TINGKAT SIMTOM ANSIETAS PADA PASIEN DISPEPSIA FUNGSIONAL
TESIS
O L E H:
RENY FRANSISKA BARUS 107106009
PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK – SPESIALIS ILMU KEDOKTERAN JIWA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
TINGKAT SIMTOM ANSIETAS PADA PASIEN DISPEPSIA FUNGSIONAL
TESIS
Untuk Memperoleh Gelar Magister Kedokteran Klinik di Bidang Ilmu Kedokteran Jiwa / M. Ked. K. J. pada Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara
RENY FRANSISKA BARUS 107106009
PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK – SPESIALIS ILMU KEDOKTERAN JIWA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
Judul Tesis : Tingkat Simtom Ansietas pada Pasien Dispepsia Fungsional
Nama Mahasiswa : Reny Fransiska Barus Nomor Induk Mahasiswa : 107106009
Program Magister : Magister Kedokteran Klinik Konsentrasi : Ilmu Kedokteran Jiwa
Menyetujui :
Ketua Program Studi Ketua TKP PPDS Magister Kedokteran Klinik
Prof.dr.Chairuddin P.Lubis,DTM&H, Sp.A(K) dr.Zainuddin Amir, M. Ked(P),Sp.P(K) NIP: 19540620198011001
Telah diuji pada
Tanggal : 23 Desember 2013
PERNYATAAN
TINGKAT SIMTOM ANSIETAS PADA PASIEN DISPEPSIA FUNGSIONAL
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah dituliskan atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis mengacu dalam naskah ini dan disebutkan di dalam daftar rujukan.
Medan, Desember 2013
Reny Fransiska Barus
UCAPAN TERIMAKASIH
Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkah limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya maka penulisan tesis ini dapat diselesaikan.
Tesis ini disusun untuk melengkapi persyaratan menyelesaikan pendidikan magister Kedokteran Klinik di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa tesis ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Namun besar harapan penulis kiranya tulisan ini dapat bermanfaat dalam menambah perbendaharaan bacaan khususnya tentang:
TINGKAT SIMTOM ANSIETAS PADA PASIEN DISPEPSIA FUNGSIONAL
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-sebesarnya kepada semua pihak yang telah membantu penulis selama mengikuti Program Magister Klinik – Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa.
Dengan selesainya hasil tesis ini, perkenankanlah penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
1. Rektor Universitas Sumatera Utara, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Ketua TKP PPDS-I dan Ketua Program Studi Magister Kedokteran Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kepada penulis kesempatan untuk mengikuti Program Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
2. dr. Elmeida Effendy, M. Ked. K. J., Sp. K. J., selaku Ketua Program Studi PPDS-I Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan pembimbing, yang telah banyak memberikan bimbingan, pengarahan, dan memberi masukan-masukan yang berharga kepada penulis sehingga tesis ini dapat diselesaikan.
3. Prof. dr. Bahagia Loebis, Sp. K. J., (K.), sebagai guru penulis yang telah banyak memberikan bimbingan, pengetahuan, dorongan, pengarahan dengan
penuh kesabaran dan perhatian serta masukan-masukan yang berharga kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
4. dr. H. Harun Taher Parinduri, Sp. K. J., (K.), sebagai guru penulis yang telah banyak memberikan bimbingan, pengetahuan, dorongan serta pengarahan yang berharga kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
5. (Alm). Prof. dr. H. Syamsir BS, Sp. K. J., (K.), sebagai guru penulis yang pernah memberikan bimbingan, pengetahuan, dorongan serta pengarahan yang berharga kepada penulis.
6. Prof. dr. H. M. Joesoef Simbolon, Sp. K. J., (K), sebagai guru penulis yang telah banyak memberikan bimbingan, pengetahuan, dorongan serta pengarahan yang berharga kepada penulis dalam menyelesaikan hasil penelitian ini.
7. dr. Mustafa Mahmud Amin, M. Ked. K. J., M. Sc., Sp. K. J., sebagai guru dan pembimbing penulis dalam penyusunan tesis ini yang telah membimbing, mengoreksi, dan memberi masukan-masukan berharga kepada penulis sehingga tesis ini dapat diselesaikan.
8. dr. Vita Camellia, M. Ked. K. J., Sp. K. J., sebagai Co- Author, guru yang telah banyak memberikan bimbingan, pengarahan, pengetahuan, dorongan, dukungan dan buku-buku bacaan yang berharga selama penulis mengikuti Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa.
9. dr. Muhammad Surya Husada, M. Ked. K. J., Sp. K. J., sebagai guru yang telah banyak memberikan bimbingan, pengarahan, pengetahuan, dorongan, dukungan dan buku-buku bacaan yang berharga selama penulis mengikuti Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa.
10. DR. dr. Juwita Sembiring, Sp. PD-KGEH, sebagai Konsultan dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Divisi Gastroenterologi-hepatologi yang telah banyak memberikan bimbingan, pengarahan, pengetahuan, dorongan dan dukungan dalam menyelesaikan tesis ini.
11. dr. Dapot Parulian Gultom, Sp.KJ, M. Kes, sebagai Wakil Direktur Badan Layanan Umum Daerah RSJ Propinsi Sumatera Utara dan guru penulis, yang telah memberikan izin, kesempatan, fasilitas, dan pengarahan kepada penulis selama mengikuti Program Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa.
12. (Alm). dr. Herlina Ginting, Sp. K. J., sebagai guru yang semasa hidupnya telah banyak memberikan bimbingan dan pengetahuan serta dorongan kepada penulis selama mengikuti Program Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa.
13. dr. Mawar Gloria Taringan, Sp. K.J., sebagai guru yang telah banyak memberikan bimbingan dan pengetahuan serta dorongan kepada penulis selama mengikuti Program Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa.
14. dr. Freddy Subastian, Sp. K. J., sebagai guru yang telah banyak memberikan bimbingan, pengetahuan, dorongan, serta literatur-literatur yang berharga selama penulis mengikuti Program Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa.
15. dr. Juskitar, Sp. K. J., sebagai guru yang telah banyak memberikan bimbingan, pengarahan, pengetahuan, dorongan, dukungan dan buku- buku bacaan yang berharga selama penulis mengikuti Program Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa.
16. dr. Vera RB. Marpaung, Sp.KJ, sebagai guru yang telah banyak memberikan bimbingan dan pengetahuan serta dorongan kepada penulis.
17. dr. Machnizar Sentari, Sp. K. J., sebagai guru yang telah banyak memberikan bimbingan dan pengetahuan serta dorongan kepada penulis.dr. Donald F.
Sitompul, Sp.K. J., (Almh) dr. Sulastri Effendi, Sp.K. J., dr. Yono, Sp.K. J., dr Rosminta Girsang, Sp.K. J, dr. Artina Roga Ginting, Sp.K. J., dr. Mariati, Sp.K. J., dr. Evawati Siahaan, Sp.K. J., dr. Paskawani Siregar, Sp.K. J., dr.
Citra Julita Tarigan, Sp.K. J., dr. Juwita Saragih, Sp.K. J., dr. Friedrich Lupini, Sp.K. J., dr. Rudyhard E. Hutagalung, Sp.K. J., dr. Laila Sari, Sp.K. J., dr.
Hidayati, Sp.K. J., dr. Lailan Sapinah, Sp.K. J., dr. Silvy Agustina Hasibuan, Sp.K. J., dr. Ira Aini Dania, M.Ked. K. J., Sp. K. J., dr. Mila Astari Harahap, M.Ked. K. J., Sp.K. J., dr. Baginda Harahap, M.Ked. K. J., Sp.K. J., dr. Ricky Wijaya Tarigan, M.Ked. K. J., Sp.K. J., sebagai senior yang banyak memberikan bimbingan, dorongan dan semangat kepada penulis selama mengikuti Program Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa.
18. Direktur Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan dan Direktur Rumah Sakit Umum dr. Pirngadi kota Medan, atas izin, kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk belajar dan bekerja selama penulis mengikuti Program Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa.
19. Rekan-rekan sejawat peserta PPDS-I Psikiatri FK USU: dr. Herny Taruli Tambunan, M.Ked. K. J,, dr. Muhammad Yusuf Siregar, M.Ked. K. J., dr.
Superida Ginting Suka, M.Ked. K. J., dr. Lenni Crisnawati Sihite, M.Ked. K.
J., dr. Saulina Dumaria Simanjuntak, M.Ked. K. J., dr. Hanip Fahri, M.Ked.
K. J., dr. Ferdinan Leo Sianturi, M.Ked. K. J., dr. Andreas Xaverio Bangun, M.Ked (KJ), dr. Dian Budianti Amalina, M.Ked. K.J., dr. Tiodoris Siregar, M.Ked. K. J., dr. Endang Sutry Rahayu, dr. Duma Melva Ratnawati, M.Ked.
K. J, dr. Nauli Aulia Lubis, M.Ked. K. J., dr. Nanda Sari Nuralita, M.Ked. K.
J., dr. Wijaya Taufik Tiji, M.Ked. K. J., dr. Alfi Syahri Rangkuti, M.Ked.
K.J., dr. Agussyah Putra, M.Ked. K. J., dr. Rini Gusya Liza, M.Ked. K. J., dr.
Gusri Girsang, M.Ked. K. J., dr. Ritha Mariati Sembiring, dr. Dessi Wahyuni, dr. Susiati, dr. Annisa Fransiska, dr. Dessy Mawar Zalia, M.Ked. K. J., dr.
Nazli Mahdinasari Nasution, dr. Andi Syahputra Siregar, dr. Nining Gilang Sari, M.Ked. K. J., dr. Rosa Yunilda, dr. Arsusy Widyastuty, dr. Poltak Jeremias Sirait, dr. Manahap CF. Pardosi, dr. Muhammad Affandi, dr. Endah Tri Lestari, dr. Deasy Hendriati dr. Rona Hanani Simamora, dr. Novi Prasanty, dr. Novita Linda Akbar, dr. Catherine, dr. Trisna Marni, yang banyak memberikan masukan berharga kepada penulis melalui diskusi-diskusi
memberikan dorongan-dorongan yang membangkitkan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan Program Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa.
20. Para perawat dan pegawai di berbagai tempat dimana penulis pernah bertugas selama menjalani penelitian ini, serta pasien, keluarga pasien dan berbagai pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah banyak membantu penulis dalam menjalani Program Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa.
21. Teman-teman di layanan digital perpustakaan Universitas Sumatera Utara: Evi Yulifimar, S.Sos, Yuli Handayani, S.Sos, Diani Hartati, S.Sos, M. Salim, A.Md yang telah membantu saya dalam menyelesaikan tugas-tugas selama mengikuti Program Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa .
22. Kedua orang tua yang sangat penulis hormati dan sayangi, (Alm) Drs. B.
Barus dan Pudjin br Sembiring yang dengan penuh kesabaran, cinta serta kasih sayangnya telah membesarkan, memberikan dorongan, dukungan dalam segala hal kepada penulis, serta doa restu sejak lahir hingga saat ini.
23. Kedua mertua yang penulis hormati dan sayangi, (Alm) Toirei Ginting dan (Alm) Puliken br Barus yang banyak memberikan semangat dan doa kepada penulis selama menjalani Program Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa.
24. Saudara kandung yang saya sayangi, Susan Patrisia Barus, SE yang telah banyak memberikan semangat dan doa kepada penulis dalam menjalani Pendidikan Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa.
25. Buat suamiku tercinta Ir. Keleng Ate Ginting Munthe dan anak- anakku tersayang Vania Karen Octaviani Munthe, Michael Baginta Irawan Munthe dan Debora Nil Rivery Munthe, terima kasih atas segala doa dan dukungan, kesabaran dan pengertian yang mendalam serta pengorbanan atas segala waktu dan kesempatan yang tidak dapat penulis habiskan bersama-sama dalam sukacita dan keriangan selama penulis menjalani Magister Kedokteran
akan mampu menyelesaikan Program Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa dan tesis ini dengan baik.
Akhirnya penulis hanya mampu berdoa dan memohon semoga kepada Tuhan Yang Maha Esa agar memberikan rahmat-Nya kepada seluruh keluarga, sahabat, dan handai tolan yang tidak dapat penulis sebut satu persatu, baik secara langsung maupun tidak langsung yang telah banyak memberikan bantuan, baik moril maupun materil, penulis ucapkan terima kasih.
Medan, Desember 2013
Reny Fransiska Barus
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG
DF : Dispepsia Fungsional GAD-7 :Generalized Anxiety Scale
H2RA : Histamine H2 Receptor Antagonist HADS : Hospital Anxiety and Depression Scale HARS : Hamilton Anxiety Rating Scale
HRQoL : Health-Related Quality of life PPI : Proton Pump Inhibitors RSUP : Rumah Sakit Umum Pusat
RSU : Rumah Sakit Umum
SF-36 : Short Form 36
DAFTAR ISI
Lembar Persetujuan Pembimbing ... ii
Ucapan Terima Kasih ... v
Daftar Singkatan dan Lambang ... xiii
Daftar Isi ... xiv
Daftar Tabel ... xvii
Abstrak ... xviii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar belakang ... 1
1.2. Rumusan masalah ... 4
1.3. Tujuan penelitian ... 4
1.4. Manfaat penelitian ... 5
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 6
II.1. Dispepsia Fungsional ... 6
II.2. Simtom Ansietas ... 11
II.3. Simtom ansietas pada pasien dispepsia fungsional ... 12
II.4. Hamilton Anxiety Rating Scale ... 14
II.5. Kerangka konseptual ... 15
BAB III. METODOLOGI ... 16
III.1. Desain penelitian ... 16
III.2. Tempat dan waktu penelitian ... 16
III.3. Populasi penelitian ... 16
III.4. Sampel dan cara pengambilan sampel ... 17
III.5. Perkiraan besar sampel ... 17
III.7. Persetujuan setalah penjelasan ... 19
III.8. Etika Penelitian ... 19
III.9. Cara kerja ... 19
III.10. Kerangka Kerja ... 20
III.11. Definisi Operasional... 21
III.12. Pengolahan dan Analisis Data ... 22
BAB IV. HASIL PENELITIAN ... 23
BAB V. PEMBAHASAN ... 30
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 35
VI.1. Kesimpulan ... 35
VI.2. Saran ... 36
BAB VI. Ringkasan ... 37
DAFTAR RUJUKAN ... 38
Lampiran
1. Tabel Induk Hasil Penelitian
2. Lembaran Penjelasan untuk penelitian
3. Lembar Persetujuan Setelah Penjelasan (Informed Concent) 4. Data Dasar Subjek Peneltian
5. Kuesioner Penelitian
6. Surat Persetujuan Komite Etik 7. Riwayat Hidup Peneliti
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Distribusi sampel penelitian berdasarkan karakteristik
demografi ... 24 Tabel 4.2 Distribusi tingkat keparahan simtom ansietas berdasarkan
skor HARS ... 25 Tabel 4.3 Distribusi simtom ansietas berdasarkan usia... 26 Tabel 4.4 Distribusi simtom ansietas berdasarkan jenis kelamin... 27 Tabel 4.5 Distribusi simtom ansietas berdasarkan status pernikahan ... 28 Tabel 4.6 Distribusi simtom ansietas berdasarkan status pekerjaan ... 29
ABSTRAK
Latar Belakang: Dispepsia fungsional (DF) adalah suatu sindroma klinis yang didefinisikan sebagai gejala kronik atau rekuren dari abdomen atas tanpa penyebab yang dapat diidentifikasi oleh alat diagnostik konvensional. Telah ditemukan bahwa ansietas lebih lazim ditemukan pada pasien dengan dispepsia fungsional dibandingkan dengan subjek kontrol yang sehat.
Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui proporsi tingkat keparahan simtom ansietas serta distribusi berdasarkan karakteristik demografik (usia, jenis kelamin, status pernikahan dan status pekerjaan) pada pasien dispepsia fungsional yang berobat ke poliklinik Divisi Gastroentero-hepatologi Departemen Penyakit Dalam RSUP. H. Adam Malik Medan dan RSU dr. Pirngadi kota Medan dengan menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan studi cross sectional. Penelitian dilakukan di Poliklinik Divisi Gastroentero-hepatologi Departemen Penyakit Dalam RSUP. H. Adam Malik Medandan .Waktu penelitian : 30 Maret 2013 – 30 Mei 2013. Sampel penelitian adalah pasien dispepsia fungsional yang berobat ke poliklinik Divisi Gastroentero-hepatologi Departemen Penyakit Dalam RSUP. H. Adam Malik Medan dan RSU dr. Pirngadi kota Medan memenuhi kriteria inklusi. Cara pengambilan sampel adalah dengan nonprobability sampling jenis consecutive sampling. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan bersedia mengikuti penelitian selanjutnya akan dilakukan wawancara semistruktur dengan menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale.
Hasil: Penelitian ini mendapatkan hasil proporsi pasien dispepsia fungsional yang terbanyak mengalami ansietas berat yaitu sebesar 37 sampel (43.53%). Dari penelitian didapatkan usia terbanyak yang mengalami ansietas adalah diatas 45 tahun (43.24), jenis kelamin pria (54.05%), menikah (59.46%), bekerja (56.76%).
Kesimpulan : Proporsi tingkat simtom ansietas terbanyak pada pasien dispepsia fungsional adalah ansietas berat (43,53%). Tingkat simtom ansietas terbanyak pada usia diatas 45 tahun, jenis kelamin pria, menikah dan bekerja.
Kata Kunci :
Dispepsia fungsional, Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS), simtom ansietas
BAB I PENDAHULUAN
I.1. Latar belakang
Dispepsia merupakan kumpulan gejala atau sindrom nyeri ulu hati, mual, kembung, muntah, rasa penuh atau cepat kenyang, dan sendawa yang sering ditemukan dalam praktik sehari-hari. Bila pada dispepsia tidak ditemukan adanya kelainan organik yang mendasari atau dapat menjelaskan keluhan dispepsia, maka dispepsia ini disebut dispepsia fungsional.1 Dispepsia fungsional (DF) adalah suatu sindroma klinis yang didefinisikan sebagai gejala kronik atau rekuren dari abdomen atas tanpa penyebab yang dapat diidentifikasi oleh alat diagnostik konvensional.2Dilaporkan angka prevalensi terjadinya dispepsia fungsional cukup tinggi. Berdasarkan studi epidemiologi yang berbeda, angka prevalensi berkisar antara 5% hingga 25%.3
Johnson dan kawan-kawan pada survei berdasar-populasi di Norwegia menemukan angka prevalensi seumur hidup dari dispepsia fungsional sebesar 23% pada pria dan 18% pada perempuan. Pada suatu studi terhadap para pekerja di Amerika Serikat, angka prevalensi dispepsia fungsional adalah 29%. Dalam studi di Taiwan, angka prevalensi dispepsia fungsional berdasarkan kriteria ROME I dan ROME II 24% dan 12%, berturut-turut.4 Penelitian yang dilakukan oleh Zagari dankawan-kawan melaporkan bahwa dari 156 pasien dengan dispepsia, 114 (73.1%) memiliki dispepsia fungsional. Angka prevalensi pada studi tersebut adalah 11% : 9.7% pada pria dan 12.5% pada perempuan. Pada
penelitian ini didapatkan bahwa status pekerjaan yang tidak bekerja, telah bercerai, perokok dan irritable bowel syndrome memiliki hubungan dengan dispepsia fungsional.5
Patogenesis dispepsia fungsional (DF), suatu kondisi yang lazim di Asia, tetap kompleks dan multifaktorial. Mekanisme patofisiologi yang diduga terlibat dalam DF termasuk keterlambatan pengosongan lambung, hendaya masuknya makanan ke lambung, hipersensitivitas distensi lambung, infeksi Helicobacter Pylori, perubahan respons terhadap lemak duodenal atau asam, pergerakan yang tidak normal dari duodenojejunal, atau disfungsi sistem saraf pusat. Meskipun mekanisme ini telah terurai sebagian, penyebab yang mendasari atau patogenesis DF tetaplah tidak jelas.6
Hubungan antara ansietas dan dispepsia fungsional telah digambarkan pada beberapa studi, meskipun peran pasti variabel psikososial dalam dispepsia fungsional tetaplah belum dimengerti. Telah ditemukan bahwa ansietas lebih lazim ditemukan pada pasien dengan dispepsia fungsional dibandingkan dengan subjek kontrol yang sehat. Beberapa studi klinis memperlihatkan bahwa 87%
pasien dengan DF, dibandingkan dengan 25% pasien dengan dispepsia organik, memiliki diagnosis psikiatrik. Gangguan ansietas dilaporkan merupakan gejala paling umum pada 34% pasien DF.7Beberapa studi berbasis-populasi telah mendemonstrasikan adanya proporsi yang lebih tinggi dari komorbiditas psikologik pada dewasa dengan dispepsia fungsional dibandingkan dengan kontrol sehat.6
Pada penelitian yang dilakukan oleh Haag dan kawan-kawan, secara keseluruhan ditemukan bahwa ansietas secara signifikan lebih tinggi pada DF dibandingkan kontrol yang sehat.8Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mahadeva dan Goh, dari 884 orang pasien yang berobat ke rumah sakit di Kuala Lumpur ditemukan 472 (56.3%) diantaranya menderita dispepsia fungsional dan terdapat proporsi yang tinggi dari ansietas sedang/berat pada pasien dispepsia fungsional.6 Menurut Aro dan kawan-kawan, ansietas mayor (Hospital Anxiety and Depression scala score lebih besar atau sama dengan 11) berhubungan dengan dispepsia fungsional (OR. 2.56; 95% CI, 1.06-6.19).4 Penelitian yang dilakukan terhadap 139 pasien yang mengalami dispepsia fungsional oleh Oudenhove menemukan bahwa 33% pasien datang dengan kemungkinan secara klinis terdapat ansietas yang relevan.2
Melihat tingginya angka kejadian dispepsia fungsional dan prevalensi ansietas yang menyertainya maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang bertujuan mengetahui gambaran simtom ansietas pada pasien dengan dispepsia fungsional yang berobat ke poliklinik Ilmu Penyakit Dalam RSUP. H.
Adam Malik Medan menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale.
I.2. Rumusan masalah
Dengan memperhatikan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :
Berapa proporsi tingkat keparahan simtom ansietas pada pasien dispepsia fungsional yang berobat ke Poliklinik Divisi Gastroenterologi-hepatologi
Departemen Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP). H. Adam Malik Medan dan Rumah Sakit Umum (RSU) dr. Pirngadi kota Medan.
I.3. Tujuan penelitian
a. Tujuan umum : Untuk mengetahui proporsi tingkat keparahan simtom ansietas pada pasien dispepsia fungsional yang berobat ke Poliklinik Divisi Gastroenterologi-hepatologi Departemen Penyakit Dalam RSUP. H.
Adam Malik Medan dan RSU dr. Pirngadi kota Medan dengan menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale.
b. Tujuan khusus : Untuk mengetahui distribusi tingkat keparahan simtom ansietas pada pasien dispepsia fungsional yang berobat ke Poliklinik Divisi Gastroenterologi-hepatologi Departemen Penyakit Dalam RSUP. H.
Adam Malik Medan dan RSU.dr. Pirngadi kota Medan berdasarkan karakteristik demografik (usia, jenis kelamin, status pernikahan dan status pekerjaan).
I.4. Manfaat penelitian
a. Dapat diperoleh gambaran mengenai proporsi tingkat keparahan simtom ansietas pada pasien dispepsia fungsional yang berobat ke Poliklinik Divisi Gastroenterologi-hepatologi Departemen Penyakit Dalam RSUP. H.
Adam Malik Medan dan RSU.dr. Pirngadi kota Medan.
b. Dengan diperolehnya proporsi tingkat keparahan simtom ansietas pada pasien dispepsia fungsional maka dapat memberikan masukan pada pasien penderita dispesia fungsional mengenai mendeteksi dini ansietas,
mengantisipasi dan melakukan penanganan yang diperlukan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup.
c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berlanjut untuk penelitian selanjutnya atau penelitian serupa atau penelitian lain yang menggunakan penelitian ini sebagai bahan acuan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Dispepsia fungsional
Dispepsia berasal dari kata Yunani “duis” yang berarti buruk atau sulit dan
“peptin” yang berarti untuk mencerna, yang mana digambarkan oleh pasien sebagai ketidaksanggupan mencerna, kedua kata ini merupakan ekspresi yang buruk, dimana sebenarnya dispepsia tidak mempunyai kaitan dengan pencernaan makanan.9,10 Dispepsia fungsional didefinisikan sebagai nyeri atau ketidaknyamanan di abdomen atas atau retrosternal, rasa panas dalam perut, mual atau muntah atau gejala lain yang dipertimbangkan dapat dijadikan sebagai acuan pada traktus pencernaan proksimal dan bertahan selama lebih dari 4 minggu, tidak berhubungan dengan olahraga dan tidak terdapat lesi fokal atau penyakit sistemik.9
Meskipun beberapa definisi telah digunakan untuk menggambarkan gejala, menurut konsensus ROME III, dispepsia fungsional digambarkan dengan hadirnya nyeri epigastrik atau rasa terbakar, rasa penuh setelah makan, atau kepuasan awal dalam ketiadaan penyakit organik yang mendasari, dimana mekanismenya masih belum diketahui dan penatalaksanaan belum ditetapkan dengan baik.9.11
Tabel 1. Kriteria diagnostik ROME III untuk dispepsia fungsional3,10,12
Setidaknya selama 3 bulan, dengan onset setidaknya 6 bulan sebelumnya, terdapat satu atau lebih dari yang berikut:
- Rasa penuh setelah makan yang menyusahkan - Rasa puas yang lebih awal
- Nyeri epigastrik
- Rasa terbakar di epigastrik, dan
- Tidak adanya bukti dari penyakit struktural (termasuk endoskopi bagian atas) yang dapat menjelaskan gejala.
Komite konsensus ROME III telah mengajukan bahwa DF seharusnya dibagi pada dua kelompok yang dibedakan dalam kaitannya dengan makan dan gejala yang tidak berkaitan dengan makan.3
1. Sindrom distres setelah makan, dimana makan berkaitan dengan gejala dispeptik yang dikarakteristik oleh rasa penuh setelah makan dan awal kenyang.
2. Sindrom nyeri epigastrik, dimana makan tidak berkaitan dengan gejala dispeptik yang diakarkateristik oleh nyeri epigastrik dan rasa terbakar.
Berbagai teori telah diajukan untuk menjelaskan patogenesis terjadinya dispepsia. Hipotesis asam lambung menjelaskan bahwa peningkatan asam lambung atau peningkatan sensitivitas mukosa lambung terhadap asam lambung bertanggung jawab untuk terjadinya keluhan dispepsia. Pada kasus dispepsia fungsional dengan infeksi Helicobacter pylori akan meningkatkan sekresi gastrin
sehingga massa sel parietal lebih banyak memproduksi asam lambung.1 Helicobacter pylori juga dapat mengakibatkan peradangan dan tidak adanya motilitas serta memulai hipersensitivitas viseral.Studi dengan populasi besar telah memperlihatkan bahwa Helicobacter Pylori lebih sering terdeteksi pada pasien dengan dispepsia daripada kontrol.Motilitas antro-duodenal, pengosongan lambung, hipersensitivitas lambung yang dipicu oleh kemo- atau mekanoreseptor, dan gangguan hormonal telah diduga juga sebagai penyebab yang mendasari dispepsia fungsional, namun tidak satupun terbukti.12
Tidak adanya motilitas di lambung telah dipertimbangkan sebagai mekanisme patofisiologik mayor yang mendasari gejala dispepsia fungsional.
Ketidaknormalan berkisar dari terlambatnya hingga cepatnya pengosongan lambung, kontraksi antral dan fundus yang tidak normal, dan masalah pengisian di fundus dan antrum. Studi dalam skala besar menemukan hubungan antara pengosongan yang terlambat untuk cairan dengan gejala rasa penuh setelah makan. Sebaliknya, Delgado-Aros dan kawan-kawan menemukan bahwa volume lambung puasa yang rendah dan cepatnya pengosongan lambung berhubungan dengan dispepsia fungsional.12
Onset gejala juga dapat muncul setelah serangan enteritis. Dalam suatu studi kohort prospektif, perkembangan DF meningkat lima kali lipat pada pasien setelah satu tahun menderita gastroenteritis salmonella akut dibandingkan dengan subjek yang tidak menderita gastroenteritis.3
Peran latar belakang faktor psikologi banyak dibicarakan sebagai dasar patogenesis dispepsia fungsional. Pada umumnya penderita melaporkan bahwa
terdapat hubungan antara episode keluhannya dengan stres akut atau kronik serta didapatkan data bahwa pada kelompok dispepsia fungsional mengalami stres psikologik yang lebih berat dibandingkan dengan kelompok orang sehat.1Perbedaan jenis kelamin tampaknya juga berpengaruh dalam hal psikososial, dimana wanita dengan dispepsia mengalami rasa bahagia yang lebih sedikit.11
Untuk menegakkan diagnosis dispepsia fungsional diperlukan data anamnesis yang baik, pemeriksaan fisis yang akurat, disertai pemeriksaan penunjang untuk mengeksklusi penyakit organik/struktural/metabolik.1
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menyingkirkan penyebab organik lainnya seperti pankreatitis kronik, diabetes mellitus dan lainnya. Pada dispepsia fungsional biasanya hasil laboratorium dalam batas normal. Pada pemeriksaan endoskopi (esofagogastro-duodenoskopi), ditemukan gambaran normal atau sangat tidak spesifik.1
Pemeriksaan elektrogastrografi merupakan suatu tindakan yang noninvasif untuk merekam aktivitas mioelektrikal dengan menempatkan
elektroda di dinding abdomen. Terdapat suatu teori yang mengatakan bahwa pada dispepsia fungsional, timbulnya keluhan mual dan muntah adalah akibat terganggunya aktivitas mioelektrikal dilambung yang sering berkaitan dengan gangguan pengosongan lambung.1
Penatalaksanaan dispepsia fungsional disesuaikan dengan subtipe yang didapatkan secara klinik. Pemakaian obat golongan anti asam (antasid) dan atau prokinetik diberikan dengan jangka waktu 4 minggu.1 Pasien harus
diinformasikan bahwa antasid mengandung aluminium dan garam magnesium yang tidak direkomendasikan untuk penggunaan jangka panjang.10 Bila tidak terdapat perubahan maka harus dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk menentukan etiologi. Akan tetapi bila ditemukan tanda-tanda bahaya seperti muntah yang hebat, anemia, demam, hematemesis, penurunan berat badan, makaperlu segera dilaksanakanpemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan faktor penyebabnya.1
Banyak studi telah mengevaluasi efektivitas histamine H2 receptor antagonist (H2RA) dalam DF. Dibandingkan dengan placebo, H2RA lebih mungkin memperbaiki gejala umum dan nyeri epigastrik. Dalam meta analisis lain, terdapat keuntungan yang signifikan dalam pemakaian H2RA, dengan pengurangan resiko relatif 23% dan number-need-to-treat adalah 7. Beberapa laporan juga telah menggambarkan meredanya gejala dengan penggunaan proton pump inhibitors (PPI). Suatu meta analisis dari uji coba control secara acak memastikan bahwa kelas obat ini superior terhadap plasebo dalam mengendalikan gejala.10
Pasien dengan dispepsia fungsional harus diyakinkan bahwa mereka tidak memiliki penyakit yang serius setelah investigasi minimum.9 Modifikasi gaya hidup biasanya disarankan pada pasien DF namun tidak ada studi sistematik yang menetapkan adanya keuntungan.10 Obat-obatan, teh yang berlebihan, alkohol, mencerna tembakau, merokok, dapat menghilangkan gastritis. Instruksi diet seperti porsi makan yang kecil dan teratur, makan tepat waktu, mengurangi
konsumsi makanan berat dan berlemak, mengurangi minum saat makan, mengurangi cabai, akan membantu.9,10
II.2. Simtom ansietas
Ansietas dikarakteristik lebih lazim sebagai suatu sensasi yang difus, tidak menyenangkan, samar-samar akan rasa ketakutan terhadap sesuatu yang akan terjadi, sering disertai dengan gejala autonomik seperti sakit kepala, berkeringat, dada berdebar, sesak di dada, ketidaknyamanan ringan di perut, dan gelisah, diindikasikan oleh ketidakmampuan untuk duduk atau berdiri dalam waktu yang lama. Kumpulan gejala khusus ini muncul selama ansietas dan cenderung bervariasi pada beberapa orang.13
Ansietas dikonseptualisasi sebagai respons normal dan adaptif yang mempengaruhi kualitas hidup, dan memperingatkan tubuh akan ancaman kerusakan tubuh, nyeri, keadaan tak berdaya, atau rasa frustasi akan kebutuhan tubuh atau sosial; perpisahan dengan orang tercinta; ancaman terhadap kesuksesan atau status seseorang; dan akhirnya ancaman terhadap kesatuan atau keseluruhan.
Ansietas akan mendorong seseorang untuk mengambil langkah yang diperlukan untuk mencegah ancaman atau mengurangi konsekuensi. Persiapan ini disertai oleh peningkatan aktivitas otonomik dan somatik yang dikendalikan oleh interaksi dari sistem saraf simpatetik dan parasimpatetik.13
Suatu kejadian dirasa penuh stres bergantung pada sifat kejadian dan sumber seseorang, pertahanan psikologik dan mekanisme koping dan melibatkan ego. Seseorang dengan fungsi ego yang berfungsi dengan baik berada dalam keseimbangan adaptif dengan dunia eksternal dan internal; bila ego tidak
berfungsi dengan baik maka akan mengakibatkan ketidakseimbangan berlangsung lama dan terjadi ansietas kronik.13
II.3. Simtom ansietas pada pasien dispepsia fungsional
Pasien dengan dispepsia fungsional juga sering menderita gangguan psikiatri yang menyertai seperti ansietas,depresif, dan somatoform.3,14Banyak penelitian yang menghubungkan kejadian dispepsia fungsional dengan gangguan psikiatri.15 Pada suatu studi berdasarkan klinis, ditemukan bahwa 87% pasien dengan dispepsia fungsional, dibandingkan dengan 25% pasien dengan dispepsia organik, memiliki diagnosis psikiatri. Suatu studi yang lebih besar, menggunakan wawancara psikiatri yang semi terstruktur dan alat psikometrik, mengungkapkan bahwa 34% pasien dispepsia fungsional memiliki diagnosis psikiatri. Gangguan ansietas merupakan gangguan psikiatri yang paling sering ditemukan.14
Pada penelitian yang dilakukan di RS Wahidin Sudirohusudo pada tahun 2008, ditemukan bahwa dispepsia memiliki hubungan dengan ansietas dimana dispepsia fungsional lebih tinggi tingkat ansietasnya dibandingkan dispepsia organik. Adapun penelitian yang dilakukan oleh CJ Tarigan menemukan bahwa penderita dispepsia fungsional pernah ada yang mengalami ansietas dengan tingkatan yang bervariasi mulai dari ringan, sedang dan berat. Penelitian yang dilakukan oleh Hasan dan Abdul Aziz menunjukkan bahwa 31.2% pasien dispepsia fungsional ditemukan gangguan jiwa dalam bentuk ansietas dan depresi.
TT Hang dan kawan-kawan juga menemukan bahwa pasien dengan dispepsia fungsional mempunyai derajat ansietas yang lebih tinggi, depresi dan keluhan somatisasinya daripada pasien dengan tukak peptik.15
II.4.Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS)
Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) merupakan sebuah skala yang dikelola oleh klinisi, bersifat wawancara yang semistruktur untuk menilai simtom ansietas yang tidak spesifik untuk gangguan tertentu.16 HARS merupakan salah satu rating scale yang dikembangkan untuk mengukur tingkat keparahan gejala ansietas, dan masih digunakan secara luas saat ini pada pengaturan klinis dan penelitian. HARS terdiri dari 14 butir, masing-masing didefinisikan oleh sejumlah gejala, dan mengukur baik ansietas psikis (agitasi mental dan distres psikologik) dan ansietas somatik (keluhan fisik yang berhubungan dengan ansietas).meskipun HARS tetap digunakan secara luas sebagai hasil pengukuran dalam percobaan klinis, namun HARS telah dikritik karena buruknya kemampuan HARS untuk membedakan antara efek ansiolitik dan antidepresan, dan ansietas somatik dengan efek samping somatik. Diluar ini, tingkat reliabilitas inter rater yang telah dilaporkan untuk HARS dapat diterima.17 Dalam Hamilton Anxiety Rating Scale mempunyai lima penilaian yaitu: 0: tidak ada gejala (keluhan); 1: gejala ringan (satu gejala dari pilihan yang ada); 2: gejala sedang (separuh dari gejala yang ada); 3: gejala berat (lebih dari separuh dari gejala yang ada); 4: gejala sangat berat (semua gejala ada). Hasil penilaian tersebut digunakan untuk menentukan tingkat atau derajat ansietas pasien sebagai berikut: (1) Tidak ada ansietas, bila skor penilaian < 14; (2) Ansietas ringan, bila hasil skor penilaian antara 14-20; (3) Ansietas sedang, bila hasil skor penilaian antara 21-27; (4) Ansietas berat, bila hasil skor penilaian antara 28-41; dan (5) Ansietas berat sekali, bila skor penilaian antara 42-56.15 Waktu yang dibutuhkan untuk mengisi
HARS berkisar antara 10 hingga 15 menit.17 Sensitifitas untuk mendeteksi gangguan ansietas adalah 74%, untuk gangguan afektif secara umum adalah 87%, sementara spesifitasnya adalah 100%.18
II.5. Kerangka konseptual
Pasien dispepsia fungsional
Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS)
Karakteristik demografik:
- Usia
- Jenis kelamin - Status pernikahan - Status pekerjaan
BAB III
METODE PENELITIAN
III.1. Desain penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional.
III.2. Tempat dan waktu penelitian
1. Tempat penelitian : Poliklinik Divisi Gastroenterologi-hepatologi Departemen Penyakit Dalam RSUP. H. Adam Malik Medan dan RSU.
dr. Pirngadi kota Medan
2. Waktu penelitian : 30 Maret 2013 – 30 Mei 2013
III.3. Populasi penelitian
1. Populasi target : pasien dispepsia fungsional
2. Populasi terjangkau : pasien dispepsia fungsional yang berobat ke Poliklinik Divisi Gastroenterologi-hepatologi Departemen Penyakit Dalam RSUP. H. Adam Malik Medan dan RSU. dr. Pirngadi kota Medan pada tanggal 30 Maret 2013 hingga 30 Mei 2013.
III.4. Sampel dan cara pengambilan sampel
1. Sampel : pasien dispepsia fungsional yang berobat ke Poliklinik Divisi Gastroenterologi-hepatologi Departemen Penyakit Dalam RSUP. H.
Adam Malik Medan dan RSU. dr. Pirngadi kota Medan yang
2. Cara pengambilan sampel adalah dengan non probability sampling jenis consecutive sampling.
III.5.Perkiraanbesar sampel
Besar sampel diukur dengan menggunakan rumus19 n = Zα2 x P x Q
d2
n = (1,96)2 x 0,33 x 0.67 (0.1)2
n =0.849 = 84,9 ≈ 85 0,01
Besar sampel yang digunakan untuk penelitian ini adalah 85 orang.
Keterangan:
Zα = derivate baku α yang besarnya tergantung pada nilai α yang ditentukan.
Untuk nilai α = 0,05 maka Zα = 1,96.
P = proporsi simtom ansietas pada pasien dispepsia fungsional = 0,33 Q = 1 – P = 0,67
d = kesalahan (absolut) yang dapat ditolerir = 0,1 III.6. Kriteria inklusi dan eksklusi
Kriteria inklusi :
1. Pasien dengan dispepsia fungsional yang berusia diatas 18 tahun.
2. Kooperatif dan bersedia mengikuti penelitian.
3. Tidak memakai obat anti ansietas
Kriteria eksklusi :
1. Riwayat penyakit medis umum lainnya.
2. Memiliki riwayat gangguan psikiatri sebelumnya seperti ansietas, depresi atau gangguan psikotik.
III.7. Persetujuan setelah penjelasan / informed consent
Semua subjek penelitian akan diminta persetujuan dengan terlebih dahulu diberi penjelasan sebelum diikutsertakan sebagai subjek penelitian.
III.8. Etika penelitian
Penelitian ini telah mendapat persetujuan dari Komite Etika Penelitian di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan.
III.9. Cara kerja
Pasien dispepsia fungsional yang memenuhi kriteria inklusi-eksklusi mengisi persetujuan secara tertulis (informed consent) setelah mendapatkan penjelasan yang terperinci dan jelas untuk ikut serta dalam penelitian. Selanjutnya subjek penelitian akanditanyakan mengenai pertanyaan-pertanyaan dalamHamilton Anxiety Rating Scale (HARS) yang terdiri dari 14 butir pertanyaan. Subjekakan diminta untuk mengisi lembaran berisi data identitas subjek penelitian dan karakteristik demografik (usia, jenis kelamin, status pernikahan dan status pekerjaan). Setelah terisi lengkap maka subjek akan mengembalikan lembaran data kepada peneliti. Dalam penelitian ini dilakukan penilaian terhadap jawaban pasien dimana dinilai tingkat simtom ansietas dan
ke Poliklinik Divisi Gastroenterologi-hepatologi Departemen Penyakit Dalam RSUP. H. Adam Malik Medan dan RSU. dr. Pirngadi kota Medan berdasarkan karakteristik demografik (usia, jenis kelamin, status pernikahan dan status pekerjaan).
III.10. Kerangka kerja
Pasien dispepsia fungsional
Kriteria inklusi
Kriteria eksklusi Informed Consent
Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS)
Karakteristik demografik:
- Usia
- Jenis kelamin - Status pernikahan - Status pekerjaan
Tidak ada ansietas
Ansietas ringan
Ansietas sedang
Ansietas berat
Ansietas berat sekali
III.11. Definisi operasional
1. Dispepsia fungsional didefinisikan sebagai nyeri atau ketidaknyamanan di abdomen atas atau retrosternal, rasa panas dalam perut, mual atau muntah atau gejala lain dan bertahan selama lebih dari 4 minggu, tidak berhubungan dengan olahraga dan tidak terdapat lesi fokal atau penyakit sistemik. Didiagnosis berdasarkan konsensus ROME III, dengan hadirnya nyeri epigastrik atau rasa terbakar, rasa penuh setelah makan, atau kepuasan awal.
2. Simtom ansietas dikarakteristikkan sebagai suatu sensasi yang difus, tidak menyenangkan, samar-samar akan rasa ketakutan terhadap sesuatu yang akan terjadi, sering disertai dengan gejala autonomik seperti sakit kepala, berkeringat, dada berdebar, sesak di dada, ketidaknyamanan ringan di perut, dan gelisah.
3. Hamilton Anxiety Rating Scale merupakan sebuah skala yang dikelola oleh klinisi, bersifat wawancara yang semistruktur untuk menilai simtom ansietas yang tidak spesifik untuk gangguan tertentu.
Hasil penilaian tersebut digunakan untuk menentukan tingkat atau derajat ansietas pasien sebagai berikut: (1) Tidak ada ansietas, bila skor penilaian < 14; (2) Ansietas ringan, bila hasil skor penilaian antara 14- 20; (3) Ansietas sedang, bila hasil skor penilaian antara 21-27; (4) Ansietas berat, bila hasil skor penilaian antara 28-41; dan (5) Ansietas berat sekali, bila skor penilaian antara 42-56.
4. Usia adalah lamanya hidup sejak lahir yang dinyatakan dalam satuan tahun.
Pada penelitian ini peneliti membagi kelompok usia dengan 18 – 25 tahun
26 – 35 tahun 36 – 45 tahun
> 45 tahun
5. Jenis kelamin : terbagi dengan pria dan wanita.
6. Status pernikahan : menikah dan tidak menikah.
7. Status pekerjaan : dibedakan dengan bekerja dan tidak bekerja.
III.12 Pengolahan dan analisis data
Hasil yang didapat disusun dalam tabel distribusi, kemudian dihitung prevalensi tingkat simtom ansietas pada pasien dispepsia fungsional berdasarkan Hamilton Anxiety Rating Scale, dan distribusi berdasarkan karakteristik
demografik (usia, jenis kelamin, status pernikahan dan status pekerjaan).
BAB IV HASIL
Sebanyak 85 pasien penderita dispepsia fungsional yang datang berobat ke poliklinik Divisi Gastroenterologi-hepatologi Departemen Penyakit Dalam di RS H. Adam Malik Medan dan RSU.dr. Pirngadi kota Medan telah terpilih untuk ikut serta dalam penelitian ini. Pemilihan sampel dalam penelitian ini adalah dengan non probability sampling jenis consecutive sampling selama periode 30 Maret 2013 hingga 30 Mei 2013. Pemilihan sampel dilaksanakan pada saat pasien datang berobat ke Poliklinik Divisi Gastroenterologi-hepatologi Departemen Penyakit Dalam RSUP. H. Adam Malik Medan dan RSU.dr. Pirngadi kota Medan telah diperiksa oleh dokter spesialis penyakit dalam dan didiagnosis dengan dispepsia fungsional. Saat dilakukan pengisian data diri dan wawancara, sampel tidak sedang menjalani pemeriksaan dan dalam keadaan santai.
Tabel 4.1 memperlihatkan distribusi sampel penelitian berdasarkan usia, jenis kelamin, status pernikahan dan status pekerjaan.
Karakteristik sampel Jumlah %
Usia
Jumlah
18 – 25 tahun 26 – 35 tahun 36 – 45 tahun
>45 tahun
8 11 26 40 85
9.41 12.94 30.59 47.06 100 Jenis kelamin
Jumlah
Pria Wanita
41 44 85
48.24 51.76 100 Status pernikahan
Jumlah
Menikah Tidak menikah
51 34 85
60 40 100 Status pekerjaan
Jumlah
Bekerja Tidak bekerja
44 41 85
51.76 48.24 100
Dari tabel 4.1 memperlihatkan bahwa distribusi sampel penelitian berdasarkan usia terbanyak adalah pada rentang usia diatas 45 tahun sebesar 40 sampel (47,06%). Berdasarkan jenis kelamin terbanyak adalah jenis kelamin wanita sebesar 44 sampel (51.76%), berdasarkan status pernikahan yang terbanyak adalah status pernikahan menikah sebesar 51 sampel (60%) dan berdasarkan status pekerjaan yang terbanyak adalah status bekerja sebesar 44 sampel (51.76%).
Tabel 4.2 Distribusi tingkat keparahan simtom ansietas berdasarkan skor HARS
Tingkat keparahan Total %
Tidak ada ansietas Ringan
Sedang Berat Berat sekali
0 3 23 37 22
0 3.53 27.06 43.53 25.88
Total 85 100
Tabel 4.2 memperlihatkan bahwa jumlah sampel yang mengalami simtom ansietas berdasarkan tingkat keparahan adalah ansietas ringan sebesar 3 sampel (3.53%), ansietas sedang sebesar 23 sampel (27.06%), ansietas berat sebesar 37 sampel (43.53%) dan ansietas berat sekali sebesar 22 sampel (25.88%).
Tabel 4.3 Distribusi simtom ansietas berdasarkan usia Simtom Tidak
ada ansietas
Ringan Sedang Berat Berat sekali
N % N % N % N % N %
Usia 18– 25 tahun 26– 35 tahun 36– 45 tahun
>45 tahun
0 0 0 0
0 0 0 0
0 1 0 2
0 33.33 0 66.67
4 1 7 11
17.39 4.35 30.43 47.83
2 6 13 16
5.41 16.22 35.13 43.24
2 3 6 11
9.09 13.64 27.27 50
Total 0 0 3 100 23 100 37 100 22 100
Tabel 4.3 memperlihatkan bahwa simtom ansietas pada dispepsia fungsional dengan distribusi berdasarkan usia yang paling banyak terjadi ansietas ringan adalah pada kelompok usia diatas 45 tahun yaitu sebesar 2 sampel (66.67%), ansietas sedang pada kelompok usia diatas 45 tahun yaitu sebesar 11 sampel (47.83%), ansietas berat pada kelompok usia diatas 45 tahun sebesar 16 sampel (43.24%) dan ansietas berat sekali pada kelompok usia diatas 45 tahun sebesar 11 sampel (50%).
Tabel 4.4 Distribusi simtom ansietas berdasarkan jenis kelamin Simtom
Tidak ada ansietas
Ringan Sedang Berat Berat sekali
N % N % N % N % N %
Jenis kelamin
Pria Wanita
0 0
0 0
2 1
66.67 33.33
15 8
65.22 34.78
20 17
54.05 45.95
4 18
18.18 81.82
Total 0 0 3 100 23 100 37 100 22 100
Tabel 4.4 memperlihatkan bahwa simtom ansietas pada dispepsia fungsional distribusi berdasarkan jenis kelamin yang paling banyak terjadi ansietas ringan adalah jenis kelamin pria yaitu sebesar 2 sampel (66.67%), ansietas sedang adalah jenis kelamin pria yaitu sebesar 15 sampel (65.22%), ansietas berat adalah jenis kelamin pria yaitu sebesar 20 sampel (54.05%) dan ansietas berat sekali adalah jenis kelamin wanita yaitu sebesar 18 sampel (81.82%%).
Tabel 4.5 Distribusi simtom ansietas berdasarkan status pernikahan Simtom
Tidak ada ansietas
Ringan Sedang Berat Berat sekali
N % N % N % N % N %
Status pernikahan
Menikah Tidak menikah
0 0
0 0
2 1
66.67 33.33
15 8
65.22 34.78
22 15
59.46 40.54
12 10
54.54 45.46
Total 0 0 3 100 23 100 37 100 22 100
Tabel 4.5 memperlihatkan bahwa simtom ansietas pada dispepsia fungsional distribusi berdasarkan status pernikahan yang paling banyak terjadi ansietas ringan adalah yang menikah yaitu sebesar 2 sampel (66.67%), ansietas sedang adalah yang menikah yaitu sebesar 15 sampel (65.22%), ansietas berat adalah yang menikah yaitu sebesar 22 sampel (59.46%) dan ansietas berat sekali adalah yang menikah yaitu sebesar 12 sampel (54.54%).
Tabel 4.6 Distribusi simtom ansietas berdasarkan status pekerjaan Simtom
Tidak ada ansietas
Ringan Sedang Berat Berat sekali
N % N % N % N % N %
Status pekerjaan
Bekerja Tidak bekerja
0 0
0 0
3 0
100 0
12 11
52.17 47.83
21 16
56.76 43.24
8 14
36.36 63.64
Total 0 0 3 0 23 100 37 100 22 100
Tabel 4.6 memperlihatkan bahwa simtom ansietas pada dispepsia fungsional distribusi berdasarkan status pekerjaan yang paling banyak terjadi ansietas ringan adalah yang bekerja yaitu sebesar 3 sampel (100%), ansietas sedang adalah yang bekerja yaitu sebesar 12 sampel (52.17%), ansietas berat adalah yang bekerja yaitu sebesar 21 sampel (56.76%) dan ansietas berat sekali adalah yang tidak bekerja yaitu sebesar 14 sampel (63.64%).
BAB V PEMBAHASAN
PenelitianTingkat Simtom Ansietas pada Pasien Dispepsia Fungsional di Poliklinik Divisi Gastroenterologi-hepatologi Departemen Penyakit Dalam RSUP.
H. Adam Malik Medan” dan RSU. dr. Pirngadi kota Medan ini merupakan suatu penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Tujuan umum penelitian adalah untuk mengetahui proporsi tingkat keparahan simtom ansietas pada pasien dispepsia fungsional yang berobat ke Poliklinik Divisi Gastroenterologi- hepatologi Departemen penyakit dalam RSUP. H. Adam Malik Medan dan RSU.
dr. Pirngadi kota Medan dengan menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale.
Tujuan khusus adalah untuk mengetahui distribusi tingkat keparahan simtom ansietas pada pasien dispepsia fungsional yang berobat ke Poliklinik Divisi Gastroenterologi-hepatologi Departemen penyakit dalam RSUP. H. Adam Malik Medan dan RSU.dr. Pirngadi kota Medan berdasarkan karakteristik demografik (usia, jenis kelamin, status pernikahan dan status pekerjaan).
Berdasarkan data demografik dijumpai bahwa sampel penelitian yang terbanyak adalah pada usia diatas 45 tahun, yaitu sebesar 40 sampel (47,06%), jenis kelamin wanita sebesar 44 sampel (51.76%), status pernikahan menikah sebesar 51 sampel (60%) dan status bekerja sebesar 44 sampel (51.76%).
Dari penelitian didapatkan jumlah sampel yang mengalami simtom ansietas berdasarkan tingkat keparahan adalah ansietas ringan sebesar 3 sampel (3.53%), ansietas sedang sebesar 23 sampel (27.06%), ansietas berat sebesar 37
sampel (43.53%) dan ansietas berat sekali sebesar 22 sampel (25.88%). Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Mahadeva dan Goh, dimana terdapat proporsi yang lebih tinggi akan ansietas sedang/berat pada pasien dispepsia fungsional (28.5%).6
Pada penelitian yang dilakukan oleh Haag dan kawan-kawan, secara keseluruhan ditemukan bahwa ansietas secara signifikan lebih tinggi pada dispepsia fungsional dibandingkan kontrol sehat.8 Penelitian yang dilakukan terhadap 139 pasien yang mengalami dispepsia fungsional oleh Oudenhove dan kawan-kawan menemukan bahwa 33% pasien datangkemungkinan secara klinis terdapat ansietas yang relevan.2Pajala dan kawan-kawan dalam penelitiannya melaporkan bahwa sebanyak 34% pasien dengan fungsional dispepsia mengalami distres mental terutama ansietas dan depresi.20Penelitian oleh Sattar dan kawan- kawan menemukan 107 (71.33%) pasien dispepsia fungsional mengalami gangguan mental yang lazim yaitu ansietas, depresi dan somatisasi.21Gangguan ansietas dilaporkan merupakan gejala paling umum pada 34% pasien dengan dispepsia fungsional.7Penelitian yang dilakukan oleh
Giorgi dan kawan-kawan mengungkapkan bahwa pasien dengan dispepsia fungsional memiliki nilai ansietas yang lebih tinggi daripada kontrol. Menurut metode penilaian Generalized Anxiety Scale (GAD-7), pasien terbanyak memiliki tingkat ansietas ringan hingga sedang.22
Dari penelitian didapatkan bahwa distribusi simtom ansietas berdasarkan usia yang paling banyak terjadi ansietas ringan adalah pada kelompok usia diatas 45 tahun, ansietas sedang pada kelompok usia diatas 45 tahun, ansietas berat pada
kelompok usia diatas 45 tahun dan ansietas berat sekali pada kelompok usia diatas 45 tahun. Hal ini kemungkinan dikarenakan karena pada penelitian ini lebih banyak dijumpai sampel yang berusia diatas 45 tahun dibandingkan kelompok usia lainnya.
Dari penelitian didapatkan bahwa distribusi simtom ansietas berdasarkan jenis kelamin yang paling banyak terjadi ansietas ringan adalah pria, ansietas sedang adalah pria, ansietas berat adalah pria dan ansietas berat sekali adalah perempuan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Pajala dan kawan-kawan yang mengungkapkan bahwa distress mental terutama ansietas dan depresi secara signifikan lebih tinggi pada antara pria (32.8%) dan perempuan (40.4%) dibandingkan populasi umum.20 Dalam penelitian oleh Sattar dan kawan-kawan, gangguan mental lazim yaitu ansietas, depresi dan somatisasi lebih sering terjadi pada perempuan (80.3%) dibandingkan pria (63.3%).21
Pada penelitian yang dilakukan oleh Lorena, Tinosis, Brunetto, Camargo dan Mesquita terhadap 22 pasien dengan dispepsia fungsional, ditemukan bahwa retensi makanan pada lambung distal dari perempuan dengan dispepsia lebih besar secara signifikan daripada kontrol. Diantara 22 pasien tersebut, 72% pasien memiliki ansietas saat dievaluasi dengan Hospital Anxiety and Depression Scale.
Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ansietas sangat lazim pada dispepsia fungsional dan tampaknya jenis kelamin perempuan berhubungan dengan retensi makanan yang merupakan salah satu gejala dispepsia fungsional.23
Perbedaan jenis kelamin tampaknya juga muncul dalam bidang psikososial, dimana perempuan dengan dispepsia mengalami rasa well-being yang
lebih sedikit,24 dan terpengaruh lebih negatif dalam kehidupan sehari-hari dibandingkan dengan laki-laki.25 Menurut Welen dan kawan-kawan salah satu faktor yang memberikan kontribusi adanya gejala psikososial pada pasien dengan dispepsia fungsional adalah faktor budaya dimana harapan perilaku perempuan akan membuat perempuan merasa tidak nyaman saat mengalami gejala seperti kembung dan nyeri abdomen. Keseluruhan nilai Health- Related Quality of Life (HRQoL) Short Form-36 (SF-36)Health Survey bila dibandingkan dengan laki- laki juga menggambarkan bahwa penyakit ini menyebabkan perempuan merasa tidak nyaman. Penyakit ini merupakan subjek yang sensitif dan merupakan kondisi memalukan yang mungkin akan lebih sulit bagi perempuan untuk mengatasinya daripada laki-laki. Terlebih lagi, permpuan diketahui lebih waspada terhadap tubuh dan gejala yang mereka alami.25
Dari penelitian didapatkan bahwa distribusi simtom ansietas berdasarkan status pernikahan yang paling banyak terjadi ansietas ringan adalah yang menikah, ansietas sedang adalah yang menikah, ansietas berat adalah yang menikah dan ansietas berat sekali adalah yang menikah. Menurut Lee dan kawan- kawan ada hubungan antara menikah dengan dispepsia fungsional dan ansietas.26
Dari penelitian didapatkan bahwa distribusi simtom ansietas berdasarkan status pekerjaan yang paling banyak terjadi ansietas ringan adalah yang bekerja, ansietas sedang adalah yang bekerja, ansietas berat adalah yang bekerja dan ansietas berat sekali adalah yang tidak bekerja. Menurut Lee dan kawan-kawan pasien dengan dispepsia fungsional yang bekerja lebih ansietas dibanding yang tidak bekerja. 26
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
VI.1. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian terhadap 85 orang pasien dispepsia fungsional yang berobat ke Poliklinik Divisi Gastroenterologi-hepatologi Departemen penyakit dalam RSUP. H. Adam Malik Medan dan RSU. dr. Pirngadi kota Medan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
a. Didapati proporsi pasien dispepsia fungsional yang terbanyak mengalami ansietas adalah kelompok ansietas berat yaitu sebesar 37 sampel (43.53%).
b. Berdasarkan usia tingkat simtom ansietas ringan, sedang, berat, dan berat sekali terbanyak pada usia diatas 45 tahun.
c. Berdasarkan jenis kelamin tingkat ansietas ringan, sedang, dan berat terbanyak pada pria sedangkan tingkat ansietas berat sekali terbanyak pada wanita.
d. Berdasarkan status pernikahan tingkat simtom ansietas ringan, sedang, berat, dan berat sekali terbanyak pada menikah.
e. Berdasarkan status pekerjaan, tingkat simtom ansietas ringan, sedang, dan berat terbanyak pada bekerja sedangkan tingkat ansietas berat sekali terbanyak pada tidak bekerja.
VI.2. SARAN
Melihat tingginya angka terjadinya ansietas pada pasien dispepsia fungsional yang akan mempengaruhi kualitas hidup, maka sangat diperlukan dilakukan deteksi sedini mungkin dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menegakkan diagnosis ansietas, sehingga dapat dilakukan antisipasi dan penanganan yang diperlukan bagi penderita dispepsia fungsional. Perlu dilakukan penelitian yang lebih luas dengan sampel yang lebih besar untuk menjawab berbagai permasalahan sehubungan dengan simtom ansietas terhadap dispepsia fungsional. Diperlukan adanya kerjasama yang baik antara Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa dan Departemen Ilmu Penyakit Dalam serta departemen terkait lainnya.
BAB VII RINGKASAN
Dispepsia fungsional didefinisikan sebagai nyeri atau ketidaknyamanan di abdomen atas atau retrosternal, rasa panas dalam perut, mual atau muntah atau gejala lain yang dipertimbangkan dapat dijadikan sebagai acuan pada traktus pencernaan proksimal dan bertahan selama lebih dari 4 minggu, tidak berhubungan dengan olahraga dan tidak terdapat lesi fokal atau penyakit sistemik.
Pasien dengan dispepsia fungsional juga sering menderita gangguan psikiatri yang menyertai seperti ansietas, depresif, somatoform.
Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) merupakan sebuah skala yang dikelola oleh klinisi, bersifat wawancara yang semistruktur untuk menilai simtom ansietas yang tidak spesifik untuk gangguan tertentu.HARS merupakan salah satu rating scale yang dikembangkan untuk mengukur tingkat keparahan gejala ansietas, dan masih digunakan secara luas saat ini pada pengaturan klinis dan penelitian.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proporsi tingkat keparahan simtom ansietas pada pasien dispepsia fungsional yang berobat ke Poliklinik Divisi Gastoenterologi-hepatologi Departemen Penyakit Dalam RSUP.H. Adam Malik Medan dan RSU. dr. Pirngadi kota Medan dengan menggunakan HARS dan untuk mengetahui distribusi tingkat keparahan simtom ansietas pada pasien dispepsia fungsional berdasarkan karakteristik demografik (usia, jenis kelamin, status pernikahan dan status pekerjaan).
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional, cara pengambilan sampel adalah dengan non probability sampling jenis consecutive sampling, jumlah sampel 85 orang yang berobat ke Poliklinik Divisi Gastroenterologi-hepatologi Departemen Penyakit Dalam RSUP. H. Adam Malik Medan dan RSU. dr. Pirngadi kota Medan selama peeriode 30 Maret hingga 30 Mei 2013. Kriteria inklusi adalah pasien dengan dispepsia fungsional yang berusia diatas 18 tahun, kooperatif dan bersedia mengikuti penelitian, tidak memakai obat anti ansietas, tidak memakai obat anti depresan. Kriteria eksklusi adalah riwayat penyakit medis umum lainnya, memiliki riwayat gangguan psikiatri sebelumnya seperti ansietas, depresi atau gangguan psikotik.
Dari hasil penelitian didapatkan proporsi pasien dispepsia funsional yang terbanyak mengalami ansietas adalah kelompok ansietas berat yaitu sebesar 37 sampel (43.53%).
DAFTAR RUJUKAN
1. Rani AA, Albert J. Dispesia. Dalam: Rani AA, Simadibrata M, Syam AF, penyunting Dalam Buku Ajar Gastroenterologi edisi kesatu. Jakarta, Pusat penerbitan Ilmu Penyakit Dalam. 2011; h. 131-42
2. Oudenhove LV, Vandenberghe J, Geerahrts B, Vos R, Persoons P, Demyttenaere K, Fischler B, Tack J. Relationship between anxiety and gastric sensorimotor function in functional dyspepsia. Psychosomatic Medicine. 2007; 69: 455-63
3. Goswami BD, Phukan C. Clinical features of functional dyspepsia.
Supplement to JAPI. 2012; 60: 21-2
4. Aro P, Talley NJ, Ronkainen J, Storskrubb T, Vieth M, Johansson S, Bolling-Sternevald E, Agreus L. Anxiety is associated with uninvestigated and functional dyspepsia (ROME III criteria) in a Swedish population- based study. Gastroenterology. 2009; 137: 94-100
5. Zagari RM, Law GR, Fuccio L, Cennamo V, Gilthorpe MS, Forman D, Bazzol F. Epidemiology of functional dyspepsia and subgroups in the Italian general population : an endoscopic study. Gastroenterology. 2010;
138: 1302-11
6. Mahadeva S, Goh K. Anxiety, depression and quality of life differences between functional and organic dyspepsia. Journal of gastroenterology and hepatology suppl 3. 2011; 49-52
7. Roca-Chiapas JMD, Solis-Ortiz S, fajardo-Araujo M, Sosa M, Cordova- Fraga T, Ross-Zarate A. Stress profile, coping style, anxiety, depression, and gastric emptying as predictors of functional dyspepsia : a case-control study. Journal of Psychosomatic research. 2010; 68: 73-81
8. Haag S, Senf W, hauser W, Tagay S, Grandt D, Heuft G, Gerken G, Talley NJ, Holtmann G. Impairment of health-related quality of life in functional dyspepsia and chronic liver disease : the influence of depression and anxiety. Journal compilation Aliment Pharmacol Ther. 2008; 27: 561-71
10. Ingle M, Abraham P. Management of functional dyspepsia. Supplement to JAPI. 2010; 60: 25-7
11. Matsuda NM, Kinoshita E, Vong MER, Santos RD, Botacin IA, Troncon LEA. Functional dyspepsia : review of pathophysiology and treatment.
The open gastroenterology Journal . 2009; 3: 11-2
12. Tandon RK. Etiopathogenesis of functional dyspepsia. Supplement to JAPI. 2012; 60: 18-20
13. Sadock BJ, Sadock VA. Anxiety Disorder. Dalam: Sadock BJ, Sadock VA penyunting Kaplan & Sadock’s synopsis of psychiatry behavioral sciences/ clinical psychiatry. edisi ke-10. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, 2007. h. 579-633
14. Barry S, Dinan TG. Functional dyspepsia : are psychosocial factors of relevance? World Journal of Gastroenterology. 2006; 12: 2701-7
15. Uleng AST, Jayalangkara A, Hawaidah, Patellongi I. Hubungan antara derajat ansietas dengan dispepsia organik. JST kesehatan. Oktober 2011; I : 253-61
16. Marques L, Chosak A, Simon NM, Phan DM, Wilhelm S, Pollack M.
Rating scales for anxiety disorders. Dalam : Baer L, Blais MA, editor.
Handbook of clinical rating scales and assessment in psychiatry and mental health. Edisi pertama. New York : Humana Press, 2010; h. 37-72 17. Hamilton M. Hamilton Anxiety Rating Scale. The assessment of anxiety
states by rating. Br J Med Psychol 1959; 32: 50-5.
18. Dowell IM. The hamilton anxiety rating scale in Measuring health a guide to rating scales and questionares,third ed. Oxford university perss. New york, 2006.h.273-293
19. Dahlan MS. Menentukan besar sampel dalam langkah-langkah membuat proposal penelitian bidang kedokteran dan kesehatan, Penyunting Sagung Seto;2012.h.79-98
20. Pajal M, Heikkinen M, Hintikka J. Mental distress in patients with functional or organic dyspepsia: a comparative study with a sample of the
21. Sattar A, Salih M, Jafri W. Burden of common mental disorders in patients with functional dyspepsia. J Pak Med assoc 2010; 60(12): 995-7.
22. Giorgi FD, Sarnelli G, Cirillo C, Savino IG, Turco F, Nardone G, dkk.
Increased severity of dyspeptic symptoms related to mental stress is associated with sympathetic hyperactivity and enhanced endocrine response in patients with postprandial distress syndrome.
Neurogastroenterol Motil. 2012; 10.1111
23. Lorena SL, Tinois E, Brunetto SQ, Camargo EE, Mesquita MA. Gastric emptying and intragastric distribution of a solid meal in functional dyspepsia: influence of gender and anxiety. J Clin Gastroenterol. 2004;
38(3):230-6
24. Matsuda NM, Kinoshita E, Vong MER, Santos RD, Botacin I, Troncon LE. Functional dyspepsia: review of pathophysiology and treatment. The Open Gastroenterology Journal. 2009; 3, 11-12
25. Welen K, Faresjo A, Faresjo T. Functional dyspepsia affects woman more than men in daily life: a case control study in primary care. Gender Medicine. 2007; 5(1), 62-73
26. Lee YY, Wahab N, Mustaffa N, Daud N, Noor NM, Shaaban J, dkk. A Rome III survey of functional dyspepsia among the ethnic Malays in a primary care setting. Gastroenterology. 2013; 13:84
LAMPIRAN 1 Jadwal penelitian
Waktu Februari 2013
Maret 2013
April 2013
Mei 2013
Juni 2013 Persiapan
Pelaksanaan
Pengolahan Data Seminar Hasil
LAMPIRAN 2
NO MR NAMA UMUR J.KELAMIN KERJA STATUS PDDKN SKOR
HARS
KETERANGAN
1. 552362 ES 25 P Bekerja T.nikah PT 38 Berat
2. 552634 AA 42 L Bekerja nikah SMA 44 Berat sekali
3. 552514 N 37 P T. Bekerja T.nikah SMA 40 Berat
4. 488080 IL 36 L Bekerja T.nikah PT 30 Berat
5. 546401 R 31 P T. Bekerja nikah SMA 44 Berat sekali
16. 546917 ES 27 L Bekerja T.nikah SMA 20 Ringan
7. 547971 H 78 L T. Bekerja T.nikah SMP 30 Berat
8. 553037 AP 44 L Bekerja T.nikah SMA 27 Sedang
9. 372674 ES 38 P T. Bekerja T. nikah SMP 38 Berat
10. 552679 W 38 P T. Bekerja T. nikah SMP 44 Berat sekali
11. 148437 N 39 P T. Bekerja T. nikah SMA 38 Berat