Jurnal Ilmiah Hospitality Management 151 PERSEPSI WISATAWAN
TERHADAP PANTAI NUSA DUA
Ni Luh Gde Sri Sadjuni
Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Nusa Dua Bali [email protected]
ABSTRAK
Daya tarik yang ditawarkan Bali sebagai primadona daerah tujuan wisata bukan hanya keramah tamahan penduduknya, namun juga keunikan budaya dan adat istiadatnya serta keindahan alam, khususnya bagian pantai yang indah dengan ombak dan sunset atau sunrisenya. Dari sudut pandangan wisatawan terutama wisatawan domestik, pantai menjadi bagian dari objek wisata yang paling menarik. Berbagai kegiatan bisa dilakukan di kawasan pantai, seperti berolah raga, mandi, berekreasi bersenang-senang, berjualan ataupun jenis pekerjaan lain. Namun adanya isu mengenai rencana reklamasi pantai kawasan Nusa Dua, telah menimbulkan konflik berkepanjangan yang meresahkan masyarakat Nusa Dua, juga para wisatawan itu sendiri. Beragam persepsi yang berkembang di kalangan wisatawan mengenai pantai Nusa Dua. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur lebih jauh persepsi wisatawan terhadap aspek : atraksi, fasilitas/amenities, aksesibilitas, dan pelayanan sebagai daya tarik wisata pantai Nusa Dua, sehingga dapat memberikan gambaran situasi dan kondisi pantai di mata wisatawan. Data kualitatif dan kuantitatif dikumpulkan dengan metode observasi, wawancara dan penyebaran kuisioner secara accidental sampling dan purposive sampling terhadap 110 orang wisatawan domestik yang berkunjung ke pantai Nusa Dua.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : dari aspek Atraksi, sub aspek yang paling tinggi adalah ombak, diikuti oleh sub Kebersihan, Daerah yang tertata dengan rapi dan Angin yang tenang. Dari aspek Aksesibilitas sub aspek yang paling tinggi adalah Informasi yang mudah didapatkan, berikutnya adalah Jalan dan Transportasi. Dari Aspek Amenities, sub aspek Toilet yang paling tinggi, diikuti oleh sub Tempat Sampah, Telekomunikasi, Parkir, dan Souvenir. Sedangkan dari Aspek Pelayanan, sub aspek yang paling tinggi adalah Informasi, berikutnya adalah sub aspek Life Guard dan sub aspek Hospitaliti.
Kata Kunci: Pantai, Persepsi, Atraksi, Aksesibilitas, Amenities, Pelayanan.
ABSTRACT
The attraction offered by Bali as a tourist destination belle hospitality not only residents, but also the unique culture and customs and natural beauty, especially the beautiful beach with the waves and sunset or sunrisenya. From the point of view of tourists, especially domestic tourists, the beach becomes a part of the most interesting attractions.
Various activities can be done in coastal areas, such as sport exercise, swimming, relax have fun, selling or other types of work. However, the issue regarding the reclamation plan Nusa Dua area, has led to a prolonged conflict plaguing the society Nusa Dua, also the tourists themselves. Various growing perception among tourists on the beach of Nusa Dua. This study
152 Jurnal Ilmiah Hospitality Management aimed to measure the perception of tourists further aspects: attractions, facilities / amenities, accessibility, and service as a tourist attraction Nusa Dua beach, so as to provide an overview of the situation and the condition of the beach in the eyes of tourists. Qualitative and quantitative data were collected by the method of observation, interviews and questionnaires were accidental sampling and purposive sampling of 110 domestic tourists visiting the beach of Nusa Dua. The results showed that: From the aspect Attractions, sub aspect is the highest waves, followed by sub Cleanliness, neatly arranged area and winds were calm. From the aspect of accessibility highest sub aspect is that information is readily available, the next is the Roads and Transport. Aspects of Amenities, sub aspects Toilet highest, followed by sub-Trash, Telecommunications, Parking, and Souvenir. While the service aspect, the highest sub-aspect is Information, the next is the sub aspects Life Guard and sub aspects of Hospitality.
Keywords: beach, Perception, Attractions, Accessibility, Amenities, Services.
I. PENDAHULUAN
Pariwisata adalah sebuah fenomena aktivitas yang secara fisik, tervisualisasi ke dalam suatu bentuk kegiatan bersenang- senang. Kegiatan berwisata pada saat ini tidak lagi sebagai suatu kebutuhan sam- pingan namun di negara maju hal ini sudah menjadi kebutuhan yang sangat penting.
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki kekayaan alam dan budaya.
Potensi yang dimilikinya menyebabkan bangsa Indonesia dikenal dalam sektor pariwisata di dunia Internasional.
Salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia yang menjadi primadona baik di kalangan wisatawan domestik maupun wisatawan internasional adalah Pulau Bali.
Selain karena keramahtamahan pendu- duknya, Pulau Bali juga terkenal dengan keindahan alam dan keunikan budaya serta adat dan istiadatnya karena hal itulah Bali menjadi daya tarik banyak wisatawan mancanegara.
Hampir semua wilayah di Bali memiliki potensi pariwisata, baik wisata alam maupun wisata budaya. Salah satu kabupaten di Propinsi Bali yang berpotensi menarik minat wisatawan dan yang paling
besar menghasilkan PAD (Pandapatan Asli Daerah) adalah Kabupaten Badung (Bali Travel News,8, Agustus 2006). Kabupaten Badung dengan luas 418,52 Km2, memliki enam kecamatan yaitu Kecamatan Kuta Selatan, Kecamatan Kuta, Kecamatan Kuta Utara, Kecamatan Mengwi, Kecamatan Abiansemal dan Kecamatan Petang. Mengingat bahwa pariwisata merupakan roda penggerak utama bagi perekonomian di Kabupaten Badung, maka tidak meng-herankan jika sebagian penduduknya bergerak dibidang pariwisata.
Menurut Perda Propinsi Bali No. 3 Tahun 2005 tentang rencana tata ruang Propinsi Bali, Kabupaten Badung memiliki tiga kawasan pariwisata yaitu kawasan Nusa Dua, Kuta dan Tuban. Kabupaten Badung juga memiliki banyak daya tarik wisata serta didukung dengan sarana dan prasarana penunjang pariwisata yang memadai, salah satunya adalah Pantai Nusa Dua. Daerah ini merupakan sebuah tujuan wisata turis, baik domestik maupun mancanegara, dan telah menjadi objek wisata andalan Pulau Bali sejak awal 70- an. Selain keindahan pantainya, pantai
Jurnal Ilmiah Hospitality Management 153 Nusa Dua juga menawarkan berbagai jenis
hiburan lain misalnya bar dan restoran di sepanjang pantai. Sehingga tidak meng- herankan jika Kabupaten Badung menjadi salah satu daerah tujuan utama mayoritas wisatawan lokal dan mancanegara diban- dingkan kabupaten lainnya di Propinsi Bali.
Adanya isu mengenai rencana reklamasi pantai kawasan Nusa Dua, telah menimbulkan konflik berkepanjangan yang meresahkan masyarakat Nusa Dua, juga para wisatawan itu sendiri. Kalangan akademisi meminta Gubernur Bali untuk tidak ngotot melanjutkan rencana reklamasi Pantai Teluk Tanjung Benoa, Kabupaten Badung karena selain mendapat banyak penolakan juga melanggar aturan yang lebih tinggi.
Wacana reklamasi yang menuai kontroversi dan penolakan di masyarakat mengemuka karena reklamasi dianggap melangkahi dua aturan yang lebih ting- gi. Aturan terbaru sebagai landasan hu- kumnya itu Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 45 Tahun 2011 tentang Peta Rencana Perkotaan Sarbagita. Dalam Perpres tanggal 27 Juli 2011, tidak ada peta menyangkut reklamasi Teluk Benoa ini.
Terdapat beragam persepsi yang berkembang di kalangan wisatawan menge-nai pantai Nusa Dua, sehingga penelitian ini bertujuan mengukur lebih jauh persepsi wisatawan mengenai pantai Nusa Dua.
Berdasar data tersebut di atas, maka penelitian ini berfokus pada persepsi wisatawan terhadap pantai Nusa Dua.
Persepsi wisatawan diharapkan dapat memberikan gambaran situasi dan kondisi pantai Nusa Dua di mata wisatawan, sehingga dapat menjadi suatu pertimbangan dalam melakukan perbaikan
dan pening-katan kualitas maupun sarana dan prasarana untuk menunjang wisata di daerah ini.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
Bagaimanakah Persepsi Wisatawan terhadap Wisata Pantai Nusa Dua?
Masalah dalam penelitian ini dibatasi pada persepsi wisatawan terhadap aspek:
atraksi, fasilitas, aksesibilitas, dan pelayanan sebagai daya tarik wisata Pantai Nusa Dua. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengkaji serta memahami persepsi wisatawan terhadap aspek:
atraksi, fasilitas, aksesibi-litas, dan pelayanan yang ada di Pantai Nusa Dua.
Secara akademis hasil temuan penelitian ini diharapkan dapat mem- berikan kontribusi dan memperkaya pe- ngembangan pariwisata umumnya dan pengembangan pengendalian sosial pada khususnya, serta diharapkan bermanfaat bagi calon peneliti lain, yang tertarik melakukan penelitian sejenis dengan topik dan permasalahan yang berbeda
Manfaat praktis yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah dapat memberikan kontribusi sebagai bahan masukan, sumbang saran kepada peme- rintah, penentu kebijakan baik di tingkat lokal maupun nasional, sebagai sumber rujukan utama maupun sebagai sumber alternatif dalam membuat suatu kebijakan dengan memperhitungkan secara matang situasi dan kondisi masyarakat setempat.
II. KAJIAN PUSTAKA Penelitian Terdahulu
Hasil penelitian Suradnya (1999) menjelaskan bahwa faktor daya tarik budaya (culture) masih tetap merupakan ciri khas dan sekaligus sebagai daya tarik utama bagi daerah tujuan wisata Bali.
Sebesar 25% dari wisatawan yang
154 Jurnal Ilmiah Hospitality Management berkunjung ke Bali, semata-mata tertarik
oleh daya tarik budaya yang ditawarkan Bali. Temuan ini juga mengindikasikan bahwa masih ada sejumlah besar daya tarik lainnya yang membuat para wisatawan memilih Bali sebagai daerah tujuan kunjungan mereka. Ditinjau dari aspek perencanaan pariwisata, perlu diperhatikan agar daya tarik budaya (culture) baik aspek fisik maupun aspek- aspek non fisik lainnya yang merupakan aset utama pariwisata Bali selalu tetap terjaga kelestariannya agar Bali dapat tetap mempertahankan reputasinya sebagai salah satu daerah tujuan wisata dunia. Faktor daya tarik pantai (beach) dengan segala jenis atraksinya tetap merupakan daya tarik bagi para wisatawan yang berkunjung ke Bali. Pantai (beach) dilihat dari arti pentingnya bagi wisatawan menduduki urutan kedua setelah daya tarik wisata budaya (culture) mewakili 10,28% dari seluruh varians yang ada. Menurunnya mutu lingkungan termasuk abrasi pantai yang terjadi dimana-mana akhir-akhir ini telah banyak mendapat sorotan dari berbagai pihak. Diperlukan perencanaan yang bersifat menyeluruh dan terpadu dalam hal pengembangan dan pengelolaan pantai-pantai yang ada di Bali dengan segala bentuk daya tarik wisata yang ditawarkan. Daya tarik pantai menjadi semakin penting mendapatkan perhatian mengingat adanya kecenderungan bahwa wisatawan yang berkunjung ke Bali sebagian besar terdiri dari kelompok muda usia yakni di bawah 35 tahun yang mencapai 50%. Mereka pada umumnya sangat aktif dan menghabiskan sebagian besar waktunya di pantai untuk berbagai aktivitas wisata mereka. Karena itu, perencanaan kawasan-kawasan pantai di Bali baik dilihat dari perencanaan pisik pantai-pantai yang ada, jenis-jenis
atraksinya, fasilitas pendukung, akse- sibilitas, keamanan serta pelayanan, daya dukung dan aspek kenyamanan yang ditawarkan perlu dikaji kembali secara komprehensif untuk selanjutnya dituang- kan ke dalam sebuah rencana induk pengembangan kawasan yang terpadu.
Hasil penelitian sebelumnya oleh Suradnya (1999) mengenai faktor-faktor yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan mancanegara untuk mengun- jungi Bali meliputi 9 faktor, sedangkan dalam penelitian ini jumlah faktor daya tarik wisata yang berhasil diidentifikasikan adalah 8 faktor. Temuan yang menarik adalah bahwa faktor daya tarik “belanja atau shopping” tidak lagi muncul sebagai daya tarik yang berdiri sendiri, akan tetapi menjadi bagian dari 8 faktor yang baru terbentuk, yakni harga harga (prices) dan daya tarik budaya(culture). Perubahan ini dapat dijelaskan dengan mencermati kenyataan bahwa, (1) adanya kecenderung-an dimana wisatawan menjadi lebih kritis atau berhati-hati dalam membelanjakan uangnya sebagai akibat adanya penurunan daya beli wisatawan secara umum, (2) belanja atau shopping tidak lagi menjadi prioritas bagi wisatawan selama mereka melakukan perjalanan wisata, (3) tingginya kunjungan ulang, yakni mencapai angka sebesar 47%
sehingga para wisatawan tersebut menjadi lebih memahami tingkat harga-harga didaerah tujuan wisata yang dikunjunginya.
Hasil penelitian Suradnya (2006) meng-uraikan bahwa berdasarkan analisis faktor (factor analysis) yang dilakukan, berhasil diidentifikasikan 8 faktor yang menjadi daya tarik bagi wisatawan memilih Bali sebagai daerah tujuan wisata pilihan me-reka yang mewakili 65,28%
dari seluruh varians yang ada. Angka ini
Jurnal Ilmiah Hospitality Management 155 melampaui kriteria minimum yang
dipersyaratkan dalam penggunaan analisis faktor (factor analysis).
Kedelapan faktor daya tarik wisata yang dimaksud meliputi, (1) Harga harga (prices) produk wisata yang wajar, (2) Budaya (culture) dengan segala bentuk daya tariknya, (3) Pantai (beach) dengan atraksi-atraksi yang ditawarkan, (4) Ken- yamanan (convenience) selama melakukan kegiatan berwisata, (5) Kesempatan untuk relaksasi (relaxation), (6) Citra (image) atau reputasi atau nama besar yang dimiliki Bali, (7) Keindahan alam (natural beauty), dan (8) Keramahan penduduk setempat (people). Pergeseran pasar wisata (market sift) sebagaimana dibahas dalam makalah “Rencana Pemasaran Strategis Untuk Bali Sebagai Daerah Tujuan Wisata Dunia” yang disampaikan dalam Seminar Sehari “Mengelola Bali Sebagai Daerah Tujuan Wisata Dunia”, 24 September 2004 di STP Nusa Dua (Suradnya, 2004), telah memberi pengaruh terhadap faktor-faktor yang menjadi daya tarik wisata Bali.
Perubahan ini meliputi, jumlah faktor daya tarik serta urutan arti penting dari masing- masing faktor tersebut bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali.
Persepsi Wisatawan, Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan, yaitu suatu stimulus yang diterima oleh individu melalui alat reseptor yaitu indera. Alat indera me- rupakan penghubung antara individu dengan dunia luarnya. Persepsi merupakan stimulus yang diindera oleh individu, diorganisasikan kemudian diinterpretasi- kan sehingga individu menyadari dan mengerti tentang apa yang diindera.
Gibson, dkk (1989) dalam buku Organisasi Dan Manajemen Perilaku, Struktur; memberikan definisi persepsi adalah proses kognitif yang dipergunakan
oleh individu untuk menafsirkan dan memahami dunia sekitarnya (terhadap obyek). Gibson juga menjelaskan bahwa persepsi merupakan proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh individu. Oleh karena itu, setiap individu memberikan arti kepada stimulus secara berbeda meskipun objeknya sama. Cara individu melihat situasi seringkali lebih penting daripada situasi itu sendiri.
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian persepsi merupakan suatu proses penginderaan, stimulus yang diterima oleh individu melalui alat indera yang kemudian diinterpretasikan sehingga individu dapat memahami dan mengerti tentang stimulus yang diterimanya tersebut. Proses menginterpretasikan stimulus ini biasanya dipengaruhi pula oleh pengalaman dan proses belajar individu.
Dengan kata lain persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi kedalam otak manusia.
Persepsi merupakan keadaan integrated dari individu terhadap stimulus yang diterimanya. Apa yang ada dalam diri individu, pikiran, perasaan, pengalaman- pengalaman individu akan ikut aktif berpengaruh dalam proses persepsi
Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi pada dasarnya dibagi menjadi 2 yaitu Faktor Internal dan Faktor Eksternal.
Faktor internal berasal dari dalam diri, sedang faktor eksternal berasal dari luar, orang lain, atau lingkungan sekitar.
Wisatawan, Wisatawan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah orang-orang yang terdaftar sebagai pen- duduk Indonesia yang datang berkunjung ke pantai Nusa Dua yang dikelola oleh PT BTDC, untuk tujuan bersenang-senang, beristirahat maupun berlibur.
156 Jurnal Ilmiah Hospitality Management Pantai, Pergeseran dan perubahan
Bali, menurut penelitian yang dilakukan Sukawati tahun 2004, membuktikan sebuah hal yang tidak bisa terelakkan.
Sama hal nya seperti perubahan yang terjadi pada setiap bagian negara manapun di dunia. Perubahan ini meliputi perubahan tujuan wisata, dimana tempat yang dulu tersisih dan dianggap tidak layak dikunjungi sebagai tempat wisata, kini justru diminati. Demikian pula halnya dalam perubahan fungsi hunian, yang didahului oleh adanya perubahan bentuk dan fungsi rumah tradisional, namun tidak secara keseluruh-an.
Madiun (2008: 2) menjelaskan pentingnya pengelolaan berbagai potensi untuk pengembangan pariwisata Bali telah menempatkan posisi perencanaan sebagai salah satu unsur yang sangat penting yang harus dilaksanakan secara sungguh-sung- guh dan berhati-hati, agar mampu mengen- dalikan berbagai dampak lingkungan dan budaya yang ditimbulkan oleh pengem- bangan sektor pariwisata ini. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Inskeep (1991: 162), bahwa sebagai kawasan wisata yang terpadu, sudah seharusnya mampu menyediakan berbagai fasilitas wisata yang bersifat eksklusif, unik, berbeda di mata wisatawan, baik berupa pantai, rekreasi di bawah laut, alam pegunungan, tinggalan-tinggalan sejarah, arena olah raga, dan kombinasi dari seluruh atraksi.
III. METODE PENELITIAN
Objek penelitian ini adalah persepsi wisatawan domestik terhadap daya tarik wisata Pantai Nusa Dua sebagai tempat berlibur dan berekreasi, dalam aspek: atraksi, fasilitas, aksesibilitas dan pe-layanan. Lokasi Penelitian dilakukan di pantai Nusa Dua, di dalam kawasan pariwisata yang dikelola oleh PT BTDC.
Jenis data kualitatif yang dinyatakan dalam bentuk kata, kalimat dan gambar (Sugiono, 1999:3) seperti misalnya data mengenai gambaran umum daya tarik wisata budaya dan keterangan yang dapat menjelaskan tentang objek penelitian seperti letak geografisnya, aksesibilitas menuju ke objek penelitian ataupun penjelasan lain yang berhubungan dengan penelitian ini. Data Kuantitatif data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan (Sugiono, 1999:4) misalnya data mengenai data kunjungan langsung wisatawan mancanegara ke Bali dan data yang diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner yang dilakukan di lapangan.
Sumber data primer adalah data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti di tempat penelitian dengan cara observasi, wawancara, penyebaran kuesioner, contohnya data mengenai keadaan fisik objek penelitian atau keterangan yang diperoleh dari pengunjung yang ber- hubungan dengan penelitian. Data Se- kunder adalah data yang dikumpulkan tidak oleh peneliti langsung, melainkan data yang dikumpulkan oleh orang lain atau instansi lain yang diperlukan untuk digunakan dalam penelitian ini.
Contohnya data mengenai luas wilayah pantai Nusa Dua, data mengenai jumlah kunjungan wisa-tawan, dan data lain yang berkaitan dengan penelitian ini.
Teknik Pengumpulan Data dengan metode Observasi yakni mengamati lang- sung ke tempat penelitian dan mencatat sacara sistematis apa yang diperlukan dalam penelitian dengan menggunakan instrumen penelitian seperti misalnya check list untuk mengetahui kondisi fisik objek yang diteliti, atau kondisi jalan akses dan fasilitas pendukung lainnya. Metode Wawancara, dengan mengajukan pertanya- an langsung kepada orang yang akan
Jurnal Ilmiah Hospitality Management 157 memberikan informasi yang peneliti
perlukan dalam melakukan penelitian, seperti wawancara dengan pengelola atau pengurus objek-objek yang diteliti untuk mengetahui informasi mengenai objek tersebut. Penyebaran Kuesioner, dengan memberikan daftar pertanyaan (kuesioner) kepada wisatawan domestik yang berkun- jung ke pantai Nusa Dua. Responden adalah para wisatawan domestik yang berkunjung ke pantai Nusa Dua. Teknik sampling yang digunakan adalah accidental sampling dan purposive sampling. Dokumentasi merupakan metode pengum-pulan data dengan memanfaatkan berbagai dokumen terkait dengan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian yang dilaku-kan. Studi Pustaka yaitu pengumpulan data dengan menggunakan buku atau literatur lainnya seperti internet yang memuat data atau informasi yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan yang dapat menjadi landasan teoritis atau acuan sebagai pedoman dalam melakukan penelitian.
Teknik Analisis Data, dalam penelitian ini, adalah teknik analisis deskriptif kuantitatif.
Data disajikan dalam penjelasan atau bentuk paparan data, tabel dan gambar untuk melihat penilaian wisatawan ter- hadap objek yang diteliti. Selanjutnya dilakukan analisis data dengan statistik menggunakan analisis nilai rata-rata.
Tahapan pengolahan data yang akan dilakukan:
a. Membuat tabulasi data responden dari hasil survei dengan mengguna- kan kuesioner tentang penilaian wisatawan domestik terhadap daya tarik wisata pantai Nusa Dua.
b. Menentukan Kriteria Penilaian Penilaian atas jawaban responden tentang objek dan daya tarik wisata
ini menggunakan skala likert. Skala likert merupakan skala yang dapat memperlihatkan tanggapan konsu- men tehadap karakteristik suatu produk (sangat baik, baik, cukup, kurang) (Duranto dkk, 2001:41).
Peneliti memberikan empat alterna- tif jawaban kepada responden, maka rentang skala yang digunakan adalah 1 sampai 4, dengan pemetaan bobot sebagai berikut:
Skala 1 = kurang, diberi nilai 1
Skala 2 = cukup, diberi nilai 2
Skala 3 = baik, diberi nilai 3
Skala 4 = sangat baik, diberi nilai 4 Maka penggolongan dari segi nilai (score) yang diperoleh, dilakukan dengan mencari nilai rata-rata dari seluruh responden yang telah memberikan tanggap-an pada aspek tertentu. Rumus yang digunakan adalah rumus rata-rata hitung (Nata Wirawan, 2001:57) yaitu:
n x x keterangan :
x = rata-rata hitung
n = jumlah variable yang dinilai x = nilai
Setelah nilai rata-rata seluruh aspek yang diteliti diketahui, kemudian dipetakan ke rentang skala yang mempertimbangkan informasi interval sebagai berkut:
75 , 4 0
1 4 kelas
Banyaknya
terendah nilai
- tertinggi Nilai
Internal
Setelah besarnya interval diketahui, kemudian dibuat rentang skala sehingga dapat diketahui di mana letak rata-rata penilaian responden terhadap setiap unsur
158 Jurnal Ilmiah Hospitality Management diferensiasinya dan sejauh mana
variasinya (Duranto dkk, 2001: 43).
Rentang skala tersebut adalah:
0,97 – 1,72 = kurang 1,73 – 2,48 = cukup 2,49 – 3,24 = baik
3,25 – 4,00 = sangat baik IV. PEMBAHASAN
A. Paparan Data
Pantai Nusa Dua yang dikelola oleh PT BTDC (Bali Tourism Development Corporation) berada di dalam wilayah Kelurahan Benoa.
Kelurahan Benoa mula-mula terbagi atas Desa Kampial, Desa Bualu, dan Desa Tanjung Benoa. Kemudian pada jaman penjajahan Belanda ketiga desa itu diperkecil menjadi dua Desa, di mana Desa Kampial digabung dengan Desa Bualu menjadi Desa Bualu dan Desa Tanjung Benoa. Pada kurang lebih tahun 1955 untuk mewujudkan efektifitas dan efisiensi kerja serta pelaksanaan pembangunan, maka diper-kecil lagi menjadi satu Desa, yang diberi nama Desa Benoa. Dan sekarang menjadi Kelurahan Benoa di Bualu. (Monografi Kelurahan Benoa, 2012 : 40 )
Kelurahan Benoa terletak di sebelah Selatan wilayah Kecamatan Kuta Selatan pada ketinggian 50 – 500 meter di atas permukaan laut. Batas-batas wilayah Kelurahan Benoa terdiri atas : sebelah Utara Kelurahan Tanjung Benoa, sebelah Selatan Samudra Hindia, sebelah Timur Selat Lombok dan sebelah Barat Desa Ungasan.
Luas wilayah Kelurahan Benoa kurang lebih 2.828 Ha, terdiri atas Tiga Desa Adat dan 16 Lingkungan . Ke tiga desa adat tersebut yaitu ; Desa Adat Bualu, Desa Adat Peminge, Desa Adat Kampial.
Adapun nama-nama Lingkungannya antara
lain adalah: Lingkungan Terora, Lingkung-an Celuk, Lingkungan Peken, Lingkungan Penyarikan, Lingkungan Peminge, Ling-kungan Balekembar, Lingkungan Bualu, Lingkungan Pande, Lingkungan Sawangan, Lingkungan Ancak, Lingkungan Menesa, Lingkungan Mumbul, Lingkungan Puri Nusa Dua, Linkungan Bulau Indah, Lingkungan Permata Nusa Dua, Ling-kungan Wisma Nusa Permai.
Pemanfaatan wilayah Kelurahan Benoa dengan luas wilayah 2.828 Ha, peruntukannya digunakan bagi perumahan pemukiman umum seluas 314,42 Ha. atau 11,12%, permukiman KPR BTN (Kredit Perumahan Rakyat Bank Tabungan Negara) 72,50 Ha. atau 2,56%, Real Estat 30 Ha. atau 1,06%, perumahan pejabat pemerintah dan ABRI (Angkatan Ber- senjata Republik Indonesia) 0,18 Ha. atau 0,01%, perkantoran dan bangunan umun lainnya 30 Ha. atau 1,96 %, sarana jalan 11,40 Ha. atau 0,40%, HPL BTDC (Hak Pengelolaan Lahan Bali Tourism Develovement Corporation) dan lapangan golf 412 Ha. atau 14,57%, tempat rekreasi dan olah raga 2,00 atau 0,07 %, ladang dan tegalan 1.086,13 Ha. atau 38,41%, perkebunan 175,00 Ha. atau 6,19% dan rawa-rawa/hutan mangrove 339,00 Ha.
atau 11,99%
Berdasarkan penggunaan lahan seperti diuraikan di atas, luas wilayah Kelurahan Benoa terbanyak digunakan untuk fasilitas pariwisata, yakni mencapai 14,64% dari keselurahan luas wilayahnya.
Sebagian dari keseluruhan luas wilayah Kelurahan Benoa yang sekarang ini dikenal sebagai Nuas Dua digunakan sebagai HPL BTDC dan Lapangan Golf, yakni seluas 412 Ha. atau 14,57% dari keseluruhan luasnya.
Jurnal Ilmiah Hospitality Management 159 Kawasan Wisata Nusa Dua
dikelola oleh BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang disebut BTDC (Bali Tourism Develovement Corporation). Kawasan Wisata Nusa Dua dibangun berdasarkan konsep:
1. Resort mewah yang serba lengkap pada daerah yang penduduknya jarang (waktu itu) dan lahannya tidak produktif;
2. Kemitraan antara sektor publik dengan sektor pribadi;
3. Pembangunan infrastruktur meng- untungkan bagi masyarakat lokal dan bagi resort;
4. Magang kerja dan harapan kerja bagi masyarakat lokal;
5. Menghormati budaya lokal dan kegiatan keagamaannya;
6. Mengembangkan desain hotel de- ngan gaya arsitektur tradisional (Bali) dan menggunakan barang kerajinan lokal di dalam dan di luar hotel. (BTDC, 2003:2-3) Kawasan wisata dengan konsep yang demikian itulah dibangun di atas tanah seluas 414 Ha. di Kelurahan Benoa, Ke-camatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Propinsi Bali. Pembangunan Kawasan wisata Nusa Dua tersebut, membawa dampak yang tidak kecil, khususnya bagi Kelurahan Benoa yang dulunya dikenal sebagai daerah terisolir.
Oleh karena itu, berbagai dampak yang ditimbulkan baik langsung maupun tak langsung terhadap ekologi maupun demografi Kelurahan Benoa.
Konsep pembangunan Kawasan Wisata Nusa Dua yang dicanangkan sebelumnya pembangunan itu dilakukan, bukan tidak menyadari akan terjadinya dampak yang diakibatkan. Entah dampak negatif maupun dampak positif. Secara
ekologis, Kelurahan Benoa mengalami perubahan cukup dratis. Dari kawasan yang tidak produktif dalam pengertian industri pertanian menjadi kawasan yang eksotik dalam pengertian ekonomi. Citra kawasan yang kering dan tandus yang melekat pada wilayah Kelurahan Benoa bergeser menjadi kawasan yang hijau dan teduh setelah dibangun menjadi Kawasan Wisata. Walaupun demikian, ekologi Nusa Dua mendapat tekanan akibat alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan permukiman.
Pantai Nusa Dua, Kawasan Pantai Nusa Dua terbentang sepanjang garis pantai kurang lebih 16 km, yang terkenal dengan terumbu karang, padang lamun/ ganggang laut, mangrove, serta beragam species eksotik seperti penyu, lumba-lumba dan dugong/ lembu laut.
Sebagai sebuah daerah tujuan wisata, Pantai Nusa Dua juga terkenal dengan wisata baharinya, seperti para- sailing, banana boat, jet ski, diving, dan masih banyak yang lain. Pariama Hutasoit, Direktur Nusa Dua Reef Foundation mengatakan bahwa pengelolaan terumbu karang yang berkelanjutan merupakan tanggung jawab kita bersama. “Dalam hal ini pemandu jasa wisata bahari khususnya pemandu selam, karena mereka memiliki peranan sangat penting dalam ikut serta melestarikan sumber daya hayati,” ujarnya di Nusa Dua Kamis, 8/12/2010, dalam.
Sumber: UltimoParadiso.com (diunduh tgl 5 November 2012)
Tapi sayangnya, ekosistem pesisir laut Nusa Dua dan Tanjung Benoa khususnya terumbu karang mulai menghadapi ancaman serius seperti pembangunan pesisir, praktek pariwisata yang tidak ramah lingkungan, prakter perikanan yang merusak serta perubahan iklim.
160 Jurnal Ilmiah Hospitality Management Penelitian Santi (2012) juga
membuktikan bahwa di pantai Nusa Dua terdapat banyak para pekerja dengan aktivitas perekonomian yang beragam. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat banyak aktivitas di kawasan pinggir pantai yang dikelola oleh PT BTDC, seperti pemijat dan pedagang Acung (63,19%), Pedagang Asesories/baju kain pantai (0.88%), Pedagang makanan (13,19%), dan aktivitas lain-lain (14,84).
Wisatawan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan asing yang datang ke Indonesia hingga akhir Juni 2013 mencapai 789.600 wisatawan, naik 13,52 persen. Angka tersebut merupakan pencapaian tertinggi selama 20 tahun terakhir. Kepala BPS Suryamin mengatakan, kenaikan jumlah wisatawan mancanegara ini disebabkan karena memang Indonesia memiliki sejumlah banyak kegiatan wisata di sepanjang musim liburan. Suryamin menambahkan untuk jumlah wisatawan bila dibandingkan dengan Mei 2013 mengalami kenaikan 12,69 persen dari sebelumnya sebesar 700.700 wisatawan.
Jumlah kunjungan wisatawan ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai pada Juni 2013 naik 14,24 persen dibanding Juni 2012 yaitu dari 241.100 wisatawan menjadi 275.500 wisatawan. Jika dibanding Mei 2013, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali juga naik 12,49 persen. Selama semester I pada tahun 2013, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 4,15 juta kunjungan atau naik 7,18 persen dibanding kunjungan wisatawan mancanegara pada periode yang sama tahun lalu sebesar 3,88 juta kunjungan.
B. Analisis Data
Hasil penelitian terhadap karak- teristik responden sebanyak 110 orang wi-
satawan domestik yang datang berkunjung ke pantai Nusa Dua diklasifikasikan se- bagai Tabel. 1 berikut:
Tabel 1. Klasifikasi Responden di Pantai Nusa Dua
Berdasarkan Jenis Kelamin dan Usia
No Usia Laki-laki Wanita Total
1. > 20 15 5 20 2. 20 –
30
45 25 70
3. 30 - 50 7 5 12
4. < 50 4 4 8
Total 71 39 110
Sumber : Data hasil olahan penelitian
Data yang ada pada Tabel. 1 menguraikan gambaran bahwa responden penelitian terbanyak adalah yang berusia 20 sampai dengan 30 tahun. Responden kedua terbanyak berikutnya adalah yang termasuk dalam golongan remaja.
Tabel 2. Klasifikasi Responden di
Pantai Nusa Dua
Berdasarkan Tujuan mengunjungi Pantai Nusa Dua
No Keterangan Jumlah
1. Rekreasi 87
2. Bisnis 8
3. Riset 4
4. Mengunjungi keluarga 11
Total 110
Sumber: Data Hasil Olahan Penelitian Tabel 2 di atas memberikan kete- rangan bahwa responden wisatawan yang berkunjung ke Pantai Nusa Dua terbesar adalah dengan alasan rekreasi, sebanyak 87 orang, atau 79 %, berikutnya adalah wisatawan yang berkunjung dengan alasan mengunjungi keluarga, sebesar 11 orang, atau 10 %, lalu wisatawan yang
Jurnal Ilmiah Hospitality Management 161 berkunjung dengan alasan bisnis sebesar 8
orang, atau 7,2 %, dan terakhir wisatawan yang berkunjung dengan alasan menga- dakan riset, sebesar 4 orang, atau 3,6 %.
Tabel 3. Klasifikasi Responden di
Pantai Nusa Dua
Berdasarkan Informasi yang diperoleh mengenai Pantai Nusa Dua
No. Keterangan Jumlah 1. Dari keluarga / sahabat 69 2. Dari travel agent 12 3. Dari Tourist Information
Centre
5 4. Dari media massa, Koran,
majalah
11 5. Dari media elektronik,
internet
13
Total 110
Sumber: Data Hasil Olahan Penelitian Data pada Tabel.3 di atas mem- berikan gambaran bahwa wisatawan terbanyak mengunjungi Pantai Nusa Dua karena informasi yang didapat dari keluarga atau sahabat, yakni 69 orang, atau 62,7 %, kemudian sebesar 13 orang, atau 11,8 % mengunjungi pantai Nusa Dua karena informasi yang diperoleh dari Media Elektronik, sebesar 12 orang atau 10,9 % mengunjungi pantai Nusa Dua karena informasi yang diperoleh dari Travel Agent. sebesar 11 orang atau 10 % mengunjungi pantai Nusa Dua karena informasi yang diperoleh dari media massa berupa Koran atau majalah. Sebesar 5 orang atau 4,5 % mengunjungi pantai Nusa Dua karena informasi yang diperoleh dari Tourist Information Centre.
Tabel 4. Klasifikasi Responden di
Pantai Nusa Dua
Berdasarkan Frekuensi Mengunjungi Pantai Nuasa Dua
No. Keterangan Jumlah
1. Satu kali 17
2. 2 – 3 kali 45
3. Lebih dari 3 kali 48
Total 110
Sumber : Data hasil olahan penelitian Data di atas memberi gambaran frekuensi responden mengunjungi Pantai Nusa Dua. Sebanyak 48 responden 43,6 % mengunjungi Pantai Nusa Dua lebih dari tiga kali. Sebanyak 45 orang responden 40,9 % mengunjungi Pantai Nusa Dua antara 2 – 3 kali. Dan sebanyak 17 responden 14,4 % baru mengunjungi Pantai Nusa Dua untuk pertama kalinya.
Hal ini dapat menjadi bahan masukan atau pertimbangan bagi para penentu kebijakan, bahwa Pantai Nusa Dua adalah daerah tujuan wisata yang potensial, sehingga pengelolaan yang efisien dan efektif bagi Pantai Nusa Dua ini akan dapat memberikan kepuasan bagi wisatawan, bagi masyarakat di sekitar Pantai Nusa Dua, dan juga pengelola Kawasan Pantai Nusa Dua itu sendiri.
Tabel 5. Klasifikasi Responden di
Pantai Nusa Dua
Berdasarkan Alasan Keterkaitan Mengunjungi Pantai Nusa Dua
No. Keterangan Jumlah 1. Pemandangan,
Sunrise/Sunset
35 2. Suasananya yang
menyenangkan
68
3. Dan lain-lain 7
Total 110
Sumber: Data Hasil Olahan Penelitian Berdasar data tabel di atas, terlihat bahwa sebagian besar wisatawan yakni 68 orang, mengunjungi Pantai Nusa Dua karena alasan suasananya yang menye- nangkan. Dan alasan ketertarikan lainnya
162 Jurnal Ilmiah Hospitality Management karena pemandangan, sunrise/ sunset 35
orang.
Tabel 6. Klasifikasi Responden di
Pantai Nusa Dua
Berdasarkan Pantai yang pernah dikunjungi selain pantai Nusa Dua
No. Keterangan Jumlah
1. Dreamland 34
2. Padang-padang 24
3. Keramas 17
4. Madewi 22
5. Canggu 13
Total 110
Sumber: Data Hasil Olahan Penelitian.
Berdasar data tersebut terlihat bahwa responden yang berkunjung ke Pantai Nusa Dua juga pernah berkunjung ke pantai-pantai lainnya. Hal ini meng- gambarkan bahwa Pantai Nusa Dua bukan satu-satunya tempat yang menjadi tujuan wisatawan. Dengan demikian perlu dipelihara dan dikembangkan aspek-aspek yang membuat para wisatawan tertarik berkunjung ke Pantai Nusa Dua.
Tabel 7. Tabulasi Analisis Persepsi Wisatawan terhadap Pantai Nusa Dua
No Objek Penilaian Jml Resp
Penilaian Bobot
Tot Rata - Rata
STS TS N S SS STS TS N S SS
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
1 Atraksi: 110
a.Ombak 2 5 25 34 54 2 10 75 132 270 498 4.53
b.Angin yg tenang 0 4 34 35 37 0 8 102 140 185 435 3.95
c.Kebersihan 0 3 12 23 72 0 6 36 92 360 492 4.47
d.Daerah yg tertata 0 3 14 43 50 0 6 42 172 250 470 4.27
2 Aksesibilitas: 110
a.Transportasi 2 13 23 53 19 2 26 69 212 95 404 3.67
b.Jalan 3 5 36 43 23 3 10 108 172 115 405 3.68
c.Informasi yang
mudah didapat 4 4 34 46 22 4 8 102 184 110 408 3.71
3 Amenitis/fasilitas: 110
a.Toilet 0 2 35 46 27 0 4 105 184 135 432 3.93
b.Parkir 110 0 4 16 77 13 0 8 48 308 65 379 3.79
c.Telekomunikasi 0 3 34 55 18 0 6 102 220 90 418 3.80
d.Tempat Sampah 0 2 25 67 16 0 4 75 268 80 427 3.88
e.Toko Souvenir 0 2 43 45 20 0 4 126 180 100 410 3.73
4. Pelayanan 110
a.Life Guard 0 4 12 57 37 0 8 36 224 185 453 4.12
b.Hospitality 0 3 23 45 39 0 6 69 180 145 400 3.64
c.Informasi 0 5 25 43 37 0 10 75 192 185 461 4.19
Total Poin Evaluasi 6492 59.36
Rata – Rata 432.8 3.96
Sumber: Data Hasil Olahan Penelitian
C. Tabulasi Data
Data pada tabel di atas merujuk pada teori yang dikemukakan oleh Bukart
& Medlik. Dan, berdasar tabel tersebut, terlihat bahwa terdapat empat klasifikasi
aspek yang mempengaruhi persepsi wisatawan yang mengunjungi Pantai Nusa Dua. Ke empat aspek tersebut adalah
Jurnal Ilmiah Hospitality Management 163 aspek Atraksi, aspek Aksesibilitas, aspek
Amenities, dan aspek Pelayanan.
Pada aspek Atraksi, sub aspek yang paling tinggi adalah ombak, sebesar 4,53 (Sangat baik), hal ini berarti bahwa wisatawan beranggapan Pantai Nusa Dua menarik untuk dikunjungi karena alasan.
Hal ini berarti bahwa sub aspek ini yang paling mempengaruhi niat wisatawan datang berkunjung ke Pantai Nusa Dua.
Berikutnya adalah sub aspek Kebersihan, sebesar 4,47 (Sangat baik), kemudian sub aspek Daerah yang tertata dengan rapi, sebesar 4,27 (Sangat baik), dan berikutnya, sub aspek Angin yang tenang, sebesar 3,95 (Sangat baik).
Wisatawan beranggapan, pantai Nusa Dua dengan ombak yang relatif tenang karena terlindung oleh teluk, juga angin yang relatif tenang, membuat Pantai Nusa Dua sebagai lokasi yang menye- nangkan untuk dikunjungi.
Pada aspek Aksesibilitas, wisata- wan beranggapan hal yang paling mendorong aktivitas berkunjung ke Pantai Nusa Dua adalah sub aspek Informasi yang mudah didapatkan, sebesar 3,71. Hal ini berarti wisatawan menuntut tidak adanya keterbatasan informasi, semua bisa diterima dengan segera melalui berbagai macam akses informasi yang ada. Sub aspek berikutnya adalah Jalan, sebesar 3,68. Kemudian sub aspek Transportasi, sebesar 3,67. Hal ini berarti bahwa wisatawan juga berharap mereka men- dapatkan kemudahan untuk mencapai Pantai Nusa Dua dalam hal transportasi.
Pada aspek Amenities, wisatawan menempatkan sub aspek Toilet yang paling tinggi, sebesar 3,93 (Sangat baik).
Hal ini berarti bahwa wisatawan didorong oleh adanya kelengkapan Toilet, berupa kamar mandi. Berikutnya adalah sub aspek Tempat Sampah, 3,88 (Sangat baik).
Kemudian sub aspek Telekomunikasi, 3,80 (Sangat baik). Hal ini berarti wisatawan juga berharap berkunjung ke Pantai Nusa Dua tanpa adanya halangan atau gangguan dalam menjalin hubungan dengan para sahabat maupun keluarganya di mana pun mereka berada, akses komunikasi berupa jaringan telekomunikasi yang baik.
Berikutnya adalah sub aspek Parkir, 3,79 (Sangat baik), dan sub aspek Souvenir, 3,73 (Sangat baik).
Pada aspek Pelayanan, wisatawan beranggapan hal yang paling mendorong aktivitas berkunjung ke Pantai Nusa Dua adalah sub aspek Informasi, sebesar 4,19 (Sangat baik). Berikutnya adalah sub aspek Life Guard, sebesar 4,12 (Sangat baik). Kemudian sub aspek Hospitality, sebesar 3,64 (Sangat baik).
Hal ini memperlihatkan bahwa wisatawan juga berharap untuk men- dapatkan informasi yang jelas dan akurat mengenai daerah tujuan wisata, berharap mendapatkan garansi atas kenyamanan dan keselamatan dalam berkunjung ke Pantai Nusa Dua, dan mendapatkan pelayanan yang ramah pada daerah yang dikun- junginya.
V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya maka dapat disimpulkan, bahwa persepsi wisatawan terhadap Pantai Nusa Dua dapat diklasifikasikan menjadi empat, yaitu berdasar aspek Atraksi, Aksesibilitas, Amenities, dan Pelayanan.
1. Aspek Atraksi
Pada aspek Atraksi, sub aspek yang paling tinggi adalah ombak, sebesar 4,53 (Sangat baik). Berikutnya adalah sub aspek Kebersihan, sebesar 4,47 (Sangat baik), kemudian sub aspek Daerah yang tertata dengan rapi, sebesar 4,27 (Sangat baik), dan
164 Jurnal Ilmiah Hospitality Management berikutnya, sub aspek Angin yang
tenang, sebesar 3,95 (Sangat baik).
2. Aspek Aksesibilitas
Pada aspek Aksesibilitas, sub aspek yang paling tinggi adalah Informasi yang mudah didapatkan, sebesar 3,71.
Sub aspek berikutnya adalah Jalan, sebesar 3,68. Kemudian sub aspek Transportasi, sebesar 3,67
3. Aspek Amenities
Pada aspek Amenities, sub aspek Toilet yang paling tinggi, sebesar 3,93 (Sangat baik). Berikutnya adalah sub aspek Tempat Sampah, 3,88 (Sangat baik), sub aspek Telekomunikasi, 3,80 (Sangat baik), sub aspek Parkir, 3,79 (Sangat baik), dan sub aspek Souvenir, 3,73 (Sangat baik)
4. Aspek Pelayanan
Pada aspek Pelayanan, sub aspek yang paling tinggi adalah Informasi, sebesar 4,19. Berikutnya adalah sub aspek Life Guard, sebesar 4,12. Kemudian sub aspek Hospitality, sebesar 3,64.
B. Saran
Dari simpulan tersebut dapat dibe- rikan saran antara lain:
1. Meskipun wisatawan memiliki persepsi terhadap Pantai Nusa Dua yang termasuk sangat baik dalam ke empat aspek, Atraksi, Aksesibilitas, Ame-nities dan Pelayanan, berbagai pihak yang berkaitan tetap harus memelihara dan mengembangkan aspek-aspek yang ada. Baik itu wisatawan, para pengelola dan juga masyarakat yang ada di sekitar Pantai Nusa Dua.
2. Para pengelola dan masyarakat sekitar perlu pula melibatkan daerah lain sebagai bahan pembanding dan memotivasi pertumbuhan serta per- kembangan daerah tujuan wisata lainnya pula, seperti Pantai
Dreamland, Pantai Pandawa, Pantai Padang-padang, Pantai Medewi, dan lainnya lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Alwi,Hasan. 2001. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Biro Pusat Statistik. 2013 (dalam Berita Resmi Statistik No. 29/05/Th. XVI, 1 Mei 2013)
Burkart and Medlik. 1976. Tourism. Past, Present, and Future. London:
Heinemann
Dahuni, dkk. 2001. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta:
PT.Pradnya Paramita
Damardjati, R.S. 2001 (edisi revisi).
Istilah-istilah Dunia Pariwisata.
Jakarta: PT.Pradnya Paramita Dinas Pariwisata Propinsi Bali. Undang-
undang No. 9 Tahun 1990.
Kepariwisataan
Geriya, Wayan. 1996. Pariwisata dan Dinamika Kebudayaan Lokal, Nasional, Global. Denpasar: Upada Sastra.
Gibson, dkk. 1989. Struktur Organisasi Dan Manajemen Perilaku
Husein, Umar. 2000. Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis.
Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada Inskeep, E. 1991. Tourism Planning an
Integrated and Sustainable Development Approach. New York: Van Nostrand Reinhold Kotler, P. dan Gary A. 1989. Prinsip-
prinsip Pemasaran. Jilid 1. Edisi kedelapan. Jakarta: Erlangga Lastara, I Made. 1997. Peraturan
Kepariwisataan. Bali: Sekolah Tinggi Pariwisata Bali
Jurnal Ilmiah Hospitality Management 165 Middleton. 1988. Tourism International
Business. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Mill R.C. 1990. Tourism International Business Edisi Bahasa Indonesia.
Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Monografi Kelurahan Benoa, 2012 Pendit, I Nym S. 2003. Ilmu Pariwisata
Sebuah Pengantar Perdana. Jakarta:
Pradnya Paramita.
Perda Propinsi Bali No. 3 Tahun 2005 tentang rencana tata ruang Propinsi Bali.
Perpres Nomor 45 Tahun 2011 tentang Peta Rencana Perkotaan Sarbagita.
Dalam Perpres tanggal 27 Juli 2011 Pried/Fridel. 1995. Pemasaran Teori dan Praktek Sehari-hari. Jakarta: Bina Rupa Aksara
Poerwadarminta, W.J.S. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka
Santi Diwyarthi, NDM. 2012. Perempuan Pekerja Pinggir Pantai. Hasil Penelitian: STPNDB.
Sihite, R. 2000. Tourism Industry (Kepariwisataan). Surabaya: SIC SK Gub. Prop. Bali. Nomor 2138/ 02-C/
HK/ 2012 tentang Pemberian Izin dan Hak Pemanfaatan dan Pengembangan Pengelolaan Wilayah Perairan Teluk Benoa Sugiono. 1999. Metode Penelitian Bisnis.
Bandung : CV. Alfabeta
Sulastiono. 1999. Pelayanan Sebagai Suatu Aktivitas Ekonomi. Jakarta:
Djambatan.
Suradnya, I Made. 1999. Faktor-faktor yang Melatarbelakangi Persepsi Wisatawan Mancanegara yang Mengunjungi Daerah Tujuan Wisata Bali dan Implikasinya
terhadap Segmentasi Pasar dan Strategi Memposisikannya.
Disertasi, Universitas Airlangga, Surabaya.
Suradnya, I Made. 2000. Perencanaan dan Pengelolaan Objek dan Daya Tarik Wisata, Makalah disampaikan
Suradnya, I Made. 2006. Analisis Faktor- faktor Daya Tarik Wisata Bali dan Implikasinya terhadap Perencanaan Pariwisata Daerah Bali. Hasil Penelitian: STPNDB.
Suwantoro, Gamal. 1997. Perencanaan Produk Wisata. Dinas Pariwisata.
Yogyakarta
Wirawan, Nata. 2001. Cara Mudah Memahami Statistik 1 (Statistik Deskriptif). Denpasar: Keraras Emas
Yoeti, Oka A. 1986. Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung: Angkasa Yoeti, Oka A. 1998. Pengantar Ilmu
Pariwisata. Angkasa Offset Bandung
Yoeti, Oka A. 1997. Anatomi Pariwisata.
Bandung : Angkasa
Anneahira. 2011. surfing (http://www.
anneahira.com/surfing) diakses Ma-ret 2011
Blogspot. 2011. arus (http://www.aorisan- yusteru.blogspot.com/arus) diakses Maret 2011
Organisasi. 2011. angin (http://www.orga- nisasi.org/definisi-pengertian-ang- in) diakses Maret 2011
Surfingwaves. 2011. drop-in (http://www.
surfing–waves.com/surf_talk) diakses Februari 2011
Surfology. 2011. drop-in (http://www.
surf-line.com/surfology) diakses Febru-ari 2011
166 Jurnal Ilmiah Hospitality Management