VII. ANALISIS REALISASI KUR DI BRI UNIT TONGKOL
7.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Realisasi KUR
Hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi realisasi KUR dapat dimodelkan kedalam suatu fungsi permintaan. Dalam penelitian ini terdapat enam faktor yang diduga mempengaruhi realisasi KUR, yaitu tingkat pendapatan (X1), frekuensi kredit (X2), lama usaha (X3), modal usaha (X4), tingkat pendidikan (X5), dan waktu pengembalian kredit (X6). Dalam pembuatan suatu persamaan regresi linier berganda diperlukan beberapa asumsi mendasar, yaitu normalitas, homogenitas, dan multikolinieritas.
Dalam penelitian ini terdapat variabel-variabel dependent dan independent, yang menjadi variabel dependent dalam penelitian ini merupakan besarnya kredit yang direalisasikan oleh BRI Unit Tongkol, sedangkan varibel independent terdiri dari enam variabel yaitu tingkat pendapatan, lama usaha, modal usaha, tingkat pendidikan, frekuensi kredit, dan waktu pengembalian kredit.
Nilai-nilai yang dimiliki oleh masing-masing variabel independent (peubah bebas) yang mempengaruhi realisasi KUR diuji dengan menggunakan uji-F dan uji-t. Uji-F dan uji-t digunakan untuk mengetahui apakah peubah bebas mempengaruhi realisasi KUR, dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi realisasi KUR. Hasil yang didapat dalam uji-F ini diketahui bahwa dari seluruh peubah mempengaruhi secara nyata realisasi KUR di BRI Unit Tongkol (Tabel 17) penilaian pada P-Value dalam tabel sebesar 0,01 persen (Lampiran 6).
Berdasarkan hasil uji-t diketahui lama usaha memiliki = 97,30 persen, waktu pengembalian memiliki = 1,10 persen, dan faktor lainnya memiliki nilai
dibawah 0,60 persen. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi realisasi KUR di BRI Unit Tongkol dari nilai
= 0,05 terdapat 5 variabel yang berpengaruh secara nyata terhadap realisasi KUR, yaitu tingkat pendapatan, frekuensi kredit, modal usaha, tingkat pendidikan, dan waktu pengembalian kredit.
Tabel 17. Pendugaan dan Pengujian Model Linier Berganda Realisasi KUR BRI Unit Tongkol
Variabel Koefifien
Regresi
T hiung Sig VIF
Konstanta
Tingkat Pendapatan Frekuensi kredit Lama usaha Modal usaha Tingkat Pendidikan
Waktu pengembalian Kredit
1358230 0.13575 20664 -579 0.29026 64468 36331
4.03 5.07 2.81 -0.03 5.54 2.82 2.62
0.000 0.000 0.006 0.973 0.000 0.006 0.011
1.1 1.6
1.6 1.1 1.1 1.2
S = 552055 R-sq = 63.40% R-sq(adj) = 60.4%
Analysis of Variance
Source DF SS MS F P Regression 6 3.90030E+13 6.50050E+12 21.33 0.000 Residual Error 74 2.25526E+13 3.04764E+11
Total 80 6.15556E+13
Penelitian ini menggunakan beberapa variabel yang mempengaruhi realisasi KUR. Berdasarkan hasil penelitian, pada Tabel 18 didapat nilai R2 sebesar 63,40 persen, yang artinya variabel-variabel yang ada mampu menjelaskan 63,40 persen secara nyata keragaman realisasi KUR dan sisanya dijelaskan oleh variabel lain sebesar 36,60 persen.
7.2. Tingkat Pendapatan
Dari perhitungan diatas didapat koefisien regresi tingkat pendapatan terhadap realisasi KUR sebesar 0,14 artinya apabila tingkat pendapatan naik Rp 1,00 maka realisasi KUR naik sebesar Rp 0,14. Tingkat pendapatan diduga bernilai positif terhadap permintaan, sehingga semakin tinggi tingkat penghasilan maka semakin tinggi pula tingkat kepercayaan pihak bank dalam memberikan
kredit kepada calon debitur. Hasil ini menggambarkan bahwa tingkat pendapatan berpengaruh positif terhadap realisasi KUR sehingga, asumsi tingkat pendapatan terhadap realisasi KUR terbukti memiliki nilai positif. Rata-rata tingkat pendapatan debitur KUR BRI Unit Tongkol sebesar Rp 5.161.728,40. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pendapatan debitur KUR berada di atas UMR Jakarta.
Pendapatan paling besar dari responden KUR BRI Unit Tongkol sebesar Rp 15 juta dan yang terkecil sebesar Rp 1,5 juta.
Bagi pihak bank tingkat pendapatan para calon debitur sangat mempengaruhi pemberian kredit bagi calon debitur. Pihak bank akan percaya memberikan kredit kepada calon debitur apabila calon nasabah tersebut memiliki pendapatan yang tinggi. Sebelum memberikan kredit pihak bank menganalisis seberapa besar tingkat pendapatan dan tingkat pengeluaran calon debitur per bulan yang kemudian dihitung nilai R/C ratio dan seberapa besar sisa pendapatan yang ada setelah dikurangi biaya hidup. Hal ini berpengaruh terhadap seberapa besar kemampuan calon nasabah dalam membayar angsuran per bulan. Hasil perhitungan ini juga berpengaruh terhadap seberapa besar jumlah cicilan per bulan yang harus dibayar oleh calon debitur sesuai dengan jumlah kredit yang diajukan.
7.3. Frekuensi Kredit
Frekuensi kredit sangat menentukan apakah nasabah tersebut pernah mengajukan kredit atau tidak. Dalam hal ini, pihak bank memberikan KUR kepada nasabah yang tidak memiliki kredit lain baik di BRI ataupun bank lain karena akan mempengaruhi dalam pembayaran cicilan yang dibayar nasabah.
Apabila nasabah memiliki kredit lain maka tingkat pengembalian KUR dikhawatirkan akan terhambat dan nasabah akan lebih memprioritaskan pinjaman yang lainnya karena KUR tidak menggunakan agunan sehingga nasabah akan berpikir bahwa walaupun dia tidak membayar tidak akan ada yang disita oleh pihak bank.
Nilai koefisien regresi frekuensi kredit terhadap realisasi KUR sebesar 20,66 dimana apabila frekuensi kredit naik satu kali maka nilai realisasi KUR akan naik sebesar Rp 20,66. Frekuensi kredit dapat memperlihatkan bagus tidaknya seorang nasabah dalam membayar angsuran dan mengembalikan kredit
yang diterimanya. Apabila pada kredit sebelumnya nasabah tersebut bagus dalam pembayaran cicilan yang selalu tepat waktu maka dapat disimpulkan nasabah tersebut memiliki tabiat yang baik sehingga diharapkan pada saat pihak bank memberikan kredit baru maka nasabah tersebut juga mampu membayar cicilan tepat waktu.
7.4. Lama Usaha
Lama usaha menggambarkan bagaimana pengusaha tersebut mampu menjalankan dan mempertahankan usaha tersebut dan meningkatkan modal usaha.
Berdasarkan hasil perhitungan pendugaan didapat nilai koefisien regresi lama usaha terhadap realisasi KUR sebesar -579 artinya apabila lama usaha naik satu tahun maka nilai total realisasi KUR akan menurun sebesar Rp 579,00. Semakin lama usaha maka semakin berkurang tingkat kepercayaan bank dalam memberikan KUR. Hasil ini berbeda dengan hipotesis penelitian dimana semakin lama usaha maka tingkat kepercayaan bank dalam memberikan kredit semakin tinggi. Berdasarkan hasil ini dapat disimpulkan bahwa lama usaha tidak berpengaruh terhadap pemberian realisasi KUR kepada calon debitur karena semakin lama usaha belum tentu baik dalam pembayaran cicilan dan pengembalian kredit.
Pemberian KUR ditujukan bagi para pengusaha baru yang ingin berkembang namun tidak memiliki cukup modal sehingga lama usaha menjadi faktor yang mempengaruhi realisasi KUR. Hal ini sesuai dengan tujuan KUR dimana memberikan bantuan modal bagi para pengusaha UMKM yang belum memiliki modal yang cukup untuk berkembang.
7.5. Modal Usaha
Nilai koefisien regresi modal usaha terhadap realisasi KUR sebesar 0,29 yang artinya apabila modal usaha naik Rp 1,00 maka nilai realisasi kredit akan meningkat sebesar Rp 0,29. Semakin tinggi modal maka semakin tinggi tingkat kepercayaan bank untuk memberikan KUR kepada nasabah tersebut. Modal usaha memiliki pengaruh yang kuat terhadap realisasi KUR. Modal yang besar akan
menggambarkan skala usaha yang dijalankan juga besar. Selain itu, modal yang besar akan mempengaruhi tingkat pendapatan.
Modal usaha yang besar akan mempengaruhi perilaku pemilik usaha karena secara rasional apabila modal yang ditanamkan lebih besar maka pemilik usaha akan melakukan usahanya dengan penuh kesungguhan untuk mempertahankan usahanya.
7.6. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan menggambarkan seberapa lama seseorang mengenyam pendidikan. Hal ini berpengaruh terhadap daya pikir dan pemahaman calon debitur. Berdasarkan hasil uji regresi linier berganda tingkat pendidikan berpengaruh secara nyata terhadap realisasi KUR. Nilai koefisien regresi pendidikan sebesar 64,47 hal ini menggambarkan bahwa apabila nilai pendidikan naik satu tahun maka realisasi KUR akan meningkat sebesar Rp 64,47. Tingkat pendidikan diperhatikan oleh pihak bank dalam memberikan KUR. Tingkat pendidikan akan memberikan pengaruh kepada calon debitur untuk mengetahui dan memahami hak dan kewajiban sebagai seorang debitur. Hal ini akan berpengaruh kepada tingkat pembayaran cicilan kredit.
7.7. Waktu Pengembalian Kredit
Dalam proses realisasi kredit, tentu ada pengembalian kredit yang harus dilakukan oleh debitur. Pengembalian kredit oleh debitur memerlukan waktu untuk mengembalikan kredit tersebut sehingga waktu pengembalian akan diperhatikan oleh pihak bank. Waktu pengembalian ditentukan oleh perhitungan pendapatan oleh pihak bank terhadap calon debitur. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan dapat digambarkan seberapa besar tingkat kemampuan calon debitur dalam membayar cicilan dan lama waktu yang ditetapkan.
Berdasarkan hasil perhitungan regresi linier berganda didapat nilai koefisien regresi waktu pengembalian terhadap realisasi KUR sebesar 36,33.
Artinya apabila nilai waktu pengembalian kredit naik satu bulan maka nilai realisasi KUR akan meningkat Rp 36,33. Tingkat pengembalian ditentukan oleh seberapa besar kemampuan yang dimiliki debitur dalam membayar angsuran.
Semakin lama waktu pengembalian, maka semakin banyak bunga yang diterima oleh pihak bank.
Dari hasil perhitungan dapat dilihat faktor-faktor apa saja yang dapat mempercepat atau meningkatkan KUR yaitu tingkat pendapatan, frekuensi kredit, modal usaha, tingkat pendidikan, dan waktu pengembalian kredit. Pendapatan calon debitur sangat signifikan atau sangat berpengaruh terhadap realisasi KUR, sehingga dapat dijelaskan bahwa apabila ingin mengajukan KUR tingkat pendapatan calon debitur harus tinggi atau lebih besar dari perhitungan nilai angsuran yang diajukan.
Karakteristik responden sangat berpengaruh terhadap meningkatnya realisasi KUR. Apabila karakteristik sesuai dengan kriteria calon debitur, maka realisasi kredit dapat dilakukan sehingga dapat mempercepat peningkatan realisasi kredit KUR. Dari beberapa karakteristik yang dibahas, ada beberapa karakteristik yang mempengaruhi meningkatnya realisasi KUR sehingga dapat meningkatkan total realisasi yaitu, usia responden, waktu tempuh, jenis usaha responden, dan nilai Re-payment Capacity (RPC) per bulan.
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, usia responden nasabah KUR BRI Unit Tongkol paling banyak berusia 41-50 tahun sebanyak 38 orang atau sebesar 46,91 persen. Keadaan tersebut menggambarkan bahwa responden yang menjadi nasabah KUR di BRI Unit Tongkol termasuk ke dalam umur yang produktif dimana seseorang masih mampu bekerja untuk mendapatkan pendapatan. Semakin produktif seorang nasabah maka diharapkan akan semakin besar pula kemungkinan untuk memajukan usahanya. Tingkatan usia mempengaruhi kematangan berpikir dan kebijakan seseorang dalam mengambil keputusan atau bertindak, karena dengan bertambahnya usia maka biasanya pengalaman hidup dalam menghadapi dan memecahkan suatu permasalahan semakin banyak. Sejalan dengan peningkatan usia tersebut juga meningkatkan pengalaman mengelola usaha sehingga keberhasilan usaha kemungkinan lebih terjamin.
Secara administratif, penyaluran KUR didasarkan pada wilayah kerja masing-masing BRI Unit yang telah ditetapkan oleh Kantor Cabang. Sebagian besar tempat usaha nasabah KUR Unit Tongkol berada di lingkungan rumah para
debitur itu sendiri, namun ada juga nasabah yang tempat usahanya berada jauh dari tempat tinggal. Sebagian besar waktu tempuh nasabah ke BRI Unit Tongkol yaitu selama 1-15 menit atau 80,25 persen.
Jenis usaha berpengaruh terhadap kelancaran pengembalian kredit karena setiap usaha memiliki resiko yang berbeda-beda sehingga mempengaruhi kemampuan usaha dalam menghasilkan keuntungan yang nantinya digunakan dalam membayar pinjaman. Usaha on farm diduga memiliki resiko yang lebih besar dibandingkan usaha off farm sehingga usaha off farm diharapkan akan lebih lancar dalam mengembalikan kredit. Jenis usaha debitur KUR Unit Tongkol keseluruhannya merupakan usaha agribisnis yang bergerak pada usaha off farm.
Sebagian besar responden memiliki jenis usaha kelontong sebanyak 25 orang atau 30,86 persen.
Re-payment Capacity (RPC) adalah kapasitas pengembalian kredit yang dimiliki oleh debitur dan nilainya maksimal 75 persen dari pendapatan bersih per bulan. Dengan demikian, nilai RPC diharapkan berpengaruh positif terhadap realisasi KUR dan kelancaran pengembalian kredit. Artinya, semakin tinggi nilai RPC seorang debitur maka diharapkan debitur tersebut semakin lancar dalam mengembalikan kredit. Nilai RPC responden berkisar antara Rp 112.500,00 hingga Rp 950.750,00 per bulan (nilai tertinggi). Jumlah dan proporsi responden debitur menurut nilai RPC per bulan dapat dilihat pada tabel 18.
Tabel 18. Nilai RPC Responden Debitur KUR Unit Tongkol
Waktu Tempuh (Menit)
Jumlah Responden (Orang)
Persentase (%)
< 250.000 15 18,52
250.000 – 500.000 39 48,15
> 500.000 27 33,33
Total 81 100
Dari hasil perhitungan nilai RPC responden KUR Unit Tongkol sebagian besar memiliki nilai RPC antara Rp 250.000,00 hingga Rp 500.000,00 per bulan sebanyak 39 orang atau 48,14815 persen. Nilai RPC ini berpengaruh terhadap
realisasi KUR. Calon debitur harus memiliki nilai RPC yang besar apabila ingin kredit yang diajukan dapat direalisasikan oleh pihak bank.
Selain karakteristik nasabah, promosi juga akan berpengaruh terhadap peningkatan permintaan dan akan meningkatkan jumlah realisasi KUR. Selama program KUR berlangsung, promosi kurang dilakukan oleh BRI sehingga kurang mampu menarik nasabah untuk mengajukan kredit KUR, calon nasabah biasanya mendapatkan informasi KUR dari teman atau keluarganya yang sebelumnya sudah mengajukan KUR terlebih dahulu. Bank Rakyat Indonesia seharusnya lebih mengenalkan kredit KUR bagi para pengusaha UMKM. Selain itu, para Mantri KUR juga harus lebih giat dalam menawarkan produk KUR ini sehingga dapat meningkatkan permintaan KUR dan dapat memenuhi target yang ditetapkan.
Kredit Usaha Rakyat (KUR) merupakan program baru pemerintah untuk membantu pembiayaan pelaku usaha UMKM. Program ini pertama kali dilakukan pada tahun 2008 sehingga debitur yang ada merupakan debitur yang baru mengajukan KUR sehingga untuk meningkatkan total realisasi KUR dilakukan dengan cara menambah jumlah debitur yang akan berpengaruh terhadap total realisasi KUR, karena untuk menambahkan kredit bagi debitur yang lama belum dapat dilakukan. Hal ini disebabkan karena program KUR merupakan kredit lunak dengan plafond tertinggi Rp 5 juta. Apabila ada nasabah yang sudah mengajukan KUR sebesar Rp 5 juta, maka debitur tersebut tidak dapat meminta kenaikan plafond dan pihak bank tidak dapat menaikan plafond tersebut karena plafond tertinggi KUR sebesar Rp 5 juta.