PERKAWINAN CAMPURAN
Prof.Dr Zulfa Djoko Basuki,SH MH Fakultas Hukum – UI
Depok, Februari 2014
Pengertian Perkawinan Campuran (GHR)
Menurut Pasal 1 Reglement op de Gemengde Huwelijken (GHR):
“Yang dimaksud dengan perkawinan campuran ialah perkawinan antara orang-orang yang di Indonesia ada di
bawah hukum yang berlainan. Termasuk di sini,
perkawinan berbeda agama, berbeda kewarganegaraan,
dan berbeda golongan penduduk (mengingat adanya
penggolongan penduduk pada masa Hindia Belanda).”
Pengertian Perkawinan Campuran (GHR)
Pasal 7 ayat (2) GHR:
“Perbedaan agama, suku bangsa, keturunan bukan menjadi penghalang
untuk terjadinya suatu perkawinan.”
Akibat Perkawinan Campuran (GHR)
Pasal 2 GHR :
“seorang perempuan yang melangsungkan perkawinan campuran, selama perkawinan itu belum putus, perempuan tersebut tunduk pada hukum suami, baik di bidang hukum publik maupun
hukum perdata.”
Intinya, karena perkawinan campuran, istri
memperoleh status suami.
Pengertian Perkawinan
Campuran (UU No. 1/1974)
Pasal 57 UU No 1/1974:
“Yang dimaksud dengan perkawinan campuran dalam UU ini ialah perkawinan antara dua org yang di
Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarga negaraan dan salah satu pihak
berkewarganegaraan Indonesia.”
Pengertian Perkawinan Campuran menurut UU No. 1/1974 lebih sempit daripada pengertian
yang terdapat dalam GHR karena perkawinan
beda agama tidak termasuk dalam pengertian
Perkawinan Campuran menurut UU No. 1/1974.
Perkawinan Beda Agama (UU No. 1/1974)
Setelah berlakunya UU No.1/1974
UU No1/1974 tidak mengatur perkawinan beda agama.
Pasal 2 ayat (1) UU No. 1/1974: “Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu.”
Dengan demikian tidak ada lagi perkawinan di luar hukum agama masing-masing, sehingga seharusnya perkawinan beda agama tidak dapat lagi dilakukan.
Namun demikian, kenyataannya berbeda.
Perkawinan Beda Agama (UU No. 1/1974)
Dengan berlakunya UU No. 1/1974, ternyata masih dapat dilakukan perkawinan beda agama. Dasar hukumnya: Pasal 66 UU No.1/1974 jo. Pasal 7 ayat (2) GHR.
Pasal 66 UU No 1/1974:
“Untuk perkawinan dan segala sesuatu yg berhubungan dengan perkawinan berdasarkan undang-undang ini, dengan berlakunya undang-undang ini ketentuan-ketentuan yang diatur dalam BW, HOCI, GHR, yang mengatur tentang perkawinan sejauh telah diatur
oleh undang-undang ini dinyatakan dinyatakan tidak berlaku.”
Oleh karena tidak diatur dalam UU No. 1/1974, maka keputusan
Pengadilan Negeri dalam kasus Sumarni v. Medelu menunjuk Pasal 7 ayat (2) GHR yang tidak melarang perkawinan beda agama,
selanjutnya memerintahkan Kantor Catatan Sipil (KCS) untuk menikahkan.
Contoh Kasus Perkawinan Beda Agama
Penetapan PN Jak.Tim
No.151/PDT/P/19888/PN JKT.Timur, ttgl 21 Maret 1988.
Kasus perkawinan beda agama antara
Snoek,Cornelis Hendrik (beragama Budha) dan Siti Nur Aeni Isa (beragama Islam).
Dalam kasus ini perintah pengadilan diikuti dan
perkawinan dilakukan oleh Kantor Catatan Sipil
(KCS).
Contoh Kasus Perkawinan Beda Agama
Kasus Andi Vonny Gany v Petrus Nelwan (Penetapan
PN Jak.Pus No.382/PT/P/1986/PN.JKT.PST, Tgl 11 April 1986, jo Put.MARI No.1400 K/PDT/1986 tgl 20 Januari 1989.
Merupakan putusan terakhir diperbolehkannya
perkawinan beda agama dengan dasar hukum Pasal 66 UU No.1/1974 jo. Pasal 7 ayat (2) GHR.
Sejak 1 Januari 1989 fungsi KCS sebagai instansi yang menikahkan dihapus melalui KEPRES No.12/1983.
KCS hanya berfungsi mencatatkan perkawinan dari pihak non Muslim yang telah sah melangsungkan
perkawinan menurut hukum agama masing-masing.
Jalan Keluar
Menikah di dua instansi: pertama di KUA, setelah itu menikah lagi di Gereja atau sebaliknya .
Menikah di luar negeri secara sipil. Setelah
kembali di Indonesia, melaporkan ke KCS tempat kediamannya.
Dasar hukum: Psl 56 UU No.1/1974.
Jalan keluar ini tidak dianjurkan karena merupakan penyelundupan hukum. Bila timbul sengketa antara
keduanya, salah satu pihak dapat menuntut pembatalan
perkawinan.
lanjutan
Untuk perkawinan yang dilakukan di luar negeri berlaku Pasal 56 UU No. 1/1974, yang pada
pokoknya menyatakan bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan sesuai dengan hukum di mana perkawinan dilangsungkan dan tidak
melanggar UU ini.
Dari segi HPI, sahnya perkawinan yaitu:
Apabila memenuhi syarat formal (Pasal 18 AB/locus regit actum) dan syarat materil (Psl 16 AB).
Perkawinan sipil yang dilakukan di luar negeri itu hanya memenuhi Pasal 18 AB tapi melanggar Pasal16 AB.
lanjutan
Dengan tidak adanya ketentuan yang tegas apakah perkawinan yang dilangsungkan di luar negeri secara menyelundupkan hukum sah atau tidak, seandainyapun dapat diterima bahwa perkawinan itu “sah”, menurut saya perkawinan itu rapuh.
Bila terjadi cekcok dan salah satu pihak minta cerai, pihak lainnya dapat menuntut pembatalan perkawinan karena hanya sah menurut hukum tempat
dilangsungkannya perkawinan, tapi tidak sah menurut hukum Indonesia (melanggar Pasal 2 UU No. 1/1974).
(Ingatlah perkara Riviere).
Perkawinan Beda Kewarganegaraan
Berdasarkan UU No. 62 Tahun 1958 tentang
Kewarganegaraan (UU Kewarganegaraan Lama):
Terhadap kewarganegaraan anak, dianut asas ius sanguinis secara ketat, yaitu seorang anak akan slelalu ikut
kewarganegaraan ayahnya. Apabila ayah adalah seorang WNA, maka anak menjadi WNA, dimanapun anak itu lahir.
Tidak dimungkinkan adanya kewarganegaraan ganda, meskipun anak dilahirkan di negara dengan prinsip ius soli.
Bila terjadi perceraian antara ibu WNI dengan ayah WNA, hak asuh ada pada ibu dan keduanya tinggal di Indonesia, anak rentan untuk dideportasi.
Bagi anak yang berstatus WNA hanya dapat KITAS, yang
diberikan untuk jangka waktu paling lama 1 tahun sejak tanggal masuk ke Indonesia dan dapat diperpanjang paling banyak 5 kali berturut-turut dengan jangka waktu paling lama 1 tahun.
Perkawinan Beda Kewarganegaraan
Dianutnya asas ius sanguinis secara ketat, selain itu
jugamemungkinkan si anak menjadi apatride bila negara ayah menganut ketentuan untuk tidak memberikan
kewarganegaraan bagi anak hasil perkawinan campuran.
Misalnya: The British National Act 1981 yang menyatakan bahwa seorang anak yang lahir dari orang tua
berkewarganegaraan Inggris tidak otomatis menjadi warga negara Inggris kecuali orang tuanya bekerja di Crown Service atau European Community Institution pada saat anak tersebut dilahirkan. Padahal menurut UU No. 62/1958 si anak hanya mendapatkan kewarganegaraan dari ayahnya dan tidak
mendapatkan kewarganegaraan dari ibunya (asas ius
sanguinis).
Perkawinan Beda Kewarganegaraan
Berdasarkan UU No.12 Tahun 2006 tentang
Kewarganegaraan (UU Kewarganegaraan baru):
Anak yang dilahirkan dalam suatu Perkawinan Campuran (lihat definisi Perkawinan Campuran menurut UU No. 1
Tahun 1974) akan memperoleh kewarganegaraan ganda terbatas sampai usia 18 tahun/atau telah menikah. Dalam waktu 3 tahun setelah berumur 18 tahun harus memilih jadi WNI atau WNA.
Berlaku pula bagi anak yang telah lahir sebelum UU ini diundangkan, tetapi si anak belum berumur 18 tahun.
Caranya adalah dengan mendaftar kepada Menhukham
melalui pejabat atau Perwakilan RI paling lambat 4 tahun
setelah diundangkannya UU ini.
Kewarganegaraan Ganda Terbatas
Keuntungan & kerugian kewarganegaraan ganda terbatas:
Keuntungan:
Anak-anak bebas tinggal di dua negara, untuk warga negara Indonesia bebas tinggal di Indonesia tanpa perlu takut dideportasi paling tidak sampiu usia 21 tahun,
dapat menempuh pendidikan di sekolah-sekolah negeri, dan lain sebagainya.
Bila di negara kedua sekolah tidak membayar, dapat
menikmatinya.
Kewarganegaraan Ganda Terbatas
Kerugian:
dengan memegang 2 paspor, dapat dikenakan Wajib Militer bila sudah berumur tertentu;
ada batasan keluar masuk untuk paspor yang dikeluarkan oleh negara satunya;
bila melakukan tindakan-tindakan yang merugikan
baik perdata /pidana, akan berlaku ketentuan tertentu
pula. Mis.: dipakai “lex fori” atau kewarganegaraan
yang efektif sebagai dasar untuk memutus perkara
yang dituduhkan.
Kewarganegaraan Ganda Terbatas
Bagaimana apabila setelah 3 tahun sejak berusia 18 tahun memilih menjadi WNA/WNI?
Apabila memilih menjadi WNI
berlaku Peraturan Menhukham RI No.M.01-HL.03.01/2006 tentang Tatacara Pendaftraran untuk memperoleh kewarganegaraan RI berdasarkan Pasal 41 dan 42 UU No12/2006 Pasal1-8.
dalam peraturan ini yang dimaksud dengan “anak” adalah anak sah dalam Perkawinan Campuran yang lahir sebelum UU No.
12/2006 diundangkan, belum berusia 18 tahun atau belum kawin.
Bila syarat-syarat dalam Pasal 2-6 peraturan ini sudah terpenuhi, Menteri menetapkan keputusan memberikan kewarganegaraan RI, paling lambat 30 hari sejak pendaftaran diterima oleh Pejabat atau Perwakilan RI.
Kewarganegaraan Ganda Terbatas
Apabila memilih jadi WNA tetapi tetap tinggal dan bekerja di Indonesia?
Pasal 54 ayat (1d) UU No.6 Tahun 2011 tentang Imigrasi jo. PP No. 31 Tahun 2013:
“Kepada orang asing ex-WNI dan ex- subyek anak berkewarganegaraan gandat terbatas dapat diberikan Izin
Tinggal Tetap untuk jangka waktu 5 tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu tidak terbatas selama
izinnya tdk dibatalkan.”
Kewarganegaraan Ganda Terbatas
Untuk itu ia wajib melapor ke kantor Imigrasi setiap 5 tahun dan tidak dikenai biaya.
Izin Tinggal Tetap diberikan setelah tinggal tetap di Indonesia selama 3 tahun berturut-turut dan
menandatangani Pernyataan Integrasi kepada Pemenrintah RI.
Izin Tinggal Tetap ini dapat langsung diberikan apabila anak tersebut bekerja/berusaha di Indonesia (Pasal 59
& 60 UU Imigrasi).
Perkawinan Beda Kewarganegaraan
Terhadap status suami/isteri.
Pasal 19 UU No.12 Tahun 2006 jo. Perat Menhukham No.02-HL.05.01/2006:
“WNA yang kawin sah dengan WNI dapat menjadi WNI dengan menyampaikan pernyataan menjadi WNI di depan Pejabat, bila telah tinggal di Indonesia selama 5 tahun berturut-turut atau 10
tahun tidak berturut-turut.”
Bila tidak memungkinkan baginya untuk menjadi WNI
karena akan berakibat kewarganegaraan ganda ,ia dapat
Izin Tinggal Tetap.
lanjutan
Pasal 54 ayat (1) UU Imigrasi jo Psl 49 ayat (1) RPP Imigrasi
Izin Tinggal Tetap diberikan kepada:
Keluarga Perkawinan campuran:
suami, istri dan/atau anak dari asing pemegang Izin Tinggal Tetap (dengan catatan izin ini tidak diberikan bila orang asing tersebut tidak memiliki paspor kebangsaan).Bila punya Izin Tinggal Tetap dapat bekerja di Indonesia.
Izin Tinggal tetap baru bisa diberikan setelah usia
perkawinan mencapai 2 tahun, sudah tinggal menetap di
Indonesia selama 3 tahun berturut-turut dan menandatangani Pernyataan Integrasi kepada Pemerintah RI. (Pasal 59 dan 60 UU jo. Pasal 152,153 RPP Imigrasi).
Izin Tinggal Tetap berlaku untuk 5 tahun dan dapat
diperpanjang untuk jangka waktu tidak terbatas, kecuali
lanjutan
Izin Tinggal Tetap berakhir apabila:
yang bersangkutan meninggal dunia;
yang bersangkutan meninggalkan wilayah RI lebih dari 1 tahun dan tidak bermaksud masuk lagi ke wilayah RI;
menjadi WNI
Izin Tinggal Tetap dibatalkan karena:
yang bersangkutan melakukan tindak pidana terhadap negara;
dikenai Tindakan Administrasi Keimigrasian;
putus perkawinan dengan WNI, kecuali perkawinan telah
berlangsung lebih dari 10 tahun
Mslh Penjaminan
Psl 63 UU/6/2011 tentang Imigrasi: “Orang asing yang ada di Indonesia wajib memiliki Penjamin, antara lain untuk: menjamin keberadaannya di Indonesia, bertanggung jawab terhadap
kegiatan orang tersebut selama di Indonesia,
melaporkan perubahan status keimigrasiannya,
membayar biaya kepulangannya bila izin tinggal
habis, dan lain sebagainya.”
lanjutan
Ketentuan tentang penjaminan tidak berlaku bagi orang asing yang kawin sah dengan WNI, karena pada dasarnya suami/istri bertangung jawab terhadap pasangan atau anak- anaknya.
Pasal 150 PP Imigrasi: Permohonan Izin Tinggal Tetap
diajukan oleh orang asing atau penjamin ke Kantor imigrasi yang wilayahnya meliputi tempat tinggal orang asing
tersebut dengan lampiran:
paspor kebangsaan yang masih berlaku;
fotokopi Izin Tinggal Terbatas yang masih berlaku;
keterangan domisili;
Pernyataan Integrasi;
Rekomendasi dari kementerian/lembaga pemerintah/non kementerian terkait. Bagi anak yang ikut orang tua dengan melampirkan Surat
Penjaminan dari Penjamin, fotokopi Akte kelahiran, Akta Perkawinan orang tua, dan lain sebagainya.
lanjutan
Bagi ex-subyek anak kewarganegaraan ganda terbatas yang memilih kewarganegaraan asing, melampirkan
permohonan dari ayah atau ibu yg WNI, isian formulir penyampaian pernyataan memilih WNA, bukti
pengembalian paspor bagi yang memiliki dan bukti
pengembalian affidavit (Pasal 150 PP Imigrasi).
lanjutan
Sebagai bahan perbandingan, di Malaysia dan Brunei Darussalam; Izin Tinggal Tetap bagi suami istri asing diberikan dengan
syarat: pernikahan sah yang diakui oleh
negara tersebut.
Perkawinan dan Perceraian WNI
yang Dilangsungkan di Luar Negeri
Untuk perkawinan di luar Indonesia, baca dan perhatikan Pasal 56 ayat 1 UU No.1/1974.
dari sudut HPI perkawinan itu harus memenuhi Pasal 18 AB (syarat formal) dan Pasal 16 AB (syarat materil)
Pasal 56 ayat 2 UU No. 1/1974 : “Dalam waktu 1 tahun setelah suami istri kembali ke wilayah
Indonesia, surat bukti perkawinan mereka harus
didaftarkan di Kantor Catatan Sipil yang
(lanjutan)
Ketentuan Pasal 56 ayat (1) yang menyatakan bahwa
perkawinan harus dilangsungkan menurut hukum setempat menimbulkan kesulitan bagi pemeluk Agama Islam, bila di negara tempat perkawinan tersebut berlangsung hanya dikenal perkawinan sipil.
Menurut agama Islam, perkawinan tersebut belum sah apabila belum dilaksanakan akad nikah di hadapan penghulu.
Begitu pula terhadap perkawinan yang dilangsungkan di
hadapan Instansi Islam tertentu di negara asing. Walau
sah menurut agama Islam, tidak akan diakui bila tidak
memenuhi ketentuan Apsal 56 ayat 1 UU No. 1/1974.
(lanjutan)
Contoh: Perkawinan dua orang WNI di Hongkong (lihat buku Hukum Perkawinan).
Untuk mengatasi hal tersebut telah dikelaurkan berbagai peraturan sebagai petunjuk
pelaksanaan, antara lain:
Peraturan Menteri Agama RI No.1/1994 tanggal 2 April 1994, tentang Pendafataran Surat Bukti Perkawinan yang Dilangsungkan di luar negeri dan
Keputusan Bersama Menteri Agama dan Men Luar Negeri
RI No.589/1999,tgl 13/10-1999 No.182/OT/X/99/01 tahun
1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perkawinan WNI di
luar negeri, beserta lampirannya.
lanjutan
Pasal 1 Peraturan Menteri Agama 1994: “bagi WNI beragama Islam yang telah melakukan perkawinan di luar negri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat (1) UU No. 1/1974, paling lambat 1 tahun setelah
mereka kemabli di wilayah Indonesia, surat bukti
perkawinan mereka harus didaftarkan kepada KUA
Kecamatan yang mewilayahi tempat tinggal mereka.”
(lanjut)
Pasal 2 Peraturan Menteri Agama 1994, berkas-berkas yang perlu dilampirkan untuk pendaftaran perkawinan:
foto copy paspor dengan memperlihatkan aslinya;
foto copy surat bukti perkawinan;
foto copy Sertifikat Nikah dari KBRI atau foto copy Akte Nikah dari KBRI atau Surat Keterangan dari KBRI setempat.
Pasal 3 ayat (2) Peraturan Menteri Agama 1994, apabila pegawai KUA ragu akan keabsahan perkawinan
tersebut menurut agama Islam, yang bersangkutan
dapat dinikahkan kembali menurut hukum Islam.
(lanjutan)
Dengan keluarnya SKB antara Menteri Agama dan Menteri Luar Negeri tersebut, hilanglah keragu-raguan mengenai keabsahan perkawinan antara pemeluk agama Islam yang dilangsungkan di laur negeri, karena kini WNI beragama Islam yang ingin menikah dengan sesama WNI atau dengan WNA telah dapat menikah dan mencatatkan perkawinanannya di KBRI atau Perwakilan Indonesia di luar negeri (Pasal 1 dan 2 SKB).
Bila perkawinan terjadi di atas kapal laut, dicatat di daerah di mana kapal berlabuh. Apabila tidak ada Perwakilan RI, perkawinan dicatat pada Perwakilan RI yang mewilayahi daerah kapal tersebut
berlabuh.
(lanjutan)
Untuk melaksanakan tugas menghadiri, mengawasi dan mencatat pelaksanaan nikah dan rujuk umat Islam di
luar negeri diangkat penghulu sebagai pegawai atau petugas yang ditunjuk oleh Perkawinan RI.
Untuk mengantisipasi, suatu peraturan di suatu negara yang mewajibkan pencatatan di KCS setempat, agar suatu perkawinan sah baik menurut hukum maupun menurut hukum Indonesia, diadakan pengaturan
sebagai berikut:
Pernikahan dilangsungkan di bawah pengawasan Penghulu, setelah itu ducatatkan ke KCS setempat;
(lanjutan)
Tata cara pencatatan sesuai dengan ketentuan negara setempat;
Perwakilan RI konsultasi dengan instansi setempat;
Bukti perkawinan dari KCS setempat, didaftarkan dalam buku pendaftaran di Perwakilan RI;
setelah kembali ke Indonesia, paling lamabt dalam waktu 1 tahun, buktu perkawinan harus dicatatkan di KUA yang
mewilayahi tempat tinggal mereka di Indonesia.
Petugas Pencatat Nikah wajib mengirim salinan dokumen
nikah dari yang bersangkutan ke KUA kecamatan tempat
tinggal mempelai perempuan di Indonesia.
(lanjutan)
Tata Cara Perceraian
Alasan-alasan bercerai adalah sama
sebagaimana diatur dalam Pasal 19 PP 9/1975 dan KHI.
Gugatan perceraian diperiksa di pengadilan yang mewilayahi tempat tinggal penggugat atau PA
Jakarta Pusat.