• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARYA ILMIAH AKHIR. Disusun Oleh : SUTRAWATI S.Kep

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KARYA ILMIAH AKHIR. Disusun Oleh : SUTRAWATI S.Kep"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

i

MANAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN PADA Tn “I” DENGAN DIAGNOSA MEDIS LIMFADENITIS TB DI

RUANGAN INSTALASI GAWAT DARURAT NON BEDAH RSUP. Dr. WAHIDIN SUDIROHUSODO

MAKASSAR

Disusun Oleh : SUTRAWATI S.Kep

18.04.004

YAYASAN PERAWAT SULAWESI SELATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PANAKKUKANG PROGRAM STUDI PROFESI NERS

MAKASSAR 2019

(2)

ASUHAN KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN PADA Tn “I”

DENGAN DIAGNOSA MEDIS LIMFADENITIS TB DI RUANGAN INSTALASI GAWAT DARURAT NON BEDAH

RSUP. Dr. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR

KARYA ILMIAH AKHIR

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan Pendidikan Pada Program Studi Ners STIKes Panakkukang Makassar

Disusun Oleh : SUTRAWATI S.Kep

18.O4.004

YAYASAN PERAWAT SULAWESI SELATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PANAKKUKANG PROGRAM STUDI PROFESI NERS

MAKASSAR 2019

ii

(3)

iii

(4)

iv

(5)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan segala rahmat dan hidayah-Nya yang tak

terhingga, sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan karya ilmiah akhir dengan judul “Manajemen Asuhan Keperawatan Pada Tn “I”

Dengan Limfadenitis TB Di Ruangan Instalasi Gawat Darurat Non Bedah RSUP. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar”.

Dalam melakukan penyusunan karya ilmiah akhir ini penulis telah mendapatkan banyak masukan, dukungan, bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak yang sangat berguna dan bermanfaat baik secara

langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu pada kesempatan yang baik ini dengan berbesar hati penulis ingin mengucapkan terimah kasih kepada yang terhormat :

1. H. Sumardin Makka., SKM., M.Kes, selaku Ketua Yayasan Perawat Sulawesi Selatan yang telah memberikan arahan selama ini.

2. Sitti Syamsiah, SKp., M.Kes, selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panakkukang Makassar yang telah memberikan izin penelitian serta bimbingan dan arahan selama ini.

3. Kens Napolion, SKp,. M.Kep,. Sp.Kep.J, selaku Ketua Profesi Ners STIKES Panakkukang Makassar yang telah memberikan ijin dalam

v

(6)

pelaksanaan penelitian dan bimbingan serta saran yang membangun selama ini.

4. Ns. Muh. Yusuf Tahir, M.Kes.,M.Kep, selaku pembimbing institusi yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan serta motivasi hingga selesainya penulisan karya ilmiah ini.

5. Civitas Akademika STIKES Panakkukang Makassar yang telah membantu selama ini.

6. Pihak RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar terkhusus ruang Instalasi Gawat Darurat IGD Non Bedah sebagai tempat pengambilan kasus untuk penyusunan karya ilmiah ini.

7. Pasien dan keluarga yang telah bekerjasama meluangkan waktu dan kesempatannya dalam penyusunan karya ilmiah ini.

8. Bapak Dg Sipapa dan ibu Bacci selaku orang tua saya yang telah memberikan bantuan, support dan kasih sayang serta do’a yang tiada henti-hentinya.

9. Teman-teman mahasiswa profesi Ners angkatan 2018 yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, kebersamaan dengan kalian semua adalah kenangan terindah dalam hidup saya yang tak pernah terlupakan.

10. Teman Dan Sahabat Minions (Sadaria, Sr Wahyuni Rahim, idawati, Musdalifah, Sulmi Sofyang, Chika Harjulan ) Yang telah memberikan motivasi,semangat setiap harinya dalam menyelesaikan Karya Ilmia Akhir ini.

vi

(7)

Dalam kerendahan hati penulis menyadari bahwa dalam melakukan penyusunan karya ilmiah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu masukan yang berupa saran dan kritik yang membangun dari para pembaca akan sangat membantu. Semoga karya ilmiah ini bisa

bermanfaat bagi kita semua dan pihak-pihak terkait terutama pembaca.

Makassar, 6 Desember 2019

Sutrawati, S.Kep

vii

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ...ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ...vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan Penulisan ... 3

C. Manfaat penulisan ... 5

D. Sistematika penulisan ... 6

BAB II TINJAUAN KASUS KELOLAN A. TINJAUAN TEORI ... 8

1. Konsep Dasar Medis Penyakit ... 8

a. Pengertian ... 8

b. Anatomi fisiologi ... 9

c. Etiologi ... 12

d. Patofisiologi...13

e. Manifestasi Klinis ... 15 Halaman

viii

(9)

f. Klasifikasi ... 18

g. Penatalaksanaan Medis ... 18

2. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan ... 19

a. Pengkajian ... 20

b. Diagnosa keperawatan ... 23

c. Rencana Asuhan Keperawatan ... 25

d. Implementasi Asuhan Keperawatan ... 32

e. Evaluasi keperawatan... 32

B. TINJAUAN KASUS ... 35

1. Pengkajian ... 35

2. Diagnosa Keperawatan ... 48

3. Intervensi Keperawatan ... 50

4. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan ... 53

BAB IV PEMBAHASAN A. Pengkajian ... 57

B. Diagnosa keperawatan... 64

C. Intervensi keperawatan ... 69

D. Implementasi keperawatan ... 69

E. Evaluasi keperawatan ... 70

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 71

B. Saran ... 71

DAFTAR PUSTAKA ... ..xii

ix

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Pemerksaan Laboratorium ... 45

Tabel 2.2 Pemberian Obat ... 46

Tabel 2.3 Analisa Data ... 48

Tabel 2.4 Rencana Keperawatan ... 50

Tabel 2.5 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan ... 53 Hal

x

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Gambar limpa ... 10 Hal

xi

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Kartu Kontrol

Lampiran 2 : Riwayat Hidup Penulis

xii

(13)

Tuberkulosis (tb) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh

Mycobacterium tuberculosis yang dapat menyerang berbagai organ terutama paru-paru. Berdasar atas lokasinya, tuberkulosis dikelompokkan menjadi tuberkulosis paru dan ekstraparu. Tuberkulosis ekstraparu dapat terjadi di berbagai organ seperti kelenjar getah bening, pleura, abdomen, kulit, tulang, sendi, saluran kencing, dan sebagainya. Manifestasi ekstraparu yang sering dijumpai adalah limfadenitis tb yang merupakan proses peradangan pada kelenjar limfe atau kelenjar getah bening akibat aktivitas bakteri penyebab tubekulosis.

Berdasar atas data World Health Organization (WHO), pada tahun 2015 terdapat kurang lebih 10,4 juta kasus baru tuberkulosis di seluruh dunia.

Paling tidak, menginfeksi 5,9 juta (56%) pria, 3,5 juta (34%) wanita, dan 1,0 juta (10%) anak-anak. Enam negara menyumbang 60% kasus baru tersebut antara lain India, Indonesia, Cina, Nigeria, Pakistan, dan Afrika Selatan.

Pada tahun 2015 diperkirakan sebanyak 1,4 juta kematian terjadi karena tuberkulosis. Hal ini menempatkan tuberkulosis sebagai salah satu dari 10 penyebab tersering kematian di seluruh dunia.

Berdasar atas data Kementerian Kesehatan RI,5 pada tahun 2015 ditemukan jumlah kasus tuberkulosis sebanyak 330.910 kasus di Indonesia.

Jumlah ini meningkat bila dibanding dengan seluruh kasus tuberkulosis yang ditemukan pada tahun 2014 yang sebesar 324.539 kasus. Jumlah kasus tertinggi yang dilaporkan terdapat di provinsi dengan jumlah penduduk yang

1

(14)

besar, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Kasus tuberkulosis di tiga provinsi tersebut sebesar 38% dari jumlah seluruh kasus tuberkulosis baru di Indonesia.

Limfadenitis tb paling sering terjadi (1.963 kasus), diikuti tuberkulosis

pleural (1.036 kasus), dan tuberkulosis tulang (465 kasus). TB ekstraparu terbanyak adalah limfadenitis tb sebanyak 22 (68,7%) kasus dari total 32 (100%) kasus. Limfadenitis tb lebih sering terjadi pada dekade ke-2 kehidupan dengan perbandingan 2:1 antara perempuan dan pria.7 Menurut penelitian pada tahun 2014 di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Bandung,

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang terkena Tuberkulosis ekstraparu, antara lainfaktor sosiodemografis, riwayat

kontak dengan pasien tuberkulosis sebelumnya, riwayat imunisasi Bacillus Calmette-Guérin (BCG), dan riwayat tuberkulosis paru. Penelitian oleh Huda dkk.8 mengenai karakteristik demografis pasien limfadenitis tb di Bangladesh, usia pasien limfadenitis tb dengan angka kejadian terbanyak adalah 21–30 tahun. Sementara itu, perbandingan jumlah pasien limfadenitis tb pria dengan wanita sebanyak 1:1,38. Hal ini sejalan dengan hasil

penelitian yang dilakukan di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Bandung yaitu angka kejadian limfadenitis tb terbanyak pada usia 20–50 tahun dan perbandingan jumlah pasien limfadenitis tb pria dengan wanita sebanyak 1:2.7 Riwayat imunisasi BCG berhubungan dengan kejadian tuberkulosis paru, yaitu pemberian vaksin BCG dapat melindungsi seseorang dari tuberkulosis paru.

(15)

Berdasar atas hal tersebut di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan karakteristik pasien dengan kejadian limfadenitis tuberkulosis di Rumah Sakit AlIslam Bandung periode tahun 2016.

Berdasarkan observasi pada data kasus limfadenitis TB RSUP DR.

wahidin sudirohusodo makassar pada tahun 2019 limfadenitis TB di ruang IGD Non Bedah berjumlah 5 orang..

Kegawatdaruratan pada kasus Limfadenitis TB adalah ketidakefektifan pola nafas dan ketidakefektifan perfusi jaringan feriver

B. Tujuan

Tujuan Umum

Untuk memperoleh gambaran nyata tentang manajemen asuhan keperawatan pada pasien Tn.I dengan gangguan sistem Imunologi pada kasus Limfadenitis TB di Ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Pusat DR.Wahidin Sudirohusodo Makassar. secara nyata dengan pendekatan proses penyakit.

1. Tujuan Khusus

a. Untuk memperoleh gambaran nyata dalam pengkajian keperawatan pada pasien Tn.I dengan gangguan sistem Iminologi pada kasus Limfadenitis TB di Ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Pusat DR.Wahidin Sudirohusodo Makassar.

b. Untuk memperoleh gambaran nyata dalam menyusun diagnosa keperawatan pada pasien Tn.I dengan gangguan sistem Imonologi pada kasus Limfadenitis TB di Ruangan Instalasi Gawat Darurat

(16)

(IGD) Rumah Sakit Umum Pusat DR.Wahidin Sudirohusodo Makassar.

c. Untuk memperoleh gambaran nyata dalam menyusun rencana keperawatan pada pasien Tn.I dengan gangguan sistem Imunologi pada kasus Limfadenitis TB di Ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Pusat DR.Wahidin Sudirohusodo Makassar.

d. Untuk memperoleh gambaran nyata dalam melakukan tindakan keperawatan pada pasien Tn.I dengan gangguan sistem Imunologi pada kasus Limfadenitis TB di Ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Pusat DR.Wahidin Sudirohusodo Makassar.

e. Untuk memperoleh gambaran nyata dalam melakukan evaluasi keperawatan pada pasien Tn.I dengan gangguan dengan gangguan sistem Imunologi pada kasus Limfadenitis TB di Ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Pusat DR.Wahidin Sudirohusodo Makassar.

f. Untuk memperoleh gambaran nyata dalam mendokumentasikan asuhan keperawatan yang dilakukan pada pasien Tn.I dengan gangguan dengan gangguan sistem Imunologi pada kasus Limfadenitis TB di Ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Pusat DR.Wahidin Sudirohusodo Makassar.

C. Manfaat Penulisan 1. Bagi Akademik

(17)

Penulisan ini diharapkan dapat digunakan sebagai sumber informasi dalam upaya pengembangan pengetahuan khususnya tentang pemberian asuhan keperawatan pasien dengan gangguan sistem Imunologi pada kasus Limfadenitis TB

2. Bagi Pelayanan Masyarakat

Penulisan ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pelayanan masyarakat untuk mengambil langkah-langkah dan kebijakan dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan keperawatan khususnya tentang pemberian asuhan keperawatan pasien dengan gangguan sistem Imunologi pada kasus Limfadenitis TB

3. Bagi Pasien

Penulisan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pemahaman pasien tentang pemberian asuhan keperawatan pasien dengan gangguan sistem Imunologi pada kasus Limfadenitis TB

4. Bagi Penulis

a. Memberikan manfaat melalui pengalaman bagi penulis untuk mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh dari pendidikan khususnya tentang pemberian asuhan keperawatan pasien dengan gangguan sistem Imunologi pada kasus Limfadenitis TB

b. Merupakan pengalaman yang sangat berguna untuk dapat melakukan Asuhan Keperawatan pada kasus berikutnya.

D. Sistematika Penulisan

1. Tempat : Ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Pusat DR.Wahidin Sudirohusodo Makassar.

2. Waktu : Tanggal 06 Oktober 2019

(18)

3. Teknik pengumpulan data a. Wawancara

Teknik wawancara yaitu dengan melakukan pendekatan dan bertemu langsung dengan dengan pasien, keluarga dan tim kesehatan yang menangani pasien.

b. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi kepala sampai kaki.

Teknik pemeriksaan organ sistem yang terdiri dari empat teknik diantaranya :

1) Inspeksi

Inspeksi yaitu pemeriksaan dengan cara melihat secara langsung atau melakukan observasi terhadap keadaan pasien untuk mendeteksi tanda-tanda fisik yang berhubungan dengan status fisik

2) Palpasi

Palpasi yaitu pemeriksaan dengan menggunakan sentuhan, rabaan maupun sedikit tekanan pada bagian tubuh yang akan diperiksa dan dilakukan secara terorganisir dari satu bagian ke bagian yang lain untuk mendeterminasi ciri-ciri jaringan atau organ.

3) Perkusi

Palpasi yaitu pemeriksaan dengan cara mengetuk untuk menentukan batas-batas organ atau bagian tubuh dengan cara merasakan vibrasi yang ditimbulkan akibat adanya gerakan yang diberikan ke bawah jaringan (udara, air, atau zat padat).

(19)

4) Auskultasi

Auskultasi yaitu pemeriksaan dengan menggunakan stetoskop untuk dapat mendengar bunyi jantung, paru-paru, bunyi usus serta mengukur tekanan darah dan nadi

c. Observasi

Melakukan pengamatan langsung kepada pasien dengan cara melakukan pemeriksaan yang terkait dengan perkembangan pasien.

(20)

BAB II

TINJAUAN KASUS KELOLAAN

A. TINJAUAN TEORI

1. Konsep Dasar Medis a. Pengertian

Limfadenitis tb adalah peradangan pada kelenjar getah

bening yang terjadi akibatterjadinya infeksi dari suatu bagian tubuh maka terjadi pula peradangan pada kelenjar getah bening regioner dari lesi primer. Limfadenitis tuberkulosis (TB)

merupakan peradangan pada kelenjar limfe atau getah bening yang disebabkan oleh basil tuberkulosis.Apabila peradangan terjadi pada kelenjar limfe di leher disebut dengan scrofula Limfadenitis pada kelenjar limfe di leher inilah yang biasanya paling sering terjadi (Kumar, 2014).

Limfadenitis tb, suatu peradangan pada satu atau lebih kelenjar getah bening.Penyakit ini masuk dalam kategori tuberkolosis luar.Tuberkolosis sendiri dikenal sejak 1000 tahun sebelum Masehi seperti yang tertulis dalam kepustakaan Sanskrit kuno.Nama "tuberculosis" berasal dari kata tuberculum yang berarti benjolan kecil yang merupakan gambaran patologik khas pada penyakit ini.Nah, begitu juga

8

(21)

dengan limfadenitis, penyakit ini ditandai benjolan pada bagian leher penderitanya.(Corwin, 2014)

b. Anatomi Limpa

Limpa sering digambarkan sebagai seukuran kepalan tangan kecil. Limpa diposisikan di bawah tulang rusuk, di bawah diafragma, dan di atas ginjal kiri. Limpa kaya akan darah yang diberikan melalui arteri limpa. Keluar darah organ ini melalui vena limpa.(Mansjoer, 2013).

Limpa juga berisi pembuluh limfatik eferen, yang mengangkut getah bening jauh dari limpa.Getah adalah cairan bening yang berasal dari plasma darah yang keluar pembuluh darah pada bad kapiler.Cairan ini menjadi cairan interstitial yang mengelilingi sel. Pembuluh limfa mengumpulkan dan mengarahkan getah bening langsung terhadap pembuluh darah atau kelenjar getah bening lainnya.Limpa adalah, organ memanjang lembut yang memiliki penutup jaringan ikat luar yang disebut kapsul.Kapsul dibagi secara internal ke dalam banyak bagian yang lebih kecil yang disebut lobulus.(Gayton &

Hall, 2015).

Limpa terdiri dari dua jenis jaringan: pulpa merah dan pulpa putih.

Pulpa putih adalah jaringan limfatik yang terutama terdiri dari limfosit yang disebut limfosit B dan limfosit T yang mengelilingi arteri. Pulpa

(22)

merah terdiri dari sinus vena dan tali limpa. Sinus vena pada dasarnya rongga penuh dengan darah, sementara tali limpa adalah jaringan ikat yang mengandung sel-sel darah merah.(Gayton & Hall, 2015).

gambar 2.1 organ limpa

Fungsi Limpa

Peran utama dari limpa adalah untuk menyaring darah. Limpa mengembang dan memproduksi sel-sel kekebalan yang matang yang mampu mengidentifikasi dan menghancurkan patogen.

Terkandung dalam pulpa putih limpa adalah sel-sel kekebalan yang disebut limfosit B dan T. limfosit T bertanggung jawab untuk

(23)

kekebalan yang diperantarai sel, yang merupakan John Gibson (2015)

respon imun yang melibatkan aktivasi sel kekebalan tertentu untuk melawan infeksi. sel T mengandung protein yang disebut reseptor sel T yang mengisi membran sel-T. Mereka mampu mengenali berbagai jenis antigen (zat yang menimbulkan reaksi kebal). Limfosit T yang berasal dari timus dan melakukan perjalanan ke limpa melalui pembuluh darah. Limfosit B atau sel-B berasal dari sumsum tulang sel-sel induk. Sel B membuat antibodi yang spesifik untuk antigen tertentu. Antibodi mengikat antigen dan menandai untuk penghancuran oleh sel- sel imun lainnya. Kedua pulpa putih dan merah mengandung limfosit dan sel-sel kekebalan yang disebut makrofag. Sel-sel ini membuang antigen, sel-sel mati, dan puing-puing dengan menelan dan mencerna mereka.

Sementara fungsi limpa terutama untuk menyaring darah, juga menyimpan sel-sel darah merah dan trombosit. Dalam kasus di mana pendarahan ekstrim terjadi, sel darah merah, trombosit, dan makrofag dilepaskan dari limpa. Makrofag membantu mengurangi peradangan dan menghancurkan patogen atau sel yang rusak di daerah luka. Trombosit adalah komponen darah yang membantu pembekuan darah untuk

(24)

menghentikan kehilangan darah. Sel darah merah dilepaskan dari limpa ke dalam sirkulasi darah untuk membantu mengkompensasi kehilangan darah.

c. Etiologi

Limfadenitis TB disebabkan oleh M.tuberculosis complex,

yaitu M.tuberculosis (padamanusia), M.bovis (pada sapi), M.africanum, M.canetti dan M.caprae.Secara

mikrobiologi,M.tuberculosis merupakan basil tahan asam yang dapat dilihat dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen atau Kinyoun- Gabbett.M. tuberculosis dapat tumbuh dengan energi yang diperoleh dari oksidasi senyawakarbon yang sederhana. CO2 dapat merangsang pertumbuhan.M.tuberculosis

merupakanmikroba kecil seperti batang yang tahan terhadap desinfektan lemah dan bertahan hidup padakondisi yang kering hingga berminggu-minggu, tetapi hanya dapat tumbuh di

dalamorganisme hospes. Kuman akan mati pada suhu 600C selama 15-20 menit, Pada suhu 300atau400-450C sukar tumbuh atau bahkan tidak dapat tumbuh. Pengurangan oksigen

dapatmenurunkan metabolisme kuman.Daya tahan kuman

M.tuberculosis lebih besar dibandingkan dengan kuman lainnyakarena sifat hidrofobik pada permukaan selnya.Kuman ini tahan terhadap asam, alkali danzat warna malakit.Pada sputum yang

(25)

melekat pada debu dapat tahan hidup selama 8-10 hari.M.tuberculosis dapat dibunuh dengan pasteurisasi(Raviglione, 2014).

d. Patofisiologi

Secara umum penyakit tuberkulosis dapat diklasifikasikan menjadi TB pulmoner dan TB ekstrapulmoner.TB pulmoner dapat diklasifikasikan menjadi TB pulmoner primer dan TB pulmoner post-primer (sekunder).TB primer sering terjadi pada anak-anak sehingga sering disebut child-type tuberculosis, sedangkan TB post-primer (sekunder) disebut juga adult-type tuberculosis karena sering terjadi pada orang dewasa, walaupun faktanya TB primer dapat juga terjadi pada orang dewasa Basil tuberkulosis juga dapat menginfeksi organ lain selain paru, yang disebut sebagai TB ekstrapulmoner. Menurut Raviglione (2014), organ ekstrapulmoner yang sering diinfeksi oleh basil

tuberkulosis adalah kelenjar getah bening, pleura, saluran kemih, tulang, meningens, peritoneum, dan perikardium.

(Raviglione, 2014).

TB primer terjadi pada saat seseorang pertama kali terpapar terhadap basil tuberkulosis .Basil TB ini masuk ke paru dengan cara inhalasi droplet. Sampai di paru, basil TB ini akan difagosit oleh makrofag dan akan mengalami dua kemungkinan.

Pertama, basil TB akan mati difagosit oleh makrofag. Kedua, basil TB akan dapat bertahan hidup dan bermultiplikasi dalam

(26)

makrofag sehingga basil TB akan dapat menyebar secara limfogen, perkontinuitatum, bronkogen, bahkan hematogen.

Penyebaran basil TB ini pertama sekali secara limfogen menuju kelenjar limfe regional di hilus, dimana penyebaran basil TB tersebut akan menimbulkan reaksi inflamasi di sepanjang saluran limfe (limfangitis) dan kelenjar limfe regional (limfadenitis). Pada

Orang yang mempunyai imunitas baik, 3 – 4 minggu setelah infeksi akan terbentukimunitas seluler. Imunitas seluler ini akan membatasi penyebaran basil TB dengan cara

menginaktivasi basil TB dalam makrofag membentuk suatu fokus primer yang disebut fokus Ghon. Fokus Ghon bersama- sama dengan limfangitis dan limfadenitis regional disebut dengan kompleks Ghon.Terbentuknya fokus Ghon

mengimplikasikan dua hal penting.Pertama, fokus Ghon berarti dalam tubuh seseorang sudah terdapat imunitas seluler yang spesifik terhadap basil TB. Kedua, fokus Ghon merupakan suatu lesi penyembuhan yang didalamnya berisi basil TB dalam

keadaan laten yang dapat bertahan hidup dalam beberapa tahun dan bisa tereaktivasi kembali menimbulkan penyakit (Datta, 2015).

Jika terjadi reaktivasi atau reinfeksi basil TB pada orang yang sudah memiliki imunitas seluler, hal ini disebut dengan TB

(27)

post-primer. Adanya imunitas seluler akan membatasi penyebaran basil TB lebih cepat daripada TB primer disertai dengan pembentukan jaringan keju (kaseosa). Sama seperti pada TB primer, basil TB pada TB post-primer dapat menyebar terutama melalui aliran limfe menuju kelenjar limfe lalu ke semua organ.Kelenjar limfe hilus, mediastinal, dan paratrakeal merupakan tempat penyebaran pertama dari infeksi TB pada parenkim paru.(Raviglione, 2014).

Basil TB juga dapat menginfeksi kelenjar limfe tanpa terlebih dahulu menginfeksi paru. Basil TB ini akan berdiam di mukosa orofaring setelah basil TB masuk melalui inhalasi droplet. Di mukosa orofaring basil TB akan difagosit oleh makrofag dan dibawa ke tonsil, selanjutnya akan dibawa ke kelenjar limfe di leher(Raviglione, 2014).

e. Manifestasi Klinis

Limfadenitis tb adalah presentasi klinis paling sering dari

tb ekstrapulmoner.Limfadenitis tb juga dapat merupakan manifestasi lokal dari penyakit sistemik.Pasien biasanya datang dengan keluhan pembesaran kelenjar getah bening yang lambat.Pada pasien limfadenitis tb dengan HIV-negatif, limfadenopati leher terisolasi adalah manifestasi yang paling sering dijumpai yaitu sekitar dua pertiga pasien.Oleh karena itu, infeksi mikobakterium harus menjadi salah satu diagnosis

(28)

banding dari pembengkakan kelenjar getah bening, terutama pada daerah yang endemis.Durasi gejala sebelum diagnosis berkisar dari beberapa minggu sampai beberapa bulan.

Limfadenitis tb paling sering melibatkan kelenjar getah

bening servikalis, kemudian diikuti berdasarkan frekuensinya oleh kelenjar mediastinal, aksilaris, mesentrikus, portal hepatikus, perihepatik dan kelenjar inguinalis (Mohapatra, 2014)..pada pasien dengan HIV-negatif maupun HIV-positif, kelenjar limfe servikalis adalah yang paling sering terkena, diikuti oleh kelenjar limfe aksilaris dan inguinalis. Menurut Sharma (2014)

Pembengkakan kelenjar limfe dapat terjadi secara unilateral atau bilateral, tunggal maupun multipel, dimana benjolan ini biasanya tidak nyeri dan berkembang secara lambat dalam hitungan minggu sampai bulan, dan paling sering berlokasi di regio servikalis posterior dan yang lebih jarang di regio supraklavikular (Mohapatra, 2014). Keterlibatan multifokal ditemukan pada 39% pasien HIV-negatif dan pada 90% pasien HIV-positif.Pada pasien HIV-positif, keterlibatan multifokal, limfadenopati intratorakalis dan intraabdominal serta TB paru adalah sering ditemukan Beberapa pasien dengan limfadenitis TB dapat menunjukkan gejala sistemik yaitu seperti demam,

(29)

1) penurunan berat badan, fatigue dan keringat malam. Lebih dari 57% pasien tidak menunjukkan gejala sistemik (Mohapatra, 2014). Terdapat riwayat kontak terhadap penderita TB pada 21,8% pasien, dan terdapat TB paru pada 16,1% pasien (Mohapatra, 2014).

2) Menurut Mohapatra (2014) limfadenopati tuberkulosis perifer dapat diklasifikasikan ke dalam lima stadium yaitu:

3) Stadium 1, pembesaran kelenjar yang berbatas tegas, mobile dan diskret.

4) Stadium 2, pembesaran kelenjar yang kenyal serta terfiksasi ke jaringan sekitar oleh karena adanya periadenitis.

5) Stadium 3, perlunakan di bagian tengah kelenjar (central softening) akibat pembentukan abses.

6) Stadium 4, pembentukan collar-stud abscess.

7) Stadium 5, pembentukan traktus sinus.

8) Gambaran klinis limfadenitis TB bergantung pada stadium penyakit. Kelenjar limfe yang terkena biasanya tidak nyeri kecuali terjadi infeksi sekunder bakteri, pembesaran kelenjar yang cepat atau koinsidensi dengan infeksi HIV. Abses kelenjar limfe dapat pecah, dan kemudian kadang-kadang dapat terjadi sinus yang tidak menyembuh secara kronis dan pembentukan ulkus. Pembentukan fistula terjadi pada 10%

dari limfadenitis TB servikalis (Mohapatra, 2014).

(30)

Pembengkakan kelenjar getah bening yang berukuran

= 2 cm biasanya disebabkan oleh M.tuberculosis.

Pembengkakan yang berukuran < 2 cm biasanya disebabkan oleh mikobakterium atipik, tetapi tidak menutup kemungkinan pembengkakan tersebut disebabkan oleh M.tuberculosis (Narang, 2015).

f. Klasifikasi

1) Limfadenitis lokal. Ini merupakan jenis limfadenitis yang paling umum terjadi. Limfadenitis lokal hanya terjadi pada beberapa kelenjar getah bening yang berdekatan.

2) Limfadenitis umum. Kondisi ini terjadi ketika banyak kelenjar getah bening yang mengalami radang akibat penyebaran infeksi melalui aliran darah, atau akibat penyakit lain yang menyebar ke seluruh tubuh.

g. Penatalaksanaan Medis

Pengobatan pasien Limfadenitis Tb menggunakan paduan OAT yang terdiri dari OAT lini pertama dan lini kedua, yang dibagi dalam 5 kelompok berdasar potensi dan efikasinya. Levofloxacin adalah golongan fluoroquinolon, mempunyai efek bakterisidal kuat terhadap M.tb. Dosis 500–1000 mg per hari pada pasien

dewasa.Dosis ratarata 750 mg bentuk sediaan oral dan intravena.Efek samping Levoflokxacin adalah mual, pusing, insomnia, tremor. Efek yang jarang terjadi adalah rupture tendon,

(31)

arthralgia, dan prolong QT.Ethambutol mempunyai efek

bakteriostatik terhadap kuman M.tubeculosis, Dosis dewasa 15–25 mg/kg BB/hari. Bentuk sediaan oral, tidak tersedia bentuk

parenteral.Efek samping obat yang bisa terjadi adalah neuritis retrobulbar.5 Pirazinamid adalah derivate nikotinamid.Dosis dewasa 25 mg/kg BB/hari, dosis maksimal 2 gram/hari.Efek samping obat adalah gout (hiperurisemia) dan artralgia, hepatotoksik, rash pada kulit, fotosensitivitas, dan gangguan gastrointestinal.Kanamycin adalah golongan

aminoglikosida.Mempunyai efek bakterisidal terhadap kuman MTB.Dosis dewasa 15 mg/kg BB/hari.Efek samping ototoksisitas dan toksisitas vestibular.Penggunaan kanamycin harus dengan monitoring fungsi ginjal. Ethionamid adalah derivate asam

isonikotinat.Bersifat bakterisidal lemah.Dosis 15–20 mg/kg BB/ hari.

Bentuk sediaan tablet salut 250 mg. (Mohapatra, 2014).

2. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan a. Pengkajian

Pengkajian pada pasien Limfadenitis TB ditujukan sebagai pengumpulan data daninformasi terkini mengenai status pasien dengan pengkajian system Imunologi sebagai prioritas

pengkajian. Pengkajian sistematis pada pasien mencakup riwayat khususnya yang berhubungan dengan sulit bernafas,

(32)

palpitasi, Masing-masing gejala harus dievaluasi waktu dan durasinya serta factor pencetusnya.

PENGKAJIAN

1) Identitas klien: selain nama klien, juga orangtua; asal kota dan daerah, jumlah keluarga.

2) Keluhan: penyebab klien sampai dibawa ke rumah sakit.

3) Riwayat penyakit sekarang:

Tanda dan gejala klinis TB serta terdapat benjolan/bisul pada tempat-tempat kelenjar seperti: leher, inguinal, axilla dan sub mandibula.

4) Riwayat penyakit dahulu:

a) Pernah sakit batuk yang lama dan benjolan bisul pada leher serta tempat kelenjar yang lainnya dan sudah diberi pengobatan antibiotik tidak sembuh-sembuh?

b) Pernah berobat tapi tidak sembuh?

c) Pernah berobat tapi tidak teratur?

d) Riwayat kontak dengan penderita TBC.

e) Daya tahan yang menurun.

f) Riwayat imunisasi/vaksinasi.

g) Riwayat pengobatan.

5) Riwayat sosial ekonomi dan lingkungan.

a) Riwayat keluarga.

(33)

Biasanya keluarga ada yang mempunyai penyakit yang sama.

b) Aspek psikososial.

c) Merasa dikucilkan.

d) Tidak dapat berkomunikasi dengan bebas, menarik diri.Biasanya pada keluarga yang kurang mampu.

Masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi, untuk sembuh perlu waktu yang lama dan biaya yang banyak.

e) Tidak bersemangat dan putus harapan.

6) Lingkungan:

Lingkungan kurang sehat (polusi, limbah), pemukiman yang padat, ventilasi rumah yang kurang, jumlah anggota keluarga yang banyak.

7) Pola fungsi kesehatan.

a) Pola persepsi sehat dan penatalaksanaan kesehatan.

Keadaan umum: alergi, kebiasaan, imunisasi.

b) Pola nutrisi - metabolik.

Anoreksia, mual, tidak enak diperut, BB turun, turgor kulit jelek, kulit kering dan kehilangan lemak sub kutan, sulit dan sakit menelan, turgor kulit jelek.

(34)

c) Pola eliminasi

Perubahan karakteristik feses dan urine, nyeri tekan pada kuadran kanan atas dan hepatomegali, nyeri tekan pada kuadran kiri atas dan splenomegali.

d) Pola aktifitas – latihan

Sesak nafas, fatique, tachicardia,aktifitas berat timbul sesak nafas (nafas pendek).

e) Pola tidur dan istirahat

Iritable, sulit tidur, berkeringat pada malam hari.

f) Pola kognitif – perseptual

Kadang terdapat nyeri tekan pada nodul limfa, nyeri tulang umum, takut, masalah finansial, umumnya dari keluarga tidak mampu.

g) Pola persepsi diri

Anak tidak percaya diri, pasif, kadang pemarah.

h) Pola peran – hubungan

Anak menjadi ketergantungan terhadap orang lain (ibu/ayah)/tidak mandiri.

i) Pola seksualitas/reproduktif

Anak biasanya dekat dengan ibu daripada ayah.

j) Pola koping – toleransi stres

(35)

Menarik diri, pasif.(Sharma, 2014).

b. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan faktor resiko :

a) Berkurangnya keefektifan permukaan paru, atelektasis b) Kerusakan membran alveolar kapiler

c) Sekret yang kental d) Edema bronchial

2. Resiko infeksi dan penyebaran infeksi berhubungan dengan::

a) Daya tahan tubuh menurun, fungsi silia menurun, sekret yang menetap

b) Kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar c) Malnutrisi

d) Terkontaminasi oleh lingkungan

e) Kurang pengetahuan tentang infeksi kuman

3. Kurangnya pengetahuan keluarga tentang kondisi, pengobatan, pencegahan, berhubungan dengan :

a) Tidak ada yang menerangkan b) Interpretasi yang salah, tidak akurat c) Informasi yang didapat tidak lengkap d) Terbatasnya pengetahuan / kognitif

4. Perubahan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan

(36)

berhubungan dengan : a) Kelelahan

b) Batuk yang sering, adanya produksi sputum c) Dyspnoe

d) Anoreksia

e) Penurunan kemampuan finansial (keluarga).

c. Rencana Asuhan Keperawatan Diagnosa. I.

Independen:

Kaji dyspnoe, takipnoe, bunyi pernafasan

abnormal.Meningkatnya respirasi, keterbatasan ekspansi dada dan fatique.

TB paru dapat menyebabkan meluasnya jangkauan dalam paru-paru yang berasal dari bronchopneumonia yang meluas menjadi inflamasi, nekrosis, pleural efusion dan meluasnya fibrosis dengan gejala-gejala respirasi distress.

Evaluasi perubahan tingkat kesadaran, catat tanda-tanda sianosis dan perubahan kulit, selaput mukosa dan warna kuku.

Akumulasi sekret dapat mengganggu oksigenasi di organ vital dan jaringan

(37)

Demontrasikan/anjurkan untuk mengeluarkan nafas dengan bibir disiutkan, terutama pada klien dengan fibrosis atau kerusakan parenkhim.

Meningkatnya resistensi aliran udara untuk mencegah kolapsnya jalan nafas danmengurangi residu dari paru-paru

Anjurkan untuk bedrest/mengurangi aktivitas

Mengurangi konsumsi oksigen pada periode respirasi

Kolaborasi:

Monitor BGA

Menurunnya oksigen ( PaO2 ), saturasi atau meningkatnya PaCo2 menunjukkan perlunya penanganan yang lebih adekuat atau perubahan therapi.

Memberikan oksigen tambahan

Membantu mengoreksi hipoksemia yang secara sekunder mengurangi ventilasi dan menurunnya tegangan paru.

Diagnosa. II.

Independen:

Review patologi penyakit fase aktif/tidak aktif, menyebarnya infeksi melalui bronkhus pada jaringan sekitarnya atau melalui

(38)

aliran darah atau sistem limfe dan potensial infeksi melalui batuk, bersin, tertawa, ciuman atau menyanyi.

Membantu klien agar klien mau mengerti dan menerima terhadap terapi yang diberikan untuk mencegah komplikasi.

Mengidentifikasi orang-orang yang beresiko untuk terjadinya infeksi seperti anggota keluarga, teman, orang dalam satu perkumpulan.

Memberitahukan kepada mereka untuk mempersiapkan diri untuk mendapatkan terapi pencegahan.

Anjurkan klien menampung dahaknya jika batuk

Kebiasaan ini untuk mencegah terjadinya penularan infeksi.

Gunakan masker setap melakukan tindakan

Untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi

Monitor temperatur

Febris merupakan indikasi terjadinya infeksi.

Ditekankan untuk tidak menghentikan terapi yang dijalani

Periode menular dapat terjadi hanya 2 – 3 hari setelah permulaan kemoterapi tetapi dalam keadaan sudah terjadi kavitas atau penyakit sudah berlanjut sampai tiga bulan.

(39)

Kolaborasi:

Pemberian terapi untuk anak

INH, Etambutol, Rifampisin

INH adalah obat pilihan bagi penyakit TB primer

dikombinasikan dengan obat-obat lainnya.Pengobatan jangka pendek INH dan Rifampisin selama 9 bulan dan etambutol untuk 2 bulan pertama.

Pyrazinamid ( PZA ) / aldinamide, Paraamino Salicyl ( PAS ), Sycloserine, Streptomysin

Obat-obat sekunder diberikan jika obat-obat primer sudah resisten.

Monitor sputum BTA

Klien dengan 3 kali pemeriksaan BTA negatif, terapi diteruskan sampai batas waktu yang ditentukan.

Diagnosa. III.

Independen:

Kaji kemampuan belajar klien misalnya : tingkat kecemasan, perhatian, kelelahan, tingkat partisipasi, lingkungan yang memungkinkan klien untuk belajar, seberapa banyak yang telah diketahui, media yang tepat dan siapa yang dipercaya.

(40)

Kemampuan belajar berkaitan dengan keadaan emosi dan kesiapan fisik.Keberhasilan tergantung pada sebatasmana kemampuan klien.

Mengidentifikasi tanda-tanda yang dapat dilaporkan pada dokter misalnya : hemoptisis, nyeri dada, demam, kesulitan nafas, kehilangan pendengaran, vertigo.

Mengindikasikan perkembangan penyakit atau efek samping dari pengobatan yang membutuhkan evaluasi secepatnya.

Menekankan pentingnya asupan diet TKTP dan intake cairan yang adekuat.

Mencukupi kebutuhan metabolik, mengurangi kelelahan, intake cairan yang memadai membantu mengencerkan dahak.

Berikan informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan untuk klien dan keluarga misalnya : jadwal minum obat.

Informasi tertulis dapat mengingatkan klien tentang informasi yang telah diberikan.Pengulangan informasi dapat membantu mengingatkan klien.

Menjelaskan dosis obat, frekwensi, tindakan yang diharapkan dan perlunya therapi dalam jangka waktu lama. Mengulangi penyuluhan mengenai potensial interaksi antara obat yang diminum dengan obat / subtansi lain.

(41)

Meningkatkan partisipasi klien dan keluarga untuk mematuhi aturan therapi dan mencegah terjadinya putus obat.

Jelaskan tentang efek samping dari pengobatan yang mungkin timbul, misalnya : mulut kering, konstipasi, gangguan

penglihatan, sakit kepala, peningkatan tekanan darah.

Dapat mencegah keraguan terhadap pengobatan dan meningkatkan kemampuan klien untuk menjalani terapi.

Merujuk pemeriksaan mata saat memulai dan menjalani therpi etambutol.

Efek samping utama etambutol adalah menurunkan ketajaman penglihatan dan juga mengurangi kemampuan untuk

mempersepsikan warna hijau.

Memberikan dorongan pada klien dan keluarga untuk mengungkapkan kecemasan/keprihatinannya serta

memberikan jawaban yang jujur atas pertayaannya. Jangan berusaha menyangkal pernyataanya.

Memberikan kesempatan untuk mengubah pandangannya yang salah dan meredakan kecemasannya. Penyangkalan terhadap perasaannya akan memperburuk mekanisme koping yang merugikan kesehatannya.

(42)

Review tentang cara penularan TB ( misalnya : umumnya melalui inhalasi udara yang mengandung kuman, tapi mungkin juga menular melalui urine jika infeksinya mengenai sistem urinaria ) dan resiko kambuh kembali.

Pengetahuan yang cukup dapat mengurangi resiko penularan / kambuh kembali. Komplikasi yang berhubungan dengan tidak adekuatnya penyembuhan TB meliputi : formasi abses,

empisema, pneumothorak, fibrosis, efusi pleura, empyema, bronkhiektasis, hemoptisis, ulcerasi GI, fistula bronkopleural, TB laring, dan penularan kuman.

Diagnosa. IV.

Independen

Kaji dan komunikasikan status nutrisi klien dan keluarga seperti yang dianjurkan :

1. Catat turgor kulit 2. Timbang berat badan

3. Integritas mukosa mulut, kemampuan dan ketidakmampuan menelan, adanya bising usus, riwayat nausea, vomiting atau diare.

Digunakan untuk mendefinisikan tingkat masalah dan intervensi

(43)

Mengkaji pola diet klien yang disukai/tidak disukai

Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik, meningkatkan intake diet klien.

Meonitor intake dan output secara periodik.

Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan.

Catat adanya anoreksia, nausea, vomiting, dan tetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi. Monitor volume,

frekwensi, konsistensi BAB.

Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi pemecahan masalah untuk meningkatkan intake nutrisi.

Anjurkan bedrest

Membantu menghemat energi khususnya terjadinya metabolik saat demam.

Lakukan perawatan oral sebelum dan sesudah terapi respirasi

Mengurangi rasa yang tidak enak dari sputum atau obat-obat yang digunakan untuk pengobatan yang dapat merangsang vomiting

(44)

d. Implementasi Asuhan Keperawatan

Implementasi keperawatan merupakan tahap keempat proses keperawatan yang dimulai setelah perawat menyusun rencana keperawatan (Bayazit, 2015).

Pada tahap ini perawat akan mengimplementasikan intervensi yang telah direncanakan berdasarkan hasil

pengkajian dan penegakkan diagnosis yang diharapkan dapat mencapai tujuan dan hasil sesuai yang diinginkan untuk mendukung dan meningkatkan status kesehatan klien.

Penerapan implementasi keperawatan yang dilakukan perawat harus berdasarkan intervensi berbasis bukti atau telah ada penelitian yang dilakukan terkait intervensi tersebut. Hai ini dilakukan agar menjamin bahwa intervensi yang diberikan aman danefektif (Bayazit, 2015).

Dalam tahap implementasi perawat juga harus kritis dalam menilai dan mengevaluasi respon pasien terhadap

pengimplementasian intervensi yang diberikan.

e. Evaluasi Keperawatan

Hasil yang diharapkan pada proses perawatan pasien dengan Limfadenitis Tb

1) Pasien terbebas dari nyeri

2) Terpenuhinya aktivitas sehari-hari

(45)

(a) TTV dalam batas normal

(b) Terhindar dari resiko penurunan perfusi perifer (c) Tidak terjadi kelebihan volume cairan

(d) Tidak sesak

(e) Edema ekstermitas tidak terjadi (f) Menunjukkan penurunan kecemasan

(g) Memahami penyakitnya dan tujuan perawatan (h) Mematuhi semua aturan medis

(i) Memahami cara mencegah komplikasi dan menunjukkan tanda-tanda bebas komplikasi

(j) Mampu menjelaskan terjadinya limfadenitis Tb (k) Mematuhi dan melaksanakan perawatan diri

(46)

B. Tujuan Kasus

Ruangan : IRD NON BEDAH Tgl : 08/10/2019 Jam 15.16 No. Rekam Medik : 897767

Nama Inisial : Tn’’I’’

Jenis Kelamin : Laki-laki

Tanggal Lahir/Umur : 14-07-1969 / 50 tahun Alama : Madatte Sulawesi Barat

Rujukan :  Ya, dari Rumah sakit umum polewali mandar sul-bar Diagnosa : limfadenitis TB

 Tidak Datang bersama keluarga  Diantar Perawat Nama keluarga yang bisa dihubungi : Ny’’R’’

Alamat : madatte Sulawesi Barat

Transportasi waktu datang: Ambulans RSWS  Ambulans lain : RS.umum polewali mandar sul-bar

Alasan Masuk

Keluhan Utama: sesak nafas.

Riwayat keluhan utama: Sesak napas dialami 3 hari ( 05/10/2019 ) sebelum di rujuk ke rumah sakit wahidin sudirohusodo. Pasien mengeluh demam sudah 1 minggu ( 01/10/2019) gelisah, pasien tampak pucat. Pemeriksaan fisik : Tanda-Tanda Vital didapatkan Tekanan Darah (TD) : 130/80 mmHg, Suhu : 37,9 ºC, Nadi (N) : 84 x/menit, Respiration Rate (RR) : 28 x/menit dan nilai GCS 15 (E4V5M6) pada saat pasien datang terpasang oksigen 4 liter dengan binasal kanul,

(47)

Pasien terpasang infus Ringer Laktat 20 tetes/ menit

PENGKAJIAN PRIMER

Rimary Survey Trauma Score

A. Airway

Pengkajian jalan napas Bebas

Tersumbat Palatum Mole jatuh

Sputum (lendir) Darah

Benda asing

Resusitasi : Tidak dilakukan resusitasi Re-evaluasi : Tidak dilakukan resusitasi Assement : -

Masalah Keperawatan: - Intervensi/Implementasi : B. Breathing

Fungsi Pernapasan

Dada simetris : Ya Tidak Sesak Napas : Ya Tidak Respirasi : 28 kali/menit

A. Frekuensi Pernapasan

10-25 4 25-35 3 >35 2 <10 1 0 0 B. Usaha Bernapas

Normal 1 Dangkal 0 C. Tekanan Darah Sistolik

>89 mmHg 4 70-89 mmHg 3 50-69 mmHg 2 1-49 mmHg 1 0 0 D. Pengisisan Kapiler

< 2 detik 2 >2 detik 1

(48)

Krepitasi : Ya Tidak Suara napas: Vesiculer

Kanan

Ada Jelas Menurun Vesikuler Stridor Wheezing

Ronchi Kiri

Jelas Menurun Vesikuler Stridor Wheezing Ronchi

Saturasi O2 : 98%

Assement : -

Resusitasi : Tidak dilakukan resusitasi Re-evaluasi: Tidak dilakukan resusitasi Masalah Keperawatan :Ketidakefektifan pola nafas

Intervensi/Implementasi : Monitor pernapasan (3350)

1) Monitor kecepatan, irama, kedalaman dan kesulitan bernapas 2) Monitor suara napas tambahan 3) Monitor saturasi oksigen

4) Posisikan pasien semi fowler untuk mencegah aspirasi

Tidak ada 0 E. Glasgow Coma Scale (GCS)

14-15 5 11-13 4 8-10 3 5-7 2 3-4 1 TRAUMA SCROE (A+B+C+D+E) = 3+1+4+2+5 = 14

REAKSI PUPIL

Kanan Ukuran (2 mm) Cepat

Konstriks Lambat Dilatasi Tak bereaksi

Kiri Ukuran (2 mm) Cepat

Konstriks Lambat Dilatasi Tak bereaksi

(49)

Terapi Oksigen (3320)

1) Pertahankan kepatenan jalan napas 2) Monitor aliran oksigen

C. Circulation

Keadaan Sirkulasi

Tekanan darah: 130/80 mmHg HR : 84 x/menit

Kuat Lemah Reguler Irreguler Suhu axilla : 37.9º

C

HB: 8.4 g/dL (12.0-16.0) g/dL Temperatur Kulit

Hangat panas dingin Gambaran kulit

Sawo matang Kulit kering

Pengisian Kapiler

< 2 detik >2 detik Output urine : 300 cc/ 8 jam/Kg BB Assesment : -

Resusitasi : -Tidak dilakukan resusitasi Re-evaluasi : -

(50)

Masalah Keperawatan : Resiko infeksi Intervensi/Implementasi :

Perlindungan Infeksi ( 6550 ) 1. Monitor tanda dan gejala infeksi

2. Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain

3. Gunakan sabun anti mikroba untuk cuci tangan

4. Cuci tangan dengan cara 6 langkah dan five moment

5. Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat

6. Dorong masukan nutrisi yang cukup Berikan terapi antibiotik

D. Disabillity

Penilaian fungsi neurologis Alert : Komposmentis

GCS 15 (E4V5M6)

Verbal response : Ada respon verbal Pain response : Terdapat respon nyeri Unresponsive : Tidak ada

Masalah Keperawatan:

(51)

Intervensi Keperawatan : E. Exposure

Penilaian Hipothermia/hyperthermia

Hipothermia : Pasien tidak hypothermia

Hiperthermia: Pasien hiperthermia

Masalah Keperawatan : - Hipertermia

Intervensi / Implementasi : - Evaluasi :

PENILAIAN NYERI :

Nyeri : Tidak Ya, Lokasi : - Jenis : Akut Kronis

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Intervensi : -

PENGKAJIAN SEKUNDER / SURVEY SEKUNDER

1. RIWAYAT KESEHATAN

S :Sign/symptoms (tanda dan gejala)

Keluarga pasien mengatakan demam

(52)

A :Allergies (alergi)

Pasien tidak memiliki alergi obat maupun makanan

M :Medications (pengobatan)

Paracetamol 500 mg/8/jam/oral

P : Past medical history (riwayat penyakit)

L : Last oral intake (makanan yang dikonsumsi terakhir, sebelum sakit)

Pasien terakhir makan nasi, dan minum air putih

E : Event prior to the illnesss or injury (kejadian sebelum injuri/sakit)

Sesak napas dialami 3 hari ( 05/10/2019 ) sebelum di rujuk ke rumah sakit wahidin sudirohusodo. Pasien mengeluh demam sudah 1 minggu ( 01/10/2019) gelisah, pasien tampak pucat

2. RIWAYAT DAN MEKANISME TRAUMA (Dikembangkan menurut OPQRST) O :Onset (seberapa cepat efek dari suatu interaksi terjadi)

Sesak nafas dialami 3 hari ( 05/10/2019 ) sebelum di rujuk ke rumah sakit wahidin sudirohusodo. Pasien mengeluh demam sudah 1 minggu ( 01/10/2019) gelisah, pasien tampak pucat.

P :Provokatif (penyebab)

Q :Quality (kualitas)

R :Radiation(paparan)

(53)

Tidak ada

S :Severity ( tingkat keparahan)

T :Timing (waktu)

3. TANDA-TANDA VITAL

Frekunsi Nadi : 84 x/ menit

Frekuensi Napas : 28 x/ menit

Tekanan darah : 130 /80 mmHg

Suhu tubuh : 37.9 ºC

4. PEMERIKSAAN FISIK (HEAD TO TOE) a. Kepala

1) Kulit kepala :

a) Inspeksi : rambut tampak hitam Kulit kepala tampak bersih, dan tidak ada ketombe.

b) Palpasi : Tidak teraba adanya massa dan tidak ada nyeri tekan 2) Mata

a) Inspeksi : Mata simetris, Konjungtiva anemis, Sklera anikterik, tidak edema pada palpebrae, pupil isokor, reaksi pupil terhadap cahaya ada.

b) Palpasi : Tidak teraba adanya massa

(54)

3) Telinga

a) Inspeksi : bentuk pinna (daun telinga) Simetris kiri dan kanan, tidak tampak adanya serumen, dan membrane serumen utuh.

b) Palpasi : Tidak teraba adanya massa dan tidak ada nyeri tekan 4) Hidung

a) Inspeksi : tidak ada benjolan pada hidung, dan tidak terdapat rinorhea. Terpasan oksigen binasal kanul 3 liter b) Palpasi : Tidak teraba adanya massa

5) Mulut dan gigi

Inspeksi : Mukosa mulut tampak kering, gigi lengkap,tidakterdapat stomatitis.

b. Leher

Inspeksi : Tidak terdapat jejas di leher, tidak terdapat pembengkakan, tidak terdapat pembesaran kelenjar limfe, tidak ada

pembesaran kelenjar tiroid. Dada/thoraks

c. Dada/Thoraks Paru-paru ;

Inspeksi : Simetris antar kedua lapang paru, tidak ada penggunaanotot bantu pernapasan, frekuensi napas : 28 x/menit.

Palpasi :Tidak ada nyeri di dada kanan

Perkusi :Terdengar redup pada kedua sisi dada

Auskultasi : Suara napas teratur (vesicular), dan tidak ada suaranapas tambahan.

(55)

Jantung

Inspeksi : pulpasi tidak ada, ictus cordis berada pada ICS V pada linea midcaikula kiri selebar 1 cm.

Palpasi : -

Perkusi :Suara pekak, batas atas intekostal 3 kiri, batas kananlinea paasteral kanan, batas kiri linea mid clavicularis kiri, batas bawah intercostals 6 kiri

Auskultasi :Bunyi jantung I dan II murni reguler, bising tidak ada.

Abdomen

Inspeksi : Tidak ada pembesaran abdomen Auskultasi : Peristalti usus 12 x/menit.

Palpasi : Tidak ada masaa dan nyeri tekan Perkusi :Terdengar bunyi tympani

Inspeksi : Simetris kiri dan kanan Palpasi : Tidak ada nyeri tekan Perineum dan rectum

Inspeksi : -

Genitalia

Inspeksi : Tidak dikaji Palpasi : Tidak dikaji Ekstremitas

Status sirkulasi : Pengisian kapiler pada ektermitas

 Kanan atas pengisian kapiler >2 detik

(56)

 Kiri atas pengisian kapiler >2 detik

 Terpasang infus 1 line Ringer Laktat 20 tetes/ menit pada ekstremitas atas sebelah kanan

 Kanan bawah pengisian kapiler >2 detik

 Kiri bawah pengisian kapiler >2 detik Keadaan injury :

d. Neurologis

Fungsi sensorik : Pasien dapat merasakan stimulus berupa sentuhan ringan pada anggota tubuh.

Fungsi Motorik : Pasien dapat mengangkat kedua kakinya dan tangannya.

Kekuatan otot 5 5

5 5

(57)

5. HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG a. Hasil Pemeriksaan Laboratorium

Nama : Tn’’I’’ Tgl. Hasil : 08-10-2019 RM : 897767 Dx : Limfadenitis TB

Jenis

Pemeriksaan

Hasil Nilai Normal Satuan

HEMATOLOGI HematologiRutin WBC

RBC HGB HCT MCV MCH MCHC PLT RDW-SV RDW MPV PLC PCT NEUT LYMPH

7.2 5.11 8.4

27 53 16 31 647

16.8 0.53 45.80 43.1 6.3

4.00-10.0 4.00-6.00 12.0-16.0 37.0-48.0 80-97.0 26.5-33.5 31.5-35.0 150-400

37.0-54.0 10.0-15.0 10.0-18.0 6.50-11.0 13.00-43.0 0.15-0.50

10^3/ul 10^6/uL g/dl

% fL Pg gr/dl 10^3/ul

fL

fL fL

%

%

(58)

MONO 4.0 52.0-75.0 %

%

Tabel 2.1 pemeriksaan laboratorium

Kesan : null

URAIAN KESAN PEMERIKSAAN:

- Efusi pleura dekstra - Dilatation aorta HASIL PEMERIKSAAN:

Foto Torax AP

- Tampak groundglass opacities pada hemithorax dextradiserat periapical camping dan penebalan fissure minor

- Cor kesan normal, aorta dilatasi 6. PENGOBATAN

No Nama Obat Golongan Dosis Indikasi

1. Ceftriaxone Antibiotic 1gr/12jam/iv Obat ini mengatasi infeksi bakteri 2. Paracatamol Anti nyeri- 1 botol/8 jam/iv Untuk menurunkan

demam

3. Sodium klorida Cairan isotonik Iv 10 tpm/12 Digunakan untuk

(59)

jam mengatasi atau

mencegah kehilangan sodium yang di

sebabkan dehidrasi, atau keringat

berlebihan 4. Terapi oksigen Non logam gol. VIA Binasal kanul

3 Liter

Mengatasi hipoksemia dan mengurangi sesak 5. Ringer laktat Cairan elektrolit 20

tts/menit/infus

Digunakan sebagai penambah cairan dan elektrolit tubuh untuk mengembalikan keseimbangannya.

Table 2.3 terapa obat

Diagnosa keperawatan

1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan 2. Hipertermia

3. Intoleransi aktivi

(60)

ANALISA DATA

Data Masalah Keperawatan

DS :

 Pasien nampak lemah

 Keluarga pasien mengatakan pasien sesak

 Keluarga pasien mengatakan pasien

terpasang oksigen DO:

 Frekuensi napas 28 x/menit

 Irama napas teratur

 Suara napas vasikulet

 Terpasang binasal kanul 4 Liter

 Saturasi oksigen 98%

Domain 4 : Aktivitas/ Istirahat

Kelas 4 : Respon

kardiovaskular/Pulmonal Kode : 00032

Ketidakefektifan Pola Napas

DS:

 Pasien mengatakan demam dirasakan sejak 1 bulan yang lalu

 Pasien mengatakan demamnya tidak terus menerus

 Pasien mengatakan sudah di minum

obat paracatamol panas tetapi tetap demam

Hipertermia berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme Domain

11:Keamananan/perlindungan Kelas6 :Termoregulasi

Kode : 00007

(61)

DO:

 Kulit pasien teraba panas

 Suhu tubuh 37.9

 Terdapat obat paracatamol 500 mg/8

jam/oral DS :

 Pasien mengatakan ketika bergerak tambah sesak

 Semua ADL di bantu oleh keluarga DO:

 Pasien nampak sesak RR 28 x/menit

 Terpasang nasal kanul 4 liter/menit

 Semua ADL Nampak di bantuh oleh keluarga

Domain 4 : Aktivitas/ Istirahat

Kelas 4 : Respon

kardiovaskular/Pulmonal Kode: 00092

Intoleransi aktivitas

(62)

NO Diagnosa Keperawatan Rencana Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC) Intervensi Keperawatan (NIC) 1 Ketidakefektifan pola napas

DS :

 Pasien nampak lemah

 Pasien mengeluh sesak

 Keluarga pasien mengatakan pasien terpasang oksigen

DO:

 Frekuensi napas 28 x/menit

 Irama napas teratur

 Suara napas vasikuler

Setelah dilakukan intervensi

keperawatan maka diharapkan pasien mampu:

Kriteria Hasil :

(0415) Status Pernapasan

1. 041501 Frekuensi pernapasan yang dilaporkan dari deviasi sedang (3) menjadi ringan (4) dari kisaran normal

2. 041502 irama pernapasan yang

Monitor pernapasan (3350)

1. Monitor kecepatan, irama, kedalaman dan kesulitan bernapas 2. Monitor suara napas tambahan 3. Monitor saturasi oksigen

Terapi Oksigen (3320) 1. Monitor aliran oksigen

(63)

 Saturasi oksigen 98% menjadi ringan (4) dari kisaran normal

2 Hipertermia DS:

 Pasien mengatakan demam dirasakan sejak 1 minggu yang lalu

 Pasien mengatakan demamnya tidak terus menerus

 Pasien mengatakan sudah di minum obat paracetamol tapi masih demam

DO:

Kontrol Risiko :Hipertermi

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24

jamdiharapkanKlienmampu

1. 192210 : Memamakai pakaian yang sesuai untuk melindungi kulit

2. 192213 : Melakukan tindakan mandiri untuk mengontrol suhu tubuh

Perawatanhipertermia a. Kaji TTV klien b. Kaji warna kulit klien c. Monitor WBC, Hb, danHct

d. Kaji tanda-tanda dehidrasiseperti turgor kulit, kelembaban membrane mukosa.

e. Anjurkan kepada keluarga pasien untuk kompres pada lipatan paha dan aksila

(64)

 Suhu tubuh 37.9

 Terdapat obat paracatamol 500 mg

3. Intoleransi aktivitas DS :

 Pasien mengatakan ketika bergerak tambah sesak

 Semua ADL di bantu oleh keluarga DO :

 Pasien tampk sesak RR 28 x/menit

 Terpasang binasal kanul 4 liter/menit

 Semua ADL Nampak di bantuh oleh keluarga

Setelah dilakukan tindakan keperawatan Perawatan Diri :

Aktivitas Sehari-hari dengan kriteria

hasil :

a. Tidak terganggu ADL

Tidak terganggu memposisikan diri

Bantuan perawatan diri

1. Monitor tingkat kemandirian

2. Fasilitasi kemandirian, membantu jika tidak mampu melakukan perawatan diri

3. Siapkan keperluan pribadi

(65)

Nama Pasien : Tn’’I’’

No. RM : 897767

Kamar/Bed : IRD Non Bedah

Diagnosis Keperawatan

Hari / Tanggal

Jam Implementasi dan Hasil Evaluasi

Ketidakefektifa n pola napas

Selasa, 08-10- 2019

15.30

15.45

1. Memonitor kecepatan, irama, kedalaman dan kesulitan bernapas

Hasil : Kecepatan respirasi 28x/menit, irama teratur

2. Memonitor suara napas tambahan Hasil : Tidak ada suara napas tambahan

Selasa, 08-10-2019, Jam 16:30 S :

 Pasien mengatakan sesak

 Keluarga pasien mengatan pasien terpasang oksigen

O :

(66)

16.10

Hasil : Saturasi oksigen 98%

4. Memonitor aliran oksigen

Hasil : Pasien di beri oksigen menggunakan binasal kanul 4 liter

 Irama teratur

 Suara napas vasikuler

A :

(0415 Status Pernapasan)

3. 041501 Frekuensi pernapasan yang dilaporkan dari deviasi sedang (3) menjadi ringan (4) dari kisaran normal

4. 041502 irama pernapasan yang dilaporkan dari deviasi sedang (3) menjadi ringan (4) dari kisaran normal

P : Pertahankan intervensi

(67)

kedalaman dan kesulitan bernapas 2. Monitor aliran oksigen

Hipertermia

Selasa0 8-10- 2019

16.40

16.45

16.55

1. Memberikan dosis pertama parasetamol Hasil: selesai pemberian obat paracetamol melalui iv/8 jam

2. Memonitor suhu badan Hasil :

a. Suhu : 37,9oC 3. Kompres air hangat Hasi: telah di kompres

Selasa 08-10-2019, jam 17.50 S :

1. klien mengatakan badan panas O :

1. Suhu badan meningkat 37,90C 2. Akral teraba hangat

A :Masalah teratasi

P : Pertahankan intervensi

Intoleransi aktivitas

Selasa 08-10-

17.30 Bantuan perawatan diri

1) Memonitor tingkat kemandirian

Selasa, 08-10-2019, Pukul 19.30 Wita S :

(68)

18.00

18.30

18.55

keluarga saat mika-miki

2) Memfasilitasi kemandirian, membantu jika tidak mampu melakukan perawatan diri Hasil :perawatan diri pasien semua dibantu oleh keluarga

3) Menyiapkan keperluan pribadi

Hasil ; semua kebutuhan pribadi pasien d siapkan oleh keluarga

4.) memonitor pasien saat mau buang BAK dan BAB

Hasil :pasien terpasang kateter urin,dan pasien memakai popok dan dibantu dengan keluarga saat BAB.

dilakukan perawatan diri O :

- klien Nampak bersih

- klien Nampak smua kebutuhan dibantu dengan keluarga

A : Masalah intoleransi aktivitas belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi Bantuan perawatan diri

(69)

BAB III

PEMBAHASAN KASUS KELOLAAN

Ada beberapa kesenjangan antara teori dan kasus yang ditemukan penulis dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pada Tn ’’I’’

menggunakan primary survey untuk memberikan penanganan meliputi pengkajian Airway, Breathing, Circulation, Disability dan Expourse dimana gangguan-gangguan yang ada pada primary survey akan ditangani

segera apabila belum teratasi maka akan dilakukan pengkajian secondary survey pendekatan proses asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Berikut ini akan membahas tentang perbedaan yang terjadi antara teori dan kasus yang didapat dari asuhan keperawatan teori dan kasus yang didapat dari asuha pada pasien Tn ’’I’’

A. Pengkajian

1. Pengkajian primer

Primary survey menyediakan evaluasi yang sistematis, pendeteksian dan manajemen segera terhadap komplikasi akibat trauma / insiden yang mengancam kehidupan. Tujuan dari primary survey adalah untuk mengidentifikasi dan memperbaiki dengan segera masalah yang mengancam kehidupan. Pengkajian primer pada umunya menggunakan pendekatan ABCDE yang dapat digunakan ketika menilai dan menangani semua pasien kritis (Harmamo,2016).

a. Airway

Lihat : pada teori dapat dilihat tanda-tanda obstruksi jalan napas. Obstruksi jalan napas menyebabkan pergerakan dada dan abdomen secara paradox (pernapasan see- saw) dan penggunaan otot-otot pernapasan aksesoris.

Sianosis sentral merupakan tanda lanjut dari obstruksi jalan napas.

Berdasarkan studi kasus pada Tn ’’I’’ dilihat kepatenan jalan napas tidak terganggu / bebas

57

(70)

ditandai dengan tidak ditemukannya berupa adanya lendir.

Menurut Parsenohadi (2014), pernapasan see- saw (paradox) terjadi karena sumbatan jalan napas total atau parsial, dimana waktu inspirasi dinding dada bergerak turun tetapi dinding abdomen bergerak naik.

Pernapasan see-saw lebih banyak terjadi pada kasus- kasus dengan trauma iga multiple yang dimana nyeri timbul pada saat inspirasi dan pasien berusaha untuk mengurangi rongga dada yang berakibat pada hipoventilasi serta menyebabkan berkurangnya batuk dan napas dalam yang berakibat pada retensi sputum, ateletaksis dan penurunan kapasitas residu fungsional.

Berdasarkan teori dan kasus yang dianalisa bahwa tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus nyata.

Dengar : pada teori tanda-tandanya adanya obstruksi jalan napas dapat didengar dengan mendengarkan suara bising yang akan membantu menemukan derajat obstruksi yaitu gurgling(kumuran), snoring

(dengkuran), crowing (siulan).Snoring disebabkan oleh lidah yang menutup orofaring, gurgling karena sekret, darah atau muntahan dan crowing/stridor menunjukkan adanya penyempitan jalan napas karena spasme, edema atau pendesakan.

Berdasarkan studi kasus pada Tn ‘’I’’ tidak terdengar suara napas tambahan dan hasil analisis tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus nyata.

Rasakan : pada teori dapat dilakukan dengan menempelkan pada teori palpasi menentukan adanya pergeseran trakea, fraktur tulang iga, subcutaneous

Gambar

Tabel  2.1 pemeriksaan laboratorium
Table 2.3 terapa obat

Referensi

Dokumen terkait

2016, maka untuk kepentingan dinas perlu memberhentikan yang bersangkutan daritugas tambahan sebagai Ketua Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan llmu Pengetahuan Alam

Informasi akademik merupakan bagian terpenting dalam pendidikan pada masa kini. Dipicu oleh kemajuan teknologi informasi, berbagai organisasi pendidikan mengharapkan suatu sistem

E,G end-gate unit cell of a ganglion EMT e€ective medium theory FAV ¯ow arrangement variables GCD ganglion cells domain GD ganglion dynamics LGD large ganglion dynamics PA

Di tahun 2011, Perseroan meninjau ulang strategi yang telah diterapkan untuk PUCELLE dalam rangka menentukan strategi pengembangan yang sesuai untuk merek ini. Peluncuran produk

Dengan mendaftar sebagai peserta lelang pada suatu paket pekerjaan melalui aplikasi SPSE, maka peserta telah menandatangani Pakta I ntegritas, kecuali untuk penyedia

[r]

Berdasarkan Hasil Evaluasi Penawaran dan Evaluasi Kualifikasi yang dilakukan oleh Pokja Jasa Konsultansi Unit Layanan Pengadaan (ULP) Barang dan Jasa dilingkungan Pemerintah

Tabel 5.16 Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Stres Pengasuhan pada Ibu dengan Anak Usia Prasekolah ..... xvii Lampiran 1 Lembar Persetujuan Responden Lampiran 2