KONSOLIDASI
Mekanika Tanah IIKonsolidasi …. ???
Konsolidasi adalah suatu proses pengecilan volume secara perlahan-lahan pada
tanah jenuh sempurna dengan permeabilitas rendah akibat pengaliran sebagian air
pori; proses tersebut berlangsung terus sampai kelebihan tekanan air pori yang
disebabkan oleh kenaikan tegangan total telah benar-benar hilang.
Karena terjadi proses pengecilan volume dan keluarnya air pori menyebabkan
terjadi penurunan (settlement) tanah.
Penurunan konsolidasi (consolidation settlement) adalah perpindahan vertikal
permukaan tanah sehubungan dengan perubahan volume pada suatu tingkat dalam
Angka pori pada akhir pengujian = e1= w1Gs ( diasumsikan Sr = 100%)
Tebal contoh tanah pada awal pengujian = H0
Perubahan tebal selama pengujian = ∆H Angka pori pada awal pengujian = e0= e1+ ∆e
Berat kering yang diukur pada akhir pengujian = Ms(yaitu massa partikel-padat tanah).
Tebal pada akhir setiap periode penambahan tekanan = H1
Luas contoh tanah = A
Tebal ekivalen partikel-padat tanah = 𝐻𝑠
H0 Air Partikel Padat H1 H2 ∆𝑒 ∆𝐻= 1 + 𝑒0 𝐻0 𝐻𝑠= 𝑀𝑠 𝐴𝐺𝑠𝜌𝜔 𝑒1= 𝐻1− 𝐻𝑠 𝐻𝑠 = 𝐻1 𝐻𝑠− 1
tiga tahapan yang berbeda dari hasil pengujian konsolidasi:
Tahap I : Pemampatan awal (initial compression), yang pada umumnya disebabkan oleh pembebanan awal (preloading).
Tahap II : Konsolidasi primer (primary consolidation), yaitu periode selama tekanan air pori secara lambat laun dipindahkan ke dalam tegangan efektif, sebagai akibat dari keluarnya air dari pori-pori tanah.
Tahap III : Konsolidasi sekunder (secondary
consolidation), yang terjadi setelah tekanan air pori
hilang seluruhnya. Pemampatan yang terjadi di sini disebabkan oleh penyesuaian yang bersifat plastis dari butir-butir tanah.
Grafik angka pori e terhadap tegangan efektif σ’
Koefisien Kemampatan Volume m
v
Koefisien perubahan volume (mv) adalah perubahan volume per satuan kenaikan tegangan efektif.
Satuan mvadalah kebalikan dari tekanan (m2/MN). Perubahan volume dapat dinyatakan dalam angka
pori maupun tebal contoh.
𝑚𝑣= 1 1 + 𝑒0 𝑒0− 𝑒1 𝜎0′− 𝜎1′ 𝑚𝑣= 1 𝐻0 𝐻0− 𝐻1 𝜎0′− 𝜎1′ koefisien kemampatan (𝑎𝑣) 𝑎𝑣= 𝑒0− 𝑒1 𝜎0′− 𝜎1′= ∆𝑒 ∆𝜎′ 𝑚𝑣= 𝑎𝑣
Indeks Kemampatan/Kompresi (C
c
)
Indeks kemampatan/kompresi adalah kemiringan pada bagian linear dari plot e-log σ' dari indeks tersebut tidak berdimensi.
𝐶𝑐=
𝑒0− 𝑒1
log𝜎𝜎1,
0′
Untuk lempung yang struktur tanahnya tak terganggu/ belum rusak (undisturbed): Cc = 0,009(LL - 10)
Untuk lempung yang terbentuk kembali (remolded): Cc = 0,007(LL - 10)
Dimana LL = batas cair dalam persen.
Koefisien Pemuaian (Swelling) C
s
Indeks pemuaian adalah lebih kecil daripada indeks pemampatan dan biasanya dapat ditentukan di laboratorium. 𝐶𝑠≈ 1 5𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎𝑖 1 10𝐶𝑐
Berdasarkan beberapa literature seperti Nagaraj dan Murty (1985) 𝐶𝑠= 0,0463
𝐿𝐿(% 100 𝐺𝑠 Kulhawy dan Mayne (1990)
𝐶𝑠≈
𝑃𝐼 370
Koefisien Konsolidasi, C
v
Terzaghi mendefinisikan koefisien konsolidasi dalam kondisi dranasi linier sebagai perbandingan koefisien permeabilitas (k) terhadap koefisien perubahan volume (mv) dan
berat volume air (γw), dimana permeabilitas (k) dan koefisien perubahan volume (mv) konstan selama proses konsolidasi.
𝐶𝑣=
𝑘 𝛾𝜔𝑚𝑣
Dimana:
koefisien permeabilitas (k) koefisien perubahan volume (mv) berat volume air (γw)
Metode Logaritma Casagrande atau Logaritma
Waktu
Langkah – langkah menentukan nilai Cv:
Perpanjang bagian kurva yang merupakan garis lurus dari konsolidasi primer dan sekunder hingga berpotongan di titik A. Ordinat titik A adalah d100
-yaitu deformasi pada akhir konsolidasi primer 100%.
Bagian awal dari kurva deformasi vs log t adalah hampir menyerupai suatu parabola pada skala biasa. Pilih waktu t1dan t2pada bagian kurva
sedemikian rupa sehingga t2= 4 t1. Misalkan perbedaan deformasi contoh
tanah selama waktu (t2- t1) sama dengan x.
Gambarlah suatu garis mendatar DE sedemikian rupa sehingga jarak vertikal BD adalah sama dengan x. Deformasi yang bersesuaian dengan garis DE adalah sama dengan d0(yaitu deformasi pada konsolidasi 0%).
Ordinat titik F pada kurva konsolidasi merupakan deformasi pada konsolidasi primer 50%, dan absis titik F merupakan waktu yang
Metode Akar Waktu Taylor
Cara untuk menentukan harga Cvyang diperlukan adalah sebagai berikut:
Gambar suatu garis AB melalui bagian awal dari kurva.
Gambar suatu garis AC sehingga OC = 1.15 OB. Absis titik D, yang merupakan perpotongan antara garis AC dan kurva konsolidasi, memberikan harga akar waktu untuk tercapainya konsolidasi 90% ( 𝑡90).
Untuk konsolidasi 90%, T90= 0,848 ; sehingga𝑇90= 0,848 = 𝐶𝑣𝑡90 𝐻2 𝑑𝑟 atau 𝐶𝑣= 0,848𝐻2𝑑𝑟 𝑡90
Metode Hiperbola
langkah – langkah yang direkomendasikan untuk menentukan nilai Cv, yaitu sebagai berikut:
Dapatkan nilai waktu t dan perubahan bentuk (∆H) contoh tanah dari pengujian konsolidasi laboratorium
Plot grafik t/∆H terhadap t seperti ditunjukkan pada Gambar 7.18.
Gambarkan garis lurus bc dan proyeksi dari garis tersebut merupakan titik d. kemudian tentukan nilai perpotongan D
Tentukan kemiringan m pada garis bc
Hitung nilai Cvsebagai
𝐶𝑣= 0,3
𝑚𝐻2 𝑑𝑟
Metode Tahap Awal Log t
𝐶𝑣= 0,0385𝐻2 𝑑𝑟 𝑡22.14Rasio Kemampatan
Rasio Kemampatan Awal ; 𝑟0= 𝑑0−𝑑𝑠
𝑑0−𝑑𝑓
Rasio kemampatan primer (logaritma waktu); 𝑟𝑝=𝑑𝑑𝑠−𝑑100
0−𝑑𝑓 Rasio kemampatan primer (akar waktu); 𝑟𝑝=10 (𝑑9 𝑑𝑠−𝑑90
0−𝑑𝑓 Rasio Kompresi Sekunder; 𝑟𝑠= 1 − 𝑟0+ 𝑟𝑝
Contoh
Pembacaan kompresi di bawah ini diambil selama uji oedometer berlangsung pada contoh tanah lempung jenuh (G5 = 2,73) di mana tekanan yang diterapkan naik dari 214 menjadi 429 kN/m2.
Setelah 1440 menit, tebal contoh = 13,60 mm dan kadar air = 35,9%. Tentukanlah koefisien konsolidasi dari plot log waktu dan akar waktu dan besar ketiga rasio kompresinya. Tentukan juga nilai koefisien permeabilitasnya. Waktu (menit 0 0.25 0.5 1 2.25 4 9 16 25 Pengukuran (mm) 5 4.67 4.62 4.53 4.41 4.28 4.01 3.75 3.49 Waktu (menit 36 49 64 81 100 200 400 1440 Pengukuran (mm) 3.28 3.15 3.06 3 2.96 2.84 2.76 2.61
Penyelesaian
Perubahan tebal total selama kenaikan, ∆H = 5,00 - 2,61 = 2,39 mm.
Tebal rata-rata selama kenaikan,
H = H1+ ∆H/2 = 13,60 + (2,39/2) = 14,80 mm.
Panjang alur pengaliran, Hdr= 14.80/2 = 7,40 mm.
Dari plot log waktu (Gambar 7.20) diketahui t50= 13 menit 𝐶𝑣= 0,196𝐻2 𝑑𝑟 𝑡50 = 0,196 × 7,402 13 𝐶𝑣= 0,825 𝑚𝑚2 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡= 0,825×10−6𝑚2 1 60×24×365𝑡ℎ𝑛 = 0,434 𝑚2/𝑡ℎ𝑛 𝑟0=𝑑𝑑0−𝑑𝑠 0−𝑑𝑓= 5−4,8 5−2,61= 0,084 ; 𝑟𝑝= 𝑑𝑠−𝑑100 𝑑0−𝑑𝑓 = 4.8−2,98 5−2,61 = 0,761 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 0.1 1 10 100 1000 10000 𝑑_𝑠 𝑑_50 𝑑_100 𝑡_50 𝑡_100 𝑑_0 𝑑_𝑓
Dari Plot akar waktu diketahui 𝑡90= 7.5 menit, maka 𝑡90= 56.25 menit 𝑑𝑠= 4.79 mm ; 𝑑90= 3.1 mm 𝐶𝑣= 0,848𝐻2𝑑𝑟 𝑡90 = 0,848×7,42 56.25 × 1440×365 106 = 0,434 𝑚2 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑟0= 𝑑0−𝑑𝑠 𝑑0−𝑑𝑓= 5−4,79 5−2,61= 0,088 ; 𝑟𝑝= 10 (𝑑𝑠−𝑑90 9 𝑑0−𝑑𝑓 = 10 (4.79−3.1 9 (5−2,61 = 0,785 𝑟𝑠= 1 − 𝑟0+ 𝑟𝑝 = 1 − 0,088 + 0,785 = 0,127 2.5 3 3.5 4 4.5 0 4 8 12 16 20 24 28 32 36 40 𝑑_0 𝑑_90 √(𝑡_90 ) Menentukan koefisien Permeabilitas:
Angka pori akhir:𝑒1 = 𝑤1𝐺𝑠= 0,359 × 2,74 = 0,98 Angka pori awal:𝑒0= 𝑒1+ ∆𝑒
∆𝑒 ∆𝐻= 1+𝑒0 𝐻0 ∆𝑒 ∆𝐻= 1+𝑒1+∆𝑒 ∆𝐻+𝐻1 ∆𝑒 2,39= 1+0,98+∆𝑒 13,6+2,39 15,99∆𝑒 = 4,372 + 2,39∆𝑒 ∆𝑒 = 0,348 𝑒0= 𝑒1+ ∆𝑒 = 0,98 + 0,348 = 1,328 𝑚𝑣= 1 1 + 𝑒0 𝑒0− 𝑒1 𝜎0′− 𝜎1′ = 1 2,328× 0,348 429 − 214= 6,95. 10 −4𝑚 2 𝐾𝑁= 0,695 𝑚2 𝑀𝑁 Koefisien Permeabilitas , 𝑘 = 𝐶𝑣𝑚𝑣𝛾𝜔= 0,434 𝑚 2 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛× 6,95. 10 −4 𝑚2 𝐾𝑁× 9,81 𝐾𝑁 𝑚3= 29,6 × 10−4 𝑚𝑡ℎ𝑛 𝑘 = 29,6𝑚 𝑡ℎ𝑛= 2,96 365×24×60×60 𝑚 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘= 0,94 × 10 −10 𝑚 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘