• Tidak ada hasil yang ditemukan

UJI DAYA HASIL GALUR-GALUR HARAPAN WIJEN (Sesamum indicum L.) PADA LAHAN SETELAH PADI DI DESA SIWAL BAKI SUKOHARJO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "UJI DAYA HASIL GALUR-GALUR HARAPAN WIJEN (Sesamum indicum L.) PADA LAHAN SETELAH PADI DI DESA SIWAL BAKI SUKOHARJO"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

UJI DAYA HASIL GALUR-GALUR HARAPAN WIJEN (Sesamum indicum L.) PADA LAHAN SETELAH PADI

DI DESA SIWAL BAKI SUKOHARJO

SKRIPSI

Jurusan/Program Studi Agronomi

Oleh :

CHANDRA HADI W.S H0104053

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA 2011

(2)

commit to user

UJI DAYA HASIL GALUR-GALUR HARAPAN WIJEN (Sesamum indicum L.) PADA LAHAN SETELAH PADI DI

DESA SIWAL BAKI SUKOHARJO

Skripsi

Jurusan/Program Studi Agronomi

Oleh :

CHANDRA HADI W.S H0104053

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA 2011

(3)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user ii

UJI DAYA HASIL GALUR-GALUR HARAPAN WIJEN (Sesamum indicum L.) PADA LAHAN SETELAH PADI DI DESA SIWAL BAKI SUKOHARJO

Yang dipersiapkan dan disusun oleh :

CHANDRA HADI W.S H0104053

telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal :

dan dinyatakan telah memenuhi syarat

Susunan Tim Penguji

Surakarta, Juli 2011

Universitas Sebelas Maret Fakultas Pertanian

Dekan

Prof. Dr. Ir. Bambang Pudjiasmanto, MS NIP. 195602251986011001

Ketua

Dr. Ir. Djati W. Djoar, Ms NIP. 195102021980031003

Anggota I

Dr. Ir. Rully Dyah Purwati, M.Phil NIP. 195805021985032002

Anggota II

Dr. Samanhudi, SP. MSi NIP. 196806101995031003

(4)

commit to user iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “UJI DAYA HASIL GALUR-GALUR HARAPAN WIJEN (Sesamum indicum L.) PADA LAHAN SETELAH PADI DI DESA SIWAL BAKI SUKOHARJO” ini dengan baik dan lancar. Skripsi ini disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh derajat sarjana S1 Pertanian di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis mendapatkan bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Prof. Dr. Ir. Bambang Pudjiasmanto, MS selaku Dekan Fakultas Pertanian

Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Dr. Ir. Djati Waluyo Djoar, MS selaku pembimbing utama yang telah memberikan saran dan sumbangan pemikiran kepada penulis selama pelaksanaan penelitian sampai penyusunan skripsi ini.

3. Dr. Ir. Rully Dyah Purwati, M.Phil selaku pembimbing pendamping atas masukan dan saran dalam penelitian hingga akhir penyusunan skripsi ini.

4. Dr. Samanhudi, SP. MSi selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan dan saran pada skripsi ini.

5. Ir. Praswanto, MS selaku pembimbing akademik penulis.

6. Keluarga tercinta dan teman-teman Agronomi , serta semua pihak yang telah membantu terselesaikannya penyusunan skripsi ini.

Akhir kata, tak ada gading yang tak retak. Untuk itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan di waktu yang akan datang. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Surakarta, Juli 2011

Penulis

(5)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user iv

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

RINGKASAN ... viii

SUMMARY ... ix

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... ... 1

B. Perumusan Masalah ... 3

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Hipotesis ... 4

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman Wijen ... 5

B. Manfaat Wijen ... 8

C. Syarat Tumbuh Wijen ... 10

D. Budidaya Tanaman Wijen ... 11

E. Uji Daya Hasil ... 15

III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 17

B. Bahan dan Alat Penelitian ... 17

C. Rancangan Penelitian ... 17

D. Pelaksanaan Penelitian ... 17

E. Parameter Pengamatan ... 19

F. Analisis Data ... 20

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Tinggi Tanaman ... 21

(6)

commit to user v

B. Jumlah Cabang tiap Tanaman ... 22

C. Jumlah Kapsul tiap Tanaman ... 24

D. Jumlah Biji per Kapsul Tanaman ... 24

E. Umur Berbunga ... 26

F. Umur Panen ... 28

G. Berat 1000 Biji tiap Tanaman ... 28

H. Hasil Biji Kering per Petak ... 29

V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 31

B. Saran ... 31

DAFTAR PUSTAKA ... 32

LAMPIRAN ... 35

(7)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user vi

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

1. Perkembangan volume ekspor-impor komoditas wijen ... 7

2. Komposisi kimia biji wijen berkulit per 100 gram ... 8

3. Kandungan dan komposisi gizi dalam tiap 100 gram biji dan minyak wijen ... 9

4. Hasil analisis ragam peubah pangamatan 16 galur dan 2 varietas tanaman wijen ... 21

5. Rerata Jumlah cabang pada tanaman wijen ... 23

6. Rerata Jumlah biji per kapsul pada tanaman wijen ... 25

7. Rerata saat umur berbunga tanaman wijen dalam 41 HST ... 27

(8)

commit to user vii

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1. Analisis ragam tinggi tanaman ... 35

2. Uji DMRT tinggi tanaman ... 35

3. Analisis ragam jumlah cabang ... 36

4. Rerata jumlah cabang pada tanaman wijen ... 36

5. Analisis ragam jumlah kapsul ... 36

6. Uji DMRT jumlah kapsul ... 37

7. Analisis ragam umur panen ... 37

8. Uji DMRT umur panen ... 38

9. Rerata saat umur berbunga tanaman wijen dalam 41 hari (HST) ... 38

10. Analisis ragam biji per kapsul ... 39

11. Rerata jumlah biji per kapsul pada tanaman wijen... 39

12. Analisis ragam berat 1000 biji ... 39

13. Uji DMRT berat 1000 biji ... 40

14. Analisis ragam hasil biji kering per petak ... 40

15. Uji DMRT hasil biji kering per petak ... 41

16. Tanaman wijen umur 5 HST ... 41

17. Tanaman wijen umur 41 HST ... 42

18. Tanaman wijen umur 90 HST ... 42

19. Kapsul tanaman wijen ... 42

20. Denah lokasi penelitian ... 43

(9)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user viii

UJI DAYA HASIL GALUR-GALUR HARAPAN WIJEN (Sesamum indicum L.) PADA LAHAN SETELAH PADI

DI DESA SIWAL BAKI SUKOHARJO

Chandra Hadi W.S H 0104053

RINGKASAN

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai keragaman genotip beberapa galur harapan wijen dan varietas. Penelitian dilaksanakan bulan Juli sampai dengan November 2009 di Desa Siwal, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo. Tempat penelitian terletak pada ketinggian 98 m dpl (meter diatas permukaan laut), curah hujan rata-rata 22 mm/hari dan suhu udara sekitar 320C. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 3 ulangan. Ukuran petak yang digunakan adalah 8 m x 6 m, dengan jarak tanam 60 cm x 25 cm, dengan 2 tanaman per lubang. Ke 16 galur dan 2 varietas pembanding sebagai kontrol yang diuji yaitu galur 99001/8/3, 99001/9/1, 99001/9/3, 99001/9/7, 99001/10/3, 99001/10/9, 99001/14/3, 99001/15/2, 99001/15/4, 99002/2/7, 99002/5/3, 99002/7/3, 99002/7/5, 99002/7/10, 99003/11/10, 99003/28/5, dan 2 varietas SBR 1, SBR. 4. Analisis data menggunakan ragam berdasarkan uji F 5%, apabila terdapat beda nyata maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 16 galur dan 2 varietas yang diuji memiliki perbedaan sifat pada variabel tinggi tanaman, jumlah kapsul tiap tanaman, umur panen, berat 1000 biji, hasil biji kering per petak, dan tidak memiliki perbedaan sifat pada variabel jumlah cabang tiap tanaman, jumlah biji per kapsul tiap tanaman dan umur berbunga. Dari 16 galur yang diuji pada semua variabel yang diamati tidak berbeda nyata dengan 2 varietas sebagai kontrol. Pada hasil biji kering per petak, dari 16 galur yang diuji memiliki hasil tertinggi adalah galur 99001/10/3 dengan hasil 7,667 kg per petak atau sekitar 1,6 ton per hektar sedangkan galur terendah pada galur 99002/7/5 yaitu sebesar 5,933 kg per petak atau sekitar 1,2 ton per hektar.

Kata kunci: uji daya hasil, galur, wijen, Sesamum indicum L.

(10)

commit to user ix

The produce ability test of sesame (Sesamum indicum L.) on Former Paddy land in Siwal Village Baki Sukoharjo

Chandra Hadi W.S H 0104053

SUMMARY

The study was aimed to get information about genotypic diversity in several expectations strains and varieties of sesame. The research was conducted in July, 2009 to November, 2009 in Siwal village, Baki, Sukoharjo. It’s located in altitude of 98 m asl (above sea level), 22 mm/day rainfall average and air temperature around 32

oC. The experiment established to Complete Block Randomized Design (RAKL) with 3 replicates. The plot size is 8 m x 6 m with 60 cm x 25 cm clearance and 2 seed per hole. The 16 strains are 99001/8/3, 99001/9/1, 99001/9/3, 99001/9/7, 99001/10/3, 99001/10/9, 99001/14/3, 99001/15/2, 99001/15/4, 99002/2/7, 99002/5/3, 99002/7/3, 99002/7/5, 99002/7/10, 99003/11/10, 99003/28/5 and 2 varieties were tested as control are SBR. 1, SBR.4. Data analyzed by analysis of variance with F test 5%, if there are real significant differences among them, so continued to Duncan's Multiple Range Test (DMRT) at 5% level.

The result of this research shown that 16 strains and 2 varieties have differences in some variables, they are: plant height, number of capsules per plant, harvest time, 1000 seeds weight, seeds biomass per plot. There are no differences in the number of branches per plant variables and flowering time. Between 16 strains and 2 varieties as a control no have real significant. Based on the result from 16 strains, 99001/10/3 is the highest strain that can produce 7.667 kg per plot seeds biomass or about 1.6 ton per hectare, then the lowest is 99002/7/5 with the number of yield is 5.993 kg per plot or about 1.2 ton per hectare.

Key word : the produce ability test, strains, sesame, Sesamum indicum L.

(11)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Wijen (Sesamum indicum L.) merupakan salah satu komoditas yang mempunyai nilai ekonomis yang relatif tinggi. Menurut Anonim (2008a), wijen baik dalam bentuk biji maupun minyaknya dapat digunakan sebagai bahan makanan di berbagai negara. Konsumsi biji dan minyak wijen dunia selalu meningkat dan kedua komoditas ini telah diperdagangkan antar negara.

Kebutuhan dunia akan biji wijen selalu lebih tinggi daripada produksi, sehingga kekhawatiran akan kelebihan produksi dari pengembangan komoditas ini tidak akan terjadi.

Wijen merupakan tanaman minyak nabati, bijinya dapat digunakan untuk aneka industri dan minyak. Biji wijen mengandung 35–57% minyak, 19-25% air, serat dan abu. Minyak wijen mengandung anti oksidan, sesamin, dan sesamolin, sehingga dapat disimpan lebih dari satu tahun tanpa mengalami kerusakan (tengik) (Suddhiyam dan Maneekhao, 1987). Minyak wijen mengandung asam lemak jenuh rendah, sangat baik untuk kesehatan.

Tanaman wijen dapat merupakan sumber protein di wilayah kering (Weiss, 1971). Hal ini menunjukkan bahwa tanaman ini sesuai dengan kondisi agroekosistem daerah kering.

FAO (1990), mengemukakan bahwa produksi wijen di Indonesia sejak tahun 1987 menurun sangat drastis, sehingga tahun 1988 kedudukan Indonesia dari negara pengekspor berubah menjadi negara pengimpor wijen yang setiap tahun jumlahnya cenderung meningkat, Pada tahun 2001 mencapai 3.722,472 ton biji dan 218,081 ton minyak (BPS, 2001).

Wijen telah lama dibudidayakan di Indonesia, terutama di sentra pengembangan wijen yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, NTB, NTT, Sul Sel, Gorontalo, dan Lampung, tetapi produktivitas wijen petani masih sangat rendah sekitar 400 kg/ha, padahal hasil penelitian dapat mencapai diatas 1000 kg/ha, bahkan pada pengujian awal galur-galur yang diuji bisa mencapai >2,0 ton/ha. Rendahnya produktivitas wijen diantaranya karena petani masih

(12)

commit to user

menggunakan varietas lokal yang tingkat produktivitasnya sangat rendah, dengan teknik budidaya seadanya.

Budidaya wijen di Indonesia belum tersentuh teknologi maju, tetapi produktivitas wijen ditingkat petani telah mencapai 400 kg/ha. Sedang hasil percobaan mencapai 1.500 kg/ha, sehingga masih berpeluang untuk ditingkatkan. Mengingat rerata produktivitas wijen dunia 80-2.000 kg/ha, maka budidaya wijen di Indonesia akan mampu bersaing. Budidaya wijen memiliki daya saing yang kompetitif, karena budidaya wijen secara mekanisasi sulit dilakukan. Kondisi dan sifat polong buah yang kuat melekat pada batang, membuat tidak ada pilihan lain dalam pemanenan dan proses pengambilan biji yang diambil secara manual. Peningkatan produksi wijen di dalam negeri berdampak luas, karena biji wijen dimanfaatkan dalam berbagai industri, baik industri rumah tangga sampai industri dalam skala besar.

Dengan pertimbangan peluang pengembangan tersebut, maka pemanfaatan tanaman beserta implikasinya yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan, persaingan pasar di era globalisasi dan posisi Indonesia sebagai produsen wijen yang tak akan tersaingi oleh negara maju, maka tidak mangherankan manakala ke depannya wijen menjadi komoditas unggulan.

Pengalaman petani untuk mengantisipasi kekeringan pada tahun 2003 di Kabupaten Sukoharjo dan Rembang dengan mencoba menanam wijen di lahan sawah setelah padi dan ternyata hasilnya dapat dirasakan oleh petani.

Mutu wijen yang ditanam pada musim kemarau jauh lebih baik daripada musim hujan dengan kisaran produksi antara 600-1.400 kg/ha dengan kualitas yang baik. Sehingga dapat memacu minat petani dalam membudidayakan wijen pada musim kemarau berikutnya karena pengembangan wijen di lahan sawah sesudah padi cukup baik karena ketersediaan lahan yang cukup luas, potensi produksi tinggi, jaminan ketersediaan air cukup, biaya lebih murah dengan risiko kegagalan rendah, dan dapat meningkatkan kesuburan tanah

Pengembangan wijen disamping di lahan kering pada musim penghujan, pada tahun-tahun terakhir banyak juga dilakukan di lahan sawah sesudah padi I (MK-I) maupun (MK-II) pada musim kemarau. Seperti di

(13)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

3

kabupaten Nganjuk, Sukoharjo, Sragen dan Sampang Hasil penelitian selama ini baru di lahan kering pada musim penghujan, sedangkan pada musim kemarau di lahan sawah sesudah padi belum banyak dilakukan. Untuk itu perlu adanya varietas wijen yang sesuai untuk lahan sawah sesudah padi dengan teknik budidayanya.

Untuk mendapatkan varietas unggul yang berdaya hasil tinggi, interaksi varietas dengan lingkungan sangat penting artinya bagi pemulia tanaman.

Hasil percobaan tanaman wijen dan tanaman lain di beberapa lokasi sering menunjukkan perbedaan hasil atau ketidak mantapan hasil pada lingkungan atau lokasi lain. Keadaan ini menyulitkan pemulia tanaman dalam memilih suatu galur atau varietas. Stratifikasi lingkungan berdasarkan persamaan faktor-faktor lingkungan makro seperti kesuburan tanah, elevasi dan iklim secara efektif dapat mengurangi besarnya interaksi tersebut. Perakitan varietas yang cocok untuk masing-masing lingkungan lebih mudah dari pada mengubah faktor lingkungan yang ada (Suwarno et al., 1984).

B. Perumusan Masalah

Produktivitas wijen di tingkat petani masih rendah baru sekitar 400 kg/ha, padahal produktivitas wijen galur-galur unggul baru dapat mencapai >

1,0 ton/ha (1,4–2,3 ton biji/ha). Peluang untuk meningkatkan produksi wijen dalam negeri masih cukup besar, karena wijen sudah dikenal dan diminati oleh petani kecil, budidaya relatif mudah, input rendah dan mudah ditumpangsarikan dengan tanaman pangan atau tanaman industri.

Akhir-akhir ini, pengembangan wijen meluas ke lahan sawah sesudah padi di musim kering. Namun teknologi budidaya untuk lahan sawah sesudah padi pada musim kemarau belum banyak diketahui. Sedangkan untuk peningkatan produktivitas wijen di lahan sawah sesudah padi, diperlukan varietas unggul dengan teknik budidaya yang tepat. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dilakukan evaluasi potensi hasil genotip-genotip wijen untuk lahan sawah sesudah padi. Dari hasil penelitian ini diharapkan diperoleh genotip-genotip unggul yang potensi produksinya > 1,3 ton/ha.

(14)

commit to user

Penggunaan varietas unggul yang sesuai untuk lahan sawah sesudah padi dengan teknologi budidaya yang tepat akan dapat meningkatkan produktivitas lahan, dan produktivitas tanaman wijen pada lahan sawah setelah padi.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui hasil galur tanaman wijen pada lahan sawah.

2. Untuk memperoleh galur wijen yang berproduksi tinggi pada lahan sawah.

D. Hipotesis

Dari genotip-genotip wijen yang diskrining terdapat genotip yang sesuai untuk lahan sawah sesudah padi.

(15)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

5

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Tanaman Wijen

Tanaman wijen berasal dari India, hampir separuh dari produksi wijen di dunia dihasilkan oleh Cina dan hampir sepertiganya dihasilkan oleh negara-negara di Asia seperti India, Birma, Turki, Mesir dan sejumlah kecil dihasilkan di Afrika dan Meksiko (Ketaren, 1986). Menurut Ochse et.al., (1961) dalam Handajani et. al. (2006a), jumlah spesies dari tanaman yang memilki genus Sesamum ini cukup banyak, tetapi yang telah berhasil diidentifikasi baru sebanyak 18 spesies, antara lain Sesamum alatum, Sesamum angolense, Sesamum angustifolium, Sesamum indicum, Sesamum laciniatun, Sesamum latifolium, Sesamum occidentale, Sesamum protatum, dan Sesamum radiatum. Spesies yang banyak dikembangkan di Indonesia adalah spesies Sesamum indicum.

Tanaman wijen menurut Rheneen (1981) dalam Handajani et. al.

(2006b) memiliki taksonomi sebagai berikut : Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae Kelas : Dycotyledoneae Ordo : Solanes (Tubiflorae) Famili : Pedaliaceae

Genus : Sesamum

Spesies : Sesamum indicum Linn.

Wijen merupakan tanaman setahun berbuah polong berumah empat dan cocok tumbuh di lahan terbuka. Di Jawa, wijen tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian 1.200 meter dpl. Meski sudah banyak dibudidayakan, tapi masih kurang intensif dibanding komoditi lain. Wijen tumbuh baik di daerah beriklim kering dan panas dengan curah hujan 50–115 cm per tahun. Selain tidak tahan dengan genangan air, wijen juga tidak tahan dengan gulma.

Walaupun demikian, wijen tidak memerlukan tanah yang subur (Anonim,

(16)

commit to user

2006c). Wijen termasuk tanaman perkebunan/industri berupa pohon berbatang lunak (Anonim, 2008b)

Menurut Handajani et. al. (2006b), wijen biasanya ditanam di tegalan sebagai tanaman sela (polikultur), yakni diantara tanaman jagung, padi, dan ketela pohon. Petani banyak menggunakan cara polikultur sebagai upaya penganekaragaman hasil pertanian. Namun demikian, wijen juga ditanam di lahan tersendiri sebagai tanaman monokultur. Tanaman wijen tersebut dibiarkan tumbuh tanpa perawatan, penjarangan, ataupun penyiangan. Setelah berumur 4 bulan, tanaman wijen sudah dapat dipanen. Ketaren (1986) menambahkan, tanaman ini tidak mempunyai kemampuan bersaing terhadap tanaman lain dan peka terhadap serangga dan hama penyakit.

Varietas wijen di dunia sangat beragam. Menurut Weiss (1983) pada umumnya varietas wijen dibedakan dalam dua tipe, yaitu yang berumur panjang dan biasanya dengan batang yang bercabang, serta tipe yang berumur pendek dengan batang tidak bercabang. Menurut Rukmana (1998) di pasar Internasional dikenal ada dua jenis wijen, yaitu hitam dan putih. Karakteristik wijen di Indonesia pada umumnya berumur panjang, yakni 120-140 hari, bercabang rimbun, dan berproduksi rendah ± 350 kg/ha.

Potensi lahan yang sesuai untuk wijen di Indonesia cukup luas, terutama di Kawasan Timur Indonesia (KTI), yang sebagian besar wilayahnya berupa lahan kering dan beriklim kering. Hasil wijen berupa biji yang mudah diproses, bernilai cukup tinggi, tidak mudah rusak, mudah dikemas dan dikirim ke daerah lain. Produksi biomassa mencapai 80% dari total bahan kering yang dihasilkan dan dapat dikembalikan ke lahan sebagai bahan organik (Soenardi, 1996). Menurut Suprijono dan Mardjono (2001), potensi lahan yang sesuai untuk tanaman wijen di Indonesia masih cukup luas, terutama di kawasan timur Indonesia, karena sebagian besar daerahnya berupa lahan kering. Di Sumbawa tanaman wijen telah lama dikenal dan dibudidayakan di lahan kering, namun produktivitasnya masih rendah dan berumur panjang. Sudah sejak lama wijen menjadi komoditas perdagangan internasional.

(17)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

7

Negara-negara di dunia yang merupakan pasar potensial komoditas wijen adalah Jepang, Singapura, Amerika Serikat, dan beberapa negara di Eropa Barat. Sementara negara-negara produsen wijen utama adalah Cina, Thailand, Vietnam, dan India. Hasil produksi wijen di Indonesia belum memuaskan sebab jumlah produksi belum mampu mencukupi kebutuhan konsumsinya. Sebagai akibatnya, Indonesia setiap tahunnya harus mengimpor wijen. Hal itu dimulai sejak tahun 1988 ketika Indonesia mengimpor wijen dengan volume yang terus bertambah. Perkembangan volume ekspor-impor komoditas wijen di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 1 :

Tabel 1. Perkembangan volume ekspor-impor komoditas wijen Tahun Volume impor (ton) Volume ekspor (ton)

1998 94 -

1999 2.072 -

2000 2.781 -

2001 3.722 -

2002 4.669 74

2003 2.994 225

Sumber : Volume Ekspor-Impor, BPS 1998-2003

Indonesia mengimpor biji wijen dari Korea, Vietnam, Taiwan, Jepang, Cina, Thailand, Singapura, Malaysia, India, Australia, dan Amerika Serikat.

Perkembangan impor sampai tahun 2002 mengalami peningkatan, tetapi tahun 2003 mengalami penurunan. Indonesia baru mulai mampu mengekspor wijen pada tahun 2002 dengan volume ekspor yang masih kecil. Penurunan impor pada tahun 2003 kemungkinan disebabkan karena budidaya wijen di dalam negeri mulai berkembang sehingga wijen di dalam negeri mulai berkembang sehingga sebagian kebutuhan di dalam negeri mulai tercukupi (Handjani et. al. 2006b).

Potensi pasar wijen dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat. Dengan pertumbuhan ekonomi 6-7% per tahun, pertumbuhan penduduk 2,1% per tahun, dan pertumbuhan pendapatan masyarakat, kebutuhan akan minyak nabati (termasuk minyak wijen) dan produk-produk lain yang berbahan baku wijen akan meningkat setiap tahun.

(18)

commit to user

Dengan demikian, potensi pasar wijen masih cukup luas, baik di dalam negeri maupun luar negeri (Juanda dan Cahyono, 2005).

B. Manfaat Wijen

Sebelum menguraikan manfaat wijen, terlebih dahulu akan dibahas komposisi kimianya. Komposisi kimia, kadar protein, dan komposisi asam amino biji wijen dapat dilihat pada Tabel 2. Kandungan protein dan lemak yang cukup tinggi memungkinkan biji wijen dapat dimanfaatkan, baik sebagai pangan, pakan, atau pun untuk keperluan industri (Handjani et. al.

2006b).

Tabel 2. Komposisi kimia biji wijen berkulit per 100 gram No Komposisi

kimia

Varietas putih Varietas hitam

(1) (2) (1) (2)

1 Air (g) 8,3 4,9 5,4 5,4

2 Protein (g) 17,8 22,5 17,8 25

3 Lemak (g) 48,4 48,1 48 46,5

4 Karbohidrat (g) 15,5 14,5 15,3 9,1

5 Ca (mg) 1,13 - - -

6 P (mg) 6,14 - - -

7 Fe (mg) 9,5 - - -

8 Vit B1 (µg) 0,93 0,98 - -

9 Serat 8,5 6,3 8,3 6,5

10 Abu 1,4 5,3 1,6 6,7

Sumber : Handajani et. al.. (2006a)

Di beberapa negara, termasuk Indonesia, wijen memiliki berbagai manfaat. Di Afrika Barat misalnya, daun anggota famili Pedaliaceae itu dimanfaatkan sebagai lalapan. Di Indonesia, biji wijen yang sudah disosoh sampai berwarna putih digunakan sebagai penghias berbagai penganan seperti onde-onde atau martabak. Biji wijen juga bisa diolah menyerupai pasta atau sejenis selai. Pasta wijen sulit ditemui di Indonesia. Umumnya ahli kuliner China menambahkannya sebagai penyedap rasa (Marliani, 2008).

Biji wijen dapat dikonsumsi sebagai bahan makanan dan diolah menjadi minyak. Di India dan Indo Cina, minyak wijen umumnya digunakan sebagai pengganti (substitusi) minyak zaitun. Minyak wijen berkadar asam lemak jenuh sangat rendah. Minyak wijen juga tidak berdampak negatif terhadap

(19)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

9

kesehatan, bahkan minyak wijen dapat menjaga vitalitas ataupun kebugaran jasmani (Rukmana, 1998).

Biji wijen mengandung 50-53% minyak nabati, 20% protein, 7-8% serat kasar, 15% residu bebas nitrogen, dan 4,5-6,5% abu. Minyak biji wijen kaya akan asam lemak tak jenuh, khususnya asam oleat (C18:1) dan asam linoleat (C18:2, Omega-6), 8-10% asam lemak jenuh, dan sama sekali tidak mengandung asam linolenat. Minyak biji wijen juga kaya akan Vitamin E.

Ampas biji wijen (setelah diekstrak minyaknya) menjadi sumber protein dalam pakan ternak (Anonim, 2007d). Sedangkan menurut Rukmana (1998) bahwa biji wijen mengandung 50% minyak, 25% protein, 11% karbohidrat, dan sisanya bahan mineral. Kandungan gizi biji wijen cukup tinggi dan komposisinya lengkap, seperti disajikan pada tabel 3.

Tabel 3. Kandungan dan komposisi gizi dalam tiap 100 gram biji dan minyak wijen.

S

Sumber : Direktorat Gizi Depkes RI (1981)

Biji wijen terutama dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Dari seluruh produksi wijen (hasil panen di dalam negeri dan impor), sebanyak 77,6%

diolah menjadi minyak wijen; 20,1% digunakan dalam industri makanan dan 2,3% digunakan untuk keperluan lain, yaitu untuk memenuhi kebutuhan industri kecil dan keperluan keluarga. Minyak wijen digunakan dalam

No. Kandungan dan komposisi gizi Proporsi dalam

Biji Minyak

1. Kalori (kal) 568 902

2. Protein (g) 19,30 0

3. Lemak (g) 51,10 100

4. Karbohidrat (g) 18,10 0

5. Kalsium (mg) 1,13 0

6. Fosfor (mg) 614 0

7. Zat Besi (mg) 9,50 0

8. Vitamin A (SI) 0 0

9. Vitamin B1 (mg) 0,93 0

10. Vitamin C (mg) 0 0

11. Air (g) 5,80 0

12. Bagian yang dapat dimakan (%) 100 100

(20)

commit to user

pembuatan minyak goreng, sabun, cat, kosmetika, parfum, minyak rambut, lilin, insektisida, margarin dan obat-obatan. Dalam industri makanan, biji wijen digunakan sebagai campuran dalam pembuatan roti, donat, biskuit dan sebagainya (Juanda dan Cahyono, 2005).

Menurut Marliani (2008), minyak wijen beraroma sangat harum dan gurih, bisa digunakan untuk menambah kualitas masakan. Minyak wijen kaya akan asam amino seperti arginin, histidin, leusin dan fenilalanin. Selain itu terdapat juga asam oksalat dan sesamin yang berfaedah sebagai obat-obatan, meningkatkan fungsi lever, kecerdasan, stamina, menghitamkan rambut dan mencegah penuaan. Minyak wijen juga sering digunakan sebagai minyak urut karena rasanya yang hangat. Biji wijen berkhasiat memperbanyak air susu ibu dan mencegah tumbuhnya uban.

Selain biji, ternyata daun tanaman wijen juga cukup bermanfaat, antara lain untuk menyembuhkan sakit kepala dan diare, serta untuk menumbuhkan rambut. Untuk menyembuhkan sakit kepala yang yang disebabkan oleh panas ataupun keletihan, daun wijen ditumbuk dan diperas, kemudian air perasan disaring dan diminum. Untuk menumbuhkan rambut, daun dilumatkan dan air yang keluar dioleskan pada bagian tubuh yang diinginkan agar ditumbuhi rambut. Untuk menyembuhkan diare dan memperlancar pengeluaran urin, daun dilumatkan, ditambah sedikit air, dibiarkan terbentuk seperti cincau dan diminum (Juanda dan Cahyono, 2005).

Hampir seluruh bagian tanaman wijen berguna bagi manusia dan lingkungan hidup. Limbah tanaman wijen berupa batang, daun dan ranting amat berguna bagi pengawetan (konservasi tanah kering yang kritis) (Rukmana, 1998).

C. Syarat Tumbuh Tanaman Wijen

Tanaman wijen merupakan tanaman setahun yang tumbuh tegak, dengan ketinggian mencapai 1,5–2,9 m. Tanaman berbentuk semak yang berumur empat bulan sampai satu tahun. Tanaman ini mampu tumbuh sepanjang tahun (Juanda dan Cahyono, 2005).

(21)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

11

Wijen merupakan tanaman dari daerah beriklim tropis panas kering.

Wijen cukup toleran terhadap kekeringan pada periode yang pendek, tetapi sangat rentan terhadap kekurangan air yang lama. Wijen memiliki kemampuan yang rendah untuk berkompetisi dengan gulma pada fase awal pertumbuhan. Wijen tidak mutlak memerlukan tanah yang subur dan mampu tumbuh dengan baik pada tanah yang miskin hara; lebih cocok pada tanah lempung pasiran. Wijen sangat sensitif terhadap panjang hari, baik hari panjang maupun hari pendek.

Menurut Suprijono dan Mardjono (2001), tanaman wijen adalah tanaman minyak nabati yang tahan iklim kering. Tanaman tumbuh baik pada daerah-daerah dengan ketinggian antara 0-700 m dpl. Suhu tinggi, curah hujan 300-800 mm selama musim tanam, cahaya penuh, peka terhadap curah hujan tinggi dan tanah tergenang. Weiss (1971) juga menambahkan bahwa tanaman wijen membutuhkan cuaca kering, tidak tahan terhadap curah hujan tinggi.

D. Budidaya Tanaman Wijen

Budidaya wijen bertujuan untuk menghasilkan biji-biji wijen yang berkualitas baik (utuh/tidak cacat dan berkadar minyak tinggi) dan produksi yang tinggi. Teknik budidaya wijen secara intensif meliputi kegiatan-kegiatan pengolahan tanah, penentuan saat tanam, penanaman, nyulaman dan penjarangan tanaman, pemupukan, pengairan, serta penyiangan dan pembumbunan (Juanda dan Cahyono, 2005).

Menurut Weiss (1971), persiapan lahan yang dilakukan untuk tanaman wijen sama dengan persiapan lahan yang dilakukan untuk tanaman jagung, gandum, dan sorgum. Untuk tanah-tanah yang ringan, tanah dibersihkan dulu dari gulma dan sisa-sisa tanaman, kemudian dibajak dan digaru. Sementara untuk tanah yang berat seperti jenis Vertisol, pengolahan dilakukan saat tanah dalam kondisi yang sangat keras dan pecah-pecah dengan alat garu yang mencapai kedalaman 40-50 cm.

(22)

commit to user

Secara umum, penanaman dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu monokultur dan polikultur. Dalam sistem monokultur, penanaman dapat dilakukan dengan cara disebar, ditugal, ataupun dengan disemai terlebih dahulu. Sementara pada sistem tumpang sari (polikultur) benih wijen tidak disebar secara langsung, tetapi diletakkan pada alur atau lubang tanam yang telah dibuat terlebih dahulu. Tiap-tiap lubang tanam berisi 4-5 benih dengan kerapatan 4-5 kg benih per hektar. Benih yang sudah ditanam, kemudian ditutup dengan abu atau tanah gembur (Handjani et. al. 2006b).

Jarak tanam yang ideal untuk pola tanam monokultur wijen adalah berdasarkan kesuburan tanah dan varietas wijen. Hasil penelitian Balittas menunjukkan bahwa jarak tanam wijen varietas lokal yang ideal adalah 60 cm x 25 cm. Produksi wijen yang ditanam secara monokultur cenderung lebih tinggi daripada pola tumpang sari (Rukmana, 1998). Sedangkan menurut Handajani et. al. (2006b), pada sistem monokultur jarak tanamnya 30-50 cm, dan polikultur jarak tanamnya 1-2 m.

Pemeliharaan wijen meliputi kegiatan penyulaman, penyiangan, pemupukan, pembumbunan, dan pengairan. Penyulaman dilakukan jika ada benih yang tidak berkecambah atau tidak tumbuh. Penyulaman dapat dilakukan pada saat tanaman berumur 5-6 hari dengan cara memasukkan lagi biji wijen ke dalam lubang tugalan dan segera menimbuninya kembali dengan tanah lembut (Handjani et. al. 2006b).

Penyiangan dilakukan agar rumput tidak menghambat pertumbuhan tanaman wijen, juga dimaksudkan sekaligus untuk melakukan penggemburan atau pendangiran tanah agar aerasinya menjadi lebih baik. Penyiangan terhadap rumput ataupun gulma sebaiknya dilakukan secara cermat, yang sekaligus diikuti dengan penggemburan tanah di sekitar rumpun tanaman dan pembumbunan. Pembumbunan dilakukan pada tanah di sekitar batang bawah dari rumpun tanaman wijen menggunakan tanah yang telah digemburkan (Handjani et. al. 2006b).

Menurut Soenardi (1996) periode kritis terhadap gangguan gulma adalah dari saat tanam sampai wijen berumur 45 hari. Pada awal sampai

(23)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

13

dengan menjelang berbunga (sekitar 45 hari setelah tanam), pertumbuhan tanaman wijen sangat lambat, sehingga gulma dapat tumbuh leluasa.

Pertumbuhan gulma yang cepat akan sangat menentukan faktor-faktor tumbuh yang diperlukan tanaman wijen (cahaya, O2, CO2, udara, air, unsur hara dan tempat tumbuh). Di samping itu, sekresi yang dihasilkan oleh beberapa jenis gulma sangat berperan sebagai racun terhadap tanaman wijen.

Pengendalian gulma dilakukan sejak awal pertumbuhan sampai umur 45 hari, karena pada periode tersebut kanopi tanaman wijen belum menutup.

Pada umumnya jenis dan dosis pupuk sangat mempengaruhi pertumbuhan tanam. Pemupukan harus dilakukan dengan tepat waktu, tepat jenis dan dosisnya sehingga unsur hara dalam pupuk tersebut dapat dengan mudah terserap oleh akar tanaman. Pupuk yang dianjurkan adalah pupuk jenis NPK karena kandungan ketiga unsur makro tersebut memberikan pengaruh yang sangat nyata pada pertumbuhan tanaman. Bagi tanah-tanah yang berat, jenis Vertisol dan tanah berpasir perlu dipupuk dengan pupuk organik. Pupuk organik berperan dalam perbaikan struktur tanah dan menaikkan daya serap tanah terhadap air karena organisme di dalam tanah dapat memanfaatkan bahan organik sebagai makanan.

Wijen umumnya dibudidayakan di lahan kering iklim kering yang airnya tergantung pada hujan. Jika wijen ditanam di lahan irigasi, maka diperlukan pengairan pada saat setelah tanam sampai dengan puncak pembungaan, dengan interval 15-20 hari. Pengairan setelah tanam untuk mendorong proses perkecambahan benih dan pengairan berikutnya akan sangat menentukan tingkat produksi (Soenardi, 1996).

Pemberian air diperlukan oleh tanaman wijen pada saat setelah tanam sampai dengan masa puncak pembungaan dengan interval 12-15 hari, yang berfungsi menunjang proses perkecambahan benih. Sementara itu, pengairan berikutnya sangat menentukan tingkat produksi tanaman (Handjani et.al., 2006b). Pengairan jangan dilakukan hingga melampaui puncak pembungaan karena dapat menurunkan berat biji dan kandungan minyak.

(24)

commit to user

Tanaman wijen lokal dipanen pada umur 120-140 hari setelah tanam (HST), varietas unggul seperti Sesamindo dipanen pada umur 105 HST dan achequino dipanen pada umur 85 HST. Tanaman wijen yang siap panen ditunjukkan dengan ciri daun yang terletak di bagian bawah tanaman berwarna kekuning-kuningan atau mengering, batang berwarna hijau kekuning-kuningan atau coklat kehitam-hitaman, terutama di bagian bawah dan ujung tanaman, polong berwarna hijau kekuning-kuningan dan berbintik- bintik hitam (Anonim, 1998e).

a. Ketersediaan lahan lebih luas

Lahan sawah yang cukup luas, jadi jika wijen memiliki daya saing yang kuat di lahan sawah, maka potensi ketersediaan lahannya cukup besar.

b. Potensi produksi lebih tinggi

Produktivitas tanaman wijen yang diusahakan di lahan sawah rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan penanaman di lahan tegal. Evaluasi petugas di lapangan dilaporkan ada selisih produktivitas sekitar 100 kg/hektar.

c. Jaminan ketersediaan air

Penanaman wijen di lahan sawah lebih mudah untuk memperoleh air yang sangat dibutuhkan untuk awal pertumbuhannya, dibandingkan dengan penanaman di lahan tegal yang hanya menggantungkan air dari hujan.

d. Mudah dibudidayakan

Tanaman wijen merupakan tanaman yang mudah dibudidayakan, dalam arti tidak menuntut atau menghendaki persyaratan khusus untuk dapat tumbuh dan berproduksi.

e. Biaya usaha tani murah

Dibandingkan dengan tanaman lain, wijen membutuhkan usaha tani yang relatif murah.

f. Risiko kerugian rendah

Wijen diusahakan secara tumpang gilir, dengan tanpa mengurangi populasi normal tanaman pokoknya, bahkan sebagian biaya usaha tani

(25)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

15

include (mengikuti tanaman pokok), dengan demikian kalau pun tanaman wijen mengalami kegagalan, resiko kerugian tidak seberapa besar, namun masih ada manfaat tidak langsung, yakni adanya tambahan bahan organik dari sisa tanaman wijen.

g. Menambah kesuburan tanah

Selain dampak langsung secara ekonomis, maka budidaya tanaman wijen dapat memberikan dampak positif tidak langsung bagi petani, yakni perbaikan kesuburan tanah.

E. Uji Daya Hasil

Unsur-unsur yang mempengaruhi produksi wijen adalah keadaan lingkungan tempat tumbuh tanaman, varietas tanaman, dan teknik budidaya.

Perpaduan yang tidak seimbang antara unsur-unsur tersebut merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya produksi. Misalnya, penggunaan benih yang baik (unggul) dan teknik budidaya yang baik namun tanpa didukung oleh keadaan lingkungan yang sesuai menyebabkan tanaman tidak akan tumbuh dan berproduksi dengan baik (Juanda dan Cahyono, 2005). Lingkungan yang mendukung akan memberikan penampilan sifat terbaik, sebaliknya lingkungan yang kurang menunjang dapat menyebabkan potensi genetik suatu tanaman tidak dapat dicapai secara optimal (Satjadipura, 1984 cit Suryadi, 1997).

Untuk memperbaiki atau mengembangkan genotipe tanaman agar tahan terhadap lingkungan yang kurang menguntungkan dapat dilakukan dengan introduksi tanaman budidaya baru atau mengembangkan varietas tahan melalui pemuliaan tanaman.

Pemanfaatan varietas hibrida merupakan salah satu cara dalam peningkatan hasil tanaman karena memiliki gen-gen dominan penentu hasil tinggi. Namun dalam perkembangannya, varietas hibrida pada umunya sangat peka terhadap pengaruh lingkungan tumbuhnya dan oleh karena itu, evaluasi daya hasil perlu dilakukan sebelum dilepas kepada petani.

(26)

commit to user

Ghafoor dan Siddiqui (1977) cit Harsanti et al, (2003) mengatakan bahwa interaksi genotip dan lingkungan merupakan masalah utama bagi pemulia tanaman dalam usaha mengembangkan kultivar hasil seleksinya, karena ada beberapa genotip yang menunjukkan reaksi spesifik terhadap lingkungan tertentu. Beberapa kultivar atau galur yang diuji di berbagai lokasi ternyata kemampuan daya produksinya berbeda pada setiap lokasi pengujian.

Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh interaksi antara genotip dan lingkungan. Kultivar atau galur yang diuji dapat lolos dalam pengujian karena penampilannya sangat baik pada suatu daerah tertentu.

Balittas telah melakukan seleksi galur terhadap tiga varietas introduksi yaitu varietas Pachequino dan Colade Borrego dari Australia serta aksesi dari India yaitu SI.35. Pada uji daya hasil pendahuluan terlihat bahwa beberapa galur menunjukkan peningkatan produksi (Suprijono, 1996).

(27)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

17

III. METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai November 2009 di Desa Siwal, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo.

B. Bahan dan Alat

Bahan penelitian yang digunakan 16 galur harapan dan 2 (dua) varietas unggul, yang sudah dilepas sebagai pembanding, pupuk Urea, SP-36, KCl, pestisida.

Alat yang digunakan adalah karung plastik, kantong plastik untuk panen, papan nama dan nomor plot, tali plastik, terpal plastik, alat tulis, peralatan panen, dan timbangan.

C. Cara Kerja Penelitian 1. Rancangan Penelitian

Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 3 ulangan. Ukuran petak yang digunakan adalah 8 m x 6 m, dengan jarak tanam 60 cm x 25 cm, dengan dua tanaman per lubang.

Ke-16 galur harapan yang diuji dan 2 varietas pembanding, adalah : 1. 99001/8/3, 7. 99001/14/3, 13. 99002/7/5,

2. 99001/9/1, 8. 99001/15/2, 14. 99002/7/10, 3. 99001/9/3, 9. 99001/15/4, 15. 99003/11/10, 4. 99001/9/7, 10.99002/2/7, 16. 99003/28/5, 5. 99001/10/3, 11.99002/5/3, 17. SBR. 1, 6. 99001/10/9, 12.99002/7/3, 18. SBR. 4.

2. Pelaksanaan Penelitian a. Pengolahan tanah

Pengolahan tanah dilakukan dengan bajak atau cangkul, kemudian dibuat petak-petak percobaan dengan ukuran 6 m x 8 m, jarak antar petak langsung (tidak ada) dan jarak antar ulangan 150 cm.

Pada pingiran petak dibuat saluran untuk pengairan/drainase.

(28)

commit to user b. Penanaman

Tanam dilakukan saat tanah dalam kondisi basah. Jarak tanam yang digunakan adalah 60 cm x 25 cm dengan disisakan 2 tanaman per lubang. Lubang tanam sedalam 2-3 cm dibuat dengan menggunakan tugal, setiap lubang diisi sekitar 4-5 butir benih. Benih wijen ditanam sesuai perlakuan, kemudian ditutup tanah secukupnya.

c. Penyulaman

Pada lubang tanam yang tidak tumbuh perlu segera disulam, penyulaman dilakukan pada 7-10 hari setelah tanam (HST), dengan benih sesuai perlakuan atau dengan cara memindahkan (transplanting) menggunakan tanaman dalam 1 petak atau petak lain dengan galur/varietas yang sama.

d. Penjarangan

Penjarangan dilakukan dua kali, yakni pada umur 14 HST disisakan 3 tanaman per lubang dan penjarangan ke dua pada umur 21 HST dan disisakan 2 tanaman terbaik per lubang.

e. Pemupukan

Pupuk dasar diberikan bersama tanam dengan dosis 50 kg SP- 36 dan 50 kg KCl/ha, dengan cara ditugal sekitar 10 cm di sisi lubang tanam. Pupuk N diberikan dua kali, yakni 1/3 dosis N (35 kg/ha Urea) diberikan pada umur 2 MST, dan sisanya 2/3 dosis pada umur sekitar 6 MST dengan cara ditugalkan di sisi tanaman. Pemupukan N diberikan setelah dilakukan penjarangan.

f. Pengendalian gulma

Penyiangan dilaksanakan pada umur 2 MST, 4 MST, dan 6 MST dengan menggunakan cangkul dan atau sabit.

g. Pengairan

Tanaman wijen yang ditanam di lahan sawah sesudah padi perlu dilakukan pengairan bila mengalami kekeringan. Pengairan dilakukan sebelum tanam dan sedikitnya 3 kali sesudah tanam dengan interval pengairan 2-3 minggu tergantung kondisi lahan.

(29)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

19

h. Pengendalian hama dan penyakit

Hama yang mengganggu biasanya hama penggulung daun (Sylepta dirogata), dan tungau pengisap daun (Polyphagotarsonemus latus.) Pengendalian dilakukan dengan akarisida Omite 570 EC atau Kelthane 200 EC dengan dosis sesuai anjuran, disemprotkan di permukaan bawah daun. Hama lainnya yang sering dijumpai pada tanaman wijen adalah ulat tanah Agrotis epsilon yang menyerang batang muda cara penanggulangannya dengan menggunakan Furadan 3 G dosis 20 kg/ha.

i. Panen

Panen dilakukan apabila 75% polong pada populasi telah menguning, umur panen masing-masing perlakuan berbeda sehingga panen harus dilakukan secara selektif sesuai kemasakan masing- masing perlakuan. Panen dilakukan pada petak bruto (48 m2) dengan cara memotong pangkal batang menggunakan sabit, kemudian batang diikat dengan setiap ikatan bergaris tengah 15 cm agar memudahkan penjemuran. Selanjutnya dijemur dan setelah kering diketek pelan- pelan, biasanya tidak sekaligus, maka sisanya dijemur kembali dan setelah kering besok diketek kembali. Keadaan tersebut diulang berkali-kali sampai habis. Biji kemudian dikeringkan dan ditampi, sampai kotoran terbuang, dan kemudian ditimbang sesuai dengan perlakuan. Hasil panen selalu diberi label sesuai perlakuan sejak panen, prosesing hingga penimbangan hasil.

3. Paramater Pengamatan a. Tinggi Tanaman

Pengamatan dilakukan seminggu sekali. Pengukuran dimulai pada minggu pertama sampai penelitian selesai. Pengukuran dilakukan dari leher akar sampai titik tumbuh batang utama.

(30)

commit to user b. Jumlah cabang tiap tanaman

Jumlah cabang tiap tanaman dihitung dengan cara menghitung jumlah seluruh cabang pada tiap tanaman.

c. Jumlah kapsul tiap tanaman

Jumlah kapsul tiap tanaman ditentukan dengan cara menghitung jumlah seluruh kapsul pada tiap tanaman.

d. Jumlah biji per kapsul tiap tanaman

Jumlah biji per kapsul tiap tanaman dihitung dengan cara menghitung jumlah seluruh biji per kapsul pada sampel tiap tanaman.

e. Umur berbunga

Umur berbunga ditentukan ketika tanaman sudah berbunga 50%

dalam satu petak tanam.

f. Umur panen

Umur panen dilakukan pada saat daun tanaman tinggal 25% dan kapsul wijen 75% sudah berwarna hijau kekuningan dan sebagian kapsul pada ujungnya sudah mulai membuka sedikit.

g. Berat 1000 biji tiap tanaman

Berat 1000 biji tiap tanaman dihitung dengan cara menimbang 1000 biji pada tiap tanaman.

h. Hasil biji kering per petak

Hasil biji kering per petak ditimbang pada saat tanaman telah dipanen.

4. Analisis Data

Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan analisis ragam berdasarkan uji F 5%, apabila terdapat beda nyata maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5%.

(31)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

21

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Variasi pengaruh galur dan varietas wijen terhadap komponen hasil wijen ini menunjukkan bahwa faktor genetika tiap galur memberikan pengaruh yang berbeda-beda pada peubah pengamatan.

Tabel. 4 Hasil analisis ragam peubah pangamatan 16 galur dan 2 varietas tanaman wijen.

A. Tinggi Tanaman

Tinggi tanaman merupakan ukuran yang sering diamati baik sebagai indikator pertumbuhan maupun parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan atau perlakuan yang ditetapkan. Hal ini didasarkan atas kenyataan bahwa tinggi tanaman merupakan ukuran pertumbuhan yang paling mudah diamati (Sitompul dan Guritno, 1995).

Galur / varietas

Tinggi tanaman (cm)

Jumlah kapsul (kapsul)

Umur panen (hari)

Berat 1000 biji (g)

Hasil biji kering (kg)

99001/8/3 125,3 a 130,27 abcd 108,33 abcd 3,22 e 7,167 ab

99001/9/1 109,8 cd 114,33 abcde 110,33 abc 2,51 cde 6,500 ab

99001/9/3 118,5 abc 137,53 abc 111 ab 3,50 cde 7,000 ab

99001/9/7 113,05 abcd 120,73 abcde 107,67 abcd 3,60 cd 6,133 ab

99001/10/3 122,83 ab 128,8 abcde 111 ab 3,65 c 7,667 a

99001/10/9 116,13 abcd 119,77 abcde 111,33 ab 3,66 c 6,467 ab

99001/14/3 116,73 abcd 129,47 abcd 108 abcd 3,54 cde 6,800 ab

99001/15/2 116,27 abcd 133,27 abcd 110,67 abc 3,71 bc 7,033 ab

99001/15/4 112,73 abcd 141,27 ab 107,33 bcd 3,44 cde 6,933 ab

99002/2/7 113,57 abcd 113,8 abcde 111,33 ab 3,59 cd 6,233 ab

99002/5/3 122,73 ab 101,13 cde 111,00 ab 4,17 a 6,433 ab

99002/7/3 104,37 d 111,17 bcde 112,67 a 3,6 cd 6,700 ab

99002/7/5 113,17 abcd 135,27 abcd 107,33 bcd 3,79 bc 5,933 b

99002/7/10 109,33 cd 132,13 abcd 111,33 ab 3,57 cd 6,600 ab

99003/11/10 114,43 abcd 91,7 e 105,67 cd 3,78 bc 6,567 ab

99003/28/5 112,40 bcd 99,43 de 105,67 cd 3,28 de 6,633 ab

SBR. 1 120,37 abc 149,57 a 104 d 4 ab 6,967 ab

SBR. 4 114,47 abcd 116,77 abcde 107,33 bcd 3,44 cde 6,367 ab

(32)

commit to user

Batang tanaman berdiri tegak, berketinggian antara 85–150 cm, berkayu dan berbentuk lekuk 4 (quadrangular) kadang-kadang pada varietas tertentu batang wijen berbulu menutup seluruh permukaan kulit batang (Rukmana, 1998).

Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa antar semua galur dengan varietas berbeda nyata. Galur tertinggi yaitu galur 99001/8/3 dengan tinggi 125.3 cm dan terendah adalah galur 99002/7/3 dengan tinggi 104,37 cm.

Sedangkan galur yang berbeda nyata yaitu galur 99001/8/3 dengan tinggi 125,3 cm dengan galur 99002/7/10 dengan tinggi 109,33 cm, galur 99001/9/1 dengan tinggi 109,8 cm, galur 99002/7/3 dengan tinggi 104,37 cm, dan galur 99003/28/5 dengan tinggi 112,40 cm.

Tanaman yang terlalu tinggi mengakibatkan intensitas sinar matahari yang menembus kanopi hingga diatas permukaan tanah akan jauh berkurang.

Hal ini erat hubungannya dengan proses fotosintesis dan mempengaruhi daya hasil suatu varietas (Suhartini dan Hanarida, 1994). Secara umum galur-galur yang diuji pada tinggi tanaman memenuhi standart sebagai varietas yang dapat direkomendasikan sebagai varietas unggul.

B. Jumlah Cabang tiap Tanaman

Percabangan tanaman wijen dapat dikreteriakan menjadi dua yaitu bercabang dan tidak bercabang. Tanaman wijen dengan cabang banyak diawali percabangan dari bawah, sedangkan tanaman yang bercabang sedikit dikarenakan percabangan terjadi setelah tanaman tinggi (Sunanto, 2002).

(33)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

23

Tabel 5. Rerata jumlah cabang pada tanaman wijen No Galur Rerata (cabang)

1 99001/8/3 9,7 2 99001/9/1 9,8 3 99001/9/3 9,6 4 99001/9/7 9,2 5 99001/10/3 9,1 6 99001/10/9 9,7 7 99001/14/3 8,3 8 99001/15/2 9,5 9 99001/15/4 9,6 10 99002/2/7 9,4 11 99002/5/3 8,6 12 99002/7/3 8,5 13 99002/7/5 9,3 14 99002/7/10 9 15 99003/11/10 9,4 16 99003/28/5 8,5

17 SBR. 1 9,6

18 SBR. 4 9,1

Berdasarkan Tabel 5 tidak berbeda nyata pada 2 varietas dan 16 galur yang diuji. Hal ini menunjukkan bahwa percabangan tanaman wijen tidak banyak beragam diduga disebabkan oleh faktor genetika, karena faktor pecabangan sangat berpengaruh terhadap produksi tanaman. Pada galur 99001/9/1 memiliki rerata yang teringgi yaitu 9,8 cabang sedangkan rerata yang terendah adalah galur 99001/14/3 yaitu 8,3 cabang.

C. Jumlah kapsul tiap tanaman

Jumlah kapsul yang banyak selama pembentukan kapsul berakibat menurunnya laju pembentukan bahan kering dalam kapsul melebihi laju produksi asimilat sehingga harus ditranslokasikan dari bagian-bagian lain.

Menurut Fisher dan Goldworthy (1992) suhu mempengaruhi pertumbuhan kapsul, suhu hangat maka total penimbunan bahan kering dalam kapsul cepat tetapi produksi biji justru akan turun.

Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa antar semua galur dengan varietas berbeda sangat nyata. Jumlah kapsul yang tertinggi yaitu varietas

(34)

commit to user

SBR. 1 dengan jumlah 149,57 kapsul dan terendah adalah galur 99003/11/10 dengan jumlah 91,7 kapsul. Sedangkan galur yang berbeda nyata yaitu galur 99001/15/4 dengan jumlah 141,27 kapsul dengan galur 99003/28/5 dengan jumlah 99,43 kapsul, dan galur 99003/11/10 dengan jumlah 91,7 kapsul.

Jumlah kapsul merupakan sifat yang dapat digunakan sebagai upaya dalam meningkatkan hasil tanaman. Komponen hasil dalam meningkatkan hasil tanaman pada umumnya jumlah kapsul sangat berkorelasi dengan komponen hasil dan terbentuknya kapsul dipengaruhi oleh masa generatif pada tanaman itu sendiri.

D. Jumlah Biji per Kapsul Tanaman

Biji wijen berukuran kecil, pipih dengan bagian pangkal agak meruncing dan ujungnya tumpul. Ukuran panjang biji wijen yaitu antara 3-4 mm dengan diameter 2,25 mm, berkulit tipis dan mudah pecah. Berat 1000 biji bervariasi yaitu antara 2-4 gram, warna biji dibedakan atas dua macam yaitu biji wijen putih dan biji wijen hitam. Biji dapat dipergunakan dalam perbanyakan tanaman secara generatif (Rukmana, 1998).

Tabel 6. Rerata jumlah biji per kapsul pada tanaman wijen No Galur Rerata (biji)

1 99001/8/3 121,2 2 99001/9/1 121,5 3 99001/9/3 125,5 4 99001/9/7 122,3 5 99001/10/3 118,6 6 99001/10/9 118,4 7 99001/14/3 121,9 8 99001/15/2 122,5 9 99001/15/4 125,4 10 99002/2/7 121,9 11 99002/5/3 115,3 12 99002/7/3 125,4 13 99002/7/5 118,3 14 99002/7/10 126,9 15 99003/11/10 119,8 16 99003/28/5 123,6

17 SBR. 1 120

18 SBR. 4 126,4

(35)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

25

Berdasarkan Tabel 6 diketahui bahwa tidak berbeda nyata pada 2 varietas dan 16 galur yang diuji. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah biji per kapsul pada tanaman wijen tidak banyak beragam diduga disebabkan oleh faktor genetika. Faktor jumlah biji per kapsul pada tanaman wijen berpengaruh terhadap produksi. Jumlah biji per kapsul tertinggi pada galur 99002/7/10 dengan jumlah 126,9 g sedangkan yang terendah pada galur 99002/5/3 dengan jumlah biji 115,3 g. Pada saat terjadi pengisian polong, maka terjadi proses translokasi dari zat-zat tanaman atau zat-zat hasil asimilasi yang merupakan salah satu penyebab terjadinya proses pengisian polong.

Dalam keadaan demikian tanaman selalu membutuhkan hara yang cukup dan kondisi lingkungan yang baik. Mimbar (1991) mengemukakan bahwa jumlah dan ukuran biji maksimal ditentukan oleh faktor genetik serta kondisi yang dialami selama periode pengisian biji. Cuaca yang kering selama pengisian biji mengakibatkan ukuran serta jumlah biji kecil. Dilain pihak laju pertumbuhan selama periode pengisian biji sangat ditentukan oleh kondisi lingkungan pada saat pembungaan (Woodruff, 1983 cit Widarto, 2000).

E. Umur Berbunga

Bunga wijen tumbuh pada setiap ketiak batang tanaman wijen, biasanya menghasilkan 1-3 biji bertangkai pendek dengan nektar pada dasar bunga.

Mahkota bunga menyerupai terompet ada lima lekukan yang saling menyatu, tapi ada juga yang tidak berlekuk. Mahkota bunga berbulu, panjang bunga 2,5-3 cm, benang sari dan putik menempel pada mahkota bunga (Riyadi, 1991).

Pembungaan merupakan hal yang penting untuk diketahui dalam pertumbuhan tanaman. Sitompul dan Guritno (1995), menyatakan bahwa pembungaan adalah perubahan masa vegetatif ke generatif, dimana masa vegetatif merupakan lama umur tanaman hingga berbunga. Jika saat

(36)

commit to user

pembungaan diketahui maka dapat digunakan untuk menduga saat tanaman akan dipanen.

Tabel 7. Rerata saat umur berbunga tanaman wijen dalam 41 hari (HST)

No Galur Rerata (HST)

1 99001/8/3 41 2 99001/9/1 41 3 99001/9/3 41 4 99001/9/7 41 5 99001/10/3 41 6 99001/10/9 41 7 99001/14/3 41 8 99001/15/2 41 9 99001/15/4 41 10 99002/2/7 41 11 99002/5/3 41 12 99002/7/3 41 13 99002/7/5 41 14 99002/7/10 41 15 99003/11/10 41 16 99003/28/5 41

17 SBR. 1 41

18 SBR. 4 41

Berdasarkan Tabel 7 diketahui bahwa tidak berbeda nyata pada 2 varietas dan 16 galur yang diuji di lapang, saat tanaman wijen berbunga.

Umur berbunga suatu tanaman memiliki korelasi positif dengan umur panen tanaman. Semakin cepat tanaman itu menghasilkan bunga maka masa pembuahan tanaman juga akan semakin cepat pula, sehingga umur panen akan lebih pendek.

Rusmiati et al. (2005) menuliskan bahwa proses pertumbuhan dan perkembangan bunga dapat dipengaruhi oleh faktor dari dalam tanaman itu sendiri yaitu sifat genetik tanaman.

F. Umur panen

Umur panen tanaman wijen dibagi menjadi tiga bagian yaitu umur genjah (<100 HST), umur sedang (100-120 HST), dan umur dalam yaitu lebih dari 120 HST ( Suprijono et al. 1993).

(37)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

27

Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa antar 16 galur dan 2 varietas yang diuji berbeda nyata. Umur panen sedang tanaman wijen terjadi pada varietas SBR. 1 dengan umur panen 104 HST dan umur panen lama pada galur 99002/7/3 yaitu 112,67 HST. Namun beberapa galur yang diuji tidak berbeda nyata dengan varietas unggul sebagai kontrol yaitu SBR. 4.

Khusus pada 16 galur yang diuji maka, galur 99002/7/3 memiliki umur panen yang paling lama yaitu 112,67 HST dan berbeda nyata dengan galur 99003/11/10 dan galur 99003/28/5 dengan umur panen 105,67 HST begitu juga pada galur 99002/7/5 dan 99001/15/4 dengan umur panen107,33 HST.

Apabila melihat umur berbunga tidak berbeda nyata sedangkan pada umur panen berbeda, maka galur wijen yang berumur panjang memiliki proses generatif lebih panjang sedangkan proses vegetatifnya sama.

Umur panen merupakan karakter yang paling penting untuk bisa diterima oleh petani. Semakin pendek umur panen maka varietas akan lebih disukai dan umur panen hibrida tersebut sebaiknya lebih pendek dari varietas pembandingnya (Yuan dan Virmani, 1994 cit Sutaryo dan Samaullah, 2000).

G. Berat 1000 Biji tiap Tanaman

Bobot 1000 butir merupakan salah satu parameter yang berkaitan dengan hasil produksi suatu pertanaman. Apabila jumlah biji per tanamannya sama tetapi memiliki berat 1000 biji yang lebih besar hasil yang diperoleh akan lebih tinggi (Suhartini et al. 1999).

Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa berat 1000 biji wijen tertinggi pada galur 99002/5/3 dengan berat 4,17 g dan berat terendah yaitu galur 99001/8/3 dengan berat 3,22 g. Khusus galur yang diuji maka, galur 99002/5/3 memiliki berat tertinggi yaitu 4,17 g dan berbeda nyata dengan galur 99001/10/9 dengan berat 3,66 g dan galur 99001/10/3 dengan berat 3,65 g. Sehingga galur 99002/5/3 memiliki biji yang paling besar diantara 16 galur yang diuji. Jadi perbedaan berat 1000 biji diduga disebabkan karena perbedaan kandungan persediaan makanan yang terdapat pada biji yang dihasilkan (Gardner et al., 1991).

(38)

commit to user

Berat 1000 biji adalah karateristik varietas yang biasanya dinyatakan dalam gram, berat 1000 biji memperlihatkan besarnya biji yang dihasilkan pada suatu tanaman. Apabila digunakan untuk dibudidayakan pada luasan tertentu, berat 1000 biji dapat menentukan laju perkecambahan dalam suatu varietas atau spesies, berat 1000 biji yang tinggi biasanya lebih diinginkan, karena hal ini mengindikasikan bahwa biji tersebut bernas dan proses perkecambahan baik (Hastuti, 2002).

H. Hasil Biji kering per Petak

Menurut Gardner et al. (1991) dan Borojevic (1990) tujuan akhir dari pemuliaan agronomi umumnya adalah biji. Berat biji per petak menjadi parameter tidak bebas karena hasil ekonomi wijen berupa biji dan minyak wijen, sehingga semua parameter bebas lainnya (sifat-sifat tanaman wijen) dipakai untuk menduga nilai berat biji per petak (Supranto, 1994).

Hasil pengamatan rata-rata biji per petak pada Tabel 4 menunjukkan bahwa berbeda nyata pada hasil biji per petak tertinggi pada galur 99001/10/3 memiliki berat paling besar yaitu 7,667 kg per petak atau sekitar 1,6 ton per hektar dan terendah pada galur 99002/7/5 yaitu sebesar 5,933 kg per petak atau sekitar 1,2 ton per hektarnya. Namun semua 16 galur yang diuji tidak berbeda nyata dengan 2 varietas unggul sebagai kontrol yaitu SBR. 1 dan SBR. 4.

Adanya perbedaan hasil biji per petak disebabkan karena adanya persaingan antar tanaman pada saat fase pertumbuhan dan juga sifat genetik dari tanaman itu sendiri. Pengamatan produksi tiap petak dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan produksi dari galur atau varietas dan dihubungkan dengan daya adaptasinya dengan lingkungan dan juga sebagai syarat untuk menjadi varietas baru, karena salah satu syarat galur untuk dapat dijadikan sebagai varietas baru adalah produksi yang diperoleh harus dapat mencapai peningkatan sebesar 20%.

(39)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user 31

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari uraian di atas adalah :

1. Dari enam belas galur yang diuji memiliki perbedaan terhadap sifat yaitu pada tinggi tanaman, jumlah kapsul, umur panen, berat 1000 biji, hasil biji kering per petak, dan tidak memiliki perbedaan sifat pada jumlah cabang, jumlah biji per kapsul, dan umur berbunga.

2. Daya hasil tanaman dari enam belas galur yang diuji tidak berbeda nyata dengan dua varietas sebagai kontrol.

3. Hasil biji kering tertinggi terdapat pada galur 99001/10/3 dengan hasil 7,667 kg per petak atau sekitar 1,6 ton per hektar sedangkan hasil terendah pada galur 99002/7/5 yaitu sebesar 5,933 kg per petak atau sekitar 1,2 ton per hektar.

4. Salah satu syarat galur untuk dijadikan varietas baru adalah produksi yang diperoleh harus dapat mencapai peningkatan sebesar 20%.

B. Saran

Perlu dilakukan pengujian lebih lanjut pada semua galur pada musim tanam dan lokasi yang berbeda sebelum galur tersebut dilepas ke masyarakat.

Referensi

Dokumen terkait

学籍番号:81130796 氏名:西田慎太郎 (9)参考文献 Anandhi, Bharadwaj and Sundar Bharadwaj1999 “Information Technology Effects on Firm Performance as Measured

Sistematika pelaksanaan pelatihan, dimulai dengan sesi pembukaan oleh Kepala Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (Bapak Arif Humaini, S.S., M.Hum.) memberikan sambutan

Segala puji hanya dipanjatkan kepada Allah Yang Maha Esa segala nikmat dan karunianya yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga dapat menyel esaiakan skripsi

Solusinya adalah admin pembelian membuat bukti atas transaksi pemesanan real yang akan diberikan kepada admin penjualan, dan pada saat pemasok menagih admin

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir setengah dari responden mengalami dysmenorrhea primer tingkat nyeri sedang yaitu sebanyak 23 responden (46%), lalu 17

Bukti dari hasil uji netralitas uang jangka panjang ini tidak konsisten dengan proposisi netralitas uang yang menunjukan bahwa uang adalah netral dalam

Melalui pembelajaran matematika, secara implisit maupun eksplisit, dapat dibelajarkan kepada siswa berbagai karakter positif, seperti kemampuan berpikir kritis,

Melalui pendekatan saintifik dan model Problem Based Learning serta metode eksperimen, demonstrasi dan diskusi, peserta didik menerapkan konsep pengukuran berbagai