• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAN BACAAN UNTUK PARALEGAL AKU TAHU, SADAR DAN BERDAYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAHAN BACAAN UNTUK PARALEGAL AKU TAHU, SADAR DAN BERDAYA"

Copied!
280
0
0

Teks penuh

(1)

BAHAN BACAAN UNTUK PARALEGAL

’’AKU TAHU, SADAR DAN BERDAYA”

Jakarta 2020

(2)

BAHAN BACAAN UNTUK PARALEGAL

’’AKU TAHU, SADAR DAN BERDAYA”

© ILRC 2020 Editor:

Siti Aminah Tardi Tim Penulisan:

Abraham Nempung Anasa Wijaya Andi Komara I Made Deni Saputra Muhamad Daerobi Ni Putu Anggraeni Ni Putu Chandra Ockhy Loedvian Zulkarnain Siti Aminah Tardi Yogi Zul Fadhli

Administrasi dan Keuangan Evi Yuliawaty

Viera Sagita Sirkulasi : Andi Firmansyah Penerbit

THE INDONESIAN LEGAL RESOURCE CENTER (ILRC)

Jl. Menara Air I, No. 32, Manggarai, Jakarta Selatan – INDONESIA Telp. : 021 83798646

e-mail : [email protected] [email protected] Website: www.mitrahukum.org

Perpustakaan Nasional RI, Data Katalog dalam Terbitan (KDT) Bahan Bacaan untuk Paralegal

“AKU TAHU, SADAR DAN BERDAYA”

ISBN : 978 - 623 - 90222 - 6 - 6 viii + 272 halaman, Januari 2020 Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang

Penelitian ini merupakan bagian dari Program Strengthening rule of law in Indonesia anchored in access to justice efforts that promote sustainable development, kerjasama ILRC, ASF dan

(3)
(4)
(5)

KATA PENGANTAR

A

dvocat San Frontier (ASF), Indonesia Legal Resource Center (ILRC), LBH Jakarta bekerjasama dengan LBH Yogjakarta, Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogjakarta, LBH Apik Jakarta, LBH Bali dan LBH Apik Bali sebagai bagian dari upaya memperkuat akses keadilan masyarakat marjinal, mengembangkan program-program pe- ningkatan kapasitas paralegal. Untuk mengembangkan kapasitas para- legal, diantaranya melalui pelatihan-pelatihan untuk paralegal

Penyusunan modul ini didasarkan pada hasil penelitian tentang

“Persepsi Masyarakat Pencari Keadilan tentang Peran Paralegal dalam Pemenuhan Kebutuhan Hukum” yang dilaksanakan di Jakarta, Yogya- karta dan Bali. Penelitian ini membuktikan pentingnya peran paralegal bagi pencari keadilan, terutama di bidang non-litigasi. Dari 31% responden yang menyatakan pernah mendapatkan layanan bantuan hukum dengan layanan yang paling bermanfaat yaitu: kegiatan membangun kesadaran seperti penyuluhan hukum, seminar, kampanye (41%), konsultasi/nasihat individu (27%), alternatif penyelesaian sengketa di luar pengadilan (17%) dan bantuan hukum (15%). Responden yang pernah mendapatkan la- yanan bantuan hukum menyatakan: mengetahui hak-haknya setelah mendapatkan layanan dari paralegal (91%), menyatakan paralegal membantu penyelesaian masalah yang dihadapinya (96%) dan mudah memahami saran yang diberikan (96%). Dari tiga penyataan tersebut

(6)

di atas, masyarakat memiliki tingkat kepuasan tinggi atas layanan yang telah diberikan paralegal. Namun, jumlah masyarakat yang terbantu oleh paralegal masih sedikit dibandingkan dengan jumlah atau beragamnya kebutuhan hukum di masyarakat. Penambahan jumlah paralegal akan berkontribusi terhadap perluasan akses keadilan bagi masyarakat miskin dan rentan. Karena itu dibutuhkan modul yang sesuai dengan kebutuhan hukum masyarakat pencari keadilan.

Hasil penelitian juga mengindentifikasikan kebutuhan hukum pencari keadilan yang beragam mengikuti karakteristik dari komunitas dan daerah masing-masing. Terdapat 5 (lima) kebutuhan hukum ter- banyak yang dapat dibantu oleh paralegal, yaitu: (1) hukum keluarga; (2) hukum pidana; (3) hukum pertanahan; (4) dokumen kependudukan; dan (5) hukum perburuhan. Untuk itu kemudian disusun modul pelatihan paralegal tingkat lanjut, yang dibagi dalam (1) Panduan Untuk Fasilitator;

dan (2) Buku Panduan untuk Paralegal, yang akan menjadi referensi dalam memberikan bantuan hukum pertama di komunitas

Kami mengucapkan terima kasih kepada para penulis yang telah berkontribusi dan bekerjasama dalam mempersiapkan bahan bacaan untuk paralegal. Mudah-mudahan hal tersebut berkontribusi dalam membentuk paralegal yang handal dalam memberikan bantuan hukum.

Amin

Jakarta, 10 September 2019

Uli Parulian Sihombing

Direktur Eksekutif Indonesia Legal Resource Center (ILRC)

(7)

DAFTAR ISI

PENGANTAR DAFTAR ISI

BAB 1 MEMAHAMI KEPARALEGALAN

BAB 2 PERLINDUNGAN KEAMANAN UNTUK PARALEGAL Bab 3 PRINSIP ANTI-DISKRIMINASI

Bab 4 HAK ATAS PELAYANAN PUBLIK Bab 5 HAK ATAS TANAH

Bab 6 HAK ATAS PEKERJAAN & PENGHIDUPAN YANG LAYAK Bab 7 HAK ATAS PERADILAN YANG ADIL & TIDAK MEMIHAK Bab 8 MENDAMPINGI KORBAN KEKERASAN BERBASIS

GENDER (KBG) TERHADAP PEREMPUAN

Bab 9 HAK-HAK PEREMPUAN ISLAM DALAM PERKAWINAN DAN PERCERAIAN

Bab 10 HAK-HAK PEREMPUAN NON ISLAM DALAM PERKAWINAN DAN PERCERAIAN

Bab 11 MEMBUAT DOKUMEN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

Bab 12 MEMBUAT SURAT PENGADUAN

Bab 13 ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA Bab 14 KAMPANYE KOMUNIKASI PUBLIK

PROFIL

DAFTAR ALAMAT

v vii 1 31 55 69 89 113 141 163

185

203

213

243 251 259 270 272

(8)
(9)

BAB I

MEMAHAMI KEPARALEGALAN

Siti Aminah Tardi

A. PENGERTIAN PARALEGAL

Paralegal adalah salah satu pihak yang dapat memberikan bantuan hukum dalam pengertian luas selain advokat, dosen dan mahasiswa.

Fungsi paralegal bukanlah ditujukan untuk menggantikan fungsi advokat, melainkan untuk bekerjasama dalam pemenuhan akses keadilan bagi masyarakat miskin dan kelompok rentan. Di Indonesia, paralegal bukan sebagai profesi atau pekerjaan, melainkan kesukarelawanan untuk bersama sama melakukan pemberdayaan hukum masyarakat.

Apa itu paralegal?

Secara umum, istilah paralegal ditemukan berdasarkan kesamaan istilah dalam dunia kedokteran yaitu paramedic. Yakni seseorang yang bu- kan dokter, tetapi mengetahui tentang dunia kedokteran. Pertama kali dikenal di Amerika Serikat pada tahun 1968 yang mengartikan Paralegal sebagai Legal Asistant yang tugasnya membantu seorang legal yaitu peng- acara atau notaris dalam pemberian saran hukum kepada masyarakat dan

(10)

bertanggungjawab langsung kepada pengacara. Sedangkan di Indonesia, Paralegal yang dikembangkan tidak dalam artian legal Asistant sebagaimana di Amerika Serikat, melainkan merujuk pada pengalaman dunia ketiga, yaitu bekerja di dan untuk kepentingan komunitasnya, dengan demikian bertanggungjawab kepada komunitasnya.

Paralegal didefinisikan sebagai: “Seseorang yang bukan Advokat, yang memiliki pengetahuan dibidang hukum, baik hukum materiil mau- pun hukum acara, dengan pengawasan atau organisasi bantuan hukum, yang berperan membantu masyarakat pencari keadilan. Paralegal bisa bekerja sendiri di komunitasnya atau bekerja untuk organisasi bantuan hukum atau firma hukum.”

Siapa yang bisa menjadi paralegal?

SIAPAPUN dapat menjadi paralegal, sepanjang ia bukan Advokat dan mau bekerja sukarela untuk kepentingan masyarakat miskin, rentan atau komunitasnya sendiri. Seperti pemuka masyarakat, pemuda, Ketua Adat, aktivis serikat buruh, guru, mahasiswa, petani, nelayan dll.

Dari wilayah kerjanya, paralegal dapat bekerja di atau bersama dengan kelompok petani, kelompok buruh, kelompok perempuan, ke- lompok masyarakat adat, atau kelompok miskin kota. Paralegal juga dapat bekerja saat ada kasus, seperti kerusakan lingkungan atau peng- gusuran.

Namun, dalam Permen Paralegal, untuk dapat direkrut menjadi Paralegal harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. Warga Negara Indonesia (WNI);

b. berusia paling rendah 18 (delapan belas) tahun;

c. memiliki pengetahuan tentang advokasi masyarakat; dan/atau

d. memenuhi syarat lain yang ditentukan oleh Pemberi Bantuan Hukum.

Ada berapa jenis model paralegal itu?

Seiring perkembangan keparalegalan, di Indonesia kini terdapat 4 (empat) tipe paralegal berdasarkan pola hubungan kerjanya, yaitu:

1. Paralegal komunitas

(11)

kategori ini termasuk paralegal berdasarkan wilayah seperti paralegal Desa Sukamaju, paralegal Morodemak.

2. Paralegal di atau untuk OBH (LBH/Legal Klinik)

Misalkan: mahasiswa, volunteer, Asisten Bantuan Hukum (ABH) atau Pembela Umum (PU) yang bekerja di LBH/LKBH Kampus.

3. Paralegal di atau untuk Kantor Hukum

Misalkan: paralegal Kantor Hukum Siti Aminah & Husband, para- legal DNT Lawyers.

4. Paralegal sebagai pelaksana program pemerintah

Misalkan: paralegal desa, paralegal hutan dan paralegal gambut.

Apakah terdapat perbedaan antara paralegal komunitas dengan paralegal di Kantor Hukum?

YA. Terdapat perbedaan antara paralegal di Kantor Hukum dengan paralegal, yaitu sebagai berikut:

PARALEGAL

KOMUNITAS KANTOR HUKUM TUJUAN Untuk memfasilitasi

perwujudan HAM dirinya dan komunitasnya

Untuk membantu Advokat/Kan- tor Hukum dalam menyelesaikan kasus yang ditanggani kantor hukum

TANGGUNG

JAWAB Kepada Komunitas Kepada Advokat/Kantor Hukum

REMUNERASI Tidak Digaji Digaji Advokat/Kantor Hukum LINGKUP

KERJA HAM/Kasus yang diha- dapi komunitas dan peng- hubung dengan LBH

Issue-issue khusus seperti pajak, saham dll

Apa perbedaan paralegal dengan pokrol bamboo (bush lawyer)?

Dahulu di Indonesia ada istilah pokrol bamboo (bush lawyer) yaitu orang-orang yang dilatih dan diuji oleh Pengadilan Negari untuk mem- bantu orang-orang khususnya masyarakat desa yang berperkara di Pengadilan Negeri. Pokrol Bambu juga merujuk ke kiasan untuk orang yang pandai berdebat namun tidak memiliki dasar, keras kepala dan tidak mau mengalah. Pekerjaan pokrol bamboo telah dihapuskan dalam

(12)

Pokrol menjalankan pekerjaannya dengan cara MENJUAL JASA kepada masyarakat luas. Sedangkan paralegal tidak menangani perkara di pengadilan, paralegal juga TIDAK MENJUAL JASA kepada masyarakat, melainkan melakukan pemberdayaan hukum dan memfasilitasi peme- nuhan HAM kelompok miskin, rentan atau komunitasnya.

Apa perbedaan paralegal dengan pendamping?

Seorang pendamping masyarakat bisa saja dan mungkin sekali berfungsi sebagai paralegal. Akan tetapi, tidak semua paralegal harus berfungsi sebagai pedamping masyarakat. Misalkan apabila pendamping akan melakukan suatu tindakan, ia bisa meminta pendapat paralegal tentang peraturan perundang-undangan yang akan menguatkan atau melemahkan posisi masyarakat. Pedamping dapat meminta paralegal untuk menyelenggarakan pendidikan/penyadaran hukum, menjadi ang- gota tim dalam mewakili kepentingan untuk berunding dengan aparat atau pihak lawan, atau memberikan pertolongan pertama apabila terjadi pelanggaran hukum.

Mengapa paralegal dibutuhkan di Indonesia?

Hadirnya paralegal di Indonesia, tidak dapat dilepaskan dari kondisi geografis, so- sial, dan politik di Indonesia. Paling tidak terdapat 6 (enam) alasan mengapa parale- gal dibutuhkan di Indonesia, yaitu:

1. Paralegal muncul sebagai reaksi atas ke- tidakberdayaan negara dalam mewujudkan hak-hak masyarakat miskin/komunitas sebagaimana dijamin dalam konstitusi. Hak-hak konstitusional hanya mungkin diwujudkan jika warga masyarakat mengerti, memahami hak-haknya, mempunyai ke- kuatan dan kecakapan untuk memperjuangkannya.

2. Kelemahan profesi hukum dalam mewujudkan hak-hak masyarakat miskin atas keadilan. Profesi hukum bekerja untuk memfasilitasi bekerjanya hukum positif dalam menilai persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat miskin. Sementara masyarakat miskin sering

(13)

terakomodasi dalam aturan-aturan atau bahkan tidak terlindungi secara memadai. Ketika profesi hukum (mis.Advokat) berhubungan dengan orang miskin, maka yang berhubungan tidak hanya dua orang kelompok manusia, tetapi dua posisi yang berbeda di hadapan hukum.

Paralegal berfungsi merumuskan kepentingan-kepentingan golongan miskin, dengan siapa dia bekerja, mendiskusikan kepentingan mana yang didahuukan dan selanjutnya membawa ke advokat untuk mem- perjuangkan kepentingan itu mealui mekanisme hukum.

3. Kalangan profesi advokat, dan LBH tidak maksimal di tingkat paling bawah dalam melakukan pendidikan hukum dan membangun kesa- daran hukum masyarakat.

4. Berkembangnya lembaga-lembaga baru dan prosedur-prosedur baru dalam sistem hukum yang dapat didayagunakan masyarakat untuk memperoleh hak-haknya. Misalkan: mekanisme pengaduan pelang- garan kode etik prilaku aparat penegak hukum (Kompolnas, Komjak, Komisi Yudisial), layanan publik (Ombudsman RI) atau Lembaga HAM Nasional (Komnas HAM, KPAI dan Komnas Perempuan)

5. Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 270 juta yang tidak seban- ding dengan jumlah dan sebaran advokat dan organisasi bantuan hu- kum

6. Kondisi georafis Indonesia terdiri dari 17.000 pulau.

Apakah paralegal termasuk pemberi bantuan hukum?

YA. Dalam UU 16 Tahun 2011 tentang Bantuan hukum, peran paralegal ditemukan di dalam fungsi sebagai Pemberi Bantuan Hukum (PBH), yaitu PBH dapat merekrut dosen, mahasiswa dan paralegal. Ini berarti paralegal yang bekerja dan dibawah supervisi PBH posisinya sama seperti dosen dan mahasiswa sebagai bagian dari pemberi bantuan hukum.

Ketentuan dalam UU Bantuan Hukum diperkuat dengan Putusan MK No. 88/PUU-X/2012 tanggal 19 Desember 2013, yang menyatakan bahwa tidak hanya advokat saja yang dapat memberikan bantuan hukum, tetapi juga paralegal, dosen dan mahasiswa fakultas hukum, termasuk mahasiswa dari fakultas syariah, perguruan tinggi militer, dan perguruan tinggi kepolisian, yang direkrut sebagai pemberi bantuan hukum.

(14)

Dimanakah ketentuan dasar hukum tentang paralegal itu diatur?

Ketentuan tentang paralegal terdapat dalam:

1. Pasal 9-10 UU 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum.

2. Putusan MK No. 88/PUU-X/2012 tanggal 19 Desember 2013.

3. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2013 tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum dan Penyaluran Dana Bantuan Hukum.

4. Permenkumham Nomor 1 Tahun 2018 tentang Paralegal dalam Pemberian Bantuan Hukum.

Apa kelebihan paralegal dalam melakukan bantuan hukum kepada masyarakat?

1. Paralegal seringkali dapat menyelesaikan masalah jauh lebih cepat daripada penegak hukum lainya.

2. Paralegal berbiaya rendah dibandingkan dengan advokat.

3. Paralegal berbasis masyarakat seringkali lebih mengetahui kondisi masyarakat yang mereka layani serta kebutuhannya dibandingkan advokat.

4. Paralegal dapat menjangkau daerah yang secara geografis terisolasi.

5. Jauh lebih mudah dan lebih murah untuk melatih dan menggunakan jasa paralegal daripada advokat.

Lalu siapa saja yang menjadi sasaran bantuan hukum oleh paralegal?

Yang dapat menjadi sasaran bantuan hukum paralegal diutamakan adalah komunitasnya atau warga di wilayahnya. Berikut komunitas yang dapat dibantu, namun tidak terbatas pada:

a. Fakir miskin;

b. Perempuan;

c. Anak;

d. Penyandang disabilitas;

e. Komunitas buruh migran;

(15)

h. Kelompok lansia;

i. Kelompok minoritas ras, minoritas adat, agama/kepercayaan, identi- tas gender dan orientasi seksual.

Bagaimana keberadaan paralegal dimasa mendatang?

Keberadaan paralegal tetap penting dan strategis baik sekarang maupun di masa mendatang, selama pemenuhan hak-hak warga miskin, dan rentan belum terpenuhi. Beberapa hal yang menyebabkan paralegal tetap dibutuhkan adalah:

1. Kurangnya ketersediaan jumlah Advokat/OBH dan penyebarannya yang tidak merata dan umumnya berada di wilayah perkotaan.

2. Jumlah penduduk Indonesia yang besar dan 80% tinggal di wilayah perdesaan.

3. Luasnya wilayah Indonesia.

4. Paralegal merupakan bagian dari rencana strategis pemenuhan hak atas keadilan.

5. Berbagai masalah sosial, ekonomi, politik dan budaya yang muncul ka- rena dampak proses pembangunan akan terus memerlukan kehadiran paralegal.

B. PERAN DAN FUNGSI PARALEGAL

Paralegal bukan Advokat, dan tidak dapat menggantikan posisi Advokat dalam melakukan pembelaan di muka pengadilan. Pekerjaan utama paralegal adalah memberikan nasehat hukum, mendokumentasikan kasus, menumbuhkan kemampuan sosial masyarakat, mendampingi masyarakat dalam proses perundingan dalam suatu perselisihan hukum atau memberikan pertolongan pertama apabila terjadi peristiwa hukum di komunitas atau wilayahnya. Bagian kedua ini akan memberikan pengantar untuk memahami peran dan fungsi paralegal dalam pemberian bantuan hukum.

Apa ruang lingkup kerja paralegal?

Ruang lingkup kerja paralegal meliputi dua hal yaitu:

1. Menghubungkan komunitas yang mengalami ketidakadilan atau pe- langgaran HAM dengan sistem hukum yang ada.

(16)

2. Menjalankan fungsi-fungsi mediasi, advokasi (litigasi/non litigasi/pe- rubahan kebijakan) dan pedampingan masyarakat.

Apa sasaran kegiatan paralegal?

Paralegal beroperasi secara proaktif, namun menyesuaikan dengan kondisi-kondisi yang ada. Pada dasarnya sasaran kegiatan paralegal dapat dibagi dua yaitu:

1. Perubahan kualitas kelompok/komunitas.

Misalkan bagaimana meningkatkan kesadaran hukum, kemampuan komunitas dalam melakukan analisa sosial dan kemandirian.

2. Menyelesaikan konflik yang memenuhi rasa keadilan masyarakat.

Apa saja peran paralegal?

Secara umum, paralegal berpe- ran untuk:

a. Memfasilitasi pembentukan organisasi rakyat.

Contoh: Warga Desa Karang Sa- lam Kab. Jember, sedang membutuh- kan bantuan untuk melakukan penga wasan penyalahgunaan wewenang Pemda Kab. Jember Desa Karang Sa- lam terhadap 1.000 hektar tanah warga yang akan digusur oleh oknum aparat pemerintah setempat. Warga berinisiatif untuk membentuk organisasi masyarakat dengan tujuan mengkonsolidasikan masyarakat dalam menyikapi penggusuran. Disinilah peran Paralegal dalam memfasilitasi pembentukan organisasi masyarakat, seperti teknis pembentukan organisasi, tujuan organisasi, mekanisme pengambilan keputusan hingga pembuatan AD/ART organisasi jika diperlukan.

b. Mendidik dan melakukan penyadaran.

Contoh: Paralegal memberikan penyuluhan hukum kepada masyarakat tentang hak tanah masyarakat adat.

c. Melakukan analisis sosial persoalan yang dihadapi komunitas.

(17)

jelaskan struktur sosial didalam masyarakat, mendalami fenomena sosial, hukum, gender, politik, ekonomi, agama, suku, dll yang berkait- an secara langsung dengan kasus penggusuran tanah, bagaimanakah perubahannya, apa dampak dari penggusuran tanah, struktur sosial sebelum dan sesudah kasus penggusuran tanah, memetakan mana kekuatan dan lawan, analisis keberpihakan, dan memetakan Rencana Tindak Lanjut (RTL).

d. Membimbing, melakukan mediasi, dan rekonsiliasi bila terja- di perselisihan-perselisihan yang timbul di antara anggota ma- syarakat.

Contoh: Dedi, pemilik kebun manga di Desa Kurtujoyo akan mela- porkan tetangganya Rino ke Kepolisian Sektor (Polsek) setempat ka- rena diduga mengambil 4 (empat) buah mangga miliknya. Seorang paralegal bisa berperan melakukan mediasi dalam kasus pencurian tersebut, karena hal itu bisa diselesaikan tanpa mesti melalui jalur hukum.

e. Memberikan bantuan hukum (litigasi/non litigasi), yaitu mem- berikan jalan pemecahan masalah yang paling awal dan sece- patnya dalam hal terjadi keadaan darurat.

Contohnya: seorang paralegal melakukan pendampingan terhadap korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) ketika melakukan pelaporan ke kepolisian, atau ke Pusat Pelayanan Terpadu Pember- dayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), atau ke Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), atau pa- da saat melakukan visum et rapertum di rumah sakit atau ke lembaga pemulihan terkait lainnya. Peran ini penting dilakukan seorang para- legal untuk memberikan rasa keamanan, perlindungan baik psikis maupun psikologis.

f. Jaringan kerja (networking)

Contoh: Seorang paralegal membuat Aliansi Jaringan Kerja Tolak Upah Murah (AJK-TUM). Disini paralegal berperan penting untuk membangun jaringan kerja secara luas, memastikan aliansi jaringan untuk solid dalam melakukan penolakan upah murah, bagaimana jaringan kerja memetakan peta advokasi bersama dalam kasus upah murah, dll

(18)

g. Mendorong masyarakat mengajukan tuntutan-tuntutannya.

Contoh: Paralegal mendorong Organisasi Pemuda Peduli Masyarakat Kab. Tangerang (ORDA PEKAT) untuk mengajukan gugatan class action terhadap reklamasi di Tangerang karena tidak memenuhi persyaratan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan tidak melibatkan partisipasi masyarakat sekitar pesisir saat penerbitan izin reklamasi.

h. Melakukan proses dokumentasi, termaksud mencatat secara kronologis peristiwa penting yang terjadi di komunitas.

Contoh: seorang paralegal mencatat seluruh proses rapat seperti dalam rapat konsolidasi organisasi, rapat pemetaan kasus, audiensi, dll.

i. Membuat surat-surat.

Contoh: seorang paralegal membuat draft surat audiensi, somasi, mediasi, pemberitahuan aksi, gugatan, pledoi, dll.

j. Membantu pengacara/LBH dengan melakukan penyelidikan awal, korban/klien, mengumpulkan bukti-bukti, dan menyiap- kan ringkasan fakta kasus dan membantu membuat konsep pembelaan.

Contoh: membuat posisi kasus, mengumpulkan dan menyusun bukti- bukti, melakukan koordinasi dengan lembaga layanan seperti LBH, atau melakukan pengaduan kepada lembaga Hak Asasi Manusia (HAM), seperti Komnas HAM, Ombudsman, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban(LPSK), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Komnas Perempuan, dll.

k. Menghubungkan korban/komunitasnya dengan lembaga-lem- baga layanan.

Contoh: seorang paralegal membantu korban KDRT untuk rujuk ke lembaga layanan seperti Woman Crisis Center (WCC), Rumah Aman, mengakses LPSK, dll.

Apa saja fungsi paralegal sebagai Pemberi Bantuan Hukum?

Fungsi paralegal sebagai pemberi bantuan hukum, yaitu:

a. Memberikan penyuluhan hukum;

(19)

untuk membangun kesadaran masyarakat serta meningkatkan kapa- sitas individu maupun kelompok.

b. Memberikan konsultasi hukum;

Contoh: seorang paralegal memberikan nasihat hukum kepada ang- gota masyarakat untuk menyelesaikan persoalan hukum dengan mem berikan solusi alternatif sesuai dengan konteks.

c. Investigasi perkara, baik secara elektronik maupun non-elek- tronik;

Contoh: paralegal membantu komunitas masyarakat dalam mengung- kap kasus penerbitan izin reklamasi di Teluk Benoa yang bertentangan dengan Perpres No. 45 tahun 2011 tentang Tata Ruang Kawasan Perkotaan Sarbagita yang menyebut Teluk Benoa sebagai kawasan konservasi. Meski penerbitan ini melanggar sejumlah peraturan per- undang-undangan yang ada, namun reklamasi Teluk Benoa tetap berjalan, oleh sebab itu upaya investigasi perkara tidak hanya melulu dari aspek hukum saja, tetapi juga aspek aspek lain, seperti adanya penyalahgunaan wewenang, menerima suap dari perusahaan, dll.

d. Melakukan penelitian hukum;

Contoh: seorang paralegal membantu membuat penelitian hukum tentang penting tidaknya sebuah peraturan perundangan-undangan/

daerah, seperti terbitnya Peraturan Bupati No. 69 Tahun 2015 tentang Pendidikan Berkarakter, dimana ada pasal yang mengatakan persya- ratan tambahan kenaikan kelas antara laki-laki dan perempuan ber- beda. Dalam hal ini Paralegal bisa membantu membuat penelitian apakah Perbup ini betul-betul kebutuhan masyarakat Purwakarta atau tidak, dan apakah Perbup bersifat diskriminasi terhadap perempuan atau tidak.

e. Melakukan mediasi;

Paralegal membantu masyarakat untuk menyelesaikan masalah mela- lui berbagai teknik dengan mengedepankan prinsip musyawarah, win- win solution, mengutamakan penyelesaian tanpa harus ke pengadilan.

f. Melakukan negosiasi;

Misalkan: mendampingi korban/masyarakat dalam melakukan nego- isasi dengan berprinsip pada kepentingan korban dan pelaku (asas restorative justice). Contoh dalam kasus pemukulan yang dilakukan oleh

(20)

g. Pemberdayaan masyarakat;

Membantu masyarakat dalam mengupayakan keadilan dan keberdaya- an. Contohnya mengadakan lokakarya tentang pemberdayaan pekerja migran, mendirikan posko paralegal perlindungan pekerja migran, dll.

h. Pendampingan di luar pengadilan;

Mendampingi laporan terhadap kasus hukum, contohnya mendampi- ngi lapor ke kepolisian, lembaga HAM, atau lembaga komisi/badan lain.

i. Perancangan dokumen hukum.

Mambantu membuat kertas posisi, Daftar Inventaris Masalah (DIM) Rancangan Undang Undang atau Rancangan Peraturan Daerah (Ran- perda), draft naskah akademik, draft surat somasi, dll.

Sebagai pemberi bantuan hukum, apakah paralegal bisa melakukan advokasi kebijakan?

BISA. Advokasi kebijakan berupa:

1. Advokasi kebijakan perangkat daerah tingkat desa/kelurahan sampai dengan tingkat kabupaten/kota. Contoh: Melakukan uji materi ke Mahkamah Agung (MA) jika ada peraturan tingkat daerah/desa ber- tentangan dengan undang-undangan, melakukan audiensi kebijakan,

(21)

2. Pendampingan program atau kegiatan yang dikelola oleh kementerian, lembaga pemerintah nonkementerian, pemerintah daerah provinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota, atau pemerintah desa. Contoh:

Penyuluhan desa sadar hukum kerjasama dengan Kanwil Kemenkum- ham, Pelatihan Paralegal Program BPHN, dll.

3. Atau juga bisa bekerjasama dengan penyuluh hukum untuk membe- ntuk dan/atau membina kelompok keluarga sadar hukum, seperti kerjasama dengan Forum Pengada Layanan (FPL) atau Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), atau Asosiasi Apik, lembaga masyarakat sipil yang konsen terhadap isu hak asasi manusia, seperti program penguatan masyarakat sadar hukum, pendidikan paralegal, Karya Latihan Bantuan Hukum (Kalabahu), pendidikan hukum klinik, dll.

Apa yang perlu diperhatikan bagi seorang paralegal ketika menangani kasus hukum?

Pertama, identifikasi para pihak yang terlibat dalam kasus hu- kum, seperti korban, pelaku, saksi-saksi dan pihak terkait lainnya. Un- tuk kasus perdata pahami posisi tergugat/penggugat atau pemohon/ter- mohon.

Kedua, pahami alur perkara hukum secara umum, seperti meka- nisme penyelesaian perkara pidana, perdata dan tata usaha negara.

Ketiga, membuat ringkasan kasus. Ringkasan kasus yang baik harus mengandung lima unsur yaitu fakta, isu, peraturan, penerapan dan kesimpulan.

Keempat, membuat teori kasus. Teori kasus untuk merumuskan bagaimana seorang paralegal dan Advokat bekerjasama dalam menangani kasus, membuat argumen berdasarkan dalil hukum dan fakta-fakta yang relevan.

(22)

TEORI KASUS

 Apa peraturan yang akan digunakan ketika melihat kasus? mulai dari UU/Perpu, PP, dll. Tentang apa, pasal apa serta unsur-unsur apa yang ditentukan dalam peraturan tersebut.

 Fakta apa yang harus dibuktikan untuk menetapkan setiap unsur hukum yang harus ditentukan.

 Bagaimana strategi advokasinya? upaya apa yang akan dilakukan?

 Persiapkan keterangan saksi, ahli, surat (dokumen), petunjuk dan keterangan terdakwa.

 Apa kelemahan teori yang anda gunakan?

 Apa teori kasus dari lawan anda

 Bagaimana cara melawan teori kasus lawan anda?

Bagaimana tugas dan peran paralegal dalam kasus kekera- san terhadap perempuan?

Dalam kasus Kekerasan terhadap Perempuan (KtP) seperti ke- kerasan seksual, KDRT, Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), paralegal mempunyai tugas dan fungsi yang sama seperti dalam kasus lainnya. Namun, paralegal yang menangani KtP dituntut untuk lebih peka terhadap kondisi traumatik dan dampak sosial yang dialami oleh korban dan keluarganya.

Tugas dan peran tersebut antara lain:

1. Memberikan informasi hukum materiil dan hukum acara terkait kasus yang ditangani.

2. Mengumpulkan barang bukti dan mengidentifikasi saksi-saksi.

3. Menyiapkan kronologi kasus secara tertulis.

4. Mendiskusikan penyelesaian kasus dengan mengedepankan kepenti- ngan korban.

5. Mengantar atau menemani korban melapor ke aparat penegak hukum, LBH atau LSM yang melakukan pendampingan terhadap perempuan.

(23)

7. Mencegah masyarakat menghakimi korban.

8. Memantau proses penyelesaian KtP oleh aparat penegak hukum.

Bagaimana dengan kasus perdagangan orang yang biasanya menjadikan wilayah perdesaan untuk merekrut korban perdagangan ? Apa yang bisa dilakukan paralegal ?

Dalam kasus-kasus TPPO, selain hal sama seperti yang dilakukan dalam penanganan kasus KtP, paralegal harus memiliki pengetahuan tentang:

1. Konsep TPPO, perkembangan dan modus terkait TPPO.

2. Peraturan perundang-undangan terkait dengan TPPO.

3. Peraturan lain yang mendukung penghapusan KTP seperti UU No.7 tahun 1984 tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan, dan UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

4. Unsur-unsur tindak pidana yang dirumuskan dalam peraturan perun- dang-undangan.

5. Hak-hak korban.

Paralegal sebagai anggota masyarakat dapat berperan sesuai keten- tuan UU TPPO, yaitu:

1. Melakukan upaya-upaya pencegahan dan penanganan (Pasal 60).

2. Mendorong pemerintah untuk membuka akses bagi masyarakat (Pasal 61).

3. Dalam upaya pencegahan masyarakat berhak memperoleh perlindu- ngan hukum (Pasal 62).

4. Menjadi pendamping korban pada proses penyidikan dan di persida- ngan.

Bagaimana tugas dan peran paralegal dalam kasus keke- rasan terhadap anak ?

Dalam kasus Kekerasan Terhadap Anak (KTA) atau Anak yang Berhadapan Dengan Hukum (ABH), paralegal melakukan hal-hal se- perti halnya penanganan kasus KDRT dan TPPO. Namun, paralegal yang menangani kasus anak dituntut untuk lebih peka terhadap kondisi traumatik, kerentanan dan dampak sosial yang dialami oleh korban dan keluarganya.

(24)

Dalam kasus-kasus KTA dan ABH, paralegal harus memiliki pe- ngetahuan tentang:

1. Hak-hak anak, khususnya hak anak yang berhadapan dengan hukum.

2. Peraturan perundang-undangan terkait dengan Sistem Peradilan Pi- dana Anak (SPPA).

3. Peraturan lain yang mendukung penghapusan KTA seperti UU No.

23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

4. Unsur-unsur tindak pidana yang dirumuskan dalam peraturan per- undang-undangan.

Tugas dan peran paralegal antara lain:

1. Memberikan informasi hukum materiil dan hukum acara terkait pe- nanganan kasus ABH terhadap keluarga dan anak dalam bahasa yang mudah dipahami anak.

2. Memberikan informasi pendekatan restorative justice dalam kasus ABH.

3. Memberikan informasi hak-hak anak.

4. Mengumpulkan barang bukti dan mengidentifikasi saksi-saksi.

5. Menyiapkan kronologi kasus secara tertulis.

6. Mendiskusikan penyelesaian kasus dengan mengedepankan kepenti- ngan anak.

7. Memastikan anak dalam kondisi aman, dengan berkoordinasi dengan APH/LSM untuk menempatkannya di rumah aman.

8. Mengantar atau menemani anak korban/saksi melapor ke aparat pe- negak hukum, LBH atau LSM yang melakukan pendampingan ter- hadap anak.

9. Mengantar atau menemani anak korban/saksi mengakses layanan- layanan psikologi, medis dan psikososial.

10.Memantau proses penyelesaian KTP oleh aparat penegak hukum.

(25)

C. PENDIDIKAN DAN KETERAMPILAN PARALEGAL

Siapapun dapat menjadi paralegal. Namun, dikarenakan paralegal memberikan layanan bantuan hukum, maka seorang paralegal harus me- miliki sejumlah pengetahuan dan keterampilan agar akses keadilan kepada kelompok miskin atau rentan diberikan secara layak. Upaya untuk me- ningkatkan persfektif, pengetahuan dan keterampilan dapat dilakukan melalui pelatihan-pelatihan dan program peningkatan kapasitas lainnya.

Bagian ini akan membahas tentang pendidikan dan keterampilan yang harus dimiliki paralegal.

Apa saja kualifikasi yang harus dipenuhi untuk menjadi pa- ralegal?

Permen paralegal menentukan kualifikasi seseorang dapat menjadi paralegal yaitu harus memenuhi kualifikasi sebagai berikut:

a. mampu memahami kondisi wilayah dan kelompok-kelompok kepen- tingan dalam masyarakat;

b. mampu melakukan penguatan masyarakat dalam memperjuangkan hak asasi manusia, dan hak-hak lain yang dilindungi oleh hukum; dan c. terampil mengadvokasi masyarakat berupa pembelaan dan dukungan

terhadap masyarakat lemah untuk mendapatkan haknya.

Untuk mencapai kualifikasi tersebut maka seseorang WAJIB mengi- kuti pelatihan paralegal.

(26)

Ada berapa tingkatan pelatihan paralegal itu?

Secara umum, pelatihan paralegal terdiri dari tingkat dasar dan ting- kat lanjutan. Selain pelatihan tingkat dasar dan lanjutan, paralegal dapat pula mengikuti pelatihan khusus lainnya. Misalkan: pelatihan mediator, pelatihan konseling dll.

Materi kurikulum pelatihan paralegal disusun dan dikembangkan sesuai kekhasan daerah dan kekhususan ruang lingkup kerja pemberi bantuan hukum. Misalkan: untuk OBH yang bekerja dengan perempuan dan anak, maka penekanan materi pelatihan adalah pengetahuan dan keterampilan terkait hak perempuan dan anak. Selain melalui pelatihan, peningkatan kapasitas paralegal dapat dilakukan melalui kegiatan kegiatan lain. Seperti: seminar, workshop atau diskusi kelompok.

Siapa saja yang dapat atau berkewajiban memberikan pe- latihan paralegal?

Karena paralegal merupakan jembatan antara Advokat/OBH dengan masyarakat atau komunitas, maka yang berkewajiban meningkat- kan kapasitas paralegal adalah Advokat/OBH. Hal ini dikarenakan relasi paralegal dan Advokat/OBH, yaitu Advokat/OBH melakukan pengawasan dan supervisi terhadap kerja-kerja paralegal.

Dalam Permen Paralegal, pelatihan diselenggarakan oleh:

a. Pemberi bantuan hukum;

b. perguruan tinggi;

c. lembaga swadaya masyarakat yang memberikan bantuan hukum; dan /atau

d. lembaga pemerintah yang menjalankan fungsinya di bidang hukum, setelah mendapatkan persetujuan dari BPHN.

Apa syarat dan kriteria mengikuti pelatihan paralegal?

Kriteria dan syarat-syarat mengikuti pelatihan paralegal ditentukan oleh penyelenggara pelatihan. Setelah pelatihan paralegal dalam kerja- kerjanya akan disupervisi oleh Advokat/OBH penyelenggara pelatihan paralegal. Untuk mengetahuinya, dapat menanyakannya langsung.

(27)

Apakah setelah mengikuti pelatihan seseorang dapat dika- takan sudah menjadi paralegal?

Secara formal tidak ada aturan baku kapan seseorang dinyatakan sudah menjadi paralegal. Hal tersebut tergantung kepada penyelenggara pelatihan dan modul pelatihan yang digunakan, misalkan pelatihan ber- jenjang. Ada yang menjadikan lulusan pelatihan tingkat dasar sebagai kader hukum dan menjadi paralegal setelah menyelesaikan seluruh jen- jang pendidikan. Ada pula penyelenggara pelatihan yang secara formal menjadikan atau meresmikan seseorang menjadi paralegal melalui pem- berian kartu identitas atau SK Pengangkatan.

Merujuk ke pengertian paralegal di bagian pertama, keikutsertaan seseorang dalam pelatihan saja belumlah cukup untuk menyandang se- butan paralegal. Titik terpenting justru setelah proses pelatihan selesai dilaksanakan. Apakah peserta pelatihan akan mendayagunakan penge- tahuan dan keterampilannya untuk mewujudkan hak-hak masyarakat, komunitas, korban ATAU tidak mendayagunakan.

Pengetahuan-pengetahuan apa saja yang harus dimiliki paralegal?

Secara umum, seorang para- legal harus memiliki pengetahuan- pengetahuan sebagai berikut:

1. Proses pembentukan hukum dan pelaksanaan hukum dalam masya- rakat. Termasuk pengetahuan ten- tang kekuatan-kekuatan dalam ma- syarakat yang sangat dominan dalam menentukan isi hukum serta berbagai prasyarat agar hukum dapat ditegakkan.

2. Pengetahuan tentang HAM dibidang sipil dan politik (SIPOL) dan ekonomi, sosial dan budaya (EKOSOB).

3. Pengetahuan tentang peraturan perundang-undangan yang relevan dengan isu-isu yang menjadi fokus utama kerja paralegal.

4. Struktur kenegaraan dan hubungan antara lembaga-lembaga Negara.

5. Peran partai politik. Paralegal harus memiliki pengetahuan mendalam

(28)

mengenai parpol termasuk sejarah pembentukannnya, peranannya dalam melakukan advokasi. Dengan demikian seorang paralegal mampu menganalisa peran dan posisi parpol dalam masyarakat.

6. Sistem peradilan dan peranan aparat penegak hukum.

7. Hukum acara (pidana, perdata, dan Tata Usaha Negara (TUN)).

8. Mekanisme pengaduan melalui lembaga pengawas internal atau eks- ternal.

9. Peran, tugas dan wewenang dari Komisi Nasional HAM (Komnas HAM, KPAI, Komnas Perempuan dan Ombudsman Republik Indone- sia (ORI).

10.Pengetahuan dasar tentang peraturan mendirikan organisasi masya- rakat, koperasi dan serikat buruh.

Keterampilan-keterampilan apa saja yang harus dimiliki paralegal?

Selain pengetahuan, seorang paralegal perlu memiliki dan meng- asah keterampilannya. Adapun keterampilan yang perlu dimiliki seorang paralegal, antara lain:

1. Kemampuan bekerjasama dengan masyarakat.

Dengan kemampuan ini, paralegal dapat mengembangkan rasa kese- tiakawanan diantara sesama anggota masyarakat dan meningkatkan peran serta mereka dalam mensukseskan program-program yang me- reka terapkan dan sepakati bersama.

2. Keterampilan berkomunikasi

Paralegal perlu memiliki keterampilan ini agar mampu menyampaikan pikirannya secara jelas dan menjelaskan prinsip-prinsip hukum dengan Bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Dengan memiliki ketram- pilan ini, seorang paralegal juga tidak menemui kesulitan dalam me- mahami dan menangkap serta merumuskan berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat miskin, baik yang nampak maupun tidak terucap.

3. Keterampilan membuat rancangan dan menulis surat

Keterampilan ini sangat penting agar dapat menuangkan pemikiran,

(29)

legal juga perlu meningkatkan keterampilan dalam menyusun draft gugatan, petisi, surat protes, pers release atau lembar info sederhana.

4. Keterampilan mengembangkan materi dan metode Pendidikan Karena salah satu tugas utama paralegal adalah mendidik masyarakat

maka ia perlu memiliki keterampilan dalam menyiapkan materi dan metode penyampaiannya.

5. Kemampuan melakukan penelitian

Salah satu tugas paralegal adalah mengumpulkan dan menganalisa informasi-informasi, data-data dan fakta-fakta yang berkaitan deng- an terjadinya suatu peristiwa hukum. Karena itu paralegal harus mempunyai kemampuan melakukan penelitian sederhana, seperti menggunakan metode survey, wawancara, pengumpulan bukti dan sebagainya.

6. Kemampuan membuat evaluasi

Seorang paralegal harus mempunyai kemampuan melakukan evaluasi terhadap kasus-kasus yang dihadapi masyarakat dan kegiatan kegiatan yang telah dilakukan paralegal. Dengan kemampuan evaluasi, paralegal dapat menilai sejauhmana kemajuan pemenuhan hak-hak komunitas yang dibelanya.

7. Kemampuan bernegosiasi

Dalam memberikan layanan kepada masyarakat, paralegal tidak jarang diminta untuk melakukan negosiasi atas nama kelompok masyarakat dengan pemerintah, aparat penegak hukum, perusahaan atau warga sendiri. Karena itu, paralegal perlu memiliki keterampilan bernegosiasi sehingga dapat melakukan negosiasi untuk kepentingan masyarakat.

8. Kemampuan belajar sendiri

Paralegal harus terus belajar dari pengalaman dan semua orang. De- ngan belajar dari kesalahan dan pengalaman, paralegal dapat me- ningkatkan keterampilannya yang lain sehingga dapat membantu komunitas masyarakat miskin secara maksimal.

9. Keterampilan advokasi perubahan kebijakan

Paralegal harus memiliki kemampuan mengidentifikasikan perturan- peraturan hukum yang akan disusun pemerintah dan memberikan masukan terhadap penyusunan peraturan perundang-undangan.

(30)

10. Keterampilan memberikan bimbingan

Dengan keterampilan ini, paralegal dapat membantu masyarakat agar mampu mengatasi persoalan mereka. Apabila ada anggota masyarakat mau melakukan suatu tindakan, ia dapat meminta pendapat paralegal agar ia dan komunitasnya tidak dituduh melanggar aturan undang- undang yang akan melemahkan posisi mereka sendiri.

11. Keterampilan mengatur dan mengalokasikan waktu

Tidak jarang paralegal menghadapi beberapa kegiatan pada waktu yang sama. Karena itu kemampuan untuk memilih prioritas kegiatan dan mengalokasikan waktu akan sangat membantu paralegal dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Apa saja kewajiban paralegal dalam menyelesaikan masa- lah di komunitasnya?

Bila masyarakat atau komunitas memutuskan untuk mengambil tindakan secara kolektif atau bersama-sama, maka paralegal memiliki kewajiban sebagai berikut:

1. Menjelaskan kemungkinan risiko yang timbul akibat tindakan terse- but. Keuntungan dan kekurangannya harus dijelaskan secara terbuka kepada masyarakat sehingga perbuatan yang mereka lakukan men- jadi tanggungjawab bersama;

2. Paralegal harus menanamkan rasa percaya diri kepada setiap anggota masyarakat

3. Paralegal ketika bekerja dalam suatu masyarakat korban harus me- lakukan identifikasi masalah-masalah yang potensial bakal terjadi, tanpa harus menunggu munculnya persoalan-persoalan dalam masya- rakat, baru mengambil tindakan

4. Sebagai mediator, paralegal harus bersikap realistis dan berusaha me- mahami keterbatasan-keterbatasan dalam mengatasi konflik kelom- pok dalam komunitas dimana ia berada.

5. Ketika memberikan nasihat hukum, paralegal harus menjelaskan segala kemungkinan dan konsekuensinya sesuai dengan peraturan yang berlaku.

6. Mendukung keputusan masyarakat untuk mengambil tindakan-tin-

(31)

D. PRINSIP KERJA PARALEGAL

Paralegal bukan suatu profesi atau pekerjaan, maka paralegal tidak memiliki kode etik seperti Advokat. Namun hal ini bukan berarti paralegal bekerja tanpa aturan. Terdapat prinsip-prinsip kerja yang harus dipatuhi dan ditegakkan bersama oleh Advokat/OBH dan paralegal.

Bagian ini akan menjelaskan prinsip-prinsip kerja paralegal, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta hubungan dengan Advokat/

OBH dalam proses supervisi dan evaluasi kerja paralegal.

Apa saja prinsip kerja kerja paralegal itu?

a. independen;

b. kerelawanan;

c. non-diskriminasi;

d. bekerja berdasarkan aturan/etika;

e. dibawah supervisi Advokat/OBH;

Sikap dasar apa yang harus dimiliki oleh paralegal?

Paralegal dalam memberikan bantuan hukum sedapat mungkin memiliki sikap dasar sebagai berikut:

a. rendah hati;

b. mau mendengar;

(32)

c. setia pada fakta;

d. percaya diri;

e. sabar;

f. kreatif;

g. kritis dan selalu menambah atau mengembangkan pengetahuan;

h. mau menerima kritik;

i. bijaksana;

j. menghargai inisiatif masyarakat;dan k. memegang teguh prinsip-prinsip HAM.

Selain dampak positif untuk pemenuhan hak bantuan hu- kum, apakah kehadiran paralegal memiliki dampak nega- tif?

Kemungkinan dampak negatif kehadiran paralegal dimungkinkan terjadi. Dampak negatif tersebut diantaranya:

1. Menciptakan ketergantungan pada sebagian besar anggota masyarakat.

2. Kemungkinan penyalahgunaan posisinya sebagai paralegal untuk kepentingannya sendiri, seperti keuntungan politik atau finansial.

3. Terbentuknya budaya patron terhadap sosok paralegal yang akan menghilangkan daya kritis anggota masyarakat dan merubah relasi setara dan egaliter menjadi relasi patron-klien.

Untuk mencegah dan mengatasi dampak negatif tersebut, terma- suk pelanggaran aturan prinsip kerja paralegal maka pengawasan dan supervisi mutlak dilakukan oleh Advokat/OBH.

Apakah paralegal memiliki kode etik?

Karena paralegal bukan suatu profesi, maka paralegal tidak memiliki kode etik. Kode etik yang dimaksud disini adalah kode etik yang dihasilkan oleh organisasi profesi, memiliki dewan etik dan mengikat anggotanya. Seperti, Kode Etik Advokat Indonesia (KEAI), Kode Etik dan Pedoman Prilaku Hakim (KEPPH) atau Kode Etik Ikatan Notaris Indonesia.

Namun, bukan berarti paralegal bekerja tanpa aturan. Terdapat

(33)

Hal-hal yang tidak boleh dilakukan paralegal, diantaranya:

1. Tidak boleh menyalahgunakan pekerjaannya untuk mempromosikan dirinya sendiri demi mencapai kepentingan-kepentingan pribadinya.

2. Tidak boleh mengekploitasi masyarakat untuk kepentigannya.

3. Tidak boleh bersikap seperti atau mengaku sebagai Advokat.

4. Tidak boleh memberikan kontribusi atau ikut memperkuat pola diskriminasi yang ada didalam masyarakat.

5. Tidak boleh berkontribusi terhadap pelanggaran HAM.

6. Tidak boleh mengabaikan unsur-unsur positif dari budaya lokal.

Adakah contoh aturan apa yang boleh/tidak boleh dilaku- kan paralegal dalam melaksanakan kerja-kerja bantuan hukum itu?

Dalam Panduan Advokasi Paralegal LBH Jakarta, Kode Etik dan Standar Operasional Prosedural, 2010 paralegal LBH Jakarta beker- ja berdasarkan kode etik. Terdapat 3 aturan dasar yaitu mengatur: (1) Hubungan dengan masyarakat; (2) Hubungan dengan kekuasaan keha- kiman dan kekuasaan lainnya; dan (3) Hubungan dengan teman sejawat.

Etika dalam hubungan dengan masyarakat:

a. Percaya dan sabar terhadap masyarakat dengan mendengarkan mere- ka;

b. Memiliki rasa percaya diri dan kemauan untuk meningkatkan kemam- puan sehingga bisa berinisiatif membantu masyarakat dam memiliki kemandirian;

c. Menghargai inisiatif masyarakat guna menumbuhkan rasa percaya diri dan melibatkan masyarakat dalam mengambil keputusan dengan proses yang demokratis

d. Bersikap terbuka dan bertingkah laku penuh persahabatan kepada masyarakat;

e. Menghormati pengetahuan yang dimiliki masyarakat dan kebiasaan- kebiasaan, budaya, tata nilai yang berlaku didalam masyarakat;

f. Paralegal wajib memberikan semua data yang dimiliki terkait dengan kasus yang ditangganinya kepada masyarakatnya dan pembelanya yang baru bila diperlukan;

(34)

g. Paralegal harus menggambarkan kepada masyarakat segala akibat, re- siko dan kemungkinan terburuk atas tindakan atau keputusan yang diambil;

h. Paralegal tidak memberikan harapan yang berlebihan dengan menjan- jikan kemenangan;

i. Informasi yang disampaikan harus sesuai apa adanya dan tidak boleh menyesatkan

j. Paralegal tidak boleh memungut biaya dan menetapkan atau membe- bankan biaya-biaya yang tidak perlu dan illegal menurut hukum;

k. Paralegal tidak menelantarkan perkara yang ditanganinya;

l. Paralegal memberikan kebebasan sepenuhnya kepada masyarakat un- tuk mencari pembela;

m. Paralegal harus menolak permintaan bantuan hukum dari mereka yang dipandang mampu, kecuali dalam kasus pelanggaran HAM yang mempunyai dampak yang luas terhadap masyarakat;

n. Menjaga kerahasiaan hal-hal yang sifatnya personal dan masalah ma- syarakat yang didampinginya.

Etika hubungan dengan kekuasaan kehakiman dan kekuasaan lain- nya, adalah: Paralegal harus bersikap sepantasnya sesuai dengan norma yang berlaku terhadap setiap pejabat kekuasaan kehakiman dan kekua- saan lainnya.

Sedangkan, etika hubungan dengan teman sejawat, sebagai berikut:

a. Paralegal harus menjalin hubungan baik dengan teman sejawat berda- sarkan saling menghargai;

b. Paralegal boleh melimpahkan perkara yang ditanganinya kepada para- legal lain dalam hal ada halangan yang beralasan;

c. Paralegal tidak diperkenankan merebut masyarakat yang perkaranya ditangani oleh paralegal lain;

d. Paralegal mempunyai wilayah kerja masing-masing dan dapat beker- jasama dengan paralegal lain.

Bagaimana sebaiknya hubungan Paralegal dengan Advokat dan organisasi bantuan hukum?

(35)

ngan dokter. Berikut adalah hubungan yang seharusnya dibangun antara Advokat/OBH dengan paralegal:

a. Paralegal dan Advokat/LBH adalah satu tim kerja yang harus beker- jasama dalam menyelesaikan permasalahan hukum di komunitas tem- pat paralegal berada;

b. Paralegal tidak menjalin hubungan kerja dengan Advokat atas kepen- tingannya sendiri dan Advokat tidak boleh menjadikan paralegal seba- gai pencari klien (makelar kasus) di tempat tinggal wilayah paralegal atau Advokat menyalahgunakan peran dan fungsi paralegal;

c. Berkaitan dengan kasus, paralegal membantu Advokat dalam meng- urus proses dokumentasi, termasuk mencatat secara kronologis peris- tiwa-peristiwa penting yang terjadi di komunitasnya, melakukan pe- nyelidikan awal, mewawancara klien/korban/saksi, mengumpulkan bukti-bukti dan menyiapkan ringkasan fakta kasus dan membantu mengonsep pembelaan yang sederhana sekalipun;

d. Advokat/LBH meningkatkan kemampuan dan keterampilan para- legal;

e. Paralegal menjadi garda pertama dalam memberikan pertolongan pertama di bidang hukum.

Dapatkah seorang paralegal dievaluasi? Kepada siapa pa- ralegal bertanggungjawab?

YA. Paralegal harus memberikan pertanggungjawaban atas ban- tuan hukum yang diberikannya kepada masyarakat dan Advokat/OBH.

Disini eksistensi dan legitimasi paralegal akan diuji. Apabila masyarakat menerima dan merasakan manfaatnya, maka dengan sendirinya ia akan mendapatkan pengakuan secara sosial. Sebaliknya, jika kehadiran parale- gal tidak bermanfaat untuk kepentingan masyarakat/komunitasnya,maka melalui mekanisme sosial seorang paralegal akan kehilangan eksistensinya, dan harus memperbaiki diri.Yang dapat melakukan evaluasi adalah Ad- vokat/OBH, anggota masyarakat/komunitas, pencari keadilan atau pi- hak ketiga lainnya.

(36)

Apa tujuan evaluasi terhadap paralegal?

1. Mengetahui efektivitas kerja paralegal, apakah responsif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

2. Menentukan tingkat dayaguna dan hasil dari kehadiran seorang para- legal.

3. Memantau paralegal, sehingga dapat mengatasi dampak negatifnya terhadap paralegal.

4. Memberikan dukungan kepada kerja-kerja paralegal.

5. Memfasilitasi suatu penilaian sejauhmana masyarakat telah memper- oleh kesadaran kritis.

6. Menemukan cara bagaimana memperbaiki cara kerja paralegal selan- jutnya.

7. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mendukung keberhasilan perjuangan masyarakat/komunitasnya.

Adakah sanksi-sanksi yang diberikan kepada paralegal yang melanggar ketentuan etika yang disepakati dengan Advokat/OBH?

YA. Paralegal yang tidak bekerja berdasarkan prinsip dan etika kerja paralegal, dapat diberikan sanksi oleh Advokat/OBH, dalam bentuk:

1. Peringatan.

2. Peringatan keras.

3. Pemberhentian sementara.

4. Pemberhentian tetap.

(37)

Daftar Pustaka

LBH Jakarta, Panduan Advokasi Paralegal LBH Jakarta; Kode Etik dan Standar Operasional Prosedure, LBH Jakarta, 2010

Mulyana W Kusuma (ed), Paralegal dan Akses Masyarakat terhadap Keadilan, YLBHI, Jakarta, 1991

Ravindran, Buku Penuntun Untuk Latihan Paralegal, YLBHI, Jakarta, 1989 Saudari Rosmiati Sain, Peranan Paralegal dalam Menyelesaikan Kasus-Kasus

Traficking, Yayasan LBH Makassar, Makassar, 2008

Siti Aminah, Keparalegalan, materi Pelatihan Paralegal Mahasiswa UMS tahun 2017-2018

Tandiono Bawor Purbaya dan Siti Aminah, Panduan Bantuan Hukum Untuk Paralegal, LBH Yogyakarta dan Yayasan Tifa, Yogyakakrta, 2010

The Indonesian Legal Resource Center (ILRC), Memperjuangkan Keadilan Dari Kampus, Panduan Standar Minimum Pelayanan Bantuan Hukum Untuk Lembaga Bantuan Hukum (LKBH) Kampus, The Indonesian Legal Resource Center (ILRC) Dan Asosiasi Pendidikan Hukum Klinis Indonesia (APKHI), 2014

The Indonesian Legal Resource Center (ILRC), Mengelola Legal Clinic Panduan Membentuk dan Mengembangkan LBH Kampus untuk Memperkuat Akses Keadilan, Jakarta, ILRC, 2009

UU No. 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum

Permenkumham No.1 Tahun 2018 tentang Paralegal dalam Pemberian Bantuan Hukum

(38)
(39)

BAB 2

PERLINDUNGAN KEAMANAN UNTUK PARALEGAL

Andi Komara dan Siti Aminah Tardi

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180508110057-20-296499/marsinah- antara-kenangan-dan-simbol-perlawanan

Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya

(UUD 1945 pasal 28C ayat 2)

Bekerja untuk mendorong penghargaan, perlindungan dan peme- nuhan HAM, khususnya menangani kasus atas orang-orang yang hak asasinya telah dilanggar bisa menjadi kegiatan yang berbahaya di berbagai negara di dunia. Para pembela HAM, termasuk paralegal seringkali meng- hadapi gangguan, penahanan, kekerasan (fisik, pskis atau seksual), peng- hinaan, skorsing dari pekerjaan, stigma, perampasan kebebasan untuk melakukan perjuangan dan kesulitan untuk memperoleh pengakuan sah atas organisasi mereka.

(40)

Tantangan akan keamanan yang potensi menimpa paralegal se- bagai Pembela HAM, keluarga maupun organisasi mengharuskan para- legal mengetahui, dan menerapkan strategi keamanan yang dinamis dan menyeluruh dalam aktivitasnya. Bab ini akan memberikan pengantar untuk memahami Pembela HAM, risiko, ancaman keamanan dan bagai- mana mencegah atau mengelola insiden keamanan.

A. PENGERTIAN PEMBELA HAM

Siapakah yang dimaksud dengan Pembela HAM?

Pembela HAM adalah sebutan bagi individu baik sendiri maupun bersama-sama bekerja untuk memajukan dan memperjuangkan perlindu- ngan dan pemenuhan hak asasi manusia dan kebebasan dasar di tingkat nasional dan internasional.

Seseorang dapat disebut sebagai Pembela HAM dikenali melalui apa yang dilakukannya untuk memperjuangkan HAM, baik sendiri, ber- sama komunitas, bersama organisasi ataupun dalam kerja-kerja profesi- onalnya. Dengan demikian, paralegal dalam kerja-kerjanya termasuk ke dalam Pembela HAM.

Apa yang dimaksud dengan Perempuan Pembela HAM?

Perempuan Pembela HAM adalah bagian dari pembela HAM.

Pelapor khusus tentang situasi pembela hak asasi manusia mendefini- sikannya Perempuan Pembela HAM sebagai perempuan dan pembela hak asasi manusia lainnya yang bekerja untuk membela hak-hak perempuan atau bekerja pada isu-isu gender. Deklarasi tentang Pembela Hak Asasi Manusia (HRD) mengakui peran penting dari pembela HAM, termasuk perempuan pembela HAM.

Mengapa kehadiran Pembela HAM menjadi penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita?

Terdapat 5 (lima) tujuan pentingnya kehadiran Pembela HAM, ya- itu untuk:

1. Mempromosikan dan melindungi hak asasi manusia dalam konteks

(41)

mastikan bahwa pekerjaan investigasi mereka dipertimbangkan dan bahwa pelanggaran HAM ditangani

3. Menginvestigasi dan melaporkan pelanggaran HAM

4. Melobi pihak berwenang dan mengadvokasi upaya yang lebih besar oleh Negara untuk mengimplementasikan kewajiban HAM inter- nasional

5. Memberikan pendidikan hak asasi manusia untuk kaum awam Adakah Pembela HAM yang kita kenal?

Banyak Pembela HAM berada di sekitar kita, yang bekerja sendiri, bersama komunitas, atau sebagai professional yang memperjuangkan hak-haknya. Diantara mereka seperti:

MUNIR SAID THALIB

Munir Said Thalib (lahir di Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965 – meninggal di Jakarta di dalam pesawat jurusan ke Amsterdam, 7 September 2004 pada umur 38 tahun) adalah seorang aktivis HAM Indonesia. Jabatan terakhirnya adalah Direktur Eksekutif Imparsial, Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia. Sebelumnya, Mu-nir adalah Pembela Umum di LBH Surabaya, YLBHI dan Kontras. saat menjabat Dewan Kontras, namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu. Saat itu dia membela para aktivis yang menjadi

(42)

korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Kasus yang pernah ditanga- ni diantaranya kasus Araujo yang dituduh sebagai pemberontak melawan pemerintahan Indonesia untuk memerdekakan Timor timur dari Indonesia pada (1992), kasus Marsinah, seorang aktivis buruh yang dibunuh oleh militer (1994), Kasus warga Nipah, Madura, pembunuhan petani-petani oleh militer (1993), kasus Penghilangan Orang secara paksa 24 aktivis politik dan mahasiswa(1997-1998), dll. Munir juga aktif di beberapa kegiatan advokasi dalam bidang perburuhan, pertanahan, lingkungan, gender dan sejumlah kasus pelanggaran hak sipil dan politik. Berkat pengabdiannya Munir mendapatkan pengakuan yang berupa peng-hargaan dari dalam negeri dan luar negeri. Di dalam negeri, ia dinobatkan sebagai Man Of The Year 1998 versi majalah UMMAT, penghargaan Pin Emas sebagai Lulusan Universitas Brawijaya yang sukses, sebagai salah seorang tokoh terkenal Indonesia pada abad XX, Majalah Forum Keadilan. Sementara di luar negeri, ia dinobatkan menjadi As Leader for the Millennium dari Asia Week pada tahun 2000, The Right Livelihood Award (Alternative Nobel Prizes) untuk promosi HAM dan kontrol sipil atas militer, Stockholm pada Desember 2000, dan An Honourable Mention of the 2000 UNESCO Madanjeet Singh Prize atas usaha-usahanya dalam mempromosikan tole- ransi dan Anti Kekerasan, Paris, November 2000

Jenazahnya dimakamkan di taman makam umum kota Batu. Sejak tahun 2005, tanggal kematian Munir, 7 September, oleh para aktivis HAM di- canangkan sebagai Hari Pembela HAM Indonesia.

(43)

MARSINAH

Marsinah (lahir di Nglundo, 10 April 1969 – meninggal 8 Mei 1993 pada umur 24 tahun) adalah seorang aktivis dan buruh pabrik Jaman Pemerintahan Orde Baru, berkerja pada PT. Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur yang diculik dan kemudian ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993 setelah menghilang selama tiga hari.

Marsinah adalah salah seorang kar- yawati PT. Catur Putra Surya yang aktif dalam aksi unjuk rasa buruh.

Keterlibatan Marsinah dalam aksi unjuk rasa tersebut antara lain terli- bat dalam rapat yang membahas ren cana unjuk rasa pada tanggal 2 Mei 1993 di Tanggulangin, Sidoarjo. 3 Mei 1993, para buruh mencegah teman-temannya bekerja.

Komando Rayon Militer (Koramil) setempat turun tangan mencegah aksi buruh. 4 Mei 1993, para buruh mogok total mereka mengajukan 12 tuntutan, termasuk perusahaan harus menaikkan upah pokok dari Rp 1.700 per hari menjadi Rp 2.250.

Tunjangan tetap Rp 550 per hari mereka perjuangkan dan bisa diterima, termasuk oleh buruh yang absen. Sampai dengan tanggal 5 Mei 1993, Marsinah masih aktif bersama rekan-rekannya dalam kegiatan unjuk rasa dan perundingan-perundingan. Marsinah menjadi salah seorang dari 15 orang perwakilan karyawan yang melakukan perundingan dengan pihak perusahaan.

Siang hari tanggal 5 Mei, tanpa Marsinah, 13 buruh yang dianggap menghasut unjuk rasa digiring ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo. Di tempat itu mereka dipaksa mengundurkan diri dari CPS. Mereka dituduh telah menggelar rapat gelap dan mencegah karyawan masuk kerja. Marsinah sempat mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan keberadaan rekan- rekannya yang sebelumnya dipanggil pihak Kodim. Setelah itu, sekitar pukul 10 malam, Marsinah lenyap.

Mulai tanggal 6, 7, 8, keberadaan Marsinah tidak diketahui oleh rekan- rekannya sampai akhirnya ditemukan telah menjadi mayat pada tanggal 8 Mei 1993. Dua orang yang terlibat dalam otopsi pertama dan kedua jenazah Marsinah, Haryono (pegawai kamar jenazah RSUD Nganjuk) dan ...

(44)

Prof. Dr. Haroen Atmodirono (Kepala Bagian Forensik RSUD Dr.

Soetomo Surabaya), menyimpulkan, Marsinah tewas akibat penganiayaan berat. Marsinah memperoleh Penghargaan Yap Thiam Hien pada tahun yang sama. Kasus ini menjadi catatan Organisasi Buruh Internasional (ILO), dikenal sebagai kasus 1773. (Wikipedia)

(45)

KARTINI KENDENG

Pada tahun 2014, Semen Indonesia berencana untuk membangun pabrik semen di Rembang. Pabrik ini direncanakan memiliki kapasitas produksi sebesar 3 juta ton per tahun, ini bertujuan untuk mengimbangi konsumsi semen yang terus meningkat setiap tahunnya. Namun, warga Kendeng menentang pembangunan pabrik semen di wilayah tersebut.

Pembangunan tapak pabrik semen yang hendak didirikan di Rembang di- khawatirkan akan mengancam keberlanjutan Cekungan Air Tanah (CAT) Watu-putih yang merupakan kawasan lindung geologi dan kawasan resapan air terbesar yang memasok sumber mata air yang ada di sekitarnya. Volume air yang dihasilkan oleh mata air-mata air yang ada di pegununungan karst ini dalam satu hari mencapai sekitar 51.840.000 liter air. Sekitar 10% diantaranya dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat dan sisanya didistribusikan ke lahan pertanian, termasuk sebagai pasokan PDAM Rembang. Jika nilai ini divaluasi sebagai potensi ekonomi, maka nilai air yang dihasilkan akan melebihi nilai yang didapat dari sektor pertambangan, yang justru berpotensi mengurangi bahkan menghilangkan pasokan dan distribusi air pada sumber mata air.

(46)

Sembilan perempuan Kendeng yang terdiri dari Sukinah, Sutini, Karsupi, Ambarwati, Surani, Deni, Murtini, Ngadinah dan Giyem mendapatkan sebutan sebagai 9 Kartini Kendeng sejak mereka melakukan aksi menyemen kakinya untuk menolak kehadiran industri semen di depan Istana Negara.

Sebutan Kartini Kendeng juga diberikan kepada ibu-ibu yang lain yang telah mendirikan tenda di tapak pabrik semen di Rembang sejak tanggal 16 Juni 2014 untuk perjuangan yang sama. Kartini Kendeng sebagai bagian dari Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) melakukan perlawanan secara konsisten untuk memperjuangkan kelestarian lingkungan tanpa kekerasan. (Dari berbagai sumber)

(47)

SALIM KANCIL

Salim Kancil (lahir di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, 22 April 1969 – meninggal di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, 26 September 2015 pada umur 46 tahun) adalah warga Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, yang menjadi korban pembunuhan menyusul protesnya bersama beberapa kawannya terhadap penambangan pasir di desa setempat.

Sehari-hari, Salim adalah petani yang sekaligus menjadi pemilik lahan sekitar lokasi penamba- ngan di pesisir pantai selatan Watu Pecak. Hingga pada suatu hari, Salim mendapati 8 petak lahannya hancur akibat tambang pasir ilegal. Salim menduga, tam- bang tersebut dikelola oleh tim 12, yang merupakan mantan tim kampanye kepala desa mereka.

Salim yang menjadi tulang pung- gung keluarga kebingungan, lan- taran lahan pertanian sebagai mata pencaharian sudah tidak dapat diharapkan kembali untuk menghidupi keluarganya, sehing- ga penghasilannya semakin menurun drastis. Untuk memenuhi kebutuhan, akhirnya Salim memutuskan beralih profesi menjadi nelayan.

Sadar bahwa ia tak mungkin bertahan hanya dengan menjadi nelayan dada- kan, Salim pun mulai mengunjungi rumah teman-temannya di malam hari dan berhasil merekrut lima orang warga. Dari situlah perlawanan dimulai secara diam-diam karena khawatir aktivitas mereka diketahui oleh Tim 12.

Salim mulai aktif, dan rajin surat-menyurat dengan pihak keamanan, peme- rintah kabupaten, provinsi, sampai ke Jakarta. Tujuannya bulat, dirinya memperjuangan hak hidup sebagai warga negara Indonesia, apalagi apa yang menimpa dirinya juga sama dengan warga pemilih lahan di lokasi tambang ilegal. Perlawanan Salim membuat penambang ilegal mulai gusar.

Ancaman dan intimidasi pada Salim pun mulai berdatangan. Salim Kancil melaporkan intimidasi dan ancaman pada petani yang menolak tambang ke Kepolisian Sektor Pasirian, yang kemudian diteruskan ke Kepolisian Resor Lumajang, tetapi tidak ada tindakan.

(48)

Atas nihilnya tanggapan dari aparat, Salim pun kemudian membentuk Fo- rum Komunikasi Masyarakat Peduli Desa Selok Awar-awar (FORUM) yang mulai melakukan gerakan advokasi protes perihal penambangan pasir yang mengakibatkan rusaknya lingkungan di desa Selok Awar-awar, dengan cara bersurat kepada Pemerintahan Desa Selok Awar-Awar, Pemerintahan Kecamatan Pasirian bahkan kepada Pemerintahan Kabupaten Lumajang.

Pada 9 September 2015, FORUM melakukan aksi damai dengan cara memberhentikan aktivitas penambangan pasir dan truk muatan pasir yang menghasilkan surat pernyataan dari Kepala desa Selok Awar-Awar untuk menghentikan penambangan pasir. Pada hari yang sama, Salim dan warga yang menolak tambang pasir tersebut mengaku mendapat ancaman pem- bunuhan. Menurut mereka pengirimnya adalah tim 12 yang diketuai Desir.

Warga melaporkannya kepada aparat, tapi sekali lagi, tidak mendapatkan tanggapan.

Pada 25 September 2015, FORUM merencanakan aksi penolakan tambang pasir pada Sabtu, 26 September pagi. Pada hari H aksi, rekan Salim me- mulai aksi dengan menyebar selebaran aksi damai tolak tambang di depan rumahnya. Kemudian ada satu orang yang melintas dan membaca selebaran tersebut sambil memarahi mereka. Enam puluh menit kemudian, Salim didatangi oleh puluhan orang di rumahnya. Ia diseret ke Balai Desa dan dianiaya hingga meninggal dunia. (Dari berbagai sumber)

(49)

Mereka dikenal sebagai pembela HAM karena:

1. Berani berjuang secara individu maupun kelompok;

2. Berperspektif HAM yakni menghormati HAM dimanapun dan tidak membeda-bedakan satu rumpun hak dengan rumpun hak lainnya;

3. Bertindak dan beraktifitas untuk mempromosikan atau melindungi hak asasi manusia;

4. Bekerja dalam damai, dan tidak dibenarkan menggunakan tindakan kekerasan dalam aksinya.

Dengan demikian semua bisa menjadi pembela HAM dengan ber- bagai latarbelakang pendidikan dan status sosial, seperti Advokat, aktivis, buruh, petani, mahasiswa, paralegal, aktivis perempuan dll. Masyarakat mengenal pembela HAM karena aktivitas perjuangannya.

Apa saja hak-hak pembela HAM?

Hak Pembela HAM yang di- akui berdasarkan Deklarasi Pem- bela HAM yaitu:

1. Hak untuk mewujudkan perlin- dungan dan realisasi HAM baik di tingkat regional, nasional ataupun internasional.

2. Hak untuk melakukan kerja-kerja HAM baik secara individu mau-pun kelompok.

3. Hak untuk membentuk asosiasi dan organisasi non pemerintah.

4. Hak untuk bertemu atau membuat pertemuan secara damai.

5. Hak untuk mengetahui, mencari, memperoleh dan menyimpan infor- masi terkait dengan HAM.

6. Hak untuk mendiskusikan dan mengembangkan ide-ide dan prinsip- prinsip baru tentang HAM dan memperjuangkan penerimaannya.

7. Hak untuk menyampaikan gagasan dan kritik tentang masalah publik kepada lembaga-lembaga dan organisasi pemerintahan demi mening- katkan fungsinya dan untuk memberikan perhatiaan terhadap berbagai aspek dari kerja HAM yang dapat mendorong realisasi HAM.

(50)

8. Hak untuk menyatakan keberatan dan mendapatkan tanggapan ter- hadap kebijakan dan tindakan pejabat terkait dengan HAM.

9. Hak untuk menawarkan dan memberikan bantuan hukum professional atau bantuan nasehat-nasehat lain dalam membela HAM.

10.Hak untuk menghadiri dengan pendapat, proses pemeriksaan (Pe- nyelidikan, penyidikan) dan persidangan untuk menilai kesesuaiannya dengan hukum nasional dan ketentuan HAM Internasional.

11.Hak untuk tidak dihambat atas akses informasi dan komunikasi de- ngan organisasi non pemerintah dan organisasi internasional.

12.Hak untuk mendapatkan keuntungan dari suatu ganti kerugian.

13.Hak untuk melakukan pekerjaan atau profesi Pembela HAM.

14.Hak atas perlindungan efektif menurut hukum nasional dalam me- reaksi atau melawan, secara damai, atas tindakan atau pembiaran yang dilakukan Negara yang menghasilkan pelanggaran HAM.

15.Hak untuk mengumpulkan, menerima dan menggunakan sumber- sumber daya untuk melindungi HAM (termasuk hak untuk menerima dana dari luar negeri).

Sedangkan perlindungan pembela HAM di Indonesia, walau be- lum diatur dalam satu undang-undang khusus dapat kita temuka jaminan dalam:

1. Pasal 28C Ayat (2) UUD 1945

2. UU No. 07 tahun 1984 tentang Ratifikasi Konvensi Penghapusa Sega- la Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan

3. UU No.39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia 4. UU No.26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM 5. UU No.18 tahun 2003 tentang Advokat

6. UU No.13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban 7. UU No.14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik 8. UU No.32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ling-

kungan Hidup

9. UU No.16 tahun 2011 tentang Bantuan Hukum

(51)

B. PENILAIAN RISIKO ATAU ANCAMAN KEAMANAN PARALEGAL

Bagaimana melakukan Penilaian Risiko/Ancaman Keama- nan terhadap Paralegal?

Pekerjaan paralegal dalam hal tertentu dapat membahayakan ke- amanan paralegal itu sendiri. Maka risiko atau ancaman keamanan sudah akan menjadi bagian dari kerja-kerja paralegal. Penilaian risiko atau an- caman keamanan menjadi penting. Bila diurai persoalan risiko sebagai berikut:

Dengan kata lain, pekerjaan yang paralegal lakukan sebagai pem- bela HAM dapat meningkatkan risiko yang dihadapi. Misalkan:

APA yang kita lakukan dapat memicu ancaman.

BAGAIMANA, DI MANA, dan KAPAN paralegal bekerja akan menimbulkan persoalan kerentanan dan kapasitas.

Apa yang dimaksud dengan risiko?

Tidak ada definisi risiko yang bisa diterima secara luas, namun risiko mengacu pada peristiwa-peristiwa (walaupun tidak pasti) yang mengakibatkan KEMALANGAN. Tingkat risiko yang dihadapi para pembela HAM akan meningkat sesuai dengan ancaman yang diterima, dengan kerentanan dan kapasitas terhadap ancaman tersebut. Risiko adalah hasil dari analisa ancaman dikalikan dengan tingkat kerentanan dan dibagi dengan kapasitas seperti yang dirumuskan berikut:

Referensi

Dokumen terkait