Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi sebagian syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Program Studi Pendidikan Sosiologi
Oleh
Dadan Muhammad Ruhiat 1005664
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG
Oleh
Dadan Muhammad R
Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar
Sarjana Pendidikan pada Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
© Dadan Muhammad R 2015
Universitas Pendidikan Indonesia
Februari 2015
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian,
dengan dicetak ulang, difoto kopi, atau cara lainnya tanpa ijin dari penulis.
DADAN MUHAMMAD RUHIAT
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK
DI KOTA BANDUNG
Disetujui dan disahkan oleh pembimbing :
Pembimbing I
Prof.Dr.H.Dasim Budimansyah, Msi
NIP 196203161988031003
Pembimbing II
Dr.Hj.Siti Nurbayani K. M.Si
NIP 197007111994032002
Mengetahui
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Siti Komariah, M.Si. Ph.D
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG
Dadan Muhammad Ruhiat
1005664
ABSTRAK
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
kemudian terjerumus pada pola kehidupan yang mereka lihat dari komunitas Punk tersebut
Kata Kunci : Punk, Antisosial, Perilaku Menyimpang
Analysis of Antisocial Behavior at Punk Community in Bandung
Bandung as one of big cities in Indonesia . Punk has been growing and developing rapidly in society. punker often look as a bad behavior. Such as antisocial and do a deviate behavior that make another citizen feel uneasiness and suffer. Some antisocial and deviate behavior can reflected from their introvert, asocial, aggressive disposed, often do the deviate behavior, and ignoring about social value and norm. This research purposes are to knowing how the representation of behavior, causes factor, and their existence implication toward society. This research uses case study with qualitative approach. This research is using interview and observation as tools for collecting data. The antisocial behavior often represented by punkers. This thing represented by attitude and behavior that appear like clothing style which very different with another citizen. Behavior pattern in daily live that inappropriate with value and norm such as aggressive disposed, often consume alcohol, affray, drugs abuse and ignoring about social value and norm in society, the influence factors of deviate and antisocial behavior are caused by broken home family, social individual environment that could be easy faced deviate behavior, friends and lower education. Besides of that there are other factors which supporting deviate behavior such as mass media influence, feel to be praised, impingement of disappointed, economical needed factor, and individual disability to pervade conformist norm . The existence of punkers give directly and indirectly impact to society live. . Directly impact there are: society feel afraid to the punkers because some of their attitude are threat categorized such as they are often look in group in a large number . Busking forcedly, asking some money with threat. Another implication that arise from this punk community also felt indirectly there are with their lifestyle that hold in the high esteem of freedom and their live unbounded by norm in society, old generations feel afraid if that thing will implicating toward young generations’ ideology that they are still in stage where they are looking for who really they are then fall into live pattern that they see from punk community.
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
DAFTAR ISI
PERNYATAAN . . . i
ABSTRAK . . . ii
KATA PENGANTAR . . . iii
UCAPAN TERIMA KASIH . . . iv
DAFTAR ISI . . . v
DAFTAR TABEL . . . viii
DAFTAR LAMPIRAN . . . ix
BAB 1 PENDAHULUAN . . . 1
A. Latar Belakang Masalah . . . 1
B. Identifikasi Masalah Penelitian . . . 6
C. Rumusan Masalah Penelitian . . . 7
D. Tujuan Penelitian . . . 7
E. Manfaat Penelitian . . . 7
F. Struktur Organisasi Skripsi . . . 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA . . . 10
A. Nilai dan Norma Sosial . . . 10
B. Perilaku Menyimpang . . . 14
1. Batasan Perilaku Menyimpang . . . 17
2. Kategori Perilaku Menyimpang . . . 18
3. Subkultur Menyimpang . . . . 19
C. Anti Sosial . . . 19
1. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Antisosial . . . 21
2. Karakteristik Seorang Antisosial . . . 22
3. Bentuk-bentuk Perilaku Antisosial . . . 23
D. Punk . . . 24
1. Sejarah Punk . . . 24
2. Pengertian Punk . . . 26
4. Filosofi Punk . . . 37
E. Gambaran Komunitas Punk di Indonesia . . . 39
F. Penelitian Terdahulu . . . 41
BAB III METODE PENELITIAN . . . 44
A. Lokasi dan Subjek Penelitian . . . 44
1. Lokasi Penelitian . . . 44
2. Subjek Penelitian . . . 44
B. Desain Penelitian . . . 45
C. Metode Penelitian . . . 46
D. Instrumen Penelitian . . . 48
E. Teknik Pengumpulan Data . . . 48
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
2. Wawancara . . . 49
3. Studi dokumentasi . . . 50
F. Tahap Penelitan . . . 51
G. Validitas Data . . . . . . 53
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN . . . 57
A. Deskripsi Lokasi Penelitian . . . 57
B. Deskripsi Hasil Penelitian . . . .. . . . .. . . . .. . . . 61
a. Gambaran Perilaku Antisosial pada Komunitas Punk di Kota Bandung . . . 63
b. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Timbulnya Perilaku Anti Sosial Pada Komunitas Punk di Kota Bandung . . . 74
c. Implikasi Perilaku Anti Sosial Komunitas Punk di Kota Bandung terhadap Masyarakat . . . 78
C. Pembahasan Hasil Analisi Data Penelitian . . . 83
1. Gambaran Perilaku Antisosial pada Komunitas Punk di Kota Bandung . . . 83
2. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Timbulnya Perilaku Anti Sosial Pada Komunitas Punk di Kota Bandung . . . 90
a. Latar Belakang Keluarga . . . 90
b. Faktor Lingkungan . . . 91
c. Pendidikan Rendah . . . 92
d. Media Massa . . . 93
e. Kebutuhan Ekonomi . . . 93
f. Ketidaksanggupan Individu Menyerap Norma . . . 94
3. Implikasi Perilaku Anti Sosial Komunitas Punk di Kota Bandung terhadap Masyarakat . . . 95
BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI . . . 98
A. Simpulan . . . 98
B. Rekomendasi . . . 99
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Manusia merupakan makluk individu dan sekaligus sebagai makluk sosial.
Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu
hidup bersama diantara manusia lainnya. Selain itu juga manusia dikatakan
sebagai makhluk sosial, dikarenakan pada diri manusia ada keinginan untuk
berhubungan atau interaksi dengan orang lain. Oleh karena sifat dasar tersebut
manusia membentuk kelompok-kelompok untuk saling berinteraksi guna
memenuhi kebutuhan hidupnya.
Lebih lanjut Soekanto (2007, hlm. 100) menyatakan bahwa “manusia
memiliki hasrat atau keinginan pokok, yaitu: keinginan untuk menjadi satu
dengan manusia lain di sekelilingnya (yaitu masyarakat) dan keinginan untuk
menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya.
Interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial, oleh karena tanpa
interaksi, tak ada mungkin ada kehidupan bersama-sama. Bertemunya orang
perorangan secara badaniah belaka tidak akan menghasilkan pergaulan hidup
dalam suatu kelompok sosial.
Dalam bukunya Sosiologi suatu pengantar, Soekanto (2007, hlm, 59),
menyatakan bahwa interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang
dinamis,dapat berlangsung dalam tiga bentuk menyangkut hubungan antara
orang-perorangan, antara orang perorangan dengan suatu kelompok manusia atau
sebaliknya, maupun antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia
lainnya.
Keinginan berkelompok manusia sering kali dilandasi oleh berbagai faktor
misalkan kesamaan ideologi, kepenting, hobi dan lain sebagainya dan hal tersebut
kemudian melahirkan kelompok-kelompok kecil yang terspesifikasi di dalam
2
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Kelompok-kelompok sosial yang terbentuk berasal dari berbagai faktor.
Setiadi dan Kolip (2011, hlm. 102) menyatakan bahwa:
Faktor yang membentuk kelompok sosial dapat dilihat dari beberapa faktor. Faktor yang pertama yaitu hubungan kedekatan. Hubungan
kedekatan akan terkait dengan faktor geografis. Semakin dekat jarak geografis antara dua orang semakin mungkin mereka memiliki tingkat keseringan berinteraksi seperti saling melihat, berbicara, dan berasosiasi. Faktor yang kedua adalah adanya kesamaan. Selain hubungan kedekatan secara fisik, terdapat faktor kesamaan antar mereka yang menimbulkan rasa keanggotaan. Ada kecendrungan manusia untuk memilih berhubungan dengan orang yang memiliki kesamaan, seperti kesamaan minat, agama/kepercayaan, nilai, usia, tingkat pendidikan, dan karakter personel lainnya.
Komunitas merupakan sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme
yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama
Dalam komunitas sosial, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud,
kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi
lain yang serupa.
Komunitas memiliki banyak makna, komunitas dapat diartikan sebagai
sebuah kelompok dari suatu masyarakat yang berada pada wilayah tertentu yang
memiliki karakteristik budaya yang sama. Apapun definisinya, komunitas harus
memiliki sifat interaksi informal dan spontan daripada interaksi formal serta
memilikiorientasi yang jelas. Ciri utama sebuah komunitas adalah adanya
keharmonisan, egalitarian, serta sikap saling berbagi nilai dan kehidupan.
Dan diantara banyaknya komunitas yang ada di masyarakat, Komunitas
Punk menjadi salah satu komunitas dengan tingkat eksistensi yang cukup tinggi,
dan tersebar hampir diseluruh kota besar di Indonesia. Dengan cara mereka
menjaga eksistensi kelompoknya dan pola perilaku yang tidak biasa bahkan
cenderung berlawanan dengan nilai dan norma yang dianut oleh masyarakat,
komunitas Punk dengan berbagai fenomena yang dimilikinya menjadi salah satu
hal yang unik dan menarik untuk dikaji.
Widya (dalam Idrayanto, 2011, hlm, 1) menjelaskan bahwasanya Punk
merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Punk juga dapat berarti
3
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
hidup yang mencakup aspek sosial dan politik. Gerakan anak muda yang diawali
oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika yang
mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral
oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang
tinggi.
Komunitas Punk berusaha untuk menyindir para penguasa dengan caranya
sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana dan bernadakan
perlawanan terhadap sistem dan tak jarang disisipkan kata-kata kasar, dan juga
beat yang cepat dan menghentak. Banyak pula yang merusak citra Punk karena
banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak
kriminal. Punk lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku
yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut mohawk ala suku Indian, atau
dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu
boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti
kemapanan, antisosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah. Punk
berusaha membentuk kebudayaan sendiri dengan cara mereka, dan memilih untuk
berontak atas budaya dominan.
Menurut Hebdige dalam Rusbiantoro (2008, hlm. 107) “Anggota subkultur sering menunjukkan keanggotaanya melalui penggunaan gaya yang berbeda dan simbolik”. Hal ini merupakan suatu penyimpangan perilaku yang bertentangan dengan masyarakat, dan digunakan sebagai perjuangan melawan budaya dominan
atau kelompok dominan (orang tua, kalangan elite masyarakat, norma sosial yang
ketat, atau negara).
Punk sebagai suatu bentuk subkultur telah mendeklarasikan bahwa dirinya
berbeda dengan budaya dominan, mereka membentuk pola kehidupan sendiri,
dengan cara yang mereka anut yang dimulai sejak awal perkembangannya.
Meskipun generasi pendahulu mereka telah berganti dengan generasi penerus,
tetapi eksistensi nilai dan ideologi dan pola perilaku mereka masih bertahan
sampai saat ini.
Di Kota Bandung sendiri sebagai salah satu kota besar di Indonesia, Punk
4
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
dengan eksistensi dari komunitas-komunitas yang berlabel punk yang begitu
mudah ditemui dijalan-jalan kota ataupun kegiatan pagelaran musik terutama
musik dengan genre underground.
Hal ini juga diungkapkan oleh Yunus bahwa
Dalam dekade pertengahan 1990 boleh dibilang merupakan fenomena mewabahnya musik bawah tanah di Indonesia. Begitulah pendapat pasangan suami-istri ilmuwan Australia, David T. Hill dan Krishna Sen, dalam Media, Budaya, Politik di Indonesia. Mereka mengatakan bahwa 1997 adalah masa awal ketika punk Indonesia mulai terjun di kancah politik. Mereka membawa isu-isu politik, kekuasaan, militer, dan globalisasi dalam konser underground. Di Bandung konser-konser punk pada tahun itu memang semarak. “Tiap kali diadakan konser punk di (gedung olah raga) Saparua, tiket selalu sold out. Mungkin kira-kira di Bandung jumlah punknya lebih dari 500 orang, Jumlah sebesar ini, bisa berarti terbesar di Indonesia. Per Januari 2004, situs komunitas punk internasional beralamat di www.punkinternational.com menempatkan Bandung sebagai “Most Active Music Scene” di Indonesia, diikuti Jakarta dan Yogyakarta (http://www.pantau.or.id/?/=d/281 Komunitas Punk Bandung.or.id.html)
Namun ditengah eksistensi komunitas punk tersebut, dalam masyarakat pun
timbul suatu keresahan akan komunitas ini. Persepsi tersebut muncul akibat prilaku yang sering kali diperlihatkan oleh “punkers” yang lebih mengarah kepada prilaku yang bersifat negatif dan termasuk dalam prilaku menyimpang. Seperti
cara berpakaian yang terlihat extrim dengan ornamen diberbagai bagian tubuh
seperti piercing, spike, boots, dan lain sebagainya.
Selain dari apa yang tampak dari tampilan fisik yang oleh masyrakat dilebeli “nyeleneh” keseharian dari para punkers ini pun dianggap tidak lazim, dan meresahkan seperti mengamen diangkutan umum, mengunaan fasilitas umum
sebagai tempat bernaung, hingga tindakan kriminalitas seperi mencuri, memalak,
dan seks bebas antar sesama komunitas punk tersebut.
Bagi sebagian orang kemunculan komunitas Punk dan keberadaan mereka
ditengah-tengah masyarakat cukup mengganggu kenyamanan. Namun bagi yang
telah terbiasa dan menganggapnya sebagai bagian dari kehidupan sosial, tentunya
akan merasa biasa saja. Bahkan tak sedikit pula orang terutama anak muda yang
5
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
jumlah mereka kian bertambah. Jumlah lokasi nongkrong mereka pun kian
bertambah tidak hanya di perempatan jalan tetapi pelataran kantor, tempat hiburan
bahkan pusat perbelanjaan menjadi tempat favorit mereka baik untuk istirahat
malam hari atau kegiatan seharihari mereka.
Lebih lanjut menurut Widya ( dalam Idrayanto, 2011, hlm, 3)
Macam-macam pemaknaan negatif sering dicapkan kepada para punkers. Di sisi lain,
persepsi tentang menjadi Punk itu sendiri juga disalahpahami oleh sebagian
generasi muda yang mengidentikkan dirinya sebagai punker. Sebagian remaja
mengartikan Punk sebagai hidup bebas tanpa aturan. Pemahaman yang salah dan
setengah-setengah itu mengakibatkan banyak dari mereka melakukan tindakan
yang meresahkan masyarakat. Salah satu contoh kecilnya mabuk-mabukan di
muka umum secara bergerombol atau meminta uang secara paksa kepada
masyarakat.
Pada perkembangannya baik di negeri asalnya maupun di Indonesia,
komunitas Punk telah mempunyai suatu subkultur tersendiri yang diakui
masyarakat dan terkadang dianggap menyimpang. Secara umum terdapat dua sifat
perilaku penyimpangan yaitu : penyimpangan yang bersifat positif yaitu
penyimpangan yang mempunyai dampak positif terhadap sistem sosial karena
mengandung unsur-unsur inovatif, kreatif dan memberikan pengaruh terhadap
beberapa aspek kehidupan. Penyimpangan demikian umumnya dapat diterima
masyarakat karena sesuai dengan perubahan zaman. Ada pula bentuk
penyimpangan yang bersifat negatif, yaitu perilaku bertindak kearah nilai-nilai
sosial yang dipandang rendah dan berakibat buruk serta mengganggu sistem sosial
seperti merampok, menjambret, memakai narkoba, prilaku seks bebas, serta
berbagai tindajan lainnya.
Komunitas Punk telah mempunyai suatu subkultur tersendiri yang diakui
masyarakat dan terkadang dianggap sebagai sikap antisosial dan perilaku
menyimpang. Hal ini tidak hanya terjadi pada Komunitas Punk dinegeri asalnya,
namun juga berkembang pada komunitas punk di seluruh penjuru dunia termasuk
6
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Definisi Antisosial dikemukakan oleh Setiadi dan Kolip (2011, hlm. 229) dalam bukunya yang mendefinisikan bahwa “perilaku antisosial adalah kepribadian seseorang yang menunjukan keacuhan, ketidakpedulian, dan/atau
permusuhan yang seronok kepada orang lain”. Bagi mereka nilai dan norma sosial
hanya dianggap sebagai bentuk kekangan terhadap dirinya dan mengikat
kebebasannya dalam menentukan hidup hingga dirasakan dapat menggangu
tegaknya sistem dan norma sosial yang dianut oleh masyarakat secara luas.
Selama ini, komunitas punk memang dikenal dengan gaya hidupnya yang
serba bebas. Menurut Khasanah (dalam Indaryanto 2011, hlm 5) Mereka berupaya
melepaskan diri dari berbagai aturan, baik norma masyarakat, aturan pemerintah,
maupun agama. Bagi mereka, gaya punk bukan sekadar corak dalam bermusik.
Punk sudah menjadi ideologi.
Perilaku Komunitas Punk yang tidak sesuai dengan kebiasaan maupun nilai
norma yang berlaku dan dianut oleh masyarakat dikategorikan sebagai perilaku
antisosial hal ini dikarenakan adanya keinginan untuk tidak terikat dengan
masyarakat secara umum. Selain itu juga mereka acuh terhadap nilai dan norma
yang berlaku di masyarakat karena mereka menganggap bahwa aturan hanya
membebani mereka, nilai dan norma hanya mengekang mereka dari kebebasan.
Dan akhir-akhir ini di Kota Bandung sendiri sudah mulai banyak tindakan
dari sebagian komunitas Punk mengarah kepada perbuatan yang dianggap sebagai
penyakit masyarakat bahkan tindak kejahatan atau pidana yang akan merugikan
masyarakat sekitarnya. Tindakan kejahatan atau pidana yang dilakukan oleh
segelintir orang dalam komunitas Punk tersebut telah membawa dampak bagi
komunitas itu sendiri. Sistem nilai dari masyarakat yang berubah sangat cepat ke
arah yang lebih modern membuka peluang untuk terjadinya berbagai macam
penyimpangan dan kejahatan.
Atas dasar latar belakang masalah tersebut, muncul keinginan penulis untuk
melakukan suatu kajian mengenai fenomena punk di Kota Bandung. Dan
7
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
dilandasi oleh berbagai hal. Pertama, daya tarik masalah, kedua urgensi terhadap
kajian permasalahan ini. Selanjutnya, terdapatnya komunitas punk dikota
bandung, dan terahir ialah keterjangkauan peneliti mulai dari lokasi, waktu , biaya
serta kemampuan penulis.
B. IDENTIFIKASI MASALAH PENELITIAN
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijabarkan dan melihat
kondisi yang terjadi di lapangan, dapat disimpulkan identifikasi masalah sebagai
berikut:
Eksistensi dari komunitas Punk yang berkembang pesat semakin
menimbulkan beragam keresahan yang dirasakan oleh masyarakat luas. Pola
perilaku komunitas Punk yang dianggap bertolak belakang dari sistem nilai dan
norma sosial yang dianut masyarakat menjadi sebab mengapa perilaku mereka
dianggap sebagai suatu perilaku antisosial.
C. RUMUSAN MASALAH PENELITIAN
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan
yang menjadi fokus bahasan ini, yaitu: "Bagaimanakah perilaku antisosial pada
komunitas punk di kota Bandung?". Penulis kemudian membagi masalah tersebut
kedalam sub-bab permasalahan yaitu :
1. Bagaimana gambaran perilaku antisosial pada komunitas Punk di Kota
Bandung?
2. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan timbulnya perilaku antisosial pada
komunitas Punk di Kota Bandung?
3. Bagaimana implikasi perilaku antisosial komunitas Punk di Kota Bandung
terhadap kehidupan masyarakat?
D. TUJUAN PENELITIAN
Dengan melihat latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka yang
8
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
perilaku sosiopatik dalam komunitas punk di kota Bandung. Dengan dijabarkan
dalam tiga tujuan berupa:
1. Untuk mengetahui bagaimana gambaran perilaku antisosial pada komunitas
Punk di Kota Bandung.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor apakah yang menyebabkan timbulnya
perilaku antisosial pada komunitas Punk di Kota Bandung.
3. Untuk mengetahui bagaimana implikasi perilaku antisosial komunitas Punk
di Kota Bandung terhadap kehidupan masyarakat.
E. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memenuhi diantaranya
adalah:
1. Sebagai sumbangan pemikiran (berupa ide atau saran) untuk menambah
wawasan pengetahuan tentang ilmu sosial. Terutama kajian mengenai
penyimpangan sosial.
2. Sebagai pengembangan keilmuwan dalam Progam Studi Sosiologi,
khususnya terkait dengan masalah pada komunitas Punk di masyarakat dan
mampu memberikan pemecahan problem-problem sosial yang ada.
F. STRUKTUR ORGANISASI SKRIPSI
Struktur organisasi atau sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai
berikut:
1. BAB I Pendahuluan
Pendahuluan merupakan bagian awal dalam penyusunan skripsi yang berisi:
latar belakang penelitian, identifikasi dan perumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, serta struktur organisasi penelitian.
2. BAB II Kajian Pustaka
Kajian pustaka mempunyai peran yang sangat penting. Melalui kajian pustaka ditunjukkan “the state of the art” dari teori yang sedang dikaji dan kedudukan masalah penelitian dalam bidang ilmu yang diteliti. Dalam kajian
9
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
kedudukan masing-masing penelitian yang dikaji dikaitkan dengan masalah
yang diteliti.
3. BAB III Metode Penelitian
Pada BAB metode penelitian ini akan menjelaskan mengenai metodologi
yang ingin digunakan dan jenis penelitian apa yang dipilih oleh penulis.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode studi kasus dengan
pendekatan kualitatif.
4. BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
Pada BAB 1V ini berisikan tentang pengolahan atau analisis data dan
pembahasan atau analisis temuan. Pengolahan data dilakukan berdasarkan
tahap-tahap yang telah ditentukan. Di dalam penelitian ini, pengolahan data
dilakukan dengan metode penelitian kualitatif. Pembahasan dalam BAB ini
dikaitkan dengan teori-teori terkait yang telah dibahas pada BAB II Kajian
Pustaka.
5. BAB V Kesimpulan dan Saran
Pada BAB V akan disajikan penafsiran dan pemaknaan peneliti terhadap
hasil analisis temuan penelitian. Ada dua alternatif cara penulisan
kesimpulan, yakni dengan cara butir demi butir, atau dengan cara uraian
padat. Kesimpulan harus menjawab pertanyaan penelitian atau rumusan
masalah. Saran atau rekomendasi yang ditulis setelah kesimpulan dapat
ditujukkan kepada para pembuat kebijakan, kepada para pengguna hasil
penelitian yang bersangkutan, kepada peneliti berikutnya yang berminat
untuk melakukan penelitian selanjutnya, kepada pemecahan masalah di
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
BAB III
METODE PENELITIAN
A. LOKASI DAN SUBJEK PENELITIAN 1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kota Bandunng, Adapun pemilihan lokasi
penelitian ini didasarkan oleh berbagai hal, yakni :
a. Terdapatnya komunitas Punk di Kota Bandung. sehingga peneliti merasa
kondisi ini sesuai dengan masalah yang akan diangkat dalam penelitian
seperti yang telah diungkapkan pada latar belakang penelitian.
b. Keberadaan komunitas Punk di Kota Bandung cukup massive sehingga
ketersediaan data yang cukup dalam penelitian ini dapat terpenuhi.
c. Keterjangkauan penulis terhadap lokasi, waktu, serta biaya dalam
pelaksanaan penelitian
Namun dengan keberadaan komunitas Punk di Kota bandung yang bersifat
nomaden, maka lokasi dalam penelitian ini tidak dapat di fokuskan dengan lebih
spesifik lagi. Sehingga yang menjadi cakupan dalam penelitian ini, adalah
lokasi-lokasi yang menjadi tempat berkumpulnya komunitas Punk.
2. Subjek Penelitian
Dalam penelitian kualitatif, istilah populasi tidaklah digunakan, tetapi oleh
Spradley (dalam Sugiyono, 2013 hlm. 49) dinamakan “Social Situation” atau situasi sosial yang terdiri atas tiga elemen yaitu : tempat (place), pelaku (actors),
dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis. Dalam hal ini subjek
penelitian yang menjadi sumber data adalah anggota dari komunitas Punk di kota
Bandung sebagai informan, dan masyarakat dan pemerintah sebagai narasumber
agar data yang diperoleh semakin baik.
Sedangkan subjek penelitian yang menjadi sampel penelitiannya seperti
45
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Dalam penelitian kualitatif yang dijadikan sampel hanyalah sumber yang dapat memberikan informasi. Sampel dapat berupa hal, peristiwa, manusia, situasi yang diobservasi. Sering sampel dipilih secara "purposive" bertalian dengan purpose atau tujuan tertentu. Sering pula responden diminta untuk menunjuk orang lain yang dapat memberikan informasi kemudian responden ini diminta pula menunjuk orang lain dan seterusnya. Cara ini lazim disebut "snowball sampling" yang dilakukan secara serial atau berurutan.
Berdasarkan pendapat Nasution diatas, dapat dijelaskan bahwa subjek penelitian
kualitatif adalah pihak-pihak yang dapat memberikan informasi yang bertalian
dengan tujuan yang hendak dicapai oleh peneliti. Hal serupa diungkapkan oleh
Moleong (2007, hlm. 224) yang menyatakan bahwa “...pada penelitian kualitatif
tidak ada sampel acak tetapi sampel bertujuan (purpose sample)”.
Berdasarkan uraian diatas, maka subjek penelitian yang akan diteliti
ditentukan langsung oleh peneliti berkaitan dengan masalah serta tujuan
penelitian. Penentuan sampel dianggap telah memadai jika telah sampai pada
ketentuan atau batas informasi yang ingin diperoleh. Peneliti dapat menyimpulkan
subjek penelitian kualitatif adalah sumber yang dapat memberikan informasi
dipilih secara purposive bertalian dengan purpose atau tujuan tertentu. Oleh
karena itu, subjek yang diteliti akan ditentukan langsung oleh peneliti berkaitan
dengan masalah dan tujuan peneliti. Akan tetapi, ada juga subjek yang ditentukan
secara khusus dengan tujuan untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk
dijadikan sampel penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan sampel
purposive, sehingga besarnya jumlah sampel ditentukan oleh pertimbangan
informasi. Dalam pengumpulan data, responden di dasarkan pada ketentuan atau
kejenuhan data dan informasi yang diberikan. Jika beberapa responden yang
dimintai keterangan diperoleh informasi yang sama, maka itu sudah dianggap
cukup untuk proses pengumpulan data yang diperlukan sehingga tidak perlu
meminta keterangan dari responden berikutnya.
B. DESAIN PENELITIAN
Dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan ialah pendekatan
46
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
“prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati”. (Moleong, 2007 ;
Basrowi dan Suwandi, 2008). Lebih lanjut David Williams (dalam Moleong, 2008, hlm 5) menjelaskan bahwa “penelitian kualitatif adalah pengumpulan data pada suatu latar alamiah, dengan menggunakan metode alamiah, dan dilakukan oleh orang atau peneliti yang tertarik secara alamiah.”. Sementara itu, Miles dan Huberman (dalam Basrowi, 2008, hlm. 1) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif
adalah: ... concudected through an intense and or prologed contact with a “field”
of life situation. These situations are typecally “banal” or normal ones, reflective
of the every day life individuals, group, societies, and organitation.
Adapun Sugiyono (2009, hlm. 15) dalam bukunya Memahami Penelitian
Kualitatif mengemukakan bahwa :
Metodologi kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan dengan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi”
Pendekatan ini dipilih berdasarkan dua alasan. Pertama, permasalahan yang dikaji
dalam penelitian tentang perilaku anti sosial komunitas Punk di Kota Bandung ini
membutuhkan sejumlah data lapangan yang sifatnya aktual dan kontekstual. .
Kedua, pemilihan ini didasarkan pada keterkaitan masalah yang dikaji dengan
sejumlah data primer dari subjek penelitian yang tidak dapat dipisahkan dari latar
belakang alamiahnya. Di samping itu, metode kualitatif mempunyai adaptabilitas
yang tinggi sehingga memungkinkan penulis untuk senantiasa menyesuaikan diri
dengan situasi yang berubah-ubah yang dihadapi dalam penelitian ini.
C. METODE PENELITIAN
Koentjaraningrat (1994 hlm. 7) mengemukakan dalam arti kata yang
sesungguhnya, metode (Yunani: methodos) adalah cara atau jalan. Sehubungan
47
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang
bersangkutan.
Metode penelitian adalah cara yang digunakan untuk memperoleh
kelengkapan data yang diperlukan guna memecahkan masalah yang diteliti
dengan menggunakan teknik dan alat tertentu. Dengan kata lain metode penelitian
merupakan proses dan prinsip-prinsip yang digunakan untuk mendekati masalah
dan mencari jawaban.
Metode penelitian yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus. Arikunto (2006, hlm. 142) menjelaskan bahwa “studi kasus merupakan suatu penelitian yang dilakukan secara intensif, terperinici, dan
mendalam terhadap suatu organisasi, lembaga, atau lembaga tertentu.” Adapun
menurut Danial (2009, hlm. 63) metode studi kasus merupakan metode yang
intensif dan teliti tentang pengungkapan latar belakang, status, dan interaksi
lingkungan terhadap individu, kelompok, instiusi dan komunitas masyarakat
tertentu.
Lebih lanjut Arikunto (2010, hlm. 142) menyatakan bahwa metode studi
kasus dapat digunakan untuk mengetahui keadaan sesuatu mengenai apa dan
bagaimana, berapa banyak, sejauh mana dan sebagainya. Lebih lanjut Patton
(2009, hlm. 24) studi kasus kualitatif berupaya menggambarkan unit dengan
mendalam, detil, dalam konteks, dan secara holistik. Lebih lanjut Nasution (2003,
hlm. 30) Menjelaskan bahwa :
Case study adalah bentuk penelitian yang mendalam tentang suatu aspek lingkungan sosial termasuk manusia di dalamnya. Case study dapat dilakukan terhadap seorang individu, sekelompok individu (misalnya suatu keluarga), segolongan manusia (guru, suku minangkabau). Case study dapat mengenai perkembangan sesuatu. Bahan untuk case study dapat diperoleh dari sumber-sumber seperti laporan hasil pengamatan, catatan pribadi kitab harian atau biografi orang yang diselidiki, laporan atau keterangan dari orang yang banyak tau tentang hal itu.
Berdasarkan pemaparan para ahli yang telah diatas, penelitian ini diharapkan
dapat mengungkap sejumlah fakta dan berbagai hal lainnya terkait fenomena
48
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
D. INSTRUMEN PENELITIAN
Dalam penelitian kualitatif instrumen utama adalah penulis sendiri yang
terjun langsung ke lapangan untuk mencari informasi melalui observasi dan
wawancara. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Moleong (2007 hlm. 168)
bahwa: “Bagi peneliti kualitatif manusia adalah instrumen utama karena ia
menjadi segala bagi keseluruhan proses penelitian. Ia sekaligus merupakan
perencana, pelaksana, pengumpul data, analisis, penafsir, dan pada akhirnya ia
menjadi pelapor penelitiannya”.
Hal ini sejalan dengan pendapat Sugiyono (2013, hlm. 60) bahwa “peneliti kualitatif sebagai human instrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian,
memilih informan sebagai sumber data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuanya”. Dengan demikian penulis lebih leluasa dalan mencari informasi dan data yang terperinci dari subjek penelitian tentang berbagai hal
yang diperlukan dalam penelitian yang sedang dilaksanakan.
E. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Di dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen adalah peneliti itu
sendiri. Selanjutnya dikembangkan instrumen sederhana, yang diharapkan dapat
melengkapi data dan membandingkan dengan data yang telah ditemukan. Teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi,
wawancara, studi dokumentasi dan studi literatur.
1. Observasi
Observasi merupakan bagian yang sangat penting dalam penelitian
kualitatif. Burns menerangkan “dengan observasi peneliti dapat
mendokumentasikan dan merefleksi secara sistematis terhadap kegiatan dan interaksi subjek penelitian.” (Basrowi dan Suwandi, 2008, hlm. 93). Selanjutnya Marshall (dalam Moleong, 2007, hlm. 64) menyatakan bahwa “through
49
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
sebagaimana yang dilihat oleh subjek penelitian, hidup pada saat itu, menangkap
arti fenomena dari segi pengertian subjek, menangkap kehidupan budaya dari segi
pandangan yang dianut oleh para subjek pada keadaan waktu itu.
Data observasi diharapkan lebih faktual mengenai situasi dan kondisi
kegiatan penelitian di lapangan. Menurut M.Q. Patton dalam Nasution (2003, hlm.
59) manfaat data observasi adalah sebagai berikut:
a. Dengan berada di lapangan peneliti lebih mampu memahami konteks data dalam keseluruhan situasi, jadi ia dapat memperoleh pandangan yang holistik atau menyeluruh.
b. Pengalaman langsung memungkinkan peneliti menggunakan pendekatan induktif, jadi tidak dapat dipengaruhi oleh konsep-konsep atau pandangan sebelumnya. Pendekatan induktif membuka kemungkinan melakukan penemuan atau discovery.
c. Peneliti dapat melihat hal-hal yang kurang atau yang tidak diamati orang lain, khususnya orang yang berada dalam lingkungan itu, karena telah dianggap “biasa” dan karena itu tidak akan terungkapkan dalam wawancara. d. Peneliti dapat menemukan hal-hal yang sedianya tidak akan terungkapkan
oleh responden dalam wawancara karena bersifat sensitif atau ingin ditutupi karena dapat merugikan nama lembaga.
e. Peneliti dapat menemukan hal-hal di luar persepsi responden sehingga peneliti memperoleh gambaran yang lebih komprehensif.
f. Dalam lapangan peneliti tidak hanya dapat mengadakan pengamatan sehingga akan tetapi juga memperoleh kesan-kesan pribadi, misalnya merasakan situasi sosial.
Melalui observasi ini peneliti dapat melihat secara langsung segala situasi yang
ada dilapangan yang berkenaan dengan topik penelitian. Data yang diperoleh
diharapkan dapat membantu dalam pengolahan dan analisis data, sehingga dapat
menghasilkan data penelitian yang memiliki validitas yang tinggi dan semakin
mendalam.
2. Wawancara
Menurut Moleong (2007, hlm. 186) wawancara adalah “percakapan dengan
maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer)
50
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
hati orang lain, bagaimana pandangannya tentang dunia, yaitu hal-hal yang tidak
dapat kita ketahui melalui observasi. Lebih lanjut Putra (2011, hlm. 104)
menyatakan bahwa wawancara dalam penelitian kualitatif bukan sekedar teknik
yang bersifat tambahan, tetapi merupakan teknik utama bersama dengan
observasi.
Melalui wawancara ini diharapkan dapat diperoleh bentuk-bentuk informasi
dari semua responden dengan bentuk dan ciri yang khas pada setiap responden.
Menurut Mulyana (2010, hlm. 181) wawancara penting untuk memperoleh
informasi dibawah permukaan dan menemukan apa yang orang pikirkan dan rasakan tentang peristiwa tersebut. Oleh sebab itu, maka metode ini memungkinkan pihak yang diwawancarai diberi kebebasan untuk menggunakan
istilah-istilah (kosakata) yang lazim digunakan oleh pihak yang diwawancarai,
sehingga proses wawancara tidak kaku. Selain itu, melakukan komunikasi lisan
dalam keadaan natural, tidak formal, seperti perbincangan sehari-hari dapat
memberikan informasi, keterangan yang mendalam, nilai realitas akan muncul
dan data yang diperoleh semaikn natural. Wawancara dalam bentuk ini juga
dikenal dengan istilah wawancara mendalam, intensif, terbuka dan lain
sebagainya.
3. Studi Dokumentasi
Data dalam penelitian kualitatif seringkali diperoleh dari sumber manusia
melalui observasi dan wawancara. Akan tetapi ada pula data yang bersumber dari
dokumen dan seringkali data dokumen kurang dimanfaatkan. Seperti yang
diungkapkan oleh Sugiyono ( 2013, hlm. 82) studi dokumen merupakan
pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian
kualitatif. Danial (2009, hlm. 79) menjelaskan bahwa studi dokumentasi adalah
mengumpulkan sejumlah dokumen yang diperlukan sebagai bahan data informasi
sesuai dengan masalah penelitian.
Studi dokumentasi dimaksudkan untuk memperoleh data empirik yang
relevan dengan masalah yang sedang diteliti. Data yang diperoleh melalui kajian
51
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Jadi melalui studi
dokumentasi ini, hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan dalam
penelitian tentang berbagai masalah yang dikaji dapat diperkuat kebenarannya.
F. TAHAP PENELITIAN
Menurut Bogdan dalam Moleong (2007, hlm. 85) tahap-tahap penelitian
terdiri atas: 1) Pra lapangan, 2) Pekerjaan lapangan, dan 3) Analisis Data. Adapun
yang menjadi tahapan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Tahap Pra Penelitian
Tahap pra penelitian yang dilakukan adalah Dalam tahap ini, peneliti
mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan penelitian di antaranya fokus
permasalahan dan objek penelitian. Selanjutnya peneliti mengajukan judul dan
proposal skripsi sesuai dengan apa yang akan diteliti. Setelah proposal penelitian
disetujui oleh pembimbing skripsi maka peneliti melakukan pra penelitian sebagai
upaya menggali gambaran awal dari subjek dan lokasi penelitian.
2. Tahap Pelaksanaan Penelitian
Pelaksanaan penelitian dimaksudkan untuk mengumpulkan data dari
responden. Adapun langkah-langkah yang ditempuh peneliti sebagai berikut :
a. Mengurus perizinan untuk permohonan pelaksanakan penelitian kepada
jurusan Prodi Pendidikan Sosiologi dan Fakultas FPIPS UPI sebagai
pengantar untuk mendapatkan surat izin penelitian dari Kepala Kantor
Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (KESBANGLINMAS) Kota
Bandung, dan selanjutnya meminta perizin kepada Dinas Sosial Kota
Bandung untuk melaksanakan penelitian tentang kajian penulis.
b. Melakukan observasi terhadap lokasi penelitian, guna memperoleh
gamabaran mengenai masalah yang tengah diteliti, kemudian hasil
observasi disusun dalam catatan lapangan.
c. Melakukan wawancara dengan responden, kemudian hasil wawancara
52
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
d. Melakukan studi dokumentasi terhadap temuan yang ada dilapangan dan
membuat catatan yang diperlukan dan relevan dengan masalah yang tengah
diteliti.
Data yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi disusun dalam bentuk
catatan lengkap setelah didukung dokumen-dokumen yang mendukung sampai
pada titik jenuh yang berarti perolehan data tidak lagi mendapatkan informasi
yang baru.
3. Tahap Pengolahan dan Analisis Data
Data yang diperoleh dan dikumpulkan dari responden melalui hasil
wawancara, obeservasi dan studi dokumentasi di lapangan untuk selanjutnya
dideskripsikan dalam bentuk laporan. Menurut Sugiyono (2013: 88) mengatakan
bahwa analisis data adalah :
Proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan mana yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain
Lebih lanjut Nasution (2003, hlm. 129) menyatakan: Tidak ada suatu cara
tertentu yang dapat dijadikan pendirian bagi semua penelitian, salah satu cara
yang dapat dianjurkan ialah mengikuti langkah-langkah berikut yang bersifat
umum yaitu reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan/verifikasi.
Analisis data kualitatif berdasarkkan model Miles dan Haberman (dalam
Sugiyono, 2013, hlm. 91) terdiri atas tiga aktivitas, yaitu data reduction, data
display dan conclusion drawing/ferification. Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat dijelaskan bahwa dalam pengolahan data dan menganalisis data dilakukan
melalui langkah-langkah sebagai berikut:
a. Reduksi data
Reduksi data adalah proses analisis data yang dilakukan untuk mereduksi
dan merangkum hasil-hasil penelitian dengan menitikberatkan pada hal-hal yang
53
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
pemahaman terhadap data yang telah terkumpul sehingga data yang direduksi
memberikan gambaran lebih rinci.
b. Display Data
Display data adalah data-data hasil penelitian yang sudah tersusun secara
terperinci untuk memberikan gambaran penelitian secara utuh. Data yang
terkumpul secara terperinci dan menyeluruh selanjutnya dicari pola hubungannya
untuk mengambil kesimpulan yang tepat. Penyajian data selanjutnya disusun
dalam bentuk uraian atau laporan sesuai dengan hasil penelitian yang diperoleh.
c. Verifikasi
Kesimpulan merupakan tahap akhir dalam proses penelitian untuk
memberikan makna terhadap data yang telah dianalisis. Kesimpulan itu
mula-mula masih sangat tentative, kabur, diragukan, akan tetapi dengan bertambahnya
data, maka kesimpulan itu lebih grounded. Jadi kesimpulan senantiasa harus
diverifikasi selama penelitian berlangsung.
G. VALIDITAS DATA
Pengujian keabsahan data dalam penelitian kualitatif menurut Sugiyono
(2013, hlm. 121) meliputi uji, credibility (validitas internal), transferability
(validitas eksternal), dependability (reliabilitas) dan confirmability (obyektivitas)
seperti yang dijelaskan berikut:
1. Pengujian Kredibilitas
Uji kredibilitas data atau kepercayaan terhadap data hasil penlitian kualitatif
antara lain dilakukan dengan cara:
a. Perpanjangan pengamatan
Perpanjangan pengamatan berarti peneliti kembali ke lapangan, melakukan
pengamatan, wawancara lagi dengan sumber data yang pernah ditemui maupun
yang baru. Dengan begini berarti hubungan peneliti dan narasumber semakin
akrab, semakin mempercayai sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan
54
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
b. Meningkatkan ketekunan
Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat
dan berkesinambungan. Dengan demikian maka kepastian data dan urutan
peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis. Ketekunan pengamatan
bermakasud menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat
relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan
diri pada hal-hal tersebut secara rinci.
c. Triangulasi
Triangulasi dalam pengujian kreadibilitas ini diartikan sebagai pengecekan
data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Dengan
demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan
waktu.
1) Triangulasi Sumber
Triangulasi sumber untuk menguji kreadibilitas data dilakkan dengan cara
mengecek data yang telah diperoleh melalui berbagai sumber yang dalam
penelitian ini ialah anggota komunitas Punk, masyarakat, dan Dinas Sosial. Data
yang telah dianalisis oleh peneliti sehingga menghasilkan suatu kesimpulan.
Kemudian dideskripsikan, dikategorisasikan, mana pandangan yang sama, yang
berbeda, dan mana spesifik dari tiga sumber data tersebut.
Gambar 3.1 : Triangulasi dengan tiga sumber data
2) Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara
mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Seperti dengan
wawancara, lalu dicek dengan observasi, dokumentasi. Bila dengan tiga data
Komunitas Punk Masyarakat
55
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
tersebut menghasilkan data yang berbeda-beda, maka peneliti melakukan diskusi
lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan atau yang lain, untuk
memastikan data mana yang dianggap benar. Atau mungkin semuanya benar
karena sudut pandangnya berbeda-beda.
Gambar 3.2 : Triangulasi dengan tiga teknik pengumpulan data
3) Triangulasi Waktu
Waktu juga sering mempengaruhi kreadibilitas data. Data yang
dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari ketika narasumber masih
segar, belum banyak masalah, akan memberikan data yang lebih valid sehingga
lebih kredibel. Untuk itu pengecekan kreadibilitas data dapat dilakukan dengan
cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi, atau teknik lain dalam
waktu dan situasi yang berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda,
maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian
datanya
Gambar 3.3 : Triangulasi dengan tiga waktu pengumpulan data
Observasi Wawancara
Dokumentasi
Bulan Ke 1 Bulan Ke 2
56
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
4) Analisis kasus negatif
Kasus negatif adalah kasus yang tidak sesuai atau berbeda dengan hasil
penelitian hingga pada saat tertentu. Melakukan analisis kasus negatif berarti
peneliti mencari data berbeda bahkan bertentangan dengan data yang ditemukan.
Bila tidak ada lagi data yang berbeda atau bertentangan dengan temuan, berarti
data yang ditemukan sudah dapat dipercaya.
5) Menggunakan bahan referensi
Menggunakan bahan referensi disini maksudnya dalah adanya pendukung
untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti. Contohnya, data
hasil wawancara didukung oleh adanya rekaman wawancara, dan lain sebagainya.
Dalam penelitian sebaiknya data-data yang dikemukakan perlu dilengkapi
foto-foto atau dokumen yang autentik, sehingga lebih dipercaya.
6) Mengadakan membercheck
Membercheck adalah, proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi data. Tujuanya adalah untuk mengetahui seberapa jauh data yang
diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh pemberi data. Apabila data yang
diberikan telah disepakati pemberi data berarti datanya valid, sehingga semakin
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
BAB V PENUTUP
A. SIMPULAN
Berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan penulis berkenaan dengan
fenomena perilaku antisosial komunitas punk di Kota Bandung penulis menarik
kesimpulan sebagai berikut yang akan dijabarkan berdasarkan poin-poin
perumusan masalah pada penelitian ini yakni sebagai berikut :
1. Perilaku antisosial sejatinya ditunjukan oleh para punker yang ada di Kota
Bandung, hal ini ditunjukan oleh sikap dan perilaku yang tampak seperti
cara berpenampilan seorang punkers memang sangat berbeda dibanding
dengan cara berpenampilan masyarakat pada umumnya, pola perilaku
keseharian yang dianggap oleh masyarakat yang tidak sesuai dengan nilai
dan norma yang berlaku seperti sikap yang cenderung agresif, seringnya
mengkonsumsi minuman beralkohol, terlibat perkelahian, penyalahgunaan
obat-obatan dan acuh terhadap nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya perilaku penyimpangan dan
sikap-sikap antisosial ini dilatar belakangi oleh kondisi keluarga Broken
Home, lingkungan sosial individu yang bisa dengan mudah menemui sekelompok orang yang melakukan perilaku menyimpang, teman
sepermainan dan pendidikan yang rendah. Selain itu juga ada faktor-faktor
lain yang mendukung munculnya perilaku tersebut seperti pengaruh media
massa, keinginan diri untuk dipuji, pelampiasan rasa kecewa, faktor
dorongan kebutuhan ekonomi, serta adanya ketidaksanggupan individu
untuk menyerap norma-norma konformis.
3. Keberadaan dari para punker ini berdampak pada kehidupan masyarakat
baik secara langsung maupun tidak langsung. Dampak secara langsung
tersebut diantaranya adalah adanya perasaan takut yang dirasakan oleh
masyarakat akibat dari adanya beberapa perilaku mereka yang bisa
99
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
banyak, mengamen dengan cara paksa, dan melakukan pemalakan. Implikasi
lain yang muncul dari komunitas punk ini selain dirasakan secara langsung
ada pula beberapa hal yang bersifat tidak langsung, diantaranya adalah
dengan cara hidup mereka yang menjunjung tinggi kebebasan dan hidup
seolah-olah tidak terikat oleh sistem norma yang berlaku dimasyarakat, para
generasi tua memiliki semacam ketakutan bila hal tersebut akan berimplikasi
terhadap ideologi pada generasi muda yang sejatinya masih dalam tahap
pencarian jati diri kemudian terjerumus pada pola kehidupan yang mereka
lihat dari komunitas punk tersebut
B. REKOMENDASI
Dari hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan pada penelitian ini,
penulis merekomendasikan berbagai hal berikut :
1. Bagi keluarga
Keluarga sebagai agen sosialisasi primer diharapkan mampu menjalin
hubungan yang harmonis diantara tiap-tiap anggotanya khususnya hubungan
antara orang tua dan anak, orang tua sudah semestinya memperikan
perhatian, kasih sayang, dan juga pemahaman terhadap sesuatu kepada
anaknya, hal ini ditujukan agar seorang anak tidak akan mencari perhatian
kepada pihak lain yang bisa membentuk sikap dan karakter yang tidak
sesuai.
2. Masyarakat
Komunitas Punk juga merupakan bagian dari masyarakat, Punk
hanyalah cara menjalani hidup yang memang sedikit berbeda dengan
masyarakat umum. Dalam hal ini masyarakat tidak harus memperlihatkan
sikap penolakan terhadap keberadaan mereka, masyarakat hanya perlu
bersikap waspada saat berdekatan dengan mereka. Saling menghargai satu
sama lain merupakan sikap yang cukup bijak.
3. Bagi Pemerintah
Pemerintah dalam hal ini terutama adalah pihak Dinas Sosial
100
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
yang sering menempati sarana-sarana publik dan memberikan pelatihan
yang tepat agar mereka tidak terus menjadikan jalanan sebagai tempat
melangsungkan hidup.
4. Bagi peneliti
Bagi peneliti selanjutnya diharapakan bisa lebih mengkaji hal ini
secara mendalam dengan wilayah penelitian yang lebih luas, dan objek
penelitian yang lebih banyak guna memberikan hasil penelitian yang lebih
baik. Dan diharapkan menjadi rujukan bagi penelitian selanjutnya dan
memberikan manfaat khususnya bagi peneliti itu sendiri umumnya bagi
102
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
DAFTAR PUSTAKA
Adlin, A., dkk. (2006). Resistensi Gaya Hidup: Teori dan Realitas. Yogyakarta: Jalasutra.
Ali, M. (2002) Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Amani.
Arikunto. Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. PT Rineka Cipta : Jakarta
Artiani, L. I. (2011). Studi Perilaku Menyimpang (Deviant Behavior) Kaum Urban (Studi Kasus Komunitas Punk di Kota Surakarta. (Skripsi). Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta
Barnard, M. (2009). Fashion sebagai Komunikasi: Cara Mengomunikasikan Identitas Sosial, Seksual, Kelas, dan Gender. Yogyakarta : Jalasutra
Basrowi dan Suwandi. (2008) Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta : Rineka Cipta
Boeree, C.G. (2010). Psikologi Sosial. Jogjakarta: Prismasophie.
BPS Kota Bandung. (2009). Bandung Dalam Angka (2009). Pemerintah Kota Bandung
Daldjoeni, N. (1997). Seluk Beluk Masyarakat Kota. Bandung : Alumni
Hasnadi, H. (2012) Komunitas Punk di Kota Bandung dalam Memaknai Gaya Hidup. Jurnal Mahasiswa Universitas Padjadjaran Vol.1., No.1
Hebdige, D. (1999). Asal-usul dan Ideologi Subkultur Punk. Yogyakarta : Buku Baik.
Horton, P. B. & Hunt, C. L. (1984). Sosiologi. Jakarta : Erlangga
Indaryanto, A. P. (2011) Identifikasi Keterpaan dan Kontribusi Komunitas Punk pada Penyakit Masyarakat di Jakarta Selatan. (Tesis). Sekolah Pascasarjana, Universitas Indonesia, Jakarta.
Kartono. Kartini. (2011). Patologi Sosial. Jakarta. Rajawali Pers..
Kennedy, E. S., dkk. (2009). Galeri Urban: Narasi Kota dalam Labirin Seni. Yogyakarta : Ekspresi Buku
Koentjaraningrat. (1994) Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Maryati, K. & Suryawati, J. (2001). Sosiologi Untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Esis.
Moleong, L.J. (2007) Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Roksadakarya
Mulayana, D. (2010) Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosadakarya
Narwoko, J.D. dan Suyanto, B. (2007). Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana
102
Dadan Muhammad Ruhiat, 2015
ANALISIS PERILAKU ANTISOSIAL PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Reid, S. T. (2000). Crime and Criminology. New York : McGraw-Hill
Rubianto. (2012). Perilaku Agresif Anggota Geng Motor di Kbupaten Bandung Barat (Skripsi). Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Rusbiantoro, D. (2008). Generasi MTV. Yogyakarta : Jalasutra Santrock, J.W (2005). Psikologi Remaja: PT. Raja Grafindo Persada
Sarwono. Sarlito W. (2002). Psikologi Remaja, Edisi Revisi. Jakarta. PT RajaGrafindo
Persada.
Setiadi, E. M. dan Kolip, U. (2011) Pengantar Sosiologi. Jakarta : Kencana Prenada Media Grup
Siahaan. Jokie M.S. (2009). Perilaku Menyimpang : Pendekatan Sosiologi. Jakarta.Indeks.
Soekanto, S. (2007) Sosiologi : Suatu pengantar. Jakarta : Rajawali Pers
Soekanto. S. (2004). Sosiologi Keluarga, Tentang Ikhwal Keluarga, Remaja dan Anak. Jakarta. Rineka Cipta.
Sugiyono. (2013) Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta
Syani, A. (1987). Sosiologi Kelompok dan Masalah Sosial. Jakarta: Fajar Agung Syarbaini. Syahrial dan Rusdiyanto.(2009). Dasar-Dasar Sosiologi. Yogyakarta.
Graha Ilmu.
Yuniardi, M. S. (2008). Laporan Penelitian : Penerimaan Remaja Laki – laki dengan Perilaku Antisosial Terhadap Peran Ayahnya di Dalam Keluarga. Lembaga Penelitian Universitas Muhammadiyah, Malang.