• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN TEORI"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB II TINJAUAN TEORI A. Efektifitas

Efektifitas yang secara umum menunjukan kepada taraf tercapainya pada sebuah tujuan. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia efektif yaitu dapat membawa dampak baik, mujarab, manjur, normal kembali (Chaniago, 1997:171). Effendy dalam buku Mulyasa berpendapat bahwa yang dimaksud efektifitas adalah suatu proses pencapaian suatu tujuan yang telah direncanakan dengan ketepatan waktu dan jumlah yang telah ditentukan (Mulyasa, E, 2002:81).

Efektivitas adalah tingkat keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan atau sasaran. Sesungguhnya efiktifitas ini merupakan suatu konsep lebih luas yang mencakup berbagai faktor didalam maupun diluar diri seseorang. Dengan demikian efektifitas tidak hanya dilihat dari sisi pandang produktivitas, tetapi juga dapat dilihat dari sisi persepsi dan sikap individu (Ns Roymond, 2008: 31)

Efektifitas berkaitan erat hubungannya dengan terlaksananya semua tugas pokok, tercapainya tujuan, ketepatan waktu, dan adanya partisipasi aktif dari semua anggota. Biasanya masalah efektifitas berhubungan dengan perbandingan antara tingkat pencapaian tujuan dengan rencana yang telah disusun sebelumnya, atau perbandingan hasil nyata dengan hasil yang telah direncanakan (Mulyasa, E, 2002:82).

Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan yang dimaksud efektifitas yaitu suatu keberhasilan dalam mencapai tujuan atau sasaran yang akan berdampak baik, dengan tindakan atau perbuatan yang maksimal. Dengan kata lain bahwa sesuatu dapat dikatakan efektif apabila terdapat keberhasilan yang maksimal dalam menjalankannya. Efektifitas dalam penelitian ini adalah suatu keberhasilan terapi dzikir dalam pembinaan mental remaja penyalahgunaan narkoba. Sehingga mereka dapat sembuh seperti semula bahkan pengetahuan agamanya menjadi lebih baik.

(2)

2 B. Tinjauan Terapi Dzikir

1. Tinjauan Terapi a. Pengertian Terapi

Kata terapi berasal dari kata “therapy” yang secara harfiah memiliki makna penyembuhan dan pengobatan. Terapi berasal dari Bahasa Belanda yang berarti upaya untuk memulihkan kesehatan orang yang sedang sakit.

Sedangkan dalam kamus psikologi, terapi adalah suatu perlakuan dan pengobatan yang ditujukan kepada penyembuhan suatu kondisi patologis (Chaplin, 2002: 507). Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran:

ِمْؤُمْلِ ل ٌةاْحْاراو ىًدُهاو ِروُدُّصلا ِفِ اامِ ل ءاافِشاو ْمُكِ بَّر نِ م ٌةاظِعْوَّم مُكْتءااج ْداق ُساَّنلا ااهُّ ياأ ايَ

﴿ اينِن ٥٧

Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran bagi tuhanmu dan penyembuhan bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (Q.S Yunus: 57)

Psikoterapi diartikan sebagai pengobatan alam pikiran, atau lebih tepatnya pengobatan dan perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis. Menurut Chaplin terapi diartikan sebagai penerapan teknik khusus pada penyembuhan terapi mental atau pada kesulitan-kesulitan penyesuaian diri setiap hari atau penyembuhan lewat keyakinan agama melalui diskusi personal. Pada pengertian tersebut, psikoterapi selain digunakan untuk penyembuhan penyakit mental, juga dapat digunakan untuk membantu, mempertahankan dan mengembangkan integritas jiwa, agar ia tetap tumbuh secara sehat dan memiliki kemampuan penyesuaian diri lebih efektif terhadap lingkungannya (Rahayu, 2009: 192).

(3)

3 b. Tujuan Terapi

Terapi yang merupakan pengobatan alam pikiran atau lebih tepatnya perawatan dan pengobatan gangguan psikologis melalui metodologi psikologis. Adapun tujuan terapi yaitu Pertama adalah menghilangkan, mengubah atau menurunkan gejala yang ada. Kedua adalah memperantai (perbaikan) pola tingkah laku yang rusak. Ketiga adalah meningkatkan pertumbuhan serta perkembangan kepribadian yang positif (Rahayu, 2009:

198).

Sedangkan tujuan terapi menurut Gerald Corey (2013: 320-321) yaitu : 1) Klien lebih menyadari diri, bergerak ke arah kesadaran yang lebih

penuh atas kehidupan batinnya.

2) Klien menerima tanggung jawab yang lebih besar atas siapa dirinya, menerima perasaan-perasaannya sendiri, menghindari tindakan menyalahkan lingkungan dan orang lain atas dirinya.

3) Klien lebih berpegang pada kekuatan-kekuatan batin dan pribadinya sendiri, dan menerima kekuatan yang dimiliki untuk mengubah kehidupannya sendiri.

4) Klien memperjelas nilai-nilainya sendiri.

5) Klien lebih terintegrasi serta menghadapi, mengakui, menerima dan menangani aspek-aspek yang ada pada dirinya yang terpecah.

6) Klien belajar mengambil resiko yang akan membuka pintu-pintu ke arah cara-cara hidup yang baru.

7) Klien menjadi lebih mempercayai diri serta bersedia mendorong dirinya sendiri untuk melakukan apa yang dipilih untuk dilakukannya.

8) Klien menjadi lebih sadar atas alternatif-alternatif yang mungkin serta bersedia memilih bagi dirinya sendiri dan menerima konsekuensi-kosekuensi dari pilihannya.

(4)

4

Berdasarkan uraian di atas, tujuan terapi adalah membantu individu dalam menangani gangguan emosional serta untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki individu agar mampu mengembangkan dirinya dalam mengatasi masalah.

c. Objek Terapi

Sasaran atau objek yang menjadi fokus penyembuhan perawatan atau pengobatan dari terapi adalah manusia (individu) secara utuh yakni berkaitan atau menyangkut dengan gangguan pada :

1) Mental, yaitu berhubungan dengan pikiran, akal, ingatan, atau proses bersosialisasi dengan pikiran akal dan ingatan.

2) Spiritual, yaitu yang berhubungan dengan masalah ruh, semangat atau jiwa, religious, yang berhubungan dengan agama, keimanan, kesalehan dan menyangkut transedental.

3) Moral (akhlak), yaitu suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia, yang akan melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa melalui proses pemikiran, pertimbangan , penelitian, sikap mental, atau watak yang terjabarkan dalam bentuk berpikir, berbicara, bertingkah laku sebagai ekspresi jiwa.

4) Fisik (jasmaniah), tidak semua gangguan fisik dapat disembuhkan dengan terapi, kecuali memang ada izin Allah. (Rahayu, 2009: 211) 2. Tinjauan Dzikir

a. Pengertian Dzikir

Dzikir berasal dari Bahasa Arab yaitu (dzakara-yadzkuru) yang artinya mengingat, memperhatikan, mengenang, mengambil pelajaran, mengenal atau mengerti (Syukur, 2004 :45).

Selain definisi tersebut, terdapat beberapa pengertian tentang dzikir yang dipaparkan, menurut Subandi dzikir adalah suatu bentuk kesadaran yang dimiliki oleh seseorang makhluk akan hubungan yang menyatukan seluruh kehidupannya dengan sang pencipta (Subandi, 2009: 33). Dzikir menurut

(5)

5

Hasbi ash-shiddiqy (dalam Bastama, 1995: 158) dalam artian umum, dzikir adalah perbuatan mengingat Allah dan keagungan-Nya, yang meliputi hampir semua bentuk ibadah dan perbuatan baik, seperti tasbih, tahmid, tamjid, sholat, membaca Al-Qur’an, berdoa, melakukan perbuatan baik dan menghindarkan diri dari kejahatan. Dalam arti khusus, dzikir adalah menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya. Dasar hukumnya adalah firman Allah SWT.

﴿ ُبوُلُقْلا ُّنِئامْطات ِ للّا ِرْكِذِب الااأ ِ للّا ِرْكِذِب مُهُ بوُلُ ق ُّنِئامْطاتاو ْاوُنامآ انيِذَّلا ٢٨

Artinya: “(Orang-orang yang bertaubat yaitu) mereka yang beriman, hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah (dzikullah). Ingatlah dengan dzikir hati menjadi tenang”. (Q.S Ar-ra’du: 28)

Dzikir ini dimaksudkan untuk memohon ampunan-Nya, berdoa Kepada-Nya, yang dapat memberikan kejernihan dalam pikiran, serta merasakan penjagaan dan pengawasan-Nya dan tertanam dalam hati kelapangan dan dapat merasakan adanya ketenangan.

b. Faedah dan Keutamaan Dzikir

Sangat banyaknya majelis dzikir di Indonesia sebagai penyeimbang dari begitu banyaknya budaya barat yang hadir dalam kehidupan. Terlihat masyarakat dengan kesan yang bersahaja dan sopan terkadang hilang.

Terkadang kita bisa melihatnya didaerah pedesaan yang terpencil saja. Akan tetapi ketika diperkotaan mulai berbalik 180 derajat. Masyarakat yang individualis dengan kepentingan diri sendirinya saja, atau bahkan tidak mengenal satu sama lain sudah menjadi pemandangan yang amat biasa.

Seharusnya makin banyaknya majelis dzikir sebagai alat dari pemersatu umat. Sehingga timbul yang erat rasa hormat menghormati dan tenggang rasa. Sehingga terciptanya Faedah atau manfaat keutamaan dzikir hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Menurut Ghanim al-

(6)

6

Sadian (2004: 3) menyatakan bahwa faedah-faedah dzikir adalah sebagai berikut:

1) Mengusir, mengalahkan dan menghancurkan setan 2) Mendapatkan keridhoan Allah

3) Menghilangkan rasa susah dan kegelisahan hati 4) Membuat hati menjadi senang, gembira dan tenang.

5) Dapat menghapus dan menghilangkan dosa-dosa 6) Dapat mengilangkan kepayahan di hari kiamat 7) Dzikir merupakan taman syurga.

Adapun yang dijelaskan dalam Al-Quran dan Al-hadist Nabi Muhammad SAW. Dalam keutamaan dzikir dijelaskan dalam Al-Qur’an:

﴾ ١٥٢ ﴿ ِنوُرُفْكات الااو ِلِ ْاوُرُكْشااو ْمُكْرُكْذاأ ِنِوُرُكْذااف

Artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepadaku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-ku”. (Q.S Al-Baqarah: 152)

Keutamaan-keutamaan dzikir yang lain dalam (Syukur, 2004: 36), yaitu:

1) Menetapkan iman

Selalu ingat kepada Allah adalah bentuk keimanan yang mantap kepada Allah. Jika manusia selalu ingat kepada Allah, maka dengan sendirinya iman yang dimiliki menjadi mantap Lawan dzikir adalah lupa (ghaflah).

Jiwa manusia akan terawasi oleh apa dan siapa yang selalu melihatnya.

Ingat kepada Allah berarti lupa kepada yang lain. Sedangkan ingat yang lain berti lupa kepada Allah Berdizkir merupakan salah satu cara agar manusia ingat kepada Allah, baik dilakukan secara lisan maupun melalui mata hati.

(7)

7 2) Energi akhlak

Kehidupan modern yang diemban sekarang, disertai banyak terjadinya kemerosotan moral. Salah satunya yaitu diakibatkan oleh rangsangan dari luar, khususnya melalui media masa. Dengan berdizkir dapat berfungsi sebagai sarana untuk mendidikan diri menuju akhlak yang mulia. Hal ini dapat dipahami dari hadist nabi saw, yang artinya “ Tumbuhkan dalam dirimu sifat-sifat Allah, sesuai dengan kemampuan sifat kemanusiaan”.

Dengan demikian, betapa penting mengetahui (ma’rifat) dan mengingat (dzikir) Allah, baik terhadap nama-nama maupun sifat-sifat-Nya, kemudian maknanya ditumbuhkan dalam diri seseorang secara aktif.

Karena sesungguhnya iman adalah keyakinan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan direalisasikan dengan amal perbuatan.

3) Terhindar dari bahaya

Manusia dalam hidupnya tidak pernah terlepas dari kemungkinan datangnya bahaya. Akan tetapi apabila dia selalu mengingat Allah dan selalu menjalani ketentuan-Nya, maka dia akan terhindar dari bahaya.

Dari sekian banyak bahaya yang timbul dalam diri seseorang dikehidupan modern ini bisa berupa banyaknya kenakalan remaja yang memakai obat- obatan yang mengandung zat adiktif. Hal tersebut bisa terjadi karena salah pergaulan akibat lalai kepada Allah. Sehingga apabila diri seseorang selalu ingat (dzikir) kepada Allah maka ia akan terhindar dari bahaya dunia dan akhirat.

4) Terapi jiwa

Di zaman modern saat ini masyarakat dihinggapi rasa cemas yang berakibat integritas kemanusiaannya tereduksi dan terperangkap pada jaringan system resionalitas teknologi yang tidak manusiawi. Akhirnya mereka tidak mempunyai pegangan hidup yang mapan. Lebih dari itu muncul dekadensi moral dan perbuatan brutal serta tindakan dianggap

(8)

8

menyimpang. Hal ini datang justru ketika masyarakat telah mencapai kenikmatan materi.

Dalam kenyataannya, filsafat rasionalitas tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok manusia dalam aspek nilai transendental. Manusia mengalami kehampaan spiritual, yang mengakibatkan munculnya sakit mental. Islam sebagai agama yang membawa rahmatan lil’ alamin (rahmat bagi alam semesta) menawarkan suatu konsep dikembangkan nilai-nilai illahiyah dalah batin seseorang. Shalat misalnya yang didalamnya penuh dengan do’a dan dzikir, dapat dipandang sebagai malja’ (tempat berlindung) ditengah tengah badai kehidupan modern. Dan disinilah misi Islam, untuk memberikan ketentraman rohani Islam.

Dzikir yang fungsional akan mendatangkan manfaat bagi kita, antara lain mendatangkan manfaat bagi seseorang, menentramkan jiwa dan obat penyakit jiwa (Syukur, 2004: 50-54). Keutamaan dzikir yang telah dipaparkan setidaknya menjadikan alasan mengapa dzikir dijadikan dalam metode penyembuhan dari pembinaan mental remaja korban penyalahgunaan narkoba, keberusahan setiap manusia dalam mendekatkan diri kepada Allah dengan berjalan, maka Allah akan mendekat kepada setiap manusia tersebut dengan berlari.

Mendambakan ketentraman dan kedamaian hati menjadikan harapan bagi setiap manusia, maka mereka mencari tempat hiburan yang menjadikan kesenangan. Padahal ketika mereka mendatangi tempat hiburan yang berada didunia ini hanya akan mendatangkan kegelisahan saja. Ada cara lain yang dapat mendatangkan ketentraman hati dan bertambahnya iman, maka dengan orang tersebut cukup berdo’a dan berdzikir kepada sang pencipta makhluk- Nya. Karena dengan berdzikir mengingat Allah SWT, maka ketentraman yang akan didapatkan.

(9)

9 c. Macam dan Bentuk Dzikir

Ada dua macam dzikir kepada Allah yaitu wajib dan sunnah. Pertama adalah ketika kita melihat makluk, terbesit yang harus diingat adalah sang penciptanya. Kekuatan dan kebijaksanaan Tuhan yang tak ada batasnya itu yang harus kita sadari. Allah adalah sebagai sumber dari segala anugrah yang tidak menyia-nyiakan cinta yang tertanam dalam hati kita. Hal pertama dalam mengingat Allah, aktivitas dzikir tersebut merupakan kewajiban. Kedua pada fase wajib dan mulai mencintai-Nya serta mengabdi kepada-Nya dimana manusia telah mengenal Allah maka dzikir yang dilakukan menjadi sunnah baginya.

Bagi umat Islam yang mengikuti suatu kelompok tarekat atau kelompok sufi atau kelompok mistik lainnya, amalan dzikir dipandang sebagai bentuk latihan rohani spiritual untuk dapat mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam pengertian itu, amalan dzikir dilaksanakan dengan menggunakan teknik tentu yang mirip dengan latihan meditasi didalam tradisi agama lain.

Ada dua macam metode dzikir yang umum dilakukan di kalangan sufi, yaitu dzikir jahr dan dzikir khofi. Dzikir jahr juga disebut dzikir lisan, dimana orang membaca kalimat-kalimat dzikir secara lahiriah dengan suara yang jelas (kadang cukup keras). Dzikir khofi atau disebut juga dzikir qolbi dilakukan dengan menyebut nama Allah berulah-ulang secara batiniah di dalam hati, jiwa, dan ruh. Sebagian kelompok sufi melakukan dzikir jahr disertai gerakan–gerakan tubuh yang ritmis seperti dilaksanakan oleh pengikut tarekat Qodiriyyah Naqsyabandiyah. Bahkan, sebagian menggunakan musik dan gerakan berputar-putar seperti dilakukan pengikut tarekat Mawlawiyah di Turki. Sementara itu, dalam melaksanakan dzikir khofi sebagian menggunakan konsep badan halus (latifah) yang mirip dengan konsep chakra dalam tradisi meditasi (Subandi, 2009: 35).

(10)

10

Tingkatan dalam dzikir terbagi menjadi tiga (Wahid, 2017: 49) yaitu:

1) Dzikir lisan : laa illaha illallaaah

Setelah terasa meresap pada diri, terasa panasnya dzikir itu ke tiap- tiap helai bulu roma di badan, dzikir ini mulai pelan-pelan makin lama makin cepat.

2) Dzikir Qalbu atau hati: Allah, Allah

Mula-mulanya mulut berdzikir diikuti hati, kemudian ke mulut, lalu lidah berdzikir sendiri, dengan dzikir tanpa sadar, akal pikiran tidak sejalan lagi, melainkan terjadi sebagai ilham yang tiba-tiba Nur Ilaahi dalam hati memberitahukan: innany anal laahu, yang naik ke mulut mengucapkan: Allah, Allah

3) Dzikir Sir atau Rahasia: “Hu”

Biasanya sebelum naik ketingkat dzikir ini orang sudah “fanna”.

Untuk mengingat akan kesucian, sifat-Nya serta mengingat nikmat yang telah diberikan-Nya baik dengan hati, lisan, maupun perbuatan adalah dengan berdizkir. Hal ini sejalan sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT.

ُّراضات اكِسْفا ن ِفِ اكَّبَّر رُكْذااو

﴿ اينِلِفااغْلا انِ م نُكات الااو ِلااصلآااو ِ وُدُغْلِبِ ِلْواقْلا انِم ِرْهاْلْا انوُداو ًةافيِخاو ًاع ٢٠٥

Artinya: “Dan berdzikirlah (ingat Tuhanmu) dengan hatimu dengan kerendahan hati dan rasa takut, dengan suara perlahan-lahan diwaktu pagi dan petang hari , dan jangan kamu menjadi orang yang lalai”. (Q.S Al- A’raaf: 205)

Menurut Rojaya (2009: 40) menjelaskan pula macam dan bentuk dzikir yaitu : Pertama, dzikir anggota badan dan panca indra, yang dimaksud adalah menggunakan anggota badan dan panca indra untuk keta’atan beribadah semata-mata karena Allah, untuk memperbanyak kebaikan dan menjauhi hal-hal yang munkar (keburukan). Dapat terlihat dan telah tercermin di dalam makna hakikat bersuci. Kedua, dzikir lisan, dimaksudkan adalah

(11)

11

dengan membaca Al-Qur’an, takbir, tahlil, tahmid, istigfar, do’a, wirid.

Dengan suara yang dapat didengar dengan telinga. Dzikir qolbi dapat dimaknai dengan dzikir lisan dan hati, dimaksudkan lidah menyebut lafal dzikir dengan suara pelan dan hati mengingat dan meresapi maknanya. Yang dapat mengadirkan hati dengan penuh kekhusyuan dan keyakinan zat yang maha melihat dan mendengar serta maha segalanya.

Bentuk dzikir yang lain yaitu dengan aktifitas sosial, yakni dengan menginfakan harta untuk kepentingan sosial, melakukan hal-hal yang berguna bagi pembangunan bangsa dan Negara serta agama. Dzikir ini merupakan refleksi dari dzikir lisan dan hati. Jika dzikir lisan dan hati hanya bersifat individual, maka dzikir ini lebih bersifat sosial, mempunyai kepedulian dan kepekaan sosial kemasyarakatan. Dan model dzikir ini yang paling banyak disinggung dalam Al-Qur’an ( Syukur, 2004: 49).

Dengan demikian, maka dzikir kepada Allah secara umum dapat diklasifikasikan menjadi empat bentuk, hal ini di dasarkan pada aktifitas apa yang digunakan untuk mengingat Allah:

1) Dzikir pikir (Tafakkur)

Manusia merupakan makhluk yang diciptakan Allah yang paling mulia derajat dan kedudukan nya, hal tersebut sering disebutkan dalam Al- Qur’an. Allah menciptakan manusia dengan susunan tubuh yang sempurna dan sangat baik, Tertera dalam firman Allah SWT.

﴾ ٤ ﴿ ٍيمِوْقا ت ِناسْحاأ ِفِ انااسنِْلْا اانْقالاخ ْداقال

Artinya: “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (Q.S At-Tin: 4)

Penganugrahan Allah terhadap manusia terlihat dalam potensi-potensi yang dimiliki manusia yang luar biasa. Salah satunya yaitu kemampuan untuk berfikir melalui akal yang diberikan oleh Allah. Melalui Al-Qur’an,

(12)

12

Allah memerintahkan dalam menjaga dan memelihara serta memanfaatkan potensi tersebut dengan sebaik-baiknya.Bentuk dari dzikir kepada Allah yaitu dzikir fikir.

Dzikir pikir yang dimaksud yaitu memahami, berfikir dan memilikirkan tentang segala sesuatu, termasuk untuk berfikir dan memikirkan tentang fenomena alam, merenungkan, dan menelaah Al- Qur’an dan diri manusia sendiri. Berfikir dan bertafakur tentang penciptaan langit dan bumi, bahtera yang luas dan membawa berbagai hal yang bermanfaat bagi kehidupan kita, memikirkan tentang diri kita sendiri sebagai sosok makhluk dan hamba Allah yang diciptakan dengan teramat indah dan sempurna, merenungkan dan memikirkan makna serta kandungan Al-Qur’an.

2) Dzikir dengan lisan ataupun ucapan

Dzikir ini kerap kali dimaknai dengan dzikir yang diucapkan dengan lisan serta di dengarkan oleh telinga. Ada dua macam dalam menyebut dan mengingat Allah dengan lisan, yaitu dzikir yang diucapkan dengan suara pelan (sirr) atau berbisir (hams) dan dzikir yang diucapkan dengan suara yang keras dan bersama-sama (jahr). Bagi pemula dzikir ini sangat baik dalam menyebut dan mengingat Allah dengan lisan, maksudnya diucapkan dengan lisan dan dapat didengar telinga orang yang bersangkutan dapat membantunya untuk menghilangkan dan menghapuskan hal-hal lain yang melintas dalam pikiran selain Allah.

3) Dzikir dengan hati atau Qalbu

Dzikir qalbu adalah aktivitas mengingat Allah yang dilakukan dengan hati atau qalbu saja, artinya sebutan itu dilakukan dengan ingatan hati.

Dzikir qalbu juga dapat dimaknai melaksanakan dzikir dengan lidah dan hati, maksudnya lidah menyebut lafal tertentu lafadz dzikir, dengan suara yang pelan dan hati mengingat dengan meresapi maknanya. Dzikir dengan hati adalah dzikir yang sangat baik dan utama, karena dzikir

(13)

13

dengan cara ini dapat mengantarkan kita untuk lebih khusyuk, terhindar dari bahaya riya’ dan akan memberikan kesan mendalam.

4) Dzikir dengan amal perbuatan

Yang dimaksud dengan dzikir amal disini adalah setiap perbuatan atau aktivitas seseorang yang baik dan dapat mengantarkannya untuk teringat kepada Allah SWT, dzikir amal juga dapat diartikan sebagai tindakan yang didasarkan pada aturan dan ketentuan Allah (Munir dan Al-Fandi, 2008: 22-32).

Dzikir merupakan bagian penting dalam proses ibadah manusia, dalam upaya mengingat Allah, manusia diharapkan mampu menghindarkan dari keterpurukan duniawi serta dapat melakukan perbuatan yang diperintahkan Allah. Ketenangan dzikrullah akan menghasilkan dampak relaksasi yang bermakna bagi seseorang yang menjalani proses penyembuhan.

Mendekatkan diri kepada sang pencipta alam (Allah SWT) dalam pencapaian kondisi jiwa dengan penuh penyerahan diri, atau keikhlasan kepada Allah merupakan tujuan utama dari melakukan dzikir. Jika seseorang melakukan dzikir diseluruh tubuh maka kondisi seperti itu dapat dicapainya.

Hal ini berarti bahwa seluruh sel-sel dalam tubuh ikut mengucapkan asma Allah (Subandi, 2009: 42).

Bentuk dzikir yang paling umum adalah membaca ayat-ayat suci Al- Qur’an dari banyak cara yang dilaksanakan berdzikir dalam pencapaian tujuan tersebut. Sebagian kaum muslim berdzikir dengan menyebut nama Allah berulang-ulang, baik ismu dzat (nama Allah), maupun nama-nama baik dan indah (asma-ul-husna) (Subandi, 2009: 34). Lafadz-lafadz al-Baqiyyatush- Shalihah, istigfar, isti’adzah, basmalah, Hasbalah, Asma’ul Husna dan dzikir dengan membaca serta memikirkan ayat-ayat Allah, baik ayat qauliyah (Al- Qur’an) maupun ayat kauniyah (alam semesta) merupakan bacaan dzikir yang sering diamalkan oleh Nabi Muhammad SAW. Serta banyak pula para

(14)

14

kalangan ulama di penjuru dunia yang mengamalkan dan memansyurkan bacaan dzikir tersebut (Munir dan Al-Fandi, 2008: 67-105).

1) Al-Baqiyyatush-Shalihah

Bacaan dzikir ini mempunyai banyak keistimewa dan sangat mulia, Nabi Muhammad menjelaskan setengah diantara keutamaan dan keistimewaan bacaan dzikir ini , dalam riwayat Ibnu Umar . Bahwa Rasulullah pernah bersabda:

“Al-Baqiyyatush-Shalihah adalah “la ilaha illallah wa subhanallah wallahu akbar wal hamdulillah wa la hawla wa la quwwata illa billahil

‘aliyyil ‘azim’ (tiada tuhan selain Allah, Maha Suci Allah, Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah tiada daya kekuatan selain dengan izin Allah yang maha tinggi dan maha agung). Tidak seorangpun yang mengatakannya (membacanya) melainkan akan diampuni dosa-dosanya walaupun seperti buih di lautan. (HR.Al-Bukhari dan Muslim)

Makna dalam hadist tersebut yaitu Allah akan mengampuni segala dosa dan kesalahan yangb pernah kita lakukan selama hidup sebanyak dan sebesar apapun dosa itu kepada siapapun diantara kita yang berdzikir dengan membaca Al-Baqiyyatush-Shalihah. Bahkan Allah akan melimpahkan ampunan kepada siapapun yang berdzikir dengan membaca Al-Baqiyyatush-Shalihah walaupun dosa yang dimilikinya lebih banyak dari banyaknya pasir dan buih dilautan.

Lafazh Al-Baqiyyatush-Shalihah terdiri atas lima bacaan dzikir, yaitu bacaan tasbih, tahmid, takbir, tahlil, dan al-hauqalah. Berikut bacaan- bacaannya:

a) Membaca tasbih

“Subhanallah”

Artinya: “ Maha Suci Allah”

(15)

15 b) Membaca Tahmid

“Alhamdulillah”

Artinya: “ Segala puji bagi Allah”

c) Membaca Tahlil

“Laa illaha illallahu”

Artinya:” Tiada Tuhan Kecuali Allah”

d) Membaca Takbir

“Allahu Akbar”

Artinya: “Allah Maha Besar”

e) Membaca Hauqollah

“Laa haula walaa quwwata illa bilaah”

Artinya: “Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali kepunyaan Allah”.

2) Istigfar (mohon ampunan)

Beristigfar berarti pemohonan ampunan kepada Allah atas segala dosa dan kesalahan yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun yang tidak, lupa yang menjadi penyebabnya. Dzikir ini merupakan bacaan yang sangat baik diucapkan yang dapat dijadikan do’a kepada Allah, yakni permohonan segala salah dan dosa yang telah dilakukan dapat diampuni.

3) Isti’adzah (Mohon Perlindungan)

Selain sebagai media untuk memohon ampunan kepada Allah, dzikir adalah salah satu bentuk memohon perlindungan kepada Allah dari segala hal yang tidak menyenangkan hati, dan meminta perlindungan kepada Allah agar terhindar dari segala sesuatu yang tidak baik, dan dari segala hal yang dapat merintangi serta menghalangi kita pada jalan ketaatan kepada Allah.

(16)

16 4) Basmalah

Ketika memulai suatu kegiatan atau pekerjaan dalam kehidupan sehari- hari membaca basmalah adalah suatu yang dianjurkan untuk diamalkan.

Adapun lafadz dari bacaan basmalah adalah:

“bismilahi ‘rahmanirahim”

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.”

5) Membaca Hasballah

Bacaan Hasballah adalah bacaan dzikir yang menunjukan pengakuan bahwa sesungguhnya tidak ada tempat untuk bergantung dan berlindung selain hanya kepada Allah SWT. Lafazh dari bacaan hasbalah adalah:

“hasbiyallahu wa ni’mal wakil”

Artinya: “ cukuplah allah dan sebaik-baiknya pelindung.”

6) Membaca lafadh Baaqiyatuh shaalihat

“subhanallah, wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar.”

Artinya:” maha suci Allah dan segala puji bagi Allah, dan tidak ada tuhan kecuali Allah dan Allah Maha Besar” (Hawari, 2015: 886-887).

Sehingga maksud dari terapi dzikir dalam penelitian ini adalah suatu penyembuhan atau usaha jiwa dengan cara mengingat dan menyebut nama Allah yang menjadikan ketentraman jiwanya, dengan tingginya ketenangannya maka semakin tinggi kemampuan mengendalikan perilakunya.

C. Remaja Penyalahgunaan Narkoba 1. Pengertian Remaja

Remaja didefinisikan sebagai tahap perkembangan transisi yang membawa individu dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Menurut Muss dalam (Sarwono, 2013: 11) remaja dalam arti adolescence (inggris) berasal dari kata latin adolescere yang artinya tumbuh ke arah kematangan.

Kematangan disini tidak hanya berrti kematangan fisik, tetapi terutama

(17)

17

kematangan sosial-psikologi. Sedangkan WHO pada tahun 1974 memberikan definisi tentang remaja yang bersifat konseptual (Sarwono, 2013: 11-12), yang berbunyi :

Remaja adalah suatu masa dimana:

a. Individu berkembang dari saat pertama kali menunjukan tanda- tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.

b. Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menuju dewasa.

c. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relative lebih mandiri.

Remaja menurut Hurlock (dalam Wiarto, 2015:81), dapat diartikan sebagai periode ketika manusia mengalami perubahan fisik dan psikologisnya dari anak-anak ke dewasa antara umur 13-18 tahun untuk perempuan dan 14- 18 tahun untuk laki-laki. Dari batasan tersebut dapat diketahui bahwa batasan umur remaja yaitu 13-18 tahun. Daradjat (1978: 35) mengartikan remaja sebagai suatu masa dari umur manusia yang paling banyak mengalami perubahan, sehingga membawanya pindah dari masa kanak-kanak menuju kepada masa dewasa. Perubahan yang terjadi meliputi perubahan fisik, rohani, pikiran, perasaan, sosial.

Masa remaja merupakan periode yang penting dalam keseluruhan rentan kehidupan manusia, karena perkembangan fisik dan psikis yang cepat sehingga memerlukan penyesuaian mental, pembentukan sikap, nilai dan minat yang sama sekali berbeda dengan masa kanak-kanak (dalam skripsi Lestri, 2015: 22). Ada dua perubahan yang cukup mendasar dari perkembangan remaja, yaitu : pertama: perubahan fisik, biasanya terlihat secara jelas dari pertumbuhan yang mereka alami, yakni perubahan dalam bentuk tubuh, seperti tumbuhnya rambut dibagian tertentu, tumbuh jakun pada laki-laki, membesarnya payudara bagi perempuan dan perubahan tubuh

(18)

18

lainnya. Kedua yaitu perubahan psikis, perubahan ini dalam bentuk emosi, mentalitas, kejiwaan dan segala hal yang berkenaan dengan perasaan (Sofyan, 2007: 74).

2. Perilaku Menyimpang Pada Remaja

Periode manusia dimana manusia dapat dengan mudah terpengaruh oleh sosio emosional lingkungan, yang paling utama yaitu lingkungan keluarga serta teman sebaya itu terjadi pada periode remaja. Remaja dalam ketidaknyaman emosionalnya selalu mengaplikasikannya dengan perilaku menyimpang guna melindungi kelemahannya. Perilaku menyimpang pada remaja dapat diartikan dengan kenakalan remaja. Kenakalan remaja yaitu tindakan oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan diketahui oleh anak itu sendiri bahwa jika perbuatannya itu diketahui petugas hukum, ia bisa dikenai hukuman (Sarwono, 2012: 252). Jasen dalam Sarwono (2012: 256) membagi kenakalan remaja ini menjadi empat jenis, yaitu: Pertama, Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain, seperti: perkelahian, perkosaaan, perampokan, pembunuhan, dan lain-lain.

Kedua ,kenakalan yang menimbulkan korban materi, seperti: perusakan, pencopetan, pemerasan dan lain-lain. Ketiga, kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang lain, seperti: pelacuran, penyalahgunaan obat. Keempat, kenakalan yang melawan status, seperti: mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos.

Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban dipihak orang lain menjadikan objek peneliti dalam penelitian ini, serta untuk memperjelasnya peneliti akan membahas kenakalan remaja dalam bentuk penyalahgunaan obat-obat zat adiktif.

(19)

19 3. Remaja Penyalahguna Narkoba

Kata penyalahguna berarti proses, cara, penyelewengan. Sedangkan narkoba yaitu obat untuk menenangkan syaraf, menghilangkan rasa sakit.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009, Bab 1 pasal 1 menyatakan bahwa penyalahguna adalah orang yang menggunakan narkotika tanpa hak atau melawan hukum (Lisa dan Nengah, 2013: 165).

Hawari (2015: 494) secara umum membagi remaja yang menyalahgunakan narkoba menjadi 3 golongan, yaitu: Pertama, ketergantungan primer, ditandai dengan adanya kecemasan dan depresi, yang pada umumnya terdapat pada orang dengan kepribadian yang tidak stabil.

Kedua, ketergantungan simtomatis, yaitu penyalahgunaan narkoba sebagai salah satu gejala dari tipe kepribadian yang mendasarinya, pada umumnya terjadi pada orang dengan kepribadian antisosial, kriminal, dan pemakaian narkoba untuk kesenangan semata. Ketiga, ketergantungan reaktif, yaitu (terutama) terdapat pada remaja karena dorongan ingin tahu, pengaruh lingkungan dan tekanan teman kelompok sebaya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa remaja penyalahgunaan narkoba adalah orang yang menyelewengkan jenis obat untuk menenangkan syaraf, menghilangkan rasa sakit.

4. Faktor Penyebab Penyalahgunaan Narkoba

Mekanisme terjadinya penyalahgunaan sampai ketergantungan narkoba, adanya faktor-faktor yang melatar belakangi, yaitu: Pertama, faktor predisposisi, yang merupakan faktor kecenderungan terdiri dari gangguan kepribadian anti sosial, kecemasan, dan depresi. Dari penelitian yang dilakukan oleh Hawari, telah dapat dibuktikan bahwa sebenarnya seseorang penyalahgunaan narkoba adalah seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan, orang yang sakit, seseorang yang membutuhkan pertolongan terapi.

Adapun dampak yang ditimbulkannya (criminal, amoral, antisosial) adalah merupakan bentuk dari katarsis atau pelampiasan dari deprisi yang dialami.

(20)

20

Oleh karena itu seyogyanya penangannan seseorang penyalahgunaan narkoba pada tahap pertama adalah perawatan, terapi atau pun rehabilitasi.

Kedua, faktor kontribusi, yang merupakan faktor penyerta terdiri dari kondisi keluarga seperti : keutuhan keluarga yang kurang harmonis, kesibukan orangtua yang jarang dirumah, hubungan orang tua dan anak kurang baik, kematian orang tua. Dengan kata lain kondisi keluarga yang kurang baik merupakan salah satu faktor penyebab orang menyalahgunakan narkoba.

Ketiga, faktor pencetus, yang merupakan faktor provokasi, terdiri dari pengaruh teman sebaya dan adanya zat narkoba itu sendiri. Teman sebaya dapat menciptakan ketertarikan dan kebersamaan sehingga yang bersangkutan sukar melepas diri. Teman sebaya atau teman kelompok bermain biasanya adalah orang yang pertama kali mengenalkan narkoba bahkan merupakan kelompok yang menyebabkan seseorang tetap menyalahgunakan narkoba (Hawari, 2015: 494).

Sedangkan menurut Lisa dan Nengah (2013: 43) bahwa faktor penyebab penyalahguna narkoba adalah faktor yang berasal dari diri sendiri dan faktor lingkungan sosial. Faktor diri sendiri yang meliputi faktor kepribadian, penampilan fisik, emosional. Sedangkan faktor lingkungan sosial antara lain: pertama motif ingin tahu, kedua adanya kesempatan. Sikap Orang tua yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, mungkin juga karena kurangnya rasa sayang dari keluarga karena akibat dari broken home, yang dapat menjadikan remaja menyalahgunakan narkoba. Ketiga adanya sarana dan prasarana, pemberian orangtua yang berlebihan memberikan fasilitas dan uang yang berlebihan yang dapat memicu untuk menyalahgunakan uang tersebut untuk membeli narkoba untuk memuaskan rasa keingintahuannya.

Berdasarkan kedua teori di atas dapat disimpulkan bahwa adanya faktor penyebab penyalahgunaan narkoba yaitu dilatar belakangi oleh 2 faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang dipengaruhi

(21)

21

oleh diri sendiri dan faktor eksternal yaitu yang dipengaruhi oleh luar seperti kondisi keluarga dan pergaulan.

5. Dampak Dari Narkoba

Narkoba singkatan dari narkotika psikotropika dan zat adiktif lainnya, sekarang ini telah banyak disalahgunakan oleh masyarakat terutama bagi remaja. Padahal mayoritas pengguna telah mengetahui sebelumnya dampak dari mengkonsumsi narkoba. Adapun dampak yang diakibatkan bagi pengguna narkotika di antaranya:

a) Dampak terhadap fisik

Pemakai narkoba dapat mengalami kerusakan organ tubuh dan menjadi sakit sebagai akibat langsung dari narkoba dalam darah, misalnya kerusakan paru-paru, ginjal, hati, otak, jantung, usus dan sebagainya. Kerusakan jaringan pada organ tubuh akan merusak fungsi organ tubuh tersebut sehingga berbagai penyakit timbul.

b) Dampak terhadap mental dan moral

Pemakai narkoba berubah tertutup karena akan dirinya, takut mati, atau takut perbuatannya diketahui. Karena menyadari buruknya perbuatan yang ia lakukan, pemakai narkoba berubah menjadi pemalu, rendah diri, dan sering sebagai pecundang, tidak berguna dan sampah masyarakat.

c) Dampak spiritual

Adiksi terhadap narkoba membuat seseorang pecandu menjadikan narkoba sebagai prioritas utama didalam kehidupannya. Hal tersebut merubah aktivitas-aktivitas yang biasa dilakukan. Bila sebelumnya rajin beribadah bisa dipastikan akan menjauhi kegiatan yang satu ini.

Secara spiritual, narkoba adalah pusat hidupnya dan bisa dikatakan menggantikan posisi Tuhan. Adiksi terhadap narkoba membuat pengguna narkoba menjadi jauh lebih penting dari

(22)

22

keselamatan dirinya sendiri. Adiksi adalah penyakit yang mempengaruhi semua aspek hidup seorang manusia dan karenanya harus disadari bahwa pemulihan bagi seseorang pecandu tidak hanya bersifat fisik saja. (Syahril bardin, tth: 43) Seseorang yang mengkonsumsi narkoba tidak lagi dapat membedakan mana yang mudharat dan yang manfaat, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang halal dan mana yang haram, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, serta mana yang melanggar hukum dan mana yang tidak melanggar hukum. Yang secara umum Hawari (2015: 495) juga mengutarakan hal yang serupa tentang dampak buruk dari narkoba, yang dipaparkan sebagai berikut:

a) Meninggalkan ibadah (sholat) yang semula rajin b) Berbohong yang semula jujur

c) Membolos yang semula rajin d) Meninggalkan rumah (minggat) e) Bergaul bebas (seks bebas/ perzinaan) f) Menjual barang, mencuri, tindakan criminal g) Prestasi belajar merosot

h) Melanggar disiplin yang semula taat i) Merusak barang-barang alat rumah tangga j) Mengakali dan melawan orang tua

k) Pemalas (enggan merawat diri)

l) Suka mengancam, tindak kekerasan, berkelahi m) Sering mengalami kecelakaan lalu-lintas.

(23)

23 D. Pembinaan Mental

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, kata pembinaan berarti proses, cara, perbuatan membina (Negara dan sebagainya), pembaharuan, penyempurnaan, usaha, tindakan yang dilakukan secara efektif untuk memperoleh hasil yang baik (Chaniago, 1997: 76). Sedangkan mental menurut Daradjat (dalam Burhanudin, 1999: 18) adalah semua unsur jiwa yang termasuk pikiran, emosi, sikap, perasaan yang dalam keseluruhannya akan menentukan corak laku, cara menghadapi suatu hal yang menekan perasaan, mengecewakan atau menggembirakan.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembinaan mental adalah usaha dalam penyempurnaan pikiran, emosi, sikap, yang mampu menghadapi suatu yang mengecewakan. Pembinaan mental mengandung pengertian memberikan bantuan berupa terapi dzikir dalam terbentuknya perubahan individu untuk memperoleh jati diri yang akan mendorong seseorang untuk mencapai ketentraman dan kedamaian hati serta dapat mengendalikan perilaku menyimpang dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Pembinaan mental merupakan salah satu unsur kesehatan mental, karena pada dasarnya orang yang dibina mentalnya adalah orang yang mengalami gangguan kesehatan mental. Dan kesehatan mental adalah pencapaian dari pembinaan mental itu sendiri.

1. Kajian Teori Kesehatan Mental

Kartono (2000: 3) menyatakan bahwa kesehatan mental adalah ilmu yang mempelajari masalah kesehatan mental/jiwa, bertujuan memecahkan masalah timbulnya emosi, dan berusaha mengurangi atau menyembuhkan penyakit mental, serta memajukan kesehatan jiwa rakyat.

Kesehatan mental menurut Dalami (2010: 4) yaitu secara primer mengenai tentang kesejahteraan secara subjektif, suatu penilaian diri tentang perasaan seseorang, mencakup area seperti konsep diri tentang kemampuan seseorang, kebugaran dan energy, perasaan sejahtera dan kemampuan pengendalian diri internal, indicator mengenai keadaan sehat mental meliputi tidak merasa tertekan atau depresi .

(24)

24

Menurut Dzakiah Daradjat, (dalam Wahid, 2016: 151-152) mengatakan bahwa kesehatan mental adalah terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi kejiwaan dan tercapainya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungan berdasarkan keimanan dan ketakwaan serta bertujuan mencapai hidup yang bermakna dan bahagia dunia dan akhirat.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kesehatan mental adalah terhindar dari gangguan dan penyakit kejiwaan, adanya keserasian fungsi-fungsi jiwa, mampu menyesuaikan diri dan mampu menghadapi masalah-masalah, merasa dirinya berharga, bahagia, serta dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal.

2. Ciri-Ciri Mental Yang Sehat

Seperti yang disimpulkan peneliti sebelumnya mengenai kesehatan mental, bahwa orang yang dikatakan sehat mentalnya yaitu individu yang terhindar dari gangguan penyakit jiwa, adanya keserasian fungsi-fungsi jiwa, mampu menyesuaikan diri dan mampu mengadapi masalah-masalah, merasa dirinya berharga, bahagia, serta dapat mengembangan potensi yang dimiliki secara optimal.

Kartini Kartono mengemukakan bahwa individu memiliki mental yang sehat ditandai dengan sifat-sifat yang khas antara lain : Pertama, kemampuan- kemampuan untuk bertindak secara efisien. Kedua, memiliki tujuan-tujuan hidup yang jelas. Ketiga, punya konsep diri yang jelas, Keempat, ada Kordinasi antara segenap potensi dengan usaha-usahanya. Kelima, memiliki regulasi diri dan integrasi kepribadian. Keenam, batin yang selalu tenang (Kartono, 2000: 6).

Maslow dan Mittlemenn (dalam Notosoedirdjo dan Latipun, 2014: 28- 29) menguraikan kriteria bagi seseorang yang pribadinya berfungsi secara normal atau sehat diantaranya:

(25)

25 a. Memiliki rasa aman yang tepat

b. Memiliki penilaian dan wawasan diri yang rasional

c. Memiliki spontanitas dan perasaan yang wajar dengan orang lain d. Memiliki kontak yang efesien dengan realitas

e. Memiliki dorongan dan nafsu-nafsu jasmaniah yang sehat dan mampu memuaskannya dengan cara yang sehat

f. Memiliki kemampuan pengetahuan diri yang cukup dengan memiliki motif hidup yang sehat dan kesadaran tinggi

g. Memiliki kepribadian yang utuh dan konsisten h. Memiliki tujuan hidup yang wajar

i. Memiliki kemampuan untuk belajar dari pengalaman hidup serta mengolah dan menerima pengalamannya dengan sikap yang luwes j. Memiliki emansipasi yang memadai dari kelompok atau budaya.

Bastama (1995: 134) memiliki pandangan secara operasional tolak ukur kesehatan mental atau kondisi mental yang sehat, yakni :

a. Bebas dari gangguan dan penyakit kejiwaan

b. Mampu secara luwes menyesuaikan diri dan menciptakan hubungan antara pribadi yang bermanfaat dan menyenangkan

c. Mengembangkan potensi-potensi pribadi baik bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan

d. Beriman dan bertakwa kepada tuhan dan berupaya menerapkan tuntutan agama dalam kehidupan sehari-hari.

Pendapat-pendapat yang telah dipaparkan di atas, tentang ciri-ciri mental yang sehat pada dasarnya tidak jauh berbeda yaitu, mampu menerima realitas hidup, memiliki kematangan emosional, hangat dalam berhubungan dengan orang lain, serta berusaha merealisasikan nilai-nilai agama, sehingga kehidupan itu dijalaninya sesuai dengan tuntutan tuntutan agama (perintah tuhan kepada makhluknya).

(26)

26

3. Jenis Gangguan Mental Pada Remaja Korban Penyalahgunaan Narkoba Problematika manusia yang semakin kompleks, himpitan kehidupan juga kadang menghujam setiap anak manusia didunia ini, bukan hanya orang tua, tetapi anak remaja bahkan anak-anak baik laki-laki dan perempuan, kesemuanya mengalami sebuah problem komunal.

Ada beberapa jenis gangguan mental yang dialami pada remaja korban penyalahgunaan narkoba. Pertama yaitu, gangguan mental organik. Gangguan mental organik adalah suatu gangguan patologi yang jelas. Yang termasuk gangguan mental organik yaitu: Delirium, Dimensia, gangguan amnesia, gangguan kognitif lainnya. Termasuk gangguan mental organik lain adalah gangguan akibat alcohol dan obat/zat. (1) Delirium adalah suatu sindrom dengan gejala pokok adanya gangguan kesadaran yang biasanya tampak dalam bentuk hambatan pada fungsi kognitif. Penyebab utama dapat berasal dari penyakit susunan saraf pusat, penyakit sistemik dan intoksikasi atau reaksi putus obat maupun zat toksik. (2) Dimensia adalah sindrom yang ditandai oleh berbagai gangguan fungsi kognitif tanpa gangguan kesadaran.

Gangguan fungsi kognitif antara lain pada intelegensi belajar dan daya ingat, Bahasa, pemecahan masalah, persepsi, perhatian dan konsentrasi, penyesuaian diri dan kemampuan bersosialisasi. Bahkan ketidakmampuan melaksanakan suatu tugas semakin bertambah berat dan meluas ketugas-tugas harian pun perlu adanya bantuan. (3) gangguan amnesia adalah suatu gangguan daya ingat yang ditandai adanya gangguan kemampuan mempelajari sebelumnya serta menimbulkan hambatan pada fungsi sosial pekerjaan. Gejala penyerta lainnya perubahan kepribadian, apatis, kurang inisiatif. Agitasi dan kebingungan. Gangguan ini biasanya diakibatkan oleh alcohol, neurotoksin, benzodiapzeptin, dan sejenisnya ( Lisa dan Nengah, 2013: 58-65).

Kedua, yaitu gangguan kepribadian. Terdiri dari gangguan kepribadian anti sosial, historionik. (1) gangguan kepribadian anti sosial, individu dengan gangguan kepribadian anti sosial biasanya secara terus menerus melakukan

(27)

27

tingkah laku anti sosial atau kriminal, namun tingkah laku ini tidak sama dengan melakukan kriminalitas. Gangguan kepribadian ini menekankan pada ketidakmampuan individu untuk mengikuti norma-norma sosial yang ada selama perkembangan masa remaja. (2) gangguan kepribadian histrionik, gangguan yang ditandai dengan tingkahlaku yang bersemangat, dramatis atau suka menonjolkan diri dan ekstrovert pada individu yang emosional dan mudah terstimulasi oleh lingkungan, individu dengan gangguan ini cenderung untuk tidak menyadari perasaan-perasaan mereka dan tidak pula menyadari serta mampu menjelaskan motivasi dari berbagai tindakan yang dilakukannya karena salah satu mekanisme pertahanan diri yang mereka gunakan adalah represi. Apabila individu ini dalam keadaan stress, kontak dengan realitas dapat terganggu (Lisa dan Nengah, 2013: 109-117).

4. Faktor Penyebab Gangguan-Gangguan Kejiwaan Pada Korban Penyalahgunaan Narkoba

Konflik-konflik batin yang serius dan kekalutan mental atau mental disorder biasanya terjadi disebabkan oleh: Pertama, terbentur pada standar- standar dan norma-norma sosial tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari banyak kebutuhan-kebutuhan biologis yang terpaksa dikekang demi kebahagiaan manusia. Akibatnya orang tua bisa konflik dengan anak-anak remaja, karena masing-masing ingin mempertahankan pola kehidupan, gaya hidup, adat kebiasaan, norma dan standar penilaian sendiri. Lalu terjadilah benturan antar generasi. Untuk orang-orang dan kelompok-kelompok sosial tertentu peraturan, larangan, dan norma-norma yang sudah dibakukan secara sah itu dirasakan sebagai mengikat atau membelenggu dirinya. Bahkan dirasakan sebagai himpitan beban yang menyebabkan tekanan batin, stress, dan penderitaan lahir batin. Dan lambat laun kejadian tersebut berkembang menjadi gangguan penyakit mental.

Kedua, konflik kebudayaan (cultural conflict) yang terjadi di tengah kemelut bertemunya kebudayaan yang beraneka ragam, baik yang berasal dari

(28)

28

kebudayaan luar, ataupun kebudayaan sendiri yang dapat mengakibatkan timbulnya tekanan, bahkan ancaman yang menindas baik terhadap kelompok- kelompok sosial ataupun perorangan yang saling pengaruh-mempengaruhi, terjadilah kemudian macam-macam konflik, berupa:

a. Konflik antar individu dengan masyarakat

b. Konflik antara nilai-nilai dan tingkah laku diantara dua kelompok sosial atau lebih.

c. Konflik-konflik batin dalam diri pribadi, sebagai akibat dari partisipasinya dalam beberapa kelompok sosial yang mengajar nilai-nilai yang kontradiktif, dan mempunyai standar normative yang bertentangan satu sama lain (Kartono, 2000: 31).

Ketiga, masa transisi di Indonesia. Dalam masa transisi sekarang banyak norma-norma sosial dan norma-norma hukum lama yang sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman, sedangkan norma yang baru belum ada.

Akibatnya kontrol sscial dan sanksi sosial jadi kendor, serta menambah ketegangan-ketegangan emosional, konflik-konflik batin yang lebih serius dan derita batin.

Keempat, menanjaknya tingkat aspirasi terhadap kemewahan materil.

Kebudayaan modern sekarang ini dicirikan dengan kebudayaan materil.

Kebahagiaan hidup diukur dengan sukses seseorang, khususnya ditunjukkan pada aspirasi mendapatkan sukses materil. Juga banyak muncul perebutan untuk mendapatkan status sosial yang tinggi. Tak heran jika banyak timbul konflik-konflik dikalangan masyarakat sebagai akibat dari kebudayaan yang terus menerus menjarah.

Kemampuan akan Terpenuhinya kebutuhan individu menjadikan manusia yang sehat. Adapun kegagalan akan memenuhi kebutuhan materil maupun psikologis besar pengaruhnya bagi kesehatan fisik maupun mental seseorang. Kebutuhan dasar yang materil yang sebenarnya menjadikan kebutuhan dasarnya yaitu sandang, pangan, papan (Hawari: 2015: 496).

(29)

29

Sebanarnya kebutuhan yang bersifat psikologis banyak, kita hanya mengetahui sifat-sifat yang umum-umum di kenal saja, yaitu ada enam kebutuhan yang dikenal, seperti kebutuhan akan kasih sayang, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan dihargai, kebutuhan akan pengakuan, kebutuhan akan aktualisasi diri.

E. Efektifitas Terapi Dzikir Dalam Pembinaan Mental Remaja Korban Penyalahgunaan Narkoba

Masalah kesehatan bukanlah persoalan bagi bidang kedokteran saja, karena persoalan fisik akan selalu berkaitan dengan dimensi kehidupan yang lain. Hal tersebut di dasari oleh WHO (World Health Organization) bahwa memberikan definisi tentang kesehatan tidak hanya dari fisik saja, tetapi menyangkut kesehatan psikis, kesehatan sosial, dan kesehatan spiritual yang dikenal dalam istilah Bio-Psiko-Sosial-Spiritual (Hawari, 2015: 6).

Begitupun dalam diri pecandu narkoba sebenarnya mengalami gangguan mental. Banyak cara yang dilakukan oleh pihak bersangkutan untuk melakukan pembinaan mental secara teratur sesuai tingkat kesehatan mental seseorang.

Dengan penyesuaian dan pengenalan gejala sejak awal, maka proses pemulihan mental akan berjalan lebih efektif.

Dzikir merupakan sebuah metode terapi yang akan melahirkan kecintaan dan loyalitas sebagai ruh Islam. Dalam Islam sudah terbiasa mengenal bacaan kalimat tasbih, tahmid, istigfar, takbir, dan tahlil. Tidak jauh berbeda dengan dzikir-dzikir yang lain ini pun mempunyai hubungan terhadap kecerdasan individu. Berikut paparan bacaan-bacaan dzikir yang mampu mencerdaskan individu:

a. Tasbih

Kalimat tasbih yang memiliki makna Allah maha suci. Dengan menyadari diri bahwa Allah Maha Suci, maka dalam dzikir yang khusyu akan muncul rasa kekaguman terhadap kesempurnaan Allah yang serba sempurna. Dengan dzikir melalui kalimat tasbih tersebut merupakan dimensi kecerdasan spiritual (SQ).

(30)

30

Kalimat tasbih akan terinteralisasi ke alam kesadaran dan kecerdasan orang yang bersangkutan apabila kalimat tasbih ini banyak diucapakan, disadari dan direnungkan arti dan maknanya. Bila semakin dalam makna kalimat itu menempel atau melekat dalam alam kesadaran orang yang bersangkutan maka kecerdasan kita akan mencakup keluasan pengetahuan tentang ciptaan Allah. Pada titik inilah dimensi kecerdasaan intelektual kalimat tasbih ditunjukkan Allah melalui hamba-hamba-Nya yang berfikir.

b. Tahmid

Bersyukur atas karunya-NYA merupakan hal yang wajib kita lakukan dalam hidup. Mengucap tahmid merupakan salah satu bentuk bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-nikmat-NYA. Selain bersykur kepada Allah atas segala nikmat-Nya sebagai mahluk sosial pun kita harus mengucapkan terimakasih kepada orang disekeliling kita yang telah membantu kita, yang mana meraka merupakan perantara dari Allah untuk menyampaikan nikmatnya.Sebagai orang yang mempunyai kecerdasan emosi (EQ), tentu tidak akan bersyukur kepada Allah dan mengucapkan terimakasih kepada orang tersebut. Inilah yang disebut dimensi kecerdasan emosional.

Disamping itu, dalam konsep ajaran Islam menjadi pemberi lebih mulia dari pada yang diberi. Oleh karena itu, orang yang mempunyai EQ tinggi akan membalas pemberian orang tersebut dengan sesuatu yang lebih baik. Dengan demikian akan timbul system timbal balik dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Inilah konsep kecerdasan makrifat (MaQ) melalui dzikir dengan kalimat tahmid.

c. Istiqfar

Memohon ampunan kepada Allah dapat dilakukan dengan berdzikir, salah satunya dengan mengucapkan kalimat istigfar.Ucapan kalimat istigfar dalam dzikir harus didasari bahwa dirinya selalu dalam keadaan

(31)

31

salah dan lupa. Yang tak luput dari salah dan lupa hanya Allah yang Maha Sempurna. Adanya kesadaran dalam diri, timbul niat bertaubat kepada Allah. Energy istigfar inilah merupakan termasuk dimensi kecerdasan spiritual (SQ).

Dengan bertaubat, secara otomatis akan muncul niat berbuat baik sebagai penebus kesalahan atau dosa yang telah lama. Sehingga yang mengiringi hidup kita hanya hidayah dan petunjuk-Nya. Inilah dimensi intelektual (IQ) yang muncul dari ucapan istigfar. Maka kita tidak akan lebih mudah menyalahkan orang lain dan lebih menghargai jerih payah orang lain dengan kesadaran yang dimiliki. Inilah yang disebut dengan kecerdasan emosional (EQ). Adanya keberanian untuk menyeru pada kebaikan dan mencegah yang munkar. Inilah konsep kecerdasan makrifat (MaQ) melalui dzikir dengan kalimat istigfar.

d. Takbir

Pada hakikatnya manusia itu adalah makhluk yang lemah, kesadaran ini merupakan dimensi kecerdasan intelektual (IQ) dalam dzikir takbir.

Tugas manusia dimuka bumi ini yang merupakan tugas kemanusiaan (sebagai khalifah), maka perlu adanya persatuan yang dapat memberikan kekuatan baru dan peradaban yang lebih besar. Dalam pelaksanaannya, keegoisan manusia tidak ditampakkan dan tidak saling menindas satu sama lain, apabila dirinya merasa lebih kuat dengan orang lain. Inilah konsep dari kecerdasan emosional (EQ) melalui dzikir takbir. Sementara itu pengakuan jiwa yang tulus terhadap keagungan Allah, ini merupakan konsep dari kecerdasan Spiritual (SQ). Konsep kecerdasan marifat terletak pada kekhusyuan dalam menghayati kalimat takbir dan merasakan kedekatan dengan Allah SWT (Suryadi, 2008: 119).

Dzikir adalah penentram hati dan penenang jiwa serta pencerdas akal pikiran. Tanpa peran dzikir dalam mengahadapi kehidupan yang komplek ini akan menimbulkan permasalahan dan kekacauan. Seperti hal

(32)

32

maraknya penyalahgunaan narkoba pada remaja yang dapat tergangunya mental mereka. Kemampuan untuk berfikir secara rasional serta tidak mampu membuat kerugiaan terhadap diri sendiri dan orang lain akan tercapai ketika memiliki rasa ketentraman jiwa yang didapatkan nya dalam berdzikir.

Dengan demikian adanya penerapan dzikir sebagai bentuk penyembuhan (terapi) akan lebih efektif dalam penanganan mental karena pengaruh dari ketergantungan narkoba, dan dapat menjadikan hati mereka lebih tentram dan damai dunia akhirat. Matthews ( dalam Hawari 2015:

48) menyatakan dalam pertemuan tahunan The America Association For The Advancement of Science pada tahun 1996 antara lain adalah ternyata 75% menyatakan bahwa komitmen agama (berdoa dan berdzikir) menunjukan pengaruh positif pada pasien, hanya 7% yang berkesimpulan bahwa agama tidak baik bagi kesehatan.

Referensi

Dokumen terkait

A mediációs folyamat eljárási garanciáinak megteremtése az irányelv következő követelménye.. cikke rögzíti, hogy bizonyítékszolgáltatásra, így tanúvallomásra

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pelaksanaan manajemen kelas terhadap motivasi belajar siswa pada mata

Untuk memperoleh tambahan informasi mengenai analisi efektifitas tingkat retribusi dan pendapatan pelelangan ikan di TPI Juwana, peneliti melakukan wawancara dengan

SKRIPSI SOSIOLOGI FISIP UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA | 5 Seperti yang diketahui bahwa para mantan pegawai ini kesuamanya meninggalkan pekerjaan lama mereka sebagai

Rekomendasi yang bisa diajukan dari hasil penelitian ini adalah pemerintah Kabupaten Lumajang tetap mempertahankan nilai pengeluaran di sektor ekonomi dan sektor

Puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat- Nya, skripsi yang berjudul “Analisis Komparasi Kinerja Keuangan Bank Perkreditan Rakyat Di

Adapun kendala praktik pembelajaran Akhlak mengunakan teknik Quantum Teaching di SMP Jati Agung ini sebagai berikut: Ruang kelas yang dibawah standar Kemendiknas, sarana

dan karunia-Nya peneliti dapat menyelesaikan laporan penelitian dengan judul “ Hubungan antara Kedisiplinan Menjalankan Sholat Tahajjud dengan Kecerdasan Emosional