11
BAB III
PELAKSANAAN KERJA PRAKTIK
3.1. Jadwal Kegiatan
Pelaksaan kerja praktik di mulai dari tanggal 13 Juli sampai dengan 12 September 2020 yang berlangsung selama 9 minggu. Waktu pelaksanaan kerja praktik dilaksanakan pada hari Senin sampai dengan Jumat, pukul 07.30 sampai dengan pukul 16.30 WITA. Deskripsi pelaksaan kerja praktik yang dilakukan selama pratik tersebut akan diringkas dalam tabel di bawah ini, sebagai berikut:
Tabel 3. 1 Daftar Ringkasan Pelaksaan Kerja Praktik secara Mingguan Minggu ke - Deskripsi Pelaksaan Kerja Praktik
1
Belajar proses bisnis PLN dan sistem kelistrikan Belajar losses
Pengenalan tentang penyebab losses Belajar pengawatan meter
2 Belajar susut teknis, buku PLN I, dan menyicil kerja laporan magang
3 Belajar buku II-V PLN
Pengenalan susut teknis gardu 4
Lapangan : Mengambil data gardu Menghitung data gardu
Kerja laporan magang
5 Menghitung susut penyulang Ndona, Nangapanda, Maurole Belajar Trend susut
6 Lapangan : Pemasangan Gembok Smartlock di gardu meter 7
Lapangan : Pemasangan Gembok Smartlock, menghitung error meter.
Mengerjakan laporan meter rusak 8 Kelas Online
9 Lapangan : Periksa Meter pelanggan potensial Kerja Laporan
Berikut dokumentasi pelaksanaan kerja praktik di PT PLN (Persero) UP3 yang di tunjukkan pada Gambar 3.1 sebagai berikut.
12
Gambar 3. 1 Dokumentasi selama Kerja Praktik
13 3.2. Uraian Data dan Analisis
Pada kerja praktik ini, peneliti melakukan perhitungan susut energi di dua penyulang, yaitu penyulang Ndona dan penyulang Nangapanda. Penyulang merupakan sarana pendistribusian tenaga listrik dari gardu induk ke konsumen.
Berikut diagram pendistribusian tenaga listrik seperti pada Gambar 3.1 yang merupakan diagram penyaluran distribusi tenaga listrik.
Gambar 3. 2 Diagram Penyaluran Distribusi Tenaga Listrik Sumber : (Basuko, 2013)
Penyulang juga diartikan sebagai penghantar harus (Tegangan Menengah) dari gardu induk ke gardu distribusi. Di penyulang, kontinuitas pendistribusian tenaga listrik harus selalu dijaga.
Secara umum, susut energi dirumuskan sebagai berikut :
………(1)
14
………(2)
Untuk menganalisis susut pada penyulang Ndona dan Nagapanda digunakan “Tamplate Simple S” dan “Formula Yogyakarta Nasional”. Tamplale Simple S merupakan template nasional yang digunakan PLN untuk menyalin data
mentah yang didapat dari SCADA. Formula Yogyakrta Nasional merupakan template Nasional yang digunakan untuk menghitung susut baik secara teknis
maupun non teknis.
Banyak data-data yang dibutuhkan dalam menganalisis susut penyulang menggunakan formula-formula di atas, salah satau datanya ialah jumah jurusan per gardu, seperti yang tertera pada Tabel 3.2 di bawah ini.
Tabel 3. 2 Asumsi Jumlah Jurusan per Kapasitas pada Gardu Daya Gardu Jumlah Jurusan
16 kVA 1 Jurusan
25 kVA 2 Jurusan
50 kVA 2 Jurusan
100 kVA 4 Jurusan
160 kVA 4 Jurusan
200 kVA 4 Jurusan
250 kVA 4 Jurusan
1. Penyulang Ndona
Penyulang Ndona, merupakan penyulang terpendek di wilayah Kabupaten Ende. Berikut single line diagram penyulang Ndona dapat di lihat pada Gambar 3.4 di bagian lampiran. Dari single line diagram penyulang Ndona, peneliti dapat mengambil data berupa jumlah gardu per kapasitasnya dan jumlah jurusannya seperti yang tertera pada Tabel 3.3.
15
Tabel 3. 3 Data Aset Distribusi Penyulang Ndona
Kapasitas Gardu Gardu (Buah) Jumlah Jurusan
16 kVA 1 1 Jurusan
50 kVA 8 16 Jurusan
100 kVA 4 16 Jurusan
160 kVA 5 20 Jurusan
Total 18 53 Jurusan
Dari data pada tabel 3.3 di atas dan data-data yang didapat dari UP3 FBB ini diuraikan ke dalam Tamplate Simple S dan Formula Yogyakarta Nasional, yang digunakan untuk untuk menghitung susut penyulang Ndona. Selain itu, dibutuhkan data seperti jumlah penerimaan (kWh) dan penjualan total (kWh) seperti yang di tunjukkan pada Tabel 3.4 sebagai berikut.
Tabel 3. 4 Data Penerimaan dan Penjualan Total dalam kWh Penyulang Ndona
Penerimaan kWh 345.375
Penjualan total kWh 320.920
Penjualan di sisi TT kWh 0
Penjualan di sisi TM kWh 0
Penjualan di sisi TR kWh 320.920
Penjuaalan Total merupakan jumlah dari penjualan di sisi TT, TM, dan SR.
Untuk penyulang Ndona hanya terdapat pelanggan TR saja dengan daya penjualan total sebesar 320.920 kWh dan untuk daya yang di salurkan sebesar 345.375 kWh.
Tabel 3. 5 Faktor Lain dalam Pendistribusian Listrik Penyulang Ndona
KWh Kirim ke Unit Lain kWh 0
Pemakaian Sendiri GD kWh 0
Dalam pendistribusian listrik ke pelanggan, tidak seratus persen akan terdistribusi, banyak faktor yang juga perlu di perhatikan (Tabel 3.5), seperti
16
jumlah kWh yang di krim ke unit lain dan pemakaian sendiri di gardu. Namun, dalam perhitungan susut di penyulang Ndona, nilai kedua faktor tersebut 0 kWh.
Tabel 3. 6 Faktor-faktor untuk perhitungan TM, TRF, TR, dan SR Penyulang Ndona
Faktor-faktor Keterangan TM TRF TR SR
Faktor Beban (LF) 0,45 0,42 0,36 0,36
Faktor Susut (LLF) 0,28 0,25 0,20 0,20
Faktor Kerja (FK/Cos j) 0,96 0,94 0,95 0,78 Tahan Penghantar ( R ) Ohm/km 0,41 0,80 3,33 Faktor Koreksi (FK) 0,1 - 2,0 1,00 1,92 0,79 1,30
Periode perhitungan Jam 744 744 744 744
Dalam menghitung susut di TM, Trafo, JTR, dan SR, di butuhkan parameter- parameter (faktor-faktor) seperti pada Tabel 3.6. Faktor kerja atau cos phi adalah sudut perbedaan antara tegangan dan arus yang dipengaruhi oleh beban pada masing-masing fasa. Nilai yang ditoleransi dalam cos phi sebesar 0,85. Namun, di penyulang Ndona pada SR nilai cos phi tidak mencapai 0.85 melainkan 0,78.
Perbedaan sudut fasa mempengaruhi nilai dayanya. Rumus daya adalah sebagai berikut :
……… (3) Daya aktif adalah daya sesungguhnya yang dibutuhkan oleh beban. Jika nilai sudut phi besar, maka adanya pergesaran fasa atau perbedaan antara sudut tegangan dan arus yang diakibatkan beban berlebih. Perbedaan sudut yang besar menyebabkan nilai cos phi atau faktor kerja semakin kecil.
Faktor koreksi merupakan faktor yang membantu menaikan nilai dari faktor kerja. Faktor Koreksi memiliki nilai kisarannya adalah 0,1 – 2,0 tergantung pada kondisi area. Untuk penyulang Ndona yang memiliki panjang SR 92 kms dan jarak SR ke rumah-rumah mempengaruhi faktor koreksi, sehingga untuk
17
penyulang Ndona faktor koreksinya diasumsikan 1,30, dimana akan mempengaruhi perhitungan susut secara teknis.
Faktor beban (load factor/LF) merupakan perbandingan antara beban rata- rata dengan beban puncak dan nilai LF untuk TM, Trafo, TR, dan SR secara berturut-turut adalah 0,45, 0,42, 0,35, dan 0,36. Faktor susut (LLF) didapat dari perhitungan dari faktor beban. Berikut rumus menghitung faktor susut.
( ) ( ) ( ) Tahanan penghantar merupakan nilai tahanan pada kabel di TM, TR, dan SR.
Untuk penyulang Ndona nilai tahanan penghantar pada TM, TR, dan SR secara berturut-turut adalah 0,41, 0,80, dan 3,33.
Tabel 3. 7 Perhitungan susut TM, Trafo, JTR, dan SR Penyulang Ndona Ket. TM Trafo JTR SR Input kWh 345.375 343.955 336.904 334.071 Jml Peny/Trafo/Jur/Kons bh 1 19 53 2.426 Panjang JTM/KVA
Trafo/JTR/SR
kms 15 1.746 19 92
Panjang/KVA Trafo Rata- Rata
kms 15 92 0,356 0,038
Node per Peny/Jurusan 19 8
Rugi Besi 0,24
Rugi Tembaga 1,21
Iek per
Peny/Trafo/Jur/Kons
kVA 637 26 15 0,66
Rugi Beban Puncak per Peny/Trafo/Jur/Kons
kW 6,9 2,0 0,4 0,002950 Susut I 2 R kWh 1.421 7.051 2.833 7.072 Susut I 2 R vs Input % 0,41 2,05 0,84 2,12 Susut I 2 R vs Input total % 0,41 2,04 0,82 2,05
Dari perhitungan susut pada Tabel 3.7, didapat bahwa susut JTM, 0,41%
(1.421 kWh), susut trafo 2,04% (7.051 kWh), susut JTR 0,82% (2.833 kWh), susut SR 2,05% (7.072 kWh). Jika, dilihat susut di SR dan Trafo sangat besar
18
nilai, yaitu susutnya melebihi susut yang diizikan oleh SPLN 1-1978, yaitu sebesar 2%. Karena susut SR dan Trafo yang tinggi yang mana memyebabkan nilai susut teknis di penyulang Ndona, maka untuk mengetahui besar pembebanan pemakaian listrik di penyulang Ndona, dilakukan perhitungan pembebanan trafo
Tabel 3. 8 Pembebanan Trafo Ndona Pembebanan
Trafo
Tabel Pembebanan Trafo kVA Persen Susut
28% 100 30% 2,05
Pembebanan trafo (tabael 3.8) didapat dari pembagian antara Iek dan dan panjang rata-rata trafo. Untuk nilai kVA 100 didapat karena panjang/kVA trafo rata-rata 92 kms > 75 kms. Kerana pembenan trafo lebih besar dari 0,2 (0,28 >
0,2) maka persen pembebanan trafo adalah 0,3 (30%). Untuk menntukan susut pembebanan trafo, didapat dari Tabel 3.17 pada lampiran, dimana nilai kVA 100 dan persennya 30%, didapat susutnya sebesar 2,05.
Tabel 3. 9 Perhitungan Susut Teknis dan Non Teknis Penyulang Ndona
Susut total kWh 24.456
Susut I 2 R kWh 18.376
Susut non I 2 R kWh 6.079
Susut total % 7,08
Susut I 2 R (TEKNIS) % 5,32
Susut non I 2 R (NON TEKNIS) % 1,76
Susut total didapat dari perhitungan antara jumlah penerimaan dikurangi jumlah penjualan total dikurangi kWh di kirm ke unit lain dikurangi kWh pemakaian sendiri gardu, sehingga didapat susut totalnya adalah 24.456 kWh atau sebesar 7,08%. Berdasarkan SPLN 1-1978 bahwa susut energi yang diizinkan adalah sebesar 2%. Sedangkan, susut energi di penyulang Ndona melebihi dari
19
standar PLN. Susut teknis penyulang Ndona didapat dari penjumlahan susut TM, Trafo, TR, dan SR, sehingga hasilnya 18.376 kWh atau 5,32%. Susut non teknis didapat dari pengurangan dari susut total dikurangi susut teknis, dan didapat susutnya sebesar 6.079 kWh atau 1,76%. Sehingga, pemetaannya dapat di lihat pada Gambar 3.3 diagram pemetaan susut teknis dan non teknis sebagai berikut.
Gambar 3. 3 Diagram Pemetaan Susut Teknis dan Non Teknis Penyulang Ndona
Dari perhitungan di atas, didapatkan bahwa susut penyulang Ndona tidak memenuhi standar baik secara teknis maupun susut non teknis. Jika ditinjau secara teknis terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi. Jika di lihat dari pengaruh JTM, ada kemungkinan pengaruh buttel neck. Buttle neck menghubungkan kedua kabel yang memiiki luas penampang yang berbeda. Dalam menghubungkan kedua kabel yang berbeda penampangnya, terdapat losses yang keluar karena kemungkinan terdapat celah yang di sebabkan perbedaan luas.
20
Dari sisi gardu (trafo), dipengaruhi oleh tinggi rendahnya pembebanan trafo.
Pada Tabel 3.8, dapat di lihat bahwa pembebanan trafo sebesar 28%. Standar nilai pembebanan trafo yang di toleransi sekitar 70% - 80% ke atas. Pembebanan trafo di pengaruhi dengan banyaknya pemakain. Untuk wilayah Ndona, kemungkinan siang hari penggunaan listriknya tidak banyak sehingga pembebanan trafo sedikit atau persentasi pembebenan siang hari jauh lebih sedikit dari pembebanan malam.
Sehingga, ketika di rata-ratakan hasil pembebanannya kecil. Di tinjau dari panjang JTM dan JTR (Tabel 3.7), penyulang Ndona di bulan Juli 2020, nilainya sama dengan nilai di bulan Juli 2019, yaitu sebesar JTR 18,85 kms dan JTM sebesar 14,63 kms.
Sedangkan penyebab susut non teknis, diperkirakan karena meter rusak atau terdapat beberapa pelanggan yang belum terdaftar sebagai pelanggan di PLN, serta kemungkinan terjadi pencurian listrik.
2. Penyulang Nangapanda
Sama halnya dengan penyulang Ndona, dalam menghitung susut di penyulang, maka perlu diketahui jumlah jurusan pada penyulang, dengan melihat pada single line diagram penyulang Nangapanda pada gambar 3.5 di bagian lampiran. Dari single line diagram didapat data seperti pada tabel 3.10 di bawah ini.
Tabel 3. 10 Data Aset Distribusi Penyulang Nangapanda Kapasitas Gardu Gardu (Buah) Jumlah Jurusan
16 kVA 4 4 Jurusan
50 kVA 62 124 Jurusan
100 kVA 3 12 Jurusan
Total 18 140 Jurusan
21
Kemudian data dari Tabel 3.10 dan data-data lainnya yang didapat dari UP3 FBB diuraikan ke dalam Tamplate Simple S dan Formula Yogyakarta Nasional, yang digunakan untuk untuk menghitung susut penyulang Nangapanda. Selain itu, dibutuhkan data seperti jumlah penerimaan (kWh) dan penjualan total (kWh) seperti yang di tunjukkan pada Tabel 3.11 sebagai berikut.
Tabel 3. 11 Data Penerimaan dan Penjualan Total dalam kWh Penyulang Nangapanda
Penerimaan kWh 553.429
Penjualan total kWh 435.466
Penjualan di sisi TT kWh 0
Penjualan di sisi TM kWh 0
Penjualan di sisi TR kWh 435.466 Tabel 3. 12 Faktor Lain dalam Pendistribusian Listrik Penyulang
Nangapanda
KWh Kirim ke Unit Lain kWh 0
Pemakaian Sendiri GD kWh 0
Sama halnya dengan penyulang Ndona, penyulang Nangapanda tidak memiliki faktor lainnya dalam pendistribusian listrik ke wilayah Nangapanda.
Tabel 3. 13 Faktor-faktor untuk Perhitungan TM, TRF, TR, dan SR Penyulang Nangapanda
Faktor-faktor Keterangan TM TRF TR SR
Faktor Beban (LF) 0,45 0,42 0,36 0,36
Faktor Susut (LLF) 0,28 0,25 0,20 0,20
Faktor Kerja (FK/Cos j) 0,90 0,83 0,81 0,70 Tahan Penghantar ( R ) Ohm/km 0,43 0,88 3,33 Faktor Koreksi (FK) 0,1 - 2,0 0,30 1,28 0,46 2,00 Periode perhitungan Jam 744 744 744 744
Faktor kerja atau cos phi pada trafo, TR, dan SR pada penyulang Nangapanda secara berturut-turut adalah 0,83, 0, 81, dan 0,70. Nilai cos phi tersebut tidak
22
memenuhi nilai yang ditoleransi dalam cos phi sebesar 0,85. Faktor koreksi mempengaruhi nilai faktor kerja. Faktor Koreksi memiliki nilai kisarannya adalah 0,1 – 2,0 tergantung pada kondisi area. Untuk penyulang Nangapanda dengan kondisi area lebih luas dari penyulang Ndona, sehingga faktor koreksi lebih besar dari faktor koreksi penyulang Ndona.
Faktor beban (load factor/LF) merupakan perbandingan antara beban rata- rata dengan beban puncak dan nilai LF untuk TM, Trafo, TR, dan SR secara berturut-turut adalah 0,45, 0,42, 0,36, dan 0,36. Faktor susut (LLF) didapat dari perhitungan dari faktor beban, seperti pada rumus LLF.
Tahanan penghantar merupakan nilai tahanan pada kabel di TM, TR, dan SR.
Untuk penyulang Ndona nilai tahanan penghantar pada TM, TR, dan SR secara berturut-turut adalah 0,43, 0,88, dan 3,33.
Tabel 3. 14 Perhitungan Susut TM, Trafo, JTR, dan SR Penyulang Nangapanda
Ket. TM Trafo JTR SR
Input kWh 553.429 543.322 532.184 527.182 Jml Peny/Trafo/Jur/Kons bh 1 57 140 6.353 Panjang JTM/KVA
Trafo/JTR/SR
kms 96 2.990 104 232
Panjang/KVA Trafo Rata- Rata
kms 96 52 0,742 0,037
Node per Peny/Jurusan 57 15
Rugi Besi 0,18
Rugi Tembaga 0,97
Iek per Peny/Trafo/Jur/Kons kVA 1.070 15 10 0,44 Rugi Beban Puncak per
Peny/Trafo/Jur/Kons
kW 49,1 1,1 0,2 0,001966 Susut I 2 R kWh 10.107 11.138 5.002 13.865 Susut I 2 R vs Input % 1,83 2,05 0,94 2,63
23
Susut I 2 R vs Input Total % 1,83 2,01 0,90 2,51
Dari perhitungan pada Tabel 3.14, dapat dilihat masing-masing susut dari TM sampai pada SR dimana setiap nilai susutnya tidak memenuhi SPLN 1-1978, yaitu bahwa susut energi yang diizinkan adalah sebesar 2%.
Tabel 3. 15 Pembebanan Trafo Penyulang Nangapanda Pembebanan
Trafo
Tabel Pembebanan Trafo kVA Persen Susut
29% 50 30% 2,05
Pembebanan trafo pada penyulang Nangapanda sebesar 29%. Karena panjang per kVA trafo rata-rata Tabel 3.15 adalah 52 > 35, maka dayanya sebesar 50 kVA. Sehingga, didapat susutnya adalah 2,05 Tabel 3.1.
Tabel 3. 16 Perhitungan Susut Teknis dan Non Teknis Penyulang Nangapanda
Susut total kWh 117.963
Susut I 2 R kWh 40.112
Susut non I 2 R kWh 77.851
Susut total % 21,31
Susut I 2 R (TEKNIS) % 7,25
Susut non I 2 R (NON TEKNIS) % 14,07
Berikut pemetaan susut penyulang Nangapanda yang ditunjukkan pada Gambar 3.3.
24
Gambar 3. 4 Diagram Pemetaan Susut Teknis dan Non Teknis Penyulang Nangapanda
Berdasarkan data perhitungan Tabel 3.16, menunjukan bahwa susut total di penyulang Nangapanda sebesar 117.963 kWh atau 21,31%. Pada penyulang Nangapanda, susut yang dihasilkan melebihi susut yang dizinkan oleh SPLN, dimana susut teknis sebesar 40.112 kWh atau 7,25% lebih kecil dari susut non teknis yaitu sebesar 77.851 kWh atau 14,07%. Berbeda dengan susut Ndona yang mana secara teknisnya susutnya lebih besar. Penyulang Nangapanda selama 2 tahun terakhir tidak dilakukan pemeriksaan meter, sehingga ada kemungkinan terjadi kerusakan meter atau beberapa pelanggan yang belum terdaftar sebagai pelanggan di wilayah Nangapanda.
Berdasarkan data bulan Juli 2019, panjang JTR penyulang Nangapanda adalah 103,08 kms dan panjang JTR bulan Juli 2020 adalah 103,841 kms. Panjang JTR dibulan Juli 2020 lebih banyak dibandingkan dengan bulan Juli 2019. Hal ini
25
mengartikan bahwa terjadi penambahan sebesar 0,761 kms pada penyulang Ndona di bulan Juli 2020. Sehingga dapat disimpulkan bahwa panjang JTR mempengaruhi terjadinya susut secara teknis.