatan kemudian melakukan percepatan waktu pada lintasan kritis dengan cara menyusun ulang perecanaan penjadwalan dengan menggabungkan pekerjaan yang memiliki durasi paling panjang dengan pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut.
2.6 Presentase Bobot Pekerjaan
ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑠𝑎𝑡𝑢𝑎𝑛 𝑃𝑒𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎𝑎𝑛
ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑃𝑒𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎𝑎𝑛 𝑥 100% (4)
Adalah presentase dari setiap pekerjaan yang didapatkan dari persamaan (4) dengan mengetahui harga satuan pekerjaan dibagi harga seluruh pekerjaan.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Deskripsi Data
Proyek Jaringan Gas Bumi untuk Rumah Tangga adalah proyek pembangunan proyek untuk kebutuhan rumah tangga. Dimana pengerjaannya terdiri dari beberapa bagian pengerjaan yaitu : Pipa Distribusi Tekanan Tinggi, Jaringan Pipa Induk, Jaringan Pipa Distribusi, kemudian Sambungan Rumah (SR) dan Sambungan Kompor (SK). Pada saat proyek sedang berjalan terjadi masalah keterlambatan, dimana tidak sesuai dengan perencanaan proyek yang telah ditentukan. Keterlambatan yang terjadi diproyek ini disebabkan kurang maksimalnya pengerjaan instalasi Sambungan Rumah (SR).
Oleh karena itu untuk mengatasi keterlambatan itu dalam penelitian ini dilakukan optimasi pada pekerjaan dilintasan kritis dan metode optimasi crash duration dan fast track, kemudian dibandingkan hasilnya dan digunakan untuk mengatasi keterlambatan pada proyek tersebut.
3.1 Produktivitas dan Penjadwalan
Didalam melakukan penjadwalan durasi, volume dan produktivitas harus diperhitungan dengan benar. Selanjutnya penjadwalan bisa dilakukan dengan bantuan Microsoft Project dan dengan diagram jaringan. Berikut adalah tabel perhitungan produktivitas.
Tabel 1. Perhitungan produktivitas rencana
Dari tabel 1 didapatkan durasi pada masing- masing pekerjaan berbeda .Dari produktivitas tersebut didapatkan diagram alir sebagasi berikut.
Gambar 1. Diagram jaringan
Pada gambar 1 diatas durasi yang digunakan adalah durasi produktivitas normal.
3.2 Crash Duration
Salah satu strategi untuk mempercepat waktu penyelesaian proyek adalah dengan menambah jamkerja (lembur) para pekerja [1].
Namun dalam perhitungan crashing pada peneletian ini dilakukan percepatan dengan dilakukan penambahan pekerja.
Tabel 2. Perhitungan produktivitas normal
Tabel 3. Perhitungan setelah crashing
Dari tabel diatas menunjukan produktivitas sebelum crashing pada kegiatan penggalian dibutuhkan 12 worker untuk mendapatkan produktivitas 57,6 m³ galian perharinya. Dan setelah crashing didapatkan produktivitas pada masing-masing pekerjaan pada tabel 3. setelah dilakukan crashing. Setelah diketahui besarnya produktivitas harian percepatan pekerjaan kritis, maka langkah selanjutnya adalah menghitung biaya langsung percepatan (crash cost) dan cost slope. perhitungan crash cost digunakan untuk mencari Slope biaya (cost slope) masing-masing aktivitas.
• Perhitungan crash cost
Jumlah pada pekerjaan Sambungan Rumah masing-masing kegiatan memiliki jumlah anggota yang berbeda, pada penggalian terdiri dari 12 orang,penyambungan pipa 2 team yang masing- masing teamnya terdapat 1 operator, 1 helper dan 1 worker, kemudian pengujian terdiri dari 2 team dengan 1 team terdiri dari 2 orang, dan pekerjaan penimbunan terdiri dari 8 orang. jadi total pekerjaan Sambungan Rumah ini adalah 30 orang.
Namun dengan dilakukannya crashing maka jumlahnya menjadi 42 orang.
Tabel 4. Biaya Penambahan pekerja setelah Crashing
− Perhitungan biaya penambahan pekerja
− Cost pekerjaan Penggalian = jumlah pekerja x upah normal
= 4 x Rp 110.000
= Rp 440.000
− Cost pekerjaan Penyambungan = jumlah team x upah normal
= 1 x Rp 700.000
=Rp 700.000
− Cost pekerjaan Pengujian = jumlah team x upah normal
= 1 x Rp 150.000
= Rp 150.000
− Cost pekerjaan Penimbunan = jumlah pekerja x upah normal
= 3 x Rp 60.000
= Rp 180.000
− Total Cost penambahan pekerja
= cost penggalian + cost penyambungan + cost pengujian + cost penimbunan
= Rp 440.000 + Rp 700.000 + Rp 150.000 + Rp 180.000
= Rp 1.470.000
− Crash Cost
= Total biaya normal + Total Cost penambahan pekerja
= Rp 3.500.000 + Rp 1.470.000
= Rp 4.970.000
Tabel 5. Biaya kebutuhan setelah Crashing
FS - 21 31 2 93 FS - 39
4FF
31 0 93
0 1 52 54 4 104 78 5 104
0 0 52 54 0 104 78 0 104
FS - 21 31 3 93 FS - 39
31 0 93
Join 20 to Galvanis(62) Joint 63 to 20 (62)
Galian (52) Pengujian (50) Penimbunan (26)
Qty Unit Per Day Durasi
1 2954,4 m³ 75,8 39 16 worker
2 4924 joint 104,8 47 3 team
3 9848 joint 209,6 47 3 team
4 14772 joint 388,8 38 3 team
5 2954,4 m³ 147,8 20 11 worker
Penyambungan pipa 20 mm to Pengujian
Penimbunan
Produktivitas Sisa Pekerjaan Sambungan Rumah (SR)
Penggalian
Penyambungan pipa 63 mm to 20 mm
No Jenis Pekerjaan Volume Crashing
Keterangan
Team Orang Total/hari Team Orang Total/hari
1 1
Man Power Biaya per
team/orang Man Power Biaya per
team/orang
Penggalian Rp110.000 12 Rp1.320.000 Penggalian Rp110.000 16 Rp1.760.000
Penyambungan Rp700.000 2 Rp1.400.000 Penyambungan Rp700.000 3 Rp2.100.000
Pengujian Rp150.000 2 Rp300.000 Pengujian Rp150.000 3 Rp450.000
Penimbunan Rp60.000 8 Rp480.000 Penimbunan Rp60.000 11 Rp660.000
Rp3.500.000 Rp4.970.000
Normal Setelah Crashing
NO. DESKRIPSI Volume
Total Volume Sambungan Rumah NO.
Total Volume Sambungan Rumah
Volume
Total Total
DESKRIPSI
1 jumlah Durasi (hari) Total
Becak Motor Rp33.333 3 47 Rp4.700.000
2
Genset Rp8.500.000 1 Rp8.500.000
Kabel Roll Rp70.000 1 Rp70.000
Pompa manual Rp200.000 1 Rp200.000
Bensin Rp7.200 30 liter 47 Rp10.152.000 Rp23.622.000 Total
Setelah Crashing Penyewaan
Pembelian
Tabel 6. Total Biaya Normal dan Crashing
Dari tabel 6 didapatkan bahwa optimasi waktu proyek dengan crashing penambahan pekerja membutuhkan biaya tambahan sebesar Rp 25.281.000 dengan lebih cepat 47 hari dari durasi normal.
3.4 Fast Track
Analisis yang digunakan untuk optimasi proyek ini adalah fast ttrack yaitu dengan cara melakukan pengelompokan pekerjaan yang mengalami keterlambatan kemudian melakukan percepatan waktu pada lintasan kritis dengan cara menyusun ulang perecanaan penjadwalan dengan menggabungkan pekerjaan yang memiliki durasi paling panjang dengan pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut [4].
Tabel 7. Tabel Perhitungan Total Cost setelah Fast Track
Dari tabel 7 didapatkan bahwa optimasi waktu menggunakan metode fast track dengan dilakukan percepatan terhadap predecessor masing-masing pekerjaan tanpa penambahan pekerja membutuhkan biaya yang sama dengan waktu normal yaitu Rp 195.981.000 dengan lebih cepat 38 hari dari durasi normal.
3.5 Analisa Biaya Akibat Keterlambatan Setelah melakukan perhitungan produktivitas didapatkan durasi, kemudian dilakukan penjadwalan dan hasil biaya dan waktu dari setiap metode optimasi yaitu crash duration dan fast track. Selanjutnya dilakukan perbandingan biaya dan waktu dari setiap metode yang digunakan untuk menentukan metode mana yang dapat digunakan untuk optimasi dan percepatan dalam proyek ini.
Tabel 8. Tabel Analisa Biaya Akibat Keterlambatan
Dari perbandingan biaya didapatkan metode crash duration dengan biaya Rp 221.262.000 sedangkan metode fast track memiliki biaya yang lebih hemat yaitu Rp 195.981.000 dengan selisih biaya sebesar Rp 25.281.000.
3.6 Kurva S
Suatu keterlambatan yang terjadi pada proyek akan berdampak sangat buruk apabila tidak segera diselesaikan. Oleh karena itu dilakukanlah optimasi, setelah optimasi dilakukan selanjutnya yaitu membuat kurva S, dimana pada
kurva S dapat menunjukkan kemajuan suatu proyek berdasarkan waktu dan bobot pekerjaan yang dipresentasikan sebagai presentase komulatif dari seluruh pekerjaan.
3 11 18 25 1 8 15 22 29 5 12 19 26 5 12 19 26
1 37,53
2 23,73
3 23,73
4 8,21
5 6,82
4,691 4,691 4,691 4,691 9,437 9,437 9,437 10,46 5,772 5,772 5,772 7,477 7,477 7,477 2,731 4,691 9,382 14,07 18,76 28,2 37,64 47,08 57,54 63,31 69,08 74,85 82,33 89,81 97,29 100 5,788 12,03 13,27 13,27 13,27 14,94 9,148 9,148 9,148
5,788 17,82 31,09 44,35 57,62 72,56 81,7 90,85 100 9,437 9,437 10,46 10,46 10,46 10,46 12,17 12,17 7,477 7,477 9,437 18,87 29,34 39,8 50,26 60,73 72,89 85,06 92,54 100
No BobotDurasi Des-20 Jan-21
Normal Progress Sisa Mingguan Penggalian Penyambungan pipa 63 mm to 20 mm Penyambungan pipa 20mm to Galvanis
Feb-21 Mar-21
Penimbunan
Total SR Aceh Tamiang 100 Pengujian
Deskripsi
Kurva S Normal Kurva S Crashing Kurva S Fast Track Normal Progress Sisa Mingguan Komulatif Crashing Progress Mingguan Crashing Progress Mingguan Komulatif Fast Track Progress Mingguan Fast Track Progress Mingguan Komulatif
Gambar 2. Kurva S
Dari gambar 2 dapat dijelaskan bahwa pada percepetan dengan metode crashing didapatkan progress 100% pada akhir bulan Januari 2021 dengan total biaya sebesar Rp. 221.262.000.
Sedangkan dengan metode fast track didapatkan progress 100% pada awal bulan Februari 2021 dengan total biaya sebesar Rp. Rp 195.981.000.
Dari analisa waktu dan biaya yang telah dilakukan, didapatkan biaya minimal percepatan apabila proses optimasi dilakukan dengan metode fast track.
4. KESIMPULAN
Dari perbandingan keduanya, metode fast track dapat dipilih sebagai opsi pertama dalam melakukan optimasi dan percepatan pada proyek ini karena memiliki waktu yang efisien dan tidak melebihi durasi rencana sehingga tidak dikenakan denda akibat keterlambatan, dan juga metode fast track hanya menggunakan produktivitas normal dengan melakukan percepatan pada pekerjaan yang berada di lintasan kritis, hal ini berbeda dengan crash duration yang memotong atau mereduksi durasi dari pekerjaan normal sehingga perlu penambahan pekerja. Dari perbandingan biaya didapatkan metode crash duration dengan biaya Rp 221.262.000 sedangkan metode fast track memiliki biaya yang lebih hemat yaitu Rp 195.981.000 dengan selisih biaya sebesar Rp 25.281.000.
5. DAFTAR PUSTAKA.
[1] Aulia, M. R., & Priyo, M. (2015). Aplikasi Metode Time Cost Trade Off Pada Proyek Konstruksi: Studi Kasus Proyek Pembangunan Gedung Indonesia. Jurnal Ilmiah Semesta Teknika, 14.
[2] Nugroho, A A. (2007). Optimalisasi Penjadwalan Proyek Pada Pembangunan Gedung Khusus (LABORATORIUM) Stasiun Karantina Ikan Kelas 1 Tanjing Emas.
Semarang: Skrips
No. Time Duration
(hari) Cost No. Time Duration Cost
1 Normal 104 Rp195.981.000 1 Crashing 57 Rp221.262.000
No. Time Duration
(hari) Cost No. Time Duration Cost
1 Normal 104 Rp195.981.000 1 Fast Track 66 Rp195.981.000
No. Time Duration
(hari) Cost Time Duration
(hari) Cost Time Duration (hari) Cost 1 Normal ( termasuk
keterlambatan ) 104 Rp492.890.000 Crashing 57 Rp221.262.000 Fast Track 66 Rp195.981.000 Perbandingan Biaya dan Waktu
[3] Sari, Eci Adria. 2018. Analisis Penjadwalan Ulang Proyek Dengan Metode Part (Analysis Of Rescheduling Of Contruction Project By Using Pert Method). Skripsi. Yogyakarta : Universitas Islam Indonesia
[4] Saputra, A. (2017). Analisis Percepatan Aktifitas Pada Proyek Jalan Dengan Menggunakan Metode Fast Track , Crash Program, dan What-If. Jurnal Rekayasa Sipil/ Volume 11,8