commit to user BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka ini akan menyajikan hasil penelitian yang relevan. Penelitian yang relevan diperlukan untuk menganalisis perbedaan dan persamaan dengan penelitian ini. Hal tersebut dilakukan agar kajian penelitian ini dapat memberi keakuratan.
Penelitian tentang penerapan pembelajaran membaca berdasarkan kurikulum 2013 yang pernah dilakukan oleh Setiartin (2013) berjudul “Implementasi Kurikulum 2013 di SMA Melalui Pembelajaran Membaca Apresiatif Nilai-nilai Karakter Sastra Lisan
“Sawer Panganten”” dalam jurnal prosiding seminar nasional. Adapun hasil simpulan penelitian Setiartin tersebut adalah mengambarkan kegiatan belajar membaca berdasarkan kurikulum 2013. Persamaan penelitian ini adalah sama-sama meneliti pembelajaran membaca berdasarkan kurikulum 2013. Perbedaannya adalah penelitian ini tidak hanya menyajikan kegiatan pembelajaran membaca guru Bahasa Indonesia tapi juga perencanaan, proses, evaluasi, hambatan dan upaya untuk mengatasi hambatan tersebut sedangkan peneltian Setiartin hanya menyajikan kegiatan belajar membaca guru bahasa Indonesia yang dilakukan pada atas berdasarkan kurikulum 2013.
Penelitian yang relevan lagi tentang pembelajaran adalah yang dilkukan Bintari dkk. (2014). Dalam jurnal yang berjudul “ Pembelajaran Bahasa Indonesia Berdasarkan Pendekatan Saintifik (Problem Based Learning) Sesuai Kurikulum 2013 di Kelas VII SMP Negeri 2 Amlapura”. Penelitian tersebut membahas tentang pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah menengah berdasarkan kurikulum 2013. Hal ini relevan dengan penelitian ini yang juga membahas tentang pembelajaran bahasa indonesia yang meliputi rencana pelaksanaan, pendekatan, dan juga penilaian.
Penelitian relevan tentang kurikulum yang dilakukan Ozturk (2012). Dalam jurnal internasional berjudul “Curriculum Reform and Teacher Autonomy In Turkey: The Case Of The History Teaching”. Dalam Hal pengembangan kurikulum yang sangat penting, Ozturk menyampaikan dalam hasil penelitiannya bahwa reformasi kurikulum diharapkan dapat menumbuhkan dan memperhatikan kemandirian guru. Namun
commit to user
sayangnya, hal tersebut malah kurang diperhatikan. Kesamaan penelitian ini tersebut dengan penelitian ini sama-sama meneliti kurikulum.
Penelitian Mahdi (2013) yang berjudul “A Critical Review Of Recent Trends In Second Language Syllabus Design And Curriculum Development”. Penelitian ini membahas tentang ulasan kritis mendisain silabus dan pengembangan kurikulum.
Persamaannya dengan penelitian ini sama-sama membahas kurikulum. Perbedaannya penelitian mahdi meneliti tentang disain silabus dan mengembangkannya sedangkan penelitian tesis ini membahas tentang pembelajaran membaca dalam kurikulum.
Penelitian membaca yang juga dilakukan oleh Ahmadi (2013) yang berjudul “The Importance of Metacognitive Reading Strategy Awareness in Reading Comprehension”.
Penelitian Ahmadi menyampaikan pentingnya strategi membaca dalam kesadaran dalam pembelajaran membaca pemahaman. Perbedaannya dengan penelitian ini adalah meneliti membaca pemahaman sedangkan penelitian tesis meneliti proses pembelajaran serta kendala dan upaya untuk mengatasinya.
Hasil penelitian studi kasus Akyol (2014) yang berjudul “A Study on the Development of Reading Skills of the Students Having Difficulty in Reading:
Enrichment Reading Program”. Penelitian Akyol menyampaikan dalam bahwa Keterampilan Membaca dari Mahasiswa Memiliki Kesulitan membaca karena kurang diperhatikan dan sulit dilakukan. Persamaanya penelitian Akyol dengan penelitian ini adalah sama-sama membahas tentang keterampilan membaca.
Penelitian tentang keterampilan membaca dalam pembelajaran yang dilakukan oleh Rraku (2013) dalam judul “The Effect Of Reading Strategies On The Improvement Of The Reading Skills Of Students” penelitian ini membahas tentang pengaruh strategi membaca sangat penting bagi peningkatan keterampilan membaca dan mereka harus dipromosikan dalam pengajaran bahasa Inggris. Persamaan dengan penelitian ini adalah sama-sama meneliti keterampilan membaca. Perbedaannya dalam penelitian ini mengarah pada penelitian studi kasus sedangkan Rraku adalah penelitian korelasi.
Penelitian keterampilan membaca juga dilakukan oleh Sunarsi dengan judul Pembelajaran Keterampilan Membaca Pemahaman (Studi Kasus Pada Siswa Kelas Ix MTsN Kedunggalar Kabupaten Ngawi Tahun Pelajaran 2009/2010). Penelitian ini membahas tentang persepsi, rencana pelaksanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, kendala-kendala dalam pembelajaran, dan upaya dalam mengatasi
commit to user
kendala pembelajaran membaca di Sekolah Menengah Pertama. Penelitian Sunarsi sama dengan penelitian ini hanya saja bedanya terletak pada kurikulumnya. Penelitian Sunarsi masih menggunakan kurikulum 2006 yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), sedangkan penelitian ini menggunakan Kurikulum 2013 (K13).
Penelitian persepsi guru yang dillakukan penelitian yang dilakukan Supianto (2014) yang berjudul Persepsi Guru IPS terhadap Kurikulum 2013 (Studi Kasus Pada SMP Negeri 10 Pontianak). Penelitian itu menyimpulkan persepsi guru terhadap Kurikulum 2013 cukup baik dan wajar karena perubahan untuk membentuk siswa yang berkompetensi dan berakhlak mulia. Persamaannya dengan peneltian ini adalah sama- sama penelitian kualitatif deskriptif dan membahas tentang persepsi guru terhadap Kurikulum 2013. Perbedaannya adalah penelitian supiyanto hanya membahas tentang persepsi guru saja dengan objek penelitian juga hanya guru ips saja, sedangkan penelitian ini tidak hanya membahas persepsi tapi juga membahas kendala-kendala dalam pembelajaran dan upaya mengatasi kendala tersebut dalam pembelajaran.
Penelitian Onsu dkk. (2013) dalam jurnal yang berjudul Persepsi Guru SMP di Kecamatan Pasan terhadap Kurikulum 2013 (Survei Terhadap Guru-Guru SMP di Kecamatan Pasan Kabupaten Minahasa Tenggara). Penelitian tersebut membahas tentang persepsi guru terhadap kurikulum 2013 dengan pengumpulan data menggunakan angket yang hasilnya menunjukkan persepsi baik. Persamaanya dengan penelitian adalah sama-sama penelitian studi kasus dan sama-sama membahas persepsi guru dengan pengumpulan data dengan menggunakan angket. Perbedaannya dalam penelitian Onsu tidak dibahas kendala dan upaya dalam pembelajaran dengan menggunakan Kurikulum 2013 sedangkan dalam penelitian ini dibahas juga rencana proses pembelajaran, kendala dan upaya untuk mengatasi kendala dalam pembelajaran.
Berdasarkan analisis dari beberapa hasil penelitian di atas, diperoleh penelitian yang relevan dengan penelitian ini karena sama-sama mengambarkan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran bahasa khususnya membaca. Perbedaaanya dengan penelitian di atas adalah peneltian ini berfokus pada persepsi guru, perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, kendala pembelajaran, dan upaya mengatasi kendala dalam pemebelajaran bahasa Indonesia. Semua orang pada era globalisasi sudah mengenal abjad bahkan lancar dalam membaca tapi tidak memiliki kesadaran
commit to user
untuk membaca. Membaca menjadi sebuah beban karena kurang diperhatikan dan sulit dilakukan atau dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.
1. Hakikat Kurikulum 2013 a. Pengertian Kurikulum
Pengertian kurikulum secara etimologis adalah tempat berlari dengan kata yang berasal dari bahasa latin curir yaitu pelari, dan curere yang artinya tempat berlari.
Dalam sejarahnya, kurikulum merupakan suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari mulai dari garis awal atau strat sampai dengan finish. Pengertian kurikulum tersebut kemudian juga mendapat tempat di dunia pendidikan, dengan pengertian sebagai rencana dan pengaturan tentang sejumlah mata pelajaran yang harus dipelajari peserta didik dalam menempuh pendidikan di lembaga pendidikan.
Pengertian kurikulum mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, tidak hanya diartikan sebagai “rencana pembelajaran” seperti pandangan kaum tradisional.
Mulyasa (2009: 22) menjelaskan kurikulum sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, kompetensi dasar, materi standar, dan hasil belajar, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar dan tujuan pendidikan. Pengertian yang senada dikemukakan oleh Nasution (1999:8) memandang tujaun pendidikan. Apayang direncanakan biasanya bersifat idea, suatu cita-cita tentang manusia atau warga negara yang akan dibentuk. Kurikulum ini lazim mengandung harapan-harapan yang sering berbunyi muluk-muluk.
Menurut Romine “Curriculum is interpreted to mean all of the organized courses, activities, and experiences which pupils have under direction of the school, whether in the classroom or not” (Hamalik, 2007: 4). Implikasi perumusan dari pendapat yang disampaikan itu mencangkup sistem penyampaian yang dipergunakan oleh guru dengan disesuaikan kegiatan atau pengalaman yang akan disampaikan dan tujuan pendidikan bukanlah untuk menyampaikan mata pelajaran (courses) atau bidang pengetahuan yang tersusun (subject), melainkan pembentukan pribadi anak dan belajar cara hidup di masyarakat. Kurikulum 2013 memberikan warna baru dalam pendidikan dengan menegaskan pentingnya proses belajar yang tidak lagi menetitikberatkan pada hasil belajar kognitif semata.
commit to user
Saylor dan Alexander juga menyatakan, bahwa curriculum as the plan for providing sets of learning opportunities to achieve broad goals and related specific objectives for an identifiable population served by a single school center atau rencana pembelajaran peserta didik yang berpusat pada sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Oliva, 1982: 6). Di Indonesia sendiri, pengertian kurikulum terdapat dalam pasal 1 butir 19 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Menurut Kurniasih (2014: 6) kurikulum itu adalah suatu perangkat yang dijadikan acuan dalam mengembangkan suatu proses pembelajaran yang berisi kegiatan-kegiatan siswa yang akan dapat diusahakan dan tujuan pendidikan secara umum.
Berpijak dari beberapa pengertian tersebut dapat disintesiskan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana yang digunakan pedoman dalam mengembangkan proses pembelajaran untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik. Sistem yang mencakup penyampaian yang gunakan guru disesuaikan dengan kegiatan yang akan disampaikan dan tujuan pendidikan yang pembentukan pribadi anak dan belajar cara hidup di masyarakat.
Pengembangan kurikulum perlu dilakukan karena adanya berbagai tantangan yang dihadapi, baik tantangan internal maupun tantangan eksternal. Di samping itu, dalam menghadapi tuntutan perkembangan zaman, dirasa perlu adanya penyempurnaan pola pikir dan penguatan tata kelola kurikulum serta pendalaman dan perluasan materi serta perlunya penguatan proses pembelajaran dan penyesuaian beban belajar agar dapat menjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang dihasilkan (Kemendiknas, 2012 :9). Kurikulum merupakan serangkaian petunjuk teknik materi pembelajaran, program terencana dan menyeluruh, yang menggambarkan kualitas pendidikan sebuah bangsa. Dengan demikian, pengembangan kurikulum diharapkan bersifat antisipatif, adaptif, dan aplikatif.
Kemendikbud (2013) menegaskan bahwa konstruk dan isi Kurikulum Tahun 2013 menekankan pada terselenggaranya proses pembelajaran secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif serta memberi ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat,
commit to user
minat, dan perkembangan siswa. Proses belajar yang dilakukan menggunakan pendekatan ilmiah (scientific approach) dengan penilaian hasil belajar berbasis proses dan produk. Menurut Arjudin (2013: 1) menyatakan bahwa Kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP 2006 yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu. Kurikulum 2006 atau yang dikenal dengan KTSP dikembangkan menjadi Kurikulum 2013 didasari pemikiran tentang tantangan masa depan, persepsi masyarakat, perkembangan pengetahuan dan pedagogi, kompetensi masa depan, dan fenomena negatif yang mengemukan. Sudaryanto (2013: 19), menambahkan bahwa ada dua hal yang disempurnakan dalam Kurikulum 2013.
Pertama, standar kompetensi lulusan lebih menitikberatkan pada sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Kedua, standar proses melalui pengembangan tematik-integratif Sekolah Dasar, mata pelajaran Sekolah Menengah Pertama, mata pelajaran wajib dan pilihan Sekolah Menengah Atas, dan mata pelajaran wajib, pilihan, dan vokasi Sekolah Menengah Kejuruan.
Senada dengan pendapat Rokhanah (2013:112) menyatakan Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang dapat memberikan konstribusi yang signifikan dalam mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik. Kurikulum 2013 adalah ada upaya penyederhanaan, dan tematik intergratif. Kurikulum ini disiapkan untuk mencetak generasi yang siap menghadapi masa depan. Kurikulum 2013 ini juga bertujuan untuk mendorong anak didik atau siswa, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan apa yang diperolehnya dan diketahuinya setelah menerima materi pembelajaran. Objek pembelajaran menekankan pada fenomena alam, sosial, seni, dan budaya (Utami, 2013: 123).
Kurniasih (2014: 33) mengemukakan bahwa kurikulum 2013 adalah kurikulum yang berakar pada budaya lokal dan bangsa, pandangan filsafat eksperimentalisme, rekonstruksi sosial, pandangan filsafat esensialisme, dan perenialisme, pandangan filsafat eksistensialisme, dan romantik naturalism. Menurut Sutarsih (2013: 172) Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang berbasis pada teks. Kurikulum ini mengisyaratkan bahwa buku teks merupakan pijakan dalam kegiatan pembelajaran.
Kurikulum 2013 bertujuan membangun kesejahteraan berbasis peradaban, di mana
commit to user
modal sosial, modal budaya, modal pengetahuan/keterampilan menjadi modal dasar peradaban untuk membangun sumber daya manusia yang sejahtera (Triana, 2013:2).
Berpijak dari beberapa pendapat di atas, dapat disentesiskan bahwa kurikulum 2013 adalah kurikulum yang kurikulum yang melakukan penyederhanaan, dan tematik- integratif, menambah jam pelajaran dan bertujuan untuk mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan (mempresentasikan), apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran dan diharapkan siswa kita memiliki kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik. Peserta didik akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif, sehingga nantinya mereka bisa sukses dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan di zamannya, memasuki masa depan yang lebih baik.
b. Pendekatan Saintifik
Kurikulum 2013 menekankan dimensi pedagotik modern dalam pembelajaran yaitu menggunakan pendekatan saintifik (Bintari, 2014: 4). Pembelajaran berpendekatan saintifik adalah pembelajaran yang dirancang secara secara prosedural sesuai dengan langkah-langkah umum kegiatan ilmiah. Pada pembelajaran pendekatan saintifik diimplementasikan dalam kegiatan yaitu mengamati, menanya, menalar, mengasosiasi dan mengkomunikasikan.
Pendekatan scientific atau lebih umum dikatakan pendekatan ilmiah merupakan pendekatan dalam kurikulum 2013. Dalam pelaksanaannya, ada yang menjadikan scientific sebagai pendekatan ataupun metode. Namun karakteristik dari pendekatan scientific tidak berbeda dengan metode scientific (scientific method). Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan, sasaran pembelajaran mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan pendidikan.
Ketiga ranah kompetensi tersebut memiliki lintasan perolehan (proses psikologi) yang berbeda. Sikap diperoleh melalui aktivitas “menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan”. Pengetahuan diperoleh melalui aktivitas “ mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta”. Keterampilan diperoleh melalui aktivitas “mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta”. Karakteristik kompetensi beserta perbedaan lintasan perolehan turut serta mempengaruhi karakteristik standar proses (Permen No.65 Tahun 2013). Pendekatan
commit to user
scientific dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba, membentuk jejaring untuk semua mata pelajaran.
Proses pembelajaran pada kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan saintifik yaitu pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (Fauziah, dkk, 2013). Proses pembelajaran yang sesuai dengan pendekatan ilmiah (scientific approah) terdiri dari lima langkah diantaranya adalah mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengkomunikasikan. Sedangkan menurut (Sujarwanta:2012) Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik adalah pembelajaran yang menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung baik menggunakan observasi, eksperimen maupun cara yang lainnya, sehingga realitas yang akan berbicara sebagai informasi atau data yang diperoleh selain valid juga dapat dipertanggungjawabkan. Dengan menggunakan metode ilmiah, maka untuk mendapatkan pengetahuan para ilmuwan berusaha untuk membiarkan realitas berbicara sendiri, membahas mendukung teori ketika prediksi teori ini sudah dikonfirmasi dan menentang teori ketika prediksinya terbukti tidak teruji.
Proses pembelajaran pada kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan saintifik yaitu pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik yang memiliki kriteria pendekatan saintifik sebagai berikut (Permendikbud, 2013): (1) Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu, bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. (2) Penjelasan guru, respon peserta didik , dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis. (3) Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran. (4) Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran. (5) Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran. (6) Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan. (7) Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem penyajiannya.
commit to user
Menurut Aragon (2007: 9), metode ilmiah didefinisikan sebagai:
“systematic process for acquiring new knowledge that uses the basic principle of deductive (and to a lesser extent inductive) reasoning.
It’s considered the most rigorous way to elucidate cause and effect, as well as discover and analyze less direct relationships between agentsand their associated phenomena.”
Metode ilmiah yang dimaksud oleh Aragon adalah "proses yang sistematis untuk memperoleh pengetahuan baru yang menggunakan prinsip dasar penalaran deduktif (dan pada tingkat lebih rendah induktif). Ini dianggap sebagai cara yang paling ketat untuk menjelaskan sebab dan akibat, serta menemukan dan menganalisis hubungan yang kurang langsung antara agen dan fenomena yang terkait”. Menurut Andayani (2014:72) pendekatan saintifik adalah kegiatan pengumpulan data melalui pengamatan atau eksperimen, mengolah informasi atau data, menganalisis, kemudia memformulasikan, dan menguji hipotesis.
Bertolak dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang “ditemukan”.
Pendekatan saintifik sangat mungkin untuk diberikan mulai pada usia tahapan operasional formal ini. Tentu saja harus dilakukan secara beratahap, mulai dari penggunaan hipotesis dan berpikir abstrak yang sederhana, kemudian dengan perkembangan kemampuan berpikirnya dapat ditingkatkan denagan menggunakan hipotesis dan berpikir abstrak yang lebih kompleks. Komponen-komponen dalam pendekatan saintifik meliputi: mengamati, menanya, menalar, mencoba, menyaji, menyimpulkan dan membangun jejaring untuk semua mata pelajaran.
1.) Komponen mengamati
Mengamati sebagai sebuah komponen pendekatan saintifik yang mengtamakan kebermaknaan proses pembealajaran. Kompoenen mengamati ini memiliki keunggulan tertentu, seperti menyajikan media objek secara nyata dengan tujuan memudahkan pelaksanaannya. Komponen ini bertujuan
commit to user
untuk mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas aktivitas yang berlangsung, orang orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian yang diamati tersebut. Deskripsi kuat, faktual, sekaligus teliti tanpa harus dipengaruhi berbagai hal yang tidak relevan.
2.) Komponen menanya
Menanya merupakan salah satu komponen yang menyatu dengan proses pembelajaran pada umumnya. Namun dalam penerapan pendekatan saintifik menanya lebih difokuskan pada aktifitas siswa. Bertanya merupakan akativas yang harus muncul saat pembelajaran, karena menanya merupakan induk strategi pembelajaran yang interaktif dan bermakna, awal dari pengetahuan, jantung dari pengetahuan, dan aspek penting dari pembelajaran.
3.) Komponen mencoba
Mencoba sebagai salah satu komponen pendekatan saintifik dalam penerapannya identik dengan pelaksanaan eksperimen dalam sebuah penelitian. Kegiatan mencoba adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran. Sikap ilmiah yang dapat diperoleh dari aktifitas mencoba adalah rasa ingintah, jujur, tehkun, objektif, dan terbuka menerima pendapat.
4.) Komponen mengolah
Komponen mengolah sama dengan aktivitas mengolah data hasil penelitian.
Komponen mengolah merupakan suatu kegiatan ilmiah untuk menjawab hasrat keingintauhuan manuasia yang berkaitan dengan analisis dan rekonstruksi temuan-temuan penelitian. Komponen ini dapat dikatakan telah mulai jika peneliti berusaha untuk memecahkan masalah secara sistematis dengan metode tertentu yakni metode ilmiah untuk menemukan kebenaran 5.) Komponen menyaji
Komponen menyaji pada haikiatnya sama dengan teknik penyajian data di dalam penelitian. Teknik penyajain data merupakan cara bagaimana seorang dapat menyajian data denga baik agar dapat dengan mudah dibaca orang lain dan mudah untuk dipahami oleh pembaca. Data yang disajikan diperoleh dari pengamatan (apa yang terjadi) atau hasil wawancara (apa
commit to user
yang dikatakan) serta bisa berupa deskripsi informasi lainnya (misalnya dari dokumen, foto, rekaman video) dan hasil pengukuran.
6.) Komponen menyimpulkan
Komponen menyimpulkan merupakan komponen yang dinyatakan dalam bentuk pernyataan singkata tentang hasil analisis deskripsi dan pembahasan tentang hasil pengetesan hipotesis. Simpulan berasal dari fakta-fakta atau hubungan yang logis. Pada umumnya sismpilan terdiri atas simpulan utama dan simpulan tambahan. Simpulan utama adalah yang berhubungan langsung dengan permasalahan dan dilengkapi oleh bukti-bukti. Pada simpulan tambahan adalah simpulan yang tidak ada kaitannya dengan simpulan utama, namun tetap menunjukkan fakta-fakta yang mendasarinya.
7.) Komponen membangun jejaring
Komponen membangun jejaring sama dengan yang diterapkan orang dengan nama pembealjaran kolaboratif. Komponen membagnun jejaring merupakan kewenangan guru yang terkait dengan fungsi guru lebih bersifat direktif atau menejer belajarm sebaliknya siswalah yang harus lebih aktif.
Dalam situasi kolaboratif siswa siswa berinteraksi dengan empati, saling menghormati, dan menerima kekurangan atau kelebihan masing-masing.
Dengan cara ini akan tumbuh rasa aman, sehingga memungkinkan siswa menghadapi aneka perubahan dan tuntutan belajar secara bersama-sama.
c. Ciri-ciri Kurikulum 2013
Menurut Nuh kurikulum 2013 ini lebih ditekankan pada kompetensi dengan dengan pemikiran kompetensi berbasis sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Adapun menurut Kurniasih (2014: 22) ciri-ciri kurikulum 2013 ialah:
1) Menuntut kemampuan guru dalam berpengetahuan dan mencari tahu pengeetahaun sebanyak-banyaknya karena siswa zaman sekarangtelah mudah mencari informasi dengan bebas melalui perkembangan teknologi dan informasi
2) Siswa lebih didorong untuk memiliki tanggung jawaab kepada lingkungan, kemampuan berpikir kritis.
commit to user
3) Memiliki tujuan agar terbentuknya generasi produktif, reatif, inovatif, dan efektif.
4) Khusus untuk tingkat SD, pendekatan tematik integrative member kesempatan siswa untuk mengenal dan memahami suatu tema dalam berbagai mata pelajaran.
5) Pelajaran IPA dan IPS diajarkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Menurut Kurniasih (2014: 22) terkait tentang ciri-ciri kurikulum 2013 juga terdapat empat aspek yang menjadi fokus dalam rencana implementasi dan keterlaksanaan kurikulum 2013 antara lain:
1) Kompetensi guru dalam pemahaman subtansi bahan ajar, yang menyangkut metodologi pembelajaran, yang nilainya pada pelaksanaan uji kompetensi guru uji kompetensi guru.
2) Kompetensi akademik di mana guru harus menguasai metode penyampaian ilmu pengetahuan kepada siswa.
3) Kompetensi sosial yang harus dimiliki guru agar tidak bertindak sosial kepada siswa dan teman sejawat lainnya.
4) Kompetensi manajenerial atau kepemimpinan karena guru sebagai seorang yang akan digugu dan ditiru siswa.
Kesiapan guru sangat urgen dalam pelaksanaan kurikulum ini. Kesiapan guru ini akan berdampak pada kegiatan guru dalam mendorong mampu, lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan apa yang telah mereka peroleh setelah menerima materi pembelajaran.
d. Konsep Pengembangan Kurikulum 2013
Pengembangan kurikulum hendaknya dijadikan sebagai proses yang dilakukan secara berkesinambungan. Jika tidak maka kurikulum tidak akan bisa menjawab tantangan zaman yang semakin berkembang pula. Oleh karena itu konsep kurikulum harus mengalami perubahan dan penyempurnaan yang dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Meskipun pada kenyataannya setiap kurikulum pastilah memiliki kekurangan dan kelebihan. Hal tersebut wajar, mengingat perkembangan manusia terus mengalami perubahan.
commit to user
Dalam hal pengembangan kurikulum yang sangat penting, Ozturk (2012: 124) menyampaikan bahwa kurikulum diharapkan dapat menumbuhkan dan memperhatikan kemandirian guru. Namun sayangnya, hal tersebut malah kurang diperhatikan.
The new curriculum program seeks to introduce a number of innovative approaches and methods in an attempt to improve the history education. The program, however, pays little attention to teacher autonomy, a key omponent that is essential to make sure that the goals of the curriculum reform are fulfilled. It reserves little room for the teachers in the selection and planning of the teaching content,methods and m aterials. Actually, it could be argued that, compared to the former history programs, the new one introduces some limited (Ozturk, 2012:124)
Konsep pengembangan Kurikulum 2013 berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau toeri pendidikan yang dianutnya. Pada dasarnya konsep kurikulum baru 2013 sebenarnya dapat dianggap tidak membawa sesuatu yang baru. Konsep kurikulum baru ini dinilai sudah pernah muncul dalam kurikulum yang dulu pernah digunakan (Kurniasih, 2014: 131)
Ada tiga konsep tentang kurikulum 2013 yaitu:
1) Kurikulum sebagai suatu subtansi
Kurikulum dipandang sebagi suatu rencana kegiatan belajar bagi murid-murid di sekolah, atau sebagai suatu perangkat tujuan yang ingin dicapai. Suatu kurikulum juga dapat menunjuk kepada suatu dokumen yang berisi rumusan tentang tujuan, bahan ajar, kegiatan belajar-mengajar, jadwal, dan evaluasi.
2) Kurikulum 2013 sebagai suatu sistem
Sistem kurikulum merupakan bagian dari sistem persekolahan, sistem pendidikan, bahkan sistem masyarakat. Suatu sistem kurikulum
3) Kurikulum sebagai suatu bidang studi yaitu bidang studi kurikulum
Ini merupakan bidang kajian para ahli kurikulum dan ahli pendidikan pengajaran. Tujuan kurikulum sebagai bidang studi adalah mengembangkan ilmu tentang kurikulum dan sistem kurikulum. Mereka yang mendalami bidang kurikulum, mepelajari konsep-konsep dasar tentang kurikulum. Melalui studi keputustakaan dan berbagai kegiatan penelitian dan percobaan, mereka menemukan hal-hal baru yang dapat memperkaya dan memperkuat bidang studi kurikulum.
commit to user
Titik berat Kurikulum 2013 adalah bertujuan agar peserta didik atau siswa memiliki kemampuan yang lebih dalam melakukan:
- Observasi,
- Bertanya (waawancara), - Bernalar, dan
- Mengkomunikasikan (mempresentasikan) apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran.
Penyusunan Kurikulum 2013 yang menitikberatkan pada penyederhanaan, yaitu intergatif. Maksudnya penerapan Kurikulum 2013 pada tingkat SMP mengalami perubahan mata pelajaran khususnya pada Bahasa Indonesia, kini IPA dan IPS dintegrasikan pada mata palajaran Bahasa Indonesia, (Kurniasih, 2014:137). Itu berarti guru Bahasa Indonesia harus mengajar lebih menarik dan membuat anak gembira belajar, karena jumlah jam mata pelajaran Bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013 bertambah.
Konsep Kurikulum 2013 menekankan pada kognitif, afektif, psikomotorik melalui penilaian berbasis test dan portofolio saling melengkapi. Kurikulum baru tersebut akan diterapkan untuk seluruh lapisan pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas maupun kejuruan. Dan siswa untuk semua mata pelajaran sudah tidak lagi banyak menghafal, tapi lebih banyak kurikulum berbasis sains. Pada intinya, orientasi pengembangan kurikulum 2013 adalah tercapainya kompetensi yang berimbang antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan, di samping cara pembelajarannya yang holistik dan menyenangkan.
Pembelajaran bahasa Indonesia di dalam panduan pengembangan yang disusun Puskurbuk (2012) sebagai landasan pengembangan Kurikulum 2013 dijelaskan bahwa bahasa Indonesia memiliki peran sentral untuk mempersatukan bangsa dan sarana pengembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik. Selain itu, penguasaan bahasa Indonesia oleh peserta didik juga akan menunjang keberhasilan mereka dalam mempelajari semua mata pelajaran. Dengan demikian, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diharapkan membantu peserta didik mengembangkan potensi pikir, rasa, dan karsa untuk mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, mengemukakan gagasan dan perasaan, menemukan serta menggunakan kemampuan berpikir kritis, kreatif, inovatif, inventif,
commit to user
dan imaginatif yang ada dalam diri peserta didik. Bahasa Indonesia juga berperan penting dalam kehidupan seharihari untuk berbagai keperluan, untuk berkomunikasi dengan seluruh warga bangsa dalam rangka membangun rasa dan ikatan kebersamaan secara nasional, membangun komunikasi efektif sehari-hari, membangun relasi sosial yang harmonis (komunikasi yang bermartabat), dan membangun kematangan emosional.
e. Prinsip Pengembangan Bahan Ajar Kurikulum 2013
Menurut Kurniasih (2014: 141) perinsip pengembangan dalam kurikulum adalah:
1) Sesuai tahapan saintifik, 2) KD dari KI 1,2,3,dan 4 diintegrasikan pada satu unit, 3) Gambar, perkataan, kutipan menumbuhkan sikap positif, tidak bias sara, 4) Menumbuhkan rasa ingin tahu siswa dan keaktifan siswa (menemukan). 5) Keseimbangan tugas individu dan kelompok, 6) Bahan ajar harus mencakup materi, 7) Reflektif, 8) Rencana aksi.
1) Sesuai pendekatan saintifik
Permendikbud No. 65 tahun 2013 tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah telah mengisyaratkan tentang perlunya proses pembelajaran yang dipandu dengan kaidah-kaidah pendekatan saintifik atau ilmiah. Upaya penerapan pendekatan saintifik atau ilmiah. Upaya penerapan pendekatan saintifik atau ilmiah dalam proses pembelajaran ini sering disebut-sebut sebagai ciri khas dan menjadi kekuatan tersendiri dari keberadaan kurikulum 2013, yang tentunya menarik untuk dipelajari dan di elaborasi lebih lanjut.
Kemendikbud (2013) memberikan konsepsi tersendiri bahwa pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran sidalamnya mencakup komponen: mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Komponen- komponen tersebut seyogyanya dapat dimunculkan dalam setiap praktik pembelajaran, tetapi bukanlah sebuah siklus pembelajaran.
2) KD dari KI 1,2,3,dan 4 diintegrasikan pada satu unit
Kompetensi inti merupakan terjemahan atau operasional SKL dalam bentuk kualitas yang harus dimiliki mereka yang telah menyelesaikan pendidikan tertentu, gambaran mengenai kompetensi utama yang dikelompokkan ke dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan (afektif, kognitif, dan psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata pelajaran. Kompetensi inti
commit to user
harus menggambarkan kualitas yang seimbang antara pencapaian hard skills dan soft skills.
3) Gambar, perkataan, kutipan menumbuhkan sikap positif, tidak bias sara
Pada setiap bahan ajar akan lebih baik menambahkan beberapa ornament yang dapat mencuri perhatian siswa pada maksud yang akan dituju dari materi yang akan disampaikan. Ornament yang dimaksud berupa gambar yang membuat siswa berfikir menelaah, inti pelajaran. Ornament lainnya ditambahkan perkataan atau kutipan-kutipan yang memiliki kolerasi yang jelas dengan tema yang sedang dibahas.
4) Menumbuhkan rasa ingin tahu siswa dan keaktifan siswa (menemukan)
Bahan ajar harus mampu harus meampu membuat siswa mempunyai rasa ingin tahu. Cara yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut:
a. Menghadirkan pertanyaan yang menggelitik atau memancing daya imajinasi b. Menunjukkan bahwa pengetahuan itu menarik dan penting
5) Keseimbangan tugas individu dan kelompok
Pemberian tugas pada content materi pembelajaran sangat penting karena tugas dapat bermanfaat sebagai cara untuk memupuk tanggung jawab, harga diri, dan kebiasaan (disiplin) belajar siswa. Namun tugas individu dan kelompok yang diberikan tentu harus seimbang.
6) Bahan ajar haruslah memiliki kecukupan materi
Kecukupan materi harus dimiliki bahan ajar untuk memahami dan melakukan KD, serta mampu melibatkan orang tua, dan jejaring untuk menambah pemahaman siswa.
7) Refleksi
Dengan adanya refleksi dapat diketahui penilaian diri 8) Rencana aksi
Rencana aksi ini untuk mengaplivasikan apa yang telah didapat di kelas dengan materi yang telah disampaikan, dan kemudian dilaksanakan dalam bentuk kegiatan dan sikap, baik itu di lingkungan sekolah itu sendiri maupun di lingkungan masyarakat yang ada.
2. Persepsi Guru terhadap Kurikulum 2013
Proses belajar mengajar merupakan inti dari pada proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peran utama. Proses belajar mengajar
commit to user
merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan pelajar atas dasar hubungan timbal balik antara guru dan pelajar merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar. Untuk itu, sebagai pemegang peran utama, guru harus memiliki persepsi yang baik dan positif terhadap kurikulum yang sedang berlaku. Menurut Suharto (2013: 31) persepsi merupakan proses pemberian makna oleh seseorang terhadap sesuatu objek tertentu yang dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, suasana hati dan juga keinginan. Makna yang diberikan seseorang terhadap suatu objek tersebut dapat diketahui melalui kesan, pendapat dan perilaku yang ditampilkan sekaitan dengan objek yang bersangkutan.
Liliweru (2003:137) menyatakan bahwa persepsi yang dimiliki oleh seseorang merupakan frame of reference seseorang yang dapat menjadi sebuah saringan untuk menyaring pesan yang dikirim dan disandi balik. Persepsi disebut inti dari komunikasi karena jika persepsi itu sendiri sifatnya tidak akurat maka tidak akan tercipta pula sebuah komunikasi yang efektif. Persepsilah yang menentukan seseorang memilih suatu pesan dan mengabaikan pesan yang lain. Senada dengan pendapat di atas, Rukmini, dkk (2001:2) menjelaskan bahwa persepsi/tanggapan adalah bayangan/kesan yang tertinggal di dalam ingatan setelah melakukan pengamatan terhadap suatu objek. Menambahkan pendapat tersebut, Rakhmat (2001: 51) menyatakan bahwa persepsi merupakan pengalaman tentang objek, peristiwa, hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.
Pendapat lain dikemukakan oleh Mussen dkk, (1988: 80) yang mengartikan persepsi sebagai kemampuan mengenali informasi dan menghubungkan dengan pengetahuan yang dimiliki. Persepsi sebagai pemahaman individu bersifat pribadi, maka persepsi bersifat individual dan subjektif. Persepsi bersifat individual karena perasaan, kemampuan berpikir, pengalaman individu tidak sama dalam mempersepsi suatu stimulus, maka hasilnya pun akan berbeda-beda. Walgito (2001: 70) menyatakan faktor yang berperan dalam persepsi adalah objek yang dipersepsi, alat indera, pusat susunan syaraf, dan perhatian. Informasi penting bagi terbentuknya persepsi seseorang menurut Setiadharma (2001: 50) adalah, pemahaman terhadap informasi bergantung pada kemampuan penyerapan, kemampuan mentransfer, dan kemampuan menalar. Persepsi banyak dipengaruhi oleh latar belakang, pengalaman, kebiasaan, adat-istiadat, pendidikan, kepercayaan, dan pengalaman pribadi. Persepsi yang dimaksud di sini
commit to user
adalah bahwa setiap individu yang berbeda-beda memiliki keinginan untuk memberikan arti dan melihat sesuatu yang sama dengan cara yang berbeda-beda, sehingga mereka memberikan penafsiran yang berbeda pula tentang apa yang dilihat atau yang dialaminya. Persepsi muncul karena adanya penginderaan seseorang terhadap lingkungan yang akan melahirkan penafsiran terhadap objek atau situasi yang dilihat, didengar, dihayati dan lain-lain.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah pengalaman yang diperoleh seseorang dengan menafsirkan pesan, informasi, pengetahuan, merupakan tanggapan dan cara pandang seseorang terhadap sesuatu sehingga bersifat subjektif. Setiap individu dalam membentuk sebuah persepsi maka harus melakukan tahap atau proses pemilihan, pengorganisasian, serta penginterpretasian sebagai stimuli yang diterimanya mengenai suatu hal, yang selanjutnya mengungkapkan pandangan, pendapat, ataupun tanggapan mengenai hal tersebut. Ada banyak faktor yang mempengaruhi persepsi. Faktor-faktor itu adalah personal, situasional, fisik, mental, latar belakang, penalaman, kebiasaan, adat-istiadat, pendidikan, kepercayaan, dan pengalaman pribadi.
Menurut Suwigyo, dalam kurikulum 2013 khususnya di SMP menerapkan multimuatan dan ilmu sebagai ilmu. Hal itu mendasari perampingan kurikulum bahwa mata pelajaran tertentu dapat mencakup subtansi mata pelajaran lain. Mata pelajaran tersebut adalah Bahasa Indonesia dapat bermuatan hal-hal tentang Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial (Nuh, 2013:151). Persepsi guru terhadap Kurikulum 2013 berarti kesadaran dan tanggapan guru untuk menerima, memahami, dan menafsirkan Kurikulum 2013, yang kemudian akan mampu membentuk konsep mengenai Kurikulum 2013. Konsep mengenai Kurikulum 2013 yang sudah dipahami guru tersebut kemudian akan direfleksikan dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.
Persepsi guru terhadap Kurikulum 2013 ini memiliki peran penting dalam pembelajaran karena berpengaruh terhadap kualitas suatu pelaksanaan pembelajaran. Guru diharapkan memiliki persepsi yang positif terhadap Kurikulum 2013 akan mampu menyusun rencana pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan membuat alat evaluasi yang sesua dengan tuntutan dalam kurikulum.
commit to user 3. Hakikat Perencanaan Pembelajaran Membaca
Pembelajaran membaca termasuk salah satu aspek dalam pembelajaran bahasa.
Menurut Hastuti (1996:21) pembelajaran bahasa adalah upaya untuk membuat terampil.
Cekatan, dan cermat menggunakan unsur-unsur bahsa untuk berkomunikasi, baik komunikasi lisan maupun tertulis. Pembelajaran bahasa, dalam hal ini terutama pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi menggunakan bahasa indonesia dengan baik daan benar, baik secara lisan maupun tulis. Oleh karena itu, pembelajaan Bahasa Indonesia seharusnya diarahkan untuk mencapai tujuan tersebut.
Tujuan perencanaan adalah memberi pegangan bagi para pihak yang terkait mulai level makro (para pengambil kebijakan) sampai mikro (pelaksana) di lapangan agar mengetahui arah yang akan dituju untuk mengurangi dampak perubahan, mengurangi pemborosan dan kesia-siaan, serta menetapkan acuan untuk memudahkan pengawasan (Hamalik, 2007: 214). Tujuan pembelajaran akan berhasil apabila ada perencanaan yang matang, tujuan yang jelas dan terarah. Oleh karena itu, seorang guru harus memiliki kemampuan dalam merancanakan pembelajaran. Sebelum mengajar seorang guru hendaknya merencanakan program pembelajaran yang hendak diberikan kepada siswa.
Guru membuat perencanaan pembelajaran karena beberapa alasan. Alasan-alasan tersebut sebagai berikut: memberi pemahaman yang jelas, memperjelas pemikiran tentang pencapaian tujuan, menambah keyakinan guru atas nila-nilai pengajaran yang diberikan, mengurangi kegiatan yang bersifat trial and eror dalam mengajar, memajukan pribadi dan perkembangn profesionalisme guru.
Majid mengungkapkan dalam konteks pembelajaran, bahwa perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan materi pelajaran, penggunaan media pengajaran, penggunaan pendekatan dan metode pengajaran, dan penilaian dalam suatu alokasi waktu yang akan dilakukan pada waktu tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan (Majid, 2007: 7). Perencanaan pembelajaran dalam kaitannya pembelajaran keterampilan membaca merupakan usaha guru mempersiapkan diri dan mempersiapkan segala hal yang berhubungan dengan pembelajaran. Pembelajaran keterampilan membaca harus dipersiapkan terlebih dahulu sehingga masalah waktu, buku sumber dapat ditanggulangi dan dipersiapkan secara matang. Suatu kegiatan yang direncanakan lebih dahulu akan lebih terarah dan lebih berhasil. Itulah sebabnya, seorang guru harus
commit to user
memilki kemampuan dalam merencanakan pembelajaran. Guru hendaknya merencanakan dan menyampaikan pengajaran untuk mendorong belajar siswa dalam situasi pembelajaran yang meliputi ruang kelas, siswa dan materi kurikulum agar belajar menjadi lebih mudah (Suryosubroto, 2009: 22-23).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa perencanaan pembelajaran membaca adalah persiapan yang dilakukan guru sebelum mengajar materi membaca yaitu proses penyusunan materi, penggunaan media, strategi, metode, dan penilaian dalam suatu waktu untuk mencapai tujuan, yaitu mengefektifkan pelaksanaan pembelajaran membaca. Perencanaan ini akan membantu guru dalam mengatasi persoalan-persoalan yang mungkin muncul pada saat pelaksanaan mengajar. Untuk dapat membuat perencanaan pembelajaran yang baik guru harus mampu menguasai kurikulum, menguasai bahan ajar, menyusun dan melaksanakan program pengajaran (program tahunan, program semester, silabus, rencana pembelajaran) dan melakukan penilaian.
Rencana pelaksanaan pembelajaran adalah rancangan pembelajaran mata pelajaran perunit yang akan diterapkan guru dalam pembelajaran di kelas. Berdasarkan RPP inilah seorang guru diharapkan bisa menerapkan pembelajaran secara terprogram.
Oleh karena itu, RPP harus mempunyai daya terap (aplicable) yang tinggi. Pada sisi lain melalui RPP pun dapat diketahui kadar kemampuan guru dalam menjalankan profesinya. Mulyasa (2009: 160) mengungkapkan bahwa RPP berisi garis besar apa yang akan dikerjakan oleh guru dan peserta didik selama proses pembelajaran, baik untuk satu kali pertemuan maupun meliputi beberapa kali pertemuan.
Langkah-langkah yang patut dilakukan guru dalam penyusunan RPP (Kurniasih, 2014: 155) adalah sebagai berikut.
1) membaca dan menganalisis KD dari berbagai KI satu tahun.
2) menganalisis materi yang telah disampaikan sehingga mengetahui seberapa tinggi tingkat pemahaman siswa pada bahan tersebut. Hal ini bisa dilakukan, misalnya 2 x 16 pekan efektif = 32. Kemudian bisa juga dengan membuat rangkaian KD dari KI1,2,3,4.
3) melakukan pemetaan dan kemudian menyusun urutan bahan ajar dengan sistematika yang benar, seperti: pendahuluan; mengamati kasus atau testimoni perilaku materi tertentu; mendorong pertanyaan apa, mengapa, bagaimana,
commit to user
siapa; menggali informasi (meminta siswa membaca pengetahuan tentang materi bahan ajar tertentu); menalar atau mendiskusikan tentang apa bedanya, fungsinya, dampaknya dan sebagainya dari materi yang ada; Menyajikan cerita;
merefleksi; merenungkan; mengomentari kasus (penerimaan dan penghargaan);
ayo bertindak (mencoba berbuat); mempraktikkan prilaku (rencana aksi) di rumah, di sekolah, di masyarakat, di negara.; penutup; merangkum atau membuat peta konsep; penilaian pencapaian pengetahuan; tugas membuat fortofolio (laporan tertulis)
a. Materi Pembelajaran Membaca
Setiap kegiatan pembelajaran memerlukan bahan pembelajaran/dalam istilah sehari-hari memberikan pengertian materi pembelajaran sebagai bahan yang digunakan untuk belajar dan mencapai tujuan instruksional di mana siswa harus melakukan sesuatu terhadap sesuatu menurut jenis perilaku tertentu. Senada dengan pendapat Winkel, dan Tarigan menyatakan bahwa bahan/materi pembelajaran adalah sesuatu yang digunakan untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditetapkan. Materi pembelajaran dalam hubungannya dengan proses penyusunan desain instruksional merupakan gabungan antara pengetahuan (fakta dan informasi yang terinci), keterampilan (langkah-langkah, prosedur, keadaan, dan syarat-syarat), serta faktor sikap (Wardani ect, 2001: 233).
Ketersediaan materi sangat mempengaruhinkegiatan pembelajaran. Tanpa adanya materi pembelajaran yang cukup, gerak guru dalam mengajar menjadi terbatas Cruickshank, ect. (1999: 253-254) menyatakan teacher without adequate educational materials, even textbooks, are severely lim ited in how or what they can teach. Multiple text books, reference materials, television and computer are very needed to a wealthy school.
Menurut Sudjana (1989: 67), materi atau bahan pelajaran, pada hakikatnya adalah isi dari materi pelajaran yang diberikan kepada siswa sesuai dengan kurikulum yang digunakan. Lebih lanjut Sudjana mengemukakan bahwa dalam menetapkan materi pelajaran ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu: (a) bahan harus sesuai dengan menunjang tercapainya tujuan, (b) bahan yang ditulis dalam perencanaan pengajaran terbatas pada konsep/garis besar bahan, tidak perlu dirinci, (c) penetapan bahan pengajaran harus serasi dengan urutan tujuan, (d) urutan bahan pengajaran
commit to user
hendaknya memperhatikan kesinambungan atau kontinuitas, (e) bahan disusun dari yang sederhana menuju yang kompleks, dari yang mudah menuju yang sulit, dari yang konkrit menuju yang abstrak, sehingga siswa mudah memahaminya. Hal yang perlu diperhatikan dalam menetapkan bahan adalah kemampuan guru memilih bahan yang akan diberikan pada siswa. Guru harus memilih bahan mana yang perlu diberikan dan mana yang tidak perlu.
Materi pembelajaran memiliki bentuk yang bervariasi Merril membedakan materi pembelajaran menjadi 4 jenis yaitu fakta, konsep, prosedur dan prinsip (Wardani ect., 2001: 234). Apabila materi pelajaran digunakan untuk mencapai tujuan yang berhubungan dengan pengetahuan misalnya mengingat nama suatu objek, simbol/peristiwa maka materi pelajaran tersebut dikategorikan ke dalam jenis fakta.
Apabila suatu materi pelajaran dimaksudkan untuk mencapai tujuan agar siswa mampu menyatakan suatu definisi, menuliskan ciri khas sesuatu, mengklasifikasikan beberapa contoh sesuai dengan suatu definisi, maka materi tersebut dikategorikan ke dalam jenis konsep. Dalam praktik pembelajaran materi jenis ini muncul dalam bentuk guru mengajarkan definisi kalimat aktif, ciri-ciri kalimat aktif dan perbedaan kalimat aktif dan pasif kemudian siswa diminta untuk mengklasifikasikan mana kalimat aktif dan mana kalimat pasif.
Materi jenis prosedur digunakan untuk mencapai tujuan agar siswa mampu menjelaskan langkah-langkah, prosedur serta urut/memecahkan masalah/membuat sesuatu. Misalnya guru menjelaskan pada siswa bagaimana strutur teks hasil observasi kemudian siswa diminta membentuk kelompok, setealah itu menulis menganalisis dan mendiskusikan teks hasil observasi tersebut. Sementara itu materi jenis prinsip adalah materi yang diperuntukkan untuk mencapai tujuan agar siswa mampu mengemukakan hubungan antara beberapa konsep/menerangkan keadaan/hasil hubungan antara berbagai macam konsep. Misalnya guru menjelaskan hubungan antara keterampilan membaca dan keterampilan menulis dan berbicara.
Keempat jenis materi tersebut, dalam praktik pengajaran tidak berdiri sendiri melainkan sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan (berintegrasi). Sebagai contoh guru menjelaskan definisi paragraf deduktif kemudian dirangkai dengan langkah- langkah menyusun paragraf deduktif. Dengan demikian berarti guru telah memberikan 2 jenis materi yaitu jenis definisi dan jenis prosedur.
commit to user
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa materi pembelajaran adalah bahan pembelajaran atau isi dari materi pelajaran yang digunakan untuk membantu siswa mencapai kompetensi inti dan kompetensi dasar sesuai dengan kurikulum yang digunakan, kcerdasan intelektual, sosial dan kejiwaan peserta didik.
Penentuan dan pemilihan bahan ajar yang tepat meliputi cara penentuan jenis materi, kedalaman, ruang lingkup, urutan penyajian materi pembelajaran serta memilih sumber materi ajar. Terkait dengan materi pembelajaran di atas, materi pembelajaran membaca yang menjadi objek daam penelitian ini merupakan salah satu aspek yang harus dikuasai siswa dalam pembelajaran bahasa indonesia. Pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik berkomunikasi dalam bahasa indonesia dengan bak dan benar baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia.
b. Metode Pembelajaran Membaca
Efektifitas kegiatan belajar-mengajar di kelas dapat dicapai salah satunya dengan penggunaan metode pembelajaran yang tepat oleh guru. Metode mengajar merupakan salah satu cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pembelajaran. Metode merupakan cara yang bersifat prosedural untuk perencanaan secara utuh dalam menyajikan materi pelajaran secara teratur dengan cara yang berbeda-beda untuk mencapai pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda. Andayani (2014:11)
Keberhasilan guru dalam mengajar tidak hanya ditentukan oleh kemampuan siswa, tetapi juga ditentukan oleh metode yang digunakan oleh guru. Metode dapat membantu mempermudah guru dalam penyampaian materi. Guru diharapkan sudah meninggalkan metode pembelajaran tradisional yang dianggap sudah usang dan beralih ke metode modern. Pendapat ini dipertegas Carpenter.
The traditional passive view of learning involves situations where material is delivered to students using a lecture–based format. In contrast, a more modern view of learning is constructivism, where stude nts are expected to be active in the learning process by participating in discussion and/or collaborative activities (Fosnot, 1989). Overall, the results of recent studies concerning the effectiveness of teaching methods favor constructivist, active learning methods. (Carpenter, 2006: 2)
commit to user
Sudjana (1989: 69) berpendapat bahwa dalam praktek mengajar metode yang baik digunakan adalah metode mengajar yang bervariasi/kombinasi dari beberapa metode.
Menguatkan pernyataan tersebut, Djamarah dan Zain (2010: 73) berpendapat bahwa penggunaan satu metode lebih cendrung menghasilkan kegiatan belajar mengajar yang membosankan bagi siswa. Jalan kegiatan pun tampak kaku, jenuh, malas dan terlihat kurang bergairah dalam belajar. Guru akan mendapatkan kegagalan dalam penyampaian pesan-pesan keilmuan dan siswa dirugikan. Oleh sebab itu, penggunaan metode yang tepat dan bervariasi dapat dijadikan sebagai alat motivasi dalam kegiatan belajar- mengajar di sekolah. Hamied (2007:133) memperkenalkan jenis-jenis metode pembelajaran bahasa yang inovatif dan berorientasi pada aspek komunikatif dan kontestual. Beberapa metode tersebut dapat digunakan, yaitu: (a) metode St. Cloud, (b) silent-way, (c) sugestopedia, (d) audiolingual, (e) kominikatif, (f) produktif (g) langsung, (h) partisipatori, (i) membaca, (j) tematik, metode kerja kelompok kecil (small-group work), (k) alamiah, (l) terjemahan, (m) pembatasan bahasa.
Guru diberi kebebasan dalam Kurikulum 2013 untuk memanfaatkan berbagai metode pembelajaran. Guru perlu memanfaatkan berbagai metode pembelajaran yang dapat membangkitkan minat, perhatian dan kreativitas peserta didik. Metode ceramah perlu dikurangi karena guru hanya berfungsi sebagai fasilitator dan pembelajaran berpusat pada anak didik. Metode-metode yang lain, seperti diskusi, tanya jawab, dan pengamatan, perlu dikembangkan.
Berpijak dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa metode adalah salah satu cara yang digunakan guru dalam pembelajaran untuk mempermudah penyampaian materi kepada siswa. Metode yang baik adalah metode yang bervariasi dan mampu menumbuhkan motivasi belajar siswa. Dalam Kurikulum 2013 guru diberi kebebasan untuk memanfaatkan berbagai macam metode pengajaran. Pembelajaran tidak hanya dilaksanakan di dalam kelas tetapi bisa juga di luar kelas.
c. Media Pembelajaran Membaca
Kata media sebenarnya merupakan bentuk jamak dari bahasa Latin medium yang secara harfiah berarti perantara/pengantar. Jadi media adalah perantara/ pengantar pesan dari pengirim kepenerima (Wardani ect., 2001: 3). Pengertian media pembelajaran dikemukakan oleh Gane dan Briggs yang menyatakan bahwa media pembelajaran
commit to user
adalah komponen sumber belajar/wahana fisik yang mengandung materi pembelajaran yang dapat merangsang siswa belajar (Arsyad 2003: 4).
Anderson (1987:21) menjelaskan bahwa media pembelajaran adalah media yang memungkinkan terwujudnya hubungan antara karya seorang pengembang mata pelajaran dengan para siswa. Sementara itu, Soeharto, dkk (1995: 98) menambahkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa.
Media merupakan salah satu faktor yang mendukung kualitas pembelajaran dan penggunaannya harus dapat memberikan pengaruh positif untuk mencapai tujuan pengajaran. Senada dengan pernyataan tersebut Paul R. mengemukakan pendapatnya sebagai berikut:
Faktors supporting the quality teaching are not confined to the teacher, books and the curriculum but also need to take into account the use of other media. The choice of appropriate learning media to support the material which is to be taught in class should have a positive effect on the impact of the lesson in achieving its aims (Paul R, 2008).
Media dapat digunakan sebagai alat bantu yang digunakan guru untuk memotivasi belajar peserta didik, memperjelas informasi atau pesan pelajaran, memberikan tekanan pada bagian-bagian yang penting, memberi variasi pada pengajaran dan memperjelas struktur pengajaran. Di sini memiliki fungsi yang jelas yaitu memperjelas, memudahkan, dan membuat menarik pesan kurikulum yang akan disimpulkan oleh guru kepada peserta didik sehingga dapat mengefisienkan proses belajar. Media pengajaran dapat ditinjau dari jenisnya, yaitu: (1) media audio (radio, tape recorder, telepon), (2) media visual (foto, majalah, surat kabar, ensiklopedi), (3) media audio visual (televisi, film, VCD, video, komputer), dan (4) media serba aneka (papan tulis, majalah dinding, artifat, studi wisata, kerja lapangan dan lain-lain) (Arsyad, 2003:56).
Media pembelajaran tidak hanya terbatas pada beberapa macam media seperti yang telah disebutkan di atas, lebih dari itu, karena manusia ternyata dapat dimanfaatkan guru sebagai media dalam pembelajaran. Media pembelajaran yang memanfaatkan manusia ini menurut Arsyad (2003) Media berbasis manusia ini juga dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa. Agar tujuan pengajaran Bahasa Indonesia
commit to user
dapat tercapai dengan hasil yang optimal, maka guru perlu memahami tentang media sebagai alat bantu siswa untuk memudahkan menerima pelajaran.
Guru dalam memilih media dalam pembelajaran Bahasa yang tepat, menurut Wardani dkk (2001: 3) guru perlu memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan media, yaitu: (1) menentukan jenis media dengan tepat, artinya sebaiknya guru memilih terlebih dahulu alat peraga manakah yang sebaiknya dipakai sehubungan dengan tujuan dan bahan pelajaran yang akan diajarkan, (2) menetapkan/ memperhitungkan subjek dengan tepat, artinya perlu diperhitungkan apakah penggunaan media pengajaran itu sesuai dengan tingkat kematangan/kemampuan siswa, (3) menggunakan media pengajaran dengan tepat, artinya teknik dan penggunaan media pengajaran haruslah disesuaikan dengan tujuan, bahan pelajaran, metode pengajaran, waktu dan sarana yang ada, (4) menempatkan dan memperlihatkan alat peraga pada waktu, tempat dan keadaan yang tepat. Kapan dan dalam keadaan mana waktu mengajar, media dipergunakan. Keempat prinsip tersebut diperlukan oleh semua pengajaran dalam rangka menggunakan media pengajaran, agar tujuan pengajar tercapai dengan sebaik-baiknya.
Bertolak dari beberapa pengertian dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah sarana yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan/informasi yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa serta dapat mendorong terjadinya proses belajar pada siswa, sehingga tercapai pembelajaran yang efektif dan efisien. Media pembelajaran dapat membantu guru dalam pembelajaran karena berfungsi memperjelas, memudahkan, dan mampu menarik perhatian siswa dalam belajar. Berkaitan dengan membaca media dapat memicu motivasi dalam belajar sehingga tujuan pembelajaran tercapai.
d. Evaluasi Pembelajaran Membaca
Definisi evaluasi pertama kali dikembangkan oleh Tyler, yang menyatakan bahwa evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagaimana tujuan pendidikan sudah tercapai. Genesee dan Upshur (1997: 42) mengemukakan bahwa :
“Evaluation is process that result in decision about intruction student, or both. The first step in the decision making process is to identify the purpose for evaluation-that is specify the kinds of decisions you want to make as a result of evaluation”. Genesee dan Upshur (1997: 42).
commit to user
Menurut Brown (2004:185) menyatakan the assessing of reading ability does not end with the measurement of comprehension atau penilaian membaca untuk mengukur kemampuan yang tidak hanya berakhir dengan pengertian atau hanya teori saja.
Evaluasi hasil belajar, dalam dunia pendidikan selalu dibutuhkan, terutama untuk menilai perolehan siswa atas pengetahuan yang telah mereka pelajari. Evaluasi dalam pendidikan memiliki beberapa fungsi penting. Sudijono (2006: 7-8) menyatakan bahwa evaluasi sebagai suatu proses setidak-tidaknya memiliki tiga macam fungsi pokok, yaitu: (1) mengukur kemajuan, (2) menunjang penyusunan rencana pembelajaran, dan (3) memperbaiki atau melakukan penyempurnaan kembali.
Penilaian berbasis kelas berorientasi pada kompetensi yang ingin dicapai dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas. Ketercapaian ini bisa mengacu pada patokan tertentu dan/atau ketuntasan belajar, yang dilakukan melalui berbagai cara, misalnya melalui portofolio, produk, proyek, kinerja, tertulis, atau penilaian diri (self assessment) (Suwandi, 2011:15-17). Sejalan dengan pendapat tersebut menurut Kurniasih (2014:47- 49) bahwa penilaian pada kurikulum 2013 bertujuan mendorong siswa aktif dalam dalam tiap materi pembelajaran. Ada dua macam penilaian, diantaranya:
1) Penilaian (assessment) adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil balajar peserta didik.
2) Penilaianan autentik merupavan penilaian yang dilakukan secara komperensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses, dan keluaran (output) pembelajaran, yang meliputi ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Bertolak dari beberapa penjelasan di atas dapat disintesiskan bahwa evaluasi adalah suatu proses untuk mengetahui sejauh mana tujuan pendidikan dapat tercapai, yaitu untuk menilai hasil belajar siswa dan untuk mengambil keputusan. Evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk mengukur dan memperbaki, dalam hal apa, dan bagaimana pencapaian hasil belajar peserta didik.
Kurniasih (2014:61-65) menyatakan penilaian kelas dilakukan dalam berbagai teknik untuk semua kompetensi dasar yang dikatergorikan dalam tiga aspek, yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan.
1) Sikap
Aspek ini dapat dinilai dengan cara observasi (mengamati saat pembelajaran maupun di luar pembelajaran), penilaian diri (peserta didik
commit to user
diminta mengemukkan kelebhan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi, penilaian antar teman (peserta didik salaing menilai), jurnal (catatan pendidikan di dalam dan di luar kelas)
2) Pengetahuan
Aspek pengetahuan dapat dinilai dengan cara Tes tertulis (tes soal dan jawabannya tertulis, Tes lisan (berupa pertanyaan yang diberikan guru secara terucap ((oral))
3) Keterampilan
Aspek keterampilan dapat dinilai dengan cara Performance atau kinerja (penilaian yang meminta siswa suatu tugas pada situasi yang sesungguhnya yang mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan), Produk (penilaian terhadap kemampuan peserta didik dalam membuat produk teknologi dan seni (dimensi) dengan tahap persiapan, pembuatan, penilain).
4) Proyek
Penilaian proyek adalah penilaian terhadap tugas yang mengandung investigasi dan harus diselsaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan.
5) Portofolio
Penilaian portofolio adalah penilain melalui sekumpulan karya peserta didik yang tersusun secara sistematika dan terorganisasi yang dilakukan selama kurun waktu tertentu. Penilaian ini digunakan untuk memantau secara terus menerus perkembangan pengetahuan dan keterampilan peserta didik.
e. Hakikat Pelaksanaan Pembelajaran Membaca 1) Strategi Pembelajaran Membaca
Dalam konteks belajar mengajar, strategi menurut Dani (1980) berarti pola umum perbuatan guru –murid dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, suatu strategi belajar menagjar terdiri atas semua komponen materi atau paket pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa dalam mencapai tujuan pengajaran (Rohani, 1990). Di sisi lain, Joni (1984) menegaskan bahwa wawasan
commit to user
guru tentang strategi mengajar memegang peranan penting dalam menetapkan kegiatan belajar. Hal ini akan berpengaruh sekali pada hasil belajar. Dalam arti lan dapat dikatakan,dengan memiliki strategi belajar mengajar yang baik siswa dapat belajar secara efektif dan efisien, agar mengena pada tujuan yang telah digariskan (Ermanto, 2007: 8). Menurut Joni (1991: 16) strategi adalah ilmu dan kiat dalam memanfaatkan segala sumber yang dintiliki dan/atau yang dapat dikerahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Kurikulum 2013 mengembangkan dua modus proses pembelajaran yaitu proses pembelajaran langsung dan proses pembelajaran tidak langsung (Bintari, 2014: 3).
Proses pembelajaran langsung adalah proses pendidikan yang dilakukan peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan kemampuan berpikir dan keterampilan psikomotorik melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang dirancang dalam silabus dan RPP berupa kegiatan-kegiatan pembelajaran. Dalam pembelajaran lansung tersebut peserta didik melakukan kegiatan belajar mengamati, menana, mengumpulkan informasi, mengasosiasi atau menganalisis, mengkomunikasikan apa yang sudah ditemukannya dalam kegiatan analisis yang menghasilkan pengetahuan dan keterampilan secara langsung. Pembelajaran tidak langsung adalah proses pendidikan yang terjadi selama proses pembelajaran langsung tetapi tidak dirancang dalam kegiatan khusus. Pembelajaran tidak langsung berkenaan dengan pengembangan nilai dan sikap.
Berbeda dengan pengetahuan tentang nilai dan sikap yang dikalukan dalam proses pembelajaran langsung oleh mata pelajaran tertentu, pengembangan sikap sebagai proses pengembangan moral dan prilaku, dilakukan oleh seluruh mata pelajaran dan dalam setiap kegiatan yang terjadi di kelas, sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran Kurikulum 2013, semua kegiatan yang terjadi selama belajar di sekolah dan di luar dalam kegiatan kurikuler dan ektrakurikuler terjadi proses pembelajaran untuk mengembangkan moral dan prilaku yang terkait dengan sikap.
Arends mengungkapkan pendapatnya sebagai berikut, “learning strategies refers to the bevahiors and thought prosesses used by students that influence what is learned, including memory and metacognitive prosesses” (1997: 224). Sementara itu, Wijayanta (2007: 4) menambahkan bahwa strategi adalah rencana atau kebijakan yang dirancang untuk mencapai suatu tujuan. Dengan demikian, strategi mengacu kepada pendekatan yang dapat dipakai oleh guru untuk mencapa tujuan pembelajaran. Selanjutnya,