Di tengah-tengah situasi yang semakin terdesak, pemerintah Jepang di Tokyo
menjanjikan memberi kemerdekaan bagi Indonesia (7 September 1944)
Para pemimpin Indonesia menentukan sikap untuk menyatakan kemerdekaan atas
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara
Pertama: dari sudut pandang politik,
proklamasi mengandung arti pernyataan bangsa Indonesia melalui pemimpinnya, Soekarno-Hatta, yang ditujukan kepada
seluruh rakyat Indonesia dan seluruh dunia bahwa sejak saat itu bangsa Indonesia
Kedua: dari sudut pandang hukum,
proklamasi mengandung arti sebagai pernyataan bangsa Indonesia melalui
Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah “norma pertama” tata hukum Republik Indonesia. Pengesahan UUD 1945 oleh PPKI pada
Rancangan UUD dari BPUPKI dengan
beberapa perubahan akhirnya ditetapkan dan disahkan oleh Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia dalam sidangnya tanggal 18 Agustus1945. Sidang itu
Keseluruhan naskah UUD Negara RI Tahun 1945 itu kemudian dimuat dalam Berita Republik Indonesia tahun ke II nomer 7, terdiri atas tiga bagian, yakni:
Bagian Pembukaan
Bagian Batang Tubuh
Tidak terlepas dari:
(a) pandangan tokoh-tokoh bangsa Indonesia sebagai perancang dan yang menetapkan UUD 1945, dan
Pokok-pokok pikiran dalam Pembukaan:
◦ Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dengan berdasar atas persatuan dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Negara mengatasi segala paham golongan, mengatasi segala paham perseorangan.
◦ Negara yang berkedaulatan rakyat, berdasar atas kerakyatan dan permusyawaratan
perwakilan.
◦ Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. UUD mewajibkan pemerintah dan
lain-lain penyelenggara negara untuk
UUD menciptakan pokok-pokok pikiran
yang terkandung dalam pembukaan
dalam pasal-pasalnya.
Pokok-pokok pikiran tersebut meliputi
suasana kebatinan dari UUD Negara
Indonesia. Pokok-pokoki pikiran ini
mewujudkan cita-cita hukum
(Rechtsidee)
yang menguasai hukum
dasar negara, baik hukum dasar yang
tertulis (UUD) maupun hukum dasar yang
tidak tertulis. UUD menciptakan
Telah cukup jikalau UUD hanya memuat
aturan-aturan pokok, hanya memuat garis-garis besar sebagai instruksi kepada pemerintah pusat dan lain-lain penyelenggara negara untuk
menyelenggarakan kehidupan negara dan kesejahteraan sosial. Terutama bagi negara
baru dan negara muda, lebih baik hukum dasar yang tertulis itu hanya memuat aturan-aturan pokok, sedangkan aturan yang
menyelenggarakan aturan pokok itu diserahkan kepada undang-undang yang lebih mudah
Prof. Dr. Mr. R. Supomo menyatakan antara lain
bahwa semangat kebatinan, struktur
kerohanian bangsa Indonesia bersifat dan
bercita-cita persatuan hidup, persatuan kawulo dan gusti yaitu persatuan antara dunia luar dan dunia batin, antara mikrokosmos dan
makrokosmos, antara rakyat dan
pimpinan-pimpinannya. Negara Indonesia harus berdasar atas aliran pikiran integralistik, negara yang
bersatu dengan seluruh rakyatnya, yang
Ir. Soekarno menyatakan bahwa UUD
1945 adalah sekedar UUD sementara,
UUD kilat, bahwa barangkali boleh
dikatakan pula, inilah
revolutie grondwet.
Nanti kita membuat UUD yang lebih
sempurna dan lengkap.
S. Kolopaking juga mengemukakan
bahwa: pertama, UUD sebaiknya jangan
terlalu panjang; kedua, supaya UUD
Setelah UUD 1945 diadakan perubahan sebanyak empat kali berturut-turut
(tahun1999, 2000, 2001, dan 2002) dengan menggunakan cara adendum, maka naskah UUD Negara RI Tahun 1945 selengkapnya meliputi naskah UUD 1945, Perubahan
Hasil perubahan itu menjadikan UUD 1945 terdiri atas:
Pembukaan (tidak diubah) Pasal-pasal:
◦ 21 bab ◦ 73 pasal ◦ 170 ayat