Penerbit Universitas Muhammadiyah Malang
Editor:
Sugiarti Eggy Fajar Andalas
KESATUAN DALAM KEBERAGAMAN
Paradigma Mutakhir Bahasa, Sastra,
dan Pembelajarannya
Hak Cipta Sugiarti, Gigit Mujianto, Sudjalil, Eggy Fajar Andalas, Fida Pangesti, Arti Prihatini, Candra Rahma Wijaya Putra, Faizin, Arif Setiawan, Hidayah Budi Qur’ani, 2020 Hak Terbit pada UMMPress
Penerbit Universitas Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang 65144 Telepon: 0812 1612 6067, (0341) 464318 Psw. 140 Fax. (0341) 460435
E-mail: [email protected] http://ummpress.umm.ac.id
Anggota APPTI (Afiliasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia) Anggota IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia)
Cetakan Pertama, Oktober 2020 ISBN 978-979-796-544-0 e-ISBN 978-979-796-543-3 vi; 144 hlm.; 16 x 23 cm
Editor : Sugiarti & Eggy Fajar Andalas Setting Layout : Eggy Fajar Andalas Design Cover : Andi Firmansah
Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun, termasuk fotokopi, tanpa izin tertulis dari penerbit. Pengutipan harap menyebutkan sumbernya.
KESATUAN DALAM KEBERAGAMAN
Paradigma Mutakhir Bahasa, Sastra,
dan Pembelajarannya
Sanksi Pelanggaran Pasal 113 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014
tentang Hak Cipta
(1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah).
(2) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
(4) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).
iv Sambutan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan....
SAMBUTAN
DEKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji syukur patut kita panjatkan kehadirat Allah S.W.T atas limpahan rahmat dan karunia- Nya buku Bungai Rampai “Kesatuan dan Keberagaman: Paradigma Mutakhir Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya” dapat terbit. Buku bunga rampai ini merupakan keinginan para penulis untuk berkomitmen memberikan kontribusi pemikiran dalam merespon perkembangan bahasa, sastra, dan pembelajaranya di era saat ini yang telah mengalami perubahan cukup signifikan.
Berbagai pemikiran yang dikemas dengan kesatuan dan keberagaman termaktub dalam bunga rampai. Beberapa pemikiran yang dituangkan berkaitan dengan pembelajaran sastra, kesantuan dalam berbahasa, pembelajaran di BIPA dan peran perempuan dalam keluarga di era pandemi. Meskipun topik yang dikaji bervariasi, namun pada hakikatnya tetap bertumpu pada roh keilmuan untuk berkontribusi membangun keberagaman yang bermakna. Dengan kekayaan tema yang tersaji dalam bunga rampai ini dapat memberikan manfaat tidak hanya kepada dosen, guru, mahasiswa tetapi juga pada masyarakat luas yang memiliki komitmen dan perhatian terhadap perkembangan keilmuan bahasa, sastra, dan pembelajaran dalam berbagai situasi.
Kehadiran bunga rampai ini sebagai bentuk komitmen akademik kerja tim dosen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMM dalam memberikan sumbangan pemikiran terhadap peran bahasa, sastra, dan pembelajaran sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Melalui buku ini, saya berharap masyarakat dan dosen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMM dapat bertumbuh dan memperluas cakrawala ilmu pengetahuan bersama-sama. Saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi atas dedikasi dan komitmen yang diberikan demi terselesaikannya buku ini. Disadari bahwa buku ini tidak terlepas dari kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, saran dan masukan dari pembaca sangat kami harapkan.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Malang, 15 Oktober 2020 Dr. Poncojari Wahyono, M.Kes
Prakata Editor v
PRAKATA EDITOR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Sejak pandemik covid-19 melanda banyak perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan bagaimana proses pembelajaran dilakukan, tetapi juga perkembangan paradigma keilmuan, khususnya dalam bidang Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya. Sebagai salah satu rumpun keilmuan Humaniora, dosen prodi Pendidikan Bahasa Indonesia merasa perlu merespon berbagai perkembangan yang saat ini terjadi. Peran bidang ilmu humaniora harus memberikan kontribusinya terhadap pembangunan Nasional, utamanya pembangunan “manusia” Indonesia.
Buku ini terdiri dari 10 judul artikel mengenai perkembangan yang terjadi dalam ilmu bahasa, sastra, dan pembelajarannya. Kesepuluh judul artikel ditulis oleh dosen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Malang.
Tema yang ditulis beragam, mulai dari permasalahan pembelajaran dalam situasi pandemik, strategi kebijakan internasionalisasi bahasa Indonesia, hingga perkembangan paradigma mutakhir dalam kajian bahasa dan sastra.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada para kontributor yang terlibat dalam penyusunan buku ini. Terima kasih juga disampaikan kepada Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, serta rekan dosen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia yang telah memberikan dukungan pada kerja intelektual ini sehingga dapat terwujud.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Malang, 13 Oktober 2020 Dr. Sugiarti, M.Si, Eggy Fajar Andalas, S.S., M.Hum
vi Daftar Isi
DAFTAR ISI
Sambutan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang
Prakata Editor Daftar Isi
1. Sastra Virtual: Alternatif Bahan Pembelajaran Sastra di Era Pandemi (Sugiarti)
2. Mengembangkan Kemampuan Berbahasa Santun Melalui Perspektif Komunikasi dan Akhlak Pembelajar Bahasa Indonesia (Gigit Mujianto)
3. Problematika Pembelajaran Keaksaraan Pada Murid Taman Kanak-Kanak Ketika Masa Pandemi (Sudjalil) 4. Performance-Centered-Approach: The Concept and
It’s Signification for Oral Literature Studies (Eggy Fajar Andalas)
5. The Cultural Impact on BIPA’s Learning: Case Study of Thai Students in Regular Thailand Program Universitas Muhammadiyah Malang (Fida Pangesti)
6. Peran Bahasa dalam Risk Communication Selama Pandemi Covid-19 (Arti Prihatini)
7. Pengimajinasian Bangsa Melalui Sastra dan Pandemi (Candra Rahma Wijaya Putra)
8. Geodiplomasi dalam Manajemen Ke-BIPA-an sebagai Optimalisasi Internasionalisasi Bahasa Indonesia (Faizin)
9. Problematika Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Secara Daring di Masa Pandemi (Arif Setiawan)
10. Peran Perempuan dalam Keluarga Selama Pandemi Covid-19 (Hidayah Budi Qur’ani)
Tentang Penulis
v
34 51 65
75 88 101 114
138 vi
14 1
127 iv
Sastra Virtual: 1
Alternatif Bahan Pembelajaran Sastra di Masa Pandemi
Sugiarti
Di Masa pandemi COVID 19 sastra virtual mendapatkan tempat yang strategis. Banyak orang yang ingin menuliskan segala pemikirannya sesuai dengan genre sastra menggunakan media virtual sebagai sarananya. Sastra ini memiliki karakteristik cepat diakses, penulis memiliki keleluasaan dalam menuangkan ide atau gagasannya, keberadaan penulis menjadi luas, interaktif antara pembaca dan penulis, serta dapat direvisi setiap saat. Berdasarkan karakteristik tersebut sastra visual mendapatkan angin segar dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Selain itu, perkembangan dan beranekanya kolektifitas serta perkembangan kecanggihan kebudayaan atau peradaban umat memiliki korelasi yang positif (Faruk, 2004: 61). Kondisi ini berdampak pada dunia sastra, khususnya di Indonesia sehingga mulai muncul istilah sastra cyber.
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) melalui berbagai perangkat yang dikembangkan untuk tujuan pendidikan dan diseminasi informasi. Terlebih pada era Revolusi Industri 4.0 sekarang ini banyak media sosial yang memiliki konten bernilai pendidikan. Pada dasarnya, pada abad 21 pendidikan dapat dimaknai sebagai proses belajar mengajar yang mengutamakan skill pemecahan masalah, berpikir kritis, kreatif, dan komunikatif. Pembelajaran abad 21 meliputi aspek pembelajaran yang lebih luas dan dinamis. Proses penilaiannya melibatkan implementasi dalam kehidupan sehari-hari dan kondisi yang berbeda (Friedman, 2018). Bahkan dalam situasi lebih lanjut pelajar dapat mengakses informasi untuk belajar pada waktu yang diingikannya (Ally, 2009). Perubahan yang dibawa oleh teknologi digital tersebut mampu mengabaikan konsep ruang dan waktu. Ruang tidak dipahami sebagai sesuatu yang dibatasi dengan sekat, tetapi ruang memiliki dimesi yang sangat luas. Demikian
2 Sastra Virtual: Alternatif Bahan Pembelajaran Sastra di Era Pandemi pula sastra virtual memiliki ruang tak terbatas yang dapat dijamah oleh siapapun. Hal ini berimplikasi pada pendidik dan peserta didik untuk terampil menggunakan sarana TIK secara baik. Dengan penguasaan TIK secara maksimal akan memudahkan segala proses penuangan ide dalam bentuk karya kreatif, imajinatif, serta komunikatif. Dalam hal ini, ruang menjadi persoalan penting dalam terkait dengan waktu.
Persoalan ruang tentunya akan memiliki kesesuaian dengan berbagai jenis pergerakan materi fisik, geologis, mekanik, astronomi, biologis, dan sosial-historis. Namun, ruang selalu mengalami perubahan mengikuti perkembangan waktu. Dengan dalih “pembangunan nasional” maka mengakibatkan ruang-ruang tradisional terhimpit keberadaannya oleh modernitas. Ruang dalam karya sastra (novel) memiliki cara menghadirkan yang berbeda. Hal ini dijelaskan Upstone (2016) dalam bukunya Spatial Politics in the Postcolonial Novel, pembacaan novel-novel pascakolonial yang difokuskan pada bahasan politik ruang. Termasuk di dalamnya pembahasan tentang homogenitas, seperti modernisasi, terhadap kelompok-kelompok tradisional dalam kerangka
“nasionalisme”. Namun yang terjadi dalam novel Glonggong ruang dan waktu sebagai sarana untuk hidup bagi tokoh (Sugiarti, 2019: 266). Ruang virtual menjadi milik bersama antara penulis dan membaca. Ruang itu ada dimana-mana dan kemana-mana karena ruang virtual wilayah geografis dapat menjangkau berbagai sudut dunia secara cepat cukup dengan memanfaatkan sarana TIK.
Perkembangan sastra Indonesia yang menggunakan media cyber atau teknik multimedia bisa dikatakan makin menampakkan peningkatan yang signifikan di masa pandemic COVID 19. Hal ini tampak semakin menjamurnya sastra virtual dengan memanfaatkan internet. Semenjak pemerintah mulai menetapkan pembatasan sosial dan menghimbau warga untuk di rumah saja, terjadi pula perubahan gaya hidup yang cukup signifikan, salah satunya dalam penggunaan media sosial. Facebook, instagram, dan whatsapp mencatat lonjakan yang cukup signifikan dalam penggunaan media sosial secara global. Pada bulan Maret lalu total pesan yang dikirimkan melalui facebook, instagram, dan whatsapp meningkat hingga 51% dibandingkan dengan bulan sebelumnya (Burhan, 2020).
Hal ini diamini oleh perwakilan Facebook yang menyampaikan bahwa
Sugiarti 3
selama masa pandemi mereka mencapai rekor baru dalam penggunaan hampir tiap harinya (VOI, 2020). Berdasarkan kumparan.com, pengguna internet mencapai 175, 4 juta sementara penduduk Indonesia sekitar 272,1 juta. Melihat perkembangan yang ada internet saat ini sudah menjadi kebutuhan masyarakat Indonesia. Menurut riset platform manajemen media sosial HootSuite dan agensi marketing sosial We Are Social bertajuk “Global Digital Reports 2020”, hampir 64 persen penduduk Indonesia sudah terkoneksi dengan jaringan.Hal ini terjadi lonjakan 19 pesern apabila dibandingkan dengan pengguna internet pada tahun 2019 mencapai 45 persen.
Sastra virtual dapat dijadikan sebagai bahan untuk pembelajaran sastra di era pandemi. Mengapa? Karena kita sadari bahwa telah terjadi perkembangan cukup pesat terkait sastra virtual yang dapat diakses dengan mudah melalui sarana TIK. Pada kondisi pandemi Covid seperti sekarang ini guru harus memanfaatkan TIK secara maksimal. Dalam hal ini, pembelajaran harus didesain sedemikian rupa sehingga potensi- potensi peserta didik dapat digali secara baik. Selanjutnya, guru harus kreatif dan inovatif dalam mendesain pembelajaran sehingga dapat dikuti oleh peserta didik secara mudah dan menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan merupakan suatu upaya untuk meminimalisir kejenuhan dan kebosanan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Oleh karena itu, guru perlu melakukan pembaharuan dalam pembelajaran.
Guru perlu melakukan pemilihan model pembelajaran yang baik yang sesuai dengan karakter peserta didik dan materi yang dipelajari.
Pemilihan model pembelajaran ini merupakan salah satu bentuk upaya serta perencanaan untuk menciptakan pembelajaran yang baik yang sesuai dengan Permendikbud No. 22 tahun 2016 tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah (dalam BSNP, 2009:9). Dalam hal ini proses pembelajaran pada satuan pendidikan hendaknya diselenggarakan secara interaktif, kreatif, menyenangkan dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik (Sugiarti, 2020: 18).
Dalam pembelajaran sastra tentunya pendidik harus memberikan kebebasan peserta didik untuk menelusuri karya-karya sastra virtual yang dapat diperoleh dengan mengakses internet. Dalam hal ini, ada dua hal yang dapat diperoleh peserta didik yaitu melakukan literasi
4 Sastra Virtual: Alternatif Bahan Pembelajaran Sastra di Era Pandemi sesuai dengan bahan yang disampaikan oleh guru serta membentuk karakter peserta didik untuk bertanggung jawab atas tugas yang harus diselesaikan. Selanjutnya, pendidik berperan sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Selain itu, guru menyediakan evaluasi sesuai dengan target pembelajaran yang dilakukan.
Disadari bahwa sumber pembelajaran dapat diperoleh dari mana saja baik luring maupun daring. Akan tetapi, pada situasi pandemi sekarang ini pembelajaran daring menjadi solusi agar proses belajar peserta didik dapat dilakukan sebagaimana mestinya. Namun yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran daring adalah materi inti yang menjadi titik poin sedangkan materi pengayaan untuk pengembangan menjadi tugas mandiri. Pembelajaran daring agar didesain peserta didik berpikir kritis dan kreatif sehingga kebebasan berpikir dapat terasah dengan baik. Dalam konteks ini, berbagai persiapan pembelajaran harus didesain sedemikian rupa sehingga proses belajar anak dapat berjalan secara kondusif dan tidak membosankan. Oleh karena itu, guru harus kreatif, inovatif, dan inspiratif. Dalam mengupayakan hal ini tentunya guru harus mampu menelusur sumber belajar yang dapat diakses peserta didik secara baik dan sesuai dengan capaian pembelajaran yang ditetapkan.
Berkenaan dengan pemikiran di atas makalah ini mengungkapkan tentang pembelajaran sastra di masa pandemi dengan menfokuskan pada 2 hal yaitu (1) sastra virtual sumber belajar yang tidak pernah kering, (2) model komunikasi sastra dengan pembaca, peran teknologi komunikasi informasi dalam pembelajaran. Kedua hal ini menjadi penting karena posisi sastra virtual mampu menginpirasi seseorang untuk menulis dan belajar sastra secara langsung. Di sisi lain, sastra virtual menjadikan sarana dalam rangka membangun komunikasi karya sastra dan pembaca dalam konteks pembelajaran. Dengan demikian terjadi simbiosis mutualisme antara penulis, pembaca serta sarana penunjang pembelajaran sastra sehingga karya sastra menjadi entitas penting yang mampu membentuk kehalusan budi pembacanya.
Sastra Virtual Sumber Belajar yang Tidak Pernah Kering
Ada apa dengan sastra virtual? Sastra virtual merupakan karya sastra yang sengaja ditulis dengan memanfaatkan sarana virtual yaitu internet.
Sugiarti 5
Sastra virtual (sastra cyber) juga dapat didefinisikan sebagai aktivitas sastra yang memanfaatkan computer atau internet. Perkembangan sastra cyber di Indoensia mulai dikenal oleh khalayak di akhir tahun 1990an bersamaan dengan diluncurkannya buku antologi puisi cyber berjudul Grafitti Gratitude (Septriani). Secara filosofis sastra cyber tidak berbeda dengan sastra lisan, sastra tulis, sastra cetak, dan sastra lainnya karena juga bertujuan mencerdaskan kehidupan budaya masyarakat kita (Merawati, 2017).
Ketika pemerintah memberlakukan WFH karya sastra virtual demikian menjamur seperti tanaman tersiram air hujan. Proses kreatif dan imajinatif penulis kaya dengan inspirasi yang berporos pada pandemi COVID 19. Sastra virtual yang muncul beraneka ragam tentunya tidak lepas dengan genre sastra yaitu puisi, prosa dan drama (baik dalam monolog maupun dialog). Kemasan media yang dihadirkan juga bervariasi seperti melalui youtobe, instragram, WA, dengan fitur-fitur yang beragam.
Dalam sastra pembaca dapat memperluas pengalaman kehidupan.
Individu dapat menjalani segala macam peran dan mengalami segala macam situasi dalam karya sastra. Peran-peran yang tidak pernah terpikirkan dan mustahil dilakukan di dunia nyata menjadi mungkin untuk dihayati melalui sastra. Penghayatan ini menjadi media bagi pembaca untuk lebih berempati pada nasib dan permasalahan manusia (Sarjono, 2003).
Peran karya sastra sebagai pembentuk karakter anak bangsa telah terbukti cukup efektif. Karya sastra mengandung nilai-nilai keluhuran, budi pekerti, serta kemanusiaan yang dapat menunjang moralitas kehidupan. Seringkali karya sastra menggambarkan bagaimana penulisnya menangkap kehidupan dan lingkungan di sekitar penulis (Budianta dalam Sugiarti, 2012 ). Dapat dikatakan bahwa karya sastra dipengaruhi tidak hanya oleh faktor sosial, tetapi juga faktor budaya.
Kesemuanya itu bersumber dari kreatifitas imajinasi pengarang dalam merespon persoalan sosial yang terjadi dalam masyarakat.
Dalam pembelajaran karya sastra sebagai sumber inspirasi yang dapat digali secara baik. Melalui karya sastra peserta didik memperoleh pengalaman-pengalaman baru yang memungkinkan belum pernah
6 Sastra Virtual: Alternatif Bahan Pembelajaran Sastra di Era Pandemi dialami ataupun dirasakan sebelumnya. Secara tidak langsung telah terjadi proses untuk menjadi tahu dan /atau menjadi termotivasi untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Apalagi dengan perkembangan industri 4.0 mengubah semua aspek kehidupan.
Pada tingkat yang paling mendasar, industri 4.0 dapat mempersatukan dunia maya dan fisik serta memberikan kesempatan mengakses dan menggunakan informasi. Hal ini berpeluang memaksimalkan efisiensi dan membangkitkan inovasi secara luas (Savitri, 2019). Disinilah terjadi interaksi yang dibangun dengan memanfaatkan media teknologi sebagai sarana komunikasi dalam pembelajaran.
Komunikasi Sastra dengan Pembaca, Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembelajaran.
Komunikasi sastra dengan pembaca bukanlah komunikasi yang sifatnya menyampaikan pesan semata tetapi lebih luas dari itu. Bangunan komunikasi yang dimunculkan adalah penggunaan bahasa yang estetis yang mengarah pada keterbukaan untuk menerima apa adanya. Ketika seseorang menerima apa adanya berarti telah terjadi ikatan yang tanpa memberikan jarak antara keduanya. Keduanya sangat membutuhkan karena sesuatu yang disampaikan sastra memang dibutuhkan oleh pembaca.
Karya sastra mampu menembus relung-relung kehidupan yang mungkin belum terjangkau oleh pemikiran manusia. Keseluruhan kehidupan manusia, masyarakat, bangsa dapat dibingkai dalam hasil karya sastra. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pengarang sebagai penghasil sastra dengan caranya yang khas dia mampu mengekplorasi pengalaman kehidupan secara unik. Keunikan itu dapat diperhatikan pada cara pengarang dalam membuat jarak estetik (esthetic distance).
Selain itu, pengarang selalu berupaya untuk menyajikan sesuatu dengan kekuatan-kekuatan batiniah maupun lahiriah melalui proses kreatif dalam menghasilkan sebuah karya sastra (novel) (Sugiarti, 2011)
Pada ancangan pragmatis sebagaimana diungkapkan Sujarwanto (2001: 509) memandang sastra sebagai salah satu sumber pemenuhan kebutuhan batin. Sastra mengandung nilai estetis, hiburan, dan
Sugiarti 7
kenikmatan batin yang merupkan fitrah manusia. Hal ini sejalan dengan pemikiran Burke (2015) menyatakan bahwa membaca sastra merupakan kegiatan yang bertujuan mendapatkan kesenangan dan juga pengetahuan. Di samping itu, karya sastra mengandung amanat spiritual yang berbalutkan etika. Seringkali setelah membaca karya sastra seseorang mampu melakukan instropeksi diri. Dengan kata lain, sastra membuat remaja dapat mengeksplorasi dan memahami dunianya.
Sastra bahkan mampu meluaskan cakrawala pemikiran remaja tentang kehidupan. Melalui sastra, remaja dapat meningkatkan pengetahuan, mengeksplorasi perasaannya, membentuk sistem nilai, dan memikirkan kehidupan di luar kehidupan pribadinya (Galda, Cullinan, & Sipe, 2010:
34; Sugiarti, 2012). Ketika remaja kita sudah dapat menggauli sastra secara baik maka akan tumbuh benih-benih untuk mengasah kehalusan budi menjadi pribadi yang arif dalam bertindak dan bersikap.
Perkembangan sekarang ini remaja Indonesia telah memasuki dunia digital yang membawa konsekuensi logis mereka akrab dengan dunia tersebut. Hal ini memiliki dampak positif pada remaja. Semua keinginan untuk menulis yang memanfaatkan sarana internet demikian mudah bagi remaja, pengarang, penyair dan sebagainya. Hal ini sejalan dengan pemikiran Supriatin (2012:490 mengemukakan bahwa perkembangan positif sastra yang disumbangkan oleh teknologi dapat dilihat dari gejala yang ada sebagai berikut
a. Kualitas: peningkatan mutu karya sastra digital secara jelas terbaca dari hasil karya dari hari ke hari. Kemudian, apabila media cetak konvensional seperti koran dan majalah masih dianggap sebagai satu-satunya alat ukur mutu karya, peningkatan mutu karya sastra digital juga dapat dilihat dari semakin meningkatnya jumlah karya sastra digital yang berhasil menembus barikade redaktur sastra koran dan majalah. Sebut saja nama-nama penyair baru seperti Rukmi Wisnu Wardani, Anggoro Saronto, Herri Latief, dan T.S.
Pinang berhasil menembus koran bahkan telah menerbitkan buku.
Para penyair ini mengakui bahwa mereka lahir, tumbuh, dan berkembang berkat media digital.
b. Kuantitas: secara kuantitas perkembangan sastra digital Indonesia
8 Sastra Virtual: Alternatif Bahan Pembelajaran Sastra di Era Pandemi diindikasikan dari meningkatnya jumlah karya yang beredar di dunia cyber dan jumlah penulis yang terus bertambah. Hitungan ini belum termasuk para pengamat atau pelaku sastra pasif;
c. Wilayah: peningkatan wilayah jangkauan dapat dijadikan acuan.
Yang dimaksud wilayah di sini adalah posisi geografis dan wilayah pribadi. Wilayah geografis dapat menjangkau berbagai sudut dunia secara cepat, sedangkan wilayah pribadi memudahkan individu dari berbagai wilayah pribadi bergabung;
d. Jenis: meskipun tidak dapat dikatakan sebagai genre baru, sastra digital telah memberikan alternatif lain dalam penyajian sastra, misalnya penyajian dalam bentuk poetry tree, kolaborasi, multimedia, dan dan sastra computer geeks.
Berkaitan dengan pemikiran di atas dapat dikatakan bahwa kontribusi teknologi dalam perkembangan sastra virtual sangat signifikan. Persoalan ada perdebatan tentang sastra virtual atau sastra cyber dengan sastra non cyber itu hal yang didiskusikan. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa sastra virtual memiliki sumbangan terhadap kesadaran literasi masyarakat tanpa dipaksa. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya jumlah penulis yang menggunggah di media internet agar dapat diakses secara mudah. Hal ini didukung oleh keinginan penulis untuk merespon cepat terhadap situasi dan kondisi masyarakat di masa pandemi. Pandemi sebagai sumber inspirasi dalam menuangkan pemikiran, perasaan, pengembaraan batin yang dilakukan secara intens. Penggunaan bahasa yang segar komunikatif mampu memberikan asupan energi baru bagi pembaca.
Sastra virtual atau sastra cyber dalam khazanahkesusastraan Indonesiaadalahsebagaimedia publikasi, dan sarana berkreasi untuk mampu melahirkan karya sesuai dengan perubahan masyarakat.
Sastra, sesulit apapun, pada dasarnya berusaha untuk menerangkan pemikiran, perasaan, pengalaman, baik empiris maupun metafisis yang telah diketahui oleh sastrawan. Memang dalam prosesnya sastrawan selalu menggunakan imajinasinya untuk menyusun keindahan. Dalam imajinasi itulah sebenarnya pengalaman metafisis sastrawan di dalam karya-karyanya. Setiap sastrawan berharap karya yang diciptakannya
Sugiarti 9
dapat dimengerti dan diapresiasi oleh pembaca, tetapi masih dalam koridor lisensiapuitika (Hidayat. 2008: 263). Meskipun penulis di sastra virtual bukanlah berlatar belakang sastrawan namun tetap diakui sumbangsih pemikiran untuk berbicara sastra dari berbagai sudut pandang patut dihargai. Secara tidak disadari bahwa mereka telah menciptakan komunitas yang memiliki klangenan terhadap sastra yang pada akhirnya masyarakat akan menyenangi sastra dengan istilah lain memasyarakatkan sastra dalam kehidupan serta menghidupkan sastra dalam masyarakat.
Membangun kesadaran baru masyarakat terhadap sastra tidaklah mudah karena awalnya sastra dianggap tidak penting . Akan tetapi, kenyataan di era pandemi ini posisi sastra justru membaik ketika sarana TIK dengan mudah diakses. Oleh karena itu, tidak heran jika orang menyebut puisi pandemi, cerpen pandemi, novel pandemi, monolog pandemi, performance art pandemic dan masih banyak istilah lainnya.
Pada intinya, pandemi menjadi ikon penting tidak hanya di dunia sastra saja tetapi menjadi ikon dunia yang secara massif semua mengenalnya.
Selain itu, seminar , lokakarya, pelatihan apapun semua dikaitkan dengan kata pandemi. Kata pandemi menjadi booming dalam semua tatanan kehidupan masyarakat.
Salah satau media virtual yang digunakan sebagai lahan menulis bagi siapapun untuk menuangkan ide dan gagasan sebagai memanfaatkan media internet untuk ikut mempublikasikan karya mereka. Melalui tahap- tahap hingga akhirnya karya sastra tersebut bisa dinikmati oleh pembaca dan masyarakat. Aplikasi Webtoon dan Wattpad adalah aplikasi berjenis komik dan cerita bertulis di dalam media siber yang bisa digunakan untuk pengarang mempublikasikan karya sastra, aplikasi ini bersifat gratis untuk pembaca serta mudah di dapatkan dengan cara mengunduh di playstore pada bawaan hp android, dan App Store pada bawaan hp iPhone (Yusanta, 2000: 21).
Wattpad merupakan situs online yang menyediakan fitur khusus bagi pemilik akun untuk meng-upload karyanya secara berkala.
Karena diunggah secara berkala, maka karya sastra yang ada dalam Wattpad merupakan karya berseri. Jika dalam bentuk novel, maka karya tersebut biasanya akan diupload per bab (chapter) sehingga akan
10 Sastra Virtual: Alternatif Bahan Pembelajaran Sastra di Era Pandemi berkesinambungan dari bab awal hingga akhir. Selama proses penulisan tersebut, author (pemilik akun/pengarang) akan dapat berinteraksi langsung dengan follower (pengikut/pembaca) yang lebih akrab disebut reader (pembaca). Author dan reader dapat berinteraksi di kolom komentar. Bukan hanya memberikan komentar, follower atau reader bahkan dapat memberikan masukan, kritikan, hinaan, bahkan hujatan.
Seolah-olah telah menjadi kesepakatan yang biasa dan wajar, segala hal yang disampaikan oleh reader bahkan dapat memengaruhi jalan cerita, menjadi pertimbangan author untuk melanjutkan, mengubah, atau bahkan menghentikan cerita (Mawardi, 2018).
Kegiatan berapresiasi dalam sastra digunakan untuk bertukar pikiran, perasaan, pendapat, imajinasi, dan sebagainya sehingga terjadi kegiatan sambut-menyambut. Kegiatan bersastra itu serempak dilakukan dalam kegiatan lain, baik kegiatan jasmani maupun kegiatan rohani. Kegiatan ini akan merangsang terjadinya olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga (Sugiarti, 2011). Kegiatan bersastra pun dilakukan serempak dengan kegiatan merasa, berpikir, berimajinasi, dan sebagainya. Kegiatan bersastra serta kegiatan berbuat itu terjadi dalam konteks, berupa tempat, waktu, dan suasana. Melalui karya sastra, pembaca akan mendapatkan pengalaman baru dan unik yang belum tentu bisa mereka dapatkan dalam kehidupan nyata.
Dalam konteks pembelajaran komunikasi sastra dalam dilakukan dengan memanfaatkan sastra virtual sebagai sumber pembelajaran. Hal ini terkait dengan membangun keakraban siswa dengan berbagai genre sastra yang dapat digunakan sebagai sarana membentuk karakter serta kehalusan budi siswa. Selain itu, kekayaan informasi dalam karya sastra mampu memberikan pengalaman dan pengetahuan baru bagi guru dan siswa dalam menghayati kehidupan ini.
Penutup
Sastra virtual sumber belajar yang tidak pernah kering menggambarkan bahwa sajian yang dihadirkan mampu menambah pengalaman kehidupan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pembaca dihadapkan pada berbagai alternative pilihan yang ada sehingga dapat memilih mana yang disukainya. Disadari bahwa sastra virtual
Sugiarti 11
di masa pandemi covid 19 menyediakan tempat bagi penulis untuk mengekplorasi gagasan dan pemikirannya secara mudah. Informasi- informasi baru yang terjadi diolah sedemikian rupa sehingga dapat menyajikan sesuatu yang tidak pernah berhenti dan memiliki kebaruan yang disajikan baik dari sisi isi maupun penyajian.
Model komunikasi karya sastra dengan pembaca dalam pembelajaran dapat diungkapkan bahwa sastra memberikan kohesi komunikasi yang menarik. Bahasa yang digunakan dalam komunikasi memiliki aspek keindahan yang memberikan keinginan pembaca untuk menikmatinya.
Di sisi lain, sastra dapat membawa suasana tertentu bagi pembaca sehingga pembaca mengalami katarsis. Komunikasi karya sastra dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan baik karena sastra ditempatkan sebagai sumber inpirasi yang dapat digali melalui pembelajaran serta dapat dilakukan oleh siswa dan guru.
Daftar Pustaka
Ally, M. (2009). Mobile Learning: Transforming the Delivery of Educa- tion and Training. Canada: Athabasca University Press.
Burke, Michael. 2015. The Neuroaesthetics of Prose Fiction: Pitfalls, Pa- rameters and Prospects. Frontiers in Human Neuroscience 9,442:
1-12. https://doi.org/10.3389/fnhum.2015.00442
Faruk. 2004. Sastra Cyber: Penjelajahan Awal terhadap Sastra di Inter- net.”dalam Situmorang, Saut (Ed). 2004. Cyber Grafitti: Polemik Sastra Cyberpunk, Edisis Revisi. Yogyakarta: Penerbit Jendela.
Friedman, S. (2018). Teaching 21st Century Skills Requires New As- sess- ments. The Journal. Retrieved from https://thejournal.com.
Galda, L., Cullinan, B.E., & Sipe, L.S. 2010. Literature and The Child (7th ed.). Belmont, CA: Wadsworth/Cengage
Hidayat, Arif. 2008. Sastra cyber Altrnatif Komunikasi Antara Karya Sas- tra dengan Masyarakat Pembaca. Komunika Vol 2 No 2 Juli-Des 2088 hal 260-268.
Mawardi, A. B. (2018). Komodifikasi sastra cyber Wattpad pada penerbit indie. Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan, 13(1), 77-82.
Merawati, F. (2017). Sastra Cyber sebagai Estafet dari Sastra Lisan dan
12 Sastra Virtual: Alternatif Bahan Pembelajaran Sastra di Era Pandemi
Sastra Tulis.Prosiding PIBSI XXXIX Semarang, 7-8 November 2017 Sarjono, Agus R. 2003. Sastra sebagai Sarana Menggugah Budi Pekerti.
http://www.bahasa-sastra.web.id/agus.asp diakses tgl 16 Mei 2009 Savitri, A. (2019). Revolusi Industri 4.0 Mengubah Tantangan Menjadi
Pelu ang di Era Disrupsi 4.0. Yogyakarta: Penerbit Genesis
Septriani, H. FENOMENA SASTRA CYBER: SEBUAH KEMAJUAN ATAU KEMUNDURAN?(PHENOMENON OF CYBER LITERA- TURE: A PROGRESS OR REGRESS?).
Sugiarti, 2011. Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Pembelajaran Sastra.
Makalah disampaikan pada Seminar Internasional dan Kolokium ke III FKIP UMM
Sugiarti. 2012. “Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Pembelaja- ran Sastra”. Makalah Seminar Intenasional Bahasa, Sastra dan Bu- daya Nusantara. Universitas Muhammadiyah Jakarta 16 Februari 2012
Sugiarti. 2019. Representasi Konsep Ruang dan Waktu dalam Novel Glonggong Karya Junaedi Setiyono Perspektif Ekologi Budaya.
Kembara. Vol. 5, No. 2, Oktober, 2019, Hlm: 262-273 ISSN : 2442- 7632 print | 2442-9287 online 264
Sugiarti, 2020. Inovasi dan Desain Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indo- nesia Berbasis Konsepsi Merdeka Belajar dalam Membangun Opti- misme Meretas Kehidupan Baru dalam Dunia Pendidikan. Malang:
UMM Press
Sujarwanto; Jabrohim, 2001. Bahasa dan Sastra Indonesia Menuju Peran Tranformasi Sosial Budaya Abad XXI. Yogyakarta: Panitia PIBSI XXIII Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.
Supriatin, Yeni Mulyani. 2012. Kritik Sastra Cyber. Jurnal Sosioteknologi.
Edisi 25 Tahun 11, April 2012.
Sugiarti 13
Upstone, S. (2016). Spatial Politics in the Postcolonial Novel. Lodon: Rout- ledge.
Yusanta, Fathiyatul Billah; Riana Santi. 2020. “Eksistensi Sastra Cyber:
Webtoon dan Wattpad Menjadi Sastra Populer Dan Lahan Publikasi Bagi Pengarang”. Literasi. Volume 4 No/1 April 2020.