5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Batubara
Batubara sudah berdiri sejak tahun 1960 minyak dan gas bumi telah menggantikan batubara sebagai bahan baku kimia sintetis. Namun, demikian mencakup 26% dari total permintaan energi primer setelah minyak. Ada cadangan bahwa, batubara lebih dari dua kali lipat dari jumlah minyak dan gas alam di TPEC kecuali batubara cokelat. Batubara adalah salah satu batuan sedimen yang memiliki ciri-ciri berwarna cokelat tua, mudah terbakar yang dihasilkan ketika tanaman darat dan air menumpuk selama usia geografis yang ditransmisikan oleh panas dan tekanan. Butuh waktu lama untuk membentuk lapisan endapan batubara yang tebal dan lebar tempat tanah [8]. Batubara terdiri dari karbon dengan sedikit hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur dan hal-hal anorganik dibawa oleh air bawah tanah setelah sedimentasi tanaman itu sendiri. Molekul batubara memiliki jenis molekul tinggi yang membentuk cincin aromatik monomer. Hal ini, dapat dikatakan menjadi antrasit atau grafit sesuai dengan tingkat karbonisasi yang terhubung dengan rantai karbon karena manomer membungkus dan molekul rendah. Pembentukan batubara memerlukan kondisi-kondisi tertentu dan hanya terjadi pada era tertentu dan hanya terjadi pada era tertentu sepanjang sejarah geologi [9]. Terdapat dua teori yang menjelaskan proses pembentukan batubara antara lain :
A. Teori In Situ menjelaskan bahwa, bahan pembentukan lapisan batubara, terbentuknya di tempat dimana tumbuh-tumbuhan asal batubara itu berada.
Dengan demikian segera setelah tumbuhan tersebut setelah mati belum mengalami proses transportasi, tertutup oleh lapisan sedimen dan mengalami proses transportasi, tertutup oleh lapisan sedimen dan mengalami proses Coalification. Jenis batubara yang terbentuk dengan cara ini mempunyai penyebaran yang luas dan merata dengan kualitas yang baik karena, abunya relatif kecil.
6
B. Teori Drift adalah teori ini menyebutkan bahwa, bahan-bahan pembentuk lapisan batubara terjadinya di tempat berbeda dengan tempat asalnya. Dengan demikian tumbuhan yang telah mati terbawa oleh arus air dan berakumulasi di suatu tempat. Batubara yang terbentuk menurut teori imi terdapat di Mahakam Purba, Kalimantan Timur [10].
2.2 Coal dan Ash Handling PT. PLN (PERSERO) UIKSBS PLTU UPK Tarahan
PT.PLN (Persero) UIK SBS PLTU UPK Tarahan merupakan pembangkit listrik tenaga uap yang menggunakan bahan bakar batubara, berbahan bakar batubara Medium Rank Cool yang dipasok langsung dari PT Bukit Asam. PT. PLN (Persero) UIKSBS PLTU UPK Tarahan ditunjukkan untuk memenuhi kebutuhan listrik terutama di wilayah Sumatera Bagian Selatan khususnya Provinsi Lampung.
Penyediaan sumber tenaga listrik diharapkan dapat merangsang pertumbuhan ekonomi serta untuk pembangkitan cadangan yang akan memikul kelebihan beban yang timbul dari jaringan interkoneksi sumatera bagian selatan. Kebutuhan batubara untuk membangkitkan dua unit pembangkit ini membutuhkan sekitar 100 ton/jam dengan nilai kalor ± 4900 kkal/kg. Batubara dipasok langsug oleh PT Bukit Asam ke lokasi PLTU melalui Belt Convenyor menggunakan tipe CFB (Circulating Fluidized Bed) pembakaran batubara dilakukan di dalam Furnace dengan temperature 850- 9000 C, dan dikategorikan pembangkit yang ramah terhadap lingkungan. Dengan sistem teknologi pengelolaan udara yang tersedia yaitu Cyclone dan Baghouse Filter dilakukan dengan penambahan kapur (Limestone) untuk menekan kandungan sulfur yang terbakar dari batubara. Kebutuhan air untuk kegiatan operasional dan pendukung uang berasal dari laut dilakukan dengan proses Desalination Plant dan Reverse Osmosis. Pengolahan air untuk kegiatan operasional dilakukan di Water Treatment Plant. Untuk sistem air pendingin yang digunakan yaitu sistem terbuka atau Once Through So Water Coaling System. Sistem pengelolaan limbah cair yanh digunakan yaitu koagulasi, sedimentasi, filtrasi dan netralisasi dan telah melakukan program minimisasi limbah cair dengan proses Recycle menggunakan Reverse Osmosis. Kegiatan pembakaran batubara akan menghasilkan abu batubara, penanganan abu batubara dan sisa pembakaran yaitu dengan penggunaan Bag House
7
Filter yang akan menangkap batubara sehingga tidak menuju ke cerobong. Abu batubara kemudian ditampung di Silo Fly Ash dan dimanfaatkan oleh pabrik semen PT. Semen Baturaja, PT. Cemindo Gemilang, dan PT. Indocement sisa batubara yang tidak termanfaatkan akan ditampung di TPS dan Landfill untuk dilakukan pengelolaan lebih lanjut. CAH Area atau sering dikenal Coal & Ash Handling Area adalah suatu lokasi yang digunakan untuk pembongkaran penimbunan, atau penyimpanan batubara yang akan digunakan sebagai bahan bakar boiler. Pada area Coal Stock Area merupakan penimbunan batubara yang dikirim dari Unloading Area sebelum dilanjutkan ke Power Plant. Coal Stock Area biasanya dilengkapi Stacker Reclaimer, Telescopic, Chute, Under Ground Hopper. Untuk area Coal Stock Area terdapat Coal Bunker. Coal Bunker merupakan tempat penyimpanan akhir batubara yang ditampung di dalam Bunker (silo) sebelum digunakan sebagai bahan bakar PLTU. Pengisian batubara kedalam bunket bisa menggunakan Scrapper Conveyor melalui Sillo Gate. ataupun menggunakan Tripper Car yang bisa digunakan secara otomatis dari Control Room dan lokal. Berbeda halnya dengan Coal Handling System sebagai proses untuk menangani mulai dari pembongkaran batubara dari kapal/tongkang (unloading area) sampai ke area penimbunan/penyimpanan di stock area ataupun langsung pengisian ke bunker (power plant), yang selanjutnya digunakan untuk pembakaran di Boiler. Alat transportasi yang digunakan adalah System Conveyor [11].
Beberapa keuntungan yang bisa diperoleh dengan System Conveyor diantaranya:
1. Menurunkan biaya dan waktu pada saat memindahkan batubara.
2. Meningkatkan efisiensi pemindahan material.
3. Menghemat ruang.
4. Menjaga kualitas lingkungan kerja (bersahabat dengan lingkungan seperti : tidak merokok.
5. berisik dan Menurunkan tingkat polusi udara
8
2.2.1 Prinsip Pengoperasian Pengelolaan Batubara (Coalh & Ash Handling) Adapun prinsip pengoperasiannya antara lain :
1. Melakukan pemeriksaan semua peralatan Coal & Ash Handling yang akan dioperasikan dan yakinkan tidak ada indikasi gangguan (sistem proteksi) yang kerja
2. Melakukan pemeriksaan Hopper dari tumpukkan yangmenempel (ngeblok) dan benda sing agar tidak mengganggu jalannya operasi.
3. Melakukan Pemeriksaan arah Diverter Gate.
4. Melakukan pemeriksaan Magnetic Separator.
5. Melakukan pemeriksaan Tripper dan Kebersihan Screen.
6. Melakukan pemeriksaan Telescopic Chute.
7. Melakukan pemeriksaan Belt Scale.
8. Melakukan pemeriksaan semua Oil Gear Box berada diatas level minimum.
9. Melakukan pemeriksaan dan pastikan bahwa tidak ada orang yang bekerja pada peralatan yang akan dioperasikan.Operasikan Coal & Ash Handling System sesuai prosedur (instruksi kerja) yang ditetapkan berdasarkan pola start/stop yang diinginkan.
10. Start/ Stop automatic dari CHER 11. Start/ Stop manual dari CHER.
12. Start/ stop local dari LCP.
Secara umum pengoperasian Coal Hadling System dapat dibagi menjadi tiga pola yaitu :
A. Stack out area.
B. Bunker Unit.
C. Live storage area via stacker reclaimer.
D. Dari Stock out Area (Underground Hopper) ke : Bunker Out. Dari Live Storage Area via (Stacker Reclaimer) ke Bunker Unit [12].
9
2.2.2 Pekerjaan Sistem Pengoperasian Batubara (CHER) Coal & Ash Handling
Secara garis besar, Coal & Ash Handling di PLTU batubara dapat dikelompokkan menjadi: Proses Unloading Area, Proses Transfer House, dan Proses Reclaming Area. Untuk alur dari proses tersebut dapat dilihat pada bab selanjutnya dapat dilihat antara lain :
1. Pekerjaan Sistem Pengoperasian Batubara Line Unloading
Pada proses Unloading adalah proses pertama masuknya proses pengangkutan batubara dari PT. Bukit Asam Tarahan, tbk. Namun, alat-alat di Unloading Area tidak semua ada di area tersebut sangat terbatas [13].
Berikut ini adalah Proses Unloading dapat dilihat pada gambar 2.1
Gambar 2.1 Proses Line Unloading
Pada proses ini terdapat proses yang dimana ada transfer batubara yang dimulai dari Coal Receiving Hopper (TH 00) hingga sampai ke Coal Silo, Pada proses Unloading menggunakan dua macam metode transfer batubara antara lain sebagai berikut :
1. Dengan menggunakan Pipe Conveyor (S1 PC sampai 56 PC) 2. Dengan menggunakan Belt Conveyor (A1 BC sampai A3 BC)
10
Pada proses ini terdapat langkah-langkah antara lain :
1. Pasokan batubara untuk PLTU Tarahan di Supply dari PT. Bukit Asam 2. Batubara menuju ke TH 00, disini batubara akan mendapat proses Screening
untuk pertama kali. Di TJ 00 ini juga dapat dibagi menggunakan Coal Truck ( untuk keadaan emergency) atau melalui sistem Pipe Conveyor
3. Setelah melewati TH 00 batubara akan ditransfer menuju ke TH 01 melalui S1 PC. Di jalur ini juga terdapat MS (Magnetic Separator) dan MD (Metal Detector). [14].
Untuk proses Unloading Area terdapat peralatan antara lain : a) Pelabuhan atau dermaga/ Jeffy
Pelabuhan atau dermaga Jeffy merupakan tempat yang digunakan oleh kapal tongkang untuk berlabuh dan membongkar batubara. Pembongkara batubara dari tongkang dilakukan secara manual dengan menggunakan Ecavator dan Dump Truck untuk selanjutnya dibawa ke Stock Area. Untuk keperluan kelancaran pembongkaran batubara pelabuhan bisa dilengkapi dengan peralatan antara lain :
a. Fix ataupun Movable Hopper digunakan untuk membongkar batubara dari kapal yang mempunyai sistem bongkar sendiri ( Self Unloading).
b. Ship Unloader digunakan untuk membongkar batubara dari kapal yang tidak mempunyai sistem bongkar sendiri [15].
Berikut ini adalah lokasi Pelabuhan atau Dermaga Jeff dapat dilihat pada gambar 2.2
11
Gambar 2.2 Pelabuhan atau Dermaga Jeff
b) Oil Jeffy
Oil Jeffy merupakan tempat pembongkaran minyak Light Fuel Oil (LFO) dari tongkang yang sudah dilengkapi dengan Facility Discharging Equipment (FDE). Berikut ini adalah alat Oil Jeff dapat dilihat pada gambar 2.3
Gambar 2.3 Oil Jeffy
12
Setelah dilakukan pekerjaan line Unloading lalu, dilakukan proses Transfer House. Transfer House adalah suatu proses pemisahan batubara dari proses Pekerjaan line Unloading menuju ke Reclaming (area pemakaian) . Transfer house sudah menjadi satu ke sistem line unloading [16].
Adapun proses pada Transfer House antara lain : A. Dari TH 03 batubara menuju ke TH 04 melalui S4 PC
B. Dari TH 04 batubara menuju ke TH 05 melalui 55 PC C. Dari TH 05 batubara menuju ke TH 06 melalui 55 PC
D. Di TH 06 ada 2 pembagian jalur pengelolaan batubara. Ada yang menuju ke Coal Silo melalui A1,BC,A2, BC, dan ada yang langsung menuju ke B14/24 PC ( Sistem Reclaming) untuk pengisian ke Bunker melalui D1 dan D3 (Diverter Gate)
E. Proses di TH 06 yang lain adalah proses sirkulasi. Proses ini adalah proses z ketika batubara di Coal Silo dalam Level Low dan pengisian batubara ke Coal Silo tidak dapat dilakukan karena adanya suatu gangguan
F. Dari TH 01 batubara menuju ke TH 02 melalui 52 pc. Pada proses terdapat G. dua jalur yang menyalurkan batubara yaitu B13 /23 BC. Pada jalur B13
/23 BC menuju ke A2 BC yang akan diteruskan ke Coal Silo A dan B sehingga disebut proses sirkulasi [17]. Berikut ini adalah alur proses Transfer House dapat dilihat pada gambar 2.4
Gambar 2.4 Proses Transfer House
13 2. Pekerjaan Reclaming
Proses Reclaming adalah suatu proses transfer batubara yang terakhir setelah dilakukan tahapan Transfer House yang akan digiling dan menjadi bahan bakar boiler untuk menghasilkan listrik. Pada proses Reclaming dimulai alat Coal Silo A dan B hingga menuju ke Bunker unit 3 dan 4 [18]. Adapun langkah-langkah pada proses reclaiming antara lain :
a. Batubara dari Coal Silo A dan B akan ditransferkan menuju ke B11/21 BC dengan bantuan CR (Coal Reclaimer).
b. Coal Reclaimer pada sistem reclaming ada 4 yaitu CR 1-1, CR 1-2 (terletak di Coal Silo A) dan CR 2-1, CR 2-2 (terletak di Coal Silo B).
c. Dari B11/21 BC ini batubara akan menuju ke B12/22 BC.
d. Di B12/12 BC ini terdapat E1 dan E2.
e. Kemudian batubara akan menuju ke B13/23 batubara akan menuju B14/24 BC.
f. Setelah melalui B14/24 PC batubara akan digiling di Crusher, Kemudian batubara ditransfer ke B14/24 BC (A)
g. Proses berikutnya adalah menuju ke B15/25 BE merupakan sarana transfer batubara yang berupa Bucket Elevator.
h. Setelah melewati B15/25 BE batubara akan menuju ke Sistem Case Convenyor yaitu B16/26 CC. Untuk pengisian Bunker 3A, 3B, 3C. Setelah itu menuju ke B17/27 CC dan ditransfer menuju ke B18/28 CC untuk pengisian Bunker 4A,4B,4C [19]. Berikut ini adalah alur proses Reclaming dapat dilihat pada gambar 2.5
Gambar 2.5 Proses Reclaming
Gambar 2.5 Proses Reclaming
14
2.3 Peralatan Pekerjaan Coalh & Ash Handling
Dalam pelaksanaan pekerjaan di area Coal & Ash Handling memiliki alat-alat berat yang mampu digunakan dalam Handling meliputi : operasi dan pemeliharaan Supply bahan bakar dan pengelolaan abu sisa pembakaran. Terdapat tiga proses yaitu : Unloading, Transfer House dan Reclaming yang dimana masing-masing di setiap proses akan menghasilkan bahan bakar boiler. Namun, PT. PLN UPK Tarahan memiliki keterbatasan peralatan pada proses Unloading. Proses tersebut hanya dilakukan oleh PT. Bukit Asam Tarahan, tbk yang menghasilakan batubara.
SCoal &Ash Handling terdapat tiga (3) peralatan antara lain: peralatan utama, pendukung, dan pengaman. Berikut ini adalah daftar peralatan pekerjaan yang digunakan pada pengoperasian batubara pada proses Reclaming dapat diilihat pada tabel 2.1
15
Tabel 2.1 Peralatan Utama Sumber [20]
Peralatan Utama
No Nama Alat Fungsi Gambar
1. Belt Conveyor
Untuk mentramisikan batubara dari Unloading Area (Intake Hopper) sampai Coal Stock Area atau Coal Bunker. Bagian dari Belt Conveyor yaitu :
1. Belt Conveyor untuk membawa material dan meneruskan gaya 2. Motor sebagai penggerak utama
dari Belt Conveyor. Dalam pengoperasiannya dihubungkan dengan Gearbox dan Fluid Coupling
3. Thrust Brake digunakan sebagai pencegah terjadinya putaran balik pada saat stop. Tapi dalam Bucket Elevator yang digunakan setelah Back Stop
4. Chute Vibrator digunakan sebagai penggetar pada hopper untuk mencegah terjadinya penebalan.
5. Idler terdiri dari :
a) Carring Idler digunakan untuk menjaga Belt pada bagian yang berbeban atau sebagai Roll penunjang ban bermuatan material. Posisi dari Carrying
16
Idler berada di atas Conveylor Table. Komposisinya terdiri dari 3 buah roll penggerak berbentuk V
b) Impact Idler dengan posisinya dibawah Chute. Pada bagian luarnya dilapisi dengan karet dan jarak antara satu sama lain lebih rapat dari Carrying Idler yang digunakan untuk menahan Belt agar tidak sobek akibat batubara yang jatuh dari atas
c) Return Idler digunakan untuk menyangga Belt dengan arah putar balik
d) Steering Idler digunakan untuk menjaga kelurusan Belt agar tidak Jogging ( bergerak ke kiri atau kanan)
6. Pulley terdiri dari :
a) Drive Pulley, untuk memutar Belt menuju ke depan
b) Take up Pulley untuk menjaga ketegangan Belt
c) Brand Pulley yang digunakan untuk membungkukan atau membelokkan ke arah Belt d) Head Pulley berada pada
ujung dengan Conveyor. Tidak
17
semua Head Pulley tidak dapat dihubungkan dengan Drive Pulley
e) Tail Pulley yang digunakan untuk memutar kembali Belt Conveyor menuju ke arah Drive Pulley
7. Counter Weight digunakan untuk memberi atau menjaga ketegangan Belt
8. Cleaning Device digunakan untuk membersihkan Belt dari material yang menempel di Belt.
Beberapa tipe dari alat ini antara lain :
a) Belt Scrapper digunakan untuk membersihkan Belt sisi kembali
b) Rubber Skirt digunakan untuk mencegah terjadinya
tumpahan material pada saat isi pengisian
c) Plough Scrapper digunakan untuk membersihkan material yang tertumpah pada arah balik Belt
d) Spiral Ruber
18
e) Washing Type Cleaner
f) Nylon Brush Cleaner
g) Washing Belt With Nylon Brush
2. Belt Feeder dan Apron Feeder
Belt Feeder dan Apron Feeder digunakan untuk mengalirkan batubara yang berasal dari suatu Hopper ke Belt Conveyor melalui Chute untuk dikirim ke tempat yang dikehendaki
3. Stacker Stacker digunakan untuk penimbunan (Stacking), pengerukan (Reclaming) batubara di stock area. Bucket Wheel yang ditempatkan pada ujung/ akhir dari Slewing dan Lutfing Boom yang terpasang pada suatu Revesible Boom Conveyor. Komponen tersebut diatas dimuatkan pada suatu Mobile Gantry bergerak sepanjang jalur rel yang dipasang di area penimbunan.
Batubara yang dikeruk kemudian, diserahkan ke Belt Conveyor untuk
19
dilakukan proses Conveying berikutnya menuju Power Plant 4. Ship Unloader Ship Unloader digunakan untuk
pembongkaran batubara dari kapal yang tidak mempunyai perangkat sendiri ( Non Self Unloading)
5. Telesopic Chute
Telesopic Chute digunakan untuk pembongkaran batubara dalam keadaan darurat
6. Junction House
Junction House digunakan untuk pengaturan arah aliran tersebut dilakukan di suatu bangunan yang memuat alat pemindah arah aliran yang pengendaliannya dapat dikendalikan dari Control Room Col Handling ( CHCR)
Hopper Conveyor Kapal
Juction House
Conveyor sistem
7. Shuttle/ Feed Adjuster
Shuttle atau Feed Adjuster adalah alat yang berbentuk Hopper Chute yang bisa dipindahkan dari dua posisi pilihan untuk diteruskan ke Conveyor yang berada di Outlet Chute sesuai dengan kebutuhan operasional
8. Crusher Crusher digunakan untuk merancang batubara yang melewati peralatan tersebut hingga mencapai ukuran 0,95 mm
20
9. Hopper Hopper digunakan untuk menampung batubara dengan kuantitas relatif banyak sebelum diarahkan ke Conveyor
10. Isolating Shuttle atau Driver Gate
Isolating Shuttle atau Driver Gate adalah suatu alat untuk memindahkan aliran batubara dari arah yang satu ke yang lain
11. Tripper (TR) dan Scraper Conveyor
Tripper (TR) adalah suatu peralatan yang digunakan untuk mengarahkan curahan batubara dari Plant Ditribute Hopper ke Bunker melalui Belt Conveyo. Scraper Conveyor yang digunakan untuk memasukkan batubara ke dalam Bunker melalui Sillo Gate yang bisa dibuka secara otomatis dari Control Room dan juga secara local dengan sistem rantai ( T- Plate)
Sumber : Survey Awal, 2021] [20]
21
Tabel 2.2 Peralatan Pendukung Peralatan Pendukung
No Nama Alat Fungsi Gambar
1. Magnetic Separator
Magnetic Separator digunakan untuk memisahkan logam besi dari batubara
2. Dust
Suspression
Dust Suspression digunakan untuk menyemprot batubara yang baru dibongkar dari kapal atau dikeruk dari Reclaimer untuk mengurangi debu yang berterbangan supaya tidak menimbulkan kerugian
3. Coal Bunker Sebagai tempat penampungan batunara terakhir sebelum yang akan digunakan unuk pembakran di boiler
Sumber : Survey Awal, 2021[21]
22
Tabel 2.3 Peralatan Pengaman Peralatan Pengaman
No Nama Alat Fungsi Gambar
1. Pull Cord Pull Cord
Untuk membersihkan
Belt Conveyorible teeder dengan cara menarik taliyang dipasang sepanjang Belt sisi kiri dan kanan apabila ada gangguan atau kelainan peralatan di Local
2. Belt Sway Belt Sway digunakan untuk membersihkan
Belt Conveyoribelt Heeder apabila terjadi Unbalance/
Jogging ( Belt bergerak ke kiri atau kanan pada posisi tengah) 3. Plugged Chute Plugged Chute digunakan
untuk
membersihkan Conveyor secara otomatis yang ada di belakang di sisi inlet Plugged Chute apabila terjadi penumpukkan Dioutlet Chute ( Hopper)
23 4. Belt Speed
Switch
Belt Speed Switch digunakan untuk memberhentikan motor apabila peralatan Conveyor tidak normal (Slip Over Load) biasanya alat ini dipasang di Bund Pulley
5. Push Button Emergency Stop Local Box
Push Button Emergency Stop Local Box sebagai tombol untuk memberhentikan jika ada gangguan atau kelainan di lokal. Stop Local Box dipakai juga saat pemeliharaan
atau perbaikan
6. Transioning Unit Control Switches
Transioning Unit Control Switches sebagai sistem untuk mengontrol apabila terjadi Belt Putus
7. Anti Runk Back
Mechanical Back Stop)
Anti Runk Back Mechanical Back Stop adalah pengaman Conveyor dengan sistem mekanik berguna untuk menahan agar tidak terjadi putaran balik pada saat stop atau Belt Conveyor Trip
Sumber : Survey Awal, 2021[22]
Emergency LPS
24
2.4 Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan suatu upaya dari perusahaan berupa tanggung jawab sosial kepada para pekerja (karyawan) serta upaya agar kegiatan produksi sebuah perusahaan tetap terjamin keberlangsungannya dan usaha untuk meningkatkan produktivitas kerja karyawan). Istilah Keselamatan dan Kesehatan Kerja dapat dijelaskan bahwam suatu pendekatan ilmiah (scientific approunch) dan di sisi lain memiliki pengertian sebagai suatu terapan yang memiliki tujuan tertentu [23]. Ditinjau dari sudut keilmuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah ilmu yang diterapkan untuk mencegah atau meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja atau penyakit yang didapatkan dari kegiatan bekerja ataupun tempat kerja [24].
2.4.1 Tujuan dan Manfaat K3
Bahwa aspek K3 bersifat multi dimensi sehingga tujuan dan manfaat K3 dapat dilihat dari berbagai sisi seperti: hukum, perlindungan tenaga kerja, ekonomi, pengendalian, kerugian dan sebagainya [25]. Berikut ini beberapa tujuan dan manfaat K3 dapat ditinjau dari berbagai sisi tersebut antara lain :
a) Aspek hukum
Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah suatu ketentuan perundang- undangan yang mempunyai landasan hukum yang harus dipatuhi oleh seluruh pihak baik pekerja, pengusaha maupun pihak terkait lainnya.
b) Perlindungan tenaga kerja
Perlindungan tenaga kerja yang dimaksud yang dimana menyangkut berbagai aspek seperti : jaminan sosial, jam kerja, upah minimum, hak berserikat, serta perlindungan keselamatannya.
c) Aspek ekonomi
Kecelakaan dapat menimbulkan dampak merugikan secara ekonomi yang sangat besar bagi perusahaan, oleh karena itu, tujuan dan manfaat K3 juga berkaitan dengan aspek ekonomi. Dampak ekonomi dari adanya penerapan K3 adalah dapat dilihat dari sisi produktivitas dan pengendalian kerugian
25 2.4.2 Prinsip K3
Terdapat sepuluh (10) aksioma yang berkenan dengan filosofi K3 terkait kecelakaan kerja yaitu :
1. Bahwa kecelakaan merupakan rangkaian akibat kecelakaan kerja.
2. Bahwa sebagian besar kecelakaan disebabakan faktor manusia dan tindakan yang tidak aman berdasarkan penyelidikan dapat mencapai 85% dari tindakan seluruh kecelakaan.
3. Bahwa kondisi tidak aman dapat membahayakan dan menimbulkan kecelakaan
4. Bahwa tindakan tidak aman dari seseorang dipengaruhi oleh tingkah laku, kondisi fisik, pengetahuan, keahlian, dan kondisi lingkungan kerjanya 5. Oleh karena itu, upaya pencegahan kecelakaan harus mencakup berbagai
usaha diantaranya dengan melakukan perbaikan teknis, tindakan persuasif penyesuaian individu dengan pekerjaannya serta melakukan penegakan disiplin.
6. Keparahaan suaatu kecelakaan tidak aman antara satu dengan lainnya.
7. Program pencegahan kecelakaan harus sejalan dengan program lainnya dalam suatu organisasi.
8. Pencegahan kecelakaan atau program kecelakaan dalam organisasi tidak akan berhasil tanpa dukungan dan peran serta manajemen puncak [26].
2.4.3 Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja (PAK)
Kecelakaan kerja Penerapan SMK3 (Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja) merupakan tindakan yang dilakukan dalam rangka mencegah adanya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK) terutama yang dapat dialami oleh pekerja di area kerja [27]. Adapun berbagai jenis kecelakaan kerja diantaranya :
1. Jatuh
Orang dapat jatuh karena jalan yang menuju dan dari tempat kerja tidak baik atau tempat kerjanya sendiri yang tidak aman, Terdapat 5 kelompok pekerjaan yang berisiko tinggi dimana jatuh merupakan akibat paling utama
26
yaitu pekerjaan atap, pekerjaan pemasangan kontruksi baja, pekerjaan pemasangan rangka, pengecoran beton, dan pekerjaan pembongkaran.
2. Benda- benda jatuh dan roboh
Orang dapat dijatuhi benda yang ditengah diangkat, benda terguling atau yang terlepas dari posisinya semula. Selain itu, kejatuhan benda dapat berupa tertimbun bahan – bahan saat penggalian, robohnya bangunan atau kerangka, perancah roboh akibat pengecangan ikatan yang salah atau beban berlebihan dan sebagainya.
3. Kecelakaan yang ditimbulkan akibat listrik
Orang dapat mengalami shock listrik dan terbakar jika menggunakan peralatan yang tidak aman dan bila tersentuh pada kabel-kabel listrik diatas kepala atau yang ditanam.
4. Alat kendaraan berat yang bergerak
Orang yang melintas di area pekerjaan dapat cidera bahkan meninggal disebabkan oleh kendaraan yang bergerak, teruatama saat kendaraan tersebut bergerak. Disamping kecelakaan kerja, potensi bahaya lainnya yang dapat ditimbulkan di proyek kontruksi adalah Penyakit Akibat Kerja (PAK). PAK adalah penyakit atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh pekerjaan di dapatkan ketika melakukan pekerjaan dan masyarakat umum biasanya tidak terkena PAK diantaranya: akibat paparan debu yang dapat menyebabkan penyakit yang dikenal dengan nama pneukomanis.
Penyakit ini adalah jenis penyakit yang disebabkan oleh penimbunan debu dalam paru-paru termasuk penyakit yang sering timbul di dalam kegiatan pertambangan, kontruksi, dan sebagainya, penyakit kulit akibat kerja yang ditimbulkan oleh benda-benda, bahan, atau lingkungan kerja. Penyakit ini adalah 50-60-% dari seluruh kasus PAK. Faktor penyebab penyakit kulit diantaranya faktor fisik dan mekanik meliputi : panas, dingin, lembab, sinar matahari, tekanan, gesekan, dan trauma serta faktor mikrobiologi meliputi : bakteri, virus, jamur, cacing, serangga dan kulit, Penyakit akibat paparan uang logam. Jenis penyakit khusus yang ditimbulkan akibat menghirup partikel-partikel yang sangat halus dari logam adalah demam uap logam.
27
Sedemikian halusnya partikel-partikel ini sehingga, bersifat menyerupai gas dan bekerja pada permukaan alveoli yang mempengaruhi jaringan paru- paru.
2.5. Pengertian Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur,proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian, pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan produktif [28]. Instansi atau perusahaan wajib memberlakukan SMK3 (Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. yaitu :
1. Keselamatan dan Kesehatan Kerja belum mendapatkan perhatian yang memadai dari semua pihak
2. Masalah K3 belum menjadi prioritas programBelum ada yang mengangkut masalah K3 menjadi masalah nasional secara baik politis maupun sosial.
Sedangkan sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) merupakan bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan dalam rangka pengendalian risiko yang berikaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan produktif.
Menurut Peraturan Pemerintah tersebut, penerapan SMK3 bertujuan untuk : 1. Meningkatkan efektivitas perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja 2. yang terencana, terukur, dan terintegrasi
3. Mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dengan melibatkan unsur manajemen, pekerja atau buruh dan atau serikat buruh
28 2.6. Pengertian Bahaya Dan Sumber Bahaya
Potensi bahaya adalah perilaku yang berpotensi terkena pelepasan energi yang tidak terencana atau kontak dengan sumber energi yang tidak diinginkan dapat menyebabkan cidera atau kerusakan pada manusia, peralatan fasilitas dan lingku ngan. Bahaya adalah suatu keadaan yang memungkinkan atau berpotensi terhadap terjadinya kecelakaan berupa cedera, penyakit, kematian, kerusakan atau kemampuan dalam melaksanakan fungsi operasional yang telah di tetapkan.
Bahaya pekerjaan adalah faktor-faktor dalam hubungan pekerjaan yang dapat mendatangkan kecelakaan [29]. Bahaya tersebut disebut potensial, jika faktor- faktor tersebut belum mendatangkan kecelakaan. Terdapat sumber bahaya antara lain sebagai berikut:
a) Bangunan, peralatan, dan instalasi
Bahaya dari bangunan, peralatan, dan instalasi perlu mendapat perhatian.
Kontruksi bangunan harus kokoh dan memenuhi syarat. Seperti : Desain ruangan dan tempat kerja harus menjamin keselamtan dan kesehatan tenaga kerja, pencahayaan dan ventilasi harus baik, tersedia penerangan darurat yang diperlukan. Maka, instalasi harus memenuhi persyaratan keselamatan kerja baik dalam desain maupun kontruksi sebelum penggunaan harus di uji terlebih dahulu serta diperiksa oleh suatu tim ahli. Kalau diperlukan, modifkasi harus sesuai dengan persyaratan bahan dan kontruksi yang ditentukan. Sebelum operasi harus dilakukan percobaan operasi untuk menjamin keselamatannya serta dioperasikan oleh operator yang memenuhi syarat. Bahaya dari bahan meliputi berbagai risiko sesuai dengan sifat bahan antara lain: Mudah terbakar, meledak. menimbulkan alergi atau iritasi, bersifat racun radioaktif. Setiap bahan kimia berbahaya harus dilengkapi dengan Lembar Data Keselamatan Kerja ( LDKB) atau Material Safety Data Sheet (MSDS). LDKB ini dapat diminta kepada pemasok dengan memasukkannya dalam kontrak pembelian bahan.
b) Bahaya berasal dari bahan
Bahaya dari bahan ini meliputi berbagai risiko sesuai dengan sifat bahannya antara lain: mudah terbakar, mudah meledak, menimbulkan kerusakan pada
29
kulit dan jaringan tubuh, menyebabkan kanker, mengakibatkan kelainan pada janin., bersifat racun dan radioaktif. Selain, resiko bahayanya yang berbeda juga intensitas atau tingkatnya sangat tinggi dan ada yg rendah misalnya, dalam hal beracun ada yang sangat beracun yang dapat menimbulkan kematian dalam kadar yang rendah dan dalam tempo yang singkat dan ada pula yang kurang berbahaya. Disamping itu, pengaruhnya ada yang segera dapat dilihat atau akut tetapi, ada juga yang pengaruhnya baru kita ketahui setelah bertahun yang bisa disebut kronis. Setiap bahan kimia berbahaya harus dilengkapi dengan lembar data kimia atau MSDS. Lembar data kimia ini dapat diminta kepada pemasok dengan memasukkannya dalam kontrak pembelian bahan atau juga dapat diakses di database MSDS seperti Chamwatch.
c) Bahaya yang berasal dari proses
Bahaya yang berasal dari proses yang sangat bervariasi tergantung teknologi yang digunakan. Proses yang digunakan di industri ada yang sederhana tetapi, proses yang rumit ada yang sederhana tetapi proses yang rumit ada proses yang berbahaya dan ada pula proses yang kurang berbahaya. Industri kimia biasanya menggunakan proses yang memperbesar resiko bahayanya dari proses ini kadang- kadang timbul asap, debu, bising, pedas, bahaya mekanis. Dalam proses banyaknya bahan kimia yang digunakan sebagai bahan baku dan bahan penolong. Skala industri kimia cenderung semakin besar untuk meningkatkan efisiensi dan mengendalikan biaya. Namun, hal ini juga berakibat kemungkinan timbulnya bencana bila terjadi kegagalan operasi normal [30].
2.7 Pengertian Risiko dan Manajemen Risiko
Risiko adalah kombinasi dari kemungkinan terjadinya berbahaya atau paparan dengan keparahan dari cidera atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kejadian atau paparan tersebut, sedangkan manajemen risiko adalah suatu proses untuk mengelola risiko yang ada di setiap kegiatan. Ada berbagai macam definisi mengenai risiko menjelaskan bahwa risiko sebagai faktor yang memberikan pengaruh buruk dan harus ditangani untuk tercapainya penyelesaian pekerjaan yang dibatasi oleh waktu, biaya, kualitas [31]. Risiko juga dapat diartikan sebagai kerugian akibat dari munculnya suatu kejadian yang tidak diharapkan. Kejadian
30
yang tidak diharapkan ini bisa muncul dari berbagai sumber. risiko adalah variasi hal yang mungkin terjadi secara alami atau kemungkinan terjadinya peristiwa di luar hal yang diharapkan yang mengancam kemungkinan Property atau keuntungan finansial akibat bahaya yang terjadi . Ada tiga definisi risiko yakni : Risk is the Chance of Loss (risiko adalah peluang terjadinya kerugian), Risk in the Possibility (isiko kemungkinan kerugian), Risk is Uncertainty (risiko ketidakpastian )[32].
Manajemen Risiko sebagai Manajemen risiko K3 adalah suatu upaya mengelola risiko untuk mencegah kecelakaan yang tidak diinginkan secara komprehensif, terencana, dan tersruktur dalam suatu kesisteman yang baik. Tujuan manajemen risiko antara lain : membantu minimalisasi meluasnya efek yang tidak dinginkan terjadi, memaksimalkan pencapaian tujuan organisasi dengan menimbulkan kerugian, menciptakan manajemen yang bersifat proaktif bukan reaktif [33]. Untuk itu, risiko harus didefinisikan dalam bentuk suatu rencana atau prosedur yang reaktif. Manajemen risiko termasuk tahapan pekerjaan yang berhubungan dengan risiko diantaranya yaitu : penilaian (Assesment), perencanaan (Planning), pengendalian (Handling) dan pemantauan (Monitoring) [34].
Manajemen risiko sangat penting sebagai alat untuk melindungi perusahaan dari setiap kemungkinan yang merugikan. Dengan adanya manajemen risiko dapat memperoleh berbagai manfaat antara lain :
a. Menjamin kelangsungan usaha dengan mengurangi risiko dari setiap kegiatan yang mengandung bahaya.
b. Memenuhi persyaratan perundangan yang berlaku.
c. Meningkatkan pemahaman dan kesadaran mengenai risiko operasi bagi setiap unsur dalam organisasi atau perusahaan.
d. Menimbulkan rasa aman di kalangan pemegang saham mengenai kelangsungan dan keamanan investasinya.
31 2.8. Pengertian HIRADC
HIRADC atau kepanjangan dari (Hazard Identification Risk Assement And Determining Control) adalah serangkaian proses untuk metode yang secara umum dan biasa digunakan untuk mencegah dan meminimalisir kecelakaan kerja yang mungkin terjadi [35]. Metode HIRADC memiliki beberapa tahapan seperti : mengidentifikasi potensi bahaya yang mungkin terjadi, penilaian risiko, dan pengendalian risiko. HIRADC memiliki prinsip untuk mengurangi kecelakaan dengan Hazard Identification atau dengan mengidentifikasi sumber bahaya yang ada di tempat kerja, menilai tingkat risiko timbulnya kecelakaan kerja atau PAK dari sumber bahaya, melakukan Risk Control terhadap tingkat risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK) HIRADC (Hazard Identification Risk Assement And Control Determining Control) atau biasa dikenal dengan HIRADC sebagai salah satu standar OHSAS 18001: 2007 Clause 4.3.1
Di Indonesia biasa juga disebut dengan Risk Assesment atau identifikasi faktor bahaya dan aspek K3L. Di klausa tersebut menyebutkan bahwa organisasi harus menetapkan, membuat, menerapkan, dan memelihara prosedur aspek K3 [36].
Teknik HIRADC adalah suatu metode untuk mengidentifikasi bahaya, pemeringkatan risiko dan menentukan pengendalian risiko. Teknik HIRARDC menerangkan item yang harus masuk di dalam penerapan OHSAS. Untuk itu, harus ditetapkan dan dipelihara prosedurnya. Sumber bahaya yang teridentifikasi harus dinilai untuk menentukan tingkat risiko yang merupakan tolak ukur kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Rincian langkah umum yang bisanya dilaksankan untuk melakukan identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan menentukan pengendaliannya [37]. antara lain :
a. Menentukan personil penilai
Penilai srisiko dapat berasal dari inter perusahaan atau dibantu oleh petugas lain di luar perusahaan yang berkompeten baik dalam pengetahuan, kewenangan maupun kemampuan lainnya yang berkaitan. Tergantung dari kebutuhan pada tempat kerja yang luas, personil dapat berupa suatu tim yang terdiri dari beberapa orang.
b. Menentukan obyek atau bagian yang akan di nilai
32
Objek atau bagian yang akan dinilai dapat dibedakan menurut bagian atau departemen, jenis pekerjaan, proses produksi dan sebagainya.
c. Kunjungan inspeksi tempat kerja
Kegiatan ini dapat dimulai melalui suatu “Walk Through Survey Inspection” yang bersifat umum sampai kepada inspeksi yang lebih detail.
Dalam kegiatan ini prinsip utamanya adalah melihat, mendengar, dan mencatat semua keadaan di tempat kerja baik mengenai bagian kegiatan, proses, bahan, jumlah pekerja dan lain-lain. Masalah yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah menentukan risiko apa saja yang terjadi dalam pelaksanaan pekerjaan di area Coal & Ash Handling sesuai prioritas dan telah diberi kategori berdasarkan indeks risiko menurut Consequence (dampak dari masalah tersebut) dan Likehood (kemungkinan terjadi), sehingga tidak semua masalah akan dianalisis dengan HIRADC [38].
Ranting Consequence dan Likehood dinilai dari angka 1 sampai 1-5. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.4
Tabel 2.4 Deskripsi Angka Consequence dan Likehood.
No Angka Consequence Likehood
1. 1 Slight Unlkely
2. 2 Moderate Possible
3. 3 Substantial Occasional
4. 4 Severe Steady
5. 5 Catastropic Certain
Sumber : Australia/New Zealand Standard. 2004. Australia, Standard/ New Zealand Standar 4360 : 2004. “Risk Management”
[39]
33 2.8.1 Identifikasi Bahaya
Identifikasi bahaya merupakan tahapan yang dapat memberikan informasi mengenai risiko yang ditemukan dengan menjelaskan konsekuensi dari yang paling ringan sampai dengan yang paling berat. Pada tahap ini harus dapat mengidentifikasi hazard yang timbul dari semua kegiatan yang berpotensi membahayakan keselamatan dan kesehatan terhadap karyawan, orang lain yang berada di tempat kerja, dan tamu atau masyarakat sekitarnya [40]. Pertimbangan yang perlu diambil dalam identifikasi risiko antara lain : kerugian harta benda (Property Loss), kerugian masyarakat, kerugian lingkungan. Identifikasi bahaya merupakan landasan dari program pencegahan kecelakaan atau pengendalian risiko [41].Tanpa mengenal bahaya maka, risiko tidak dapat ditentukan sehingga upaya pencegahan dan pengendalian risiko tidak dapat dijalankan. Identifikasi risiko dapat terjadi dengan melalui tahapan sebagai berikut :
1. Mengurangi peluang kecelakaan kerja
2. Identifikasi bahaya dapat mengurangi peluang terjadinya kecelakaan karena, identifiaksi bahaya yang berkaitan dengan faktor kecelakaan 3. Untuk memberikan pemahaman bagi semua pihak mengenai potensi bahaya
dari aktivitas perusahaan sehingga dapat meningkatkan kewaspadaan dalam menjalankan operasi perusahaan
4. Sebagai landasan sekaligus masukan untuk menentukan strategi pencegahan dan pengamatan yang tepat dan efektif. Dengan mengenal bahaya yang ada manajemen dapat menentukan skala prioritas penangannya sesuai dengan tingkat risiko sehingga diterapkan hasilnya lebih efektif.
2.8.2 Penilaian Risiko
Setelah semua risiko dapat terindentifikasi dilakukan penilaian risiko melalui analisis dan evaluasi risiko. Analisis risiko dimaksudkan untuk menentukan besarnya suatu risiko dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya dan besar akibat yang ditimbulkannya [42]. Berdasarkan hasil analisis dapat ditentukan peringkat risiko sehingga, dapat dilakukan pemilahan risiko yang memiliki dampak besar terhadap perusahaan dan risiko yang ringan atau dapat diabaikan. Penilaian risiko bertujuan untuk mengidentifikasi nilai potensi
34
risiko. kecelakaan kerja [43]. Terdapat lima langkah penilaian risiko secara sistematis adalah sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi dan mencari potensi bahaya yang terdapat di tempat kerja 2. Menetapkan akibat yang ditimbulkan oleh potensi bahaya tersebut dan
bagaimana kemungkinan terjadinya
3. Melakukan evaluasi terhadap risiko dan menetapkan apakah persyaratan pencegahan yang ada sudah layak atau masih diperlukan tambahan persayaratan pengendalian lain.
4. Mencatat semua temuan
5. Mengkaji hasil penilaian dan melakukan revisi apabila diperlukan.
Elemen dalam penilaian risiko terdapat pada keparahan atau tingkat kemungkinan yang ditimbulkan dari suatu potensi bahaya yang sudah dievaluasi sebelumnya, dapat diperkirakan dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
1. Sifat dari kondisi dan situasi apa yang akan dilindungi terdiri dari manusia, aset ( mesin, pesawat, bangunan, dan lain-lain), lingkungan.
2. Pengaruhnya terhadap kesehatan manusia seperti : berat, ringan, meninggal 3. Luasnya kemungkinan bahaya ditimbulkan satu orang dan beberapa orang.
Terdapat tipe analisa penilaian risiko antara lain : a) Kualitatif
Metode ini menganalisa dan menilai suatu risiko dengan cara membandingkan terhadap suatu diskripsi atau uraian dari parameter (peluang dan akibat) yang digunakan. Penilaian risiko kualitatif memiliki nila dimulai dari High Risk (risiko tinggi), Significant Risk (risiko yang diidnetifikasi tinggi dapat ditetapkan untuk bertindak), Moderate Risk (risiko terlihat prioritas tinggi, tetapkan target waktu untuk bertindak), Low Risk (bila risiko rendah, dilakukan pengendaliannya [44]. Pada penilaian risiko kualitatif memang lebih mengutamakan deskripsi dari suatu pekerjaan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.6
35
Tabel 2.5. Penilaian Risiko Kualitatif.
Consequence
Likehood
Insignifican t
Minor Moderate Major Catastrop hic
Almost Certain
(A) S S M H H
Likely (B) M S S H H
Moderate € L M S H H
Unlikely (D) L L M S H
Rare € L L M S S
Sumber : [International Labour Organization, Jakarta, 2014] [45]
Pada penilaian kualitatif terdiri dari High Risk, Significant Risk, Moderate Risk, Low Risk untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.5
Keterangan Penilaian Risiko Kualitatif
H High Risk Hentikan pekerjaan hingga dilakukan perbaikan yang memadai. Segera terapkan rencana pengendaliannya
S Significant Risk Masih prioritas tinggi, tetapkan target waktu untuk bertindak
M Moderate Rrisk Masih prioritas tinggi, tetapkan targert waktu untuk bertindak
L Low Risk Tetapkan Budget untuk upaya pengendalian, tanggung jawab management harus ditetapkan
36 b) Semi kuantitatif
Metode ini pada prinsipnya hampir sama dengan analisa kualitatif perbedaannya pada metode ini uraian atau deskripsi dari parameter yang ada dinyatakan dengan nilai atau skor tertentu [46].
c) Kuantitatif
Analisis kuantitatif lebih akurat dibandingkan dengan analisis ka Metode ini dilakukan dengan menentukan nilai dari masing-masing parameter yang di dapat dari hasil analisa data-data yang Representative. Metode kuantitatif berdasarkan statistika objektif melalui perhitungan ilmiah yang berasal dari sampel orang yang diminta menjawab sejumlah pertanyaan tentang survei untuk menentukan frekuensi dan persentase tanggapan mereka. Namun, dalam penilaian risiko kuantitatif adalah penilaian yang memiliki data yang lengkap atau memiliki bank data dari dampak dan kemungkinan terjadinya risiko [47]. Beberapa data yang harus ada sebagai berikut :
a) Identifikasi nilai asset b) Data frekuensi kejadian
c) Perhitungan Annual loss Exposure
Hasil analisis risiko dievaluasi dan dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan atau standard dan norma yang berlaku untuk menentukan apakah risiko tersebut dapat terjadi.
a) Kemungkinan ( Likelihood) Nilai 1 = Sangat jarang Nilai 2 = Jarang
Nilai 3 = Kadang-kadang Nilai 4 = Sering
Nilai 5 = Sangat sering
37 b) Akibat atau keparahan ( Consequence)
Nilai 1 = Sangat rendah Nilai 2 = Rendah Nilai 3 = Sering Nilai 4 = Tinggi
Nilai 5 = Sangat tinggi
Pada penilaian kemungkinan, didefinisikan sebagai kemungkinaan itu sesuatu terjadi. Kemungkinan dapat dilakukan dengan secara kuantitatif umumnya menggunakan angka nilai 0 dan 1 sesuai dengan level harus didefinisikan secara tepat untuk menghindari interpretasi subjektif. Dimana, kemungkinan ini dipilih berdasarkan kemungkinannya. Secara umum, dapat dipresentasikan konsekuensi dari skenario dengan satu set Ci = (( c il, …, c in)). Dapat ditentukan nilai keparahan, atau biaya, dan kemungkinan.
Dibawah ini adalah alur yang menggambarkan kemungkinan dari skenario dan konsekuensi dapat dilihat pada gambar 2.6.
Skenario Konsekue
nsi 1
Konsekue nsi 2
Gambar 2.6 Skenario dan Konsekuensi
38
Probabilitas dapat ditentukan untuk setiap konsekuensi ini. Prinsip umum yang digunakan untuk mengukur risiko berdasarkan evaluasi kemungkinan dan tingkat keparahan kerusakan dapat diterapkan pada semua jenis risiko.
Secara umum, kemungkinan konsekuensi skenario dapat dievaluasi dengan nilai simbolis yang diambil dari sekumpulan nilai linguistik yang terbatas seperti : sangat tidak mungkin, mungkin, tidak mungkin, mungkin, umum atau dari satu set nilai integrer (1,2,.. N). Pada penelitian ini menggunakan pendekatan subjektif dengan mempertimbangkan kemungkinan suatu ukuran subjektif dari tingkat keyakinan akan kemungkinan dari kejadian tersebut. Maka, dapat dilihat sebagai nilai yang mewakili agar dapat dianalisis. dengan mempertimbangkan kemungkinan suatu peristiwa sebagai ukuran subjektif dari tingkat lima kriteria yang didapatkan : Almost Certain atau hampir pasti, Likely (mungkin terjadi), Moderate (sedang), Unlikely (kecil kemungkinannya), Rare (jarang sekali). Penilaian kemungkinan [48]. Dibawah ini ini adalah tabel matriks penilaian risiko yang terdiri dari kemungkinan, dan akibat.
39
Tabel 2.6 Kemungkinan Risiko
TINGKATAN KRITERIA PENJELASAN
1
Almost Certain/ hampir
pasti
Suatu kejadian pasti akan terjadi pada semua kondisi atau setiap kegiatan yang dilakukan
2 Likely/
mungkin terjadi
Suatu kejadian mungkin terjadi pada hampir semua kondisi
3 Moderate/
sedang
Suatu kejadian akan terjadi pada beberapa kondisi tertentu 4 Unlikely/ kecil
kemungkinannya
Suatu kejadian mungkin terjadi pada beberapa kondisi tertentu.
Namun, kecil
kumgkinan terjadinya
5 Rare/jarang
sekali
Suatu kejadian mungkin dapat terjadi pada semua kondisi ynng khusus atau luar biasa setelah bertahun-tahun
Sumber : Australia/New Zealand Standard. 2004. Australia, Standard/
New Zealand Standar 4360 : 2004. “Risk Management” [49]
Pada tabel akibat dapat ditentukan apakah ada cidera, bila terjadi cidera dapat dientukan perawatan secara P3K, perawatan medis, hilangnya bagian anggota tubuh, kecacatan mental, dan kematian. Tabel akibat dapat ditentukan dengan nilai ranting skor nilai 1-5. Berikut ini tabel pemaparan dari akibat potensi bahaya dapat dilihat pada tabel 2.7 akibat risiko.
40
Tabel 2.7 Akibat Risiko
TINGKATAN KRITERIA PENJELASAN
1 Insignificant/ tidak signifikan
Tidak ada cidera, kerugian, materi sangat kecil
2 Minor/ rendah Memerlukan perawatann P3K, kerugian material sedang
3 Moderate/ sedang Memerlukan perawatan medis dan mengakibat- Kan
4 Major/tinggi Cidera yang yang
mengakibatkan cacat atau hilangnya fungsi tubuh secara total tidak berjalannya proses produksi dan kerugian
yang besar
5 Catastrhophe/ bencana Menyebabkan kerugian kematian yang
sangat besar
Sumber : Australia/ Standard. 2004. Australia, Standard/ New Zealand Standar 4360 : 2004. “Risk Management [50].
Pada tabel tingkat konsekuensi, dapat ditentukan nilai dari tingkat 1-5 terdiri dari kondisi tinggi, sedang, dan rendah. Saat dilakukan penentuan nilai dimulai dari nilai 1 maka akan ditambah 1 (1+1), 3 (3+3), 4(4+4) begitupun sebaliknya.
Dari hasil penjumlahan berdasarkan tabel maka. dapat diketahui nilai dari masing-masing Hazard ( bahaya) dari setiap proses pengoperasian batubara.
Berikut ini adalah pemaparan dari tingkat konsekuensi dari potensi bahaya dapat dilihat pada tabel 3.0 konsekuensi. Penilaian risiko bertujuan untuk menilai secara keseluruhan risiko yang timbul dari adanya bahaya dengan
41
mempertimbangkan pengendalian yamg telah dilakukan sehingga, dapat diputuskan risiko diterima atau tidak
Tabel 2.8 Tingkat Akibat Risiko
Sumber : Australia/New Zealand Standard. 2004. Australia,
Standard/ New Zealand Standar 4360 : 2004. “Risk Management” [51].
2.9 Pengendalian Risiko
Pengendalian risiko adalah mekanisme atau proses untuk meniadakan atau mengurangi paparan bahaya agar tidak terjadi kerugian dengan melindungi orang, harta, benda, lingkungan dari bahaya yang terindetifikasi [52]. Pengendalian risiko dapat dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:
1. Identifikasi beberapa pilihan pengendalian yaitu : Penurunan risiko (Risk Reduction)
Pada prinsipnya dibagi menjadi dua yaitu : a. Penurunan Likely Hood (probabiilitas) b. Penurunan konsekuensi
Untuk menurunkan probabilitas dapat dilakukan dengan cara : a. Menggunakan prosedur yang benar terhadap sistem kerja b. Pemeliharan peralatan atau instalasi
TINGKAT KEMUNG KINAN
TINGKAT KONSEKUENSI RISIKO
1 2 3 4 5
5 5
(Sedang)
10 (Sedang)
15 (Sangat Tinggi)
20 (Sangat Tinggi)
25 (Sangat Tinggi)
4 4
(Rendah)
8 (Sedang)
12 (Sedang)
16 (Tinggi)
24 (Sangat Tinggi)
3 3
(Rendah)
6 (Sedang)
9 (Tinggi)
12 (Tinggi)
15 (Tinggi)
2 2
(Rendah)
4 (Rendah)
6 (Sedang)
8 (Sedang)
10 (Tinggi)
1 1
(Sangat rendah)
2 (Rendah)
3 (Rendah)
4 (Rendah)
5 (Sedang)
42 c. Pengaturan Work Design
Melakukan transfer terhadap risiko (Transferred Risk)
Semua pekerja maupun harta semua ditransfer dengan melakukan
asuransi kepada perusahaan asuransi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Risiko dihindari (Avoidance Risk)
Risiko dapat dihindari dengan rotasi pekerjaan dan pergantian bahan yang ada.
Menerima risiko (Acceptable Risk)
Risiko dapat diterima apabila berdasarkan penilaian tidak memberikan dampak.
2. Menetapkan pilihan option pengendalian yang digunakan 3. Persiapan dan perencanaan option pengendalaian.
4. Pelaksanaan Pengendalian
43 2.9.1 Penentuan Pengendalian Risiko
Penentuan pengendalian risiko berdasarkan kemungkinan risiko yang telah terjadi. Penentuan Pengendalian risiko baik risiko sangat rendah, rendah, sedang, tinggi maupun sangat tinggi di tentukan berdasarkan pertimbangan berbagai dampak seperti : dampak keselamatan, dampak kesehatan, dampak lingkungan , dan dampak finansial [53]. Untuk penentuan pengendalian risiko dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2.9 Tingkat Risiko Dan Kriteria Risiko No Nilai Risiko Tingkat Risiko Kriteria Risiko
1. 1 Tingkat risiko
sangat rendah
Risiko dapat diterima
2. 2-4 Tingkat risiko
rendah
Tindakan perbaikan dapat dijadwalkan kemudian dan penanganan cukup dilakukan dengan prosedur yang ada
3. 5-8 Tingkat risiko
sedang
Lakukan perbaikan
secepatnya dan tidak diperlukan keterlibatan manajemen puncak
4. 9-12 Tingkat risiko
tinggi
Perlu perhatian manajemen puncak dan tindakan perbaikan segera dilakukan
5. 13-25 Tingkat risiko
ekstrim
Kegiatan harus dihentikan dan perlu manajemen puncak Sumber: Australia/New Zealand Standard. 2004. Australia,
Standard/ New Zealand Standar 4360 : 2004. “Risk Management” [54].
44
Tabel 2.9.1 Penentuan Pengendalian Risiko
Tingkat Risiko Kategori risiko Kelas Pengendalian risiko
1 Risiko sangat
rendah
APD
2-4 Risiko rendah Pengendalian Administratif 5-8 Risiko sedang Engineering control
9-12 Risiko tinggi Substitusi
13-25 Risiko ekstrim Eliminasi
Sumber : Australia/New Zealand Standard. 2004. Australia,
Standard/ New Zealand Standar 4360 : 2004. “Risk Management” [55]
Keterangan : 1. Eliminasi
Hirarki teratas adalah eliminasi bahaya yang ada harus dapat dihilangkan pada saat proses pembuatan desain dibuat. Tujuannya adalah untuk menghilangkan kemungkinan kesalahan manusia dalam menjalanlan suatu sistem karena adanya kekurangan pada desain. Penghilangan bahaya merupakan metode yang paling efektif sehingga tidak hanya mengandalkan perilaku pekerja dalam menghindari risiko. Namun, demikian penghapusan benar-benar terhadap bahaya yang tidak selalu praktis dan ekonomis. Contohnya: bahaya jatuh, bahaya mekanik, bahaya bising, bahaya kimia, dan lain-lain. Eliminasi adalah proses meniadakan bahaya seluruhnya dengan membuangnya di tempat kerja [56].
2. Substitusi
Substitusi adalah proses kegiatan metode, proses, material, atau alat dengan yang lebih rendah bahayanya misalnya : mengganti bahan bentuk serbuk dengan bentuk pasta, proses menyapu diganti vakum, bahan solvent diganti dengan bahan deterjen, proses pengecetan Spray diganti dengan pencelupan, mengurangi kecepatan dan kekuatan arus listrik serta mengganti bahan baku padat yang menimbulkan debu menjadi bahan cair
45
atau basah. Metode ini bertujuan untuk mengganti bahan, proses, operasi ataupun peralatan dari yang berbahaya menjadi lebih tidak berbahaya.
Dengan pengendalian ini akan menurunkan bahaya dan risiko melalui sistem ulang maupun desain ulang [57].
3. Engineering Control
Pengendalian ini dilakukan bertujuan untuk mengisolasi atau memisahkan bahaya dengan bantuan mekanis atau teknologi seperti : pemasangan alat sensor otomatis, pemasangan alat pelindung mesin, dan pemasangan General dan Local Ventilation [58].
4. Pengendalian Administratif
Pengendalian Administratif adalah proses yang menerapkan praktik kerja, prosedur selamat, kebijakan, pelatihan/induksi, izin kerja. Seperti:
pemisahan lokasi, pergantian shift kerja, pembentukan sistem kerja, pelatihan karyawan [59].
5. Alat Pelindung Diri (APD)
Alat Pelindung Diri (APD) adalah proses mengenakan alat pelindung diri yang sesuai untuk melindungi pekerja. Alat pelindung diri dirancang untuk melindungi diri dari bahaya di lingkungan kerja, agar tetap selalu aman dan sehat [60]. Adapun langkah-langkah keselamatan APD antara lain : A. Selalu gunakan APD.
B. Bicarakanlah apabila peralatan pelindung pribadi yang digunakan tidak tepat untuk pekerjaan atau tidak nyaman atau tidak sesuai sebagaimana mestinya dengan mengatakan kepada rekan-rekan kerja atau supervisor.
C. Pastikan lingkungan kerja selalu terinformasi tentang sifat dari bahaya atau risiko yang mungkin dijumpai.
D. Perhatikan APD yang digunakan. Dengan tidak merusak atau merubah kemampuan APD menjadi berkurang kegunaannya. Karena, kondisi APD menentukan bagaimana manfaat perlindungan yang diberikannya
46
E. Lindungi keluarga jangan membawa kontaminasi bahaya dari tempat kerja ke keluarga atau teman-teman anda di rumah, tinggalkan APD di tempat kerja. Berbagai jenis APD yang tersedia diklasifikasikan berdasarkan anggota tubuh yang dilindungi yaitu : perlindungan terhadap kepala, wajah dan mata, telinga. Tangan dan lengan, tungkai kaki dan badan, kaki bagian bawah dan lain-lain.
2.9.2 Penelitian Terdahulu
Pada penelitian yang pernah dilakukan berada di aktivitas Drilling dan Blasting di PT.Telen Orbit Prima dalam proses produksi memiliki potensi bahaya yang sangat besar. Dengan metode HIRADC dapat menggambarkan potensi bahaya telah memenuhi proses dari HIRADC antara lain: identifikasi bahaya pada aktivitas Drilling yang sudah ditentukan rencana pengisian bahan peledak sedangkan Blasting sebagai kegiatan meledakkan lapisan tanah dengan operasi peledakan bertindak sebagai kontaktor dimana menyediakan bahan peledak keselamatan dan kesehatan kerja sangatlah utama untuk mencegah adanya risiko yang menyebabkan kematian. Penelitian ini secara deskriptif campuran menunjukkan adanya bahaya di lingkungan kerja dengan menerapkan HIRADC.
Terdapat bahaya dari Panjang dan Manuver Drilling dengan penilaian risiko Consequence : 3, Probability : 2. sehingga, nilai risknya yaitu 6 (Medium). Pada potensi bahaya ini menunjukkan adanya pengendalian eclaimingive dengan cara operator yang mengoperasikan harus benar-benar melalui dan lulus serta bersertifikasi Operational Training Development, terdapat potensi bahaya di Front Drilling dengan penilaian risiko Consequence 2 dan Probability : 3 sehingga, nilai risk nya : 6 ( medium) maka, pengendalian dapat dilakukan dengan rekayasa teknik dengan peralatan lokasi dengan menggunakan mesin Dozer, memastikan Front Driling mampu menahan beban dari mesin Driling dengan potensi jarak pandang terbatas penilaian risiko Consequence. Dapat disimpulkan menunjukkan enam (6) risiko yang ada di area terdapat pengendalian risiko dan masing-masing ada pengendalian risiko [61]