• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPEMIMPIN KYAI. DALAM MENJAGA MUTU PENDIDIKAN DI MA HAD Al-JAMI AH UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG. Nadhif Muhammad Mumtaz

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEPEMIMPIN KYAI. DALAM MENJAGA MUTU PENDIDIKAN DI MA HAD Al-JAMI AH UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG. Nadhif Muhammad Mumtaz"

Copied!
222
0
0

Teks penuh

(1)

KEPEMIMPIN KYAI

DALAM MENJAGA MUTU PENDIDIKAN DI MA’HAD Al-JAMI’AH UIN MAULANA MALIK

IBRAHIM MALANG

Nadhif Muhammad Mumtaz

(2)

2

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas berkah rahmat serta hidayah-Nya yang senantiasa dilimpahkan kepada penulis, sehingga bisa menyelesaikan penulisan buku dengan judul

“Kepemimpinan Kyai Dalam menjaga Mutu Pendidikan di Ma‟had al-Jami‟ah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang”. Pada dasarnya buku merupakan tesis yang sudah ujikan di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 22 April 2021 dan sudah melewati berbagai tahapan penyempurnaan.

Dalam penyusunan buku ini banyak hambatan serta rintangan yang penulis hadapi namun pada akhirnya dapat melaluinya berkat doa dan bimbingan serta bantuan dari berbagai pihak baik secara moral dan spiritual. Untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Lubis, MA. Selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Prof. Dr. Phil. Asep Saepudin Jahar, MA., Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Dr. Hamka Hasan, Lc., MA. Wakil Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Arif Zamhari, M.Ag., Ph.D. Ketua Program Studi Magister Pengkajian Islam Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

5. Dr. Imam Sujoko, M.A. Sekretaris Program Studi Magister Pengkajian Islam Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

(3)

6. Prof. Dr, Armai Arief, M.Ag., Dosen Pembimbing yang telah bersedia meluangkan banyak waktu untuk memberikan arahan selama penyusunan buku.

7. Seluruh jajaran Dosen dan Staf Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

8. Dr. KH. Ahmad Muzakki, MA, Selaku Kyai atau Mudir Ma‟had al-Jami‟ah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, yang meluangkan waktunya untuk bertemu dan wawancara secara langsung dengan penulis.

9. Seluruh narasumber yang telah bersedia membantu dan meluangkan waktu untuk diwawancarai.

10. Kedua orang tua Ayahanda H. Muhammad Fuad Hariri, MA dan Ibunda Hj. Martutik Indarwati, A.M.Keb beserta kakak Urfina Mazaya Husna, S.Keb, adik tercinta Aflah Muhammad Mumtaz. Yang telah memberikan doa dan dukungan selama proses penulisan.

11. Teman-teman seperjuangan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta angkatan 2019 yang selalu memberikan dukungan.

12. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu memberikan dukungan.

Penulis mohon maaf atas segala kesalahan yang pernah dilakukan.

Semoga buku ini dapat memberikan manfaat untuk mendorong penelitian-penelitian dalam bidang Ilmu Pendidikan Agama Islam selanjutnya.

Ciputat, 07 Juli 2021

Nadhif Muhammad Mumtaz

(4)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... 2

ABSTRAK... Error! Bookmark not defined. DAFTAR GAMBAR ... iii

DAFTAR TABEL ... iv

PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Permasalahan ... 15

C. Tujuan Penelitian ... 16

D. Signifikansi Manfaat Penelitian ... 16

E. Penelitian Terdahulu Yang Relevan ... 16

F. Metode Penelitian ... 25

G. Sistematika Pembahasan ... 29

KEPEMIMPINAN DAN MUTU PENDIDIKAN DI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM ... 31

A. Transformasi Kepemimpinan di Lembaga Pendidikan Islam ... 31

B. Urgensi Mutu di Lembaga Pendidikan ... 55

C. Relasi Kepemimpinan dan Mutu Pendidikan ... 63

KEPEMIMPINAN KYAI DAN MUTU PENDIDIKAN ... 73

A. Eksistensi Ma’had al-Jami’ah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ... 73

(5)

B. Model Kepemimpinan Kyai di Ma’had al-Jami’ah UIN

Maulana Malik Ibrahim Malang ... 91

C. Mutu Pendidikan Ma’had al-Jami’ah UIN Maliki Malang ... 98

MODEL KEPEMIMPINAN DAN MUTU PENDIDIKAN DI MA’HAD AL-JAMI’AH UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG ... 133

A. Implementasi Kepemimpinan Kyai ... 133

B. Implikasi Kepemimpinan Kyai Terhadap Mutu Pendidikan Ma’had al-Jami’ah UIN Maliki Malang ... 174

PENUTUP ... 181

A. Kesimpulan ... 181

B. Saran ...182

DAFTAR PUSATAKA ... 183

GLOSARIUM ... 207

INDEKS ... 211

(6)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Standar Mutu Manajemen Pusat Ma‟had al-Jami‟ah UIN Maulana Malik Ibrahim

Malang………...………..……62

Gambar 1. Standar Mutu Manajemen Pusat Ma‟had al-Jami‟ah UIN Maulana Malik Ibrahim

Malang………..…...64

(7)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. 1Integrasi Kelembagaan………...65 Tabel 2. Instrumen Standar

Mutu…………..………71-7 Tabel 3. Analisis Kekuatan dan Kelemahan………...86

Tabel 4. Data Kelulusan Mahasantri………..…..

104

(8)

ABSTRAKSI

Buku ini pada prinsipnya, ingin memberikan satu gambaran penting berkaitan dengan pola kepemimpin kyai dalam menjaga mutu

pendidikan di Ma‟had Al-Jami‟ah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, serta langkah strategis kyai dalam meningkatkan kualitas lembaga Ma‟had Al-Jami‟ah UIN Malang. Sebagai hasil dari sebuah penelitian yang intensif, buku ini disertai dengan metode penelitian yang bersifat kualitatif (field research), dengan pendekatan studi kasus.

Simpulan dari buku ini menunjukkan bahwa pola kepemimpinan kyai di Ma‟had al-Jami‟ah UIN Malang menggunakan pola kepemimpinan Transformasional. Hal ini tampak sosoknya yang berkarisma dan mampu menjadi role model (uswah) dalam mengambil segala

keputusan (Idealized influence), menginspirasi dan selalu memotivasi semua civitas akademika Ma‟had al-Jami‟ah (Inspirational

motivation), mendorong para musyrif/ah, Murabbi/ah untuk selalu melakukan inovasi (Intellectual stimulation), selalu mendengarkan masukan dan saran dari para musyrif/ah, Murabbi/ah

(Individualized consideration).

Secara konseptual, buku ini sejalan bahkan memperkuat penelitian yang dilakukan oleh Mardhiyah yang berjudul Kepemimpinan Kyai Dalam Menjaga Budaya Organisasi, artinya ada faktor pola

kepemimpinan pada setiap perbaikan Lembaga. Dan penelitian tidak sepakat dengan penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Maki dalam tesisnya yang berjudul “Kepemimpinan Transformasional dalam membina sikap toleransi” karena hanya mengurai kajian

kepemimpinan transformasional secara kelembagaan tanpa adanya

(9)

tokoh sentral sebagai sub penting dalam kajian kepemimpinan sebuah lembaga pendidikan.

(10)

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Apakah keberadaan mutu pendidikan sangat penting dalam dunia pendidikan?. Sebagaimana pertanyaan yang di ungkapkan oleh Mulyadi, dkk dalam penelitiannya.1 Wahyudi, dkk memberikan simpulan dalam kajiannya, bahwa jika mutu tidak diperhatikan oleh lembaga pendidikan maka lembaga tersebut akan tertinggal oleh lembaga-lembaga pendidikan yang lain serta tergerus oleh perkembangan zaman hingga akhirnya peserta didik akan banyak yang menjadi pengangguran.2 Hal yang sama dikatakan oleh Zulfakar, bahwa ketiadaan mutu di sebuah lembaga pendidikan akan berdampak langsung terhadap kualitas lingkungan kerja yang rendah, pada akhirnya akan menghasilkan produk yang rendah dan sulit bersaing di tingkat global.3 Dalam hal ini pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan yang khas di Indonesia.

Lantas bagaimana cara menjaga mutu dalam sebuah lembaga pendidikan?. Deming menekankan tentang pentingnya adanya kesesuaian dengan kebutuhan pasar lebih diprioritaskan. Jika sebuah lembaga

1 Mulyadi Hermanto, “Manajemen Mutu Terpadu (MMT) Dalam Pendidikan Islam”, Al- Muaddib: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Keislaman, Vol. 4, No. 2, (2019), 228; Muwahidah Nur Hasanah, “Manajemen Mutu dan Jaminan Mutu Sekolah Unggul”, Al-Lubab: Jurnal Penelitian Pendidikan dan Keagamaan Islam, Vol. 5, No. 1, (2019), 88; Wahyudi Septiadi, “Tinjauan Total Quality Management (TQM) Pada Lembaga Pendidikan Islam”, Nidhomul Haq: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 4, No. 1, (2019), 36

2 Wahyudi Septiadi, “Tinjauan Total Quality Management (TQM) Pada Lembaga Pendidikan Islam”, 45; Dalam Muatan Republika tahun 2015, Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2015 mencapai 7,65 juta orang atau bertambah 320 ribu orang terhadap Agustus 2014. Pengangguran paling banyak terjadi pada lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK). Berdasarkan data BPS, tingkat pengangguran terbuka (TPT) SMK mencapai 12,65 persen dari total jumlah pengangguran. Jumlah pengangguran SMK bahkan terus meningkat jika dibandingkan dengan periode Agustus 2014 yang sebesar 11,24 persen dan Februari 2015 9,05 persen. Sedangkan diurutan kedua, jumlah pengangguran paling banyak ditempati lulusan sekolah menengah keatas (SMA) sebesar 10,32 persen. Kemudian secara berturut-turut diikuti lulusan diploma I/III 7,54 persen, universitas 6,40 persen, sekolah menengah pertama 6,22 persen dan sekolah dasar kebawah 2,74 persen. Lihat, Dedy Achmad Kurniady dkk, “Manajemen Pembiayaan Pendidikan Terhadap Mutu Sekolah Menengah Kejuruan”, Jurnal Penenlitian Pendidikan, Vol. 17, Vol. 3, (2017), 264; Lihat juga, Husaini Usman, Manajemen: Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), 513

3 Zulfakar, “Mutu Dalam Lembaga Pendidikan Islam”, Jurnal Visionary, Vol. 4, No. 1, (2019), 3 ; Lihat juga, Kadarisman dan Saifullah Idris, “Orientasi Mutu Pendidikan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)”, Jurnal Mudarrisuna, Vol. 9, No. 2, (2019), 485

(11)

pendidikan mampu membidik kebutuhan masyarakat akan sebuah pendidikan yang sesuai dengannya maka lembaga tersebut akan membuat peserta didik merasa puas dan baik dalam melaksanakan pembelajaran.4 Pesantren dalam hal ini juga merupakan bagian dari sebuah lembaga pendidikan, begitu juga Ma‟had al-Jami‟ah. Selaras dengan apa yang dikatakan oleh Feigenbaum yang lebih sepakat bahwa mutu adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya (full customer satisfication). Artinya, Suatu produk dianggap bermutu apabila dapat memberikan kepuasan sepenuhnya kepada konsumen, yaitu sesuai harapan konsumen atas produk yang dihasilkan. Begitupun dengan lembaga pendidikan termasuk di dalamnya pesantren harus memuaskan peserta didik dengan berbagai proses menjamin kenyamanan peserta didik/santri.5

Secara komprehensif, Aan Komariah menegaskan bahwa mutu pendidikan tidak hanya berorientasi pada kepuasan pelanggan saja. Lebih dari itu, pendekatan proses, pola kepemimpinan, orientasi pada pelanggan, keterlibatan semua pihak, sistem dan manajemen, ketepatan dalam membuat keputusan, perbaikan secara berkelanjutan, dan hubungan yang saling menguntungkan dengan beberapa pihak juga menjadi hal yang tak kalah pentingnya.6

Jerome S. Arcaro juga angkat suara mengenai hal-hal yang harus diperhatikan dalam manejemen kualitas atau mutu pendidikan.

Menurutnya, pendidikan yang bermutu total /Total Quality School (TQS) tidak hanya terfokus pada pelanggan saja (customer), akan tetapi keterlibatan total dan komitmen seluruh komponen lembaga pendidikan

4 W. E. Deming, & D. W. Edwards, Quality, productivity, and competitive position, Vol.

183. (Cambridge, MA: Massachusetts Institute of Technology, Center for advanced engineering study: 1982), 176

5 A. V. Feigenbaum, “Total Quality Leadership”, Quality for Better Product Assurance and Reliability, 25, 18. (1986), 7; lihat juga, D. Permadi, & D. Arifin, Kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan komite sekolah, (Bandung: PT. Sarana Panca Karya Nusa, 2010), 10; Lihat juga, Sitti Rabiah, “Manajemen Pendidikan Tinggi Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan”, Jurnal Sinar Manajemen, Vol. 6, No. 1, (2019), 67

6 Aan Komariah dkk, Manajemen Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2010), 293-302

(12)

juga menjadi kunci akan suksesnya lembaga pendidikan tersebut dalam memenejemen mutu pendidikan, serta perbaikan yang berkelanjutan.7 Kendati berbagai faktor tidak boleh dilupakan, Joseph C. Field tetap menegaskan bahwa pendidikan yang bermutu harus berisi oleh orang- orang yang bertanggung jawab dan berkewajiban untuk mencapai atau mengejar kepuasan pelanggan. 8

Pembahasan akan naik turunnya kualitas pendidikan di sebuah lembaga pendidikan juga dilengkapi oleh Gisela Wiesner dan Nurhening Yuniarti. Dia lebih sepakat bahwa mutu di sebuah lembaga pendidikan lebih didominasi atau ditentukan oleh tenaga pendidiknya atau gurunya.

Profesionalisme guru sangat mempengaruhi peserta didik yang sedang berproses di lembaga pendidikan tersebut.9 Sama halnya juga dengan Pauline Deborah Barnes yang sepakat benar akan kualitas atau mutu pendidikan ditentukan oleh kualitas pendidik atau guru di lembaga pendidikan tersebut.10

7 J. Arcaro, Quality in education: An implementation handbook, (CRC Press, 1995), 15;

Syed Akhtarsha dan S. Karthick sepakat dengan hal ini juga, lihat selengkapnya di Syed Akhtarsha

& S. Karthick, “Total Quality Management In Education Sector”, International Journal of Management, (7), (2), (2016), 530-531; lebih jelasnya dalam memenejemen pendidikan harus dilakukan perencanaan yang sangat matang. Perencanaan ini akan melibatkan semua pihak yang sepakat secara bersama berkomitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan. Lihat, Najah Muhammad Said As-Soigh & Fatimah Nasir Al-Utaibi, “Waqi‟ At-Takhtit Al-Istiratijiyyat Ladayya Idarat At Tarbiyyat wa At-Ta‟lim fi Al-Mamlukah Al-„Arabiyyah As-Su‟udiyyah”, Journal of Faculty of Education, Vol. 1, No. 9, (2017), 144

8 J.C. Fields, Total quality for schools: A guide for implementation. (Vol. 829. Asq Pr, 1994), 24; O‟Neil dkk lebih menyepakati bahwa finansial atau pembiayaan dalam lembaga pendidikan sangat mempengaruhi mutu pendidikan lembaga tersebut. Tanpa pembiayaan yang mumpuni, kepuasan pelanggan tidak akan tercapai. Lihat juga, O‟Neill, Peter, Amrik Sohal, and Chih Wei Teng. "Quality management approaches and their impact on firms׳ financial performance–An Australian study." International Journal of Production Economics 171 (2016), 381.

9 Gisela Wiesner & Nurhening Yuniarti, “Systematic Quality Management In Vocational Educational Institutes: Roles of Teachers In Development of Organizational Quality”, Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan KEMENRISTEKDIKTI, Vol. 24, No. 1, (2018), 163

10 Pauline Deborah Barnes, “Teacher Standards and Profesionalism”, Thesis Submitted in Partial Fulfilment of The Requirements for the degree of Master of Education, Victoria University of Wellington, (2019), 2; Perlu diketahui juga, menurut Yantina Debora yang dimuat dalam media tirto.id mengemukakakan bahwa kualitas pendidikan ditentukan oleh guru. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menegaskan bahwa hal yang paling menentukan kualitas pendidikan adalah guru, sedangkan kurikulum seperti kurikulum 2013, kurikulum 2006

(13)

Dalam konteks Indonesia, Riza Yonisa mengungkapkan bahwa ketidak profesionalan guru adalah sumber dari problematika pendidikan.

Hingga akhirnya mutu pendidikan di Indonesia sangatlah sulit untuk ditingkatkan.11 Bedahalnya dengan Arief Rahmawan dan Muhammad Nur Kholis dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa kurikulum mempunyai pengaruh yang paling besar dalam membentuk lulusan di sebuah lembaga pendidikan menjadi lulusan yang baik.12 Dan beberapa pesantren di zaman modern sudah memiliki kurikulum yang sistematik.

Bahkan Cetinkaya dkk berpendapat posisi kurikulum sangat menentukan arah kemajuan bangsa. Karena kemajuan bangsa bergantung pada kemajuan pendidikannya13 dan kemajuan lembaga pendidikan (yang mana pesantren juga termasuk dari sebuah lembaga pendidikan) bergantung pada bagus tidaknya kualitas kurikulum tersebut.14

Dalam penerapan kurikulum, Ok Ju Kim15 merekomendasikan untuk melakukan proses evaluasi menggunakan model CIPP (Context, Input,

(KTSP), atau kurikulum apapun hanya “nama” (bagian luar). https://tirto.id/mendikbud-kualitas- pendidikan-ditentukan-guru-bxZK . Diakses pada tanggal 5 Februari 2020.

11 Masalah pendidikan di Indonesia jika ditinjau dari sisi kualitas Sumber daya Manusia masih jauh dibandingkan dengan negara lain. Berdasarkan data World Education Ranking yang diterbitkan Organitation For Economic Coorporation and Development (OECD, 2015), di posisi mana suatu negara maju jika ditinjau dari segi pendidikan. Organisasi ini menentukan peringkat negara mana yang terbaik dari segi membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan. Indonesia menempati urutan ke 69 dari total 75 negara. Berdasarkan laporan OECD, posisi tertinggi diraih oleh Singapura, kedua Hongkong, ketiga Korea Selatan, dan keempat Jepang. Lihat Riza Yonisa Kurniawan, “Identifikasi Permasalahan dan Pendidikan di Indonesia Untuk Meningkatkan Mutu dan Profesionalisme Guru”, Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) VII, (2016), 1416

12 Arief Rahmawan & Muhammad Nur Kholis, “Implementation Of Quality Function Deployment (QFD) In Agro-Industrial Technology Curriculum”, Agroindustrial Technology Journal, Vol. 01, No. 01, (2017), 10; Dia juga mengatakan bahwa kurikulum adalah ibarat pembimbing jalan, dia yang menunjukkan kemana tujuan lembaga tersebut, bagaimana bahan ajarnya, serta seperti apa lembaga pendidikan tersebut akan berkembang.

13 Lihat, Ahmad Judah Jabbar, “An-Nidzam At-Tarbawi wa At-Ta‟limi fi Al-Madaris wa Al-Jami‟at Al-„Iraqiyyah 1979-2003 (Dirasat Muqaranat ma‟a Nau‟iyyat At-Ta‟lim fi At-Dual Al- Mutaqaddimah)”, Majalat Kulliyat At-Tarbawiyyah, Vol. 4, No. 1, (2017), 545

14 Cetinkaya, Cihan, et al. "Quality function deployment implementation on educational curriculum of industrial engineering in university of gaziantep." Industrial Engineering in the big data era. Springer, Cham, (2019), 67-70.

15 Ok Ju Kim, “A Study on the Measures for Managing the Quality of Curriculum of Early Childhood Education Department in College with the Application of CIPP Model Based on PDCA”, Journal of Korea Cenvergence Society, Vol. 10, No. 1, (2019), 215

(14)

Process, Product). Dia mengatakan model evaluasi CIPP sangat berpengaruh besar untuk meningkatkan kualitas mutu pendidikan di sebuah lembaga pendidikan. Dalam perkembangannya, kurikulum memanglah menempati posisi strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan di sebuah lembaga pendidikan. Kurikulum merupakan sebuah landasan yang dijadikan pedoman dalam mengembangkan kemampuan pendidik dan peserta didik secara optimal guna mencapai tujuan pendidikan.16

Oleh karena itu otonomi yang lebih besar diberikan kepada sekolah adalah menyangkut pengembangan kurikulum, yakni kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanankan di masing-masing satuan pendidikan. Sedangkan pemerintahan pusat hanya memberi rambu- rambu yang perlu dirujuk dalam pengembangan kurikulum. Kurikulum merupakan alat yang sangat penting dalam keberhasilan suatu pendidikan, tanpa adanya kurikulum yang baik dan tepat, maka akan sulit dalam mencapai tujuan dan sasaran pendidikan yang di cita-citakan.17 Dalam hal ini, oleh sebab itu Rusman memberikan definisi terkait kurikulum dengan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.18

Hal menarik juga dilakukan oleh beberapa sarjana di Vietnam. Duong Thi Hoang Yen dkk melakukan sebuah penelitian terkait pengembangan kurikulum dari teori ke praktek terhadap VNU (Vietnam National University) University. Dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa

16 Asnawan, “Urgensi Pengembangan Kurikulum Pesantren Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan”, Jurnal Falasifa, Vol. 9, No. 2 (Sptember 2018), 135

17 S. Samsidar, “Manajemen Pemberdayaan Kurikulum Dalam meningkatkan Mutu Pendidikan”, Al-Muaddib: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Keislaman, Vol. 1, No. 1, (2017), 2 ; lihat juga, Abudin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Prenata Media, 2016), 105

18 Rusman, Manajemen Kurikulum, (Jakarta: Grafindo Persada, 2009), 3

(15)

dizaman 4.0 pengembangan kurikulum harus selalu dilakukan.

Pembaruan kurikulum senantiasa diterapkan serta penelitian-penelitian kebaharuan mengenai pendidikan khususnya kurikulum sangatlah berguna untuk menangkal problematika zaman pada zaman sekarang.

Perkembangan kurikulum yang rutin inilah yang akan menyebabkan meningkatnya kualitas lembaga pendidikan dengan drastis. Karena hanya lewat kurikulumlah solusi akan berbagai problematika pendidikan dapat ditemukan. Keefektifan kurikulum ini telah dilakukan oleh VNU (Vietnam National University) University dalam melakukan pelatihan peningkatan kualitas melawati pengembangan kurikulum.19

Sun Hee Kim Dan Seung-Mi Lee juga mendukung akan keefektifan kurikulum dalam meningkatkan dan memenejemen mutu pendidikan.

Mereka melakukan penelitian terkait peran terbesar kurikulum dalam meningkatkan dan memenejemen mutu ini pada Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah di Korea. Penelitian ini dilakukan pada fase input, proses, dan output kurikulum yang ada di sekolah tersebut serta hubungannya dengan guru, murid, dan orang tua. Hasil penelitian itu mengungkapkan bahwa kurikulum haruslah senantiasa dievaluasi guna menemukan kurikulum yang baru yang sesuai dengan kebutuhan lembaga pendidikan dan pihak yang terkait. Jika kurikulum mampu memenuhi kebutuhan lembaga pendidikan dan pihak yang terkait dalam hal ini adalah peserta didik dan orang tua, maka keberadaan kurikulum sangatlah penting dalam memenejemen dan meningkatkan mutu pendidikan.20

19 Duong Thi Hoang Yen dkk., “Curriculum Development in Higher Education – from Theory to Prectice at VNU University of Education in the Context of University Autonomy Implementation”, VNU Journal of Science: Education Research, Vol. 35, No. 4, (28, Oktober 2019), 37

20 Sun Hee Kim & Seung-mi Lee, “A Analysis of the Elementary School and the Middle School Mathematics Education as a Curriculum Quality Management”, Journal Communications of Mathematical Education, Vol. 31, No. 2, (2017), 167

(16)

Salah satu contoh penerapan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan konsumen (peserta didik dan orang tua) adalah seperti halnya penelitian yang telah dilakukan oleh Nur Muslim. Dalam penelitiannya, Nur Muslim fokus kepada Inovasi Kurikulum dalam meningkatkan Mutu Pendidikan. Latar penelitiannya adalah MTs Negeri Watulimo Trenggalek. Secara umum, hasil dari temuannya adalah perencanaan inovasi kurikulum dalam meningkatkan mutu pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen dilakukan dengan cara penambahan jam tatap muka mapel tertentu, program les tambahan, muatan lokal bahasa Jawa dan keterampilan tata busana, program les bahasa, program ekstrakulikuler, program pembiasaan dan program komputer. Pada aspek perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi juga dilakukan dengan cara baik.21

Hal yang berbeda dalam perdebatan ini juga dikemukakan oleh Jamiludin Usman. Dia lebih sepakat bahwa mutu pendidikan akan lebih efektif dikembangkan dan ditingkatkan jika manajemen pembiayaan telah benar-benar terpenuhi. Artinya finansial atau biaya sangatlah berpengaruh kuat akan keseimbangan perkembangan dan peningkatan mutu pendidikan di sebuah lembaga pendidikan. Bahkan di titik tertentu dapat menentukan nasib kualitas lembaga pendidikan khususnya pesantren tersebut.22 Selaras pula dengan apa yang dikatakan oleh Monoto Togatorop dalam penelitiannya. Dia mengungkapkan tentang pentingnya biaya dalam proses peningkatan mutu pendidikan. Biaya menjadi kunci utama dalam proses berjalannya pengajaran dan

21 Nur Muslim, “Inovasi Kurikulum Dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan (Studi Kasus di MTsN Watulimo)”, Jurnal Ta‟allum, Vol. 04, No. 01, (Juni 2016), 59

22 Jamaluddin Usman, “Urgensi Manajemen Pembiayaan Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan Madrasah”, Jurnal Tadris, Vol. 11, No. 2, (Desember 2016), 219; Lihat juga, O‟Neill, Peter, Amrik Sohal, and Chih Wei Teng. "Quality management approaches and /their impact on firms׳ financial performance–An Australian study." , 381.

(17)

pembelajaran.23 Bisa dikatakan juga hubungan antara biaya dan mutu seperti halnya hubungan timbal balik yang saling meningkatkan satu sama lain.24 Hubungan ini menunjukkan betapa pentingnya peran biaya dalam proses peningkatan mutu.

Selain adanya biaya itu sendiri, tata cara dalam memenejemen pembiayaan atau pendidikan manajemen keuangan juga sangat diperlukan dalam proses peningkatan mutu di sebuah lembaga pendidikan. Senada dengan yang diungkapkan oleh Kaiser dkk. bahwa pengetahuan akan manajemen biaya adalah hal yang penting dalam proses perkembangan dan peningkatan mutu pendidikan.25 Bahkan Luhrmann dkk. telah menemukan akan kuatnya pengaruh pendidikan manajemen keuangan terhadap tepatnya seseorang dalam memutuskan sebuah jawaban akan berbagai problematika yang dihadapinya.26 Tepatnya pilihan inilah yang nantinya akan mempengaruhi semua civitas akademik dalam meningkatkan mutu pendidikan bersama-sama.

Tidak berhenti di situ saja, baru-baru ini Idatul Fitriyah dan Achadi Budi Santoso telah melakukan penelitian akan berbagai faktor yang mempengaruhi peningkatan mutu dalam sebuah lembaga pendidikan khususnya pesantren. Secara garis besar banyak faktor yang mempengaruhi peningkatan mutu di sebuah lembaga pendidikan, akan tetapi faktor terbesar dalam proses peningkatan mutu adalah faktor

23 Monoto Togatorop, “Pengaruh Biaya Pendidikan Terhadap Mutu Sekolah SMA Swasta”, Scholaria: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 7, No. 3, (September 2017), 238

24 Augustyn, M. Marcjanna, Elshaer, A. Ibrahim, Raphael K. Akamavi, “Competing Models of Quality Management and Financial Performance Improfment”, The Service Industries Journal, (12 April 2019), 6; Lihat juga, Al-Zghoul, Mohammad Ahmed, et al. “Impact of Integration Between Quality Management Practices and Cost Management Techniques on Improving Financial Performance (A Field Study of Four and Five-Star Hotels in Amman)”, Journal of Association of Arab Universities for Tourism and Hospitality, Vol. 16, No. 2, (2019), 82-84

25 Tim Kaiser & Lukas Menkhoff, Does Financial Education Impact Financial Literacy and Financial Behavior, and if so, when?, (The World Bank: 2017)

26 M. Luhrmann, M. Serra Garcia, J. Winter, “The Impact of Financial Education on Adolescents‟ Intertemporal Choices”, American Economic Journal: Economic Policy, Vol. 10, No.

3, (2018), 399

(18)

kepemimpinan. Apalagi di era 4.0 pemimpin harus mengikuti perkembangan teknologi dan memiliki keterampilan untuk mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan, dan menggerakkan orang lain yang ada hubungannya dengan pelaksanaan dan pengembangan mutu pendidikan di era 4.0.27 hal ini dipertegas juga oleh Mulyasa yang berpendapat bahwa kepala sekolah atau seorang pemimpin memiliki peran terpenting dalam menentukan arah dan kualitas (mutu) pendidikan di sebuah lembaga pendidikan.28

Hal serupa juga dikemukakan oleh Tuti Andriani. Dalam penelitiannya dia fokus membahas akan kepemimpinan perempuan pada sebuah lembaga pendidikan khususnya pesantren. Tidak hanya laki-laki saja yang memiliki peran penting dalam meningkatkan mutu pendidikan, akan tetapi perempuan juga mampu dan layak untuk menjadi seorang pemimpin dalam sebuah lembaga pendidikan. Dalam proses perencanaan mutu, pengembangan mutu, dan peningkatan mutu pendidikan, pemimpin bertindak sebagai administrator, pengawas, inovator, dan motivator. Dalam kasusnya, telah banyak perempuan besar dan hebat yang sangat berpengaruh di lingkungan masyarakat, terkhusus dalam meningkatkan mutu pendidikan.29

Di dalam konteks keindonesiaan di masa kini, Mufassir dkk memberikan solusi model kepemimpinan untuk sebuah lembaga pendidikan khususnya pesantren. Di samping pemimpin memiliki peran terbesar dalam peningkatan mutu pendidikan, kesesuaian model dalam memimpin juga harus tepat guna kelancaran dan keberhasilan tujuan

27 Idatul Fitriyah & Achadi Budi Santoso, “Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0 Untuk Meningkatkan Mutu Sekolah”, Jurnal Manajemen, Kepemimpinan, dan Supervisi Pendidikan, Vol. 5, No. 1, (Januari 2020), 65

28 E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), 32

29 Tuti Andriani, “Peran Kepala Sekolah Perempuan Dalam Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Di Sekolah Dasar Muhammadiyah 01 Pekanbaru”, Potensia: Jurnal Kependidikan Islam, Vol. 5, No. 1, (2019), 15

(19)

yang akan dicapai. Mufassir dkk mengusulkan model kepemimpinan yang melayani (Servant Leadership) adalah model yang sangat tepat untuk meningkatkan mutu pendidikan di zaman sekarang. Dengan latar penelitian Madrasah Aliyah Muhammadiyah Kota Gorontalo, model kepemimpinan melayani (Servant Leadership) sangatlah efektif dalam manajemen mutu pendidikan.30 Dalam hal ini kepemimpinan melayani (Servant Leadership) adalah gaya kepemimpinan yang menekankan pada pentingnya aspirasi untuk organisasi daripada ambisi untuk orang tertentu. Bekerja sama, kolaborasi, kerendahan hati, siap mengabdi, profesional, dan menciptakan pengaruh positif adalah karakter dari kepemimpinan yang melayani. Selain itu, kepemimpinan melayani tidak hanya melihat dari gaya kepemimpinannya saja, akan tetapi lebih ditekankan kepada memimpin dengan landasan filsafat hidup.31

Sedangkan dalam dinamika kepemimpinan yang ada di lembaga pendidikan Islam khususnya pesantren saat-saat ini, ada berbagai model kepemimpinan pesantren,32 diantaranya, kepemimpinan kharismatik, paternalistik, otokratik, dan demokratik.33 Berbeda dengan Muslichan

30 Mufassir, dkk., “Model Kepemimpinan yang Melayani dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan”, Al-Minhaj: Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 2, No. 1, (2019), 38

31 Richard Savel & Cindy Munro, “Character and Servant Leadership: Ten Characteristics of Effective, Caring Leader”, American Journal of Critical Care, Vol. 26, No. 2, (2017), 97

32 Bermacam-macamnya model ini juga kerap kali dipengaruhi oleh tipologi pesantren tersebut. Tipologi pesantren saat ini terbagi menjadi 3 model pesantren secara garis besar.

Pertama, pesantren modern yang mana sering menggunakan gaya kepemimpinan demokratik.

Kedua, pesantren salaf yang mana sering menggunakan gaya kepemimpinan kharismatik. Ketiga, pesantren campuran yang mana sering menggunakan model kepemimpinan demokratik. Lihat Nor Fithriah, “Kepemimpinan Pendidikan Pesantren (Studi Kewibawaan Pada Pondok Pesantren Salafiyah, Modern, dan Kombinasi)”, Jurnal Ilmiah Al-Qalam, Vol. 12, No. 1, (2018), 13; selain karena dipengaruhi oleh corak atau tipologi pesantrennya sendiri, menurut Samsul Arifin perubahan gaya atau model kepemimpinan ini juga karena dipengaruhi oleh adanya arus teknologi yang mendesak untuk munculnya berbagai wawasan baru, serta adanya perubahan sosial di lingkungan pesantren dan lingkungan masyarakat. Lihat, Samsul Arifin, “Dinamika Kepemimpinan Pondok Pesantren”, Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam, Vol. 4, No. 2, (2016), 5

33 Amrullah Aziz, “Peningkatan Mutu Pendidikan”, Jurnal Studi Islam, Vol. 10, No. 2, (2015), 4; Kepemimpinan kharismatik bisa ditafsirkan dengan seorang pemimpin yang mewujudkan atmosfir motivasi atas dasar komitmen dan identitas emosional pada Visi, filosofi, dan gaya mereka dalam diri bawahannya. Kepemimpinan kharismatik juga didasarkan pada kekuatan luar biasa yang dimiliki oleh seorang pemimpin tersebut. Lihat, Fauzan, “Kepemimpinan

(20)

yang mengatakan untuk saat ini, gaya atau model kepemimpinan kiai di pondok pesantren terdiri dari kepemimpinan religio-paternalistik, paternalistik-otoriter, legal-formal, kepemimpinan bercorak alami, dan kepemimpinan kharismatik-tradisional-rasional.34 Intinya, dari semua gaya kepemimpinan tersebut sangatlah menentukan arah dan kualitas (mutu) di lembaga pendidikan tersebut.

Besarnya problem dalam sisi kualitas lembaga pendidikan yang disebabkan oleh seorang pemimpin yang tidak berkualitas menjadikan Juran angkat suara dalam hal ini, bagi seorang pemimpin seyogyanya melakukan 10 langkah sebagai berikut: membentuk kesadaran akan kebutuhan akan perbaikan dan peluang untuk melakukan perbaikan, menetapkan tujuan perbaikan, mengorganisasikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, menyediakan pelatihan, melaksanakan proyek yang bertujuan untuk memecahkan masalah, melaporkan perkembangan, memberikan penghargaan, mengkomunikasikan hasil- hasil yang dicapai, dan memelihara momentum dengan melakukan perbaikan dalam sistem reguler lembaga pendidikan.35

Peran pola kepemimpinan ini juga menjadi terminal terakhir yang harus menjadi satu kesadaran penting bagi lembaga pendidikan se-level Ma‟had al-Jami‟ah untuk membawa lembaga kependidikan Islam di bawah univesitas menjadi lembaga yang mampu bersaing dengan

Kharismatik VS Kepemimpinan Visioner”, Jurnal Al-„Adalah, Vol. 22, No. 2, (2019), 63;

Sedangkan dalam kepemimpinan paternalistik, Sudaryono mendefinisikannya dengan pemimpin yang perannya diwarnai oleh sikap kebapak-bapakan dalam arti bersifat melindungi, mengayomi, dan menolong anggota organisasi atau dalam hal ini adalah santri yang dipimpinnya. Lihat, Sudryono, Leadership, Teori dan Praktek Kepemimpinan, (Jakarta: Lentera Ilmu Cendekia, 2014), 230; kepemimpinan otoriter adalah kepemimpinan yang mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan yang mutlak yang harus dipenuhi. Pemimpin selalu berperan sebagai pemain tunggal.

Adapun kepemimpinan demokratik adalah kepemimpinan yang selalu berpihak pada kepentingan anggota, dengan berpegang pada prinsip mewujudkan kebenaran dan keadilan untuk kepentingan bersama, serta mengedepankan prinsip musyawarah, kerjasama, pendelegasian wewenang, dan konseptor. Lihat, Sri Wahyuni dan Zainal Arifin, “Kepemimpinan Demokratis Nyai dalam Pengembangan Pondok Pesantren”, Journal of Management in Education, Vol. 1, No. 1, (2016), 11

34 Muslichan Noor, “Gaya Kepemimpionan Kyai”, Jurnal Kependidikan, Vol. 7, No. 1, (2019), 9

35 J.M. Juran, Juran On Leadership For Quality, (Simon & Schuster, 2003), 33

(21)

lembaga berbasis kepesantrenan lainnya. Paling tidak, sampai saat ini geliat adanya Ma‟had al-Jami‟ah di universitas-universitas di Indonesia sudah mulai tampak eksistensinya sebagai penyokong pengetahuan agama mahasiswa.

Di bawah PTKIN sudah banyak bertebaran Ma‟had al-Jami‟ah yang sudah terintegrasi dengan universitas, seperti Ma‟had al-Jami‟ah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Ampel Surabaya dan kampus Islam lainnya seperti IAIN/STAIN lainnya. Semakin maraknya Ma‟had al-Jami‟ah ini tentu membutuhkan satu formulasi yang jelas dalam melakukan manajemen kelembagaannya dan memastikan mutu dan kualitasnya, salah satunya dengan memastikan keberadaan pemimpinnya (Kyai, Mudir atau sejenisnya) mempunyai strategi yang jitu.

Pentingnya faktor kepemimpinan dalam sebuah lembaga pendidikan Islam juga menjadi salah satu konsen Ma‟had al-Jami‟ah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (yang kemudian disebut Ma‟had al-Jami‟ah UIN Maliki Malang) dalam rangka meningkatkan mutu kelembagaannya. Secara prinsip Ma‟had al-Jami‟ah UIN Maliki Malang adalah Ma‟had atau pesantren yang berada di bawah naungan Universitas. Berdasarkan observasi dan hasil kajian sementara peneliti,36 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang adalah salah satu perguruan tinggi di bawah naungan Kementrian Agama yang memberlakukan sistem pendidikan bermodelkan pesantren yang secara langsung terintegrasi dengan kegiatan-kegiatan yang ada di kampus.

Seluruh mahasiswa baru dari semester satu sampai dua, diwajibkan

36 Observasi dan kajian sementara dilakukan pada tanggal 5, Februari 2020

(22)

mengikuti kegiatan di Ma‟had al-Jami‟ah UIN Maliki Malang tanpa terkecuali selama satu tahun.37

Persebaran mahasantri/wati38 di Ma‟had al-Jami‟ah UIN Maliki Malang sangatlah heterogen, tidak hanya heterogen secara suku, ras, ideologi, bahkan negara. Sehingga bisa dikatakan bahwa Ma‟had al- Jami‟ah UIN Maliki Malang kaya akan perbedaan. Di sisi lain keberadaan Ma‟had al-Jami‟ah UIN Maliki Malang secara kelembagaan akan sangat membantu universitas dalam melakukan penanaman moral para mahasantri/wati, akan tetapi secara manajemen kepesantrenan juga menjadi tantangan seorang kiai dalam memenejemen mutu pendidikan di tengah perbedaan. Selain itu, berbedanya jurusan dan fakultas tiap mahasantri menyebabkan problem bagi Ma‟had al-Jami‟ah untuk membina seluruh mahasantri dalam satu naungan Ma‟had al-Jami‟ah guna meningkatkan mutu pendidikannya. Integrasi yang konkrit tampaknya sangat sulit di terapkan antara jurusan-jurusan dan fakultas- fakultas yang ada di UIN Malang dengan Ma‟had al-Jami‟ah UIN Malang.

Belum lagi Ma‟had Jami‟ah yang bergerak dengan asas pesantren ini tidak semua mahasantrinya berangkat dari pesantren semua di waktu SMP atau SMA. Bahkan ada yang berangkat dari nol untuk belajar agama, ada pula yang keilmuannya sudah tinggi menyamai para muysrif dan murabbinya.

Selain itu, internalisasi agama terutama dalam bidang-bidang yang erat kaitannya dengan asas-asas agama itu lebih sulit diajarkan pada orang- orang dewasa ketimbang anak-anak. Hal ini dipertegas dengan apa yang dikatakan oleh Syahran bahwa anak-anak dalam belajar agama lebih

37 Ada beberapa mahasiswa yang setelah satu tahun tetap tinggal di Ma‟had al-Jami‟ah UIN Malang dengan status yang berbeda, yaitu sebagai Musyrif. Musyrif adalah mahasiswa UIN Malang yang berperan sebagai pengurus Ma‟had yang telah melewati seleksi yang diadakan oleh Ma‟had bagi para mahasiswa diatas semester dua yang menginginkan untuk tinggal dan mengabdi kepada Ma‟had. Lihat juga, Annisa Rasyidah, “Model Pengembangan Kurikulum Pesantren Kampus Berbasis Pendidikan Karakter (Studi Kasus di Pusat Ma‟had Jami‟ah UIN Maulana Malik Ibrahim malang)”, Tesis UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, (2018), 6

38 Julukan kepada mahasiswa dan mahasiswi yang menjadi santri di Ma‟had al-Jami‟ah UIN Maliki Malang

(23)

mudah karena mempunyai ingatan yang kuat dan tidak terlalu mempertanyakan apa yang diajarkan oleh gurunya. Sedangkan orang dewasa akan lebih banyak mempertanyakan apa yang dia terima dari gurunya tanpa fokus pada pemahaman yang sebenarnya, atau bisa dibilang terlalu bertele-tele.39

Lepas dari tantangan yang dihadapi oleh kiai di atas, keberadaan Ma‟had al-Jami‟ah UIN Maliki Malang secara mutu sudah menunjukkan hasil terbaiknya. Hal ini ditunjukkan dari berbagai prestasi yang diperoleh para mahasantri, diantaranya; capaian dalam memenangkan ajang Festival al-Banjari Nurul Ulum Blitar, juara pertama pada bidang Banjari, dan juara kedua pada bidang Nasheed di ITS (Institut Teknologi Surabaya).40 Tidak hanya di bidang ekstrakulikuler, Ma‟had al-Jami‟ah UIN Maliki Malang juga sering menjuarai laga debat bahasa arab dan inggris di level nasional dan internasional, serta berbagai event baca kitab kuning serta berbagai kejuaraan yang bersifat akademik lainnya.41

Berbagai capaian di atas, sudah barang tentu ada tangan dingin sosok kiai di belakangnya dengan pola manajemennya yang baik. Kecakapan seorang kiai dalam memainkan pola kepemimpinannya sangat menentukan arah kemajuan lembaga yang dinahkodainya. Artinya, seorang kiai atau pemimpin harus tepat dalam menentukan pola atau model kepemimpinannya karena hal itu akan berimbas pada setiap komponen lembaganya, lebih-lebih pada kualitas lulusannya.

Bertolak dari pemaparan di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang bagaimana model kepemimpinan kiai dalam meningkatkan mutu pendidikan di Ma‟had al-Jami‟ah UIN Maliki Malang.

39 M. Syahran Jailani, “Teori Pendidikan Keluarga dan Tanggung Jawab Orang Tua dalam Pendidikan Anak Usia Dini”, Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 8, No. 2, (2014), 254

40 http://msaa.uin-malang.ac.id/2019/10/31/jdfi-uin-malang-sabet-2-juara-sekaligus/

(Diakses pada tanggal 22 Feb 2019)

41 Ozair, wawancara, 1 Maret 2021

(24)

B. Permasalahan

1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan, maka identifikasi masalah yang akan dibahas masing-masing adalah sebagai berikut:

a. Berbagai hasil riset dan kajian telah menyatakan bahwa kepemimpinan mempunyai peran yang paling penting dalam meningkatkan kualitas atau mutu di sebuah lembaga pendidikan.

b. Fenomena pesantren masuk kampus atau disebut dengan Ma‟had Jami‟ah, salah satunya Ma‟had al-Jami‟ah UIN Malang

c. Mahasiswa yang ada di Ma‟had al-Jami‟ah UIN Malang sangatlah heterogen dari segala aspeknya.

d. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa mengajarkan ajaran dasar agama ke orang dewasa lebih sulit dari pada ke anak-anak.

e. Proses pendidikan yang amatlah singkat (satu tahun) menjadi pertanyaan besar tentang maksimalisasi dalam menjaga mutu pendidikan di kalangan mahasantri

2. Rumusan Masalah

Penelitian ini memilih tema “kepemimpinan kiai dalam menjaga mutu Pendidikan (studi kasus Ma‟had al-Jami‟ah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)”. Maka perumusan masalah tersebut diturunkan ke dalam dua inti pertanyaan penelitian berikut: (1). Bagaimana pola kepemimpinan kiai dalam menjaga mutu pendidikan di Ma‟had al-Jami‟ah Ma‟had al- Jami‟ah UIN Malang? (2). Bagaimana implementasi pola kepemimpinan kiai dalam menjaga mutu Pendidikan di Ma‟had al-Jami‟ah UIN Malang?

3. Pembatasan Masalah

Agar penelitian ini lebih tegas dan fokus, maka dilakukanlah pembatasan masalah, sehingga pembahasan spesifik pada satu kasus

(25)

tertentu. Yang di maksud dengan kepemimpinan kiai dalam menjaga mutu pendidikan (studi Kasus Ma‟had Jami‟ah UIN Malang) adalah model kepemimpinan kiai dan implikasinya dalam menjaga mutu pendidikan di Ma‟had al-Jami‟ah UIN Malang pada tahun 2020.

C. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini, diantaranya; untuk mengidentifikasi model kepemimpinan kiai di Ma‟had al-Jami‟ah UIN Malang dan mengidentifikasi dampak atau implikasi model kepemimpinan dalam menjaga mutu Pendidikan di Ma‟had al-Jami‟ah UIN Malang.

D. Signifikansi Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang ingin di peroleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Penelitian ini penting sebagai wawasan baru tentang model kepemimpinan kiai dalam menjaga mutu pendidikan di Ma‟had al- Jami‟ah UIN Malang.

2. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi yang berbeda dari penelitian sebelumnya mengenai studi-studi kepemimpinan kiai dalam menjaga mutu pendidikan di Ma‟had al- Jami‟ah UIN Malang.

E. Penelitian Terdahulu Yang Relevan

Pada bagian ini, penulis mencantumkan beberapa karya ilmiah terdahulu yang dianggap mempunyai relevansi dengan penelitian yang ditulis oleh penulis sebagai gambaran relasi antara tulisan penulis dengan karya-karya ilmiah lainnya yang senyawa dan mendukung penelitian ini, yang diantaranya adalah;

(26)

Tulisan Mardhiyah yang berjudul Kepemimpinan Kyai Dalam Menjaga Budaya Organisasi.42 Tulisan ini menjelaskan bagaimana pola kepemimpinan kiai dalam menjaga budaya organisasi di berbagai pesantren, yaitu pesantren Lirboyo (salaf), pesantren Gontor (modern), dan pesantren Tebuireng (campuran). Penelitian dengan multi kasus ini telah menemukan berbagai perbedaan dan persamaan ketiga pesantren tersebut. Dari segi keilmuan, perbedaan besar yang terjadi pada tiga pesantren tersebut adalah pesantren Gontor unggul dalam ilmu bahasa Arab, Inggris, dan kepemimpinannya. Sedangkan pesantren Lirboyo unggul akan ilmu alat (Nahwu dan Shorof) serta pengkajian kitab klasik Islam. Adapun pesantren Tebuireng unggul pada ilmu al-Qur‟an dan al- Hadistnya. Selanjutnya model kepemimpinan yang digunakan adalah kepemimpinan transformasional dalam menjaga budaya organisasi.

Upaya yang dilakukan adalah proses seleksi, proses sosialisasi, dan tindakan manajemen puncak. Kelemahan penelitian ini adalah terlalu banyaknya variabel yang menyebabkan penelitian ini kurang fokus. Selain itu peneliti tidak terjun secara langsung dengan waktu yang lama untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian. Perbedaannya adalah penelitian ini dilakukan di 3 tempat yang mana di situ akan dilakukan studi komparasi, sedangkan penelitian peneliti hanya dilakukan di satu tempat. Selanjutnya penelitian ini meneliti kiai, budaya organisasi, dan seluruh komponen pesantren, sedangkan penelitian peneliti fokus terhadap pemimpin dalam menjaga mutu pesantren. Kesamaannya adalah temuan pola kepemimpinan dua penelitian ini sama-sama menggunakan pola kepemimpinan transformasional.

Tesis dari Ahmad Maki berjudul Kepemimpinan Tranformasional Dalam Pembinaan Toleransi Budaya Mahasiswa di Ma‟had Al-Jami‟ah

42 Mardhiyah, “Kepemimpinan Kiai Dalam Menjaga Budaya Organisasi (Studi Multi Kasus Pondok Modern Gontor Ponorogo, Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, dan Pesantren Tebuireng Jombang”, Desertasi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, (2010)

(27)

IAIN Palangkaraya43. Penelitian ini telah menemukan bahwa pengelolaan Ma‟had al-Jami‟ah IAIN Palangkaraya terwujud dengan sosok pemimpin Ma‟had al-Jami‟ah yang memiliki gaya kepemimpinan transformasional dengan menerapkan prinsip-prinsip transformasional yaitu simplikasi dengan mensosialisasikan visi misi secara kontinu, motivasi diwujudkan dengan pendelegasian tugas-tugas pada musyrif/ah, memperhatikan kebutuhan mahasiswa, dan memperhatikan kreasi dan inovasi. Adapun pembinaan toleransi kultur mahasiswa di Ma‟had al- Jami‟ah IAIN Palangkaraya melalui beberapa pola kegiatan, yaitu pola peribadatan, pola pendidikan, dan pola sosial (pergaulan dan interaksi).

Tidak adanya tokoh sentral dalam Ma‟had al-Jami‟ah tersebut menyebabkan kurangnya validitas penelitian ini dalam menjustifikasi pola kepemimpinan kya. Perbedaan yang tampak adalah tidak adanya tokoh sentral dalam penelitian ini serta arah implikasi pola kepemimpinan yaitu untuk membina toleransi budaya mahasiswa.

sedangkan penelitian peneliti menghendaki tokoh sentral dan arah implikasi adalah menjaga mutu pendidikan. Persamaannya adalah kedua kiai sama-sama menggunakan pola kepemimpinan transformasional.

Selanjutnya Mufassir, Roni Muhammad, dan Abdurahman Mala juga melakukan penelitian dengan judul Model Kepemimpinan Yang Melayani Dalam meningkatkan Mutu Pendidikan: Studi Servant Leadership Kepala Madrasah Aliyah Muhammadiyah Kota Gorontalo.44 Tulisan ini menjelaskan bahwa model kepemimpinan melayani (Servant Leadership) sangatlah tepat diterapkan untuk meningkatkan mutu pendidikan sekolah atau madrasah saat ini, karena model kepemimpinan ini sangat sesuai dengan filosofi kependidikan di Indonesia terlebih dalam

43 Ahmad Maki, “Kepemimpinan Transformasional Dalam Pembinaan Toleransi Budaya Mahasiswa Di Ma‟had al-Jami‟ah IAIN Palangkaraya”, Tesis IAIN Palangkaraya, (2015)

44 Mufassir, dkk., “Model Kepemimpinan Yang Melayani Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan: Studi Servant Leadership Kepala Madrasah Aliyah Muhammadiyah Kota Gorontalo”, Al-Minhaj: Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 2, No. 1, (2019)

(28)

konteks kekinian. Sedangkan bentuk penerapan kepemimpinan ini adalah seperti mendengarkan harapan warga madrasah, berempati, memiliki dan meningkatkan kesadaran diri warga madrasah, membangun kekuatan persuasif yang menyatukan kebersamaan di antara warga madrasah, mampu melayani, dan memiliki komitmen terhadap pengembangan individu serta memiliki visi dan misi yang jelas demi masa depan madrasah. Kepemimpinan melayani terkadang menyebabkan tidak konsisten dan tegasnya seorang pemimpin. Hal ini juga menyebabkan berkurangnta efektivitas seorang pemimpin dalam mengendalikan bawahannya. Perbedaan tempat dan pola kepemimpinan menjadikan penelitian ini berbeda dengan penelitian peneliti. Kesamaannya adalah arah implikasi, yaitu guna menjaga mutu pendidikan.

Idatul Fitriyah & Achadi Budi Santoso menulis sebuah penelitian yang berjudul Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0 Untuk Meningkatkan Mutu Sekolah.45 Tulisan ini menjastifikasi bahwa kepemimpinan memiliki peran terpenting dalam meningkatkan mutu pendidikan. lantas kepemimpinan yang ideal adalah kepemimpinan yang mengikuti tuntutan revolusi industri 4.0, yakni pemimpin yang mengikuti perkembangan teknologi yang mana pemimpin tersebut memiliki ketrampilan dalam mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan, dan menggerakkan orang lain yang ada hubungannya dengan pelaksanaan dan pengembangan mutu pendidikan di era revolusi industri 4.0. Penelitian ini membahas bagaimana seorang pemimpin menghadapi era 4.0 dalam menjaga mutu pendidikan.

Berbagai tantangan di era 4.0 haru diselesaikan dengan penentuan pola kepemimpinan yang tepat. Yang patut disayangkan dari penelitian ini ada tidak adanya pemaparan problematika-problematika di era 4.0 sehingga

45 Idatul Fitriyah & Achadi Budi Santoso, “Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0 Untuk Meningkatkan Mutu Sekolah”, Jurnal Manajemen, Kepemimpinan, dan Supervisi Pendidikan, Vol. 5, No. 1, (Januari 2020)

(29)

sedikit mempersulit pembaca perihal apa yang seharusnya dihadapi seorang pemimin di era 4.0. Hal itu setidaknya sedikit membedakan dengan penelitian peneliti yang mana pemimpin tidak hanya menghadapi tantangan era 4.0 saja, namun semua problematika yang muncul dalam lembaga harus di selesaikan dan terus ditingkatkan mutu pendidikannya.

Dalam hal ini, tidak harus laki-laki yang menjadi seorang pemimpin dalam meningkatkan mutu pendidikan. Tuti Andriani melakukan sebuah penelitian yang terkait kepemimpinan perempuan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dengan berjudul Peran Kepala Sekolah Perempuan Dalam Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Di Sekolah Dasar Muhammadiyah 01 Pekanbaru. 46 Penelitian ini menegaskan bahwa perempuan sangatlah layak untuk menjadi seorang pemimpin.

Dalam proses pengembangan dan peningkatan mutu, perempuan bertindak sebagai administrator, pengawas, inovator, dan motivator.

Namun ada beberapa hal yang menghambat seorang perempuan yang berperan menjadi seorang pemimpin dalam proses pengembangan dan peningkatan mutu tersebut, yaitu pemimpin perempuan masih sulit menyembunyikan atau mengendalikan emosinya, kondisi fisik yang lemah dan rentan terhadap penyakit, serta kesulitan berkolaborasi dengan yayasan, sehingga sedikit menghambat kepemimpinan perempuan. Serasa lebih lengkap jika penelitian ini juga memaparkan model dan gaya kepemimpinan laki-laki, sehingga diharapkan akan adanya sebuah perbandingan antara kepemimpinan perempuan dan laki- laki. Adanya penelitian ini menjadikan pelengkap wawasan bagi penelitian peneliti, perbedaan objek kajian dan spesifikasi penelitian (kepemimpinan perempuan) menjadi perbedaan utama jika disandingkan dengan penelitian peneliti.

46 Tuti Andriani, “Peran Kepala Sekolah Perempuan Dalam Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Di Sekolah Dasar Muhammadiyah 01 Pekanbaru”, Potensia: Jurnal Kependidikan Islam, Vol. 5, No. 1, (2019)

(30)

Penelitian Malik Fatoni yang berjudul Peran Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Mutu Guru di MTS Nurul Falah Talok Kresek Kabupaten Tangerang.47 Penelitian ini mengungkapkan bahwa kepala madrasah dalam upaya meningkatkan mutu guru MTS Swasta Nurul Falah Talok Kresek Kabupaten Tangerang meliputi berbagai kerja praktis dan logis seperti uji kompetensi terhadap guru, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan guru. Selanjutnya kepala madrasah juga melakukan berbagai upaya pengembangan dan pemenuhan kebutuhan terkait infrastruktur dan sarana prasarana madrasah. Adapun hal-hal yang menunjang proses peningkatan mutu, yaitu kepala madrasah dapat memainkan peran penting sebagai seorang pemimpin dengan kekuatan sentralnya untuk selalu menggerakkan urat nadi kehidupan madrasah.

Kepala madrasah juga dapat memahami SOP, tugas, dan fungsi bawahannya demi keberhasilan madrasah disertai oleh sikap responsibility. Sisi kelemahan dalam penelitian ini adalah subjek yang diwawancarai tidak mewakili validitas kesimpulah atau hasil penelitian dikarenakan jumlah yang sedikit. Perbedaan objek kajian dan hasil kajian menjadi pembeda utama dalam penelitian ini. Kesamaannya adalah penelitian ini juga membahas mengenai korelasi pemimpin dan mutu lembaga pendidikan.

Helmi Aziz dan Nadri Taja menulis tentang kepemimpinan kiai dengan berjudul Kepemimpinan Kyai Dalam Menjaga Tradisi Pesantren (Studi Deskriptif Pesantren Khalaf al-Mua‟awanah Kabupaten Bandung Barat).48 Hal yang ditemukan dalam penelitian ini adalah strategi seorang pemimpin ketika pesantrennya bertransformasi dari salaf ke khalaf di tengah-tengah perkembangan zaman. Kepemimpinan kiai di kondisi

47 Malik Fatoni, “Peran Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Mutu Guru Di MTS Nurul Falah Talok Kresek Kabupaten Tangerang”, Jurnal Tarbawi, Vol. 3, No. 2, (2017)

48 Helmi Aziz & Nadri Taja, “Kepemimpinan Kyai Dalam Menjaga Tradisi Pesantren (Studi Deskriptif di Pondok Pesantren Khalafi al-Mu‟awanah Kabupaten Bandung Barat)”, Jurnal Ta‟dib, Vol. 5, No. 1, (2016)

(31)

seperti ini harus mampu melakukan pembaharuan tanpa membuang tradisi yang sudah ada. Hasilnya kepemimpinan kiai yang ditemukan Helmi dan Taja adalah kepemimpinan yang mampu memegang prinsip lokal dan cakap berinteraksi menghadapi nilai-nilai global. Penelitian ini terlalu menunjukkan sisi positif pesantren hingga terkesan promosi pesantren. Alangkah baiknya juga menyelipkan sisi kelemahan pesantren hinge terkesan objektif. Selain objek kajian, orientasi implikasi kebijakan kiai juga menjadikan pembeda dengan penelitian yang dilakukan peneliti.

Naufal Ahmad Rijalul Alam & Asmaji Muctar, dalam tulisannya yang berjudul A Charismatic Leadership of Kyai on Religious Education Practices in Indonesian Pesantren49 memaparkan salah satu gaya kepemimpinan yang jitu dalam mengolah pendidikan di sebuah pesantren Indonesia. Kepemimpinan kharismatik adalah kepemimpinan yang dilakukan untuk memahami perubahan dan inovasi penting dalam proses akademik dan non-akademik. Selain itu kepemimpinan kharismatik mampu meningkatkan kinerja guru, santri, dan penduduk sekitar guna untuk memperbaiki kinerja dan produktivitas di bidang yang sedang mereka tekuni. Penelitian ini berfungsi menambah wawasan peneliti dan pembaca dalam bidang kepemimpinan dan lembaga pendidikan. Namun meskipun kepemimpinan kharismatik sangatlah efektif, tidak menutup kemungkinan untuk memiliki kekurangan, seperti memiliki potensi untuk menutup kreatifitas bawahannya. Perbedaannya adalah penelitian ini berfokus pada kepemimpinan kharismatik di pesantren.

Tidak berhenti di situ saja, Umiarso dan Abd. Muhith dalam tulisannya yang berjudul Contruction Organizational Culture In Gender

49 Naufal Ahmad Rijalul Alam & Asmaji Muchtar, “A Charismatic Leadership of Kyai on Religious Education Practices in Indonesian Pesantren”, Library Philosophy and Practice (e- journal), 2, (2020)

(32)

Pesantren Through Kyai‟s Transformasional Leadership50 juga mengemukakan salah satu gaya kepemimpinan yang jitu untuk membangun budaya organisasi yang kuat dalam rangka menjaga kualitas pesantren. Dalam penerapannya, kepemimpinan transformasional menggunakan empat dimensi kepemimpinan, yaitu pengaruh yang diidealkan, motivasi inspirasional, motivasi intelektual, dan pertimbangan individu. Jika penelitian ini menambahkan objek penelitian lebih dari satu maka akan lebih menarik bagi pembaca. Persamaan penelitian ini adalah sama-sama membahas tentang kepemimpinan transformasional, sedangkan perbedaannya adalah mengenai pembahasan gender.

Fatima Salim Mohamed Zanqar, Ali Khatibi, S.M. Ferdous Azam, Jocquline Tham, dalam tulisannya yang berjudul The Challenges of Total Quality Management On Education Quality In UAE menjelaskan tentang pentingnya menggunakan TQM (Total Quality Management) dalam menjaga dan meningkatkan kualitas lembaga pendidikan. TQM mewakili satu set praktik untuk mempertahankan kualitas dalam pemberian layanan untuk organisasi modern. Selain itu prinsip TQM salah satunya adalah fokus terhadap pelanggan. Penelitian ini juga menemukan beberapa hal yang menyebabkan sebuah lembaga tidak menerapkan TQM, di antaranya dikarenakan pemimpin yang kurang mumpuni, kurangnya keterampilan mengajar, tidak mempertimbangkan pentingnya kepuasan pelanggan, dan kurangnya perencanaan untuk program pelatihan intensif berdasarkan kebutuhan dasar organisasi. Penelitian ini sangat bagus untuk pembanding dalam pembahasan manajemen mutu pendidikan. Namun yang disayangkan adalah peneliti tidak memberikan berbagai objek kajian lapangan yang berbeda-beda, mengingat

50 Umiarso & Abd. Muhith, “Construction Organizational Culture in Gender Pesantren Throgh Kiai‟s Transformasional Leadership”, Jurnal Pemikiran Islam, Vol. 24, No. 1, (2019)

(33)

kompleksitas lembaga Pendidikan sangatlah beragam. Yang membedakan dengan penelitian peneliti adalah objek kajian. Selain itu peneliti juga membahas tentang korelasi pola kepemimpinan dan mutu pendidikan.

Di era 4.0 dengan derasnya arus teknologi, Huang Wanwen merilis sebuah tulisan yang berjudul Study On The Construction Of Total Quality Management Based On Internet Educational Teaching Research Projects.51 Dalam tulisannya dikatakan bahwa untuk meningkatkan mutu pengajaran dalam lembaga pendidikan di era 4.0 harus terintegrasi atau menggunakan sistem internet. Membangun kesadaran pada semua komponen akan layanan internet terintegrasi. Manajemen kualitas komprehensif akan tercipta jika manajemen pengajaran dan penelitian menggunakan basis internet. Kelemahan penelitian ini adalah peneliti seolah-olah memukul rata model lembaga Pendidikan di Indonesia.

Padahal keragaman lembaga Pendidikan juga menentukan segala hal yang berkaitan dengan lembaga Pendidikan tersebut. Perbedaan yang tampak adalah penelitian ini membahas juga tentang bagaimana mutu Pendidikan bisa terintegrasi dengan sistem internet.

Berbagai literatur yang telah dikemukakan di atas, menjadi pijakan dalam menganalisis tema-tema yang dimunculkan dalam studi ini. Hal ini dilakukan untuk menguatkan basis argumentasi dalam memahami dan melihat lebih jauh kepemimpinan kiai dalam menjaga mutu pendidikan.

Adapun perbedaan literatur yang telah dikemukakan di atas dengan penelitian ini, diantaranya penelitian ini lebih pada model atau gaya kepemimpinan kiai dalam menjaga mutu pendidikan dan implikasinya dalam menjaga mutu tersebut, serta hanya berfokus pada analisa kepemimpinan kiai yang ada di lingkungan Ma‟had al-Jami‟ah UIN Malang.

51 Huang Wanwan, “Study On The Construction Of Total Quality Management Based On Internet Educational Teaching Research Projects”, Education Reform and Development, Vol. 1.

No. 1, (2109)

(34)

F. Metode Penelitian

Sesuai dengan tujuan penelitian, bahwa penelitian ini dilakukan di lapangan yang dikategorikan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif-analitik.52 Penelitian ini dilakukan di Ma‟had al-Jami‟ah UIN Malang.53

1. Sumber Data

a. Sumber primer adalah Kyai, Murabby, Musyrif, Mu‟allim, dan Mahasantri Ma‟had al-Jami‟ah UIN Maliki Malang.

b. Sumber sekunder adalah berupa buku-buku, disertasi, tesis, jurnal, artikel, dan sumber-sumber lain yang berkaitan dengan penelitian.

2. Teknik Pengumpulan Data

Data merupakan bahan penting yang digunakan oleh peneliti untuk menjawab pertanyaan atau menguji hipotesis dan mencapai tujuan penelitian. Oleh karena itu, data dan kualitas data merupakan pokok penting dalam penelitian karena menentukan kualitas hasil penelitian.

Data diperoleh dari suatu proses yang disebut pengumpulan data.

Menurut Ulber Silalahi pengumpulan data adalah satu proses mendapatkan data empiris melalui responden dengan menggunakan metode tertentu.54 Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data telaah dokumen, wawancara mendalam, dan observasi.

52 Suatu metode yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data atau sampel yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum, Lihat Sugiyono, Metode Penelitian Kombinasi (Mix Methods), (Bandung: Alfabeta, 2015), 63. Lihat Juga Peter M.

Nardi, Doing Survey ResearchA Guide to Quantitative Methods, (New York: Routledge, 2018), 82

53 Jenis penelitian ini adalah studi kasus. Creswell mengemukakan fokus studi kasus adalah spesifikasi kasus dalam suatu kejadian baik itu yang mencakup individu, kelompok budaya ataupun suatu potret kehidupan dan dalam hal ini peneliti mefokuskan pada eksistensi pesantren dalam araus perubahan. Lihat, John W.Creswell, Qualitative Inquiry and Research Design:

Choosing Among Five Tradition, (London: SAGE Publications, 1998), 37

54 Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sosial. (Bandung; PT. Refika Aditama, 2009), 280;

Lihat juga, Armai Arief, Pengantar Ilmu Dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), 33

Referensi

Dokumen terkait

Hal inilah yang menjadi alasan peneliti untuk mencoba meneliti strategi yang telah dilakukan oleh Mudir Ma’had dalam meningkatkan mutu mahasantri dengan berbagai program yang ada

Ruang Lingkup Fokus penelitian yang dilakukan adalah mengenai sebuah Unit Pengembangan Kreativitas Mahasantri UPKM di sebuah lembaga Pusat Ma‘had Al-Jami‘ah di UIN Maulana Malik

Penelitian tentang pengembangan bahan ajar bahasa Arab online berbasis website Wakelet ini penting untuk dilakukan karena beberapa hal, di antaranya untuk

Berisi kebijakan SMK3 Tentu, dengan senang hati saya akan bantu membuat deskripsi tentang SMK3. SMK3 (Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja) adalah suatu sistem yang terintegrasi dalam keseluruhan sistem manajemen organisasi yang meliputi perencanaan, organisasi, pengarahan, koordinasi, pengendalian, pengawasan, dan evaluasi terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan keselamatan dan kesehatan kerja untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Tujuan Utama SMK3: Mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, dan nyaman. Meningkatkan produktivitas kerja. Memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Meningkatkan citra perusahaan. Komponen Utama SMK3: Kebijakan K3: Pernyataan resmi dari pimpinan tertinggi perusahaan tentang komitmen perusahaan terhadap K3. Organisasi dan tanggung jawab: Penunjukan petugas K3, pembentukan panitia K3, dan penetapan tanggung jawab masing-masing pihak terkait. Perencanaan dan program K3: Identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan pengembangan program K3 untuk mengendalikan risiko. Implementasi: Pelaksanaan program K3 yang telah direncanakan, termasuk pelatihan K3 bagi pekerja. Pemeriksaan dan evaluasi: Melakukan pemeriksaan dan evaluasi secara berkala terhadap pelaksanaan program K3. Tindakan perbaikan: Melakukan tindakan perbaikan terhadap ketidaksesuaian yang