14. Memahami koloid, suspensi dan larutan sejati 14.1 Mengidentifikasi koloid, suspensi dan larutan sejati Indikator :
Campuran koloid, suspensi, dan larutan sejati dijelaskan berdasarkan komponen-komponen pembentuknya
Larutan sejati, koloid, dan suspensi dibedakan berdasarkan sifat campurannya, fasenya, dan ukuran partikelnyaRangkuman Materi
A. Pengertian dan pembuatan koloid
Sistem dispersi
Penyebaran atau distribusi partikel-pertikel dalam campuran disebut dispersi. Sementara itu sistem kimia terdiri dari gas atau zat cair (sebagai medium dan partikel-partikel yang terdispersi di dalamnya dinamakan sistem dispersi. Contoh : larutan gula dalam air. Dalam hal ini gula merupakan zat yang terdispersi , sedangkan air sebagai medium pendispersinya. Berdasarkan sistem dispersi , campuran dikelompokkan menjadi larutan suspensi, dan koloid.
1. Larutan merupakan sistem dispersi yang partikel zat terdispersi dan partikel-partikel medium pendispersinya tidak lagi dapat dibedakan, meskipun menggunakan mikroskop ultra. Jadi sitem dispersi ini homogen.
Misalnya gula dengan air, garam dengan air, dan udara bersih
2. Suspensi merpakan sistem dispersi yang terdiri dari partikel-partikel terdispersi yang relatif besar dan tersebar merata di dalam medium pendispersinya. Jadi sistem dispersi tersebut heterogen. Contoh : air kapur, campuran air dan pasir
3. Koloid merupakan sistem dispersi yang terdiri dari partikel-partikel kecil dari suatu zat yang disebut fase terdispersi dalam fase lainnya yang disebut medium pendispersi. Baik fase terdispersi maupun pendispersi dapat berbentuk padat, cair dan gas. Sistem dispersi
tersebut heterogen . Istilah koloid diambil dari bahasa Yunani kolla, yang berarti lem. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Graham berdasarkan penelitiannya tentang difusi. Menurutnya zat-zat seperti gelatin, kanji, getah dan albuminyang sukar mengalami difusi digolongkan ke dalam koloid.
Perbedaan larutan sejati, koloid dan suspensi
No Perbedaan Larutan sejati Koloid Suspensi
1 Ukuran partikel Kurang dari 1
nm Antara 1 sampai 100 nm Lebih dari 100 nm 2 Penampilan fisis jernih Keruh ke jernih Keruh 3 Penyaringan Lolos saringan
dan membran Lolos saringan,tidak lolos membran Tidak lolos saringan dan membran 4 Kestabilan(bila
didiamkan) Penyebaran permanen (tidak terpisah) Ada kcenderungan mengendap(sukar terpisah) Mengendap dengan cepat( muda h berpisah) 5 Keadaan
didiamkan 6 Pengamatan partikel terdispersi Tidak dapat diamati dengan mikroskop ultra Dapat diamati dengan mikroskop ultra Dapat diamati langsung dengan mata dan mikroskop
14.2 Membedakan macam dan sifat koloid
Indikator :
- Koloid dibedakan berdasarkan macamnya
- Koloid dibedakan berdasarkan sifatnyaRangkuman Materi
A. Jenis-jenis koloid No Tipe
koloid Fasa terdispersi Medium pendispersi contoh 1 Sol
padat Padat Padat Mutiara(gem),kuningan,perunggu,kaca berwarna 2 Emulsi
padat Cair Padat Keju,mentega,selai,agar-agar,semir padat
3 Busa
padat Gas Padat Batu apung,lava,kerupuk,biskuit 4 Sol atau
gel Padat Cair Kanji,cat,lem,tinta,lateks,albumin(putih telur)
5 Emulsi Cair Cair Mayones,saos,susu,santan,
minyak ikan
6 Busa Gas Cair Krim kocok, pasta
7 Aerosol
padat Padat Gas Debu,asap
8 Aerosol
cair Cair Gas Awan,kabut
B. Sifat koloid :
1. Efek TyndallEfek Tyndall pertama kali dipelajari oleh John Tyndall (1820-1893), adalah efek penghamburan cahaya oleh partikel koloid.
Sifat ini untuk membedakan larutan dengan koloid. Larutan akan meneruskan cahaya jika ada cahaya yang datang padanya. Sedangkan koloid akan menghamburkan cahaya jika ada cahaya yang datang padanya. Hal ini disebabkan ukuran partikel larutan lebih kecil
dibandingkan ukuran partikel koloid. Contoh: ketika seberkas cahaya masuk ke ruangan gelap berdebu melalui suatu celah , maka lintasan cahaya tersebut akan jelas terlihat. 2. Gerak Brown
adalah gerakan tak menentu atau acak dari partikel-partikel kecil dalam bentuk sistem koloid yang tersuspensi dalam suatu zat cair atau gas.
3. Adsorpsi
Adsorpsi didefinisikan sebagai penumpukan zat-zat dalam suatu permukaan. Kaitannya dengan koloid ,adsorpsi adalah peristiwa penyerapan muatan-muatan listrik oleh suatu lapisan koloid yang disebabkan oleh kemampuan partikel-partikel koloid untuk menarik partikel-partikel kecil lainnya. Adsorpsi menyebabkan koloid bermuatan listrik. Ketika koloid ditempatkan pada medan listrik partikel-partikelnya akan bergerak menuju medan listrik. Peristiwa pergerakan partikel-partikel bermuatan listrik dari suatu koloid melalui suatu medium (gas atau cairan) karena pengaruh medan listrik yang terbentuk diantara elektroda-elektroda yang dicelupkan dalam medium tersebut dinamakan elektroforesis. 4. Koagualsi adalah proses penggumpalan partikel koloid dan membentuk zat semi padat
(endapan). Dalam hal ini koagulasi koloid merupakan proses bergabungnya partikel-partikel koloid secara bersama membentuk zat dengan massa yang lebih besar. Secara fisis
penggumpalan koloid sebagai akibat perubahan suhu dipanaskan atau didinginkan. Contoh: darah (sol=sel darah merah dalam plasma darah) menggumpal jika dipanaskan dan agar-agar menggumpal jika didinginkan. Secara kimia koagulasi terjadi bila koloid atau elektrolit bergabung. Contoh: koloid sol Fe(OH)3 bermuatan positif bercampur dengan koloid As2O3
bermuatan negatif akan menggumpal.
Contoh zat elektrolit dan koloid bermuatan listrik bercampur menggumpal ditemukan pada: pengolahan lateks dari karet dipisahkan dengan asam asetat. Partikel lumpur dan tanah liat terpisah jika bercampur dengan air laut yang mengandung elektrolit , sehingga terbentuk delta di daerah muara. Proses penutupan luka : ion Al3+ atau Fe3+ menetralkan
skleroprotein(albuminoid) dalam darah. Proses penjernihan air partikel-partikel lumpur akan mengendap atau menggumpal ketika ditambah tawas (Al2(SO4)3).
14.3 Menerapkan sistem koloid dalam kehidupan
Indikator :
- Pembuatan Sistem koloid diterapkan dalam kehidupan
- Sistem koloid diterapkan dalam proses koagulasi, dialisis, dan penjernihan air sederhanaRangkuman Materi
A. Pembuatan koloid
Pembuatan koloid dengan dua cara yaitu: kondensasi dan dispersi 1. Cara kondensasi:
Kondensasi adalah proses pengikatan molekul-molekul statu zat untuk membentuk molekul yang lebih besar dan lebih padat , biasanya dengan pelepasan zat-zat yang lebih
sederhana , seperti air.
Cara kondensasi adalah cara pembuatan sistem koloid dengan mengubah partikel-partikel larutan sejati menjadi partikel-partikel koloid.
Berdasarkan proses pembentukan partikel koloid ,maka cara kondensasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara fisis dan cara kimia.
Secara fisis : dapat dilakukan dengan pendinginan,penggatian pelarut, dan pengembunan uap.
Secara kimia dapat dilakukan dengan :
- reaksi redoks ( oksidasi ion iodida menjadi iodum) 5HI + HIO → 3I2 + 3H2O
- Reaksi hidrolisis:
FeCl3 + 3H2O → Fe(OH)3 + 3HCl
- Reaksi pengendapan:
AgNO3 + NaCl → AgCl(s) + NaNO3
2. Cara dispersi:
Cara dispersi yaitu cara mengubah patikel-partikel kasar menjadi partikel koloid. Dapat dilakukan dengan :
- cara mekanik yaitu cara penggilingan: sol belerang
- cara peptisasi yaitu dengan menambahkan ion sejenis ke dalam endapan koloid.contoh :
sol Al(OH)3
- cara Bredig yaitu meloncatkan bunga api listrik ke dalam suatu larutah elektrolit atau air:
sol logam
- homogenisasi: homogenisasi krem oleh lemak
B. Penggunaan Koloid dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan: 1). sifat adsorbsi koloid digunakan dalam berbagai proses: - pemutihan gula tebu
- penjernihan air - pembuatan obat norit - peristiwa koagulasi: - membuat agar-agar
- pencegahan polusi terhadap asap atau debu dengan alat koagulasi listrik kottrel - karet dalam lateks dengan menambahkan asam formiat
2). Kestabilan koloid : Suatu koloid yang stabil adalah sistem koloid yang partikel-partikelnya tidak menggumpal dalam waktu yang cukup lama. Untuk beberapa produk industri dalam bentuk koloid seperti obat-obatan diperlukan kestabilan untuk itu perlu stabilisator koloid dan dialisis.
Stabilsator yang biasa digunakan adalah emulgator dan koloid pelindung. Dialisis diartikan pemisahan zat-zat dari larutan atau pemisahan zat-zat terlarut dari suatu larutan dengan membuat larutan tersebut berdifusi melalui selaput semipermiabel. Proses dialisis pada alat pencuci darah: darah kotor dari pasien dilewatkan dalam pipa-pipa yang terbuat dari membran semipermiabel. Pipa semipermiabel ini dialiri cairan yang berfungsi sebagai pencuci (biasanya plasma darah , sehingga ion-ion dalam darah kotor akan terbawa aliran plasma darah.
3). Koloid pelindung
Koloid pelindung adalah koloid yang ditambahkan ke dalam sistem koloid agar menjadi stabil Contoh: penambahan gelatin pada pembuatan es krim, peambahan gum arab pada
pembuatan semir, cat dan tinta 4). Koloid liofil dan koloid liofob
Koloid liofil (suka cairan). Koloid dimana terdapat gaya tarik menarik yang cukup besar antara fase terdispersi dengan medium pendispersi. Contoh, disperse kanji, sabun, dan deterjen.
terdispersi dengan medium pendispersi yang cukup lemah atau bahkan
tidak ada sama
sekali.
Pemanfaatan sifat-sifat hidrofil dan hidrofob dalam kehidupan sehari-hari pada proses pencucian pakaian dengan menggunakan sabun atau ditergen. Sabun dan ditergen memiliki dua bagian utama yaitu bagian polar bersifat liofil (dapat membentuk hidrofil dengan air)dan bagian non polar bersifat liofob. Bagian liofil menempel air dan bagian liofob menempel pada kotoran.
Kegunaan Koloid
Sistem koloid banyak digunakan dalam kehidupan, terutama dalam kehidupan
sehari-hari. Hal ini disebabkan sifat karakteristik koloid yang penting, yaitu dapat digunakan untuk
mencampur zat-zat yang tidak dapat saling melarutkan secara homogen dan bersifat stabil
untuk produksi dalam skala besar.
Berikut ini adalah tabel aplikasi koloid:
Jenis industri
Contoh aplikasi
Industri makanan
Keju, mentega, susu, saus salad
Industri kosmetika dan perawatan tubuh
Krim, pasta gigi, sabun
Industri cat
Cat
Industri kebutuhan rumah tangga
Sabun, deterjen
Industri pertanian
Peptisida dan insektisida
Industri farmasi
Minyak ikan, pensilin untuk suntikan
Berikut ini adalah penjelasan mengenai aplikasi koloid :
1. Pemutihan Gula
Gula tebu yang masih berwarna dapat diputihkan. Dengan melarutkan gula ke dalam
air, kemudian larutan dialirkan melalui sistem koloid tanah diatomae atau karbon. Partikel
koloid akan mengadsorpsi zat warna tersebut. Partikel-partikel koloid tersebut mengadsorpsi
zat warna dari gula tebu sehingga gula dapat berwarna putih.
2. Penggumpalan Darah
Darah mengandung sejumlah koloid protein yang bermuatan negatif. Jika terjadi luka,
maka luka tersebut dapat diobati dengan pensil stiptik (styptic pencil) atau tawas yang
mengandung ion-ion Al
3+dan Fe
3+. Ion-ion tersebut membantu agar partikel koloid di protein
bersifat netral sehingga proses penggumpalan darah dapat lebih mudah dilakukan.
3. Penjernihan Air
Air keran (PDAM) yang ada saat ini mengandung partikel-partikel koloid tanah liat,
lumpur, dan berbagai partikel lainnya yang bermuatan negatif. Oleh karena itu, untuk
menjadikannya layak untuk diminum, harus dilakukan beberapa langkah agar partikel koloid
tersebut dapat dipisahkan. Hal itu dilakukan dengan cara menambahkan tawas (Al
2SO
4)
3Ion
Al
3+yang terdapat pada tawas tersebut akan terhidroslisis membentuk partikel koloid Al(OH)
3Al
3++ 3H
2