Radinal Mukhtar Harahap [email protected]
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Ar-Raudlatul Hasanah, Medan Abstrak
Tulisan ini bertujuan menguraikan korelasi dan koneksi antara pendidikan dan peradaban sebagai dua konsep yang saling berkelindan dalam narasi sejarah Islam klasik.
Pendidikan Islam diketahui punya kedudukan istimewa dalam pembentukan peradaban Islam, dan sebaliknya, peradaban Islam punya kontribusi besar dalam keberhasilan penyelenggaraan pendidikan Islam. Melalui pendekatan sejarah (historical approach), tulisan ini bukan hanya menukil kembali kenangan manis terkait golden age yang pernah ada, melainkan juga menegaskan urgensi keberadaan pendidikan Islam dalam membentuk kerangka peradaban. Begitu juga sebaliknya, menekankan fungsi peradaban yang sangat penting dalam keberhasilan penyelenggaraan pendidikan Islam.
Kata kunci: Pendidikan, Peradaban, Sejarah Islam Klasik.
A. Pendahuluan
slam, baik sebagai agama maupun peradaban, adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari realitas sejarah kehidupan umat manusia.1 Ia hadir dan berperan mengeluarkan peradaban-peradaban lainnya dari kebodohan (al-jahl), penyimpangan (al-takhalluf) dan kebobrokan akhlak (al-inhiya>r al-akhla>qi>).2 Al-Sirjani telah merangkum banyak keterangan dan informasi mengenai hal tersebut dalam bukunya yang berjudul Ma>dza> Qaddama al-Muslimu>n li al-‘A<lam. Secara ringkas; itu juga tercermin pada anak judulnya–Isha>ma>t al-Muslimi>n fi al-Hadha>rah al-Insa>niyah, dapat disebut bahwa peradaban Islam, atau masyarakat muslim, telah memberi sumbangsih yang besar pada peradaban dunia, secara umum, maupun pada kemanusiaan, secara khusus.3
1 Seyyed Hossein Nasr dan Huston Smith, Islam: Religion, History, and Civilization (Lahore-Pakistan:
Suhail Academy, 2005).h.xi.
2 Raghib al-Sirjani, Ma>dza> Qaddama al-Muslimu>n li al-‘A<lam, 2 ed., vol. 1 (Kairo: Muassasah Iqra’, 2009).h.16.
3 al-Sirjani.
I
Terkait dengan pendidikan, ia adalah prasyarat awal dan terpenting bagi peradaban.4 Daud, dengan istilah lain, menyebutnya dengan pembinaan budaya ilmu.5 Pembinaan itu telah direkam sejarah dilakukan bangsa Yunani, Yahudi, China, India, Barat, Jepang dan Islam sehingga menjadi peradaban besar.6 Tanpanya, pencapaian- pencapaian apapun yang diraih suatu bangsa, dalam berbagai sisi, hanya akan bersifat sementara atau hanya tampilan luaran saja.
Sebagai kajian pengantar, tulisan ini berusaha menguraikan korelasi dan koneksi antara kedua konsepsi tersebut di atas; peradaban dan pendidikan Islam, dalam tinjauan narasi sejarah klasik (650-1250 M)7. Hal itu, selain mengingatkan kembali kenangan manis mengenai sejarah emas (golden age) yang pernah ada, juga perlu dilakukan untuk menegaskan urgensi dan signifikansi keberadaan pendidikan Islam dalam pembentukan kerangka peradaban.
A. Sejarah Pendidikan Islam Menuju Peradaban Islam
Sejarah klasik (650-1250 M) adalah fase yang dirincikan kepada tiga masa, yaitu kekhalifahan al-Ra>syidi>n (632-661 M), dinasti Umayyah (661-750 M) dan dinasti Abbasiyah (750-1250 M).8 Selain pada masa yang disebut terakhir, termasuk masa kehidupan Rasulullah (571-623 M), Mukti mengatakan bahwa penyelenggaraan pendidikan Islam masih secara natural dan spontanitas sesuai dengan dinamika yang muncul di masyarakat.9 Dinamika yang dimaksud dan dapat dicatat, antara lain, adalah kekeliruan kaum Quraisy memandang keberadaan Tuhan. al-Harbi mengatakan bahwa mereka sebenarnya menciptakan berhala dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah, dan/atau kepada kekuatan yang mereka ketahui lebih besar dari berhala itu sendiri.
Namun, kekeliruan pengetahuan tentang konsep Tuhan menjadi sebab mereka melakukan tindakan yang keliru tersebut.10
Dinamika lain yang juga perlu dicermati adalah penggunaan rumah-rumah kaum Muslimin seperti rumah al-Arqam bin ‘Abi al-Arqam sebagai tempat berkumpul dan belajarnya para sahabat al-awwali>n tentang dasar-dasar agama dan Alquran. Kisah populer masuk Islamnya Umar bin al-Khattab juga berawal dari rumah. Dengan
4 Wan Mohd Nor Wan Daud, Budaya Ilmu: Makna dan Manifestasi dalam Sejarah dan Masa Kini (Malaysia: CASIS-HAKIM, 2019).h.21
5 Daud.
6 Daud.h.21-42.
7 Mengenai periodisasi sejarah, kajian ini mengacu kepada klasifikasi yang dilakukan Harun Nasution, yaitu klasik (650-1250 M), pertengahan (1250-1800 M), dan modern (1800 M–sekarang). Lihat Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek (Jakarta: UII Press, 1985).h.56-88
8 Bandingkan dengan Zuhairini dkk., Sejarah Pendidikan Islam, 13 ed. (Jakarta: Bumi Aksara, 2015).h.7.
9 Abd Mukti, Konstruksi Pendidikan Islam (Medan: Perdana Publishing, 2007).h.1-2.
10 Hamid Salim ’Aid al-Harbi, Al-Tarbiyah fī ‘Ahdi al-Rasu>l: Nasy’atuha> wa Tathawwuruha> (Mekkah:
Rabithah al-’Alam al-Islami, 1419).h.13.
demikian, dapat dipahami bahwa rumah adalah institusi awal pendidikan Islam yang menjadi respon atas perlawanan kaum Quraisy terhadap dakwah Nabi Muhammad saw.11
Dinamika-dinamika tersebut di atas kiranya cukup memberikan ilustrasi tentang penyelenggaraan pendidikan Islam yang natural dan spontanitas. Ia juga mempertegas bahwa pendidikan Islam bukan konsep yang lahir dari kekosongan faktor sosio-kultural melainkan memiliki latar belakang peristiwa historis yang penting.12 Peristiwa historis itu, dalam konteks kajian ini, diposisikan sebagai fondasi penting peradaban Islam, yang oleh Khalil dikaitkan pada dua hal, yaitu dengan transmisi pandangan hidup dalam berkeyakinan (al-naqlah al-tashawwuriyyah al-i’tiqa>diyyah) dan transmisi keilmuan (al- naqlah al-ma’rifiyyah).13
Dari titik ini, maka pendapat Zarkasyi mengenai substansi peradaban yang menggunakan istilah tamaddun14 menemukan relevansi yang kuat dibanding hada>rah, tsaqa>fah, atau ‘umra>n yang juga diterjemahkan sebagai peradaban dalam literasi-literasi Sarjana Muslim.15 Peradaban Islam, dengan demikian, semestinya dapat dipahami sebagai peradaban yang identik dengan situasi yang berlandaskan pada dan bermula dari pemahaman mendalam dan pengamalan yang baik mengenai Islam sebagai di>n. Itu karena pembentukan komunitas ilmu yang berpandangan di>n akan membentuk peradaban ilmu sebagaimana tampilan peradaban Islam. Secara tegas alurnya bermula dari Alquran ke tradisi Ilmu dan dari tradisi ilmu ke politik.16 Fondasi yang telah disebut sebelumnya memegang peranan kunci.
Narasi sejarah klasik selanjutnya bahkan secara jelas mengilustrasikan bahwa ilmu pengetahuan Islam yang dimulai dari ‘rumahan’ dengan fokus kepada dasar-dasar agama berkembang menuju arah kemampuan membaca (al-qira>’ah-reading) dan menulis (al- kita>bah-writing). Al-Zuhri dalam Al-Tabaqa>t al-Kabi>r mencatat bahwa Rasulullah menetapkan tebusan bagi tawanan perang badar yang tidak memiliki apa-apa dengan
11 Azhar Ahmad Hamdan Al-Tamimi, “Place of Education in The Era of Islam and The Ummayyad State,”
Route Educational & Social Science Journal 6, no. 5 (2019): 1–22.
12 Mukti, Konstruksi Pendidikan Islam.h.13.
13 Imaduddin Khalil, Madkhal ilâ Hada>rah al-Isla>miyyah (Libanon: Markaz al-Tsaqafi al-’Arabi, 2005);
h.15-18.
14 Hamid Fahmy Zarkasyi, “Tamaddun sebagai Konsep Peradaban Islam,” TSAQAFAH 11, no. 1 (30 November 2015): 1–28, https://doi.org/10.21111/tsaqafah.v11i1.251.
15 Beberapa contohnya adalah Khaled Sumany, “Lughah al-’Arabiyah: Lughah Hadharah wa Lughah I’lam,” Al-Mumarisat al-Lughawiyah, no. 2 (2011): 223–38; M. Shahla Abdullah Abdul Qader, “al- Hadarah al-Islamiyah Hadarah Insaniyah,” Majallah Midad al-Adab 1, no. 12 (2016): 493–521; Hmod Olimat, “Al-Tsaqafah al-Islamiyah wa Tahaddiy al-’Aulamah,” Islamiyat al-Ma’rifah 6, no. 24 (2001):
115–89; Abdul Majid Al-Najjar, “Maqashid al-Qur’an fi Bina’ al-Fikri al-’Umrany,” Islamiyat al-Ma’rifah 23, no. 89 (2017): 99–69; Muhyiddin al-Hajj Yahya, “’Ilm al-Umran: Ushuluh wa Furu’uh wa Mashadhiruh wa ’Alaqatuh bi Al-Din al-Islamy,” IJUS| International Journal of Umranic Studies, 2018.
16 Zarkasyi, “Tamaddun sebagai Konsep Peradaban Islam.”
tugas mengajari sepuluh orang muslim untuk menulis.17 Plus riwayat Al-Tirmizi yang menerangkan khita>b (perintah) Rasul kepada Zaid bin Ṡabit mengenai penguasaan bahasa asing (surya>niyah)18, lengkaplah tiga faktor kunci yang memainkan peran besar dalam transmigrasi ilmu pada masa dinasti Abbasiyah. Arif menulis gambaran masa itu dengan merujuk karya Ibn Al-Nadim19, Franz Rosenthal20, F.E. Peters21, dan Dimitri Gutas22.
Penguasa Abbasiyah banyak merekrut kaum terpelajar setempat sebagai pegawai dan staf ahli. Sebutlah, misalnya, Ibn al-Muqaffa‘ (w. 759 M) dan Yahyâ ibn Khâlid ibn Barmak (w. 803 M), cendekiawan dan politisi keturunan Persia yang diangkat jadi menteri pada masa itu. Lalu pada zaman pemerintahan Khalifah al- Ma’mûn (w.833 M) digaraplah proyek penerjemahan, riset dan pengembangan secara massif. Ia mendirikan sebuah research centre dan perpustakaan yang dinamakan Bayt al-Hikmah. Di antara mereka yang aktif sebagai penerjemah dan peneliti tersebutlah nama-nama semisal Hunayn ibn Ishâq dan anaknya Isha>q ibn Hunayn, Abu Bishr Matta> ibn Yu>nus, dan Yahya> ibn ‘Adi>. Di akhir abad ke-9 M, hampir seluruh korpus saintifik Yunani telah berhasil dialihbahasakan ke Arab, meliputi pelbagai bidang ilmu, dari kedokteran, matematika, astronomi, fisika, hingga filsafat, astrologi dan kimia.23
Adapun terkait persoalan politik yang menjadi arah selanjutnya tamaddun Islam dalam penjelasan Zarkasyi sebelumnya, kutipannya atas pernyataan Gutas dapat disitasi kembali. Guru Besar Studi Arab Universitas Yale tersebut secara jujur menyatakan bahwa perkembangan peradaban Islam masa itu terbentang seluas Asia Tengah dan anak benua India hingga Spanyol dan Pyrennes.24 Pernyataan Kneller25 yang dikutip Zarkasyi lantas menjelaskan kunci perkembangan yang dimaksud:
17 Muhammad bin Sa’d bin Mani’ al-Zuhri, Al-Tabaqa>t al-Kabi>r, ed. oleh Ali Muhammad Umar (Kairo:
Maktabah al-Khanji, 2001).h.20.
18 Abu ’Isā Al-Tirmizi, Al-Ja>mi’ al-Sahi>h, Vol.1 (Mesir: Mushtafa al-Bab al-Halabi, 1974).h.68
19 Ibn Al-Nadim, Kita>b al-Fihrist, ed. oleh G. Flügel, vol. 1–2 (Leipzig: F.C.W. Vogel, 1871).
20 Franz Rosenthal, The Classical Heritage in Islam, trans. oleh E. Marmorstein dan J. Marmorstein (London: Routledge, 1965).
21 F.E. Peters, Aristoteles Arabus (Leiden: E. J. Brill, 1968).
22 Dimitri Gutas, Greek Thought in Arabic Culture: The Graeco-Arabic Translation Movement in Baghdad and Early ‘Abbasid Society (2nd-4th / 8th-10th Centuries) (London: Routledge, 1988).
23 Syamsuddin Arif, “Transmigrasi Ilmu: Dari Dunia Islam ke Eropa,” TSAQAFAH 6, no. 2 (30 November 2010): 199–213, https://doi.org/10.21111/tsaqafah.v6i2.117.
24 Lihat pernyataan aslinya dalam Gutas, Greek Thought in Arabic Culture: The Graeco-Arabic Translation Movement in Baghdad and Early ‘Abbasid Society (2nd-4th / 8th-10th Centuries).h.13.
25 George F. Kneller, Science as a Human Endeavor (New York: Columbia University Press, 1978).
“Bala tentara Islam… tidak berbekalkan apa-apa secara kultural selain dari Kitab Suci dan Sunnah Nabi. Tapi karena inner-dynamic-nya, maka ajaran Islam itu telah menjadi landasan pandangan hidup yang dinamis yang kelak… memberi manfaat untuk seluruh umat manusia.26
Inner-dynamic itulah yang menjelaskan kembali peranan kunci fondasi yang telah disebut sebelumnya. Secara ringkas dapat dipahami kemudian bahwa transmisi pandangan hidup dalam berkeyakinan (al-naqlah al-tashawwuriyyah al-i’tiqa>diyyah) terangkum dalam inner-dynamic yaitu Alquran, Sunnah Nabi. Sementara transmisi keilmuan (al-naqlah al-ma’rifiyyah) tercorakkan dari pembelajaran rumahan yang bermula dari dasar-dasar agama menuju kemampuan membaca-menulis dan bahasa asing.
Dengan catatan, bahwa semua itu berkelindan dan berkait erat sebagaimana pendidikan dan peradaban Islam yang berkorelasi dan berkoneksi. Semuanya secara nyata kokoh dan bertahan bahkan hingga lebih dari setengah abad setelah wafatnya Nabi Muhammad (632 M).
B. Peradaban Islam dan Pendidikan Islam: Koneksi dan Korelasi
Dari penjelasan di atas juga terlihat bahwa peradaban Islam telah memunculkan konsepsi mengenai muatan (kurikulum) pendidikan Islam, yang tidak sebatas al-‘ulu>m al-diniyah (ilmu-ilmu agama) melainkan juga pengetahuan umum.27 Daud menyatakan bahwa salah satu ciri iklim kehidupan intelektual di Andalusia yang menyebabkan kejayaan dan keagungan peradaban Islam adalah kesatuan antara ilmu agama dan yang
“bukan agama”.28 Hal itu tidak mengherankan karena jika di-flashback keterangan Arif sebelumnya, tergambarkan secara jelas bahwa akhir abad ke-9 M, ilmuwan muslim telah berhasil mengalihbahasakan hampir seluruh korpus saintifik Yunani ke bahasa Arab yang meliputi pelbagai bidang ilmu, dari kedokteran, matematika, astronomi, fisika, hingga filsafat, astrologi dan kimia.29
Al-Riba>sh dalam penelitiannya mengenai al-Muassasa>t al-Ta’li>miyah fi al-‘Asr al-
‘Abba>si> al-Awwal (132-232H) menyatakan bahwa sebenarnya capaian-capaian yang diraih masyarakat Islam pada masa dinasti Abbasiyah hanyalah produk dari kehidupan ilmiah (al-haya>h al-‘ilmiyah) yang melatarbelakanginya. Sesuatu yang lebih penting
26 Zarkasyi, “Tamaddun sebagai Konsep Peradaban Islam.” h.19.
27 Mukti, Konstruksi Pendidikan Islam. h.4.
28 Ciri selengkapnya adalah (1) Pandangan alam Islam yang menta’rifkan Insan dan ketinggian martabatnya dengan ilmu pengetahuan, (2) Tujuan menuntut ilmu dan menyebarkan ilmu ialah untuk mencapai keridhaan Allah serta kebenaran, (3) Kesatuan antara ilmu agama dan yang ‘bukan agama’, (4) penguasaan pelbagai bidang, (5) kecemerlangan membuahkan kecemerlangan, (6) kemewahan dan keselasaan keluarga tidak menghambat kecemerlangan ilmu, (7) kesusahan dan kemiskinan juga tidak menghambat kecemerlangan, (8) peranan pemimpin kerajaan, (9) sikap ilmiah tidak ekslusif dan hormat- kritis, (10) peranan golongan wanita, (11) pembinaan disiplin ilmu baru. Lihat dalam Daud, Budaya Ilmu:
Makna dan Manifestasi dalam Sejarah dan Masa Kini. h.133-163.
29 Arif, “Transmigrasi Ilmu.”, h.201-202.
untuk diketahui adalah latar belakang itu sendiri karena ia menjadi faktor penyebab keberadaan pencapaian. Faktor yang dimaksud adalah (1) dukungan istana, (2) stabilitas pemerintahan, (3) pertemuan masyarakat Islam dengan masyarakat lainnya, (4) semarak penulis dan buku-bukunya, hingga (5) produksi kertas yang berkembang.30 Dari faktor- faktor tersebut, lahir produk kehidupan ilmiah berupa ramainya baik ulama maupun masyarakat Islam yang berbudaya ilmu di al-kutta>b, al-masjid, manzil al-‘ulama>’, qusu>r al-khulafa>’, al-maktabah, bahkan jawa>nib al-warra>qi>n.31
Pertama, dukungan Istana. Penguasa Abbasiyah, seperti yang telah disebut sebelumnya, adalah penguasa yang memerhatikan keberadaan ilmu sekaligus ilmuwan.
Banyak dari mereka yang merekrut kaum terpelajar setempat sebagai pegawai dan staf ahli. Nama-nama seperti Ibn al-Muqaffa‘ (w. 759 M) dan Yahya> ibn Khâlid ibn Barmak (w. 803 M) merupakan contoh dari cendekiawan dan politisi yang diangkat jadi menteri.
Begitu juga dengan Khalifah al-Ma’mu>n (w.833 M) yang menjadi pendukung penuh proyek Bayt al-Hikmah, sebagai research centre dan perpustakaan.32 Eksplorasi tersebut perlu disebutkan kembali untuk mengingatkan bahwa dukungan istana sangat berpengaruh pada kehidupan ilmiah pada masa itu.
Selain itu, terkait pendidikan, faktor dukungan istana semestinya dipahami secara baik. Itu karena antara penguasa, ilmu dan pendidikan (ta’di>b) ada hubungan yang sangat erat. Penguasa yang berpendidikan (beradab) adalah yang memberikan perhatian terhadap konsepsi ilmu yang benar, untuk kemudian dipraktekkan dan dididikkan dalam tubuh masyarakat secara benar hingga lahir orang-orang yang benar (good man).
Kekeliruan terhadap ilmu –yang bisa jadi merupakan produk kebijakan penguasa, akan melahirkan praktek pendidikan yang keliru yang hasilnya adalah pribadi-pribadi yang akan muncul sebagai pemimpin yang keliru. Hubungan erat bahkan berkesinambungan di atas telah dibahas secara mendalam oleh Al-Attas sehingga ia menyimpulkan bahwa krisis terbesar masyarakat Islam saat ini adalah krisis terhadap persoalan adab (the loss of adab).33
Kedua, stabilitas pemerintahan. Dalam hal ini, sejarah mencatat bahwa periode kekuasaan dinasti Abbasiyah, khususnya pertama34, adalah periode yang stabil keberlangsungannya. Hal itu karena perihal perluasan daerah telah selesai pada masa pemerintahan dinasti Umayyah (661-750 M). Jika pun ada konfrontasi yang disebut
30 Mifta>h Yu>nus Al-Riba>sh, al-Muassasa>t al-Ta’li>miyah fi al-‘Asr al-‘Abba>si> al-Awwal (132-232H) (Libia:
Dar al-Kutub al-Wathani, 2010).h.55-59
31 Al-Riba>sh. h.59-118.
32 Arif, “Transmigrasi Ilmu.” h.201-202.
33 Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam and Securalism (Kuala Lumpur: IBFIM, 2014). h.106.
34 Mengenai periode kekuasaan dinasti Abbasiyah, sejarawan seperti Muhammad Suhail Tuqusy membaginya kepada (1) rentang 750-847 M, (2) rentang 847-945 M, (3) rentang 945-1055, (4) rentang 1055-1258 M. Lihat Muhammad Suhail Tuqusy, Ta>ri>kh al-Daulah al-‘Abba>siyah, 7 ed. (Lebanon: Dar An- Nafaes, 2009).
terhadap kelompok Byzantium, maka itu bukan bertujuan memperluas daerah kekuasaan, melainkan stabilisasi perbatasan dan meminimalisasi kesenjangan. Dengan demikian, perhatian para penguasa secara keseluruhan tercurahkan kepada pembinaan ilmu; yang gambaran kecilnya adalah pengalihan dana militer dan kekuasaan kepada gerakan ilmiah dan pendidikan.35
Pada poin ini telah terlihat bagaimana korelasi dan koneksi antara pendidikan dan peradaban terjalin. Peradaban Islam, sebagaimana dijelaskan sebelumnya, alurnya adalah dari Alquran ke tradisi Ilmu dan dari tradisi ilmu ke politik.36 Alur tersebut dapat dipahami pula secara berbalik, yaitu bahwa politik –yang di antara pemaknaannya adalah stabilitas pemerintahan, dapat dipergunakan untuk mendukung kegiatan ilmu, dan seterusnya ilmu itu berlandaskan kepada induk semua buku, yaitu Alquran.37
Ketiga, pertemuan masyarakat Islam dengan masyarakat lainnya. Al-Riba>sh mengatakan bahwa pertemuan yang dimaksud terlihat setelah penetapan Baghdad sebagai pusat pemerintahan dinasti Abbasiyah periode kekhalifahan Abu> Ja’far al- Mansu>r (145 H). Disebutkan bahwa di antara dampak positif dari penetapan tersebut adalah kehidupan bersama bagi kelompok masyarakat Arab, Persia, India dan Yunani.
Dengan begitu, Iraq dan Syam menjadi rahim dari pertumbuhan peradaban besar yang dilambangkan dengan ragam lembaga pendidikan yang bermunculan.38
Penjelasan dimaksud juga sesuai dengan teori interdependence yang dikemukakan Arif, yaitu bahwa fakta adanya pertukaran, peminjaman dan saling mempengaruhi antara dua bangsa, masyarakat atau peradaban yang berhubungan satu sama lain tidak dapat dipungkiri. Itu karena tidak ada peradaban yang berdiri sendiri maupun menjiplak seratus persen peradaban lain meskipun dengan catatan setiap peradaban memiliki ciri-ciri khas, elemen-elemen unik yang mungkin tidak terdapat ataupun tidak berkembang dalam peradaban lain.39 Tentang ciri khas atau elemen unik yang terdapat dalam peradaban Islam, dapat dirujuk dari penjelasan Zarkasyi yang telah berulang kali disitasi.40
Keempat, semarak penulis dan buku-bukunya. Atiyeh bahkan mengatakan bahwa periode dinasti Abbasiyah adalah periode yang berpengaruh besar membentuk ragam metode publikasi, transkripsi, penjilidan buku dan penjualannya ke tingkat yang lebih besar.41 Kesemarakan yang dimaksud tentu tidak terlepas dari perkembangan ilmu yang
35 Al-Riba>sh, al-Muassasa>t al-Ta’li>miyah fi al-‘Asr al-‘Abba>si> al-Awwal (132-232H). h.57.
36 Zarkasyi, “Tamaddun sebagai Konsep Peradaban Islam.” h.19.
37 Khaled Abou El Fadl, The Search for Beauty in Islam: A Conference of The Books (Lanham, Md:
Rowman & Littlefield, 2006). h.xvi.
38 Al-Riba>sh, al-Muassasa>t al-Ta’li>miyah fi al-‘Asr al-‘Abba>si> al-Awwal (132-232H). h.57.
39 Arif, “Transmigrasi Ilmu.” h.212.
40 Zarkasyi, “Tamaddun sebagai Konsep Peradaban Islam.” h.1-28.
41 George Nicholas Atiyeh, The Book in The Islamic World: The Written Word and Communication in The Middle East (New York: State University of New York Press, 1995). h.xiv.
ada. Hasan menyebut bahwa pada masa dinasti Abbasiyah telah terjalin ilmu-ilmu naqliyah dan aqliyah sebagai sebutan dari ragam-ragam ilmu seperti tafsi>r, qira>’a>t, hadi>s, fiqh, kala>m, nahwu, lughah-baya>n, adab untuk lingkup pertama, dan falsafah, arsitektur, astronomi, musik, kedokteran, kimia, sejarah, dan geografi untuk yang kedua.42
Kelima, produksi kertas yang sedang berkembang. Atiyeh menyebut, “... The Muslims developed paper manufacturing through the employment of new materials and the discovery of new methods.” (... Kaum Muslim mengembangkan pembuatan kertas melalui penggunaan bahan-bahan baru dan penemuan metode baru).43 Demikian itulah lima faktor yang melatarbelakangi kecemerlangan kehidupan ilmiah yang terjadi pada masa dinasti Abbasiyah.
C. Kesimpulan
Melalui kajian pengantar yang ringkas ini, terlihat bahwa pendidikan dan peradaban Islam merupakan dua konsep yang saling berkelindan dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya. Perhatian yang cermat kepada pendidikan akan berdampak pada pencapaian peradaban yang agung. Sebaliknya, citra peradaban suatu bangsa akan terlihat dari sikap dan kebijakan yang ditetapkan pada lingkup pendidikan.
Meskipun paparan di atas adalah narasi sejarah klasik, muatan-muatan pesannya jelas untuk dapat dipahami dalam konteks kekinian. Baik penguasa pemerintahan, orang- orang yang berkecimpung dalam pendidikan, bahkan masyarakat sekalipun perlu memahaminya secara matang. Tanpa pemahaman yang jelas, sejarah hanya akan menjadi kisah masa lampau. Padahal, sejarah masa lalu adalah pelajaran penting bagi setiap orang di masa kini.
D. Referensi
Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. Islam and Securalism. Kuala Lumpur: IBFIM, 2014.
Al-Nadim, Ibn. Kita>b al-Fihrist. Disunting oleh G. Flügel. Vol. 1–2. Leipzig: F.C.W.
Vogel, 1871.
Al-Najjar, Abdul Majid. “Maqashid al-Qur’an fi Bina’ al-Fikri al-’Umrany.” Islamiyat al-Ma’rifah 23, no. 89 (2017): 99–69.
Al-Riba>sh, Mifta>h Yu>nus. al-Muassasa>t al-Ta’li>miyah fi al-‘Asr al-‘Abba>si> al-Awwal (132-232H). Libia: Dar al-Kutub al-Wathani, 2010.
42 Hasan Ibrahim Hasan, Ta>rikh al-Isla>m: al-Siya>si wa al-Di>n wa al-Tsaqafi wa al-Ijtima>’; al-’Ashr al-
’Abba>si al-Awwal fi Al-Syarq wa Mishr wa al-Maghrib wa al-Andalus, vol. II (Beirut: Dar al-Jail, 1997).
h.264.
43 Atiyeh, The Book in The Islamic World: The Written Word and Communication in The Middle East.
Al-Tamimi, Azhar Ahmad Hamdan. “Place of Education in The Era of Islam and The Ummayyad State.” Route Educational & Social Science Journal 6, no. 5 (2019):
1–22.
Al-Tirmizi, Abu ’Isa>. Al-Ja>mi’ al-Ṣahi>h. Vol. 1. Mesir: Mushtafa al-Bab al-Halabi, 1974.
Arif, Syamsuddin. “Transmigrasi Ilmu: Dari Dunia Islam ke Eropa.” TSAQAFAH 6, no.
2 (30 November 2010): 199–213. https://doi.org/10.21111/tsaqafah.v6i2.117.
Atiyeh, George Nicholas. The Book in The Islamic World: The Written Word and Communication in The Middle East. New York: State University of New York Press, 1995.
Daud, Wan Mohd Nor Wan. Budaya Ilmu: Makna dan Manifestasi dalam Sejarah dan Masa Kini. Malaysia: CASIS-HAKIM, 2019.
Dzulhadi, Qosim Nursheha. “Islam sebagai Agama dan Peradaban.” TSAQAFAH 11, no.
1 (30 November 2015): 151. https://doi.org/10.21111/tsaqafah.v11i1.258.
El Fadl, Khaled Abou. The Search for Beauty in Islam: A Conference of The Books. Lanham, Md: Rowman & Littlefield, 2006.
Gutas, Dimitri. Greek Thought in Arabic Culture: The Graeco-Arabic Translation Movement in Baghdad and Early ‘Abbasid Society (2nd-4th / 8th-10th Centuries). London: Routledge, 1988.
Harbi, Hamid Salim ’Aid al-. Al-Tarbiyah fi> ‘Ahdi al-Rasûl: Nasy’atuha> wa Tathawwuruha>. Mekkah: Rabithah al-’Alam al-Islami, 1419.
Hasan, Hasan Ibrahim. Ta>rikh al-Isla>m: al-Siya>si wa al-Di>n wa al-Tsaqafi wa al-Ijtima>’;
al-’Ashr al-’Abba>si al-Awwal fi Al-Syarq wa Mishr wa al-Maghrib wa al- Andalus. Vol. II. Beirut: Dar al-Jail, 1997.
Khalil, Imaduddin. Madkhal ila> Hadha>rah al-Isla>miyyah. Libanon: Markaz al-Tsaqafi al-
’Arabi, 2005.
Kneller, George F. Science as a Human Endeavor. New York: Columbia University Press, 1978.
Mukti, Abd. Konstruksi Pendidikan Islam. Medan: Perdana Publishing, 2007.
Nasr, Seyyed Hossein, dan Huston Smith. Islam: Religion, History, and Civilization. Lahore-Pakistan: Suhail Academy, 2005.
Nasution, Harun. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek. Jakarta: UII Press, 1985.
Olimat, Hmod. “Al-Tsaqa>fah al-Isla>miyah wa Tahaddiy al-’Aulamah.” Islamiyat al- Ma’rifah 6, no. 24 (2001): 115–89.
Peters, F.E. Aristoteles Arabus. Leiden: E. J. Brill, 1968.
Qader, M. Shahla Abdullah Abdul. “al-Hadha>rah al-Isla>miyah Hadha>rah Insa>niyah.”
Majallah Mida>d al-Adab 1, no. 12 (2016): 493–521.
Rosenthal, Franz. The Classical Heritage in Islam. Diterjemahkan oleh E. Marmorstein dan J. Marmorstein. London: Routledge, 1965.
Sirjani, Raghib al-. Ma>dza> Qaddama al-Muslimu>n li al-‘A<lam. 2 ed. Vol. 1. Kairo:
Muassasah Iqra’, 2009.
Sumany, Khaled. “Lughah al-’Arabiyah: Lughah Hadha>rah wa Lughah I’la>m.” Al- Muma>risat al-Lughawiyah, no. 2 (2011): 223–38.
Tuqusy, Muhammad Suhail. Ta>ri>kh al-Daulah al-‘Abba>siyah. 7 ed. Lebanon: Dar An- Nafaes, 2009.
Yahya, Muhyiddin al-Hajj. “’Ilm al-Umran: Ushu>luh wa Furu>’uh wa Masha>dhiruh wa
’Ala>qatuh bi Al-Din al-Isla>my.” IJUS| International Journal of Umranic Studies, 2018.
Zarkasyi, Hamid Fahmy. “Tamaddun sebagai Konsep Peradaban Islam.” TSAQAFAH
11, no. 1 (30 November 2015): 1–28.
https://doi.org/10.21111/tsaqafah.v11i1.251.
Zuhairini, Moh. Kasiram, Abdul Ghofir, Tadjab, A. Malik Fadjar, dan Maksum Umar.
Sejarah Pendidikan Islam. 13 ed. Jakarta: Bumi Aksara, 2015.
Zuhri, Muhammad bin Sa’d bin Mani’ al-. Al-Thabaqa>t al-Kabi>r. Disunting oleh Ali Muhammad Umar. Kairo: Maktabah al-Khanji, 2001.