25 April 1986
SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE - 04/PJ.5/1986
TENTANG
PENJELASAN TENTANG BUKTI PERMULAAN ADANYA TINDAK PIDANA DI BIDANG PERPAJAKAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK,
Menunjuk Surat Edaran No. SE-6/PJ.5/1986 tanggal 20 November 1985 perihal Petunjuk pelaksanaan pemeriksaan, khususnya yang berkenaan dengan kewajiban untuk melaporkan ditemukannya bukti permulaan tentang adanya tindak pidana di bidang perpajakan, perlu kiranya disampaikan beberapa penjelasan dan penegasan sebagai berikut :
I.
BUKTI PERMULAAN TENTANG ADANYA PERBUATAN PIDANA DI BIDANG PERPAJAKAN.
Yang dimaksud dengan bukti permulaan adanya perbuatan pidana di bidang perpajakan adalah bukti-bukti, baik berupa tulisan, perbuatan, keterangan ataupun benda-benda yang dapat memberikan petunjuk bahwa suatu tindak pidana di bidang perpajakan telah terjadi atau dilakukan, yang dapat menimbulkan kerugian bagi Negara. Untuk lebih jelasnya disampaikan jenis-jenis perbuatan yang dapat dikelompokkan sebagai bukti permulaan adanya tindak pidana di bidang perpajakan sebagai berikut :
1. Wajib Pajak dengan sengaja tidak mendaftarkan diri.
1.1Setelah diteliti di Seksi PTU ternyata bahwa Wajib Pajak tersebut belum pernah mengisi formulir pendaftaran untuk memperoleh NPWP dan oleh
karenanya belum pernah terdaftar;
dan 1.2Hasil
pemeriksaan menunjukkan bahwa Wajib Pajak mempunyai kegiatan usaha yang terhutang
1.3Tidak terdapat alasan yang sah menurut peraturan perundang- undangan perpajakan mengapa Wajib Pajak tidak
mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak.
2.
Wajib Pajak dengan sengaja menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak. Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa Wajib Pajak dengan sengaja telah menyalahgunakan NPWP-nya atau menggunakan tanpa hak NPWP yang bukan miliknya sehingga dapat menimbulkan kerugian bagi negara.
3. Wajib Pajak tidak menyampaikan SPT.
3.1Setelah diteliti diketahui bahwa Wajib Pajak tidak/belum menyampaikan SPT; dan 3.2Telah
diterbitkan Surat
Tegoran; dan 3.3Tidak terdapat
permohonan Wajib Pajak untuk
menangguhkan penyampaian SPT Tahunan;
dan
3.4Tidak terdapat alasan yang sah menurut peraturan perundang- undangan perpajakan mengapa Wajib Pajak tidak/belum menyampaikan SPT.
Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022
4. Wajib Pajak dengan sengaja menyampaikan SPT yang isinya tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar.
4.1Dari hasil pemeriksaan
diketahui bahwa terdapat perbedaan atau selisih antara yang seharusnya dilaporkan dengan yang telah dilaporkan melalui SPT beserta lampirannya; dan 4.2Apabila keadaan
yang seharusnya dilaporkan itu digunakan sebagai dasar untuk menghitung besarnya jumlah pajak yang terhutang akan menimbulkan
kemungkinan- kemungkinan :
a. apabila WP melapor rugi, kemungkinan ia tidak rugi atau kerugian yang
dialaminya tidak sebesar yang
dilaporkan;
atau
b. apabila WP semula
mengaku untung, kemungkinan keuntungannya lebih besar daripada yang semula
dilaporkannya;
atau
c. apabila WP mengaku lebih setor, kemungkinan lebih setornya tidak seperti yang
dilaporkannya, bahkan
mungkin tidak lebih setor atau mungkin kurang setor.
5. Wajib Pajak dengan sengaja memperlihatkan pembukuan, catatan atau dokumen lain yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar.
Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022
5.1Berdasarkan hasil pemeriksaan ditemukan adanya mutasi atau transaksi yang tidak dicatat di dalam pembukuan, catatan atau dokumen yang
bersangkutan atau dari hasil
pemeriksaan ditemukan adanya buku,
catatan atau dokumen yang serupa dengan yang diperlihatkan atau
diserahkan oleh Wajib Pajak, namun memuat angka-angka atau fakta yang
berbeda; dan
5.2Apabila mutasi atau transaksi tersebut dicatat secara lengkap di dalam pembukuan dan
sebagainya, akan muncul suatu
gambaran baru yang berbeda dengan gambaran sebelumnya tentang keadaan usaha Wajib Pajak. Kalau gambaran baru ini digunakan sebagai dasar untuk menghitung besarnya jumlah pajak yang
terhutang, akan
menunjukkan kemungkinan- kemungkinan serupa dengan yang tersebut pada 4.2. di atas.
6. Wajib Pajak dengan sengaja tidak bersedia memperlihatkan atau meminjamkan pembukuan, catatan atau dokumen lainnya.
Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022
6.1Dari data-data yang ada dapat diketahui bahwa permintaan untuk meminjam buku-buku dan sebagainya itu telah
disampaikan kepada WP, baik secara lisan maupun tertulis dan WP mengerti akan permintaan tersebut; dan 6.2Penghitungan
jumlah pajak yang terhutang dengan benar menjadi sulit bahkan
mustahil dilakukan tanpa adanya buku-buku dan sebagainya itu;
dan
6.3Tidak terdapat alasan yang sah menurut peraturan perundang- undangan perpajakan mengapa WP tidak bersedia memperlihatkan dan atau meminjamkan buku-buku dan sebagainya itu.
7. Wajib Pajak dengan sengaja tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut.
7.1Dari hasil pemeriksaan diperoleh bukti bahwa WP benar-benar telah melakukan pemotongan pajak (PPh Psl 21, 23 dan atau 26) dan atau melakukan pemungutan pajak (PPh Psl 22 dan atau PPN); dan 7.2Dari bukti-
bukti setoran ternyata bahwa yang disetorkan hanya sebagian saja atau bahkan tidak ada yang disetor sama sekali; dan 7.3Tidak terdapat
alasan yang sah menurut
peraturan perundang- undangan perpajakan yang dapat membenarkan mengapa WP hanya
menyetorkan pajak
sebahagian saja atau tidak menyetorkannya sama sekali.
II. LAPORAN ADANYA BUKTI-BUKTI PERMULAAN.
1.
Dalam hal petugas Pemeriksa menemukan bukti-bukti permulaan sebagaimana tersebut di atas, maka petugas dimaksud wajib melaporkan hal tersebut kepada :
a. KIP yang akan meneruskannya kepada Kakanwil, apabila ia selaku petugas Pemeriksa di IP;
b. Kabid Pengusutan yang akan meneruskannya kepada Kakanwil, apabila ia selaku petugas Pemeriksa di Kanwil. Selanjutnya para Kakanwil meneruskan hal tersebut kepada Direktur Jenderal Pajak yang akan memberikan petunjuk mengenai tindak lanjutnya.
2.
Pelaporan oleh Kakanwil kepada Direktur Jenderal Pajak dilakukan dengan mengirimkan laporan pemeriksaan yang bersangkutan dengan tambahan catatan Kakanwil tentang bukti-bukti permulaan yang ditemukan serta kaitannya dengan tindak pidana perpajakan yang dilakukan. Mengingat pengajuan perkara pidana perpajakan ke
Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022
muka Pengadilan ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakan secara nasional, agar para Kakanwil mulai Triwulan I 1986/1987 masing-masing dapat mengirimkan 2 berkas laporan pemeriksaan kepada Direktur P2W sebagai bahan penyiapan penyidikan lebih lanjut.
3.
Pengiriman berkas laporan pemeriksaan tersebut pada angka 2 di atas oleh para Kakanwil dilakukan dalam sampul khusus rangkap 2 (dua) melalui Kurir Khusus, pos tercatat atau Kilat Khusus yang ditujukan langsung kepada Direktur P2W (pribadi). Dalam hal terdapat permasalahan yang masih perlu mendapat penjelasan lebih lanjut hendaknya Saudara segera menghubungi Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (Direktur P2W) untuk konsultasi lebih lanjut.
4.
Tidak berlebihan untuk ditegaskan disini, bahwa apabila ditemukan bukti permulaan yang menimbulkan dugaan kuat telah terjadi tindak pidana perpajakan seperti dijelaskan di atas, maka harus dilakukan pengamanan terhadap semua pembukuan, catatan dan dokumen yang mendukung adanya dugaan tersebut dengan cara membuat catatan yang terinci tentang peminjaman pembukuan, catatan dan dokumen tersebut, serta menyimpannya di tempat yang khusus. Demikian pula sebagai pengamanan intern, berkas Wajib Pajak yang bersangkutan harus juga diamankan dan disimpan secara khusus pula.
Demikian untuk mendapat perhatian Saudara.
DIREKTUR JENDERAL PAJAK ttd
Drs. SALAMUN A.T.