• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1.1 Latar Belakang Masalah

Energi-diri sebuah elektron adalah energi total elektron tersebut di dalam ru- ang bebas ketika terisolasi dari partikel-partikel lain (Majumdar dan Gupta, 1947).

Pada perkembangannya, permasalahan energi-diri elektron telah ditinjau dalam bera- gam kondisi, seperti: elektrodinamika klasik, era elektrodinamika kuantum, dan di dalam ruang-waktu melengkung. Pada masa elektrodiamika klasik, energi-diri elek- tron ditinjau dengan menganggap elektron sebagai objek yang memiliki ukuran, bu- kan muatan titik. Contoh yang paling sederhana adalah model Abraham-Lorentz.

Menurut model ini, elektron dipandang sebagai bola pejal dengan muatan tersebar secara merata (Jackson, 1999).

Kehadiran elektrodinamika kuantum memberi arti penting bagi perkembangan kajian energi-diri. Dengan teknik regularisasi dan renormalisasi, permasalahan di- vergensi energi-diri muatan bak-titik, sebagai contoh: elektron, dapat diselesaikan hingga diperoleh nilai yang berhingga (Peskin dan Schroeder, 1995). Beruntungnya, hasil ini dapat dibawa ke tataran klasik melalui asas korespondensi sebagai limit nilai kuantumnya (Vilenkin dan Fomin, 1974).

Pada tataran klasik, permasalahan energi-diri semakin rumit ketika partikel uji berada dalam ruang-waktu melengkung. Hal ini disebabkan oleh struktur geometri- nya tidak sesederhana sebagaimana ruang-waktu Minkowski. Sebagai contoh, metrik ruang-waktu yang diberikan oleh lubang hitam statik bermuatan (Nordström, 1918).

Pada kasus ini, ruang-waktu tidak lagi vakum, tetapi berisikan medan-medan elek- tromagnetik. Akibatnya, kelengkungan ruang-waktu ikut dipengaruhi oleh kehadiran medan-medan tersebut.

Permasalahan energi-diri semakin menarik ketika orang meninjau energi-diri dalam ruang-waktu melengkung statik berdimensi tinggi. Di dalam ruang-waktu ini, medan-medan di sekitar sumber bak-titik akan lebih kuat jika dibandingkan dengan ruang-waktu statik berdimensi empat. Dengan demikian, diharapkan kegayutan bagi- an divergen energi-diri klasik pada sumber akan semakin kuat. Sayangnya, harapan ini tidak sepenuhnya berlaku. Energi-diri sumber bak-titik lenyap di dalam ruang- waktu berdimensi genap (Frolov dan Zelnikov, 2012c). Dalam penelitian ini, mereka

1

(2)

meninjau muatan skalar (kuantisasi medan skalar) sebagai sumber dan menggunakan teknik fungsi Green untuk menghitung energi-diri muatan tersebut. Simetri fungsi Green yang mereka gunakan adalah bersimetri bola sebagaimana yang telah mereka peroleh dalam penelitian sebelumnya (Frolov dan Zelnikov, 2012b). Dalam peneliti- an ini, mereka memperoleh fungsi Green bentuk tertutup yang bernilai tak berhingga.

Divergensi ini kemudian diregularisasi dengan metode pisah-titik (Lihat subbab 2.3).

Hasil ini kemudian dapat digunakan untuk menghitung energi-diri muatan dan me- ngoreksi massanya.

Di dalam teori relativitas umum, ruang-waktu statik adalah kasus khusus bagi ruang-waktu stasioner. Oleh sebab itu, penyelesaian persamaan medan Einstein untuk ruang-waktu stasioner (sebagai contoh: lubang hitam berotasi (Kerr, 1963), lubang hitam berotasi dan bermuatan (Newman dkk., 1965)) akan lebih rumit dibandingkan kasus statik. Tidak hanya itu, karakter ruang-waktu yang dibentuk pun menunjukkan perilaku yang sangat berbeda, seperti: simetri, letak singularitas, keberadaan permu- kaan ergo, dan lain-lain (Padmanabhan, 2010). Dalam kajian astrofisika , lubang hitam Kerr lebih memungkinkan untuk ada (hadir) di alam semesta. Hal ini kare- na:(1)lubang hitam bermuatan akan segera ternetralkan oleh interaksi dengan materi (Carol, 2004), (2) mekanisme pembentukan bintang yang melibatkan rotasi.

Dengan demikian, ini akan menjadi lebih menarik jika perilaku energi-diri da- pat dilihat pada ruang-waktu dimensi lebih besar atau sama dengan empat, khususnya ruang-waktu yang dibentuk oleh lubang hitam Kerr berdimensi empat dan lima.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah

1. Bagaimanakah persamaan fungsi Green bagi medan skalar bermuatan di sekitar lubang hitam Kerr berdimensi empat dan lima?

2. Bagaimanakah perilaku energi-diri medan skalar bermuatan di sekitar lubang hitam Kerr bedimensi empat dan lima?

1.3 Batasan Masalah

Dalam rangka memfokuskan tema riset, penelitian ini dibatasi pada hal-hal

berikut

(3)

1. Konstanta kosmologis Λ = 0.

2. Sumber adalah medan skalar bermuatan bak-titik, statis, dan terletak di luar ufuk peristiwa.

3. Teknik regularisasi yang digunakan adalah metode pisah-titik.

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah seba- gai berikut

1. Mencari fungsi Green bagi medan skalar bermuatan bak-titik di sekitar lubang hitam Kerr berdimensi empat dan lima.

2. Mengamati perilaku energi-diri medan skalar bermuatan di sekitar lubang hitam Kerr berdimensi empat.

3. Mengamati kemungkinan penerapan metode pemisahan variabel dalam meng- hitung fungsi Green dan energi-diri begi medan skalar bermuatan berdimensi lima.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat utama dalam penelitian ini adalah bahwa hasil-hasil yang diperoleh dapat dikembangkan dalam teori dawai (string theory) dan gravitasi kuantum (quan- tum gravity). Hasil-hasil yang dimaksud adalah

1. Fungsi Green bagi medan skalar bermuatan bak-titik di sekitar lubang hitam Kerr berdimensi empat dan lima.

2. Perilaku energi-diri dan koreksi massa medan skalar bermuatan bak-titik di se- kitar lubang hitam Kerr berdimensi empat dan lima.

1.6 Keaslian Tesis

Berdasarkan pelacakan literatur di berbagai sumber, seperti proceeding atau

jurnal ilmiah, belum pernah ditemukan penelitian sejenis.

(4)

1.7 Tinjauan Pustaka

Salah satu model elektron paling sederhana dalam rangka menyelesaikan per- masalahan energi-diri adalah elektron dipandang sebagai bola pejal dengan elemen- elemennya berinteraksi elektromagnetik ((Abraham, 1902) dan (Lorentz, 1904)). Da- lam model ini, seluruh massa elektron pada mulanya adalah massa elektromagnetik.

Namun, model ini memiliki masalah karena tidak stabil oleh kemunculan faktor 4/3.

Untuk mengatasi hal tersebut, diperkenalkanlah gaya non-elektromagnetik (Poinca- ré, 1905). Model ini kemudian dikenal sebagai model Abraham-Lorentz-Poincaré (Rohrlich, 2007). Pada perkembangannya, Laue (1921) merumuskan teorema bahwa elektron yang memiliki ukuran ruang (spatially extended) harus selalu menyertakan gaya non-elektromagnetik.

Dirac (1938) menyatakan bahwa model elektron Abraham-Lorentz-Poincaré memiliki kesalahan oleh setidaknya dua alasan berikut: (1) neutron tidak mungkin memiliki massa elektromagnetis. (2)teori positron menyatakan bahwa massa positif dan negatif elektron memainkan peran simetri. Untuk mengatasi kesalahan-kesalahan tersebut, Dirac mengusulkan model elektron bak-titik. Kelemahan model ini adalah kemunculan masalah divergensi yang disebabkan oleh asumsi elektron memiliki ben- tuk bak-titik.

Dalam elektrodinamika kuantum, pendekatan elektron bak-titik tetap diperta- hankan. Energi-diri diperoleh dari interaksi elektron dengan foton pancarannya sen- diri (medan elektromagnetik-diri). Dalam diagram Feynman, fenomena ini digam- barkan oleh adanya looping pada kaki-kaki diagram (Peskin dan Schroeder, 1995).

Hasilnya adalah energi-diri bernilai tak hingga. Untuk mengatasi masalah divergensi ini digunakanlah teknik regularisasi, seperti: regularisasi Pauli-Villars, dimensional, dan lain-lain.

Teknik-teknik regularisasi tersebut kemudian dikembangkan dalam rangka me- ngatasi masalah divergensi dalam kajian-kajian teori medan kuantum di dalam ruang- waktu melengkung, misalnya teknik fungsi-ζ (Hawking, 1977) dan metode pisah- titik (point-splitting) (DeWitt, 1975). Moretti (1999) menunjukkan bahwa kedua me- tode tersebut memberikan hasil yang sama.

Teknik regularisasi pisah-titik kemudian diadopsi oleh Frolov dan Zelnikov

(2012) untuk menghitung energi-diri muatan skalar bak-titik di sekitar lubang hitam

statik berdimensi tinggi secara klasik. Mereka menunjukkan bahwa energi-diri mua-

tan skalar di dalam ruang-waktu tersebut mengalami anomali, yakni lenyap untuk

(5)

dimensi genap. Pendekatan mereka didasarkan pada perolehan Linet (2005) menge- nai penyelesaian dalam bentuk tertutup (closed form) bagi medan partikel bak-titik di sekitar lubang hitam Reissner-Nordström ekstrim berdimensi tinggi. Melalui pe- nyelesaian Linet, mereka meninjau kasus untuk lubang hitam Reissner-Nordström bermetrik isotropik. Penyelesaian Linet ini kemudian diterapkan juga pada kasus ruang-waktu Majumdar-Papapetrou berdimensi tinggi, yang diperoleh Myers (1987).

Dalam rangka menenemukan penyelesaian bentuk tertutup bagi medan-medan partikel bak-titik tersebut, Linet (2005) mengacu pada metrik yang dikembangkan oleh Myers dan Perry (1986). Myers dan Perry memberikan perumuman bagi lu- bang hitam statik (Schwarzchild dan Reissner-Nordström) dan lubang hitam rotasio- nal tak bermuatan (Kerr) pada ruang-waktu dimensi tinggi. Hasilnya adalah bahwa elemen-elemen metrik bagian waktu dan "jarak radial" sangat bergantung pada di- mensi ruang-waktu. Selain itu, mereka juga memperoleh bahwa dimensi-dimensi tambahan hanya bergantung pada "jarak radial" dan sudut-sudut.

Teukolsky (1973) memberikan perumusan umum bagi persamaan-persamaan medan gravitasional, elektromagnetik, dan neutrino di sekitar lubang hitam Kerr ber- dimensi empat. Ia menunjukkan bahwa jika tidak ada sumber, persamaan tersebut dapat dipisah variabel.

Hasil-hasil yang telah diperoleh di atas akan digunakan oleh penulis untuk menghitung energi-diri medan skalar bermuatan di sekitar lubang hitam Kerr berdi- mensi empat dan lima. Prosedur yang akan digunakan mengikuti model yang dikem- bangkan oleh Frolov dan Zelnikov (2012c).

1.8 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan kajian literatur dan telah fisika teoretik.

1.9 Sistematika Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan sistematika berikut. Pada bagian pertama, pe- neliti akan merumuskan fungsi Green G sebagai penyelesaian bagi persamaan medan skalar bermuatan di sekitar lubang hitam Kerr sebarang dimensi. Hasil yang diharap- kan adalah divergen karena medan sumber (medan skalar bermuatan) adalah bak-titik.

Pada bagian kedua, peneliti akan menghitung fungsi Green divergen G

div

ber-

dasarkan ekspansi Schwinger-DeWitt standar, baik untuk dimensi empat maupun li-

(6)

ma. Fungsi Green teregularisasi G

reg

didefiniskan sebagai selisih G dari G

div

.

Pada bagian ketiga, energi-diri masing-masing dimensi dihitung dengan me-

manfaatkan fungsi Green teregularisasi. Dari hasil-hasil ini akan diamati perilaku

energi-diri dan koreksi massa pada masing-masing dimensi tersebut.

Referensi

Dokumen terkait

Berbagi linkmelalui note dapat dilakukan oleh guru Anda, kawan-kawan Anda, maupun Anda sendiri. Apabila Anda ingin berdiskusi atau menanyakan sesuatu melalui

Berikut merupakan salah satu contoh pengujian yang dilakukan pada aplikasi ARMIPA yaitu pengujian ketepatan titik lokasi pada peta dan kamera dengan markerless

Komunikasi dan Informatika, yang mencakup audit kinerja atas pengelolaan keuangan negara dan audit kinerja atas pelaksanaan tugas dan fungsi Kementerian Komunikasi dan

Pada Ruang Baca Pascasarjan perlu dilakukan pemebersihan debu baik pada koleksi yang sering dipakai pengguna maupun

Menurut teori hukum Perdata Internasional, untuk menentukan status anak dan hubungan antara anak dan orang tua, perlu dilihat dahulu perkawinan orang tuanya sebagai

Penyusunan LBP Kementerian Keuangan Tahunan Tahun Angggaran 2020 (Audited), mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 27 Tahun 2014 sebagaimana telah diubah dengan

Pendapatan masyarakat, memanfaatkan Tahura Djuanda sebagai sumber pendapatan masyarakat setempat yang bersumber dari wisatawan yang datang ke Tahura Djuanda. Pengeluaran

Kesulitan investor untuk menentukan saham yang dapat di masukkan portofolio, diversifikasi, dan estimasi return risiko dapat diatasi dengan penyusunan portofolio