5 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka 1. Definisi
a. Tempat Kerja
Berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor Kep-186/MEN/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran Di Tempat Kerja, dalam peraturan ini yang dimaksud tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber – sumber bahaya. Sedangkan berdasarkan Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, diperinci dalam pasal 2, yang termasuk tempat kerja ialah semua ruangan, lapangan, halaman, dan sekelilingnya yang merupakan bagian – bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja tersebut.
b. Potensi Bahaya (Hazard)
Potensi bahaya adalah suatu keadaan yang memungkinkan atau berpotensi terhadap terjadinya kejadian kecelakaan berupa cidera, penyakit, kematian, kerusakan atau kemampuan melaksanakan fungsi operasional yang telah ditetapkan (Tarwaka, 2008).
Menurut Tarwaka (2008) bahwa di tempat kerja, potensi sebagai sumber risiko khususnya terhadap keselamatan atau kesehatan di perusahaan akan selalu dijumpai, antara lain berupa faktor – faktor berikut ini:
1) Faktor teknis yaitu berasal atau terdapat pada peralatan kerja yang digunakan atau pekerja itu sendiri.
2) Faktor lingkungan yaitu berasal dari atau berada di dalam lingkungan, yang berasal dari proses produksi, bahan baku, dan hasil akhir.
3) Faktor manusia, apabila manusia yang melakukan pekerjaan tidak dalam kondisi yang prima baik fisik maupun psikis.
4) Faktor fisika dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada tenaga kerja yang terpapar, seperti :kebisingan, pencahayaan, radiasi, vibrasi, suhu ekstrim dan getaran.
5) Faktor kimia berasal dari bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi, antara lain : toksisitas, gas, asap, uap, dan logam berat.
6) Faktor biologi dapat perasal dari kuman – kuman, tumbuhan, hewan, bakteri dan virus.
7) Faktor fisiologis dikarenakan penerapan ergonomi yang tidak baik atau tidak sesuai dengan norma-norma ergonomi yang berlaku, seperti sikap dan cara kerja yang tidak sesuai,
pengaturan kerja yang tidak tepat, beban kerja yang tidak sesuai dan ketidak serasian antara manusia dan mesin.
8) Berasal dari proses produksi yaitu berasal dari kegiatan yang dilakukan dalam proses produksi, yang sangat tergantung dari bahan dan peralatan yang dipakai, serta jenis kegiatan yang dilakukan.
9) Kebakaran, peledakan, kebocoran.
c. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja pasal 1 ayat 1, SMK3 adalah bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif, pada pasal 2 Penerapan SMK3 bertujuan untuk:
1) Meningkatkan efektifitas perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja yang terencana, terukur, terstruktur, dan terintegrasi;
2) Mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dengan melibatkan unsur manajemen, pekerja/buruh, dan/atau serikat pekerja/serikat buruh; serta
3) Menciptakan tempat kerja yang aman, nyaman, dan efisien untuk mendorong produktivitas.
d. Kebakaran
Kebakaran merupakan bencana atau petaka yang paling sering dihadapi dan bisa digolongkan baik sebagai bencana alam ataupun bencana yang disebabkan oleh perbuatan manusia itu sendiri (Tarwaka, 2012).
Sedangkan menurut (Suma’mur,1996), peristiwa terbakar adalah suatu reaksi yang hebat dari zat yang mudah terbakar dengan zat asam. Beberapa industri seperti industri kimia, minyak bumi dan cat sangat rawan dipandang dari sudut kebakaran. Pada umumnya menurut Depnakertrans (1999), penyebab kebakaran dan peledakan bersumber pada 3 faktor yaitu :
1) Faktor manusia
Manusia sebagai faktor penyebab kebakaran dan peledakan antara lain dilihat dari dua faktor yaitu pekerjaannya dan pengelola yang tidak mau tahu atau kurang mengetahui prinsip dasar pencegahan kebakaran atau peledakan. Terkadang manusia sembrono dan kurang hati-hati sehingga menimbulkan kebakaran.
2) Faktor Teknis
Faktor teknis sebagai penyebab kebakaran dan peledakan antara lain adalah:
a) Melalui proses fisik atau mekanis dimana dua faktor penting yang menjadi peranan dalam proses ini ialah timbulnya
panas akibat kenaikan suhu atau timbulnya bunga api akibat dari pengetesan benda – benda maupun adanya api terbuka.
b) Melalui proses kimia yaitu sewaktu – waktu pengangkutan bahan – bahan kimia berbahaya, penyimpanan, dan penanganan (handling) tanpa memperhatikan petunjuk – petunjuk yang ada.
c) Melalui tenaga listrik, pada umumnya terjadi karena hubungan pendek sehingga menimbulkan panas atau bunga api dan dapat menyalakn atau membakar komponen lain.
3) Faktor Alam
Faktor alam sebagai penyebab kebakaran dan peledakan seperti petir, gunung meletus dan lain – lain.
Klasifikasi kebakaran menurut National Fire Protection Association (NFPA) terdiri dari 5 kategori yaitu :
1) Kebakaran Kelas A
Kebakaran yang terjadi pada bahan padat kecuali logam, kelas ini mempunyai ciri jenis kebakaran yang meninggalkan arang dan abu. Unsur bahaya yang terbakar biasanya mengandung karbon. Misalnya kayu, plastik, tekstil, kain, kertas.
2) Kebakaran Kelas B
Kebakaran yang terjadi pada bahan cair dan gas yang mudah terbakar. Kelas ini terdiri dari unsur bahan yang
mengandung hidrokarbon dan minyak bumi dan turunan kimianya. Misalnya : minyak, LPG/LNG dan bensin.
3) Kebakaran Kelas C
Kebakaran instalasi listrik bertegangan, misalnya : Breaker listrik dan alat rumah tangga lain yang menggunakan listrik.
4) Kebakaran Kelas D
Kebakaran yang terjadi pada benda – benda logam padat seperti titanium, magnesium, natrium, kalium, besi dan baja.
5) Kebakaran Kelas K
Kebakaran yang disebabkan oleh bahan akibat konsentrasi lemak yang tinggi. Kebakaran jenis ini banyak terjadi di dapur.
Api yang timbul didapur dapat dikategorikan pada api Kelas B.
Kebakaran tidak lepas dari adanya api, api merupakan suatu reaksi kimia atau reaksi oksidasi yang bersifat eksotermis dan diikuti oleh evolusi atau pengeluaran cahaya dan panas serta dapat menghasilkan nyala, asap dan bara. Proses terjadinya api ini dimulai apabila terdapat tiga unsur yaitu bahan mudah terbakar, oksigen, dan panas. Apabila ketiga unsur tersebut berada dalam kondisi yang seimbang atau dalam konsentrasi tertentu timbul reaksi oksidasi atau dikenal dengan proses pembakaran. Apabila api awal ini telah terjadi maka sebagian panas tersebut akan diserap bahan bakar atau benda disekelilingnya yang kemudian melepaskan uap dan gas yang dapat menyala berganti – ganti setelah bercampur dengan oksigen (di
udara), proses ini disebut reaksi berantai. Ketiga unsur tersebut dikenal dengan sebutan segitiga api.
Dalam ilmu kebakaran ketiga komponen yang ada pada segitiga api atau fire triagle digambarkan dengan sebuah bangun dua dimensi berbentuk segitiga sama sisi. Dimana masing-masing sisi mewakili satu komponen kebakaran api yaitu oksigen, panas, dan bahan bakar.
Peristiwa pembakaran akan dapat terjadi apabila ketiga komponen tersebut berada dalam keadaan keseimbangan.(Tarwaka,2012).
Berikut ini adalah gambar segitiga api tersaji dalam gambar 1.
Gambar 1. Segitiga Api Sumber : Tarwaka, 2012 e. Kecelakaan Kerja
Kecelakaan kerja adalah kejadian yang jelas tidak dikehendaki dan sering kali tidak terduga semula yang dapat menimbulkan kerugian baik waktu, harta benda atau properti maupun korban jiwa
yang terjadi di dalam suatu proses kerja industri atau yang berkaitan dengannya (Tarwaka, 2008).
Sedangkan menurut Suma’mur (1996) Kecelakaan Kerja adalah kejadian yang tidak diduga dan tidak diharapkan, oleh karena di belakang peristiwa itu tidak terdapat unsur kesengajaan, lebih – lebih dalam bentuk perencanaan dan peristiwa kecelakaan tersebut disertai kerugian material ataupun penderitaan dari yang paling ringan sampai kepada yang paling berat.
2. Implementasi Sistem Tanggap Darurat Kebakaran a. Proses Produksi
Proses produksi di PT Adiluhung Saranasegara Indonesia dibagi menjadi 2 (dua) proses produksi yaitu proses produksi Bangunan Kapal Baru dan proses produksi Reparasi Kapal.
1) Proses Produksi Bangunan Kapal Baru a) Penghitungan Kebutuhan Material Kapal
Setelah mendapat pesanan untuk membuat sebuah kapal adalah menghitung kebutuhan material pada kapal. Material yang digunakan adalah plat baja setebal 20 inch dimana lebarnya bervariasi antara 5 inch dan 6 inch, dipilih sesuai kebutuhan. Bagian – bagian yang dihitung diantaranya adalah plat tiap lajur, floor, transom plate dan stiffener, long girder (center keel dan side keel), car deck, plat lambung, dan lain – lain. Dimana perhitungan material tersebut dilakukan tiap
block. Dalam menghitung kebutuhan material kita harus benar – benar teliti agar material yang dibeli benar – benar sesuai dengan kebutuhan.
b) Penggambaran Mouldloft
Mouldloft adalah proses menterjemahkan atau mengembangkan gambar dasar dengan skala 1:50, 1:100 atau 1:200 menjadi gambar produksi dan rambu-rambu atau mal dalam ukuran sebenarnya (skala 1:1). Mouldloft ini sangat dibutuhkan dalam pembangunan sebuah kapal, karena dapat membuat bagian – bagian kapal yang rumit seperti bagian buritan dan haluan. Di galangan kapal fungsi Mouldloft sangat penting sekali karena merupakan sarana yang menghubungkan antara kegiatan perencanaan dan kegiatan produksi. Pada mouldloft dibutuhkan basic design dan detail design berupa lines plan, body plan, midship section, shell section, working plan berupa working drawing, material list, dan lain – lain.
Dalam penggambaran bentuk badan kapal sesungguhnya, tidak selalu sepanjang ukuran kapal seluruhnya
c) Penggunaan Mesin Bubut dalam Membuat Bantalan Propeler Mesin bubut adalah salah satu jenis mesin perkakas yang digunakan untuk proses pemotongan benda kerja yang dilakukan dengan membuat sayatan pada benda kerja dimana pahat digerakkan secara translasi dan sejajar dengan sumbu dari
benda kerja yang berputar. Prinsip kerja mesin bubut adalah menghilangkan bagian dari benda kerja untuk memperoleh bentuk tertentu dimana benda kerja diputar dengan kecepatan tertentu bersamaan dengan dilakukannya proses pemakanan oleh pahat yang digerakkan secara translasi sejajar dengan sumbu putar benda kerja.
Salah satu benda yang mejadi benda kerja mesin bubut adalah kayu pogot. Kayu pogot tersebut akan dibubut sampai dihasilkan ukuran dengan diameter lingkaran dalam 219 mm dan diameter lingkaran luar 241 mm. Mesin bubut yang digunakan terbilang besar, pasalnya mesin ini mampu mengerjakan bahan dengan panjang 3 m dan tebal 1 m. Kayu pogot (Lignum vitae) sampai saat ini masih banyak dipakai terutama seperti pada kapal – kapal rakyat kapal Ferry penyeberangan sampai kapal khusus kapal selam. Jenis kayu ini mempunyai keistimewaan yaitu dapat mengeluarkan minyak untuk melumasi poros dalam kondisi tercelup air dan sampai kini jenis kayu ini di Indonesia belum dapat ditemukan karena kayu tersebut di proteksi negara asal kayu sehingga kita tidak dapat membudidayakan dan harus memesan terlebih dahulu dari Brazil.
d) Penggunaan Mesin CNC dalam Proses Pemotongan Plat
Mesin CNC adalah suatu mesin yang dikontrol oleh komputer dengan menggunakan bahasa numerik (data perintah dengan kode angka, huruf dan simbol) sesuai standart ISO. Di Gudang workshop CNC terdapat dua jenis mesin CNC yaitu CNC gas dan CNC plasma. Mesin CNC gas ini menggunakan gas sebagai pemotong platnya. Ketebalan plat yang bisa diotong oleh mesin ini yaitu 60 inci sedangkan mesin CNC plasma menggunakan laser sebagai pemotongnya. Mesin ini dapat memotong plat lebih cepat dan rapi dibandingkan mesin sebelumnya. Hanya saja mesin ini hanya mampu memotong plat sampai dengan ketebalan 10 inci.
Hal yang membedakan mesin CNC ini daripada mesin pemotong plat konvensional adalah penggunaannya melalui komputer. Aplikasi yang digunakan pada komputer mesin ini yaitu Vision 51. Untuk pemrogramannya dibuat menggunakan aplikasi CAM. Pemrograman itu sendiri dilakukan oleh pihak Engineering PT Adiluhung Saranasegara Indonesia. Tidak semua bagian dari mesin Cutting diatur secara otomatis. Pada bagian nozzle harus diganti secara manual sebelum melakukan pemotongan. Selain itu densitas angin dan gas yang digunakan juga diatur secara manual. Untuk perawatan, mesin potong ini harus dibersihkan seminggu sekali, terutama pada bagian
nozzle. Karena jika tidak dibersihkan akan mengakibatkan hasil potongan menjadi tidak bagus.
e) Proses Welding Check
Seteleh melalui proses fabrikasi dimana plat dipotong sesuai kebutuhan lalu digabungkan pada proses sub-assembly, maka selanjutnya adalah proses assembly. Assembly adalah proses penyatuan block kapal yang sudah didesain sedimikian rupa penempatannya. Dalam proses assembly terdapat proses yang dinamakan welding check. Tujuan diadakan welding check ini adalah untuk memastikan bahwa pengelasan telah dilakukan sesuai peraturan internasional mengenai pengelasan kapal.
f) Proses Load Test
Sebuah uji beban penyimpanan (load test) generator merupakan tindakan pemeriksaan dan penilaian terhadap generator. Hal ini bertujuan untuk memastikan semua komponen utama dari generator berada dalam kondisi sempurna. Proses ini dilakukan oleh BKI bersama pimpinan proyek kapal tersebut.
Proses load test ini dilakukan untuk melihat kesinkronan tiga generator tersebut. Ketiga generator dikatakan sinkron apabila otomatis generator kedua akan hidup jika beban sudah kelebihan di generator pertama, dan generator ketiga akan otomatis hidup apabila generator kedua sudah kelebihan beban.
Data yang diambil dalam load test yaitu perubahan daya, frekuensi, tegangan. Data tersebut didapat dari panel – panel yang terpasang pengukur tegangan, frekuensi, dan daya. Alat untuk melihat sinkronnya ketiga generator adalah sinkroniskop.
Kunci dari uji beban penyimpanan atau load bank testing yang tepat adalah dengan menguji beban (kW) secara penuh dari peringkat output generator. Karena kebanyakan generator tidak beroperasi secara teratur pada peringkat kW penuh mereka, hal ini sangat penting agar dapat dipastikan bahwa generator benar- benar dapat menghasilkan tenaga kuda tertinggi yang mungkin diperlukan, yang dapat memastikan bahwa generator dapat diandalkan selama diperlukan.
g) Pengecekan Steering Wheel
Alat kemudi salah satu benda yang sangat krusial dalam proses pembuatan bangunan kapal baru. Alat kemudi ini harus dicek apakah sudah sinkron antara steering wheel dengan steering machine serta steering gear.
h) Melakukan Crankshaft Defelction
Crankshaft atau poros engkol mesin diesel adalah bagian mesin yang mengubah gerak vertikal dari piston menjadi gerak rotasi (putaran). Fungsi utama dari crankshaft adalah mengubah gerakan naik turun yang dihasilkan oleh piston menjadi gerakan memutar yang nantinya akan diteruskan ke transmisi. Semakin
lama waktu mesin terus beroperasi, tingkat keausan setiap bantalan sepanjang poros engkol tidaklah sama. Ini menyebabkan crankshaft tidak akan tetap dalam garis lurus seperti semula, akan didapati bengkok baik ke atas maupun ke bawah pada derajat yang sangat kecil namun cukup untuk memberikan dampak buruk jika dibiarkan begitu saja. Untuk itulah dilakukan crankshaft deflection secara berkala untuk memastikan keselarasan poros masih berada dalam batas yang diperbolehkan.
i) Proses Sandblasting
Sandblasting adalah proses menembakkan pasir silika atau steel greet ke lambung kapal. Sandblasting ini dilakukan untuk menghilangkan material – material yang masih menempel di lambung kapal seperti karat, cat, oli, dan lain – lain. Selain itu, sandblasting juga dilakukan untuk membuat kekasaran pada permukaan metal agar dapat tercapai tingkat perekatan yang baik antara permukaan metal dengan bahan pelindung, misalnya cat.
j) Pengecatan
Pengecatan adalah tahap akhir yang akan melindungi plat kapal dari korosi.
2) Proses Produksi Reparasi Kapal a) Proses Docking Kapal
Docking adalah proses memindahkan kapal dari air ke darat untuk dilakukan proses reparasi pada kapal tersebut.
Proses docking kapal terdapat beberapa jenis yang disesuaikan dengan jenis kapal tersebut. PT Adiluhung Saranasegara Indonesia menggunakan jenis docking slipway dock, floating dock, dan docking menggunakan airbag. Berikut rinciannya:
Slipway 01 : Slipway 1000 GT
Floating Dock : Floating Dock 1 – 3000 TLC Air Bag Line 1 : Airbag 1500 GT
Air Bag Line 2 : Airbag 1500 GT Air Bag Line 3 : Airbag 2000 GT Air Bag Line 4 : Airbag 2000 GT Air Bag Line 5 : Airbag 2000 GT Air Bag Line 6 : Airbag 2000 GT
Pada slipway dock, pertama kapal didorong ke dekat graddle (gerobak Tarik), kemudian setelah kapal sudah berada di atas cradle, dengan bantuan mesin derek/19arik, wire rope atau tali baja kapal ditarik ke atas sampai seluruh badan kapal keluar dari air. Sedangkan pada floating dock, kapal didorong oleh tugboat sampai di atas floating dock yang masih di bawah air, kemudian saat posisi kapal sudah sesuai dengan posisi
penumpu kapal di floating dock, maka operator pun menaikkan floating dock ke atas, sehingga kapal terdocking. Pada proses docking menggunakan airbag, kapal didorong menggunakan tugboat sampai mendekati lokasi docking, kemudian dibagian bawah kapal diselipkan airbag yang belum diisi udara, setelah semua bagian kapal yang harus ditopang oleh airbag sudah terdapat airbag dibawahnya, maka airbag diisi udara sampai kapal terdokcing. Setelah kapal ditumpuk menggunakan kayu, maka udara dalam airbag pun dikeluarkan.
b) Pembersihan Lambung Kapal, Replating, dan Pembongkaran mesin
Setelah berhasil docking, maka kapal akan dilihat repair listnya agar kita tahu bagian mana saja yang akan direparasi.
Untuk pengecetan, mula – mula kapal harus terlebih dahulu disemprot menggunakan waterjet untuk menghilangkan sisa- sisa garam yang menempel pada badan kapal. Hal ini dilakukan agar tidak ada garam yang tersisa pada badan kapal. Jika sampai ada garam yang masih menempel, akan berakibat fatal pada lambung kapal karena akan mempermudah terjadinya korosi pada lambung kapal.
c) Pemasangan Propeller
Setelah sebelumnya propeller dilepas untuk direparasi, maka selanjutnya akan dimasukkan kembali. Dimana proses
pemasangan propeller ini dilakukan oleh 6 orang. Cara memasang kembali shaft propeller menggunakan katrol dan rantai untuk mengangkat propeller sampai pada posisi yang pas untuk kemudian ke dalam sterntube shaft.
d) Pengecekan Kebocoran Plat
Pada proses reparasi, biasanya pada proses replating, sering ditemukan terjadinya kebocoran, hal ini diakibatkan pengelasan yang tidak tepat. Untuk itulah dibutuhkan pengecekan kebocoran plat.
b. Potensi Bahaya Kebakaran
Potensi bahaya kebakaran adalah segala sesuatu keadaan yang dapat menimbulkan bahaya kebakaran. Oleh karena itu, diperlukan untuk identifikasi bahaya kebakaran. Untuk dapat mengidentifikasi dan mengevakuasi potensi bahaya kebakaran secara akurat dan tepat, diperlukan pemahaman secara rinci tentang karakteristik dari tipikal kebakaran yang mungkin terjadi berdasarkan kategori dan klasifikasi potensi kebakaran, sehingga dengan demikian maka dapat diketahui upaya pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran yang tepat dan sesuai dengan potensi bahayanya (Taufik Tardianto, 2006).
Menurut Peraturan Menteri pekerjaan umum Nomor : 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan, bahaya kebakaran adalah bahaya yang diakibatkan oleh adanya ancaman
potensial dan derajat terkena pancaran api sejak dari awal terjadi kebakaran hingga penjalaran api, asap, dan gas yang ditimbulkan.
c. Kebijakan Tanggap Darurat
Manajemen tanggap darurat harus menjadi kebutuhan dan dituangkan dalam kebijakan manajemen. Tanpa dukungan dan keinginan dari manajemen, maka program pengelolaan tanggap darurat tidak akan berhasil. Untuk tingkat nasional, kebijakan tentunya ditetapkan oleh Presiden dan untuk daerah adalah Kepala Daerah setempat. Untuk tingkat perusahaan kebijakan keadaan darurat harus ditetapkan oleh pimpinan setempat. Kebijakan ini menjadi landasan penerapan manajemen bencana di masing – masing daerah atau perusahaan/organisasi. Berdasarkan kebijakan ini, dapat dikembangkan dan ditetapkan strategi pengendalian bencana, penyediaan sumberdaya yang diperlukan serta organisasi pelaksanaannya. Kebijakan ini juga sangat penting karena sekaligus menjadi bukti komitmen pimpinan setempat terhadap penerapan manajemen bencana di lingkungannya masing – masing (Soehatman Ramli, 2010).
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja bab II :
Pasal 7 ayat 3 yang berisi Kebijakan K3 sebagaimana dimaksud pada ayat 1 paling sedikit memuat :
1) Visi;
2) Tujuan perusahaan;
3) Komitmen dan tekad melaksanakan kebijakan; dan
4) Kerangka dan program kerja yang mencakup kegiatan perusahaan secara menyeluruh yang bersifat dan atau operasional.
Pasal 8 :
Pengusaha harus menyebarluaskan kebijakan K3 yang telah ditetapkan kepada seluruh pekerja/buruh, orang lain selain pekerja/buruh yang berada di perusahaan, dan pihak lain yang terkait.
d. Identifikasi Keadaan Darurat
Menurut Undang – Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, keadaan darurat adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Menurut Depnaker (1999), suatu keadaan darurat besar di dalam suatu pekerjaan adalah salah satu yang mempunyai potensi untuk menyebabkan cidera berat atau kematian.
1) Tanggap Darurat Kebakaran
Tanggap adalah tindakan segera yang dilakukan untuk mengatasi kejadian bencana misalnya dalam proses kebakaran atau peledakan di lingkungan industri Soehatman Ramli (2010) :
1) Memadamkan kebakaran atau ledakan;
2) Menyelamatkan manusia dan korban;
3) Menyelamatkan harta benda dan dokumen penting;
4) Perlindungan masyarakat umum.
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan, Sistem tanggap darurat adalah salah satu atau kombinasi dari metode yang digunakan pada bangunan untuk memperingatkan orang terhadap keadaan darurat, penyediaan tempat penyelamat, membatasi penyebaran kebaran, pemadam kebakaran, termasuk disini sistem proteksi aktif dan pasif.
3. Manajemen Tanggap Darurat Kebakaran a. Perencanaan Tanggap Darurat
Setelah semua potensi keadaan darurat diidentifikasi, dilakukan perencanaan awal (preplanning) untuk mengetahui dan mengembangkan strategi pengendaliannya. Berbagai kemungkinan keadaan darurat disimulasikan dalam bentuk skenario keadaan darurat mulai dari yang kecil sampai kondisi terburuk yang dapat terjadi. Dari
rencana awal ini dapat diketahui apa saja sumber daya yang diperlukan, strategi pengendalian yang tepat, pengorganisasian dan sistem komunikasi serta dampak terhadap lingkungan sekitarnya (Soehatman Ramli, 2010).
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja bab II pasal 9 ayat 2 yang menyatakan bahwa
“Rencana K3 disusun dan ditetapkan oleh pengusaha dengan mengacu pada kebijakan K3 yang telah ditetapkan”.
b. Penyusunan Prosedur Sistem Tanggap Darurat Kebakaran
Dari hasil preplanning disusun prosedur tetap penanganan keadaan yang diperlukan. Prosedur keadaan darurat mencakup struktur organisasi, tugas dan tanggung jawab tim, logistik, sarana yang diperlukan, jalur komando dan komunikasi, pengamanan dan pengelolaan masyarakat sekitarnya (Soehatman Ramli, 2010).
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja:
1) Lampiran I huruf C mengenai Pelaksaanaan Rencana K3 Nomor 7 yang menyebutkan bahwa, Perusahaan harus memiliki prosedur sebagai upaya menghadapi keadaan darurat kecelakaan dan bencana industri.
2) Lampiran II kriteria 6.7.5 yang berisi, Instruksi/prosedur keadaan darurat dan hubungan keadaan darurat diperlihatkan secara jelas dan menyolok serta diketahui oleh seluruh tenaga kerja di perusahaan.
c. Organisasi Tanggap Darurat
Menurut Soehatman Ramli (2010), penanganan keadaan darurat dilakukan secara terorganisir dengan melibatkan berbagai fungsi dalam organisasi sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing – masing. Penanganan keadaan darurat sekurang – kurangnya melibatkan fungsi berikut ini :
1) Operasi, bertugas menjamin keamanan dan kelencaran operasi selama keadaan darurat berlangsung.
2) Teknik, bertugas menjamin dan mendukung sarana teknis yang diperlukan untuk penanggulangan keadaan darurat.
3) Security, bertugas menjaga keamanan selama keadaan darurat.
4) Medis, untuk memberikan bantuan dan pertolongan medis tehadap korban.
5) Pemadam kebakaran, bertugas menanggulangi keadaan darurat.
6) Safety, bertugas menjaga dan memberikan saran dan pertimbangan keselamatan.
7) Logistik, bertugas menyediakan perlengkapan dan kebutuhan logistik untuk penanggulangan.
8) Transportasi, memberikan dukungan saran transportasi dan alat – alat berat jika diperlukan.
9) Komunikasi, membantu kelancaran jalur komunikasi selama penanggulangan baik internal maupun eksternal.
10) Humas, menjaga hubungan dengan semua pihak terkait khususnya dengan lingkungan, pemerintah dan masyarakat sekitarnya melalui informasi yang akurat dan jelas tentang keadaan darurat.
Menurut Kepmenaker Nomor Kep-186/MEN/1999 tentang Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja, organisasi tanggap darurat adalah satuan tuagas yang mempunyai tugas khusus fungsional di bidang kebakaran. Berdasarkan Kepmenaker Nomor Kep- 186/MEN/1999 tentang Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja, pasal 1 poin (d), yang dimaksud unit penanggulangan kebakaran adalah unit kerja yang dibentuk dan ditugaskan untuk menangani masalah penanggulangan kebakaran di tempat kerja yang meliputi kegiatan administrasi, identifikasi sumber – sumber bahaya, pemeriksaan, pemeliharaan dan perbaikan sistem proteksi kebakaran.
Unit penanggulangan kebakaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 terdiri dari:
1) Petugas peran kebakaran ialah petugas yang ditunjuk dan diserahi tugas tambahan untuk mengidentifikasi sumber – sumber bahaya dan melaksanakan upaya – upaya penanggulangan kebakaran;
2) Regu penanggulangan kebakaran ialah satuan tugas yang mempunyai tugas khusus fungsional di bidang penanggulangan kebakaran;
3) Koordinator unit penanggulangan kebakaran;
4) Ahli K3 spesialis penanggulangan kebakaran sebagai penanggungjawab teknis.
Sedangkan pada pasal 1 poin (e) mengenai petugas peran penanggulangan kebakaran ialah petugas yang ditunjuk dan diserahi tugas tambahan untuk mengidentifikasi sumber bahaya dan melaksanakan upaya penanggulangan kebakaran di unit kerjanya.
Pada Kepmenaker Nomor Kep-186/MEN/1999 pasal 7, mengenai tugas dari petugas peran kebakaran adalah:
1) Mengidentifikasi dan melaporkan tentang adanya faktor yang dapat menimbulkan bahaya kebakaran;
2) Memadamkan kebakaran pada tahap awal;
3) Mengarahkan evakuasi orang dan barang;
4) Mengadakan koordinasi dengan instansi terkait;
5) Mengamankan lokasi kebakaran.
Sedangkan tugas dari regu penanggulangan kebakaran yaitu, dijelaskan dalam pasal 8, yaitu:
1) Mengidentifikasi dan melaporkan tentang adanya faktor yang dapat menimbulkan bahaya kebakaran;
2) Melakukan pemeliharaan sarana proteksi kebakaran;
3) Memberikan penyuluhan tentang penanggulangan kebakaran pada tahap awal;
4) Membantu menyusun baku rencana tanggap darurat penanggulangan kebakaran;
5) Memadamkan kebakaran;
6) Mengarahkan evakuasi orang dan barang;
7) Mengadakan koordinasi dengan instansi terkait;
8) Memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan;
9) Mengamankan seluruh lokasi tempet kerja;
10) Melakukan koordinasi seluruh petugas peran kebakaran.
Dalam pasal 9, dijelaskan mengenai tugas koordinator unit penanggulangan kebakaran, yaitu:
1) Memimpin penanggulangan kebakaran sebelum mendapat bantuan dari instansi yang berwenang;
2) Menyusun program kerja dan kegiatan tentang cara penanggulangan kebakaran;
3) Mengusulkan anggaran, sarana dan fasilitas penanggulangan kebakaran kepada pengurus.
Pada Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor Kep- 186/MEN/1999 pada pasal 10 mengenai tugas Ahli K3 adalah:
1) Membantu mengawasi pelaksanaan peraturan perundang- undangan bidang penanggulangan kebakaran;
2) Memberikan laporan kepada Menteri atau pejabat yang ditunjuk sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku;
3) Merahasiakan segala keterangan tentang rahasia perusahaan atau instansi yang didapat berhubungan dengan jabatannya;
4) Memimpin penanggulangan kebakaran sebelum mendapat bantuan dari instansi yang berwenang;
5) Menyusun program kerja atau kegiatan penanggulangan kebakaran;
6) Mengusulkan anggaran, sarana dan fasilitas penanggulangan kebakaran kepada pengurus;
7) Melakukan koordinasi dengan instansi terkait.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2012 tentang penerapan Sistem manajemen Keselamatan dan kesehatan Kerja, personil organisasi haruslah mempunyai tanggung jawab, wewenang, dan kewajiban yang jelas dalam penanganan K3.
d. Pelatihan dan Pembinaan
Penanggulangan keadaan darurat tidak akan berhasil jika tidak ditangani oleh petugas yang kompeten. Ciri khas dalam setiap penanggulangan keadaan darurat adalah terjadinya kepanikan, hilangnya rantai komando yang telah disusun dan kurangnya disiplin dan tanggung jawab. Untuk menjamin keberhasilan sistem manajemen darurat diperlukan upaya pembinaan dan pelatihan yang terencana dan berkesinambungan khususnya bagi mereka yang terlibat dalam rantai
komando sehingga mengetahui peran dan tanggung jawabnya.
Pelatihan dapat dikemas dalam bentuk simulasi (table disk simulation), permainan peran atau uji coba dalam kondisi dalam berbagai bentuk skenario (Soehatman Ramli, 2010).
Tim pelaksana misalnya tim pemadam kebakaran, medis, keamanan dan lainnya juga perlu diberi pelatihan sehingga mampu menjalankan tugasnya dengan tepat dan cepat (Soehatman Ramli, 2010). Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2012 tentang penerapan Sistem manajemen Keselamatan dan kesehatan Kerja, petugas penaganan keadaan darurat ditetapkan dan diberikan pelatihan khusus serta diinformasikan kepada seluruh orang yang ada di tempat kerja.
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis sistem Proteksi Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan, yang menyatakan bahwa latihan menuju jalan ke luar dan menuju relokasi darurat, dimana dipersyaratkan untuk seluruh klasifikasi hunian bangunan gedung, harus dilaksanakan dengan frekuensi yang cukup untuk membiasakan penghuni dengan prosedur latihan dan pelaksanaan latihan yang merupakan hal rutin. Latihan termasuk prosedur yang sesuai untuk memastikan bahwa semua orang berpartisipasi dalam latihan.
e. Sarana Proteksi Kebakaran Aktif
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Sarana proteksi aktif adalah sistem proteksi kebakaran yang secara lengkap terdiri atas sistem pendeteksian kebakaran baik manual maupun automatis, sistem pemadam kebakaran berbasis air seperti sprinkler, pipa tegak dan selang kebakaran, serta sistem pemadam kebakaran berbasis bahan kimia, seperti APAR dan pemadam khusus.
Fungsi dari sistem proteksi aktif menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008, suatu bangunan dilengkapi sarana proteksi kebakaran sedemikian rupa sehingga :
1) Penghuni diperingatkan akan adanya suatu kebakaran dalam bangunan sehingga dapat melaksanakan evakuasi dengan aman;
2) Penghuni mempunyai waktu untuk melakukan evakuasi secara aman sebelum kondisi pada jalur evakuasi menjadi tidak tertahankan oleh akibat kebakaran.
Sarana proteksi aktif kebakaran meliputi : 1) APAR
Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor Per- 04/MEN/1980, alat pemadam api ringan (APAR) adalah alat yang ringan serta mudah dilayani oleh satu orang untuk memadamkan api pada mula kebakaran. APAR bersifat praktis
dan mudah cara penggunaannya, tapi hanya efektif untuk memadamkan kebakaran kecil atau awal mula kebakaran.
Keefektifan penggunaan APAR dalam memadamkan api tergantung dari 4 faktor (ILO, 1989):
a) Pemilihan jenis APAR yang tepat sesuai dengan klasifikasi kebakaran.
b) Pengetahuan yang benar mengenai teknik penggunaan APAR.
c) Kecukupan jumlah isi bahan pemadam yang ada di dalam APAR.
d) Berfungsinya APAR secara baik berkaitan dengan pemeliharaannya.
Menurut Depnaker (1999), adanya pemeriksaan, pengujian dan penandaan APAR harus meliputi :
a) Setiap APAR diperiksa dua kali dalam setahun.
Pemeriksaan dalam jangka 6 bulan dan jangka 12 bulan.
b) Isi tabung harus sesuai dengan berta yang tertera pada plat.
c) Pipa saringan dan penyalur tidak boleh tersumbat.
d) Ulir tutup kepala tidak rusak.
e) Peralatan yang bergerak tidak boleh dalam rusak, harus dapat bergerak bebas, mempunyai rusuk atau sisi yang tajam dan tuas penekan harus dalam keadaan baik.
f) Gelang tutup kepala harus masih dalam keadaan baik.
g) Lapisan pelindung dari tabung gas harus dalam keadaan baik.
2) Hydrant
Menurut Depnakertrans (1999), instalasi hydrant kebakaran adalah suatu sistem pemadam kebakaran tetap yang menggunakan media pemadam air bertekanan yang dialirkan melalui pipa – pipa dan selang kebakaran. Sistem ini terdiri dari sistem persediaan air, pompa, perpipaan, kopling outlet dan intlet serta selang dan nozzle.
3) Detektor
Detektor adalah alat untuk mendeteksi kebakaran secara otomatik, yang dapat dipilih tipe yang sesuai dengan karakteristik ruangan, diharapkan dapat mendeteksi secara tepat akurat dan tidak memberikan informasi palsu (Depnakertrans, 2008).
Jenis – jenis detektor menurut Depnakertrans (1999), yaitu : a) Detektor asap (smoke detector) adalah detektor yang
bekerja berdasarkan terjadinya akumulasi asap dalam jumlah tertentu.
b) Detektor panas (heat detector) adalah detektor yang bekerja berdasarkan pengaruh panas atau temperature tertentu. Ada tiga tipe detektor panas yaitu :
(1) Detektor bertemperatur tetap yang bekerja pada suatu batas panas tertentu (fixed temperature).
(2) Detektor yang bekerja berdasarkan kecepatan naiknya temperature (rate of rise).
(3) Detektor kombinasi yang bekerja berdasarkan kenaikan temperatur dan batas temperatur maksimum yang ditetapkan.
c) Detektor nyala api adalah detektor yang bekerja berdasarkan radiasi nyala api.
d) Detektor gas adalah detektor yang bekerja berdasarkan kenaikan konsentrasi gas yang timbul akibat kebakaran ataupun gas – gas lain yang mudah terbakar.
4) Alarm Kebakaran
Sistem alarm kebakaran (fire alarm system) pada suatu tempat atau bangunan digunakan untuk pemberitaan kepada pekerja/penghuni dimana suatu bahaya bermula. Sistem alarm ini dilengkapi dengan tanda atau alarm yang bisa dilihat atau didengar. Penempatan alarm kebakaran ini biasanya pada koridor/gang – gang dan jalan dalam bangunan atau suatu instalasi. Sistem alarm kebakaran dapat dihubungkan secara manual ataupun otomatis pada alat – alat seperti sprinkler system, detektor panas, detektor asap, dan lain – lain (Soehatman Ramli, 2005).
Sistem alarm kebakaran otomatis dirancang untuk memberikan peringatan kepada penghuni akan adanya bahaya
kebakaran sehingga dapat melakukan tindakan proteksi dan penyelamatan dalam kondisi darurat. (Kepmen PU Nomor 10/KPTS/2000).
Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor Per- 02/MEN/1983 tentang Instalasi Alarm Kebakaran Automatik, bab II mengenai Pemeliharaan dan Pengujian pasal 57 ayat 1 yang menyatakan bahwa terhadap instalasi alarm kebakaran otomatis harus dilakukan pemeliharaan dan pengujian berkala secara mingguan, bulanan, dan tahunan dan ayat 2 yang menyatakan bahwa pemeliharaan dan pengujian tahunan dan ayat 2 yang menyatakan bahwa “Pemeliharaan dan pengujian tahunan dilakukan oleh konsultan kebakaran atau organisasi yang telah diakui oleh direktur atau pejabat yang ditunjuk”.
f. Sarana Proteksi Kebakaran Pasif 1) Sarana Penyelamat Jiwa
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan, sarana penyelamatan adalah sarana yang dipersiapkan untuk dipergunakan oleh penghuni maupun petugas pemadam kebakaran dalam upaya penyelamatan jiwa manusia maupun harta – benda bila terjadi kebakaran pada suatu gedung dan lingkungan.
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 10/KPTS/2000, setiap bangunan harus dilengkapi dengan sarana evakuasi yang dapat digunakan oleh penghuni bangunan, sehingga memiliki waktu yang cukup untuk menyelamatkan diri dengan aman tanpa terhambat hal – hal yang diakibatkan oleh keadaan darurat. Adapun tujan sarana penyelamatan adalah untuk mencegah terjadinya kecelakaan atau luka pada waktu melakukan evakuasi pada saat keadaan darurat terjadi. Sarana penyelamat jiwa meliputi sarana jalan keluar, tangga darurat, tanda petunjuk arah, pintu darurat, penerangan darurat, dan tempat berkumpul.
Penyelamatan jiwa manusia merupakan hal yang paling penting karena jiwa manusia tidak dapat ternilai dengan uang.
Implikasi dari penyelamatan jiwa adalah menghindarkan orang dari keterpaparan produk pembakaran seperti panas, asap, dan gas. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan memisahkan individu yang terancam dari produk yang membahayakan tersebut (ILO, 1989).
a) Jalur evakuasi
Secara ideal, semua bangunan harus memiliki sekurang – kurangnya dua jalan penyelamat jiwa pada dua arah yang bertentangan terhadap setiap kebakaran yang terjadi pada sembarangan tempat dalam bangunan tersebut, sehingga tak seorangpun bergerak kearah api untuk menyelamatkan diri.
Jalan – jalan penyelamatan demikian harus dipelihara bersih, tidak terhalang oleh barang – barang mudah terlihat dan diberi tanda yang jelas (Sumamur, 1996)
b) Komunikasi
Menurut Soehatman Ramli (2010), komunikasi memegang peranan penting mendukung keberhasilan sistem tanggap darurat. Komunikasi dapat dikelompokkan atas komunikasi internal dan komunikasi eksternal. Komunikasi internal harus dirancang mulai dari deteksi keadaan darurat sampai ke penangggulangannya. Komunikasi eksternal dengan pemerintah daerah atau masyarakat sekitar kegiatan organisasi untuk mencegah kepanikan atau jatuhnya korban yang tidak diinginkan. Masyarakat seharusnya diberi informasi yang jelas mengenai kondisi keadaan darurat, potensi bahaya yang dapat timbul serta langkah – langkah pengamanan yang diperlukan.
Anggota tim tanggap darurat masing – masing harus memiliki telepon genggam, radio komunikasi atau alat komunikasi lainnya, sehingga mereka dapat dikumpulkan secepat mungkin ke tempat kejadian. Nomor radio komunikasi mereka harus diberikan pada pos keamanan, meja resepsionis, operator, perwakilan lingkungan,
kesehatan dan keselamatan kerja setempat (Soehatman Ramli,2010)
c) Pintu Darurat
Pintu darurat adalah pintu yang dipergunakan sebagai jalan keluar untuk usaha penyelamatan jiwa pada saat terjadi kebakaran. Daun pintu harus membuka keluar dan jika tertutup maka tidak bisa dibuka dari luar (self closing door).
Pintu darurat ini tidak boleh terhalang dan tidak boleh terkunci serta harus berhubungan langsung dengan jalan penghubung, tangga atau halaman luar (NPFA 101).
Pintu darurat harus tahan api (Juwana, 2005), pintu darurat juga diberi tanda sehingga dibedakan dengan pintu yang lain. Pintu darurat harus diatur sedemikian rupa sehingga dimana saja dapat menjangkaunya tidak melebihi jarak yang telah ditetapkan sesuai dengan klasifikasi kebakaran. Setiap gedung harus memiliki pintu kebakaran sebagai pintu darurat untuk keluar. Pintu darurat harus memenuhi ketentuan, seperti : berhubungan dengan tempat jalan keluar, memiliki lebar yang memadai, dan tahan api beberapa jam.
d) Tanda Petunjuk Arah Keluar
Arah jalan keluar harus diberi tanda sehingga dapat terlihat dengan jelas dan dapat ditemukan. Tanda jalan
keluar dan tanda yang menunjukkan jalan keluar harus mudah terlihat dan terbaca. Tanda jalan keluar yang jelas akan memudahkan dan mempercepat proses evakuasi karena menghilangkan keraguan penghuni gedung pada saat terjadinya peristiwa kebakaran (NFPA).
e) Muster Point
Muster point adalah bagian dari bangunan dimana pekerja dapat dilindungi dari api sampai pekerja dapat diselamatkan. Menurut Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan tempat aman adalah suatu tempat aman di dalam bangunan gedung seperti :
(1) Yang tidak ada ancaman api
(2) Dari sana penghuni bisa secara aman berhambur setelah menyelamatkan diri dari keadaan darurat menuju tempat lain atau ruang terbuka, atau
(3) Suatu jalan atau ruang terbuka.
g. Prosedur Tanggap Darurat
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja:
1) Lampiran 1 huruf C mengenai Pelaksanaan Rencana K3 Nomor yang menyebutkan bahwa, Perusahaan harus memiliki prosedur sebagai upaya menghadapi keadaan darurat kecelakaan dan bencana industri.
2) Lampiran II kriteria 6.7.5 yang berisi, instruksi/prosedur keadaan darurat dan hubungan keadaan darurat diperlihatkan secara jelas dan menyolok serta diketahui oleh seluruh tenaga kerja di perusahaan.
h. Prosedur Pemulihan Setelah Kondisi Darurat
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2012 tentang penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja menyatakan bahwa dalam melaksanakan rencana dan pemulihan keadaan darurat setiap perusahaan harus memiliki prosedur rencana pemulihan keadaan darurat secara cepat untuk mengembalikan pada kondisi yang normal dan membantu pemulihan tenaga kerja yang mengalami trauma. Prosedur untuk pemulihan kondisi tenaga kerja maupun sarana dan peralatan produksi yang mengalami kerusakan harus ditetapkan dan dapat diterapkan sesegera mungkin setelah terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
i. Investigasi dan Pelaporan
Menurut Soehatman Ramli (2010), setiap keadaan darurat harus diinvestigasi dengan teliti untuk mengetahui penyebab sekaligus juga untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan dalam proses
penanggulangannya. Dari setiap kejadian dapat diketahui tingkat kesiapan individu, kondisi sarana, kelancaran komunikasi, dan kecepatan gerak tenaga pendukung yang diperlukan. Hasil penanggulangan darurat harus dilaporkan kepada manajemen sebagai bahan evaluasi peningkatannya.
j. Inspeksi dan audit
Secara berkala dilakukan audit dan inspeksi sistem tanggap darurat yang menyangkut prosedur sarana dan kemampuan petugas.
Semua peralatan harus diperiksa secara berkala agar jika diperlukan siap untuk digunakan (Soehatman Ramli,2010).
k. Dokumentasi
Dokumentasi menurut OHSAS 18001 : 2007 merupakan sistem manajemen K3 harus termasuk : a) Penjelasan ruang lingkup sistem manajemen K3; b) Penjelasan elemen – elemen inti sistem manajemen dan interaksinya dan rujukannya ke dokumen – dokumen terkait; dan c) Dokumen – dokumen termasuk catatan – catatan yang ditetapkan oleh organisasi yang dianggap penting untuk memastikan perencenaan, operasi dan pengendalian proses yang berhubungan dengan pengendalian risiko – risiko K3 efektif.
B. Kerangka Pemikiran
Gambar 2. Kerangka Pemikiran