BAB IV.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini penulis akan membahas tahap-tahap pembuatan sistem menggunakan model waterfall yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya.tahap-tahap pembuatan sistem, perancangan, implementasi dan pengujian sistem.
4.1 Analisa Sistem
Tahap awal dalam pembuatan sistem adalah dengan menganalisa kebutuhan sistem yang akan dibuat. Hal tersebut diperlukan untuk mengetahui semua kebutuhan yang diperlukan agar hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan semula dari penelitian.
Analisa kebutuhan sistem yang diperlukan meliputi kebutuhan perangkat keras, kebutuhan perangkat lunak, kebutuhan data, spesifikasi sistem dan cara kerja sistem.
4.1.1 Kebutuhan Perangkat Keras
Dalam pembuatan aplikasi enkripsi dokumen menggunakan algoritma GOST, penulis menggunakan laptop dengan spesifikasi perangkat keras berikut :
a. Processor Intel® Pentium® Dual CPU T2390 @1.86GHz b. Ram 2GB
c. Monitor LCD 14”
4.1.2 Kebutuhan Perangkat Lunak
Dalam pembuatan aplikasi enkripsi dokumen menggunakan algoritma GOST beserta penulisan laporan, penulis menggunakan beberapa perangkat lunak pendukung, yaitu :
a. Windows 7 Ultimate 32-bit
Windows 7 Ultimate 32-bit sebagai sistem operasinya. Alasan penggunaan sistem operasi berbasis windows yaitu karena kebanyakan dari end-user sudah terbiasa dengan interface dari sistem operasi berbasis windows.
b. Microsoft Word 2003
Microsoft Word 2003 digunakan penulis untuk membuat test dokumen dimana yang akan menjadi inputan dari aplikasi ini.
c. Netbeans IDE 8.0.2
Netbeans IDE 8.0.2 digunakan penulis dikarenakan aplikasi ini akan berdasarkan dengan dekstop dan dengan menggunakan fasilitas GUI yang terdapat didalamnya sehingga lebih mudah dalam mengoperasikannya.
4.1.3 Kebutuhan Data
Data yang dibutukan adalah dokumen yang berekstensi docx, yang sebagaimana rupa akan menjadi inputan dari aplikasi ini dan dienkripsi dengan menggunakan algoritma GOST sehingga akan menghasilkan file dokumen yang memiliki isi yang acak.
4.1.4 Spesifikasi Sistem
Spesifikasi sistem berisi ketentuan-ketentuan yang ada pada sistem dan sesuai dengan sistem yang dibuat yaitu :
a. Aplikasi dibuat dengan tool Netbeans IDE 8.0.2 .
b. Aplikasi menerima inputan ganda yang berupa file dokumen namun berekstensi docx dan beserta dengan kuncinya.
c. Isi dokumen dari file dokumen berekstensi docx tersebut lalu akan diproses oleh sistem.
d. Algoritma perhitungan yang digunakan adalah algoritma GOST.
e. Dengan memiliki penjadwalan kunci dan melakukan 32x putaran.
f. Aplikasi ini akan menghasilkan file dokumen yang telah terenkripsi informasi didalamnya.
4.1.5 Proses Implementasi Algoritma GOST
Cara kerja sistem enkripsi file dokumen berekstensi docx adalah sebagai berikut : a. Pengguna melakukan inputan berupa file dokumen berekstensi docx.
b. Pengguna melakukan inputan yang akan menjadi sebuah kunci.
c. Pada saat inputan telah sesuai, maka clik tombol enkripsi untuk melakukan proses pengacakan huruf.
d. Sistem akan memproses dimana akan dilakukan penjadwalan kunci terlebih dahulu dan informasi yang terdapat dalam file dokumen akan terenkripsi dengan kunci yang ada dan adanya proses selama 32x putaran.
e. Dari proses enkripsi yang telah dilakukan maka akan menghasilkan file dokumen baru yang dimana informasi didalamnya mengandung informasi yang telah acak.
4.2 Perancangan Sistem
Pada tahap perancangan sistem, penulis membuat rancangan dari sistem yang akan dibuat. Rancangan yang akan dibuat meliputi usecase diagram, activity diagram, dan rancangan antar muka.
4.2.1 Usecase Diagram
Usecase diagram yang menggambarkan user berperan didalam sistem dan dengan berbagai aksi yang dapat dilakukan user didalam sistem tersebut. Pada aplikasi pengamanan dokumen berekstensi docx dimana peran user adalah menjalankan aplikasi untuk mengubah suatu dokumen docx menjadi suatu dokumen yang tidak dapat terbaca. Berikut adalah gambar usecase diagram dari aplikasi pengamanan dokumen berekstensi docx yang digambarkan pada gambar 4.1
Gambar 4. 1 Usecase Diagram
Penjelasan usecase diagram aplikasi pengaman dokumen berekstensi docx pada gambar 4.1 dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut :
Tabel 4. 1 Deskripsi Usecase Diagram Pengamanan File Dokumen
Usecase Deskripsi
Inputan file dokumen User memberikan suatu inputan kepada sistem dimana inputan tersebut berupa suatu file dokumen yang khususnya pada tipe dokumen docx File dokumen terenkripsi Sistem yang menghasilkan file
dokumen yang telah terenkripsi dimana file hasil enkripsi tersebut dapat dilihat oleh user dan dapat disimpan ke dalam file dokumen yang baru
4.2.2 Activity Diagram
Activity diagram memodelkan alur kerja dari proses suatu sistem dan urutan aktivitas suatu proses. Pada aplikasi pengamanan dokumen berekstensi docx ini, pembuatan activity diagram bertujuan untuk melihat alur proses sistem secara utuh.
1. Pengguna melakukan proses input dimana file dokumen yang diiinputkan haruslah bertipe docx
2. Dari inputan pengguna maka sistem akan memulai proses enkripsi dengan mengubah isi dokumen menjadi angka biner dan mulai melakukan perhitungan
3. Proses selanjutnya apabila hasil perhitungan enkripsi telah selesai maka akan dilakukan proses parsing nilai biner tersebut ke dalam nilai ascii sehingga akan didapat karakter-karakter baru.
4. Pengguna dapat melihat file hasil enkripsi dan dapat menyimpan file hasil enkripsi tersebut.
Gambar 4. 2 Activity Diagram
4.2.3 Rancangan Antar Muka
Aplikasi pengamanan dokumen berekstensi docx terdiri dari satu tampilan antarmuka (user interface), pada halaman antarmuka yang telah disediakan terdiri dari inputan file dokumen, dan hasil dari file yang telah dienkripsi. Gambar 4.3 akan menampilan rancangan antarmuka dari aplikasi pengamanan dokumen berekstensi docx.
Gambar 4. 3 rancangan antarmuka pengguna
4.3 Implementasi Sistem
Tahap selanjutnya setelah membuat rancangan sistem adalah implementasi sistem. Pada tahap implementasi terdapat dua proses yaitu proses pengkodean (coding) aplikasi enkripsi file dokumen docx dan proses pembuatan antarmuka (user interface) aplikasi enkripsi file dokumen docx.
4.3.1 Pengkodean Aplikasi Pengamanan Dokumen berekstensi Docx Proses pengkodean aplikasi pengamanan dokumen berekstensi docx menggunakan tool netbeans. Pengkodean yang dibahas dalam bab ini adalah kode- kode inti yang digunakan untuk membuat aplikasi pengamanan dokumen berekstensi docx.
4.3.1.1. Kode pembacaan file docx
Pada tabel 4.2 mengenai method pembacaan file docx disini, dimana memiliki inputan suatu alamat letak dimana file yang dituju. Penulis tidak menggunakan library khusus dalam netbeans, melainkan dengan mengekstrak menggunakan zipentry. Kemudian hasil ekstrakan tersebut akan disimpan pada file xml sebagai penyimpanan yang temporary, dan pada tahap terakhir dengan membaca file xml tersebut.
Tabel 4. 2 Method Pembacaan dokumen docx Prosedur Pembacaan dokumen docx String (Input : alamat letak dokumen
Proses : membaca / menghasilkan isi dari suatu dokumen
Output : menampilkan isi dari dokumen docx) Deklarasi :
Xml, isidocx = String Count, size = long N = integer
File = FileInputStream docXFile = ZipInputStream zipEntry = ZipEntry out = OutputStream buffer = byte[]
is = InputStream
factory = DocumentBuilderFactory Dekripsi :
Make new object (file dengan String Datapath1) Make new object (docXFile)
When zipEntry == docXFile.getNextEntry()) !=
null then
Tabel 4. 3 Lanjutan dari tabel 4.2
4.3.1.2. Kode parsing dari String ke biner
Pada tabel 4.4 method parsing dari string ke biner disini memiliki inputan kalimat bertipe data string, dengan proses adanya pengubahan nilai perkarakter menjadi biner sebanyak 8 digit, selanjutnya adalah menggabungkan nilai-nilai biner per karakter tersebut.
Tabel 4. 4 Method parsing string ke biner Fungsi StringtoBiner (a : String) String (input : Suatu kalimat string
Proses : mengubah string yang diinginkan ke dalam bentuk biner
Output : String angka biner dari string yang diinginkan)
Deklarasi :
Addbiner : String Dekripsi :
Addbiner “ “
for (i0 until length() a) then //ChartoBiner : fungsi buatan addbiner += (ChartoBiner a[i]) end
output addbiner;
4.3.1.3. Kode pembalikan String
Pada tabel 4.5 method pembalikan string disini, memiliki inputan kalimat bertipe data string. Dengan proses menggunakan index perkarakter dan dilakukan penyusunan ulang yang ditampung dalam variabel temporary
Tabel 4. 5 Method pembalikan string (reverse) Fungsi reverse (a : String) String
(input : String kalimat
Proses : mengambil perkarakter dari string tersebut
Output : suatu karakter yang telah dibalik)
Deklarasi : Temp : String Dekripsi :
Temp “ “
for (i length() of a -1 until i >= 0) then //ChartoString : fungsi buatan
temp += (ChartoString a[i]) end
Output temp
4.3.1.4. Kode parsing biner ke Desimal
Pada tabel 4.6 merupakan method biner ke desimal, dimana memiliki inputan yaitu angka biner yang bertipe string. Dengan binarraydes, memiliki proses bahwa nilai perkarakter akan dibagi / dipecah kedalam array lalu akan dilakukan perhitungan per indexnya.
Tabel 4. 6 Method parsing biner ke desimal Fungsi binarraytodes (kalimat : String) long
(input : suatu string angka biner dimana akan
diubah ke nilai desimal
Proses : mengubah tipedata string ke dalam nilai long
Output : nilai angka desimal dengan tipe data long)
Deklarasi :
A, b, batas1, batas2, nilai2 : integer Hasil : long
Nilai1 : String Nilaides : double
Dekripsi :
A 0; b 1; Hasil0;
batas1 length() of kalimat -1;
batas2 length() of kalimat -1;
while(a<=batas1) then
nilai1 kalimat pada index [a, b]
nilai2 parsing to integer(nilai1) nilaides = nilai2*Math.pow(2, batas2);
hasil=(long) (hasil+nilaides);
end
output hasil
4.3.1.5. Kode parsing desimal ke biner
Pada tabel 4.7 method desimal menjadi biner disini, dimana nilai inputan suatu desimal melakukan perhitungan seperti pada umumnya, sehingga menghasilkan
nilai biner namun pada tahap didapatkan nilai biner, nilai biner tersebut akan diubah kembali menjadi bertipe data string
Tabel 4. 7 Fungsi parsing desimal ke biner Fungsi destobin (a : long) String
(input : angka desimal yang ditampung dalam tipe data long
Proses : mengubah angka tersebut ke dalam suatu string biner
Output : nilai biner yang bertipe data String) Deklarasi :
Hasilmod, hasilbagi, langkahPerhitungan : long Hasil, hasilbalik : String
Balik : char
Dekripsi :
hasilMod 1; hasilBagi a;
hasil " "; langkahPerhitungan 1;
while (hasilBagi>0) then
hasilMod=hasilBagi%2;
hasilBagi=hasilBagi/2;
hasil+=hasilMod+"";
end
hasilBalik " ";
for(I length() of hasil – 1 until i>=0) then balik=hasil index [i];
hasilBalik+=balik;
end
output hasilBalik;
4.3.1.6. Kode menggeser String
Pada tabel 4.8 method penggeseran string disini, dimana memiliki inputan String kalimat dan nilai pergeserannya. Dengan proses menggunakan index kalimat tersebut dan akan dilakukan pergeseran dengan menggunakan index sesuai dengan ketentuan angka.
Tabel 4. 8 method pergeseran bit biner (string) Fungsi geser (masuk : String, geser : integer) String (input : String yang akan digeser, dan seberapa banyak String tersebut ingin digeser
Proses : menggeser String yang dimaksut sejumlah angka yang diinginkan
Output : String yang telah digeser sesuai keinginan)
Deklarasi : Temp : String
Dekripsi :
temp " ";
for (I 0 until i < length() of masuk) then //ChartoString : fungsi buatan
temp += ChartoString(masuk index ([geser+i] % length() of masuk));
}
Output temp;
4.3.1.7. Kode perhitungan XOR bilangan biner
Pada tabel 4.9 method perhitungan XOR, sama serupa dengan perhitungan XOR pada umumnya. Namun pada fungsi ini dilakukan perhitungan dengan inputan bertipe data String dan dengan membandingkan perkarakter dari String tersebut.
Dimana kedua inputan perkarakter memiliki nilai yang sama maka menghasilkan nilai 0, dan jika berlawanan maka menghasilkan nilai 1.
Tabel 4. 9 Method XOR biner
Fungsi BinertoXOR (a : String, b : String) String (input : dua string yang ingin dihitung hasil XOR nya
Proses : menghitung nilai XOR dari dua string biner
Output : nilai XOR dua string) Kamus :
Temp : String Algoritma :
Temp " ";
for (i 0 until i < a.length()) then if(a index(i) == b index(i)) then temp += "0";
end
else then
temp += "1";
end end
output temp;
4.3.2 Pembuatan Antarmuka
Pada gambar 4.4 merupakan aplikasi pengamanan pada dokumen berekestensi docx yang hanya memiliki satu halaman pengguna. Berikut penjelasan mengenai masing-masing fungsi :
a. Textfield = yang digunakan sebagai tempat untuk menerima inputan dokumen yang ingin di enkripsi, kalimat kunci yang terdiri dari 32 karakter, dan jumlah putaran yang diinginkan.
b. Button :
- Browse file = digunakan untuk mencari dimana sumber file diletakkan\
- Enkrip = digunakan untuk melakukan proses enkripsi, dimana informasi dalam dokumen akan diolah dan dilakukan proses perhitungan, sehingga akan menampilkan informasi asli dokumen di area pertama, dan isi pesan (user dan password suatu akun bank) pada area kedua sedangkan menampilkan informasi hasil enkripsi di area ketiga.
- Simpan file enkrip = digunakan untuk menyimpan hasil enkripsi yang ditampilkan di area kedua, dan akan menuju dimana letak file akan disimpan.
- Dekrip = digunakan untuk mendekripsi kembali informasi diarea 2 dan menampilkan hasil dekripsi di area ketiga. Sehingga informasi yang dihasilkan akan sesuai dengan informasi asli di area pertama.
- Ulang = digunakan untuk mengulang proses, atau merefresh aplikasi agar dapat melakukan enkripsi dan dekripsi pada dokumen kembali.
Gambar 4. 4Gambar Hasil Enkripsi dan Dekripsi pesan pada dokumen
Pada gambar 4.5 merupakan gambar dari hasil bahwa informasi hasil enkripsi disimpan ke dalam file baru. Disini penulis memberi nama untuk file baru dengan nama “hasil” sedangkan nama asli untuk file asli adalah “cth.docx”.
Adapun perbedaan dari file asli dan hasil enkripsi adalah ukuran file dokumen hasil enkripsi jauh lebih kecil daripada file dokumen asli. Dan memiliki ekstensi dokumen yang berbeda pula.
Gambar 4. 5 Hasil File baru yang tesimpan
4.4 Penelitian
4.4.1 Pengujian dengan black box
Pengujian black box merupakan pengujian yang dilakukan dengan melihat fungsionalitas program yang dibuat, tanpa melihat source code. Pada aplikasi pengamanan dokumen berekstensi docx ini akan dilakukan pengujian black box dengan menguji beberapa testcase. Berikut testcase yang akan diujikan.
Dimana pada tabel 4.10 dilakukan pengujian blackbox terhadap button, text field, dan text area yang digunakan.
Tabel 4. 10 Testcase Pengujian BlackBox
Pada pengujian tersebut, dapat dilakukan inputan dokumen, kemudian melihat, menyimpan hasil enkripsi dan melihat hasil dekripsi. Yang dihasilkan pada tabel 4.11 dimana hasil coba sesuai dengan pada pengujian pada blackbox.
Tabel 4. 11 Hasil Pengujian Data yang
dimasukkan
Yang diharapkan
Pengamatan Kesimpulan
Inputan dokumen berekstensi docx
Menerima inputan, berhasil
terenkripsi, terdekripsi dan menyimpan file
baru
Dokumen berhasil terenkripsi, terdekripsi dan
tersimpan ke dalam file baru
[V] diterima [ ] ditolak
4.4.2 Uji Coba terhadap Serangan
Uji coba sering kali dilakukan didalam suatu penelitian sehingga dapat memiliki hasil atau lebih mengerti mengenai hasil penelitian yang dihasilkan. Dan untuk menguji suatu hasil penelitian umumnya menggunakan suatu sampel, dikarenakan penelitian penulis mengenai sistem keamanan suatu dokumen docx maka akan dilakukan suatu serangan terhadap hasil penelitian ini.
Serangan yang dilakukan adalah dengan menggunakan SBOX Variasi dan melakukan pengujian jenis kunci dimana penulis dapat mengetahui jenis variasi kunci yang lebih baik digunakan sehingga akan lebih sulit terpecahkan.
a. Brute Force
Brute force adalah metode dimana dengan mencoba semua kemungkinan kombinasi yang ada. Namun menghasilkan waktu yang cukup lama. Seperti pada tabel 4.12 yang merupakan hasil pengujian sampel jenis kunci sebanyak 32 karakter (disesuaikan dengan kebutuhan algoritma) dan lama terpecahkannya.
Tabel 4. 12 Sampel Jenis Kunci dan Lama Terpecahkannya Jenis Kunci Yang Digunakan Lama Waktu Terpecahnya aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
aaa
62,9 x 108 triliun abad
AAAAAAAAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAAAA
62,9 x 108 triliun abad
11111111111111111111111111 111111
3,53 ratus juta abad
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! 12,83 x 1012 triliun abad aA1!aA1!aA1!aA1!aA1!aA1!a
A1!aA1!
6,220 X 103triliun triliun triliun abad
b. Pengujian menggunakan SBOX variasi
Dengan menggunakan dokumen yang disesuaikan dengan lampiran = Informasi dalam Dokumen = “Komputer”
Key =“STMIK Profesional Makassar, 2012” (32
karakter)
Dimana pada tabel 4.13 terdapat proses enkripsi dan dekripsi yang murni / asli dengan menggunakan variasi n. n yang digunakan disini dengan nilai n = 1,2,3,4,5.
Tabel 4. 13 Bukti bahwa algoritma GOST hanya dapat berjalan pada 32 putaran
n Jumlah
Putaran (2n) Hasil Enkripsi Hasil Dekripsi
1 2 .xÞ¶» ì² Ct-”Ó˜kh
2 4 ÒfÖ
§ô
Tidak dapat terdekripsi
3 8 Tidak dapat terenkripsi
Tidak dapat terdekripsi
4 16 Tidak dapat terenkripsi
Tidak dapat terdekripsi
5 32 òUù Cöú Komputer
6 64 Tidak dapat terenkripsi
Tidak dapat terdekripsi
Pada tabel 4.14 merupakan hasil pengujian dengan menggunakan SBOX variasi. Pada kolom hasil penyerangan di tabel 4.14 merupakan hasil dekripsi dari kalimat enkripsi (4.13) yang menggunakan SBOX variasi. Dan hasil dekripsi pada tabel 4.13 akan dibandingkan dengan hasil penyerangan di tabel 4.14 dan dilakukan perhitungan persamaan bit yang dihasilkan.
Tabel 4. 14 Hasil Pengujian Menggunakan SBOX Variasi N Putaran Hasil
Penyerangan
Berhasil / Gagal
Persamaan Banyaknya Bit
(%)
1 2 Q³8M¤oGh Gagal 62.5 %
5 32 Cöú òUù Gagal 50.0 %
Pada tabel 4.15 berikut merupakan nilai dari SBOX asli dari algoritma GOST ini yang digunakan untuk perhitungan umumnya.
Tabel 4. 15 SBOX asli
Tabel SBOX 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 S-box 0 4 10 9 2 13 8 0 14 6 11 1 12 7 15 5 3 S-box 1 14 11 4 12 6 13 15 10 15 3 8 1 0 7 5 9 S-box 2 5 8 1 13 10 3 4 2 4 15 12 7 6 0 9 11 S-box 3 7 13 10 1 0 8 9 15 9 4 6 12 11 2 5 3 S-box 4 6 12 7 1 5 15 13 8 13 10 9 14 0 3 11 2 S-box 5 4 11 10 0 7 2 1 13 1 6 8 5 9 12 15 14 S-box 6 13 11 4 1 3 15 5 9 5 10 14 7 6 8 2 12
S-box 7 1 15 13 0 5 7 10 4 10 2 3 14 6 11 8 12
Pada tabel 4.16 merupakan nilai SBOX variasi dengan nilai n = 1, sehingga SBOX variasi ini digunakan dengan memiliki 2 putaran. Nilai SBOX ini didapatkan dari nilai SBOX asli dibagi dengan banyaknya putaran yang dilakukan.
Tabel 4. 16 SBOX pada n = 1 (2n --> 2)
Tabel SBOX 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 S-box 0 0 0 1 1 6 4 0 7 3 5 0 6 3 7 2 1 S-box 1 7 5 2 6 3 6 7 5 1 1 4 0 0 3 2 4 S-box 2 2 4 0 6 5 1 2 1 7 7 6 3 3 0 4 5 S-box 3 3 6 5 0 0 4 4 7 7 2 3 6 5 1 2 1 S-box 4 3 6 3 0 2 7 6 4 2 5 4 7 0 1 5 1 S-box 5 2 5 5 0 3 1 0 6 1 3 4 2 4 6 7 7 S-box 6 6 5 2 0 1 7 2 4 0 5 7 3 3 4 1 6 S-box 7 0 7 6 0 2 3 5 2 4 1 1 7 3 5 4 6
Pada tabel 4.17 merupakan nilai SBOX variasi dengan nilai n = 5, sehingga SBOX variasi ini digunakan dengan memiliki 32 putaran. Nilai SBOX ini didapatkan dari nilai SBOX asli dibagi dengan banyaknya putaran yang dilakukan.
Tabel 4. 17 SBOX pada n = 5 (25 --> 32)
Tabel SBOX 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 S-box 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 S-box 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 S-box 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 S-box 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 S-box 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
S-box 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 S-box 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 S-box 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Dengan menggunakan sampel dokumen lain=
Dokumen = “Komputer”
Key = “UDINUS emang jempol dan oke,2017” (32 karakter) Dengan tabel 4.18 telah dibuktikan bahwa algoritma ini hanya berjalan dengan putaran sebanyak 2n dimana n yang digunakan adalah 5 dimana telah menggunakan sampel key yang berbeda dengan pengujian pada tabel 4.13.
Tabel 4. 18 Bukti bahwa algoritma GOST hanya berjalan pada 32 putaran
c. Penggunaan dengan menggunakan variasi isi dokumen docx
Dokumen berisi tekstual
n Jumlah
Putaran (2n) Hasil Enkripsi Hasil Dekripsi
1 2 ϹI/´ Tidak dapat
terdekripsi
2 4 áµãN = Tidak dapat
terdekripsi
3 8 Tidak dapat terenkripsi Tidak dapat terdekripsi
4 16 Tidak dapat terenkripsi Tidak dapat terdekripsi
5 32 =ägc• ¸ Komputer
6 64 Tidak dapat terenkripsi Tidak dapat terdekripsi
Algoritma ini dapat mengenkripsi dokumen docx yang berisi tekstual sesuai uji coba yang dilakukan sebelumnya.
Dokumen berisi gambar
Pada gambar 4.6 merupakan isi dari dokumen docx dimana isi dokumen tersebut hanya berisi satu gambar taman.
Dan dari hasil uji coba yang dilakukan bahwa sistem ini tidak dapat melakukan pembacaan terhadap file gambar sehingga tidak dapat terenkripsi.
Gambar 4. 6 sampel isi dokumen docx 2
Dokumen berisi tekstual dan gambar
Pada gambar 4.7 merupakan sampel isi dari suatu dokumen yang memiliki gambar sebuah taman dengan keterangan tulisan dibawah gambar yang terbaca “sebuah taman hijau”. Dan sistem dapat mengenkripsi dibagian tekstual nya saja sedangkan pada bagian gambar tidak dapat terbaca / terenkripsi.
Gambar 4. 7 sampel isi dokumen docx 3
Sehingga dapat dilihat hasil enkripsi pada gambar 4.8 yang didapat dari dokumen yang berisi tekstual dan gambar.
Gambar 4. 8 hasil running dengan dokumen gambar + tekstual