11 Juli 2001
SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE - 04/PJ.7/2001
TENTANG
PEMERIKSAAN SEDERHANA LAPANGAN
DALAM RANGKA EKSTENSIFIKASI WAJIB PAJAK DAN INTENSIFIKASI PAJAK DIREKTUR JENDERAL PAJAK,
Pemeriksaan dalam rangka ekstensifikasi Wajib Pajak dan intensifikasi pajak terhadap Wajib Pajak baru dilaksanakan melalui Pemeriksaan Sederhana Lapangan (PSL). Pelaksanaan kegiatan pemeriksaan tersebut termasuk dalam ruang lingkup pemeriksaan sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 545/KMK.04/2000 tanggal 22 Desember 2000 tentang Tata Cara Pemeriksaan Pajak.
Sehubungan dengan diterbitkannya Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-06/PJ.9/2001 tanggal 11 Juli 2001 tentang Pelaksanaan Ekstensifikasi Wajib Pajak dan Intensifikasi Pajak, dengan ini diberikan penegasan sebagai berikut:
1.
Ruang Lingkup dan Jangka Waktu Pemeriksaan:
1.1.PSL ekstensifikasi dilaksanakan terhadap Wajib Pajak di wilayah pemukiman yang apabila lebih dari 14 (empatbelas) hari setelah dikirimi pemberitahuan (beserta lampirannya) untuk mendaftarkan diri, Wajib Pajak:
a. tidak
menanggapi/merespon dan
telah dikukuhkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan atau Pengusaha Kena Pajak (PKP)- nya secara jabatan;
b. menanggapi dengan menyatakan tidak wajib memiliki NPWP dan atau belum perlu dikukuhkan sebagai PKP;
c. menanggapi dengan menyatakan sudah memiliki NPWP dan atau telah dikukuhkan sebagai PKP dan
berdasarkan hasil konfirmasi data Master File Lokal, Wajib Pajak tersebut telah benar- benar terdaftar namun menurut data yang ada ternyata usaha Wajib Pajak juga terdapat di lokasi yang berbeda;
d. menanggapi dengan menyatakan sudah memiliki NPWP dan
dikukuhkan sebagai PKP di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) lain;
atau e. Surat
himbauan kembali dari Kantor Pos (Kempos).
1.2.
PSL Ekstensifikasi dilaksanakan terhadap seluruh Wajib Pajak yang memiliki usaha di sentra perdagangan atau pembelanjaan atau pertokoan atau perkantoran atau mal atau plaza atau sentra ekonomi lainnya dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah dikirimi Pemberitahuan.
1.3.PSL intensifikasi pajak dapat dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan ekstensifikasi, dalam hal:
a. ditemukan adanya kewajiban perpajakan yang belum dipenuhi oleh Wajib Pajak Baru, dan petugas memberikan formulir tata cara
penghitungan besarnya PPh Pasal 25 kepada Wajib Pajak untuk diisi;
b. ditemukan adanya kewajiban tahun- tahun sebelumnya (sepanjang belum melewati batas daluarsa pembayaran Pajak) yang belum dilaksanakan oleh
Wajib Pajak yang
bersangkutan, dan
petugas segera membuat usulan pemeriksaan khusus;
c. ditemukan Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu, dan petugas mendaftarkan Wajib Pajak tersebut serta
memberitahukan cara
penghitungan pembayaran PPh
Pasal 25 sesuai ketentuan yang berlaku, yaitu 1%
dari peredaran usaha disetiap lokasi usahanya;
d. ditemukan PKP Pedagang Eceran yang belum dikukuhkan sebagai PKP, dan petugas
memberitahukan cara
penghitungan pembayaran PPN terutang sesuai ketentuan, termasuk jenis pajak lainnya yang terutang, seperti PPh Pasal 21, PPh Pasal 23/26, PPh Pasal 4 (2), dan
PBB/BPHTB;atau e. ditemukan
Wajib Pajak yang perlu ditetapkan besarnya omzet PPh dan PPN terutang, dan petugas memberitahu tata
cara
penghitungan omzetnya sesuai ketentuan yang diatur dalam lampiran 1 Surat Edaran ini.
1.4.
Jangka waktu PSL dalam rangka ekstensifikasi dan intensifikasi ini ditentukan lebih pendek dari kegiatan PSL pada umumnya, yaitu harus diselesaikan dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari dan tidak dapat diperpanjang dihitung sejak tanggal Surat Perintah Pemeriksaan Pajak (SPPP) diterbitkan atau 7 (tujuh) hari sejak SPPP diterima dari Kepala KPP dalam hal pemeriksaan dilakukan oleh petugas dari Kantor Penyuluhan Pajak (Kapenpa).
2.
Unit Pelaksana Pemeriksaan Pajak: PSL dalam rangka ekstensifikasi dan intensifikasi ini dapat dilakukan oleh petugas KPP, Kapenpa dan petugas lain yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Wilayah (Ka Kanwil) DJP sebagaimana dimaksud dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-06/PJ.9/2001.
3.
Rencana Pemeriksaan: Agar pemeriksaan ini dapat mencapai tujuan yang dharapkan maka pelaksanaan PSL harus direncanakan sebaik-baiknya dengan ketentuan sebagai berikut:
3.1.
Rencana pemeriksaan kegiatan ekstensifikasi dan
intensifikasi disusun berdasarkan hasil yang diperoleh atas pemberitahuan yang telah dikirimkan kepada Wajib Pajak
sebagaimana dimaksud dalam butir 1.1. dan selanjutnya dituangkan dalam Daftar Nominatif Wajib Pajak yang akan dilakukan PSL dalam rangka
ekstensifikasi dan
intensifikasi.
Daftar
Nominatif ini dibuat setiap triwulan, paling lambat setiap tanggal 20 bulan berikutnya.
Bentuk dan petunjuk pengisian Daftar Nominatif tersebut adalah sebagaimana Lampiran 2 Surat Edaran ini.
3.2.
Rencana pemeriksaan sebagaimana dimaksud butir 3.1 diatas
selanjutnya disampaikan kepada Kepala KPP untuk
memperoleh persetujuan.
Dalam hal terdapat pemeriksaan yang akan dilakukan oleh Kapenpa setempat, rencana pemeriksaan agar dibuat dalam daftar tersendiri (dengan menggunakan bentuk
formulir yang sama) dan dikirimkan ke Kapenpa yang
bersangkutan bersama- sama dengan SPPP yang telah
ditandatangani oleh Kepala KPP.
3.3.
Rencana pemeriksaan yang telah disetujui oleh Kepala KPP dikirimkan kepada Ka Kanwil DJP atasannya sebagai bahan pengawasan dan tembusan kepada KPDJP c.q Direktorat Informasi Perpajakan.
4.
Pelaksanaan Pemeriksaan:
4.1.
PSL dalam rangka
Ekstensifikasi dan intensifikasi ini dilaksanakan berdasarkan SPPP yang ditandatangani oleh Kepala KPP dengan menggunakan formulir SPPP sebagaimana yang umum digunakan dalam pemeriksaan Pajak lainnya dan mengisi kolom tujuan pemeriksaan dengan "Dalam rangka
ekstensifikasi dan intensifikasi pajak.
4.2.
SPPP diterbitkan berdasarkan rencana pemeriksaan sebagaimana dimaksud butir 3.2 diatas dan pemeriksaan dilakukan oleh petugas yang ditunjuk
sebagaimana telah ditentukan dalam butir 2 Surat Edaran ini. Petugas yang
melaksanakan pemeriksaan ini sekurang- kuranganya terdiri dari 2 (dua) orang, yaitu 1 (satu) orang selaku penanggung jawab dan seorang lainnya sebagai anggota tim.
4.3.
Pemeriksaan dilaksanakan dengan
memperhatikan ketentuan sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Direktur Dirjen Pajak Nomor : SE-06/PJ.9/2001 .
4.4.
Petugas yang melaksanakan PSL dalam rangka
pengukuhan PKP harus melakukan klarifikasi kepada kelurahan tempat KTP Wajib
Pajak/Pengurus tersebut diterbitkan.
4.5.
Dalam hal petugas PSL tidak
menemukan alamat calon Wajib Pajak sebagaimana tertera dalam SPPP atau calon Wajib Pajak tidak
diketahui/dikenal oleh lingkungan masyarakat sekitarnya, maka harus dibuktikan dengan surat keterangan dari aparat
Pemerintah Daerah
setempat. Surat Keterangan tersebut merupakan kelengkapan dari LPP petugas PSL ini.
4.6.
Hasil akhir PSL ini dituangkan dalam LPP dan setiap LPP harus memuat kesimpulan dan usul tentang tindak lanjut dari
pemeriksaan tersebut antara lain berupa pemberian NPWP dan atau pengukuhan PKP secara jabatan beserta perkiraan besarnya Pajak terutang dan penentuan besarnya
angsuran PPh Pasal 25 dalam tahun berjalan, dan usulan untuk
ditindaklanjuti dengan pemeriksaan khusus dalam hal ditemukan adanya data tentang obyek Pajak yang cukup material, baik untuk tahun berjalan maupun tahun- tahun
sebelumnya dan atau
ditemukannya data
sebagaimana dimaksud dalam
4.7.
Apabila hasil PSL tersebut mengusulkan untuk dilakukan pemeriksaan khusus, maka prosedur
pengajuan pemeriksaan khusus berpedoman pada ketentuan Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor : SE- 03/PJ.7/2001 tanggal 6 Juni 2001 tentang Kebijaksanaan Pemeriksaan (Seri
Pemeriksaan 01- 01). Pengajuan usul
pemeriksaan tersebut harus dilampiri
dengan LPP hasil PSL Ekstensifikasi Wajib Pajak yang
bersangkutan.
5.
Pengawasan:
5.1.
Kepala KPP bertanggung jawab untuk pelaksanaan PSL
ekstensifikasi Wajib Pajak dan
intensifikasi pajak di wilayahnya dan
melaporkan perkembangan kegiatan PSL ini kepada Kepala Kanwil DJP atasannya sesuai ketentuan yang berlaku.
Laporan hasil kegiatan PSL ekstensifikasi dan
intensifikasi ini dibuat setiap bulan, paling lambat diterima Kepala Kanwil DJP atasannya tanggal 20 bulan
berikutnya.
5.2.
Apabila dianggap perlu, untuk keperluan pengawasan Kepala Kanwil DJP dapat
melakukan peer review secara uji petik
terhadap pelaksanaan PSL oleh KPP
diwilayah kerjanya.
Surat Edaran ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan dengan diterbitkannya Surat Edaran ini maka Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE- 18/PJ.7/1996 tanggal 22 Oktober 1996 tentang Pemeriksaan Sederhana Lapangan dalam Rangka Ekstensifikasi Wajib Pajak dinyatakan tidak berlaku.
Demikian untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.