• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSPEK PENGEMBANGAN USAHA SAPI POTONG DI NUSA TENGGARA BARAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROSPEK PENGEMBANGAN USAHA SAPI POTONG DI NUSA TENGGARA BARAT"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PROSPEK PENGEMBANGAN USAHA SAPI POTONG DI NUSA TENGGARA BARAT

A.MUZANI dan MASHUR

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat, PO Box 1017, Mataram

ABSTRAK

Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan salah satu daerah pemasok ternak sapi bagi propinsi lainnya di Indonesia. Bahkan di era tahun 1960-1970 mampu mengekspor sapi potong ke Hongkong dan Singapura. Permintaan sapi dari NTB, baik untuk konsumsi lokal maupun antar pulau, berupa sapi potong maupun bibit terus meningkat. Peningkatan permintaan apabila tidak disertai dengan upaya peningkatan populasi dan mutu sapi akan terjadi penurasan ternak. Untuk itulah upaya pengembangan sapi potong di daerah ini terus dilakukan oleh pemerintah dan diharapkan ke depan pihak swasta lebih banyak berperan.

Upaya yang telah dilakukan ini kiranya dapat lebih dioptimalkan dengan memberdayakan semua potensi yang ada. Pengembangan ternak potong secara ekstensif diarahkan ke Pulau Sumbawa karena memiliki lahan pengembalaan cukup luas dan pengembangan secara intensif diarahkan ke Pulau Lombok. Kedua pola ini didukung oleh sumberdaya manusia yang relatrif memadai yaitu petani yang berpengalaman, petugas dan teknologi tepat guna cukup tersedia yang apabila diterapkan secara benar dan massal dapat meningkatkan ketersediaan sapi sesuai permintaan pasar.

Kata kunci: Prospek, pengembangan, sapi potong

PENDAHULUAN

Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan salah satu daerah pemasok ternak sapi bagi propinsi lainnya di Indonesia. Tahun 1960-1970 mampu mengekspor sapi potong ke Hongkong dan Singapura. Permintaan sapi dari NTB, baik untuk konsumsi lokal maupun antar pulau terus meningkat. Laju permintaan yang terus meningkat diduga telah melebihi kemampuan produksi sehingga cenderung terjadi penurunan populasi ternak sapi sebagaimana disajikan pada Tabel 1.

Penurunan populasi selain disebabkan oleh tingginya permintaan pasar juga disebabkan oleh sistem pemeliharaan sapi yang masih sederhana sehingga potensi biologis belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mengimbangi laju permintaan yang ada. Untuk menekan laju penurunan populasi sapi, pemerintah NTB pada tahun 2001 membatasi pengeluaran sapi potong, di lain pihak mendorong pengeluaran sapi bibit mengingat permintaan pasar lokal maupun eksport cukup besar dan harga sapi bibit relatif lebih mahal.

Pengeluaran bibit sapi Bali terus mengalami peningkatan yaitu 2.729 ekor pada tahun 2001 dan 5.564 pada tahun 2003. Menurut laporan

Dinas Peternakan, pada tahun 2004 telah disetujui pengiriman bibit sapi Bali sebanyak 4.420 ekor dari potensi yang dimiliki sekitar 18.500 ekor.

POTENSI PENGEMBANGAN

Berdasarkan kondisi lahan yang tersedia dan luas pemilikannya, maka sistem beternak sapi potong di NTB digolongkan menjadi dua yaitu (1) Pemeliharaan secara extensif tradisional yaitu dilepas di padang pengembala.

Cara ini berkembang di Pulau Sumbawa dan (2) Pemeliharaan secara dikandangkan dengan sistem pemberian pakan “Cut and Carry”. Cara ini berkembang di Pulau Lombok.

Sistem extensif

Pengembangan ternak potong secara

extensif/digembalakan diarahkan ke Pulau

Sumbawa karena memiliki lahan pengembalaan

cukup luas. Kebiasaan petani di Pulau

Sumbawa melepas begitu saja ternak sapinya

di hutan belukar, semak-semak, padang rumput

dan padang alang-alang yang cukup luas

(Tabel 2).

(2)

Tabel 1. Perkembangan populasi sapi di Propinsi NTB dari tahun 1998–2003 Tahun (ekor) Uraian

1998 1999 2000 2001 2002 2003 Populasi 429.847 374.970 376.970 375.751 406.938 419.569 Pemotongan 33.845 42.748 40.723 34.321 32.271 29.453 Pengeluaran 22.705 27.143 20.608 19.639 20.005 11.050 Sumber: Dinas Peternakan NTB diolah

Tabel 2. Luas lahan pengembalaan di Pulau Sumbawa menurut jenis penggunaan (Ha) tahun 2001 Kabupaten/Kota

Jenis penggunaan

Sumbawa Dompu Bima Jumlah Hutan belukar 196.277,612 39.291,000 102.451,657 338.020,269

Semak 39.836,190 16.546,950 45.393,530 101.776,67 Rumput 15.793,780 14.812,030 29.503,520 60.109,33 Padang alang-alang 660.205 213,000 1.392,288 2.265.493

Jumlah 252.567,790 70.862,98 178.740,99 503.356,053 Sumber: KANWIL BPN PROPINSI NTB, 2001 dalam BAPPEDA PROPINSI NTB, 2002

Potensi padang pengembalaan yang cukup luas ini akan efektif jika dikelola secara baik dengan menerapkan prinsip manajemen padang penggembalaan. Nilai pengembalaan alam dan seberapa baik ternak yang digembalakan akan tumbuh dan berkembang bergantung pada kualitas dari hijauan pada suatu padang rumput.

S

UTARYONO

dan P

ARTRIDGE

(2002) melaporkan bahwa ternak yang merumput pada padang rumput akan memperoleh kenaikan berat badan hanya sekitar 70–90 kg setiap tahun, disebabkan karena rendahnya kualitas atau kuantitas pakan selama musim kering.

Rendahnya kenaikan berat badan memberi pengaruh pada kesuburan/rendahnya angka kelahiran dan tingginya angka kematian.

Selanjutnya dikatakan bahwa padang rumput

pada banyak lokasi berada dalam keadaan terancam, sebagian besar disebabkan karena invasi gulma berkayu. Uuntuk Pulau Sumbawa terutama bagian pantai utara, tinggi rumputnya sedang, musim kemarau panas, tanah vulkanis dengan tingkat pengembalaan ringan. Jenis ternak yang digembalakan terdiri atas sapi, kerbau dan kuda dengan jumlah sekitar 366.352 ekor atau sekitar 221.500 STD (Setara Ternak Dewasa). Hal ini berarti bahwa

stocking rate (laju ternak) baru mencapai 1

ternak (STD) per 1,7 ha padang pengembalaan.

Tiga jenis ternak di Pulau Sumbawa yang dipelihara dengan sistem gembala yaitu kuda, sapi dan kerbau jumlahnya cukup banyak (Tabel 3).

Tabel 3. Jumlah ternak, kuda, sapi dan kerbau di Pulau Sumbawa tahun 2003 Kabupaten/Kota

Jenis ternak

Sumbawa Dompu Bima Jumlah

Kuda 36.052 6.152 9.748 51.952

Sapi 90.645 13.296 30.300 134.241

Kerbau 81.112 39.400 59.647 180.159

Jumlah 207.809 58.848 99.695 366.352

Sumber: BPS PROPINSI NTB (2003)

(3)

Sistem kandang kumpul

Pengembangan ternak sapi potong dengan sistem dikandangkan diarahkan di Pulau Lombok dengan pertimbangan lahan pengembalaan kurang tersedia, pertanian tanaman pangan cukup intensif, pemilikan lahan sempit, cukup banyak tedapat kandang kumpul.

Keberadaan kandang kumpul di Pulau Lombok informasinya beragam. Ada yang mengatakan sudah ada sejak zaman dahulu atau turun-temurun seperti informasi yang diperoleh dari sebagian besar petani di daerah Lombok bagian selatan. Namun demikian seperti yang dilaporkan oleh M

UZANI

et al., 2003 bahwa keberadaan kandang kumpul dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu didirikan pada masa sebelum tahun 1980, masa tahun 1980–2000 dan setelah tahun 2000. Sebagian besar kandang kumpul yang ada saat ini didirikan periode masa tahun 1980–2000.

Tujuan didirikan kandang kumpul tidak saja karena alasan keamanan seperti yang menjadi alasan pokok awal berdirinya kandang kumpul, tetapi sudah lebih luas lagi tujuan dan perannya yaitu menjaga kebersihan lingkungan, memudahkan pemeliharaan dan sebagai sumber pupuk organik (pupuk kandang) dengan harapan dapat meningkatkan

pendapatan rumah tangga petani. D

IWYANTO

dan H

ARYANTO

(2001) dalam S

OEKARDONO

(2002) melaporkan bahwa sekitar 40% dari peningkatan pendapatan petani dengan sistem integrasi tanaman ternak berasal dari pupuk organik yang dihasilkan ternak.

Adapun jumlah kandang kumpul yang ada di Pulau Lombok belum diketahui secara pasti, namun jika dianalogikan dengan jumlah kelompok tani ternak sapi, maka jumlahnya sekitar 434

BUAH

(D

INAS

P

ETERNAKAN

P

ROPINSI

NTB, 2001) dengan jumlah ternak antara 18–354 ekor/kandang kumpul (M

UZANI

et al., 2003).

Produksi biomas limbah pertanian

Produksi biomas limbah pertanian sangat terkait dengan pola tanam yang ada. Pola tanam yang ada di Pulau Lombok adalah padi–

padi-palawija di lahan berpengairan teknisdibagian tengah Pulau Lombok, padi- palawija-padi didaerah berpengairan teknis dibagian utara (Gambar 1) dan padi-palawija- bera di lahan tadah hujan (Gambar 2).

Umumnya petani menanam varietas padi IR 64, Widas dan Memberamo (2003). Jenis palawija berupa jagung, kacang tanah, kacang hijau, kacang tuggal, kedelai, ubi jalar, ubi kayu.

Des Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Pola

Tanam Padi Palawija/Padi Padi/Palawija

MT I MT II

MT III

Gambar 1. Pola tanam tanaman pangan pada lahan sawah irigasi (2003)

Des Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Pola

Tanam Padi Palawija Bera

MT I MT II

MT III

Gambar 2. Pola tanam tanaman pangan pada lahan sawah tadah hujan (2003)

(4)

Tabel 4. Luas panen dan produksi biomas tanaman pangan di Lombok, 2001 Komoditi Luas panen (ha) Rata-rata hasil BK limbah

(ton/ha)

Produksi BK pakan (ton)

Padi 184.342 3,86 711.560 (85)

Jagung 12.186 2,09 25.469 (3)

Kacang tanah 17.312 1,90*) 37.048 (4) Kacang hijau 8.188 1,59 15.557 (20

Kedelai 30.081 47.829 (6)

Jumlah 252.109 837.463 (100)

BK = Bahan kering

*)PANJAITAN danWIRAJASWADI (2003)

Tabel 5. Sumber dan jenis pakan hijauan yang diberikan pada sapi penggemukan dan pembibitan di Lombok Responden (%)

Sawah irigasi Tadah hujan Musim/jenis pakan

Penggemukan Pembibitan Penggemukan Pembibitan Asal

MT I

Rumput alam 50,25 46,25 62,0 64,25 1,2,3

Turi 4,0 2,75 6,0 12,75 1

Jerami padi 1,75 5,75 11,0 6,25 1 Rumput Gajah 6,25 8,50 0,0 5,25 1

Daun-daunan 14,00 13,0 20,0 6,75 1

Batang pisang 12,00 10,0 11,0 4,75 1 Batang daun kelapa 11,75 10,0 0,0 0,0 1

Gamal 0,0 3,75 1,0 0,0 1

MT II

Rumput alam 48,00 47,25 48,50 65,25 1,2,3

Turi 12,50 3,75 15,00 13,75 1

Jerami padi 5,25 11,50 13,50 4,75 1 Jerami kedelai 5,25 5,0 12,50 2,50 1 Rumput Gajah 6,25 9,50 0,00 4,25 1

Daun-daunan 10,25 13,0 10,50 8,75 1

Batang pisang 12,50 10,0 0,00 0,75 1

Gamal 0,0 0,0 0,0 0,0 1

MT III

Rumput alam 44,25 36,0 41,50 40,75 1,2,3,4

Turi 1,75 2,50 18,50 16,75 1

Jerami jagung 15,25 10,0 1,50 1,0 1

Daun-daunan 16,25 11,0 12,00 14,50 1 Batang pisang 12,0 11,25 11,50 0,0 1

Jerami kacang tanah 10,50 4,5 5,00 0,0 1 Jerami padi 0,0 7,25 10,0 5,50 1 Batang daun kelapa 0,0 3,25 0,0 11,50 1

Gamal 0,0 6,50 0,0 0,0 1

Rumput Gajah 0,0 7,75 0,0 0,0 1 1 = Lahan sendiri

2 = Lahan petani lain dalam desa 3 = Lahan umum dalam daerah 4 = Lahan umum luar desa Sumber:MUZANI et al. (2003)

(5)

Luas panen padi, kacang tanah, jagung, kacang hijau dan kedelai di Pulau Lombok tahun 2001 berturut-turut, 184.342 ha, 17.312 ha, 12.186 ha, 81.888 ha dan 30.081 ha. Dari data ini dapat diestimasi produksi biomas tanaman pangan yang dapat digunakan sebagai pakan ternak di Pulau Lombok sebagaimana disajikan dalam Tabel 4.

Potensi biomas terbesar (85%) adalah jerami padi, sedangkan limbah tanaman jagung, kacang tanah, kacang hijau dan kedelai secara kumulatif relatif kecil (15%), namun demikian pakan utama yang diberikan kepada ternak sapi, baik sapi penggemukan maupun pembibitan pada agro ekosistem sawah irigasi dan tadah hujan adalah rumput (Tabel 5).

Rata-rata hasil rumput alam di Pulau Lombok adalah 534,58 kg Bahan kering/ha, tertinggi pada bulan April (2.910 kg BK/ha) dan terendah pada bulan Oktober (470 kg Bk/ha) atau total produksi sebanyak 6.415 kg BK/ha/tahun (N

ULIK

dan B

AMUALIM

, 1998).

Kalau dikalkulasi dengan kebutuhan pakan sebanyak 5,8 kg BK/ekor4/hari untuk sapi dewasa, maka rumput alam dapat memenuhi kebutuhan tiga ekor sapi/ha. Daya tampung sapi di Pulau Lombok berdasarkan potensi biomas sepanjang tahun cukup besar. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 6 dan 7.

Tabel 6. Daya tampung ternak sapi pada daerah lahan sawah irigasi di Lombok, 2001 Musim

tanam

Produksi biomas (ton BK)

Pemanfaatan (ST/4 bl)

I 330.720,94 475.174 II 312.660,00 449.224 III 126.452,64 181.685 Jumlah 769.833,58

Tabel 7. Daya tampung ternak sapi pada daerah lahan sawah tadah hujan di Pulau Lombok, 2001

Musim tanam

Produksi biomas (ton BK)

Pemanfaatan (ST/4 bl)

I 52.739,18 49.688

II 19.777,68 18.634 Jumlah 72.516,86

DUKUNGAN TEKNOLOGI

Untuk meningkatkan kinerja biologis sapi, ada 4 komponen teknologi yang diterapkan secara terpadu yaitu:

1. Penggunaan pejantan sapi Bali unggul lokal dengan sasaran perbaikan tingkat kebuntingan, perbaikan pertumbuhan dan perbaikan mutu genetis sapi.

2. Penerapan kalender perkawinan dengan sasaran agar anak lahir pada kondisi pakan baik dan cukup tersedia.

3. Penerapan saat penyapihan yang tepat dengan sasaran mempertahankan kesuburan dan kesehatan induk serta mengurangi kebutuhan pakan di musim kemarau.

4. Perbaikan manajemen pakan dengan sasaran perbaikan ketersediaan pakan dan perbaikan kualitas pakan.

Dengan menerapkan teknologi ini diperoleh hasil yang cukup memuaskan seperti disajikan pada Tabel 8.

Potensi perbaikan produksi berdasarkan kondisi ternak sapi yang ada di NTB disajikan pada Tabel 9.

Tabel 8. Data reproduksi hasil litkaji dibandingkan cara petani pada Kelompok Tani Teknologi Kelahiran

(%)

Jarak beranak (bl)

Kematian (%)

Berat lahir (kg)

Berat sapih (kg) Ket Petani 51,7 16 15 12,7 83,92 ± 5,9 Introduksi 80,0 11,9 8 16,9 88,00 ± 11,8

Keunggulan/perbaikan 28,3 4,1 7 4,2 4,08

(6)

Tabel 9. Potensi perbaikan produksi sapi di ntb dengan menerapkan teknologi sistem produksi secara terpadu

Katagori Teknologi petani Teknologi introduksi Keunggulan Jumlah induk (ekor) 153.197 153.197 -

Lahir (ekor) 79.203 112.558 43.355

Mati (ekor) 11.880 9.805 2.076

Hidup (sapih 180 hari) 67.322 112.753 45.341

Volume (kg) 5.655.083 9.922.263 4.267.180

Untuk usaha penggemukan berbagai teknologi penggemukan yang dapat diterapkan seperti: penggunaan Urea Molases Mineral

Block (UMMB), Urea Mineral Block (UMB),

pemanfaatan priobiotik, pemanfaatan ransum sederhana dari bahan limbah pertanian yang cukup banyak tersedia di NTB.

PENUTUP

1. Propinsi NTB merupakan salah satu daerah

“gudang” ternak sapi potong yang masih memiliki banyak peluang untuk pengembangannya.

2. Dua sistem pengembangan yang disarankan yaitu sitem ekstensif di Pulau Sumbawa dan Sistem dikandangkan di Pulau Lombok.

Pengembangan sapi potong di NTB sangat prospektif dan optimis dapat berhasil karena didukung oleh: tersedianya padang pengembalaan yang cukup luas di Pulau Sumbawa, tersdianya kandang kumpul di Pulau Lombok, daya tampung ternak cukup tinggi, teknologi tersedia dan pasar bagi sapi Bali yang berasal dari NTB sangat besar.

DAFTAR PUSTAKA

BPS–NTB. 2003. Nusa Tenggara Barat Dalam Angka, 2003.

DINAS PETERNAKAN PROPINSI NTB. 2001. Laporan Tahunan 2001.

MUZANI, A., MASHUR, W.R. SASONGKO, Y. GELI

BULU,A.SAUKI,A.WILDAN dan A. ISMAIL. 2003. Laporan Survey Kandang Kumpul dan Prospek Pengembangan Agribisnis Sapi di Pulau Lombok NTB. BPTP–NTB 2003.

MUZANI A, Y. GELI BULU, K. PUSPADI DAN T.S.

PANJAITAN. 2004. Potensi Pakan Dalam Sistem Integrasi Tanaman Ternak di Lombok NTB. Pros. Lokakarya Sistem dan Kelembagaan Usahatani Tanaman Ternak.

Badan Litbang Pertanian.

NULIK, J. dan A. BAMUALIM. 1998. Pakan Ruminansia Besar di Nusa Tenggara Kerjasama BPTP Naibonat NTT dengan Eastern Island Veterinary Services Project.

SOEKARDONO. 2002. Integrasi Tanaman Ternak (Crop Livestock System) Dalam Rangka Menuju Pertanian Berkelanjutan. Pros.

Seminar Nasional Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Penerapan Teknologi Tepat Guna. Mataram, 20–21 Nopember 2002. Hlm.

139-147.

Gambar

Tabel 2. Luas lahan pengembalaan di Pulau Sumbawa menurut jenis penggunaan (Ha) tahun 2001  Kabupaten/Kota
Gambar 2. Pola tanam tanaman pangan pada lahan sawah tadah hujan (2003)
Tabel 4. Luas panen dan produksi biomas tanaman pangan di Lombok, 2001  Komoditi  Luas panen (ha)  Rata-rata hasil BK limbah
Tabel 8.  Data reproduksi hasil litkaji dibandingkan cara petani pada Kelompok Tani  Teknologi  Kelahiran  (%)  Jarak  beranak (bl)  Kematian (%)  Berat lahir (kg)  Berat sapih (kg)  Ket  Petani  51,7  16  15  12,7  83,92 ± 5,9  Introduksi  80,0  11,9  8
+2

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari dua siklus pembelajaran menunjukkan bahwa tindak pembelajaran dengan group investigation yang mampu meningkatkan pemahaman matematika siswa adalah: (1)

Ketiga, dalam penelitian yang berjudul pengaruh motivasi dan lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan dengan kepuasan kerja sebagai variabel mediasi pada PT BNI life Insurance

Dalam kaitan dengan upaya yang sedang dilakukan, para informan mengungkapkan bahwa hal yang paling penting adalah memahami komunikasi interpersonal, menempatkan baik orang tua

Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa pembelajaran inkuiri meningkatkan hasil belajar siswa, khususnya dalam aspek keterampilan pemecahan masalah,

Rumah Sakit Daerah adalah rumah sakit “Mardi Waluyo” milik Pemerintah Kota Blitar yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat untuk semua jenis penyakit

Lantai ruang pameran sebaiknya memakai lantai keras dengan bahan penutup lantai dengan pola sederhana, rata, dan sedikit garis, tidak berkilau (doff), dan tidak

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, diperoleh simpulan sebagai berikut: (1) kemampuan berpikir kritis matematis siswa kelas VIII melalui pembelajaran model PBL

Dalam penelitian ini, data yang diambil berupa goresan tangan huruf Korea untuk mengidentifikasi sesuai dengan karakteristik dari tiap goresannya dengan menggunakan