• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Hasil Penelitian

Hasil penelitian tindakan kelas ini dideskripsikan dalam tiga kondisi yaitu kondisi awal (prasiklus), kondisi siklus I, dan kondisi siklus II. Hasil yang diperoleh dianalisis dengan analisis deskriptif kuantitatif, kualitatif, dan komparatif.

4.1.1 Deskripsi Kondisi Awal (Prasiklus)

Pada kondisi awal (prasiklus), dari 26 siswa yang mengikuti tes prasiklus, hanya 6 siswa (23,08%) yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM = 70). Berarti ada 20 siswa (76,92%) yang masih di bawah KKM. Nilai rata-rata kelas juga masih belum mencapai KKM, yaitu 55,04.

Tabel 2 Analisis Nilai Prasiklus

No Rentang Nilai Banyak Siswa

Ketuntasan (KKM=70)

T BT

1 0 – 22 0 0

2 23 – 42 0 0

3 43 – 62 20 20

4 63 – 82 6 6

5 83 – 100 0 0

Jumlah 26 6 20

Persentase Ketuntasan Belajar 23,08% 76,92%

Nilai Rata-rata Kelas 55,04

18

(2)

Rendahnya hasil belajar di atas karena peneliti belum menggunakan metode yang tepat. Hal ini sangat mempengaruhi keberhasilan dalam pembelajaran,sehingga prestasi belajar yang dicapai siswa kurang maksimal. Peneliti hanya menggunakan metode ceramah, dan tanya jawab. Akhirnya siswa kurang akif dalam pembelajaran. Pembelajaran masih berpusat pada guru, dan siswa hanya sebagai pendengar saja dalam proses transfer pengetahuan. Kondisi tersebut didasarkan pada hasil observasi pembelajaran prasiklus.

4.1.2 Deskripsi Siklus I 4.1.2.1 Rencana Tindakan

Pada siklus I dilakukan pembelajaran dengan skenario sebagai berikut: (a) pada pertemuan sebelumnya guru mempersiapkan skenario drama dan memilih beberapa siswa untuk memainkan drama yang berjudul Alat Pernapasan Manusia. Siswa yang ditunjuk untuk memainkan drama disuruh untuk menghafalkan skenario. (b) Pada saatnya pembelajaran guru membagi kelas ke dalam lima kelompok diusahakan setiap pemeran drama tersebar ke dalam kelompok yang berbeda karena setiap pemeran drama diharapkan menguasi pembelajaran sehingga dapat menularkan ilmunya kepada teman - temannya. (c) Para tokoh drama memainkan drama sesuai dengan skenario. (d) Masing – masing siswa berada di kelompoknya sambil mengamati skenario yang sedang diperagakan (e) Setelah selesai ditampilkan, masing – masing siswa diberikan lembar kerja untuk membahas / memberi penilaian secara berkelompok. (f) Masing – masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya (g) Guru mengevaluasi pekerjaan tiap-tiap kelompok.

4.1.2.2 Pelaksanaan Tindakan

Dari hasil observasi pembelajaran diperoleh data pada pelaksanaan tindakan siklus I sebagai berikut: (a) Pada tahap pendahuluan yakni apersepsi, motivasi, dan menyampaikan tujuan pembelajaran masing – masing mendapat skor 3; (b) Membentuk kelompok yang terdiri dari lima dan enam siswa, dengan memperhatikan perbedaan kemampuan, jenis kelamin dan ras atau etnis dengan skor 3; (c) Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan scenario dengan skor 3 (d) Membimbing kegiatan kelompok dengan skor 3 (e) Membimbing siswa menyampaikan hasil diskusi memperoleh

(3)

skor 3 (f) Mengevaluasi pekerjaan tiap-tiap kelompok memperoleh skor 3 (g) Membimbing siswa menarik kesimpulan mendapat skor 3 (h) Memberikan refleksi mendapat skor 3 (i) member PR mendapat skor 3 (j) Menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya mendapat skor 3. Data skor diatas diolah dengan ketentuan berikut ini :

Nilai = skor perolehan x 100%

Skor maksimal (48)

80-100% : sangat tinggi 66-79% : tinggi 56-65% : sedang 40-55% : kurang 0-39% : sangat kurang

Nilai = 35/48 x 100%= 72,92%

Berdasarkan pengolahan skor diatas maka dapat diperoleh data kualitatif yaitu tinggi.

4.1.2.3 Hasil Tindakan

Pada siklus I, dari 26 siswa yang mengikuti tes, ada 18 siswa (69,23 %) yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM = 70). Berarti masih ada 8 siswa (30,77 %) yang masih di bawah KKM. Nilai rata-rata kelas sudah mencapai KKM, yaitu 68,31.

Tabel 3 Analisis Nilai Siklus I

No Rentang Nilai Banyak Siswa

Ketuntasan (KKM=70)

T BT

1 0 – 22 0 0

2 23 – 42 0 0

3 43 – 62 8 8

4 63 – 82 18 18

5 83 – 100 0 0

Jumlah 15 18 8

Persentase Ketuntasan Belajar 69,23% 30,77 %

Nilai Rata-rata Kelas 68,31

(4)

Peningkatan hasil belajar di atas terjadi karena peneliti sudah menggunakan metode yang tepat. Hal ini sangat mempengaruhi keberhasilan dalam pembelajaran,sehinggahasil belajar yang dicapai siswa maksimal.Pembelajaran sudah berpusatpada siswa, dan gurubertindak sebagai fasilitator. Kondisi tersebut didasarkan pada hasil observasi siswa dalam pembelajaran siklus I pertemuan 1 dan 2.

4.1.2.4 Evaluasi dan Refleksi Proses Pembelajaran Siklus I

Pada tahap pendahuluan, proses pembelajaran siklus I guru melakukan pembelajaran sesuai dengan RPP. Terlihat guru sangat hafal dengan langkah – langkah pembelajaran. Dalam pembagian kelompok berlangsung dengan tertib dan setiap kelompok terbagi atas siswa laki – laki dan perempuan dengan kemampuan yang heterogen. Namun pada saat membimbing siswa dalam diskusi, guru belum dapat maksimal karena ada kelompok yang belum diperhatikan.

Siswa – siswa kelas lima SD N Simbangdesa 01 terlihat sangat menyukai drama yang diperankan teman – temannya sendiri, siswa – siswa tersenyum dan tertawa melihat kelucuan pemain drama. Dalam kerja kelompok siswa saling membantu dalam menyelesaikan tugas.

Situasi kelas sangat aktif, semua siswa memperhatikan drama. Siswa – siswa terlihat senang dan mengerti apa yang di bicarakan dalam drama yang sebenarnya adalah materi pelajaran pada hari itu.

4.1.3 Deskripsi Siklus II 4.1.3.1 Rencana Tindakan

Pada siklus II dilakukan pembelajaran dengan skenario sebagai berikut:(a) pada pertemuan sebelumnya guru mempersiapkan skenario drama dan memilih beberapa siswa untuk memainkan drama yang berjudul Gangguan Pernapasan Manusia. Siswa yang ditunjuk untuk memainkan drama disuruh untuk menghafalkan skenario. (b) Pada saatnya pembelajaran guru membagi kelas kedalam lima kelompok diusahakan setiap pemeran drama tersebar ke dalam kelompok yang berbeda karena setiap pemeran drama diharapkan menguasi pembelajaran sehingga dapat menularkan ilmunya kepada teman - temannya. (c) Para tokoh drama memainkan drama sesuai dengan scenario dan guru memotivasi pemain drama agar tidak malu ketika tampil. (d) Masing – masing siswa berada di kelompoknya sambil mengamati skenario yang sedang diperagakan (e) Setelah

(5)

selesai ditampilkan, masing – masing siswa diberikan lembar kerja untuk membahas / memberi penilaian secara berkelompok. (f) Masing – masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya (g) Guru mengevaluasi pekerjaan tiap-tiap kelompok.

4.1.3.2 Pelaksanaan Tindakan

Dari hasil observasi pembelajaran diperoleh data pada pelaksanaan tindakan siklus I sebagai berikut:(a) Pada tahap pendahuluan yakni apersepsi, motivasi, dan menyampaikan tujuan pembelajaran masing – masing mendapatskor 3; (b) Membentuk kelompok yang terdiri dari lima dan enam siswa, dengan memperhatikan perbedaan kemampuan, jenis kelamin dan ras atau etnis dengan skor 3; (c) Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan scenario dengan skor 3 (d) Membimbing kegiatan kelompok dengan skor 3 (e) Membimbing siswa menyampaikan hasil diskusi memperoleh skor 4 (f) Mengevaluasi pekerjaan tiap-tiap kelompok memperoleh skor 3 (g) Membimbing siswa menarik kesimpulan mendapat skor 3 (h) Memberikan refleksi mendapat skor 3 (i) member PR mendapat skor 3 (j) Menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya mendapat skor 3. Data skor diatas diolah dengan ketentuan berikut ini :

Nilai = skor perolehan x 100%

Skor maksimal (48)

80-100% : sangat tinggi 66-79% : tinggi 56-65% : sedang 40-55% : kurang 0-39% : sangat kurang

Nilai = 36/48 x 100%= 75%

Berdasarkan pengolahan skor diatas maka dapat diperoleh data kualitatif yaitu tinggi.

4.1.3.3 Hasil Tindakan

Pada tahap siklus II, dari 26 siswa yang mengikuti tes, ada 21 siswa (80,77 %) yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM = 70). Berarti masih ada 5 siswa ( 19,23

%) yang masih di bawah KKM. Nilai rata-rata kelas sudah mencapai KKM, yaitu 78,00.

(6)

Tabel 4 Analisis Nilai Siklus II

No Rentang Nilai Banyak Siswa

Ketuntasan (KKM=70)

T BT

1 0 – 22 0 0

2 23 – 42 0 0

3 43 – 62 3 3

4 63 – 82 17 17

5 83 – 100 6 6

Jumlah 26 21 3

Persentase Ketuntasan Belajar 80,77% 19,23 %

Nilai Rata-rata Kelas 78,00

Peningkatan hasil belajar di atas karena peneliti sudah lebih optimal menggunakan metode role playing. Hal ini sangat mempengaruhi keberhasilan dalam pembelajaran,sehinggahasil belajar yang dicapai siswa maksimal. Pembelajaran sudah berpusat pada siswa, dan guru bertindak sebagai fasilitator. Kondisi tersebut didasarkan pada hasil observasi siswa dalam pembelajaran siklus II pertemuan 1 dan 2.

4.1.3.3 Evaluasi dan refleksi proses pembelajaran siklus II

Pada siklus II penampilan guru di depan kelas menjadi lebih baik. Guru teratur malaksanakan pembelajaran sesuai dengan langkah – langkah pembelajaran pada RPP.

Jika pada siklus I belum memberikan perhatian rata pada setiap kelompok, di siklus II guru sudah memberikan perhatian yang rata.

Semua siswa terlihat bersemangat, bahkan ada yang bertanya judul apa hari drama pada hari ini. Siswa seakan ketagihan dengan pertunjukkan drama. Tidak ada siswa yang bosan dalam pembelajaran, bahkan siswa yang termasuk nakal, yang biasanya tidak mau memperhatikan pembelajaran ikut tertawa melihat drama.

(7)

Suasana kelas menjadi hidup dan penuh kesenangan. Ketika kerja kelompok siswa tidak merasa sulit karena telah memperhatikan drama dan selalu mendapat bimbingan dan motivasi dari guru.

4.2 Pembahasan Hasil Penelitian 4.2.1 Pembahasan Hasil Siklus I

Pembelajaran pada siklus I sudah menggunakan metode role playing, sehingga terjadi peningkatan hasil belajar yang cukup berarti. Ketuntasan belajar mencapai 69,23 % dan nilai rata-rata kelas mencapai 66,87. Siswa semakin aktif bekerja sama dalam kelompok yang heterogen mengikuti proses pembelajaran dalam suasana yang menyenangkan. Sebagian siswa bahkan nampak menikmati setiap tahap pembelajaran.

Mereka tahu apa yang sedang dipelajari, dan mengerti apa yang harus dilakukan untuk menguasai materi. Kondisi tersebut diperoleh berdasarkan analisis hasil observasi pembelajaran siklus I. Hasil penelitian perbaikan pembelajaran pada siklus I dapat dilihat dari grafik di bawah ini:

Grafik 1 Ketuntasan Belajar Siklus I

Meskipun pada siklus I sudah dicapai peningkatan hasil belajar siswa, tetapi berdasarkan hasil diskusi dengan teman sejawat, saran dari supervisor, dan belum memenuhi indicator kinerja peneliti memandang perlu untuk melanjutkan perbaikan pembelajaran ini pada siklus II agar tercapai hasil yang lebih optimal.

4.2.2 Pembahasan Hasil Siklus II

Pembelajaran pada siklus II sudah menggunakan metode role playing, sehingga terjadi peningkatan hasil belajar yang lebih tinggi dari pencapaian pada siklus I.

Ketuntasan belajar mencapai 80,77 %, dan nilai rata-rata sudah melampaui KKM sebesar

(8)

78,00. Siswa semakin aktif bekerja sama dalam kelompok mengikuti proses pembelajaran dalam suasana yang menyenangkan. Sebagian siswa bahkan nampak menikmati setiap tahap pembelajaran. Mereka tahu apa yang sedang dipelajari,dan mengerti apa yang harus dilakukan untuk menguasai materi. Kondisi tersebut diperoleh berdasarkan analisis hasil observasi pembelajaran. Hasil penelitian tindakan kelas pada siklus I dapat dilihat dari grafik di bawah ini:

Grafik 2 Ketuntasan Belajar Suklus II

Tindakan pada siklus IIberhasil meningkatkan hasil belajar siswa.Berdasarkan hasil diskusi dengan teman sejawat, saran dari supervisordan telah memenuhi indkator kinerja diperoleh keputusan bahwa penelitian tidak perlu mengadakan tindakan siklus berikutnya.

4.2.3 Pembahasan Hasil Antar Siklus

Berdasarkan hasil penelitian perbaikan pembelajaran dari tahap prasiklus sampai dengan siklus II diperoleh informasi tentang peningkatan hasil belajar siswa yang signifikan. Pada kondisi prasiklus ketuntasan belajar hanya 23,08% setelah dilakukan tindakan naik menjadi 69,23 %pada siklus I, dan menjadi 80,77 % pada siklus II. Nilai rata- rata kelas juga mengalami kenaikan dari semula 55,04 pada prasiklus, naik menjadi 68,31pada siklus I, dan 78,00 pada siklus II.

(9)

Grafik 3 Ketuntasan Belajar antar Siklus

Kualitas aktifitas siswa dalam pembelajaran menggunakan metode role playing dari tahap prasiklus sampai dengan siklus II juga mengalami peningkatan.

Grafik 4 Nilai Rata – rata Antar Siklus

Dalam bentuk tabel hasil belajar antar siklus adalah sebagai berikut : Tabel 5 Hasil Belajar antar Siklus

Prasiklus Siklus I Siklus II

Rata - rata 55,04 68,31 78,00

Ketuntasan 23,08 % 69,23 % 80,77 %,

Pada rata – rata kelas mengalami kenaikan pada setiap siklusnya. Demikian juga ketuntasan belajar berdasarkan KKM pada setiap siklusnya mengalami kenaikan yakni dari prasiklus ke siklus I naik 46,15 % dari siklus I ke siklus II mengalami kenaikan 11.54 %.

23,08%

80,77 % 69,23 %

Gambar

Tabel 2  Analisis Nilai Prasiklus
Tabel 3  Analisis Nilai Siklus I
Tabel 4  Analisis Nilai Siklus II
Grafik 1 Ketuntasan Belajar Siklus I
+3

Referensi

Dokumen terkait

Posted at the Zurich Open Repository and Archive, University of Zurich. Horunā, anbēru, soshite sonogo jinruigakuteki shiten ni okeru Suisu jin no Nihon zō. Nihon to Suisu no kōryū

Kandungan karbon absolut dalam biomassa pada waktu tertentu dikenal dengan istilah stok karbon ( carbon stock ). Adanya program REDD+ memungkinkan negara berkembang untuk

1) Letakkan preparat yang sudah kamu buat pada mikroskop, aturlah cahaya pada mikroskop agar dapat melihat objek dengan jelas. Mula-mula gunakan perbesaran lemah

Berdasarkan permasalahan yang ada pada kasus piriformis syndrome sinistra dalam kaitanya dengan gangguan nyeri tekan, gerak dan fungsi, maka penulis merumuskan masalah (1)

Sedangkan dalam Peraturan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) N0.102 tentang akuntansi mura>bah}ah dijelaskan bahwa mura>bah}ah adalah menjual barang dengan harga jual

permukiman. b) Pusat ini ditandai dengan adanya pampatan agung/persimpangan jalan (catus patha) sebagai simbol kultural secara spasial. c) Pola ruang desa adat yang berorientasi

Menghasilan karya ilmiah berjudul ”Pengembangan Tes Formatif untuk mata Kuliah Akuntansi Manajemen Jurusan Pendidikan Akuntansi FIS UNYdimuat dalam jurnal Pendidikan Akuntansi

Korelasi yang kuat antara ekspresi MCM-2 dan ekspresi Ki-67 serta adanya per- bedaan yang bermakna pada tiap derajat astrositoma menunjukkan bahwa MCM-2 dapat